Memelihara Amanah

Disampaikan sebagai khatbah dalam majelis jumat di Masjid Kagungan Dalem al-Falaah Blunyah Gede, 27 Desember 2013

Hadirin yang dirahmati Allaah SWT, pertama dan paling utama, dalam berbagai kesempatan untuk memberikan nasihat di atas mimbar, saya selalu memulainya dengan ungkapan syukur alhamdulillaahirabbil-áalamiin, segala puji hanya disandang oleh Allaah SWT, Sang Pencipta, Pemilik, dan Pengatur Alam Raya Semesta, yang memperkenankan kita untuk hidup menjadi Muslim di negeri bernama Indonesia.

Indonesia, negara dengan penduduk Muslim sebagai mayoritasnya, alhamdulillaah tidak mengalami perpecahan sebagaimana terjadi di negeri Muslim lain seperti Afganistan, Irak, Suriah, Yaman, Libanon, Mesir, dan Turki, serta negara-negara Muslim di benua Afrika. Di negara-negara tersebut tadi, sungguh sangat memprihatinkan, Muslim sebagai penduduk terbesar, tapi justru sesama Muslim pula tidak segan, tidak malu, tidak ragu untuk saling membunuh, demi meraih kekuasaan dalam mengurusi suatu wilayah. Berebut wilayah, berebut kedudukan, dan kekuasaan dengan saling membunuh sesama Muslim. Naúdzubillaah, tsumma naúdzubillaah. Semoga Allaah Ta’aala menghindarkan Indonesia dari bentuk perpecahan seperti itu, Aamiin, Allaahumma Aamiin.

Hadirin rahimakumullaah. Dalam Shahih Bukhari dikisahkan bahwa satu tahun sesudah kematian Abu Lahab, paman Rasuul SAW yang saking jahatnya kepada Rasuul SAW hingga kejahatannya diabadikan menjadi salah satu surah dalam al-Qur`an, Paman Rasuul SAW yang lain, al-‘Abbas bertemu dengan Abu Lahab di dalam mimpi. Abu Lahab dalam pertemuan tersebut memakai pakaian putih dan saat ditanya keadaannya, Abu Lahab menjawab bahwa ia berada di neraka, tetapi mendapat keringanan siksa pada setiap malam Senin.

Bagaimana seorang Abu Lahab bisa mendapat keringanan siksa? Ternyata keringanan siksa Abu Lahab didapat dari kegembiraannya saat mendengar berita kelahiran Sayyidinaa Muhammad SAW. Saat Nabi SAW lahir, budak Abu Lahab yang bernama Tsuwaibah memberitakan kelahiran Muhammad kecil kepadanya dan betapa bergembiranya Abu Lahab mengetahui keponakannya lahir, Abu Lahab memerdekakan Tsuwaibah yang telah mengabarinya.

Hadirin rahimakumullaah, demikian ganjaran yang diterima Abu Lahab, meski begitu besar dosanya kepada Rasuulullaah SAW, maka kita semua yang tidak hanya sekedar bergembira, tapi bahkan senang bershalawat kepada Rasuul SAW dan menjalankan ajaran beliau, insya-Allaah mendapatkan syafa’at dari beliau SAW di hari akhir nanti, Aamiin, Allaahumma Aamiin.

Selanjutnya, di hari Jumat yang mulia ini, di Majelis yang penuh keberkahan ini, saya kembali mengingatkan, khusus dan utamanya kepada diri saya sendiri, dan umumnya kepada seluruh hadirin rahimakumuullaah, marilah kita kembali memperbarui sekaligus meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allaah SWT, dengan sebenar-benarnya iman dan takwa.

Mari selalu kita tanamkan di dalam benak kita, bahwa ukuran derajat manusia di hadapan Allaah Ta’aala tidaklah dari harta-benda atau kekayaan, tapi dari ketakwaannya.

Pada ayat ke-13 dalam surah ke-49, surah al-Hujuraat, setelah menerangkan betapa beragamnya umat manusia, Allaah Ta’aala berfirman

Image

yang bermakna

Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu

Hadirin yang semoga dirahmati Allaah SWT, di dalam sebuah Hadits Qudsi yang diriwayatkan oleh Abu Syaikh yang bersumber dari Ibnu Abbas RA, Allaah SWT berfirman

يَا اٰدَمُ اِنّٖى عَرَضْتُ الْاَمَانَةَ عَلَى السَّمٰوٰاتِ وَ الْأَرْضِ، فَلَمْ تُطِقْهَا. فَهَلْ اَنْتَ حَامِلُهَا بِمَا فِيْهَا؟

Wahai Adam! Sesungguhnya Aku (Allaah) telah menawarkan amanah kepada langit dan bumi, namun mereka tidak mampu. Apakah engkau sanggup memikul dengan segala akibatnya?

قَالَ، وَمَا لٖى فِيْهَا؟

Adam berkata, “Apa yang saya dapat daripadanya?”

قَالَ، اِنْ حَمَلْتَهَا اُجِرْتَ، وَ اِنْ ضَيَّعْتَهَا عُذِّبْتَ.

Allaah menerangkan, “Jika engkau sanggup memikulnya, engkau akan diberi pahala, tetapi jika engkau menyia-nyiakannya, engkau akan disiksa.”

فَقَالَ، قَدْ حَمَلْتُهَا بِمَا فٖيهَا.

Adam berkata, “Baiklah saya pasti dapat memikul dengan segala akibatnya.”

فَلَمْ يَلْبَثْ فِي الْجَنَّةِ اِلَّا مَا بَيْنَ صَلٰاةِ الْاُولٰى وَ الْعَصْرِ حَتّٰى اَخْرَجَهُ الشَّيْطَانُ مِنْهَا.

Tidak berapa lama kemudian, sekedar selama waktu antara shalat shubuh  dan shalat ashar Adam berada di surga, terjadilah peristiwa dengan syaithan sehingga ia dikeluarkan dari surga.

Hadits Qudsi tadi, sejalan dengan apa yang tercantum di dalam al Qur`an surah ke-33, surah al-Ahzab ayat 72, Allaah SWT berfirman

beratnya amanah

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu Amat zalim dan Amat bodoh.

Hadirin yang dirahmati Allaah SWT, inilah gambaran beratnya amanah yang dipikul oleh seorang manusia, apapun bentuknya. Tahun depan, 2014 adalah tahun amanah bagi negeri kita Indonesia. Sepanjang 5 tahun yang lalu kita telah menyaksikan, betapa tidak sedikit para pemegang amanah di 2009 ternyata bergelimang khianat seiring dengan berjalannya waktu.

Korupsi dan suap terkuak, kebohongan dan pengkhianatan dinampakkan, kejahatan dan buruknya akhlak terlihat di sana-sini, dilakukan oleh mereka yang pernah berjanji dan bersumpah atas nama Allaah Ta’aala untuk memegang amanah. Memang harus diakui bahwa tidak semua pemegang amanah menyia-nyiakan amanahnya, tapi harus pula diakui bahwa banyak sekali yang ketahuan belangnya, bagaimana mereka menciderai kepercayaan masyarakat.

Pelajaran bagi kita, adalah bahwa amanah itu tidak mudah dalam memikulnya. Amanah bukan sekedar jabatan bagi mereka yang berwenang, tapi fisik kita adalah amanah, ilmu kita adalah amanah, keluarga, anak-istri kita adalah amanah, harta dan kekayaan kita adalah amanah. Sudahkah amanah-amanah yang melekat tersebut kita jaga dengan baik, kita pelihara dengan baik, sebagai bentuk nyata iman kita kepada Allaah SWT?

Ingatlah bahwa Allaah SWT berfirman di dalam surah al Mu’minuun ayat ke-8, tentang ciri-ciri orang beriman, yakni

memelihara amanah

dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya

Mereka yang khianat terhadap amanahnya, lebih-lebih amanah sebagai pejabat yang berwenang terhadap masyarakat, perlu ditanyakan keimanannya. Mana cermin sumpah mereka atas nama Allaah pada awal jabatannya? Mana gambaran mereka percaya dengan Hari Akhir dan Hari Pembalasan, bukankah khianat kepada amanah akan diganjar dengan siksaan Allaah? Di mana iman mereka?

Maka, hadirin rahimakumullaah, hikmah bagi kita, mari kita pertebal terus iman dan takwa kita kepada Allaah Ta’aala. Bukan dengan sekedar iman di lisan dan takwa di bibir, tapi iman dan takwa dalam hati dan perbuatan. Sangat mungkin, mereka yang berkhianat pada awalnya adalah orang yang kuat pula iman dan takwanya, namun karena belum mampu istiqamah, belum mampu konsisten dalam membawa iman-takwanya, menjadi lupalah dia, terbawa oleh suasana sistem yang terlanjur memudahkan terjadinya korupsi.

Beratnya amanah bukan berarti kita kemudian menghindar dari amanah yang mungkin dibebankan kepada kita karena memang kita mampu. Bukan berarti pula menolak amanah yang memang kita berpotensi untuk memikulnya, Rasuulullaah SAW bersabda sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari

إِذَا أَسْنِدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ.

Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancurannya.

Artinya, jika kita mempunyai keahlian di bidang tertentu, maka keahlian tersebut adalah amanah keilmuan dari Allaah SWT kepada kita. Bagaimana memelihara amanah keilmuan? Yakni dengan mengamalkannya, dengan mengurusi sesuai dengan keahlian kita, jika mendapatkan kesempatan tersebut. Maka, ilmu dan keahlian adalah amanah sedangkan mendapatkan amanah di bidang tersebut juga bagian dari memelihara amanah. Bukan justru menghindarinya.

Sesungguhnya pula, kehancuran negeri kita di berbagai bidang kehidupan juga tidak lepas dari kesalahan penempatan bagi mereka yang berwenang. Urusan diserahkan kepada mereka yang tidak memahami bidangnya atau sekedar memahami bidang tersebut karena terlanjur terbiasa, tetapi tidak mampu mengembangkannya menjadi lebih modern, menjadi lebih luas manfaatnya bagi orang banyak, karena tidak mempunyai dasar yang kuat di bidang tersebut.

Maka, hadirin rahimakumullaah, mari kita dorong diri kita untuk lebih kuat mengimani Allaah Ta’aala dan Hari Pembalasan, dengan tidak lupa pula tetap terus belajar dan menjadi ahli di bidang kita masing-masing, demi memenuhi amanah akal dan hati kita yang diberikan oleh Allaah SWT.

Kita dorong pula orang-orang di sekeliling kita, anak-anak kita, keponakan-keponakan kita, saudara dan kerabat dekat kita yang masih sekolah dan menempuh pendidikan untuk terus berusaha mencapai yang terbaik di bidangnya, sekaligus tetap memberikan nasihat keimanan kepada mereka, mengingatkan mereka dan diri kita bahwa ada amanah menanti kita dan mereka, maka kuatkan jiwa kita dan mereka, agar Allaah meridlai kita dan mereka dalam menjalankan amanah.

Untuk 2014 kelak, mari kita pilih dengan jiwa bersih dan niat baik, mana yang benar-benar sesuai dengan diri kita. Satu suara mungkin memang tidak berarti banyak, tetapi dengan memberikan suara, kita telah menghindarkan dari mubadzirnya surat suara, dicetak tapi tidak digunakan. Pemilu sudah menjadi kesepakatan bersama negeri kita untuk menjadi jalan bagi bergantinya kepemimpinan, maka mari kita berpartisipasi di dalamnya.

Yang terpenting, jangan sampai kita terpecah belah karena berbeda partai, berbeda pilihan caleg, atau berbeda calon presiden. Kita umat Islam sudah terlalu banyak menghabiskan waktu untuk membahas hal-hal agama yang sebenarnya para ulama sudah bersepakat untuk berbeda. Sementara di tempat lain, waktu yang bagi kita terbuang sia-sia, bagi sebagian yang lain digunakan untuk mendebatkan bagaimana cabang-cabang ilmu pengetahuan mampu membawa manfaat bagi umat manusia.

Mari hindarkan perpecahan, mari bersatu dalam perbedaan, untuk menjadi pribadi beriman sempurna, untuk kemudian mengembangkan ilmu pengetahuan dan keahlian masing-masing, demi bangsa dan negara yang lebih baik. Benar bahwa Pemilu 2014 adalah pergantian kepemimpinan bangsa, tetapi bagi kita semua, perubahan yang sesungguhnya adalah di lingkaran-lingkaran yang kecil, di sekitar masyarakat kita.

Mari, perbarui niat kita untuk memperkuat iman dan takwa setiap saat, yang dibarengi dengan ikhtiar pula untuk memperkokoh keilmuan kita di berbagai bidang, demi mencapai derajat sebaik-baik manusia: bermanfaat bagi orang lain, menjadi rahmat bagi semesta alam.

Semoga Allaah Ta’aala menolong kita, meridlai kita dalam usaha-usaha tersebut, Aamiin, Allaahumma Aamiin.

Bahkan Museum Adam Malik pun Dijual

Saya kutip tanpa perubahan dari “Majalah Detik” edisi 23-29 Desember 2013.

Saya kutip dan tulis di blog saya, agar menjadi perhatian kita bersama, bahwa urusan nasionalisme dan kebangsaan bukan hanya melulu tentang prestasi dan visi ke depan, tapi juga bagaimana nilai-nilai masa lalu bisa kita pelihara sebagai akar bagi kehidupan masa depan bangsa kita.

Saya sebagai pencinta buku (berbagai jenis genre, keagamaan, novel, ilmiah populer, bahkan komik) sekaligus pencinta sejarah, sangat sedih dan hampir menangis membaca artikel ini. Semoga tidak terulang lagi di negeri kita.

Sahabat saya, alumnus S1 Ilmu Budaya Gadjah Mada berangkat ke Belanda untuk belajar di Leiden selama dua tahun. Saya berpesan kepada dia, agar kelak membawa kembali pusaka Nusantara yang kini tersebar di tanah Belanda. Tapi melihat penghargaan masyarakat kita yang masih kurang tentang peninggalan sejarah, saya jadi ragu dengan pesan saya sendiri tersebut.

Berikut ini adalah kutipannya, dan selamat membaca, semoga mampu menarik hikmahnya.

Kekayaan Adam Malik menguap satu per satu. Keluarga menjual segala koleksi dan kekayaannya. peruntungan mereka dalam bisnis dan politik kurang bagus.

Ribuan buku menumpuk di  teras sebuah rumah di Jalan Masjid Al Barkah Barat Nomor 135, Cireundeu, Jakarta Selatan. Rumah itu adalah rumah Gunajaya Malik. Gunajaya adalah cucu mantan wakil presiden Adam Malik dari anak ketiga, Budisita Malik.

Buku yang menumpuk itu merupakan koleksi Adam Malik. Pada tahun 2002, keluarga menjual koleksi buku tersebut, yang diborong oleh Ependi Simanjutak.

“Kudapat itu dari sopir keluarga Adam Malik, ke perantara. Namanya Boyong. Sopirnya saya enggak kenal,” ujar pedagang buku bekas yang biasa disapa Ucok itu.

Ucok, yang kini memiliki toko buku bekas bernama Guru Bangsa di Lebak Bulus, Jakarta Selatan, membeli buku tersebut secara kiloan. Per kilogram buku, Ucok membayar Rp 3.000. Bobot seluruh buku itu mencapai 25 ton, sehingga total harga buku sekitar Rp 75 juta.

Saking banyaknya buku, sampai-sampai Ucok perlu berhari-hari untuk memboyong semua buku sedikit demi sedikit. “Sudah kayak benteng mau perang. Saya kerahkan 10 orang. Saya angkutin1 ton tiap hari,” ujarnya.

Ucok merasa beruntung karena buku-buku Adam Malik merupakan buku yang bermutu. Sebagai diplomat, Adam Malik—menjadi Duta Besar Uni Soviet dan Polandia pada pemerintahan Sukarno, dan kemudian menjadi Menteri Luar Negeri sampai wakil presiden pada pemerintahan Soeharto—memiliki pergaulan yang sangat luas. Para kolega, yang terdiri atas tokoh penting di banyak negara, tidak jarang menghadiahinya buku dan barang antik.

Misalnya, di antara buku-buku Adam Malik yang dijual Ucok kepada kolektor buku terdapat surat yang menjelaskan buku tersebut merupakan hadiah ulang tahun Adam Malik dari seorang pejabat di Moskow. Pejabat Rusia itu memberikan hadiah kepada pria yang lahir pada 22 Juli 1917 itu satu set buku seni yang langka berisi 13 buku.

“Please accept a modest birth  day present from Moscow,”tulis pejabat itu dalam suratnya kepada Adam Malik tertanggal 22 Juli 1973. “The edition was very limited,” tambah sang pengirim soal buku terbitan 1972 itu.

Buku-buku koleksi Adam Malik itu baru habis dijual Ucok setelah 5 tahun. “Itu buku dari Museum Adam Malik, itu jatuhnya semuanya sama aku. Aku juga dapat catatan harian dia, tapi sudah kukasih ke teman,” ujarnya.

Koleksi buku memang merupakan bagian dari Museum Adam Malik di Jalan Diponegoro Nomor 29, Menteng, Jakarta Pusat. Koleksi buku Adam Malik sangat berharga. Beberapa buku sudah berusia tua, bahkan ada yang berasal dari abad ke-17. Beberapa buku juga merupakan pemberian langsung tokoh-tokoh dunia, seperti Mahatma Gandhi, Benigno Aquino, dan Benazir Bhutto.

Museum Adam Malik berdiri pada 5 September 1985, genap satu tahun setelah Adam Malik meninggal. Museum ini menampung benda seni dan bersejarah serta buku-buku koleksi Adam Malik. Barang-barang yang dikumpulkan saat Adam Malik menjabat tersebut bisa di akses oleh masyarakat umum.

Sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Asvi Warman Adam, menuturkan Adam Malik memiliki selera seni tinggi. Posisi Menteri Luar Negeri membuatnya leluasa mendapatkan barang-barang seni dari dalam dan luar negeri. “Memang koleksinya tidak sehebat Bung Karno, tapi dia punya koleksi lumayan karena seleranya tadi,” jelasnya.

Keluarga Adam Malik sendiri sepakat mengelola museum secara pribadi. Adam Malik menikah dengan Nelly pada 1942 dan memiliki lima anak. Mereka adalah Otto Adam Malik, Imron Malik, Ilham Malik, Antarini Malik, dan Budisita Malik. Kini anak Adam Malik yang masih hidup adalah Otto dan Antarini.

Museum Adam Malik menampung 13 jenis koleksi, yaitu lukisan non-Cina, lukisan Cina, ikon Rusia, keramik, buku, senjata tradisional, patung batu dan logam, ukiran kayu, batu permata, emas, tekstil, kristal, serta fotografi.

Bukan hanya koleksi buku yang habis. Koleksi Adam Malik satu per satu menghilang dari museum. Keturunan Adam Malik sendirilah yang justru menjual koleksi museum. Alasannya, untuk biaya operasional museum.

Ilham Malik (almarhum), anak keempat Adam Malik, konon menjual koleksi museum berupa lukisan Penari-Penarikarya Trubus dan ikon seni pahat khas gereja ortodoks Eropa Timur. Penjualan koleksi itu dilakukan untuk membiayai perawatan Museum Adam Malik.

Gunajaya mengaku keluarganya kerepotan memelihara museum itu. Biayanya mencapai Rp 16-20 juta per bulan. Sedangkan pajak bangunan Rp 80 juta setahun. Apalagi usia Nelly Adam Malik semakin uzur.

“Museum ditutup karena waktu itu biaya pemeliharaannya tinggi. Itu kan seharusnya fasilitas dibayar negara, tapi kami minta ke PLN tidak diberi subsidi semuanya,” jelas Guna.

Namun penjualan koleksi ini tak dapat menyelamatkan Museum Adam Malik. Puncaknya, museum itu bangkrut pada 2005-2006. Otto Malik, anak pertama, menjual gedung bekas tempat tinggal bapaknya itu kepada Hary Tanoesoedibjo. Kini museum tersebut menjadi kantor  sekretariat Persatuan Indonesia (Perindo), organisasi kemasyarakatan bentukan Hary.

Penjualan gedung ini membuat seluruh koleksi berharga museum tercerai-berai. Ahli waris Adam Malik menjual koleksi sekenanya saja. Pusat Arkeologi Nasional menemukan prasasti Shankara dari zaman Kerajaan Mataram kuno (abad ke-8 Masehi) koleksi Museum Adam Malik di tukang loak pada September 2012.

Bukan hanya itu, dari data internet juga bisa diketahui jual-beli koleksi Museum Adam Malik di laman archive situs www.kaskus.co.id tertanggal 29 Januari 2010. Akun bernama Rudy Maulana menjual lukisan keramik karya pelukis Belanda, J. Van Dijk, tahun 1941 seharga Rp 2,5 juta. Rudy menyebutkan lukisan itu sebelumnya merupakan koleksi nomor 10 Museum Adam Malik. Koleksi tersebut terjual kepada seorang kolektor bernama Hermawan Lukman dari Bandung.

Gunajaya membantah jika keluarganya dikatakan menghabiskan seluruh koleksi Museum Adam Malik. Ia mengaku masih menyimpan beberapa koleksi buku Adam Malik. Sedangkan koleksi keramik masih disimpan oleh keluarga Ilham dan Antarini. “Jadi saya tidak pernah terlibat dalam pengelolaan barang-barang eks museum. Tetapi sebagian buku ada di saya, buku-buku tua,” akunya.

Asvi menyebutkan pengelolaan museum secara pribadi oleh ahli waris membawa dampak buruk. Keluarga Adam Malik memiliki catatan kurang bagus dalam berbisnis maupun berpolitik. Usaha mereka mengembangkan bisnis melalui yayasan justru berbuah masalah hukum.

Nelly Adam Malik berusaha mendirikan Rumah Sakit Emergency melalui Yayasan Mekarsari. Permohonan pendirian ini diajukan pada tahun 1980 di daerah Pulomas, Jakarta Timur. Namun usaha ini urung dilakukan karena tidak ada modal.

Pada tahun 1985, mereka mengubah nama  yayasan menjadi Yayasan Adam Malik. Yayasan ini kembali mengajukan kembali izin pendirian rumah sakit  hewan di tempat yang sama pada tahun 1989. Namun izin ini ditolak oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dengan alasan pemanfaatan tanah untuk pembangunan danau buatan.

Dua kali tidak berhasil membangun rumah sakit, keluarga Adam Malik membuka usaha besi tua. Mereka membina pemulung di Pulomas. Kini mereka bersengketa dengan Pemprov DKI Jakarta mengenai status lahan di kawasan Waduk Ria Rio, Jakarta Timur, itu.

Otto Malik juga terlilit masalah hukum setelah terlibat dalam sengketa pengelolaan Yayasan Harapan Ibu Pondok Pinang. Ia harus menghadap ke meja hijau pada 11 September 2013 karena terlibat pemukulan dan pemaksaan masuk pekarangan orang lain.

Nasib anak-anak Adam Malik pun tidak secemerlang bapaknya di dunia politik. Satu-satunya anak yang berkecimpung di dunia politik adalah Antarini Malik. Ia berhasil duduk sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat periode 2004-2009 mewakili daerah pemilihan Sumatera Utara I dari Fraksi Partai Golkar.

Namun, pada periode 2009-2014, ia gagal masuk DPR dari daerah pemilihan yang sama. Kini ia kembali maju sebagai calon legislator Partai Golkar mewakili daerah pemilihan Banten I.