MTQ UGM 2010, Sebuah Anak Tangga yang Tak Terlupakan

Bagian I: Jalannya Perlombaan – Optimisme versus Pesimisme

Lewat kicauan di twitter, kemarin sudah saya singkat-kisahkan keterlibatan diri saya dalam Tim MTQ UGM dalam ajang MTQ Mahasiswa Nasional 2011 di Makassar. Insya-Allaah tulisan ini akan mengungkap lebih detail kisah tersebut.

Catatan            : sudah sejak lama ingin mengisahkan ini, namun saya menunggu momen yang tepat, yakni selesainya proses dan hasil MTQ Mahasiswa Nasional.

***

Mendaftar Perlombaan – Sejarah yang Menjadi Penyemangat

Bulan Oktober 2010, saya dikejutkan dengan sebuah poster yang beredar di seantero kampus UGM, yaitu poster dari Direktorat Kemahasiswaan (Dirmawa) UGM tentang diadakannya Musabaqah Tilawatil Qur`an (MTQ) alias Lomba-lomba tentang al-Qur`an di tingkat UGM. MTQ tingkat UGM ini diselenggarakan sebagai persiapan dalam menghadapi MTQ Mahasiswa Nasional pada Juli 2011 di Makassar.

Pengumuman tersebut membuka kembali memori indah di akhir tahun 2006. Saat itu saya mengikuti MTQ tingkat Sekolah Umum se-Kota Yogyakarta dan berhasil meraih Juara II dalam cabang Musabaqah Syarhil Qur`an (MSQ) sebagai wakil dari almamater tercinta, SMA Negeri 4 Yogyakarta.

Alhasil, saya kemudian bersegera menuju ke kantor Dirmawa UGM untuk mendaftarkan diri. Tentu saja saya mendaftar ke cabang lomba yang diri saya mampu mengembannya. Perlu diketahui, saya bersyukur punya kehendak untuk mengukur kemampuan diri sendiri. Sehingga, dengan penuh kesadaran, saya yang

  1. dikaruniai suara biasa,
  2. sedikit hafalan ayat Qur`an-nya,
  3. rasa-rasanya tidak mempunyai bakat kaligrafer, serta
  4. belum pula diberkahi dengan pemahaman mendalam tentang ilmu-ilmu seputar Qur`an,

tentu saja tidak mungkin mendaftar untuk cabang Tartil atau Qira`ah (membaca indah), Hifdzil (hafalan), Khat (kaligrafi), maupun Fahmil (pemahaman Qur`an).

Saya mendaftar di cabang Pidato Kandungan al-Qur`an, yang mana cabang tersebut merupakan pecahan dari cabang MSQ. MSQ sendiri merupakan cabang yang paling seru dalam sebuah hajat besar MTQ. MSQ terdiri dari tiga orang peserta. Satu orang membaca ayat Qur`an dengan tartil, satu orang membaca puitisasi terjemahan ayat Qur`an, dan satu orang terakhir memberikan syarah, yakni ulasan dan penjelasan tentang ayat yang dibahas.

Di MTQ UGM, MSQ dipecah menjadi dua macam cabang yang berbeda, Pidato Kandungan al-Qur`an dan Puitisasi Kandungan al-Qur`an. Dan mendaftarlah saya di cabang Pidato, sembari berharap bahwa bakat omong saya bisa menjadi keberkahan tersendiri dengan menyalurkannya di bidang dakwah. ^_^

Jalannya Perlombaan – Menampakkan Kepolosan Diri

MTQ UGM diadakan di Masjid Kampus UGM pada hari Ahad, 27 Oktober 2010. Rival saya di cabang Pidato ternyata cukup banyak, sekitar 20 orang yang berasal dari berbagai Fakultas dan Jurusan. Saya yang kebetulan  mendapat nomor urut agak akhir sempat jatuh-bangun optimismenya, karena menyaksikan puluhan peserta lain yang apik, indah, dan piawai dalam menghabiskan waktu tujuh menit untuk berpidato.

Ada misalnya beberapa peserta perempuan dengan gaya orator keagamaan. Suaranya keras dan jelas, intonasinya kuat, pembacaan ayatnya juga fasih (belakangan saya ketahui bahwa salah satu dari mereka ternyata pernah maju MSQ di tingkat nasional).

Ada juga peserta yang berpidato dengan gaya Bung Karno yang berapi-api atau style Aa’ Gym yang bersahabat. Bahkan ada yang gayanya sangat memikat dan halus sehingga saya berkesimpulan dialah pemenangnya (kepolosan saya nampak di sini karena saya baru tahu belakangan bahwa ternyata dia yang memakai gaya ini adalah Ketua BEM Teknik!).

Yang semakin memperburuk suasana optimisme saya adalah adanya peserta yang berhasil berpidato/berceramah dengan gaya yang menarik karena sukses membuat peserta lain (dan penonton) tertawa! Intinya, mendapat urutan hampir akhir benar-benar mengaduk perasaan saya, dari optimis menjadi pesimis.

Tibalah giliran saya maju. Sejak awal saya beranggapan bahwa dalam konteks perlombaan menjadi berbeda adalah sebuah kekuatan. Maka, ketika peserta lain memakai celana panjang, peci putih bulat atau kotak, berbaju koko atau mengenakan jaket-semi-jas; saya benar-benar ekstrim dalam berpakaian:

  • sarung hijau,
  • batik lengan panjang dengan pin garuda pancasila di dada kiri,
  • sorban hijau di pundak kanan, serta
  • sorban putih terlilit di kepala.

Pesannya jelas, tarik perhatian pemirsa!

Setelah membaca muqaddimah, saya buka ceramah saya dengan berdialog,

“Ingat nggak dengan iklan pasta gigi yang mempertarungkan dua anak kecil? Ilmiah! Alami! Ilmiah! Alami! Tahukah Anda bahwa bencana yang sedang menimpa umat manusia juga bermacam-macam sumbernya? Ya, ada bencana alamiah dan ada pula bencana ilmiah.

##[prolog dalam ceramah ini sengaja saya buat aneh, yakni dengan membawa penonton ke arah yang tidak disangka sama sekali, agar menjadi menarik]##

Kemudian saya jelaskan bahwa bencana alamiah adalah dalam pengertian bencana dari Allaah sebagai ujian bagi umat manusia (misal: al Baqarah 155-157 atau al-‘Ankabut 2-3) sedangkan bencana ilmiah adalah bencana karena ulah manusia sendiri yang berlebihan dalam menggunakan ilmu dan teknologi (tafsir atas al Baqarah 33 tentang potensi manusia). Lebih jauh, saya uraikan dengan bahasa awam tentang global warming dan climate change yang berdampak langsung pada ekstrimnya cuaca di Indonesia.

##[ini yang disebut dengan isi ceramah, inti pembahasan berdasar atas ayat Qur`an. Menjadi lebih menggugah ketika yang dibahas adalah persoalan modern nan ilmiah, namun bahasanya serta penyampainnya manusiawi a. k.a. awam.

Satu hal menjadi catatan penting adalah penggunaan kata populer akan membawa penonton tergelak dan tertawa, di mana dalam bagian ini saya sempat menggunakan redaksi lebay untuk menggambarkan betapa berlebihannya ulah manusia.]##

Dan sebagai penutup ceramah, saya memberikan imbauan,

“Maka dalam kesempatan kali ini saya mendorong, utamanya pada diri saya sendiri dan seluruh hadirin, agar memulai penghematan penggunaan energi fosil sebagai upaya riil mengurani global warming. Sederhana saja, misalnya dengan mengurangi penggunaan kendaraan bermotor atau mencabut alat-alat elektronik yang tak terpakai…”

##[termasuk dalam bagian penutup ini adalah saya menekankan pentingnya gerakan sekecil apapun, demi memulai perubahan besar dan signifikan.}##

Sayang sekali, tujuh menit saya habiskan dengan tidak sempurna, karena sempat terbata-bata (bahkan kemudian dibenarkan dan dituntun oleh juri!!!) saat melafadzkan ayat Qur`an yang menjadi landasan pembahasan.

Pasca-perlombaan – Evaluasi dari Sang Juri

Setelah selesai perlombaan saya merasa jatuh. Selain karena peserta lain yang dalam pandangan saya perfect, kesalahan saya dalam melafadzkan ayat telah saya simpulkan akan menjadi batu sandungan yang mematikan. Maka saya mencoba cara yang sebenarnya tidak memberkahi.

Saya mengajak berdiskusi salah seorang juri, di mana tema diskusi itu saya arahkan sedemikian rupa sehingga saya menjadi sempat untuk mengatakan bahwa saya pernah ikut MSQ di tingkat Kota Yogyakarta dan Juara Kedua. Namun juri tersebut memang sudah expert, karena scene saat saya menceritakan prestasi tersebut nampaknya tidak berkesan di dalam benak beliau.

Yang menarik adalah justru evaluasi dari beliau tentang saya. Beliau Sang Juri mengatakan kurang lebih,

“Mas, gaya Anda sudah bagus, seperti kyai-kyai di kampung, yang menjelaskan dengan cara seperti itu. Hanya satu kekurangannya, tidak ada sisi ketegasan, dalam penyampaian Anda. Tegas seperti gaya Bung Karno itu lho. Dan satu contoh da’i yang bagus adalah Zainuddin MZ, ada yang halus, tapi ada juga orasi dan ketegasannya.”

Kegalauan yang Bertransformasi menjadi Doa

Setelah mengucapkan terima kasih atas evaluasi tersebut, saya kemudian pulang ke rumah. Kesimpulan saya saat itu, saya kalah. Argumennya jelas: peserta lain yang penyampainnya lebih keren, kesalahan saya saat melafadzkan ayat Qur`an, dan gaya penyampaian saya yang tidak sempurna. Dan hari-hari menuju pengumuman pun berisikan kegalauan yang perlahan bertransformasi menjadi doa

##[dari 20-an peserta diambil tiga peserta untuk seleksi cabang Pidato tahap berikutnya.]##

***

Bersambung ke “Bagian II: Kejutan dan Tangisan yang Berpadu Menjadi Kisah Indah”

Karangwaru Jayabinangun, pada Awalnya

Dimulai dari sebuah kegelisahan. Terus bergulir dan semakin lama, kegelisahan lain bermunculan. Massif. Keluhannya sama. Ada yang tidak beres di berbagai tempat. Banyak alasan yang bisa diajukan, banyak argumen yang bisa di-kambinghitam-kan, tapi kalau tidak segera ditindak, akan semakin memperburuk kondisinya.

Ide-ide restorasi bermunculan, dari para siswa, guru, maupun alumninya. Sangat besar energinya, sangat beragam idenya. Namun sayang, energi dan ide tersebut fluktuatif. Muncul pada saat tidak ada kesibukan lain, atau tiba-tiba bisa lenyap begitu saja ketika berhadapan dengan sentimen masa lalu. Bahkan sering energi dan ide hanya menjadi mimpi karena dipatahkan oleh birokrasi.

Saya kemudian mencoba memantik energi itu kembali. Sambutannya, syukurlah, sangat baik. Meski sempat muncul salah paham. Energi saya yang sedang meledak-ledak dituduh terburu-buru dan kurang hati-hati. Bahkan dicap tidak terencana, tanpa visi, dan tak mempunyai misi, serta high cost.

Saya akui, memang restorasi yang ada di benak saya belum terencana, belum memiliki visi dan misi, serta belum tahu pula apakah termasuk high cost atau low cost. Kenapa belum? Karena tujuan saya memantik adalah agar muncul rembug, timbul diskusi, untuk men-sudah-kan segalanya yang belum.

Alhamdulillaah, malam ini jalan pemikiran saya sudah dipahami. Aneh memang, bahwa dipahaminya kalimat dan kata yang saya susun dalam penjelasan harus diterjemahkan terlebih dahulu dalam bentuk bagan. Mungkin benar adanya bahwa saya lebih sering memakai komunikasi gaya konteks tinggi, sehingga membutuhkan satu proses untuk memahaminya.

Menjadi pelajaran bagi saya, menyerah dalam sebuah proses adalah tindakan tidak dewasa. Ya, saya memang hampir menyerah saat muncul tuduhan tersebut dan masih ditambah dengan rasa frustasi karena ketidakmampuan saya memberi penjelasan mudah tentang jalan pikiran saya (pada kemarin malam).

Pagi tadi pun saya menjalankan ide dengan aras-arasen karena sedikit patah semangat. Dan sebagaimana biasanya, saya kerjakan dengan berusaha tetap bungah dan gembira, untuk menutup sedalam mungkin potensi emosi jiwa yang memungkinkan membawa energi negatif.

Pada akhirnya, malam ini, semuanya berbuah manis. Gairah diskusi muncul kembali (termasuk ide gila membuat bagan!) dan menghasilkan kesepakatan baru: siap memulai perjuangan.

Apa nama perjuangan itu? Saya menamainya “Karangwaru Jayabinangun”. Terinspirasi dari lakon pewayangan “Baratayudha Jayabinangun”, namun saya hapus kata “yudha”-nya, agar kesan “berlaga” atau “peperangan”-nya hilang. Perang membawa energi negatif, bukan kedamaian.

Ya, Karangwaru Jayabinangun, Karangwaru (yang) Membangun Kejayaannya. Demikian perjuangan ini dimulai. Semoga Allaah Ta’aala memudahkan. Amin.

Blunyah Gede, 14 Juli 2011. Ahmad Rahma Wardhana.

Menyingkap Kegelapan Nurani Bangsa Indonesia

Berangkat dari peristiwa aktual sehari-hari tentang kondisi nurani bangsa, yang saya angkat menjadi khatbah Jumat. Telah disampaikan pada 17 Juni 2011 (Masjid al Hayat Fakultas Biologi UGM), 24 Juni 2011 (Masjid al-Falaah Blunyah Gede), dan 1 Juli 2011 (Masjid al-Amin Popongan Baru). Selamat membaca.

Segala puji hanya pantas disandangkan kehadirat Allaah Ta’aala, Tuhan Pencipta, Pemilik, dan Pengatur Alam Semesta beserta isinya.

Dialah Allaah, yang mengatur keseimbangan semesta dengan mengedarkan bumi, bintang, dan benda-benda langit lainnya agar bergerak sesuai garis edarnya.

Dialah Allaah, yang menguasakan bagi matahari dan bulan agar menjadi penyempurna bumi, demi keseimbangan kehidupan zhahir umat manusia.

Dialah Allaah, yang mengilhami manusia dengan cahaya nurani, sinar iman serta islam, demi keseimbangan kehidupan kejiwaan umat manusia.

Dialah Allaah, yang masih mengaruniakan akhlak kejujuran pada masyarakat bangsa Indonesia melalui Ibu Siami di Surabaya, di saat sebagian pemimpin kita sedang berusaha menutup kebohongannya dengan kebohongan lain, dengan menjadikan politik dan kekuasaan sebagai sebab bagi halalnya perbuatan nisata tersebut.

Semoga Allaah Ta’aala segera mengangkat bencana akhlak yang menimpa negeri kita, dengan hujan yang sangat lebat, yaitu hujan cahaya kebaikan dan kebenaran kepada segenap makhluk di Indonesia tercinta. Amin, Allaahumma Amin.

Shalawat serta salam dari Allaah Ta’aala dan segenap makhluk ciptaan Allaah Ta’aala senantiasa tercurahkan kepada sang pemimpin umat manusia sekaligus pemimpin para Nabi dan Rasul, satu-satunya manusia yang paling pantas untuk menjadi contoh dan teladan, baik dari perilaku, perkataan, maupun persetujuannya atau penolakannya terhadap sebuah peristiwa selama dirinya hidup, manusia yang sangat mencintai umatnya, manusia yang paling halus budinya, manusia yang paling baik perkataannya, manusia yang paling jujur sepanjang sejarah kehidupan manusia, beliaulah Rasuulullaah Muhammad SAW.

Tercurahkan pula kepada segenap keluarga, sahabat, serta para pengikut Beliau SAW, hingga kelak datangnya hari kebangkitan.

Selanjutnya, saya mengingatkan kembali, khusus dan utamanya kepada diri saya sendiri serta kepada seluruh hadirin rahimakumullaah pada umumnya, agar pada hari Jumat yang mulia dan penuh keberkahan ini, marilah kita kembali memperbarui sekaligus meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allaah Ta’aala, dengan sebenar-benarnya iman dan takwa.

Yaitu bagaimana, seluruh diri kita, hati, lisan, maupun seluruh perbuatan kita agar ditujukan pada ikhtiar nyata, zhahir dan bathin, untuk menjalankan setiap hal yang diperintahkan oleh Allaah Ta’aala, sekaligus menjauhkan diri dari semua hal yang dilarang oleh Allaah Ta’aala, tanpa batasan ruang dan waktu.

Karena sebaik-baik manusia di sisi Allaah Ta’aala adalah bukan karena harta ataupun jabatan yang melekat, tapi sebaik-baik manusia di sisi Allaah Ta’aala adalah terukur dari ketakwaannya kepada Allaah Ta’aala. Sebagaimana termaktub dalam penutup ayat 13 surat al-Hujurat:

Sesungguhnya yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah yang paling bertakwa diantara kamu.

Hadirin rahimakumullaah.

Masyarakat Indonesia sering membanggakan dirinya sebagai sebuah negara dengan penduduk muslim terbesar. Pemerintah sendiri pun, karena begitu besarnya jumlah kaum muslimin begitu mengakomodir kepentingan kita semua, seperti dengan menjadikan hari besar Islam sebagai hari libur nasional, memperingati hari besar Islam secara rutin di mana media elektronik nasional sering menyiarkannya secara langsung, mengatur jalannya ibadah haji, dan memberikan keleluasaan yang luar biasa bagi kita semua untuk menjalankan ibadah sepanjang tahun.

Namun, keleluasaan terhadap kaum muslimin tersebut ternyata belum mampu memberikan korelasi positif antara keleluasaan mengabdi kepada Allaah Ta’aala dengan kebaikan-kebaikan diri yang seharusnya menjadi akibat dari sebuah ritual pengabdian kepada Allaah Ta’aala. Padahal, Allaah Ta’aala berfirman di dalam surat al-‘Ankabut ayat 45

Bacalah apa yang Telah diwahyukan kepadamu (Nabi Muhammad SAW), yaitu Al Kitab (Al Quran) dan laksanakanlah shalat (dengan sempurna atau secara berkesinambungan). Sesungguhnya shalat (yang dilaksanakan sesuai dengan tuntunan Allaah dan Rasul-Nya, senantiasa) mencegah (pelakunya dari) kekejian dan kemungkaran, dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah lain), dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Bahkan, peristiwa aktual baru-baru ini menunjukkan bahwa Indonesia tercinta sedang menuju masa-masa yang kelam, demikian pendapat para tokoh agama yang saya sepakat dengannya.

Kalau pada tahun 1965-an dan 1998 Indonesia mengalami sebuah masa kegelapan yang luar biasa di mana masyarakat sangat tertekan dengan kondisi politik pemerintahan dan ekonomi, maka saya berpendapat bahwa beberapa tahun terakhir ini kita pun sedang mengalami sebuah masa kegelapan, yaitu sebuah kegelapan nurani.

Hadirin rahimakumullaah.

Dengan keterbatasan ilmu yang saya miliki, saya berpendapat bahwa saat ini, nurani manusia Indonesia sedang terbelenggu oleh kenyataan yang sangat menyakitkan. Sudah sedemikian terbukanya informasi dan sudah sedemikian pandainya masyarakat kita memahami realitas serta memiliki keberanian untuk menyuarakan keprihatinannya, tetap saja sebagian pemimpin kita, para pemegang wewenang di negeri bernama Indonesia tak bergeming.

Harus diakui bahwa pemerintah memiliki prestasi yang bagus di bidang penegakan hukum, korupsi khususnya. Akan tetapi, di sisi lain kita juga melihat dengan mata kepala sendiri, bagaimana sebagian usaha penegakan hukum tersebut terbelenggu oleh kepentingan politik maupun kepemilikan harta dunia. Apalagi ketika kasus-kasus tersebut menyentuh partai-partai tertentu atau pejabat-pejabat tertentu atau mantan-mantan pejabat.

Bahkan, ironisnya kita sering melihat bagaimana manusia-manusia Indonesia yang tulus mengorbankan dirinya demi pemenuhan kebutuhan keluarganya sehari-hari, harus menghadapi sistem hukum yang rumit, hanya karena tuntutan para orang besar yang sedang miskin nurani.

Ya, di satu sisi, orang-orang yang mempunyai kekayaan luar biasa atau memiliki pengaruh di ranah politik bisa melenggang bebas menghindari proses hukum atas kasus milyaran rupiah, tapi di sisi yang lain, saudara kita di daerah harus diproses hukum hanya karena beberapa batang kayu bakar, beberapa buah semangka, atau beberapa kartu perdana.

Inilah, hadirin rahimakumullaah, sebuah realitas yang kita hadapi. Sebuah kegelisahan nurani. Peristiwa-peristiwa tersebut sebenarnya sangat sederhana penyelesaiannya, jika dilihat dari nurani yang bersih dan suci, tapi kesemuanya menjadi rumit dan berliku karena adanya kepentingan, kekayaan, atau bahkan kebohongan yang terlibat di dalamnya, sehingga kotorlah nurani mereka dan tertundalah penyelesaiannya.

Apalagi dengan munculnya kasus Ibu Siami di Surabaya, bagi saya semakin memperparah kegersangan nurani yang sedang kita alami saat ini. Coba bayangkan, seorang ibu yang mencoba mengajarkan anaknya sebuah nilai sederhana, kejujuran, harus menghadapi tetangganya sendiri yang justru mengusirnya dari kampung.

Saya sempat menyaksikan wawancara dengan Ibunda dari Ibu Siami di Gresik di sebuah televisi. Seorang tua yang sangat sederhana yang ditanya tentang nilai apa yang diajarkan olehnya kepada seorang Siami. Beliau menjawab dengan bahasa Jawa, yang intinya mengatakan bahwa hanya dua hal yang ia tanamkan pada Bu Siami: jujur dan jangan mengambil milik orang lain.

Dan sungguh, Ibu Siami yang terilhami oleh ajaran Ibunya tersebut mencoba mengajarkan kepada anaknya, tapi justru mendapatkan tantangan dan ancaman yang luar biasa.

Hadirin rahimakumullaah.

Saya sangat yakin, bahwa saat ini Rasuulullaah SAW sedang menangis tersedu-sedu melihat perilaku kita sebagai bangsa Indonesia. Beliau SAW akan sangat kecewa kepada bangsa kita, yang membanggakan keislaman kita, meninggikan nama Beliau SAW dalam setiap majelis Jumat, majelis ta’lim, dan majelis dzikir, tetapi nol besar perilakunya. Sebagian pemimpin kita masih saja berdalih dalam menegakkan kebenaran, sedangkan sebagian dari masyarakat kita juga belum mau dewasa dalam mengajarkan kesucian nurani kepada nasab mereka.

Oleh karenanya, mari kita bersama-sama memperbaiki kondisi bangsa ini, dengan memulainya pada diri sendiri kita masing-masing. Dan memulainya pula dengan hal-hal yang kecil. Serta memulainya dari sekarang, yaitu dengan meneguhkan hati untuk lebih banyak menggunakan nurani.

Kita tidak kuasa untuk menjewer para pemimpin kita yang sedang tidak bernurani, toh selama ini suara-suara nurani jarang didengar, kecuali ketika menyentuh kepentingan mereka. Kita tidak kuasa pula menasehati para orang tua yang membiarkan anaknya mencontek dengan dalih agar lulus serta menganggap bahwa wajar anak kecil mencontek. Kita tidak kuasa menyentuh mereka.

Akan tetapi, hadirin rahimakumullaah, kita punya kuasa penuh pada diri sendiri, untuk memaksanya agar berjalan dan beraktivitas dengan nurani. Dimulai dari lingkaran terkecil kehidupan kita agar menjadi sebuah kebiasaan, baru sesudahnya akan kita bawa sebagai sebuah watak, yang tak lagi terhijab ruang dan waktu.

Sekali lagi, mari memulainya dari diri sendiri, untuk kemudian kita tingkatkan menanamkan nurani dalam keluarga kita.

Prof. Quraish Shihab mengatakan dalam bukunya Membumikan al-Qur`an:

Kesejahteraan lahir dan batin yang dinikmati oleh suatu bangsa, atau sebaliknya, kebodohan atau keterbelakangannya, adalah cerminan dari keadaan keluarga yang hidup pada masyarakat bangsa tersebut. Keluarga Tiang Negara

Hadirin rahimakumullaah,
Allaah Ta’aala berfirman dalam al-Qur`an surat ar-Ra’du ayat 11

Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah apa (sikap mental dan pikiran) yang ada pada diri mereka. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tidak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.

Ayat yang sudah masyhur di atas menggunakan kata anfusihim, yang menunjuk pada kata ganti jamak. Maknanya jelas dan pasti, bahwa perubahan individu tidak akan pernah mencakup perubahan bangsa jika tidak mencapai derajat perubahan masyarakat. Artinya, pembinaan diri dan masyarakat harus berbarengan, masing-masing, yaitu individu dan masyarakat, saling menunjang satu dengan lainnya.

Semoga Allaah Ta’aala meridlai niat teguh dan ikhtiar zhahir serta batin kita dalam menggunakan nurani sebagai sebuah watak, serta semoga pula Allaah Ta’aala segera mengangkat kegelapan nurani yang sedang dialami oleh bangsa Indonesia dengan mengilhamkan cahaya kebajikan bagi semua nurani, serta memberikan ampunan bagi kita semua yang masih sering mengabaikan nurani. Amin.