Membela NU Bukanlah Ashabiyah

Ada yang menganggap pembelaan para nahdliyin kepada NU dan ulamanya selalu berlebihan, sehingga bukan tidak mungkin suatu saat akan mencapai maqam ashabiyah (fanatik pada kelompok). Tentu saja tuduhan ini ngawur, tak berdasar, sembrono, dan utamanya disebabkan karena pemahaman yang tidak utuh kepada NU. Ada beberapa alasan yang mendasari hipotesis ini.

Pertama, NU tidak mungkin ashabiyah karena NU memahami serta menghargai keragaman cara ibadah dan kesepakatan dalam perbedaan di ranah fikih. Sikap ini diteguhkan sejak sebelum berdirinya NU, melalui pembentukan Komite Hijaz, hingga munculnya empat buah bintang di bagian bawah logo NU, di antara total sembilan bintang.

Satu bintang terbesar di puncak logo NU melambangkan Kanjeng Nabi SAW, sementara dua di kiri dan kananya adalah cerminan empat khulafaur-rasyidin: Sayyidina Abu Bakar, Sayyidina Umar, Sayyidina ‘Utsman, dan Sayyidina ‘Ali – radliyallaahu-‘anhum.

Empat bintang di bagian bawah logo NU adalah simbol penghargaan pada perbedaan fikih, yakni jumlah Imam Madzhab yang empat: Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Hambali – radliyallaahu-‘anhum.

Jumlah total bintangnya ada sembilan, sama dengan jumlah anggota Dewan Wali Sembilan, penyebar Islam di Nusantara.

[the_ad id=”700″]

Kedua, berdasarkan prinsip tersebut, NU secara struktur maupun kultur tidak pernah sekalipun memulai gesekan dengan kelompok manapun, meskipun berbeda pandangan keagamaan dalam ibadah, bahkan akidah sekalipun.

Akidah ahlus-sunnah wal jamaah yang diyakini NU itu sangat ketat dan kaku, ya namanya saja akidah. Dan secara teoritik, (sekali lagi, secara teoritik), kitab-kitab yang dirujuk NU menyalahkan akidah teman-teman Salafi, Syiah, Ahmadiyah, MTA, hingga HTI.

Keketatan dan kekakuan akidah ini dilengkapi oleh ulama NU dengan nilai-nilai tasawuf (kesufian) yang tak kalah mulia: akidah itu letaknya di dalam hati, sementara diri kita hanya bisa menilai dari apa yang nampak secara lahiriah. Maka tak pernah ada perintah kiai NU untuk menyelisihi golongan lain, sekalipun berbeda akidahnya.

Sampai di sini, sangat mungkin muncul banyak pertanyaan di benak pembaca: bagaimana dengan gesekan di lapangan dengan MTA, Salafi, dan HTI, termasuk menghentikan pengajian kelompok yang bersebarangan dengan NU????

Jawaban saya mudah, siapa yang tidak bereaksi ketika amalan NU dibid’ahkan, disesatkan, dan dinerakakan secara terus menerus dg alasan menegakkan akidah? Lihatlah kronologinya secara makro:

(1) kelompok Islam selain NU dan Muhammadiyah mulai mendakwahkan ajarannya secara massif-terstruktur pasca reformasi;

(2) tidak ada penolakan dari struktur maupun kultural nahdliyin, karena bagi NU: (a) sama-sama mengajarkan Islam harus didukung; (b) meskipun akidahnya berselisih paham, tp NU merasa tidak berhak menghakimi mereka; (c) ini adalah konsistensi NU dalam menghargai perbedaan/khilafiyah dalam beragama; dan (d) selama tidak melanggar peraturan perundangan, bagi NU tidak menjadi masalah;

(3) ternyata posisi NU tersebut (nomor 2, huruf a-d) tidak dipahami, justru digunakan sebagai bahan melawan NU: diam karena tidak memiliki landasan kegamaan;

(4) mulai massif kajian, buku, dan tulisan yang membid’ahkan, mensesatkan, dan menghakimi amaliah NU sebagai jalur ke neraka, termasuk pembelaan NU pada NKRI yang dinilai tidak Islami;

(5) di berbagai daerah yg NU-nya secara struktural belum begitu kuat atau agak jauh jaraknya dengan pesantren berbasis NU, gugatan dalil ini agak berhasil: yang muda menghakimi yang sepuh atau yang sepuh memarahi santri muda yang mengamalkan amaliah NU dan tercerai berainya kerukunan karena semua acara budaya yang telah diislamkan dianggap sesat (kasus ini banyak terjadi, terutama gesekan antara massa NU dengan MTA);

(6) ketika NU mulai sadar, dilangsungkanlah counter narasi melalui berbagai makalah, buku, kajian, dan debat, termasuk munculnya penulis-penulis NU di media sosial;

(7) sayangnya, kounter narasi ini belum bisa efektif memahamkan teman-teman selain NU untuk menghentikan serangannya, sehingga terjadi gesekan di berbagai daerah (perlu diketahui, kejadian ini pun disesalkan oleh banyak tokoh dan ulama NU, struktural maupun kultural);

(8) atau terjadi pengalihan isu: narasi perlawanan yang ditulis oleh ulama NU dengan menggunakan bahan lengkap dari kitab-kitab keagamaan yang shahih, justru dihakimi sebagai liberal bahkan kafir, hanya karena nama penulisnya – tanpa membaca isinya;

(9) munculnya Syaikh Abdul Shomad dengan kemampuan fikihnya membela amalan NU dan konsep “mengaji kepada semua”-nya Ustadz Adi Hidayat di beberapa tahun terakhir cukup mengurangi serangan kepada NU, walaupun kemudian masih diserang soal keteguhan NU tentang NKRI.

Kronologi ini masih bisa dilengkapi dengan segudang fakta tentang rusaknya harmoni persaudaraan sebagai karena agresifnya pembid’ahan-pensesatan NU dari orang di luar NU yang dihadapi NU dengan gradual: awalnya kalem karena prasangka baik, baru kemudian melawan dengan agak keras melalui pengerahan massa.

Ketiga, visi inklusi NU melalui prinsip tri-ukhuwah yang dicetuskan Rais ‘Aam KH Achmad Siddiq – Allahu yarham, yakni Islamiyah, Wathaniyah (kebangsaan), dan Bashariyah (kemanusiaan), yang diterapkan dengan sungguh-sungguh di lapangan.

Di tataran teknis, NU melalui lembaganya (salah satunya, LAKPESDAM-PBNU) maupun para nahdliyin yang memahami visi inklusi tersebut dan berada di berbagai organisasi masyarakat sipil, menerapkannya dengan serius. Orang-orang NU ini, melakukan pendampingan serta pembelaan hak-hak dasar pada korban kekerasan fisik, sosial, maupun birokratik, seperti kelompok Ahmadiyah, Syiah, keturunan PKI, atau kelompok aliran-kepercayaan.

Apakah pembelaan teman-teman NU di lapangan terhadap korban kekerasan yang nyata itu dimaknai sebagai membenarkan ajaran Ahmadiyah dan Syiah? Atau diartikan sebagai membangkitkan kembali komunisme? Atau disamakan dengan menghalalkan aliran kepercayaan tanpa menegakkan dakwah Islam?

Tak ada sedikitpun di hati dan akal para aktivis di lapangan itu untuk membenarkan kesesatan yang nyata tersebut. Bagi teman-teman nahdliyin tulen ini, penghakiman pada akidah orang lain tidak sama dan sebangun dengan halalnya kekerasan fisik, sosial, dan birokratik dengan mengurangi atau bahkan menghilangkan hak-hak mereka sebagai warga negara Indonesia atau sebagai seorang manusia biasa.

Gus Mus pernah ngendika, bahwa realitas mereka (kelompok yang teraniaya dalam skala apapun) sebagai seorang manusia adalah alasan yang cukup untuk memuliakan mereka. Sementara Buya KH Husein Muhammad juga pernah ngendika bahwa perlakukan orang lain dengan perlakuan yang ingin engkau dapatkan dari orang lain kepadamu.

Pembaca yang budiman, semoga tiga penjelasan ini dapat menjernihkan suasana penghakiman yang sedang menimpa NU akhir-akhir ini, apakah NU sedang menuju ashabiyah? Saya kira tulisan ini menjawabnya dengan sendiri: mustahil!!!

Blunyah Gede, 7 Maret 2018.
Ahmad Rahma Wardhana.

Tulisan ini telah menjadi status dalam Facebook: tautan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *