Mengapa Islam Meneguhkan Kemuliaan Akhlak

Hadirin rahimakumullaah, salah satu ajaran dasar dalam agama Islam adalah mengenai akhlak. Nabi Muhammad SAW misalnya, dipuji oleh Allaah SWT karena kemuliaan akhlaknya. Di dalam surah al-Qalam ayat keempat Allaah SWT berfirman,

Begitu pula dengan penegasan Nabi Muhammad SAW sendiri ketika menjelaskan tugas beliau kepada umat manusia, Beliau SAW bersabda,

Bahkan, akhlak mulia merupakan salah satu modal sosial yang dimiliki Nabi Muhammad SAW. Tugas beliau sebagai utusan Allaah SWT adalah menyampaikan kebenaran kepada manusia dan berinteraksi dengan masyarakat, sehingga, jauh sebelum seorang Muhammad bin Abdullaah menerima mandat menjadi nabi dan rasul, Beliau SAW ditakdirkan sebagai pribadi yang berakhlak sangat mulia.

Imam Bukhari meriwayatkan sebuah hadits yang mengisahkan bagaimana istri Beliau SAW, Sayyidatinaa Khadijah RA, menenangkan Rasuulullaah Muhammad SAW yang ketakutan ketika menerima mandat dari Allaah SWT untuk pertama kalinya.

Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi Muhammad SAW telah disiapkan sejak lama oleh Allaah SWT untuk menjadi pemimpin umat, dengan segala kemuliaan akhlaknya. Menjadi hikmah bagi kita semua yang sehari-hari hidup bermasyarakat atau jika ada di antara kita yang sedang mencoba peruntungan menjadi pemimpin publik: apakah kita sudah memiliki modal sosial berupa akhlak mulia?

Hadirin rahimakumullaah, jika ditinjau dari pengertian bahasa Indonesia, kata akhlak dimaknai sebagai budi pekerti atau kelakuan. Kata akhlak sendiri diserap oleh bahasa Indonesia berasal dari bahasa Arab, yakni kata yang sama, akhlak, (اَخْلَاقْ) alif, kha’, lam, alif, dan qaf. Kata akhlaaq dalam bahasa Arab merupakan bentuk jamak dari kata khuluq (خُلُقْ), kha’, lam, dan qaf, yang pada mulanya bermakna ukuran, latihan, dan kebiasaan. Kata khuluq yang bermakna ukuran, kemudian dapat membentuk kata dalam bahasa Arab, di antaranya makhluq (ciptaan yang mempunyai ukuran) atau khalqaa’ / خَلْقَاءْ (batu yang licin karena berkali-kali disentuh oleh sesuatu, sebagai bagian dari makna latihan dan kebiasaan). Pemaknaan dalam bahasa Arab tersebut membawa pada pengertian akhlaq yang lebih unik, bahwa akhlak sebagai budi pekerti atau sebuah sifat yang mantap atau kondisi kejiwaan di dalam diri seseorang baru dapat dicapai setelah berulang-ulang latihan alias membiasakannya.

Akhlak menjadi penting bagi manusia karena berkaitan dengan keadaan asal manusia sebagai makhluk sosial. Allaah SWT mengisyaratkan sifat sosial manusia dalam al-Qur`an di surat al-‘Alaq ayat ke-2 ketika mengisahkan proses kehidupan manusia:

Kebanyakan terjemah al-Qur`an mengartikan ‘alaq sebagai segumpal darah. Makna segumpal darah ini tidak salah, begitu pula dengan pemaknaan sesuatu yang bergantung di dinding rahim yang tidak keliru. Bahkan inilah isyarat dari Allaah SWT bahwa sejak penciptaannya, seorang manusia pasti membutuhkan orang lain. Manusia tumbuh di rahim seorang Ibu, sebagai hasil perkawinan seorang lelaki dan perempuan, pertumbuhannya di bawah asuhan orang tua, pendidikan dan kedewasaannya harus bersama orang lain, dan hingga kematiannya pun manusia harus dikuburkan oleh orang lain. Inilah isyarat Qur`an sebagai makhluk sosial.

Hadirin rahimakumullaah, jika saja manusia hidup sendirian, maka ia tak memerlukan akhlak, tak memerlukan budi pekerti, tidak pula memerlukan hukum dan peraturan. Seseorang yang hidup sendiri di hutan, misalnya, tidak dituntut untuk berkata benar karena ia tidak menemukan mitra bicara. Tetapi manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup tanpa bantuan orang lain, sehingga harus bekerja sama dan menjalin hubungan harmonis.

Di sisi lain, manusia juga seorang individu yang masing-masing mempunyai ego dan kepentingan yang dapat bertentangan dengan individu lain. Konsekuensinya, setiap individu didesak untuk mengorbankan sedikit atau banyak dari kepentingan egonya agar dapat terjalin hubungan harmonis dan dapat pula terpenuhi kebutuhan-kebutuhannya, sekaligus dapat hidup tenang, damai, dan tenteram dalam sebuah masyarakat.

Pengorbanan tersebut melahirkan moral atau akhlak terpuji, demikian pula kesediaan untuk berkorban, sebuah manifestasi dari akhlak yang luhur. Semakin besar pengorbanan, semakin luhur pula akhlak. Para pahlawan bangsa kita, misalnya, mengorbankan nyawa demi terusirnya penjajah, demi perginya penindasan dari bangsa lain. Inilah puncak akhlak yang tepuji yang berbalas surga, karena kematian akibat membela harta, membela keluarga, atau membela kehidupan, diganjar sebagai kematian yang syahid.

Pengorbanan yang berskala kecil digambarkan dalam hubungan antara pengusaha dan karyawan. Pengusaha membutuhkan karyawan untuk membantu usahanya berjalan, sementara seorang yang sebelumnya menganggur membutuhkan pekerjaan, yakni menjadi karyawan pengusaha tersebut, keduanya saling membutuhkan. Pengorbanan berlangsung ketika pengusaha harus mengurangi keuntungannya untuk upah karyawan, sementara karyawan yang memerlukan uang untuk kehidupannya harus berkorban bahwa tidak semua keinginannya dapat dipenuhi dari upah tersebut. Hubungan keduanya diatur, misalnya dengan ketentuan UMR atau UMP: pengusaha tak boleh terlalu kecil menggaji karyawan, sementara karyawan juga menerima upah sewajarnya sesuai dengan pekerjaannya. Pengorbanan keduanya tersebut memunculkan: perilaku saling menghormati hak dan kewajiban masing-masing.

Pengorbanan juga bukan berarti bahwa setiap kewajiban membutuhkan pengorbanan. Sebelum melangkah berkorban, diperlukan pertimbangan-pertimbangan, apakah langkah pengorbanan harus segera diambil atau ada jalan lain untuk memenuhi yang wajib. Pengorbanan tidak harus dilakukan, misalnya, jika dampak pengorbanan itu justru memunculkan lebih banyak mudlarat daripada menghadirkan manfaat.

Hadirin rahimakumullaah, akhlak diperlukan oleh manusia karena kita memiliki empat potensi dan dua kecenderungan. Empat potensi tersebut adalah ilmu, amarah, syahwat atau keinginan, serta keadilan. Sementara dua kecenderungan adalah ke mana tujuan di mana empat potensi tersebut mengarah: menjadi sesuatu yang baik atau justru menjadi kehinaan.

Pertama adalah potensi ilmu. Potensi ilmu mengantarkan manusia mengetahui perbedaan mana yang benar dan mana yang salah tentang sebuah persoalan atau mana yang indah dan mana yang buruk dalam konteks kelakuan. Puncak potensi keilmuan manusia ketika dibimbing oleh akhlak mulia adalah hikmah. Hikmah seakar dengan kata hakamah dalam bahasa Arab yang artinya kendali, yakni kendali untuk menghalangi hewan atau kendaraan mengarah pada yang tidak diinginkan atau agar tak menjadi liar.

Mampu memilih yang terbaik dan paling sesuai adalah perwujudan hikmah, begitu pula dengan memilih yang relatif baik dan sesuai dari dua hal yang buruk. Siapa yang tepat dalam menilainya, pas dalam mengaturnya, dan yakin akan pengetahuannya, ialah penyandang hikmah, yang akan tampil dengan percaya diri, tidak berbicara dengan ragu atau mengira-ngira, dan tidak juga melakukan sesuatu dengan coba-coba. Inilah cerminan hebatnya ilmu jika kita arahkan pada kecenderungan kebaikan.

Kedua, potensi amarah. Amarah harus digunakan dalam batas tuntunan hikmah, sehingga bila potensi ini tersalurkan, terwujudlah keberanian. Kalau kita mengungkap amarah melebihi dari ukuran yang seharusnya, ia akan menjadi kecerobohan alias kenekatan; sementara jika kurang dari yang seharusnya, ia akan timbul sebagai ketakutan. Keberanian adalah kemampuan menghadapi kesulitan saat dibutuhkan, dengan tekad dan kekuatan jiwa. Keberanian bukan berarti tidak takut menghadapi kesulitan, tetapi mengenyahkan rasa takut karena mengetahui takaran kesulitan tersebut: bahwa kesulitan tersebut dalam ukuran yang bisa dihadapi oleh diri kita.

Ketiga, potensi syahwat atau keinginan. Ketika kecenderungan kebaikan memayungi syahwat, lahirlah yang disebut ‘iffah atau kesucian diri. Sementara apabila kecenderungan keburukan yang menyelimuti syahwat kita, muncullah ketidak-mampuan seksual atau sebaliknya, kecanduan pada interaksi seksual. Dalam konteks harta duniawi, syahwat yang dikendalikan oleh hikmah dan keberanian akan menghadirkan kedermawanan. Sedangkan syahwat yang tertutup dari hikmah dan keberanian akan menjadi sikap boros (berlebihan dalam membelanjakan harta) atau kikir (terlalu sayang dalam membelanjakan harta).

Keempat, potensi keadilan. Keadilan diartikan sebagai sama atau seimbang atau menempatkan sesuatu pada tempatnya. Keadilan berbentuk penghormatan atas hak-hak pihak lain serta memberikan hak tersebut dengan sempurna dan secepat mungkin. Keadilan dapat mewujud ketika potensi ilmu, amarah, dan syahwat dapat mencapai puncak kemuliaan sehingga menjadi hikmah, keberanian, dan kesucian diri. Sebaliknya, beberapa hal yang dapat menghalangi keadilan di antaranya adalah kepentingan pribadi, keluarga, atau golongan (karena syahwat yang menjadi ketamakan); rasa takut dari celaan atau hukuman (karena tidak memiliki keberanian dalam menyatakan kebenaran); atau kurangnya pengetahuan.

Hadirin rahimakumullaah, di dalam kitab al-Mustadrak, al-Hakim meriwayatkan sebuah ungkapan yang bersumber dari Nabi Muhammad SAW atau beberapa ulama lain menyatakan berasal dari Sayyidinaa ‘Ali KW,

Keinginan manusia untuk mengumpulkan harta dan pengetahuan adalah sebuah kecenderungan yang netral. Namun ketika usaha untuk memenuhi keduanya tak menggunakan akhlak, maka hancurlah manusia dan masyarakatnya. Korupsi, penyuapan, pemotongan anggaran dan pungutan liar, membenarkan kebohongan, perang dan industri senjata, kerusakan lingkungan, adalah akumulasi dari upaya memenuhi kebutuhan manusia yang memanfaatkan kemajuan ilmu pengetahuan.

Nabi Muhammad SAW dalam haditsnya mengajarkan redaksi doa yang menggambarkan permohonan limpahan ilmu yang bermanfaat atau perlindungan dari ilmu yang tak bermanfaat. Nabi Muhammad SAW dalam haditsnya pula mengkhawatirkan cobaan kekayaan sebagai awal dari sebuah kehancuran masyarakat dan Beliau SAW pula dalam kesehariannya selalu menunjukkan akhlak sebagai seorang yang sederhana tanpa menumpuk kekayaan.

Hadirin rahimakumullaah, tidak dapat disebutkan dalam forum ini, banyaknya hadits, baik yang mengisahkan kemuliaan akhlak Nabi SAW dalam kehidupan sehari-hari beliau, maupun menggambarkan betapa besarnya balasan Allaah SWT terhadap kemuliaan budi pekerti. Bahkan, akhlak mulia bukan hanya menjadi salah satu jaminan hadirnya rahmat Allaah SWT di akhirat, tetapi juga keberkahannya terasa di dunia: memenuhi kebutuhan umat manusia dengan memanfaatkan pengetahuan, yang diterapkan dengan penuh keberanian tanpa ketamakan, demi terwujudnya keadilan bagi seluruh umat manusia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *