Sugeng Tindak Gusti Joyo – Selamat Jalan Gusti Joyo

Gusti Joyo, demikian masyarakat akrab memanggil beliau. Saya belum pernah ngobrol dengan beliau, tapi salaman setidaknya dua kali saya pernah.

Pertama saat masjid dekat rumah -yang masih termasuk masjid milik Kasultanan Ngayogyakarta- menjadi tuan rumah untuk Majelis Bukhoren Kasultanan Ngayogyakarta.

Majelis Bukhoren adalah majelis di mana kyai se-DIY (biasanya offical dari PCNU) datang ke masjid yang telah ditunjuk, kemudian ratusan ulama ini tadarus Shahih Imam Bukhari (Shahih Bukharinya sudah dibagi-bagi menjadi beberapa kitab-kitab tersendiri). Sesudah selesai kemudian dibukalah dialog antar-kyai dengan membahas bagian yang tadi sempat terbaca untuk didiskusikan.

Baru kemudian sambutan dari Gusti Joyo selaku penyelenggara yang isinya menjelaskan budaya, simbol, dan tradisi yang Islami yang ada dan selama ini dijalankan oleh Kasultanan Ngayogyakarta.

Majelis Bukhoren kemudian ditutup dengan 5 kali doa, yang dibaca oleh wakil kiai dari 4 kabupaten dan 1 kota (5 daerah setingkat kabupaten di DIY). Uniknya, kiai dari masing-masing daerah ini mempunyai perbendaharaan doa yang berbeda.

Kesempatan kedua (dan mungkin ketiga dan keempat) saya bersalaman dengan Gusti Joyo adalah di Majelis Ahad Pon (kalau saya tidak salah ingat) di Masjid Panepen Kasultanan Ngayogyakarta.

Majelis ini merupakan majelis para takmir Masjid Kagungan Dalem di seluruh wilayah DIY. Acaranya sederhana, doa penutup khataman (semalam sebelumnya di Masjid Panepen ada yang memulai khataman), shalat zhuhur berjamaah, kemudian makan siang disambi mendengarkan sambutan dari Gusti Joyo dan taushiah dari ulama yang ditunjuk.

Uniknya adalah saat shalat zhuhur berjamaah. Mbah Kyai Aly As’ad mendorong Gusti Joyo agar ngimami (sebagai shahibul bayt), tapi sambil tersenyum Gusti Joyo gantian mendorong Mbah Aly As’ad untuk maju mengimami. Agaknya Gusti Joyo merasa bahwa urusan agama ya tetep kyai yang harus di depan.

Gusti Joyo telah tiada, tapi semangat beliau seorang pendakwah, cinta majelis ta’lim dan dzikir, serta dekat dengan kiai dan pesantren harus kita tiru. Apalagi, dakwah dan kedekatan Gusti Joyo tersebut -saya berprasangka baik- sangat ikhlas, karen dijalani justru setelah beliau berhenti dari politik.

Sugeng tindak Gusti Joyo! Semoga rahmat Allaah Ta’aala selalu bersama panjenengan dan peran panjenengan dalam dakwah Islamiyah di Kasultanan dan wilayah DIY insya-Allaah akan menjadi wasilah bg jalan terang panjenengan di akhirat. Aamiin, Allaahumma aamiin.

Khushushan ilaa ruuhi Gusti Bendoro Pangeran Haryo Haji Joyokusumo bin Sri Sultan Hamengkubuwono IX, al-Faatihaah…

CAM00003

CAM00002

 

*keterangan foto: undangan majelis bukhoren untuk takmir masjid deket rumah, Masjid Kagungan Dalem Blunyah Gede