Karangwaru Jayabinangun, pada Awalnya

Dimulai dari sebuah kegelisahan. Terus bergulir dan semakin lama, kegelisahan lain bermunculan. Massif. Keluhannya sama. Ada yang tidak beres di berbagai tempat. Banyak alasan yang bisa diajukan, banyak argumen yang bisa di-kambinghitam-kan, tapi kalau tidak segera ditindak, akan semakin memperburuk kondisinya.

Ide-ide restorasi bermunculan, dari para siswa, guru, maupun alumninya. Sangat besar energinya, sangat beragam idenya. Namun sayang, energi dan ide tersebut fluktuatif. Muncul pada saat tidak ada kesibukan lain, atau tiba-tiba bisa lenyap begitu saja ketika berhadapan dengan sentimen masa lalu. Bahkan sering energi dan ide hanya menjadi mimpi karena dipatahkan oleh birokrasi.

Saya kemudian mencoba memantik energi itu kembali. Sambutannya, syukurlah, sangat baik. Meski sempat muncul salah paham. Energi saya yang sedang meledak-ledak dituduh terburu-buru dan kurang hati-hati. Bahkan dicap tidak terencana, tanpa visi, dan tak mempunyai misi, serta high cost.

Saya akui, memang restorasi yang ada di benak saya belum terencana, belum memiliki visi dan misi, serta belum tahu pula apakah termasuk high cost atau low cost. Kenapa belum? Karena tujuan saya memantik adalah agar muncul rembug, timbul diskusi, untuk men-sudah-kan segalanya yang belum.

Alhamdulillaah, malam ini jalan pemikiran saya sudah dipahami. Aneh memang, bahwa dipahaminya kalimat dan kata yang saya susun dalam penjelasan harus diterjemahkan terlebih dahulu dalam bentuk bagan. Mungkin benar adanya bahwa saya lebih sering memakai komunikasi gaya konteks tinggi, sehingga membutuhkan satu proses untuk memahaminya.

Menjadi pelajaran bagi saya, menyerah dalam sebuah proses adalah tindakan tidak dewasa. Ya, saya memang hampir menyerah saat muncul tuduhan tersebut dan masih ditambah dengan rasa frustasi karena ketidakmampuan saya memberi penjelasan mudah tentang jalan pikiran saya (pada kemarin malam).

Pagi tadi pun saya menjalankan ide dengan aras-arasen karena sedikit patah semangat. Dan sebagaimana biasanya, saya kerjakan dengan berusaha tetap bungah dan gembira, untuk menutup sedalam mungkin potensi emosi jiwa yang memungkinkan membawa energi negatif.

Pada akhirnya, malam ini, semuanya berbuah manis. Gairah diskusi muncul kembali (termasuk ide gila membuat bagan!) dan menghasilkan kesepakatan baru: siap memulai perjuangan.

Apa nama perjuangan itu? Saya menamainya “Karangwaru Jayabinangun”. Terinspirasi dari lakon pewayangan “Baratayudha Jayabinangun”, namun saya hapus kata “yudha”-nya, agar kesan “berlaga” atau “peperangan”-nya hilang. Perang membawa energi negatif, bukan kedamaian.

Ya, Karangwaru Jayabinangun, Karangwaru (yang) Membangun Kejayaannya. Demikian perjuangan ini dimulai. Semoga Allaah Ta’aala memudahkan. Amin.

Blunyah Gede, 14 Juli 2011. Ahmad Rahma Wardhana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *