Kresna Duta dan Indonesia, Awal Bharatayudha Jayabinangun Abad XXI-kah?

Wayang dan Kehidupan

Sering sekali muncul kemiripan antara kehidupan nyata dengan kisah-kisah di dunia pewayangan. Selain kisah wayang merupakan kesenian-kebudayaan yang sengaja dibuat sebagai pelajaran kehidupan, ada teori bahwa kisah pewayangan asli versi India adalah fakta-fakta sejarah yang pernah terjadi.

Ki Anom Sucondro, seorang dalang muda dari Kulonprogo pernah dalam pentasnya pernah mengatakan bahwa budaya yang populer saat ini adalah budaya instan yang tidak mendidik. Artinya, budaya tersebut tidak membawa penikmatnya untuk berpikir dan merenung. Berbeda dengan wayang yang penuh dengan simbol-simbol, perlambangan, serta nilai dan filosofi kehidupan, kesemuanya menuntut penikmatnya agar menggalih tontonan wayang, sedemikian rupa sehingga mampu bertransformasi menjadi tuntunan, pedoman hidup.

Ada sebuah lakon pewayangan masyhur yang menurut saya adalah gambaran tentang peristiwa yang saat ini sedang tercermin dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Dalam pemikiran saya, boleh jadi jalannya kehidupan Indonesia akan sama persis dengan lakon wayang tersebut, jika sikap kita sama persis dengan kisah di dalamnya. Padahal, ending dalam lakon itu adalah awal dari kisah pilu umat manusia: perang saudara.

Sekelumit Jalannya Cerita Kresna Duta

Kresna Duta, secara harfiah bermakna seorang bernama Kresna yang ditugaskan menjadi utusan. Yakni utusan alias duta bagi Pandawa untuk menghadap Kurawa. Adalah Pandawa (5 bersaudara) dan Kurawa (100 bersaudara), saudara sepupuan, ayah keduanya kakak-beradik. Pandawa dikenal sebagai pribadi yang baik, sedangkan Kurawa terkenal karena perangai buruknya.

Saat generasi Pandawa dan Kurawa digariskan memimpin sebuah negara, muncullah berbagai konflik. Dalam konflik ini Pandawa-lah yang selalu mengalah. Mengalah bukan karena kalah, tapi kebaikan hati dan prasangka baik Pandawalah yang bertindak saat menghadapi konflik-konflik itu. Pandawa ingin mendidik Kurawa bahwa keburukan pada akhirnya akan tunduk pada kebaikan.

Hingga pada suatu saat, telah selesai kewajiban yang harus dijalani Pandawa dalam kekalahannya melawan Kurawa. Dan mengutuslah Pandawa seorang raja besar bernama Kresna agar menemui Kurawa menyampaikan habisnya masa kewajiban tersebut, sekaligus agar Kresna meminta pengembalian hak-hak Pandawa yang dirampas oleh Kurawa selama Pandawa menjalani kewajiban –karena kekalahan.

Begitu Kresna tiba di depan Kurawa dan menyampaikan tujuan kedatangannya, di luar dugaan, Duryudana (Kurawa yang paling tua) berkenan memenuhi permintaan Pandawa –melalui utusan seorang Kresna– dan berjanji untuk mengembalikan semua hak Pandawa. Hal ini disampaikan Duryudana di depan para pembesar negerinya, para dewa, dan ayah-ibunya yang menjadi saksi petemuan tersebut.

Sesudah sabda Duryudana untuk memberikan kembali hak Pandawa terdengar, pergilah para dewa sekaligus ayah-ibunya. Pergi dengan kelegaan karena damainya Pandawa dengan Kurawa. Namun, sesaat seusai para dewa serta ayah-ibunya meninggalkan majelis itu, tiba-tiba Duryudana menarik kembali semua ucapannya. Bahkan ia sampai bersumpah tidak akan memberikan apapun yang sudah di tangannya, meskipun sebenarnya bukan haknya, serta mempertahankannya sampai titik darah penghabisan.

Mendengar hal itu Kresna kemudian marah. Kemarahannya, sebagaimana biasanya, mengubah wujud Kresna menjadi raksasa yang siap menghancurkan apapun yang ingin ia hancurkan. Beruntung ada seorang dewa yang kembali ke bumi dan menenangkannya. Kembalilah Kresna ke wujud manusianya dan langsung meninggalkan Kurawa.

Brahala – Triwikrama

Akhir kisah Kresna Duta adalah genderang perang Bharatayudha. Kurawa yang dengan damai tidak berkenan mengembalikan hak Pandawa, maka jalan terakhir adalah Pandawa harus merebutnya dengan kekerasan, sebuah perang. Perang yang tentu saja selalu mengorbankan mereka yang lemah dan tak bersalah. Menewaskan mereka yang tak tahu menahu sebab musababnya. Mengadu persaudaraan menjadi permusuhan.

Bharatayudha Jayabinangun Abad XXI?

Melihat apa yang sering terjadi saat ini di Indonesia, kok menurut saya mirip dengan lakon Kresna Duta ya? Kejahatan dan perilaku bobrok sebagian pembesar negeri sudah ditampakkan oleh sebagian pembesar yang lain. Korupsi dibongkar, kelakuan tidak pantas dibeberkan, pejabat terbukti bersalah di pengadilan, rekayasa-rekayasa terungkap, dan seterusnya, dan sebagainya, dan lain-lain. Akan tetapi sungguh menakjubkan, bahwa perilaku semacam itu kenapa masih terus terjadi? Apakah pengungkapan-pengungkapan yang terus menerus terjadi tidak menyadarkan mereka (yang bobrok dan jahat)?

Bahasa wayangnya, Kresna sudah meminta kembali hak Pandawa. Kresna menampakkan kebenaran, menunjukkan mana yang benar mana yang salah. Tetapi ditolak mentah-mentah oleh Kurawa. Kejahatan tetap jalan, perampasan jalan terus, teriakan kebenaran tak dipedulikan. Satu-satunya jalan keluar adalah kebenaran harus merebut haknya, meski dengan kekerasan. Perang. Perang saudara. Pandawa yang lima dan sekutunya harus berbunuhan dengan saudara sepupunya sendiri, Kurawa yang seratus beserta sekutunya.

Semirip itukah kondisi di Indonesia saat ini? Munculnya kebenaran akankah kita biarkan saja, sehingga kejahatan tetap merajalela hingga munculnya perang saudara atas nama menegakkan kebenaran? Apakah pembiaran kita akan menjadi akhir dari masa damai dan awal dari masa perang? Awal Bharatayudha Jayabinangun Abad XXI-kah?

Silakan kita tafsirkan sendiri-sendiri dengan hati dan pikiran yang jernih, sembari terus menerus menempa diri agar kita menjadi seorang yang mampu istiqamah menjaga idealisme kebaikan, lintas ruang dan waktu.

Blunyah Gede, Rabu 16 November 2011, 20:10 WIB,

Ahmad Rahma Wardhana.

0 thoughts on “Kresna Duta dan Indonesia, Awal Bharatayudha Jayabinangun Abad XXI-kah?”

  1. maka akupun memilih namaku PARTO TRIWIKROMO…..minimal aku juga marah dengan keadaan terutama pada pejabat yang tidak amanah, korup dan mementingkan dirinya sendiri…kaya anak kecil….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *