Lumrahing Manungsa

Benar, bahwa salah satu tersangka yang viral itu pernah satu SD dengan adik kandung saya. Beberapa puluh menit yang lalu Ibu saya masih brambangi, berkaca-kaca, mengingat kepolosan yang bersangkutan dan kebaikan ibundanya, pada masa itu.

Saat adik saya bedrest 2 minggu karena DBD, dia adalah teman SD yang menjenguk untuk pertama kalinya, bersama sang ibunda. Baru beberapa hari berikutnya, teman lainnya menyusul membesuk.

Bencana pertama hadir ketika dia dibully teman sekelasnya. Dimintai uang, diadu dengan teman lain untuk berkelahi, dan pastinya kata-kata dan pisuhan khas jawa. Sekolah tahu. Orang tua dan wali murid tahu. Tapi entah kenapa, ketegasan keputusan terlalu lama. Pada akhirnya, orang tua korban berinisiatif memindah sekolah anaknya.

Sekilas ingatan saya muncul, 4 atau 5 tahun yang lalu (2013-2014, adik saya sedang duduk di kelas 4, 5, atau 6 SD) yang lalu dalam diskusi tentang peristiwa tersebut dengan adik saya, saya memprotes lambatnya respon sekolah. Dan tahukah anda bahwa sekolah tersebut adalah bekas sekolah saya juga? 4-5 tahun yang lalu saya sudah dewasa, tapi masih berlindung di balik tameng orang tua, karena protes tersebut hanya saya sampaikan dalam diskusi di rumah.

Di tingkat SMP, yang bersangkutan masih diuji lagi: satu sekolah dengan seseorang yang membully-nya ketika SD. Entah sempat dibully atau tidak, yang pasti dia kemudian pindah sekolah. Dan nampaknya dia mendapat anugerah yang tak terduga. Persahabatan yang menghilangkan nurani. Persahabatan adalah anugerah. Namun menghilangkan nurani, ini yang di luar dugaan.

Adik saya baru saja menerima nilai UANBK tingkat SMP sederajat. Nampaknya, begitu pula dengan dia yang sekarang tersangka. Usianya masih sangat muda: 16 tahun. Menyebabkan seseorang tewas. Mahasiswa UGM, universitas kebanggaan tiyang Ngayogya, kebanggaan pula bagi alumninya di penjuru nusantara dan dunia.

Saya speechless ketika salah satu guru saya di UGM ngendika:

“Ning nèk cah cilik matèni wong tanpa alasan ki ora lumrah menungsa”.

Inikah Yogyakarta kita? Inikah Indonesia kita? Inikah kehidupan sehari-hari yang kita harapkan?

Kehilangan seorang anak sungguh sakitnya tak terbayangkan. Seorang ayah dan ibu yang usianya lebih tua pasti memproyeksikan masa depan yang terang benderang bagi sang anak. Berharap pada saat keduanya tiada, anak-anaknya berada di sisinya, telah menggapai asa dan cita, penuh kebahagiaan dan berterima kasih pada ayah dan ibunya. Mimpi ini hancur dalam sekejap, ketika sang anak menghadap kehadirat-Nya, sebelum masa depan itu hadir.

Wahai sang mahasiswa, semoga Allaah melimpahkan nikmat kubur dan kelak anugerah surga. Wahai ayah dan bunda sang mahasiswa, semoga Allaah menguatkan kalian.

Sementara dia yang menjadi tersangka wajib dihukum berat sebagai ikhtiar membuatnya jera, sehingga tak lagi terulang oleh dirinya dan oleh orang lain. Perlu ketegasan luar biasa dari Kepolisian, Kejaksaan, dan Pengadilan.

Tapi perlu kita ingat, akar masalahnya, yakni perilaku bullying di sekolah, wajib diberantas. Pendampingan konseling sekolah dasar dan menengah tidak selalu menjadi solusi terbaik. Persahabatan dan solidaritas yang justru menghapus nurani ada dan masih berlangsung. Fenomena ini, terbunuhnya mahasiswa oleh seorang siswa, tewasnya seorang kakak di tangan adiknya, membuktikannya.

Belum lagi, kalau-kalau ada tambahan pengaruh alkohol dan narkoba. Sungguh, perlu ketegasan luar biasa dari Kepolisian, Kejaksaan, dan Pengadilan. Begitu pula dengan peran serius para keluarga, komunitas agama, dan masyarakat. Bersama-sama.

Pembaca yang budiman, peristiwa ini mengungkapkan pula bahwa ada banyak hal yang harus kita evaluasi dalam sistem pendidikan kita. Butuh banyak uluran tangan untuk memperbaikinya. Masing-masing dari kita, sesuai dengan jangkauan ruang dan waktu kita, mari bergerak. Semoga limpahan petunjuk dari Allaah selalu membersamai langkah kita bersama. Aamiin.

Blunyah Gede, 10 Juni 2018 (02:16 WIB),
Ahmad Rahma Wardhana.

5 thoughts on “Lumrahing Manungsa”

  1. selama orang tua masih protes terhadap tindakan guru menghukum anak didiknya yang bersalah karena bermasalah, maka hal serupa atau sejenis dengan hal ini masih ada kemungkinan akan terjadi. Orang tua paling berperan, jangan salahkan orang lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *