Kelengahan

Ditulis untuk memenuhi amanah menjadi khatib Jumat dan narasumber majelis ta’lim.

Dialah Allaah Ta’aala yang menganugerahi manusia kehidupan yang sempurna, kehidupan zhahir dan kehidupan bathin. Kehidupan zhahir, yaitu bagaimana mata mampu memandang, telinga mampu mendengar, bibir mampu berucap, tangan mampu menengadah, kaki mampu melangkah, serta seluruh bagian dari tubuh kita yang mampu beraktivitas, itulah kehidupan zhahir dari Allaah Ta’aala.

Dialah Allaah Ta’aala yang berkenan pula menganugerahi kehidupan bathin kepada kita semua. Kehidupan bathin, yaitu bagaimana muncul dalam jiwa kata rasa sabar atau tergesa, rasa marah atau ridla, rasa syukur dan gembira, tawa atau tangis, rasa bahagia atau rasa sedih, serta semua kondisi yang mencakup suasana hati kita, itulah kehidupan bathin. Kesemuanya, baik kehidupan zhahir atau bathin, semoga terus menerus dikukuhkan agar berada di dalam diri kita, yang insya-Allaah semoga mampu menjadi sebab bagi kita dalam upaya meningkatkan iman dan takwa kita kepada Allaah Ta’aala.

Hadirin rahimakumullaah, semoga shalawat serta salam dari Dzat Allaah dan seluruh makhluk ciptaan Allaah, tetap dan terus tercurahkan kepada junjungan kita bersama, pemimpin umat manusia sekaligus penutup dan pemimpin para Nabi dan Rasul, seseorang yang paling pantas menjadi teladan dalam kehidupan, seseorang yang menjadi sebab bagi tercurahkannya keberkahan Allaah, baik bagi yang mencintainya maupun bagi seorang yang membencinya, beliaulah Rasuulullaah Muhammad SAW.

Tersampaikan pula semoga, kepada keluarga beliau SAW, sahabat beliau SAW, serta umat beliau SAW, hingga datangnya akhir zaman kelak. Amiin, ya Rabbal ‘alaamiin. Hadirin rahimakumullaah, selanjutnya saya kembali mengingatkan, khusus dan utamanya kepada diri saya sendiri serta kepada seluruh hadirin rahimakumullaah pada umumnya, bahwa di hari raya Jumat yang penuh kemuliaan ini, marilah kita jadikan momentum untuk kembali memperbarui sekaligus meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allaah Ta’aala, dengan sebenar-benarnya iman dan takwa.

Ketakwaan yang sesungguhnya, yaitu bagaimana kita mampu untuk selalu mengarahkan hati, lisan, dan perbuatan dalam usaha menjalankan setiap hal yang diperintahkan oleh Allaah Ta’aala sekaligus bersamaan dengan usaha untuk menjauhkan diri dari semua hal yang terlarang dari sisi Allaah Ta’aala. Karena bagi Allaah Ta’aala, semulia-mulia kedudukan manusia bukanlah terukur dari harta atau jabatan, bukanlah terukur dari kekayaan dan kedudukan, namun terukur dari ketakwaannya kepada Allaah Ta’aala.

Sebagaimana termaktub dalam ayat ke-13 surat al-Hujuraat, Allaah Ta’aala berfirman

Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allaah ialah yang paling bertakwa di antara kamu.

Hadirin rahimakumullaah, saat ini negeri kita, Indonesia tercinta sedang terjerat oleh ketidakpastian di bidang penegakan hukum. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang dipimpin oleh tokoh asli Yogyakarta, tokoh Muhammadiyah, dosen UII yang berintegritas tinggi, sedang dirundung perkara korup suap sebagaimana dikabarkan oleh mantan Bendahara Umum sebuah partai politik. Mahkamah Konstitusi yang dipimpin oleh seorang guru besar bidang Hukum UII, seorang yang berintegritas tinggi dan tinggal lama di Yogyakarta, sedang diserang masalah pemalsuan surat. Sementara Mahkamah Agung yang menjadi rumah bersama bagi pengadilan di seluruh negeri sedang diuji oleh munculnya temuan rekayasa dalam kasus yang melibatkan mantan Ketua KPK.

Dan beberapa bulan yang lalu, kita masih mendengar berita tentang penangkapan jaksa dan hakim yang terlibat penyuapan. Yang lebih menyakitkan bagi kita adalah ketika lembaga-lembaga hukum tersebut diserang oleh temuan-temuan dan tuduhan-tuduhan, sehingga semua lapisan masyarakat, kita semua, mampu menyatukan opini dan simpati untuk mendukung usaha pemberantasan korupsi, justru ada oknum di sebuah kementerian yang tertangkap tangan, diduga menerima uang suap!

Sangatlah menyakitkan, para penegak hukum sedang dibakar semangatnya oleh masyarakat, semua orang fokus pada pemberitaan pemberantasan korupsi, eh, masih ada saja yang berani melanggar. Dan pelanggaran tersebut menyangkut anggaran negara tahun 2011, tahun ini, dan tertangkap di bulan Ramadlan!

Hadirin rahimakumullaah, sering terdengar para imam membaca surat at-Takaatsuur dalam shalat-shalat rawatib lima waktu. Apabila kita membaca makna surat tersebut, maka bisa kita simpulkan bahwa sumber dari munculnya sikap suap dan korup adalah belum adanya keimanan terhadap kehidupan akhirat.

Apa yang didapat dari korupsi dan mark-up anggaran? Tentu saja uang. Tercatat, tetapi tidak dibelanjakan.

Apa yang didapat dari penyuapan pada sebuah proyek? Tentu saja agar diri sang penyuap menjadi pemenang tender. Ujungnya juga uang dan kekayaan.

Sedangkan at-Takaatsuur mengingatkan kepada kita:

Saling memperbanyak (kenikmatan duniawi dan berbangga-bangga menyangkut anak dan harta) telah melengahkan kamu [1], sampai kamu telah menziarahi (masuk) dalam kubur-kubur (kematian) [2].

Berhati-hatilah, (jangan melakukan persaingan semacam itu)! Kelak kamu akan mengetahui (akibatnya) [3]. (Sekali lagi) berhati-hatilah, kelak kamu akan mengetahui [4].

Berhati-hatilah, (jangan berbuat begitu, sungguh) jika seandainya kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, (niscaya kamu tidak akan pernah melakukan hal itu) [5]

Sungguh, pasti kamu akan melihat (neraka) Jahim [6], kemudian, sungguh pasti kamu akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin (yakni keyakinan yang tak sedikit pun disentuh keraguan, yaitu sebagaimana keyakinan karena melihat dengan mata) [7],

kemudian sungguh kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang an-Na’iim (yakni tentang aneka kenikmatan duniawi yang kamu raih atau kenikmatan akhirat yang kamu abaikan [8].

Sungguh jelas peringatan Allaah Ta’aala kepada kita tentang meruginya mereka, kita semua, jika terjerumus ke dalam usaha pengejaran kenikmatan duniawi, berlomba dalam membangga-banggakannya, sehingga lupa dengan kenikmatan akhirat hingga datangnya kematian.

Dalam tafsirnya tentang surat at-Takaatsur, Prof. Quraish Shihab menutup penjelasannya dengan menulis

Seseorang yang menyadari bahwa ada kenikmatan yang melebihi kenikmatan duniawi tentu tidak akan mengarahkan seluruh pandangan dan usahanya semata-mata hanya kepada kenikmatan duniawi yang sementara itu, bahkan seseorang yang menyadari betapa besar kenikmatan ukhrawi itu akan bersedia mengorbankan kenikmata duniawi yang dimiliki dan dirasakannya demi memperoleh kenikmatan ukhrawi itu.

Apa yang bisa kita lakukan sebagai bagian dari bangsa ini namun tak memiliki wewenang terhadap sistem hukum di negeri ini?

Hadirin rahimakumullaah, kita punya wewenang pada diri kita sendiri untuk berusaha keras menghindarkan diri dari korup dan suap. Kita juga memiliki wewenang pada orang-orang terdekat kita, orang-orang pada lingkaran terkecil kehidupan kita, keluarga.

Mari kita hindarkan diri dan keluarga kita dari perilaku dan kebiasaan korup serta suap. Utamanya, kita prioritaskan pada putra dan kerabat kita yang masih belum menyentuh dunia nyata bisnis dan organisasi, mereka para pelajar dan anak-anak. Kita biasakan sejak dini, kita biasakan dari hal-hal kecil, kita biasakan pada diri dan orang-orang terdekat kita.

Allaah Ta’aala berfirman dalam surat ar-Ra’du ayat 11

Sesungguhnya Allaah tidak mengubah suatu kaum sehingga mereka mengubah apa (sikap mental dan pikiran) yang ada pada diri mereka.

Kalau kaum itu adalah negara bangsa bernama Indonesia, maka yang harus berubah adalah diri dan keluarga kita masing-masing. Seorang ulama mengatakan, keluarga adalah jiwa masyarakat dan tulang punggungnya. Kesejahteraan lahir dan batin yang dinikmati oleh suatu bangsa, atau sebaliknya, kebodohan dan keterbelakangannya, adalah cerminan dari keadaan keluarga yang hidup pada masyarakat bangsa tersebut.

Hadirin rahimakumullaah, selain melakukan ikhtiar zhahir, yakni usaha nyata berupa pendidikan dan teladan pada diri sendiri, keluarga, dan masyarakat, sungguh indah jika masyarakat bangsa Indonesia, kita semua, ikut pula melakukan ikhtiar bathin, yaitu turut mendoakan bangsa Indonesia di antara lantunan dzikir dan munajat kita kepada Allaah Ta’aala.

Ada sebuah doa di dalam al-Qur`an, yang dalam pandangan saya pribadi makna doa tersebut sangat cocok dengan kondisi penegakan hukum negeri kita Indonesia tercinta.

Doa tersebut terangkai dalam kisah Nabi Syu’aib ‘AS yang umat beliau dihancurkan dengan gempa oleh Allaah Ta’aala karena kedurhakaannya. Doa tersebut termaktub dalam penutup ayat 89 surat ketujuh al-A’raaf:

Tuhan Pemelihara kami, hakimilah (putuskanlah) antara kami dan antara kaum kami dengan haq (kebenaran dan keadilan), dan Engkaulah sebaik-baiknya Hakim, Sang Pemberi Keputusan.

Mari bersama-sama kita masukkan doa tersebut dalam daftar doa harian kita, sebagai pengiring ikhtiar zhahir kita membangun diri pribadi yang terbaik, demi keluarga, masyarakat dan bangsa yang lebih baik, masyarakat dan bangsa yang semoga dinaungi oleh rahmat Allaah, dicurahi kasih Allaah , dan senantiasa dalam perlindungan Allaah Ta’aala. Amiin, ya Rabbal ‘alamiin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *