Kicau: #kebaikan

dua hari terakhir, hati saya terganggu oleh sebuah pertanyaan aneh tentang #kebaikan.

seseorang bertanya kepada saya tentang #kebaikan yang menrutnya tak pernah ia lakukan kepada saya. benarkah itu?

Benarkah “ia” tidak melakukan #kebaikan kepada saya? Atau memang saya harus menuliskannnya (kembali) satu persatu?

#kebaikanmu adalah mau mendengarku pada awal perjumpaan kita

#kebaikanmu adalah engkau memenuhi harapku untuk duduk pada di sebuah posisi. Terlepas dari motif apapun yang menjadi pijakanmu, engkau telah memenuhinya!

#kebaikanmu adalah (pernah) setia di ujung telepon mendengar ocehanku, meski pada akhirnya aku tahu sesungguhnya engkau tak mau mendengarnya

#kebaikanmu adalah mau bekerja bersama aku yang sedikit pengalaman ini, dalam sebuah perhelatan agung.

#kebaikanmu adalah mau menegurku dengan baik, demi kebaikan banyak orang, demi suksesnya perhelatan agung tersebut.

#kebaikanmu adalah menyadarkanku terhadap kesalahanku hingga pecah tangisku, demi suksesnya perhelatan agung tersebut.

#kebaikanmu adalah perkenananmu menerima kehadiranku di antara waktumu yang begitu sempit, meski hanya beberapa detik

#kebaikanmu adalah menerima apa yang kuberikan kepadamu dengan penuh ridla. (ingat, ada tipe org yang menerima tetapi tidak dengan ridla).

#kebaikanmu adalah mempercayaiku untuk menjadi pendengar kisah-kisahmu. ini adalah salah satu #kebaikanmu terbesarmu!

dan #kebaikan terbesarmu adalah mempercayaiku sebagai pembantu dalam memohonkan doa-doamu kehadirat-Nya.

demikian, sedikit di antara #kebaikanmu kepada diriku. masihkah kau menyangkal dengan redaksi “tak pernah berbuat baik”?

aku bersyukur masih dikaruniai ingatan untuk mengingat #kebaikan orang lain, utamanya #kebaikan darimu. jgn menyangkal. please!

demikian curahan hati saya yang terpendam beberapa hari terakhir. tentang #kebaikan seseorang kepada diriku. #the_end

Mahasiswa NU di Kampus Umum: Paripurna Persiapannya

Tulisan ini adalah penulisan ulang sambutan lisan yang saya sampaikan pada pemberangkatan rombongan KMNU UGM yang berziarah ke waliyullaah di Jawa Tengah, Jumat 11 November 2011.

Saya kaget saat kemarin mendengar berita tentang seorang Harry Tanoesoedibjo yang menyatakan diri bergabung dengan Partai NasDem. Artinya NasDem sudah mempunyai empat corong media, Metro TV, Global TV, RCTI, dan MNC TV. Pak Aburizal Bakrie ada dua TV, ANTV dan TV One. Pak SBY, setahu saya masih didukung oleh Pak Chairul Tanjung melalui Trans TV dan Trans 7-nya. Pada Pemilu 2009 kemarin nampak sekali keberpihakannya. Sedangkan SCTV sendiri sekarang memiliki 84% saham di Indosiar, yang keberpihakan politiknya menurut saya pribadi belum begitu nampak arahnya.

Pertanyaannya, di mana media yang menyiarkan suara-suara NU? Alhamdulillaah Gus Mus dan Kang Aqil Siradj sudah kersa menggunakan twitter dan facebook. Begitupun dengan PBNU yang gencar menggunakan internet sebagai media penerbitan berita-berita ke-NU-an. Namun itu kan masih kurang. Padahal media massa adalah salah satu pembentuk opini publik yang paling efektif.

Nah, sebelum melanjutkan ke pembahasan masalah media, saya ingin mengatakan bahwa kita adalah salah satu generasi bangsa yang terbaik. Kita adalah umat NU, Nahdlatul ‘Ulama, yang sudah seharusnya kuat iman dan takwa, luas dan dalam pengetahuan keberagamaannya, pintar ilmu akhiratnya. Di sisi lain, kita juga adalah cendekiawan di berbagai bidang keilmuan, dari berbagai kampus. Ada UGM, UNY, UIN, UII, AMIKOM, Kedokteran, Pertanian, Teknik, MIPA, Komunikasi, Politik Pemerintahan, Biologi, dan lain-lain. Ilmu akhirat bisa, ilmu dunia kita juga bisa. Apa yang belum kita punya?

Banyak para pembesar kita bagus keilmuannya, bagus pengetahuan agamanya. Tapi nyatanya banyak pula yang terjerat integritasnya, sebagaimana kita saksikan di media: korupsi, suap, dan semacamnya yang masih merajalela.

Maka, KMNU UGM adalah wadah yang tepat bagi kita untuk menguatkan sisi keagamaan kita, sisi spiritual kita. Ziarah Waliyullaah Jawa Tengah ini adalah salah satu contohnya. Menempa iman dan takwa. Mempertebal kesungguhan dalam beragama. Mendekatkan diri kepada Allaah Ta’aala, agar menjadi hamba-Nya yang paripurna imannya. Menjaga idealisme dalam kebaikan dan kebenaran agar senantiasa kokoh di dalam jiwa raga kita.

Di sisi yang lain, kita semua yang berasal dari berbagai kampus, UGM, UNY, UIN, UII, AMIKOM. Dari beragam jurusan, berbagai program studi, berbagai bidang keilmuan, mari tekuni dengan sempurna bidang keilmuan kita masing-masing, sehingga mencapai derajat seorang pakar.

NU sebenarnya tidak pernah kekurangan ahli dan pakar di semua bidang keilmuan, hanya saja kemampuan manajerial kita memang masih lemah. Buktinya, saat ini setidaknya ada 118 kader muda NU lintas ilmu. NU-nya membawa konsekuensi iman-takwa, penguasaan nilai spiritual dan ranah akhirat. Kampus dan jurusannya membawa konsekuensi kepakaran, seorang cendekiawan di ilmu dan ranah keduniaan. Katakanlah, kader yang seimbang dunia-akhiratnya. Hanya saja NU belum mampu mengaturnya. Ya, kemampuan manajerial kita masih kurang.

Kesempatan berhimpun di KMNU ini adalah untuk memoles dua sisi kehidupan kita agar menjadi semakin sempurna. Bidang keagamaan diasah, bidang keilmuan kampus tetap dikejar. Bonusnya adalah insya-Allaah kita semua secara otomatis akan menciptakan jaringan kebajikan yang saling menguatkan satu dengan yang lainnya, saling mengingatkan satu dengan yang lainnya.

Kalau NU sampai sekarang belum mempunyai media untuk menyuarakan aspirasi dan prestasinya, maka menjadi tugas kitalah untuk mengisinya. Bagi yang ahli menulis, mari suarakan aspirasi dan prestasinya lewat tulisan. Bagi yang sering berprestasi, marilah berprestasi. Mari kita isi media dengan suara kita, suara aspirasi warga NU.

Kita berasal dari banyak daerah. Jawa Barat-Tengah-Timur, Jakarta, Sumatera, Kalimantan, dan wilayah-wilayah nusantara lain. Kelak, kita yang insya-Allaah paripurna kesungguhannya dalam menjaga keseimbangan keilmuan dunia-akhiratnya, mau beraksi, berbuat, dan bekerja di lingkungan kehidupan kita. Mau berprestasi di masyarakat sekitar kita, maka siapapun Presidennya, siapapun menterinya, siapapun gubernur, bupati, atau walikotanya, masyarakat tetap akan selalu tersenyum bahagia karena sentuhan hati dan tangan kita, atas nama pribadi masing-masing, atas nama NU.

Saya beri contoh. Di majalah Energi edisi Okober 2011, ada satu artikel menarik berjudul “Kiai Nyamplung”. Seorang kiai yang pernah nyantri di Pesantren Ciganjurnya Gus Dur, sukses membuat usaha biodiesel, solar yang berasal dari biji buah nyamplung. Beliau mendirikan laboratorium di Bantul dan Kebumen, sekaligus membeli biji nyamplung di sepanjang Kebumen sampai Kroya. Hasilnya, bermanfaat bagi para petani yang dibeli nyamplung-nya, bermanfaat bagi orang banyak karena menghasilkan solar yang hijau alias ramah lingkungan.

Contoh prestasi yang membawa manfaat nyata dari sang Kiai Nyamplung. Namun sayang kurang terekspos karena keterbatasan kita sebagai warga NU ke media massa yang besar.

Benar adanya, kita harus menjaga nilai-nilai tradisi sunnah yang sering sekali keliru dianggap bid’ah. Benar adanya, kita harus melestarikan ziarah dan maulid, tahlil dan wirid, serta shalawat. Tapi tugas kita yang lebih mulia, sebagai bentuk tanggung jawab mengemban ilmu umum adalah menggunakan ilmu tersebut untuk kemaslahatan umat. Bermanfaat bagi umat akan lebih menyentuh mereka, sebagaimana dakwah NU yang selama ini memang menyentuh hati umat, bil hikmah wa ma-u-izhatil hasanah.

Media bukanlah tujuan, tetapi alat kita untuk menyuarakan aspirasi dan prestasi, agar mampu menjadi energi pendorong bagi diri kita untuk terus menerus beraksi, bertindak, dan berbuat demi kemaslahatan umat, bermanfaat bagi orang lain. Mari berprestasi untuk masyarakat, atas nama pribadi dan NU, demi kejayaan Indonesia.

Sekali lagi, mari berziarah sebagai upaya spiritual kita, yang sesudahnya nanti untuk tetap berhimpun di KMNU agar menjaganya tetap bersemayam di dalam diri kita. Kemudian dengan tetap tekun menempuh bidang keilmuan kita hingga mencapai maqam pakar keilmuan. Maka paripurnalah persiapan kita untuk menjadi generasi muda NU yang siap terjun ke masyarakat nusantara Indonesia. Insya-Allaah.

Kresna Duta dan Indonesia, Awal Bharatayudha Jayabinangun Abad XXI-kah?

Wayang dan Kehidupan

Sering sekali muncul kemiripan antara kehidupan nyata dengan kisah-kisah di dunia pewayangan. Selain kisah wayang merupakan kesenian-kebudayaan yang sengaja dibuat sebagai pelajaran kehidupan, ada teori bahwa kisah pewayangan asli versi India adalah fakta-fakta sejarah yang pernah terjadi.

Ki Anom Sucondro, seorang dalang muda dari Kulonprogo pernah dalam pentasnya pernah mengatakan bahwa budaya yang populer saat ini adalah budaya instan yang tidak mendidik. Artinya, budaya tersebut tidak membawa penikmatnya untuk berpikir dan merenung. Berbeda dengan wayang yang penuh dengan simbol-simbol, perlambangan, serta nilai dan filosofi kehidupan, kesemuanya menuntut penikmatnya agar menggalih tontonan wayang, sedemikian rupa sehingga mampu bertransformasi menjadi tuntunan, pedoman hidup.

Ada sebuah lakon pewayangan masyhur yang menurut saya adalah gambaran tentang peristiwa yang saat ini sedang tercermin dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Dalam pemikiran saya, boleh jadi jalannya kehidupan Indonesia akan sama persis dengan lakon wayang tersebut, jika sikap kita sama persis dengan kisah di dalamnya. Padahal, ending dalam lakon itu adalah awal dari kisah pilu umat manusia: perang saudara.

Sekelumit Jalannya Cerita Kresna Duta

Kresna Duta, secara harfiah bermakna seorang bernama Kresna yang ditugaskan menjadi utusan. Yakni utusan alias duta bagi Pandawa untuk menghadap Kurawa. Adalah Pandawa (5 bersaudara) dan Kurawa (100 bersaudara), saudara sepupuan, ayah keduanya kakak-beradik. Pandawa dikenal sebagai pribadi yang baik, sedangkan Kurawa terkenal karena perangai buruknya.

Saat generasi Pandawa dan Kurawa digariskan memimpin sebuah negara, muncullah berbagai konflik. Dalam konflik ini Pandawa-lah yang selalu mengalah. Mengalah bukan karena kalah, tapi kebaikan hati dan prasangka baik Pandawalah yang bertindak saat menghadapi konflik-konflik itu. Pandawa ingin mendidik Kurawa bahwa keburukan pada akhirnya akan tunduk pada kebaikan.

Hingga pada suatu saat, telah selesai kewajiban yang harus dijalani Pandawa dalam kekalahannya melawan Kurawa. Dan mengutuslah Pandawa seorang raja besar bernama Kresna agar menemui Kurawa menyampaikan habisnya masa kewajiban tersebut, sekaligus agar Kresna meminta pengembalian hak-hak Pandawa yang dirampas oleh Kurawa selama Pandawa menjalani kewajiban –karena kekalahan.

Begitu Kresna tiba di depan Kurawa dan menyampaikan tujuan kedatangannya, di luar dugaan, Duryudana (Kurawa yang paling tua) berkenan memenuhi permintaan Pandawa –melalui utusan seorang Kresna– dan berjanji untuk mengembalikan semua hak Pandawa. Hal ini disampaikan Duryudana di depan para pembesar negerinya, para dewa, dan ayah-ibunya yang menjadi saksi petemuan tersebut.

Sesudah sabda Duryudana untuk memberikan kembali hak Pandawa terdengar, pergilah para dewa sekaligus ayah-ibunya. Pergi dengan kelegaan karena damainya Pandawa dengan Kurawa. Namun, sesaat seusai para dewa serta ayah-ibunya meninggalkan majelis itu, tiba-tiba Duryudana menarik kembali semua ucapannya. Bahkan ia sampai bersumpah tidak akan memberikan apapun yang sudah di tangannya, meskipun sebenarnya bukan haknya, serta mempertahankannya sampai titik darah penghabisan.

Mendengar hal itu Kresna kemudian marah. Kemarahannya, sebagaimana biasanya, mengubah wujud Kresna menjadi raksasa yang siap menghancurkan apapun yang ingin ia hancurkan. Beruntung ada seorang dewa yang kembali ke bumi dan menenangkannya. Kembalilah Kresna ke wujud manusianya dan langsung meninggalkan Kurawa.

Brahala – Triwikrama

Akhir kisah Kresna Duta adalah genderang perang Bharatayudha. Kurawa yang dengan damai tidak berkenan mengembalikan hak Pandawa, maka jalan terakhir adalah Pandawa harus merebutnya dengan kekerasan, sebuah perang. Perang yang tentu saja selalu mengorbankan mereka yang lemah dan tak bersalah. Menewaskan mereka yang tak tahu menahu sebab musababnya. Mengadu persaudaraan menjadi permusuhan.

Bharatayudha Jayabinangun Abad XXI?

Melihat apa yang sering terjadi saat ini di Indonesia, kok menurut saya mirip dengan lakon Kresna Duta ya? Kejahatan dan perilaku bobrok sebagian pembesar negeri sudah ditampakkan oleh sebagian pembesar yang lain. Korupsi dibongkar, kelakuan tidak pantas dibeberkan, pejabat terbukti bersalah di pengadilan, rekayasa-rekayasa terungkap, dan seterusnya, dan sebagainya, dan lain-lain. Akan tetapi sungguh menakjubkan, bahwa perilaku semacam itu kenapa masih terus terjadi? Apakah pengungkapan-pengungkapan yang terus menerus terjadi tidak menyadarkan mereka (yang bobrok dan jahat)?

Bahasa wayangnya, Kresna sudah meminta kembali hak Pandawa. Kresna menampakkan kebenaran, menunjukkan mana yang benar mana yang salah. Tetapi ditolak mentah-mentah oleh Kurawa. Kejahatan tetap jalan, perampasan jalan terus, teriakan kebenaran tak dipedulikan. Satu-satunya jalan keluar adalah kebenaran harus merebut haknya, meski dengan kekerasan. Perang. Perang saudara. Pandawa yang lima dan sekutunya harus berbunuhan dengan saudara sepupunya sendiri, Kurawa yang seratus beserta sekutunya.

Semirip itukah kondisi di Indonesia saat ini? Munculnya kebenaran akankah kita biarkan saja, sehingga kejahatan tetap merajalela hingga munculnya perang saudara atas nama menegakkan kebenaran? Apakah pembiaran kita akan menjadi akhir dari masa damai dan awal dari masa perang? Awal Bharatayudha Jayabinangun Abad XXI-kah?

Silakan kita tafsirkan sendiri-sendiri dengan hati dan pikiran yang jernih, sembari terus menerus menempa diri agar kita menjadi seorang yang mampu istiqamah menjaga idealisme kebaikan, lintas ruang dan waktu.

Blunyah Gede, Rabu 16 November 2011, 20:10 WIB,

Ahmad Rahma Wardhana.