Meraih Berkah Kelembutan dalam Dakwah

Menyampaikan dakwah harus dengan metode yang tepat dan penuh kelembutan dan kesabaran. Allaah Ta’aala berfirman di dalam surah an-Nahl 125,

Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik dan bantahlah dengan cara yang terbaik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yanh mendapat petunjuk.

Ayat ini merupakan bentuk tiga macam dakwah, yakni (1) dengan hikmah, (2) dengan maw-‘izhah hasanah, (3) berdebat dengan cara terbaik.

Hikmah ditujukan kepada mereka yang berpengetahuan tinggi, yakni berdialog dengan kata-kata bijak sesuai dengan tingkat kepandaian mereka. Maw-‘izhah hasanah ditujukan kepada kaum awam, yakni dengan  memberikan nasihat dan perumpamaan yang menyentuh jiwa sesuai dengan taraf pengetahuan mereka yang sederhana. Sedangkan kepada Ahl-al-Kitaab dan penganut agama lain, digunakanlah jidal atau perdebatan dengan cara terbaik, yakni logika (masuk akal) dan retorika (kata-kata yang mampu mengajak), tanpa kekerasan dan umpatan.

Ketiga metode ini, tidak terpaku pada tiga golongan tadi, tetapi dapat saling mengisi. Hikmah memang untuk cendekiawan, tetapi hikmah pun dapat digunakan untuk kaum awam maupun penganut agama lain. Begitu pula dengan metode lain, saling mengisi sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapi dalam dakwah.

Hikmah juga diartikan sebagai sesuatu yang bila digunakan/ diperhatikan akan mendatangkan kemanfaatan dan kemudahan yang besar atau lebih besar, serta menghalangi terjadinya kerusakan atau kesulitan besar atau yang lebih besar. Makna ini ditarik dari kata hakamah, yang berarti kendali, karena kendali menghalangi hewan/kendaraan mengarah ke arah yang tidak diinginkan atau menjadi liar. Memilih perbuatan yang terbaik dan sesuai, atau bahkan memilihnya (terbaik dan sesuai) di antara dua hal yang buruk pun dinamai hikmah, dan pelakunya disebut hakiim (bijaksana).

Hikmah juga dimaknai sebagai (1) himpunan segala ucapan atau pengetahuan yang mengarah pada perbaikan keadaan dan kepercayaan manusia secara bersinambung, dan (2) sesuatu yang mengena kebenaran berdasar ilmu dan akal, yakni kebenaran yang tidak mengandung kelemahan dan tidak pula kekaburan.

Maw-‘izhah bermakna uraian yang menyentuh hati yang mengantar pada kebaikan, sedangkan jidaal, asal kata jaadilhum, bermakna diskusi atau bukti-bukti yang mematahkan alasan atau dalih mitra diskusi dan menjadikannya tidak dapat bertahan, baik yang dipaparkan itu diterima oleh semua orang maupun hanya oleh mitra diskusi.

Yang menarik, maw-‘izhah disifati dengan hasanah (baik) sedangkan jidaal disifati dengan ahsan (terbaik). Hal ini membawa makna bahwa metode maw-‘izhah ada yang baik dan ada pula yang buruk. Sementara berdebat atau jidaal mempunyai tiga jenis, buruk, baik, dan terbaik.

Maw-‘izhah yang baik berarti uraian harus disertai pengamalan dan teladan oleh yang menyampaikan agar sampai di hati sasaran dakwah. Dan dalam debat atau jidaal, yang buruk adalah debat yang mengundang kemarahan lawan dan argumen atau pendapat yang tidak benar; yang baik adalah dengan sopan dan pendapat yang walaupun hanya diakui oleh lawan saja; dan yang terbaik adalah dengan sopan, dengan pendapat yang benar, dan dapat membungkam lawan.

Kemudian, pada ayat 126, masih di surah an Nahl Allaah Ta’aala berfirman,

Dan apabila kamu membalas, maka balaslah persis sama dengan siksa yang ditimpakan kepada kamu. Akan tetapi jika kamu bersabar sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi para penyabar.

Ayat ini sebagai lanjutan dari ayat tentang metode dakwah, bahwa ketika mereka yang kita dakwahi melakukan pembangkangan atau  bahkan menggunakan kejahatan dan kekejian sebagai reaksi terhadap dakwah kita, maka Allaah anjurkan untuk tidak membalas. Kenapa demikian?

Allaah sampaikan dengan kata wa in ‘aaqabtum (dan apabila kamu membalas), di mana, kata in atau yang biasa diterjemahkan sebagai apabila, tidak digunakan dalam bahasa Arab kecuali terhadap sesuatu yang jarang atau diragukan terjadi. Berbeda dengan kata idzaa yang mengandung isyarat adanya kepastian akan terjadinya apa yang dibicarakan. Dan Allaah lanjutkan, akan tetapi jika kamu bersabar sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi para penyabar, kemudian di ayat 127 ditekankan kembali agar muncul kebulatan tekad untuk bersabar itu dengan kata pembuka washbir, bersabarlah, wa maa shabruka illa bi-Llaah, dan seterusnya.

Dengan demikian, penggunaan kata wa in, dan apabila dalam ayat ini menjelaskan bahwa pembalasan kejahatan itu boleh dan harus setimpal, meskipun dianjurkan untuk bersabar sebagai pilihan yang terbaik. Pembalasan terhadap kejahatan diperbolehkan, harus setimpal, tetapi digunakan kata wa in, dan apabila, yang membawa isyarat: jarang terjadi, atau diragukan terjadi.

Ayat ini ternyata berhubungan erat dengan ayat lain, di surat Fushilat ayat 34-35, Allaah Ta’aala befirman,

(34) Dan tidaklah sama kebaikan dan tidak (pula) kejahatan. Tolaklah dengan yang terbaik, maka tiba-tiba orang yang di antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah dia teman yang setia. (35) Tidaklah dipertemukan hal itu melainkan kepada orang-orang yang telah sabar dan tidaklah ia dianugerahkan melainkan pemilik keberuntungan yang besar

Ayat 34 menunjukkan perbedaan yang tegas antara kebaikan dan kejahatan, bahwa sebagai kelanjutan penjelasan ayat pembalasan di surah an Nahl 126, Anda boleh membalas meskipun direkomendasikan bersabar, tapi ya itu, apa yang membedakan Anda dengan mereka, kalau sama-sama dengan kekerasan?

Maka kemudian Allaah sampaikan, tolaklah dengan yang terbaik, maknanya, balaslah keburukan dengan cara yang terbaik, yaitu tumindak ala ojo dibales dengan tumindak ala, tapi kedah ngangge tumindak sae, maka tiba-tiba (fa-idzaa), yang sebelumnya bermusuhan akan berubah menjadi bagaikan teman yang setia.

Kok bisa, dari perangai buruk menjadi baik, dari musuh menjadi teman? Tafsir al Mishbah menjelaskan sebagai berikut,

Jiwa manusia sangat ajaib. Tidak jarang menyangkut satu objek pun hatinya bersikap kontradiktif, sampai-sampai, menurut Prof. Haamid Thaaha al Khasysyaab dari Universitas al-Azhar Mesir mengatakan, “Setiap perasaan betapa pun agung dan luhurnya, tetap mengandung perasaan yang bertolak belakang dengannya. Perasaan mempunyai logika yang berbeda dengan logika akal, karena akal tidak dapat menggabung dua hal yang bertolak belakang. Karena itu tidak ada cinta tanpa benci, tidak ada juga rahmat tanpa kekejaman.

Poinnya ada cinta, pasti ada juga sedikit kebencian. Begitu pula sebaliknya. Jika seseorang memusuhi orang lain dan memperlakukannya secara tidak wajar, yakni dengan kekerasan atau kekejian, maka pada saat yang sama, disadari atau tidak, ada benih simpati, empati, dan kebaikan di dalam diri yang memusuhi, namun benih perasaan ini ditekan dan dipendam, karena baginya ia berhadapan dengan musuh. Nah, ketika permusuhan dan kekejian tadi dihadapi dengan kelemah-lembutan, dengan kebaikan, itu akan mengundang kembali benih-benih kebaikan yang tadi berusaha dipendam. Sehingga fa-idzaa, dengan tiba-tiba, dari permusuhan menjadi bagaikan teman yang sangat setia.

Sikap membalas keburukan dengan kebaikan memang membutuhkan kesabaran yang ekstra, di mana ayat 35 secara makna membawa isyarat bahwa perilaku membalas dengan kebaikan hanya bisa dilakukan oleh mereka yang telah bersabar, atau bahasa lainnya, membutuhkan pembiasaan kesabaran. Artinya ada proses sabar yang tumbuh, dari sabar dari hal-hal kecil, terus menerus dibiasakan, hingga akhirnya mampu mencapai puncak kesabaran, yakni membalas kejahatan dengan kebaikan. Anugerahnya, Allaah sampaikan, dzuu-hazh-zhiin ‘azhiim, keberuntungan yang besar.

Keberuntungan apa dari sikap bersabar yang mewujud dalam pembalasan berupa kebaikan ketika dihadapkan pada provokasi kejahatan yang menimpa?

Kanjeng Nabi Muhammad SAW bersabda sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim,

Dari Sayyidatina ‘Aisyah RA beliau berkata, “Rasuulullaah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya Allaah Maha-lembut dan menyukai kelemah-lembutan dalam segala hal.’”

Sementara di dalam riwayat Imam Muslim, dengan redaksi yang hampir sama, Kanjeng Nabi Muhammad SAW bersabda,

Dari Sayyidatina ‘Aisyah RA, Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya Allaah Maha-lembut dan menyukai kelemah-lembutan. Allaah memberi sesuatu karena kelembutan, yang tidak Dia berikan karena kekerasan, dan yang tidak diberikan-Nya karena yang lain.” (Riwayat Muslim)

Dalam mengomentari hadits ini, Imam an-Nawawi menyatakan, Allaah memberikan pahala berbeda dari pahala sifat-sifat lainnya kepada pemilik kelembutan. Sementara ulama lain al-Qadli ‘Iyadl menyatakan maksudnya, orang yang bersikap lemah lembut akan mudah dikabulkan keinginan, sementara orang yang tidak bersikap lembut tidak mudah dikabulkan. Prof. Wahbah Zuhaili, ulama besar Suriah kemudian menyatakan yang dimaksud kelembutan di sini adalah tutur kata dan tindakan yang lembut dan memudahkan.

Ketika Rasuulullah Muhammad SAW berdakwah di Tha’if, beliau dilempari dengan batu oleh penduduk Tha’if hingga terluka-luka. Hadirlah Malaikat Jibril dengan diiringi malaikat penjaga dua bukit di Tha’if dan menawarkan perintah Allaah, bahwa jika Rasuulullaah Muhammad SAW kersa, maka kedua bukit akan dihimpitkan kepada penduduk yang telah melempari Rasuulullaah SAW.

Apa jawaban Rasuulullaah SAW? Rasul SAW melarang! Bahkan Rasuul SAW kemudian mendoakan ampunan bagi kaumnya karena belum mengetahui kebenaran Islam dan kemudian berharap bahwa meskipun saat ini belum ada yang memeluk Islam, kelak akan lahir keturunan dari penduduk Tha’if yang menyembah Allaah Yang Maha-Esa. Inilah akhlak Rasuul SAW dalam berdakwah! Kekerasan dibalas dengan kesabaran dan kelembutan hati beliau.

Hadirin rahimakumullaah.

Maka dalam dakwah, kelembutan akan melengkapi ikhtiar. Dakwah yang sukses adalah dakwah yang berasal dari hati sang pendakwah dan menghunjam ke kalbu mereka yang didakwahi. Cara yang lembut akan memudahkan masuknya nilai dakwah ke dalam hati dan keberkahan doa para pendakwah yang menggunakan kelembutan, tentu mudah dikabulkan oleh Allaah. Inilah keberkahan dakwah dengan hati dan kelembutan.

Semoga Allaah menjaga hati kita untuk selalu bersabar dan berpegang teguh pada nilai kelembutan, agar tercapai kebahagiaan dunia sekaligus akhirat, aamiin, Allaahumma aamiin.

Kemuliaan Silaturrahmi

Keluarga menurut Islam harus saling mendukung satu sama lain, baik di saat suka maupun duka. Jika seluruh keluarga, atau kita katakan, setiap keluarga dan antara satu keluarga dengan keluarga lain, semua kompak dan saling menyayangi, maka sebuah bangsa akan kuat. Musuh sulit menerobos barisannya, apalagi mencoreng kehormatan dan martabatnya. Maka Allaah Ta’aala pun perintahkan, dalam surah an-Nisaa` ayat pertama:

Dan bertakwalah kepada Allaah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain dan peliharalah hubungan silaturahmi.

Bertakwa berarti memelihara. Bertakwa kepada Allaah berarti memelihara diri dari siksa Allaah yang timbul akibat pelanggaran atas perintah Allaah. Sementara alladzii tasaa-aluuna bihi, berarti dengan mempergunakan nama-Nya, Allaah, kamu saling meminta satu sama lain, yakni bagaimana kita semua menyeru Gusti Allaah, menyebut nama Allaah, saat kita meminta sesuatu, baik langsung kepada Allaah melalui doa kita, maupun meminta tolong melalui orang lain.

Sementara wal-arhaam, sesungguhnya berasal dari rahiim, yaitu tempat peranakan, atau tempat bayi dibesarkan di perut seorang ibu. Rahim adalah penghubung seorang manusia dengan manusia lainnya. Misal, rahim adalah penghubung antara orang tua dengan anaknya. Bahkan melalui rahim pula, persamaan sifat fisik dan sifat muncul antara anak dengan ayah atau ibunya. Dan dengan rahim pula, muncul hubungan persaudaraan dekat antara satu sama lain, seperti dikenal di Indonesia adalah hubungan kekeluargaan trah, yang berhimpun dari seorang Kakek hingga ke semua keturunannya.

Wal-arhaam, yang diambil dari makna tersebut kemudian ditafsirkan sebagai silaturrahmi antar-manusia, karena pada dasarnya, satu manusia dengan manusia lain, satu keluarga dengan keluarga lain, sekalipun berbeda leluhur, beda orang tua, beda kakek, beda simbah, tetapi semua dibentuk dari proses yang sama, mengalami cara tumbuh yang sama di dalam rahim, maka, firman Allaah ditafsirkan menjadi: peliharalah ketakwaan kepada Allaah dan pelihara pula hubungan antar-sesama manusia, yakni silaturrahmi.

Hadirin rahimakumullaah.

Silaturrahmi menjadi tema penting dalam Ramadlan, karena pada bulan Ramadlan ini, hubungan persaudaraan kaum muslimin menjadi semakin kuat, karena semangat beribadah membuat kita semua dalam satu kampung kecil atau komunitas masjid atau mushalla, menjadi sering bertemu, bertegur sapa, bertukar kabar dan cerita, di sela-sela kegiatan ibadah massal: buka bersama, tadarus, pengajian, dan lain sebagainya.

Puncaknya, di Idul Fitri nanti, janji Allaah yang mengampuni seluruh dosa kita setelah Ramadlan kita lengkapi dengan sowan kepada orang tua yang masih sugeng dan kemudian sowan kepada yang lebih sepuh daripada kita, untuk saling maaf memaafkan. Ini gambaran yang baik bagi kita sebagai umat Islam di Indonesia bahwa orang tua dan saudara dekat kita kunjungi, begitu pula dengan tetangga yang setiap hari kita berkomunikasi, sehingga pasti ada kesalahan dan kekhilafan, juga kita sowani, sekalipun tidak memiliki hubungan saudara dekat. Budaya ini, harus kita pertahankan dan bahkan kita perkuat.

Hadirin rahimakumullaah.

Salah satu pentingnya silaturrahmi digambarkan dalam kisah Abu Sufyan saat diutus Kanjeng Nabi SAW untuk berdakwah ke pemimpin Romawi Heraclius. Pemimpin Kristen itu menerima Abu Sufyan, kemudian bertanya kepadanya: Apa yang diperintahkan kepada kalian? Maksud pertanyaannya, Apa yang diperintahkan dari yang kau sebut Nabi itu kepada kalian?

Abu Sufyan menjawab,

Nabi SAW bersabda sembahlah Allaah Yang Maha-Esa dan jangan sekutukan Allaah dengan apapun; tinggalkan apa yang dikatakan nenek moyangmu; dirikanlah shalat; berlaku jujur; menjaga diri; dan menyambung tali kekeluargaan.

Artinya, sebagai gambaran awal Islam, karena Abu Sufyan sedang berdakwah pada pimpinan Kristen, disampaikanlah pilar-pilar penting dalam Islam, termasuk pentingnya menyambung tali persaudaraan. Silaturrahmi juga menjadi penting, kaitannya dengan kesempurnaan iman, di mana Kanjeng Nabi Muhammad SAW bersabda,

…Siapa saja yang beriman kepada Allaah dan hari akhir hendaklah ia (1) memuliakan tamunya, (2) menghubungkan tali persaudaraan, (3) berkata yang baik atau diam saja.

Di dalam al-Qur`an banyak sekali diurai tentang keimanan, di mana iman menurut Islam yang ada enam (kepada Allaah, malaikat Allaah, kitab-kitab Allaah, utusan Allaah, hari akhir, takdir Allaah), diringkas menjadi dua hal ini: iman kepada Allaah dan hari Akhir. Mengapa? Karena kedua hal ini telah merangkum keenam rukun iman. Percaya kepada Allaah berarti meyakini malaikat Allaah, kitab Allaah, utusan Allaah, dan segala ketentuan serta takdir Allaah, termasuk kemudian percaya kepada datangnya Hari Kiamat.

Dan hadits ini menjelaskan di antara karakteristik orang beriman kepada Allaah dan hari akhir, yaitu memuliakan tamu, menyambung persaudaraan, dan menjauhkan diri dari perkataan buruk, karena pilihan dari Kanjeng Nabi SAW jelas: berkata yang baik atau daripada perkataan buruk, lebih baik diam, menahan diri.

Hadirin rahimakumullaah.

Lebih dari itu, silaturrahmi juga akan mendatangkan manfaat materiil, sebagaimana Kanjeng Nabi SAW ngendika,

…Barangsiapa yang menyukai untuk mendapatkan kelapangan rizki dan panjang usianya, hendaklah ia menyambung hubungan dengan familinya.

Bagaimana bisa memanjangkan umur dan mendatangkan rezeki? Ada cerita gojegan, tentang Abu Nawas. Suatu kali Abu Nawas ditanya oleh seseorang, berkaitan dengan hadits ini. Abu Nawas ditanya, bagaimana bisa silaturrahmi memanjangkan usia? Dengan santai Abu Nawas menjawab, karena saat engkau pergi silaturrahmi, malaikat Izrail nggak ketemu denganmu di rumahmu, jadi panjanglah usiamu, gak pernah ketemu dengannya. Tapi ini cerita candaan lho ya.

Tapi bagaimana bisa memanjangkan umur dan mendatangkan rezeki? Kuasa Allaah tentu saja meliputi segala sesuatu. Kalau belum datang waktunya mati, ya belum akan mati. Kalau memang jatahnya dapat rezeki tiban dalam semalam atau justru bangkrut dalam semalam, Allaah pun bisa melakukannya. Tetapi hadits ini dapat sedikit dinalar, sebagai bagian dari diri kita untuk menambah keyakinan kita:

Misal, ada teman atau kerabat yang sudah lama tidak bertemu, kemudian kita sambung lagi tali silaturrahmi ini, maka boleh jadi muncul pekerjaan baru. Atau bagi yang pengusaha, menemukan barang baru yang bisa dijual, kerjasama dengan teman lama. Atau dari jalinan tali silaturrahmi ini akan timbul hubungan bisnis atau perdagangan baru. Semuanya serba mungkin.

Kaitannya dengan panjang usia, ketika kita silaturrahmi, jika yang kita datangi, nyuwun sewu, kondisinya lebih memprihatinkan daripada kita, maka kita akan bersyukur dengan kondisi kita yang lebih baik dan bahkan merupakan kesempatan kita untuk beramal shalih membantu meringankan bebannya. Atau jika yang kita datang silaturrahmi kondisinya lebih sejahtera daripada kita, maka kesempatan bagi kita untuk nyinau semangatnya, nyinau perjuangannya menjadi sejahtera, meneladani kebaikannya untuk memperbaiki kesejahteraan kita. Sehingga setelah silaturrahmi kita akan menjadi orang yang lebih bersyukur dan bahkan lebih bersemangat menjalani hidup untuk mencapai kesejahteraan, dengan tetap eling kepada Gusti Allaah tentunya. Dan hidup penuh dengan syukur sekaligus semangat inilah yang menjadi salah satu sebab panjangnya usia kita.

Coba perhatikan saudara dan kerabat kita di pedesaan. Hidupnya sederhana, tapi lazimnya memiliki usia yang lebih panjang daripada orang-orang di perkotaan. Mengapa? Karena beban pikiran mereka berbeda dengan kita di perkotaan. Kebutuhan makan mereka dipenuhi oleh ladang dan kebun, yang merupakan hasil kerja mereka sehari-hari atau simpanan musim panen sebelumnya. Kebutuhan lain, hampir tidak ada.

Sementara kita yang berada di kota, bebannya macam-macam. Sekolah, kuliah, utang kendaraan, utang rumah, utang modal kerja, dan bahkan kita itu kober mikir urusan Jakarta, menteri, Kapolri, Presiden, partai, dan lain sebagainya. Mereka yang di desa bisa qanaah (nrima setelah diusahakan yang disertai doa) dan semeleh, berbeda dengan kita.

Uraian tersebut, hadirin rahimakumullaah, merupakan gambaran bahwa hadits ini, silaturrahmi yang memperpanjang usia dan melapangkan rizki, sangat mungkin terjadi di dalam kehidupan kita. Tentu saja semuanya harus kita yakini bahwa atas seizin Allaah, bukan semata-mata usaha kita saja. Bahwa Allaah memang telah gariskan usia kita lebih panjang dan rezeki kita lapang, dengan lantaran ikhtiar kita dengan silaturrahmi.

Lebih jauh, Kanjeng Nabi Muhammad SAW juga pernah bersabda, yang artinya,

Silaturrahmi yang menggantung di ‘Arsy berkata, ‘Siapa saja yang menjalin silaturahmi denganku maka Allaah akan menjalin hubungan dengannya. Siapa saja yang memutuskan silaturrahmi denganku maka Allaah akan memutuskan hubungan dengannya.

Hadits ini menunjukkan pentingnya untuk tidak memutus tali kekerabatan dan persaudaraan, di mana digambarkan sebagai silaturrahmi yang menggantung di ‘Arsy Allaah.

Khusus mengenai memutus tali persaudaraan dan kekerabatan, tindakan ini, yakni memutus tali silaturrahmi merupakan dosa besar dan mendatangkan siksaan pedih. Rasuulullaah Muhammad SAW pernah ditanya sahabat,

Wahai Rasuulullaah, aku punya kerabat. Aku menjalin silaturrahmi dengan mereka, tetapi mereka justru memutus hubungan denganku. Aku berbuat baik kepada mereka, tetapi mereka justru berbuat jahat kepadaku. Aku bersikap santun kepada mereka, tetapi mereka justru membodohiku?

Rasuulullaah SAW menjawab, Jika yang engkau katakan itu benar, berarti engkau telah memberi mereka abu panas. Allaah senantiasa menolongmu terhadap mereka, asalkan engkau konsisten seperti itu.

Hadirin rahimakumullaah.

Kisah ini menunjukkan bahayanya memutus tali persaudaraan, bagaikan dilempari abu panas dari orang yang berbuat baik kepada kita, jika kita membalasnya dengan kejahatan. Pelajaran pentingnya, kita harus konsisten tumindak sae dhateng sinten kemawon, termasuk mereka yang bahkan berbuat jahat kepada kita. Tentu saja niatnya tumindak sae nggih kedah leres, niatnya harus benar dan lurus, yakni benar-benar berbuat kebaikan, bukan niat yang lain, seperti membalas dendam karena dulu pernah disakiti, atau alasan lain seperti memamerkan hartanya. Karena kalau demikian, bukan berbuat baik dan bukan pula menyambung tali silaturrahmi, tetapi kesombongan dan kecongkakan untuk merendahkan orang lain. Semoga kita bisa meluruskan niat perbuatan baik kita kepada orang lain. Aamiin.

Kaitannya dengan silaturrahmi dengan kerabat dekat, ada dua hal yang ingin saya sampaikan sebagai penutup uraian ini. Pertama, bahwa berbuat baik kepada kerabat dekat, yakni dengan bersadaqah, mendapatkan pahala dua kali lipat. Kanjeng Nabi Muhammad SAW bersabda,

Shadaqah kepada orang miskin itu bernilai satu pahala, sedangkan kepada kerabat mengandung dua pahala: sedekah dan silaturrahmi.

Inilah keuntungan kita membantu meringankan saudara dekat kita yang kekurangan, memperoleh dua keuntungan, sekaligus bentuk isyarat dari Allaah kepada kita agar peduli dan empati kepada yang dekat terlebih dahulu sebelum peduli kepada mereka yang sama-sama dalam kondisi kesusahan tetapi jauh dari kita.

Terakhir, dalam sebuah hadits muttafaqun ‘alayh, yakni yang disepakati oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, bersumber dari Asma’ binti Abu Bakar RA, beliau berkata

Ibuku mendatangiku, sedangkan ia seorang perempuan musyrik di zaman Rasulullaah. Aku pun meminta fatwa kepada Rasuulullaah SAW. Aku berkata, “Ibuku datang dan meminta sesuatu dariku. Bolehkah aku menyambung tali silaturrahmi dengan ibuku?”

Beliau bersabda, “Ya, sambunglah silaturrahmi dengan ibumu.”

Hadirin rahimakumullaah.

Demikianlah pentingnya silaturrahmi, termasuk silaturrahmi kepada kerabat yang berbeda keyakinan sekalipun. Manfaatnya akhiratnya jelas, yakni termasuk dalam ketaatan yang mendatangkan rahmat Allaah. Sedangkan manfaat dunianya juga ada, dengan catatan, niat tulus silaturrahmi tidak boleh berubah menjadi niat mencari kelapangan rezeki atau niat memperpanjang usia.

Semoga Allaah berkenan menganugerahkan kepada kita kemudahan bagi hati dan diri kita untuk selalu menyambung tali persaudaraan dan silaturrahmi, kapanpun dan di manapun. Aamiin, Allaahumma Aamiin.

 

Kisah Nabi Musa ‘AS dan Orang Saleh

Allaah SWT berfirman dalam rangkaian ayat di Surat al Kahfi, dari ayat 65 hingga 82 yang mengisahkan perjalanan luar biasa antara Nabi Musa ‘AS dengan seorang yang saleh. Pada ayat 65, Allaah berfirman,

(65) Lalu mereka berdua (Nabi Musa ‘AS bersama pembantu beliau) bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah kami anugerahkan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya dari sisi Kami ilmu.

Ayat 65 ini membahas tentang adanya ilmu ladunniy, yakni ilmu yang bersumber dari langsung dari Allaah SWT. Sebagaimana firman Allaah SWT dalam surat al-‘Alaq ayat 4 dan 5:

“

(Allaah) Yang mengajar dengan pena, Yang Mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya.

Pengajaran dengan pena atau bisa dimaknai sebagai tulisan mengisyaratkan adanya peranan dan usaha manusia (misal: sekolah, membaca tulisan, dll), sedangkan pengajaran kedua adalah tanpa perantara, tanpa alat, tetapi langsung, inilah ilmu ladunniy.

Dalam dunia pesantren dan tasawuf, ilmu ladunniy ini ada misalnya pada sosok kiai-kiai yang dikenal sangat saleh, sehingga sering sekali perbuatan atau perkataannya terkesan ajaib, padahal semuanya atas seizin Allaah. Dalam konteks kita yang biasa, ilmu ladunniy ini semacam ilham atau firasat ketika kita sedang dalam kondisi iman dan ibadah yang baik. Dalam ilmu pengetahuan modern atau sains, temuan ini yang sering disebut tiba-tiba muncul tanpa diduga, atau bahasa imannya: kersane Gusti Allaah. Semuanya mungkin.

Kemudian, pada ayat 66, dimulailah kisah penuh hikmah ini, Allaah berfirman,

(66) Muusaa berkata kepadanya, “Bolehkah aku mengikutimu supaya engkau mengajarkan kepadaku sebagian dari apa yang telah diajarkan kepadamu untuk menjadi petunjuk?” (67) Dia menjawab, “Sesungguhnya engkau sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku. (68) Dan bagaimana engkau dapat sabar atas sesuatu, yang engkau belum jangkau secara menyeluruh beritanya?”

Attabi’uka membawa makna kesungguhan dalam upaya mengikuti. Bahwa Nabi Musa ‘AS mau menjadi murid, pengikut, dan pelajar. Maka belajar itu tidak boleh berhenti, hanya kematianlah yang menghentikan belajarnya seorang hamba Allaah.

Akhlak orang yang saleh juga nampak sekali, yakni tidak langsung menolak, tetapi memberi penjelasan terlebih dahulu, bahwa sangat mungkin engkau Musa, menjadi tidak sabar, karena tidak semua peristiwa bisa engkau ketahui hakikatnya secara menyeluruh dan mendalam.

Ayat ini membawa makna bahwa segala sesuatu di dunia ini terjadi dalam dua dimensi, yakni lahiriah dan batiniah. Yang sedang terjadi adalah yang kita lihat dengan mata atau yang kita dengar dengan telinga, sementara yang sesungguhnya terjadi hanya pelaku dan Allaah yang tahu hakikatnya. Tuhith, penguasaan dan kemantapan; khubran, pengetahuan yang mendalam.

(69) Dia (Musa) berkata, “Engkau insya-Allaah akan mendapati aku sebagai seorang penyabar dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu perintah.” (70) Dia (Orang Saleh) berkata, “Jika engkau mengikutiku, maka janganlah engkau menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku menerangkannya kepadamu.”

Ucapan insya-Allaah merupakan adab untuk menghadapi sesuatu di masa yang akan datang sekaligus permohonan, kiranya Allaah memberikan bantuan dalam menghadapinya. Lebih-lebih lagi dalam rangka  mempelajari ilmu batiniyah (tentu saja bukan dalam arti perdukunan), tapi mengungkap hakikat suatu peristiwa, digali makna, sebab, dan hikmah kejadiannya, yang secara lahiriah boleh jadi akan bertentangan dengan pengetahuan kita (akibat keterbatasan yang kita punyai).

(71) Maka berangkatlah keduanya hingga tatkala keduanya menaiki perahu, dia melubanginya. Dia (Musa) tidak sabar karena menilai pelubangan itu sebagai suatu perbuatan yang melanggar syariat (merusak milik orang lain, sehingga berpotensi menimbulkan kecelakaan bagi orang lain), kemudian berkata, “Apakah engkau melubanginya sehingga mengakibatkan engkau menenggelamkan penumpangnya? Sungguh engkau telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar.

(72) Dia (Orang Saleh) berkata, “Bukankah aku telah berkata, ‘Sesungguhnya engkau sekali-kali tidak akan mampu sabar bersamaku’?” (73) Dia (Musa) sadar akan kekeliruan beliau kemudian berkata, “Janganlah engkau menghukum aku disebabkan oleh kelupaanku, dan janganlah engkau bebani aku dalam urusanku dengan kesulitan.”

Makna idzaa atau tatkala membawa arti kejadiannya seketika: naik kapal, langsung melubanginya. Ini mengisyaratkan bahwa sejak awal memang diniatkan untuk melubangi dan bahkan Orang Saleh ini tahu apa yang akan terjadi jika dia tidak melubanginya, sehingga Orang Saleh ini harus melakukannya, yakni melubangi.

Penutup ayat ini merupakan isyarat bahwa Nabi Musa meminta sang Orang Saleh agar bisa terus mengikutinya dan melanjutkan belajarnya dengan sungguh-sungguh, karena kalau tidak dimaafkan dan tidak boleh mengikuti lagi, betapa besar beban yang dipikul Nabi Musa.

(74) Lalu berjalanlah keduanya, hingga saat keduanya berjumpa dengan seorang anak remaja yang belum dewasa, serta merta dibunuhnya anak itu oleh Orang Saleh. Nabi Musa AS sangat terperanjat dan penuh dengan kesadaran –bahwa harusnya tidak bertanya, tapi karena melihat pembunuhan– dia berkata, “Apakah engkau telah membunuh seorang yang memiliki jiwa yang suci dari kedurhakaan? Apakah engkau membunuhnya, tanpa dia membunuh satu jiwa orang lain? Sesungguhnya engkau telah melakukan suatu kemunkaran yang sangat besar. (75) Bukankah aku telah berkata kepadamu, sesungguhnya engkau wahai Musa, sekali-kali tidak akan mampu sabar ikut dalam perjalanan bersamaku?

(76) Nabi Musa ‘AS sadar bahwa dia telah melakukan kesalahan dua kali, tetapi tekadnya yang kuat untuk meraih ma’rifat mendorongnya bermohon agar diberi kesempatan terakhir, sehingga Nabi Musa berkata, “Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah kali ini, maka janganlah engkau menjadikan aku temanmu dalam perjalanan ini lagi, aku rela, tidak kecil hati dan dapat mengerti jika engkau tidak menemaniku lagi. Sesungguhnya engkau telah mencapai batas yang sangat wajar dalam memberikan udzur padaku karena telah dua kali aku melanggar sekaligus dua kali pula engkau memaafkanku.

(77) Maka keduanya berjalan, hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka berdua meminta agar diberi makan oleh penduduknya, tetapi mereka, penduduk negeri itu, enggan menjadikan mereka berdua tamu, maka segera keduanya meninggalkannya hingga keduanya mendapatkan di sana, dinding sebuah rumah yang akan roboh, maka dia Orang Saleh itu menopang dan menegakkannya. Kemudian dia, Nabi Musa berkata, “Jikalau engkau mau, niscaya engkau mengambil atas perbaikan dinding berupa upah yang bisa kita gunakan untuk membeli makanan.

Meskipun yang dilontarkan Nabi Musa AS bukan pertanyaan langsung, tetapi tetap saja berupa isyarat mempertanyakan, maka

(78) Karena telah tiga kali Nabi Musa ‘AS melanggar, Orang Saleh tersebut, dia berkata, “Inilah perpisahan antara aku denganmu wahai Musa, apalagi engkau sendiri telah menyatakan kesediaan untuk kutinggal jika melanggarnya sekali lagi. Namun demikian, sebelum berpisah, aku akan memberitahukan kepadamu informasi yang pasti tentang makna dan tujuan di balik apa, yakni peristiwa-peristiwa yang engkau tidak dapat sabar terhadapnya.

(79) Orang Saleh berkata, adapun perahu, maka ia adalah milik orang-orang lemah dan miskin yang mereka gunakan bekerja di laut untuk mencari rezeki, maka aku ingin menjadikannya memiliki cela (fa-arad-ttu an-a-‘i-bahaa) sehingga dinilai tidak bagus dan tidak layak digunakan, karena di balik sana ada raja yang kejam dan selalu memerintahkan petugas-petugasnya agar mengambil setiap perahu yang berfungsi baik secara paksa.

Dengan demikian, Orang Saleh tersebut seolah mengatakan, “Apa yang kubocorkan bukan untuk menenggelamkan penumpangnya, tetapi justru menjadi sebab terpeliharanya hak-hak orang miskin.”

(80) Dan adapun anak remaja yang aku bunuh, kata Orang Saleh, maka kedua orang tuanya adalah dua orang mukmin, dan kami khawatir bahkan tahu, jika anak itu hidup dan tumbuh dewasa dia akan membebani kedua orang tuanya, berupa kedurhakaan dan kekufuran. (81) Maka dengan membunuhnya, kami menghendaki, kiranya Tuhan mereka berdua, yakni Allaah SWT mengganti bagi mereka berdua dengan anak lain yang lebih baik darinya – yaitu yang telah dibunuh, lebih baik dalam kesucian-nya (sikap beragamanya) dan lebih dekat kasih sayang dan baktinya kepada orang tuanya.

(82) Adapun dinding rumah yang aku tegakkan tanpa mengambil upah itu, ia adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu dan di bawahnya terdapat harta simpanan orang tua mereka untuk mereka berdua. Kalau dinding roboh, terbuka kemungkinan harta simpanan itu akan diambil orang yang tidak berhak, sedang ayah keduanya adalah seorang yang saleh yang niatnya menyimpan harta itu untuk kedua anaknya. Maka Tuhanmu menghendaki dipeliharanya harta itu agar keduanya mencapai kedewasaan  mereka berdua dan mengeluarkan simpanan kedua orang tua-nya itu, untuk mereka manfaatkan, sebagai rahmat terhadap kedua anak yatim itu dari Tuhanmu.

Dan aku tidaklah melakukannya, membocorkan perahu, membunuh anak, memperbaiki dinding, berdasar kemauanku sendiri. Demikian itu makna dan penjelasan tentang apa yang engkau wahai Musa tidak sabar terhadapnya.

Demikianlah, ilmu ladunniy, pengajaran Allaah secara langsung kepada Orang Saleh itu telah menjadi pelajaran penting bagi Nabi Musa pada masanya yang lalu dan diabadikan di dalam al-Qur`an sebagai pelajaran bagi umat akhir zaman, kita semua. Bahwa ada hakikat dalam sebuah peristiwa, ada sisi bathiniyah dalam setiap kejadian, maka bukan hak kita untuk menghakimi orang lain, untuk misalnya menyimpulkan seseorang apakah dia baik atau buruk. Yang bisa kita nilai hanyalah perbuatan lahirnya, apa yang nampak di mata kita. Mengapa, apa niatnya, apa tujuannya, hanya Allaah dan sang pelaku yang tahu.

Maka dalam Islam kita diajarkan untuk tidak mencari atau bahkan membahas aib orang lain. Mengapa? Karena aib orang lain yang nampak dari sisi kita hanyalah lahiriahnya saja. Hakikatnya, sisi bathiniyahnya, hanya Allaah dan pelaku yang tahu: maka tutuplah aib orang lain, daripada timbul berita tak benar karena ketidakpahaman kita.

Kisah ini juga membawa pemahaman bagi kita, mengapa misalnya, di pesantren-pesantren, seorang ulama dan kiai bisa ditaati sampai demikian hebatnya? Itu terjadi karena berangkat dari kisah ini, bahwa seorang ulama yang jelas kesalehannya akan mengajarkan kebaikan, meskipun kesannya yang diajarkan tidak begitu ilmiah (menghafalkan syair, membawakan minuman saat ngaji, mijeti kiai saat capek, menemani pergi dalam kunjungan), tapi hasilnya tidak kalah ilmiah, karena ketaatan pada ulama pada akhirnya memunculkan pengajaran dari Allaah, ilham yang tak berkesudahan saat sang santri belajar.

Persis dengan ilmu di sekolah-sekolah. Saya pernah mengalaminya. X, Y, rumus-rumus, trigonometri, hukum ekonomi, integral, diferensial, dan istilah pelajaran matematika lainnya. Sebagian besar siswa, termasuk saya ini, dulu juga terbersit, buat apa tho itungan kayak gini, apa ya besok hidup ditentukan oleh itungan ini? Nyatanya, saat menginjak dunia pendidikan lebih tinggi dan melihat banyak modernitas teknologi saat ini, ternyata semua itu berguna.

Artinya, kita ceritakan kisah ini kepada anak-anak kita, kita katakan pada mereka, belajarlah yang baik, tak perlu bertanya untuk apa gunanya atau mengapa bisa begitu, tapi bertanyalah jika tidak memahaminya, sehingga engkau paham. Sesulit apapun pelajaranmu di SD, SMP, SMA, bersabarlah, kelak hikmahnya akan didapatkan pada saatnya nanti, sebagaimana kisah Nabi Musa dan Orang Saleh.

Sehingga kisah ini, bukan hanya menguatkan iman kita, tentang kuasa Allaah atas segala sesuatu, termasuk ilmu dan ilham kepada kita, selama kita selalu berusaha menjadi hamba yang taat, tapi kisah ini juga akan memotivasi generasi muda kita untuk belajar dengan serius, namun tak meninggalkan agama karena motivasinya hadir dari kisah al Qur’an.

Kecenderungan Manusia adalah Dalam Kebaikan

Pada mulanya, kondisi manusia itu sangat dekat dan taat kepada Allaah, hal ini dipahami secara tersirat sebagaimana firman Allaah yang ditujukan kepada Nabi Adam ‘AS ketika masih berada di dalam surga, di dalam surah al-A’raaf [7] ayat 19

Dan Wahai Adam! Diamilah olehmu dan istrimu surga (ini), maka makanlah oleh kamu berdua di mana dan kapan saja kamu berdua kehendaki, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, sehingga menyebabkan kamu berdua termasuk orang-orang zhalim.

Isyarat penting dalam ayat ini adalah Allaah menggunakan kata tunjuk ini untuk menjelaskan letak pohon terlarang, di mana kata tunjuk ini membawa makna letaknya dekat.

Akan tetapi karena tipuan setan, keduanya kemudian mendekati pohon tersebut, bahkan memakan buahnya. Pelanggaran ini membuat mereka menjadi jauh dari Allaah dan Allaah pun menjauh darinya, sehingga pada kelanjutan kisah tersebut, pada ayat 22 Allaah berfirman,

Dan Tuhan Pemelihara mereka menyeru kepada mereka berdua: “Bukankah Aku telah melarang kamu berdua melampaui (mendekati) pohon itu dan telah Aku firmankan kepada kamu berdua sesungguhnya setan (itu) adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?”

Perhatikan isyarat yang digunakan Allaah dalam ayat ke-22, Allaah berseru dan penggunaan kata itu untuk menjelaskan letak pohon.

Jadi, sebelum manusia melanggar perintah Allaah, ketika manusia masih taat dengan Allaah, ada kedekatan, yakni Allaah menunjuk pohon dengan kata ini.

Tetapi, begitu mereka melanggar perintah Allaah, atau dengan kata lain, menjauh dari Allaah, maka Allaah pun kemudian menjauh dari mereka, sehingga pesan Allaah harus disampaikan dengan berseru, yakni mengeraskan suara agar terdengar karena letaknya yang jauh. Bahkan, karena jaraknya yang jauh, Allaah menunjuk pada pohon dengan kata ganti tunjuk itu, dari yang semula ini.

Maka, dosa akan menjauhkan manusia dari Allaah dan menjauhkan Allaah dari manusia, saling menjauh satu sama lain.

Tetapi yang perlu menjadi catatan penting bagi kita adalah bahwa kondisi awal manusia, kondisi fitrah manusia, kondisi normal manusia adalah taat dan tunduk kepada Allaah. Bahkan ketika kita kembali taat, berusaha mendekatkan diri kembali kepada Allaah Ta’aala, Allaah berfirman dalam Hadits Qudsi,

Siapa yang datang kepada-Ku sejengkal, Aku akan datang kepadanya sehasta. Siapa yang datang kepada-Ku dengan merangkak, Aku akan datang kepada-Nya dengan berjalan. Siapa yang datang kepada-Ku dengan berjalan, Aku akan datang kepadanya dengan berlari.

Demikian gambaran betapa cepatnya rahmat Allaah untuk hadir dalam kehidupan kita, apabila kita senantiasa berusaha mendekatkan diri kepada Allaah.

Bahkan dalam ayat yang lain, al-Qur`an memberi gambaran betapa mudahnya mendorong hati dan diri kita untuk berbuat baik daripada berbuat buruk.

Dalam sebuah ayat yang sudah sangat masyhur, yaitu ayat terakhir (286) surat al-Baqarah, Allaah Ta’aala berfirman

Untuk manusia ganjaran bagi perbuatan (baik) yang dilakukannya, dan siksa bagi perbuatan (buruk) yang dilakukannya.

Ayat ini mengulang kata yang dilakukan sebanyak dua kali, satu dengan kata kasabat, yang satu lagi dengan kata iktasabat.

Mengutip Tafsir al-Manar karya Syaikh Muhammad Abduh, Prof. Quraish Shihab menjelaskan bahwa kata iktasabat yang melekat pada perbuatan buruk dan siksa memberi makna adanya upaya sungguh-sungguh dari pelakunya.

Sedangkan kata kasabat yang melekat dengan perbuatan baik dan ganjaran membawa arti sesuatu yang dilakukan dengan mudah tanpa pemaksaan.

Jadi, perbuatan baik itu sesuatu yang dengan mudah hati dan diri kita melakukannya, enteng nglakoninya. Dan sebaliknya, sebuah perbuatan buruk, butuh satu kondisi keterpaksaan yang tinggi, sehingga berat bagi diri manusia untuk melakukannya.

Sebagai ilustrasi, wong niku yen arep maling utawa ngrampok mesthi mikire ping akeh. Yen konangan, dikepruk. Geneo ora konangan, mengko ngedole barang colongan yo ora bisa sak nggon-nggon, dan seterusnya, dan seterusnya. Harus ada situasi yang mendesak sehingga muncul istilah nekat dalam sebuah perbuatan buruk.

Suatu kali, Sahabat Nawas Ibnu Sam’an sowan dhateng Rasuulullaah SAW, kemudian bertanya tentang kebaikan dan kejahatan. Rasuul SAW sebagaimana tercantum dalam kitab Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani,

‘kebaikan ialah akhlak yang baik dan kejahatan ialah sesuatu yang terlintas di dadamu dan engkau tidak suka bila orang lain mengetahuinya.’ (Riwayat Muslim)

Pada waktu lain, sahabat Wabishah bin Ma’bad juga sowan kepada Kanjeng Nabi SAW dan bertanya tentang kebaikan. Rasuul Muhammad SAW menjawab

Tanyailah hatimu! Kebajikan adalah sesuatu yang tenang terhadap jiwa dan yang tenteram terhadap hati, sedangkan dosa adalah yang mengacaukan hati dan membimbangkan dada, walaupun setelah orang memberimu fatwa. (Riwayat Ahmad dan ad-Darimi)

Maka kemudian, sesungguhnya sangatlah mudahlah bagi kita membedakan perbuatan baik dan buruk. Yang menenangkan jiwa setelah dikerjakan, itulah perbuatan baik. Yang menggelisahkan jiwa setelah dikerjakan dan ketakutan jika diketahui orang lain, itulah perbuatan buruk.

Dan momentum Ramadlan ini, sesungguhnya kesempatan besar bagi kita untuk memperbanyak kebaikan untuk kemudian membiasakannya. Apa pentingnya membiasakan perbuatan baik? Kanjeng Nabi Muhammad SAW bersabda,

Dari Abu Musa al-Asy’ari RA berkata, Rasuulullaah SAW bersabda, “Apabila seseorang menderita sakit atau sedang bepergian, maka dicatatlah pahala baginya amal perbuatan yang biasa dikerjakannya pada waktu tidak bepergian (muqiiman) dan pada waktu sehat (HR Bukhari)

Coba kita bayangkan, kebiasaan perbuatan baik kita ketika sehat dan mukim akan dicatat sebagai amal yang dikerjakan, meskipun kita sedang dalam kondisi sakit dan bepergian, atau dengan kata lain kondisi sakit dan bepergian yang secara lahir menghalangi kebiasaan perbuatan baik, ternyata tidak menghalangi catatan amal dan  tetap dicatat sedang kita kerjakan. Betapa luar biasa rahmat Allaah SWT.

Semoga Allaah senantiasa memberi kesehatan bagi kita di Ramadlan kali ini, sehingga mudah bagi kita berpuasa, mudah bagi kita untuk selalu berbuat kebaikan.

Aamiin.