Membaca Kehidupan untuk Kehidupan yang Lebih Baik

Membaca itu bukan sekedar mengeja huruf kemudian mengucapkannya. Tapi membaca juga bisa dimaknai sebagai mengeja peristiwa di sekitar kita, untuk kemudian mengucapkannya kepada hati di akal untuk ditelusur hikmahnya. Atau dengan bahasa lain, inilah yang disebut dengan proses berpikir, mempelajari kejadian di sekeliling kita, sebagai pelajaran bagi kehidupan.

Sering terjadi di antara kita, bahkan saya sendiri juga, kita menghakimi atau menilai atau menyimpulkan suatu peristiwa atau sifat seseorang hanya dengan pengetahuan yang sedikit tentangnya. Bahasa kerennya, kita mengabaikan nasihat –entah dari siapa- don’t judge a book by its cover.

Perlu menjadi pemahaman kita, bahwa sebuah peristiwa pasti terjadi karena disebabkan oleh tingkah polah manusia. Sementara kita juga tahu bahwa sifat manusia itu bermacam rupa bentuknya, yang sedemikian rupa sehingga tercermin pada tindak-tanduknya.

Di sisi lain, sifat seseorang tidak terbentuk begitu saja. Ada banyak faktor yang membentuknya, seperti orang tua dan pola pendidikan di rumah, pemahaman agamanya, lingkungan tempat tinggalnya, lingkungan sekolahnya, tingkat pendidikannya, kondisi besar negerinya saat ia tumbuh, peristiwa-peristiwa traumatik sepanjang kehidupannya, dan seterusnya, dan sebagainya, dan lain-lain. Banyak, sangat banyak.

Maka, menghakimi / menilai sebuah kejadian atau seseorang karena kita merasa tahu itu tidak tepat sama sekali. Berbeda kasusnya, kalau kita memang memahaminya, mengetahui seluk-beluknya, kita berhak untuk berpendapat mengenainya.

Sebagai ilustrasi, ketika ada seseorang yang galak dalam segala hal, jangan kemudian langsung membenci manusianya, tapi bacalah orang tersebut. Membaca tidak bisa di sama artikan dengan bertanya untuk ngrasani atau menggunjing, karena pembacaan ini bisa dilakukan dengan banyak cara, seperti ngobrol santai dengan orangnya.

Pembacaan pada orang tersebut, semisal, di mana ia dididik, bagaimana orang tuanya, bagaimana masa mudanya dihabiskan –karena biasanya yang galak itu orang yang sudah tua- dan seterusnya, pasti akan ditemukan fakta-fakta menarik. Boleh jadi, dia galak karena terlanjur terbiasa sejak kecil, atau karena guru sekolahnya yang galak, atau karena kehidupan mudanya sangat keras, atau mungkin sebab lainnya.

Ketika kita sudah menyelesaikan puzzle terhadap dia yang galak, kita bisa melihat, betapa beruntungnya kita, tidak mengalami galaknya kehidupan yang telah membentuk seseorang tersebut menjadi galak. Yang muncul kemudian adalah sebuah rasa empati mendalam dan renungan mendalam tentang kehidupan seorang manusia.

Ibarat sebuah amal dalam kehidupan beragama, bahwa amal dihitung atas niatnya. Apa yang tampak terjadi bukanlah kejadian yang sesungguhnya, karena yang sebenarnya terjadi sesungguhnya tersimpan di dalamnya hati. Sungguh adil penghakiman Allaah, bahwa yang dinilai adalah niat dari sebuah perbuatan, bukan apa dan seberapa besar perbuatan itu di mata manusia.

Pun dengan sikap membaca. Membaca peristiwa atau kehidupan seseorang bagaikan mencari bentuk peristiwa atau orang tersebut dalam wujud yang sesungguhnya. Meskipun tujuan awalnya untuk menghakimi, untuk menilai, tapi pada akhirnya yang muncul adalah sebuah pemahaman bagaimana kehidupan kita berjalan.

Boleh jadi, di antara pembaca ada yang tidak setuju dengan uraian di atas yang setidaknya berpijak dengan dua alasan,

kita tidak diperbolehkan untuk mencari aib orang lain sehingga lupa dengan keburukan kita, dan
apa urusannya mengusik kehidupan orang lain, wong hidup diri sendiri saja susah

Saya sampaikan argumen saya, bahwa membaca kehidupan seseorang tidak berarti mencari aib. Karena penjelasan saya di atas –tentang galaknya seseorang- tidak berlanjut dengan mengorek keburukannya, tapi mengorek kehidupan yang membentuknya tanpa menggunjing. Artinya, itu hanya bisa dilakukan dengan orang itu sendiri. Maukah anda bersimpati dengan orang galak kepada anda dengan mendekatinya? Itu pertanyaannya. Cobalah memandang bahwa semua orang itu sama, punya kelebihan, punya kekurangan. Kalau galaknya adalah kekurangannya, pasti ada kelebihannya di sisi lain. Datangi, silaturrahim, temukanlah kehidupan yang sesungguhnya.

Sementara bantahan poin kedua cukup saya balik dengan mengatakan, itulah kenapa kehidupanmu terasa susah, karena tidak mau bersimpati, tidak mau belajar dari kehidupan orang lain. Dan sikap membaca ini tidak mengusik, karena berintikan silaturrahim.

Patut menjadi syarat dan ketentuan khusus tentang sikap membaca seseorang ini bahwa semua harus dilakukan pada orang atau peristiwa yang tidak membawa bahaya bagi kita. Ilustrasinya, kalau kita tidak punya iman dan amal yang kuat, ya jangan coba-coba membaca para kriminal yang mungkin berada di sekitar kita. Karena boleh jadi justru kita yang terbawa karena kurangnya iman dan amal kita.

Tips saya untuk membaca ini paling pas dipraktekkan sebagai sebuah defense weapon alias senjata pasif, ketika kita kebetulan terganggu dengan sifat tertentu seseorang, dalam kehidupan bermasyarakat kita. Selebihnya, cukup kita gunakan untuk membaca peristiwa umum yang terjadi dalam kehidupan kita, sebagai pelajaran dan memori di masa yang akan datang.

Sikap untuk membaca segala hal akan membuat kita menjadi dewasa karena sedikit mendapat pencerahan tentang makna hidup: bahwa syukur dan bahagia itu bisa diraih dengan empati, bahwa segala sesuatu tak ada yang sempurna, bahwa setiap orang itu sama, ada kelebihan, ada pula kekurangan.

2 thoughts on “Membaca Kehidupan untuk Kehidupan yang Lebih Baik”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *