Perkawinan Antar Pemeluk Agama yang Berbeda

Dikutip tanpa perubahan dari buku Wawasan al-Quran: Tafsir Tematik atas Pelbagai Persoalan Umat karya M. Quraish Shihab, halaman 259-264 (Penerbit Mizan tahun 1996, Cetakan II – Desember 2007)

Perkawinan Antar Pemeluk Agama yang Berbeda

Al-Quran juga secara tegas melarang perkawinan dengan orang musyrik seperti Firman-Nya dalam surat Al-Baqarah (2): 221,

Larangan serupa juga ditujukan kepada para wali agar tidak menikahkan perempuan-perempuan yang berada dalam perwaliannya kepada laki-laki musyrik.

Menurut sementara ulama walaupun ada ayat yang membolehkan perkawinan pria Muslim dengan wanita Ahl Al-Kitab (penganut agama Yahudi dan Kristen), yakni surat Al-Maidah (5): 5 yang menyatakan,

Tetapi izin tersebut telah digugurkan oleh surat Al-Baqarah ayat 221 di atas. Sahabat Nabi, Abdullah Ibnu Umar, bahkan mengatakan:

Pendapat ini tidak didukung oleh mayoritas sahabat Nabi dan ulama. Mereka tetap berpegang kepada teks ayat yang membolehkan perkawinan semacam itu, dan menyatakan bahwa walaupun aqidah Ketuhanan ajaran Yahudi dan Kristen tidak sepenuhnya sama dengan aqidah Islam, tetapi Al-Quran tidak menamai mereka yang menganut Kristen dan Yahudi sebagai orang-orang musyrik. Firman Allah dalam surat A1-Bayyinah (98): 1 dijadikan salah satu alasannya.

Ayat ini menjadikan orang kafir terbagi dalam dua kelompok berbeda, yaitu Ahl Al-Kitab dan Al-Musyrikin. Perbedaan ini dipahami dari kata “wa” yang diterjemahkan “dan”, yang oleh pakar bahasa dinyatakan sebagai mengandung makna “menghimpun dua hal yang berbeda”.

Larangan mengawinkan perempuan Muslimah dengan pria non-Muslim–termasuk pria Ahl Al-Kitab–diisyaratkan oleh Al-Quran. Isyarat ini dipahami dari redaksi surat Al-Baqarah (2): 221 di atas, yang hanya berbicara tentang bolehnya perkawinan pria Muslim dengan wanita Ahl Al-Kitab, dan sedikit pun tidak menyinggung sebaliknya. Sehingga, seandainya pernikahan semacam itu dibolehkan, maka pasti ayat tersebut akan menegaskannya.

Larangan perkawinan antar pemeluk agama yang berbeda itu agaknya dilatarbelakangi oleh harapan akan lahirnya sakinah (ketenangan – tambahan dari Ahmad R. Wardhana) dalam keluarga. Perkawinan baru akan langgeng dan tenteram jika terdapat kesesuaian pandangan hidup antar suami dan istri, karena jangankan perbedaan agama, perbedaan budaya, atau bahkan perbedaan tingkat pendidikan antara suami dan istri pun tidak jarang mengakibatkan kegagalan perkawinan. Memang ayat itu membolehkan perkawinan antara pria Muslim dan perempuan Utul-Kitab (Ahl Al-Kitab), tetapi kebolehan itu bukan saja sebagai jalan keluar dari kebutuhan mendesak ketika itu, tetapi juga karena seorang Muslim mengakui bahwa Isa a.s. adalah Nabi Allah pembawa ajaran agama. Sehingga, pria yang biasanya lebih kuat dari wanita–jika beragama Islam–dapat mentoleransi dan mempersilakan Ahl Al-Kitab menganut dan melaksanakan syariat agamanya,

Ini berbeda dengan Ahl Al-Kitab yang tidak mengakui Muhammad
Saw. sebagai nabi.

Di sisi lain harus pula dicatat bahwa para ulama yang membolehkan perkawinan pria Muslim dengan Ahl Al-Kitab, juga berbeda pendapat tentang makna Ahl Al-Kitab dalam ayat ini, serta keberlakuan hukum tersebut hingga kini. Walaupun penulis cenderung berpendapat bahwa ayat tersebut tetap berlaku hingga kini terhadap semua penganut ajaran Yahudi dan Kristen, namun yang perlu diingat bahwa Ahl Al-Kitab yang boleh dikawini itu, adalah yang diungkapkan dalam redaksi ayat tersebut sebagai “wal muhshanat minal ladzina utul kitab”. Kata al-muhshnnat di sini berarti wanita-wanita terhormat yang selalu menjaga kesuciannya, dan yang sangat menghormati dan mengagungkan Kitab Suci. Makna terakhir ini dipahami dari penggunaan kata utuw yang selalu digunakan Al-Quran untuk menjelaskan pemberian yang agung lagi terhormat.[1] Itu sebabnya ayat tersebut tidak menggunakan istilah Ahl Al-Kitab, sebagaimana dalam ayat-ayat lain, ketika berbicara tentang penganut ajaran Yahudi dan Kristen.

Pada akhirnya betapapun berbeda pendapat ulama tentang boleh tidaknya perkawinan Muslim dengan wanita-wanita Ahl Al-Kitab, namun seperti tulis Mahmud Syaltut dalam kumpulan fatwanya.[2]

Pendapat para ulama yang membolehkan itu berdasarkan kaidah syar’iyah yang normal, yaitu bahwa suami memiliki tanggung jawab kepemimpinan terhadap istri, serta memiliki wewenang dan fungsi pengarahan terhadap keluarga dan anak-anak. Adalah kewajiban seorang suami Muslim berdasarkan hak kepemimpinan yang disandangnya untuk mendidik anak-anak dan keluarganya dengan akhlak Islam. Laki-laki diperbolehkan mengawini non-Muslimah yang Ahl Al-Kitab, agar perkawinan itu membawa misi kasih sayang dan harmonisme, sehingga terkikis dari hati istrinya rasa tidak senangnya terhadap Islam. Dan dengan perlakuan suaminya yang baik yang berbeda agama dengannya itu, sang istri dapat lebih mengenal keindahan dan keutamaan agama Islam secara amaliah praktis, sehingga ia mendapatkan dari dampak perlakuan baik itu ketenangan, kebebasan beragama, serta hak-haknya yang sempurna, lagi tidak kurang sebaik istri.

Selanjutnya Mahmud Syaltut menegaskan bahwa kalau apa yang
dilukiskan di atas tidak terpenuhi –sebagaimana sering terjadi pada masa kini– maka ulama sepakat untuk tidak membenarkan perkawinan itu, termasuk oleh mereka yang tadinya membolehkan.

Kalau seorang wanita Muslim dilarang kawin dengan non-Muslim karena kekhawatiran akan terpengaruh atau berada di bawah kekuasaan yang berlainan agama dengannya, maka demikian pula sebaliknya. Perkawinan seorang pria Muslim, dengan wanita Ahl Al-Kitab harus pula tidak dibenarkan jika dikhawatirkan ia atau anak-anaknya akan terpengaruh oleh nilai-nilai yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam.

[1] Kata utuw, dalam berbagai bentuknya terulang di dalam al-Quran sebanyak 32 kali. Al-Quran menggunakannya untuk anugerah yang agung berupa ilmu atau Kitab Suci.

[2] Mahmud Syaltut 1959: 253

Kesungguhan Niat dan Keberkahannya

Sering sekali kita mendengar istilah niat kaitannya dengan ibadah. Apa sebenarnya makna niat?

Secara kebahasaan niat adalah: maksud atau tujuan perbuatan. Secara praktis, wujud niat itu menyengaja, yakni ada kesengajaan mengerjakan sesuatu, dan tujuan bersengaja tersebut adalah karena Allaah. Nabi Muhammad SAW bersabda,

Sesungguhnya niat letaknya di hati, atau dalam bahasa Jawa, krenteging ati untuk melakukan sesuatu dengan tujuan tertentu. Banyak bentuknya. Ada yang cukup dari hati. Ada yang dengan ucapan. Para ulama menyusun bacaan niat adalah sebagai penuntun agar hati kita niatnya jelas, tujuannya lurus. Maka muncul bacaan niat shalat, niat puasa, niat wudlu, dan lain sebagainya.

Ada yang dibaca bersama, seperti niat puasa, adalah sebagai pendidikan untuk semua umat, ayo bareng-bareng digenahke niate. Saat shalat pun bermacam-macam. Ketika kita berangkat ke Masjid untuk shalat, maka sesungguhnya niat tersebut sudah mewujud. Insya-Allaah cukup mencakup hadits Rasuulullaah SAW tentang niat tadi.

Tetapi agar mantap, disempurnakan juga tidak masalah. Maka muncul sebagian ulama dan umat, membaca niat khusus sesaat sebelum shalat. Kenapa perlu diucapkan? Ya untuk ngencengke tekad tadi. Ushalli fardlal subhi, rak-‘atayni, mustaqbilal qiblati, makmuuman, lillaahi ta’aala. Layaknya iman yang mencakup di dalam hati, lisan, dan perbuatan, begitu pula dengan niat, wujudnya juga akan lebih baik, jika mencakup ketiganya.

Hadirin rahimakumullaah.

Sudah sering kita dengar bagaimana fungsi niat dan pahala yang diperoleh, bahwa apa yang diniatkan, itulah yang kita peroleh. Dalam konteks masa hijrah Nabi Muhammad SAW, ada yang hijrah karena perempuan dan harta, maka harta dan perempuan tersebutlah batas perolehannya, tidak sampai kepada Allaah.

Atau ketika pasukan Abrahah mencoba menyerang Ka’bah, pasukan dihabiskan oleh Allaah dari depan sampai belakang, sehingga Sayyidatina ‘Aisyah bertanya kepada Rasuulullaah SAW, bagaimana status mereka yang berniat berdagang, bukan menyerang Ka’bah atau bukan termasuk golongan mereka (Abrahah)? Rasuulullaah SAW menjawab,

Atau bagaimana niat shadaqah yang lebih karena ingin dilihat orang lain, bukan karena ingin membantu? Maka yang didapat ya hanya pujian orang lain, tanpa pahala di sisi Allaah.

Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, menggambarkan bagaimana niat sebuah perbuatan mampu membawa keberkahan yang lebih daripada seharusnya.

Hadirin rahimakumullaah.

Hadits ini menunjukkan bahwa orang bersedekah mendapatkan pahala kebaikan sesuai dengan niatnya, walaupun sedekah ternyata diberikan kepada yang tidak berhak, yaitu orang kaya. Syaratnya, ia tidak tahu bahwa ia salah sasaran (tidak sengaja salah sasaran). Maksudnya baik, niatnya baik, pahala sedekah pun ia peroleh.

Hadits ini juga memberi pelajaran kepada kita bahwa niat baik tidak boleh berhenti sekalipun dikomentari orang lain. Bahkan, niat baik dan lurus, yang dikerjakan penuh kesungguhan, hanya karena Allaah, akan mendatangkan keberkahan berlipat dalam konteks hadits tersebut: mencegah orang mencuri, mencegah orang menjual diri, mendorong orang kaya melakukan sedekah.

Pun dengan i’tikaf kita. Niatkan karena Allaah, yakni mendekatkan diri kepada Allaah. Bukan karena status atau ingin dilihat orang lain. Sehingga ibadah i’tikaf akan membekas, di mana nama-nama Allaah yang baik, asmaul husna, Dzat yang sedang kita dekati, juga muncul dalam keseharian dan kehidupan sosial kita.

Sebagai penutup, akan saya berikan kisah masyhur yang konon terjadi pada diri Abu Nawas, kaitannya dengan keteguhan niat.

Suatu hari Abu Nawas bersama anaknya hendak menjual keledai ke pasar hewan. Keduanya berjalan kaki tanpa menunggangi keledainya.

Bertemulah ketiganya (dua manusia dan satu keledai) dengan seseorang dari arah berlawanan, di mana orang tersebut (yang tidak kenal dengan Abu Nawas, anaknya, maupun keledainya), berucap kepada rombongan Abu Nawas, “Ada keledai kok tidak dikendarai”,

Abu Nawas bereaksi, kemudian mengendarai keledainya.

Beberapa saat kemudian, rombongan Abu Nawas bertemu lagi dengan orang lain, sama tidak kenalnya, yang melontarkan komentar, “Orang tua kok tidak sayang anaknya. Anaknya jalan, ayahnya naik keledai”.

Abu Nawas bereaksi lagi, turun dari keledai dan menyuruh anaknya gantian mengendarai keledai.

Belum lama anak Abu Nawas berkendara, bertemulah mereka dengan seorang lagi yang tak mereka kenal, namun berkomentar, “Dasar anak durhaka. Ayahnya jalan kaki, yang muda naik kendaraan!”

Abu Nawas mendengarnya dan kemudian berboncengan bersama anaknya mengendarai sang keledai.

Lha kok belum berjalan lama, ketemu lagi dengan orang lain yang berkomentar, “Dasar manusia tak menghargai sesama makhluk ciptaan Allaah! Tahu keledai gak besar, masih juga dikendarai dua orang!”

Sambil menahan amarah, Abu Nawas berkata kepada anaknya, “sekarang kita turun dari keledai ini dan kita gendong keledai ini hingga tiba di pasar hewan! Tidak perlu dengarkan orang lain!”

Hadirin yang dirahmati Allaah SWT, demikianlah sikap yang benar dalam menghadapi suara orang lain. Ada dua jenis suara orang lain kepada kita, (1) suara dari orang yang tidak kenal dengan kita, hanya melihat sepintas pada diri kita, kemudian bersuara, ini disebut sebagai komentar; dan (2) suara dari orang yang kenal baik dengan kita, tahu persis siapa diri kita, sehingga menyuarakan pendapatnya, ini disebut sebagai nasihat.

Aktivitas kita sehari-hari, hingga langkah-langkah serius dan beresiko yang kita lakukan untuk mencapai cita-cita, kadang berhenti atau menjadi lambat, hanya karena mendengar komentar orang lain. Padahal, komentar harus selalu kita abaikan. Yang harus didengar adalah nasihat, bukan komentar.

Kalau sudah niat melakukan kebaikan karena Allaah, madhep manteb hanya mengharap ridla Allaah, kenapa harus repot mendengarkan komentar dan suara dari orang yang tidak kenal dengan kita? Cukup tolak dengan akhlak baik, seperti kita katakan, matur nuwun atas nasihatnya, ya, akan coba saya perhatikan. Tapi abaikan jika menghambat! Karena sesungguhnya itu hanya komentar saja.

Dengarkan nasihat dari mereka yang mengenal kita dengan baik, dari mereka yang sungguh-sungguh mengharap kebaikan kepada diri kita. Ingat selalu kisah Abu Nawas tadi sebagai ukuran untuk membedakan antara mana yang komentar, mana yang nasihat, agar semakin mudah bagi kita menjalani hidup dan ibadah.

Meneguhkan Pancasila dan Jalan Pertengahan sebagai Solusi Kebangsaan

Disampaikan dalam Ceramah Bakda Tarawih Keluarga Mahasiswa NU UGM di Mushalla Fakultas Filsafat UGM, 1 Juni 2017

Teman-teman yang dirahmati Allaah SWT.

Umat Islam adalah umat pertengahan, sebagaimana firman Allaah dalam al-Baqarah 143,

Kata wasath pada mulanya berarti segala yang baik sesuai objeknya, sebagaimana ungkapan arab,

Maka, yang terbaik adalah di pertengahan, yakni berada di antara dua posisi ekstrem. Bahwa berani adalah pertengahan antara nekat dan takut. Sementara dermawan adalah pertengahan antara boros dan kikir.

Lebih jauh, jika ada dua pihak yang berseteru, maka akan ada penengah yang harus adil, yakni disebut wasit.

Sementara, kata syahiid dan syuhadaa` berasal dari kata yang sama yang membawa makna luas, yakni yang disaksikan atau yang menyaksikan. Maksudnya, umat Islam adalah umat pertengahan yang disaksikan oleh semua umat manusia, sementara umat Islam menyaksikan Rasuul SAW sebagai sumber sifat-sifat pertengahannya. Umat Islam adalah syuhadaa`, yakni yang disaksikan (oleh manusia), sekaligus yang menyaksikan Rasuul SAW, sang syahiid, yang disaksikan, sebagai sumber wasathiyah, sumber pertengahan.

Pengertian pertengahan ini luas, yang setidaknya mencakup beberapa hal berikut,

  1. Umat Islam menganut ajaran Islam, yakni ajaran yang tidak ekstrem mengandalkan akal/logika saja, tetapi tidak pula terjatuh dalam spiritualitas absolut. Tidak pula terlalu materialistis (kebendaan, jasmaniah ekstrem), tetapi tidak pula spiritualistis murni (ruhaniah ekstrem). Islam tidak pula mengingkari wujud Tuhan, tetapi juga tidak kemudian terjebak dalam politeisme (banyak sesembahan), karena bagi Islam sesembahan adalah satu, Tuhan Allaah SWT. Mustahil Penguasa Alam ini lebih dari satu, karena pasti satu dengan lainnya memeiliki kehendak yang berbeda.

Islam tidak pula mengekang kebutuhan fisik seseorang (makan, minum, seksual), tetapi juga tidak membebaskannya secara ekstrim dalam memuaskannya. Islam menghendaki pemenuhan kebutuhan fisik tersebut dikendalikan dan dibingkai secara spiritual. Jasmani dan ruhani, seimbang. Di Ramadlan, siangnya kita wajib berpuasa bagi yang mampu, yakni menunda makan, minum, seksual, dan hal lain yang membatalkannya. Di Ramadlan pula, malamnya, kita diperbolehkan makan, minum, dan bahkan berhubungan seksual. Hanya saja, yang hubungan seksual itu hanya boleh yang sah dalam ikatan pernikahan.

Islam tidak melarang kepemilikan dan keinginan duniawiyah, tapi tidak pula memusatkan tujuan kehidupan hanya pada kehidupan sesudah kematian. Dunia adalah bekal bagi kehidupan akhirat. Berusahalah mencapai kondisi baik pada urusan duniamu sekaligus akhiratmu. Seimbang.

  1. Posisi pertengahan, ummatan wasathan membawa makna bahwa seorang muslim berada di posisi tengah, posisi pusat, dan menjadi perhatian dari berbagai penjuru. Maka, seorang muslim harus menjadi teladan sekaligus harus mampu memahami peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekelilingnya. Memahami dalam arti mampu menarik hikmah dari segala hal yang terjadi dalam pandangannya.
  2. Tengah, wasathan, juga membawa makna menegakkan keadilan kapan pun, di mana pun. Allaah Ta’aala berfirman di surat an-Maa`idah ayat 8,

Hadirin rahimakumullaah.

Sikap pertengahan-lah yang menjadi salah satu sebab dipilihnya Pancasila sebagai dasar negara Republik Indonesia. Di tengah situasi genting pada tahun 1945, para tokoh bangsa berhasil mencari jalan tengah di antara ide-ide tentang bentuk negara Indonesia saat itu. Pancasila merupakan dasar negara yang unik, karena para pendiri bangsa berhasil bersikap di tengah-tengah, di antara bentuk negara agama atau sekuler (meninggalkan agama dalam kehidupan bernegara).

Indonesia kita dengan Pancasilanya, bukanlah negara berdasarkan satu agama tertentu dan bukan pula negara sekuler yang meninggalkan agama sama sekali. Indonesia menjadikan agama sebagai menjadi spirit di kepala masing-masing warga dan penduduknya. Agama menjadi tuntunan moral utama bagi seluruh bangsa untuk menggerakkan negeri ke arah yang lebih baik, mencapai kesejahteraan dan kemakmuran bangsa, karena seluruh agama memiliki tujuan serta kebenaran universal tentang moral, kemanusiaan, kebaikan, dan keadilan.

Agama adalah kebutuhan mendasar setiap orang, karena manusia difitrahkan untuk mencari panduan hidup. Dan semua agama, dengan bentuknya masing-masing, memiliki satu bahasan yang sama di antara satu dengan yang lainnya, yaitu konsep KETUHANAN, betapapun berbedanya antara satu agama dengan agama lainnya.

Maka, yang dipilih Indonesia bukanlah agama apa yang akan menjadi dasar negara, dan lebih lagi, demi menghargai kemajemukan, Islam yang mayoritas melalui tokoh-tokoh kebangsaan di era kemerdekaan pun berkenan menerima konsensus agung: Ketuhanan sebagai Dasar Negara. Konsep Ketuhanan tepat dipilih, karena ia jauh lebih tinggi daripada agama manapun, dan sesungguhnya, merupakan tujuan dari masing-masing ajaran agama, yakni meraih ridla dari Tuhan.

Sayangnya, karena kondisi politik dan keamanan pada masa sesudah Gerakan 30 September, Pancasila ini dimanfaatkan menjadi jargon politik belaka. Pancasila didetailkan menjadi butir-butir pengamalan yang dipaksakan menjadi teori-teori di kelas, tanpa pelaksanaan yang terukur. Apalagi di tingkat kebijakan umum nasional, Pancasila belum di-breakdown dengan baik terutama untuk bidang ekonomi dan bidang lainnya. Bahasa mudahnya: konsep baik, tapi implementasi masih kurang.

Hadirin rahimakumullaah.

Hubungan Pancasila dengan Islam diteguhkan kemudian oleh NU melalui Munas Alim Ulama NU tahun 1983 di Situbondo. Meskipun pada awalnya hanya karena didorong oleh pemerintah agar menerima Pancasila sebagai azas tunggal untuk semua organisasi, momen ini menjadi kesempatan bagi NU untuk menguatkan penjelasan Pancasila sebagai jalan tengah umat Islam demi bersatunya kebangsaan Indonesia. Keputusan Munas tersebut berbunyi,

MEMUTUSKAN

Menetapkan

DEKLARASI TENTANG HUBUNGAN PANCASILA DENGAN ISLAM

Bismillahirramanirrahim

  1. Pancasila sebagai dasar dan falsafah Negara Republik Indonesia bukanlah agama, tidak dapat rnenggantikan agama dan tidak dapat dipergunakan untuk menggantikan kedudukan agama.

  2. Sila Kehutanan Yang Maha Esa sebagai dasar Negara Republik Indonesia menurut pasal 29 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945, yang menjiwai sila-sila yang lain, mencerminkan tauhid menurut pengertian keimanan dalam Islam.

  3. Bagi Nahdlatul Ulama, Islam adalah aqidah dan syari’ah, meliputi aspek hubungan manusia dengan Allah dan hubungan antar manusia. Penerimaan dan pengamalan Pancasila merupakan perwujudan dari upaya ummat Islam Indonesia untuk menjalankan syari’at agamanya.

  4. Sebagai konsekwensi dari sikap di atas, Nahdlatul Ulama berkewajiban mengamankan pengertian yang benar tentang Pancasila dan pengamalannya yang murni dan konsekwen oleh semua fihak.

Seiring dengan berjalannya sejarah bangsa Indonesia sejak merdeka hingga saat ini, kita dengan Pancasilanya, berhasil menunjukkan performa yang sangat indah, terlepas dari berbagai kekurangan yang masih ada.

Secara geografis, kita memiliki bentuk negeri berupa kepulauan, terhubung dengan lautan, membentang panjang, dengan berbagai bentuk perbedaannya, baik suku, bahasa, agama, budaya, dan adat kebiasaan lain. Lebih dari itu, jarak geografis yang berjauhan dan kekeliruan model pembangunan, membuat pemerataan kesejahteraan belum berlangsung dengan baik.

Namun, deskripsi tersebut tadi, tidak pernah memecah belah bangsa Indonesia. Benar muncul gerakan separatis di beberapa tempat, namun mayoritas masyarakat masih mencintai Merah-Putih, mencintai Indonesia sebagai negara dan kebangsaannya. Tanyalah pada teman-teman kita yang KKN hingga ke ujung-ujung Nusantara, bagaimana mereka dan masyarakat yang tak pernah kedatangan pejabat, tetap bersemangat dalam setiap perayaan kemerdekaan 17 Agustus.

Fenomena inilah yang mendorong kekuatan luar Indonesia untuk konsisten memecah belah bangsa. Bagaimana mungkin, negeri yang lebih rumit daripada Amerika Serikat kemajemukannya, bisa tetap bersatu dan bertahan, bahkan dengan ketidak-adilan ekonomi yang masih terus diperjuangkan?

Fenomena ini pula, yang ditambah dengan fenomena agama Islam sebagai mayoritas, membuat banyak orang bertanya-tanya, kenapa bisa tetap bersatu tanpa menjadi negara Islam? Kenapa bisa tidak terpecah-belah seperti halnya negara-negara berpenduduk Islam lainnya? Kenapa radikalisme tidak muncul dengan massif, padahal mayoritas muslim?

Inilah berkah Pancasila, yakni berkah atas konsistensi kita untuk berada di jalan tengah.

Hadirin rahimakumullaah.

Di tengah pergolakan keterbukaan politik di negeri-negeri berpenduduk Muslim di Timur Tengah dan Afrika, pada 2016 kemarin diadakan di Pekalongan sebuah Konferensi Internasional Ulama Thariqah yang menghadirkan ulama kunci dan berpengaruh dari 40 negara. Uniknya, konferensi mengambil judul Bela Negara: Konsep dan Urgensinya Menurut Islam. Dan beberapa tahun sebelumnya, ulama-ulama kunci dari Afghanistan rawuh ke UGM untuk belajar Pancasila.

Anda bayangkan, di saat beberapa golongan tertentu memaksakan formalisasi Islam sebagai Dasar Negara, kita justru didatangi oleh ulama dari 40 negara lebih, karena melihat berhasilnya konsep kenegaraan Indonesia yang kita bangun, melalui Pancasila, melalui konsep pertengahan.

Apa hasil dari Konferensi Ulama Thariqah? Ada sembilan poin, yakni

Pertama, negara adalah tempat tinggal di mana agama diimplementasikan dalam kehidupan.

Kedua, bernegara merupakan kebutuhan primer dan tanpanya kemaslahatan tidak terwujud.

Ketiga, bela negara adalah di mana setiap warga merasa memiliki dan cinta terhadap negara sehingga berusaha untuk  mempertahankan dan memajukanya.

Keempat, bela negara merupakan suatu kewajiban seluruh elemen bangsa sebagaimana dijelaskan Al-Quran dan Hadis.

Kelima, bela negara dimulai dari membentuk kesadaran diri yang bersifat ruhani dengam bimbingan para ulama.

Keenam, bela negara tidak terbatas melindungi negara dari musuh atau sekedar tugas kemiliteran, melainkan usaha ketahanan dan kemajuan dalam semua aspek kehidupan seperti ekonomi, pendidikan, politik, pertanian, sosial budaya dan teknologi informasi.

Ketujuh, bela negara menolak adanya terorisme, radikalisme dan ekstremisme yang mengataasnamakan agama.

Kedelapan, untuk mewujudkan bela negara dibutuhkan empat pilar, yaitu ilmuwan, pemerintahan yang kuat, ekonomi dan media.

Kesembilan, menjadikan Indonesia sebagai inisiator bela negara yang merupakan perwujudan dari Islam rahmatan lil alamin.

Hadirin rahimakumullaah.

Sekali lagi, inilah penegasan bersama, pentingnya Pancasila dan jalan tengah, kemoderatan umat Islam dalam kehidupan berbangsa. Saat ini, bukan Pancasilanya yang dihapus, tetapi kita perbaiki implementasinya dalam kebijakan-kebijakan strategis pemerintahan.

Mari kita bersama-sama, berperan dalam pembangunan bangsa, sesuai dengan jangkauan ruang dan waktu yang kita miliki, sesuai dengan bidang yang kita kuasai masing-masing. Dengan tetap konsisten berjalan di ajaran Islam yang moderat, insya-Allaah, menjadi siapapun kita, ahli di bidang apapun kita, konsep tawasuth, konsep pertengahan adalah yang terbaik untuk menyelesaikan berbagai urusan, termasuk kemajuan bangsa Indonesia.

Tetaplah setia kepada Indonesia dan Pancasilanya, terus mengabdi melalui ajaran agama Islam ala ahl as-Sunnah wal-Jamaah ah-Nahdliyah, demi meraih ridla Allaah SWT.

Cinta kepada Sesama Manusia: Pokok Ajaran Islam

Tautan versi PDF, silakan untuk digunakan sebagai bahan ceramah: LINK.

Alhamdulillaah, segala puji hanya pantas disandang oleh Allaah Tabaraka wa Ta’aala yang masih berkenan memberikan kepada kita kenikmatan agung untuk bertemu kembali dengan Ramadlan. Shalawat serta salam semoga tetap dan terus tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat, serta, pengikut beliau.

Hadirin rahimakumullaah.

Nikmat pertemuan dengan Ramadlan harus benar kita syukuri, agar Allaah Ta’aala melipat-gandakan nikmat tersebut, yakni semoga memberikan kesempatan kepada kita untuk bertemu dengan Ramadlan-Ramadlan di tahun berikutnya. Sesuai dengan firman Allaah Ta’aala yang masyhur tentang bersyukur (QS Ibrahim ayat 7),

Sama halnya dengan dua nikmat lain, yang kita kebanyakan lupa dan terlena, karena kehadiran nikmat tersebut yang berlangsung hampir setiap saat. Kanjeng Nabi SAW bersabda (HR at-Thabrani dari Ibnu ‘Abbas),

Dalam berbagai kesempatan, di setiap Ramadlan, saya selalu mengingatkan betapa aman dan nyamannya kita beribadah sebagai umat Islam di Indonesia. Kadang nikmat ini, yakni termasuk nikmat keamanan sebagaimana Nabi SAW sampaikan, lupa untuk kita syukuri.

Munculnya peledakan di Kampung Melayu yang diklaim oleh ISIS sebagai dalangnya, sudah sepantasnya meningkatkan kewaspadaan kita terhadap nikmat keamanan, yang jangan-jangan kita lupa mensyukurinya. Mari kita bercermin pula pada munculnya ISIS di Filipina, negara yang sangat dekat dengan Indonesia. Pun dengan peledakan dua bom di Baghdad, negeri berpenduduk mayoritas Islam, dalam sehari terakhir.

ISIS adalah ancaman nyata bagi umat Islam, karena pada nyatanya korban terbesar kekejian mereka selama ini adalah umat Islam sendiri. Ketika mereka terdesak di Timur Tengah, ISIS mencari cara lain untuk menyebarkan ajaran sesatnya: melalui kelompok-kelompok radikal di luar Timur Tengah. Sayangnya, ada sebagian putra bangsa Indonesia yang justru menganggapnya ancaman nyata ini sebagai rekayasa semata.

Hadirin rahimakumullaah.

Boleh jadi ada di antara kita ada yang bertanya-tanya, di mana letak kesalahan ajaran ISIS? Bukankah ISIS membawa bendera bertuliskan kalimat tauhid (laa-ilaaha-illaa-Llaah)? Jelas nyata, salah satu kesalahan yang paling nampak adalah kekejian ISIS kepada sesama manusia. Padahal Nabi SAW bersabda (HR Bukhari),

Jika Nabi SAW memerintahkan demikian, apakah mungkin muncul kekejian kepada sesama manusia? Tentu tidak.

Inilah kepedulian yang seharusnya muncul dari pemeluk Islam. Cinta, yang tidak hanya kepada sesama muslim atau sesama mukmin, tapi kepada sesama manusia. Atau dapat pula dikatakan, cinta kepada sesama manusia saja diperintahkan oleh Nabi SAW, apalagi kepada sesama muslim atau mukmin.

Dalam sabdanya yang lain Nabi SAW bersabda (HR ath-Thabrani dari Abu Umamah),

Sabda Nabi SAW menggambarkan bahwa ibadah vertikal dan personal kita kepada Allaah Tabaraka wa Ta’aala harus membekas di dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Bukankah memalukan jika shalat kita khusyu’ dan rajin namun tak tercermin di dalam cara kita berkomunikasi dengan tetangga atau orang lain siapapun itu? Bukankah seharusnya diri kita sendirilah yang mewujudkan firman Allaah (QS al-‘Ankabut ayat 45),

Ini karena kita bukan sekedar makhluk individu, tetapi juga makhluk sosial. Karena Allaah gambarkan pula penciptaan kita melalui makna surat al-‘Alaq, sesuatu yang menggantung di dinding rahim yang dimaknai kebutuhan manusia terhadap manusia lainnya. Wajarlah kemudian Islam juga mengajarkan fungsi sosial harta, melalui zakat, shadaqah, hibah, wakaf, hadiah, dan bahkan melarang beredarnya harta di antara sedikit orang, sebagaimana Allaah Ta’aala sampaikan dalam firman-Nya (QS al-Hasyr ayat 7),

Lebih dari itu, Nabi SAW menekankan pentingnya misi kemanusiaan dalam Islam, melalui sabda beliau (HR ath-Thabrani),

Sesudah iman kepada Allaah, maka wujud nyata keimanan harus ditujukan kepada sesama makhluk, terutama manusia. Dorongan ini selaras dengan fungsi kita sebagai khalifatullaah fil-ardl, wakilnya Gusti Allaah SWT di muka bumi, untuk memakmurkan bumi dan seisinya, menciptakan bayang surga di muka bumi.

Di sabda Nabi SAW yang lain, yang mirip maknanya dengan amalan utama sesudah iman agar mencintai sesama manusia, bahkan ditambah dengan perintah lain yang lebih indah. Beliau SAW bersabda (HR Baihaqi),

Inilah indahnya Islam yang sesungguhnya. Bahkan kepada mereka yang durjana pun, kita diperintahkan untuk berbuat baik. Membenci dan memberikan hukuman atas perbuatan seseorang yang melanggar dengan hukum positif itu harus, tapi tidak boleh kemudian memperburuk keadaan dengan berbuat buruk kepadanya. Justru sebaliknya: berbuat baiklah, sekalipun kepada seorang yang durjana!

Hadirin rahimakumullaah.

Mengapa berbuat buruk kepada pendosa dilarang? Mengapa mencaci seseorang yang berbuat dosa dilarang? Sebagaimana dikisahkan sebuah hadis (HR al-Bukhari dari Abu Hurairah RA), bahwa seorang laki-laki yang menenggak minuman keras dihadapkan kepada Nabi Muhammad SAW, Abu Hurairah berkata,

Menghukum seseorang sesuai dengan norma yang berlaku itu harus. Tetapi mencaci-maki sang pelanggar atau mengutuk hingga melaknatnya, sungguh dilarang oleh Nabi Muhammad SAW. Bahkan oleh Nabi SAW disamakan dengan memberikan pertolongan kepada setan!

Mengapa demikian? Karena tujuan syaithan menggoda manusia adalah untuk menjerumuskan kita kepada neraka, sehingga ketika kita sebagai manusia melakukan laknat kepada sesama manusia, mengutuk sesama manusia agar Allaah membenci, bahkan berharap para pendosa masuk ke neraka, apa bedanya kita dengan syaithan? Inilah maksud Nabi Muhammad SAW dengan memberikan pertolongan kepada syaithan.

Hadirin rahimakumullaah.

Saya berada di atas mimbar ini utamanya adalah untuk mengingatkan diri saya sendiri, baru kemudian mengajak bersama-sama kepada seluruh hadirin, untuk mengubah cara kita memandang kepada saudara-saudara kita yang masih bergelimang dosa. Tidak lagi dengan jijik dan kutukan, tapi dengan rasa kasihan dan dakwah serta doa.

Melihat para pemuda yang terjerumus ke premanisme dan bertindak kekerasan, tidak lagi dengan laknat tapi dengan rasa kasihan, kemudian memberikan nasihat jika kenal serta mendoakan semampunya. Melihat seorang yang sudah berusia dewasa namun masih menenggak minuman keras tidak lagi dengan sekedar kutukan dan doa keburukan, tapi dengan rasa kasih tentang kesehatan organ dalamnya, seraya memberikan nasihat dan mendoakan semampunya.

Secara praktek, ini sangat sulit. Bahkan saya sendiri pun belum tentu bisa melakukannya. Berdoa untuk yang kita kenal saja kadang kita lupa, bagaimana mungkin mendoakan orang yang buruk perangainya agar bisa berubah ke arah yang lebih baik? Maukah kita menyempatkan diri untuk memberi rasa kasih kepada saudara-saudara kita yang demikian, melalui dakwah, kata-kata, kelembutan, teladan, dan doa, agar kembali ke jalan yang benar?

Hadirin rahimakumullaah.

Nabi Muhammad SAW bersabda (HR ad-Dailami dari ‘Aisyah),

Inilah tugas kita dalam ikhtiar bersama menjadi wakil Allaah Tabaraka wa Ta’aala di muka bumi: mengajak manusia ke arah yang lebih baik dengan kata-kata, teladan, dan doa, dengan penuh kelembutan sebagai bentuk implementasi rasa cinta kepada sesama manusia. Bahkan kelembutan pada manusia sama fardlunya dengan kewajiban-kewajiban lain di dalam agama.

Tentu saja, tidak ada paksaan dari kita, apakah yang kita ajak mau ikut atau tidak. Bagaimanapun juga, datangnya hidayah, hadirnya petunjuk ke dalam hati seorang manusia bukan di tangan kita, tapi sepenuhnya merupakan kuasa Allaah SWT. Bahkan Nabi Muhammad SAW-pun tidak berhasil membuat pamannya Abu Thalib mengucapkan dua kalimat persaksian hingga akhir hayatnya.

Dengan demikian, bertemunya rasa cinta kepada sesama manusia dan kelembutan dakwah di dalam Islam, hendaknya akan menghindarkan kita dari siksa Allaah Ta’aala di dunia maupun akhirat, sebagaimana Allaah ingatkan (QS an-Nuur ayat 19),

Dan tentu saja, rasa cinta pada sesama manusia dan kelembutan dakwah, juga akan mencegah dari munculnya kerugian dan kekecewaan kita sebagai hamba Allaah, sebagaimana Nabi SAW sabdakan (HR Abu Nu’a-im al-Ashbahani),

Demikianlah penyampaian dari saya. Jika ada lebihnya itu hadir karena rahmat Allaah SWT, jika banyak kekurangan, sungguh semata-mata karena masih lemahnya ilmu yang saya miliki. Semoga Allaah memberikan kekuatan kepada kita untuk istiqamah berada di jalan cinta dan kelembutan dalam menjalankan Islam, Islam yang rahmatan lil-‘aalamiin. Aamiin.

Membeberkan Kesalahan tanpa Tujuan yang Dibenarkan

Akhir-akhir ini kondisi Indonesia sungguh sangat menyakitkan. Kata-kata hinaan dan cacian dikeluarkan dengan mudah melalui lisan kita. Pun dengan jari-jari kita melalui tulisan, cuitan, dan komentar di media sosial. Tidak hanya kita, karena bahkan beberapa orang yang dapat dikategorikan sebagai ulama atau sekedar dai juga menggunakan ekspresi lisan yang tak sopan di dalam ceramah-ceramahnya. Yang lebih menyakitkan adalah ketika cacian dan makian ditujukan kepada sesama muslim, di mana cacian terebut muncul hanya karena perbedaan pandangan terhadap sebuah permasalahan. Inikah Islam yang kita banggakan menjadi rahmat bagi semesta alam?

Beberapa hari yang lalu saya tersentak saat membaca penjelasan ulama besar Suriah, Syaikh Prof. Wahabah az-Zuhaili soal cacian: bahkan kepada seorang pendosa sekalipun, mencaci itu dilarang!

Berikut ini saya kutipkan penjelasan beliau di dalam Buku Ensiklopedia Akhlak Muslim – Berakhlak dalam Bermasyarakat terbitan Penerbit Noura Books tahun 2013, yang merupakan terjemahan dari Kitab Akhlaaq al-Muslim: ‘Alaaqatuhuu bi al-Mujtama` (Dar al-Fikr, Damaskus, Suriah, tahun 2002).

Semoga dapat menjadi bahan renungan kita semua, yang merindukan suasana damai dan tenteram di Indonesia tercinta.

Kutipannya sebagai berikut:

Membeberkan Kesalahan tanpa Tujuan yang Dibenarkan

Manusia terkadang melakukan kesalahan, kekhilafan, penyimpangan, dan kelalaian yang tidak disengaja. Oleh sebab itu, orang lain tidak dibenarkan mencela dan membeberkan kesalahan-kesalahan tersebut hingga menjatuhkan martabat yang bersangkutan. Etika yang baik adalah justru menyembunyikannya. Jika seseorang melakukan kesalahan, tidaklah pantas ia membicarakan dan membeberkan kelakuannya di malam hari secara diam-diam. Sebaliknya, ia harus bersyukur kepada Allaah SWT yang menutupi kesalahannya dan tidak diperlihatkan. Di samping itu, seseorang juga tidak boleh mencaci orang yang divonis berbuat salah, atau memberondong dengan segudang cacian, makian, dan umpatan, atau mengucapkan, “Semoga Allaah memusnahkanmu”. Semua kesalahan ini mendatangkan siksa atau hukuman bukan pada tempatnya.

Oleh karena itu, Allaah SWT memperingatkan orang-orang yang suka menebar rumor atau kata-kata kotor terhadap pelaku kesalahan dalam firman-Nya (al-Qur`an Surat an-Nuur (24) ayat 19):

 

 

Sesungguhnya orang-orang yang senang tersebarnya kekejian di (kalangan) orang-orang yang beriman, bagi mereka siksa yang sangat pedih  di dunia dan (azab yang lebih pedih) di akhirat.

Dengan kata lain, orang yang membeberkan perbuatan buruk tanpa keperluan, ia pantas mendapatkan siksaan yang pedih dan menyakitkan di dunia ini dan di akhirat. Larangan membeberkan berita buruk dan propaganda jahat yang tidak ada berguna ini sangat jelas.

Hadits berikut ini menganjurkan kita agr menutupi rahaisa yang tidak boleh dibeberkan, atau mengucapkan hal-hal yang tidak ada manfaatnya. Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah RA dari Nabi Muhammad SAW bersabda,

Dari Abu Hurairah RA, dari Nabi SAW, beliau bersabda: “Tidak ada orang yang menutupi kejelekan orang lain di dunia, kecuali Allaah akan menutupi kejelekannya di Hari Kiamat.”

Maksudnya, balasan menutupi kesalahan seseorang yang tidak disengaja, yaitu dengan tidak membeberkannya, kelak Allaah SWT akan menutupi kesalahan orang tersebut. Artinya, bisa jadi Allaah SWT menghapus dosanya. Bisa jadi pula Allaah SWT menutupi hingga tak seorang pun mengetahuinya.

Sebuah hadis muttafaq ‘alaih  dari Abu Hurairah RA mengatakan bahwa aku pernah mendengar Nabi Muhammad SAW bersabda,

Umatku akan mendapat ampunan, kecuali orang-orang yang terang-terangan berbuat dosa. Di antara dari mereka adalah orang yang berbuat dosa di malam hari dan pada pagi harinya ia menceritakannya, padahal Allaah telah menutupinya. Ia berkata, ‘Hai Fulan, aku tadi malam berbuat begini dan begini’. Sesungguhnya malam itu Allaah telah menutupi perbuatannya, namun pagi harinya ia malah membuka sendiri perbuatannya yang telah Allaah tutup.”

Hadis ini menjelaskan betapa besar dosa orang yang membeberkan kesalahan yang diperbuat. Tindakan seperti itu mengundang murka Allaah SWT. Orang seperti ini berarti tidak mengindahkan perasaan orang lain, merusak kesucian yang berlaku di masyarakat, serta melecehkan agama.

Hal ini ditegaskan lagi oleh hadis lain tentang larangan omong kosong atau bicara berlebihan.

Dalam hadis shahih dari Abu Hurairah RA dari Nabi Muhammad SAW bersabda,

Jikalau seorang hamba sahaya wanita nyata-nyata berzina maka cambuklah ia sesuai dengan had yang ditentukan dan jangan mengolok-oloknya. Kemudian jika ia berzina lagi maka cambuklah ia sebagai had-nya dan jangan mengolok-oloknya. Selanjutnya, jika ia masih berzina untuk ketiga-kalinya maka hendaklah ia dijual saja, sekalipun seharga seutas rambut.

Dengan kata lain, hukuman bagi pelaku zina bertujuan mendidik dan mengajaknya kembali ke jalan yang benar. Jika pemilik ingin menjualnya maka ia harus menjelaskan kekurangannya kepada si pembeli. Sebab, menjelaskan kekurangan hukumnya wajib, tentu saja jangan sampai berlebihan.

Demikian pula dengan orang merdeka, sebagaimana disitir hadis riwayat Imam al-Bukhari dari Abu Hurairah RA bahwa seorang laki-laki yang menenggak minuman keras dihadapkan kepada Nabi Muhammad SAW, Abu Hurairah berkata,

Di antara kami ada yang memukul orang itu dengan tangannya, ada yang memukul dengan sandalnya,  bahkan ada yang memukul dengan pakaiannya. Setelah orang itu pergi, sebagian orang berkata, Semoga engkau dihinakan Allaah. Beliau bersabda, Jangan berkata begitu. Janganlah kalian memberikan pertolongan kepada setan untuk menggodanya lagi.

Maksudnya, penenggak minuman keras boleh dijatuhi hukuman cambuk dengan tangan, pakaian, sandal, dan pelepah kurma. Akan tetapi, jangan mengutuknya, karena dengan begitu ia membantu setan. Doakan ia agar mendapat hidayah, kebenaran, dan selamat dari kehinaan. Ungkapan-ungkapan yang tidak disertai umpatan atau cacian tersebut dapat memacu pelaku maksiat untuk meninggalkan perbuatan dosa.

Begitulah arahan dan pendidikan Nabi Muhammad SAW, yaitu fokus pada menjatuhkan hukuman dengan tidak menggembar-gemborkan, mencaci, atau mengumpat pelakunya. Begitulah Islam dalam bermuamalah dan menjatuhkan sanksi hukum; serta menyesuaikan dan menerapkan keadilan antara tindakan dan hukuman. Sudah selayaknya kita menghiasi diri dengan akhlak luhur seperti ini, yang sangat kontras dengan yang terjadi di zaman sekarang, di mana pelaku kesalahan dihujani berbagai cacian, makian, dan kutukan.

 

Implementasi Energi Terbarukan Berbasis Komunitas

Teksnya dapat diunduh pada tautan berikut ini: TEKS

Kerusakan Lingkungan dalam Pandangan Islam

Kondisi perekonomian sebagai cerminan kondisi kesejahteraan fisik umat manusia, dalam dua abad terakhir mengalami peningkatan luar biasa. Namun demikian, kemajuan tersebut harus dibayar sangat mahal. Kualitas lingkungan hidup terdegradasi luar biasa parah. Sekitar separo hutan di muka bumi telah hilang, reduksi keanekaragaman parah terjadi di banyak tempat, air tanah terus terkuras dan terkontaminasi, polusi udara meningkat di sangat banyak tempat dan berbagai bencana serta potensi bencana lanjutan terkait perubahan iklim global terus bermunculan. Sementara itu sekitar seperlima penduduk dunia saat ini masih tetap hidup miskin. Kebutuhan untuk meningkatkan taraf hidup penduduk, termasuk lapisan miskinnya dan sekian banyak penduduk lagi yang akan lahir, menuntut berbagai kemajuan di bidang ekonomi. Jika pola pertumbuhan yang dianut saat ini terus berlanjut, maka tekanan destruktif pada daya dukung lingkungan dan ketersediaan berbagai sumber daya alam akan meningkat. Indonesia juga menghadapi masalah serupa [1].

Kerusakan lingkungan akibat perbuatan manusia, termasuk untuk kegiatan perekonomian, digambarkan dalam al Qur`an sebagai rusaknya keseimbangan. Shihab dalam menafsirkan al Qur`an surat ar-Ruum (30) ayat 41 menyatakan bahwa makna fasaad adalah keluarnya sesuatu dari keseimbangan atau lawan dari ash-shalaah yang berarti manfaat atau berguna. Sehingga ayat tersebut menggambarkan terjadinya kerusakan, ketidakseimbangan, serta kekurangan manfaat di daratan dan di lautan, yang mengarah pada kacaunya keseimbangan lingkungan. Fasaad tersebut dilakukan oleh manusia dan akan mengakibatkan siksaan kepada manusia. Semakin banyak kerusakan yang terjadi pada lingkungan, semakin besar pula dampak buruknya kepada manusia, karena Allaah SWT menciptakan semua makhluk saling kait-berkait. Timbulnya gangguan pada keharmonisan dan keseimbangan alam pasti berdampak pada seluruh bagian alam (termasuk manusia) baik yang merusak maupun yang merestui perusakan itu [2].

Perusakan lingkungan akibat kegiatan perekonomian juga dikecam dan diharamkan oleh Islam menurut penilaian Muktamar Nahdlatul ‘Ulama (NU) ke-29 di Cipasung, Tasikmalaya, pada 4 Desember 1994. Muktamar di antaranya menjawab pertanyaan dengan redaksi

Industrialisasi yang sekarang sedang digalakkan oleh pemerintah, ternyata membawa ekses yang cukup serius dan dampaknya juga merugikan kepentingan rakyat banyak, yakni biasanya hanya mengejar keuntungan sendiri, serta melupakan kewajiban untuk menangani dampak limbah yang ditimbulkan oleh pabrik. (a) Bagaimana hukum mencemarkan lingkungan? (b) Bagaimana konsep Islam dalam menangani ekses pencemaran lingkungan?

Muktamar NU menjawab

(a) Hukum mencemarkan lingkungan, baik udara, air maupun tanah, apabila menimbulkan dharar (kerusakan), maka hukumnya haram dan termasuk perbuatan kriminal (jinayat). (b) Konsepsi Islam dalam menangani ekses pencemaran lingkungan adalah: 1) apabila ada kerusakan, maka wajib diganti oleh pencemar, 2) memberikan hukuman yang menjerakan (terhadap pencemar) yang pelaksanaannya dengan amar ma’ruf nahi munkar sesuai dengan tingkatannya.

Jawaban Muktamar NU tersebut kemudian dilengkapi dengan kutipan rujukan dari 9 kitab yaitu: 1) al-Tafsir al-Kabir/Mafatih al-Ghaib (Muhammad al-Razi), 2) al-Jami’ li Ahkam al-Qur`an (Muhammad bin Abi Bakar al-Qurthubi), 3) al-Mawahib al-Saniyah Syarh al-Fawa’id al-Bahiyah (Abdullah bin Sulaiman), 4) Tabyin al-Haqa’iq Syarh Kanz al-Daqa’iq (Utsman bin Ali al-Zaila’i), 5) al-Kharraj (Abu Yusuf), 6) al-Ahkam al-Sulthaniyah (Abu Ya’la al Farra’), 7) Majma’ al-Dhamanat (Ghanim bin Muhammad al-Baghawi), 8) Mirqah Su’ud al-Tashdiq Syarh Sulam al-Taufiq (Muhammad Nawawi bin Umar al Bantani), (9) Ihya` ‘Ulum al-Diin (Abu Hamid al-Ghazaki), dan dua rujukan lain yang tidak dikutip (Hasyiyah al-Jamal, Juz V, halaman 196 dan Tafsir Ibn Katsir, Juz II, halaman 222) [3].

Tafsir al Qur`an surat ar Ruum (30) ayat 41 dan pembahasan Muktamar NU ke-29 tentang perusakan lingkungan menggambarkan konsistensi pandangan Islam tentang perekonomian, bahwa tujuan perekonomian sebagai hifdzu al-maal (perlindungan harta) demi memenuhi kemashlahatan umat tidak boleh menimbulkan kerusakan lingkungan, karena akan mengancam pada maqashid syariah lain, seperti hifdzu-n-nafs (perlindungan jiwa) dan hifdzu-n-nasli (perlindungan keturunan) [1].

Suplai dan Konsumsi Energi Indonesia: Penggerak Perekonomian

Kebutuhan energi Indonesia akan terus meningkat seiring dengan perkembangan ekonomi dan populasi. Populasi Indonesia meningkat 24,11%, dari sekitar 205 juta jiwa pada tahun 2000 menjadi 255 juta jiwa pada 2015. Peningkatan juga terjadi pada Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia yang merupakan indikator utama perekonomian. PDB Indonesia meningkat 119%, antara tahun 2000 dengan 2015, dari . Gambar 1 dan Gambar 2 menunjukkan grafik pertumbuhan populasi dan PDB Indonesia sejak tahun 2000 hingga 2015 [4].

Pada kurun waktu yang sama, pola energi Indonesia juga memiliki trend yang sama. Suplai energi meningkat 83,33% dari 726.687 SBM (2000) ke 1.332.242 SBM (2015), sedangkan konsumsi energi meningkat 63,18% dari 508.883 SBM (2000) menjadi 830.420 SBM (2015). Gambar 3 merupakan grafik pertumbuhan suplai dan konsumsi energi di Indonesia tahun 2000-2015 [4].

Apa yang Dimaksud dengan Energi Terbarukan?

Energi terbarukan (ET) secara umum didefinisikan sebagai energi yang berasal dari sumber yang terbarukan secara alami dan berkelanjutan, dengan laju yang lebih cepat dibandingkan dengan laju konsumsinya, seperti sinar matahari, angin, hujan, pasang-surut, gelombang, dan panas bumi, di mana memiliki empat fungsi khas yaitu menghasilkan energi untuk listrik, pendingin atau pemanas air dan udara, transportasi, dan jasa energi untuk wilayah terpencil [5, 6, 7, 8]. Lebih spesifik, ET dikelompokkan di antaranya menjadi bioenergi, geotermal atau panas bumi, air, laut (pasang-surut, gelombang, dan panas), matahari, serta angin [8].

ET menjadi solusi tepat untuk mengatasi pola pertumbuhan manusia dan listrik 40 tahun terakhir, di mana manusia bertambah dari 4 milyar menjadi 7 milyar dan listrik tumbuh 250% [9]. ET yang memiliki emisi karbon jauh lebih sedikit dibandingkan energi fosil (Tabel 1) juga sekaligus akan berkontribusi dalam ikhtiar global untuk membatasi peningkatan suhu global di bawah 2 °C. Laporan International Renewable Energy Agency (IRENA) pada 2015 misalnya, menunjukkan bahwa tanpa peran ET, emisi total sektor energi secara global akan 20% lebih tinggi [10].

Implementasi ET juga menimbulkan dampak positif pada pertumbuhan ekonomi karena munculnya lapangan kerja, baik langsung (direct, seperti perancangan, manufaktur, pengiriman, instalasi/konstruksi beserta manajemen dan administrasinya, serta operasional dan pemeliharaan), tidak langsung (indirect, seperti manufaktur alat dan komponen pendukung sistem ET sepanjang rantai pasoknya), maupun terikut (induced, seperti tumbuhnya aktivitas perekonomian karena adanya instalasi atau proses pengajaran teknologi ET) [12]. Memungkinkan pula bagi ET yang mampu melistriki daerah terpencil untuk meningkatkan pendapatan masyarakat setempat karena meningkatnya kemampuan mengolah sumber daya alam lokal berbasis ET atau munculnya lapangan pekerjaan baru akibat adanya akses listrik.

Secara global, lapangan kerja langsung di sektor ET menyerap 6,5 juta pekerja pada 2013; 7,7 juta pekerja pada 2014; dan 8,1 juta pekerja pada 2015 [13, 14, 15]. Jumlah ini akan terus meningkat karena nilai investasi terhadap ET diproyeksi harus meningkat hingga USD 550 Milyar per tahun untuk mencegah bencana global akibat perubahan iklim. Peningkatan investasi ini akan didukung di antaranya oleh: 1) menurunnya harga komponen ET, 2) teknologi ET yang terus berkembang efisiensinya, 3) meningkatnya pengalaman pengembang dan lembaga keuangan dalam menghitung resiko, dan 4) manfaat ET yang makin terasa secara simultan di sektor ekonomi, sosial, dan lingkungan [16].

Energi Terbarukan Indonesia: Pembangkit Listrik

Indonesia yang terletak di wilayah ekuator bumi sesungguhnya memiliki beberapa faktor pendukung pengembangan ET, di antaranya: 1) matahari bersinar sepanjang tahun, 2) tanpa musim dingin, sehingga tidak ada permintaan energi yang besar dalam bentuk panas pada musim dingin, 3) wilayah laut yang luas sebagai sumber pengembangan energi kelautan (pasang-surut atau gelombang), 4) gunung berapi dan hutan, potensi energi biomassa tumbuhan, 5) banyaknya wilayah kepulauan, potensi kemandirian energi dengan sumber daya energi lokal, dan 6) wilayah perkotaan yang padat, potensi energi sampah perkotaan.

Porsi energi nasional yang digunakan sebagai pembangkit listrik pada tahun 2015 mencapai 16,5%. Porsi ini mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan tahun 2000 yang hanya pada angka 9,8%. Gambar 4 menunjukkan persentase porsi energi nasional yang berfungsi untuk pembangkitan listrik tahun 2000-2015 [17].

Seberapa besar peran energi terbarukan dalam pasokan listrik nasional? Data terbaru yang dirilis Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM RI menunjukkan kapasitas terpasang pembangkit listrik dari energi terbarukan non-bio hanya 12,4% (6.706,25 MW). Selebihnya, 44,61% (24.770,50 MW) dari batubara; 27,51% (15.275,35 MW) berbahan bakar gas; 15,65% (8.689,79 MW) merupakan pembangkit listrik dari berbagai jenis produk turunan minyak bumi; dan sisanya adalah pembangkit listrik biomassa (0,09% – 50,23 MW) dan sampah (0,06% – 36 MW). Gambar 5 menunjukkan kapasitas pembangkit listrik terpasang di Indonesia berdasarkan jenisnya [17].

Masih bersumber dari data yang sama, pada tahun 2015, energi terbarukan non-bio yang terpasang di Indonesia di dominasi oleh pembangkit listrik tenaga air dan geotermal, sisanya merupakan pembangkit minihidro, mikrohidro, tenaga surya (PLTS), dan tenaga angin (PLT-Bayu). Kapasitas pembangkit listrik tenaga air mencapai 5.079,06 MW (75,74%) dan panas bumi berada pada angka 1.435,40 MW (21,40%). Sedangkan kapasitas terpasang minihidro, mikrohidro, PLTS, dan PLT-Bayu berturut-turut adalah 151,18 MW (2,25%); 30,46 MW (0,45%); 9,02 MW (0,13%); dan 1,13 MW (0,02%). Persentase kapasitas pembangkit energi terbarukan non-bio ditampilkan secara grafis pada Gambar 6 [17].

Perlu menjadi catatan penting, bahwa kapasitas terpasang atau daya terpasang dalam bahasa awam dapat disebut sebagai potensi energi, bersatuan Watt. Sebuah pembangkit mampu memproduksi energi jika ia menyala dalam kurun waktu tertentu, satuannya dinyatakan dalam Watt jam atau dikenal Watt hour. Listrik PLN misalnya, tarifnya dibayar per kWh, per kilo-Watt hour, per kilo-Watt jam, atau setiap listrik senilai 1.000 Watt jam. Sebuah televisi dengan daya 150 Watt, misalnya, jika dinyalakan satu jam bermakna akan menghabiskan listrik sejumlah 150 Watt jam, dan seterusnya.

Artinya, kapasitas terpasang pembangkit listrik tidak menjamin tersedianya listrik, kecuali pasokan bahan bakarnya berlangsung secara kontinyu. Rantai pasok batubara dan berbagai produk turunan minyak bumi memiliki peran penting, terutama bagi pembangkit listrik di wilayah terpencil. Beberapa pengelola pembangkit memiliki SOP yang jelas untuk mencegah terhentinya pasokan bahan bakar akibat kendala transportasi, meskipun menimbun bahan bakar juga berkonsekuensi pada biaya pergudangan dan lingkungan yang tak sedikit.

Sementara pembangkit energi terbarukan bertenaga air memiliki masalah tentang kurangnya debit air, baik akibat sedimentasi pada bendungan (untuk PLTA), maupun kurangnya pasokan air di musim kemarau (untuk minihidro dan mikrohidro). Kendala pada PLTS dan PLT-Bayu, masing-masing terletak pada pasokan sinar matahari yang kurang karena mendung serta hembusan angin yang tak berlangsung sepanjang 24 jam.

Kapasitas energi terbarukan di Indonesia akan terus ditingkatkan oleh para pemangku kepentingan nasional, mengingat Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2014 tentang Kebijakan Energi Nasional mengamanatkan suplai energi terbarukan harus mencapai persentase 23% pada 2025 dan 31% pada 2050.

Rasio Elektrifikasi

Akses listrik masyarakat dinyatakan dalam sebuah rasio elektrifikasi, yakni perbandingan antara rumah tangga yang telah memiliki akses listrik dengan rumah tangga secara keseluruhan. Hingga akhir tahun 2015, rasio elektrifikasi Indonesia mencapai angka 88,30%, dengan rincian 56,6 juta pelanggan PLN dan 1,37 juta berlistrik non-PLN, dari total 65,67 juta rumah tangga di seluruh Indonesia. Rasio elektrifikasi pada akhir 2015 tersebut juga berarti masih ada sekitar 7,6 juta kepala keluarga yang belum menikmati listrik sama sekali. Lebih dari itu, jika ditinjau dari rasio elektrifikasi di setiap provinsi, terdapat variasi nilai sebagai berikut: 1) 90-an persen, 9 provinsi, 2) 80-an persen, 15 provinsi, 3) 70-an persen, 6 provinsi, 4) 60-an persen, 2 provinsi, 5) 50-an persen, satu provinsi, dan 6) 40-an persen satu provinsi [17].

Pemerintah optimis tahun 2016 rasio elektrifikasi nasional dapat mencapai angka 90-91 persen, karena harus mengejar target rasio elektrifikasi minimal 99,5% pada 2019. Optimisme ini muncul, merujuk pada kinerja 2014 dan 2015 yang mampu melampaui target. Pemerintah pada 2014 menargetkan 84,3% yang ternyata terwujud hingga 87,5%, dan pada 2015, dari target 87,5% dapat terealiasasi hingga 88,3% [18].

Energi Terbarukan untuk Kemandirian Desa: KEMALA

Pada tanggal 24 Juni 2016, Konsorsium untuk Energi Mandiri dan Lestari (KEMALA), menandatangani perjanjian hibah PSDABM (Pengelolaan Sumber Daya Alam Berbasis Masyarakat) dengan Millenium Challenge Account Indonesia (MCAI). KEMALA merupakan konsorsium yang dipimpin oleh Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Masyarakat Nahdlatul ‘Ulama (Lakpesdam-PBNU) yang beranggotakan Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM (PUSTEK UGM), Pusat Studi Energi UGM (PSE UGM), dan Center For Civic Engagement and Studies (CCES atau Pusat Kajian dan Penguatan Kewargaan).

Hibah PSDABM yang diterima Konsorsium Kemala bertajuk Peningkatan Pendapatan Rumah Tangga Miskin melalui Usaha Hijau yang Didukung oleh Energi Terbarukan yang berlokasi di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi (dua desa) dan Kabupaten Solok Selatan, Provinsi Sumatera Barat (satu jorong).

Hibah ini merupakan ikhtiar nyata NU dan UGM untuk memadukan kemampuan kedua lembaga besar ini: NU dan CCES dengan basis pengelolaan komunitas yang partisipatif dan advokasinya, serta UGM dengan kemampuan pengelolaan teknologi energi terbarukan dan pengembangan perekonomian kerakyatannya.

Energi terbarukan dalam hibah ini merupakan pembangkit listrik tenaga surya yang akan digunakan sebagai pemicu peningkatan kualitas hidup masyarakat setempat dengan akses energi rendah emisi karbon, di antaranya melalui, 1) penerangan pada malam hari, 2) energi untuk mengelola komoditas perekonomian lokal (peningkatan nilai tambah komoditas kopi, jagung, pisang, dan ikan), serta 3) energi untuk penyediaan air bersih melalui pompa air bertenaga surya.

Implementasi energi terbarukan ditargetkan akan menumbuhkan lapangan pekerjaan (green jobs), peningkatan pengetahuan administrasi dan keuangan, peningkatan waktu belajar di malam hari, dan peningkatan kualitas kesehatan akibat ketersediaan air bersih. Beberapa green jobs yang ditargetkan muncul di antaranya adalah 1) pekerjaan lokal untuk mendukung pelaksanaan hibah, 2) lembaga pengelola administrasi dan keuangan sistem energi, 3) personel operasional dan pemeliharaan, dan 4) pengelolaan komoditas lokal beserta rantai produksi, distribusi, dan pemasarannya.

Sementara sebagai salah satu strategi peningkatan kapasitas, KEMALA akan membentuk Sekolah Hijau yang terdiri dari tiga tahapan pembelajaran yaitu, pendidikan dasar (peningkatan wawasan dan karakter individu), pendidikan menengah (keterampilan dan penguatan kelembagaan), serta pendidikan lanjut (penguatan jaringan dan pemasaran). Peserta Sekolah Hijau nantinya adalah masyarakat desa berbagai lapisan dan profesi dengan afirmasi peserta dari penduduk miskin dan kelompok perempuan.

Membangun Kesadaran akan Kemandirian

Kendala elektrifikasi yang paling nyata dihadapi adalah masalah akses menuju konsumen listrik, sehingga meningkatkan biaya konstruksi infrastruktur distribusi listrik. Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang belum memiliki listrik mayoritas terletak di sekitar kawasan pantai Gunungkidul atau pegunungan di Kulon Progo. Kondisi topografi dan jauhnya dari pemukiman lain, menjadikan PLN harus merogoh koceknya cukup dalam jika ingin melistriki wilayah tersebut.

Sama halnya dengan lokasi di program KEMALA. Satu lokasi di Sumatera Barat harus ditempuh selama dua jam dari ibukota Solok Selatan, meskipun jarak horizontalnya hanya 25 km. Sementara dua desa lokasi program di Jambi, hanya bisa ditempuh dengan menggunakan kapal motor kecil. Keterbatasan akses tersebut berkonsekuensi pada banyak hal, seperti akses pendidikan yang terbatas, ketergantungan pada pasokan minyak diesel atau bahkan memilih untuk tidak memiliki listrik sama sekali, serta munculnya tambahan waktu dan biaya untuk setiap kebutuhan yang dibeli dari luar desa/jorong. Khusus dua desa di Jambi yang berada di tepi sungai Batanghari, lokasi ini memiliki masalah tahunan berupa banjir sekaligus masalah harian berupa air bersih MCK yang diambil dari sungai dan air minum kemasan galon yang dibeli dari luar desa. Kesimpulannya, masalah utama masyarakat di lokasi program adalah kemiskinan.

Pada awal November 2016, sebagai bagian dari kegiatan hibah, KEMALA mendatangkan 12 orang  dari lokasi program ke Yogyakarta selama lima hari dalam kegiatan bertajuk Green Visioning atau pembangunan visi hijau masyarakat, sebagai awal pembentukan Komunitas Belajar Sekolah Hijau. Kegiatan ini di antaranya adalah kunjungan ke Desa Nglanggeran di Gunungkidul yang sukses dengan kemandirian desanya di bidang wisata, pertanian, perkebunan, dan peternakannya, secara integral, serta Dusun Banyumeneng di Panggang, Gunungkidul yang berhasil dalam membangun komunitas pengelolaan air bersih berbasis PLTS-nya. Selain itu, 12 orang inilah yang akan menjadi Kader Hijau di tingkat desa/jorong, sebagai penggerak dan motivator bagi masyarakat desa/jorong untuk mencapai kemandirian desa/jorong secara bersama-sama. Tujuan besar yang sesungguhnya adalah membangun visi masyarakat, melalui masyarakat, yang nantinya manfaatnya juga langsung akan dirasakan oleh masyarakat sendiri.

Salah satu kesan yang ditangkap oleh KEMALA setelah kegiatan Green Visioning adalah adanya semangat yang luar biasa dari Kader      Hijau untuk belajar dan menambah wawasan serta melakukan kontekstualisasi pada daerahnya masing-masing. Hanya saja, selama ini kurangnya wawasan, pengetahuan, teknologi, dan pendampingannya telah meredupkan semangat bagi masyarakat untuk berbenah ke arah yang lebih baik. Lebih dari itu, Sekolah Hijau juga ditargetkan untuk mampu berkontribusi dalam meningkatkan kapasitas masyarakat, menggugah kesadaran tentang adanya potensi sumber daya lokal, dan mengelolanya untuk meningkatkan pendapatan masyarakat.

Dalam mengembangkan kemandiriannya, desa atau komunitas lokal di tingkat masyarakat tidak bisa dimaknai berdiri sendiri di dalam siklus tertutup di tingkat lokal. Justru desa harus bekerjasama secara sinergis dan integral dengan desa-desa lain untuk saling memenuhi kebutuhan, saling memanfaatkan dalam arti yang positif. Begitu pula dengan pemerintah desa yang memiliki wewenang pemanfaatan anggaran dana desa (dari APBN dan APBD), sangat berpeluang mengalokasikan dana pemberdayaan masyarakat untuk mengelola komoditas lokal. Sementara pemerintah kabupaten dan provinsi melalui SKPD harus turut mendorong kemandirian desa lewat alokasi dana di APBD: bukan memberi ikan, tetapi justru memberi pancing dan mengajarkan cara memancingnya. Konsekuensi logisnya juga sangat positif, yakni adanya keterlibatan langsung masyarakat dalam menyusun program pembangunan desa sekaligus pelaksanaan dan pengawasan penggunaan anggarannya.

Pembangunan dari desa merupakan solusi riil kemandirian Indonesia, sebagai perwujudan cita-cita para pendiri bangsa saat mendeklarasikan NKRI: memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Semoga Allaah SWT memudahkan ikhtiar kita.

 

REFERENSI

  1. Budiarto, R.; Wardhana, A. R.; Prastowo, A. R. (2016). Implementation of Islamic Economics in Indonesia by Developing Green Economics Through Renewable Energy Technologies, 1st Gadjah Mada International Conference on Islamic Economic and Development, Yogyakarta
  2. Shihab, Q. (2003). Tafsir Al-Mishbah – Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur`an Volume 11, Lentera Hati, Jakarta
  3. Tim Lajnah Ta’lif wan Nasyr (LTN) PBNU (2011). Ahkamul Fuqaha – Solusi Problematika Aktual Hukum Islam – Keputusan Muktamar, Munas, dan Konbes Nahdlatul Ulama (1926 – 2010 M), Khalista, Surabaya
  4. Kementerian ESDM RI (2016). Handbook of Energy & Economic Statistics of Indonesia 2016, Jakarta
  5. Omar Ellabban, Haitham Abu-Rub, Frede Blaabjerg (2014). Renewable energy resources: Current status, future prospects and their enabling technology. Renewable and Sustainable Energy Reviews 39, 748–764, 749, doi:10.1016/j.rser.2014.07.113
  6. REN21 (2010). Renewables 2010 Global Status Report, hlm. 15
  7. http://www.iea.org/topics/renewables/, diakses pada 1 Juni 2016
  8. IRENA (2009). Statute of The International Renewable Energy Agency (IRENA), hlm. 4-5.
  9. IRENA (2014). REthinking Energy 2014, hlm. 12.
  10. IRENA (2015). REthinking Energy 2015, hlm. 11.
  11. Lenzen, M. (2009). Current state of development of electricity-generating technologies, The University of Sydney
  12. Wei, M, Patadia, S., and Kammen, D.M. (2010). Putting renewables and energy efficiency to work: How many jobs can the clean energy industry generate in the US?, of Energy Policy, Vol. 38, hlm. 919 – 931
  13. IRENA (2014). Renewable Energy and Jobs – Annual Review 2014
  14. IRENA (2015). Renewable Energy and Jobs – Annual Review 2015
  15. IRENA (2016). Renewable Energy and Jobs – Annual Review 2016
  16. IRENA (2014). REthinking Energy 2014, hlm. 12-17
  17. Kementerian ESDM RI, Dirjen Ketenagalistrikan (2016). Statistik Ketenagalistrikan 2015 – Edisi No. 29 Tahun Anggaran 2016, Jakarta
  18. http://m.liputan6.com/bisnis/read/2497279/esdm-optimistis-rasio-elektrifikasi-2016-lampaui-target, diakses pada 30 November 2016
  19. Lenzen, M. (2009).Current state of development of electricity-generating technologies, The Universityof Sydney

Meraih Berkah Kelembutan dalam Dakwah

Menyampaikan dakwah harus dengan metode yang tepat dan penuh kelembutan dan kesabaran. Allaah Ta’aala berfirman di dalam surah an-Nahl 125,

Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik dan bantahlah dengan cara yang terbaik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yanh mendapat petunjuk.

Ayat ini merupakan bentuk tiga macam dakwah, yakni (1) dengan hikmah, (2) dengan maw-‘izhah hasanah, (3) berdebat dengan cara terbaik.

Hikmah ditujukan kepada mereka yang berpengetahuan tinggi, yakni berdialog dengan kata-kata bijak sesuai dengan tingkat kepandaian mereka. Maw-‘izhah hasanah ditujukan kepada kaum awam, yakni dengan  memberikan nasihat dan perumpamaan yang menyentuh jiwa sesuai dengan taraf pengetahuan mereka yang sederhana. Sedangkan kepada Ahl-al-Kitaab dan penganut agama lain, digunakanlah jidal atau perdebatan dengan cara terbaik, yakni logika (masuk akal) dan retorika (kata-kata yang mampu mengajak), tanpa kekerasan dan umpatan.

Ketiga metode ini, tidak terpaku pada tiga golongan tadi, tetapi dapat saling mengisi. Hikmah memang untuk cendekiawan, tetapi hikmah pun dapat digunakan untuk kaum awam maupun penganut agama lain. Begitu pula dengan metode lain, saling mengisi sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapi dalam dakwah.

Hikmah juga diartikan sebagai sesuatu yang bila digunakan/ diperhatikan akan mendatangkan kemanfaatan dan kemudahan yang besar atau lebih besar, serta menghalangi terjadinya kerusakan atau kesulitan besar atau yang lebih besar. Makna ini ditarik dari kata hakamah, yang berarti kendali, karena kendali menghalangi hewan/kendaraan mengarah ke arah yang tidak diinginkan atau menjadi liar. Memilih perbuatan yang terbaik dan sesuai, atau bahkan memilihnya (terbaik dan sesuai) di antara dua hal yang buruk pun dinamai hikmah, dan pelakunya disebut hakiim (bijaksana).

Hikmah juga dimaknai sebagai (1) himpunan segala ucapan atau pengetahuan yang mengarah pada perbaikan keadaan dan kepercayaan manusia secara bersinambung, dan (2) sesuatu yang mengena kebenaran berdasar ilmu dan akal, yakni kebenaran yang tidak mengandung kelemahan dan tidak pula kekaburan.

Maw-‘izhah bermakna uraian yang menyentuh hati yang mengantar pada kebaikan, sedangkan jidaal, asal kata jaadilhum, bermakna diskusi atau bukti-bukti yang mematahkan alasan atau dalih mitra diskusi dan menjadikannya tidak dapat bertahan, baik yang dipaparkan itu diterima oleh semua orang maupun hanya oleh mitra diskusi.

Yang menarik, maw-‘izhah disifati dengan hasanah (baik) sedangkan jidaal disifati dengan ahsan (terbaik). Hal ini membawa makna bahwa metode maw-‘izhah ada yang baik dan ada pula yang buruk. Sementara berdebat atau jidaal mempunyai tiga jenis, buruk, baik, dan terbaik.

Maw-‘izhah yang baik berarti uraian harus disertai pengamalan dan teladan oleh yang menyampaikan agar sampai di hati sasaran dakwah. Dan dalam debat atau jidaal, yang buruk adalah debat yang mengundang kemarahan lawan dan argumen atau pendapat yang tidak benar; yang baik adalah dengan sopan dan pendapat yang walaupun hanya diakui oleh lawan saja; dan yang terbaik adalah dengan sopan, dengan pendapat yang benar, dan dapat membungkam lawan.

Kemudian, pada ayat 126, masih di surah an Nahl Allaah Ta’aala berfirman,

Dan apabila kamu membalas, maka balaslah persis sama dengan siksa yang ditimpakan kepada kamu. Akan tetapi jika kamu bersabar sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi para penyabar.

Ayat ini sebagai lanjutan dari ayat tentang metode dakwah, bahwa ketika mereka yang kita dakwahi melakukan pembangkangan atau  bahkan menggunakan kejahatan dan kekejian sebagai reaksi terhadap dakwah kita, maka Allaah anjurkan untuk tidak membalas. Kenapa demikian?

Allaah sampaikan dengan kata wa in ‘aaqabtum (dan apabila kamu membalas), di mana, kata in atau yang biasa diterjemahkan sebagai apabila, tidak digunakan dalam bahasa Arab kecuali terhadap sesuatu yang jarang atau diragukan terjadi. Berbeda dengan kata idzaa yang mengandung isyarat adanya kepastian akan terjadinya apa yang dibicarakan. Dan Allaah lanjutkan, akan tetapi jika kamu bersabar sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi para penyabar, kemudian di ayat 127 ditekankan kembali agar muncul kebulatan tekad untuk bersabar itu dengan kata pembuka washbir, bersabarlah, wa maa shabruka illa bi-Llaah, dan seterusnya.

Dengan demikian, penggunaan kata wa in, dan apabila dalam ayat ini menjelaskan bahwa pembalasan kejahatan itu boleh dan harus setimpal, meskipun dianjurkan untuk bersabar sebagai pilihan yang terbaik. Pembalasan terhadap kejahatan diperbolehkan, harus setimpal, tetapi digunakan kata wa in, dan apabila, yang membawa isyarat: jarang terjadi, atau diragukan terjadi.

Ayat ini ternyata berhubungan erat dengan ayat lain, di surat Fushilat ayat 34-35, Allaah Ta’aala befirman,

(34) Dan tidaklah sama kebaikan dan tidak (pula) kejahatan. Tolaklah dengan yang terbaik, maka tiba-tiba orang yang di antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah dia teman yang setia. (35) Tidaklah dipertemukan hal itu melainkan kepada orang-orang yang telah sabar dan tidaklah ia dianugerahkan melainkan pemilik keberuntungan yang besar

Ayat 34 menunjukkan perbedaan yang tegas antara kebaikan dan kejahatan, bahwa sebagai kelanjutan penjelasan ayat pembalasan di surah an Nahl 126, Anda boleh membalas meskipun direkomendasikan bersabar, tapi ya itu, apa yang membedakan Anda dengan mereka, kalau sama-sama dengan kekerasan?

Maka kemudian Allaah sampaikan, tolaklah dengan yang terbaik, maknanya, balaslah keburukan dengan cara yang terbaik, yaitu tumindak ala ojo dibales dengan tumindak ala, tapi kedah ngangge tumindak sae, maka tiba-tiba (fa-idzaa), yang sebelumnya bermusuhan akan berubah menjadi bagaikan teman yang setia.

Kok bisa, dari perangai buruk menjadi baik, dari musuh menjadi teman? Tafsir al Mishbah menjelaskan sebagai berikut,

Jiwa manusia sangat ajaib. Tidak jarang menyangkut satu objek pun hatinya bersikap kontradiktif, sampai-sampai, menurut Prof. Haamid Thaaha al Khasysyaab dari Universitas al-Azhar Mesir mengatakan, “Setiap perasaan betapa pun agung dan luhurnya, tetap mengandung perasaan yang bertolak belakang dengannya. Perasaan mempunyai logika yang berbeda dengan logika akal, karena akal tidak dapat menggabung dua hal yang bertolak belakang. Karena itu tidak ada cinta tanpa benci, tidak ada juga rahmat tanpa kekejaman.

Poinnya ada cinta, pasti ada juga sedikit kebencian. Begitu pula sebaliknya. Jika seseorang memusuhi orang lain dan memperlakukannya secara tidak wajar, yakni dengan kekerasan atau kekejian, maka pada saat yang sama, disadari atau tidak, ada benih simpati, empati, dan kebaikan di dalam diri yang memusuhi, namun benih perasaan ini ditekan dan dipendam, karena baginya ia berhadapan dengan musuh. Nah, ketika permusuhan dan kekejian tadi dihadapi dengan kelemah-lembutan, dengan kebaikan, itu akan mengundang kembali benih-benih kebaikan yang tadi berusaha dipendam. Sehingga fa-idzaa, dengan tiba-tiba, dari permusuhan menjadi bagaikan teman yang sangat setia.

Sikap membalas keburukan dengan kebaikan memang membutuhkan kesabaran yang ekstra, di mana ayat 35 secara makna membawa isyarat bahwa perilaku membalas dengan kebaikan hanya bisa dilakukan oleh mereka yang telah bersabar, atau bahasa lainnya, membutuhkan pembiasaan kesabaran. Artinya ada proses sabar yang tumbuh, dari sabar dari hal-hal kecil, terus menerus dibiasakan, hingga akhirnya mampu mencapai puncak kesabaran, yakni membalas kejahatan dengan kebaikan. Anugerahnya, Allaah sampaikan, dzuu-hazh-zhiin ‘azhiim, keberuntungan yang besar.

Keberuntungan apa dari sikap bersabar yang mewujud dalam pembalasan berupa kebaikan ketika dihadapkan pada provokasi kejahatan yang menimpa?

Kanjeng Nabi Muhammad SAW bersabda sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim,

Dari Sayyidatina ‘Aisyah RA beliau berkata, “Rasuulullaah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya Allaah Maha-lembut dan menyukai kelemah-lembutan dalam segala hal.’”

Sementara di dalam riwayat Imam Muslim, dengan redaksi yang hampir sama, Kanjeng Nabi Muhammad SAW bersabda,

Dari Sayyidatina ‘Aisyah RA, Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya Allaah Maha-lembut dan menyukai kelemah-lembutan. Allaah memberi sesuatu karena kelembutan, yang tidak Dia berikan karena kekerasan, dan yang tidak diberikan-Nya karena yang lain.” (Riwayat Muslim)

Dalam mengomentari hadits ini, Imam an-Nawawi menyatakan, Allaah memberikan pahala berbeda dari pahala sifat-sifat lainnya kepada pemilik kelembutan. Sementara ulama lain al-Qadli ‘Iyadl menyatakan maksudnya, orang yang bersikap lemah lembut akan mudah dikabulkan keinginan, sementara orang yang tidak bersikap lembut tidak mudah dikabulkan. Prof. Wahbah Zuhaili, ulama besar Suriah kemudian menyatakan yang dimaksud kelembutan di sini adalah tutur kata dan tindakan yang lembut dan memudahkan.

Ketika Rasuulullah Muhammad SAW berdakwah di Tha’if, beliau dilempari dengan batu oleh penduduk Tha’if hingga terluka-luka. Hadirlah Malaikat Jibril dengan diiringi malaikat penjaga dua bukit di Tha’if dan menawarkan perintah Allaah, bahwa jika Rasuulullaah Muhammad SAW kersa, maka kedua bukit akan dihimpitkan kepada penduduk yang telah melempari Rasuulullaah SAW.

Apa jawaban Rasuulullaah SAW? Rasul SAW melarang! Bahkan Rasuul SAW kemudian mendoakan ampunan bagi kaumnya karena belum mengetahui kebenaran Islam dan kemudian berharap bahwa meskipun saat ini belum ada yang memeluk Islam, kelak akan lahir keturunan dari penduduk Tha’if yang menyembah Allaah Yang Maha-Esa. Inilah akhlak Rasuul SAW dalam berdakwah! Kekerasan dibalas dengan kesabaran dan kelembutan hati beliau.

Hadirin rahimakumullaah.

Maka dalam dakwah, kelembutan akan melengkapi ikhtiar. Dakwah yang sukses adalah dakwah yang berasal dari hati sang pendakwah dan menghunjam ke kalbu mereka yang didakwahi. Cara yang lembut akan memudahkan masuknya nilai dakwah ke dalam hati dan keberkahan doa para pendakwah yang menggunakan kelembutan, tentu mudah dikabulkan oleh Allaah. Inilah keberkahan dakwah dengan hati dan kelembutan.

Semoga Allaah menjaga hati kita untuk selalu bersabar dan berpegang teguh pada nilai kelembutan, agar tercapai kebahagiaan dunia sekaligus akhirat, aamiin, Allaahumma aamiin.

Kemuliaan Silaturrahmi

Keluarga menurut Islam harus saling mendukung satu sama lain, baik di saat suka maupun duka. Jika seluruh keluarga, atau kita katakan, setiap keluarga dan antara satu keluarga dengan keluarga lain, semua kompak dan saling menyayangi, maka sebuah bangsa akan kuat. Musuh sulit menerobos barisannya, apalagi mencoreng kehormatan dan martabatnya. Maka Allaah Ta’aala pun perintahkan, dalam surah an-Nisaa` ayat pertama:

Dan bertakwalah kepada Allaah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain dan peliharalah hubungan silaturahmi.

Bertakwa berarti memelihara. Bertakwa kepada Allaah berarti memelihara diri dari siksa Allaah yang timbul akibat pelanggaran atas perintah Allaah. Sementara alladzii tasaa-aluuna bihi, berarti dengan mempergunakan nama-Nya, Allaah, kamu saling meminta satu sama lain, yakni bagaimana kita semua menyeru Gusti Allaah, menyebut nama Allaah, saat kita meminta sesuatu, baik langsung kepada Allaah melalui doa kita, maupun meminta tolong melalui orang lain.

Sementara wal-arhaam, sesungguhnya berasal dari rahiim, yaitu tempat peranakan, atau tempat bayi dibesarkan di perut seorang ibu. Rahim adalah penghubung seorang manusia dengan manusia lainnya. Misal, rahim adalah penghubung antara orang tua dengan anaknya. Bahkan melalui rahim pula, persamaan sifat fisik dan sifat muncul antara anak dengan ayah atau ibunya. Dan dengan rahim pula, muncul hubungan persaudaraan dekat antara satu sama lain, seperti dikenal di Indonesia adalah hubungan kekeluargaan trah, yang berhimpun dari seorang Kakek hingga ke semua keturunannya.

Wal-arhaam, yang diambil dari makna tersebut kemudian ditafsirkan sebagai silaturrahmi antar-manusia, karena pada dasarnya, satu manusia dengan manusia lain, satu keluarga dengan keluarga lain, sekalipun berbeda leluhur, beda orang tua, beda kakek, beda simbah, tetapi semua dibentuk dari proses yang sama, mengalami cara tumbuh yang sama di dalam rahim, maka, firman Allaah ditafsirkan menjadi: peliharalah ketakwaan kepada Allaah dan pelihara pula hubungan antar-sesama manusia, yakni silaturrahmi.

Hadirin rahimakumullaah.

Silaturrahmi menjadi tema penting dalam Ramadlan, karena pada bulan Ramadlan ini, hubungan persaudaraan kaum muslimin menjadi semakin kuat, karena semangat beribadah membuat kita semua dalam satu kampung kecil atau komunitas masjid atau mushalla, menjadi sering bertemu, bertegur sapa, bertukar kabar dan cerita, di sela-sela kegiatan ibadah massal: buka bersama, tadarus, pengajian, dan lain sebagainya.

Puncaknya, di Idul Fitri nanti, janji Allaah yang mengampuni seluruh dosa kita setelah Ramadlan kita lengkapi dengan sowan kepada orang tua yang masih sugeng dan kemudian sowan kepada yang lebih sepuh daripada kita, untuk saling maaf memaafkan. Ini gambaran yang baik bagi kita sebagai umat Islam di Indonesia bahwa orang tua dan saudara dekat kita kunjungi, begitu pula dengan tetangga yang setiap hari kita berkomunikasi, sehingga pasti ada kesalahan dan kekhilafan, juga kita sowani, sekalipun tidak memiliki hubungan saudara dekat. Budaya ini, harus kita pertahankan dan bahkan kita perkuat.

Hadirin rahimakumullaah.

Salah satu pentingnya silaturrahmi digambarkan dalam kisah Abu Sufyan saat diutus Kanjeng Nabi SAW untuk berdakwah ke pemimpin Romawi Heraclius. Pemimpin Kristen itu menerima Abu Sufyan, kemudian bertanya kepadanya: Apa yang diperintahkan kepada kalian? Maksud pertanyaannya, Apa yang diperintahkan dari yang kau sebut Nabi itu kepada kalian?

Abu Sufyan menjawab,

Nabi SAW bersabda sembahlah Allaah Yang Maha-Esa dan jangan sekutukan Allaah dengan apapun; tinggalkan apa yang dikatakan nenek moyangmu; dirikanlah shalat; berlaku jujur; menjaga diri; dan menyambung tali kekeluargaan.

Artinya, sebagai gambaran awal Islam, karena Abu Sufyan sedang berdakwah pada pimpinan Kristen, disampaikanlah pilar-pilar penting dalam Islam, termasuk pentingnya menyambung tali persaudaraan. Silaturrahmi juga menjadi penting, kaitannya dengan kesempurnaan iman, di mana Kanjeng Nabi Muhammad SAW bersabda,

…Siapa saja yang beriman kepada Allaah dan hari akhir hendaklah ia (1) memuliakan tamunya, (2) menghubungkan tali persaudaraan, (3) berkata yang baik atau diam saja.

Di dalam al-Qur`an banyak sekali diurai tentang keimanan, di mana iman menurut Islam yang ada enam (kepada Allaah, malaikat Allaah, kitab-kitab Allaah, utusan Allaah, hari akhir, takdir Allaah), diringkas menjadi dua hal ini: iman kepada Allaah dan hari Akhir. Mengapa? Karena kedua hal ini telah merangkum keenam rukun iman. Percaya kepada Allaah berarti meyakini malaikat Allaah, kitab Allaah, utusan Allaah, dan segala ketentuan serta takdir Allaah, termasuk kemudian percaya kepada datangnya Hari Kiamat.

Dan hadits ini menjelaskan di antara karakteristik orang beriman kepada Allaah dan hari akhir, yaitu memuliakan tamu, menyambung persaudaraan, dan menjauhkan diri dari perkataan buruk, karena pilihan dari Kanjeng Nabi SAW jelas: berkata yang baik atau daripada perkataan buruk, lebih baik diam, menahan diri.

Hadirin rahimakumullaah.

Lebih dari itu, silaturrahmi juga akan mendatangkan manfaat materiil, sebagaimana Kanjeng Nabi SAW ngendika,

…Barangsiapa yang menyukai untuk mendapatkan kelapangan rizki dan panjang usianya, hendaklah ia menyambung hubungan dengan familinya.

Bagaimana bisa memanjangkan umur dan mendatangkan rezeki? Ada cerita gojegan, tentang Abu Nawas. Suatu kali Abu Nawas ditanya oleh seseorang, berkaitan dengan hadits ini. Abu Nawas ditanya, bagaimana bisa silaturrahmi memanjangkan usia? Dengan santai Abu Nawas menjawab, karena saat engkau pergi silaturrahmi, malaikat Izrail nggak ketemu denganmu di rumahmu, jadi panjanglah usiamu, gak pernah ketemu dengannya. Tapi ini cerita candaan lho ya.

Tapi bagaimana bisa memanjangkan umur dan mendatangkan rezeki? Kuasa Allaah tentu saja meliputi segala sesuatu. Kalau belum datang waktunya mati, ya belum akan mati. Kalau memang jatahnya dapat rezeki tiban dalam semalam atau justru bangkrut dalam semalam, Allaah pun bisa melakukannya. Tetapi hadits ini dapat sedikit dinalar, sebagai bagian dari diri kita untuk menambah keyakinan kita:

Misal, ada teman atau kerabat yang sudah lama tidak bertemu, kemudian kita sambung lagi tali silaturrahmi ini, maka boleh jadi muncul pekerjaan baru. Atau bagi yang pengusaha, menemukan barang baru yang bisa dijual, kerjasama dengan teman lama. Atau dari jalinan tali silaturrahmi ini akan timbul hubungan bisnis atau perdagangan baru. Semuanya serba mungkin.

Kaitannya dengan panjang usia, ketika kita silaturrahmi, jika yang kita datangi, nyuwun sewu, kondisinya lebih memprihatinkan daripada kita, maka kita akan bersyukur dengan kondisi kita yang lebih baik dan bahkan merupakan kesempatan kita untuk beramal shalih membantu meringankan bebannya. Atau jika yang kita datang silaturrahmi kondisinya lebih sejahtera daripada kita, maka kesempatan bagi kita untuk nyinau semangatnya, nyinau perjuangannya menjadi sejahtera, meneladani kebaikannya untuk memperbaiki kesejahteraan kita. Sehingga setelah silaturrahmi kita akan menjadi orang yang lebih bersyukur dan bahkan lebih bersemangat menjalani hidup untuk mencapai kesejahteraan, dengan tetap eling kepada Gusti Allaah tentunya. Dan hidup penuh dengan syukur sekaligus semangat inilah yang menjadi salah satu sebab panjangnya usia kita.

Coba perhatikan saudara dan kerabat kita di pedesaan. Hidupnya sederhana, tapi lazimnya memiliki usia yang lebih panjang daripada orang-orang di perkotaan. Mengapa? Karena beban pikiran mereka berbeda dengan kita di perkotaan. Kebutuhan makan mereka dipenuhi oleh ladang dan kebun, yang merupakan hasil kerja mereka sehari-hari atau simpanan musim panen sebelumnya. Kebutuhan lain, hampir tidak ada.

Sementara kita yang berada di kota, bebannya macam-macam. Sekolah, kuliah, utang kendaraan, utang rumah, utang modal kerja, dan bahkan kita itu kober mikir urusan Jakarta, menteri, Kapolri, Presiden, partai, dan lain sebagainya. Mereka yang di desa bisa qanaah (nrima setelah diusahakan yang disertai doa) dan semeleh, berbeda dengan kita.

Uraian tersebut, hadirin rahimakumullaah, merupakan gambaran bahwa hadits ini, silaturrahmi yang memperpanjang usia dan melapangkan rizki, sangat mungkin terjadi di dalam kehidupan kita. Tentu saja semuanya harus kita yakini bahwa atas seizin Allaah, bukan semata-mata usaha kita saja. Bahwa Allaah memang telah gariskan usia kita lebih panjang dan rezeki kita lapang, dengan lantaran ikhtiar kita dengan silaturrahmi.

Lebih jauh, Kanjeng Nabi Muhammad SAW juga pernah bersabda, yang artinya,

Silaturrahmi yang menggantung di ‘Arsy berkata, ‘Siapa saja yang menjalin silaturahmi denganku maka Allaah akan menjalin hubungan dengannya. Siapa saja yang memutuskan silaturrahmi denganku maka Allaah akan memutuskan hubungan dengannya.

Hadits ini menunjukkan pentingnya untuk tidak memutus tali kekerabatan dan persaudaraan, di mana digambarkan sebagai silaturrahmi yang menggantung di ‘Arsy Allaah.

Khusus mengenai memutus tali persaudaraan dan kekerabatan, tindakan ini, yakni memutus tali silaturrahmi merupakan dosa besar dan mendatangkan siksaan pedih. Rasuulullaah Muhammad SAW pernah ditanya sahabat,

Wahai Rasuulullaah, aku punya kerabat. Aku menjalin silaturrahmi dengan mereka, tetapi mereka justru memutus hubungan denganku. Aku berbuat baik kepada mereka, tetapi mereka justru berbuat jahat kepadaku. Aku bersikap santun kepada mereka, tetapi mereka justru membodohiku?

Rasuulullaah SAW menjawab, Jika yang engkau katakan itu benar, berarti engkau telah memberi mereka abu panas. Allaah senantiasa menolongmu terhadap mereka, asalkan engkau konsisten seperti itu.

Hadirin rahimakumullaah.

Kisah ini menunjukkan bahayanya memutus tali persaudaraan, bagaikan dilempari abu panas dari orang yang berbuat baik kepada kita, jika kita membalasnya dengan kejahatan. Pelajaran pentingnya, kita harus konsisten tumindak sae dhateng sinten kemawon, termasuk mereka yang bahkan berbuat jahat kepada kita. Tentu saja niatnya tumindak sae nggih kedah leres, niatnya harus benar dan lurus, yakni benar-benar berbuat kebaikan, bukan niat yang lain, seperti membalas dendam karena dulu pernah disakiti, atau alasan lain seperti memamerkan hartanya. Karena kalau demikian, bukan berbuat baik dan bukan pula menyambung tali silaturrahmi, tetapi kesombongan dan kecongkakan untuk merendahkan orang lain. Semoga kita bisa meluruskan niat perbuatan baik kita kepada orang lain. Aamiin.

Kaitannya dengan silaturrahmi dengan kerabat dekat, ada dua hal yang ingin saya sampaikan sebagai penutup uraian ini. Pertama, bahwa berbuat baik kepada kerabat dekat, yakni dengan bersadaqah, mendapatkan pahala dua kali lipat. Kanjeng Nabi Muhammad SAW bersabda,

Shadaqah kepada orang miskin itu bernilai satu pahala, sedangkan kepada kerabat mengandung dua pahala: sedekah dan silaturrahmi.

Inilah keuntungan kita membantu meringankan saudara dekat kita yang kekurangan, memperoleh dua keuntungan, sekaligus bentuk isyarat dari Allaah kepada kita agar peduli dan empati kepada yang dekat terlebih dahulu sebelum peduli kepada mereka yang sama-sama dalam kondisi kesusahan tetapi jauh dari kita.

Terakhir, dalam sebuah hadits muttafaqun ‘alayh, yakni yang disepakati oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, bersumber dari Asma’ binti Abu Bakar RA, beliau berkata

Ibuku mendatangiku, sedangkan ia seorang perempuan musyrik di zaman Rasulullaah. Aku pun meminta fatwa kepada Rasuulullaah SAW. Aku berkata, “Ibuku datang dan meminta sesuatu dariku. Bolehkah aku menyambung tali silaturrahmi dengan ibuku?”

Beliau bersabda, “Ya, sambunglah silaturrahmi dengan ibumu.”

Hadirin rahimakumullaah.

Demikianlah pentingnya silaturrahmi, termasuk silaturrahmi kepada kerabat yang berbeda keyakinan sekalipun. Manfaatnya akhiratnya jelas, yakni termasuk dalam ketaatan yang mendatangkan rahmat Allaah. Sedangkan manfaat dunianya juga ada, dengan catatan, niat tulus silaturrahmi tidak boleh berubah menjadi niat mencari kelapangan rezeki atau niat memperpanjang usia.

Semoga Allaah berkenan menganugerahkan kepada kita kemudahan bagi hati dan diri kita untuk selalu menyambung tali persaudaraan dan silaturrahmi, kapanpun dan di manapun. Aamiin, Allaahumma Aamiin.

 

Kisah Nabi Musa ‘AS dan Orang Saleh

Allaah SWT berfirman dalam rangkaian ayat di Surat al Kahfi, dari ayat 65 hingga 82 yang mengisahkan perjalanan luar biasa antara Nabi Musa ‘AS dengan seorang yang saleh. Pada ayat 65, Allaah berfirman,

(65) Lalu mereka berdua (Nabi Musa ‘AS bersama pembantu beliau) bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah kami anugerahkan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya dari sisi Kami ilmu.

Ayat 65 ini membahas tentang adanya ilmu ladunniy, yakni ilmu yang bersumber dari langsung dari Allaah SWT. Sebagaimana firman Allaah SWT dalam surat al-‘Alaq ayat 4 dan 5:

“

(Allaah) Yang mengajar dengan pena, Yang Mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya.

Pengajaran dengan pena atau bisa dimaknai sebagai tulisan mengisyaratkan adanya peranan dan usaha manusia (misal: sekolah, membaca tulisan, dll), sedangkan pengajaran kedua adalah tanpa perantara, tanpa alat, tetapi langsung, inilah ilmu ladunniy.

Dalam dunia pesantren dan tasawuf, ilmu ladunniy ini ada misalnya pada sosok kiai-kiai yang dikenal sangat saleh, sehingga sering sekali perbuatan atau perkataannya terkesan ajaib, padahal semuanya atas seizin Allaah. Dalam konteks kita yang biasa, ilmu ladunniy ini semacam ilham atau firasat ketika kita sedang dalam kondisi iman dan ibadah yang baik. Dalam ilmu pengetahuan modern atau sains, temuan ini yang sering disebut tiba-tiba muncul tanpa diduga, atau bahasa imannya: kersane Gusti Allaah. Semuanya mungkin.

Kemudian, pada ayat 66, dimulailah kisah penuh hikmah ini, Allaah berfirman,

(66) Muusaa berkata kepadanya, “Bolehkah aku mengikutimu supaya engkau mengajarkan kepadaku sebagian dari apa yang telah diajarkan kepadamu untuk menjadi petunjuk?” (67) Dia menjawab, “Sesungguhnya engkau sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku. (68) Dan bagaimana engkau dapat sabar atas sesuatu, yang engkau belum jangkau secara menyeluruh beritanya?”

Attabi’uka membawa makna kesungguhan dalam upaya mengikuti. Bahwa Nabi Musa ‘AS mau menjadi murid, pengikut, dan pelajar. Maka belajar itu tidak boleh berhenti, hanya kematianlah yang menghentikan belajarnya seorang hamba Allaah.

Akhlak orang yang saleh juga nampak sekali, yakni tidak langsung menolak, tetapi memberi penjelasan terlebih dahulu, bahwa sangat mungkin engkau Musa, menjadi tidak sabar, karena tidak semua peristiwa bisa engkau ketahui hakikatnya secara menyeluruh dan mendalam.

Ayat ini membawa makna bahwa segala sesuatu di dunia ini terjadi dalam dua dimensi, yakni lahiriah dan batiniah. Yang sedang terjadi adalah yang kita lihat dengan mata atau yang kita dengar dengan telinga, sementara yang sesungguhnya terjadi hanya pelaku dan Allaah yang tahu hakikatnya. Tuhith, penguasaan dan kemantapan; khubran, pengetahuan yang mendalam.

(69) Dia (Musa) berkata, “Engkau insya-Allaah akan mendapati aku sebagai seorang penyabar dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu perintah.” (70) Dia (Orang Saleh) berkata, “Jika engkau mengikutiku, maka janganlah engkau menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku menerangkannya kepadamu.”

Ucapan insya-Allaah merupakan adab untuk menghadapi sesuatu di masa yang akan datang sekaligus permohonan, kiranya Allaah memberikan bantuan dalam menghadapinya. Lebih-lebih lagi dalam rangka  mempelajari ilmu batiniyah (tentu saja bukan dalam arti perdukunan), tapi mengungkap hakikat suatu peristiwa, digali makna, sebab, dan hikmah kejadiannya, yang secara lahiriah boleh jadi akan bertentangan dengan pengetahuan kita (akibat keterbatasan yang kita punyai).

(71) Maka berangkatlah keduanya hingga tatkala keduanya menaiki perahu, dia melubanginya. Dia (Musa) tidak sabar karena menilai pelubangan itu sebagai suatu perbuatan yang melanggar syariat (merusak milik orang lain, sehingga berpotensi menimbulkan kecelakaan bagi orang lain), kemudian berkata, “Apakah engkau melubanginya sehingga mengakibatkan engkau menenggelamkan penumpangnya? Sungguh engkau telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar.

(72) Dia (Orang Saleh) berkata, “Bukankah aku telah berkata, ‘Sesungguhnya engkau sekali-kali tidak akan mampu sabar bersamaku’?” (73) Dia (Musa) sadar akan kekeliruan beliau kemudian berkata, “Janganlah engkau menghukum aku disebabkan oleh kelupaanku, dan janganlah engkau bebani aku dalam urusanku dengan kesulitan.”

Makna idzaa atau tatkala membawa arti kejadiannya seketika: naik kapal, langsung melubanginya. Ini mengisyaratkan bahwa sejak awal memang diniatkan untuk melubangi dan bahkan Orang Saleh ini tahu apa yang akan terjadi jika dia tidak melubanginya, sehingga Orang Saleh ini harus melakukannya, yakni melubangi.

Penutup ayat ini merupakan isyarat bahwa Nabi Musa meminta sang Orang Saleh agar bisa terus mengikutinya dan melanjutkan belajarnya dengan sungguh-sungguh, karena kalau tidak dimaafkan dan tidak boleh mengikuti lagi, betapa besar beban yang dipikul Nabi Musa.

(74) Lalu berjalanlah keduanya, hingga saat keduanya berjumpa dengan seorang anak remaja yang belum dewasa, serta merta dibunuhnya anak itu oleh Orang Saleh. Nabi Musa AS sangat terperanjat dan penuh dengan kesadaran –bahwa harusnya tidak bertanya, tapi karena melihat pembunuhan– dia berkata, “Apakah engkau telah membunuh seorang yang memiliki jiwa yang suci dari kedurhakaan? Apakah engkau membunuhnya, tanpa dia membunuh satu jiwa orang lain? Sesungguhnya engkau telah melakukan suatu kemunkaran yang sangat besar. (75) Bukankah aku telah berkata kepadamu, sesungguhnya engkau wahai Musa, sekali-kali tidak akan mampu sabar ikut dalam perjalanan bersamaku?

(76) Nabi Musa ‘AS sadar bahwa dia telah melakukan kesalahan dua kali, tetapi tekadnya yang kuat untuk meraih ma’rifat mendorongnya bermohon agar diberi kesempatan terakhir, sehingga Nabi Musa berkata, “Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah kali ini, maka janganlah engkau menjadikan aku temanmu dalam perjalanan ini lagi, aku rela, tidak kecil hati dan dapat mengerti jika engkau tidak menemaniku lagi. Sesungguhnya engkau telah mencapai batas yang sangat wajar dalam memberikan udzur padaku karena telah dua kali aku melanggar sekaligus dua kali pula engkau memaafkanku.

(77) Maka keduanya berjalan, hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka berdua meminta agar diberi makan oleh penduduknya, tetapi mereka, penduduk negeri itu, enggan menjadikan mereka berdua tamu, maka segera keduanya meninggalkannya hingga keduanya mendapatkan di sana, dinding sebuah rumah yang akan roboh, maka dia Orang Saleh itu menopang dan menegakkannya. Kemudian dia, Nabi Musa berkata, “Jikalau engkau mau, niscaya engkau mengambil atas perbaikan dinding berupa upah yang bisa kita gunakan untuk membeli makanan.

Meskipun yang dilontarkan Nabi Musa AS bukan pertanyaan langsung, tetapi tetap saja berupa isyarat mempertanyakan, maka

(78) Karena telah tiga kali Nabi Musa ‘AS melanggar, Orang Saleh tersebut, dia berkata, “Inilah perpisahan antara aku denganmu wahai Musa, apalagi engkau sendiri telah menyatakan kesediaan untuk kutinggal jika melanggarnya sekali lagi. Namun demikian, sebelum berpisah, aku akan memberitahukan kepadamu informasi yang pasti tentang makna dan tujuan di balik apa, yakni peristiwa-peristiwa yang engkau tidak dapat sabar terhadapnya.

(79) Orang Saleh berkata, adapun perahu, maka ia adalah milik orang-orang lemah dan miskin yang mereka gunakan bekerja di laut untuk mencari rezeki, maka aku ingin menjadikannya memiliki cela (fa-arad-ttu an-a-‘i-bahaa) sehingga dinilai tidak bagus dan tidak layak digunakan, karena di balik sana ada raja yang kejam dan selalu memerintahkan petugas-petugasnya agar mengambil setiap perahu yang berfungsi baik secara paksa.

Dengan demikian, Orang Saleh tersebut seolah mengatakan, “Apa yang kubocorkan bukan untuk menenggelamkan penumpangnya, tetapi justru menjadi sebab terpeliharanya hak-hak orang miskin.”

(80) Dan adapun anak remaja yang aku bunuh, kata Orang Saleh, maka kedua orang tuanya adalah dua orang mukmin, dan kami khawatir bahkan tahu, jika anak itu hidup dan tumbuh dewasa dia akan membebani kedua orang tuanya, berupa kedurhakaan dan kekufuran. (81) Maka dengan membunuhnya, kami menghendaki, kiranya Tuhan mereka berdua, yakni Allaah SWT mengganti bagi mereka berdua dengan anak lain yang lebih baik darinya – yaitu yang telah dibunuh, lebih baik dalam kesucian-nya (sikap beragamanya) dan lebih dekat kasih sayang dan baktinya kepada orang tuanya.

(82) Adapun dinding rumah yang aku tegakkan tanpa mengambil upah itu, ia adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu dan di bawahnya terdapat harta simpanan orang tua mereka untuk mereka berdua. Kalau dinding roboh, terbuka kemungkinan harta simpanan itu akan diambil orang yang tidak berhak, sedang ayah keduanya adalah seorang yang saleh yang niatnya menyimpan harta itu untuk kedua anaknya. Maka Tuhanmu menghendaki dipeliharanya harta itu agar keduanya mencapai kedewasaan  mereka berdua dan mengeluarkan simpanan kedua orang tua-nya itu, untuk mereka manfaatkan, sebagai rahmat terhadap kedua anak yatim itu dari Tuhanmu.

Dan aku tidaklah melakukannya, membocorkan perahu, membunuh anak, memperbaiki dinding, berdasar kemauanku sendiri. Demikian itu makna dan penjelasan tentang apa yang engkau wahai Musa tidak sabar terhadapnya.

Demikianlah, ilmu ladunniy, pengajaran Allaah secara langsung kepada Orang Saleh itu telah menjadi pelajaran penting bagi Nabi Musa pada masanya yang lalu dan diabadikan di dalam al-Qur`an sebagai pelajaran bagi umat akhir zaman, kita semua. Bahwa ada hakikat dalam sebuah peristiwa, ada sisi bathiniyah dalam setiap kejadian, maka bukan hak kita untuk menghakimi orang lain, untuk misalnya menyimpulkan seseorang apakah dia baik atau buruk. Yang bisa kita nilai hanyalah perbuatan lahirnya, apa yang nampak di mata kita. Mengapa, apa niatnya, apa tujuannya, hanya Allaah dan sang pelaku yang tahu.

Maka dalam Islam kita diajarkan untuk tidak mencari atau bahkan membahas aib orang lain. Mengapa? Karena aib orang lain yang nampak dari sisi kita hanyalah lahiriahnya saja. Hakikatnya, sisi bathiniyahnya, hanya Allaah dan pelaku yang tahu: maka tutuplah aib orang lain, daripada timbul berita tak benar karena ketidakpahaman kita.

Kisah ini juga membawa pemahaman bagi kita, mengapa misalnya, di pesantren-pesantren, seorang ulama dan kiai bisa ditaati sampai demikian hebatnya? Itu terjadi karena berangkat dari kisah ini, bahwa seorang ulama yang jelas kesalehannya akan mengajarkan kebaikan, meskipun kesannya yang diajarkan tidak begitu ilmiah (menghafalkan syair, membawakan minuman saat ngaji, mijeti kiai saat capek, menemani pergi dalam kunjungan), tapi hasilnya tidak kalah ilmiah, karena ketaatan pada ulama pada akhirnya memunculkan pengajaran dari Allaah, ilham yang tak berkesudahan saat sang santri belajar.

Persis dengan ilmu di sekolah-sekolah. Saya pernah mengalaminya. X, Y, rumus-rumus, trigonometri, hukum ekonomi, integral, diferensial, dan istilah pelajaran matematika lainnya. Sebagian besar siswa, termasuk saya ini, dulu juga terbersit, buat apa tho itungan kayak gini, apa ya besok hidup ditentukan oleh itungan ini? Nyatanya, saat menginjak dunia pendidikan lebih tinggi dan melihat banyak modernitas teknologi saat ini, ternyata semua itu berguna.

Artinya, kita ceritakan kisah ini kepada anak-anak kita, kita katakan pada mereka, belajarlah yang baik, tak perlu bertanya untuk apa gunanya atau mengapa bisa begitu, tapi bertanyalah jika tidak memahaminya, sehingga engkau paham. Sesulit apapun pelajaranmu di SD, SMP, SMA, bersabarlah, kelak hikmahnya akan didapatkan pada saatnya nanti, sebagaimana kisah Nabi Musa dan Orang Saleh.

Sehingga kisah ini, bukan hanya menguatkan iman kita, tentang kuasa Allaah atas segala sesuatu, termasuk ilmu dan ilham kepada kita, selama kita selalu berusaha menjadi hamba yang taat, tapi kisah ini juga akan memotivasi generasi muda kita untuk belajar dengan serius, namun tak meninggalkan agama karena motivasinya hadir dari kisah al Qur’an.

Kecenderungan Manusia adalah Dalam Kebaikan

Pada mulanya, kondisi manusia itu sangat dekat dan taat kepada Allaah, hal ini dipahami secara tersirat sebagaimana firman Allaah yang ditujukan kepada Nabi Adam ‘AS ketika masih berada di dalam surga, di dalam surah al-A’raaf [7] ayat 19

Dan Wahai Adam! Diamilah olehmu dan istrimu surga (ini), maka makanlah oleh kamu berdua di mana dan kapan saja kamu berdua kehendaki, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, sehingga menyebabkan kamu berdua termasuk orang-orang zhalim.

Isyarat penting dalam ayat ini adalah Allaah menggunakan kata tunjuk ini untuk menjelaskan letak pohon terlarang, di mana kata tunjuk ini membawa makna letaknya dekat.

Akan tetapi karena tipuan setan, keduanya kemudian mendekati pohon tersebut, bahkan memakan buahnya. Pelanggaran ini membuat mereka menjadi jauh dari Allaah dan Allaah pun menjauh darinya, sehingga pada kelanjutan kisah tersebut, pada ayat 22 Allaah berfirman,

Dan Tuhan Pemelihara mereka menyeru kepada mereka berdua: “Bukankah Aku telah melarang kamu berdua melampaui (mendekati) pohon itu dan telah Aku firmankan kepada kamu berdua sesungguhnya setan (itu) adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?”

Perhatikan isyarat yang digunakan Allaah dalam ayat ke-22, Allaah berseru dan penggunaan kata itu untuk menjelaskan letak pohon.

Jadi, sebelum manusia melanggar perintah Allaah, ketika manusia masih taat dengan Allaah, ada kedekatan, yakni Allaah menunjuk pohon dengan kata ini.

Tetapi, begitu mereka melanggar perintah Allaah, atau dengan kata lain, menjauh dari Allaah, maka Allaah pun kemudian menjauh dari mereka, sehingga pesan Allaah harus disampaikan dengan berseru, yakni mengeraskan suara agar terdengar karena letaknya yang jauh. Bahkan, karena jaraknya yang jauh, Allaah menunjuk pada pohon dengan kata ganti tunjuk itu, dari yang semula ini.

Maka, dosa akan menjauhkan manusia dari Allaah dan menjauhkan Allaah dari manusia, saling menjauh satu sama lain.

Tetapi yang perlu menjadi catatan penting bagi kita adalah bahwa kondisi awal manusia, kondisi fitrah manusia, kondisi normal manusia adalah taat dan tunduk kepada Allaah. Bahkan ketika kita kembali taat, berusaha mendekatkan diri kembali kepada Allaah Ta’aala, Allaah berfirman dalam Hadits Qudsi,

Siapa yang datang kepada-Ku sejengkal, Aku akan datang kepadanya sehasta. Siapa yang datang kepada-Ku dengan merangkak, Aku akan datang kepada-Nya dengan berjalan. Siapa yang datang kepada-Ku dengan berjalan, Aku akan datang kepadanya dengan berlari.

Demikian gambaran betapa cepatnya rahmat Allaah untuk hadir dalam kehidupan kita, apabila kita senantiasa berusaha mendekatkan diri kepada Allaah.

Bahkan dalam ayat yang lain, al-Qur`an memberi gambaran betapa mudahnya mendorong hati dan diri kita untuk berbuat baik daripada berbuat buruk.

Dalam sebuah ayat yang sudah sangat masyhur, yaitu ayat terakhir (286) surat al-Baqarah, Allaah Ta’aala berfirman

Untuk manusia ganjaran bagi perbuatan (baik) yang dilakukannya, dan siksa bagi perbuatan (buruk) yang dilakukannya.

Ayat ini mengulang kata yang dilakukan sebanyak dua kali, satu dengan kata kasabat, yang satu lagi dengan kata iktasabat.

Mengutip Tafsir al-Manar karya Syaikh Muhammad Abduh, Prof. Quraish Shihab menjelaskan bahwa kata iktasabat yang melekat pada perbuatan buruk dan siksa memberi makna adanya upaya sungguh-sungguh dari pelakunya.

Sedangkan kata kasabat yang melekat dengan perbuatan baik dan ganjaran membawa arti sesuatu yang dilakukan dengan mudah tanpa pemaksaan.

Jadi, perbuatan baik itu sesuatu yang dengan mudah hati dan diri kita melakukannya, enteng nglakoninya. Dan sebaliknya, sebuah perbuatan buruk, butuh satu kondisi keterpaksaan yang tinggi, sehingga berat bagi diri manusia untuk melakukannya.

Sebagai ilustrasi, wong niku yen arep maling utawa ngrampok mesthi mikire ping akeh. Yen konangan, dikepruk. Geneo ora konangan, mengko ngedole barang colongan yo ora bisa sak nggon-nggon, dan seterusnya, dan seterusnya. Harus ada situasi yang mendesak sehingga muncul istilah nekat dalam sebuah perbuatan buruk.

Suatu kali, Sahabat Nawas Ibnu Sam’an sowan dhateng Rasuulullaah SAW, kemudian bertanya tentang kebaikan dan kejahatan. Rasuul SAW sebagaimana tercantum dalam kitab Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani,

‘kebaikan ialah akhlak yang baik dan kejahatan ialah sesuatu yang terlintas di dadamu dan engkau tidak suka bila orang lain mengetahuinya.’ (Riwayat Muslim)

Pada waktu lain, sahabat Wabishah bin Ma’bad juga sowan kepada Kanjeng Nabi SAW dan bertanya tentang kebaikan. Rasuul Muhammad SAW menjawab

Tanyailah hatimu! Kebajikan adalah sesuatu yang tenang terhadap jiwa dan yang tenteram terhadap hati, sedangkan dosa adalah yang mengacaukan hati dan membimbangkan dada, walaupun setelah orang memberimu fatwa. (Riwayat Ahmad dan ad-Darimi)

Maka kemudian, sesungguhnya sangatlah mudahlah bagi kita membedakan perbuatan baik dan buruk. Yang menenangkan jiwa setelah dikerjakan, itulah perbuatan baik. Yang menggelisahkan jiwa setelah dikerjakan dan ketakutan jika diketahui orang lain, itulah perbuatan buruk.

Dan momentum Ramadlan ini, sesungguhnya kesempatan besar bagi kita untuk memperbanyak kebaikan untuk kemudian membiasakannya. Apa pentingnya membiasakan perbuatan baik? Kanjeng Nabi Muhammad SAW bersabda,

Dari Abu Musa al-Asy’ari RA berkata, Rasuulullaah SAW bersabda, “Apabila seseorang menderita sakit atau sedang bepergian, maka dicatatlah pahala baginya amal perbuatan yang biasa dikerjakannya pada waktu tidak bepergian (muqiiman) dan pada waktu sehat (HR Bukhari)

Coba kita bayangkan, kebiasaan perbuatan baik kita ketika sehat dan mukim akan dicatat sebagai amal yang dikerjakan, meskipun kita sedang dalam kondisi sakit dan bepergian, atau dengan kata lain kondisi sakit dan bepergian yang secara lahir menghalangi kebiasaan perbuatan baik, ternyata tidak menghalangi catatan amal dan  tetap dicatat sedang kita kerjakan. Betapa luar biasa rahmat Allaah SWT.

Semoga Allaah senantiasa memberi kesehatan bagi kita di Ramadlan kali ini, sehingga mudah bagi kita berpuasa, mudah bagi kita untuk selalu berbuat kebaikan.

Aamiin.