Menjalin Persaudaraan Antar-manusia

Disampaikan dalam Khatbah Idul Fitri 25 Juni 2017 di Dusun Pragak-Bendorejo, Semanu, Gunungkidul. Teks lengkap dalam format pdf (termasuk muqaddimah dan doa penutup beserta maknanya dalam bahasa Indonesia) dapat diunduh di sini.

Jamaah Shalat ‘Idul Fitri yang dimuliakan Allaah SWT, alhamdulillaah, segala puji hanya pantas dimiliki oleh Allaah Ta’aala, yang masih berkenan memberikan kepada kita kenikmatan agung untuk bertemu kembali dengan Ramadlan, menyelesaikan Ramadlan, dan bertemu di Hari Raya Kemenangan yang penuh dengan keberkahan ini. Shalawat serta salam semoga tetap dan terus tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat, serta, pengikut beliau, insya-Allaah termasuk kita semua. Aamiin, allaahumma aamiin.

Hadirin rahimakumullaah.

Nikmat pertemuan dengan Ramadlan harus benar-benar kita syukuri, agar Allaah Ta’aala melipat-gandakan nikmat tersebut, yakni semoga memberikan kesempatan kepada kita untuk bertemu dengan Ramadlan-Ramadlan di tahun berikutnya. Sesuai dengan firman Allaah Ta’aala yang masyhur tentang bersyukur (QS Ibrahim ayat 7),

Sama halnya dengan dua nikmat lain, yang kita kebanyakan lupa dan terlena, karena kehadiran nikmat tersebut yang berlangsung hampir setiap saat. Kanjeng Nabi SAW bersabda (HR at-Thabrani dari Ibnu ‘Abbas),

Dalam berbagai kesempatan, di setiap Ramadlan dan sesudahnya, saya selalu mengingatkan betapa aman dan nyamannya kita beribadah sebagai umat Islam di Indonesia. Kadang nikmat ini, yakni termasuk nikmat keamanan sebagaimana Nabi SAW sampaikan, lupa untuk kita syukuri.

Munculnya peledakan di Kampung Melayu yang diklaim didalangi oleh ISIS sudah sepantasnya meningkatkan kewaspadaan kita terhadap nikmat keamanan, yang jangan-jangan kita lupa mensyukurinya. Mari kita bercermin pula pada munculnya ISIS di Filipina, negara yang sangat dekat dengan Indonesia. Pun dengan berbagai persitiwa yang diklaim didalangi oleh ISIS lainnya di berbagai belahan dunia: peledakan bom di Baghdad (Irak) dan Kabul (Afghanistan), serangan mematikan di London (Inggris).

ISIS adalah ancaman nyata bagi umat Islam, karena pada nyatanya korban terbesar kekejian mereka selama ini adalah umat Islam sendiri. Irak dan Afghanistan adalah negeri kaum muslimin. Sementara di London, serangan yang secara kurang ajar mengatas-namakan Islam tersebut berakibat pada dilecehkannya beberapa saudara kita sesama muslim di sana, yang dianggap sama dengan ISIS.

Ketika mereka terdesak di Timur Tengah, ISIS mencari cara lain untuk menyebarkan ajaran sesatnya: melalui kelompok-kelompok radikal di luar Timur Tengah. Sayangnya, ada sebagian putra bangsa Indonesia yang justru menganggapnya ancaman nyata ini sebagai rekayasa semata.

Hadirin sekalian, yang insya-Allaah penuh dengan curahan rahmat Allaah SWT, pada pagi hari ini kita akan bersama-sama sedikit membahas apa perbedaan Islam yang sesungguhnya dengan ajaran sesat semacam ISIS. Kalau ISIS membunuh setiap yang berbeda dengan mereka, bahkan sesama muslim pun mereka bunuh karena berbeda pandangan, maka Islam yang sesungguhnya tidak demikian. Islam yang sesungguhnya justru mewujudkan persaudaraan antar-sesama manusia, bukan hanya sesama muslim saja.

Salah satu faktor penunjang utama dalam menegakkan persaudaraan di antara umat manusia adalah adanya persamaan. Persamaan rasa dan cita –cita merupakan faktor dominan yang mendahului lahirnya persaudaraan hakiki, dan pada akhirnya menjadikan seseorang merasakan derita saudaranya, mengulurkan tangan sebelum diminta, serta memperlakukan saudaranya bukan atas dasar take and give (memberi dan menerima), bukan atas dasar aku memberi orang lain apa, dapat imbal balik apa, sebagaimana orang berdagang, tetapi justru

Keberadaan manusia sebagai makhluk sosial, perasaan tenang dan nyaman pada saat berada di antara sesamanya, dan dorongan kebutuhan ekonomi merupakan faktor-faktor penunjang yang akan melahirkan rasa persaudaraan.

Hadirin rahimakumullaah.

Untuk memantapkan persaudaraan, Al-Quran menggarisbawahi bahwa perbedaan adalah hukum yang berlaku dalam kehidupan ini. Selain perbedaan tersebut merupakan kehendak Ilahi, juga demi kelestarian hidup, sekaligus demi mencapai tujuan kehidupan makhluk di pentas bumi.

Seandainya Tuhan menghendaki kesatuan pendapat, niscaya diciptakan-Nya manusia tanpa akal budi seperti binatang atau benda-benda tak bernyawa yang tidak memiliki kemampuan memilah dan memilih, karena hanya dengan demikian seluruhnya akan menjadi satu pendapat.

Dari sini, seorang Muslim dapat memahami adanya pandangan atau bahkan pendapat yang berbeda dengan pandangan agamanya, karena semua itu tidak mungkin berada di luar kehendak Ilahi. Allaah berfirman,

Sungguh, tidak pantas bagi kita untuk memaksakan kehendak agar semua manusia mau menjadi orang yang beriman. Karena demikianlah Allaah yang gariskan bagi kita, untuk menjadi pelajaran dan pembeda, mana yang taat dan mana yang tidak taat.

Lebih dari itu, untuk menjamin terciptanya persaudaraan dimaksud, Allah SWT memberikan beberapa petunjuk sesuai dengan jenis persaudaraan yang diperintahkan, baik kaitannya dengan persaudaraan secara umum maupun persaudaraan seagama Islam.

  1. Untuk memantapkan persaudaraan pada arti yang umum, Islam memperkenalkan konsep khalifah. Manusia diangkat oleh Allah sebagai khalifah (wakil Allaah di muka bumi). Kekhalifahan menuntut manusia untuk memelihara, membimbing, dan mengarahkan segala sesuatu agar
    mencapai maksud dan tujuan penciptaannya. Karena itu, Nabi Muhammad SAW melarang memetik buah sebelum siap untuk dimanfaatkan, memetik kembang sebelum mekar, atau menyembelih binatang yang terlalu kecil. Nabi Muhammad SAW Juga mengajarkan agar selalu bersikap bersahabat dengan segala sesuatu sekalipun terhadap benda tak bernyawa.

Kaitannya dengan tugas sebagai wakil Allaah di muka  bumi, Allaah Ta’aala mengajarkan kita nama-nama benda semuanya atau dapat ditafsirkan sebagai penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, Allaah berfirman di dalam surat al-Baqarah ayat 31,

Al-Quran menggunakan istilah pengajaran dari Allaah, dan tidak mengenal istilah “penaklukan alam”, karena secara tegas Al-Quran menyatakan bahwa yang menaklukkan alam untuk manusia adalah Allah (QS 45: 13). Secara tegas pula seorang Muslim diajarkan untuk mengakui bahwa ia tidak mempunyai kekuasaan untuk menundukkan sesuatu kecuali atas penundukan Ilahi. Sehingga, termasuk saat berkendaraan seorang Muslim dianjurkan membaca,
 photo menjalin-7_zps9jsvs4gn.png
Hadirin rahimakumullaah.

  1. Untuk persaudaraan antarpemeluk agama, Islam mengajarkan ajaran,

 photo menjalin-8_zpsucfj2lzr.png
Al-Qur`an juga menganjurkan agar kita mencari titik singgung dan titik temu antar-pemeluk agama, serta apabila tidak ditemukan persamaan hendaknya masing-masing mengakui keberadaan pihak lain, tidak perlu saling menyalahkan.
menjalin-9
Ayat tersebut mendorong adanya titik temu dan titik singgung di antara agama-agama, yakni keimanan kepada Allaah yang murni atau ketauhidan. Ketika ketauhidan tak tercapai menjadi kesepakatan bersama, maka kembali ke ajaran agama masing-masing, dengan tetap saling menghormati satu sama lain.

Selain itu, ada titik temu dan titik singgung lain di antara semua agama dan peradaban, yang sering kita sebut dengan kebaikan universal.

Semua agama menganggap perbuatan mencuri sebagai keburukan, maka bersama-sama antar-pemeluk agama memberantas korupsi adalah bentuk nyata persaudaraan antar-umat beragama.

Semua agama menganggap perbuatan berbagi harta kepada yang orang miskin sebagai kebaikan, maka bersama-sama antar-pemeluk agama, berikhtiar membantu mengentaskan kemiskinan adalah bentuk nyata persaudaraan antar-umat beragama.

Alangkah indahnya, jika persaudaraan antar-manusia, antar-pemeluk beragama mampu mewujudkan kemuliaan tersebut, setidaknya dalam memberantas kejahatan korupsi dan pengentasan kemiskinan di Indonesia kita tercinta.

Hadirin rahimakumullaah.

Persaudaraan antara Muslim dengan non-Muslim sama sekali tidak dilarang oleh Islam, selama pihak lain menghormati hak-hak kaum Muslim. Allaah Ta’aala berfirman di dalam surat al Mumtahanah [60] ayat 8:
menjalin-10
Ayat ini turun berkenaan dengan Asma’ binti Sayyidinaa Abu Bakar RA yang tidak mau menerima hadiah dari ibunya karena saat itu ibunya belum memeluk Islam. Allaah Ta’aala ingatkan perbuatan tersebut dengan ayat ini: kepada yang tidak seagama, tak ada larangan berbuat baik, berbuat adil, termasuk memberikan sebagian harta, selama tidak memusuhi karena agama atau mengusir dari tanah air/kampung halaman.

Begitu pula ketika salah seorang sahabat Nabi SAW yang pada mulanya telah terbiasa memberikan bantuan kepada non-Muslim, bermaksud menghentikan bantuan tersebut. Alasannya, dengan dihentikannya bantuan, dia yang biasa diberi akan membutuhkannya, mencari dirinya, dan kemudian mau memeluk Islam.

Maksud para sahabat ini dengan tegas dilarang, melalui al-Qur`an surat al-Baqarah ayat 272,
menjalin-11
Dengan kata lain, ayat ini adalah tamparan bagi kita semua, karena seolah Allaah mengingatkan kita semua: Janganlah mengaitkan hadiah atau bantuan dengan keimanan dan kekufuran, tetapi pemberian itu semata demi persaudaraan atau kemanusiaan.

Hadirin rahimakumullaah.

  1. Untuk memantapkan persaudaraan antar-sesama Muslim, al-Qur`an pertama kali menggarisbawahi perlunya menghindari segala macam sikap lahir dan batin yang dapat mengeruhkan hubungan di antara sesama muslim.

Setelah menyatakan bahwa orang-orang Mukmin bersaudara, dan memerintahkan untuk melakukan ishlah (perbaikan hubungan) jika seandainya terjadi kesalahpahaman di antara dua orang (kelompok) kaum Muslim, Al-Quran memberikan contoh-contoh penyebab keretakan hubungan sekaligus melarang setiap Muslim melakukannya,
menjalin-12
Ayat berikutnya di surat yang sama, al-Hujurat 12, memerintahkan orang Mukmin untuk menghindari prasangka buruk, tidak mencari-cari kesalahan orang lain, serta melarang menggunjing, yang diibaratkan oleh al-Quran bagaikan memakan daging saudaranya sendiri yang telah meninggal dunia. Pada umumnya contoh-contoh tersebut berkaitan dengan sikap kejiwaan, atau tercermin misalnya dalam hadis Nabi SAW yang diriwayatkan oleh keenam ulama hadis, kecuali An-Nasa’i, melalui Abu Hurairah,
menjalin-13
Mengapa Allaah Ta’aala perintahkan sikap-sikap yang berkaitan dengan kondisi kejiwaan? Karena sikap batiniahlah yang melahirkan
sikap lahiriah. Lisan yang suka berkata kotor, muncul karena di dalam hatinya tersimpan kumpulan kekotoran. Tangan, wajah, dan kaki yang diarahkan kepada aktivitas keji dan kejam, sungguh karena di dalam hatinya terkumpul tumpukan kekejian dan kekejaman yang sama. Maka Islam menegaskan: perbaiki sikap kejiwaanmu, maka kesungguhanmu memperbaiki hati, akan tercermin di lisan dan perbuatanmu.

Hadirin rahimakumullaah.

Demikianlah uraian persaudaraan yang dianjurkan dalam Islam menurut al-Qur`an, baik persaudaraan secara umum, persaudaraan kepada non-Muslim, serta persaudaraan dengan sesama Muslim. Sebagai penutup, akan kami sampaikan beberapa hadits Nabi SAW yang mendorong persaudaraan antarmanusia.

Nabi SAW menekankan pentingnya misi kemanusiaan dalam Islam, melalui sabda beliau (HR ath-Thabrani),
menjalin-14
Di sabda Nabi SAW yang lain, terdapat sebuah hadits yang bermakna sama, bahkan ditambah dengan perintah lain yang lebih indah. Beliau SAW bersabda (HR Baihaqi),
menjalin-15
Inilah indahnya Islam yang sesungguhnya, bahwa sesudah iman kepada Allaah, maka wujud nyata keimanan harus ditujukan kepada sesama makhluk, terutama manusia, yang bahkan kepada mereka yang durjana pun, kita diperintahkan untuk berbuat baik.

Hadirin rahimakumullaah.

Mengapa berbuat buruk kepada pendosa dilarang? Mengapa mencaci seseorang yang berbuat dosa dilarang? Sebagaimana dikisahkan sebuah hadis (HR al-Bukhari dari Abu Hurairah RA), bahwa seorang laki-laki yang menenggak minuman keras dihadapkan kepada Nabi Muhammad SAW, Abu Hurairah berkata,
menjalin-16
Menghukum seseorang sesuai dengan norma yang berlaku itu harus. Tetapi mencaci-maki sang pelanggar atau mengutuk hingga melaknatnya, sungguh dilarang oleh Nabi Muhammad SAW. Bahkan oleh Nabi SAW disamakan dengan memberikan pertolongan kepada setan!

Mengapa demikian? Karena tujuan syaithan menggoda manusia adalah untuk menjerumuskan kita kepada neraka; sehingga ketika kita sebagai manusia melakukan laknat kepada sesama manusia, mengutuk sesama manusia agar Allaah membenci, bahkan berharap para pendosa masuk ke neraka, apa bedanya kita dengan syaithan? Inilah maksud Nabi Muhammad SAW dengan memberikan pertolongan kepada syaithan.

Hadirin rahimakumullaah.

Nabi Muhammad SAW bersabda (HR ad-Dailami dari ‘Aisyah),

menjalin-17

Inilah tugas kita dalam ikhtiar bersama menjadi wakil Allaah Tabaraka wa Ta’aala di muka bumi: mengajak manusia ke arah yang lebih baik dengan kata-kata, teladan, dan doa, dengan penuh kelembutan sebagai bentuk implementasi rasa cinta kepada sesama manusia. Bahkan kelembutan pada manusia sama fardlunya dengan kewajiban-kewajiban lain di dalam agama.

Tentu saja, tidak ada paksaan dari kita, apakah yang kita ajak mau ikut atau tidak. Bagaimanapun juga, datangnya hidayah, hadirnya petunjuk ke dalam hati seorang manusia bukan di tangan kita, tapi sepenuhnya merupakan kuasa Allaah SWT. Bahkan Nabi Muhammad SAW-pun tidak berhasil membuat pamannya Abu Thalib mengucapkan dua kalimat persaksian hingga akhir hayatnya.

Dengan demikian, bertemunya rasa cinta kepada sesama manusia dan kelembutan dakwah di dalam Islam, hendaknya akan menghindarkan kita dari siksa Allaah Ta’aala di dunia maupun akhirat, sebagaimana Allaah ingatkan (QS an-Nuur ayat 19),

menjalin-18

Semoga Allaah memberikan kekuatan kepada kita untuk istiqamah berada di jalan cinta dan kelembutan dalam menjalankan Islam, Islam yang rahmatan lil-‘aalamiin, sehingga terwujudlah kondisi sosial masyarakat yang aman, damai, tenteram, dan penuh dengan keberkahan dari Allaah SWT.

Khatbah Kedua

Di khotbah kedua ini, mari kita tutup bersama rangkaian ibadah pada pagi hari ini dengan berdoa kehadirat Allaah Tabaraka wa Ta’aala. Memohon agar Allaah berkenan menerima segenap amal ibadah kita di Ramadlan tahun ini dan mempetemukan kita kembali dengan Ramadlan berikutnya. Memohon agar Allaah memudahkan setiap langkah kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan khususnya dalam mendidik keluarga kita. Memohon agar Allaah selalu meneguhkan hati kita untuk berada di jalan yang lurus.

Dan tidak lupa, semoga Allaah Ta’aala melindungi negeri muslim terbesar di dunia, Indonesia kita tercinta, dari berbagai bencana alam dan konflik sosial, terutama ancaman-ancaman global yang mencoba mengusik kenyamanan bangsa kita sebagai negeri muslim yang penuh kedamaian.

Menteri Pertahanan RI menyatakan ada 29 kelompok di Indonesia yang merupakan bagian dari ISIS. Sementara Panglima TNI menyatakan, sel-sel ISIS berada di 16 lokasi di Indonesia. Kelompok-kelompok ini, sekarang belum bisa ditindak, karena belum melakukan kejahatan nyata, karena memang tidak memiliki sumber daya yang cukup untuk melakukannya. Tetapi mereka selalu standby, selalu siaga, jika ada perintah untuk bertindak.

Ikhtiar kita adalah menolak ajaran mereka, yakni senantiasa menggalang persaudaraan, menjauhi prasangka dan melakukan tabayyun terhadap berbagai informasi yang berseliweran, serta waspada apabila ada ajaran atas nama Islam yang menggunakan ekspresi kebencian dan kekejian dalam menyikapi perbedaan. Selebihnya, pada saat ini, mari kita berdoa, mohon perlindungan dari Allaah SWT.

DOA PENUTUP

Rektor UGM: Ketakwaan dan Pendidikan untuk Kesejahteraan NKRI

“Korea yang kemerdekaannya hanya selisih beberapa hari dengan Indonesia, yang kemiskinannya saat itu hampir sama dengan Indonesia, yang kekayaan alamnya lebih sedikit dari Indonesia, saat ini lebih maju daripada Indonesia. Begitu pula dengan Singapura atau Finlandia atau Jepang. Mengapa demikian? Karena Korea, selain memiliki semangat luar biasa, juga mempunyai sistem pendidikan yang bagus dan etos kerja yang tinggi.”

Demikian sambutan Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Ir. Panut Mulyono, M. Eng., D. Eng. dalam acara Buka Bersama Forum Komunikasi Dosen dan Mahasiswa Nahdlatul Ulama (NU) UGM yang diselenggarakan hari ini, 26 Mei 2018, di Masjid al-Ihsan Fakultas Kehutanan UGM.

IMG_9346

IMG20180526165612

Acara ini dihadiri pula oleh Wakil Ketua Umum Pengurus Besar NU yang juga Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Prof. Dr. Ir. Mochammad Maksum Machfoedz, M. Sc., dosen, dan mahasiswa UGM, termasuk dari organisasi mahasiswa NU UGM tingkat D3 dan S1 (Keluarga Mahasiswa NU UGM atau KMNU UGM) serta tingkat S2 dan S3 (Forum Silaturahmi Mahasiswa Pasca NU UGM).

Selanjutnya Prof. Panut juga mengajak agar mahasiswa NU UGM terus menempuh pendidikan setinggi-tingginya sesuai dengan kemampuan masing-masing sekaligus memiliki determinasi, seperti konsep “PBNU” (Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD 1945). “PBNU” sendiri, menurut Prof. Panut, merupakan modal terbesar bagi bangsa Indonesia, sehingga masyarakat dan warga negara tinggal menjalankannya.

“Kekayaan alam bukan segalanya, tetapi pendidikanlah yang memajukan sebuah bangsa. Pendidikan sungguh bisa mengubah dunia. Ajak adik, saudara, dan teman dari pesantren untuk mendaftar ke UGM. Kita sepakat bahwa “PBNU” sudah final, walaupun masih belum sempurna pelaksanaannya. Maka menjadi tugas kalian semua di masa mendatang untuk menjalankan negara Indonesia dengan benar, agar lebih maju dan sejahtera”, kata Prof. Panut.

IMG_0020

IMG_0002

Sementara berkaitan dengan hikmah puasa, Rektor UGM mengingatkan kembali bahwa ketakwaan yang dituju dapat menyempurnakan ilmu dan pendidikan, karena ketakwaan dapat mencegah dari berbagai perbuatan tidak baik.

“Sayangnya, kita semua, kadang menilai takwa hanya sekedar dengan timbangan. Merasa berbuat baik cukup banyak, kemudian berani berbuat kurang baik dengan alasan masih berat perbuatan baiknya. Ini evaluasi kita bersama tentang kualitas ketakwaan kita.”

Sebagai penutup sambutannya, Rektor UGM yang merupakan Guru Besar Fakultas Teknik UGM juga menekankan optimismenya terhadap masa depan Indonesia.

Prof. Panut berpesan, “Saya yakin seyakin-yakinnya, masa depan Indonesia itu sangat cerah. Saya menyaksikan kebaikan, cita-cita, dan rasa persatuan yang tinggi di mata para mahasiswa. Tinggal bagaimana sikap ini menjadi dominan”.

Acara kemudian ditutup dengan doa bersama, buka puasa, dan salat Maghrib berjamaah.

IMG20180526180759

IMG_9426

Menggapai Bahagia Akhirat dengan Rahmat Allaah

(Disampaikan dalam beberapa majelis tarawih, subuh, buka bersama, khatbah jumat, dan syawalan di tahun 2017)

Allaah Tabaraka wa Ta’aala berfirman di dalam QS al-Bayyinah ayat 7,

Sesungguhnya orang-orang yang beriman (secara benar) dan (membuktikan kebenaran iman mereka) dengan mengerjakan amal-amal shaleh, mereka itulah sebaik-baik makhluk.

Allaah Tabaraka wa Ta’aala dengan kemurahannya, memberikan kesempatan kepada kita untuk berbuat kebaikan, sebagai bekal di akhirat. Sesudah menjelaskan keutamaan orang beriman yang membuktikan keimanannya dengan beramal salih, beramal kebajikan, sebagai khoyrul bariyyah, sebaik-baik makhluk, di dalam al-Bayyinah ayat 7, Allaah berjanji akan mengganjarnya, membalasnya dengan surga pada ayat 8,

Balasan mereka di sisi Tuhan Pemelihara mereka ialah surga-surga ‘Adn yang di bawahnya mengalir sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allaah ridla kepada mereka dan mereka pun ridla kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (ganjaran) bagi orang yang takut kepada Tuhan Pemeliharanya.

Frase ridla Allaah kepada mereka (radliyallaahu ‘anhum) tercermin dalam keberadaan hamba itu di tempat dan situasi yang dikehendaki Allaah, yakni di surga. Sedangkan mereka pun ridla kepada-Nya (wa radlu-‘anhu) bermakna bahwa hati mereka, hamba Allaah, yang tidak merasa keruh atau tidak enak menerima ketetapan Allaah, apapun bentuknya.

Ada beberapa hal kunci di dalam kedua ayat tersebut, kaitannya dengan kehidupan akhirat, yakni iman, amal shaleh, ridla Tuhan, dan rasa takut kepada Tuhan. Kita akan membahas sedikit saja tentang amal shaleh, ridla Tuhan, dan rasa takut kepada Tuhan.

Hadirin rahimakumullaah.

Kanjeng Nabi Muhammad SAW menyampaikan firman Allaah dalam sebuah Hadits Qudsi. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, dengan perbedaan dalam beberapa redaksi atau pilihan kata. Menurut riwayat Imam Bukhari, hadits tersebut berbunyi,

Dari Ibnu ‘Abbas RA, dari Nabi SAW, yang meriwayatkan dari Tuhannya ‘Azza wa Jalla, beliau SAW bersabda, Sesungguhnya Allaah SWT telah menetapkan semua kebaikan dan keburukan,

Kemudian menjelaskannya sebagai berikut, barangsiapa ingin berbuat (merencanakan) kebaikan tetapi tidak jadi (dapat) melakukannya, Allaah akan mencatat (menetapkan pahala) untuknya satu kebaikan yang sempurna; apabila seseorang ingin berbuat kebaikan lalu dapat melaksanakannya, Allaah mencatat (membalas) kebaikan tersebut dengan sepuluh kebaikan di sisi-Nya, (dan melipatkannya) sampai 700 kali lipat hingga kelipatan yang sangat banyak,

Dan barangsiapa yang ingin berbuat keburukan (dosa), tetapi tidak jadi melakukannya, Allaah akan mencatat baginya satu kebaikan yang sempurna di sisi-Nya; apabila seseorang ingin berbuat keburukan (dosa) lalu benar-benar melakukannya, Allaah akan mencatatnya sebagai satu keburukan untuknya.

Di dalam hadits tersebut, perbuatan yang akan dilakukan oleh seorang manusia dibahasakan dengan menggunakan hamma, yang artinya kurang lebih adalah ingin berbuat atau berhasrat. Di dalam hadits yang bersumber dari Abu Hurairah RA, digunakan kata araada, yang maknanya kehendak. Keduanya, hamma maupun araada, merupakan tahap yang sama sebelum terwujudnya suatu perbuatan. Para ulama seperti Imam Ahmad, Imam Nawawi, dan al-Qaadlii ‘Iyaadl, menyatakan tentang al-hamm atau hasrat yang tidak dinilai dosa adalah lintasan pikiran yang belum menetap di dalam jiwa, serta belum disertai ikatan, niat, dan ‘azam atau tekad.

Dari hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas dan Abu Hurairah di atas, disimpulkan ada lima hukum yang muncul,

  1. Orang yang berkeinginan / berkehendak berbuat baik, tetapi urung melakukannya,
  2. Orang yang berkeinginan / berkehendak berbuat baik, lalu melakukannya,
  3. Orang yang berkeinginan / berkehendak berbuat buruk (dosa), tetapi urung melakukannya karena takut kepada Allaah SWT,
  4. Orang yang berkeinginan / berkehendak berbuat buruk (dosa) tetapi urung melakukannya karena tidak memiliki potensi untuk mewujudkannya,
  5. Orang yang berkeinginan / berkehendak berbuat buruk (dosa), lalu melakukannya.

Hadirin rahimakumullah.

Bagi sebuah niat yang teriring dengannya tekad dalam sebuah perbuatan baik, tetapi urung karena satu dan lain hal, Allaah Ta’aala dengan kemurahan dan rahmat-Nya, menghitungnya sebagai sebuah perbuatan baik yang terjadi dengan sempurna (hasanatan-kaamilah).

Kemudian, apabila niat baik tersebut dibarengi dengan tekad dan ikhtiar nyata sehingga terwujud, Allaah lipat-gandakan kebaikan tersebut. Bisa 10 kali lipat (‘asyra hasanat), bisa 700 kali lipat (sab’i mi-ati dli’-fin), hingga tak terbatas (adl-‘aafin katsiirah). Berkaitan dengan hadits lain yang serupa, yakni tentang pelipat-gandaan pahala, Al-Hafizh Ibnu Hajar di dalam Fathul-Baari menyampaikan bahwa,

Hal ini mengisyaratkan bahwa kelipatan pahala amal baik itu sampai sepuluh. Inilah yang menjadi patokan. Adapun kelipatan melebihi sepuluh dimungkinkan sesuai dengan kualitas keikhlasan, kebenaran niat, penghayatan dalam hati, dan terwujudnya manfaat, seperti sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, keteladanan yang baik, kemuliaan amal kebajikan, dan lain sebagainya.

Itulah kemurahan Allaah Ta’aala bagi kita yang mau membiasakan diri untuk berniat baik sekaligus berikhtiar terus menerus untuk mewujudkannya. Bagaimana dengan niat untuk berbuat buruk?

Urung melakukan perbuatan buruk yang sempat terbersit di dalam benak boleh jadi disebabkan karena dua hal, (1) emosi sesaat tapi kemudian ingat dan takut kepada Allaah, atau (2) sudah menjadi tekad yang bulat, namun tidak ada potensi di sekelilingnya yang mendukung perbuatan buruk tersebut.

Jika perbuatan buruk urung terwujud karena ingat dan takut kepada Allaah Ta’aala, boleh jadi akan terhitung sebagai sedekah. Hal ini sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Abu Musa al-Asy’ari,

Nabi SAW bersabda, “Setiap Muslim wajib bersedekah”.

Para sahabat bertanya, “Bagaimana menurut Baginda, apabila dia tidak memiliki sesuatu (untuk disedekahkan)?

Nabi SAW menjawab, “Hendaknya dia menahan diri dari perbuatan buruk, hal itu dicatat sebagai sedekah untuknya”.

Bagaimana tentang perbuatan buruk yang urung terjadi selain karena takut kepada Allaah? Ulama hadits Syaikh Muhammad ‘Awwamah menjelaskan,

Bagi orang yang mengurungkan keinginan jahatnya karena faktor selain takut kepada Allaah, pahalanya lebih sedikit dibandingkan oleh perasaan takut kepada Allaah. Sebab, dalil yang sahih menunjukkan keutamaan bagi hamba yang memiliki rasa takut kepada Allaah ketika mengurungkan niat jahatnya.

Namun demikian perlu pula diingat ulasan al-Qaadlii ‘Iyaadl dan Imam Nawawi tentang perbuatan buruk yang urung dilakukan, bahwa,

Orang yang ingin berbuat maksiat dan bertekad mewujudkannya dapat dikenai dosa dalam keyakinan dan tekadnya; ia mendapatkan satu keburukan, tetapi keburukannya tidak sebesar orang lain yang telah melakukan dan mewujudkannya.

Hal yang mirip disampaikan Imam Nawawi ketika membahas hadits dari Imam Muslim yang berbunyi,

Apabila dua orang Islam bertengkar dengan pedangnya, maka orang yang membunuh dan terbunuh sama-sama berada di dalam neraka.

Saya bertanya (Abu Bakrah Nufa’i periwayat hadits), “Wahai Rasulullaah, sudah wajar yang membunuh masuk neraka. Lantas bagaimana gerangan yang terbunuh?”

Beliau menjawab, “Karena ia juga sangat berambisi untuk membunuh sahabatnya”.

Tentang hadits ini, Imam Nawawi mengatakan,

Seseorang yang bertekad bulat untuk melakukan maksiat serta terus-menerus merencanakannya, ia dinilai telah berdosa, meskipun belum sempat melakukannya atau mengucapkannya.

Itulah pembahasan tentang amal-amal kebaikan yang harus terus menerus kita biasakan memunculkannya di benak sekaligus kemudian berikhtiar mewujudkannya. Dan tak kalah pentingnya, bagaimana kita juga mampu membendung terbersitnya niat untuk berbuat dosa. Kalaupun dalam kondisi emosional dan terlanjur timbul di benak kita, segera saja kita ingat kepada Allaah agar niat tersebut tidak menguat menjadi tekad dan kesungguhan.

Hadirin rahimakumullaah.

Namun demikian, berkaitan dengan amal-amal kebaikan kita yang akan menjadi bekal di akhirat, sebagai pembuktian iman kita, perlu kita kembali ke al-Bayyinah ayat 8, ketika Allaah menyampaikan balasan atas amal shaleh kita, bahwa balasan surga mengandung deskripsi, radliyallaahu ‘anhum, Allaah ridla kepada mereka.

Perlu kita semua ingat, bahwa amal-amal shalih kita sama sekali tidak mampu mendatangkan apapun, kecuali atas amal-amal kebaikan tersebut kita mintakan ridla Allaah SWT. Terkadang kita menyangka, bahwa segenap amal shalih kita akan cukup untuk menyelamatkan kita dari neraka atau cukup untuk memasukkan kita ke dalam surga.

Atau yang lebih buruk, jika ada sebagian dari kita dengan santai berbuat buruk, dengan harapan, setelahnya cukup menggantinya dengan amal baik untuk menutupi dosanya. Semoga kita terhindar dari perbuatan yang demikian.

Kanjeng Nabi Muhammad SAW bersabda diriwayatkan oleh Imam Muslim, Imam Bukhari, dan an-Nasaa-i,

Berlaku luruslah kalian, dekatkanlah diri kalian (yakni kepada Allaah), dan bergembiralah kalian (yakni dengan pahala dan ganjaran dari Allaah), dan ketahuilah oleh kalian bahwa amal perbuatan salah seorang dari kalian tidak akan bisa memasukkannya ke surga.

(Mereka para sahabat Nabi SAW) bertanya, Juga termasuk engkau sendiri, ya Rasuulullaah?

(Nabi SAW) menjawab, (Ya,) termasuk aku sendiri, kecuali bila Allaah melimpahkan ampunan dan rahmat-Nya kepadaku. Dan sungguh, amal perbuatan yang dicintai oleh Allaah adalah yang dilakukan terus menerus, sekalipun sedikit.

Hadirin rahimakumullah.

Demikianlah peringatan Rasuulullaah SAW agar kita tidak mengandalkan amal kebaikan kita, kecuali amal tersebut harus kita konversi untuk memohon rahmat Allaah SWT. Bahkan seorang Nabi SAW pun menyatakan, bukan amal perbuatan baik Beliau SAW yang menjadikan beliau ke surga, tapi rahmat Allaah Ta’aala. Benar Beliau SAW adalah Nabi dan Rasul yang maksum, terjaga dari dosa, namun kemaksuman beliau pun berkat rahmat dari Allaah SWT.

Ada banyak sekali hadits berkualitas shahih yang menceritakan bagaimana rahmat Allaah tidak selalu sama dengan amal baik yang banyak. Misal, seorang pembunuh 100 orang yang bertaubat dan mendapatkan rahmat Allaah, diampuni dosanya; atau sebuah hadits tentang perempuan pendosa dan hadits lain tentang seorang lelaki yang mendapatkan ampunan karena memberi minum anjing kehausan; dan kisah-kisah pertaubatan lain yang menghadirkan rahmat Allaah SWT di masa akhir kehidupan.

Jangan sampai kita salah konsep salah pemahaman, bahwa amal kebaikan adalah segala-galanya, dan melupakan rahmat Allaah, sehingga muncul anggapan di dalam benak kita, seolah hanya amal baik saja yang mendatangkan manfaat.

Amal kebaikan adalah sarana kita meraih ridla Allaah, wasilah kita mendapatkan rahmat Allaah Tabaraka wa Ta’aala. Sungguh bahwa perbuatan baik membuat kita menjadi semakin dekat kepada Allaah Tabaraka wa Ta’aala dan kedekatan dengan Allaah-lah yang menghadirkan rahmat-Nya, bukan semata-mata hanya karena amal tersebut.

Bagaimana agar amalan baik kita mendatangkan rahmat Allaah? Sebelumnya telah kita bahas: Adapun kelipatan (balasan kebaikan) melebihi sepuluh dimungkinkan sesuai dengan kualitas keikhlasan, kebenaran niat, penghayatan dalam hati, dan terwujudnya manfaat, seperti sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, keteladanan yang baik, kemuliaan amal kebajikan, dan lain sebagainya. Dan balasan kebaikan tertinggi adalah jika kelipatannya tak terhingga, yakni ridla dan rahmat Allaah SWT.

Demikianlah penyampaian dari saya, semoga mampu menguatkan kita semua, terutama diri saya sendiri, agar bukan sekedar berusaha untuk berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya, tapi juga berusaha untuk memperbaiki kualitas hati kita dalam segenap perbuatan baik kita tersebut, agar berbalas rahmat Allaah SWT. Serta agar kita tidak lagi menggantungkan diri pada amal kebaikan, tanpa melibatkan permintaan ridla Allaah dan rahmat Allah.

Mengurai Hikmah Tragedi Mako Brimob: Islam adalah Kedamaian

Alhamdulillaah, tragedi di Mako Brimob sudah selesai. Ada evaluasi yang harus dilakukan, terutama di manajemen penjara beserta perangkat keamanannya. Pemerintah harus mengakui (serta memperbaikinya, tentu saja) bahwa sebagian pemicunya adalah kedua hal tersebut.

Namun demikian, tidak berarti kita melegalkan kekerasan yang dilakukan oleh para teroris itu. Apalagi membela perilaku keji ini dengan dalih apapun. Bahkan termasuk tuduhan pencitraan kubu politik yang sedang memegang amanah pemerintahan RI. Jika sampai ada yang menyampaikan hal tersebut (tuduhan pencitraan), bagi saya, sungguh telah mati nuraninya. Sementara kepada anggota kepolisian yang gugur dalam tugas, semoga Allaah Ta’aala mengganjar kalian dengan rahmat-Nya yang Maha-agung dan Menyeluruh.

Selain itu, sebagai masyarakat bangsa dan negara, kita juga harus semakin sadar bahwa kejahatan atas nama Islam itu nyata keberadaannya.

Islam tak pernah mengajarkan kekejian, bahkan dalam keadaan perang sekali pun. Namun pembela dan pelaku atas tafsir selain itu benar-benar ada dan hidup berkembang di Indonesia kita tercinta.

Tidak semua yang kritis kepada pemerintah dan/atau bahkan yang anti-negara NKRI berafiliasi dengan para pembajak Islam tersebut, tapi realitasnya, para pembajak Islam alias teroris-teroris itu, memanfaatkan kedua kubu tersebut dengan narasi-narasi cantik nan (seolah-olah) mulia: Islam terzhalimi. Lebih jauh lagi, teroris-teroris tak berperasaan ini dengan percaya diri sering menggunakan isu HAM dengan berlebihan, sedemikian rupa sehingga, pemerintah dan negara yang sedang menegakkan hukum adalah pelanggar HAM terberat di dunia.

Begitu pula dengan isu anti-Amerika Serikat (US). Benar bahwa sejarah terorisme modern berkaitan erat dengan peran US pada masa perang dingin melawan Uni Soviet dengan meradikalkan sebagian kecil umat Islam atas nama perjuangan anti-Soviet. Benar pula, bahwa saat ini pengaruh US kepada semua pemerintah dan negara di seluruh penjuru dunia itu eksis.

Tapi sungguh sebuah kebodohan jika terorisme atas nama Islam di negeri kita digambarkan sebagai sebuah garis lurus perintah/koordinasi antara US, Indonesia, dan terorisme itu sendiri, dengan mengabaikan faktor-faktor lain yang sangat kompleks dan rumit.

Mengapa bodoh? Karena tidak mau berpikir menguraikan persoalan yang sesungguhnya dan memilih sebodoh-bodohnya sikap: memosisikan diri sebagai korban kemudian menunjuk orang lain sebagai pelaku, dengan kata “pokoknya” sebagai penekanan.

Sungguh sikap yang bertentangan dengan ajaran al-Qur’an tentang anjuran untuk berubah dengan ikhtiarnya sendiri.

Maka mari bersama-sama, kita berusaha menjalankan Islam dengan baik dan benar sembari terus memberikan kontribusi terbaik bagi bangsa dan negara melalui kritik konstruktif yang solutif sebagai bentuk nyata ikhtiar untuk meningkatkan kualitas kehidupan umat manusia.

Terakhir, saya ingin mengingatkan pentingnya sebuah institusi negara dlm kehidupan keagamaan dan spritualitas umat, sebagaimana dibahas dalam konferensi internasional ulama thariqah sedunia bertemakan “Bela Negara: Konsep dan Urgensinya menurut Islam”, di Pekalongan 2016 yg lalu.

Hasilnya ada sembilan poin penting, yang empat di antaranya akan saya kutip sebagai penutup tulisan ini:

Pertama, negara adalah tempat tinggal di mana agama diimplementasikan dalam kehidupan.

Kedua, bernegara merupakan kebutuhan primer dan tanpanya kemaslahatan tidak terwujud.

Ketiga, bela negara adalah di mana setiap warga merasa memiliki dan cinta terhadap negara sehingga berusaha untuk mempertahankan dan memajukannya.

Keempat, bela negara merupakan suatu kewajiban seluruh elemen bangsa sebagaimana dijelaskan Al-Quran dan Hadis.

Demikian, semoga bermanfaat.

Blunyah Gede, Yogyakarta, 10 Mei 2018,
Ahmad Rahma Wardhana.