Lisan Manusia, antara Merusak atau Memberi Energi

Allaah Ta’aala berfirman dalam surat an-Nuur ayat 15

Ketika kamu menerima (berita bohong) itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulut-mulut kamu apa yang tidak ada bagi kamu sedikit pun pengetahuan tentangnya, dan kamu menganggapnya suatu yang remeh, padahal pada sisi Allaah adalah (dosa) yang besar.

Ayat ini turun untuk membela Ummul Mukminiin, Sayyidatinaa ‘Aisyah RA yang saat itu sedang ditimpa fitnah besar. Peristiwa ini terjadi pada tahun kelima sesudah Hijrah dan dinamai al-Ifik, Kebohongan Besar. Saat itu Sayyidatina ‘Aisyah dikira sudah menaiki unta yang ada haudaj-nya (tenda untuk mencegah panas dan terik), sehingga berangkatlah rombongan tersebut. Padahal Sayyidatinaa ‘Aisyah sedang menunaikan hajatnya dan menjadi agak lama karena ada perhiasannya yang dipinjam dari saudarinya hilang sehingga harus mencarinya.

Sayyidatinaa ‘Aisyah yang tahu dirinya tertinggal kemudian menunggu dijemput hingga tertidur. Beliau kemudian ditemukan oleh sahabat Rasuulullaah SAW, Shafwan bin Mu’ath-thal, sahabat yang memang bertugas berangkat paling akhir untuk menyisir kalau-kalau ada barang milik rombongan yang terlupa atau tertinggal. Riwayat lain, sahabat Shafwan berada di akhir rombongan karena memang dikenal mudah tertidur.

Begitu Shafwan menemukan Sayyidatinaa ‘Aisyah, Shafwan langsung menunjuk ke arah untanya, dan Sayyidatinaa ‘Aisyah pun langsung menaikinya. Shafwan menuntunnya hingga mencapai rombongan kembali. Tak ada kata yang diucapkan oleh Shafwan kecuali istirjaa`.

Rumor mulai beredar begitu tiba di Madinah, yakni ada perselingkuhan antara ‘Aisyah dan Shafwan. Rumor ini semakin luas tersebar karena ada orang-orang yang aktif membicarakannya, meskipun tidak membenarkan kejadiannya.

Dalam berbagai riwayat dikisahkan bahwa peristiwa ini benar-benar mempengaruhi kehidupan rumah tangga Rasuulullaah SAW hingga sikap keseharian beliau SAW kepada Sayyidatinaa ‘Aisyah berubah.

Singkat cerita, turunlah ayat ini (beserta ayat yang lain, yakni an-Nuur ayat 10 hingga 18) untuk membela kesucian Sayyidatinaa ‘Aisyah dari perbuatan hina tersebut.

Hadirin rahimakumullaah.

Berhati-hatilah dengan lisan kita, karena bisa menjadi sebab bagi terjadinya peristiwa yang buruk dan bahkan sangat buruk. Kisah asbabun-nuzul ayat tersebut sesungguhnya sangat mengerikan karena dalam prosesnya sempat hampir terjadi peperangan suku di antara sesama muslim. Syukur alhamdulillaah Rasuulullaah SAW bisa mencegahnya.

Berkata-kata tentang sesuatu yang tidak kita ketahui jluntrungannya, sesuatu yang tidak kita ketahui seperti apa kejadiannya, meskipun hanya membicarkannya dan tidak membenarkannya, tidak pula membantahnya, tetap saja akan menimbulkan kericuhan-kericuhan yang bisa membesar setiap saat.

Bukan hanya membicarakan sesuatu masalah, berkata buruk dan kotor saja Islam melarangnya, Allaah Ta’aala berfirman

Celakalah para pengumpat dan pencela.

Ucapan kotor akan merusak jiwa dan mengotori hati. Bahkan ucapan kita tidak ubahnya merupakan doa, karena doa itu paduan merupakan kesungguhan hati yang diucapkan, maka ucapan kotor pun muncul juga karena ada kesungguhan hati untuk mengucapkannya. Jika yang terucap adalah kata-kata kotor, maka sungguh benarlah bahwa kotor pula hati dia yang mengucapkannya.

Termasuk, para Ibu pun dianjurkan untuk tak pernah menyumpahi anaknya dengan keburukan-keburukan, separah apapun kelakuan anak-anaknya. Mengapa? Karena ucapan Ibu kepada anaknya adalah doa yang tak terhalang apapun keijabahannya.

Selain itu, sebuah penelitian ilmiah menunjukkan bahwa jika seorang ibu hamil memiliki kebiasan berprasangka buruk dan membicarakan orang lain, sifat tersebut akan menurun kepada anaknya.

Mari menghindari pembicaraan yang kita tak ada pengetahuan apapun terhadapnya, sekaligus menjauhi ucapan-ucapan kotor, umpatan, dan celaan, agar tidak mengotori jiwa kita sekaligus agar tidak menjadi doa yang buruk bagi diri kita sendiri.

Hadirin rahimakumullaah.

Kalau tadi adalah ucapan yang menimbulkan huru-hara, ada pula rangkaian kata yang bisa membangun jiwa.

Dikisahkan pada sebuah bangsal rumah sakit ada dua orang pasien yang terpisahkan oleh sebuah gorden. Pasien pertama mengalami cedera tulang belakang sehingga harus selalu berbaring. Sementara pasien kedua mengalami luka di panggulnya sehingga harus duduk dalam beberapa waktu sebagai bentuk terapinya.

Pasien pertama yang tidak menghadap jendela dan Pasien kedua yang bed nya menghadap jendela ini kemudian menjalin persahabatan. Pasien Kedua, hampir setiap hari menceritakan apa yang ia lihat lewat jendela rumah sakit. Bagaimana cerahnya pagi, asrinya gunung dan hutan, indahnya senja, meriahnya pawai pada hari kemerdekaan, dan lain sebagainya.

Bagi Pasien Pertama, Pasien Kedua membantunya menghadapi jenuhnya suasana penyembuhannya yang lama. Pasien Kedua membangun harapan dan asa bagi Pasien Pertama lewat penggambarannya tentang indahnya dunia luar, bahwa hidup harus berlanjut karena masih banyak kebahagiaan yang bisa diraih.

Hingga suatu saat, Pasien Kedua yang menghadap jendela ini meninggal karena komplikasi.

Pasien Pertama pun meminta kepada perawat agar memindahkannya ke bed Pasien Kedua yang dekat dengan jendela, ingin mencoba menyaksikan keindahan yang selama ini hanya dikisahkan saja oleh sahabatnya.

Alangkah terkejutnya Pasien Pertama setelah tahu bahwa ternyata jendela tersebut hanya menghadap tembok rumah sakit yang putih, tak ada pemandangan apapun.

Ketika Pasien Pertama bertanya kepada perawat kenapa bisa Pasien Kedua bercerita tentang banyak hal di luar, padahal sesungguhnya hanyalah tembok biasa, perawat menjawab: entahlah, kami juga tidak tahu. Mungkin dia hanya ingin berbagi semangat hidup kepada Anda, karena selain mengalami komplikasi, dia juga buta.

Hadirin rahimakumullaah.

Ada dua akibat pada setiap perkataan yang kita ucapkan: menyakiti atau menyemangati. Tinggal bagaimana kita memilih dan memilahnya.

Kisah tersebut menunjukkan bahwa keterbatasan fisik sudah seharusnya tidak menghalangi kita untuk berbuat baik, berbagi kebahagiaan dan harapan hidup lewat kata-kata. Dan kisah al-Ifik yang dialami Rasuulullaah SAW juga mengandung hikmah bahwa kata-kata bisa juga bisa merusak peradaban.

Bulan Ramadlan adalah kesempatan besar bagi kita untuk mencoba mengubah perilaku mulut dan lidah kita agar menjadi lebih berkualitas.

Kesalahpahaman akan muncul jika tak ada pembicaraan apapun. Tetapi kesalahpahaman juga akan muncul ketika kita terlalu banyak bicara. Maka, mari berbicara sekadarnya, sewajarnya, dan seperlunya, selama mengandung manfaat, selama bisa membimbing hati agar menjadi lebih lembut, selama mampu mengasah otak agar selalu berpikir, atau bahkan meneguhkan jiwa untuk selalu beriman dan bertakwa kepada Allaah Ta’aala.

Prof. Quraish Shihab mengingatkan kita: kata-kata adalah tawanan kita sebelum ia terucapkan. Begitu ia terucap, kitalah yang menjadi tawanannya.

Seorang ulama yang saya kenal, setiap ada pertanyaan atau pembicaraan penting yang ditanyakan kepada beliau, pasti ada jeda yang cukup lama sebelum beliau menjawabnya. Terlebih dahulu kita diajak beliau membicarakan yang lain dulu, sebelum akhirnya menjawab.

Mengapa seperti itu? Belakangan saya tahu, jeda itu sengaja beliau adakan, sebagai waktu beliau untuk menggalih, memikirkan berulang kali tentang jawabannya: apakah nantinya jawaban tersebut membawa manfaat atau tidak. Serta memilih kata dan kalimat yang pas agar membekas di hati sang penanya sebagai sebuah inspirasi yang membangun keimanan dan ketakwaan.

Hadirin rahimakumullaah.

Demikian sedikit uraian dari saya, semoga bermanfaat dan mampu menjadi salah satu sebab bagi perubahan diri saya dan seluruh jamaah, yakni perubahan ke arah akhlak yang lebih baik.

Semoga Allaah Ta’aala memberi kita kekuatan untuk beribadah di Ramadlan tahun ini, menerima ibadah kita di Ramadlan tahun ini, dan berkenan pula Allaah Ta’aala mempertemukan kita pada Ramadlan-Ramadlan yang akan datang. Amin.

Wallaahul-muwafiq ilaa aqwamith-thariq. Shalla-Llaahu ‘alaa Sayyidinaa Muhammadin SAW.

***

disampaikan pada kultum tarawih, kultum subuh, dan kajian jelang buka puasa di beberapa masjid di yogyakarta

5 thoughts on “Lisan Manusia, antara Merusak atau Memberi Energi”

    1. Leres Bu Tien, termasuk di dalamnya soal hoax… Bahkan sekedar bertanya, meskipun pertanyaannya tidak mengiyakan maupun membantah, tetap saja itu bakalan menjadi gosip yg tersebar… sebaiknya sih diam lebih baik, atau tanyakan kepada yg bersangkutan langsung (jika menyangkut pihak-pihak tertentu)..

      mugi-mugi manfaat njih Bu, terutama buat saya sendiri, insya-Allaah..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *