Mahasiswa NU di Kampus Umum: Paripurna Persiapannya

Tulisan ini adalah penulisan ulang sambutan lisan yang saya sampaikan pada pemberangkatan rombongan KMNU UGM yang berziarah ke waliyullaah di Jawa Tengah, Jumat 11 November 2011.

Saya kaget saat kemarin mendengar berita tentang seorang Harry Tanoesoedibjo yang menyatakan diri bergabung dengan Partai NasDem. Artinya NasDem sudah mempunyai empat corong media, Metro TV, Global TV, RCTI, dan MNC TV. Pak Aburizal Bakrie ada dua TV, ANTV dan TV One. Pak SBY, setahu saya masih didukung oleh Pak Chairul Tanjung melalui Trans TV dan Trans 7-nya. Pada Pemilu 2009 kemarin nampak sekali keberpihakannya. Sedangkan SCTV sendiri sekarang memiliki 84% saham di Indosiar, yang keberpihakan politiknya menurut saya pribadi belum begitu nampak arahnya.

Pertanyaannya, di mana media yang menyiarkan suara-suara NU? Alhamdulillaah Gus Mus dan Kang Aqil Siradj sudah kersa menggunakan twitter dan facebook. Begitupun dengan PBNU yang gencar menggunakan internet sebagai media penerbitan berita-berita ke-NU-an. Namun itu kan masih kurang. Padahal media massa adalah salah satu pembentuk opini publik yang paling efektif.

Nah, sebelum melanjutkan ke pembahasan masalah media, saya ingin mengatakan bahwa kita adalah salah satu generasi bangsa yang terbaik. Kita adalah umat NU, Nahdlatul ‘Ulama, yang sudah seharusnya kuat iman dan takwa, luas dan dalam pengetahuan keberagamaannya, pintar ilmu akhiratnya. Di sisi lain, kita juga adalah cendekiawan di berbagai bidang keilmuan, dari berbagai kampus. Ada UGM, UNY, UIN, UII, AMIKOM, Kedokteran, Pertanian, Teknik, MIPA, Komunikasi, Politik Pemerintahan, Biologi, dan lain-lain. Ilmu akhirat bisa, ilmu dunia kita juga bisa. Apa yang belum kita punya?

Banyak para pembesar kita bagus keilmuannya, bagus pengetahuan agamanya. Tapi nyatanya banyak pula yang terjerat integritasnya, sebagaimana kita saksikan di media: korupsi, suap, dan semacamnya yang masih merajalela.

Maka, KMNU UGM adalah wadah yang tepat bagi kita untuk menguatkan sisi keagamaan kita, sisi spiritual kita. Ziarah Waliyullaah Jawa Tengah ini adalah salah satu contohnya. Menempa iman dan takwa. Mempertebal kesungguhan dalam beragama. Mendekatkan diri kepada Allaah Ta’aala, agar menjadi hamba-Nya yang paripurna imannya. Menjaga idealisme dalam kebaikan dan kebenaran agar senantiasa kokoh di dalam jiwa raga kita.

Di sisi yang lain, kita semua yang berasal dari berbagai kampus, UGM, UNY, UIN, UII, AMIKOM. Dari beragam jurusan, berbagai program studi, berbagai bidang keilmuan, mari tekuni dengan sempurna bidang keilmuan kita masing-masing, sehingga mencapai derajat seorang pakar.

NU sebenarnya tidak pernah kekurangan ahli dan pakar di semua bidang keilmuan, hanya saja kemampuan manajerial kita memang masih lemah. Buktinya, saat ini setidaknya ada 118 kader muda NU lintas ilmu. NU-nya membawa konsekuensi iman-takwa, penguasaan nilai spiritual dan ranah akhirat. Kampus dan jurusannya membawa konsekuensi kepakaran, seorang cendekiawan di ilmu dan ranah keduniaan. Katakanlah, kader yang seimbang dunia-akhiratnya. Hanya saja NU belum mampu mengaturnya. Ya, kemampuan manajerial kita masih kurang.

Kesempatan berhimpun di KMNU ini adalah untuk memoles dua sisi kehidupan kita agar menjadi semakin sempurna. Bidang keagamaan diasah, bidang keilmuan kampus tetap dikejar. Bonusnya adalah insya-Allaah kita semua secara otomatis akan menciptakan jaringan kebajikan yang saling menguatkan satu dengan yang lainnya, saling mengingatkan satu dengan yang lainnya.

Kalau NU sampai sekarang belum mempunyai media untuk menyuarakan aspirasi dan prestasinya, maka menjadi tugas kitalah untuk mengisinya. Bagi yang ahli menulis, mari suarakan aspirasi dan prestasinya lewat tulisan. Bagi yang sering berprestasi, marilah berprestasi. Mari kita isi media dengan suara kita, suara aspirasi warga NU.

Kita berasal dari banyak daerah. Jawa Barat-Tengah-Timur, Jakarta, Sumatera, Kalimantan, dan wilayah-wilayah nusantara lain. Kelak, kita yang insya-Allaah paripurna kesungguhannya dalam menjaga keseimbangan keilmuan dunia-akhiratnya, mau beraksi, berbuat, dan bekerja di lingkungan kehidupan kita. Mau berprestasi di masyarakat sekitar kita, maka siapapun Presidennya, siapapun menterinya, siapapun gubernur, bupati, atau walikotanya, masyarakat tetap akan selalu tersenyum bahagia karena sentuhan hati dan tangan kita, atas nama pribadi masing-masing, atas nama NU.

Saya beri contoh. Di majalah Energi edisi Okober 2011, ada satu artikel menarik berjudul “Kiai Nyamplung”. Seorang kiai yang pernah nyantri di Pesantren Ciganjurnya Gus Dur, sukses membuat usaha biodiesel, solar yang berasal dari biji buah nyamplung. Beliau mendirikan laboratorium di Bantul dan Kebumen, sekaligus membeli biji nyamplung di sepanjang Kebumen sampai Kroya. Hasilnya, bermanfaat bagi para petani yang dibeli nyamplung-nya, bermanfaat bagi orang banyak karena menghasilkan solar yang hijau alias ramah lingkungan.

Contoh prestasi yang membawa manfaat nyata dari sang Kiai Nyamplung. Namun sayang kurang terekspos karena keterbatasan kita sebagai warga NU ke media massa yang besar.

Benar adanya, kita harus menjaga nilai-nilai tradisi sunnah yang sering sekali keliru dianggap bid’ah. Benar adanya, kita harus melestarikan ziarah dan maulid, tahlil dan wirid, serta shalawat. Tapi tugas kita yang lebih mulia, sebagai bentuk tanggung jawab mengemban ilmu umum adalah menggunakan ilmu tersebut untuk kemaslahatan umat. Bermanfaat bagi umat akan lebih menyentuh mereka, sebagaimana dakwah NU yang selama ini memang menyentuh hati umat, bil hikmah wa ma-u-izhatil hasanah.

Media bukanlah tujuan, tetapi alat kita untuk menyuarakan aspirasi dan prestasi, agar mampu menjadi energi pendorong bagi diri kita untuk terus menerus beraksi, bertindak, dan berbuat demi kemaslahatan umat, bermanfaat bagi orang lain. Mari berprestasi untuk masyarakat, atas nama pribadi dan NU, demi kejayaan Indonesia.

Sekali lagi, mari berziarah sebagai upaya spiritual kita, yang sesudahnya nanti untuk tetap berhimpun di KMNU agar menjaganya tetap bersemayam di dalam diri kita. Kemudian dengan tetap tekun menempuh bidang keilmuan kita hingga mencapai maqam pakar keilmuan. Maka paripurnalah persiapan kita untuk menjadi generasi muda NU yang siap terjun ke masyarakat nusantara Indonesia. Insya-Allaah.

0 thoughts on “Mahasiswa NU di Kampus Umum: Paripurna Persiapannya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *