Islam yang Menjadi Rahmat bagi Semesta Alam

Disampaikan sebagai Khatbah Idul Fitri di Dusun Pragak-Bendorejo, Semanu, Gunungkidul.

* Muqaddimah *

al-Baqarah 185

al Baqarah 185

 

Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangan-(nya) dan hendaklah kamu mengagungkan Allaah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepada kamu, supaya kamu bersyukur.

Rasuulullaah SAW bersabda

sabda Rasul SAW - merahmati yg di bumi

 

Rahmatilah siapa yang hidup di bumi, niscaya yang hidup di langit akan merahmati kamu.

Bapak, Ibu, Saudara-Saudari sekalian, Jamaah Shalat ‘Idul Fitri yang dirahmati Allaah SWT.

Pertama dan paling utama, marilah kita kembali teguhkan rasa syukur kita kehadirat Allaah SWT, dengan rasa syukur yang sesungguh-sungguhnya. Allaah masih berkenan menerangi hati kita dengan cahaya iman dan Islam, sehingga terdoronglah kita untuk hadir di majelis yang penuh keberkahan ini.

Bahkan, Allaah SWT masih pula mencintai negeri kita Indonesia, dengan mengondisikan negeri kita ini, setelah pemilihan umum DPR dan Presiden, alhamdulilllaah, masih dengan Indonesia yang aman dan tenteram, tak ada kerusuhan, tak ada perselisihan, tak ada konflik sosial, apalagi pembunuhan berlatar belakang politik.

Berbeda dengan negeri berpenduduk muslim lainnya di luar Indonesia, yang kalau tidak ada pemilihan saja saling berbunuhan sesama muslim, apalagi jika ada pemilihan, pertumpahan darah sesama muslim selalu saja terjadi. Alhamdulillaah, segala puji hanya pantas disandang oleh Allaah SWT, di Indonesia kita semoga hal tersebut tak pernah terjadi, semoga Allaah SWT berkenan menjaga kondisi negeri kita, Indonesia tercinta, selalu damai, aman, dan tenteram, Aamiin, Allaahumma Aamiin.

Shalawat serta salam dari Allaah SWT beserta dari seluruh makhluk ciptaan Allaah SWT semoga senantiasa tersampaikan kepada junjungan kita, manusia terbaik sepanjang masa, pemimpin umat manusia, sekaligus pemimpin dan penutup nasab para Nabi dan Rasul, seorang yang paling baik budi pekertinya, seorang yang paling bagus kata dan perbuatannya, sebaik-baik contoh dan teladan bagi manusia, beliaulah Rasuulullaah Sayyidinnaa Muhammad SAAW.

Tercurah pula semoga kepada keluarga, sahabat, dan pengikut beliau, insya-Allaah termasuk kita yang hadir dalam majelis penuh kemuliaan ini. Aamiin, ya Rabbal-‘Aalamiin.

Hadirin sekalian yang insya-Allaah penuh dengan curahan rahmat Allaah.

Satu bulan lamanya kita berada di dalam bulan kemuliaan, bulan Ramadlan, alhamdulillaah pagi hari ini kita memasuki bulan baru, bulan Syawwal, dalam sebuah hari raya utama umat Muslim, ‘Idul Fitri, hari di mana kita kembali ke fitrah, kembali kepada kesucian diri.

Kumandang takbir, tahlil dan tahmid itu sesungguhnya adalah wujud kemenangan dan rasa syukur kaum muslimin kepada Allah SWT atas keberhasilannya meraih fitrah (kesucian diri) melalui mujahadah (perjuangan lahir dan batin) dan pelaksanaan amal ibadah selama bulan suci Ramadhan yang baru berlalu. Allah SWT menegaskan di dala al Qur’an surah al Baqarah 185,

Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangan-(nya) dan hendaklah kamu mengagungkan Allaah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepada kamu, supaya kamu bersyukur.

Dalam suasana hari raya ini, marilah kita menghayati kembali makna kefitrahan kita, baik sebagai hamba Allah maupun sebagai khalifatullah fil ardli. Di sinilah sesungguhnya letak keagungan dan kebesaran hari raya Idul fitri, Hari di mana para hamba Allah merayakan keberhasilannya mengembalikan kesucian diri dari segala dosa dan khilaf melalui pelaksanaan amal shaleh dan ibadah puasa Ramadhan, sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW,

hadits puasa

“Siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan atas dasar keimanan dan dilaksanakan dengan benar, maka ia diampuni dosa-dosanya yang telah lewat”. (HR. Imam Muslim).

Jamaah Shalat ‘Idul Fitri yang insya-Allaah dikasihi Allaah SWT.

Ampunan Allaah dan rahmat Allaah yang mengapus dosa masa lalu kita di bulan Syawwal sesungguhnya adalah isyarat penting bagi umat manusia agar meneladani-Nya, meneladani Allaah Ta’aala, yakni memberi maaf, atau mengampuni dosa dan kesalahan orang lain, serta mengasihi segenap makhluk di seluruh muka bumi ini.

Ketika Sayyidatina ‘Aisyah RA ditimpa peristiwa al-Ifik, di mana beliau difitnah telah berselingkuh, turun rangkaian ayat di Surat an-Nuur ayat 10-18, pembelaan dari Allaah Ta’aala kepada Sayyidatina ‘Aisyah RA, menghapus segala tuduhan keji dan palsu kepada beliau RA.

Ketika peristiwa tersebut terjadi, salah seorang yang terlibat dalam menyebar berita palsu tersebut adalah Mistah, seorang yang hidupnya dibiayai oleh Sayyidinaa Abu Bakar RA. Begitu mendengar kabar ini, Sayyidinaa Abu Bakar RA, yang juga ayah dari Sayyidatinaa ‘Aisyah RA, istri Nabi SAW, marah, duka, lajeng ngucap sumpah untuk tidak memaafkan dan tidak akan membantu lagi Mistah. Tapi kemudian turun ayat ke-22 dari surah an-Nuur,

an Nuur 22

Hendaklah mereka memberi maaf dan melapangkan dada. Tidaklah kamu ingin diampuni oleh Allaah?

Dan sebagaimana dalam ayat yang lain, al Baqarah 187, at Taubah 43, asy Syuuraa 40, ‘Ali Imran 152 dan 155, dan juga al Maidah 95 dan 101, yang semuanya berbicara tentang Allaah yang memberi maaf dan tidak ada anjuran sama sekali untuk meminta maaf.

Mengapa Allaah lebih anjurkan untuk memberi maaf daripada meminta maaf? Jelas adanya bahwa Allaah ingin mengisyaratkan bahwa meminta maaf itu mudah, tanpa diisyaratkan pun, manusia akan lebih enteng njaluk ngapura. Tapi menehi apuran, memberi maaf, memaafkan, pasti terasa lebih berat, karena harus merelakan sesuatu yang menyakiti hati. Allaah tekankan anjuran ini, agar kita selalu memperhatikannya, selalu melakukannya.

Maka Allaah isyaratkan, berilah maaf, karena Allaah pun memaafkan sebelum hamba-Nya meminta ampunan. Kemudian lapangkan dadamu, hapuslah semua yang telah berlalu, kosongkan jiwamu dari kesalahan orang lain, dan raihlah ampunan Allaah. Allaah ingin tunjukkan kemuliaan mereka yang mau memaafkan, apalagi memaafkan sebelum datangnya permintaan maaf.

Hadirin yang dicintai Allaah SWT.

Budaya memaafkan ini, sungguh merupakan ajaran yang luar biasa dalam Islam. Karena ketika meminta maaf dan memberi maaf yang dilakukan dengan sepenuh jiwa dan raga akan menumbuhkan kedamaian di muka bumi. Tiada lagi tetangga yang konflik karena masalah sepele, tak ada lagi tali persaudaraan yang putus dan lepas karena masalah-masalah agama yang tidak pokok, bahkan dalam masalah yang sesungguhnya para ulama justru sudah sepakat untuk berbeda.

Allaah Ta’aala berfirman dalam surat al Anbiyaa` ayat 107,

al Anbiya 107

Dan tidaklah Kami mengutusmu (Nabi Muhammad SAAW), melainkan (sebagai) rahmat bagi semesta alam.

Bahkan Nabi Muhammad SAW memperinci dalam sabda beliau,

Rahmatilah siapa yang hidup di bumi, niscaya yang hidup di langit akan merahmati kamu.

Inilah wajah Islam yang sesungguhnya, menjadi rahmat bagi alam semesta. Bukan hanya Nabi Muhammad SAW saja yang seharusnya menjadi pengasih dan penyayang, tapi juga umat beliau, kita semua, sudah seharusnya menjadi manusia penyayang, pemaaf, pengasih kepada siapapun, apapun, di manapun.

Rasuulullah SAW pernah bersabda,

Apabila kalian mengendarai binatang, berikanlah haknya, dan janganlah menjadi setan-setan terhadapnya.

Rasuul SAW juga pernah ngendika,

Seorang wanita dimasukkan Tuhan ke neraka diakarenakan ia mengurung seekor kucing, tidak diberinya makan, tidak pula dilepaskan untuk mencari makan sendiri.

Sewalikipun, kali lain Nabi SAW paring sabda,

Seorang yang bergelimang dosa diampuni Tuhan karena memberi minum seekor anjing yang kehausan.

Inilah akhlak-akhlak kepada hewan yang Beliau SAW ajarkan.

Hadirin yang dirahmati Allaah Ta’aala.

Nabi Muhammad SAW bahkan melarang kita untuk menjual buah yang mentah atau memetik bunga yang belum mekar, beliau SAW bersabda,

Biarkan semua bunga mekar agar mata menikmati keindahannya dan lebah mengisap sarinya.

Inilah akhlak beliau SAW kepada tumbuhan, yang ternyata dibuktikan bahwa perilaku seperti ini mampu mencegah kerusakan pada keseimbangan alam.

Rasuul SAW juga merahmati benda-benda yang tak bernyawa sekalipun, dengan memberinya nama. Perisai Nabi diberi nama Dzat al-Fudlul, pedangnya dinamai Dzulfiqar, pelananya Rasuul SAW bernama al-Daaj, tikar, klasanipun Kanjeng Nabi SAW gadhah asma al-Kuz, gelasipun Nabi SAW kagungan asma ash-Shadir, teken Kanjeng Nabi SAW bernama al-Mamsyuk.

Benda-benda itu tak bernyawa, tapi dinamai dengan nama yang indah penuh makna, seakan-akan mempunyai kepribadian, yang berarti membutuhkan uluran tangan, pemeliharaan, rahmat, dan kasih sayang.

Bahkan, nalika Rasuul SAW merasa mendapat penolakan dakwah di Makkah, Beliau SAW mencoba dakwah ke Tha’if, tapi yang didapat justru lemparan batu hingga wajah Beliau SAW berdarah-darah. Datanglah Malaikat Jibril ‘AS, yang menawarkan bantuan dari malaikat lain yang siap mengangkat dua bukit untuk ditimpakan kepada penduduk yang melempari Beliau SAW.

Apa jawaban Beliau? Beliau katakan, jangan, jangan, bahkan aku berharap kelak ada keturunan mereka yang akan beriman kepada Allaah.

Sayyidinaa Hasan RA, cucu Rasuul SAW pernah meriwayatkan dari pamannya Hind bin Abi Halah,

Sayyidinaa Hasan dr Hind bin Abi Halah

Beliau tiada berlaku kasar dan tidak pernah menghina, Nikmat Allaah SWT dibesarkannya walaupun hanya sedikit.

Sayidatinaa ‘Aisyah RA berkata,

Sayyidatinaa Aisyah - akhlak Rasuul

Rasuulullaah SAW bukanlah orang yang keji, beliau tidak membiarkan kekejian, tiada mengeluarkan suara keras di pasar-pasar dan tidak membalas kejahatan orang lain dengan kejahatan. Beliau suka memaafkan dan berjabatan tangan.

Sayyidinaa Husain RA pernah meriwayatkan dari ayahnya Sayyidinaa ‘Ali bin Abi Thalib,

Sayyidinaa Ali - Wajah Manis Rasul

Rasuulullaah SAW adalah orang yang bermuka manis, lembut budi pekertinya,

Sayyidinaa Ali - Akhlak Rasul

tawadlu’, tidak bengis, tiada kasar, tiada bersuara keras, tiada berlaku dan berkata keji, tidak suka mencela dan tiada kikir.

Inilah akhlak Rasuul SAW, penuh kelembutan dan kasih sayang.

Hadirin rahimakumullaah.

Akhlak Rasuul SAW yang luar biasa itu, sayangnya sedang dilukai oleh orang-orang yang mengaku Islam. Saat ini, di Irak dan Suriah ada yang meneriakkan tegaknya pemerintah Islam, tapi perilakunya tidak mencerminkan umat Islam, tidak menggambarkan akhlak Rasuul SAW yang penuh kelembutan dan kasih sayang.

Mereka tunjukkan di internet, mereka banggakan bom-bom mereka, senjata-senjata mereka, yang mereka katakan, untuk membela Islam, menegakkan agama Allaah. Apakah itu mencerminkan Islam yang membawa makna kedamaian dan keselamatan?

Mereka banggakan peran mereka mengahncurkan makam Nabi Yunus ‘AS, menghancurkan masjid-masjid peninggalan para tabbi’in, meluluh lantakkan makam-makam ulama yang berjasa mengantarkan dan menegakkan agama Islam di tanah mereka. Inikah cerminan Islam, padahal Islam menghargai sejarah dengan memelihara Ka’bah, mensunnahkan shalat di Maqam Ibrahim, tempat batu bekas kaki Nabi Ibrahim ‘AS saat membangun Ka’bah?

Mereka pamerkan video menyembelih sesama manusia, menembak sesama manusia, berbuat keji sesama manusia, sesama warga bangsanya, dan mengatas-namakan perjuangan Islam, sementara Rasuul SAW membenci kekejian dan tak pernah berbuat kasar?

Dan yang lebih mengerikan lagi, masyarakat kita, beberapa minggu yang lalu, berkumpul di sebuah tempat di Jawa Tengah, dan mereka menyatakan bersumpah setia kepada ISIS (Islamic State of Iraq and Syria), sempalan Islam yang mencoreng sifat kasih sayang Islam, mencoreng ajaran mulia Islam, menjadi rahmat bagi semesta alam.

Hadirin rahimakumullaah.

Aliran sempalan ini harus kita waspadai. Mengapa, karena kita Indonesia sudah memiliki Pancasila sebagai hasil ijtihad para ulama pendiri bangsa dan tidak pernah dibantah oleh ulama Indonesia sampai detik ini. Pancasila, sebuah jalan tengah untuk kehidupan berbangsa dan bernegara. Apakah kita ingin seperti mereka, segala sesuatu diselesaikan dengan bom dan tembak-menembak, bunuh-membunuh, walaupun sesama Islam? Tentu tidak. Maka kita harus bertahan.

Kita jaga kampung-kampung kita dengan ajaran Islam yang damai, yang mengajak kepada kebaikan dengan kebaikan, tidak dengan cara yang keras. Kita jaga desa-desa kita, dusun-dusun kita, dengan bertanya kepada mereka yang memiliki ilmu Islam yang baik, yang diajarkan dari kiai-kiai kita, ustadz-ustadz kita, bukan ajaran dari ulama-ulama timur tengah yang selalu dalam kondisi konflik, sehingga keras isi dakwahnya.

Kita tetap mengambil ajaran ulama timur tengah, tetapi harus melalui lisan pengajar kita yang memahami ilmu bahasa arab, ilmu sejarah, ilmu qur`an, ilmu hadits, ilmu fiqh, dan ilmu pendukung lain. Mengapa harus melalui pengajar yang seperti ini? Karena mereka paham dengan kondisi kita, dan bisa memilih dan memilah, mana yang harus diajarkan kepada masyarakat kita, mana yang harus tidak diajarkan karena mengandung unsur politik dan keadaan setempat pada masa ajaran atau kitab tersebut disusun.

Mari kita jaga masyarakat kita dengan ilmu, mari kita jaga bangsa kita dengan ilmu, sehingga nantinya dari tanah air Indonesia kita akan menjadi wakil nyata agama Islam dari perilaku pemeluknya, yakni Islam yang rahmatan lil-‘aalamiin, menjadi rahmat bagi seluruh alam semesta, insya-Allaah, aamiin, Allaahumma aamiin.
اَللّٰهُ أَكْبَرُ، اَللّٰهُ أَكْبَرُ، لَاإِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَ اللّٰهُ أَكْبَرُ، اَللّٰهُ أَكْبَرُ وَ لِلّٰهِ الْحَمْدُ.

Hadirin yang insya-Allaah selalu dalam naungan kasih sayang Allaah.

Kesimpulannya, Idul Fitri adalah hari di mana kita kembali fitrah, kembali suci karena rahmat Allaah, karena ampunan Allaah atas mujahadah, kesungguhan kita dalam berjuang di Ramadlan. Hikmahnya, mari kita meniru Allaah, meneladani Allaah dengan menjadi manusia yang memberi maaf sebelum ada permintaan maaf, sekaligus menjadi pengasih, penyayang, pemurah, kepada alam semesta, lebih-lebih kepada sesama umat manusia, dan kita wujudkan dengan lisan dan perilaku kita, umat muslim Indonesia, bahwa kita, Islam, adalah rahmat bagi keseluruhan alam dan seisinya.

* Khatimah *

* Khatbah Kedua – Doa Penutup *

Download Teks Khatbah A5 (Google Drive)