Kecenderungan Manusia adalah Dalam Kebaikan

Pada mulanya, kondisi manusia itu sangat dekat dan taat kepada Allaah, hal ini dipahami secara tersirat sebagaimana firman Allaah yang ditujukan kepada Nabi Adam ‘AS ketika masih berada di dalam surga, di dalam surah al-A’raaf [7] ayat 19

Dan Wahai Adam! Diamilah olehmu dan istrimu surga (ini), maka makanlah oleh kamu berdua di mana dan kapan saja kamu berdua kehendaki, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, sehingga menyebabkan kamu berdua termasuk orang-orang zhalim.

Isyarat penting dalam ayat ini adalah Allaah menggunakan kata tunjuk ini untuk menjelaskan letak pohon terlarang, di mana kata tunjuk ini membawa makna letaknya dekat.

Akan tetapi karena tipuan setan, keduanya kemudian mendekati pohon tersebut, bahkan memakan buahnya. Pelanggaran ini membuat mereka menjadi jauh dari Allaah dan Allaah pun menjauh darinya, sehingga pada kelanjutan kisah tersebut, pada ayat 22 Allaah berfirman,

Dan Tuhan Pemelihara mereka menyeru kepada mereka berdua: “Bukankah Aku telah melarang kamu berdua melampaui (mendekati) pohon itu dan telah Aku firmankan kepada kamu berdua sesungguhnya setan (itu) adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?”

Perhatikan isyarat yang digunakan Allaah dalam ayat ke-22, Allaah berseru dan penggunaan kata itu untuk menjelaskan letak pohon.

Jadi, sebelum manusia melanggar perintah Allaah, ketika manusia masih taat dengan Allaah, ada kedekatan, yakni Allaah menunjuk pohon dengan kata ini.

Tetapi, begitu mereka melanggar perintah Allaah, atau dengan kata lain, menjauh dari Allaah, maka Allaah pun kemudian menjauh dari mereka, sehingga pesan Allaah harus disampaikan dengan berseru, yakni mengeraskan suara agar terdengar karena letaknya yang jauh. Bahkan, karena jaraknya yang jauh, Allaah menunjuk pada pohon dengan kata ganti tunjuk itu, dari yang semula ini.

Maka, dosa akan menjauhkan manusia dari Allaah dan menjauhkan Allaah dari manusia, saling menjauh satu sama lain.

Tetapi yang perlu menjadi catatan penting bagi kita adalah bahwa kondisi awal manusia, kondisi fitrah manusia, kondisi normal manusia adalah taat dan tunduk kepada Allaah. Bahkan ketika kita kembali taat, berusaha mendekatkan diri kembali kepada Allaah Ta’aala, Allaah berfirman dalam Hadits Qudsi,

Siapa yang datang kepada-Ku sejengkal, Aku akan datang kepadanya sehasta. Siapa yang datang kepada-Ku dengan merangkak, Aku akan datang kepada-Nya dengan berjalan. Siapa yang datang kepada-Ku dengan berjalan, Aku akan datang kepadanya dengan berlari.

Demikian gambaran betapa cepatnya rahmat Allaah untuk hadir dalam kehidupan kita, apabila kita senantiasa berusaha mendekatkan diri kepada Allaah.

Bahkan dalam ayat yang lain, al-Qur`an memberi gambaran betapa mudahnya mendorong hati dan diri kita untuk berbuat baik daripada berbuat buruk.

Dalam sebuah ayat yang sudah sangat masyhur, yaitu ayat terakhir (286) surat al-Baqarah, Allaah Ta’aala berfirman

Untuk manusia ganjaran bagi perbuatan (baik) yang dilakukannya, dan siksa bagi perbuatan (buruk) yang dilakukannya.

Ayat ini mengulang kata yang dilakukan sebanyak dua kali, satu dengan kata kasabat, yang satu lagi dengan kata iktasabat.

Mengutip Tafsir al-Manar karya Syaikh Muhammad Abduh, Prof. Quraish Shihab menjelaskan bahwa kata iktasabat yang melekat pada perbuatan buruk dan siksa memberi makna adanya upaya sungguh-sungguh dari pelakunya.

Sedangkan kata kasabat yang melekat dengan perbuatan baik dan ganjaran membawa arti sesuatu yang dilakukan dengan mudah tanpa pemaksaan.

Jadi, perbuatan baik itu sesuatu yang dengan mudah hati dan diri kita melakukannya, enteng nglakoninya. Dan sebaliknya, sebuah perbuatan buruk, butuh satu kondisi keterpaksaan yang tinggi, sehingga berat bagi diri manusia untuk melakukannya.

Sebagai ilustrasi, wong niku yen arep maling utawa ngrampok mesthi mikire ping akeh. Yen konangan, dikepruk. Geneo ora konangan, mengko ngedole barang colongan yo ora bisa sak nggon-nggon, dan seterusnya, dan seterusnya. Harus ada situasi yang mendesak sehingga muncul istilah nekat dalam sebuah perbuatan buruk.

Suatu kali, Sahabat Nawas Ibnu Sam’an sowan dhateng Rasuulullaah SAW, kemudian bertanya tentang kebaikan dan kejahatan. Rasuul SAW sebagaimana tercantum dalam kitab Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani,

‘kebaikan ialah akhlak yang baik dan kejahatan ialah sesuatu yang terlintas di dadamu dan engkau tidak suka bila orang lain mengetahuinya.’ (Riwayat Muslim)

Pada waktu lain, sahabat Wabishah bin Ma’bad juga sowan kepada Kanjeng Nabi SAW dan bertanya tentang kebaikan. Rasuul Muhammad SAW menjawab

Tanyailah hatimu! Kebajikan adalah sesuatu yang tenang terhadap jiwa dan yang tenteram terhadap hati, sedangkan dosa adalah yang mengacaukan hati dan membimbangkan dada, walaupun setelah orang memberimu fatwa. (Riwayat Ahmad dan ad-Darimi)

Maka kemudian, sesungguhnya sangatlah mudahlah bagi kita membedakan perbuatan baik dan buruk. Yang menenangkan jiwa setelah dikerjakan, itulah perbuatan baik. Yang menggelisahkan jiwa setelah dikerjakan dan ketakutan jika diketahui orang lain, itulah perbuatan buruk.

Dan momentum Ramadlan ini, sesungguhnya kesempatan besar bagi kita untuk memperbanyak kebaikan untuk kemudian membiasakannya. Apa pentingnya membiasakan perbuatan baik? Kanjeng Nabi Muhammad SAW bersabda,

Dari Abu Musa al-Asy’ari RA berkata, Rasuulullaah SAW bersabda, “Apabila seseorang menderita sakit atau sedang bepergian, maka dicatatlah pahala baginya amal perbuatan yang biasa dikerjakannya pada waktu tidak bepergian (muqiiman) dan pada waktu sehat (HR Bukhari)

Coba kita bayangkan, kebiasaan perbuatan baik kita ketika sehat dan mukim akan dicatat sebagai amal yang dikerjakan, meskipun kita sedang dalam kondisi sakit dan bepergian, atau dengan kata lain kondisi sakit dan bepergian yang secara lahir menghalangi kebiasaan perbuatan baik, ternyata tidak menghalangi catatan amal dan  tetap dicatat sedang kita kerjakan. Betapa luar biasa rahmat Allaah SWT.

Semoga Allaah senantiasa memberi kesehatan bagi kita di Ramadlan kali ini, sehingga mudah bagi kita berpuasa, mudah bagi kita untuk selalu berbuat kebaikan.

Aamiin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *