Kisah Nabi Musa ‘AS dan Orang Saleh

Allaah SWT berfirman dalam rangkaian ayat di Surat al Kahfi, dari ayat 65 hingga 82 yang mengisahkan perjalanan luar biasa antara Nabi Musa ‘AS dengan seorang yang saleh. Pada ayat 65, Allaah berfirman,

(65) Lalu mereka berdua (Nabi Musa ‘AS bersama pembantu beliau) bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah kami anugerahkan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya dari sisi Kami ilmu.

Ayat 65 ini membahas tentang adanya ilmu ladunniy, yakni ilmu yang bersumber dari langsung dari Allaah SWT. Sebagaimana firman Allaah SWT dalam surat al-‘Alaq ayat 4 dan 5:

“

(Allaah) Yang mengajar dengan pena, Yang Mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya.

Pengajaran dengan pena atau bisa dimaknai sebagai tulisan mengisyaratkan adanya peranan dan usaha manusia (misal: sekolah, membaca tulisan, dll), sedangkan pengajaran kedua adalah tanpa perantara, tanpa alat, tetapi langsung, inilah ilmu ladunniy.

Dalam dunia pesantren dan tasawuf, ilmu ladunniy ini ada misalnya pada sosok kiai-kiai yang dikenal sangat saleh, sehingga sering sekali perbuatan atau perkataannya terkesan ajaib, padahal semuanya atas seizin Allaah. Dalam konteks kita yang biasa, ilmu ladunniy ini semacam ilham atau firasat ketika kita sedang dalam kondisi iman dan ibadah yang baik. Dalam ilmu pengetahuan modern atau sains, temuan ini yang sering disebut tiba-tiba muncul tanpa diduga, atau bahasa imannya: kersane Gusti Allaah. Semuanya mungkin.

Kemudian, pada ayat 66, dimulailah kisah penuh hikmah ini, Allaah berfirman,

(66) Muusaa berkata kepadanya, “Bolehkah aku mengikutimu supaya engkau mengajarkan kepadaku sebagian dari apa yang telah diajarkan kepadamu untuk menjadi petunjuk?” (67) Dia menjawab, “Sesungguhnya engkau sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku. (68) Dan bagaimana engkau dapat sabar atas sesuatu, yang engkau belum jangkau secara menyeluruh beritanya?”

Attabi’uka membawa makna kesungguhan dalam upaya mengikuti. Bahwa Nabi Musa ‘AS mau menjadi murid, pengikut, dan pelajar. Maka belajar itu tidak boleh berhenti, hanya kematianlah yang menghentikan belajarnya seorang hamba Allaah.

Akhlak orang yang saleh juga nampak sekali, yakni tidak langsung menolak, tetapi memberi penjelasan terlebih dahulu, bahwa sangat mungkin engkau Musa, menjadi tidak sabar, karena tidak semua peristiwa bisa engkau ketahui hakikatnya secara menyeluruh dan mendalam.

Ayat ini membawa makna bahwa segala sesuatu di dunia ini terjadi dalam dua dimensi, yakni lahiriah dan batiniah. Yang sedang terjadi adalah yang kita lihat dengan mata atau yang kita dengar dengan telinga, sementara yang sesungguhnya terjadi hanya pelaku dan Allaah yang tahu hakikatnya. Tuhith, penguasaan dan kemantapan; khubran, pengetahuan yang mendalam.

(69) Dia (Musa) berkata, “Engkau insya-Allaah akan mendapati aku sebagai seorang penyabar dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu perintah.” (70) Dia (Orang Saleh) berkata, “Jika engkau mengikutiku, maka janganlah engkau menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku menerangkannya kepadamu.”

Ucapan insya-Allaah merupakan adab untuk menghadapi sesuatu di masa yang akan datang sekaligus permohonan, kiranya Allaah memberikan bantuan dalam menghadapinya. Lebih-lebih lagi dalam rangka  mempelajari ilmu batiniyah (tentu saja bukan dalam arti perdukunan), tapi mengungkap hakikat suatu peristiwa, digali makna, sebab, dan hikmah kejadiannya, yang secara lahiriah boleh jadi akan bertentangan dengan pengetahuan kita (akibat keterbatasan yang kita punyai).

(71) Maka berangkatlah keduanya hingga tatkala keduanya menaiki perahu, dia melubanginya. Dia (Musa) tidak sabar karena menilai pelubangan itu sebagai suatu perbuatan yang melanggar syariat (merusak milik orang lain, sehingga berpotensi menimbulkan kecelakaan bagi orang lain), kemudian berkata, “Apakah engkau melubanginya sehingga mengakibatkan engkau menenggelamkan penumpangnya? Sungguh engkau telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar.

(72) Dia (Orang Saleh) berkata, “Bukankah aku telah berkata, ‘Sesungguhnya engkau sekali-kali tidak akan mampu sabar bersamaku’?” (73) Dia (Musa) sadar akan kekeliruan beliau kemudian berkata, “Janganlah engkau menghukum aku disebabkan oleh kelupaanku, dan janganlah engkau bebani aku dalam urusanku dengan kesulitan.”

Makna idzaa atau tatkala membawa arti kejadiannya seketika: naik kapal, langsung melubanginya. Ini mengisyaratkan bahwa sejak awal memang diniatkan untuk melubangi dan bahkan Orang Saleh ini tahu apa yang akan terjadi jika dia tidak melubanginya, sehingga Orang Saleh ini harus melakukannya, yakni melubangi.

Penutup ayat ini merupakan isyarat bahwa Nabi Musa meminta sang Orang Saleh agar bisa terus mengikutinya dan melanjutkan belajarnya dengan sungguh-sungguh, karena kalau tidak dimaafkan dan tidak boleh mengikuti lagi, betapa besar beban yang dipikul Nabi Musa.

(74) Lalu berjalanlah keduanya, hingga saat keduanya berjumpa dengan seorang anak remaja yang belum dewasa, serta merta dibunuhnya anak itu oleh Orang Saleh. Nabi Musa AS sangat terperanjat dan penuh dengan kesadaran –bahwa harusnya tidak bertanya, tapi karena melihat pembunuhan– dia berkata, “Apakah engkau telah membunuh seorang yang memiliki jiwa yang suci dari kedurhakaan? Apakah engkau membunuhnya, tanpa dia membunuh satu jiwa orang lain? Sesungguhnya engkau telah melakukan suatu kemunkaran yang sangat besar. (75) Bukankah aku telah berkata kepadamu, sesungguhnya engkau wahai Musa, sekali-kali tidak akan mampu sabar ikut dalam perjalanan bersamaku?

(76) Nabi Musa ‘AS sadar bahwa dia telah melakukan kesalahan dua kali, tetapi tekadnya yang kuat untuk meraih ma’rifat mendorongnya bermohon agar diberi kesempatan terakhir, sehingga Nabi Musa berkata, “Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah kali ini, maka janganlah engkau menjadikan aku temanmu dalam perjalanan ini lagi, aku rela, tidak kecil hati dan dapat mengerti jika engkau tidak menemaniku lagi. Sesungguhnya engkau telah mencapai batas yang sangat wajar dalam memberikan udzur padaku karena telah dua kali aku melanggar sekaligus dua kali pula engkau memaafkanku.

(77) Maka keduanya berjalan, hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka berdua meminta agar diberi makan oleh penduduknya, tetapi mereka, penduduk negeri itu, enggan menjadikan mereka berdua tamu, maka segera keduanya meninggalkannya hingga keduanya mendapatkan di sana, dinding sebuah rumah yang akan roboh, maka dia Orang Saleh itu menopang dan menegakkannya. Kemudian dia, Nabi Musa berkata, “Jikalau engkau mau, niscaya engkau mengambil atas perbaikan dinding berupa upah yang bisa kita gunakan untuk membeli makanan.

Meskipun yang dilontarkan Nabi Musa AS bukan pertanyaan langsung, tetapi tetap saja berupa isyarat mempertanyakan, maka

(78) Karena telah tiga kali Nabi Musa ‘AS melanggar, Orang Saleh tersebut, dia berkata, “Inilah perpisahan antara aku denganmu wahai Musa, apalagi engkau sendiri telah menyatakan kesediaan untuk kutinggal jika melanggarnya sekali lagi. Namun demikian, sebelum berpisah, aku akan memberitahukan kepadamu informasi yang pasti tentang makna dan tujuan di balik apa, yakni peristiwa-peristiwa yang engkau tidak dapat sabar terhadapnya.

(79) Orang Saleh berkata, adapun perahu, maka ia adalah milik orang-orang lemah dan miskin yang mereka gunakan bekerja di laut untuk mencari rezeki, maka aku ingin menjadikannya memiliki cela (fa-arad-ttu an-a-‘i-bahaa) sehingga dinilai tidak bagus dan tidak layak digunakan, karena di balik sana ada raja yang kejam dan selalu memerintahkan petugas-petugasnya agar mengambil setiap perahu yang berfungsi baik secara paksa.

Dengan demikian, Orang Saleh tersebut seolah mengatakan, “Apa yang kubocorkan bukan untuk menenggelamkan penumpangnya, tetapi justru menjadi sebab terpeliharanya hak-hak orang miskin.”

(80) Dan adapun anak remaja yang aku bunuh, kata Orang Saleh, maka kedua orang tuanya adalah dua orang mukmin, dan kami khawatir bahkan tahu, jika anak itu hidup dan tumbuh dewasa dia akan membebani kedua orang tuanya, berupa kedurhakaan dan kekufuran. (81) Maka dengan membunuhnya, kami menghendaki, kiranya Tuhan mereka berdua, yakni Allaah SWT mengganti bagi mereka berdua dengan anak lain yang lebih baik darinya – yaitu yang telah dibunuh, lebih baik dalam kesucian-nya (sikap beragamanya) dan lebih dekat kasih sayang dan baktinya kepada orang tuanya.

(82) Adapun dinding rumah yang aku tegakkan tanpa mengambil upah itu, ia adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu dan di bawahnya terdapat harta simpanan orang tua mereka untuk mereka berdua. Kalau dinding roboh, terbuka kemungkinan harta simpanan itu akan diambil orang yang tidak berhak, sedang ayah keduanya adalah seorang yang saleh yang niatnya menyimpan harta itu untuk kedua anaknya. Maka Tuhanmu menghendaki dipeliharanya harta itu agar keduanya mencapai kedewasaan  mereka berdua dan mengeluarkan simpanan kedua orang tua-nya itu, untuk mereka manfaatkan, sebagai rahmat terhadap kedua anak yatim itu dari Tuhanmu.

Dan aku tidaklah melakukannya, membocorkan perahu, membunuh anak, memperbaiki dinding, berdasar kemauanku sendiri. Demikian itu makna dan penjelasan tentang apa yang engkau wahai Musa tidak sabar terhadapnya.

Demikianlah, ilmu ladunniy, pengajaran Allaah secara langsung kepada Orang Saleh itu telah menjadi pelajaran penting bagi Nabi Musa pada masanya yang lalu dan diabadikan di dalam al-Qur`an sebagai pelajaran bagi umat akhir zaman, kita semua. Bahwa ada hakikat dalam sebuah peristiwa, ada sisi bathiniyah dalam setiap kejadian, maka bukan hak kita untuk menghakimi orang lain, untuk misalnya menyimpulkan seseorang apakah dia baik atau buruk. Yang bisa kita nilai hanyalah perbuatan lahirnya, apa yang nampak di mata kita. Mengapa, apa niatnya, apa tujuannya, hanya Allaah dan sang pelaku yang tahu.

Maka dalam Islam kita diajarkan untuk tidak mencari atau bahkan membahas aib orang lain. Mengapa? Karena aib orang lain yang nampak dari sisi kita hanyalah lahiriahnya saja. Hakikatnya, sisi bathiniyahnya, hanya Allaah dan pelaku yang tahu: maka tutuplah aib orang lain, daripada timbul berita tak benar karena ketidakpahaman kita.

Kisah ini juga membawa pemahaman bagi kita, mengapa misalnya, di pesantren-pesantren, seorang ulama dan kiai bisa ditaati sampai demikian hebatnya? Itu terjadi karena berangkat dari kisah ini, bahwa seorang ulama yang jelas kesalehannya akan mengajarkan kebaikan, meskipun kesannya yang diajarkan tidak begitu ilmiah (menghafalkan syair, membawakan minuman saat ngaji, mijeti kiai saat capek, menemani pergi dalam kunjungan), tapi hasilnya tidak kalah ilmiah, karena ketaatan pada ulama pada akhirnya memunculkan pengajaran dari Allaah, ilham yang tak berkesudahan saat sang santri belajar.

Persis dengan ilmu di sekolah-sekolah. Saya pernah mengalaminya. X, Y, rumus-rumus, trigonometri, hukum ekonomi, integral, diferensial, dan istilah pelajaran matematika lainnya. Sebagian besar siswa, termasuk saya ini, dulu juga terbersit, buat apa tho itungan kayak gini, apa ya besok hidup ditentukan oleh itungan ini? Nyatanya, saat menginjak dunia pendidikan lebih tinggi dan melihat banyak modernitas teknologi saat ini, ternyata semua itu berguna.

Artinya, kita ceritakan kisah ini kepada anak-anak kita, kita katakan pada mereka, belajarlah yang baik, tak perlu bertanya untuk apa gunanya atau mengapa bisa begitu, tapi bertanyalah jika tidak memahaminya, sehingga engkau paham. Sesulit apapun pelajaranmu di SD, SMP, SMA, bersabarlah, kelak hikmahnya akan didapatkan pada saatnya nanti, sebagaimana kisah Nabi Musa dan Orang Saleh.

Sehingga kisah ini, bukan hanya menguatkan iman kita, tentang kuasa Allaah atas segala sesuatu, termasuk ilmu dan ilham kepada kita, selama kita selalu berusaha menjadi hamba yang taat, tapi kisah ini juga akan memotivasi generasi muda kita untuk belajar dengan serius, namun tak meninggalkan agama karena motivasinya hadir dari kisah al Qur’an.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *