Sejarah Terorisme atas Nama Islam

Aksi terorisme, sebuah aksi menggunakan kekerasan yang mengatas-namakan Islam, yang terjadi di Surabaya, sebenarnya merupakan bentuk ekstrimisme dalam beragama. Sikap ekstrim atau berlebihan dalam memahami dan menjalani ajaran agama sesungguhnya bukan konsep yang dianjurkan oleh Islam maupun agama manapun.

Menurut Islam, anjuran bersikap moderat atau wasathiyah alias pertengahan, disampaikan oleh Allaah SWT di dalam al-Qur`an surat al-Baqarah ayat 143,

 photo sejarah teror-1_zpszhywk5c4.png

Allaah SWT dalam ayat ini menggunakan kata Kami menjadikan, yang bermakna adanya peran selain Allaah dalam mewujudkan ummatan wasath. Peran selain Allaah bukan berarti sekutu Allaah, karena Allaah tak membutuhkan sekutu. Peran selain Allaah yang dimaksud dalam ayat ini adalah dibutuhkannya ikhtiar untuk menjadikan umat yang wasath.

Sikap wasathiyah adalah jalan tengah atau keseimbangan antara dua hal yang berbeda atau bertentangan. Dalam prakteknya, jalan tengah di antara dua hal yang berbeda, antara A dan B misalnya, mengandung dua pengertian, yaitu:

  1. pengertian bukan A dan bukan B, sebagaimana sifat dermawan merupakan sikap pertengahan, bukan boros (menghamburkan harta di luar kebutuhan) dan bukan pula kikir (terlalu hemat dalam mengeluarkan harta atau bahkan tidak mau menggunakan harta sama sekali meskipun untuk hal-hal penting). Atau sifat pemberani yang merupakan sikap pertengahan, bukan penakut dan bukan pula sembrono atau
  2. pengertian A sekaligus B, sebagaimana Islam yang memperhatikan urusan dunia sekaligus akhirat atau jasmani sekaligus rohani.

Prinsip-prinsip pertengahan tersebut menjadi ruh utama dalam Islam, sejak awal kelahiran Islam hingga kelak datangnya hari kiamat, termasuk dalam memperjuangkan agama Islam. Perjuangan menegakkan agama Islam harus didasari pada kasih sayang, karena kemunculan agama dan ketaatan kepada Allaah, pada akhirnya bertujuan pada kemashlahatan para pemeluknya.

Terorisme dan kekerasan atas nama perjuangan Islam tidak dimulai baru-baru ini saja. Dalam sejarah, ada beberapa peristiwa penting yang menjadi penanda kehadiran kelompok sempalan dalam Islam. Sesuatu yang sempal, tentu merupakan pecahan yang tidak berguna dan bukan bagian utama dari sebuah komponen besar, yang dalam hal ini adalah Islam.

Hadirin rahimakumullaah, kemunculan Islam sempalan ini dimulai sejak zaman Sayyidinaa ‘Ali KW. Ketika Sayyidinaa ‘Ali KW dan Sayyidinaa Muawiyah RA berbeda pandangan dalam urusan kemasyarakatan Islam saat itu hingga terjadi peperangan sesama muslim. Ketika perdamaian diinisiasi, ada kelompok yang tidak suka dengan hadirnya perdamaian. Belakangan kelompok ini menuduh semua yang berseberangan dengannya adalah kafir yang berhak dibunuh. Alasannya, menurut mereka, perdamaian itu upaya manusia, bukan berdasarkan Kitabullaah. Bagi mereka, jika berdasarkan Kitabullaah adalah mereka harus menang, bukan damai, bukan kalah.

Salah satu pentholan kelompok ini bernama Abdurrahman bin Muljam, seorang penghafal Qur`an, ahli qiyamul-lail, hobi berpuasa. Abdurrahman bin Muljam pula, pernah dikirim oleh Sayyidinaa ‘Umar bin Khaththab RA untuk ke Mesir, menjadi pengajar al-Qur`an. Namun Abdurrahman bin Muljam pula yang kemudian membunuh Sayyidinaa ‘Ali bin Abi Thalib RA. Kelompok ini, kemudian dikenal dengan nama Khawarij, semakna dengan khuruj, yang artinya keluar. Kelompok yang keluar dari kelaziman Islam.

Hadirin rahimakumullaah, kelompok ini terus ada dan berkembang di dalam kepala segelintir kaum muslimin, namun sepanjang periode kerajaan Umayyah, Abbasiyah, maupun Utsmani, tidak begitu populer karena kalah dengan kelompok-kelompok lain dalam Islam.

Hingga pada tahun 1979, kelompok ini muncul kembali dengan baju baru. Berkembang dari kelompok-kelompok masyarakat yang awalnya dimanfaatkan kekejamannya dalam mendirikan Kerajaan Saudi dengan mempersatukan suku-suku di jazirah Arab, belakangan kelompok ini melihat Kerajaan Saudi tidak konsisten dalam menjalankan ajaran Islam. Radio dan televisi bagi Khawarij modern ini adalah kesesatan yang nyata.

Puncaknya terjadi pada tanggal 20 November 1979, tepat pagi hari bakda subuh, 1 Muharram 1400 H. Sekelompok bersenjata yang dipimpin oleh Juhaiman al-Uthaibi, merebut mikrofon imam Masjidil Haram, kemudian mengabarkan kehadiran Imam Mahdi. Puluhan ribu jamaah, termasuk di antaranya dari Indonesia, yang belum semua pulang dari masa ibadah haji, berhamburan, berusaha keluar dari Masjidil Haram. Ketika polisi Kerajaan Saudi berusaha merebut kembali Masjidil Haram, dari menara-menara masjid mereka ditembaki dengan senapan serbu. Darah tertumpah di Masjidil Haram, tak ada salat berjamaah dan tawaf selama beberapa hari, siaran harian ibadah Masjidil Haram televisi untuk sementara dialihkan ke Masjid Nabawi di Madinah.

Sementara karena keterbatasan tersebarnya informasi pada masa itu, berita-berita berkembang liar di luar Kerajaan Saudi dan karena baru saja terjadi Revolusi Iran di awal 1979, masyarakat Islam internasional saat itu melihat bahwa pengepungan Masjidil Haram adalah rekayasa Amerika Serikat dan Israel. Kedutaan Besar Amerika Serikat di beberapa negara didemo bahkan sampai jatuh korban nyawa.

Pengepungan Masjidil Haram berakhir pada 4 Desember 1979 dengan korban tewas sekitar 127 orang, setelah Kerajaan Saudi meminta asistensi secara rahasia saat itu, kepada beberapa personel pasukan khusus Prancis. Perlu dicatat, bahwa ulama Saudi membutuhkan 3 hari dalam mengeluarkan fatwa bolehnya pasukan Saudi memasuki Masjidil Haram dengan membawa senjata dan menembak musuh.

Beberapa hari kemudian setelah peristiwa Pengepungan Mekkah, dimulailah perang Soviet melawan Afghanistan. Perang yang berlangsung selama 9 tahun tersebut dimulai pada 24 Desember 1979 dan berakhir pada 15 Februari 1989 serta meninggalkan bekas yang sangat berpengaruh pada keadaan Islam saat ini.

Perang Soviet vs Afghanistan merupakan bagian dari perang dingin antara Amerika Serikat melawan Uni Soviet, antara dua aliran besar politik saat itu, demokrasi melawan komunisme. Amerika Serikat yang enggan mengirim pasukan langsung, namun memilih membiayai kelompok-kelompok mujahidin dari Pakistan dan Kerajaan Saudi untuk membantu Afghanistan melawan Soviet. Ya senjata, ya pelatihan militer. Uniknya, termasuk dalam kelompok pendukung Afghanistan adalah mujahidin Syiah dari Iran dan mujahidin yang didukung oleh Tiongkok, berhalauan Maoisme.

Pada akhirnya Soviet kalah, Afghanistan menang, namun sayangnya Afghanistan tak pernah damai karena kelompok-kelompok mujahidin saling bersitegang berebut pengaruh satu sama lain hingga saat ini. Salah satu mujahidin alumni perang Afghanistan adalah yang kita kenal dengan nama Usamah bin Ladin.

Hadirin rahimakumullaah, seusai perang Afghanistan melawan Soviet, pada 1990 terjadi peristiwa lain yang berkaitan dengan sejarah terorisme atas nama Islam, yakni Invasi Irak ke Kuwait. Arab Saudi yang berbatasan dengan Kuwait sekaligus Irak turut khawatir invasi itu akan menguasai wilayah Kerajaan Saudi. Pada masa itu, ulama Irak mengeluarkan fatwa halal membunuh pasukan Saudi dan hal yang sama dilakukan oleh ulama Saudi, mengeluarkan fatwa halal membunuh pasukan Irak, selama dalam konteks peperangan dan mempertahankan diri.

Usamah bin Ladin yang berkebangsaan Saudi berinisiatif mengumpulkan mujahidin alumni Afghanistan dalam berbagai penjuru, hingga mendapatkan sekitar 4.000 relawan. Pasukan tak berbayar ini Usamah tawarkan kepada pemerintah Saudi untuk menangkal serangan Irak. Sayangnya, Saudi lebih percaya dengan Amerika Serikat dan Inggris, tentu saja, menolak tawaran gratis dari Usamah bin Ladin. Lebih dari itu, pada perang teluk ini, Amerika Serikat mendirikan pangkalan militer di Arab Saudi.

Sejak saat itu, Usamah bin Ladin memusuhi pemerintah Saudi, Amerika Serikat, dan sekutu-sekutunya, serta menyerang aset-aset Pemerintah Amerika Serikat, mendirikan al-Qaeda, hingga puncaknya, serangan ke World Trade Center, 11 September 2001.

Sebagai balasan atas serangan 11 September, Amerika Serikat menyerang Afghanistan. Mengapa? Karena rezim Taliban, penguasa Afghanistan pada tahun tersebut merupakan pelindung Usamah bin Ladin, sahabat yang terikat karena Perang Afghanistan melawan Soviet pada 1979-1989.

Hadirin rahimakumullaah, kelompok sempalan Islam, dengan berbagai variasi bentuk dan alasannya, namun konsisten pada halalnya kekerasan dan kekejian terus berlanjut hingga pada pendirian ISIS, Negara Islam di Irak dan Suriah. Irak belum stabil sejak menjadi sasaran serangan Amerika Serikat pada 2003 dan ketidak-puasan oposisi pada pemerintahan Suriah, menjadi medan tempur bagi ISIS. Saya tidak perlu menceritakan ruwetnya ISIS yang melawan pemerintahan Irak maupun Suriah sekaligus melawan kelompok mujahidin yang berbeda pandangan politik sembari melawan kelompok etnik Kurdi sambil melawan pasukan atau peralatan perang dari berbagai negara seperti Turki, Amerika Serikat, Prancis, dan Rusia. Keruwetan ini berkaitan dengan kekuasaan politik (kenegaraan) namun tidak berdasar pada kebangsaan (karena mayoritas berbangsa Arab). Kurang ajarnya, masing-masing kelompok mengatasnamakan Islam, mengatasnamakan sebuah agama yang secara bahasa bermakna perdamaian atau keselamatan. Benarkah Islam mengajarkan yang demikian?

Pelajaran penting bagi kita sebagai umat Islam yang berada di Indonesia di antaranya adalah:

  1. Pentingnya rasa kebangsaan dan kenegaraan.

Pelaksanaan ajaran agama membutuhkan keamanan dan stabilitas sebuah negara. Kita wajib bersyukur dengan negara bangsa Indonesia, di mana dasar negara, pondasi bangsa telah diletakkan sejak 1945. Saat ini kewajiban kita untuk menjaganya serta membangun sebuah rumah bersama bernama Indonesia. Ibadah-ibadah utama kita kepada Allaah (rukun Islam) telah dilindungi oleh negara-bangsa, tinggal bagaimana mengembangkannya kepada ibadah muamalah kepada sesama manusia, mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran.

  1. Umat Islam tidak bisa menghindar dari tanggung jawab pemberantasan terorisme.

Terorisme, kekejian, dan kekerasan, adalah bukan dari ajaran Islam yang sesungguhnya. Tetapi sejarah menunjukkan bahwa kelompok yang menafsirkan sebaliknya adalah nyata adanya, hidup dan berkembang, bahkan di Indonesia!

Tanggung jawab kita adalah mengkampanyekan Islam yang lemah lembut tapi tetap tegas ketika dibutuhkan, baik melalui ceramah, diskusi, tulisan, buku, video, konten media sosial lain, dan yang paling utama adalah perilaku kita sehari-hari. Termasuk memastikan kehidupan masyarakat kita di kampung-kampung masih berjalan sebagaimana mestinya, penuh dengan ketenteraman, tepa selira, peduli satu sama lain, tanpa memandang agama, suku, bahasa, maupun faktor perbedaan lain. Cukuplah alasan sebagai sesama menungsa sebagai pendorong kita untuk berbuat baik di manapun dan kapanpun.

Benar bahwa ada faktor luar yang turut menumbuh-kembangkan kelompok sempalan ini, terutama kepentingan-kepentingan berkaitan dengan urusan duniawi seperti persenjataan, minyak bumi, maupun duit, namun sungguh, sebaik-baik koreksi dan perubahan adalah ketika dimulai dari diri sendiri, umat Islam sendiri.

Kita sebagai umat Islam wajib menjaga diri sendiri, lingkungan, dan masyarakat terdekat, dari ajaran sesat ekstrim dalam beragama. Ukurannya sederhana, jika ada orang atau kelompok mengaku Islam, tetapi ajakannya untuk membenci kelompok lain, sesama Islam maupun kelompok lain di luar Islam dengan membabi buta, bahkan hingga menghalalkan darahnya, maka kelompok semacam ini wajib kita lawan, baik dengan melaporkannya kepada yang berwajib, atau jika mampu, mengajak mereka kembali ke jalan yang benar, berpindah dari tepi (ekstrim) ke tengah (moderat).

Kita tidak boleh menghakimi seseorang atau kelompok orang hanya berdasarkan cara berpakaian atau penampilan luar. Kita tidak bisa dan tidak boleh menarik kesimpulan bahwa setiap yang bercadar, berjenggot lebat, atau bercelana di atas mata kaki, selalu berkaitan dengan ekstrimisme Islam, apalagi menuduh sebagai bagian dari terorisme. Sungguh, terorisme atas nama Islam merupakan cobaan terberat dari saudara-saudara kita yang memilih demikian (celana di atas mata kaki, berjenggot lebat, dan bercadar), karena sebuah kenyataan bahwa kelompok ekstrim ini memilih cara yang sama dengan mereka dalam berpakaian dan penampilan. Hanya cara berpakaian dan penampilan luarnya saja.

Hadirin rahimakumullaah, sebagai sebuah negara bangsa yang berdaulat dan stabilitas keamanan, kita bukan hanya mampu menghidupkan ajaran agama, tapi juga mengupayakan perdamaian kepada sesama negara muslim, seperti di Tanah Suci Yerussalem atau Afghanistan.

Indonesia kita adalah negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, namun kekuatan ekonomi, pertahanan, dan keamanannya belum bisa mengimbangi kekuatan negara besar lain, meskipun kita sudah masuk pula dalam Kelompok G-20 (20 negara terbesar dalam anggaran pemerintahannya). Faktor-faktor tersebut membuat suara negara kita memang diperhatikan, tetapi belum cukup berpengaruh. Menariknya, realitas ini tidak membuat negara kita kemudian minder. Kaidah fikih mengatakan

 photo sejarah teror-2_zpsclaobstc.png

Ketika pengaruh Indonesia yang belum sebesar negara maju, Indonesia sangat serius berikhtiar untuk mewujudkan perdamaian di mana Indonesia memiliki pengaruh lebih kuat, seperti perdamaian Rohingnya atau Afghanistan.

Pada tahun 2013 yang lalu, ada sekitar 12 ulama dari 12 suku terbesar di Afghanistan yang datang ke Yogyakarta, belajar Pancasila di UGM. Inisiasi ini terus menerus dilanjutkan dan dikembangkan hingga pada awal tahun 2018 ini Presiden Indonesia mengunjungi Afghanistan. Walaupun dua hari sebelum kehadiran Presiden terjadi pemboman di ibukota Kabul yang menewaskan 103 orang, Presiden tetap bersikeras hadir sebagai bentuk komitmen kenegaraan dengan Afghanistan sekaligus sebagai isyarat tak gentar dengan terorisme. Alhamdulillaah Presiden selamat dalam kunjungan 6 jam tersebut, sehingga beberapa pejabat pengiring Presiden bersujud syukur ketika kembali ke pesawat.

Upaya perdamaian di Afghanistan tersebut ditindaklanjuti dengan mengadakan Konferensi Ulama Tiga Negara di Bogor, 11 Mei 2018. Hadir dalam konferensi sehari ini 19 ulama dari Afghanistan, 17 ulama dari Pakistan, dan 17 ulama dari Indonesia, untuk menyusun langkah awal perdamaian di Afghanistan. Ini merupakan tahapan permulaan yang harus dipupuk dan ditumbuh-kembangkan menjadi agenda ulama di Afghanistan dan Pakistan: mengurangi kekerasan dan menegakkan musyawarah sebagai ikhtiar mencari jalan keluar.

Sekitar 10 hari sebelumnya, pada tanggal 1-3 Mei 2018, Indonesia juga menyelenggarakan Konferensi Tingkat Tinggi Islam Washatiyah, atau Islam Pertengahan, di Bogor. Konferensi ini menghadirkan seratusan ulama dari berbagai negara berpenduduk muslim, untuk membahas pentingnya sikap pertengahan sebagai upaya melawan penyelewengan Islam oleh kelompok sempalan yang menghalalkan kekerasan dan kekejian.

Hadirin rahimakumullaah, demikianlah seharusnya yang kita lakukan, kembali kepada ulama, dimulai dari ulama, para pemegang otoritas keagamaan Islam, agar bersama-sama terus menyuarakan Islam Pertengahan, Islam Washatiyah, Islam Moderat, sekaligus sebuah bentuk tanggung jawab kita sebagai umat Islam kebanyakan yang lurus dan tidak menghendaki caci maki, kekerasan, kekejian, baik dalam kata-kata maupun perbuatan.

Di Indonesia, Muhammadiyah menggunakan slogan Islam Berkemajuan, Islam yang mampu beradaptasi dengan kemajuan zaman. Sementara Nahdlatul ‘Ulama memakai semboyan Islam Nusantara, Islam yang mampu beradaptasi dengan budaya masyarakat setempat, selama tak menyimpang dari nilai ketauhidan. Keduanya, di bawah naungan negara bangsa bernama Indonesia, bersama-sama dengan umat Islam lain dan komponen bangsa lain, berhasil membentuk kesejahteraan dan kemakmuran Indonesia, meskipun belum sepenuhnya berhasil dan masih terus diperjuangkan. Namun keindahan hubungan negara, bangsa, dan agama untuk berikhtiar bersama mencapai kemashlahatan umat, patut didengungkan ke negara berpenduduk muslim lain, terutama yang masih mengalami konflik sosial-politik.

Demikianlah uraian tentang sejarah terorisme yang mengatasnamakan Islam dan bagaimana kita sebagai negara bangsa turut berupaya untuk melawannya, dengan cara yang lebih baik. Perlu menjadi catatan penting, bahwa kekerasan atas nama Islam menjadi sorotan saat ini, karena Islam adalah agama yang berkembang paling cepat sekaligus ajarannya yang meyakini sebagai penutup kenabian, memperbaiki agama-agama besar sebelumnya, terutama Yahudi dan Nasrani. Tetapi sejarah kekerasan bukanlah milik Islam sendiri. Seorang pengamat dari Kanada dalam bukunya A World Without Islam atau dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi Apa Jadinya Dunia Tanpa Islam menyatakan dalam kesimpulan di antaranya bahwa aksi bom bunuh diri akan tetap terjadi karena bukan Islam yang pertama kali melakukannya.

Semoga Allaah memudahkan kita dalam ikhtiar bersama menebarkan Islam yang ramah, penuh kasih, dan menjadi rahmat bagi semesta alam. Aamiin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *