Implementasi Energi Terbarukan Berbasis Komunitas

Teksnya dapat diunduh pada tautan berikut ini: TEKS

Kerusakan Lingkungan dalam Pandangan Islam

Kondisi perekonomian sebagai cerminan kondisi kesejahteraan fisik umat manusia, dalam dua abad terakhir mengalami peningkatan luar biasa. Namun demikian, kemajuan tersebut harus dibayar sangat mahal. Kualitas lingkungan hidup terdegradasi luar biasa parah. Sekitar separo hutan di muka bumi telah hilang, reduksi keanekaragaman parah terjadi di banyak tempat, air tanah terus terkuras dan terkontaminasi, polusi udara meningkat di sangat banyak tempat dan berbagai bencana serta potensi bencana lanjutan terkait perubahan iklim global terus bermunculan. Sementara itu sekitar seperlima penduduk dunia saat ini masih tetap hidup miskin. Kebutuhan untuk meningkatkan taraf hidup penduduk, termasuk lapisan miskinnya dan sekian banyak penduduk lagi yang akan lahir, menuntut berbagai kemajuan di bidang ekonomi. Jika pola pertumbuhan yang dianut saat ini terus berlanjut, maka tekanan destruktif pada daya dukung lingkungan dan ketersediaan berbagai sumber daya alam akan meningkat. Indonesia juga menghadapi masalah serupa [1].

Kerusakan lingkungan akibat perbuatan manusia, termasuk untuk kegiatan perekonomian, digambarkan dalam al Qur`an sebagai rusaknya keseimbangan. Shihab dalam menafsirkan al Qur`an surat ar-Ruum (30) ayat 41 menyatakan bahwa makna fasaad adalah keluarnya sesuatu dari keseimbangan atau lawan dari ash-shalaah yang berarti manfaat atau berguna. Sehingga ayat tersebut menggambarkan terjadinya kerusakan, ketidakseimbangan, serta kekurangan manfaat di daratan dan di lautan, yang mengarah pada kacaunya keseimbangan lingkungan. Fasaad tersebut dilakukan oleh manusia dan akan mengakibatkan siksaan kepada manusia. Semakin banyak kerusakan yang terjadi pada lingkungan, semakin besar pula dampak buruknya kepada manusia, karena Allaah SWT menciptakan semua makhluk saling kait-berkait. Timbulnya gangguan pada keharmonisan dan keseimbangan alam pasti berdampak pada seluruh bagian alam (termasuk manusia) baik yang merusak maupun yang merestui perusakan itu [2].

Perusakan lingkungan akibat kegiatan perekonomian juga dikecam dan diharamkan oleh Islam menurut penilaian Muktamar Nahdlatul ‘Ulama (NU) ke-29 di Cipasung, Tasikmalaya, pada 4 Desember 1994. Muktamar di antaranya menjawab pertanyaan dengan redaksi

Industrialisasi yang sekarang sedang digalakkan oleh pemerintah, ternyata membawa ekses yang cukup serius dan dampaknya juga merugikan kepentingan rakyat banyak, yakni biasanya hanya mengejar keuntungan sendiri, serta melupakan kewajiban untuk menangani dampak limbah yang ditimbulkan oleh pabrik. (a) Bagaimana hukum mencemarkan lingkungan? (b) Bagaimana konsep Islam dalam menangani ekses pencemaran lingkungan?

Muktamar NU menjawab

(a) Hukum mencemarkan lingkungan, baik udara, air maupun tanah, apabila menimbulkan dharar (kerusakan), maka hukumnya haram dan termasuk perbuatan kriminal (jinayat). (b) Konsepsi Islam dalam menangani ekses pencemaran lingkungan adalah: 1) apabila ada kerusakan, maka wajib diganti oleh pencemar, 2) memberikan hukuman yang menjerakan (terhadap pencemar) yang pelaksanaannya dengan amar ma’ruf nahi munkar sesuai dengan tingkatannya.

Jawaban Muktamar NU tersebut kemudian dilengkapi dengan kutipan rujukan dari 9 kitab yaitu: 1) al-Tafsir al-Kabir/Mafatih al-Ghaib (Muhammad al-Razi), 2) al-Jami’ li Ahkam al-Qur`an (Muhammad bin Abi Bakar al-Qurthubi), 3) al-Mawahib al-Saniyah Syarh al-Fawa’id al-Bahiyah (Abdullah bin Sulaiman), 4) Tabyin al-Haqa’iq Syarh Kanz al-Daqa’iq (Utsman bin Ali al-Zaila’i), 5) al-Kharraj (Abu Yusuf), 6) al-Ahkam al-Sulthaniyah (Abu Ya’la al Farra’), 7) Majma’ al-Dhamanat (Ghanim bin Muhammad al-Baghawi), 8) Mirqah Su’ud al-Tashdiq Syarh Sulam al-Taufiq (Muhammad Nawawi bin Umar al Bantani), (9) Ihya` ‘Ulum al-Diin (Abu Hamid al-Ghazaki), dan dua rujukan lain yang tidak dikutip (Hasyiyah al-Jamal, Juz V, halaman 196 dan Tafsir Ibn Katsir, Juz II, halaman 222) [3].

Tafsir al Qur`an surat ar Ruum (30) ayat 41 dan pembahasan Muktamar NU ke-29 tentang perusakan lingkungan menggambarkan konsistensi pandangan Islam tentang perekonomian, bahwa tujuan perekonomian sebagai hifdzu al-maal (perlindungan harta) demi memenuhi kemashlahatan umat tidak boleh menimbulkan kerusakan lingkungan, karena akan mengancam pada maqashid syariah lain, seperti hifdzu-n-nafs (perlindungan jiwa) dan hifdzu-n-nasli (perlindungan keturunan) [1].

Suplai dan Konsumsi Energi Indonesia: Penggerak Perekonomian

Kebutuhan energi Indonesia akan terus meningkat seiring dengan perkembangan ekonomi dan populasi. Populasi Indonesia meningkat 24,11%, dari sekitar 205 juta jiwa pada tahun 2000 menjadi 255 juta jiwa pada 2015. Peningkatan juga terjadi pada Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia yang merupakan indikator utama perekonomian. PDB Indonesia meningkat 119%, antara tahun 2000 dengan 2015, dari . Gambar 1 dan Gambar 2 menunjukkan grafik pertumbuhan populasi dan PDB Indonesia sejak tahun 2000 hingga 2015 [4].

Pada kurun waktu yang sama, pola energi Indonesia juga memiliki trend yang sama. Suplai energi meningkat 83,33% dari 726.687 SBM (2000) ke 1.332.242 SBM (2015), sedangkan konsumsi energi meningkat 63,18% dari 508.883 SBM (2000) menjadi 830.420 SBM (2015). Gambar 3 merupakan grafik pertumbuhan suplai dan konsumsi energi di Indonesia tahun 2000-2015 [4].

Apa yang Dimaksud dengan Energi Terbarukan?

Energi terbarukan (ET) secara umum didefinisikan sebagai energi yang berasal dari sumber yang terbarukan secara alami dan berkelanjutan, dengan laju yang lebih cepat dibandingkan dengan laju konsumsinya, seperti sinar matahari, angin, hujan, pasang-surut, gelombang, dan panas bumi, di mana memiliki empat fungsi khas yaitu menghasilkan energi untuk listrik, pendingin atau pemanas air dan udara, transportasi, dan jasa energi untuk wilayah terpencil [5, 6, 7, 8]. Lebih spesifik, ET dikelompokkan di antaranya menjadi bioenergi, geotermal atau panas bumi, air, laut (pasang-surut, gelombang, dan panas), matahari, serta angin [8].

ET menjadi solusi tepat untuk mengatasi pola pertumbuhan manusia dan listrik 40 tahun terakhir, di mana manusia bertambah dari 4 milyar menjadi 7 milyar dan listrik tumbuh 250% [9]. ET yang memiliki emisi karbon jauh lebih sedikit dibandingkan energi fosil (Tabel 1) juga sekaligus akan berkontribusi dalam ikhtiar global untuk membatasi peningkatan suhu global di bawah 2 °C. Laporan International Renewable Energy Agency (IRENA) pada 2015 misalnya, menunjukkan bahwa tanpa peran ET, emisi total sektor energi secara global akan 20% lebih tinggi [10].

Implementasi ET juga menimbulkan dampak positif pada pertumbuhan ekonomi karena munculnya lapangan kerja, baik langsung (direct, seperti perancangan, manufaktur, pengiriman, instalasi/konstruksi beserta manajemen dan administrasinya, serta operasional dan pemeliharaan), tidak langsung (indirect, seperti manufaktur alat dan komponen pendukung sistem ET sepanjang rantai pasoknya), maupun terikut (induced, seperti tumbuhnya aktivitas perekonomian karena adanya instalasi atau proses pengajaran teknologi ET) [12]. Memungkinkan pula bagi ET yang mampu melistriki daerah terpencil untuk meningkatkan pendapatan masyarakat setempat karena meningkatnya kemampuan mengolah sumber daya alam lokal berbasis ET atau munculnya lapangan pekerjaan baru akibat adanya akses listrik.

Secara global, lapangan kerja langsung di sektor ET menyerap 6,5 juta pekerja pada 2013; 7,7 juta pekerja pada 2014; dan 8,1 juta pekerja pada 2015 [13, 14, 15]. Jumlah ini akan terus meningkat karena nilai investasi terhadap ET diproyeksi harus meningkat hingga USD 550 Milyar per tahun untuk mencegah bencana global akibat perubahan iklim. Peningkatan investasi ini akan didukung di antaranya oleh: 1) menurunnya harga komponen ET, 2) teknologi ET yang terus berkembang efisiensinya, 3) meningkatnya pengalaman pengembang dan lembaga keuangan dalam menghitung resiko, dan 4) manfaat ET yang makin terasa secara simultan di sektor ekonomi, sosial, dan lingkungan [16].

Energi Terbarukan Indonesia: Pembangkit Listrik

Indonesia yang terletak di wilayah ekuator bumi sesungguhnya memiliki beberapa faktor pendukung pengembangan ET, di antaranya: 1) matahari bersinar sepanjang tahun, 2) tanpa musim dingin, sehingga tidak ada permintaan energi yang besar dalam bentuk panas pada musim dingin, 3) wilayah laut yang luas sebagai sumber pengembangan energi kelautan (pasang-surut atau gelombang), 4) gunung berapi dan hutan, potensi energi biomassa tumbuhan, 5) banyaknya wilayah kepulauan, potensi kemandirian energi dengan sumber daya energi lokal, dan 6) wilayah perkotaan yang padat, potensi energi sampah perkotaan.

Porsi energi nasional yang digunakan sebagai pembangkit listrik pada tahun 2015 mencapai 16,5%. Porsi ini mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan tahun 2000 yang hanya pada angka 9,8%. Gambar 4 menunjukkan persentase porsi energi nasional yang berfungsi untuk pembangkitan listrik tahun 2000-2015 [17].

Seberapa besar peran energi terbarukan dalam pasokan listrik nasional? Data terbaru yang dirilis Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM RI menunjukkan kapasitas terpasang pembangkit listrik dari energi terbarukan non-bio hanya 12,4% (6.706,25 MW). Selebihnya, 44,61% (24.770,50 MW) dari batubara; 27,51% (15.275,35 MW) berbahan bakar gas; 15,65% (8.689,79 MW) merupakan pembangkit listrik dari berbagai jenis produk turunan minyak bumi; dan sisanya adalah pembangkit listrik biomassa (0,09% – 50,23 MW) dan sampah (0,06% – 36 MW). Gambar 5 menunjukkan kapasitas pembangkit listrik terpasang di Indonesia berdasarkan jenisnya [17].

Masih bersumber dari data yang sama, pada tahun 2015, energi terbarukan non-bio yang terpasang di Indonesia di dominasi oleh pembangkit listrik tenaga air dan geotermal, sisanya merupakan pembangkit minihidro, mikrohidro, tenaga surya (PLTS), dan tenaga angin (PLT-Bayu). Kapasitas pembangkit listrik tenaga air mencapai 5.079,06 MW (75,74%) dan panas bumi berada pada angka 1.435,40 MW (21,40%). Sedangkan kapasitas terpasang minihidro, mikrohidro, PLTS, dan PLT-Bayu berturut-turut adalah 151,18 MW (2,25%); 30,46 MW (0,45%); 9,02 MW (0,13%); dan 1,13 MW (0,02%). Persentase kapasitas pembangkit energi terbarukan non-bio ditampilkan secara grafis pada Gambar 6 [17].

Perlu menjadi catatan penting, bahwa kapasitas terpasang atau daya terpasang dalam bahasa awam dapat disebut sebagai potensi energi, bersatuan Watt. Sebuah pembangkit mampu memproduksi energi jika ia menyala dalam kurun waktu tertentu, satuannya dinyatakan dalam Watt jam atau dikenal Watt hour. Listrik PLN misalnya, tarifnya dibayar per kWh, per kilo-Watt hour, per kilo-Watt jam, atau setiap listrik senilai 1.000 Watt jam. Sebuah televisi dengan daya 150 Watt, misalnya, jika dinyalakan satu jam bermakna akan menghabiskan listrik sejumlah 150 Watt jam, dan seterusnya.

Artinya, kapasitas terpasang pembangkit listrik tidak menjamin tersedianya listrik, kecuali pasokan bahan bakarnya berlangsung secara kontinyu. Rantai pasok batubara dan berbagai produk turunan minyak bumi memiliki peran penting, terutama bagi pembangkit listrik di wilayah terpencil. Beberapa pengelola pembangkit memiliki SOP yang jelas untuk mencegah terhentinya pasokan bahan bakar akibat kendala transportasi, meskipun menimbun bahan bakar juga berkonsekuensi pada biaya pergudangan dan lingkungan yang tak sedikit.

Sementara pembangkit energi terbarukan bertenaga air memiliki masalah tentang kurangnya debit air, baik akibat sedimentasi pada bendungan (untuk PLTA), maupun kurangnya pasokan air di musim kemarau (untuk minihidro dan mikrohidro). Kendala pada PLTS dan PLT-Bayu, masing-masing terletak pada pasokan sinar matahari yang kurang karena mendung serta hembusan angin yang tak berlangsung sepanjang 24 jam.

Kapasitas energi terbarukan di Indonesia akan terus ditingkatkan oleh para pemangku kepentingan nasional, mengingat Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2014 tentang Kebijakan Energi Nasional mengamanatkan suplai energi terbarukan harus mencapai persentase 23% pada 2025 dan 31% pada 2050.

Rasio Elektrifikasi

Akses listrik masyarakat dinyatakan dalam sebuah rasio elektrifikasi, yakni perbandingan antara rumah tangga yang telah memiliki akses listrik dengan rumah tangga secara keseluruhan. Hingga akhir tahun 2015, rasio elektrifikasi Indonesia mencapai angka 88,30%, dengan rincian 56,6 juta pelanggan PLN dan 1,37 juta berlistrik non-PLN, dari total 65,67 juta rumah tangga di seluruh Indonesia. Rasio elektrifikasi pada akhir 2015 tersebut juga berarti masih ada sekitar 7,6 juta kepala keluarga yang belum menikmati listrik sama sekali. Lebih dari itu, jika ditinjau dari rasio elektrifikasi di setiap provinsi, terdapat variasi nilai sebagai berikut: 1) 90-an persen, 9 provinsi, 2) 80-an persen, 15 provinsi, 3) 70-an persen, 6 provinsi, 4) 60-an persen, 2 provinsi, 5) 50-an persen, satu provinsi, dan 6) 40-an persen satu provinsi [17].

Pemerintah optimis tahun 2016 rasio elektrifikasi nasional dapat mencapai angka 90-91 persen, karena harus mengejar target rasio elektrifikasi minimal 99,5% pada 2019. Optimisme ini muncul, merujuk pada kinerja 2014 dan 2015 yang mampu melampaui target. Pemerintah pada 2014 menargetkan 84,3% yang ternyata terwujud hingga 87,5%, dan pada 2015, dari target 87,5% dapat terealiasasi hingga 88,3% [18].

Energi Terbarukan untuk Kemandirian Desa: KEMALA

Pada tanggal 24 Juni 2016, Konsorsium untuk Energi Mandiri dan Lestari (KEMALA), menandatangani perjanjian hibah PSDABM (Pengelolaan Sumber Daya Alam Berbasis Masyarakat) dengan Millenium Challenge Account Indonesia (MCAI). KEMALA merupakan konsorsium yang dipimpin oleh Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Masyarakat Nahdlatul ‘Ulama (Lakpesdam-PBNU) yang beranggotakan Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM (PUSTEK UGM), Pusat Studi Energi UGM (PSE UGM), dan Center For Civic Engagement and Studies (CCES atau Pusat Kajian dan Penguatan Kewargaan).

Hibah PSDABM yang diterima Konsorsium Kemala bertajuk Peningkatan Pendapatan Rumah Tangga Miskin melalui Usaha Hijau yang Didukung oleh Energi Terbarukan yang berlokasi di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi (dua desa) dan Kabupaten Solok Selatan, Provinsi Sumatera Barat (satu jorong).

Hibah ini merupakan ikhtiar nyata NU dan UGM untuk memadukan kemampuan kedua lembaga besar ini: NU dan CCES dengan basis pengelolaan komunitas yang partisipatif dan advokasinya, serta UGM dengan kemampuan pengelolaan teknologi energi terbarukan dan pengembangan perekonomian kerakyatannya.

Energi terbarukan dalam hibah ini merupakan pembangkit listrik tenaga surya yang akan digunakan sebagai pemicu peningkatan kualitas hidup masyarakat setempat dengan akses energi rendah emisi karbon, di antaranya melalui, 1) penerangan pada malam hari, 2) energi untuk mengelola komoditas perekonomian lokal (peningkatan nilai tambah komoditas kopi, jagung, pisang, dan ikan), serta 3) energi untuk penyediaan air bersih melalui pompa air bertenaga surya.

Implementasi energi terbarukan ditargetkan akan menumbuhkan lapangan pekerjaan (green jobs), peningkatan pengetahuan administrasi dan keuangan, peningkatan waktu belajar di malam hari, dan peningkatan kualitas kesehatan akibat ketersediaan air bersih. Beberapa green jobs yang ditargetkan muncul di antaranya adalah 1) pekerjaan lokal untuk mendukung pelaksanaan hibah, 2) lembaga pengelola administrasi dan keuangan sistem energi, 3) personel operasional dan pemeliharaan, dan 4) pengelolaan komoditas lokal beserta rantai produksi, distribusi, dan pemasarannya.

Sementara sebagai salah satu strategi peningkatan kapasitas, KEMALA akan membentuk Sekolah Hijau yang terdiri dari tiga tahapan pembelajaran yaitu, pendidikan dasar (peningkatan wawasan dan karakter individu), pendidikan menengah (keterampilan dan penguatan kelembagaan), serta pendidikan lanjut (penguatan jaringan dan pemasaran). Peserta Sekolah Hijau nantinya adalah masyarakat desa berbagai lapisan dan profesi dengan afirmasi peserta dari penduduk miskin dan kelompok perempuan.

Membangun Kesadaran akan Kemandirian

Kendala elektrifikasi yang paling nyata dihadapi adalah masalah akses menuju konsumen listrik, sehingga meningkatkan biaya konstruksi infrastruktur distribusi listrik. Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang belum memiliki listrik mayoritas terletak di sekitar kawasan pantai Gunungkidul atau pegunungan di Kulon Progo. Kondisi topografi dan jauhnya dari pemukiman lain, menjadikan PLN harus merogoh koceknya cukup dalam jika ingin melistriki wilayah tersebut.

Sama halnya dengan lokasi di program KEMALA. Satu lokasi di Sumatera Barat harus ditempuh selama dua jam dari ibukota Solok Selatan, meskipun jarak horizontalnya hanya 25 km. Sementara dua desa lokasi program di Jambi, hanya bisa ditempuh dengan menggunakan kapal motor kecil. Keterbatasan akses tersebut berkonsekuensi pada banyak hal, seperti akses pendidikan yang terbatas, ketergantungan pada pasokan minyak diesel atau bahkan memilih untuk tidak memiliki listrik sama sekali, serta munculnya tambahan waktu dan biaya untuk setiap kebutuhan yang dibeli dari luar desa/jorong. Khusus dua desa di Jambi yang berada di tepi sungai Batanghari, lokasi ini memiliki masalah tahunan berupa banjir sekaligus masalah harian berupa air bersih MCK yang diambil dari sungai dan air minum kemasan galon yang dibeli dari luar desa. Kesimpulannya, masalah utama masyarakat di lokasi program adalah kemiskinan.

Pada awal November 2016, sebagai bagian dari kegiatan hibah, KEMALA mendatangkan 12 orang  dari lokasi program ke Yogyakarta selama lima hari dalam kegiatan bertajuk Green Visioning atau pembangunan visi hijau masyarakat, sebagai awal pembentukan Komunitas Belajar Sekolah Hijau. Kegiatan ini di antaranya adalah kunjungan ke Desa Nglanggeran di Gunungkidul yang sukses dengan kemandirian desanya di bidang wisata, pertanian, perkebunan, dan peternakannya, secara integral, serta Dusun Banyumeneng di Panggang, Gunungkidul yang berhasil dalam membangun komunitas pengelolaan air bersih berbasis PLTS-nya. Selain itu, 12 orang inilah yang akan menjadi Kader Hijau di tingkat desa/jorong, sebagai penggerak dan motivator bagi masyarakat desa/jorong untuk mencapai kemandirian desa/jorong secara bersama-sama. Tujuan besar yang sesungguhnya adalah membangun visi masyarakat, melalui masyarakat, yang nantinya manfaatnya juga langsung akan dirasakan oleh masyarakat sendiri.

Salah satu kesan yang ditangkap oleh KEMALA setelah kegiatan Green Visioning adalah adanya semangat yang luar biasa dari Kader      Hijau untuk belajar dan menambah wawasan serta melakukan kontekstualisasi pada daerahnya masing-masing. Hanya saja, selama ini kurangnya wawasan, pengetahuan, teknologi, dan pendampingannya telah meredupkan semangat bagi masyarakat untuk berbenah ke arah yang lebih baik. Lebih dari itu, Sekolah Hijau juga ditargetkan untuk mampu berkontribusi dalam meningkatkan kapasitas masyarakat, menggugah kesadaran tentang adanya potensi sumber daya lokal, dan mengelolanya untuk meningkatkan pendapatan masyarakat.

Dalam mengembangkan kemandiriannya, desa atau komunitas lokal di tingkat masyarakat tidak bisa dimaknai berdiri sendiri di dalam siklus tertutup di tingkat lokal. Justru desa harus bekerjasama secara sinergis dan integral dengan desa-desa lain untuk saling memenuhi kebutuhan, saling memanfaatkan dalam arti yang positif. Begitu pula dengan pemerintah desa yang memiliki wewenang pemanfaatan anggaran dana desa (dari APBN dan APBD), sangat berpeluang mengalokasikan dana pemberdayaan masyarakat untuk mengelola komoditas lokal. Sementara pemerintah kabupaten dan provinsi melalui SKPD harus turut mendorong kemandirian desa lewat alokasi dana di APBD: bukan memberi ikan, tetapi justru memberi pancing dan mengajarkan cara memancingnya. Konsekuensi logisnya juga sangat positif, yakni adanya keterlibatan langsung masyarakat dalam menyusun program pembangunan desa sekaligus pelaksanaan dan pengawasan penggunaan anggarannya.

Pembangunan dari desa merupakan solusi riil kemandirian Indonesia, sebagai perwujudan cita-cita para pendiri bangsa saat mendeklarasikan NKRI: memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Semoga Allaah SWT memudahkan ikhtiar kita.

 

REFERENSI

  1. Budiarto, R.; Wardhana, A. R.; Prastowo, A. R. (2016). Implementation of Islamic Economics in Indonesia by Developing Green Economics Through Renewable Energy Technologies, 1st Gadjah Mada International Conference on Islamic Economic and Development, Yogyakarta
  2. Shihab, Q. (2003). Tafsir Al-Mishbah – Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur`an Volume 11, Lentera Hati, Jakarta
  3. Tim Lajnah Ta’lif wan Nasyr (LTN) PBNU (2011). Ahkamul Fuqaha – Solusi Problematika Aktual Hukum Islam – Keputusan Muktamar, Munas, dan Konbes Nahdlatul Ulama (1926 – 2010 M), Khalista, Surabaya
  4. Kementerian ESDM RI (2016). Handbook of Energy & Economic Statistics of Indonesia 2016, Jakarta
  5. Omar Ellabban, Haitham Abu-Rub, Frede Blaabjerg (2014). Renewable energy resources: Current status, future prospects and their enabling technology. Renewable and Sustainable Energy Reviews 39, 748–764, 749, doi:10.1016/j.rser.2014.07.113
  6. REN21 (2010). Renewables 2010 Global Status Report, hlm. 15
  7. http://www.iea.org/topics/renewables/, diakses pada 1 Juni 2016
  8. IRENA (2009). Statute of The International Renewable Energy Agency (IRENA), hlm. 4-5.
  9. IRENA (2014). REthinking Energy 2014, hlm. 12.
  10. IRENA (2015). REthinking Energy 2015, hlm. 11.
  11. Lenzen, M. (2009). Current state of development of electricity-generating technologies, The University of Sydney
  12. Wei, M, Patadia, S., and Kammen, D.M. (2010). Putting renewables and energy efficiency to work: How many jobs can the clean energy industry generate in the US?, of Energy Policy, Vol. 38, hlm. 919 – 931
  13. IRENA (2014). Renewable Energy and Jobs – Annual Review 2014
  14. IRENA (2015). Renewable Energy and Jobs – Annual Review 2015
  15. IRENA (2016). Renewable Energy and Jobs – Annual Review 2016
  16. IRENA (2014). REthinking Energy 2014, hlm. 12-17
  17. Kementerian ESDM RI, Dirjen Ketenagalistrikan (2016). Statistik Ketenagalistrikan 2015 – Edisi No. 29 Tahun Anggaran 2016, Jakarta
  18. http://m.liputan6.com/bisnis/read/2497279/esdm-optimistis-rasio-elektrifikasi-2016-lampaui-target, diakses pada 30 November 2016
  19. Lenzen, M. (2009).Current state of development of electricity-generating technologies, The Universityof Sydney

Meraih Berkah Kelembutan dalam Dakwah

Menyampaikan dakwah harus dengan metode yang tepat dan penuh kelembutan dan kesabaran. Allaah Ta’aala berfirman di dalam surah an-Nahl 125,

Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik dan bantahlah dengan cara yang terbaik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yanh mendapat petunjuk.

Ayat ini merupakan bentuk tiga macam dakwah, yakni (1) dengan hikmah, (2) dengan maw-‘izhah hasanah, (3) berdebat dengan cara terbaik.

Hikmah ditujukan kepada mereka yang berpengetahuan tinggi, yakni berdialog dengan kata-kata bijak sesuai dengan tingkat kepandaian mereka. Maw-‘izhah hasanah ditujukan kepada kaum awam, yakni dengan  memberikan nasihat dan perumpamaan yang menyentuh jiwa sesuai dengan taraf pengetahuan mereka yang sederhana. Sedangkan kepada Ahl-al-Kitaab dan penganut agama lain, digunakanlah jidal atau perdebatan dengan cara terbaik, yakni logika (masuk akal) dan retorika (kata-kata yang mampu mengajak), tanpa kekerasan dan umpatan.

Ketiga metode ini, tidak terpaku pada tiga golongan tadi, tetapi dapat saling mengisi. Hikmah memang untuk cendekiawan, tetapi hikmah pun dapat digunakan untuk kaum awam maupun penganut agama lain. Begitu pula dengan metode lain, saling mengisi sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapi dalam dakwah.

Hikmah juga diartikan sebagai sesuatu yang bila digunakan/ diperhatikan akan mendatangkan kemanfaatan dan kemudahan yang besar atau lebih besar, serta menghalangi terjadinya kerusakan atau kesulitan besar atau yang lebih besar. Makna ini ditarik dari kata hakamah, yang berarti kendali, karena kendali menghalangi hewan/kendaraan mengarah ke arah yang tidak diinginkan atau menjadi liar. Memilih perbuatan yang terbaik dan sesuai, atau bahkan memilihnya (terbaik dan sesuai) di antara dua hal yang buruk pun dinamai hikmah, dan pelakunya disebut hakiim (bijaksana).

Hikmah juga dimaknai sebagai (1) himpunan segala ucapan atau pengetahuan yang mengarah pada perbaikan keadaan dan kepercayaan manusia secara bersinambung, dan (2) sesuatu yang mengena kebenaran berdasar ilmu dan akal, yakni kebenaran yang tidak mengandung kelemahan dan tidak pula kekaburan.

Maw-‘izhah bermakna uraian yang menyentuh hati yang mengantar pada kebaikan, sedangkan jidaal, asal kata jaadilhum, bermakna diskusi atau bukti-bukti yang mematahkan alasan atau dalih mitra diskusi dan menjadikannya tidak dapat bertahan, baik yang dipaparkan itu diterima oleh semua orang maupun hanya oleh mitra diskusi.

Yang menarik, maw-‘izhah disifati dengan hasanah (baik) sedangkan jidaal disifati dengan ahsan (terbaik). Hal ini membawa makna bahwa metode maw-‘izhah ada yang baik dan ada pula yang buruk. Sementara berdebat atau jidaal mempunyai tiga jenis, buruk, baik, dan terbaik.

Maw-‘izhah yang baik berarti uraian harus disertai pengamalan dan teladan oleh yang menyampaikan agar sampai di hati sasaran dakwah. Dan dalam debat atau jidaal, yang buruk adalah debat yang mengundang kemarahan lawan dan argumen atau pendapat yang tidak benar; yang baik adalah dengan sopan dan pendapat yang walaupun hanya diakui oleh lawan saja; dan yang terbaik adalah dengan sopan, dengan pendapat yang benar, dan dapat membungkam lawan.

Kemudian, pada ayat 126, masih di surah an Nahl Allaah Ta’aala berfirman,

Dan apabila kamu membalas, maka balaslah persis sama dengan siksa yang ditimpakan kepada kamu. Akan tetapi jika kamu bersabar sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi para penyabar.

Ayat ini sebagai lanjutan dari ayat tentang metode dakwah, bahwa ketika mereka yang kita dakwahi melakukan pembangkangan atau  bahkan menggunakan kejahatan dan kekejian sebagai reaksi terhadap dakwah kita, maka Allaah anjurkan untuk tidak membalas. Kenapa demikian?

Allaah sampaikan dengan kata wa in ‘aaqabtum (dan apabila kamu membalas), di mana, kata in atau yang biasa diterjemahkan sebagai apabila, tidak digunakan dalam bahasa Arab kecuali terhadap sesuatu yang jarang atau diragukan terjadi. Berbeda dengan kata idzaa yang mengandung isyarat adanya kepastian akan terjadinya apa yang dibicarakan. Dan Allaah lanjutkan, akan tetapi jika kamu bersabar sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi para penyabar, kemudian di ayat 127 ditekankan kembali agar muncul kebulatan tekad untuk bersabar itu dengan kata pembuka washbir, bersabarlah, wa maa shabruka illa bi-Llaah, dan seterusnya.

Dengan demikian, penggunaan kata wa in, dan apabila dalam ayat ini menjelaskan bahwa pembalasan kejahatan itu boleh dan harus setimpal, meskipun dianjurkan untuk bersabar sebagai pilihan yang terbaik. Pembalasan terhadap kejahatan diperbolehkan, harus setimpal, tetapi digunakan kata wa in, dan apabila, yang membawa isyarat: jarang terjadi, atau diragukan terjadi.

Ayat ini ternyata berhubungan erat dengan ayat lain, di surat Fushilat ayat 34-35, Allaah Ta’aala befirman,

(34) Dan tidaklah sama kebaikan dan tidak (pula) kejahatan. Tolaklah dengan yang terbaik, maka tiba-tiba orang yang di antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah dia teman yang setia. (35) Tidaklah dipertemukan hal itu melainkan kepada orang-orang yang telah sabar dan tidaklah ia dianugerahkan melainkan pemilik keberuntungan yang besar

Ayat 34 menunjukkan perbedaan yang tegas antara kebaikan dan kejahatan, bahwa sebagai kelanjutan penjelasan ayat pembalasan di surah an Nahl 126, Anda boleh membalas meskipun direkomendasikan bersabar, tapi ya itu, apa yang membedakan Anda dengan mereka, kalau sama-sama dengan kekerasan?

Maka kemudian Allaah sampaikan, tolaklah dengan yang terbaik, maknanya, balaslah keburukan dengan cara yang terbaik, yaitu tumindak ala ojo dibales dengan tumindak ala, tapi kedah ngangge tumindak sae, maka tiba-tiba (fa-idzaa), yang sebelumnya bermusuhan akan berubah menjadi bagaikan teman yang setia.

Kok bisa, dari perangai buruk menjadi baik, dari musuh menjadi teman? Tafsir al Mishbah menjelaskan sebagai berikut,

Jiwa manusia sangat ajaib. Tidak jarang menyangkut satu objek pun hatinya bersikap kontradiktif, sampai-sampai, menurut Prof. Haamid Thaaha al Khasysyaab dari Universitas al-Azhar Mesir mengatakan, “Setiap perasaan betapa pun agung dan luhurnya, tetap mengandung perasaan yang bertolak belakang dengannya. Perasaan mempunyai logika yang berbeda dengan logika akal, karena akal tidak dapat menggabung dua hal yang bertolak belakang. Karena itu tidak ada cinta tanpa benci, tidak ada juga rahmat tanpa kekejaman.

Poinnya ada cinta, pasti ada juga sedikit kebencian. Begitu pula sebaliknya. Jika seseorang memusuhi orang lain dan memperlakukannya secara tidak wajar, yakni dengan kekerasan atau kekejian, maka pada saat yang sama, disadari atau tidak, ada benih simpati, empati, dan kebaikan di dalam diri yang memusuhi, namun benih perasaan ini ditekan dan dipendam, karena baginya ia berhadapan dengan musuh. Nah, ketika permusuhan dan kekejian tadi dihadapi dengan kelemah-lembutan, dengan kebaikan, itu akan mengundang kembali benih-benih kebaikan yang tadi berusaha dipendam. Sehingga fa-idzaa, dengan tiba-tiba, dari permusuhan menjadi bagaikan teman yang sangat setia.

Sikap membalas keburukan dengan kebaikan memang membutuhkan kesabaran yang ekstra, di mana ayat 35 secara makna membawa isyarat bahwa perilaku membalas dengan kebaikan hanya bisa dilakukan oleh mereka yang telah bersabar, atau bahasa lainnya, membutuhkan pembiasaan kesabaran. Artinya ada proses sabar yang tumbuh, dari sabar dari hal-hal kecil, terus menerus dibiasakan, hingga akhirnya mampu mencapai puncak kesabaran, yakni membalas kejahatan dengan kebaikan. Anugerahnya, Allaah sampaikan, dzuu-hazh-zhiin ‘azhiim, keberuntungan yang besar.

Keberuntungan apa dari sikap bersabar yang mewujud dalam pembalasan berupa kebaikan ketika dihadapkan pada provokasi kejahatan yang menimpa?

Kanjeng Nabi Muhammad SAW bersabda sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim,

Dari Sayyidatina ‘Aisyah RA beliau berkata, “Rasuulullaah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya Allaah Maha-lembut dan menyukai kelemah-lembutan dalam segala hal.’”

Sementara di dalam riwayat Imam Muslim, dengan redaksi yang hampir sama, Kanjeng Nabi Muhammad SAW bersabda,

Dari Sayyidatina ‘Aisyah RA, Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya Allaah Maha-lembut dan menyukai kelemah-lembutan. Allaah memberi sesuatu karena kelembutan, yang tidak Dia berikan karena kekerasan, dan yang tidak diberikan-Nya karena yang lain.” (Riwayat Muslim)

Dalam mengomentari hadits ini, Imam an-Nawawi menyatakan, Allaah memberikan pahala berbeda dari pahala sifat-sifat lainnya kepada pemilik kelembutan. Sementara ulama lain al-Qadli ‘Iyadl menyatakan maksudnya, orang yang bersikap lemah lembut akan mudah dikabulkan keinginan, sementara orang yang tidak bersikap lembut tidak mudah dikabulkan. Prof. Wahbah Zuhaili, ulama besar Suriah kemudian menyatakan yang dimaksud kelembutan di sini adalah tutur kata dan tindakan yang lembut dan memudahkan.

Ketika Rasuulullah Muhammad SAW berdakwah di Tha’if, beliau dilempari dengan batu oleh penduduk Tha’if hingga terluka-luka. Hadirlah Malaikat Jibril dengan diiringi malaikat penjaga dua bukit di Tha’if dan menawarkan perintah Allaah, bahwa jika Rasuulullaah Muhammad SAW kersa, maka kedua bukit akan dihimpitkan kepada penduduk yang telah melempari Rasuulullaah SAW.

Apa jawaban Rasuulullaah SAW? Rasul SAW melarang! Bahkan Rasuul SAW kemudian mendoakan ampunan bagi kaumnya karena belum mengetahui kebenaran Islam dan kemudian berharap bahwa meskipun saat ini belum ada yang memeluk Islam, kelak akan lahir keturunan dari penduduk Tha’if yang menyembah Allaah Yang Maha-Esa. Inilah akhlak Rasuul SAW dalam berdakwah! Kekerasan dibalas dengan kesabaran dan kelembutan hati beliau.

Hadirin rahimakumullaah.

Maka dalam dakwah, kelembutan akan melengkapi ikhtiar. Dakwah yang sukses adalah dakwah yang berasal dari hati sang pendakwah dan menghunjam ke kalbu mereka yang didakwahi. Cara yang lembut akan memudahkan masuknya nilai dakwah ke dalam hati dan keberkahan doa para pendakwah yang menggunakan kelembutan, tentu mudah dikabulkan oleh Allaah. Inilah keberkahan dakwah dengan hati dan kelembutan.

Semoga Allaah menjaga hati kita untuk selalu bersabar dan berpegang teguh pada nilai kelembutan, agar tercapai kebahagiaan dunia sekaligus akhirat, aamiin, Allaahumma aamiin.

Kemuliaan Silaturrahmi

Keluarga menurut Islam harus saling mendukung satu sama lain, baik di saat suka maupun duka. Jika seluruh keluarga, atau kita katakan, setiap keluarga dan antara satu keluarga dengan keluarga lain, semua kompak dan saling menyayangi, maka sebuah bangsa akan kuat. Musuh sulit menerobos barisannya, apalagi mencoreng kehormatan dan martabatnya. Maka Allaah Ta’aala pun perintahkan, dalam surah an-Nisaa` ayat pertama:

Dan bertakwalah kepada Allaah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain dan peliharalah hubungan silaturahmi.

Bertakwa berarti memelihara. Bertakwa kepada Allaah berarti memelihara diri dari siksa Allaah yang timbul akibat pelanggaran atas perintah Allaah. Sementara alladzii tasaa-aluuna bihi, berarti dengan mempergunakan nama-Nya, Allaah, kamu saling meminta satu sama lain, yakni bagaimana kita semua menyeru Gusti Allaah, menyebut nama Allaah, saat kita meminta sesuatu, baik langsung kepada Allaah melalui doa kita, maupun meminta tolong melalui orang lain.

Sementara wal-arhaam, sesungguhnya berasal dari rahiim, yaitu tempat peranakan, atau tempat bayi dibesarkan di perut seorang ibu. Rahim adalah penghubung seorang manusia dengan manusia lainnya. Misal, rahim adalah penghubung antara orang tua dengan anaknya. Bahkan melalui rahim pula, persamaan sifat fisik dan sifat muncul antara anak dengan ayah atau ibunya. Dan dengan rahim pula, muncul hubungan persaudaraan dekat antara satu sama lain, seperti dikenal di Indonesia adalah hubungan kekeluargaan trah, yang berhimpun dari seorang Kakek hingga ke semua keturunannya.

Wal-arhaam, yang diambil dari makna tersebut kemudian ditafsirkan sebagai silaturrahmi antar-manusia, karena pada dasarnya, satu manusia dengan manusia lain, satu keluarga dengan keluarga lain, sekalipun berbeda leluhur, beda orang tua, beda kakek, beda simbah, tetapi semua dibentuk dari proses yang sama, mengalami cara tumbuh yang sama di dalam rahim, maka, firman Allaah ditafsirkan menjadi: peliharalah ketakwaan kepada Allaah dan pelihara pula hubungan antar-sesama manusia, yakni silaturrahmi.

Hadirin rahimakumullaah.

Silaturrahmi menjadi tema penting dalam Ramadlan, karena pada bulan Ramadlan ini, hubungan persaudaraan kaum muslimin menjadi semakin kuat, karena semangat beribadah membuat kita semua dalam satu kampung kecil atau komunitas masjid atau mushalla, menjadi sering bertemu, bertegur sapa, bertukar kabar dan cerita, di sela-sela kegiatan ibadah massal: buka bersama, tadarus, pengajian, dan lain sebagainya.

Puncaknya, di Idul Fitri nanti, janji Allaah yang mengampuni seluruh dosa kita setelah Ramadlan kita lengkapi dengan sowan kepada orang tua yang masih sugeng dan kemudian sowan kepada yang lebih sepuh daripada kita, untuk saling maaf memaafkan. Ini gambaran yang baik bagi kita sebagai umat Islam di Indonesia bahwa orang tua dan saudara dekat kita kunjungi, begitu pula dengan tetangga yang setiap hari kita berkomunikasi, sehingga pasti ada kesalahan dan kekhilafan, juga kita sowani, sekalipun tidak memiliki hubungan saudara dekat. Budaya ini, harus kita pertahankan dan bahkan kita perkuat.

Hadirin rahimakumullaah.

Salah satu pentingnya silaturrahmi digambarkan dalam kisah Abu Sufyan saat diutus Kanjeng Nabi SAW untuk berdakwah ke pemimpin Romawi Heraclius. Pemimpin Kristen itu menerima Abu Sufyan, kemudian bertanya kepadanya: Apa yang diperintahkan kepada kalian? Maksud pertanyaannya, Apa yang diperintahkan dari yang kau sebut Nabi itu kepada kalian?

Abu Sufyan menjawab,

Nabi SAW bersabda sembahlah Allaah Yang Maha-Esa dan jangan sekutukan Allaah dengan apapun; tinggalkan apa yang dikatakan nenek moyangmu; dirikanlah shalat; berlaku jujur; menjaga diri; dan menyambung tali kekeluargaan.

Artinya, sebagai gambaran awal Islam, karena Abu Sufyan sedang berdakwah pada pimpinan Kristen, disampaikanlah pilar-pilar penting dalam Islam, termasuk pentingnya menyambung tali persaudaraan. Silaturrahmi juga menjadi penting, kaitannya dengan kesempurnaan iman, di mana Kanjeng Nabi Muhammad SAW bersabda,

…Siapa saja yang beriman kepada Allaah dan hari akhir hendaklah ia (1) memuliakan tamunya, (2) menghubungkan tali persaudaraan, (3) berkata yang baik atau diam saja.

Di dalam al-Qur`an banyak sekali diurai tentang keimanan, di mana iman menurut Islam yang ada enam (kepada Allaah, malaikat Allaah, kitab-kitab Allaah, utusan Allaah, hari akhir, takdir Allaah), diringkas menjadi dua hal ini: iman kepada Allaah dan hari Akhir. Mengapa? Karena kedua hal ini telah merangkum keenam rukun iman. Percaya kepada Allaah berarti meyakini malaikat Allaah, kitab Allaah, utusan Allaah, dan segala ketentuan serta takdir Allaah, termasuk kemudian percaya kepada datangnya Hari Kiamat.

Dan hadits ini menjelaskan di antara karakteristik orang beriman kepada Allaah dan hari akhir, yaitu memuliakan tamu, menyambung persaudaraan, dan menjauhkan diri dari perkataan buruk, karena pilihan dari Kanjeng Nabi SAW jelas: berkata yang baik atau daripada perkataan buruk, lebih baik diam, menahan diri.

Hadirin rahimakumullaah.

Lebih dari itu, silaturrahmi juga akan mendatangkan manfaat materiil, sebagaimana Kanjeng Nabi SAW ngendika,

…Barangsiapa yang menyukai untuk mendapatkan kelapangan rizki dan panjang usianya, hendaklah ia menyambung hubungan dengan familinya.

Bagaimana bisa memanjangkan umur dan mendatangkan rezeki? Ada cerita gojegan, tentang Abu Nawas. Suatu kali Abu Nawas ditanya oleh seseorang, berkaitan dengan hadits ini. Abu Nawas ditanya, bagaimana bisa silaturrahmi memanjangkan usia? Dengan santai Abu Nawas menjawab, karena saat engkau pergi silaturrahmi, malaikat Izrail nggak ketemu denganmu di rumahmu, jadi panjanglah usiamu, gak pernah ketemu dengannya. Tapi ini cerita candaan lho ya.

Tapi bagaimana bisa memanjangkan umur dan mendatangkan rezeki? Kuasa Allaah tentu saja meliputi segala sesuatu. Kalau belum datang waktunya mati, ya belum akan mati. Kalau memang jatahnya dapat rezeki tiban dalam semalam atau justru bangkrut dalam semalam, Allaah pun bisa melakukannya. Tetapi hadits ini dapat sedikit dinalar, sebagai bagian dari diri kita untuk menambah keyakinan kita:

Misal, ada teman atau kerabat yang sudah lama tidak bertemu, kemudian kita sambung lagi tali silaturrahmi ini, maka boleh jadi muncul pekerjaan baru. Atau bagi yang pengusaha, menemukan barang baru yang bisa dijual, kerjasama dengan teman lama. Atau dari jalinan tali silaturrahmi ini akan timbul hubungan bisnis atau perdagangan baru. Semuanya serba mungkin.

Kaitannya dengan panjang usia, ketika kita silaturrahmi, jika yang kita datangi, nyuwun sewu, kondisinya lebih memprihatinkan daripada kita, maka kita akan bersyukur dengan kondisi kita yang lebih baik dan bahkan merupakan kesempatan kita untuk beramal shalih membantu meringankan bebannya. Atau jika yang kita datang silaturrahmi kondisinya lebih sejahtera daripada kita, maka kesempatan bagi kita untuk nyinau semangatnya, nyinau perjuangannya menjadi sejahtera, meneladani kebaikannya untuk memperbaiki kesejahteraan kita. Sehingga setelah silaturrahmi kita akan menjadi orang yang lebih bersyukur dan bahkan lebih bersemangat menjalani hidup untuk mencapai kesejahteraan, dengan tetap eling kepada Gusti Allaah tentunya. Dan hidup penuh dengan syukur sekaligus semangat inilah yang menjadi salah satu sebab panjangnya usia kita.

Coba perhatikan saudara dan kerabat kita di pedesaan. Hidupnya sederhana, tapi lazimnya memiliki usia yang lebih panjang daripada orang-orang di perkotaan. Mengapa? Karena beban pikiran mereka berbeda dengan kita di perkotaan. Kebutuhan makan mereka dipenuhi oleh ladang dan kebun, yang merupakan hasil kerja mereka sehari-hari atau simpanan musim panen sebelumnya. Kebutuhan lain, hampir tidak ada.

Sementara kita yang berada di kota, bebannya macam-macam. Sekolah, kuliah, utang kendaraan, utang rumah, utang modal kerja, dan bahkan kita itu kober mikir urusan Jakarta, menteri, Kapolri, Presiden, partai, dan lain sebagainya. Mereka yang di desa bisa qanaah (nrima setelah diusahakan yang disertai doa) dan semeleh, berbeda dengan kita.

Uraian tersebut, hadirin rahimakumullaah, merupakan gambaran bahwa hadits ini, silaturrahmi yang memperpanjang usia dan melapangkan rizki, sangat mungkin terjadi di dalam kehidupan kita. Tentu saja semuanya harus kita yakini bahwa atas seizin Allaah, bukan semata-mata usaha kita saja. Bahwa Allaah memang telah gariskan usia kita lebih panjang dan rezeki kita lapang, dengan lantaran ikhtiar kita dengan silaturrahmi.

Lebih jauh, Kanjeng Nabi Muhammad SAW juga pernah bersabda, yang artinya,

Silaturrahmi yang menggantung di ‘Arsy berkata, ‘Siapa saja yang menjalin silaturahmi denganku maka Allaah akan menjalin hubungan dengannya. Siapa saja yang memutuskan silaturrahmi denganku maka Allaah akan memutuskan hubungan dengannya.

Hadits ini menunjukkan pentingnya untuk tidak memutus tali kekerabatan dan persaudaraan, di mana digambarkan sebagai silaturrahmi yang menggantung di ‘Arsy Allaah.

Khusus mengenai memutus tali persaudaraan dan kekerabatan, tindakan ini, yakni memutus tali silaturrahmi merupakan dosa besar dan mendatangkan siksaan pedih. Rasuulullaah Muhammad SAW pernah ditanya sahabat,

Wahai Rasuulullaah, aku punya kerabat. Aku menjalin silaturrahmi dengan mereka, tetapi mereka justru memutus hubungan denganku. Aku berbuat baik kepada mereka, tetapi mereka justru berbuat jahat kepadaku. Aku bersikap santun kepada mereka, tetapi mereka justru membodohiku?

Rasuulullaah SAW menjawab, Jika yang engkau katakan itu benar, berarti engkau telah memberi mereka abu panas. Allaah senantiasa menolongmu terhadap mereka, asalkan engkau konsisten seperti itu.

Hadirin rahimakumullaah.

Kisah ini menunjukkan bahayanya memutus tali persaudaraan, bagaikan dilempari abu panas dari orang yang berbuat baik kepada kita, jika kita membalasnya dengan kejahatan. Pelajaran pentingnya, kita harus konsisten tumindak sae dhateng sinten kemawon, termasuk mereka yang bahkan berbuat jahat kepada kita. Tentu saja niatnya tumindak sae nggih kedah leres, niatnya harus benar dan lurus, yakni benar-benar berbuat kebaikan, bukan niat yang lain, seperti membalas dendam karena dulu pernah disakiti, atau alasan lain seperti memamerkan hartanya. Karena kalau demikian, bukan berbuat baik dan bukan pula menyambung tali silaturrahmi, tetapi kesombongan dan kecongkakan untuk merendahkan orang lain. Semoga kita bisa meluruskan niat perbuatan baik kita kepada orang lain. Aamiin.

Kaitannya dengan silaturrahmi dengan kerabat dekat, ada dua hal yang ingin saya sampaikan sebagai penutup uraian ini. Pertama, bahwa berbuat baik kepada kerabat dekat, yakni dengan bersadaqah, mendapatkan pahala dua kali lipat. Kanjeng Nabi Muhammad SAW bersabda,

Shadaqah kepada orang miskin itu bernilai satu pahala, sedangkan kepada kerabat mengandung dua pahala: sedekah dan silaturrahmi.

Inilah keuntungan kita membantu meringankan saudara dekat kita yang kekurangan, memperoleh dua keuntungan, sekaligus bentuk isyarat dari Allaah kepada kita agar peduli dan empati kepada yang dekat terlebih dahulu sebelum peduli kepada mereka yang sama-sama dalam kondisi kesusahan tetapi jauh dari kita.

Terakhir, dalam sebuah hadits muttafaqun ‘alayh, yakni yang disepakati oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, bersumber dari Asma’ binti Abu Bakar RA, beliau berkata

Ibuku mendatangiku, sedangkan ia seorang perempuan musyrik di zaman Rasulullaah. Aku pun meminta fatwa kepada Rasuulullaah SAW. Aku berkata, “Ibuku datang dan meminta sesuatu dariku. Bolehkah aku menyambung tali silaturrahmi dengan ibuku?”

Beliau bersabda, “Ya, sambunglah silaturrahmi dengan ibumu.”

Hadirin rahimakumullaah.

Demikianlah pentingnya silaturrahmi, termasuk silaturrahmi kepada kerabat yang berbeda keyakinan sekalipun. Manfaatnya akhiratnya jelas, yakni termasuk dalam ketaatan yang mendatangkan rahmat Allaah. Sedangkan manfaat dunianya juga ada, dengan catatan, niat tulus silaturrahmi tidak boleh berubah menjadi niat mencari kelapangan rezeki atau niat memperpanjang usia.

Semoga Allaah berkenan menganugerahkan kepada kita kemudahan bagi hati dan diri kita untuk selalu menyambung tali persaudaraan dan silaturrahmi, kapanpun dan di manapun. Aamiin, Allaahumma Aamiin.

 

Kisah Nabi Musa ‘AS dan Orang Saleh

Allaah SWT berfirman dalam rangkaian ayat di Surat al Kahfi, dari ayat 65 hingga 82 yang mengisahkan perjalanan luar biasa antara Nabi Musa ‘AS dengan seorang yang saleh. Pada ayat 65, Allaah berfirman,

(65) Lalu mereka berdua (Nabi Musa ‘AS bersama pembantu beliau) bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah kami anugerahkan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya dari sisi Kami ilmu.

Ayat 65 ini membahas tentang adanya ilmu ladunniy, yakni ilmu yang bersumber dari langsung dari Allaah SWT. Sebagaimana firman Allaah SWT dalam surat al-‘Alaq ayat 4 dan 5:

“

(Allaah) Yang mengajar dengan pena, Yang Mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya.

Pengajaran dengan pena atau bisa dimaknai sebagai tulisan mengisyaratkan adanya peranan dan usaha manusia (misal: sekolah, membaca tulisan, dll), sedangkan pengajaran kedua adalah tanpa perantara, tanpa alat, tetapi langsung, inilah ilmu ladunniy.

Dalam dunia pesantren dan tasawuf, ilmu ladunniy ini ada misalnya pada sosok kiai-kiai yang dikenal sangat saleh, sehingga sering sekali perbuatan atau perkataannya terkesan ajaib, padahal semuanya atas seizin Allaah. Dalam konteks kita yang biasa, ilmu ladunniy ini semacam ilham atau firasat ketika kita sedang dalam kondisi iman dan ibadah yang baik. Dalam ilmu pengetahuan modern atau sains, temuan ini yang sering disebut tiba-tiba muncul tanpa diduga, atau bahasa imannya: kersane Gusti Allaah. Semuanya mungkin.

Kemudian, pada ayat 66, dimulailah kisah penuh hikmah ini, Allaah berfirman,

(66) Muusaa berkata kepadanya, “Bolehkah aku mengikutimu supaya engkau mengajarkan kepadaku sebagian dari apa yang telah diajarkan kepadamu untuk menjadi petunjuk?” (67) Dia menjawab, “Sesungguhnya engkau sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku. (68) Dan bagaimana engkau dapat sabar atas sesuatu, yang engkau belum jangkau secara menyeluruh beritanya?”

Attabi’uka membawa makna kesungguhan dalam upaya mengikuti. Bahwa Nabi Musa ‘AS mau menjadi murid, pengikut, dan pelajar. Maka belajar itu tidak boleh berhenti, hanya kematianlah yang menghentikan belajarnya seorang hamba Allaah.

Akhlak orang yang saleh juga nampak sekali, yakni tidak langsung menolak, tetapi memberi penjelasan terlebih dahulu, bahwa sangat mungkin engkau Musa, menjadi tidak sabar, karena tidak semua peristiwa bisa engkau ketahui hakikatnya secara menyeluruh dan mendalam.

Ayat ini membawa makna bahwa segala sesuatu di dunia ini terjadi dalam dua dimensi, yakni lahiriah dan batiniah. Yang sedang terjadi adalah yang kita lihat dengan mata atau yang kita dengar dengan telinga, sementara yang sesungguhnya terjadi hanya pelaku dan Allaah yang tahu hakikatnya. Tuhith, penguasaan dan kemantapan; khubran, pengetahuan yang mendalam.

(69) Dia (Musa) berkata, “Engkau insya-Allaah akan mendapati aku sebagai seorang penyabar dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu perintah.” (70) Dia (Orang Saleh) berkata, “Jika engkau mengikutiku, maka janganlah engkau menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku menerangkannya kepadamu.”

Ucapan insya-Allaah merupakan adab untuk menghadapi sesuatu di masa yang akan datang sekaligus permohonan, kiranya Allaah memberikan bantuan dalam menghadapinya. Lebih-lebih lagi dalam rangka  mempelajari ilmu batiniyah (tentu saja bukan dalam arti perdukunan), tapi mengungkap hakikat suatu peristiwa, digali makna, sebab, dan hikmah kejadiannya, yang secara lahiriah boleh jadi akan bertentangan dengan pengetahuan kita (akibat keterbatasan yang kita punyai).

(71) Maka berangkatlah keduanya hingga tatkala keduanya menaiki perahu, dia melubanginya. Dia (Musa) tidak sabar karena menilai pelubangan itu sebagai suatu perbuatan yang melanggar syariat (merusak milik orang lain, sehingga berpotensi menimbulkan kecelakaan bagi orang lain), kemudian berkata, “Apakah engkau melubanginya sehingga mengakibatkan engkau menenggelamkan penumpangnya? Sungguh engkau telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar.

(72) Dia (Orang Saleh) berkata, “Bukankah aku telah berkata, ‘Sesungguhnya engkau sekali-kali tidak akan mampu sabar bersamaku’?” (73) Dia (Musa) sadar akan kekeliruan beliau kemudian berkata, “Janganlah engkau menghukum aku disebabkan oleh kelupaanku, dan janganlah engkau bebani aku dalam urusanku dengan kesulitan.”

Makna idzaa atau tatkala membawa arti kejadiannya seketika: naik kapal, langsung melubanginya. Ini mengisyaratkan bahwa sejak awal memang diniatkan untuk melubangi dan bahkan Orang Saleh ini tahu apa yang akan terjadi jika dia tidak melubanginya, sehingga Orang Saleh ini harus melakukannya, yakni melubangi.

Penutup ayat ini merupakan isyarat bahwa Nabi Musa meminta sang Orang Saleh agar bisa terus mengikutinya dan melanjutkan belajarnya dengan sungguh-sungguh, karena kalau tidak dimaafkan dan tidak boleh mengikuti lagi, betapa besar beban yang dipikul Nabi Musa.

(74) Lalu berjalanlah keduanya, hingga saat keduanya berjumpa dengan seorang anak remaja yang belum dewasa, serta merta dibunuhnya anak itu oleh Orang Saleh. Nabi Musa AS sangat terperanjat dan penuh dengan kesadaran –bahwa harusnya tidak bertanya, tapi karena melihat pembunuhan– dia berkata, “Apakah engkau telah membunuh seorang yang memiliki jiwa yang suci dari kedurhakaan? Apakah engkau membunuhnya, tanpa dia membunuh satu jiwa orang lain? Sesungguhnya engkau telah melakukan suatu kemunkaran yang sangat besar. (75) Bukankah aku telah berkata kepadamu, sesungguhnya engkau wahai Musa, sekali-kali tidak akan mampu sabar ikut dalam perjalanan bersamaku?

(76) Nabi Musa ‘AS sadar bahwa dia telah melakukan kesalahan dua kali, tetapi tekadnya yang kuat untuk meraih ma’rifat mendorongnya bermohon agar diberi kesempatan terakhir, sehingga Nabi Musa berkata, “Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah kali ini, maka janganlah engkau menjadikan aku temanmu dalam perjalanan ini lagi, aku rela, tidak kecil hati dan dapat mengerti jika engkau tidak menemaniku lagi. Sesungguhnya engkau telah mencapai batas yang sangat wajar dalam memberikan udzur padaku karena telah dua kali aku melanggar sekaligus dua kali pula engkau memaafkanku.

(77) Maka keduanya berjalan, hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka berdua meminta agar diberi makan oleh penduduknya, tetapi mereka, penduduk negeri itu, enggan menjadikan mereka berdua tamu, maka segera keduanya meninggalkannya hingga keduanya mendapatkan di sana, dinding sebuah rumah yang akan roboh, maka dia Orang Saleh itu menopang dan menegakkannya. Kemudian dia, Nabi Musa berkata, “Jikalau engkau mau, niscaya engkau mengambil atas perbaikan dinding berupa upah yang bisa kita gunakan untuk membeli makanan.

Meskipun yang dilontarkan Nabi Musa AS bukan pertanyaan langsung, tetapi tetap saja berupa isyarat mempertanyakan, maka

(78) Karena telah tiga kali Nabi Musa ‘AS melanggar, Orang Saleh tersebut, dia berkata, “Inilah perpisahan antara aku denganmu wahai Musa, apalagi engkau sendiri telah menyatakan kesediaan untuk kutinggal jika melanggarnya sekali lagi. Namun demikian, sebelum berpisah, aku akan memberitahukan kepadamu informasi yang pasti tentang makna dan tujuan di balik apa, yakni peristiwa-peristiwa yang engkau tidak dapat sabar terhadapnya.

(79) Orang Saleh berkata, adapun perahu, maka ia adalah milik orang-orang lemah dan miskin yang mereka gunakan bekerja di laut untuk mencari rezeki, maka aku ingin menjadikannya memiliki cela (fa-arad-ttu an-a-‘i-bahaa) sehingga dinilai tidak bagus dan tidak layak digunakan, karena di balik sana ada raja yang kejam dan selalu memerintahkan petugas-petugasnya agar mengambil setiap perahu yang berfungsi baik secara paksa.

Dengan demikian, Orang Saleh tersebut seolah mengatakan, “Apa yang kubocorkan bukan untuk menenggelamkan penumpangnya, tetapi justru menjadi sebab terpeliharanya hak-hak orang miskin.”

(80) Dan adapun anak remaja yang aku bunuh, kata Orang Saleh, maka kedua orang tuanya adalah dua orang mukmin, dan kami khawatir bahkan tahu, jika anak itu hidup dan tumbuh dewasa dia akan membebani kedua orang tuanya, berupa kedurhakaan dan kekufuran. (81) Maka dengan membunuhnya, kami menghendaki, kiranya Tuhan mereka berdua, yakni Allaah SWT mengganti bagi mereka berdua dengan anak lain yang lebih baik darinya – yaitu yang telah dibunuh, lebih baik dalam kesucian-nya (sikap beragamanya) dan lebih dekat kasih sayang dan baktinya kepada orang tuanya.

(82) Adapun dinding rumah yang aku tegakkan tanpa mengambil upah itu, ia adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu dan di bawahnya terdapat harta simpanan orang tua mereka untuk mereka berdua. Kalau dinding roboh, terbuka kemungkinan harta simpanan itu akan diambil orang yang tidak berhak, sedang ayah keduanya adalah seorang yang saleh yang niatnya menyimpan harta itu untuk kedua anaknya. Maka Tuhanmu menghendaki dipeliharanya harta itu agar keduanya mencapai kedewasaan  mereka berdua dan mengeluarkan simpanan kedua orang tua-nya itu, untuk mereka manfaatkan, sebagai rahmat terhadap kedua anak yatim itu dari Tuhanmu.

Dan aku tidaklah melakukannya, membocorkan perahu, membunuh anak, memperbaiki dinding, berdasar kemauanku sendiri. Demikian itu makna dan penjelasan tentang apa yang engkau wahai Musa tidak sabar terhadapnya.

Demikianlah, ilmu ladunniy, pengajaran Allaah secara langsung kepada Orang Saleh itu telah menjadi pelajaran penting bagi Nabi Musa pada masanya yang lalu dan diabadikan di dalam al-Qur`an sebagai pelajaran bagi umat akhir zaman, kita semua. Bahwa ada hakikat dalam sebuah peristiwa, ada sisi bathiniyah dalam setiap kejadian, maka bukan hak kita untuk menghakimi orang lain, untuk misalnya menyimpulkan seseorang apakah dia baik atau buruk. Yang bisa kita nilai hanyalah perbuatan lahirnya, apa yang nampak di mata kita. Mengapa, apa niatnya, apa tujuannya, hanya Allaah dan sang pelaku yang tahu.

Maka dalam Islam kita diajarkan untuk tidak mencari atau bahkan membahas aib orang lain. Mengapa? Karena aib orang lain yang nampak dari sisi kita hanyalah lahiriahnya saja. Hakikatnya, sisi bathiniyahnya, hanya Allaah dan pelaku yang tahu: maka tutuplah aib orang lain, daripada timbul berita tak benar karena ketidakpahaman kita.

Kisah ini juga membawa pemahaman bagi kita, mengapa misalnya, di pesantren-pesantren, seorang ulama dan kiai bisa ditaati sampai demikian hebatnya? Itu terjadi karena berangkat dari kisah ini, bahwa seorang ulama yang jelas kesalehannya akan mengajarkan kebaikan, meskipun kesannya yang diajarkan tidak begitu ilmiah (menghafalkan syair, membawakan minuman saat ngaji, mijeti kiai saat capek, menemani pergi dalam kunjungan), tapi hasilnya tidak kalah ilmiah, karena ketaatan pada ulama pada akhirnya memunculkan pengajaran dari Allaah, ilham yang tak berkesudahan saat sang santri belajar.

Persis dengan ilmu di sekolah-sekolah. Saya pernah mengalaminya. X, Y, rumus-rumus, trigonometri, hukum ekonomi, integral, diferensial, dan istilah pelajaran matematika lainnya. Sebagian besar siswa, termasuk saya ini, dulu juga terbersit, buat apa tho itungan kayak gini, apa ya besok hidup ditentukan oleh itungan ini? Nyatanya, saat menginjak dunia pendidikan lebih tinggi dan melihat banyak modernitas teknologi saat ini, ternyata semua itu berguna.

Artinya, kita ceritakan kisah ini kepada anak-anak kita, kita katakan pada mereka, belajarlah yang baik, tak perlu bertanya untuk apa gunanya atau mengapa bisa begitu, tapi bertanyalah jika tidak memahaminya, sehingga engkau paham. Sesulit apapun pelajaranmu di SD, SMP, SMA, bersabarlah, kelak hikmahnya akan didapatkan pada saatnya nanti, sebagaimana kisah Nabi Musa dan Orang Saleh.

Sehingga kisah ini, bukan hanya menguatkan iman kita, tentang kuasa Allaah atas segala sesuatu, termasuk ilmu dan ilham kepada kita, selama kita selalu berusaha menjadi hamba yang taat, tapi kisah ini juga akan memotivasi generasi muda kita untuk belajar dengan serius, namun tak meninggalkan agama karena motivasinya hadir dari kisah al Qur’an.

Kecenderungan Manusia adalah Dalam Kebaikan

Pada mulanya, kondisi manusia itu sangat dekat dan taat kepada Allaah, hal ini dipahami secara tersirat sebagaimana firman Allaah yang ditujukan kepada Nabi Adam ‘AS ketika masih berada di dalam surga, di dalam surah al-A’raaf [7] ayat 19

Dan Wahai Adam! Diamilah olehmu dan istrimu surga (ini), maka makanlah oleh kamu berdua di mana dan kapan saja kamu berdua kehendaki, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, sehingga menyebabkan kamu berdua termasuk orang-orang zhalim.

Isyarat penting dalam ayat ini adalah Allaah menggunakan kata tunjuk ini untuk menjelaskan letak pohon terlarang, di mana kata tunjuk ini membawa makna letaknya dekat.

Akan tetapi karena tipuan setan, keduanya kemudian mendekati pohon tersebut, bahkan memakan buahnya. Pelanggaran ini membuat mereka menjadi jauh dari Allaah dan Allaah pun menjauh darinya, sehingga pada kelanjutan kisah tersebut, pada ayat 22 Allaah berfirman,

Dan Tuhan Pemelihara mereka menyeru kepada mereka berdua: “Bukankah Aku telah melarang kamu berdua melampaui (mendekati) pohon itu dan telah Aku firmankan kepada kamu berdua sesungguhnya setan (itu) adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?”

Perhatikan isyarat yang digunakan Allaah dalam ayat ke-22, Allaah berseru dan penggunaan kata itu untuk menjelaskan letak pohon.

Jadi, sebelum manusia melanggar perintah Allaah, ketika manusia masih taat dengan Allaah, ada kedekatan, yakni Allaah menunjuk pohon dengan kata ini.

Tetapi, begitu mereka melanggar perintah Allaah, atau dengan kata lain, menjauh dari Allaah, maka Allaah pun kemudian menjauh dari mereka, sehingga pesan Allaah harus disampaikan dengan berseru, yakni mengeraskan suara agar terdengar karena letaknya yang jauh. Bahkan, karena jaraknya yang jauh, Allaah menunjuk pada pohon dengan kata ganti tunjuk itu, dari yang semula ini.

Maka, dosa akan menjauhkan manusia dari Allaah dan menjauhkan Allaah dari manusia, saling menjauh satu sama lain.

Tetapi yang perlu menjadi catatan penting bagi kita adalah bahwa kondisi awal manusia, kondisi fitrah manusia, kondisi normal manusia adalah taat dan tunduk kepada Allaah. Bahkan ketika kita kembali taat, berusaha mendekatkan diri kembali kepada Allaah Ta’aala, Allaah berfirman dalam Hadits Qudsi,

Siapa yang datang kepada-Ku sejengkal, Aku akan datang kepadanya sehasta. Siapa yang datang kepada-Ku dengan merangkak, Aku akan datang kepada-Nya dengan berjalan. Siapa yang datang kepada-Ku dengan berjalan, Aku akan datang kepadanya dengan berlari.

Demikian gambaran betapa cepatnya rahmat Allaah untuk hadir dalam kehidupan kita, apabila kita senantiasa berusaha mendekatkan diri kepada Allaah.

Bahkan dalam ayat yang lain, al-Qur`an memberi gambaran betapa mudahnya mendorong hati dan diri kita untuk berbuat baik daripada berbuat buruk.

Dalam sebuah ayat yang sudah sangat masyhur, yaitu ayat terakhir (286) surat al-Baqarah, Allaah Ta’aala berfirman

Untuk manusia ganjaran bagi perbuatan (baik) yang dilakukannya, dan siksa bagi perbuatan (buruk) yang dilakukannya.

Ayat ini mengulang kata yang dilakukan sebanyak dua kali, satu dengan kata kasabat, yang satu lagi dengan kata iktasabat.

Mengutip Tafsir al-Manar karya Syaikh Muhammad Abduh, Prof. Quraish Shihab menjelaskan bahwa kata iktasabat yang melekat pada perbuatan buruk dan siksa memberi makna adanya upaya sungguh-sungguh dari pelakunya.

Sedangkan kata kasabat yang melekat dengan perbuatan baik dan ganjaran membawa arti sesuatu yang dilakukan dengan mudah tanpa pemaksaan.

Jadi, perbuatan baik itu sesuatu yang dengan mudah hati dan diri kita melakukannya, enteng nglakoninya. Dan sebaliknya, sebuah perbuatan buruk, butuh satu kondisi keterpaksaan yang tinggi, sehingga berat bagi diri manusia untuk melakukannya.

Sebagai ilustrasi, wong niku yen arep maling utawa ngrampok mesthi mikire ping akeh. Yen konangan, dikepruk. Geneo ora konangan, mengko ngedole barang colongan yo ora bisa sak nggon-nggon, dan seterusnya, dan seterusnya. Harus ada situasi yang mendesak sehingga muncul istilah nekat dalam sebuah perbuatan buruk.

Suatu kali, Sahabat Nawas Ibnu Sam’an sowan dhateng Rasuulullaah SAW, kemudian bertanya tentang kebaikan dan kejahatan. Rasuul SAW sebagaimana tercantum dalam kitab Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani,

‘kebaikan ialah akhlak yang baik dan kejahatan ialah sesuatu yang terlintas di dadamu dan engkau tidak suka bila orang lain mengetahuinya.’ (Riwayat Muslim)

Pada waktu lain, sahabat Wabishah bin Ma’bad juga sowan kepada Kanjeng Nabi SAW dan bertanya tentang kebaikan. Rasuul Muhammad SAW menjawab

Tanyailah hatimu! Kebajikan adalah sesuatu yang tenang terhadap jiwa dan yang tenteram terhadap hati, sedangkan dosa adalah yang mengacaukan hati dan membimbangkan dada, walaupun setelah orang memberimu fatwa. (Riwayat Ahmad dan ad-Darimi)

Maka kemudian, sesungguhnya sangatlah mudahlah bagi kita membedakan perbuatan baik dan buruk. Yang menenangkan jiwa setelah dikerjakan, itulah perbuatan baik. Yang menggelisahkan jiwa setelah dikerjakan dan ketakutan jika diketahui orang lain, itulah perbuatan buruk.

Dan momentum Ramadlan ini, sesungguhnya kesempatan besar bagi kita untuk memperbanyak kebaikan untuk kemudian membiasakannya. Apa pentingnya membiasakan perbuatan baik? Kanjeng Nabi Muhammad SAW bersabda,

Dari Abu Musa al-Asy’ari RA berkata, Rasuulullaah SAW bersabda, “Apabila seseorang menderita sakit atau sedang bepergian, maka dicatatlah pahala baginya amal perbuatan yang biasa dikerjakannya pada waktu tidak bepergian (muqiiman) dan pada waktu sehat (HR Bukhari)

Coba kita bayangkan, kebiasaan perbuatan baik kita ketika sehat dan mukim akan dicatat sebagai amal yang dikerjakan, meskipun kita sedang dalam kondisi sakit dan bepergian, atau dengan kata lain kondisi sakit dan bepergian yang secara lahir menghalangi kebiasaan perbuatan baik, ternyata tidak menghalangi catatan amal dan  tetap dicatat sedang kita kerjakan. Betapa luar biasa rahmat Allaah SWT.

Semoga Allaah senantiasa memberi kesehatan bagi kita di Ramadlan kali ini, sehingga mudah bagi kita berpuasa, mudah bagi kita untuk selalu berbuat kebaikan.

Aamiin.

Implementation of Islamic Economics in Indonesia By Developing Green Economy through Renewable Energy Technologies

Abstract

Recent development trends in conventional economy have caused serious systematic problems. It is a violation towards the goal of the implementation of economic activities themselves. The intentions of economy are not only to protect the wealth (hifdzu-l-maal), but also to protect life (hifdzu-n-nafsi) and descendant (hifdzu-n-nasli). Therefore, it demands a fundamental correction.

Green economy needs to be implemented as a part of Islamic economy to provide fundamental correction to conventional economy. Green economy emphasizes on three basic principles: 1) economic growth, 2) eco-efficiency, and 3) quality of economic growth. It is a paradigm that is able to protect the ecosystem in reaching economic growth to reduce prosperity gap.

Utilization of various renewable energy technologies is one of the keys to successful implementation of green economy in Indonesia. This technology promises huge tangible and intangible benefits, e.g. providing green jobs, reducing CO2 emissions, reducing the rate of coal exploration which thereby reducing complex problems related open coal mining, and enhancing the welfare of low-income people.

These benefits show that the use of renewable energy helps fulfilling the targets of economic growth, eco-efficiency and quality of economic growth, which are in line with Islamic principles of economy.

Keywords: Islamic economics, green economics, renewable energy

***

Disampaikan pada: First Gadjah Mada International Conference on Islamic Economics and Development (Yogyakarta, 12th-14th May 2016)

Penulis: Rachmawan Budiarto1,2*), Ahmad R. Wardhana3), Aishah Prastowo4)

1)Centre for Energy Studies, Universitas Gadjah Mada Indonesia

2)Dept. Of Engineering Physics, Fac. of Engineering, Universitas Gadjah Mada

3)Magister of Technology for Sustainable Development, School of Post-Graduate Universitas Gadjah Mada

4)Osney Thermo-Fluids Laboratory, Department of Engineering Science, University of Oxford, United Kingdom

*Corresponding author: rachmawan@ugm.ac.id

***

1. Maqashid Sharia (The Enactment Of Sharia)

In addition to the nash of al-Qur`an and Sunnah, Islam has Maqashid Sharia as a reference, which is obatained from inductive study (istiqra’) towards the texts of law, the laws derived from it, causes of law (‘illat), and the wisdom of law. This inductive study leads to the conclusion that there are intention and purposes of the enactment of sharia to mankind, which are to achieve benefits (mashlahat, kemashlahatan) to the human being in the dunya (world) and akhirah (afterlife) (Muhajir, 2015).

Mashlahat can be interpreted as the usefulness and advantages. The scholars agreed that the benefit in maqashid sharia should cover the five principal purposes, commonly referred as al-khamsah Kulliyat. Imam asy-Syatibi in al-Muwafaqat stated that the Five Principal Purpose are 1) hifdzu-d-din, to protect religion, 2) hifdzu-n-nafsi, to protect life, 3) hifdzu-l-‘aql, to protect mind, 4) hifdzu-l-maal, to protect wealth, and 5) hifdzu-n-nasli, to protect descendant (Muhajir, 2015, Sahroni and Karim, 2015).

Based on the level of urgency, there are three types of mankind needs that must be fullfilled in order to achieve mashlahat, which are: (1) dlaruriyat needs or primary needs, 2) hajiyat needs or secondary needs, and 3) tahsinat needs or needs complementary (Sahroni and Karim, 2015, Khallaf, 1977). Dlaruriyat needs are the needs that must be fulfilled, otherwise would bring destruction and damage. Hajiyat needs are the needs that lead to ease and convenience, which if not achieved would cause trouble and hardship. Fulfilling hajiyat needs can also be interpreted as a waiver those who bear the burden, and ease the social interaction and live (Khallaf, 1977).

Meanwhile, tahsinat needs come from human needs of dignity, norms and lifestyle. Tahsinat needs also beautify human condition to fit the demands of dignity and righteous attitude . Failure to achive these needs would cause discomfort or sense of alienation (Khallaf, 1977, Sahroni and Karim, 2015). The Maqashid Sharia meanings are shown schematically in Figure 1.1. (modified from Sahroni and Karim, 2015 and Muhajir, 2015).

2. Limitation of The Mashlahat And The Status, Functions And Benefits of Maqashid Sharia

The mashlahat – as the intention of human being – have some boundaries tied on it so that it can be attributed to its legal proposition (dalil), and get a legal position in sharia. There are three boundaries as the following. Firstly, the mashlahat should be covered in the Five Principle Purposes of Maqashid Sharia. Secondly, it should not be in conflict with the nash of al Qur’an and Sunnah. And lastly, it should not be in conflict with a greater mashlahat. (Sahroni and Karim, 2015).

Muhajir (2015) also explains that there are at least two important rules on Maqashid Sharia. First in the process of understanding nash of Sharia, attention to Maqashid Sharia would produce a law that does not always textual but also contextual; and second, in finding solutions to problems that do not have a direct reference to nash, one needs to pay attention to the secondary legal proposition (besides al-Qur`an and Sunnah), such as ijma`, qiyas, istihsan, saddu-dz-dzari’ah, ‘urf, mashlahah mursalah, and others.

Maqashid Sharia is not a stand-alone legal proposition as well as al-Qur`an, Sunnah, ijma’ or qiyas, because mashlahat should have foundation from first or secondary legal proposition or at least there is no legal proposition against it. Without any legal proposition, mashlahat is not applicable and can not be used as reference, because its legalities must be supported by sharia/legal proposition (Sahroni and Karim, 2015, Muhajir, 2015).

Fiqh Institutions of Organization of Islamic Conference also stressed out the fact that the fatwa should bring out Maqashid Sharia, due to three important benefits: 1) to understand nash al Qur`an and Sunnah as well as its legal proposition, comprehensively, 2) to do tarjih (legal review) one opinion of mufti/faqih based on Maqashid Sharia as standard (murajjihat), and 3) to understand ma’alat (long-term considerations) human activities and policies and then associate them with the legal provisions (Sahroni and Karim, 2015).

3. Economic Activity As A Form of Hifdzul-Maal

Sahroni and Karim (2015) stated that economic activity is a form of maqashid Sharia to protect wealth (hifdzu-l-maal) which consists of two types of activities: 1) min janibi al-wujud (from the point of view on how to get it) and 2) min janibi al-‘adam (from the point of view to maintain wealth). Two types of sharia economic objectives were described in this study, i.e. 1) maqashid ‘ammah or general purpose of sharia economy, which consist of 10 general principles, and 2) maqashid kashshah or special purpose of sharia economy that addresses 32 specific principles in various forms of economic sharia practices.

Muslimin (2011) stated that there are three values as the basis of the legal system of Islamic economics, i.e. ownership, mashlahat, and distributive justice. These values were further described as follows.

  1. Ownership

According to Islam, in fact, the owner of the whole universe is only Allaah SWT, while human beings are created to rule and manage it. This concept of ownership differs from communism which recognizes joint ownership and the capitalism in which includes mainly private ownership. The concept of ownership in Islam is an integration between private ownership, collective and state ownership.

Also according to Islamic principles there are three principles of ownership. Firstly, ownership is not an absolute control over economic resources, but instead the ability to use it. Secondly, the duration of ownership is limited to the length of human life in the world, which after his death, the property owned should be distributed to the heirs in accordance with sharia. The last principle is, natural resources that related to public interest should be collectively owned or state for mutual benefit (Ali and Daud, 1995).

2. Mashlahat

From economic aspect, in fulfilling human needs a lot of factors are involved, such as a medium of exchange, the market, manufacturers, and consumers. However, not everyone is able to uphold Islamic values in fulfilling these needs, thus causing fraud and violations of the rules of Islam. This is called al-mafsadah, meaning something out of the straight path.

The way Islam deals with economy is not only considering the aspect of fulfilling one’s needs, but also the value of collective mashlahat. Mashlahat is synonymous with benefits and the opposite is mafsadah or damage. So mashlahat can also be interpreted as good human deeds which bring benefits to himself or others in the vicinity. In this case the Islamic law enforced through by the general principle of jalbul-mashlahah (taking mashlahat) and dar’ul-mafasid (refuse mafsadah or damage), included in the practice of the economy.

3. Fair Distribution

The concept of fair distribution is an Islamic solution to the problem of global economy, due to its comprehensive scope, which, according to Zarqa (1995) consists of: 1) meeting the needs of all beings, 2) giving positive effects for those involved, 3) benefiting all people (rich and poor), 4) reducing the inequality , 5) using natural resources and fixed assets properly, and 6) giving hope to others through giving.

According to Antonio (2009), Islamic economy has three distribution systems. The first one is the commercial distribution system through economic activities, e.g. trading. The second system is social distribution through alms (shadaqah), infaq, charity (zakat), grants (hibah) and endowments (wakaf), which aim to redistribute income. The third one is inheritance.

Those three distribution system are regulated in Islam, showing that the economy according to Islam contains at least two essential elements: 1) to meet not only personal needs, but also the whole of humanity, and 2)  to meet the needs of both physical (jasmaniyah) and spiritual (ruhaniah) as a form of religious obedience.

Muslimin (2011) concluded his explanation on the three basic values in Islamic economic by elaborating those values (ownership, mashlahat, and fair distribution) as a base of five instrumental values: zakat, the prohibition of usury (riba) and gambling, economic cooperation, social security, and the role of the state.

Meanwhile, according to Shihab (1996), Islamic economics has four main principles, i.e. 1) monotheism (tauhid), 2) balance, 3) free will, and 4) responsibility. Tauhid  takes people to the oneness of Allah SWT, where everything comes from Allaah SWT and in the end, shall return to Allaah SWT. This principle makes economic players no longer oriented to material benefits (dunya) only but also to the benefits in the afterlife (akhirah), by sharing with others as a form of social function of wealth (Surat an Nuur (24) verse 33), and avoiding exploitation.

The principle of balance means that Allaah created everything in balance and harmony (al-Qur`an letter (QS) al-Mulk (67) of verse 3), so human is required to live balanced and in harmony with himself, others (in society), and even the universe. The principle of balance also encourages people to prevent monopoly, capital centralization (Surat al-Hashr (59) verse 7), hoarding a commodity to push up prices, and consumptive attitude (Surat at-Tauba (9) verse 34, Surah al A’raaf (7) verse 31).

The principle of free will is interpreted as a principle that drives a Muslim to believe that Allaah SWT has the absolute power, but He has also granted human the freedom to choose their own paths: good or bad. The ideal man at the side of Allah SWT is a man who with his free will is able to apply the principles monotheism and balance. So then came the fourth principle as a consequence of monotheism, balance, and free will: the responsibility, both individually and collectively. These four principles should be practiced in the economic activities of each Muslim, according to Shihab (1996).

4. Environmental Damage As An Impact Of Economy: Islamic Overview

Economic state reflects the life quality of human being, especially in the last two centuries. However this advancement in economic state costs some damage to the environment. Approximately half of the forests on earth have been lost; biodiversity has severely declined; the groundwater has been drained and contaminated continuously; air pollution is increasing; and disasters/potential for further disasters caused by global climate change continue to emerge. Meanwhile, about one-fifth of the world’s population today still lives in poverty. Improving the living standard of the population demands advancement in economy. If this kind of growth pattern continues, then the destructive pressures on the carrying capacity of the environment and the availability of natural resources will increase. These problems also found in Indonesia.

Environmental damage caused by human activities, including economic activities, is depicted in al Qur`an as the destruction of the balance. Shihab (2003) in interpreting al Qur`an letter ar Rum (30) verse 41 stated that the meaning of fasaad is something out of balance or the opposite of ash-shalaah which means useful and benefits. Therefore that verse describes damage, imbalance, and lack of benefits on land and at sea, which leads to a chaotic environment balance. Fasaad is done by humans and will lead to torture to humans. The more destruction is happening to the environment, the greater the bad effects to humans, because Allaah SWT creates all things correlated one another. Interference with the harmony and the balance definitely has an impact on all parts of nature, including human beings, both the offender and who approved the destruction.

Destruction of the environment as a result of the economic activity was also condemned and forbidden by Islam in the judgment of 29th Nahdlatul ‘Ulama (NU) Congress in Cipasung, Tasikmalaya, on December 4, 1994. The Congress was asked the following question;

Industrialization that now being promoted by the government, turned out to brings quite a serious excesses and the impact is also detrimental to the interests of the people, which is usually only pursue their own advantage, and forget the obligation to deal with the impact of the waste generated by the plant. (A) What is the legal value for acts that pollute the environment? (B) How does the concept of Islam in dealing with environmental pollution excesses?

And their answer was;

(A) Polluting the environment, (air, water, and soil), if the causing dharar (damage), then it is haraam (prohibited) and classified as criminal act (jinayat). (B) The concept of Islam in dealing with environmental pollution excesses were: 1) if there is damage, it must be replaced by the polluters, 2) provide deterrent punishment (the polluter) which the implementation with ma’ruf amar nahi according to its level.

That answer then described with quotes from the 9 books of reference: 1) al-Tafsir al-Kabir/Mafatih al-Ghaib (Muhammad al-Razi), 2) al-Jami ‘li Ahkam al-Qur`an (Muhammad bin Abi Bakr al-Qurthubi), 3) al-Mawahib al-Sharh al-Fawa’id Saniyah al-Bahiyah (Abdullah bin Sulaiman), 4) Tabyin al-Haqa’iq Syarh Kanz al-Daqa’iq (Uthman bin Ali al- Zaila’i), 5) al-Kharraj (Abu Yusuf), 6) al-Ahkam al-Sulthaniyah (Abu Ya’la al Farra ‘), 7) Majma’ al-Dhamanat (Ghanim bin Muhammad al-Baghawi), 8) Mirqah Su’ud al-Tashdiq Syarh Taufiq al-Sulam (Muhammad Nawawi bin Umar al Banteni), 9) Ihya` ‘Ulum al-Deen (Abu Hamid al-Ghazaki), and two other references that are not quoted (Hasyiyah al -Jamal, Section V, page 196 and Tafsir Ibn Kathir, Section II, page 222).

Tafsir of the Qur’an letter ar Rum (30) verse 41 and the 29th NU Congress’ legal decision about the destruction of the environment reflect the consistency of Islamic views on the economy, that the purpose of the economy as hifdzu al-maal (to protect wealth) in order to achieved mashlahah of the people have not allowed to cause damage to the environment, because it would threaten the other Maqashid Sharia, as hifdzu-n-nafs (to protect life) and hifdzu-n-nasli (to protect descendant).

5. Demand of A New Way in Economy

Fundamental correction is needed to find a new way of development. A new way should be taken to repair the ecological damage, sustaining capacity of the environment and bring a decent life for mankind.

Dalgaard and Strulik (2011) explained in their study that Herbert Spencer in 1862 has shown that economic growth is driven and constrained by energy. According to Spencer evolution of a society depends on its ability to harness energy continues to increase for production purposes. In 1907, Nobel laureate Wilhelm Ostwald developed the idea further. According to Ostwald, economic and cultural development of a society is not determined by its energy consumption, but rather on the level of efficiency of utilization of energy sources for a variety of purposes.

Indonesia’s role in the economy’s energy sector is often associated with the mineral resources sector. According to the Ministry of Energy and Mineral Resources (ESDM, 2008), these two sectors serves as 1) a source of domestic energy, 2) a source of state revenue, 3) supporting regional development, 4) an important factor in the trade balance, 5) source investment target, 6) burden from subsidy, 7) important factor in Jakarta Composite Index, 8) industrial raw materials, and 9) triggers a chain of positive effects. Longer explanation of these nine aspects can be read, for example, in Budiarto (2011).

Renewable energy technologies play a vital role in green economy. These technologies provide great potential to reduce emissions of greenhouse gases as well as to prevent other various environmental damages, create new jobs and improve the quality of economic growth (e.g. by contributing to the fight against poverty).

This study was driven by the need for the dissemination of the importance of the economic system and the fundamental correction potential strategic role of renewable energies in such a noble mission. The description in this article is based on a thorough analysis of various relevant literatures (literature review).

6. Renewable Energy in Indonesia

Renewable energy comes from four major groups of sources, i.e. nuclear power, solar, geothermal, and gravity and movement of planets. Renewable energy is usually defined as energy that is produced from sustainable source naturally (e.g. solar, wind, geothermal and water) or through a intentional activity (e.g. biomass). Natural cycles renew this energy source in a short span of period (in months or years, not centuries). Utilization can be directly (e.g. solar cookers), electricity directly (through solar cells), or the generation of electricity through the mechanism of advance (e.g. with geothermal, wind or water).

OECD/IEA (2007) divided renewable energy technologies in three groups: first generation, second generation and third generation. In this categorization, hydroelectricity, biomass combustion, and geothermal utilization, in terms of heat and for the generation of electricity, considered as the first generation. Second generation includes heating and cooling technologies with solar, wind turbines, modern forms of bioenergy utilization (e.g. integration of biomass gasification and gas turbines), and solar cells. Third generation includes concentrating solar power technologies, marine energy, a system of hot dry rock geothermal and integrated bioenergy systems. This classification is based on the maturity of the technology in the energy market and the status of research and development. Table 1 below describes the potential and actual utilization of renewable energy in Indonesia.

Presidential Decree No. 5 of 2006 (Perpres No. 5 Tahun 2006) mandated that by 2025 the total portion of the utilization of new renewable energy technologies in the energy mix Indonesia shall reach around 17%, i.e. 476 million barrels of oil equivalent (BOE). This figure consists of 2% target obtained from the Nuclear Power Plant (NPP), 5% biofuel, geothermal 5% and 5% a combination of wind, solar, biomass and hydropower. Using the business-as-usual scheme, the portion of renewable energy in 2025 was only 3% (2% water and geothermal 1%), which is about 155 million BOE.

In the newer regulations, Government Regulation No. 79 Year 2014 (Peraturan Pemerintah/PP No. 79 Tahun 2014) on National Energy Policy mandates that by 2025 Indonesia’s primary energy will reach around 400 MTOE (million tons of oil equivalent), or 2.8 billion BOE and by 2050 around 1,000 MTOE (7 billion BOE), in which renewable energy would supply at least 23% (92 MTOE or 657 million BOE) in 2025 and 31% (310 MTOE or 2 billion BOE) in 2050. However, PP 79/2014 is difficult to be used as a basis for calculation in this paper due to the absence of details on the types and amount of renewable energy supply.

7. The influence of Renewable Energy on Green Economy

Economic principles are applied to solve the challenges of distributing rare resources to various users who compete with each other. Various issues on sustainable development, including the urgency of the need for sustainable energy systems, provide a big opportunity to make corrections to the economic system. The correction is a fundamental review of the objectives of economic growth, which usually gets higher priority than less important targets such as environmental preservation and social justice.

Green economy highlights the mainstream economic system errors in today’s modern life (Kennet, 2008). The green economy is a new paradigm that is capable to protect the ecosystem to follow a new way of economic growth that is able to reduce poverty (DESA, 2011). This new paradigm recognizes that the poors suffer more from environmental damage. That is why green economy is managing poverty, climate change and biodiversity simultaneously (Kennet, 2008).

Green economy is widely known as an economic system that meets environmentally-friendly principles and able to promote social justice. In carrying out investment activities, production, purchase, distribution and consumption, the system is not only environmentally friendly, but also provides products and services that can improve the quality of the carrying capacity of the environment (UNEP, 2010). In any transaction activity, but aims to achieve a variety of economic reasons, green economic system also includes a variety of ecological considerations. The system also accommodates externalities commonly overlooked by conventional economic systems (Saumya, 2007).

Green economy emphasizes three basic principles: 1) economic growth, 2) eco-efficiency, and 3) quality of economic growth (Regionomica, 2012). The growth remains a concern in the implementation and development of the green economy. It is still portrayed as a tool of achievement of various objectives, such as the eradication of poverty and the creation of welfare in general.

However, there need a great effort in correcting economic activity in order to achieve this growth. Currently, economic growth is focused on quantity measurement on the market. Economic practices implemented by many countries – especially in the developed countries – have been proved to cause systemic damage to the environment with serious impact. It is then usually overcome by improving the environment by utilizing a portion of the economic development. In a nutshell; grow first, then correct the damage.

In a green economy, the high quality of the growth can be achieved by implementing eco-efficiency strategy. The limitation of the environmental capability to sustain economic activity becomes an important consideration. Green economy also stresses the importance of a paradigm shift from quantitative GDP into qualitative measure of GDP. Emphasis is placed on the meaning of quality of growth that seeks to realize the sustainable carrying capacity of the environment to achieve the quality of life. Here lies the quality of the ecological, economic and social quality.

This means that not only allows the occurrence of environmental damage and repaired later, so it becomes a deduction from GDP performance. Since the beginning, various economic activities need to be designed to minimize damage.

7.1. Economic Growth Aspect

World population growth, income per capita, the utilization of energy and natural resources, as well as wastes and pollutants (including greenhouse gases) are all increased since the first industrial revolution. One proposed solution is to limit production growth, which was motivated by the effort to limit wastes and pollutants buildups. Nevertheless, it is generally seen as not in accordance with the reality particularly in developing countries, where  welfare improvement still becomes the top priority.

This is where technology as one of the keys to successful green economy finds its relevance. With technology, the development and fulfillment of economic goals remain possible while reducing the consumption of energy resources and other resources are non-renewable, reduce pollution, and mitigate the impact of the biodiversity reduction (see, for example, DESA, 2011).

Economic growth is calculated from the change in the amount of the Gross Domestic Product (GDP) per year. Basri et al. (2008) explained that this growth is the result of the accumulation of utilization of physical resources (technology, factories, and infrastructure) and human resources (knowledge, skills). Asset is used to increase productivity to produce goods and services with the value increasing as well. Application of various methods and more efficient production technologies as well as the knowledge and skills to produce better products became the mainstay in achieving increased productivity. Meanwhile, economic growth in Indonesia is connected directly or indirectly to environmental issues and natural resource management.

Here, a variety of renewable energy technologies have proven their reliability to supply energy needs for a variety of economic activities, both in large and small scales. These technologies are able to provide the energy needed for various production activities by simultaneously using renewable sources and minimize the negative impact on the environment. On the other hand according to Basri et al. (2008) low electrification ratio, particularly in rural areas and access to energy for Micro, Small and Medium Enterprises (SMEs) shall be the keys of economic growth in Indonesia. A comprehensive program to build and operate an off-grid power plant based on renewable energy in a sustainable way in rural area that far from grid, could be driving further growth of SMEs in bulk. Appropriate technology can be applied also to convert various bio wastes in various rural areas to energy (e.g. biogas).

Furthermore, the development of renewable energy industry has been proved to be capable of creating new jobs. The level of global investment in renewable energy is predicted to reach 250 million euros in 2020 and continued to increase to 460 million euro in 2030 (Carvalho et al., 2011). Along with the growth of investment and increased production capacity, new jobs in the renewable energy sector projected to increase in the coming years. Employment in this sector is included in a group of green jobs.

Song (2009) briefly defines green jobs as activities that are beneficial to environmental conservation. Renner et al. (2008) defines green jobs as work in agriculture, manufacturing, construction, installation, maintenance, R & D, administration, and various other services that substantially contribute to the improvement and conservation of environmental support. This group includes, certainly, the variety of jobs related to the protection and improvement of ecosystems and biodiversity, energy conservation, water conservation, economy decarbonizing, and related occupations to waste reduction and pollution. With the focus on energy, UNEP (2007) defines green jobs as a variety of jobs that contribute to energy conservation and use of renewable energy sources in order to accelerate the transition to low carbon-emission economic system (low carbon economy).

In every sector, including green jobs in renewable energy, according to the degree of involvement of the sector, there were three categories of employment, i.e. direct, indirect and induced. Direct employment includes design work, manufacturing, shipping, construction/installation, project management, operations and maintenance of various renewable energy technologies. Indirect employment includes work within the scope of the downstream and upstream supply of renewable energy technologies (‘‘supplier effect’‘). For example, the installation of wind turbines is included in direct jobs, while the manufacturing of steel or other components to make wind turbines are included in indirect employment. Induced employment is entrained categories that represent a variety of jobs related to economic activity and spending parties included in employment directly and indirectly. These include, teachers, employees of freight forwarding agents, clerks around the site, etc. (Wei et al., 2010). Employment in the field of renewable energy can be classified into groups of free-fuel based technology and fuel based technology. The two groups have different patterns related to the value chain which is also different (IRENA, 2011).

In comparison with fossil-based energy generation, renewable energy technology applications create more jobs for each installed power or per unit of investment funds (Renner et al., 2008). Each euro invested (and each produced kWh) of renewable energy sources capable to creating jobs 3 to 5 times more than fossil energy sources (Carvalho et al., 2011). It is similar also shown by Carley et al. (2011), who conducted an analysis of 16 studies on the benefits of renewable energy development in the form of new job creation in various countries in Europe and various states in the US.

Currently the renewable energy industry (manufacturing, operation and maintenance) provides about two millions jobs around the world (Carvalho et al., 2011). Similarly, according to Renner et al. (2008), worldwide approximately 300,000 people work in the field of wind turbines, 170,000 in solar cell (PV), solar thermal 600,000, and about 1.2 million in the field of biomass energy (mostly in biofuel). For all types of renewable energy around the world there recorded approximately 2.3 million people, which is a conservative figure.

Meanwhile, CO2 mitigation policies implemented by the government of People’s Republic of China in power generation in the period from 2006 to 2009 resulted in a loss of 44 thousand jobs. However as the role of renewable energy increases, primarily in 2010, during the year 2006 until 2010 a total of 472 thousand jobs related directly or indirectly to the power generation business were created (Cai et al., 2011).

Chua and Oh (2011) cited a recent report in Asia Business Council (ABC) entitled “Addressing Asia’s New Green Jobs Challenge”. The report, measuring the green jobs index from green job vacancies standpoint, green market potential, the availability of green job labor and green policies in 13 countries in Asia showed that People’s Republic of China has the best conditions in terms of green job creation in general.

Various articles, such as by Wei et al. (2010), CEC (2009), Kammen et al. (2006), Heavner and Churchill (2002) and Peterson and Poore (2001), analyzed various studies to predict the number of jobs that can be provided by increasing application of various renewable energy technologies. Table 2 displays estimated number of jobs created by the development of renewable energy.

It also means that the development of renewable energy in Indonesia has the potential to generate additional benefits in the form of new jobs as well. Predictions about this case are shown in Table 3.

As a side note, the new direct employment figures are  predictive figures that include the stages of manufacturing, installation, operation and maintenance. These figures also indicate the benefits that can be achieved only if the renewable energy industry can grow rapidly in Indonesia so the domestic content in the form of goods and related services can be optimally supplied. Furthermore, the benefits could even be greater because there is still the possibility of creation of new jobs in the category of indirect and shipped; and not limited to direct new jobs.

7.2. Eco-Efficiency Aspect

Many elements make up the final cost of primary energy. These elements are exploration costs, exploitation cost, operating costs (wages, maintenance costs, taxes, insurance, dividends, investments, costs of social relations, etc.), transportation and distribution of energy cost, the political costs and external fees (Pykh and Pykh, 2002). External costs (also known as externalities) emerges if an activity carried out by the first impact on both sides while the impact is not fully calculated or paid compensation by the first party. The impact can be positive or negative.

Negative externalities will be the challenge in the economy. Studies show that power generation based on fossil fuels in Thailand significantly gains negative impact of the level of premature mortality and morbidity. In the period 2006 – 2008, cost of the negative impact on public health has reached an average of US $ 600 million per year; 0.3% of Thailand’s GDP at that time. That amount is equivalent to between US$ 0.05 to 4.17 cents per kWh, depending on the type of fuel. The greatest negative impact is caused by power plants that are not equipped with emission control (Sakulniyomporn et al., 2011).

Comprehensive study of the European Commission (2003) formulated the external costs of various types of resources as a result of internalization (see table 4). Internalization of external factors will provide funding to address the negative impacts of fossil fuel. However if internalization is conducted, the price of energy would increase.

Lenzen (2009), for example, showed that in general for each kWh, provided energy from renewable energy technologies, the CO2 emissions resulted is much smaller than fossil fuel-based technologies (see Table 5). Data from the European Commission (2003) above which exposes externalities also gave similar facts. Therefore, renewable energy technology is believed to play a major role in the long-term vision of economic activity to cut down carbon emissions (economy decarbonizing). Aswathanarayana et al. (2010), for example, described the potential of renewable energy in moving towards zero carbon emissions in electricity generation, transportation, industry, and industry.

Eco-efficiency aspects manifested as 1) internalizing various ecological costs, 2) maximizing the efficiency of utilization from various resources, and 3) minimize the impact of pollution (Regionomica, 2012). Because it is based on renewable energy sources, in total application of renewable energy technologies will be able to improve the efficiency of utilization of various resources. Moreover, renewable energy reduces pollution along with its impact. As a consequence of the inherent nature of environmentally friendly with all the positive effects that belongs to various renewable energy technologies, internalization of externalities (e.g. the costs of ecological damage compensation) would be relatively easy to be implemented into economic calculations.

Ministry of Finance (2009) explained that Indonesia’s energy demand continue to grow by about 7% per year. In line with that in the past decade Indonesia’s Greenhouse Gas (GHG emissions per unit of energy consumption) in the energy sector continues increase. This is because electricity generation relies on various sources of fossil energy, especially coal.

Within the period of 1990 to 2006, emission level in Indonesia has increased 309% from electricity sector, 192% from industry and 127% from transportation. Meanwhile the electrification ratio is targeted to be 93% in 2020 from currently around 66%. Consequently, without a proper control, the emission level from electricity sector in Indonesia would be the highest among other sectors in one or two decades from now (Ministry of Finance, 2009). This trend has been indicated by the increase of electricity consumption of 137% from 79.165 GWh in 2000 to 187.541 GWh in 2013. A significant increase from the year 2000 to 2013 can also be observed from fuel consumption for PLN’s power plants: 1) coal from 13.1 million ton to 39.6 million ton, 2) oil (HSD, IDO, FO) from 5.02 million kL to 7.47 million kL, and 3) natural gas from 228 thousand MMSCF to 409 thousand MMSCF (ESDM, 2014).

Similar results was shown by Resosudarmo et al. (2009), who combined predictive emissions from deforestation (based on data from the World Resource Institute) and emissions from the use of fossil energy resources (data from the International Energy Agency).

Presidential Decree (Decree) No. 61 Year 2011 on the National Action Plan for Greenhouse Gas Emission Reduction (RAN-GRK) affirmed the commitment of the Indonesian government to reduce greenhouse gas emissions by 26% by his own efforts or reaching 41% with international assistance in 2020. The potential contribution of the utilization of renewable energy technologies the achievement of these targets is shown in Table 6.

The deforestation rate in Indonesia is 500 thousand to 1.5 million hectares per year. The high rate has resulted in loss of about 30 million from about 127 million hectares of forests in Indonesia within the last 30 years. The main purposes of opening/conversion of primary forests are primarily for agricultural activities, development of residential areas, and mining. Mining of coal and other minerals are often carried out by open-pit mining that heavily damaged the forest. Ecosystem disruption would be then caused by extensive logging which forces animals to migrate and massive soil convertion. Reclamation is often only done in a smaller area than the affected area. Trees planted are often not of the native species. Ex-mining areas are left without refertilization, causing only few species can regrow (Resosudarmo et al., 2012). Open pit mines of coal could potentially lead to, among others, dust pollution, noise pollution, water pollution, interference with the formation of groundwater and degradation of biodiversity. As a result of damage to ecosystems, major disruption could also occur in plants, animals and even humans. The damages caused by it can reach levels that can no longer be recovered (Mamurekli, 2010).

In Indonesia and other developing countries, the closure of mining activities could raise more complex and serious problems compared with in developed countries. The closure of the mine in Indonesia would mean the loss of a source of economic activity. This could results in significant disruption to the economic and social aspects of the area concerned. Government revenues will also decrease (Cronin and Pandya, 2009).

Coal production in Indonesia is projected to continue to increase from 240 million ton in 2010 to 370 million ton in 2025. In 2025 the consumption of coal for domestic needs far greater than those exported (Widajatno and Arif, 2011). While the majority of Indonesian coal production resulting from an open pit mine, located in remote areas and often took place in the virgin forest areas. This is certainly the potential to cause a variety of problems such as those described above. From this perspective, increase in the utilization of renewable energy would successfully reducing the portion of the role of coal in the energy mix. It has the potential to contribute in reducing the rate of environmental damage caused by mining coal, mainly carried openly.

7.3. Quality of Economic Growth Aspect

Broadly speaking, within the framework of sustainable development, renewable energy has the potential to provide broad benefits in terms of economic, social and environmental (Van Dijk et al., 2003). Benefit to the economy includes job creation, development of competence in the country, increase of foreign markets, improved security and reliability of supply, reduction of fuel costs, optimize the cost of opening a remote area, development of tourism potential, as well as improving the distribution of welfare at the local level. On the social side benefit includes improving health and overall quality of life, reduction of urbanization, increase in the local community pride, and increased participation of local communities. Meanwhile benefit for the environment may include the reduction of greenhouse gas emissions, creation of new habitats, protection of the environment, reduction of potential flooding, waste volume reduction, and reduction in the use of conservation land.

Meanwhile, from the point of view of national security, the utilization of renewable energy sources will provide a variety of benefits: enhancing conservation of energy supply in the long term, reducing the rate of dependence on overseas energy supply, the increased stability of the socio-economic and political, as well as increased stability of the socio-political economy would be achieved with increased susceptibility to fluctuations in supply and fuel prices (see, for example, Budiarto, 2011).

Various targets of poverty reduction, environmental conservation and guarantee in energy supply can be simultaneously achieved. Investment in order to increase the application of various renewable energy technologies (along with other environmentally friendly energy technology) is able to create new jobs, meet energy needs for a variety of social and economic activity and simultaneously reduce carbon emissions (see eg Aswathanarayana et al., 2010). Investing in a variety of environmental programs can be enabled as well as a base income for local communities and the development of Micro, Small and Medium Enterprises (MSMEs). This makes the program in the environmental sector (including renewable energy) can be simultaneously played to create jobs for low-income people (Song, 2009).

The data indicates that to utilize low-quality energy sources, low-income people have to pay a high price in terms of money, time and energy. Families in rural areas in developing countries averages must pay about US $ 10 per month to get the low quality and unreliable energy services (USAID, 2007). Farming is still the main occupation of most low-income people in Indonesia, again mainly in rural areas, which signifies the application of renewable energy. Utilization of farming and agricultural waste as bioenergy materials can provide additional benefits to farmers. It can revolutionize waste management that was once an additional burden for farmers (Kothari et al., 2010). Data from August 2015 showed that Indonesian livestock population has reached 17.8 million (cattles, dairy cows, buffalos and horses), 43.4 million small livestock (goats, sheep and pigs), and 1.9 million poultries (chickens and ducks) (Ministry of Agriculture, 2015). These figures show an example on the potential of renewable energy development (for electricity or fuel through bio digester technology with other results in the form of solid or liquid organic fertilizer) which can be integrated in farms.

Various positive potential of renewable energy technologies enable economic growth to be achieved simultaneously by expanding the acquisition of tangible and intangible benefits to the community. Life quality variables would be likely to be better calculated, and the quality of economic growth would be enhanced.

8. Conclusion

Currently Indonesia still relies on unsustainable energy systems. The impacts become a great burden for the national development. A fundamental change to implement green economy in Indonesia should be heavily encouraged.

 The application of renewable energy is one of the key aspects in implementing green economy. Renewable energy technologies offer some huge tangible and intangible benefits which would not be gained by using fossil energy resources to meet the basic principle of green economy. These benefits include such as creating new green job markets, reducing CO2 emission, reducing the rate of coal production and enhancing the life quality of people in low income. It can be concluded that the utilization of renewable energy resources can enhance economic growth and eco-efficiency.

The utilization of renewable energy resources also fits to the maqashid sharia in Islamic economic practices. Not only it is a form of hifdzu-l-maal (wealth protection) but also it prevents environmental damage as a realization of hifdzu-n-nafsi (life protection) and hifdz-n-nasli (descendant protection) for the sake of sustainable human life.

References

Ali, M.D. and Daud, H, 1995, Lembaga-lembaga Islam di Indonesia. Jakarta: Raja Grafindo
Persada

Antonio, M.S. in Amalia, E., 2009, Keadilan Distributif dalam Ekonomi Islam, Rajawali Pers, Jakarta, pp.119

Aswathanarayana, U., Harikrishnan, T., and Sahini, K.M.T. (eds.), 2010, Green Energy Technology, Economics and Policy, Taylor & Francis Group, London

Basri, M.C.,  Butterfield, W.,  Mellor, J., Mutchler, M., Silcox, S.C., and Thompson, J.K., 2008, USAID/Indonesia Economic Growth Sector Assessment, USAID, Washington

Bappenas, 2011, Guideline for Implementing Green House Gas Emission Reduction Action Plan, Jakarta

Budiarto, R., 2011, Kebijakan Energi – Menuju Sistem Energi yang Berkelanjutan, Samudera Biru, Yogyakarta

CEC, 2009, Australian Renewable Energy Training and Workforce Strategy for 2020: Renewable Energy Jobs in 2009 and Forecasts to 2020, CEC, Southbank

Cai, W., Wang, C., Chen, J., dan Wang, S., 2011, Green economy and green jobs: Myth or reality? The case of China’s power generation sector, Jour. Of Energy, No. 36 (2011), hlm. 5994-6003

Carley, S., Lawrence, S., Brown, A., Nourafshan, A., and Benami, E., 2011, Energy-based economic development, Jour. Of Renewable and Sustainable Energy Reviews, No. 15 (2011), hlm. 282–295

Carvalho, M.G., Bonifacio, M. and Dechamps, P., 2011, Building a low carbon society, Jour. Of Energy, No. 36 (2011), pp. 1842-1847

Chua, S.C. and Oh, T.H., 2011, Green progress and prospect in Malaysia, Jour. Of Renewable and Sustainable Energy Reviews, No. 15 (2011), hlm. 2850– 2861

Cronin, R. and Pandya, A. (eds.), 2009, Exploiting Natural Resources – Growth, Instability, and Conflict in the Middle East and Asia, Stimson Center, Washington D.C.

DESA, 2011, World Economic and Social Survey 2011 – The Great Green Technological Transformation, UN Publications, UN, New York

Dalgaard, C.J and Strulik, H., 2011, Energy distribution and economic growth, Jour. Of Resource and Energy Economics, No. 33 (2011), hlm. 782–797

Depkeu, 2009, Ministry of Finance Green Paper: Economic and Fiscal Policy Strategies for Climate Change Mitigation in Indonesia, Ministry of Finance and Australia Indonesia Partnership, Jakarta

ESDM, 2008, Kinerja Sektor ESDM Tahun 2008, ESDM, Jakarta

European Commission, 2003, External Costs: Research results on socio-environmental damages due to electricity and transport, European Communities electricity and transport, European Communities (2003)

Heavner, B. and Churchill, S., 2002, Renewables Work: Job Growth from Renewable Energy Development in California, CALPIRG Charitable Trust, Sacramento

IRENA, 2011, Renewable Energy Jobs: Status, Prospects & Policies, IRENA Working Paper, Abu Dhabi

Kammen, D.M., Kapadia, K. and Fripp, M., 2006, Putting Renewables to Work: How Many Jobs Can the Clean Energy Industry Generate?, RAEL Report, University of California, Berkeley

Kementerian Pertanian, 2011, Rencana Strategis Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Tahun 2010-2014

Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, 2015, Livestock and Animal Health Statistics 2015

Kennet, M., 2008, Green Economics – An Introduction to Progressive Economics, Harvard College Economics Review, vol. II issue 1

Khallaf, A.W., 2003, Ilmu Ushul Fikih – Kaidah Hukum Islam, Pustaka Amani, Jakarta

Kothari, R., Tyagi, V. dan Pathak, A., 2010, Waste-to-energy: A way from renewable energy, sources to sustainable development, Renewable and Sustainable Energy Reviews, vol. 14, hlm. 3164 – 3170

Kuncoro, A.H., 2011, Renewable Energy for Power Generation in Indonesia, Presentasi ESDM, The 12th Indonesia-Japan Energy Round Table, Tokyo

Lenzen, M., 2009, Current state of development of electricity-generating technologies, The University of Sydney

Mamurekli, D., 2010, Environmental impacts of coal mining and coal utilization in the UK, Acta Montanistica Slovaca, 15(2010), mimoriadne číslo 2, hlm. 134 – 144

Muhajir, A., 2015, Pengantar dalam Baso, Ahmad, 2015, Islam Nusantara: Ijtihad Jenius & Ijma’ Ulama Indonesia (Jilid 1), Pustaka Afid, Jakarta

Muslimin, J. M., Filsafat Ekonomi Syariah, downloaded from http://www.pkh.komisiyudisial.go.id/id/files/Publikasi/Karya_Ilmiah/Karya%20Tulis-JM%20Muslimin%2001.pdf, February 3, 2016

OECD/IEA, 2007, Renewables in Global Energy Supply, Paris Cedex

Peterson, T dan Poore, R., 2001, California Renewable Technology Market and Benefits Assessment, EPRI, Palo Alto

Pykh, I.G.M. and Pykh, Y.A., 2002, Sustainable Energy: Resources, Technology and Planning, WIT Press, Southampton

Regionomica, 2012, Green Economy, Presentasi, Workshop Regional Economic Development, GIZ-Bappenas, Jakarta

Renner, M., Sweeney, S., and Kubit, J., 2008, Green Jobs: Towards decent work in a sustainable, low-carbon world, UNEP/ILO/IOE/ITUC

Resosudarmo, B.P., Nawir, A.A., Resosudarmo, I.A.P and Subiman, N.L., 2012, Forest Land Use Dynamics in Indonesia, Working paper, no. 2012/01, ANU College of Asia and the Pacific

Resosudarmo, B.P., Nurdianto, D.A. and Yusuf, A.A., 2009, Greenhouse Gas Emission in Indonesia: The Significance of Fossil Fuel Combustion, in Robiani, B., Resosudarmo, B.P., Alisjahbana, A.A. and Rosa, A. (eds.), Regional Development, Energy and the Environment in Indonesia, Palembang: Indonesian Regional Science Association, pp. 146-159.

Rota, A., Sehgal, K., Nwankwo, O., Gellee, R., Raswant, V. and Sperandini, S., 2012, Livestock and renewable energy, IFAD, Roma

Sahroni, O. and Karim, A.A., 2015, Maqashid Bisnis dan Keuangan Islam – Sintesis Fikih dan Ekonomi, Rajagrafindo Persada, Jakarta

Sakulniyomporn, S., Kubaha, K., and Chullabodhi, C., 2011, External costs of fossil electricity generation: Health-based assessment in Thailand, Jour. Of Renewable and Sustainable Energy Reviews, No. 15 (2011), hlm. 3470– 3479

Saumya, 2007, Green economics, Presentation, Udai SJC

Shihab, Q., 2003, Tafsir Al-Mishbah – Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur`an Volume 11, Lentera Hati, Jakarta

Shihab, Q., 2007, Wawasan Al-Qur`an: Tafsir Tematik Atas Pelbagai Persoalan Umat, Mizan, Jakarta

Song, M.R.L.K., 2009, Green Jobs For The Poor: A Public Employment Approach, Poverty Reduction Discussion Paper, UNDP, New York

Tim Lajnah Ta’lif wan Nasyr (LTN) PBNU, 2011, Ahkamul Fuqaha – Solusi Problematika Aktual Hukum Islam – Keputusan Muktamar, Munas, dan Konbes Nahdlatul Ulama (1926 – 2010 M), Khalista, Surabaya

UNEP, 2008, Reforming Energy Subsidies: Opportunities to Contribute to the Climate Change Agenda, UNEP DTIE, Geneva

USAID, 2007, Using microfinance to expand access to energy services, Citi Foundation, Washington, D.C.

Van Dijk, A.L., Beurskens, L.W.M., Boots, M.G., Kaal, M.B.T., De Lange, T.J., Van Sambeek, E.J.W., and Uyterlinde, M.A., 2003, Renewable Energy Policies and Market Developments, Report of REMAC 2000 Project

Wei, M, Patadia, S., and Kammen, D.M., 2010, Putting renewables and energy efficiency to work: How many jobs can the clean energy industry generate in the US?, Jour. of Energy Policy, vol. 38 (2010), hlm. 919 – 931

Widajatno, D. and Arif, I., 2011, The Indonesian Mineral Mining Sector: Prospects and Challenges, Presentation, German – Indonesia Mining Technology Symposium 2011, Jakarta

Zarqa, Muhammad Anas. Islamic Distributive Scheme, dalam Munawar, 1995, Distributive Justice and Need Fulfilment in an Islamic Economy. Leicester UK: IIIE, IIU Islamabad and the Islamic Foundation

Islam yang Menjadi Rahmat bagi Semesta Alam

Disampaikan sebagai Khatbah Idul Fitri di Dusun Pragak-Bendorejo, Semanu, Gunungkidul.

* Muqaddimah *

al-Baqarah 185

al Baqarah 185

 

Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangan-(nya) dan hendaklah kamu mengagungkan Allaah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepada kamu, supaya kamu bersyukur.

Rasuulullaah SAW bersabda

sabda Rasul SAW - merahmati yg di bumi

 

Rahmatilah siapa yang hidup di bumi, niscaya yang hidup di langit akan merahmati kamu.

Bapak, Ibu, Saudara-Saudari sekalian, Jamaah Shalat ‘Idul Fitri yang dirahmati Allaah SWT.

Pertama dan paling utama, marilah kita kembali teguhkan rasa syukur kita kehadirat Allaah SWT, dengan rasa syukur yang sesungguh-sungguhnya. Allaah masih berkenan menerangi hati kita dengan cahaya iman dan Islam, sehingga terdoronglah kita untuk hadir di majelis yang penuh keberkahan ini.

Bahkan, Allaah SWT masih pula mencintai negeri kita Indonesia, dengan mengondisikan negeri kita ini, setelah pemilihan umum DPR dan Presiden, alhamdulilllaah, masih dengan Indonesia yang aman dan tenteram, tak ada kerusuhan, tak ada perselisihan, tak ada konflik sosial, apalagi pembunuhan berlatar belakang politik.

Berbeda dengan negeri berpenduduk muslim lainnya di luar Indonesia, yang kalau tidak ada pemilihan saja saling berbunuhan sesama muslim, apalagi jika ada pemilihan, pertumpahan darah sesama muslim selalu saja terjadi. Alhamdulillaah, segala puji hanya pantas disandang oleh Allaah SWT, di Indonesia kita semoga hal tersebut tak pernah terjadi, semoga Allaah SWT berkenan menjaga kondisi negeri kita, Indonesia tercinta, selalu damai, aman, dan tenteram, Aamiin, Allaahumma Aamiin.

Shalawat serta salam dari Allaah SWT beserta dari seluruh makhluk ciptaan Allaah SWT semoga senantiasa tersampaikan kepada junjungan kita, manusia terbaik sepanjang masa, pemimpin umat manusia, sekaligus pemimpin dan penutup nasab para Nabi dan Rasul, seorang yang paling baik budi pekertinya, seorang yang paling bagus kata dan perbuatannya, sebaik-baik contoh dan teladan bagi manusia, beliaulah Rasuulullaah Sayyidinnaa Muhammad SAAW.

Tercurah pula semoga kepada keluarga, sahabat, dan pengikut beliau, insya-Allaah termasuk kita yang hadir dalam majelis penuh kemuliaan ini. Aamiin, ya Rabbal-‘Aalamiin.

Hadirin sekalian yang insya-Allaah penuh dengan curahan rahmat Allaah.

Satu bulan lamanya kita berada di dalam bulan kemuliaan, bulan Ramadlan, alhamdulillaah pagi hari ini kita memasuki bulan baru, bulan Syawwal, dalam sebuah hari raya utama umat Muslim, ‘Idul Fitri, hari di mana kita kembali ke fitrah, kembali kepada kesucian diri.

Kumandang takbir, tahlil dan tahmid itu sesungguhnya adalah wujud kemenangan dan rasa syukur kaum muslimin kepada Allah SWT atas keberhasilannya meraih fitrah (kesucian diri) melalui mujahadah (perjuangan lahir dan batin) dan pelaksanaan amal ibadah selama bulan suci Ramadhan yang baru berlalu. Allah SWT menegaskan di dala al Qur’an surah al Baqarah 185,

Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangan-(nya) dan hendaklah kamu mengagungkan Allaah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepada kamu, supaya kamu bersyukur.

Dalam suasana hari raya ini, marilah kita menghayati kembali makna kefitrahan kita, baik sebagai hamba Allah maupun sebagai khalifatullah fil ardli. Di sinilah sesungguhnya letak keagungan dan kebesaran hari raya Idul fitri, Hari di mana para hamba Allah merayakan keberhasilannya mengembalikan kesucian diri dari segala dosa dan khilaf melalui pelaksanaan amal shaleh dan ibadah puasa Ramadhan, sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW,

hadits puasa

“Siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan atas dasar keimanan dan dilaksanakan dengan benar, maka ia diampuni dosa-dosanya yang telah lewat”. (HR. Imam Muslim).

Jamaah Shalat ‘Idul Fitri yang insya-Allaah dikasihi Allaah SWT.

Ampunan Allaah dan rahmat Allaah yang mengapus dosa masa lalu kita di bulan Syawwal sesungguhnya adalah isyarat penting bagi umat manusia agar meneladani-Nya, meneladani Allaah Ta’aala, yakni memberi maaf, atau mengampuni dosa dan kesalahan orang lain, serta mengasihi segenap makhluk di seluruh muka bumi ini.

Ketika Sayyidatina ‘Aisyah RA ditimpa peristiwa al-Ifik, di mana beliau difitnah telah berselingkuh, turun rangkaian ayat di Surat an-Nuur ayat 10-18, pembelaan dari Allaah Ta’aala kepada Sayyidatina ‘Aisyah RA, menghapus segala tuduhan keji dan palsu kepada beliau RA.

Ketika peristiwa tersebut terjadi, salah seorang yang terlibat dalam menyebar berita palsu tersebut adalah Mistah, seorang yang hidupnya dibiayai oleh Sayyidinaa Abu Bakar RA. Begitu mendengar kabar ini, Sayyidinaa Abu Bakar RA, yang juga ayah dari Sayyidatinaa ‘Aisyah RA, istri Nabi SAW, marah, duka, lajeng ngucap sumpah untuk tidak memaafkan dan tidak akan membantu lagi Mistah. Tapi kemudian turun ayat ke-22 dari surah an-Nuur,

an Nuur 22

Hendaklah mereka memberi maaf dan melapangkan dada. Tidaklah kamu ingin diampuni oleh Allaah?

Dan sebagaimana dalam ayat yang lain, al Baqarah 187, at Taubah 43, asy Syuuraa 40, ‘Ali Imran 152 dan 155, dan juga al Maidah 95 dan 101, yang semuanya berbicara tentang Allaah yang memberi maaf dan tidak ada anjuran sama sekali untuk meminta maaf.

Mengapa Allaah lebih anjurkan untuk memberi maaf daripada meminta maaf? Jelas adanya bahwa Allaah ingin mengisyaratkan bahwa meminta maaf itu mudah, tanpa diisyaratkan pun, manusia akan lebih enteng njaluk ngapura. Tapi menehi apuran, memberi maaf, memaafkan, pasti terasa lebih berat, karena harus merelakan sesuatu yang menyakiti hati. Allaah tekankan anjuran ini, agar kita selalu memperhatikannya, selalu melakukannya.

Maka Allaah isyaratkan, berilah maaf, karena Allaah pun memaafkan sebelum hamba-Nya meminta ampunan. Kemudian lapangkan dadamu, hapuslah semua yang telah berlalu, kosongkan jiwamu dari kesalahan orang lain, dan raihlah ampunan Allaah. Allaah ingin tunjukkan kemuliaan mereka yang mau memaafkan, apalagi memaafkan sebelum datangnya permintaan maaf.

Hadirin yang dicintai Allaah SWT.

Budaya memaafkan ini, sungguh merupakan ajaran yang luar biasa dalam Islam. Karena ketika meminta maaf dan memberi maaf yang dilakukan dengan sepenuh jiwa dan raga akan menumbuhkan kedamaian di muka bumi. Tiada lagi tetangga yang konflik karena masalah sepele, tak ada lagi tali persaudaraan yang putus dan lepas karena masalah-masalah agama yang tidak pokok, bahkan dalam masalah yang sesungguhnya para ulama justru sudah sepakat untuk berbeda.

Allaah Ta’aala berfirman dalam surat al Anbiyaa` ayat 107,

al Anbiya 107

Dan tidaklah Kami mengutusmu (Nabi Muhammad SAAW), melainkan (sebagai) rahmat bagi semesta alam.

Bahkan Nabi Muhammad SAW memperinci dalam sabda beliau,

Rahmatilah siapa yang hidup di bumi, niscaya yang hidup di langit akan merahmati kamu.

Inilah wajah Islam yang sesungguhnya, menjadi rahmat bagi alam semesta. Bukan hanya Nabi Muhammad SAW saja yang seharusnya menjadi pengasih dan penyayang, tapi juga umat beliau, kita semua, sudah seharusnya menjadi manusia penyayang, pemaaf, pengasih kepada siapapun, apapun, di manapun.

Rasuulullah SAW pernah bersabda,

Apabila kalian mengendarai binatang, berikanlah haknya, dan janganlah menjadi setan-setan terhadapnya.

Rasuul SAW juga pernah ngendika,

Seorang wanita dimasukkan Tuhan ke neraka diakarenakan ia mengurung seekor kucing, tidak diberinya makan, tidak pula dilepaskan untuk mencari makan sendiri.

Sewalikipun, kali lain Nabi SAW paring sabda,

Seorang yang bergelimang dosa diampuni Tuhan karena memberi minum seekor anjing yang kehausan.

Inilah akhlak-akhlak kepada hewan yang Beliau SAW ajarkan.

Hadirin yang dirahmati Allaah Ta’aala.

Nabi Muhammad SAW bahkan melarang kita untuk menjual buah yang mentah atau memetik bunga yang belum mekar, beliau SAW bersabda,

Biarkan semua bunga mekar agar mata menikmati keindahannya dan lebah mengisap sarinya.

Inilah akhlak beliau SAW kepada tumbuhan, yang ternyata dibuktikan bahwa perilaku seperti ini mampu mencegah kerusakan pada keseimbangan alam.

Rasuul SAW juga merahmati benda-benda yang tak bernyawa sekalipun, dengan memberinya nama. Perisai Nabi diberi nama Dzat al-Fudlul, pedangnya dinamai Dzulfiqar, pelananya Rasuul SAW bernama al-Daaj, tikar, klasanipun Kanjeng Nabi SAW gadhah asma al-Kuz, gelasipun Nabi SAW kagungan asma ash-Shadir, teken Kanjeng Nabi SAW bernama al-Mamsyuk.

Benda-benda itu tak bernyawa, tapi dinamai dengan nama yang indah penuh makna, seakan-akan mempunyai kepribadian, yang berarti membutuhkan uluran tangan, pemeliharaan, rahmat, dan kasih sayang.

Bahkan, nalika Rasuul SAW merasa mendapat penolakan dakwah di Makkah, Beliau SAW mencoba dakwah ke Tha’if, tapi yang didapat justru lemparan batu hingga wajah Beliau SAW berdarah-darah. Datanglah Malaikat Jibril ‘AS, yang menawarkan bantuan dari malaikat lain yang siap mengangkat dua bukit untuk ditimpakan kepada penduduk yang melempari Beliau SAW.

Apa jawaban Beliau? Beliau katakan, jangan, jangan, bahkan aku berharap kelak ada keturunan mereka yang akan beriman kepada Allaah.

Sayyidinaa Hasan RA, cucu Rasuul SAW pernah meriwayatkan dari pamannya Hind bin Abi Halah,

Sayyidinaa Hasan dr Hind bin Abi Halah

Beliau tiada berlaku kasar dan tidak pernah menghina, Nikmat Allaah SWT dibesarkannya walaupun hanya sedikit.

Sayidatinaa ‘Aisyah RA berkata,

Sayyidatinaa Aisyah - akhlak Rasuul

Rasuulullaah SAW bukanlah orang yang keji, beliau tidak membiarkan kekejian, tiada mengeluarkan suara keras di pasar-pasar dan tidak membalas kejahatan orang lain dengan kejahatan. Beliau suka memaafkan dan berjabatan tangan.

Sayyidinaa Husain RA pernah meriwayatkan dari ayahnya Sayyidinaa ‘Ali bin Abi Thalib,

Sayyidinaa Ali - Wajah Manis Rasul

Rasuulullaah SAW adalah orang yang bermuka manis, lembut budi pekertinya,

Sayyidinaa Ali - Akhlak Rasul

tawadlu’, tidak bengis, tiada kasar, tiada bersuara keras, tiada berlaku dan berkata keji, tidak suka mencela dan tiada kikir.

Inilah akhlak Rasuul SAW, penuh kelembutan dan kasih sayang.

Hadirin rahimakumullaah.

Akhlak Rasuul SAW yang luar biasa itu, sayangnya sedang dilukai oleh orang-orang yang mengaku Islam. Saat ini, di Irak dan Suriah ada yang meneriakkan tegaknya pemerintah Islam, tapi perilakunya tidak mencerminkan umat Islam, tidak menggambarkan akhlak Rasuul SAW yang penuh kelembutan dan kasih sayang.

Mereka tunjukkan di internet, mereka banggakan bom-bom mereka, senjata-senjata mereka, yang mereka katakan, untuk membela Islam, menegakkan agama Allaah. Apakah itu mencerminkan Islam yang membawa makna kedamaian dan keselamatan?

Mereka banggakan peran mereka mengahncurkan makam Nabi Yunus ‘AS, menghancurkan masjid-masjid peninggalan para tabbi’in, meluluh lantakkan makam-makam ulama yang berjasa mengantarkan dan menegakkan agama Islam di tanah mereka. Inikah cerminan Islam, padahal Islam menghargai sejarah dengan memelihara Ka’bah, mensunnahkan shalat di Maqam Ibrahim, tempat batu bekas kaki Nabi Ibrahim ‘AS saat membangun Ka’bah?

Mereka pamerkan video menyembelih sesama manusia, menembak sesama manusia, berbuat keji sesama manusia, sesama warga bangsanya, dan mengatas-namakan perjuangan Islam, sementara Rasuul SAW membenci kekejian dan tak pernah berbuat kasar?

Dan yang lebih mengerikan lagi, masyarakat kita, beberapa minggu yang lalu, berkumpul di sebuah tempat di Jawa Tengah, dan mereka menyatakan bersumpah setia kepada ISIS (Islamic State of Iraq and Syria), sempalan Islam yang mencoreng sifat kasih sayang Islam, mencoreng ajaran mulia Islam, menjadi rahmat bagi semesta alam.

Hadirin rahimakumullaah.

Aliran sempalan ini harus kita waspadai. Mengapa, karena kita Indonesia sudah memiliki Pancasila sebagai hasil ijtihad para ulama pendiri bangsa dan tidak pernah dibantah oleh ulama Indonesia sampai detik ini. Pancasila, sebuah jalan tengah untuk kehidupan berbangsa dan bernegara. Apakah kita ingin seperti mereka, segala sesuatu diselesaikan dengan bom dan tembak-menembak, bunuh-membunuh, walaupun sesama Islam? Tentu tidak. Maka kita harus bertahan.

Kita jaga kampung-kampung kita dengan ajaran Islam yang damai, yang mengajak kepada kebaikan dengan kebaikan, tidak dengan cara yang keras. Kita jaga desa-desa kita, dusun-dusun kita, dengan bertanya kepada mereka yang memiliki ilmu Islam yang baik, yang diajarkan dari kiai-kiai kita, ustadz-ustadz kita, bukan ajaran dari ulama-ulama timur tengah yang selalu dalam kondisi konflik, sehingga keras isi dakwahnya.

Kita tetap mengambil ajaran ulama timur tengah, tetapi harus melalui lisan pengajar kita yang memahami ilmu bahasa arab, ilmu sejarah, ilmu qur`an, ilmu hadits, ilmu fiqh, dan ilmu pendukung lain. Mengapa harus melalui pengajar yang seperti ini? Karena mereka paham dengan kondisi kita, dan bisa memilih dan memilah, mana yang harus diajarkan kepada masyarakat kita, mana yang harus tidak diajarkan karena mengandung unsur politik dan keadaan setempat pada masa ajaran atau kitab tersebut disusun.

Mari kita jaga masyarakat kita dengan ilmu, mari kita jaga bangsa kita dengan ilmu, sehingga nantinya dari tanah air Indonesia kita akan menjadi wakil nyata agama Islam dari perilaku pemeluknya, yakni Islam yang rahmatan lil-‘aalamiin, menjadi rahmat bagi seluruh alam semesta, insya-Allaah, aamiin, Allaahumma aamiin.
اَللّٰهُ أَكْبَرُ، اَللّٰهُ أَكْبَرُ، لَاإِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَ اللّٰهُ أَكْبَرُ، اَللّٰهُ أَكْبَرُ وَ لِلّٰهِ الْحَمْدُ.

Hadirin yang insya-Allaah selalu dalam naungan kasih sayang Allaah.

Kesimpulannya, Idul Fitri adalah hari di mana kita kembali fitrah, kembali suci karena rahmat Allaah, karena ampunan Allaah atas mujahadah, kesungguhan kita dalam berjuang di Ramadlan. Hikmahnya, mari kita meniru Allaah, meneladani Allaah dengan menjadi manusia yang memberi maaf sebelum ada permintaan maaf, sekaligus menjadi pengasih, penyayang, pemurah, kepada alam semesta, lebih-lebih kepada sesama umat manusia, dan kita wujudkan dengan lisan dan perilaku kita, umat muslim Indonesia, bahwa kita, Islam, adalah rahmat bagi keseluruhan alam dan seisinya.

* Khatimah *

* Khatbah Kedua – Doa Penutup *

Download Teks Khatbah A5 (Google Drive)

Cintailah Anak-anak, Berikan Doa dan Teladan Akhlak kepada Mereka

Hadirin yang dirahmati Allaah Ta’aala.

Sesungguhnya fitrah suci manusia itu bukan hanya berhenti pada sekedar sebuah pernikahan, tetapi juga bagaimana pernikahan mampu melanjutkan nasab kebaikan, mampu memperbarui satu generasi baru, generasi yang penuh dengan kesalehan, yakni mempunyai anak, mempunyai keturunan.

Kisah Nabiyullaah Ibrahim ‘AS dan Nabiyullaah Zakariya ‘AS misalnya, adalah contoh nyata bagaimana beliau berdua tidak pernah putus asa mengharap rahmat Allaah Ta’aala menemani kehidupan Beliau berdua, yakni berputra.

Nabiyullaah Zakariya ‘AS (al-Anbiya [21] 89)

doa nabi zakariya

dan (ingatlah kisah) Zakaria, tatkala ia menyeru Tuhannya: “Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah waris yang paling Baik.

Dijawab doanya oleh Allaah Ta’aala dengan mengaruniakan Nabi Yahya ‘AS, meskipun usia Nabi Zakariya ‘AS sudah sepuh.

Sementara Nabiyullaah Ibrahim ‘AS dengan doanya yang sangat masyhur (ash Shaaffaat [37] 100)

doa nabi ibrahim - ash shaffat

Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang Termasuk orang-orang yang saleh.

Diijabahi oleh Allaah Ta’aala dengan mengaruniakan Ismail dari istrinya Hajar dan Ishaq dari istrinya Sarah. Ismail dan Ishaq menjadikan Nabiyullaah Ibrahim ‘AS sebagai puncak nasab, puncak garis keturunan, Bapak para Nabi dan Rasul. Ishaq akan menjadi Nabi ‘AS dan berputra Nabi Ya`qub ‘AS. Nabi Ya`qub ‘AS akan berputra Nabi Yusuf ‘AS dan akan menjadi leluhur dari para Nabi dan Rasul di tanah Palestina.

Sementara Ismail juga akan menjadi Nabi ‘AS dan dari salah satu keturunan Nabi Ismail ‘AS-lah, Rasuulullaah Sayyidinaa Muhammad SAW akan dilahirkan sebagai penutup nasab, penutup jalan keturunan para Nabi dan Rasuul.

Maka, boleh kita katakan, kisah nasab para Nabi dan Rasuul itulah yang memperkokoh pendapat bahwa berkeluarga dan berketurunan adalah cara yang tepat bagi umat manusia untuk menghasilkan generasi baru yang baik, shaleh, dan beriman kepada Allaah Ta’aala.

Hadirin rahimakumullaah.

Kasih sayang orang tua kepada anaknya jauh lebih besar daripada cinta anak kepada bapak-ibunya. Kisah Nabi Nuh ‘AS di dalam Surah Huud dan kisah Nabi Ya`qub ‘AS dengan putranya Yusuf (yang juga akan menjadi Nabi ‘AS) menjadi bukti besarnya cinta orang tua kepada anaknya.

Al-Qur`an surah Huud [11] ayat 42 dan 43 mengisahkan,

Dan Nuh memanggil anak kandungnya, sedangkan anak itu berada di tempat yang jauh terpencil,

“Hai anakku, naiklah (ke perahu) bersama kami, dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir.”

Anaknya menjawab,

“Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!”

Nuh berkata,

“Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allaah selain Allaah (saja) Yang Maha Penyayang.”

Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.

Bahkan, setelah anaknya yang ngeyel tadi tenggelam, saat air bah sudah surut dan Nabi Nuh ‘AS beserta kaumnya yang beriman selamat kembali ke daratan, cinta Nabi Nuh ‘AS tidak pupus. Al Qur`an memberikan informasi dalam ayat berikutnya, surah Huud ayat 45 dan 46

Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata,

“Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya.”

Allaah berfirman,

“Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan). Sesungguhnya (perbuatannya) perbuatan yang tidak baik. Sebab itu, janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakikat)-nya. Sesungguhnya Aku (Allaah) memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan”

Demikian kisah cinta Nabi Nuh ‘AS kepada putranya. Sedangkan kisah cinta Nabi Ya`qub ‘AS kepada putranya Yusuf diabadikan di surah Yusuf [12] ayat 84

“Aduhai duka citaku terhadap Yusuf!” dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan.

Itu adalah ucapan Nabi Ya`qub ‘AS saat mendengar kabar buruk tentang Yusuf muda yang diikuti dengan kebutaan pada mata beliau Nabi Ya`qub ‘AS.

Dan saat Nabi Ya`qub mendapat kabar gembira tentang Yusuf muda, dengan mencium aroma putra kesayangannya melalui baju yang dikirimkan Yusuf kepada Nabi Ya`qub ‘AS, pulihlah penglihatannya.

Al Qur`an menceritakan (Yusuf [12]: 96),

Tatkala telah tiba pembawa kabar gembira itu, maka diletakkannya baju gamis itu ke wajah Ya`qub, lalu kembalilah dia dapat melihat.

Betapa kuatnya cinta ayah kepada anaknya, hingga kepergian sang anak mampu membutakan mata ayahnya, dan karena besarnya cinta itu, hanya aroma sang anak lewat sebuah baju pun mampu mengembalikan penglihatannya.

Hadirin rahimakumullaah.

Fitrah orang tua adalah cinta yang begitu kuat dan besar kepada anak-anaknya, sebagaimana contoh kedua Nabi utusan Allaah tadi. Bahkan ketika seseorang melihat bayi atau anak kecil yang bukan kerabat dekatnya sekalipun, kita akan terjatuh dalam pesona anak kecil.

Hal ini terjadi karena fitrah kita yang dewasa, yakni mencintai anak, bertemu dengan fitrah anak-anak, yakni kepolosan dan kesucian anak-anak, baik kesucian perilaku maupun kesucian hati mereka. Rasuulullaah SAW bersabda tentang kesucian seorang anak

hadits anak fitrah

Semua anak terlahirkan membawa fitrah keagaamaan yang benar. Kedua orang tuanya lah yang menjadikan ia menganut agama Yahudi atau Nasrani atau Majusi.

Anak-anak ibarat kertas putih bersih dan kedua orangtuanya yang akan memulai menulisi kertas tersebut dengan kebaikan atau keburukan.

Hadirin yang dirahmati Allaah Ta’aala.

Seorang anak sedang digendong oleh Rasuulullaah SAW tiba-tiba ngompol. Lalu dengan kasar ibu/pengasuhnya merenggut sang anak, sehingga menangislah anak tersebut. Rasuulullaah SAW menegurnya sembari bersabda,

hadits ramah kpd anak

Perlahan-lahanlah! Sesungguhnya ini (Beliau SAW menunjuk kepada pakaian beliau) dapat dibersihkan oleh air, tetapi apa yang dapat membersihkan kekeruhan hati sang anak?

Ketika suatu saat Rasuulullaah SAW mencium cucunya, Sayyidinaa Hasan bin Ali bin Abi Thalib yang masih kecil, al-Aqra` bun Haabis berkomentar, “Saya memunyai sepuluh orang anak, tidak satu pun di antara mereka yang saya cium”. Rasuulullaah SAW kemudian bersabda,

hadits cium anak 1

Siapa yang tidak memberi rahmat tidak dirahmati.

Bahkan Rasuulullaah SAW berkomentar kepada seseorang yang tidak pernah mencium anaknya,

hadits cium anak 2

Apakah saya dapat melakukan sesuatu untukmu setelah Allaah mencabut kasih sayang dari hatimu?

Hadirin rahimakumullaah.

Demikianlah pentingnya kita mencurahkan kasih sayang kepada anak-anak, lebih-lebih anak kita sendiri atau kerabat dekat kita. Sesuatu yang buruk, meskipun sangat kecil bentuknya akan mempengaruhi jiwa mereka dan boleh jadi akan membekas hingga menjadi luka yang tak tersembuhkan.

Kasus di sekolah internasional di Jakarta adalah contoh pelecehan yang nyata. Saya menangis membaca beritanya. Sang anak tak mau cerita kepada ibunya, baru setelah ibunya mengibaratkan pamannya sebagai pahlawan yang akan memberantas kejahatan, berceritalah sang anak kepada pamannya, dan terbukalah kasus pelecehan ini.

Kita sangat sedih mendengar ini. Dia bukan siapa-siapa kita. Tetapi dia hanya anak-anak yang sangat polos. Trenyuh membayangkan betapa sang anak sangat terluka, tidak mau bertemu dengan orang lain. Takut dengan pisau. Menangis setiap malam. Dan trauma-trauma lainnya. Bagaimana dengan masa depannya? Bagaimana kehidupannya saat dewasa nanti? Banyak kekhawatiran muncul.

Kasus tersebut hanya satu contoh yang sangat parah. Tetapi juga sangat mungkin hal semacam itu terjadi di sekitar kita, meskipun tidak sampai tingkat separah itu pelecehannya.

Melalui mimbar ini pula, saya mendorong kepada diri saya sendiri utamanya dan secara umum kepada seluruh hadirin rahimakumullaah, mari mulai sekarang kita perbaiki perilaku kita kepada anak-anak, siapapun anak itu, saudara atau bukan, kerabat atau bukan, berperilaku baiklah kepada mereka.

Setiap bertemu dengan anak kecil atau bayi, sedang semarah apapun suasana hati kita, seburuk apapun diri kita yang sesungguhnya berikan senyum kepada mereka. Jangan sekalipun tunjukkan ekspresi buruk atau bahkan perilaku tidak terpuji. Jangan, jauhkan mereka dari seperti itu.

Kalau perlu ucapkan doa Nabi Ibrahim ‘AS kepada mereka, rabbi habli minash-shalihiin. Sentuh mereka, cium mereka, berikan kasih sayang kepada mereka.

Generasi muda kita sekarang masih ada banyak yang masa lalunya kurang disayangi oleh orang lain. Maka dia tidak pernah menunjukkan kasihnya kepada orang lain. Di Jakarta, seusia SMP dan SMA tawur dengan senjata tajam. Di Jogja pernah terjadi pembunuhan dengan anak panah beracun.

Di Makassar mahasiswa, generasi muda kita, tidak segan membakar kampusnya karena dendam, padahal semuanya muslim. Saat kampanye kemarin, di Jogja, yang kampanye pemuda, tapi arogansinya luar biasa. Orang lain sedang mau menepi, sedang proses menepikan kendaraannya, dihantam begitu saja dianggap terlalu lama.

Di mana rahmat mereka sebagai manusia kepada sesama manusia? Di mana cinta kasih mereka kepada sesama manusia? Jangan-jangan, dulu orang tuanya kurang kuat doanya, kurang istiqamah doanya, kurang perhatian, atau bahkan karena orang tuanya jarang menampakkan rasa cintanya kepada sang anak?

Hadirin yang dirahmati Allaah.

Mari kita sekarang kita berubah, kita perbaiki perilaku kita kepada anak dan bayi. Curahi mereka dengan rasa sayang, curahi mereka dengan doa-doa kita.

Allaah tidak akan menyia-nyiakan sebuah perbuatan baik, sekecil apapun ada balasannya. Jika kelak ada seorang anak, yang dewasa dan menjadi orang shalih karena kita, meskipun sumbangan kita hanya dengan doa atau sebuah perilaku baik, maka ingat, fa man-ya’mal mitsqala dzarratin khayray-yarah, tidak ada perbuatan baik, sekecil apapun perbuatan itu, kecuali berbalas kebaikan dari Allaah.

Dan sebaliknya, jika kelak ada anak yang dewasanya menjadi tidak baik, berakhlak buruk, dan itu karena sumbangan kita, karena kita pernah berperilaku buruk di depannya dengan sengaja, meskipun hanya kecil, meskipun hanya sepele, ingat lahaamaa kasabat wa ‘alayha mak tasabat, perbuatan baik ada balasan rahmatnya, perbuatan buruk ada balasan hukumannya.

Mari bersama-sama kita cegah generasi buruk lahir. Kita semua bisa mencegahnya bersama-sama, dengan perbuatan diri masing-masing. Jangan pernah sepelekan karena kecil, karena Allaah al-Lathiif, Maha-lembut, termasuk betapa rincinya Allaah dalam meneliti perbuatan kita, selembut apapun, sekecil apapun perbuatan baik itu.

Ingat bahwa kita tidak mewarisi alam semesta ini dari leluhur kita, tetapi sekarang kita meminjam bumi ini dari anak-keturunan kita. Kita bersama-sama cegah bangsa ini dari cengkeraman pemimpin zhalim dan tak berakhlak dengan mendidik generasi muda kita lewat doa dan teladan kebaikan.

Allaah Ta’aala berfirman dalam surah at-Tiin ayat keempat,

at tiin 4

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk (fisik dan psikis) yang sebaik-baiknya.

Dalam ayat ini Allaah menggunakan kata “Kami”, bukan “Aku” yang membawa makna ada peran selain Allaah, yakni peran orang tua, peran Bapak dan Ibu. Juga dengan peran orang dan lingkungan seseorang ketika ia beranjak dewasa.

Hadirin rahimakumullaah.

Tidak perlu menunggu Pemilu 5 tahun sekali untuk mengubah negeri kita menjadi lebih baik. Mari kita mulai sekarang dengan berinvestasi doa dan teladan kebaikan kepada setiap anak kecil, utamanya anak kita sendiri dan kerabat kita, maupun anak-anak yang kita temui, demi masa depan mereka dan masa depan bangsa kita.

Kalau Allaah menjamin kita sebagai sebaik-baik ciptaan dan negeri ini diisi, dipimpin oleh sebaik-baik manusia, maka akan terwujud keluarga-keluarga terbaik, kampung-kampung terbaik, dan akhirnya terus meluas menjadi negeri terbaik yang penuh dengan keberkahan Allaah Ta’aala.

Sebagai penutup, Sayyidinaa ‘Ali karamallaahu wajhah, menantu dan khalifah Rasuul SAW keempat berpesan,

sayyidina ali - pendidikan anak

Didiklah anak-anakmu, (dengan pendidikan yang sesuai) karena mereka itu diciptakan untuk masa yang berbeda dengan masamu (Sayyidinaa ‘Ali KW).

Mari, selain memberikan doa dan teladan dalam berperilaku dan berkata-kata, kita fasilitasi anak-anak, generasi muda kita dengan pendidikan yang terbaik, demi masa depan mereka, masa depan bangsa Indonesia, masa depan umat manusia.

Semoga Allaah memudahkan hati dan diri kita untuk terus memperbaiki diri, aamiin Allaahumma aamiin.

***

Disampaikan sebagai khatbah Jumat pada 25 April 2014 di Masjid Sabilul Muttaqin, Jalan Monjali.

 

Mari Berbuat, Mari Bermanfaat!

Ada kalanya kita merasa rendah diri saat melihat bobroknya negeri ini di depan mata. apa yang bisa kita lakukan? bisa apa kita? memang kita siapa?

padahal ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuk menjadi “bermanfaat” bagi negeri kita.

memperbaiki diri, menguatkan iman dan takwa misalnya. meskipun terkesan “biasa”, justru ini sangat signifikan: mencegah munculnya 1 jiwa brengsek bagi negeri ini. jadi apapun kita besok (pejabat tinggi, sekedar RT, atau malah seorang kepala keluarga dengan pekerjaan biasa), ketika kita selalu memperbaiki diri dengan menguatkan iman dan takwa, kita telah bermanfaat dalam dua hal, (1) mencegah 1 generasi busuk lahir dan (2) berpotensi melipatgandakan generasi terbaik bangsa lewat keluarga dan nasab kita.

hal lain yang terkesan sepele adalah dzikir, wirid, dan berdoa bagi orang-orang yang dekat dengan kita maupun bagi bangsa kita. jangan pernah menyepelekan ini. doa dan wirid itu bentuk nyata kerendahan diri yang positif: mengakui keagungan Tuhan yang mutlak dan segala-galanya. Bahkan Allaah Ta’aala menganggap orang-orang yang tak mau berdoa kepada-Nya adalah orang sombong terhadap-Nya. Na’uzubillaah.

Allaah menjamin bahwa tak ada sesuatu kebaikan pun yang sia-sia, kecuali mendapat balasan dari Allaah, sebagaimana ada di akhir surat al Baqarah (lahaa maa kasabat, wa ‘alayhaa mak tasabat) dan akhir surat al Zalzalah (famay-ya’mal mitsqaala dzarratin khayray-yarah, wa may-ya’mal mitsqaala dzarratin-syaray-yarah). Kebaikan dapat balasan, keburukan dapat hukuman. Itu sunatullaah, ketentuan Allaah Ta’aala bagi kita semua. Inilah Allaah al-Lathiif, Maha-lembut, kelembutan-Nya yakni ketelitian-Nya yang mencakup segala-galanya, sesedikit, selembut apapun bentuknya.

Bahkan, dengan mendoakan orang lain, ada kebaikan di dalamnya. Maka kebaikan ini sewaktu-waktu bisa menjadi senjata kita dalam memohon kepada-Nya, yakni berwasilah dengan amal shalih. Meluangkan waktu dan helaan nafas untuk menyebut nama orang lain dalam rangkaian doa kita berarti sebuah pengorbanan, sebuah kebajikan, sebuah amal shalih.

Selain itu, “manfaat” lain yang bisa kita lakukan pada negeri kita berikutnya adalah berbuatlah kebajikan sesuai dengan skill yang kuasai. Kalau yang membutuhkan kita ada di dekat kita, maka luangkan waktu dan skill kita untuk mereka. Manfaatkan pula jaringan yang kita punyai untuk meluaskan fungsi skill kita agar bisa berguna pada jangkauan yang luas.

Maka, tidak ada alasan untuk tidak bisa berbuat baik bagi negeri kita. Tidak ada larangan untuk mengeluhkan kondisi buruk bangsa kita, tapi hendaknya keluhan itu tidak menenggelamkan kita sehingga tidak bisa berbuat apa-apa kecuali mengeluh.

Mari menyumbang secercah cahaya di antara spot-spot gelap di Indonesia tercinta. Kata orang bijak, jangan hanya mengutuk kegelapan, tapi nyalakan lilin!

Membaca Kehidupan untuk Kehidupan yang Lebih Baik

Membaca itu bukan sekedar mengeja huruf kemudian mengucapkannya. Tapi membaca juga bisa dimaknai sebagai mengeja peristiwa di sekitar kita, untuk kemudian mengucapkannya kepada hati di akal untuk ditelusur hikmahnya. Atau dengan bahasa lain, inilah yang disebut dengan proses berpikir, mempelajari kejadian di sekeliling kita, sebagai pelajaran bagi kehidupan.

Sering terjadi di antara kita, bahkan saya sendiri juga, kita menghakimi atau menilai atau menyimpulkan suatu peristiwa atau sifat seseorang hanya dengan pengetahuan yang sedikit tentangnya. Bahasa kerennya, kita mengabaikan nasihat –entah dari siapa- don’t judge a book by its cover.

Perlu menjadi pemahaman kita, bahwa sebuah peristiwa pasti terjadi karena disebabkan oleh tingkah polah manusia. Sementara kita juga tahu bahwa sifat manusia itu bermacam rupa bentuknya, yang sedemikian rupa sehingga tercermin pada tindak-tanduknya.

Di sisi lain, sifat seseorang tidak terbentuk begitu saja. Ada banyak faktor yang membentuknya, seperti orang tua dan pola pendidikan di rumah, pemahaman agamanya, lingkungan tempat tinggalnya, lingkungan sekolahnya, tingkat pendidikannya, kondisi besar negerinya saat ia tumbuh, peristiwa-peristiwa traumatik sepanjang kehidupannya, dan seterusnya, dan sebagainya, dan lain-lain. Banyak, sangat banyak.

Maka, menghakimi / menilai sebuah kejadian atau seseorang karena kita merasa tahu itu tidak tepat sama sekali. Berbeda kasusnya, kalau kita memang memahaminya, mengetahui seluk-beluknya, kita berhak untuk berpendapat mengenainya.

Sebagai ilustrasi, ketika ada seseorang yang galak dalam segala hal, jangan kemudian langsung membenci manusianya, tapi bacalah orang tersebut. Membaca tidak bisa di sama artikan dengan bertanya untuk ngrasani atau menggunjing, karena pembacaan ini bisa dilakukan dengan banyak cara, seperti ngobrol santai dengan orangnya.

Pembacaan pada orang tersebut, semisal, di mana ia dididik, bagaimana orang tuanya, bagaimana masa mudanya dihabiskan –karena biasanya yang galak itu orang yang sudah tua- dan seterusnya, pasti akan ditemukan fakta-fakta menarik. Boleh jadi, dia galak karena terlanjur terbiasa sejak kecil, atau karena guru sekolahnya yang galak, atau karena kehidupan mudanya sangat keras, atau mungkin sebab lainnya.

Ketika kita sudah menyelesaikan puzzle terhadap dia yang galak, kita bisa melihat, betapa beruntungnya kita, tidak mengalami galaknya kehidupan yang telah membentuk seseorang tersebut menjadi galak. Yang muncul kemudian adalah sebuah rasa empati mendalam dan renungan mendalam tentang kehidupan seorang manusia.

Ibarat sebuah amal dalam kehidupan beragama, bahwa amal dihitung atas niatnya. Apa yang tampak terjadi bukanlah kejadian yang sesungguhnya, karena yang sebenarnya terjadi sesungguhnya tersimpan di dalamnya hati. Sungguh adil penghakiman Allaah, bahwa yang dinilai adalah niat dari sebuah perbuatan, bukan apa dan seberapa besar perbuatan itu di mata manusia.

Pun dengan sikap membaca. Membaca peristiwa atau kehidupan seseorang bagaikan mencari bentuk peristiwa atau orang tersebut dalam wujud yang sesungguhnya. Meskipun tujuan awalnya untuk menghakimi, untuk menilai, tapi pada akhirnya yang muncul adalah sebuah pemahaman bagaimana kehidupan kita berjalan.

Boleh jadi, di antara pembaca ada yang tidak setuju dengan uraian di atas yang setidaknya berpijak dengan dua alasan,

kita tidak diperbolehkan untuk mencari aib orang lain sehingga lupa dengan keburukan kita, dan
apa urusannya mengusik kehidupan orang lain, wong hidup diri sendiri saja susah

Saya sampaikan argumen saya, bahwa membaca kehidupan seseorang tidak berarti mencari aib. Karena penjelasan saya di atas –tentang galaknya seseorang- tidak berlanjut dengan mengorek keburukannya, tapi mengorek kehidupan yang membentuknya tanpa menggunjing. Artinya, itu hanya bisa dilakukan dengan orang itu sendiri. Maukah anda bersimpati dengan orang galak kepada anda dengan mendekatinya? Itu pertanyaannya. Cobalah memandang bahwa semua orang itu sama, punya kelebihan, punya kekurangan. Kalau galaknya adalah kekurangannya, pasti ada kelebihannya di sisi lain. Datangi, silaturrahim, temukanlah kehidupan yang sesungguhnya.

Sementara bantahan poin kedua cukup saya balik dengan mengatakan, itulah kenapa kehidupanmu terasa susah, karena tidak mau bersimpati, tidak mau belajar dari kehidupan orang lain. Dan sikap membaca ini tidak mengusik, karena berintikan silaturrahim.

Patut menjadi syarat dan ketentuan khusus tentang sikap membaca seseorang ini bahwa semua harus dilakukan pada orang atau peristiwa yang tidak membawa bahaya bagi kita. Ilustrasinya, kalau kita tidak punya iman dan amal yang kuat, ya jangan coba-coba membaca para kriminal yang mungkin berada di sekitar kita. Karena boleh jadi justru kita yang terbawa karena kurangnya iman dan amal kita.

Tips saya untuk membaca ini paling pas dipraktekkan sebagai sebuah defense weapon alias senjata pasif, ketika kita kebetulan terganggu dengan sifat tertentu seseorang, dalam kehidupan bermasyarakat kita. Selebihnya, cukup kita gunakan untuk membaca peristiwa umum yang terjadi dalam kehidupan kita, sebagai pelajaran dan memori di masa yang akan datang.

Sikap untuk membaca segala hal akan membuat kita menjadi dewasa karena sedikit mendapat pencerahan tentang makna hidup: bahwa syukur dan bahagia itu bisa diraih dengan empati, bahwa segala sesuatu tak ada yang sempurna, bahwa setiap orang itu sama, ada kelebihan, ada pula kekurangan.