Mensyukuri Nikmat Tenteram di Indonesia

Disampaikan sebagai khatbah Jumat di Masjid Kagungan Dalem al-Falaah Blunyah Gede, Yogyakarta pada 18 Januari 2013.

___

Hadirin rahimakumullaah, alhamdulillaah, perlu kita syukuri bersama bahwa Allaah Ta’aala berkenan menggariskan bagi kita bisa lahir dan besar di negeri bernama Indonesia dalam keadaan mengenal indahnya iman dan islam. Sesungguhnya, nikmat terbesar adalah terikatnya jiwa kita kepada iman dan islam, namun nikmat berada di negeri bernama Indonesia pun merupakan nikmat yang tak kalah besarnya.

Kalau kita sejenak menengok ke belahan dunia lain dan merangkainya dengan berbagai peristiwa yang akhir-akhir ini terjadi, kita akan melihat betapa nikmatnya berada di Indonesia. Sebut saja negara selain Indonesia, niscaya tak akan kita temukan tempat senyaman negeri kita ini, Indonesia.

Arab Saudi misalnya, akan kita temui betapa kerasnya pembatasan kepada kaum wanita dan betapa kakunya kehidupan keberaganaan di sana. Pakistan, Irak, dan Afghanistan misalnya, di negara tersebut akan kita temui betapa mengerikannya proses jegal-menjegal dalam rangka memperebutkan kursi-kursi kekuasaan. Hampir setiap hari di Pakistan akan kita temui berita mengenai bom mobil atau penembakan-penembakan yang menewaskan orang tak bersalah.

Mesir, Libya, dan Tunisia kondisinya setelah reformasi justru kacau balau. Saat ini, ketiga negara dengan penduduk muslim yang mayoritas ini sedang mengalami masa seperti di Indonesia pada tahun 1945: rembugan tentang dasar negara. Patut kita syukuri bersama bahwa kita dikaruniai para negarawan dengan jiwa yang besar, sehingga mampu merumuskan Pancasila sebagai jalan tengah bagi majemuknya bangsa Indonesia. Di ketiga negara tersebut, saat ini sedang dihadang ancaman perpecahan karena masing-masing kubu, ada yang ingin jadi negara demokrasi, ada yang ingin jadi negara Islam, ada yang ingin jadi negara demokrasi dengan jiwa Islami, semuanya bersikeras dengan pandangannya masing-masing bahkan tak segan untuk mengangkat senjata.

Begitu juga dengan negara tetangga kita Malaysia. Harus diakui, bahwa Malaysia saat ini memang lebih maju daripada kita. Tetapi sesungguhnya, kehidupan sosial di Malaysia masih sama dengan kondisi Indonesia pada tahun 1990-an, di mana pemerintah mengontrol semua media komunikasi, radio, televisi, dan koran. Segala kritikan pada pemerintah pasti tidak akan pernah menjadi berita untuk dikonsumsi masyarakatnya. Yang terparah adalah, sesungguhnya Malaysia berada dalam ancaman konflik rasial, konflik karena perbedaan warna kulit. Partai politik terbesar di Malaysia ada tiga, satu untuk yang bangsa Melayu, satu untuk keturunan bangsa Cina, dan yang satu untuk keturunan bangsa India. Terpecah belah atas suku dan warna kulit, berbeda dengan kita bangsa Indonesia yang sudah dewasa, tak lagi memperasalahkan perbedaan suku bangsa untuk urusan politik dan kekuasaan.

Hadirin rahimakumullaah. Allaah Ta’aala berfirman dalam az-Zukhruf (43): 32

zukhruf 32

Apakah mereka (orang-orang musyrik itu) yang (kuasa) membagi-bagi rahmat Tuhan Pemelihara kamu? (Tidak!); Kami telah membagi di antara mereka (berdasar kebijaksanaan Kami) penghidupan mereka di kehidupan dunia, dan Kami meninggikan sebagian mereka di atas sebagian yang lain (beberapa derajat), supaya sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian (yang lain, yakni tolong menolong). Dan rahmat Tuhan Pemelihara kamu lebih baik (bagimu) dari apa yang mereka kumpulkan (berupa kekayaan dan kekuasaan duniawi).

Ayat ini mengandung makna bahwa di dalam sebuah masyarakat, di dalam sebuah bangsa pasti akan terdiri atas berbagai macam manusia, berbagai macam kondisi ekonomi, berbagai macam keahlian dan profesi. Mengapa Allaah menggariskan seperti itu? Jelas alasannya, agar kita semua saling mengambil manfaat antara satu dengan lainnya. Orang kaya adalah harapan bagi orang miskin untuk menyambung khidupannya, sementara orang miskin adalah pemuas jiwa bagi orang kaya, yakni sebagai tempat bershadaqah dan berbagi kebahagiaan. Sudah menjadi kesimpulan semua ajaran agama dan kebudayaan semua bangsa, bahwa sekedar kaya tanpa berbagi akan menjadi kekosongan bagi jiwa.

Yang lebih pandai akan menjadi perencana, sementara yang yang tidak begitu pandai akan menjadi pelaksana. Seorang sarjana teknik yang merancang rumah akan dibayar jauh lebih tinggi daripada tukang batu yang membangun, karena pekerjaan sang sarjana membawa tanggung jawab besar, yakni memastikan kuat tidaknya bangunan tersebut untuk ditinggali selama puluhan bahkan ratusan tahun, sementara tukang batu bayarannya lebih kecil, karena ia hanya bertanggung jawab selama proses pembangunan berlangsung. Ibaratnya, sarjana bertanggung jawab selamanya, tukang batu bertanggung jawab hanya selama proses membangunnya. Masing-masing golongan masyarakat memiliki tanggung jawab sendiri-sendiri dan masing-masing pula dapat mengambil manfaatnya bagi diri sendiri tanpa merugikan orang lain. Kesemuanya telah digariskan oleh Allaah Ta’aala.

Allaah Ta’aala juga berfirman dalam surat al-Hujuraat (49): 13

hujurat 13

Wahai manusia! Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan serta menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allaah ialah yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allaah Maha Mengetahui, lagi Maha Mengenal.

Selain Allaah ciptakan manusia dalam golongan-golongan keahlian dan kemampuan, Allaah gariskan pula manusia dalam kelompok-kelompok besar, yakni suku dan bangsa, agar saling mengenal satu dengan lainnya. Apa maksud dan tujuan perkenalan tersebut? Jelas adanya, bahwa terwujudnya sebuah kerjasama yang saling membawa manfaat dimulai dengan mengenali mitra kerjasama tersebut. Apa yang kita punya, apa yang kita bisa, apa yang mereka punya, apa yang mereka bisa, di mana pengenalan tersebut akan berujung pada satu pemahaman bersama yakni karena saling membutuhkan, maka mari saling memberi manfaat, bukan sekedar mencari keuntungan semata yang berakhir pada penindasan dan penguasaan yang kuat kepada yang lemah.

Inilah takdir manusia sejak dalam awal penciptaannya, “khalaqal-insaana min ‘alaq” yang artinya “dan diciptakanlah menusia dari sesuatu yang bergantung pada dinding rahim”, bahwa manusia tak akan pernah bisa mampu berdiri sendiri, tanpa berinteraksi dengan masyarakat.

Hadirin rahikumullaah. Mari kita isi rasa syukur kita, yakni rasa syukur kita tentang kondisi bangsa yang relatif tenteram dalam sehari-harinya dengan kegiatan positif dalam rangkaian ikhtiar dan tawakkal kita untuk menjadi pribadi yang terbaik bagi orang lain, yang terbaik bagi masyarakat, yang terbaik bagi bangsa dan negara.

Memang benar ada sebagian siswa dan mahasiswa yang menkhianati kewajibannya dengan tawuran. Memang ada segolongan masyarakat yang saling menumpahkan darah hanya karena masalah sepele tanpa dipahami terlebih dahulu permasalahannya. Memang ada menteri, hakim, anggota dewan, bupati, walikota, atau pejabat publik lain yang menzhalimi dirinya dan masyarakat dengan perilaku curang dan korup.

Semua perilaku tidak Islami tersebut memang ada, sering terjadi, dan bahkan mungkin saat ini pun masih terus.berlangsung. Tetapi cukuplah hal-hal buruk tersebut menjadi catatan dan pengingat bagi kita dalam menjalani kehidupan ke depan.

Karena sikap kita yang laling tepat adalah bagaimana kita menemukan berkas-berkas cahaya di antara kegelapan pekat tersebut. Bahwa masih banyak siswa dan pelajar yang tidak tawuran dan masih fokus belajar. Bahwa masih banyak masyarakat yang sudah dewasa dalam menghadapi konflik, tidak grusa-grusu menyelesaikan masalah dengan dendam dan menumpahkan darah. Bahwa masih banyak menteri, anggota dewan, hakim, bupati, walikota, gubernur, dan pejabat publik yang jujur dan setia dengan nilai kebenaran.

Hal-hal positif inilah yang sudah seharusnya menjadi baterai bagi kita dalam berkarya dan bertindak. Mari kita motivasi anak-anak kita, saudara-saudara kita, orang-orang terdekat dalam kehidupan kita dengan kisah-kisah yang bercahaya ini, bahwa masih ada harapan bagi negeri kita untuk bangkit dari keterpurukan akhlak.

Kita dorong mereka agar terus melanjutkan sekolah dan pendidikan, sedangkan bagi yang sudah bekerja mari kita semangati mereka untuk berani bertindak jujur dan benar. Katakan pada mereka, bahwa kita tidak pernah sendiri dalam berbuat baik.

Hadirin rahimakumullaah. Momentum tahun baru dan hadirnya bulan Rabbi’ul ‘Awwal adalah waktu yang sangat bagi kita untuk memperbarui semangat juang kita untuk menjadi pribadi yang baik, pribadi shalih dalam iman dan taqwa kepada Allaah yang mampu mendatangkan manfaat bagi orang lain di sekitar kita. Kita cari informasi-informasi masyhur bagaimana Rasuulullaah SAW mampu menjadi motor perubahan ke arah positif, dengan akhlak dan perilaku beliau yang sangat terpuji.

Allaah Ta’aala berfirman dalam Ar-Ra’d (13): 11

ra'd 13

Sesungguhnya Allaah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah apa (sikap mental dan pikiran) yang ada pada diri mereka.

Prof. Quraish Shihab menjelaskan dalam bukunya Wawasan al-Qur’an bahwa Ayat ini berbicara tentang dua macam perubahan dengan dua pelaku. Pertama, perubahan masyarakat yang pelakunya adalah Allah, dan kedua perubahan keadaan diri manusia (sikap mental) yang pelakunya adalah manusia. Perubahan yang dilakukan Tuhan terjadi secara pasti melalui hukum-hukum masyarakat yang ditetapkan-Nya. Hukum-hukum tersebut tidak memilih kasih atau membedakan antara satu masyarakat/kelompok dengan masyarakat/kelompok lain.

“Ma bi anfusihim” yang diterjemahkan dengan “apa yang terdapat dalam diri mereka”, terdiri dari dua unsur pokok, yaitu nilai-nilai yang dihayati dan iradah (kehendak) manusia. Perpaduan keduanya menciptakan kekuatan pendorong guna melakukan sesuatu.

Ayat di atas berbicara tentang manusia dalam keutuhannya, dan dalam kedudukannya sebagai kelompok, bukan sebagai wujud individual. Dipahami demikian, karena pengganti nama pada kata anfusihim (diri-diri mereka) tertuju kepada qawm (kelompok/masyarakat). Ini berarti bahwa seseorang, betapapun hebatnya, tidak dapat melakukan perubahan, kecuali setelah ia mampu mengalirkan arus perubahan kepada sekian banyak orang, yang pada gilirannya menghasilkan gelombang, atau paling sedikit riak-riak perubahan dalam masyarakat.

Hadirin rahimakumullaah, tak perlu menunggu pemilu atau pemilihan kepala daerah, mari menggulirkan perubahan ke arah yang lebih baik Indonesia sebagai bentuk syukur kita atas ketenteraman ini. Mari kita mulai dari diri sendiri, dari orang-orang terdekat dalam kehidupan kita, yang nantinya akan merembes ke perubahan di masyarakat, bangsa, dan negara, insya-Allaah. Semoga Allaah Ta’aala meridlai ikhtiar zhahir dan bathin kita untuk mencapai sebaik-baik manusia, yakni insan yang mampu memberi manfaat kepada lainnya. Amiin, allaahumma amin.

_____

Semoga bermanfaat dan membawa secercah cahaya bagi hati para pembaca!

Kampus JTF UGM, 18 Januari 2013, 16:20 [UTC+7],

Ahmad Rahma Wardhana,

stempel