Memahami Cara Allaah Mengijabahi Doa (al-Baqarah 186)

Materi ini telah disampaikan sebagai kultum Tarawih di empat tempat, yakni Masjid al-Falaah Blunyah Gede, Masjid al-Amin Popongan Baru, Mushalla al-Muโ€™minun Blunyah Gede, dan Mushalla al-Ikhlas Mesan.

Salam. Muqaddimah.

Allaah Taโ€™aala berfirman dalam al-Qur`an surat al-Baqarah ayat 186

ูˆูŽุงูุฐูŽุง ุณูŽุงูŽู„ูŽูƒูŽ ุนูุจูŽุงุฏููŠู’ ุนูŽู†ูู‘ูŠู’ ููŽุงูู†ูู‘ูŠู’ ู‚ูŽุฑููŠู’ุจูŒ ู‚ู„ู‰ ุงูุฌููŠู’ุจู ุฏูŽุนู’ูˆูŽุฉูŽ ุงู„ุฏู‘ูŽุงุนู ุงูุฐูŽุงุฏูŽุนูŽุงู†ูู„ุงููŽู„ู’ูŠูŽุณู’ุชูŽุฌููŠู’ุจููˆู’ุงู„ููŠู’ ูˆูŽู„ู’ูŠูุคู’ู…ูู†ููˆู’ุงุจููŠู’ ู„ูŽุนูŽู„ู‘ูŽู‡ูู…ู’ ูŠูŽุฑู’ุดูุฏู ูˆู’ู†ูŽ.

Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Nabi Muhammad saw.) tentang Aku, maka (jawablah), sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, supaya mereka selalu berada dalam kebenaran.

Jamaโ€™ah rahimakumullaah.

Ayat ini berada di antara rincian ibadah puasa wajib, di mana muncul kesan ayat ini tidak padu dengan ayat sebelumnya dan sesudahnya. Ayat 185 merinci keringanan dalam berpuasa, sementara ayat 187 mengesahkan hubungan suami istri di malam hari pada bulan Ramadlan. Sedangkan ayat 186 membahas tentang jaminan kedekatan Allaah pada hamba Allaah sekaligus janji pengijabahan dalam setiap permohonan yang ditujukan kepada Allaah.

Kesan tidak padu bukan berarti tidak berkaitan sama sekali. Sebagaimana penjelasan Prof. Quraish Shihab, ayat ini memang diletakkan di antara penjelasan puasa wajib Ramadlan sebagai sebuah isyarat. Isyarat agar umat manusia yang beriman memperbanyak doa kepada Allaah, mempersering mengucapkan permohonan kepada Allaah, mendekatkan diri kepada Allaah Taโ€™aala, ketika memasuki bulan Ramadlan, sebagai pengiring ibadah puasa kita.

Melalui ayat tersebut, Allaah menjelaskan betapa dekatnya Dzat Allaah kepada umat manusia, kita semua. Pun dengan jaminan Allaah tentang ijabahnya doa kita yang dipintakan kehadirat Allaah Taโ€™aala, Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, tetapi dengan syarat maka hendaklah mereka memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, supaya mereka selalu berada dalam kebenaran. Syarat ini mutlak, yang dalam bahasa lain bisa kita sebut dengan syarat iman yaitu mempercayai dan takwa yakni menjalankan perintah Allaah sekaligus menjauh dari apa yang dilarang Allaah.

Hadirin rahimakumullaah.

Yang sering terjadi pada diri kita adalah tidak sempurna memahami keseluruhan ayat ini. Bahwa terijabahinya doa kita mencakup tiga syarat, terucapnya doa serta keimanan dan ketakwaan. Terucapnya doa, sebagaimana tercantum dalam ayat tersebut ย โ€œุงูุฐูŽุงุฏูŽุนูŽุงู†ูโ€, apabila ia memohon kepada-Ku, merupakan bentuk penghambaan kita kepada Sang Pencipta, pengakuan akan kelemahan kita sebagai makhluk sekaligus pengakuan akan betapa mutlaknya kuasa Allaah pada kita.

Dalam proses mengusahakan sesuatu, sering pula muncul sikap sombong kita kepada Allaah. Merasa sudah banyak berkorban, merasa sudah keras bekerja, merasa sudah sering memohon, merasa sudah banyak berdoa, tetapi kenapa tak kunjung terijabah? Perasaan ini harus kita jawab dengan nurani kita masing-masing: sudahkah diri kita merasa cukup beriman dan cukup bertakwa?

Selain itu, kita juga harus tahu persis bagaimana cara Allaah Taโ€™aala mengijabahi doa kita. Ketika doa tak kunjung terkabul, maka ada tiga pilihan kemungkinan yang digariskan Allaah kepada kita:

  1. ditunda pengijabahannya untuk waktu yang akan datang, karena ketika doa tersebut serta-merta dikabulkan oleh Allaah, bisa jadi kita lupa bersyukur kepada Allaah disebabkan oleh rasa bahagia yang begitu besar; atau
  2. diganti dengan perlindungan Allaah kepada kita dari bala` atau bencana-bencana kecil yang kadang tidak kita sadari; atau
  3. ditunda pengijabahannya karena kelak akan menjadi nikmat tersendiri bagi diri kita di kehidupan yang sesungguhnya, kehidupan akhirat.

Ketiga kemungkinan tersebut sangat membutuhkan keimanan yang teguh di dalam nurani kita masing-masing.

Hadirin rahimakumullaah.

Ada sebuah kisah tentang bagaimana cara Allaah bekerja dalam memenuhi permohonan manusia.

Terkisahlah sebuah kapal penumpang yang karam. Satu orang berhasil menyelamatkan diri, bertahan hidup di sebuah pulau kosong, beberapa ratus meter dari lokasi tenggelamnya kapal.

Orang tersebut membangun semacam tenda dari pelepah dan daun kelapa, serta segala sesuatu yang ada di sekitarnya, untuk bertahan hidup, menanti datangnya bantuan. Tak lupa ia memanjatkan doanya kepada Tuhan, setiap hari, pagi maupun petang.

Suatu pagi, saat dia sedang mencari air tawar ke dalam pulau, agaknya ia lupa memadamkan api unggun. Sebuah bara diterbangkan angin, menyentuh tenda yang ia bangun. Terbakar.

Sekembalinya ke tepi pantai ia sangat terpukul. Melihat tendanya, rumahnya tempat bertahan hidup beberapa hari terakhir habis terbakar, menyisakan asap hitam pekat dan abu. Ia kemudian marah. Marah kepada Tuhan, merasa sudah berusaha bertahan hidup, merasa sudah berdoa, tetapi satu-satunya tempat yang ia punyai ditakdirkan hancur.

Satu jam sesudahnya ia semakin terkejut, karena tiba-tiba ada kapal kecil mendekat ke pulau untuk menyelematkannya.

Ketika ia bertanya bagaimana kapal tersebut bisa menemukannya, sang kapten kapal menjawab, โ€œSaya melihat asap pekat membumbung dari pulau kosong. Pasti itu adalah Anda yang sedang bertahan hidup, yang kami cari selama beberapa hari terakhir ini!โ€

Hadirin rahimakumullaah.

Kadang, kita merasa banyak berusaha dan banyak berdoa, namun masih saja tidak mampu memahami cara kerja Allaah dalam mengabulkan cita dan asa kita. Sakit dan jatuh pada awal atau di tengah proses sebuah pencapaian adalah hal yang biasa, namun keimanan mengajarkan kepada kita bahwa itulah garis keputusan Allaah, Allaah tahu apa yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya. Ada hikmah di balik bencana, kata pepatah.

Perlu juga kita pahami, bahwa ada perbedaan signifikan antara apa itu kebutuhan dan apa itu keinginan. Sulit bagi kita membedakannya, terutama dalam mengucapkannya kepada Allaah di doa-doa kita. Allaah Taโ€™aala pastilah akan memenuhi kebutuhan kita, ketika adalah orang-orang yang beriman kepada Allaah. Tetapi belum tentu Allaah akan mengijabahi setiap keinginan kita.

Kebutuhan membawa makna segala sesuatu yang dibutuhkan oleh diri kita. Namanya saja butuh, kalau tidak dipenuhi ya bisa menjadi bencana pada diri kita. Maka, kebutuhan-lah yang akan selalu menjadi prioritas kita dalam hidup, pun dengan prioritas Allaah dalam mengabulkannya kepada kita.

Berbeda dengan keinginan. Manusia mempunyai imajinasi yang tak bertepi tentang apa-apa yang diinginkannya. Sabda Kanjeng Nabi saw., manusia itu kalau ditawari satu gunung emas, maka ia akan menanyakan gunung emas lainnya. Maka, keinginan sudah semestinya tidak menjadi prioritas, karena bisa jadi banyak di antara keinginan tersebut bukanlah apa yang kita butuhkan tetapi justru menjadi sebab bagi terjerumusnya diri kita pada jurang dosa. Allaah tahu persis tentang ini. Mana kebutuhan, mana keinginan.

Hadirin rahimakumullaah.

Seorang nenek pernah bertanya kepada cucunya,

โ€œNak, maukah kamu memakan telur ini?โ€ tanya sang Nenek sembari mengacungkan sebutir telur.

โ€œNggak mau Nek, masak makan telur mentah?โ€ jawab sang Cucu.

โ€œKalau di antara ini, adakah di antaranya yang kamu mau memakannya?โ€ tanya sang Nenek kembali, sambil menyodorkan beberapa bahan pembuat kue seperti tepung terigu, baking soda, vanili, mentega, dan lain-lain.

Sang Cucu menjawab dengan wajah bertanya-tanya,โ€Ah, Nenek tu aneh-aneh aja, masak makan kayak gitu Nek? Jelas nggak ada yang mau, nggak ada yang enak dimakan!โ€

Sang Nenek kemudian menutup dialog itu dengan berkata, โ€œSekarang Cucu tidak mau memakannya. Tetapi nanti, saat kesemuanya berpadu menjadi kue, pasti tak akan kau tolak!โ€

Inilah cermin kehidupan umat manusia. Ada titik-titik kehidupan di mana kita jatuh, terpukul, dan tersakiti. Pada titik-titik kehidupan itu, ketika kita memandang dengan cara pandang sempit, maka yang muncul adalah pembenaran terhadap rasa sakit tersebut. Ya, saya jatuh. Ya, saya terpukul. Ya, saya tersakiti.

Tetapi, kalau kita melihatnya dari sudut pandang yang lebih luas, bahwa semua adalah proses panjang dalam menjalani kehidupan, bahwa masing-masing rasa sakit dan terpukul itu kemudian kita ramu, kita masak dengan resep keimanan dan ketakwaan, maka yang reaksi yang muncul atas titik-titik kejatuhan kita adalah rasa syukur dan berterima kasih kepada Allaah.

Sebagaimana diibaratkan kisah tadi, bahan-bahan roti ketika ia dirasakan bagian per bagian hambarlah rasanya. Namun saat bahan roti tersebut diramu dengan resep yang tepat dan dipanggang dengan suhu dan waktu yang pas, lezatlah rasanya.

Pun dengan kehidupan. Rasa sakit dan terpukul dalam bagian hidup kita akan menjadi sebuah kelezatan, hanya jika kita mampu meramunya dengan resep keimanan dan ketakwaan. Sungguh indah, ketika hidup ini penuh rasa syukur kepada Allaah. Ketenangan dan kedamaian akan selalu menyertai kehidupan kita, sebuah kelezatan dalam menikmati keimanan dan ketakwaan kepada Allaah Taโ€™aala.

Hadirin rahimakumullaah.

Pada Ramadlan tahun ini, sebagaimana hikmah ayat 186 surat al-Baqarah, mari kita mendekatkan diri kepada Allaah sembari berdoa kepada Allaah terhadap cita-cita dan asa kita dalam kedhidupan. Pada Ramadlan ini pula, bentuk pendekatan diri kepada Allaah adalah juga bagaimana kita memperbarui dan menguatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allaah, sehingga mampu menjadi bekal terbaik untuk menjalani kehidupan, sebagai resep manjur, mencapai lezatnya hidangan iman dan takwa.

Demikian penyampaian dari saya, kurang dan lebihnya mohon maaf.

Salam.

8 thoughts on “Memahami Cara Allaah Mengijabahi Doa (al-Baqarah 186)”

  1. super sekali pak… mantapppp…. ๐Ÿ™‚ semakin membuka diri bahwa kita ini hanyak makhluk ALLAH yang tidak bisa berbuat apa-apa tanpa kekuasaan ALLAH. ALLAH tahu yang terbaik untuk kita. semoga bermanfaat ya pak..

  2. Subhanallah… ilmuwan yang lengkap, menguasai ilmu dunia dan ilmu akhirat, barakallah Mad ๐Ÿ‘๐Ÿป

    1. matur nuwun sanget sampun mampir, Bu Tien. Menika belum menguasai keduanya kok, hanya sekedar ngertos sekedhik mawon. Dan jangan lupa, salah satu sebabnya adl karena dimotivasi oleh guru-guru saya, salah satunya panjenengan, Bu Tien… Hehehehe… Sepindhah malih, matur nuwun sanget…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *