MTQ UGM 2010, Sebuah Anak Tangga yang Tak Terlupakan

Bagian I: Jalannya Perlombaan – Optimisme versus Pesimisme

Lewat kicauan di twitter, kemarin sudah saya singkat-kisahkan keterlibatan diri saya dalam Tim MTQ UGM dalam ajang MTQ Mahasiswa Nasional 2011 di Makassar. Insya-Allaah tulisan ini akan mengungkap lebih detail kisah tersebut.

Catatan            : sudah sejak lama ingin mengisahkan ini, namun saya menunggu momen yang tepat, yakni selesainya proses dan hasil MTQ Mahasiswa Nasional.

***

Mendaftar Perlombaan – Sejarah yang Menjadi Penyemangat

Bulan Oktober 2010, saya dikejutkan dengan sebuah poster yang beredar di seantero kampus UGM, yaitu poster dari Direktorat Kemahasiswaan (Dirmawa) UGM tentang diadakannya Musabaqah Tilawatil Qur`an (MTQ) alias Lomba-lomba tentang al-Qur`an di tingkat UGM. MTQ tingkat UGM ini diselenggarakan sebagai persiapan dalam menghadapi MTQ Mahasiswa Nasional pada Juli 2011 di Makassar.

Pengumuman tersebut membuka kembali memori indah di akhir tahun 2006. Saat itu saya mengikuti MTQ tingkat Sekolah Umum se-Kota Yogyakarta dan berhasil meraih Juara II dalam cabang Musabaqah Syarhil Qur`an (MSQ) sebagai wakil dari almamater tercinta, SMA Negeri 4 Yogyakarta.

Alhasil, saya kemudian bersegera menuju ke kantor Dirmawa UGM untuk mendaftarkan diri. Tentu saja saya mendaftar ke cabang lomba yang diri saya mampu mengembannya. Perlu diketahui, saya bersyukur punya kehendak untuk mengukur kemampuan diri sendiri. Sehingga, dengan penuh kesadaran, saya yang

  1. dikaruniai suara biasa,
  2. sedikit hafalan ayat Qur`an-nya,
  3. rasa-rasanya tidak mempunyai bakat kaligrafer, serta
  4. belum pula diberkahi dengan pemahaman mendalam tentang ilmu-ilmu seputar Qur`an,

tentu saja tidak mungkin mendaftar untuk cabang Tartil atau Qira`ah (membaca indah), Hifdzil (hafalan), Khat (kaligrafi), maupun Fahmil (pemahaman Qur`an).

Saya mendaftar di cabang Pidato Kandungan al-Qur`an, yang mana cabang tersebut merupakan pecahan dari cabang MSQ. MSQ sendiri merupakan cabang yang paling seru dalam sebuah hajat besar MTQ. MSQ terdiri dari tiga orang peserta. Satu orang membaca ayat Qur`an dengan tartil, satu orang membaca puitisasi terjemahan ayat Qur`an, dan satu orang terakhir memberikan syarah, yakni ulasan dan penjelasan tentang ayat yang dibahas.

Di MTQ UGM, MSQ dipecah menjadi dua macam cabang yang berbeda, Pidato Kandungan al-Qur`an dan Puitisasi Kandungan al-Qur`an. Dan mendaftarlah saya di cabang Pidato, sembari berharap bahwa bakat omong saya bisa menjadi keberkahan tersendiri dengan menyalurkannya di bidang dakwah. ^_^

Jalannya Perlombaan – Menampakkan Kepolosan Diri

MTQ UGM diadakan di Masjid Kampus UGM pada hari Ahad, 27 Oktober 2010. Rival saya di cabang Pidato ternyata cukup banyak, sekitar 20 orang yang berasal dari berbagai Fakultas dan Jurusan. Saya yang kebetulan  mendapat nomor urut agak akhir sempat jatuh-bangun optimismenya, karena menyaksikan puluhan peserta lain yang apik, indah, dan piawai dalam menghabiskan waktu tujuh menit untuk berpidato.

Ada misalnya beberapa peserta perempuan dengan gaya orator keagamaan. Suaranya keras dan jelas, intonasinya kuat, pembacaan ayatnya juga fasih (belakangan saya ketahui bahwa salah satu dari mereka ternyata pernah maju MSQ di tingkat nasional).

Ada juga peserta yang berpidato dengan gaya Bung Karno yang berapi-api atau style Aa’ Gym yang bersahabat. Bahkan ada yang gayanya sangat memikat dan halus sehingga saya berkesimpulan dialah pemenangnya (kepolosan saya nampak di sini karena saya baru tahu belakangan bahwa ternyata dia yang memakai gaya ini adalah Ketua BEM Teknik!).

Yang semakin memperburuk suasana optimisme saya adalah adanya peserta yang berhasil berpidato/berceramah dengan gaya yang menarik karena sukses membuat peserta lain (dan penonton) tertawa! Intinya, mendapat urutan hampir akhir benar-benar mengaduk perasaan saya, dari optimis menjadi pesimis.

Tibalah giliran saya maju. Sejak awal saya beranggapan bahwa dalam konteks perlombaan menjadi berbeda adalah sebuah kekuatan. Maka, ketika peserta lain memakai celana panjang, peci putih bulat atau kotak, berbaju koko atau mengenakan jaket-semi-jas; saya benar-benar ekstrim dalam berpakaian:

  • sarung hijau,
  • batik lengan panjang dengan pin garuda pancasila di dada kiri,
  • sorban hijau di pundak kanan, serta
  • sorban putih terlilit di kepala.

Pesannya jelas, tarik perhatian pemirsa!

Setelah membaca muqaddimah, saya buka ceramah saya dengan berdialog,

“Ingat nggak dengan iklan pasta gigi yang mempertarungkan dua anak kecil? Ilmiah! Alami! Ilmiah! Alami! Tahukah Anda bahwa bencana yang sedang menimpa umat manusia juga bermacam-macam sumbernya? Ya, ada bencana alamiah dan ada pula bencana ilmiah.

##[prolog dalam ceramah ini sengaja saya buat aneh, yakni dengan membawa penonton ke arah yang tidak disangka sama sekali, agar menjadi menarik]##

Kemudian saya jelaskan bahwa bencana alamiah adalah dalam pengertian bencana dari Allaah sebagai ujian bagi umat manusia (misal: al Baqarah 155-157 atau al-‘Ankabut 2-3) sedangkan bencana ilmiah adalah bencana karena ulah manusia sendiri yang berlebihan dalam menggunakan ilmu dan teknologi (tafsir atas al Baqarah 33 tentang potensi manusia). Lebih jauh, saya uraikan dengan bahasa awam tentang global warming dan climate change yang berdampak langsung pada ekstrimnya cuaca di Indonesia.

##[ini yang disebut dengan isi ceramah, inti pembahasan berdasar atas ayat Qur`an. Menjadi lebih menggugah ketika yang dibahas adalah persoalan modern nan ilmiah, namun bahasanya serta penyampainnya manusiawi a. k.a. awam.

Satu hal menjadi catatan penting adalah penggunaan kata populer akan membawa penonton tergelak dan tertawa, di mana dalam bagian ini saya sempat menggunakan redaksi lebay untuk menggambarkan betapa berlebihannya ulah manusia.]##

Dan sebagai penutup ceramah, saya memberikan imbauan,

“Maka dalam kesempatan kali ini saya mendorong, utamanya pada diri saya sendiri dan seluruh hadirin, agar memulai penghematan penggunaan energi fosil sebagai upaya riil mengurani global warming. Sederhana saja, misalnya dengan mengurangi penggunaan kendaraan bermotor atau mencabut alat-alat elektronik yang tak terpakai…”

##[termasuk dalam bagian penutup ini adalah saya menekankan pentingnya gerakan sekecil apapun, demi memulai perubahan besar dan signifikan.}##

Sayang sekali, tujuh menit saya habiskan dengan tidak sempurna, karena sempat terbata-bata (bahkan kemudian dibenarkan dan dituntun oleh juri!!!) saat melafadzkan ayat Qur`an yang menjadi landasan pembahasan.

Pasca-perlombaan – Evaluasi dari Sang Juri

Setelah selesai perlombaan saya merasa jatuh. Selain karena peserta lain yang dalam pandangan saya perfect, kesalahan saya dalam melafadzkan ayat telah saya simpulkan akan menjadi batu sandungan yang mematikan. Maka saya mencoba cara yang sebenarnya tidak memberkahi.

Saya mengajak berdiskusi salah seorang juri, di mana tema diskusi itu saya arahkan sedemikian rupa sehingga saya menjadi sempat untuk mengatakan bahwa saya pernah ikut MSQ di tingkat Kota Yogyakarta dan Juara Kedua. Namun juri tersebut memang sudah expert, karena scene saat saya menceritakan prestasi tersebut nampaknya tidak berkesan di dalam benak beliau.

Yang menarik adalah justru evaluasi dari beliau tentang saya. Beliau Sang Juri mengatakan kurang lebih,

“Mas, gaya Anda sudah bagus, seperti kyai-kyai di kampung, yang menjelaskan dengan cara seperti itu. Hanya satu kekurangannya, tidak ada sisi ketegasan, dalam penyampaian Anda. Tegas seperti gaya Bung Karno itu lho. Dan satu contoh da’i yang bagus adalah Zainuddin MZ, ada yang halus, tapi ada juga orasi dan ketegasannya.”

Kegalauan yang Bertransformasi menjadi Doa

Setelah mengucapkan terima kasih atas evaluasi tersebut, saya kemudian pulang ke rumah. Kesimpulan saya saat itu, saya kalah. Argumennya jelas: peserta lain yang penyampainnya lebih keren, kesalahan saya saat melafadzkan ayat Qur`an, dan gaya penyampaian saya yang tidak sempurna. Dan hari-hari menuju pengumuman pun berisikan kegalauan yang perlahan bertransformasi menjadi doa

##[dari 20-an peserta diambil tiga peserta untuk seleksi cabang Pidato tahap berikutnya.]##

***

Bersambung ke “Bagian II: Kejutan dan Tangisan yang Berpadu Menjadi Kisah Indah”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *