Memahami Cara Allaah Mengijabahi Doa (al-Baqarah 186)

Materi ini telah disampaikan sebagai kultum Tarawih di empat tempat, yakni Masjid al-Falaah Blunyah Gede, Masjid al-Amin Popongan Baru, Mushalla al-Mu’minun Blunyah Gede, dan Mushalla al-Ikhlas Mesan.

Salam. Muqaddimah.

Allaah Ta’aala berfirman dalam al-Qur`an surat al-Baqarah ayat 186

وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌ قلى اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَادَعَانِلافَلْيَسْتَجِيْبُوْالِيْ وَلْيُؤْمِنُوْابِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُ وْنَ.

Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Nabi Muhammad saw.) tentang Aku, maka (jawablah), sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, supaya mereka selalu berada dalam kebenaran.

Jama’ah rahimakumullaah.

Ayat ini berada di antara rincian ibadah puasa wajib, di mana muncul kesan ayat ini tidak padu dengan ayat sebelumnya dan sesudahnya. Ayat 185 merinci keringanan dalam berpuasa, sementara ayat 187 mengesahkan hubungan suami istri di malam hari pada bulan Ramadlan. Sedangkan ayat 186 membahas tentang jaminan kedekatan Allaah pada hamba Allaah sekaligus janji pengijabahan dalam setiap permohonan yang ditujukan kepada Allaah.

Kesan tidak padu bukan berarti tidak berkaitan sama sekali. Sebagaimana penjelasan Prof. Quraish Shihab, ayat ini memang diletakkan di antara penjelasan puasa wajib Ramadlan sebagai sebuah isyarat. Isyarat agar umat manusia yang beriman memperbanyak doa kepada Allaah, mempersering mengucapkan permohonan kepada Allaah, mendekatkan diri kepada Allaah Ta’aala, ketika memasuki bulan Ramadlan, sebagai pengiring ibadah puasa kita.

Melalui ayat tersebut, Allaah menjelaskan betapa dekatnya Dzat Allaah kepada umat manusia, kita semua. Pun dengan jaminan Allaah tentang ijabahnya doa kita yang dipintakan kehadirat Allaah Ta’aala, Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, tetapi dengan syarat maka hendaklah mereka memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, supaya mereka selalu berada dalam kebenaran. Syarat ini mutlak, yang dalam bahasa lain bisa kita sebut dengan syarat iman yaitu mempercayai dan takwa yakni menjalankan perintah Allaah sekaligus menjauh dari apa yang dilarang Allaah.

Hadirin rahimakumullaah.

Yang sering terjadi pada diri kita adalah tidak sempurna memahami keseluruhan ayat ini. Bahwa terijabahinya doa kita mencakup tiga syarat, terucapnya doa serta keimanan dan ketakwaan. Terucapnya doa, sebagaimana tercantum dalam ayat tersebut  “اِذَادَعَانِ”, apabila ia memohon kepada-Ku, merupakan bentuk penghambaan kita kepada Sang Pencipta, pengakuan akan kelemahan kita sebagai makhluk sekaligus pengakuan akan betapa mutlaknya kuasa Allaah pada kita.

Dalam proses mengusahakan sesuatu, sering pula muncul sikap sombong kita kepada Allaah. Merasa sudah banyak berkorban, merasa sudah keras bekerja, merasa sudah sering memohon, merasa sudah banyak berdoa, tetapi kenapa tak kunjung terijabah? Perasaan ini harus kita jawab dengan nurani kita masing-masing: sudahkah diri kita merasa cukup beriman dan cukup bertakwa?

Selain itu, kita juga harus tahu persis bagaimana cara Allaah Ta’aala mengijabahi doa kita. Ketika doa tak kunjung terkabul, maka ada tiga pilihan kemungkinan yang digariskan Allaah kepada kita:

  1. ditunda pengijabahannya untuk waktu yang akan datang, karena ketika doa tersebut serta-merta dikabulkan oleh Allaah, bisa jadi kita lupa bersyukur kepada Allaah disebabkan oleh rasa bahagia yang begitu besar; atau
  2. diganti dengan perlindungan Allaah kepada kita dari bala` atau bencana-bencana kecil yang kadang tidak kita sadari; atau
  3. ditunda pengijabahannya karena kelak akan menjadi nikmat tersendiri bagi diri kita di kehidupan yang sesungguhnya, kehidupan akhirat.

Ketiga kemungkinan tersebut sangat membutuhkan keimanan yang teguh di dalam nurani kita masing-masing.

Hadirin rahimakumullaah.

Ada sebuah kisah tentang bagaimana cara Allaah bekerja dalam memenuhi permohonan manusia.

Terkisahlah sebuah kapal penumpang yang karam. Satu orang berhasil menyelamatkan diri, bertahan hidup di sebuah pulau kosong, beberapa ratus meter dari lokasi tenggelamnya kapal.

Orang tersebut membangun semacam tenda dari pelepah dan daun kelapa, serta segala sesuatu yang ada di sekitarnya, untuk bertahan hidup, menanti datangnya bantuan. Tak lupa ia memanjatkan doanya kepada Tuhan, setiap hari, pagi maupun petang.

Suatu pagi, saat dia sedang mencari air tawar ke dalam pulau, agaknya ia lupa memadamkan api unggun. Sebuah bara diterbangkan angin, menyentuh tenda yang ia bangun. Terbakar.

Sekembalinya ke tepi pantai ia sangat terpukul. Melihat tendanya, rumahnya tempat bertahan hidup beberapa hari terakhir habis terbakar, menyisakan asap hitam pekat dan abu. Ia kemudian marah. Marah kepada Tuhan, merasa sudah berusaha bertahan hidup, merasa sudah berdoa, tetapi satu-satunya tempat yang ia punyai ditakdirkan hancur.

Satu jam sesudahnya ia semakin terkejut, karena tiba-tiba ada kapal kecil mendekat ke pulau untuk menyelematkannya.

Ketika ia bertanya bagaimana kapal tersebut bisa menemukannya, sang kapten kapal menjawab, “Saya melihat asap pekat membumbung dari pulau kosong. Pasti itu adalah Anda yang sedang bertahan hidup, yang kami cari selama beberapa hari terakhir ini!”

Hadirin rahimakumullaah.

Kadang, kita merasa banyak berusaha dan banyak berdoa, namun masih saja tidak mampu memahami cara kerja Allaah dalam mengabulkan cita dan asa kita. Sakit dan jatuh pada awal atau di tengah proses sebuah pencapaian adalah hal yang biasa, namun keimanan mengajarkan kepada kita bahwa itulah garis keputusan Allaah, Allaah tahu apa yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya. Ada hikmah di balik bencana, kata pepatah.

Perlu juga kita pahami, bahwa ada perbedaan signifikan antara apa itu kebutuhan dan apa itu keinginan. Sulit bagi kita membedakannya, terutama dalam mengucapkannya kepada Allaah di doa-doa kita. Allaah Ta’aala pastilah akan memenuhi kebutuhan kita, ketika adalah orang-orang yang beriman kepada Allaah. Tetapi belum tentu Allaah akan mengijabahi setiap keinginan kita.

Kebutuhan membawa makna segala sesuatu yang dibutuhkan oleh diri kita. Namanya saja butuh, kalau tidak dipenuhi ya bisa menjadi bencana pada diri kita. Maka, kebutuhan-lah yang akan selalu menjadi prioritas kita dalam hidup, pun dengan prioritas Allaah dalam mengabulkannya kepada kita.

Berbeda dengan keinginan. Manusia mempunyai imajinasi yang tak bertepi tentang apa-apa yang diinginkannya. Sabda Kanjeng Nabi saw., manusia itu kalau ditawari satu gunung emas, maka ia akan menanyakan gunung emas lainnya. Maka, keinginan sudah semestinya tidak menjadi prioritas, karena bisa jadi banyak di antara keinginan tersebut bukanlah apa yang kita butuhkan tetapi justru menjadi sebab bagi terjerumusnya diri kita pada jurang dosa. Allaah tahu persis tentang ini. Mana kebutuhan, mana keinginan.

Hadirin rahimakumullaah.

Seorang nenek pernah bertanya kepada cucunya,

“Nak, maukah kamu memakan telur ini?” tanya sang Nenek sembari mengacungkan sebutir telur.

“Nggak mau Nek, masak makan telur mentah?” jawab sang Cucu.

“Kalau di antara ini, adakah di antaranya yang kamu mau memakannya?” tanya sang Nenek kembali, sambil menyodorkan beberapa bahan pembuat kue seperti tepung terigu, baking soda, vanili, mentega, dan lain-lain.

Sang Cucu menjawab dengan wajah bertanya-tanya,”Ah, Nenek tu aneh-aneh aja, masak makan kayak gitu Nek? Jelas nggak ada yang mau, nggak ada yang enak dimakan!”

Sang Nenek kemudian menutup dialog itu dengan berkata, “Sekarang Cucu tidak mau memakannya. Tetapi nanti, saat kesemuanya berpadu menjadi kue, pasti tak akan kau tolak!”

Inilah cermin kehidupan umat manusia. Ada titik-titik kehidupan di mana kita jatuh, terpukul, dan tersakiti. Pada titik-titik kehidupan itu, ketika kita memandang dengan cara pandang sempit, maka yang muncul adalah pembenaran terhadap rasa sakit tersebut. Ya, saya jatuh. Ya, saya terpukul. Ya, saya tersakiti.

Tetapi, kalau kita melihatnya dari sudut pandang yang lebih luas, bahwa semua adalah proses panjang dalam menjalani kehidupan, bahwa masing-masing rasa sakit dan terpukul itu kemudian kita ramu, kita masak dengan resep keimanan dan ketakwaan, maka yang reaksi yang muncul atas titik-titik kejatuhan kita adalah rasa syukur dan berterima kasih kepada Allaah.

Sebagaimana diibaratkan kisah tadi, bahan-bahan roti ketika ia dirasakan bagian per bagian hambarlah rasanya. Namun saat bahan roti tersebut diramu dengan resep yang tepat dan dipanggang dengan suhu dan waktu yang pas, lezatlah rasanya.

Pun dengan kehidupan. Rasa sakit dan terpukul dalam bagian hidup kita akan menjadi sebuah kelezatan, hanya jika kita mampu meramunya dengan resep keimanan dan ketakwaan. Sungguh indah, ketika hidup ini penuh rasa syukur kepada Allaah. Ketenangan dan kedamaian akan selalu menyertai kehidupan kita, sebuah kelezatan dalam menikmati keimanan dan ketakwaan kepada Allaah Ta’aala.

Hadirin rahimakumullaah.

Pada Ramadlan tahun ini, sebagaimana hikmah ayat 186 surat al-Baqarah, mari kita mendekatkan diri kepada Allaah sembari berdoa kepada Allaah terhadap cita-cita dan asa kita dalam kedhidupan. Pada Ramadlan ini pula, bentuk pendekatan diri kepada Allaah adalah juga bagaimana kita memperbarui dan menguatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allaah, sehingga mampu menjadi bekal terbaik untuk menjalani kehidupan, sebagai resep manjur, mencapai lezatnya hidangan iman dan takwa.

Demikian penyampaian dari saya, kurang dan lebihnya mohon maaf.

Salam.

Seputar Ayat an-Nuur dan al-Ahzaab – Tentang Pakaian pada Wanita

Mencoba menjawab request seorang sahabat tentang jilbab dan kerudung. Bukan kualifikasi saya untuk menjawabnya dengan dalil dan argumen, maka saya kutipkan dari sumber yang terpercaya 🙂

_________________________________________________________________________

Dikutip tanpa perubahan dari Buku berjudul “Wawasan Al-Quran: Tafsir Tematik Atas Pelbagai Persoalan Umat” karya “M. Quraish Shihab”, Cetakan II (Desember 2007), diterbitkan oleh “Penerbit Mizan”, halaman 227-238

Wanita-wanita  Muslim,  pada  awal  Islam  di Madinah, memakai pakaian  yang  sama  dalam  garis   besar   bentuknya   dengan pakaian-pakaian  yang dipakai oleh wanita-wanita pada umumnya. Ini termasuk wanita-wanita  tuna  susila  atau  hamba  sahaya. Mereka  secara  umum  memakai  baju dan kerudung bahkan jilbab tetapi leher dan dada  mereka  mudah  terlihat.  Tidak  jarang mereka   memakai   kerudung  tetapi  ujungnya  dikebelakangkan sehingga telinga, leher  dan  sebagian  dada  mereka  terbuka.

Keadaan  semacam  itu digunakan oleh orang-orang munafik untuk menggoda  dan   mengganggu   wanita-wanita   termasuk   wanita Mukminah.  Dan  ketika  mereka  ditegur menyangkut gangguannya terhadap Mukminah, mereka berkata:  “Kami  kira  mereka  hamba sahaya.”  Ini  tentu  disebabkan  karena  ketika itu identitas mereka sebagai wanita Muslimah tidak  terlihat  dengan  jelas. Nah,  dalam  situasi  yang  demikian  turunlah  petunjuk Allah kepada Nabi yang menyatakan:

Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuan dan istri-istri orang Mukmin agar mengulurkan atas diri mereka jilbab-jilbab mereka. Yang demikian itu menjadikan mereka. Lebih mudah untuk dikenal (sebagai wanita Muslimah/wanita merdeka/orang baik-baik) sehingga mereka tidak diganggu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS A1-Ahzab [33]: 59).

Jilbab adalah  baju  kurung  yang  longgar  dilengkapi  dengan kerudung penutup kepala.

Ayat  ini  secara  jelas  menuntun/menuntut kaum Muslimah agar memakai pakaian  yang  membedakan  mereka  dengan  yang  bukan Muslimah  yang memakai pakaian tidak terhormat lagi mengundang gangguan tangan atau lidah yang usil. Ayat  ini  memerintahkan agar  jilbab  yang  mereka  pakai hendaknya diulurkan ke badan mereka.

Seperti tergambar di atas, wanita-wanita Muslimah sejak semula telah   memakai   jilbab,   tetapi   cara  pemakaiannya  belum menghalangi  gangguan  serta   belum   menampakkan   identitas Muslimah.

Nah, di sinilah Al-Quran memberi tuntunan itu.

Penjelasan  serupa tentang pakaian ditemukan pada surat Al-Nur (24): 31,

Katakanlah, kepada wanita yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang tampak darinya. Hendaklah mereka  mengulurkan/menutupkan kain kudung kedadanya dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau mertua mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara lelaki mereka, atau putra-putra saudara lelaki mereka, atau putra-putra saudara perempuan  mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan lelaki yang tidak mempunyai keinginan terhadap wanita, atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang yang beriman, supaya kamu beruntung.

Surat Al-Nur (24): 31 di atas, kalimat-kalimatnya cukup jelas. Tetapi  yang  paling  banyak  menyita  perhatian  ulama tafsir adalah larangan menampakkan zinah (hiasan)  yang  dikecualikan oleh  ayat  di atas dengan menggunakan redaksi illa ma zhahara minha [kecuali (tetapi) apa yang tampak darinya].

Mereka sepakat menyatakan bahwa zinah  berarti  hiasan  (bukan zina  yang  artinya  hubungan  seks yang tidak sah); sedangkan hiasan adalah segala sesuatu yang digunakan untuk  memperelok, baik   pakaian  penutup  badan,  emas  dan  semacamnya  maupun bahan-bahan make up.

Tetapi apa yang dimaksud dengan pengecualian itu? Inilah  yang mereka  bahas  secara  panjang lebar sekaligus merupakan salah satu kunci pemahaman ayat tersebut.

Ada yang berpendapat bahwa kata illa adalah istisna’ muttashil (satu  istilah  —  dalam  ilmu bahasa Arab yang berarti “yang dikecualikan merupakan  bagian/jenis  dari  apa  yang  disebut sebelumnya”),  dan  dalam penggalan ayat ini adalah zinah atau hiasan.

Ini  berarti  ayat  tersebut  berpesan:  “Hendaknya  janganlah wanita-wanita   menampakkan   hiasan  (anggota  tubuh)  mereka kecuali apa yang tampak.”

Redaksi ini, jelas tidak lurus, karena apa yang  tampak  tentu sudah  kelihatan.  Jadi, apalagi gunanya dilarang? Karena itu, lahir paling tidak tiga pendapat lain guna lurusnya  pemahaman redaksi tersebut.

Pertama,  memahami  illa  dalam arti tetapi atau dalam istilah ilmu  bahasa  Arab  istisna’   munqathi’   dalam   arti   yang dikecualikan  bukan  bagian/jenis yang disebut sebelumnya. Ini bermakna: “Janganlah mereka  menampakkan  hiasan  mereka  sama sekali;  tetapi apa yang tampak (secara terpaksa/bukan sengaja seperti ditiup angin dan lain-lain), maka itu dapat dimaafkan.

Kedua, menyisipkan kalimat dalam penggalan ayat  itu.  Kalimat dimaksud  menjadikan penggalan ayat itu mengandung pesan lebih kurang: “Janganlah mereka (wanita-wanita)  menampakkan  hiasan (badan  mereka).  Mereka  berdosa  jika  demikian. Tetapi jika tampak tanpa disengaja, maka mereka tidak berdosa.”

Penggalan ayat –jika dipahami dengan kedua pendapat di atas– tidak  menentukan  batas  bagi  hiasan yang boleh ditampakkan, sehingga berarti seluruh  anggota  badan  tidak  boleh  tampak kecuali dalam keadaan terpaksa.

Tentu  saja  pemahaman  ini, mereka kuatkan pula dengan sekian banyak hadis, seperti sabda  Nabi  Saw.  kepada  Ali  bin  Abi Thalib yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan At-Tirmidzi melalui Buraidah:

Wahai Ali, jangan ikutkan pandangan pertama  dengan  pandangan kedua.  Yang  pertama  Anda  ditolerir,  dan  yang  kedua anda berdosa.

Riwayat berikut juga dijadikan alasan,

Pemuda, Al-Fadhl bin Abbas, ketika haji Wada’ menunggang unta bersama Nabi Saw., dan ketika itu ada seorang wanita cantik, yang ditatap terus-menerus oleh Al-Fadhl. Maka Nabi Saw. memegang dagu Al-Fadhl dan mengalihkan wajahnya agar ia tidak melihat wanita tersebut secara terus-menerus.

Demikian  diriwayatkan  oleh  Bukhari  dari  saudara  Al-Fadhl sendiri, yaitu Ibnu Abbas.

Bahkan penganut pendapat ini merujuk kepada ayat A1-Quran,

Dan apabila kamu meminta sesuatu dan mereka, maka mintalah dari belakang tabir (QS Al-Ahzab 133]: 53).

Ayat  ini  walaupun  berkaitan  dengan permintaan sesuatu dari istri Nabi, namun dijadikan oleh ulama penganut kedua pendapat di atas, sebagai dalil pendapat mereka.

Ketiga,  memahami  “kecuali  apa  yang tampak” dalam arti yang yang biasa dan atau dibutuhkan keterbukaannya  sehingga  harus tampak.”  Kebutuhan  disini  dalam  arti menimbulkan kesulitan bila bagian badan tersebut ditutup. Mayoritas  ulama  memahami penggalan  ayat  tersebut  dalam arti ketiga ini. Cukup banyak hadis yang mendukung pendapat ini. Misalnya:

Tidak dibenarkan bagi seorang wanita yang percaya kepada Allah dan hari kemudian untuk menampakkan kedua tangannya, kecuali sampai di sini (Nabi kemudran memegang setengah tangan belõau) (HR Ath-Thabari).

Apabila wanita telah haid, tidak wajar terlihat darinya kecuali wajah dan tangannya sampai ke pergelangan (HR Abu Daud).

Pakar tafsir Al-Qurthubi, dalam tafsirnya  mengemukakan  bahwa ulama  besar  Said  bin Jubair, Atha dan Al-Auzaiy berpendapat bahwa yang boleh dilihat hanya  wajah  wanita,  kedua  telapak tangan  dan  busana  yang dipakainya. Sedang sahabat Nabi Ibnu Abbas, Qatadah, dan Miswar bin  Makhzamah,  berpendapat  bahwa yang  boleh  termasuk  juga  celak mata, gelang, setengah dari tangan  yang  dalam  kebiasaan  wanita  Arab  dihiasi/diwarnai dengan  pacar  (yaitu  semacam zat klorofil yang terdapat pada tumbuhan  yang  hijau),  anting,   cincin,   dan   semacamnya. Al-Qurthubi juga mengemukakan hadis yang menguraikan kewajiban menutup setengah tangan.

Syaikh Muhammad Ali As-Sais, Guru Besar  Universitas  Al-Azhar Mesir,  mengemukakan  dalam  tafsirnya-yang menjadi buku wajib pada Fakultas Syariah Al-Azhar bahwa Abu  Hanifah  berpendapat kedua  kaki,  juga  bukan aurat. Abu Hanifah mengajukan alasan bahwa ini lebih menyulitkan dibanding dengan tangan, khususnya bagi  wanita-wanita  miskin  di  pedesaan  yang  (ketika  itu) seringkali berjalan (tanpa alas kaki) untuk memenuhi kebutuhan mereka.  Pakar  hukum Abu Yusuf bahkan berpendapat bahwa kedua tangan wanita bukan aurat, karena dia menilai bahwa mewajibkan untuk menutupnya menyulitkan wanita.

Dalam  ajaran  Al-Quran memang kesulitan merupakan faktor yang menghasilkan kemudahan. Secara tegas Al-Quran menyatakan bahwa Allah tidak berkehendak menjadikan bagi kamu sedikit kesulitan pun (QS Al-Ma-idah [5]: 6) dan bahwa  Allah  menghendaki  buat kamu kemudahan bukan kesulitan (QS Al-Baqarah [2): 185).

Pakar tafsir Ibnu Athiyah sebagaimana dikutip oleh Al-Qurthubi berpendapat:

Menurut hemat saya, berdasarkan redaksi ayat, wanita diperintahkan untuk tidak menampakkan dan berusaha menutup segala sesuatu yang berupa hiasan. Pengecualian, menurut hemat saya, berdasarkan keharusan gerak menyangkut (hal-hal) yang mesti, atau untuk perbaikan sesuatu dan semacamnya.

Kalau  rumusan  Ibnu  Athiyah  diterima,  maka  tentunya  yang dikecualikan  itu  dapat  berkembang  sesuai  dengan kebutuhan mendesak yang dialami seseorang.

Al-Qurthubi berkomentar:

Pendapat (Ibnu Athiyah) ini baik. Hanya saja karena wajah dan kedua telapak tangan seringkali (biasa) tampak –baik sehari-hari maupun dalam ibadah seperti ketika shalat dan haji– maka sebaiknya redaksi pengecualian “kecuali yang tampak darinya” dipahami sebagai kecuali wajah dan kedua telapak tangan yang biasa tampak itu.

Demikian terlihat pakar hukum ini  mengembalikan  pengecualian tersebut  kepada  kebiasaan  yang  berlaku.  Dari  sini, dalam Al-Quran  dari  Terjemah-nya  susunan  Tim  Departemen  Agama, pengecualian  itu  diterjemahkan  sebagai kecuali yang (biasa) tampak darinya.

Nah, Anda boleh bertanya,  apakah  “kebiasaan”  yang  dimaksud berkaitan dengan kebiasaan wanita pada masa turunnya ayat ini, atau kebiasaan wanita di setiap masyarakat Muslim  dalam  masa yang  berbeda-beda?  Ulama  tafsir memahami kebiasaan dimaksud adalah kebiasaan pada masa  turunnya  Al-Quran,  seperti  yang dikemukakan Al-Qurthubi di atas.

Sebelum  menengok  kepada pendapat beberapa ulama kontemporer, ada baiknya kita melanjutkan sedikit lagi uraian ayat di atas, menyangkut kerudung.

Hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke atas juyubi-hinna (dada mereka).

Juyub  adalah  jamak jaib yaitu lubang yang terletak di bagian atas pakaian yang biasanya menampakkan (sebagian) dada.

Kandungan ayat ini berpesan agar dada ditutup dengan  kerudung (penutup  kepala).  Apakah  ini  berarti bahwa kepala (rambut) juga harus ditutup? Jawabannya, “ya”. Demikian  pendapat  yang logis,    apalagi   jika   disadari   bahwa   “rambut   adalah hiasan/mahkota wanita”. bahwa ayat ini tidak  menyebut  secara

tegas  perlunya  rambut  ditutup,  hal ini agaknya tidak perlu disebut. Bukankah mereka telah memakai kudung  yang  tujuannya adalah menutup rambut?

PENDAPAT BEBERAPA ULAMA KONTEMPORER TENTANG JILBAB

Di  atas  –semoga  telah  tergambar–  tafsir serta pandangan ulama-ulama mutaqaddimin (terdahulu) tentang persoalan  jilbab dan  batas  aurat wanita. Tidak dapat disangkal bahwa pendapat tersebut didukung oleh banyak ulama kontemporer. Namun  amanah ilmiah  mengundang  penulis  untuk  mengemukakan pendapat yang berbeda  –dan  yang  boleh   jadi   dapat   dijadikan   bahan pertimbangan  dalam menghadapi kenyataan yang ditampilkan oleh mayoritas wanita Muslim dewasa ini.

Muhammad Thahir bin Asyur seorang ulama besar dari Tunis, yang diakui juga otoritasnya dalam bidang ilmu agama, menulis dalam Maqashid Al-Syari’ah sebagal berikut:

Kami percaya bahwa adat kebiasaan satu kaum tidak boleh –dalam kedudukannya sebagai adat– untuk dipaksakan terhadap kaum lain atas nama agama, bahkan tidak dapat dipaksakan pula terhadap kaum itu.

Bin Asyur kemudian memberikan beberapa  contoh  dari  Al-Quran dan  Sunnah Nabi. Contoh yang diangkatnya dari Al-Quran adalah surat Al-Ahzab (33): 59, yang memerintahkan kaum Mukminah agar mengulurkan jilbabnya. Tulisnya:

Di dalam Al-Quran dinyatakan, Wahai Nabi, katakan kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan wanita-wanita Mukmin; hendak1ah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka, yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal sehingga tidak diganggu. Ini adalah ajaran yang mempertimbangkan adat orang-orang Arab, sehingga bangsa-bangsa lain yang tidak menggunakan jilbab, tidak memperoleh bagian (tidak berlaku bagi mereka) ketentuan ini.

Dalam kitab tafsirnya ia menulis bahwa:

Cara memakai jilbab berbeda-beda sesuai dengan perbedaan keadaan wanita dan adat mereka. Tetapi tujuan perintah ini adalah seperti bunyi ayat itu yakni “agar mereka dapat dikenal (sebagai wanita Muslim yang baik) sehingga tidak digangu” (Tafsir At-Tahrir, jilid XXII, hlm. 10).

Tetapi   bagaimana  dengan  ayat-ayat  ini,  yang  menggunakan redaksi perintah?

Jawabannya –yang sering  terdengar  dalam  diskusi–  adalah: Bukankah  tidak  semua  perintah yang tercantum dalam Al-Quran merupakan  perintah  wajib?  Pernyataan  itu,  memang   benar. Perintah  menulis  hutang-piutang  (QS  Al-Baqarah  [2]:  282) adalah salah satu contohnya.

Tetapi bagaimana  dengan  hadis-hadis  yang  demikian  banyak? Jawabannya  pun  sama.  Bukankah seperti yang dikemukakan oleh Bin Asyur di atas bahwa ada hadis-hadis  Nabi  yang  merupakan perintah,   tetapi   perintah  dalam  arti  “sebaiknya”  bukan seharusnya. (Lihat  kembali  uraian  tentang  memakai  pakaian sutera, cincin, emas pada buku ini).

Memang, kita boleh berkata bahwa yang menutup seluruh badannya kecuali wajah dan (telapak) tangannya, menjalankan bunyi  teks ayat  itu, bahkan mungkin berlebih. Namun dalam saat yang sama kita tidak wajar menyatakan terhadap mereka yang tidak memakai kerudung,   atau  yang  menampakkan  tangannya,  bahwa  mereka “secara  pasti  telah  melanggar  petunjuk  agama”.   Bukankah Al-Quran  tidak  menyebut  batas  aurat? Para ulama pun ketika membahasnya berbeda pendapat.

Namun demikian, kehati-hatian amat dibutuhkan, karena  pakaian lahir  dapat  menyiksa  pemakainya  sendiri  apabila  ia tidak sesuai dengan bentuk badan si pemakai.  Demikian  pun  pakaian batin.  Apabila tidak sesuai dengan jati diri manusia, sebagai hamba Allah, yang paling mengetahui ukuran dan patron  terbaik buat manusia.

***