Menjalin Persaudaraan Antar-manusia

Disampaikan dalam Khatbah Idul Fitri 25 Juni 2017 di Dusun Pragak-Bendorejo, Semanu, Gunungkidul. Teks lengkap dalam format pdf (termasuk muqaddimah dan doa penutup beserta maknanya dalam bahasa Indonesia) dapat diunduh di sini.

Jamaah Shalat ‘Idul Fitri yang dimuliakan Allaah SWT, alhamdulillaah, segala puji hanya pantas dimiliki oleh Allaah Ta’aala, yang masih berkenan memberikan kepada kita kenikmatan agung untuk bertemu kembali dengan Ramadlan, menyelesaikan Ramadlan, dan bertemu di Hari Raya Kemenangan yang penuh dengan keberkahan ini. Shalawat serta salam semoga tetap dan terus tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat, serta, pengikut beliau, insya-Allaah termasuk kita semua. Aamiin, allaahumma aamiin.

Hadirin rahimakumullaah.

Nikmat pertemuan dengan Ramadlan harus benar-benar kita syukuri, agar Allaah Ta’aala melipat-gandakan nikmat tersebut, yakni semoga memberikan kesempatan kepada kita untuk bertemu dengan Ramadlan-Ramadlan di tahun berikutnya. Sesuai dengan firman Allaah Ta’aala yang masyhur tentang bersyukur (QS Ibrahim ayat 7),

Sama halnya dengan dua nikmat lain, yang kita kebanyakan lupa dan terlena, karena kehadiran nikmat tersebut yang berlangsung hampir setiap saat. Kanjeng Nabi SAW bersabda (HR at-Thabrani dari Ibnu ‘Abbas),

Dalam berbagai kesempatan, di setiap Ramadlan dan sesudahnya, saya selalu mengingatkan betapa aman dan nyamannya kita beribadah sebagai umat Islam di Indonesia. Kadang nikmat ini, yakni termasuk nikmat keamanan sebagaimana Nabi SAW sampaikan, lupa untuk kita syukuri.

Munculnya peledakan di Kampung Melayu yang diklaim didalangi oleh ISIS sudah sepantasnya meningkatkan kewaspadaan kita terhadap nikmat keamanan, yang jangan-jangan kita lupa mensyukurinya. Mari kita bercermin pula pada munculnya ISIS di Filipina, negara yang sangat dekat dengan Indonesia. Pun dengan berbagai persitiwa yang diklaim didalangi oleh ISIS lainnya di berbagai belahan dunia: peledakan bom di Baghdad (Irak) dan Kabul (Afghanistan), serangan mematikan di London (Inggris).

ISIS adalah ancaman nyata bagi umat Islam, karena pada nyatanya korban terbesar kekejian mereka selama ini adalah umat Islam sendiri. Irak dan Afghanistan adalah negeri kaum muslimin. Sementara di London, serangan yang secara kurang ajar mengatas-namakan Islam tersebut berakibat pada dilecehkannya beberapa saudara kita sesama muslim di sana, yang dianggap sama dengan ISIS.

Ketika mereka terdesak di Timur Tengah, ISIS mencari cara lain untuk menyebarkan ajaran sesatnya: melalui kelompok-kelompok radikal di luar Timur Tengah. Sayangnya, ada sebagian putra bangsa Indonesia yang justru menganggapnya ancaman nyata ini sebagai rekayasa semata.

Hadirin sekalian, yang insya-Allaah penuh dengan curahan rahmat Allaah SWT, pada pagi hari ini kita akan bersama-sama sedikit membahas apa perbedaan Islam yang sesungguhnya dengan ajaran sesat semacam ISIS. Kalau ISIS membunuh setiap yang berbeda dengan mereka, bahkan sesama muslim pun mereka bunuh karena berbeda pandangan, maka Islam yang sesungguhnya tidak demikian. Islam yang sesungguhnya justru mewujudkan persaudaraan antar-sesama manusia, bukan hanya sesama muslim saja.

Salah satu faktor penunjang utama dalam menegakkan persaudaraan di antara umat manusia adalah adanya persamaan. Persamaan rasa dan cita –cita merupakan faktor dominan yang mendahului lahirnya persaudaraan hakiki, dan pada akhirnya menjadikan seseorang merasakan derita saudaranya, mengulurkan tangan sebelum diminta, serta memperlakukan saudaranya bukan atas dasar take and give (memberi dan menerima), bukan atas dasar aku memberi orang lain apa, dapat imbal balik apa, sebagaimana orang berdagang, tetapi justru

Keberadaan manusia sebagai makhluk sosial, perasaan tenang dan nyaman pada saat berada di antara sesamanya, dan dorongan kebutuhan ekonomi merupakan faktor-faktor penunjang yang akan melahirkan rasa persaudaraan.

Hadirin rahimakumullaah.

Untuk memantapkan persaudaraan, Al-Quran menggarisbawahi bahwa perbedaan adalah hukum yang berlaku dalam kehidupan ini. Selain perbedaan tersebut merupakan kehendak Ilahi, juga demi kelestarian hidup, sekaligus demi mencapai tujuan kehidupan makhluk di pentas bumi.

Seandainya Tuhan menghendaki kesatuan pendapat, niscaya diciptakan-Nya manusia tanpa akal budi seperti binatang atau benda-benda tak bernyawa yang tidak memiliki kemampuan memilah dan memilih, karena hanya dengan demikian seluruhnya akan menjadi satu pendapat.

Dari sini, seorang Muslim dapat memahami adanya pandangan atau bahkan pendapat yang berbeda dengan pandangan agamanya, karena semua itu tidak mungkin berada di luar kehendak Ilahi. Allaah berfirman,

Sungguh, tidak pantas bagi kita untuk memaksakan kehendak agar semua manusia mau menjadi orang yang beriman. Karena demikianlah Allaah yang gariskan bagi kita, untuk menjadi pelajaran dan pembeda, mana yang taat dan mana yang tidak taat.

Lebih dari itu, untuk menjamin terciptanya persaudaraan dimaksud, Allah SWT memberikan beberapa petunjuk sesuai dengan jenis persaudaraan yang diperintahkan, baik kaitannya dengan persaudaraan secara umum maupun persaudaraan seagama Islam.

  1. Untuk memantapkan persaudaraan pada arti yang umum, Islam memperkenalkan konsep khalifah. Manusia diangkat oleh Allah sebagai khalifah (wakil Allaah di muka bumi). Kekhalifahan menuntut manusia untuk memelihara, membimbing, dan mengarahkan segala sesuatu agar
    mencapai maksud dan tujuan penciptaannya. Karena itu, Nabi Muhammad SAW melarang memetik buah sebelum siap untuk dimanfaatkan, memetik kembang sebelum mekar, atau menyembelih binatang yang terlalu kecil. Nabi Muhammad SAW Juga mengajarkan agar selalu bersikap bersahabat dengan segala sesuatu sekalipun terhadap benda tak bernyawa.

Kaitannya dengan tugas sebagai wakil Allaah di muka  bumi, Allaah Ta’aala mengajarkan kita nama-nama benda semuanya atau dapat ditafsirkan sebagai penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, Allaah berfirman di dalam surat al-Baqarah ayat 31,

Al-Quran menggunakan istilah pengajaran dari Allaah, dan tidak mengenal istilah “penaklukan alam”, karena secara tegas Al-Quran menyatakan bahwa yang menaklukkan alam untuk manusia adalah Allah (QS 45: 13). Secara tegas pula seorang Muslim diajarkan untuk mengakui bahwa ia tidak mempunyai kekuasaan untuk menundukkan sesuatu kecuali atas penundukan Ilahi. Sehingga, termasuk saat berkendaraan seorang Muslim dianjurkan membaca,
 photo menjalin-7_zps9jsvs4gn.png
Hadirin rahimakumullaah.

  1. Untuk persaudaraan antarpemeluk agama, Islam mengajarkan ajaran,

 photo menjalin-8_zpsucfj2lzr.png
Al-Qur`an juga menganjurkan agar kita mencari titik singgung dan titik temu antar-pemeluk agama, serta apabila tidak ditemukan persamaan hendaknya masing-masing mengakui keberadaan pihak lain, tidak perlu saling menyalahkan.
menjalin-9
Ayat tersebut mendorong adanya titik temu dan titik singgung di antara agama-agama, yakni keimanan kepada Allaah yang murni atau ketauhidan. Ketika ketauhidan tak tercapai menjadi kesepakatan bersama, maka kembali ke ajaran agama masing-masing, dengan tetap saling menghormati satu sama lain.

Selain itu, ada titik temu dan titik singgung lain di antara semua agama dan peradaban, yang sering kita sebut dengan kebaikan universal.

Semua agama menganggap perbuatan mencuri sebagai keburukan, maka bersama-sama antar-pemeluk agama memberantas korupsi adalah bentuk nyata persaudaraan antar-umat beragama.

Semua agama menganggap perbuatan berbagi harta kepada yang orang miskin sebagai kebaikan, maka bersama-sama antar-pemeluk agama, berikhtiar membantu mengentaskan kemiskinan adalah bentuk nyata persaudaraan antar-umat beragama.

Alangkah indahnya, jika persaudaraan antar-manusia, antar-pemeluk beragama mampu mewujudkan kemuliaan tersebut, setidaknya dalam memberantas kejahatan korupsi dan pengentasan kemiskinan di Indonesia kita tercinta.

Hadirin rahimakumullaah.

Persaudaraan antara Muslim dengan non-Muslim sama sekali tidak dilarang oleh Islam, selama pihak lain menghormati hak-hak kaum Muslim. Allaah Ta’aala berfirman di dalam surat al Mumtahanah [60] ayat 8:
menjalin-10
Ayat ini turun berkenaan dengan Asma’ binti Sayyidinaa Abu Bakar RA yang tidak mau menerima hadiah dari ibunya karena saat itu ibunya belum memeluk Islam. Allaah Ta’aala ingatkan perbuatan tersebut dengan ayat ini: kepada yang tidak seagama, tak ada larangan berbuat baik, berbuat adil, termasuk memberikan sebagian harta, selama tidak memusuhi karena agama atau mengusir dari tanah air/kampung halaman.

Begitu pula ketika salah seorang sahabat Nabi SAW yang pada mulanya telah terbiasa memberikan bantuan kepada non-Muslim, bermaksud menghentikan bantuan tersebut. Alasannya, dengan dihentikannya bantuan, dia yang biasa diberi akan membutuhkannya, mencari dirinya, dan kemudian mau memeluk Islam.

Maksud para sahabat ini dengan tegas dilarang, melalui al-Qur`an surat al-Baqarah ayat 272,
menjalin-11
Dengan kata lain, ayat ini adalah tamparan bagi kita semua, karena seolah Allaah mengingatkan kita semua: Janganlah mengaitkan hadiah atau bantuan dengan keimanan dan kekufuran, tetapi pemberian itu semata demi persaudaraan atau kemanusiaan.

Hadirin rahimakumullaah.

  1. Untuk memantapkan persaudaraan antar-sesama Muslim, al-Qur`an pertama kali menggarisbawahi perlunya menghindari segala macam sikap lahir dan batin yang dapat mengeruhkan hubungan di antara sesama muslim.

Setelah menyatakan bahwa orang-orang Mukmin bersaudara, dan memerintahkan untuk melakukan ishlah (perbaikan hubungan) jika seandainya terjadi kesalahpahaman di antara dua orang (kelompok) kaum Muslim, Al-Quran memberikan contoh-contoh penyebab keretakan hubungan sekaligus melarang setiap Muslim melakukannya,
menjalin-12
Ayat berikutnya di surat yang sama, al-Hujurat 12, memerintahkan orang Mukmin untuk menghindari prasangka buruk, tidak mencari-cari kesalahan orang lain, serta melarang menggunjing, yang diibaratkan oleh al-Quran bagaikan memakan daging saudaranya sendiri yang telah meninggal dunia. Pada umumnya contoh-contoh tersebut berkaitan dengan sikap kejiwaan, atau tercermin misalnya dalam hadis Nabi SAW yang diriwayatkan oleh keenam ulama hadis, kecuali An-Nasa’i, melalui Abu Hurairah,
menjalin-13
Mengapa Allaah Ta’aala perintahkan sikap-sikap yang berkaitan dengan kondisi kejiwaan? Karena sikap batiniahlah yang melahirkan
sikap lahiriah. Lisan yang suka berkata kotor, muncul karena di dalam hatinya tersimpan kumpulan kekotoran. Tangan, wajah, dan kaki yang diarahkan kepada aktivitas keji dan kejam, sungguh karena di dalam hatinya terkumpul tumpukan kekejian dan kekejaman yang sama. Maka Islam menegaskan: perbaiki sikap kejiwaanmu, maka kesungguhanmu memperbaiki hati, akan tercermin di lisan dan perbuatanmu.

Hadirin rahimakumullaah.

Demikianlah uraian persaudaraan yang dianjurkan dalam Islam menurut al-Qur`an, baik persaudaraan secara umum, persaudaraan kepada non-Muslim, serta persaudaraan dengan sesama Muslim. Sebagai penutup, akan kami sampaikan beberapa hadits Nabi SAW yang mendorong persaudaraan antarmanusia.

Nabi SAW menekankan pentingnya misi kemanusiaan dalam Islam, melalui sabda beliau (HR ath-Thabrani),
menjalin-14
Di sabda Nabi SAW yang lain, terdapat sebuah hadits yang bermakna sama, bahkan ditambah dengan perintah lain yang lebih indah. Beliau SAW bersabda (HR Baihaqi),
menjalin-15
Inilah indahnya Islam yang sesungguhnya, bahwa sesudah iman kepada Allaah, maka wujud nyata keimanan harus ditujukan kepada sesama makhluk, terutama manusia, yang bahkan kepada mereka yang durjana pun, kita diperintahkan untuk berbuat baik.

Hadirin rahimakumullaah.

Mengapa berbuat buruk kepada pendosa dilarang? Mengapa mencaci seseorang yang berbuat dosa dilarang? Sebagaimana dikisahkan sebuah hadis (HR al-Bukhari dari Abu Hurairah RA), bahwa seorang laki-laki yang menenggak minuman keras dihadapkan kepada Nabi Muhammad SAW, Abu Hurairah berkata,
menjalin-16
Menghukum seseorang sesuai dengan norma yang berlaku itu harus. Tetapi mencaci-maki sang pelanggar atau mengutuk hingga melaknatnya, sungguh dilarang oleh Nabi Muhammad SAW. Bahkan oleh Nabi SAW disamakan dengan memberikan pertolongan kepada setan!

Mengapa demikian? Karena tujuan syaithan menggoda manusia adalah untuk menjerumuskan kita kepada neraka; sehingga ketika kita sebagai manusia melakukan laknat kepada sesama manusia, mengutuk sesama manusia agar Allaah membenci, bahkan berharap para pendosa masuk ke neraka, apa bedanya kita dengan syaithan? Inilah maksud Nabi Muhammad SAW dengan memberikan pertolongan kepada syaithan.

Hadirin rahimakumullaah.

Nabi Muhammad SAW bersabda (HR ad-Dailami dari ‘Aisyah),

menjalin-17

Inilah tugas kita dalam ikhtiar bersama menjadi wakil Allaah Tabaraka wa Ta’aala di muka bumi: mengajak manusia ke arah yang lebih baik dengan kata-kata, teladan, dan doa, dengan penuh kelembutan sebagai bentuk implementasi rasa cinta kepada sesama manusia. Bahkan kelembutan pada manusia sama fardlunya dengan kewajiban-kewajiban lain di dalam agama.

Tentu saja, tidak ada paksaan dari kita, apakah yang kita ajak mau ikut atau tidak. Bagaimanapun juga, datangnya hidayah, hadirnya petunjuk ke dalam hati seorang manusia bukan di tangan kita, tapi sepenuhnya merupakan kuasa Allaah SWT. Bahkan Nabi Muhammad SAW-pun tidak berhasil membuat pamannya Abu Thalib mengucapkan dua kalimat persaksian hingga akhir hayatnya.

Dengan demikian, bertemunya rasa cinta kepada sesama manusia dan kelembutan dakwah di dalam Islam, hendaknya akan menghindarkan kita dari siksa Allaah Ta’aala di dunia maupun akhirat, sebagaimana Allaah ingatkan (QS an-Nuur ayat 19),

menjalin-18

Semoga Allaah memberikan kekuatan kepada kita untuk istiqamah berada di jalan cinta dan kelembutan dalam menjalankan Islam, Islam yang rahmatan lil-‘aalamiin, sehingga terwujudlah kondisi sosial masyarakat yang aman, damai, tenteram, dan penuh dengan keberkahan dari Allaah SWT.

Khatbah Kedua

Di khotbah kedua ini, mari kita tutup bersama rangkaian ibadah pada pagi hari ini dengan berdoa kehadirat Allaah Tabaraka wa Ta’aala. Memohon agar Allaah berkenan menerima segenap amal ibadah kita di Ramadlan tahun ini dan mempetemukan kita kembali dengan Ramadlan berikutnya. Memohon agar Allaah memudahkan setiap langkah kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan khususnya dalam mendidik keluarga kita. Memohon agar Allaah selalu meneguhkan hati kita untuk berada di jalan yang lurus.

Dan tidak lupa, semoga Allaah Ta’aala melindungi negeri muslim terbesar di dunia, Indonesia kita tercinta, dari berbagai bencana alam dan konflik sosial, terutama ancaman-ancaman global yang mencoba mengusik kenyamanan bangsa kita sebagai negeri muslim yang penuh kedamaian.

Menteri Pertahanan RI menyatakan ada 29 kelompok di Indonesia yang merupakan bagian dari ISIS. Sementara Panglima TNI menyatakan, sel-sel ISIS berada di 16 lokasi di Indonesia. Kelompok-kelompok ini, sekarang belum bisa ditindak, karena belum melakukan kejahatan nyata, karena memang tidak memiliki sumber daya yang cukup untuk melakukannya. Tetapi mereka selalu standby, selalu siaga, jika ada perintah untuk bertindak.

Ikhtiar kita adalah menolak ajaran mereka, yakni senantiasa menggalang persaudaraan, menjauhi prasangka dan melakukan tabayyun terhadap berbagai informasi yang berseliweran, serta waspada apabila ada ajaran atas nama Islam yang menggunakan ekspresi kebencian dan kekejian dalam menyikapi perbedaan. Selebihnya, pada saat ini, mari kita berdoa, mohon perlindungan dari Allaah SWT.

DOA PENUTUP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *