Bahagia dengan Berimajinasi*

Menurut saya, berimajinasi itu boleh-boleh saja. Tentu saja kebolehan ini menuntut adanya syarat dan ketentuan. Yah, mirip-mirip iklan yang isinya wah lah, pasti ada tanda bintang kecil: “syarat dan ketentuan berlaku”.

Kemajuan informasi dan teknologi misalnya. Ia tak pernah lepas dari imajinasi. Sejak Icarus dari mitologi Yunani, kemudian Leonardo da Vinci dari zaman Renaissance, orang sudah berimajinasi untuk bisa mengarungi angkasa. Belum ada yang berhasil, hingga akhirnya Wright bersaudara membuka jalan terang bagi umat manusia untuk berjalan di udara. Pun dengan teknologi-teknologi lain yang sudah mapan sekarang, semua berawal dari imajinasi.

Sering saya berimajinasi, membayangkan sesuatu yang positif dan indah sedang terjadi pada diri saya atau sedang terjadi pada orang-orang yang saya sayangi. Beberapa imajinasi tersebut terjadi kemudian. Beberapa mirip, beberapa yang lain nyrempet-nyrempet, sedang beberapa yang lain tidak terjadi, atau mungkin lebih tepatnya adalah, belum terjadi.

Prof. Yohanes Surya dengan mestakung­-nya dan Rhonda Byrne dengan the secret-nya, saya kira ada benarnya juga. Secara umum, mestakung-nya Prof. Yohanes Surya adalah sistem semesta mendukung, yakni bahwa kesungguhan kita terhadap sesuatu pastilah akan didukung oleh semesta raya. Sementara Rhonda Byrne berteori bahwa ada hukum tarik menarik antara alam pikiran kita dengan semesta raya. Kedua teori ini sejalan dengan tentang imajinasi yang saya punyai.

***

Masih segar dalam ingatan saya, bagaimana bapak-ibu guru bimbingan konseling SMA dulu sering menyarankan agar kata-kata motivasi semacam lulus, masuk Jurusan xxx Universitas xxx, sukses, dan lain sebagainya, agar ditulis kemudian ditempel di berbagai tempat di sekitar kita, yang sering kita lihat, sehingga akan sering pula kita membaca kata-kata tersebut.

Seorang guru SMA saya yang lain, memberikan analogi dengan dirinya sendiri. Beliau pernah menginginkan sepeda motor, tetapi karena uang belum mencukupi maka beliau gunting gambar motor tersebut, kemudian diletakkan di dalam dompet, agar selalu nampak setiap beliau bertransaksi dengan uang.

Kedua contoh di atas adalah bentuk membangun imajinasi dalam meraih sebuah cita. Yah, konsepnya mirip mempengaruhi alam bawah sadar dengan memberikan asupan berupa memori yang sama dan terus menerus. Tentang alam bawah sadar ini teman-teman yang belajar psikologi bisa menjelaskan dengan lebih ilmiah.

Cara kerja imajinasi ini sebenarnya logis dan mudah dipahami. Sebagai ilustrasi, misalnya kita sedang ingin lulus SMA. Kita tulis kata lulus di lemari pakaian, di dekat cermin, di atas meja belajar, desktop PC dan laptop, wallpaper dan screensaver hp, serta tempat lainnya. Maka secara tidak sadar, dzikir kita adalah segala sesuatu tentang lulus, karena kata itulah yang paling sering kita lihat. Alhasil, aktivitas apapun yang sedang kita lakukan, pasti akan bisa kita kaitkan dengan ikhtiar menuju cita-cita lulus. Lebih jauh, ketika terminologi lulus ini sudah benar-benar menguasai diri kita, muncullah kreativitas untuk menarik benang merah antara yang sedang terjadi dengan diri kita sekarang dengan titik tujuan lulus. Terciptalah jalur-jalur menuju akhir perjalanan: lulus.

Peristiwa inilah yang dimaksud oleh Prof. Yohanes Surya sebagai semesta mendukung. Bahwa karena kesungguhan diri kita terhadap sebuah tujuanlah yang menghidupkan sel-sel kelabu kita (kata Hercule Poirot) untuk meretas jalan menuju akhir tujuan.

Dan peristiwa ini pula yang dimaksud oleh Rhonda Byrne sebagai hukum tarik menarik antara alam pikiran dengan semesta. Bahwa keseriusan kita dalam ikhtiar mencapai sebuah asa mampu bertransformasi menjadi medan magnet untuk menarik segala sesuatu di sekeliling kehidupan kita untuk menjadi sumber energi dalam safar kepada cita-cita.

Konsep imajinasi semacam ini yang sering disebut dengan optimisme dan kesungguhan. Berimajinasi, yakni membayangkan masa depan berupa keberhasilan cita-cita adalah mendesain masa depan, merencanakan jalannya kehidupan di masa yang akan datang, memandang positif kehendak Tuhan pada diri kita.

Dan imajinasi yang terus menerus tersebut mengantar kita pada fase berikutnya: kesungguhan. Kesungguhan akan mengundang kreativitas, bahwa sekalipun yang sedang kita alami adalah kesulitan, justru kita mampu memanfaatkannya sebagai anak tangga menuju tingginya cita.

***

Maka mari kita desain masa depan kita dengan mengimajinasikannya. Ada baiknya, jika kita bukan tipe orang yang berimajinasi dengan kontinyu (sebagai dzikir bagi alam bawah sadar), maka tulis atau gambarkan imajinasi tersebut, kemudian taruh di tempat-tempat yang sering terlihat oleh kedua mata kita. Imajinasi yang kuat akan menjadi pendamping kita menjalani kehidupan: hidup yang optimis, hidup yang penuh kesungguhan.

Tak ada yang tak mungkin bagi makhluk tersempurna seperti kita, selama kita menggantungkan imajinasi tersebut kepada Sang Maha-sempurna: Tuhan.

Kampus JTF UGM, 25 Juni 2012, 15:00,

Ahmad Rahma Wardhana bin Suwarno

Sumber gambar

http://chimanx.files.wordpress.com/2011/04/spongebob__imagination_by_kssael.png

http://2.bp.blogspot.com/-5xW_0lT_2OA/Twv3GvYlttI/AAAAAAAAAhQ/0N5APOo4mVc/s1600/Da-Vinci-Airplane.jpg

http://www.ipmsstockholm.org/magazine/2003/12/images/photo_wright_2.jpg

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/thumb/0/02/TheSecretLogo.jpg/200px-TheSecretLogo.jpg

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *