Kemuliaan Silaturrahmi

Keluarga menurut Islam harus saling mendukung satu sama lain, baik di saat suka maupun duka. Jika seluruh keluarga, atau kita katakan, setiap keluarga dan antara satu keluarga dengan keluarga lain, semua kompak dan saling menyayangi, maka sebuah bangsa akan kuat. Musuh sulit menerobos barisannya, apalagi mencoreng kehormatan dan martabatnya. Maka Allaah Ta’aala pun perintahkan, dalam surah an-Nisaa` ayat pertama:

Dan bertakwalah kepada Allaah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain dan peliharalah hubungan silaturahmi.

Bertakwa berarti memelihara. Bertakwa kepada Allaah berarti memelihara diri dari siksa Allaah yang timbul akibat pelanggaran atas perintah Allaah. Sementara alladzii tasaa-aluuna bihi, berarti dengan mempergunakan nama-Nya, Allaah, kamu saling meminta satu sama lain, yakni bagaimana kita semua menyeru Gusti Allaah, menyebut nama Allaah, saat kita meminta sesuatu, baik langsung kepada Allaah melalui doa kita, maupun meminta tolong melalui orang lain.

Sementara wal-arhaam, sesungguhnya berasal dari rahiim, yaitu tempat peranakan, atau tempat bayi dibesarkan di perut seorang ibu. Rahim adalah penghubung seorang manusia dengan manusia lainnya. Misal, rahim adalah penghubung antara orang tua dengan anaknya. Bahkan melalui rahim pula, persamaan sifat fisik dan sifat muncul antara anak dengan ayah atau ibunya. Dan dengan rahim pula, muncul hubungan persaudaraan dekat antara satu sama lain, seperti dikenal di Indonesia adalah hubungan kekeluargaan trah, yang berhimpun dari seorang Kakek hingga ke semua keturunannya.

Wal-arhaam, yang diambil dari makna tersebut kemudian ditafsirkan sebagai silaturrahmi antar-manusia, karena pada dasarnya, satu manusia dengan manusia lain, satu keluarga dengan keluarga lain, sekalipun berbeda leluhur, beda orang tua, beda kakek, beda simbah, tetapi semua dibentuk dari proses yang sama, mengalami cara tumbuh yang sama di dalam rahim, maka, firman Allaah ditafsirkan menjadi: peliharalah ketakwaan kepada Allaah dan pelihara pula hubungan antar-sesama manusia, yakni silaturrahmi.

Hadirin rahimakumullaah.

Silaturrahmi menjadi tema penting dalam Ramadlan, karena pada bulan Ramadlan ini, hubungan persaudaraan kaum muslimin menjadi semakin kuat, karena semangat beribadah membuat kita semua dalam satu kampung kecil atau komunitas masjid atau mushalla, menjadi sering bertemu, bertegur sapa, bertukar kabar dan cerita, di sela-sela kegiatan ibadah massal: buka bersama, tadarus, pengajian, dan lain sebagainya.

Puncaknya, di Idul Fitri nanti, janji Allaah yang mengampuni seluruh dosa kita setelah Ramadlan kita lengkapi dengan sowan kepada orang tua yang masih sugeng dan kemudian sowan kepada yang lebih sepuh daripada kita, untuk saling maaf memaafkan. Ini gambaran yang baik bagi kita sebagai umat Islam di Indonesia bahwa orang tua dan saudara dekat kita kunjungi, begitu pula dengan tetangga yang setiap hari kita berkomunikasi, sehingga pasti ada kesalahan dan kekhilafan, juga kita sowani, sekalipun tidak memiliki hubungan saudara dekat. Budaya ini, harus kita pertahankan dan bahkan kita perkuat.

Hadirin rahimakumullaah.

Salah satu pentingnya silaturrahmi digambarkan dalam kisah Abu Sufyan saat diutus Kanjeng Nabi SAW untuk berdakwah ke pemimpin Romawi Heraclius. Pemimpin Kristen itu menerima Abu Sufyan, kemudian bertanya kepadanya: Apa yang diperintahkan kepada kalian? Maksud pertanyaannya, Apa yang diperintahkan dari yang kau sebut Nabi itu kepada kalian?

Abu Sufyan menjawab,

Nabi SAW bersabda sembahlah Allaah Yang Maha-Esa dan jangan sekutukan Allaah dengan apapun; tinggalkan apa yang dikatakan nenek moyangmu; dirikanlah shalat; berlaku jujur; menjaga diri; dan menyambung tali kekeluargaan.

Artinya, sebagai gambaran awal Islam, karena Abu Sufyan sedang berdakwah pada pimpinan Kristen, disampaikanlah pilar-pilar penting dalam Islam, termasuk pentingnya menyambung tali persaudaraan. Silaturrahmi juga menjadi penting, kaitannya dengan kesempurnaan iman, di mana Kanjeng Nabi Muhammad SAW bersabda,

…Siapa saja yang beriman kepada Allaah dan hari akhir hendaklah ia (1) memuliakan tamunya, (2) menghubungkan tali persaudaraan, (3) berkata yang baik atau diam saja.

Di dalam al-Qur`an banyak sekali diurai tentang keimanan, di mana iman menurut Islam yang ada enam (kepada Allaah, malaikat Allaah, kitab-kitab Allaah, utusan Allaah, hari akhir, takdir Allaah), diringkas menjadi dua hal ini: iman kepada Allaah dan hari Akhir. Mengapa? Karena kedua hal ini telah merangkum keenam rukun iman. Percaya kepada Allaah berarti meyakini malaikat Allaah, kitab Allaah, utusan Allaah, dan segala ketentuan serta takdir Allaah, termasuk kemudian percaya kepada datangnya Hari Kiamat.

Dan hadits ini menjelaskan di antara karakteristik orang beriman kepada Allaah dan hari akhir, yaitu memuliakan tamu, menyambung persaudaraan, dan menjauhkan diri dari perkataan buruk, karena pilihan dari Kanjeng Nabi SAW jelas: berkata yang baik atau daripada perkataan buruk, lebih baik diam, menahan diri.

Hadirin rahimakumullaah.

Lebih dari itu, silaturrahmi juga akan mendatangkan manfaat materiil, sebagaimana Kanjeng Nabi SAW ngendika,

…Barangsiapa yang menyukai untuk mendapatkan kelapangan rizki dan panjang usianya, hendaklah ia menyambung hubungan dengan familinya.

Bagaimana bisa memanjangkan umur dan mendatangkan rezeki? Ada cerita gojegan, tentang Abu Nawas. Suatu kali Abu Nawas ditanya oleh seseorang, berkaitan dengan hadits ini. Abu Nawas ditanya, bagaimana bisa silaturrahmi memanjangkan usia? Dengan santai Abu Nawas menjawab, karena saat engkau pergi silaturrahmi, malaikat Izrail nggak ketemu denganmu di rumahmu, jadi panjanglah usiamu, gak pernah ketemu dengannya. Tapi ini cerita candaan lho ya.

Tapi bagaimana bisa memanjangkan umur dan mendatangkan rezeki? Kuasa Allaah tentu saja meliputi segala sesuatu. Kalau belum datang waktunya mati, ya belum akan mati. Kalau memang jatahnya dapat rezeki tiban dalam semalam atau justru bangkrut dalam semalam, Allaah pun bisa melakukannya. Tetapi hadits ini dapat sedikit dinalar, sebagai bagian dari diri kita untuk menambah keyakinan kita:

Misal, ada teman atau kerabat yang sudah lama tidak bertemu, kemudian kita sambung lagi tali silaturrahmi ini, maka boleh jadi muncul pekerjaan baru. Atau bagi yang pengusaha, menemukan barang baru yang bisa dijual, kerjasama dengan teman lama. Atau dari jalinan tali silaturrahmi ini akan timbul hubungan bisnis atau perdagangan baru. Semuanya serba mungkin.

Kaitannya dengan panjang usia, ketika kita silaturrahmi, jika yang kita datangi, nyuwun sewu, kondisinya lebih memprihatinkan daripada kita, maka kita akan bersyukur dengan kondisi kita yang lebih baik dan bahkan merupakan kesempatan kita untuk beramal shalih membantu meringankan bebannya. Atau jika yang kita datang silaturrahmi kondisinya lebih sejahtera daripada kita, maka kesempatan bagi kita untuk nyinau semangatnya, nyinau perjuangannya menjadi sejahtera, meneladani kebaikannya untuk memperbaiki kesejahteraan kita. Sehingga setelah silaturrahmi kita akan menjadi orang yang lebih bersyukur dan bahkan lebih bersemangat menjalani hidup untuk mencapai kesejahteraan, dengan tetap eling kepada Gusti Allaah tentunya. Dan hidup penuh dengan syukur sekaligus semangat inilah yang menjadi salah satu sebab panjangnya usia kita.

Coba perhatikan saudara dan kerabat kita di pedesaan. Hidupnya sederhana, tapi lazimnya memiliki usia yang lebih panjang daripada orang-orang di perkotaan. Mengapa? Karena beban pikiran mereka berbeda dengan kita di perkotaan. Kebutuhan makan mereka dipenuhi oleh ladang dan kebun, yang merupakan hasil kerja mereka sehari-hari atau simpanan musim panen sebelumnya. Kebutuhan lain, hampir tidak ada.

Sementara kita yang berada di kota, bebannya macam-macam. Sekolah, kuliah, utang kendaraan, utang rumah, utang modal kerja, dan bahkan kita itu kober mikir urusan Jakarta, menteri, Kapolri, Presiden, partai, dan lain sebagainya. Mereka yang di desa bisa qanaah (nrima setelah diusahakan yang disertai doa) dan semeleh, berbeda dengan kita.

Uraian tersebut, hadirin rahimakumullaah, merupakan gambaran bahwa hadits ini, silaturrahmi yang memperpanjang usia dan melapangkan rizki, sangat mungkin terjadi di dalam kehidupan kita. Tentu saja semuanya harus kita yakini bahwa atas seizin Allaah, bukan semata-mata usaha kita saja. Bahwa Allaah memang telah gariskan usia kita lebih panjang dan rezeki kita lapang, dengan lantaran ikhtiar kita dengan silaturrahmi.

Lebih jauh, Kanjeng Nabi Muhammad SAW juga pernah bersabda, yang artinya,

Silaturrahmi yang menggantung di ‘Arsy berkata, ‘Siapa saja yang menjalin silaturahmi denganku maka Allaah akan menjalin hubungan dengannya. Siapa saja yang memutuskan silaturrahmi denganku maka Allaah akan memutuskan hubungan dengannya.

Hadits ini menunjukkan pentingnya untuk tidak memutus tali kekerabatan dan persaudaraan, di mana digambarkan sebagai silaturrahmi yang menggantung di ‘Arsy Allaah.

Khusus mengenai memutus tali persaudaraan dan kekerabatan, tindakan ini, yakni memutus tali silaturrahmi merupakan dosa besar dan mendatangkan siksaan pedih. Rasuulullaah Muhammad SAW pernah ditanya sahabat,

Wahai Rasuulullaah, aku punya kerabat. Aku menjalin silaturrahmi dengan mereka, tetapi mereka justru memutus hubungan denganku. Aku berbuat baik kepada mereka, tetapi mereka justru berbuat jahat kepadaku. Aku bersikap santun kepada mereka, tetapi mereka justru membodohiku?

Rasuulullaah SAW menjawab, Jika yang engkau katakan itu benar, berarti engkau telah memberi mereka abu panas. Allaah senantiasa menolongmu terhadap mereka, asalkan engkau konsisten seperti itu.

Hadirin rahimakumullaah.

Kisah ini menunjukkan bahayanya memutus tali persaudaraan, bagaikan dilempari abu panas dari orang yang berbuat baik kepada kita, jika kita membalasnya dengan kejahatan. Pelajaran pentingnya, kita harus konsisten tumindak sae dhateng sinten kemawon, termasuk mereka yang bahkan berbuat jahat kepada kita. Tentu saja niatnya tumindak sae nggih kedah leres, niatnya harus benar dan lurus, yakni benar-benar berbuat kebaikan, bukan niat yang lain, seperti membalas dendam karena dulu pernah disakiti, atau alasan lain seperti memamerkan hartanya. Karena kalau demikian, bukan berbuat baik dan bukan pula menyambung tali silaturrahmi, tetapi kesombongan dan kecongkakan untuk merendahkan orang lain. Semoga kita bisa meluruskan niat perbuatan baik kita kepada orang lain. Aamiin.

Kaitannya dengan silaturrahmi dengan kerabat dekat, ada dua hal yang ingin saya sampaikan sebagai penutup uraian ini. Pertama, bahwa berbuat baik kepada kerabat dekat, yakni dengan bersadaqah, mendapatkan pahala dua kali lipat. Kanjeng Nabi Muhammad SAW bersabda,

Shadaqah kepada orang miskin itu bernilai satu pahala, sedangkan kepada kerabat mengandung dua pahala: sedekah dan silaturrahmi.

Inilah keuntungan kita membantu meringankan saudara dekat kita yang kekurangan, memperoleh dua keuntungan, sekaligus bentuk isyarat dari Allaah kepada kita agar peduli dan empati kepada yang dekat terlebih dahulu sebelum peduli kepada mereka yang sama-sama dalam kondisi kesusahan tetapi jauh dari kita.

Terakhir, dalam sebuah hadits muttafaqun ‘alayh, yakni yang disepakati oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, bersumber dari Asma’ binti Abu Bakar RA, beliau berkata

Ibuku mendatangiku, sedangkan ia seorang perempuan musyrik di zaman Rasulullaah. Aku pun meminta fatwa kepada Rasuulullaah SAW. Aku berkata, “Ibuku datang dan meminta sesuatu dariku. Bolehkah aku menyambung tali silaturrahmi dengan ibuku?”

Beliau bersabda, “Ya, sambunglah silaturrahmi dengan ibumu.”

Hadirin rahimakumullaah.

Demikianlah pentingnya silaturrahmi, termasuk silaturrahmi kepada kerabat yang berbeda keyakinan sekalipun. Manfaatnya akhiratnya jelas, yakni termasuk dalam ketaatan yang mendatangkan rahmat Allaah. Sedangkan manfaat dunianya juga ada, dengan catatan, niat tulus silaturrahmi tidak boleh berubah menjadi niat mencari kelapangan rezeki atau niat memperpanjang usia.

Semoga Allaah berkenan menganugerahkan kepada kita kemudahan bagi hati dan diri kita untuk selalu menyambung tali persaudaraan dan silaturrahmi, kapanpun dan di manapun. Aamiin, Allaahumma Aamiin.

 

1 thought on “Kemuliaan Silaturrahmi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *