Menggapai Bahagia Akhirat dengan Rahmat Allaah

(Disampaikan dalam beberapa majelis tarawih, subuh, buka bersama, khatbah jumat, dan syawalan di tahun 2017)

Allaah Tabaraka wa Ta’aala berfirman di dalam QS al-Bayyinah ayat 7,

Sesungguhnya orang-orang yang beriman (secara benar) dan (membuktikan kebenaran iman mereka) dengan mengerjakan amal-amal shaleh, mereka itulah sebaik-baik makhluk.

Allaah Tabaraka wa Ta’aala dengan kemurahannya, memberikan kesempatan kepada kita untuk berbuat kebaikan, sebagai bekal di akhirat. Sesudah menjelaskan keutamaan orang beriman yang membuktikan keimanannya dengan beramal salih, beramal kebajikan, sebagai khoyrul bariyyah, sebaik-baik makhluk, di dalam al-Bayyinah ayat 7, Allaah berjanji akan mengganjarnya, membalasnya dengan surga pada ayat 8,

Balasan mereka di sisi Tuhan Pemelihara mereka ialah surga-surga ‘Adn yang di bawahnya mengalir sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allaah ridla kepada mereka dan mereka pun ridla kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (ganjaran) bagi orang yang takut kepada Tuhan Pemeliharanya.

Frase ridla Allaah kepada mereka (radliyallaahu ‘anhum) tercermin dalam keberadaan hamba itu di tempat dan situasi yang dikehendaki Allaah, yakni di surga. Sedangkan mereka pun ridla kepada-Nya (wa radlu-‘anhu) bermakna bahwa hati mereka, hamba Allaah, yang tidak merasa keruh atau tidak enak menerima ketetapan Allaah, apapun bentuknya.

Ada beberapa hal kunci di dalam kedua ayat tersebut, kaitannya dengan kehidupan akhirat, yakni iman, amal shaleh, ridla Tuhan, dan rasa takut kepada Tuhan. Kita akan membahas sedikit saja tentang amal shaleh, ridla Tuhan, dan rasa takut kepada Tuhan.

Hadirin rahimakumullaah.

Kanjeng Nabi Muhammad SAW menyampaikan firman Allaah dalam sebuah Hadits Qudsi. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, dengan perbedaan dalam beberapa redaksi atau pilihan kata. Menurut riwayat Imam Bukhari, hadits tersebut berbunyi,

Dari Ibnu ‘Abbas RA, dari Nabi SAW, yang meriwayatkan dari Tuhannya ‘Azza wa Jalla, beliau SAW bersabda, Sesungguhnya Allaah SWT telah menetapkan semua kebaikan dan keburukan,

Kemudian menjelaskannya sebagai berikut, barangsiapa ingin berbuat (merencanakan) kebaikan tetapi tidak jadi (dapat) melakukannya, Allaah akan mencatat (menetapkan pahala) untuknya satu kebaikan yang sempurna; apabila seseorang ingin berbuat kebaikan lalu dapat melaksanakannya, Allaah mencatat (membalas) kebaikan tersebut dengan sepuluh kebaikan di sisi-Nya, (dan melipatkannya) sampai 700 kali lipat hingga kelipatan yang sangat banyak,

Dan barangsiapa yang ingin berbuat keburukan (dosa), tetapi tidak jadi melakukannya, Allaah akan mencatat baginya satu kebaikan yang sempurna di sisi-Nya; apabila seseorang ingin berbuat keburukan (dosa) lalu benar-benar melakukannya, Allaah akan mencatatnya sebagai satu keburukan untuknya.

Di dalam hadits tersebut, perbuatan yang akan dilakukan oleh seorang manusia dibahasakan dengan menggunakan hamma, yang artinya kurang lebih adalah ingin berbuat atau berhasrat. Di dalam hadits yang bersumber dari Abu Hurairah RA, digunakan kata araada, yang maknanya kehendak. Keduanya, hamma maupun araada, merupakan tahap yang sama sebelum terwujudnya suatu perbuatan. Para ulama seperti Imam Ahmad, Imam Nawawi, dan al-Qaadlii ‘Iyaadl, menyatakan tentang al-hamm atau hasrat yang tidak dinilai dosa adalah lintasan pikiran yang belum menetap di dalam jiwa, serta belum disertai ikatan, niat, dan ‘azam atau tekad.

Dari hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas dan Abu Hurairah di atas, disimpulkan ada lima hukum yang muncul,

  1. Orang yang berkeinginan / berkehendak berbuat baik, tetapi urung melakukannya,
  2. Orang yang berkeinginan / berkehendak berbuat baik, lalu melakukannya,
  3. Orang yang berkeinginan / berkehendak berbuat buruk (dosa), tetapi urung melakukannya karena takut kepada Allaah SWT,
  4. Orang yang berkeinginan / berkehendak berbuat buruk (dosa) tetapi urung melakukannya karena tidak memiliki potensi untuk mewujudkannya,
  5. Orang yang berkeinginan / berkehendak berbuat buruk (dosa), lalu melakukannya.

Hadirin rahimakumullah.

Bagi sebuah niat yang teriring dengannya tekad dalam sebuah perbuatan baik, tetapi urung karena satu dan lain hal, Allaah Ta’aala dengan kemurahan dan rahmat-Nya, menghitungnya sebagai sebuah perbuatan baik yang terjadi dengan sempurna (hasanatan-kaamilah).

Kemudian, apabila niat baik tersebut dibarengi dengan tekad dan ikhtiar nyata sehingga terwujud, Allaah lipat-gandakan kebaikan tersebut. Bisa 10 kali lipat (‘asyra hasanat), bisa 700 kali lipat (sab’i mi-ati dli’-fin), hingga tak terbatas (adl-‘aafin katsiirah). Berkaitan dengan hadits lain yang serupa, yakni tentang pelipat-gandaan pahala, Al-Hafizh Ibnu Hajar di dalam Fathul-Baari menyampaikan bahwa,

Hal ini mengisyaratkan bahwa kelipatan pahala amal baik itu sampai sepuluh. Inilah yang menjadi patokan. Adapun kelipatan melebihi sepuluh dimungkinkan sesuai dengan kualitas keikhlasan, kebenaran niat, penghayatan dalam hati, dan terwujudnya manfaat, seperti sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, keteladanan yang baik, kemuliaan amal kebajikan, dan lain sebagainya.

Itulah kemurahan Allaah Ta’aala bagi kita yang mau membiasakan diri untuk berniat baik sekaligus berikhtiar terus menerus untuk mewujudkannya. Bagaimana dengan niat untuk berbuat buruk?

Urung melakukan perbuatan buruk yang sempat terbersit di dalam benak boleh jadi disebabkan karena dua hal, (1) emosi sesaat tapi kemudian ingat dan takut kepada Allaah, atau (2) sudah menjadi tekad yang bulat, namun tidak ada potensi di sekelilingnya yang mendukung perbuatan buruk tersebut.

Jika perbuatan buruk urung terwujud karena ingat dan takut kepada Allaah Ta’aala, boleh jadi akan terhitung sebagai sedekah. Hal ini sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Abu Musa al-Asy’ari,

Nabi SAW bersabda, “Setiap Muslim wajib bersedekah”.

Para sahabat bertanya, “Bagaimana menurut Baginda, apabila dia tidak memiliki sesuatu (untuk disedekahkan)?

Nabi SAW menjawab, “Hendaknya dia menahan diri dari perbuatan buruk, hal itu dicatat sebagai sedekah untuknya”.

Bagaimana tentang perbuatan buruk yang urung terjadi selain karena takut kepada Allaah? Ulama hadits Syaikh Muhammad ‘Awwamah menjelaskan,

Bagi orang yang mengurungkan keinginan jahatnya karena faktor selain takut kepada Allaah, pahalanya lebih sedikit dibandingkan oleh perasaan takut kepada Allaah. Sebab, dalil yang sahih menunjukkan keutamaan bagi hamba yang memiliki rasa takut kepada Allaah ketika mengurungkan niat jahatnya.

Namun demikian perlu pula diingat ulasan al-Qaadlii ‘Iyaadl dan Imam Nawawi tentang perbuatan buruk yang urung dilakukan, bahwa,

Orang yang ingin berbuat maksiat dan bertekad mewujudkannya dapat dikenai dosa dalam keyakinan dan tekadnya; ia mendapatkan satu keburukan, tetapi keburukannya tidak sebesar orang lain yang telah melakukan dan mewujudkannya.

Hal yang mirip disampaikan Imam Nawawi ketika membahas hadits dari Imam Muslim yang berbunyi,

Apabila dua orang Islam bertengkar dengan pedangnya, maka orang yang membunuh dan terbunuh sama-sama berada di dalam neraka.

Saya bertanya (Abu Bakrah Nufa’i periwayat hadits), “Wahai Rasulullaah, sudah wajar yang membunuh masuk neraka. Lantas bagaimana gerangan yang terbunuh?”

Beliau menjawab, “Karena ia juga sangat berambisi untuk membunuh sahabatnya”.

Tentang hadits ini, Imam Nawawi mengatakan,

Seseorang yang bertekad bulat untuk melakukan maksiat serta terus-menerus merencanakannya, ia dinilai telah berdosa, meskipun belum sempat melakukannya atau mengucapkannya.

Itulah pembahasan tentang amal-amal kebaikan yang harus terus menerus kita biasakan memunculkannya di benak sekaligus kemudian berikhtiar mewujudkannya. Dan tak kalah pentingnya, bagaimana kita juga mampu membendung terbersitnya niat untuk berbuat dosa. Kalaupun dalam kondisi emosional dan terlanjur timbul di benak kita, segera saja kita ingat kepada Allaah agar niat tersebut tidak menguat menjadi tekad dan kesungguhan.

Hadirin rahimakumullaah.

Namun demikian, berkaitan dengan amal-amal kebaikan kita yang akan menjadi bekal di akhirat, sebagai pembuktian iman kita, perlu kita kembali ke al-Bayyinah ayat 8, ketika Allaah menyampaikan balasan atas amal shaleh kita, bahwa balasan surga mengandung deskripsi, radliyallaahu ‘anhum, Allaah ridla kepada mereka.

Perlu kita semua ingat, bahwa amal-amal shalih kita sama sekali tidak mampu mendatangkan apapun, kecuali atas amal-amal kebaikan tersebut kita mintakan ridla Allaah SWT. Terkadang kita menyangka, bahwa segenap amal shalih kita akan cukup untuk menyelamatkan kita dari neraka atau cukup untuk memasukkan kita ke dalam surga.

Atau yang lebih buruk, jika ada sebagian dari kita dengan santai berbuat buruk, dengan harapan, setelahnya cukup menggantinya dengan amal baik untuk menutupi dosanya. Semoga kita terhindar dari perbuatan yang demikian.

Kanjeng Nabi Muhammad SAW bersabda diriwayatkan oleh Imam Muslim, Imam Bukhari, dan an-Nasaa-i,

Berlaku luruslah kalian, dekatkanlah diri kalian (yakni kepada Allaah), dan bergembiralah kalian (yakni dengan pahala dan ganjaran dari Allaah), dan ketahuilah oleh kalian bahwa amal perbuatan salah seorang dari kalian tidak akan bisa memasukkannya ke surga.

(Mereka para sahabat Nabi SAW) bertanya, Juga termasuk engkau sendiri, ya Rasuulullaah?

(Nabi SAW) menjawab, (Ya,) termasuk aku sendiri, kecuali bila Allaah melimpahkan ampunan dan rahmat-Nya kepadaku. Dan sungguh, amal perbuatan yang dicintai oleh Allaah adalah yang dilakukan terus menerus, sekalipun sedikit.

Hadirin rahimakumullah.

Demikianlah peringatan Rasuulullaah SAW agar kita tidak mengandalkan amal kebaikan kita, kecuali amal tersebut harus kita konversi untuk memohon rahmat Allaah SWT. Bahkan seorang Nabi SAW pun menyatakan, bukan amal perbuatan baik Beliau SAW yang menjadikan beliau ke surga, tapi rahmat Allaah Ta’aala. Benar Beliau SAW adalah Nabi dan Rasul yang maksum, terjaga dari dosa, namun kemaksuman beliau pun berkat rahmat dari Allaah SWT.

Ada banyak sekali hadits berkualitas shahih yang menceritakan bagaimana rahmat Allaah tidak selalu sama dengan amal baik yang banyak. Misal, seorang pembunuh 100 orang yang bertaubat dan mendapatkan rahmat Allaah, diampuni dosanya; atau sebuah hadits tentang perempuan pendosa dan hadits lain tentang seorang lelaki yang mendapatkan ampunan karena memberi minum anjing kehausan; dan kisah-kisah pertaubatan lain yang menghadirkan rahmat Allaah SWT di masa akhir kehidupan.

Jangan sampai kita salah konsep salah pemahaman, bahwa amal kebaikan adalah segala-galanya, dan melupakan rahmat Allaah, sehingga muncul anggapan di dalam benak kita, seolah hanya amal baik saja yang mendatangkan manfaat.

Amal kebaikan adalah sarana kita meraih ridla Allaah, wasilah kita mendapatkan rahmat Allaah Tabaraka wa Ta’aala. Sungguh bahwa perbuatan baik membuat kita menjadi semakin dekat kepada Allaah Tabaraka wa Ta’aala dan kedekatan dengan Allaah-lah yang menghadirkan rahmat-Nya, bukan semata-mata hanya karena amal tersebut.

Bagaimana agar amalan baik kita mendatangkan rahmat Allaah? Sebelumnya telah kita bahas: Adapun kelipatan (balasan kebaikan) melebihi sepuluh dimungkinkan sesuai dengan kualitas keikhlasan, kebenaran niat, penghayatan dalam hati, dan terwujudnya manfaat, seperti sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, keteladanan yang baik, kemuliaan amal kebajikan, dan lain sebagainya. Dan balasan kebaikan tertinggi adalah jika kelipatannya tak terhingga, yakni ridla dan rahmat Allaah SWT.

Demikianlah penyampaian dari saya, semoga mampu menguatkan kita semua, terutama diri saya sendiri, agar bukan sekedar berusaha untuk berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya, tapi juga berusaha untuk memperbaiki kualitas hati kita dalam segenap perbuatan baik kita tersebut, agar berbalas rahmat Allaah SWT. Serta agar kita tidak lagi menggantungkan diri pada amal kebaikan, tanpa melibatkan permintaan ridla Allaah dan rahmat Allah.

Mengurai Hikmah Tragedi Mako Brimob: Islam adalah Kedamaian

Alhamdulillaah, tragedi di Mako Brimob sudah selesai. Ada evaluasi yang harus dilakukan, terutama di manajemen penjara beserta perangkat keamanannya. Pemerintah harus mengakui (serta memperbaikinya, tentu saja) bahwa sebagian pemicunya adalah kedua hal tersebut.

Namun demikian, tidak berarti kita melegalkan kekerasan yang dilakukan oleh para teroris itu. Apalagi membela perilaku keji ini dengan dalih apapun. Bahkan termasuk tuduhan pencitraan kubu politik yang sedang memegang amanah pemerintahan RI. Jika sampai ada yang menyampaikan hal tersebut (tuduhan pencitraan), bagi saya, sungguh telah mati nuraninya. Sementara kepada anggota kepolisian yang gugur dalam tugas, semoga Allaah Ta’aala mengganjar kalian dengan rahmat-Nya yang Maha-agung dan Menyeluruh.

Selain itu, sebagai masyarakat bangsa dan negara, kita juga harus semakin sadar bahwa kejahatan atas nama Islam itu nyata keberadaannya.

Islam tak pernah mengajarkan kekejian, bahkan dalam keadaan perang sekali pun. Namun pembela dan pelaku atas tafsir selain itu benar-benar ada dan hidup berkembang di Indonesia kita tercinta.

Tidak semua yang kritis kepada pemerintah dan/atau bahkan yang anti-negara NKRI berafiliasi dengan para pembajak Islam tersebut, tapi realitasnya, para pembajak Islam alias teroris-teroris itu, memanfaatkan kedua kubu tersebut dengan narasi-narasi cantik nan (seolah-olah) mulia: Islam terzhalimi. Lebih jauh lagi, teroris-teroris tak berperasaan ini dengan percaya diri sering menggunakan isu HAM dengan berlebihan, sedemikian rupa sehingga, pemerintah dan negara yang sedang menegakkan hukum adalah pelanggar HAM terberat di dunia.

Begitu pula dengan isu anti-Amerika Serikat (US). Benar bahwa sejarah terorisme modern berkaitan erat dengan peran US pada masa perang dingin melawan Uni Soviet dengan meradikalkan sebagian kecil umat Islam atas nama perjuangan anti-Soviet. Benar pula, bahwa saat ini pengaruh US kepada semua pemerintah dan negara di seluruh penjuru dunia itu eksis.

Tapi sungguh sebuah kebodohan jika terorisme atas nama Islam di negeri kita digambarkan sebagai sebuah garis lurus perintah/koordinasi antara US, Indonesia, dan terorisme itu sendiri, dengan mengabaikan faktor-faktor lain yang sangat kompleks dan rumit.

Mengapa bodoh? Karena tidak mau berpikir menguraikan persoalan yang sesungguhnya dan memilih sebodoh-bodohnya sikap: memosisikan diri sebagai korban kemudian menunjuk orang lain sebagai pelaku, dengan kata “pokoknya” sebagai penekanan.

Sungguh sikap yang bertentangan dengan ajaran al-Qur’an tentang anjuran untuk berubah dengan ikhtiarnya sendiri.

Maka mari bersama-sama, kita berusaha menjalankan Islam dengan baik dan benar sembari terus memberikan kontribusi terbaik bagi bangsa dan negara melalui kritik konstruktif yang solutif sebagai bentuk nyata ikhtiar untuk meningkatkan kualitas kehidupan umat manusia.

Terakhir, saya ingin mengingatkan pentingnya sebuah institusi negara dlm kehidupan keagamaan dan spritualitas umat, sebagaimana dibahas dalam konferensi internasional ulama thariqah sedunia bertemakan “Bela Negara: Konsep dan Urgensinya menurut Islam”, di Pekalongan 2016 yg lalu.

Hasilnya ada sembilan poin penting, yang empat di antaranya akan saya kutip sebagai penutup tulisan ini:

Pertama, negara adalah tempat tinggal di mana agama diimplementasikan dalam kehidupan.

Kedua, bernegara merupakan kebutuhan primer dan tanpanya kemaslahatan tidak terwujud.

Ketiga, bela negara adalah di mana setiap warga merasa memiliki dan cinta terhadap negara sehingga berusaha untuk mempertahankan dan memajukannya.

Keempat, bela negara merupakan suatu kewajiban seluruh elemen bangsa sebagaimana dijelaskan Al-Quran dan Hadis.

Demikian, semoga bermanfaat.

Blunyah Gede, Yogyakarta, 10 Mei 2018,
Ahmad Rahma Wardhana.