Khatbah Kedua: Berkah di Puncak Spiritualitas Hari Jumat

Bismillaah ar-Rahmaan ar-Rahiim,

Allaahumma shalli wa sallim ‘alaa Sayyidinaa Muhammad Shalla-Lllaahu ‘alayhi wa aalihi wa sallam.

Jumu’ah yang Ijabah

Menurut berbagai riwayat, hari Jumat adalah hari yang istimewa, bahkan sebuah hari raya bagi umat muslim. Hari Jumat juga salah satu waktu yang ijabah untuk berdoa.

Khusus tentang hal ini (waktu ijabah) para ulama bermacam-macam pendapatnya. Ada yang mengatakan saat masuk hari Jumat (Kamis pas maghrib), ada yang mengatakan jelang berakhirnya Jumat (Jumat pas ashar), ada pula yang berpendapat saat di antara dua khatbah.

Maka, mari berprasangka baik kepada Allaah Ta’aala, bahwa saat ijabah tersebut sengaja dirahasiakan, agar sepanjang hari Jumat (sejak Kamis maghrib hingga Jumat jelang maghrib) kita tanpa henti-hentinya berusaha meraih keijabahan tersebut: banyak istighfar, shalawat, dzikir, dan berdoa sepanjang hari Jumat.

Selain itu, di hari raya Jumat juga ada ibadah khusus bagi lelaki, yakni Shalat Jumat. Dalam ibadah Shalat Jumat, terdapat dua khatbah (dengan jeda sejenak di antara keduanya) kemudian ditutup dengan shalat dua rakaat.

Masing-masing Khatbah Jumat diawali dengan pujian kepada Allaah Ta’aala, kemudian dua kalimat persaksian (dua kalimat syahadat), shalawat kepada Rasuul SAW, dan wasiat ketakwaan. Ayat Qur`an juga harus dibacakan pada salah satu khatbah dan pada akhir khatbah kedua.

Khatbah yang Menarik

Aturannya, jamaah itu harus mendengarkan khatbah, bukan untuk ngobrol dengan jamaah lain (berkata satu kata saja ibadah Jumatnya batal!), apalagi tidur. Yah walaupun kalau ketiduran (tidak sengaja tidur) insya-Allaah masih bisa dimaklumi.

Maka sesungguhnya, penting bagi seorang khatib untuk memilih kata yang bagus atau tema yang menarik atau cara menyampaikan yang berbeda dalam khatbahnya, agar jamaah menyimak (bukan malah menjadi terkantuk-kantuk), agar nasihat-nasihat yang disampaikan bisa masuk ke dalam qalbu.

Sebagai contoh, sebisa mungkin khatib tidak melulu menduduk ke arah teks khatbahnya, tetapi lakukan kontak dengan jamaah. Sapulah pandangan ke seluruh jamaah (di arah 10 cm di atas kepala jamaah) agar terkesan ada kontak. Karena kalau langsung memandang ke mata jamaah dan terjadi kontak, bukan tidak mungkin muncul sekilas rasa grogi.

Contoh lain, adalah ada intonasi dalam berkhatbah. Guru public speaking saya pernah mengajarkan, seorang dai yang baik adalah al-Maghfurlah KH Zainuddin MZ. Intonasi beliau bisa lembut, bisa keras, bisa tegas, bisa dalam suaranya, dan seterusnya, bergantung konteks kalimat. Kalau sedang mengisahkan cerita (yang kemudian dibahas hikmahnya), misalnya, cobalah seperti para pendongeng: ada perbedaan suara ketika terjadi dialog.

Bisa pula dengan memilih kata-kata pembuka yang berbeda dari kelaziman: kalimat pujian kepada Allaah, kalimat shalawat, dan wasiat taqwa yang puitis, sehingga sejak awal khatbah jamaah akan menaruh perhatian. Misalnya, gunakan cara repetitif (berulang) tapi dengan kata yang berbeda meski masih bersinonim. Konsekuensi cara ini adalah khatib harus melanjutkannya penjelasannya dengan tema yang menarik, sehingga jamaah tidak bosan dan malah jatuh dalam jebakan kengantukan.

Khatbah Jumat itu komunikasi satu arah, maka kualitasnya ya bergantung pada sang Khatib. Kesempatan diberikan oleh agama, yakni diamnya jamaah, maka khatib harus bisa memanfaatkannya dengan baik dan seoptimal mungkin untuk memotivasi umat agar meneguhkan diri untuk selalu berusaha menjadi pribadi yang terbaik, begitu ibadah Jumat selesai.

Khatbah Kedua: Berdoa

Jika saya berkesempatan khatbah, biasanya uraian khatbah saya sampaikan seluruhnya di khatbah pertama. Mulai dari penjelasan hingga kesimpulan. Kemudian saya gunakan khatbah kedua total untuk berdoa.

Begitu membaca rangkaian hamdalah, syahadah, shalawat, wasiyat, dan ayat qur`an (biasanya ayat Shalawat, al-Ahzab 56) dimulailah rangkaian doa saya bacakan.

Bagi saya, khatbah pertama adalah ikhtiar bagi khatib dan jamaah untuk memperbaiki diri: mendengar teorinya kemudian meneguhkan jiwa untuk melaksanakannya. Sementara khatbah kedua adalah tawakkal, yakni ikhtiar bathin dalam memperbaiki diri dan masyarakat, dengan berdoa.

Bagaimanapun, dalam pandangan Islam, doa itu sama pentingnya dengan ikhtiar dan usaha. Di saat jamaah sedang dalam kondisi terbaik iman-taqwanya sejak masuk masjid, kemudian diteguhkan oleh karena uraian khatib di khatbah pertama, plus ijabahnya waktu di sepanjang Jumat untuk berdoa, maka saya berprasangka baik kepada Allaah Ta’aala, bahwa khatbah kedua itu merupakan puncak spiritual hari Jumat: sangat ijabah untuk berdoa!

Berikut ini adalah contoh kalimat yang biasa saya ucapkan sebelum memulai membaca doa:

Hadirin rahimakumullaah.

Di khatbah yg kedua ini, mari kita manfaatkan bertumpuk-tumpuknya keberkahan ini dg memohon dan megucap doa kpd Allaah Ta’aala.

Hari ini adl Hari Jumat, Hari Raya, Hari yang Mulia kata Kanjeng Nabi SAW. Maka ada keberkahan di sepanjang harinya.

Saat ini kita berada dalam majelis jum’at, sebuah majelis ilmu karena di dalamnya disampaikan nasihat keagamaaan dan juga merupakan majelis dzikir karena di dalamnya kita diingatkan utk mengingat Allaah Ta’aala dan Rasuulullaah SAW.

Maka kata Kanjeng Nabi SAW, ada keberkahan di majelis ilmu dan majelis dzikir.

Saat ini pula kita berada di dalam masjid, tempat untuk bersujud, rumah Allaah yang suci, maka ada keberkahan di dalamnya.

Saat ini pula kondisi jiwa dan qalbu kita adalah kondisi yg terdekat dg Allaah. Kita bersama-sama di dalam masjid krn keikhlasan, berniat menghadap Allaah, berniat ibadah, melupakan sejenak urusan keduniaan kita. Maka kondisi hati yg seperti ini adl yg terdekat dan terbaik, penuh keberkahan di dalam sikap semacam ini.

Maka hadirin rahimakumullaah, keberkahan yg bertumpuk-tumpuk ini, keberkahan waktu, keberkahan tempat, dan keberkahan kondisi ini mari kita gunakan utk memohon kehadirat Allaah SWT.

Semoga Allaah memudahkan urusan dunia kita, yakni urusan dunia yg mampu menjadi bekal bg kehidupan kita di akhirat kelak.

Memohon, semoga Allaah memudahkan kita dalam membiasakan diri dan mendidik anak-anak kita utk menjadi yang lebih baik, lebih beriman dan bertakwa.

Memohon kepada Allaah, semoga Allaah melindungi kita dan orang yg kita cintai, terutama negeri kita Indonesia beserta seluruh negeri muslim lainnya, dari segala bencana dan bala, dari segala konflik dan peperangan, dari segala pertumpahan darah maupun bencana alam. Aamiin, Allaahumma Aamiin…

*kemudian baca doa, khatbah selesai*

Setelah ini, akan saya bahas doa yang biasa saya bacakan dan uraian penjelasannya mengapa doa itu yang saya pilih. Teks doa arab dan maknanya, insya-Allaah akan saya lampirkan di akhir tulisan ini (siapa tahu ada yang mau memakainya).

1. shalawat ke Rasuul SAW

Begitu ayat Shalawat dibaca, doa di khatbah dibuka dengan bacaan Shalawat ke atas Rasuul SAW. Bacaan shalawat beribu macamnya, ada yang panjang ada yang pendek. Dalam khatbah, yang biasa saya baca yang lafadznya:

Ya Allaah, limpahkanlah shalawat atas Sayyidinaa Muhammad, hamba-Mu, Nabi-Mu, dan Rasul-Mu, Nabi yang ummiy.

2. kemudian diteruskan dengan doa untuk kaum muslim dan mukmin, sebagaimana sangat lazim kita dengar

Ya Allaah, ampunilah (dosa) kaum muslim laki-laki dan kaum muslim perempuan, kaum mukmin laki-laki dan kaum mukmin perempuan, (baik) yang masih hidup (maupun) yang telah wafat, sesungguhnya Engkau Maha-mendengar, Maha-dekat, lagi Maha-mengabulkan permintaan, Wahai Yang Mencukupi Kebutuhan.

3. doa qur`ani tentang keluarga

Jamaah Jumat itu semuanya laki-laki, para kepala keluarga (dan calon kepala keluarga). Maka penting bagi khatib untuk membaca doa ini, yakni dari surat al-Furqaan (25) ayat 74. Berdoa bagi seluruh jamaah agar mampu menciptakan keluarga yang baik.

Ya Allaah, Tuhan Pemelihara kami, anugerahkanlah untuk kami, dari pasangan-pasangan kami serta keturunan kami, penyejuk-penyejuk mata (kami) dan jadikanlah kami teladan-teladan bagi orang-orang bertakwa. [al-Furqaan (025): 74]

4. doa qur`ani tentang keteguhan petunjuk

Ibadah Jumat memberikan banyak nasihat dan petunjuk kepada jamaah, maka agar teguh dan tak bengkok hatinya selepas Jumat hingga bertemu dengan Jumat lagi, doa yang bersumber dari surat Aali ‘Imraan (003) ayat 8 ini juga penting untuk dibaca

Ya Allaah, Tuhan Pemelihara kami, janganlah Engkau jadikan hati kami berpaling, sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan anugerahkanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi (anugerah). [Aali ‘Imraan (003): 8]

5. doa qur`ani untuk kemudahan dalam urusan

selepas Jumat, berlanjutlah aktivitas umat. maka perlu dibaca doa ini, sebagai bekal spiritual bagi jamaah. doa ini bersumber dari surat al-Kahfi (018) ayat 10

Ya Allaah, Tuhan Pemelihara kami, anugerahilah kami rahmat dari sisi-Mu; dan siapkanlah bagi kami petunjuk untuk urusan kami. [al-Kahfi (018): 10]

6. doa umat Sayyidinaa Muhammad

setelah berdoa dengan lingkup lokal, puncak spiritual Jumat tersebut perlu pula kita manfaatkan untuk doa yang lebih global, doa keummatan. Doa ini saya kutip dari buku Nashaihul ‘Ibad nya Imam Nawawi al-Bantani.

Ya Allaah ampunilah umat Sayyidinaa Muhammad,

Ya Allaah rahmatilah umat Sayyidinaa Muhammad,

Ya Allaah tutupilah (kekurangan) umat Sayyidinaa Muhammad,

Ya Allaah (berilah) kecukupan (untuk) umat Sayyidinaa Muhammad,

Ya Allaah perbaikilah (urusan) umat Sayyidinaa Muhammad,

Ya Allaah (berilah) kesehatan (untuk) umat Sayyidinaa Muhammad,

Ya Allaah lindungilah umat Sayyidinaa Muhammad SAW

dan

Ya Allaah rahmatilah umat Sayyidinaa Muhammad dengan rahmat yang menyeluruh, wahai Tuhan Pemelihara Seluruh Alam.

Ya Allaah ampunilah umat Sayyidinaa Muhammad dengan ampunan yang menyeluruh, wahai Tuhan Pemelihara Seluruh Alam.

Ya Allaah lapangkanlah umat Sayyidinaa Muhammad dengan kelapangan yang datang dengan segera, wahai Tuhan Pemelihara Seluruh Alam.

7. doa keselamatan ummat
Bahasa lain dari doa ini adalah doa tolak bala’, doa yang berisi permohonan perlindungan kepada Allaah Ta’aala untuk kaum muslimin di seluruh negeri-negeri Islam. doanya cukup eksplisit karena bisa ditambah dengan menyebut nama tempat (dalam hal ini, saya tambahkan Indonesia), sebagaimana nanti nampak dalam teks doa.

Ya Allaah hindarkanlah kami dari bencana, bala`, malapetaka, kekejian, kemungkaran, silang sengketa, serta kekejaman dan peperangan, (baik) yang tampak (maupun) yang tersembunyi, di negeri kami Indonesia khususnya dan negeri-negeri kaum muslimin pada umumnya. Sesungguhnya Engkau Maha-kuasa atas segala sesuatu.

8. doa qur`ani penutup
setelahnya, ditutup dengan dua doa qur`ani, yang memang sudah sering dan lazim dibaca dalam berbagai bentuk rangkaian doa: doa sapu jagad (al-Baqarah (002): 201) dan doa ibrahim (al-Baqarah (002): 127-128), karena cakupannya yang menyeluruh

Ya Allaah, Tuhan Pemelihara kami, anugerahilah kami hasanah (segala yang baik) di dunia dan hasanah di akhirat dan peliharalah kami dari azab neraka. [al-Baqarah (002): 201]

dan

Ya Allaah, Tuhan Pemelihara kami, terimalah dari kami (amal kami) sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha-mendengar lagi Maha-mengetahui, dan terimalah taubat kami, Wahai Penolong kami, sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha-penerima taubat lagi Maha-pengasih. [al-Baqarah (002): 127-128]

9. kalimat-kalimat penutup
doa pun ditutup dengan pengharapan surga sebagai bentuk iman dengan akhirat, shalawat, dan pujian kepada Allaah Ta’aala

Dan masukkanlah kami ke dalam surga bersama orang-orang yang berbuat baik, wahai Yang Maha-perkasa lagi Maha-pengampun, (wahai) Tuhan Pemelihara Seluruh Alam.

kemudian

Dan shalawat Allaah (terlimpahkan) ke atas Sayyidinaa Muhammad serta ke atas keluarga dan sahabat beliau, (serta) berkatilah dan sejahterakanlah.

serta

Maha-suci Tuhan Pemeliharamu, Tuhan Pemelihara Yang Maha-mulia dari apa yang mereka sifatkan, dan (terlimpahlah) kesejahteraan ke atas rasul. Segala puji bagi Allaah, Tuhan Pemelihara Seluruh Alam.

Demikianlah rangkaian doa yang lazim untuk saya baca.

Semoga mampu menjadi masukan bagi para khatib, demi mengantar para umat pada puncak spiritualitas hari Jumat: berdoa pada Khatbah Kedua.

Wallaahu a’lam.

File 1, rangkaian doa dalam ukuran kertas A5, format pdf, arab saja: doa jumat arab A5

File 2, rangkaian doa dalam ukuran kertas A5, format pdf, arab dan makna: doa jumat arab A5 – makna

NB: bagi para pembaca yang menemukan kekeliruan redaksional dalam arab dan maknanya, mohon koreksi

Melihat Tahlilan dan Maulidan lewat Kacamata Saya

Melihat Tahlilan dan Maulidan lewat Kacamata Saya

Bismillaah ar-Rahmaan ar-Rahiim.

Allaahumma shalli ‘alaa Sayyidinaa Muhammadin Shalla-Llaahu ‘alayhi wa aalihii wa sallam.

Sesungguhnya, membahas hal ini di kalangan umum (seperti ditulis di blog, misalnya) adalah kurang tepat menurut saya, karena menimbulkan potensi perdebatan yang tiada habisnya. Seorang ulama yang saya kenal baik, menolak membahas hal ini setiap ada tantangan yang diajukan kepada beliau (meskipun beliau punya kapasitas untuk membahasnya), alasannya sederhana: menghindari perdebatan yang mampu mengeraskan hati.

Mengapa perlu dihindari perdebatan? Menurut saya ada beberapa sebab,

  1. pembahasan hal ini merupakan urusan khilafiyah (hal sudah disepakati sebagai perbedaan di kalangan Islam), bukan sesuatu yang pokok dalam agama, sehingga pembahasannya hanya akan menghabiskan energi, yang alangkah baiknya dialihkan untuk hal lain yang lebih urgent dan penting,
  2. masing-masing pihak sesungguhnya sudah mantab dengan pilihannya (yang menganggap sunnah maupun yang bukan), maka tidak perlu diperdebatkan lagi keabsahannya, karena mereka telah bersandar pada pendapat ulama masing-masing, yang menganggap sunnah silakan diamalkan, yang menganggap bukan sunnah ya tidak perlu mengamalkan (plus jangan menuduh sesat atau bahkan mengafirkan kepada yang mengamalkan).

Nah, selanjutnya, akan saya sampaikan bagaimana jalan pikiran saya mengenai permasalahan ini, bersumber dari apa yang saya dapat selama ini, membaca buku yang ditulis oleh ulama yang berkapasitas dan bertanya/diskusi kepada ulama yang berkapasitas.

***

Tahlilan

Saya termasuk orang yang dengan mantab meyakini kegiatan Tahlilan sebagai bagian Sunnah Rasuul SAW, bukan bagian dari bid’ah sesat. Sunnah itu segala sesuatu yang bersandarkan pada Rasuul SAW (perkataan, perbuatan, atau persetujuan Rasuul SAW terhadap suatu hal), sementara bid’ah sesat  adalah segala sesuatu yang tidak bersandarkan pada Rasuul SAW.

Mengapa dengan mantab? Karena saya tidak menemukan adanya kesesatan dalam kegiatan-kegiatan tersebut.

Kegiatan Tahlilan, pokok kegiatannya adalah mendoakan orang yang meninggal dengan berwasilahkan amal shalih, yakni membaca surat Yaa-Siin dan kalimat-kalimat thayyibah yang diajarkan Rasuul SAW.

(salah satu) yang berkaitan denganTahlilan adalah hadits shahih tentang tiga orang yang terjebak di dalam gua (pintu gua tertutup oleh batu yang besar di mana ketiga orang tersebut tidak kuat untuk mendorongnya). Solusinya, sebagaimana dikisahkan dalam hadits tersebut, tiga orang ini kemudian berdoa kepada Allaah Ta’aala agar bergeser batu tersebut. Doanya diucapkan dengan terlebih dahulu menyebutkan amal shalih yang pernah dilakukan dengan ikhlas karena Allaah Ta’aala. Dikisahkan, mereka bertiga berhasil keluar karena batunya memang bergeser, sehingga cukup bagi ketiganya untuk melewatinya.

Hadits shahih tersebut menunjukkan kebolehan bagi kita untuk berdoa dengan menggunakan amal shalih sebagai washilah atau perantara. Bahasa mudahnya (semoga Allaah Ta’aala mengampuni saya jika analogi tidak sesuai dengan kehendak-Nya), kita beramal dengan ikhlas, sedangkan amal-amal tersebut sewaktu-waktu bisa dipakai sebagai perantara agar permohonan kita terkabul.

Tahlilan diawali dengan membaca surat Yaa-Siin, membaca beberapa kali surat Faatihaah, membaca beberapa ayat al-Qur`an lain, membaca kalimat-kalimat thayyibah yang memuji Allaah Ta’aala dan Rasuul SAW (yang diajarkan Rasuul SAW dalam berbagai hadits), yang kemudian ditutup dengan doa. Doa penutup tahlil secara gamblang dan eksplisit menyebutkan proses per-washilahan tadi: mendoakan kebaikan dan ampunan bagi yang meninggal dengan perantara amal shalih membaca ayat-ayat Qur`an, shalawat, serta kalimat thayyibah yang sudah dilakukan sebelumnya.

Ada yang membantah bahwa tahlilan itu sia-sia bagi mayyit dengan berlandaskan hadits bahwa amal manusia terputus saat kematiannya, kecuali ilmu, amal shalih, dan doa dari anaknya yang shalih. Hadits ini benar, karena memang orang yang sudah mati tidak bisa melakukan apapun. Tetapi, dalam tahlilan itu yang beramal shalih adalah yang masih hidup, kemudian amal shalih tersebut digunakan untuk berdoa, doanya ya untuk kebaikan mayyit.

Merujuk pada hadits tiga orang terjebak di gua, maka cara ini (tahlilan, yakni mendoakan mayyit berperantakan amal shalih) insya-Allaah menjadi doa yang ijabah.

Maka penting dalam sebuah acara tahlilan, imam tahlilan sudah seharusnya membuka Tahlilan dengan meminta keikhlasan makmum Tahlilan dalam membacakan Yaa-Siin, Qur`an, shalawat, serta kalimat thayyibah. Atau membukanya dengan mengingatkan kebaikan-kebaikan si mayyit semasa masih hidup, agar muncul dorongan balas budi: keikhlasan dalam mendoakannya di dalam Tahlilan.

Di mana kesesatan Tahlilan? Kalau bid’ah, ya. Rasuul SAW memang tidak melakukannya sebagai sebuah kegiatan pasca kematian seseorang yang disebut Tahlilan, sebagaimana sekarang ada urutannya. Tetapi kalau mengatakan Tahlilan itu bid’ah sesat, (menurut saya) sangat keliru! Esensi Tahlilan itu tidak ada yang menentang ajaran Rasuul SAW, bahkan bersandar pada ajaran Rasuul SAW sebagaimana saya sampaikan tadi.

Buku Tahlilan yang beredar itu semacam pedoman bagi umat, bahwa Tahlilan nilai pahalanya menjadi baik kalau dilakukan berdasar buku tersebut. Adapun kalau tidak mengikuti buku tersebut ya tidak masalah, selama prinsip melakukan amal shalih dengan ikhlas dan kemudian berdoa untuk mayyit dengan amal shalih, terpenuhi.

Sebagai ilustrasi, di buku Tahlilan ada anjuran membaca Laa ilaaha illaa-Llaah 100 kali. Tetapi saya pribadi ketika ngimami Tahlilan di kampung ya tidak serta merta 100 kali. Biasanya saya reduksi menjadi 25 atau 50 kali saja. Mengapa? Biasanya Tahlilan di kampung-kampung dilakukan setelah Isya, padahal Bapak-Bapak yang hadir sudah capek seharian kerja. Sehingga, agar prinsip keikhlasan terpenuhi, ya jumlahnya disedikitkan.

Selain itu, sesungguhnyaTahlilan tidak terbatas pada mendoakan mayyit, tetapi bisa digunakan untuk mendoakan hajat tertentu. Prinsipnya jelas: lakukan amal shalih (membaca ayat-ayat Qur`an, shalawat, dan kalimat thayyibah) dan gunakanlah sebagai perantara bagi doa.

Maka sesungguhnya, dalam Tahlilan itu tak dikenal istilah wajib dilakukan, kalau tidak melakukannya akan berdosa. Berdosalah kalau ada orang yang mengatakan ini. Tahlil itu bid’ah kemasannya, sunnah isinya. Bermanfaat bagi yang Tahlilan (melakukan amal shalih), bermanfaat pula bagi yang di-tahlil-kan (didoakan keselamatannya, di mana keijabahannya dijanjikan oleh hadits shahih).

Ada banyak hal lain yang bisa dibahas lebih mendalam tentang dalil-dalil Tahlilan, tapi ruangnya bukan di tulisan ini. Insya-Allaah nanti pada akhir tulisan ini akan saya rujukkan buku dan ulama yang tepat untuk membahas permasalahan ini.

***

Maulidan

Saya juga tergolong orang yang setuju dengan Maulidan sebagai bagian dari sunnah Rasuul SAW (isinya) dan Maulidan bukan pula bagian dari bid’ah sesat, tetapi merupakan bid’ah yang baik.

Salah satu dalil utama Maulidan adalah sebuah hadits shahih riwayat Imam Bukhari, yang mengisahkan bahwa setahun setelah kematian Abu Lahab (paman sekaligus musuh bebuyutan Rasuul SAW), al-‘Abbas (paman Rasuul SAW yang lain) bertemu dengan Abu Lahab di dalam mimpi. Al-‘Abbas melihat Abu Lahab memakai pakaian putih, kemudian al-‘Abbas bertanya tentang keadaannya. Abu Lahab (dalam mimpi tersebut) menjawab bahwa dia di neraka, tetapi setiap malam Senin Allaah meringankan siksanya karena dia memerdekakan hamba sahayanya (Tsuwaibah), yang pada saat kelahiran Rasuul SAW menyampaikan kabar tersebut kepadanya.

Abu Lahab, yang sedemikian hebat permusuhannya kepada Rasuul SAW (hingga diabadikan sebagai ayat Qur`an) saja mendapat keringanan siksa, karena memerdekakan hamba sahayanya berkat kegembiraanya saat mendengar berita Rasuul SAW lahir; apalagi umat Islam yang bukan hanya gembira, tapi bahkan mencintainya dan menjalankan ajarannya.

Hadits tersebutlah yang menjadi dorongan bagi umat Islam mengadakan bid’ah baik yang disebut Maulidan, membaca riwayat hidup Rasuul SAW. Tujuannya jelas, ekspresi kegembiraan atas hadirnya Rasuul SAW, me-refresh pengetahuan kehidupan Rasuul SAW agar bisa meneladani, memperbarui semangat keberagamaan dengan mendengar kembali bagaimana perjuangan Rasuul SAW.

Lebih jauh, acara Maulidan juga dirangkai dengan majelis dzikir dan doa, yang prinsipnya sama dengan Tahlilan: beramal shalih dengan membaca Qur`an, mengingat kehidupan Rasuul SAW, membaca shalawat, membaca kalimat-kalimat dzikir (kalimat thayyibah), dan kemudian ditutup dengan doa yang berperantarakan amal-amal shalih tadi.

Kitab Maulid yang dibaca biasanya dimulai dengan menceritakan silsilah keluarga Rasuul SAW yang mulia sejak Nabi Ismail ‘AS, yang memberi hikmah kepada kita: bentuklah keluargamu sebagai semulia-mulia keluarga! Dilanjutkan dengan peristiwa-peristiwa jelang kelahiran Rasuul SAW, saat Beliau SAW lahir, hingga kemudian mengisahkan kemuliaan akhlak Beliau SAW yang sangat menginspirasi beserta mukjizat-mukjizatnya.

Namun sesungguhnya, isi dari kitab-kitab Maulid itu berintikan pada salah satu keluarbiasaan beliau: akhlak. Kitab-kitab tersebut ditulis dalam bahasa sastra arab yang tinggi nilainya, mendeksripsikan cahaya-cahaya perilaku dan perkataan Rasuul SAW, agar para peserta Maulid tidak luntur cintanya kepada Rasuul SAW.

Boleh jadi, fakta sejarah memang mengatakan bahwa bid’ah baik (perayaan Maulid) ini diawali oleh Dinasti Syiah untuk mendakwahkan kesesatannya. Akan tetapi apakah kita yang tidak sesat kemudian tidak boleh mengamalkannya, selama kesesatannya dihilangkan dan bahkan kita manfaatkan sebagai alat mempersatukan umat?

Buktinya, para ulama yang jelas bukan Syiah (bahkan menentang Syiah) justru menganjurkan pembacaan Maulid. Bahkan kalau kita membaca terjemahnya (cobalah membaca!) kitab-kitab Maulid yang masyhur di kalangan Ahlus-Sunnah, seperti Barzanji, Syaraful-Anam, Burdah, dan Simthud-Durar, tak ada sedikitpun kesesatan di dalamnya!

Seandainya fakta sejarah ditemukan bahwa microphone dan pengeras suara pada awalnya digunakan kaum nasrani di gereja dalam khatbah-khatbahnya, apakah kemudian menjadi haram bagi Islam? Tentu tidak, karena microphone dan pengeras suara juga bisa kita gunakan untuk memperdengarkan syiar Islam atau bahkan ayat-ayat Qur`an.

Sesungguhnya, Maulid adalah bid’ah bentuknya (karena Rasuul SAW tidak merayakan kelahiran Beliau SAW kecuali dengan puasa di hari Senin), bahkan (mungkin) bid’ah sesat pada awalnya (kaitannya sejarah Dinasti Syiah jika dibenarkan), tetapi sunnah isinya, karena menuntun kita untuk lebih mengenal akhlak keseharian Rasuul SAW, sehingga muncul dorongan untuk semakin meneladani Beliau SAW. Apalagi, jika Maulidan merupakan bentuk nyata kegembiraan kita akan hadirnya Rasuul SAW di dunia, bukankah keringanan siksaan insya-Allaah akan kita dapatkan kelak, sebagaimana Abu Lahab dapatkan?

***

Autokritik atas Tahlilan dan Maulidan

Saya tidak akan memungkiri adanya kritik pada ritual Tahlilan dan Maulidan.

Contoh kritik misalnya, seolah ada kewajiban bagi yang mengadakan Tahlilan atas keluarga yang baru meninggal agar mengadakan jamuan makan bagi jamaah dan tetangga yang hadir untuk ikut Tahlilan. Tentu saja kewajiban semu ini akan memberatkan bagi keluarga mayyit jika tergolong miskin.

Sesungguhnya, tidak ada kewajiban untuk menjamu, karena menjamu tamu itu sunnah, apalagi tamu tersebut hadir untuk ikut mendoakan. Solusinya sederhana, bahwa jamaah Tahlilan sudah seharusnya memakluminya (jika keluarga mayyit memang tidak mampu), baik dengan diam jika tak mendapatkan jamuan apapun (walaupun ini tidak mungkin, maksudnya tidak mungkin tanpa jamuan) atau bahkan dengan menyedekahkan sebagian hartanya kepada ahli waris untuk membantu meringankan beban jamuannya.

Sedangkan autokritik tentang Maulidan, misalnya adalah munculnya kadar berlebihan dalam pembelanjaan harta dalam perayaan Maulid, baik lewat hiasan-hiasan atau hidangan-hidangan yang terlalu mewah dan dihabiskan dalam beberapa jam saja. Bagi orang yang mampu, hal tersebut mungkin saja terjadi karena semangatnya yang tinggi untuk mengekspresikan kegembiraannya terhadap kelahiran Rasuul SAW melalui Maulid.

Solusinya adalah pembelanjaan harta tersebut bisa ditekan dan dialihkan ke hal lain, semisal memberi makan anak yatim, atau dialihkan ke bidang pendidikan dan kesehatan, serta lain sebagainya.

Autokritik lain atas Tahlilan adalah semangat kyai-kyai kampung yang khawatir dengan gerakan anti-Tahlilan dan anti-Maulidan sehingga mendakwahkan Tahlilan dan Maulidan di masyarakat awam sebagai sesuatu yang harus dilakukan dan berdosa meninggalkannya. Ini harus diakui karena memang terjadi di beberapa daerah tertentu.

Solusinya, adalah bagaimana para ulama, kyai, dan dai mendakwahkan pemahaman terhadap Tahlilan dan Maulidan ini kepada masyarakat dengan benar dan mendidik, bukan dengan memasang label dosa kepada yang meninggalkannya, sehingga masyarakat semakin tidak tahu (bahwa sesungguhnya ada dalilnya) atau menimbulkan fanatisme buta (karena ketidaktahuannya).

***

Silsilah Keguruan yang Jelas

Insya-Allaah diri saya pribadi sudah final dan paripurna tentang Tahlilan dan Maulidan, bahwa keduanya adalah bagian dari Sunnah Rasuul SAW. Argumen terhadap kesimpulan saya ini dijelaskan dengan gamblang oleh para ‘Ulama di berbagai tulisan, penjelasan, dan majelis-majelis ilmu.

Mereka, para ‘Ulama yang memegang teguh Tahlil dan Maulid sebagai bagian dari Sunnah Rasuul SAW, bukan orang yang sembarangan menyandarkan sesuatu kepada Rasuul SAW, apalagi berbohong mengenainya. Mereka berani menyandarkannya kepada Rasuul SAW, karena demikianlah yang mereka dapat dari guru mereka. Di mana silsilah keguruan mereka terus menerus bersambung ke atas, hingga sampai ke para ‘Ulama yang masih ngonangi sugeng (mengalami masa hidup) para tabbi’t-tabbi’in dan para tabbi’in.

Sungguh memprihatinkan, bahwa di abad ke-20 ini, pedoman yang sudah bertahan selama berabad sebagai bagian dari Sunnah Rasuul SAW, harus terganggu oleh segelintir orang yang mengaku (atau diakui oleh pengikutnya sebagai) ‘Ulama, tapi tak bisa dipertanggungjawabkan keguruannya.

Orang tersebut dengan metode yang tak bisa dipertanggungjawabkan, tanpa hafalan hadits yang memadahi, tanpa berguru dengan bertatap muka kepada para ‘Ulama yang jelas silsilah keguruannya, kemudian dengan mudahnya menilai hadits sekelas Shahih Muslim dan Shahih Bukhari. Maka menjadi wajar kalau kemudian ia memberikan penilaian terhadap sebuah hadits dengan penilaian yang bertolak belakang, tanpa menjelaskan mana yang sebagai ralat atau mana yang sebagai pendapat akhir bagi dirinya.

Sementara jelas adanya, bahwa Imam Bukhari dan Imam Muslim sebelum menulis satu hadits saja harus dengan pertimbangan yang sangat matang. Imam Bukhari, Imam Muslim dan Imam Hadits lain juga mempunyai hafalan ribuan hadits, baik sanad (jalur dari mana hadits tersebut didapatkan, dari siapa yang mendengar dari siapa, dan seterusnya hingga ke Rasuul SAW) maupun matan (redaksi atau isi)nya. Imam Bukhari, Imam Muslim, dan para Imam Hadits lain mendapatkan hafalan tersebut dengan mengelilingi negeri-negeri muslim, berkelana dan berguru.

Fakta tersebut (orang yang mengomentari para Imam Hadits dihadapkan pada kenyataaan kemuliaan Imam Bukhari, Muslim, dan Imam Hadits lain) adalah keprihatinan saya, yang sungguh, justru semakin memantabkan saya terhadap kedudukan Tahlilan dan Maulidan sebagai bid’ah baik dalam bentuknya sekaligus Sunnah Rasuul SAW dalam isinya.

***

Bid’ah-Bid’ah yang Baik

Berikut ini adalah di antara banyak bid’ah-bid’ah yang baik, sebagai gambaran untuk memahami uraian saya di atas.

  1. membukukan al-Qur`an,
  2. membukukan hadits,
  3. tahlilan dan maulid,
  4. tarawih 20 rakaat dan witir 3 rakaat,
  5. ceramah keagamaan di antara isya dan tarawih,
  6. ceramah keagamaan sesudah subuh,
  7. ceramah keagamaan rutin 35 hari sekali,
  8. ditinggikan dan dilebarkannya tugu yang dilontari jumrah agar bisa dibuat bertingkat, demi memenuhi kapasitas jamaah yang jutaan,
  9. khatbah Jumat bahasa Indonesia,
  10. khatbah ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha bahasa Indonesia,
  11. penggunaan alat-alat modern sebagai sarana dakwah.

***

Sikap yang Baik Memahami Perbedaan

Di kampung saya, mayoritas Muhammadiyah, sebagian berkultur NU. Saya sendiri sudah dikenal berafiliasi dengan kultur NU. Tidak ada halangan bagi saya untuk menjadi khatib Jumat atau menjadi imam atau penceramah di saat Ramadlan di tengah masyarakat tersebut.

Sementara, dua diantara sahabat-sahabat saya adalah yang satu berafiliasi Muhammadiyah, yang satu berafiliasi kepada Salafi, tetapi tak ada halangan bagi kami untuk bergantian menjadi imam shalat fardlu saat kami shalat berjamaah.

Maka, kembali sebagaimana saya sampaikan di awal

masing-masing pihak sesungguhnya sudah mantab dengan pilihannya (yang menganggap sunnah maupun yang bukan), maka tidak perlu diperdebatkan lagi keabsahannya, karena mereka telah bersandar pada pendapat ulama masing-masing, yang menganggap sunnah silakan diamalkan, yang menganggap bukan sunnah ya tidak perlu mengamalkan, tanpa perlu menuduh sesat atau bahkan mengafirkan yang lain.

dan

hal ini merupakan urusan khilafiyah (hal sudah disepakati sebagai perbedaan di kalangan Islam / bersepakat untuk berbeda), bukan sesuatu yang pokok dalam agama, sehingga pembahasannya hanya akan menghabiskan energi, yang alangkah baiknya dialihkan untuk hal lain yang lebih urgent dan penting.

***

Penutup

Demikian sedikit uraian mengenai Amalan Sunnah yang Dituduh Bid’ah: Tahlilan dan Maulid. Nantinya, jika muncul komentar negatif-kontraproduktif mengenai tulisan ini, akan langsung saya hapus, karena perdebatan bukan tujuan dari menulis ini. Selain itu, saya tidak mempunyai kapasitas kemampuan, keilmuan, dan keguruan untuk mendebatnya. Tugas saya, lewat tulisan ini adalah menyampaikan apa-apa yang mudah dicerna oleh awam seperti yang saya pahami (sebagai awam pula).

Jika yang muncul adalah komentar yang membangun atau memperbaiki argumentasi yang saya paparkan, tidak segan bagi saya untuk segera memperbaikinya.

Semoga bermanfaat.

Wallaahu a’lam.

Blunyah Gede, 15 Juli 2013,

Ahmad Rahma Wardhana bin Suwarno

Beberapa buku rujukan,

Tradisi-Islami CAM00321

Lisan Manusia, antara Merusak atau Memberi Energi

Allaah Ta’aala berfirman dalam surat an-Nuur ayat 15

Ketika kamu menerima (berita bohong) itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulut-mulut kamu apa yang tidak ada bagi kamu sedikit pun pengetahuan tentangnya, dan kamu menganggapnya suatu yang remeh, padahal pada sisi Allaah adalah (dosa) yang besar.

Ayat ini turun untuk membela Ummul Mukminiin, Sayyidatinaa ‘Aisyah RA yang saat itu sedang ditimpa fitnah besar. Peristiwa ini terjadi pada tahun kelima sesudah Hijrah dan dinamai al-Ifik, Kebohongan Besar. Saat itu Sayyidatina ‘Aisyah dikira sudah menaiki unta yang ada haudaj-nya (tenda untuk mencegah panas dan terik), sehingga berangkatlah rombongan tersebut. Padahal Sayyidatinaa ‘Aisyah sedang menunaikan hajatnya dan menjadi agak lama karena ada perhiasannya yang dipinjam dari saudarinya hilang sehingga harus mencarinya.

Sayyidatinaa ‘Aisyah yang tahu dirinya tertinggal kemudian menunggu dijemput hingga tertidur. Beliau kemudian ditemukan oleh sahabat Rasuulullaah SAW, Shafwan bin Mu’ath-thal, sahabat yang memang bertugas berangkat paling akhir untuk menyisir kalau-kalau ada barang milik rombongan yang terlupa atau tertinggal. Riwayat lain, sahabat Shafwan berada di akhir rombongan karena memang dikenal mudah tertidur.

Begitu Shafwan menemukan Sayyidatinaa ‘Aisyah, Shafwan langsung menunjuk ke arah untanya, dan Sayyidatinaa ‘Aisyah pun langsung menaikinya. Shafwan menuntunnya hingga mencapai rombongan kembali. Tak ada kata yang diucapkan oleh Shafwan kecuali istirjaa`.

Rumor mulai beredar begitu tiba di Madinah, yakni ada perselingkuhan antara ‘Aisyah dan Shafwan. Rumor ini semakin luas tersebar karena ada orang-orang yang aktif membicarakannya, meskipun tidak membenarkan kejadiannya.

Dalam berbagai riwayat dikisahkan bahwa peristiwa ini benar-benar mempengaruhi kehidupan rumah tangga Rasuulullaah SAW hingga sikap keseharian beliau SAW kepada Sayyidatinaa ‘Aisyah berubah.

Singkat cerita, turunlah ayat ini (beserta ayat yang lain, yakni an-Nuur ayat 10 hingga 18) untuk membela kesucian Sayyidatinaa ‘Aisyah dari perbuatan hina tersebut.

Hadirin rahimakumullaah.

Berhati-hatilah dengan lisan kita, karena bisa menjadi sebab bagi terjadinya peristiwa yang buruk dan bahkan sangat buruk. Kisah asbabun-nuzul ayat tersebut sesungguhnya sangat mengerikan karena dalam prosesnya sempat hampir terjadi peperangan suku di antara sesama muslim. Syukur alhamdulillaah Rasuulullaah SAW bisa mencegahnya.

Berkata-kata tentang sesuatu yang tidak kita ketahui jluntrungannya, sesuatu yang tidak kita ketahui seperti apa kejadiannya, meskipun hanya membicarkannya dan tidak membenarkannya, tidak pula membantahnya, tetap saja akan menimbulkan kericuhan-kericuhan yang bisa membesar setiap saat.

Bukan hanya membicarakan sesuatu masalah, berkata buruk dan kotor saja Islam melarangnya, Allaah Ta’aala berfirman

Celakalah para pengumpat dan pencela.

Ucapan kotor akan merusak jiwa dan mengotori hati. Bahkan ucapan kita tidak ubahnya merupakan doa, karena doa itu paduan merupakan kesungguhan hati yang diucapkan, maka ucapan kotor pun muncul juga karena ada kesungguhan hati untuk mengucapkannya. Jika yang terucap adalah kata-kata kotor, maka sungguh benarlah bahwa kotor pula hati dia yang mengucapkannya.

Termasuk, para Ibu pun dianjurkan untuk tak pernah menyumpahi anaknya dengan keburukan-keburukan, separah apapun kelakuan anak-anaknya. Mengapa? Karena ucapan Ibu kepada anaknya adalah doa yang tak terhalang apapun keijabahannya.

Selain itu, sebuah penelitian ilmiah menunjukkan bahwa jika seorang ibu hamil memiliki kebiasan berprasangka buruk dan membicarakan orang lain, sifat tersebut akan menurun kepada anaknya.

Mari menghindari pembicaraan yang kita tak ada pengetahuan apapun terhadapnya, sekaligus menjauhi ucapan-ucapan kotor, umpatan, dan celaan, agar tidak mengotori jiwa kita sekaligus agar tidak menjadi doa yang buruk bagi diri kita sendiri.

Hadirin rahimakumullaah.

Kalau tadi adalah ucapan yang menimbulkan huru-hara, ada pula rangkaian kata yang bisa membangun jiwa.

Dikisahkan pada sebuah bangsal rumah sakit ada dua orang pasien yang terpisahkan oleh sebuah gorden. Pasien pertama mengalami cedera tulang belakang sehingga harus selalu berbaring. Sementara pasien kedua mengalami luka di panggulnya sehingga harus duduk dalam beberapa waktu sebagai bentuk terapinya.

Pasien pertama yang tidak menghadap jendela dan Pasien kedua yang bed nya menghadap jendela ini kemudian menjalin persahabatan. Pasien Kedua, hampir setiap hari menceritakan apa yang ia lihat lewat jendela rumah sakit. Bagaimana cerahnya pagi, asrinya gunung dan hutan, indahnya senja, meriahnya pawai pada hari kemerdekaan, dan lain sebagainya.

Bagi Pasien Pertama, Pasien Kedua membantunya menghadapi jenuhnya suasana penyembuhannya yang lama. Pasien Kedua membangun harapan dan asa bagi Pasien Pertama lewat penggambarannya tentang indahnya dunia luar, bahwa hidup harus berlanjut karena masih banyak kebahagiaan yang bisa diraih.

Hingga suatu saat, Pasien Kedua yang menghadap jendela ini meninggal karena komplikasi.

Pasien Pertama pun meminta kepada perawat agar memindahkannya ke bed Pasien Kedua yang dekat dengan jendela, ingin mencoba menyaksikan keindahan yang selama ini hanya dikisahkan saja oleh sahabatnya.

Alangkah terkejutnya Pasien Pertama setelah tahu bahwa ternyata jendela tersebut hanya menghadap tembok rumah sakit yang putih, tak ada pemandangan apapun.

Ketika Pasien Pertama bertanya kepada perawat kenapa bisa Pasien Kedua bercerita tentang banyak hal di luar, padahal sesungguhnya hanyalah tembok biasa, perawat menjawab: entahlah, kami juga tidak tahu. Mungkin dia hanya ingin berbagi semangat hidup kepada Anda, karena selain mengalami komplikasi, dia juga buta.

Hadirin rahimakumullaah.

Ada dua akibat pada setiap perkataan yang kita ucapkan: menyakiti atau menyemangati. Tinggal bagaimana kita memilih dan memilahnya.

Kisah tersebut menunjukkan bahwa keterbatasan fisik sudah seharusnya tidak menghalangi kita untuk berbuat baik, berbagi kebahagiaan dan harapan hidup lewat kata-kata. Dan kisah al-Ifik yang dialami Rasuulullaah SAW juga mengandung hikmah bahwa kata-kata bisa juga bisa merusak peradaban.

Bulan Ramadlan adalah kesempatan besar bagi kita untuk mencoba mengubah perilaku mulut dan lidah kita agar menjadi lebih berkualitas.

Kesalahpahaman akan muncul jika tak ada pembicaraan apapun. Tetapi kesalahpahaman juga akan muncul ketika kita terlalu banyak bicara. Maka, mari berbicara sekadarnya, sewajarnya, dan seperlunya, selama mengandung manfaat, selama bisa membimbing hati agar menjadi lebih lembut, selama mampu mengasah otak agar selalu berpikir, atau bahkan meneguhkan jiwa untuk selalu beriman dan bertakwa kepada Allaah Ta’aala.

Prof. Quraish Shihab mengingatkan kita: kata-kata adalah tawanan kita sebelum ia terucapkan. Begitu ia terucap, kitalah yang menjadi tawanannya.

Seorang ulama yang saya kenal, setiap ada pertanyaan atau pembicaraan penting yang ditanyakan kepada beliau, pasti ada jeda yang cukup lama sebelum beliau menjawabnya. Terlebih dahulu kita diajak beliau membicarakan yang lain dulu, sebelum akhirnya menjawab.

Mengapa seperti itu? Belakangan saya tahu, jeda itu sengaja beliau adakan, sebagai waktu beliau untuk menggalih, memikirkan berulang kali tentang jawabannya: apakah nantinya jawaban tersebut membawa manfaat atau tidak. Serta memilih kata dan kalimat yang pas agar membekas di hati sang penanya sebagai sebuah inspirasi yang membangun keimanan dan ketakwaan.

Hadirin rahimakumullaah.

Demikian sedikit uraian dari saya, semoga bermanfaat dan mampu menjadi salah satu sebab bagi perubahan diri saya dan seluruh jamaah, yakni perubahan ke arah akhlak yang lebih baik.

Semoga Allaah Ta’aala memberi kita kekuatan untuk beribadah di Ramadlan tahun ini, menerima ibadah kita di Ramadlan tahun ini, dan berkenan pula Allaah Ta’aala mempertemukan kita pada Ramadlan-Ramadlan yang akan datang. Amin.

Wallaahul-muwafiq ilaa aqwamith-thariq. Shalla-Llaahu ‘alaa Sayyidinaa Muhammadin SAW.

***

disampaikan pada kultum tarawih, kultum subuh, dan kajian jelang buka puasa di beberapa masjid di yogyakarta