Bulan Maulud, Bulan yang Fitri (juga)

Ditulis untuk memenuhi amanah menjadi khatib Jumat dan narasumber majelis ta’lim.

Bulan Maulud adalah bulan di mana Rasuulullaah Muhammad SAW dilahirkan. Kehadirannya bukan hanya menjadi sumber keberkahan bagi orang-orang memegang teguh ajaran Beliau SAW, tetapi bahkan menjadi sebab bagi tercurahkannya rahmat Allaah Ta’aala bagi penentang Beliau SAW.

Prof. Quraish Shihab dalam bukunya “Membaca Sirah Nabi Muhammad SAW Dalam Sorotan al-Qur`an dan Hadits-hadits Shahih” mencantumkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, bahwa satu tahun setelah kematian paman Rasuulullaah SAW, Abu Lahab, paman Rasuulullaah SAW yang lain, al-‘Abbas, bermimpi melihat Abu Lahab memakai pakaian putih. Kemudian al-‘Abbas pun menanyai keadaan Abu Lahab.

Apa jawaban Abu Lahab? Abu Lahab mengatakan bahwa ia berada di neraka, hanya saja setiap malam Senin Allaah Ta’aala meringankan siksa atasnya, karena ia memerdekakan budaknya Tsuwaibah, yang menyampaikan kepadanya berita kelahiran kemenakannya, yakni Rasuulullaah SAW.

Ya, pada saat Rasuulullaah SAW lahir, Tsuwaibah-lah yang mendatangi Abu Lahab, majikannya, untuk mengabarkan kelahiran Muhammad. Karena sangat gembira mendengar kabar tersebut, Abu Lahab kemudian membebaskan Tsuwaibah, memerdekakannya. Dan diganjarlah Abu Lahab oleh Allaah Ta’aala: keringanan siksa di setiap malam Senin.

Hadirin rahimakumullaah.

Sebagai umat Rasuulullaah SAW, mari kita sempurnakan kebahagiaan kita menyambut kelahiran dan kehadiran Beliau SAW dengan meneladani akhlak Beliau SAW. Untuk menggambarkan akhlaq Rasuulullaah Muhammad SAW, Allaah Ta’aala berfirman di al-Qur`an surat al-Qalam ayat 4,

Sesungguhnya engkau (Muhammad) berada di atas budi pekerti yang agung

Prof. Quraish Shihab mengatakan bahwa kata khuluq dalam ayat tersebut merupakan bentuk tunggal dari akhlaq, di mana kata akhklaq biasanya mengandung pengertian tabiat, perangai, atau kebiasaan.

Sedangkan dalam hadits, salah satu yang populer adalah Sabda Rasuulullaah SAW:

Aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia

Dan dikarenakan pengertian akhlak mencakup makna sebagai sebuah kelakuan, bolehlah kita katakan bahwa akhlak atau kelakuan manusia sangat beragam. Hal ini sejalan dengan firman Allaah Ta’aala dalam surat al-Lail ayat 4

Sesungguhnya usaha kamu (wahai manusia) pasti amat beragam.

Lebih jauh, keragaman kelakuan manusia sebenarnya tercakup dalam dua kelompok besar: kelakuan baik dan kelakuan buruk. Hal semacam ini, yakni baik atau buruknya kelakuan manusia, pada nyatanya dapat kita lihat bersama dalam keseharian. Ini berarti bahwa memang, manusia memiliki kedua potensi tersebut: akhlak baik dan akhlak buruk.

Allaah Ta’aala berfirman dalam surat al-Balad ayat 10:

Maka Kami telah memberi petunjuk (kepada)-nya (manusia) dua jalan mendaki (yakni, baik dan buruk)

atau di dalam surat asy-Syams ayat 7 dan 8:

dan (demi) jiwa serta penyempurnaan ciptaannya, maka Allaah mengilhami (jiwa manusia) kedurhakaan dan ketakwaan.

Hadirin rahimakumullaah.

Meskipun demikian, bahwa ada potensi akhlak baik dan akhlak buruk dalam setiap diri manusia, ditemukan pula isyarat-isyarat dalam al-Qur`an, bahwa kebajikan-lah yang terlebih dahulu menghiasi diri manusia daripada kejahatan. Bahwa manusia pada dasarnya cenderung kepada kebajikan.

Al-Qur`an surat Thaa-Haa ayat 121 mengungkapkan bahwa Iblis menggoda Adam sehingga

Durhakalah Adam kepada Tuhannya dan sesatlah dia.

Redaksi ini, durhakalah Adam kepada Tuhannya dan sesatlah dia, menunjukkan bahwa ada kondisi sebelum Adam digoda oleh Iblis, yakni kondisi tidak durhaka, kondisi taat kepada Allaah Ta’aala, kondisi berakhlak baik. Maka, ayat ini adalah isyarat bagi kita: adalah benar kita punya potensi durhaka, tetapi sesungguhnya, fitrah kita, kecenderungan kita adalah potensi taat, potensi untuk senantiasa berkelakuan baik, berakhlak mulia.

Hadirin rahimakumullaah.

Allaah Ta’aala berfirman di dalam surat al-Baqarah ayat 286:

… untuk manusia ganjaran bagi perbuatan baik yang dilakukannya, dan sanksi bagi perbuatan (buruk) yang dilakukannya …

Makna ayat tersebut menggunakan kata “yang dilakukan” sebanyak dua kali, yang pertama adalah pemaknaan dari kata kasabat dan yang kedua pemaknaan dari kata iktasabat.

Syaikh Muhammad Abduh dalam tafsir al-Manar mengungkapkan bahwa kata iktasabat dan semua kata yang berpatron demikian memberi arti adanya semacam upaya sungguh-sungguh dari pelakunya. Hal ini berbeda dengan kasabat yang berarti dilakukan dengan mudah tanpa pemaksaan.

Dalam ayat ini perbuatan manusia yang buruk dinyatakan dengan iktasabat. Sedangkan terminologi perbuatan baik dinyatakan dengan kasabat. Ini menandakan bahwa fitrah manusia pada dasarnya cenderung kepada kebaikan, sehingga dapat melakukannya dengan mudah, kasabat. Berkebalikan dengan keburukan yang harus dilakukannya dengan susah payah dan keterpaksaan, iktasabat.

Hadirin rahimakumullaah.

Allaah Ta’aala berfirman dalam surat al-Israa` ayat 15:

Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain.

Masing-masing dari kita akan mempertanggungjawabkan diri kita masing-masing, terhadap segala hal yang kita lakukan. Masing-masing akan memikul ganjaran bagi perbuatan baik kita sekaligus menebus dosa bagi perbuatan buruk kita dengan siksa. Seseorang tidak dapat memikul dosa orang lain.

Dengan memahami fitrah manusia sebagai makhluk yang penuh dengan kebajikan, sebagai hamba Allaah yang berkecenderungan kepada kebaikan, sebagai diri yang penuh dengan potensi ketaatan, yang kelak akan dihadapkan dengan kenyataan bahwa akan memikul ganjaran bagi setiap apa yang kita perbuat, maka momen Maulud Rasuulullaah Muhammad SAW menjadi tepat jika kita isi dengan menyelami kembali sosok beliau sebagai teladan dalam berperilaku, sebagai contoh dalam bertindak, sebagai panutan dalam berkata-kata.

Allaah Ta’aala berfirman dalam surat al-Ahzab ayat 21

Demi (Allaah), sungguh telah ada bagi kamu pada (diri) Rasuulullaah suri teladan yang baik bagi orang yang (senantiasa) mengharap (rahmat) Allaah dan (kebahagiaan) Hari Kiamat, serta (teladan bagi mereka) yang banyak berzikir kepada Allaah.

Allaah Ta’aala menegaskan, bahwa Rasuulullaah SAW adalah sebaik-baik contoh dalam perbuatan kebajikan. Maka bolehlah bagi kita jika menyebut bulan Maulud sebagai bulan yang fitri juga, karena bulan di mana Rasuulullaah SAW lahir ini sudah seharusnya membawa semangat dan momentum bagi umat manusia untuk kembali kepada fitrahnya: kecenderungan untuk selalu berbuat kebajikan. Semoga Allaah Ta’aala memudahkannya bagi kita. Amin, yaa Rabbal-‘aalamiin.

Kelengahan

Ditulis untuk memenuhi amanah menjadi khatib Jumat dan narasumber majelis ta’lim.

Dialah Allaah Ta’aala yang menganugerahi manusia kehidupan yang sempurna, kehidupan zhahir dan kehidupan bathin. Kehidupan zhahir, yaitu bagaimana mata mampu memandang, telinga mampu mendengar, bibir mampu berucap, tangan mampu menengadah, kaki mampu melangkah, serta seluruh bagian dari tubuh kita yang mampu beraktivitas, itulah kehidupan zhahir dari Allaah Ta’aala.

Dialah Allaah Ta’aala yang berkenan pula menganugerahi kehidupan bathin kepada kita semua. Kehidupan bathin, yaitu bagaimana muncul dalam jiwa kata rasa sabar atau tergesa, rasa marah atau ridla, rasa syukur dan gembira, tawa atau tangis, rasa bahagia atau rasa sedih, serta semua kondisi yang mencakup suasana hati kita, itulah kehidupan bathin. Kesemuanya, baik kehidupan zhahir atau bathin, semoga terus menerus dikukuhkan agar berada di dalam diri kita, yang insya-Allaah semoga mampu menjadi sebab bagi kita dalam upaya meningkatkan iman dan takwa kita kepada Allaah Ta’aala.

Hadirin rahimakumullaah, semoga shalawat serta salam dari Dzat Allaah dan seluruh makhluk ciptaan Allaah, tetap dan terus tercurahkan kepada junjungan kita bersama, pemimpin umat manusia sekaligus penutup dan pemimpin para Nabi dan Rasul, seseorang yang paling pantas menjadi teladan dalam kehidupan, seseorang yang menjadi sebab bagi tercurahkannya keberkahan Allaah, baik bagi yang mencintainya maupun bagi seorang yang membencinya, beliaulah Rasuulullaah Muhammad SAW.

Tersampaikan pula semoga, kepada keluarga beliau SAW, sahabat beliau SAW, serta umat beliau SAW, hingga datangnya akhir zaman kelak. Amiin, ya Rabbal ‘alaamiin. Hadirin rahimakumullaah, selanjutnya saya kembali mengingatkan, khusus dan utamanya kepada diri saya sendiri serta kepada seluruh hadirin rahimakumullaah pada umumnya, bahwa di hari raya Jumat yang penuh kemuliaan ini, marilah kita jadikan momentum untuk kembali memperbarui sekaligus meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allaah Ta’aala, dengan sebenar-benarnya iman dan takwa.

Ketakwaan yang sesungguhnya, yaitu bagaimana kita mampu untuk selalu mengarahkan hati, lisan, dan perbuatan dalam usaha menjalankan setiap hal yang diperintahkan oleh Allaah Ta’aala sekaligus bersamaan dengan usaha untuk menjauhkan diri dari semua hal yang terlarang dari sisi Allaah Ta’aala. Karena bagi Allaah Ta’aala, semulia-mulia kedudukan manusia bukanlah terukur dari harta atau jabatan, bukanlah terukur dari kekayaan dan kedudukan, namun terukur dari ketakwaannya kepada Allaah Ta’aala.

Sebagaimana termaktub dalam ayat ke-13 surat al-Hujuraat, Allaah Ta’aala berfirman

Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allaah ialah yang paling bertakwa di antara kamu.

Hadirin rahimakumullaah, saat ini negeri kita, Indonesia tercinta sedang terjerat oleh ketidakpastian di bidang penegakan hukum. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang dipimpin oleh tokoh asli Yogyakarta, tokoh Muhammadiyah, dosen UII yang berintegritas tinggi, sedang dirundung perkara korup suap sebagaimana dikabarkan oleh mantan Bendahara Umum sebuah partai politik. Mahkamah Konstitusi yang dipimpin oleh seorang guru besar bidang Hukum UII, seorang yang berintegritas tinggi dan tinggal lama di Yogyakarta, sedang diserang masalah pemalsuan surat. Sementara Mahkamah Agung yang menjadi rumah bersama bagi pengadilan di seluruh negeri sedang diuji oleh munculnya temuan rekayasa dalam kasus yang melibatkan mantan Ketua KPK.

Dan beberapa bulan yang lalu, kita masih mendengar berita tentang penangkapan jaksa dan hakim yang terlibat penyuapan. Yang lebih menyakitkan bagi kita adalah ketika lembaga-lembaga hukum tersebut diserang oleh temuan-temuan dan tuduhan-tuduhan, sehingga semua lapisan masyarakat, kita semua, mampu menyatukan opini dan simpati untuk mendukung usaha pemberantasan korupsi, justru ada oknum di sebuah kementerian yang tertangkap tangan, diduga menerima uang suap!

Sangatlah menyakitkan, para penegak hukum sedang dibakar semangatnya oleh masyarakat, semua orang fokus pada pemberitaan pemberantasan korupsi, eh, masih ada saja yang berani melanggar. Dan pelanggaran tersebut menyangkut anggaran negara tahun 2011, tahun ini, dan tertangkap di bulan Ramadlan!

Hadirin rahimakumullaah, sering terdengar para imam membaca surat at-Takaatsuur dalam shalat-shalat rawatib lima waktu. Apabila kita membaca makna surat tersebut, maka bisa kita simpulkan bahwa sumber dari munculnya sikap suap dan korup adalah belum adanya keimanan terhadap kehidupan akhirat.

Apa yang didapat dari korupsi dan mark-up anggaran? Tentu saja uang. Tercatat, tetapi tidak dibelanjakan.

Apa yang didapat dari penyuapan pada sebuah proyek? Tentu saja agar diri sang penyuap menjadi pemenang tender. Ujungnya juga uang dan kekayaan.

Sedangkan at-Takaatsuur mengingatkan kepada kita:

Saling memperbanyak (kenikmatan duniawi dan berbangga-bangga menyangkut anak dan harta) telah melengahkan kamu [1], sampai kamu telah menziarahi (masuk) dalam kubur-kubur (kematian) [2].

Berhati-hatilah, (jangan melakukan persaingan semacam itu)! Kelak kamu akan mengetahui (akibatnya) [3]. (Sekali lagi) berhati-hatilah, kelak kamu akan mengetahui [4].

Berhati-hatilah, (jangan berbuat begitu, sungguh) jika seandainya kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, (niscaya kamu tidak akan pernah melakukan hal itu) [5]

Sungguh, pasti kamu akan melihat (neraka) Jahim [6], kemudian, sungguh pasti kamu akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin (yakni keyakinan yang tak sedikit pun disentuh keraguan, yaitu sebagaimana keyakinan karena melihat dengan mata) [7],

kemudian sungguh kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang an-Na’iim (yakni tentang aneka kenikmatan duniawi yang kamu raih atau kenikmatan akhirat yang kamu abaikan [8].

Sungguh jelas peringatan Allaah Ta’aala kepada kita tentang meruginya mereka, kita semua, jika terjerumus ke dalam usaha pengejaran kenikmatan duniawi, berlomba dalam membangga-banggakannya, sehingga lupa dengan kenikmatan akhirat hingga datangnya kematian.

Dalam tafsirnya tentang surat at-Takaatsur, Prof. Quraish Shihab menutup penjelasannya dengan menulis

Seseorang yang menyadari bahwa ada kenikmatan yang melebihi kenikmatan duniawi tentu tidak akan mengarahkan seluruh pandangan dan usahanya semata-mata hanya kepada kenikmatan duniawi yang sementara itu, bahkan seseorang yang menyadari betapa besar kenikmatan ukhrawi itu akan bersedia mengorbankan kenikmata duniawi yang dimiliki dan dirasakannya demi memperoleh kenikmatan ukhrawi itu.

Apa yang bisa kita lakukan sebagai bagian dari bangsa ini namun tak memiliki wewenang terhadap sistem hukum di negeri ini?

Hadirin rahimakumullaah, kita punya wewenang pada diri kita sendiri untuk berusaha keras menghindarkan diri dari korup dan suap. Kita juga memiliki wewenang pada orang-orang terdekat kita, orang-orang pada lingkaran terkecil kehidupan kita, keluarga.

Mari kita hindarkan diri dan keluarga kita dari perilaku dan kebiasaan korup serta suap. Utamanya, kita prioritaskan pada putra dan kerabat kita yang masih belum menyentuh dunia nyata bisnis dan organisasi, mereka para pelajar dan anak-anak. Kita biasakan sejak dini, kita biasakan dari hal-hal kecil, kita biasakan pada diri dan orang-orang terdekat kita.

Allaah Ta’aala berfirman dalam surat ar-Ra’du ayat 11

Sesungguhnya Allaah tidak mengubah suatu kaum sehingga mereka mengubah apa (sikap mental dan pikiran) yang ada pada diri mereka.

Kalau kaum itu adalah negara bangsa bernama Indonesia, maka yang harus berubah adalah diri dan keluarga kita masing-masing. Seorang ulama mengatakan, keluarga adalah jiwa masyarakat dan tulang punggungnya. Kesejahteraan lahir dan batin yang dinikmati oleh suatu bangsa, atau sebaliknya, kebodohan dan keterbelakangannya, adalah cerminan dari keadaan keluarga yang hidup pada masyarakat bangsa tersebut.

Hadirin rahimakumullaah, selain melakukan ikhtiar zhahir, yakni usaha nyata berupa pendidikan dan teladan pada diri sendiri, keluarga, dan masyarakat, sungguh indah jika masyarakat bangsa Indonesia, kita semua, ikut pula melakukan ikhtiar bathin, yaitu turut mendoakan bangsa Indonesia di antara lantunan dzikir dan munajat kita kepada Allaah Ta’aala.

Ada sebuah doa di dalam al-Qur`an, yang dalam pandangan saya pribadi makna doa tersebut sangat cocok dengan kondisi penegakan hukum negeri kita Indonesia tercinta.

Doa tersebut terangkai dalam kisah Nabi Syu’aib ‘AS yang umat beliau dihancurkan dengan gempa oleh Allaah Ta’aala karena kedurhakaannya. Doa tersebut termaktub dalam penutup ayat 89 surat ketujuh al-A’raaf:

Tuhan Pemelihara kami, hakimilah (putuskanlah) antara kami dan antara kaum kami dengan haq (kebenaran dan keadilan), dan Engkaulah sebaik-baiknya Hakim, Sang Pemberi Keputusan.

Mari bersama-sama kita masukkan doa tersebut dalam daftar doa harian kita, sebagai pengiring ikhtiar zhahir kita membangun diri pribadi yang terbaik, demi keluarga, masyarakat dan bangsa yang lebih baik, masyarakat dan bangsa yang semoga dinaungi oleh rahmat Allaah, dicurahi kasih Allaah , dan senantiasa dalam perlindungan Allaah Ta’aala. Amiin, ya Rabbal ‘alamiin.

Bahagia dengan Berimajinasi*

Menurut saya, berimajinasi itu boleh-boleh saja. Tentu saja kebolehan ini menuntut adanya syarat dan ketentuan. Yah, mirip-mirip iklan yang isinya wah lah, pasti ada tanda bintang kecil: “syarat dan ketentuan berlaku”.

Kemajuan informasi dan teknologi misalnya. Ia tak pernah lepas dari imajinasi. Sejak Icarus dari mitologi Yunani, kemudian Leonardo da Vinci dari zaman Renaissance, orang sudah berimajinasi untuk bisa mengarungi angkasa. Belum ada yang berhasil, hingga akhirnya Wright bersaudara membuka jalan terang bagi umat manusia untuk berjalan di udara. Pun dengan teknologi-teknologi lain yang sudah mapan sekarang, semua berawal dari imajinasi.

Sering saya berimajinasi, membayangkan sesuatu yang positif dan indah sedang terjadi pada diri saya atau sedang terjadi pada orang-orang yang saya sayangi. Beberapa imajinasi tersebut terjadi kemudian. Beberapa mirip, beberapa yang lain nyrempet-nyrempet, sedang beberapa yang lain tidak terjadi, atau mungkin lebih tepatnya adalah, belum terjadi.

Prof. Yohanes Surya dengan mestakung­-nya dan Rhonda Byrne dengan the secret-nya, saya kira ada benarnya juga. Secara umum, mestakung-nya Prof. Yohanes Surya adalah sistem semesta mendukung, yakni bahwa kesungguhan kita terhadap sesuatu pastilah akan didukung oleh semesta raya. Sementara Rhonda Byrne berteori bahwa ada hukum tarik menarik antara alam pikiran kita dengan semesta raya. Kedua teori ini sejalan dengan tentang imajinasi yang saya punyai.

***

Masih segar dalam ingatan saya, bagaimana bapak-ibu guru bimbingan konseling SMA dulu sering menyarankan agar kata-kata motivasi semacam lulus, masuk Jurusan xxx Universitas xxx, sukses, dan lain sebagainya, agar ditulis kemudian ditempel di berbagai tempat di sekitar kita, yang sering kita lihat, sehingga akan sering pula kita membaca kata-kata tersebut.

Seorang guru SMA saya yang lain, memberikan analogi dengan dirinya sendiri. Beliau pernah menginginkan sepeda motor, tetapi karena uang belum mencukupi maka beliau gunting gambar motor tersebut, kemudian diletakkan di dalam dompet, agar selalu nampak setiap beliau bertransaksi dengan uang.

Kedua contoh di atas adalah bentuk membangun imajinasi dalam meraih sebuah cita. Yah, konsepnya mirip mempengaruhi alam bawah sadar dengan memberikan asupan berupa memori yang sama dan terus menerus. Tentang alam bawah sadar ini teman-teman yang belajar psikologi bisa menjelaskan dengan lebih ilmiah.

Cara kerja imajinasi ini sebenarnya logis dan mudah dipahami. Sebagai ilustrasi, misalnya kita sedang ingin lulus SMA. Kita tulis kata lulus di lemari pakaian, di dekat cermin, di atas meja belajar, desktop PC dan laptop, wallpaper dan screensaver hp, serta tempat lainnya. Maka secara tidak sadar, dzikir kita adalah segala sesuatu tentang lulus, karena kata itulah yang paling sering kita lihat. Alhasil, aktivitas apapun yang sedang kita lakukan, pasti akan bisa kita kaitkan dengan ikhtiar menuju cita-cita lulus. Lebih jauh, ketika terminologi lulus ini sudah benar-benar menguasai diri kita, muncullah kreativitas untuk menarik benang merah antara yang sedang terjadi dengan diri kita sekarang dengan titik tujuan lulus. Terciptalah jalur-jalur menuju akhir perjalanan: lulus.

Peristiwa inilah yang dimaksud oleh Prof. Yohanes Surya sebagai semesta mendukung. Bahwa karena kesungguhan diri kita terhadap sebuah tujuanlah yang menghidupkan sel-sel kelabu kita (kata Hercule Poirot) untuk meretas jalan menuju akhir tujuan.

Dan peristiwa ini pula yang dimaksud oleh Rhonda Byrne sebagai hukum tarik menarik antara alam pikiran dengan semesta. Bahwa keseriusan kita dalam ikhtiar mencapai sebuah asa mampu bertransformasi menjadi medan magnet untuk menarik segala sesuatu di sekeliling kehidupan kita untuk menjadi sumber energi dalam safar kepada cita-cita.

Konsep imajinasi semacam ini yang sering disebut dengan optimisme dan kesungguhan. Berimajinasi, yakni membayangkan masa depan berupa keberhasilan cita-cita adalah mendesain masa depan, merencanakan jalannya kehidupan di masa yang akan datang, memandang positif kehendak Tuhan pada diri kita.

Dan imajinasi yang terus menerus tersebut mengantar kita pada fase berikutnya: kesungguhan. Kesungguhan akan mengundang kreativitas, bahwa sekalipun yang sedang kita alami adalah kesulitan, justru kita mampu memanfaatkannya sebagai anak tangga menuju tingginya cita.

***

Maka mari kita desain masa depan kita dengan mengimajinasikannya. Ada baiknya, jika kita bukan tipe orang yang berimajinasi dengan kontinyu (sebagai dzikir bagi alam bawah sadar), maka tulis atau gambarkan imajinasi tersebut, kemudian taruh di tempat-tempat yang sering terlihat oleh kedua mata kita. Imajinasi yang kuat akan menjadi pendamping kita menjalani kehidupan: hidup yang optimis, hidup yang penuh kesungguhan.

Tak ada yang tak mungkin bagi makhluk tersempurna seperti kita, selama kita menggantungkan imajinasi tersebut kepada Sang Maha-sempurna: Tuhan.

Kampus JTF UGM, 25 Juni 2012, 15:00,

Ahmad Rahma Wardhana bin Suwarno

Sumber gambar

http://chimanx.files.wordpress.com/2011/04/spongebob__imagination_by_kssael.png

http://2.bp.blogspot.com/-5xW_0lT_2OA/Twv3GvYlttI/AAAAAAAAAhQ/0N5APOo4mVc/s1600/Da-Vinci-Airplane.jpg

http://www.ipmsstockholm.org/magazine/2003/12/images/photo_wright_2.jpg

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/thumb/0/02/TheSecretLogo.jpg/200px-TheSecretLogo.jpg