Mensyukuri Nikmat Tenteram di Indonesia

Disampaikan sebagai khatbah Jumat di Masjid Kagungan Dalem al-Falaah Blunyah Gede, Yogyakarta pada 18 Januari 2013.

___

Hadirin rahimakumullaah, alhamdulillaah, perlu kita syukuri bersama bahwa Allaah Ta’aala berkenan menggariskan bagi kita bisa lahir dan besar di negeri bernama Indonesia dalam keadaan mengenal indahnya iman dan islam. Sesungguhnya, nikmat terbesar adalah terikatnya jiwa kita kepada iman dan islam, namun nikmat berada di negeri bernama Indonesia pun merupakan nikmat yang tak kalah besarnya.

Kalau kita sejenak menengok ke belahan dunia lain dan merangkainya dengan berbagai peristiwa yang akhir-akhir ini terjadi, kita akan melihat betapa nikmatnya berada di Indonesia. Sebut saja negara selain Indonesia, niscaya tak akan kita temukan tempat senyaman negeri kita ini, Indonesia.

Arab Saudi misalnya, akan kita temui betapa kerasnya pembatasan kepada kaum wanita dan betapa kakunya kehidupan keberaganaan di sana. Pakistan, Irak, dan Afghanistan misalnya, di negara tersebut akan kita temui betapa mengerikannya proses jegal-menjegal dalam rangka memperebutkan kursi-kursi kekuasaan. Hampir setiap hari di Pakistan akan kita temui berita mengenai bom mobil atau penembakan-penembakan yang menewaskan orang tak bersalah.

Mesir, Libya, dan Tunisia kondisinya setelah reformasi justru kacau balau. Saat ini, ketiga negara dengan penduduk muslim yang mayoritas ini sedang mengalami masa seperti di Indonesia pada tahun 1945: rembugan tentang dasar negara. Patut kita syukuri bersama bahwa kita dikaruniai para negarawan dengan jiwa yang besar, sehingga mampu merumuskan Pancasila sebagai jalan tengah bagi majemuknya bangsa Indonesia. Di ketiga negara tersebut, saat ini sedang dihadang ancaman perpecahan karena masing-masing kubu, ada yang ingin jadi negara demokrasi, ada yang ingin jadi negara Islam, ada yang ingin jadi negara demokrasi dengan jiwa Islami, semuanya bersikeras dengan pandangannya masing-masing bahkan tak segan untuk mengangkat senjata.

Begitu juga dengan negara tetangga kita Malaysia. Harus diakui, bahwa Malaysia saat ini memang lebih maju daripada kita. Tetapi sesungguhnya, kehidupan sosial di Malaysia masih sama dengan kondisi Indonesia pada tahun 1990-an, di mana pemerintah mengontrol semua media komunikasi, radio, televisi, dan koran. Segala kritikan pada pemerintah pasti tidak akan pernah menjadi berita untuk dikonsumsi masyarakatnya. Yang terparah adalah, sesungguhnya Malaysia berada dalam ancaman konflik rasial, konflik karena perbedaan warna kulit. Partai politik terbesar di Malaysia ada tiga, satu untuk yang bangsa Melayu, satu untuk keturunan bangsa Cina, dan yang satu untuk keturunan bangsa India. Terpecah belah atas suku dan warna kulit, berbeda dengan kita bangsa Indonesia yang sudah dewasa, tak lagi memperasalahkan perbedaan suku bangsa untuk urusan politik dan kekuasaan.

Hadirin rahimakumullaah. Allaah Ta’aala berfirman dalam az-Zukhruf (43): 32

zukhruf 32

Apakah mereka (orang-orang musyrik itu) yang (kuasa) membagi-bagi rahmat Tuhan Pemelihara kamu? (Tidak!); Kami telah membagi di antara mereka (berdasar kebijaksanaan Kami) penghidupan mereka di kehidupan dunia, dan Kami meninggikan sebagian mereka di atas sebagian yang lain (beberapa derajat), supaya sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian (yang lain, yakni tolong menolong). Dan rahmat Tuhan Pemelihara kamu lebih baik (bagimu) dari apa yang mereka kumpulkan (berupa kekayaan dan kekuasaan duniawi).

Ayat ini mengandung makna bahwa di dalam sebuah masyarakat, di dalam sebuah bangsa pasti akan terdiri atas berbagai macam manusia, berbagai macam kondisi ekonomi, berbagai macam keahlian dan profesi. Mengapa Allaah menggariskan seperti itu? Jelas alasannya, agar kita semua saling mengambil manfaat antara satu dengan lainnya. Orang kaya adalah harapan bagi orang miskin untuk menyambung khidupannya, sementara orang miskin adalah pemuas jiwa bagi orang kaya, yakni sebagai tempat bershadaqah dan berbagi kebahagiaan. Sudah menjadi kesimpulan semua ajaran agama dan kebudayaan semua bangsa, bahwa sekedar kaya tanpa berbagi akan menjadi kekosongan bagi jiwa.

Yang lebih pandai akan menjadi perencana, sementara yang yang tidak begitu pandai akan menjadi pelaksana. Seorang sarjana teknik yang merancang rumah akan dibayar jauh lebih tinggi daripada tukang batu yang membangun, karena pekerjaan sang sarjana membawa tanggung jawab besar, yakni memastikan kuat tidaknya bangunan tersebut untuk ditinggali selama puluhan bahkan ratusan tahun, sementara tukang batu bayarannya lebih kecil, karena ia hanya bertanggung jawab selama proses pembangunan berlangsung. Ibaratnya, sarjana bertanggung jawab selamanya, tukang batu bertanggung jawab hanya selama proses membangunnya. Masing-masing golongan masyarakat memiliki tanggung jawab sendiri-sendiri dan masing-masing pula dapat mengambil manfaatnya bagi diri sendiri tanpa merugikan orang lain. Kesemuanya telah digariskan oleh Allaah Ta’aala.

Allaah Ta’aala juga berfirman dalam surat al-Hujuraat (49): 13

hujurat 13

Wahai manusia! Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan serta menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allaah ialah yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allaah Maha Mengetahui, lagi Maha Mengenal.

Selain Allaah ciptakan manusia dalam golongan-golongan keahlian dan kemampuan, Allaah gariskan pula manusia dalam kelompok-kelompok besar, yakni suku dan bangsa, agar saling mengenal satu dengan lainnya. Apa maksud dan tujuan perkenalan tersebut? Jelas adanya, bahwa terwujudnya sebuah kerjasama yang saling membawa manfaat dimulai dengan mengenali mitra kerjasama tersebut. Apa yang kita punya, apa yang kita bisa, apa yang mereka punya, apa yang mereka bisa, di mana pengenalan tersebut akan berujung pada satu pemahaman bersama yakni karena saling membutuhkan, maka mari saling memberi manfaat, bukan sekedar mencari keuntungan semata yang berakhir pada penindasan dan penguasaan yang kuat kepada yang lemah.

Inilah takdir manusia sejak dalam awal penciptaannya, “khalaqal-insaana min ‘alaq” yang artinya “dan diciptakanlah menusia dari sesuatu yang bergantung pada dinding rahim”, bahwa manusia tak akan pernah bisa mampu berdiri sendiri, tanpa berinteraksi dengan masyarakat.

Hadirin rahikumullaah. Mari kita isi rasa syukur kita, yakni rasa syukur kita tentang kondisi bangsa yang relatif tenteram dalam sehari-harinya dengan kegiatan positif dalam rangkaian ikhtiar dan tawakkal kita untuk menjadi pribadi yang terbaik bagi orang lain, yang terbaik bagi masyarakat, yang terbaik bagi bangsa dan negara.

Memang benar ada sebagian siswa dan mahasiswa yang menkhianati kewajibannya dengan tawuran. Memang ada segolongan masyarakat yang saling menumpahkan darah hanya karena masalah sepele tanpa dipahami terlebih dahulu permasalahannya. Memang ada menteri, hakim, anggota dewan, bupati, walikota, atau pejabat publik lain yang menzhalimi dirinya dan masyarakat dengan perilaku curang dan korup.

Semua perilaku tidak Islami tersebut memang ada, sering terjadi, dan bahkan mungkin saat ini pun masih terus.berlangsung. Tetapi cukuplah hal-hal buruk tersebut menjadi catatan dan pengingat bagi kita dalam menjalani kehidupan ke depan.

Karena sikap kita yang laling tepat adalah bagaimana kita menemukan berkas-berkas cahaya di antara kegelapan pekat tersebut. Bahwa masih banyak siswa dan pelajar yang tidak tawuran dan masih fokus belajar. Bahwa masih banyak masyarakat yang sudah dewasa dalam menghadapi konflik, tidak grusa-grusu menyelesaikan masalah dengan dendam dan menumpahkan darah. Bahwa masih banyak menteri, anggota dewan, hakim, bupati, walikota, gubernur, dan pejabat publik yang jujur dan setia dengan nilai kebenaran.

Hal-hal positif inilah yang sudah seharusnya menjadi baterai bagi kita dalam berkarya dan bertindak. Mari kita motivasi anak-anak kita, saudara-saudara kita, orang-orang terdekat dalam kehidupan kita dengan kisah-kisah yang bercahaya ini, bahwa masih ada harapan bagi negeri kita untuk bangkit dari keterpurukan akhlak.

Kita dorong mereka agar terus melanjutkan sekolah dan pendidikan, sedangkan bagi yang sudah bekerja mari kita semangati mereka untuk berani bertindak jujur dan benar. Katakan pada mereka, bahwa kita tidak pernah sendiri dalam berbuat baik.

Hadirin rahimakumullaah. Momentum tahun baru dan hadirnya bulan Rabbi’ul ‘Awwal adalah waktu yang sangat bagi kita untuk memperbarui semangat juang kita untuk menjadi pribadi yang baik, pribadi shalih dalam iman dan taqwa kepada Allaah yang mampu mendatangkan manfaat bagi orang lain di sekitar kita. Kita cari informasi-informasi masyhur bagaimana Rasuulullaah SAW mampu menjadi motor perubahan ke arah positif, dengan akhlak dan perilaku beliau yang sangat terpuji.

Allaah Ta’aala berfirman dalam Ar-Ra’d (13): 11

ra'd 13

Sesungguhnya Allaah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah apa (sikap mental dan pikiran) yang ada pada diri mereka.

Prof. Quraish Shihab menjelaskan dalam bukunya Wawasan al-Qur’an bahwa Ayat ini berbicara tentang dua macam perubahan dengan dua pelaku. Pertama, perubahan masyarakat yang pelakunya adalah Allah, dan kedua perubahan keadaan diri manusia (sikap mental) yang pelakunya adalah manusia. Perubahan yang dilakukan Tuhan terjadi secara pasti melalui hukum-hukum masyarakat yang ditetapkan-Nya. Hukum-hukum tersebut tidak memilih kasih atau membedakan antara satu masyarakat/kelompok dengan masyarakat/kelompok lain.

“Ma bi anfusihim” yang diterjemahkan dengan “apa yang terdapat dalam diri mereka”, terdiri dari dua unsur pokok, yaitu nilai-nilai yang dihayati dan iradah (kehendak) manusia. Perpaduan keduanya menciptakan kekuatan pendorong guna melakukan sesuatu.

Ayat di atas berbicara tentang manusia dalam keutuhannya, dan dalam kedudukannya sebagai kelompok, bukan sebagai wujud individual. Dipahami demikian, karena pengganti nama pada kata anfusihim (diri-diri mereka) tertuju kepada qawm (kelompok/masyarakat). Ini berarti bahwa seseorang, betapapun hebatnya, tidak dapat melakukan perubahan, kecuali setelah ia mampu mengalirkan arus perubahan kepada sekian banyak orang, yang pada gilirannya menghasilkan gelombang, atau paling sedikit riak-riak perubahan dalam masyarakat.

Hadirin rahimakumullaah, tak perlu menunggu pemilu atau pemilihan kepala daerah, mari menggulirkan perubahan ke arah yang lebih baik Indonesia sebagai bentuk syukur kita atas ketenteraman ini. Mari kita mulai dari diri sendiri, dari orang-orang terdekat dalam kehidupan kita, yang nantinya akan merembes ke perubahan di masyarakat, bangsa, dan negara, insya-Allaah. Semoga Allaah Ta’aala meridlai ikhtiar zhahir dan bathin kita untuk mencapai sebaik-baik manusia, yakni insan yang mampu memberi manfaat kepada lainnya. Amiin, allaahumma amin.

_____

Semoga bermanfaat dan membawa secercah cahaya bagi hati para pembaca!

Kampus JTF UGM, 18 Januari 2013, 16:20 [UTC+7],

Ahmad Rahma Wardhana,

stempel

Apakah kita Termasuk Tetangga yang Keterlaluan?

Kalau ada orang yang sedang mencuri tertangkap basah, apakah sang pelaku harus langsung dijuluki sebagai “pencuri” sepanjang sisa hidupnya?

Pertanyaan semacam ini sering muncul dalam benak saya, setiap muncul publisitas tentang kasus pencurian (termasuk korupsi, tentu saja).

Julukan pencuri, atau maling, atau koruptor, menurut saya hanya pantas untuk menjuluki mereka yang menjadi pejabat publik atau siapapun dia yang menciderai amanah yang diembannya. Artinya, ada peluang untuk menolak, tetapi tak mau mengambil peluang tersebut.

Alasan dlarurat pun menurut saya tidak berlaku bagi mereka. Lha wong mereka mendapat amanah itu karena kapabilitasnya, pendidikan, atau kemampuan bahkan jaringannya kok alasannya darurat. Artinya, dia bisa menolak dan menghindar, toh jika dia diancam sedemikian rupa (jika tidak mau korupsi misalnya), dia masih punya kepandaian, pengalaman, pendidikan, dan thethek bengek lainnya untuk digunakan menangkal ancaman tersebut. Intinya, dia punya peluang, dia ada pilihan, tapi tak mau mengambilnya.

Maka, julukan koruptor atau maling pun menurut saya lebih pas ditujukan pada mereka. Hukuman psikologis berupa merk diharap lebih besar efek jeranya. Pemiskinan? Bisa sih, tapi bagaimanapun mereka punya ilmu, ada pengalaman, serta banyak jaringan yang bisa dia gunakan untuk mencari nafkah. (satu hal, jangan gunakan untuk menjuluki nasab atau keluarganya, tapi gunakan hanya untuk dirinya sendiri!)

***

Berbeda dengan kasus di kalangan masyarakat bawah. Berkali muncul di pemberitaan tentang persidangan pencurian semangka, kayu bakar, piring, dan lain-lain. Yang terbaru, siang tadi di SCTV saya menyaksikan berita miris: di Bone, ada seorang ibu (wanita) tertangkap basah sedang mencuri, dihajar massa, digunduli, diikat di tiang dan jadi bulan-bulanan masyarakat yang marah.

Saya tidak mau menyalahkan sistem hukum yang mengadili para pelaku pencurian. Kita sudah terlanjur terlalu lama dididik untuk tidak percaya dengan sistem hukum kita sendiri dikarenakan aparatnya yang korup. Sudah saatnya kita lebih sadar hukum. Berani memperjuangkan hak kita di mata hukum. Apalagi dengan dukungan sosial media yang sudah sangat terbuka. Tak ada alasan untuk takut.

Tetapi saya juga tidak mau membela para pelaku pencurian itu dengan membenarkan perbuatannya. Mereka salah, mencuri, yakni mengambil apa yang bukan haknya itu salah. Tak ada peradaban yang membenarkan perbuatan mencuri. Hanya saja, yang perlu ditelusuri adalah akar masalahnya: mengapa ia mencuri?

***

Saya masih ingat ketika menjalani Kuliah Kerja Nyata di Panggang, Gunungkidul, Yogyakarta. Sebagian besar penduduknya adalah petani. Ketika ada survey tentang penghasilan, tak ada yang bisa menyebut angka pasti pendapat bulanan. Tapi mereka tak ada yang mengeluh karenanya. Menurut saya, mereka adalah orang yang qana’ah, nrima ing pandum sesudah melakukan ikhtiar dan tawakal. Alam sudah mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari.

Menariknya adalah, di tengah suasana jalan yang gelap dan masih banyak kebun-tegalan yang gelap setiap malam, tak pernah ada kasus pencurian serius di sana. Bahkan pintu utama rumah tak pernah dikunci meski malam telah tiba.

Kasus pencurian yang dilakukan oleh masyarakat miskin –sebagaimana sering kita dengar- biasanya berlatar belakang suasana dlarurat, emergency. Mari kita telusuri lebih lanjut. Bagaimana bisa muncul kondisi darurat? Apakah sedemikian miskinnya, sebegitu parahnya ketidak-mampuannya, sehingga muncul dorongan untuk mencuri demi memenuhi kebutuhan dasarnya?

Di sisi yang lain, sebagaimana pernah saya bahas dalam tulisan tentang akhlak, al-Qur`an memberikan isyarat bahwa perbuatan baik itu perbuatan mudah, sedang perbuatan buruk (dalam konteks ini, mencuri) adalah perbuatan sulit. Artinya, dibutuhkan satu dorongan yang sangat kuat dan sangat memaksa, sehingga seseorang harus melakukannya.

Menurut saya, kesalahan tidak bisa ditimpakan begitu saja hanya kepada dia yang melakukan pencurian, tetapi perlu juga dikaji bahwa pencurian muncul adalah juga karena kesalahan para tetangga pelaku pencurian!

Kalau memang pelaku pencurian tersebut adalah mencuri karena desakan ekonomi (yang sangat kuat, dan memaksa sehingga harus dipenuhi saat itu juga), maka tetangganya bisa kita golongkan sebagai tetangga yang keterlaluan. Seberapa besarkah jiwa individualismenya sehingga tidak mampu mendeteksi ke-dlarurat-an yang dialami tetangganya?

Alasan pribadi yang tertutup untuk menolak tesis saya ini dalam pandangan saya tidak mampu diterima. Masih segar di ingatan saya bagaimana penjelasan kawan saya yang menekuni bidang psikologi bahwa fitrah manusia timur yang terbuka dalam kemasyarakatan sehingga profesi psikiater arang payu di bumi Indonesia.

Kasus di tempat KKN saya misalnya, menunjukkan bahwa ke-tidak-mampu-an tidak serta merta menimbulkan ke-dlarurat-an yang mendorong ke perbuatan buruk. Sistem kendali kemasyarakatan yang baikkah? Wallaahu a’lam.

***

Saya pernah mendengar nasihat bahwa jika kita memasak sesuatu dan baunya hingga mencapai ke rumah tetangga maka kewajiban moral kita adalah memberikan sebagian masakan kepada tetangga tersebut.

Lebih jauh, sistem sosial masyarakat muslim, dengan adanya fidyah, infaq, shadaqah, dan –tentu saja- zakat, memberikan peluang bagi kita semua untuk menjadi tetangga yang baik, menjadi masyarakat yang baik, bertanggungjawab terhadap orang-orang terdekatnya.

Dan melihat mayoritasnya muslim sebagai penghuni bangsa ini ditambah dengan fitrah sebagai masyarakatyang terbuka, melalui tulisan ini saya berharap, besok pagi dan selamanya di masa yang akan datang tak akan pernah muncul lagi berita pencurian karena keterpaksaan kondisi ekonomi. Semoga.

Karangjati, Ahad, 8 Juli 2012,

Ahmad Rahma Wardhana

bin Suwarno

Bulan Maulud, Bulan yang Fitri (juga)

Ditulis untuk memenuhi amanah menjadi khatib Jumat dan narasumber majelis ta’lim.

Bulan Maulud adalah bulan di mana Rasuulullaah Muhammad SAW dilahirkan. Kehadirannya bukan hanya menjadi sumber keberkahan bagi orang-orang memegang teguh ajaran Beliau SAW, tetapi bahkan menjadi sebab bagi tercurahkannya rahmat Allaah Ta’aala bagi penentang Beliau SAW.

Prof. Quraish Shihab dalam bukunya “Membaca Sirah Nabi Muhammad SAW Dalam Sorotan al-Qur`an dan Hadits-hadits Shahih” mencantumkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, bahwa satu tahun setelah kematian paman Rasuulullaah SAW, Abu Lahab, paman Rasuulullaah SAW yang lain, al-‘Abbas, bermimpi melihat Abu Lahab memakai pakaian putih. Kemudian al-‘Abbas pun menanyai keadaan Abu Lahab.

Apa jawaban Abu Lahab? Abu Lahab mengatakan bahwa ia berada di neraka, hanya saja setiap malam Senin Allaah Ta’aala meringankan siksa atasnya, karena ia memerdekakan budaknya Tsuwaibah, yang menyampaikan kepadanya berita kelahiran kemenakannya, yakni Rasuulullaah SAW.

Ya, pada saat Rasuulullaah SAW lahir, Tsuwaibah-lah yang mendatangi Abu Lahab, majikannya, untuk mengabarkan kelahiran Muhammad. Karena sangat gembira mendengar kabar tersebut, Abu Lahab kemudian membebaskan Tsuwaibah, memerdekakannya. Dan diganjarlah Abu Lahab oleh Allaah Ta’aala: keringanan siksa di setiap malam Senin.

Hadirin rahimakumullaah.

Sebagai umat Rasuulullaah SAW, mari kita sempurnakan kebahagiaan kita menyambut kelahiran dan kehadiran Beliau SAW dengan meneladani akhlak Beliau SAW. Untuk menggambarkan akhlaq Rasuulullaah Muhammad SAW, Allaah Ta’aala berfirman di al-Qur`an surat al-Qalam ayat 4,

Sesungguhnya engkau (Muhammad) berada di atas budi pekerti yang agung

Prof. Quraish Shihab mengatakan bahwa kata khuluq dalam ayat tersebut merupakan bentuk tunggal dari akhlaq, di mana kata akhklaq biasanya mengandung pengertian tabiat, perangai, atau kebiasaan.

Sedangkan dalam hadits, salah satu yang populer adalah Sabda Rasuulullaah SAW:

Aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia

Dan dikarenakan pengertian akhlak mencakup makna sebagai sebuah kelakuan, bolehlah kita katakan bahwa akhlak atau kelakuan manusia sangat beragam. Hal ini sejalan dengan firman Allaah Ta’aala dalam surat al-Lail ayat 4

Sesungguhnya usaha kamu (wahai manusia) pasti amat beragam.

Lebih jauh, keragaman kelakuan manusia sebenarnya tercakup dalam dua kelompok besar: kelakuan baik dan kelakuan buruk. Hal semacam ini, yakni baik atau buruknya kelakuan manusia, pada nyatanya dapat kita lihat bersama dalam keseharian. Ini berarti bahwa memang, manusia memiliki kedua potensi tersebut: akhlak baik dan akhlak buruk.

Allaah Ta’aala berfirman dalam surat al-Balad ayat 10:

Maka Kami telah memberi petunjuk (kepada)-nya (manusia) dua jalan mendaki (yakni, baik dan buruk)

atau di dalam surat asy-Syams ayat 7 dan 8:

dan (demi) jiwa serta penyempurnaan ciptaannya, maka Allaah mengilhami (jiwa manusia) kedurhakaan dan ketakwaan.

Hadirin rahimakumullaah.

Meskipun demikian, bahwa ada potensi akhlak baik dan akhlak buruk dalam setiap diri manusia, ditemukan pula isyarat-isyarat dalam al-Qur`an, bahwa kebajikan-lah yang terlebih dahulu menghiasi diri manusia daripada kejahatan. Bahwa manusia pada dasarnya cenderung kepada kebajikan.

Al-Qur`an surat Thaa-Haa ayat 121 mengungkapkan bahwa Iblis menggoda Adam sehingga

Durhakalah Adam kepada Tuhannya dan sesatlah dia.

Redaksi ini, durhakalah Adam kepada Tuhannya dan sesatlah dia, menunjukkan bahwa ada kondisi sebelum Adam digoda oleh Iblis, yakni kondisi tidak durhaka, kondisi taat kepada Allaah Ta’aala, kondisi berakhlak baik. Maka, ayat ini adalah isyarat bagi kita: adalah benar kita punya potensi durhaka, tetapi sesungguhnya, fitrah kita, kecenderungan kita adalah potensi taat, potensi untuk senantiasa berkelakuan baik, berakhlak mulia.

Hadirin rahimakumullaah.

Allaah Ta’aala berfirman di dalam surat al-Baqarah ayat 286:

… untuk manusia ganjaran bagi perbuatan baik yang dilakukannya, dan sanksi bagi perbuatan (buruk) yang dilakukannya …

Makna ayat tersebut menggunakan kata “yang dilakukan” sebanyak dua kali, yang pertama adalah pemaknaan dari kata kasabat dan yang kedua pemaknaan dari kata iktasabat.

Syaikh Muhammad Abduh dalam tafsir al-Manar mengungkapkan bahwa kata iktasabat dan semua kata yang berpatron demikian memberi arti adanya semacam upaya sungguh-sungguh dari pelakunya. Hal ini berbeda dengan kasabat yang berarti dilakukan dengan mudah tanpa pemaksaan.

Dalam ayat ini perbuatan manusia yang buruk dinyatakan dengan iktasabat. Sedangkan terminologi perbuatan baik dinyatakan dengan kasabat. Ini menandakan bahwa fitrah manusia pada dasarnya cenderung kepada kebaikan, sehingga dapat melakukannya dengan mudah, kasabat. Berkebalikan dengan keburukan yang harus dilakukannya dengan susah payah dan keterpaksaan, iktasabat.

Hadirin rahimakumullaah.

Allaah Ta’aala berfirman dalam surat al-Israa` ayat 15:

Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain.

Masing-masing dari kita akan mempertanggungjawabkan diri kita masing-masing, terhadap segala hal yang kita lakukan. Masing-masing akan memikul ganjaran bagi perbuatan baik kita sekaligus menebus dosa bagi perbuatan buruk kita dengan siksa. Seseorang tidak dapat memikul dosa orang lain.

Dengan memahami fitrah manusia sebagai makhluk yang penuh dengan kebajikan, sebagai hamba Allaah yang berkecenderungan kepada kebaikan, sebagai diri yang penuh dengan potensi ketaatan, yang kelak akan dihadapkan dengan kenyataan bahwa akan memikul ganjaran bagi setiap apa yang kita perbuat, maka momen Maulud Rasuulullaah Muhammad SAW menjadi tepat jika kita isi dengan menyelami kembali sosok beliau sebagai teladan dalam berperilaku, sebagai contoh dalam bertindak, sebagai panutan dalam berkata-kata.

Allaah Ta’aala berfirman dalam surat al-Ahzab ayat 21

Demi (Allaah), sungguh telah ada bagi kamu pada (diri) Rasuulullaah suri teladan yang baik bagi orang yang (senantiasa) mengharap (rahmat) Allaah dan (kebahagiaan) Hari Kiamat, serta (teladan bagi mereka) yang banyak berzikir kepada Allaah.

Allaah Ta’aala menegaskan, bahwa Rasuulullaah SAW adalah sebaik-baik contoh dalam perbuatan kebajikan. Maka bolehlah bagi kita jika menyebut bulan Maulud sebagai bulan yang fitri juga, karena bulan di mana Rasuulullaah SAW lahir ini sudah seharusnya membawa semangat dan momentum bagi umat manusia untuk kembali kepada fitrahnya: kecenderungan untuk selalu berbuat kebajikan. Semoga Allaah Ta’aala memudahkannya bagi kita. Amin, yaa Rabbal-‘aalamiin.

Kelengahan

Ditulis untuk memenuhi amanah menjadi khatib Jumat dan narasumber majelis ta’lim.

Dialah Allaah Ta’aala yang menganugerahi manusia kehidupan yang sempurna, kehidupan zhahir dan kehidupan bathin. Kehidupan zhahir, yaitu bagaimana mata mampu memandang, telinga mampu mendengar, bibir mampu berucap, tangan mampu menengadah, kaki mampu melangkah, serta seluruh bagian dari tubuh kita yang mampu beraktivitas, itulah kehidupan zhahir dari Allaah Ta’aala.

Dialah Allaah Ta’aala yang berkenan pula menganugerahi kehidupan bathin kepada kita semua. Kehidupan bathin, yaitu bagaimana muncul dalam jiwa kata rasa sabar atau tergesa, rasa marah atau ridla, rasa syukur dan gembira, tawa atau tangis, rasa bahagia atau rasa sedih, serta semua kondisi yang mencakup suasana hati kita, itulah kehidupan bathin. Kesemuanya, baik kehidupan zhahir atau bathin, semoga terus menerus dikukuhkan agar berada di dalam diri kita, yang insya-Allaah semoga mampu menjadi sebab bagi kita dalam upaya meningkatkan iman dan takwa kita kepada Allaah Ta’aala.

Hadirin rahimakumullaah, semoga shalawat serta salam dari Dzat Allaah dan seluruh makhluk ciptaan Allaah, tetap dan terus tercurahkan kepada junjungan kita bersama, pemimpin umat manusia sekaligus penutup dan pemimpin para Nabi dan Rasul, seseorang yang paling pantas menjadi teladan dalam kehidupan, seseorang yang menjadi sebab bagi tercurahkannya keberkahan Allaah, baik bagi yang mencintainya maupun bagi seorang yang membencinya, beliaulah Rasuulullaah Muhammad SAW.

Tersampaikan pula semoga, kepada keluarga beliau SAW, sahabat beliau SAW, serta umat beliau SAW, hingga datangnya akhir zaman kelak. Amiin, ya Rabbal ‘alaamiin. Hadirin rahimakumullaah, selanjutnya saya kembali mengingatkan, khusus dan utamanya kepada diri saya sendiri serta kepada seluruh hadirin rahimakumullaah pada umumnya, bahwa di hari raya Jumat yang penuh kemuliaan ini, marilah kita jadikan momentum untuk kembali memperbarui sekaligus meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allaah Ta’aala, dengan sebenar-benarnya iman dan takwa.

Ketakwaan yang sesungguhnya, yaitu bagaimana kita mampu untuk selalu mengarahkan hati, lisan, dan perbuatan dalam usaha menjalankan setiap hal yang diperintahkan oleh Allaah Ta’aala sekaligus bersamaan dengan usaha untuk menjauhkan diri dari semua hal yang terlarang dari sisi Allaah Ta’aala. Karena bagi Allaah Ta’aala, semulia-mulia kedudukan manusia bukanlah terukur dari harta atau jabatan, bukanlah terukur dari kekayaan dan kedudukan, namun terukur dari ketakwaannya kepada Allaah Ta’aala.

Sebagaimana termaktub dalam ayat ke-13 surat al-Hujuraat, Allaah Ta’aala berfirman

Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allaah ialah yang paling bertakwa di antara kamu.

Hadirin rahimakumullaah, saat ini negeri kita, Indonesia tercinta sedang terjerat oleh ketidakpastian di bidang penegakan hukum. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang dipimpin oleh tokoh asli Yogyakarta, tokoh Muhammadiyah, dosen UII yang berintegritas tinggi, sedang dirundung perkara korup suap sebagaimana dikabarkan oleh mantan Bendahara Umum sebuah partai politik. Mahkamah Konstitusi yang dipimpin oleh seorang guru besar bidang Hukum UII, seorang yang berintegritas tinggi dan tinggal lama di Yogyakarta, sedang diserang masalah pemalsuan surat. Sementara Mahkamah Agung yang menjadi rumah bersama bagi pengadilan di seluruh negeri sedang diuji oleh munculnya temuan rekayasa dalam kasus yang melibatkan mantan Ketua KPK.

Dan beberapa bulan yang lalu, kita masih mendengar berita tentang penangkapan jaksa dan hakim yang terlibat penyuapan. Yang lebih menyakitkan bagi kita adalah ketika lembaga-lembaga hukum tersebut diserang oleh temuan-temuan dan tuduhan-tuduhan, sehingga semua lapisan masyarakat, kita semua, mampu menyatukan opini dan simpati untuk mendukung usaha pemberantasan korupsi, justru ada oknum di sebuah kementerian yang tertangkap tangan, diduga menerima uang suap!

Sangatlah menyakitkan, para penegak hukum sedang dibakar semangatnya oleh masyarakat, semua orang fokus pada pemberitaan pemberantasan korupsi, eh, masih ada saja yang berani melanggar. Dan pelanggaran tersebut menyangkut anggaran negara tahun 2011, tahun ini, dan tertangkap di bulan Ramadlan!

Hadirin rahimakumullaah, sering terdengar para imam membaca surat at-Takaatsuur dalam shalat-shalat rawatib lima waktu. Apabila kita membaca makna surat tersebut, maka bisa kita simpulkan bahwa sumber dari munculnya sikap suap dan korup adalah belum adanya keimanan terhadap kehidupan akhirat.

Apa yang didapat dari korupsi dan mark-up anggaran? Tentu saja uang. Tercatat, tetapi tidak dibelanjakan.

Apa yang didapat dari penyuapan pada sebuah proyek? Tentu saja agar diri sang penyuap menjadi pemenang tender. Ujungnya juga uang dan kekayaan.

Sedangkan at-Takaatsuur mengingatkan kepada kita:

Saling memperbanyak (kenikmatan duniawi dan berbangga-bangga menyangkut anak dan harta) telah melengahkan kamu [1], sampai kamu telah menziarahi (masuk) dalam kubur-kubur (kematian) [2].

Berhati-hatilah, (jangan melakukan persaingan semacam itu)! Kelak kamu akan mengetahui (akibatnya) [3]. (Sekali lagi) berhati-hatilah, kelak kamu akan mengetahui [4].

Berhati-hatilah, (jangan berbuat begitu, sungguh) jika seandainya kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, (niscaya kamu tidak akan pernah melakukan hal itu) [5]

Sungguh, pasti kamu akan melihat (neraka) Jahim [6], kemudian, sungguh pasti kamu akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin (yakni keyakinan yang tak sedikit pun disentuh keraguan, yaitu sebagaimana keyakinan karena melihat dengan mata) [7],

kemudian sungguh kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang an-Na’iim (yakni tentang aneka kenikmatan duniawi yang kamu raih atau kenikmatan akhirat yang kamu abaikan [8].

Sungguh jelas peringatan Allaah Ta’aala kepada kita tentang meruginya mereka, kita semua, jika terjerumus ke dalam usaha pengejaran kenikmatan duniawi, berlomba dalam membangga-banggakannya, sehingga lupa dengan kenikmatan akhirat hingga datangnya kematian.

Dalam tafsirnya tentang surat at-Takaatsur, Prof. Quraish Shihab menutup penjelasannya dengan menulis

Seseorang yang menyadari bahwa ada kenikmatan yang melebihi kenikmatan duniawi tentu tidak akan mengarahkan seluruh pandangan dan usahanya semata-mata hanya kepada kenikmatan duniawi yang sementara itu, bahkan seseorang yang menyadari betapa besar kenikmatan ukhrawi itu akan bersedia mengorbankan kenikmata duniawi yang dimiliki dan dirasakannya demi memperoleh kenikmatan ukhrawi itu.

Apa yang bisa kita lakukan sebagai bagian dari bangsa ini namun tak memiliki wewenang terhadap sistem hukum di negeri ini?

Hadirin rahimakumullaah, kita punya wewenang pada diri kita sendiri untuk berusaha keras menghindarkan diri dari korup dan suap. Kita juga memiliki wewenang pada orang-orang terdekat kita, orang-orang pada lingkaran terkecil kehidupan kita, keluarga.

Mari kita hindarkan diri dan keluarga kita dari perilaku dan kebiasaan korup serta suap. Utamanya, kita prioritaskan pada putra dan kerabat kita yang masih belum menyentuh dunia nyata bisnis dan organisasi, mereka para pelajar dan anak-anak. Kita biasakan sejak dini, kita biasakan dari hal-hal kecil, kita biasakan pada diri dan orang-orang terdekat kita.

Allaah Ta’aala berfirman dalam surat ar-Ra’du ayat 11

Sesungguhnya Allaah tidak mengubah suatu kaum sehingga mereka mengubah apa (sikap mental dan pikiran) yang ada pada diri mereka.

Kalau kaum itu adalah negara bangsa bernama Indonesia, maka yang harus berubah adalah diri dan keluarga kita masing-masing. Seorang ulama mengatakan, keluarga adalah jiwa masyarakat dan tulang punggungnya. Kesejahteraan lahir dan batin yang dinikmati oleh suatu bangsa, atau sebaliknya, kebodohan dan keterbelakangannya, adalah cerminan dari keadaan keluarga yang hidup pada masyarakat bangsa tersebut.

Hadirin rahimakumullaah, selain melakukan ikhtiar zhahir, yakni usaha nyata berupa pendidikan dan teladan pada diri sendiri, keluarga, dan masyarakat, sungguh indah jika masyarakat bangsa Indonesia, kita semua, ikut pula melakukan ikhtiar bathin, yaitu turut mendoakan bangsa Indonesia di antara lantunan dzikir dan munajat kita kepada Allaah Ta’aala.

Ada sebuah doa di dalam al-Qur`an, yang dalam pandangan saya pribadi makna doa tersebut sangat cocok dengan kondisi penegakan hukum negeri kita Indonesia tercinta.

Doa tersebut terangkai dalam kisah Nabi Syu’aib ‘AS yang umat beliau dihancurkan dengan gempa oleh Allaah Ta’aala karena kedurhakaannya. Doa tersebut termaktub dalam penutup ayat 89 surat ketujuh al-A’raaf:

Tuhan Pemelihara kami, hakimilah (putuskanlah) antara kami dan antara kaum kami dengan haq (kebenaran dan keadilan), dan Engkaulah sebaik-baiknya Hakim, Sang Pemberi Keputusan.

Mari bersama-sama kita masukkan doa tersebut dalam daftar doa harian kita, sebagai pengiring ikhtiar zhahir kita membangun diri pribadi yang terbaik, demi keluarga, masyarakat dan bangsa yang lebih baik, masyarakat dan bangsa yang semoga dinaungi oleh rahmat Allaah, dicurahi kasih Allaah , dan senantiasa dalam perlindungan Allaah Ta’aala. Amiin, ya Rabbal ‘alamiin.

Bahagia dengan Berimajinasi*

Menurut saya, berimajinasi itu boleh-boleh saja. Tentu saja kebolehan ini menuntut adanya syarat dan ketentuan. Yah, mirip-mirip iklan yang isinya wah lah, pasti ada tanda bintang kecil: “syarat dan ketentuan berlaku”.

Kemajuan informasi dan teknologi misalnya. Ia tak pernah lepas dari imajinasi. Sejak Icarus dari mitologi Yunani, kemudian Leonardo da Vinci dari zaman Renaissance, orang sudah berimajinasi untuk bisa mengarungi angkasa. Belum ada yang berhasil, hingga akhirnya Wright bersaudara membuka jalan terang bagi umat manusia untuk berjalan di udara. Pun dengan teknologi-teknologi lain yang sudah mapan sekarang, semua berawal dari imajinasi.

Sering saya berimajinasi, membayangkan sesuatu yang positif dan indah sedang terjadi pada diri saya atau sedang terjadi pada orang-orang yang saya sayangi. Beberapa imajinasi tersebut terjadi kemudian. Beberapa mirip, beberapa yang lain nyrempet-nyrempet, sedang beberapa yang lain tidak terjadi, atau mungkin lebih tepatnya adalah, belum terjadi.

Prof. Yohanes Surya dengan mestakung­-nya dan Rhonda Byrne dengan the secret-nya, saya kira ada benarnya juga. Secara umum, mestakung-nya Prof. Yohanes Surya adalah sistem semesta mendukung, yakni bahwa kesungguhan kita terhadap sesuatu pastilah akan didukung oleh semesta raya. Sementara Rhonda Byrne berteori bahwa ada hukum tarik menarik antara alam pikiran kita dengan semesta raya. Kedua teori ini sejalan dengan tentang imajinasi yang saya punyai.

***

Masih segar dalam ingatan saya, bagaimana bapak-ibu guru bimbingan konseling SMA dulu sering menyarankan agar kata-kata motivasi semacam lulus, masuk Jurusan xxx Universitas xxx, sukses, dan lain sebagainya, agar ditulis kemudian ditempel di berbagai tempat di sekitar kita, yang sering kita lihat, sehingga akan sering pula kita membaca kata-kata tersebut.

Seorang guru SMA saya yang lain, memberikan analogi dengan dirinya sendiri. Beliau pernah menginginkan sepeda motor, tetapi karena uang belum mencukupi maka beliau gunting gambar motor tersebut, kemudian diletakkan di dalam dompet, agar selalu nampak setiap beliau bertransaksi dengan uang.

Kedua contoh di atas adalah bentuk membangun imajinasi dalam meraih sebuah cita. Yah, konsepnya mirip mempengaruhi alam bawah sadar dengan memberikan asupan berupa memori yang sama dan terus menerus. Tentang alam bawah sadar ini teman-teman yang belajar psikologi bisa menjelaskan dengan lebih ilmiah.

Cara kerja imajinasi ini sebenarnya logis dan mudah dipahami. Sebagai ilustrasi, misalnya kita sedang ingin lulus SMA. Kita tulis kata lulus di lemari pakaian, di dekat cermin, di atas meja belajar, desktop PC dan laptop, wallpaper dan screensaver hp, serta tempat lainnya. Maka secara tidak sadar, dzikir kita adalah segala sesuatu tentang lulus, karena kata itulah yang paling sering kita lihat. Alhasil, aktivitas apapun yang sedang kita lakukan, pasti akan bisa kita kaitkan dengan ikhtiar menuju cita-cita lulus. Lebih jauh, ketika terminologi lulus ini sudah benar-benar menguasai diri kita, muncullah kreativitas untuk menarik benang merah antara yang sedang terjadi dengan diri kita sekarang dengan titik tujuan lulus. Terciptalah jalur-jalur menuju akhir perjalanan: lulus.

Peristiwa inilah yang dimaksud oleh Prof. Yohanes Surya sebagai semesta mendukung. Bahwa karena kesungguhan diri kita terhadap sebuah tujuanlah yang menghidupkan sel-sel kelabu kita (kata Hercule Poirot) untuk meretas jalan menuju akhir tujuan.

Dan peristiwa ini pula yang dimaksud oleh Rhonda Byrne sebagai hukum tarik menarik antara alam pikiran dengan semesta. Bahwa keseriusan kita dalam ikhtiar mencapai sebuah asa mampu bertransformasi menjadi medan magnet untuk menarik segala sesuatu di sekeliling kehidupan kita untuk menjadi sumber energi dalam safar kepada cita-cita.

Konsep imajinasi semacam ini yang sering disebut dengan optimisme dan kesungguhan. Berimajinasi, yakni membayangkan masa depan berupa keberhasilan cita-cita adalah mendesain masa depan, merencanakan jalannya kehidupan di masa yang akan datang, memandang positif kehendak Tuhan pada diri kita.

Dan imajinasi yang terus menerus tersebut mengantar kita pada fase berikutnya: kesungguhan. Kesungguhan akan mengundang kreativitas, bahwa sekalipun yang sedang kita alami adalah kesulitan, justru kita mampu memanfaatkannya sebagai anak tangga menuju tingginya cita.

***

Maka mari kita desain masa depan kita dengan mengimajinasikannya. Ada baiknya, jika kita bukan tipe orang yang berimajinasi dengan kontinyu (sebagai dzikir bagi alam bawah sadar), maka tulis atau gambarkan imajinasi tersebut, kemudian taruh di tempat-tempat yang sering terlihat oleh kedua mata kita. Imajinasi yang kuat akan menjadi pendamping kita menjalani kehidupan: hidup yang optimis, hidup yang penuh kesungguhan.

Tak ada yang tak mungkin bagi makhluk tersempurna seperti kita, selama kita menggantungkan imajinasi tersebut kepada Sang Maha-sempurna: Tuhan.

Kampus JTF UGM, 25 Juni 2012, 15:00,

Ahmad Rahma Wardhana bin Suwarno

Sumber gambar

http://chimanx.files.wordpress.com/2011/04/spongebob__imagination_by_kssael.png

http://2.bp.blogspot.com/-5xW_0lT_2OA/Twv3GvYlttI/AAAAAAAAAhQ/0N5APOo4mVc/s1600/Da-Vinci-Airplane.jpg

http://www.ipmsstockholm.org/magazine/2003/12/images/photo_wright_2.jpg

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/thumb/0/02/TheSecretLogo.jpg/200px-TheSecretLogo.jpg

Kicau: #kebaikan

dua hari terakhir, hati saya terganggu oleh sebuah pertanyaan aneh tentang #kebaikan.

seseorang bertanya kepada saya tentang #kebaikan yang menrutnya tak pernah ia lakukan kepada saya. benarkah itu?

Benarkah “ia” tidak melakukan #kebaikan kepada saya? Atau memang saya harus menuliskannnya (kembali) satu persatu?

#kebaikanmu adalah mau mendengarku pada awal perjumpaan kita

#kebaikanmu adalah engkau memenuhi harapku untuk duduk pada di sebuah posisi. Terlepas dari motif apapun yang menjadi pijakanmu, engkau telah memenuhinya!

#kebaikanmu adalah (pernah) setia di ujung telepon mendengar ocehanku, meski pada akhirnya aku tahu sesungguhnya engkau tak mau mendengarnya

#kebaikanmu adalah mau bekerja bersama aku yang sedikit pengalaman ini, dalam sebuah perhelatan agung.

#kebaikanmu adalah mau menegurku dengan baik, demi kebaikan banyak orang, demi suksesnya perhelatan agung tersebut.

#kebaikanmu adalah menyadarkanku terhadap kesalahanku hingga pecah tangisku, demi suksesnya perhelatan agung tersebut.

#kebaikanmu adalah perkenananmu menerima kehadiranku di antara waktumu yang begitu sempit, meski hanya beberapa detik

#kebaikanmu adalah menerima apa yang kuberikan kepadamu dengan penuh ridla. (ingat, ada tipe org yang menerima tetapi tidak dengan ridla).

#kebaikanmu adalah mempercayaiku untuk menjadi pendengar kisah-kisahmu. ini adalah salah satu #kebaikanmu terbesarmu!

dan #kebaikan terbesarmu adalah mempercayaiku sebagai pembantu dalam memohonkan doa-doamu kehadirat-Nya.

demikian, sedikit di antara #kebaikanmu kepada diriku. masihkah kau menyangkal dengan redaksi “tak pernah berbuat baik”?

aku bersyukur masih dikaruniai ingatan untuk mengingat #kebaikan orang lain, utamanya #kebaikan darimu. jgn menyangkal. please!

demikian curahan hati saya yang terpendam beberapa hari terakhir. tentang #kebaikan seseorang kepada diriku. #the_end

Mahasiswa NU di Kampus Umum: Paripurna Persiapannya

Tulisan ini adalah penulisan ulang sambutan lisan yang saya sampaikan pada pemberangkatan rombongan KMNU UGM yang berziarah ke waliyullaah di Jawa Tengah, Jumat 11 November 2011.

Saya kaget saat kemarin mendengar berita tentang seorang Harry Tanoesoedibjo yang menyatakan diri bergabung dengan Partai NasDem. Artinya NasDem sudah mempunyai empat corong media, Metro TV, Global TV, RCTI, dan MNC TV. Pak Aburizal Bakrie ada dua TV, ANTV dan TV One. Pak SBY, setahu saya masih didukung oleh Pak Chairul Tanjung melalui Trans TV dan Trans 7-nya. Pada Pemilu 2009 kemarin nampak sekali keberpihakannya. Sedangkan SCTV sendiri sekarang memiliki 84% saham di Indosiar, yang keberpihakan politiknya menurut saya pribadi belum begitu nampak arahnya.

Pertanyaannya, di mana media yang menyiarkan suara-suara NU? Alhamdulillaah Gus Mus dan Kang Aqil Siradj sudah kersa menggunakan twitter dan facebook. Begitupun dengan PBNU yang gencar menggunakan internet sebagai media penerbitan berita-berita ke-NU-an. Namun itu kan masih kurang. Padahal media massa adalah salah satu pembentuk opini publik yang paling efektif.

Nah, sebelum melanjutkan ke pembahasan masalah media, saya ingin mengatakan bahwa kita adalah salah satu generasi bangsa yang terbaik. Kita adalah umat NU, Nahdlatul ‘Ulama, yang sudah seharusnya kuat iman dan takwa, luas dan dalam pengetahuan keberagamaannya, pintar ilmu akhiratnya. Di sisi lain, kita juga adalah cendekiawan di berbagai bidang keilmuan, dari berbagai kampus. Ada UGM, UNY, UIN, UII, AMIKOM, Kedokteran, Pertanian, Teknik, MIPA, Komunikasi, Politik Pemerintahan, Biologi, dan lain-lain. Ilmu akhirat bisa, ilmu dunia kita juga bisa. Apa yang belum kita punya?

Banyak para pembesar kita bagus keilmuannya, bagus pengetahuan agamanya. Tapi nyatanya banyak pula yang terjerat integritasnya, sebagaimana kita saksikan di media: korupsi, suap, dan semacamnya yang masih merajalela.

Maka, KMNU UGM adalah wadah yang tepat bagi kita untuk menguatkan sisi keagamaan kita, sisi spiritual kita. Ziarah Waliyullaah Jawa Tengah ini adalah salah satu contohnya. Menempa iman dan takwa. Mempertebal kesungguhan dalam beragama. Mendekatkan diri kepada Allaah Ta’aala, agar menjadi hamba-Nya yang paripurna imannya. Menjaga idealisme dalam kebaikan dan kebenaran agar senantiasa kokoh di dalam jiwa raga kita.

Di sisi yang lain, kita semua yang berasal dari berbagai kampus, UGM, UNY, UIN, UII, AMIKOM. Dari beragam jurusan, berbagai program studi, berbagai bidang keilmuan, mari tekuni dengan sempurna bidang keilmuan kita masing-masing, sehingga mencapai derajat seorang pakar.

NU sebenarnya tidak pernah kekurangan ahli dan pakar di semua bidang keilmuan, hanya saja kemampuan manajerial kita memang masih lemah. Buktinya, saat ini setidaknya ada 118 kader muda NU lintas ilmu. NU-nya membawa konsekuensi iman-takwa, penguasaan nilai spiritual dan ranah akhirat. Kampus dan jurusannya membawa konsekuensi kepakaran, seorang cendekiawan di ilmu dan ranah keduniaan. Katakanlah, kader yang seimbang dunia-akhiratnya. Hanya saja NU belum mampu mengaturnya. Ya, kemampuan manajerial kita masih kurang.

Kesempatan berhimpun di KMNU ini adalah untuk memoles dua sisi kehidupan kita agar menjadi semakin sempurna. Bidang keagamaan diasah, bidang keilmuan kampus tetap dikejar. Bonusnya adalah insya-Allaah kita semua secara otomatis akan menciptakan jaringan kebajikan yang saling menguatkan satu dengan yang lainnya, saling mengingatkan satu dengan yang lainnya.

Kalau NU sampai sekarang belum mempunyai media untuk menyuarakan aspirasi dan prestasinya, maka menjadi tugas kitalah untuk mengisinya. Bagi yang ahli menulis, mari suarakan aspirasi dan prestasinya lewat tulisan. Bagi yang sering berprestasi, marilah berprestasi. Mari kita isi media dengan suara kita, suara aspirasi warga NU.

Kita berasal dari banyak daerah. Jawa Barat-Tengah-Timur, Jakarta, Sumatera, Kalimantan, dan wilayah-wilayah nusantara lain. Kelak, kita yang insya-Allaah paripurna kesungguhannya dalam menjaga keseimbangan keilmuan dunia-akhiratnya, mau beraksi, berbuat, dan bekerja di lingkungan kehidupan kita. Mau berprestasi di masyarakat sekitar kita, maka siapapun Presidennya, siapapun menterinya, siapapun gubernur, bupati, atau walikotanya, masyarakat tetap akan selalu tersenyum bahagia karena sentuhan hati dan tangan kita, atas nama pribadi masing-masing, atas nama NU.

Saya beri contoh. Di majalah Energi edisi Okober 2011, ada satu artikel menarik berjudul “Kiai Nyamplung”. Seorang kiai yang pernah nyantri di Pesantren Ciganjurnya Gus Dur, sukses membuat usaha biodiesel, solar yang berasal dari biji buah nyamplung. Beliau mendirikan laboratorium di Bantul dan Kebumen, sekaligus membeli biji nyamplung di sepanjang Kebumen sampai Kroya. Hasilnya, bermanfaat bagi para petani yang dibeli nyamplung-nya, bermanfaat bagi orang banyak karena menghasilkan solar yang hijau alias ramah lingkungan.

Contoh prestasi yang membawa manfaat nyata dari sang Kiai Nyamplung. Namun sayang kurang terekspos karena keterbatasan kita sebagai warga NU ke media massa yang besar.

Benar adanya, kita harus menjaga nilai-nilai tradisi sunnah yang sering sekali keliru dianggap bid’ah. Benar adanya, kita harus melestarikan ziarah dan maulid, tahlil dan wirid, serta shalawat. Tapi tugas kita yang lebih mulia, sebagai bentuk tanggung jawab mengemban ilmu umum adalah menggunakan ilmu tersebut untuk kemaslahatan umat. Bermanfaat bagi umat akan lebih menyentuh mereka, sebagaimana dakwah NU yang selama ini memang menyentuh hati umat, bil hikmah wa ma-u-izhatil hasanah.

Media bukanlah tujuan, tetapi alat kita untuk menyuarakan aspirasi dan prestasi, agar mampu menjadi energi pendorong bagi diri kita untuk terus menerus beraksi, bertindak, dan berbuat demi kemaslahatan umat, bermanfaat bagi orang lain. Mari berprestasi untuk masyarakat, atas nama pribadi dan NU, demi kejayaan Indonesia.

Sekali lagi, mari berziarah sebagai upaya spiritual kita, yang sesudahnya nanti untuk tetap berhimpun di KMNU agar menjaganya tetap bersemayam di dalam diri kita. Kemudian dengan tetap tekun menempuh bidang keilmuan kita hingga mencapai maqam pakar keilmuan. Maka paripurnalah persiapan kita untuk menjadi generasi muda NU yang siap terjun ke masyarakat nusantara Indonesia. Insya-Allaah.

Kresna Duta dan Indonesia, Awal Bharatayudha Jayabinangun Abad XXI-kah?

Wayang dan Kehidupan

Sering sekali muncul kemiripan antara kehidupan nyata dengan kisah-kisah di dunia pewayangan. Selain kisah wayang merupakan kesenian-kebudayaan yang sengaja dibuat sebagai pelajaran kehidupan, ada teori bahwa kisah pewayangan asli versi India adalah fakta-fakta sejarah yang pernah terjadi.

Ki Anom Sucondro, seorang dalang muda dari Kulonprogo pernah dalam pentasnya pernah mengatakan bahwa budaya yang populer saat ini adalah budaya instan yang tidak mendidik. Artinya, budaya tersebut tidak membawa penikmatnya untuk berpikir dan merenung. Berbeda dengan wayang yang penuh dengan simbol-simbol, perlambangan, serta nilai dan filosofi kehidupan, kesemuanya menuntut penikmatnya agar menggalih tontonan wayang, sedemikian rupa sehingga mampu bertransformasi menjadi tuntunan, pedoman hidup.

Ada sebuah lakon pewayangan masyhur yang menurut saya adalah gambaran tentang peristiwa yang saat ini sedang tercermin dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Dalam pemikiran saya, boleh jadi jalannya kehidupan Indonesia akan sama persis dengan lakon wayang tersebut, jika sikap kita sama persis dengan kisah di dalamnya. Padahal, ending dalam lakon itu adalah awal dari kisah pilu umat manusia: perang saudara.

Sekelumit Jalannya Cerita Kresna Duta

Kresna Duta, secara harfiah bermakna seorang bernama Kresna yang ditugaskan menjadi utusan. Yakni utusan alias duta bagi Pandawa untuk menghadap Kurawa. Adalah Pandawa (5 bersaudara) dan Kurawa (100 bersaudara), saudara sepupuan, ayah keduanya kakak-beradik. Pandawa dikenal sebagai pribadi yang baik, sedangkan Kurawa terkenal karena perangai buruknya.

Saat generasi Pandawa dan Kurawa digariskan memimpin sebuah negara, muncullah berbagai konflik. Dalam konflik ini Pandawa-lah yang selalu mengalah. Mengalah bukan karena kalah, tapi kebaikan hati dan prasangka baik Pandawalah yang bertindak saat menghadapi konflik-konflik itu. Pandawa ingin mendidik Kurawa bahwa keburukan pada akhirnya akan tunduk pada kebaikan.

Hingga pada suatu saat, telah selesai kewajiban yang harus dijalani Pandawa dalam kekalahannya melawan Kurawa. Dan mengutuslah Pandawa seorang raja besar bernama Kresna agar menemui Kurawa menyampaikan habisnya masa kewajiban tersebut, sekaligus agar Kresna meminta pengembalian hak-hak Pandawa yang dirampas oleh Kurawa selama Pandawa menjalani kewajiban –karena kekalahan.

Begitu Kresna tiba di depan Kurawa dan menyampaikan tujuan kedatangannya, di luar dugaan, Duryudana (Kurawa yang paling tua) berkenan memenuhi permintaan Pandawa –melalui utusan seorang Kresna– dan berjanji untuk mengembalikan semua hak Pandawa. Hal ini disampaikan Duryudana di depan para pembesar negerinya, para dewa, dan ayah-ibunya yang menjadi saksi petemuan tersebut.

Sesudah sabda Duryudana untuk memberikan kembali hak Pandawa terdengar, pergilah para dewa sekaligus ayah-ibunya. Pergi dengan kelegaan karena damainya Pandawa dengan Kurawa. Namun, sesaat seusai para dewa serta ayah-ibunya meninggalkan majelis itu, tiba-tiba Duryudana menarik kembali semua ucapannya. Bahkan ia sampai bersumpah tidak akan memberikan apapun yang sudah di tangannya, meskipun sebenarnya bukan haknya, serta mempertahankannya sampai titik darah penghabisan.

Mendengar hal itu Kresna kemudian marah. Kemarahannya, sebagaimana biasanya, mengubah wujud Kresna menjadi raksasa yang siap menghancurkan apapun yang ingin ia hancurkan. Beruntung ada seorang dewa yang kembali ke bumi dan menenangkannya. Kembalilah Kresna ke wujud manusianya dan langsung meninggalkan Kurawa.

Brahala – Triwikrama

Akhir kisah Kresna Duta adalah genderang perang Bharatayudha. Kurawa yang dengan damai tidak berkenan mengembalikan hak Pandawa, maka jalan terakhir adalah Pandawa harus merebutnya dengan kekerasan, sebuah perang. Perang yang tentu saja selalu mengorbankan mereka yang lemah dan tak bersalah. Menewaskan mereka yang tak tahu menahu sebab musababnya. Mengadu persaudaraan menjadi permusuhan.

Bharatayudha Jayabinangun Abad XXI?

Melihat apa yang sering terjadi saat ini di Indonesia, kok menurut saya mirip dengan lakon Kresna Duta ya? Kejahatan dan perilaku bobrok sebagian pembesar negeri sudah ditampakkan oleh sebagian pembesar yang lain. Korupsi dibongkar, kelakuan tidak pantas dibeberkan, pejabat terbukti bersalah di pengadilan, rekayasa-rekayasa terungkap, dan seterusnya, dan sebagainya, dan lain-lain. Akan tetapi sungguh menakjubkan, bahwa perilaku semacam itu kenapa masih terus terjadi? Apakah pengungkapan-pengungkapan yang terus menerus terjadi tidak menyadarkan mereka (yang bobrok dan jahat)?

Bahasa wayangnya, Kresna sudah meminta kembali hak Pandawa. Kresna menampakkan kebenaran, menunjukkan mana yang benar mana yang salah. Tetapi ditolak mentah-mentah oleh Kurawa. Kejahatan tetap jalan, perampasan jalan terus, teriakan kebenaran tak dipedulikan. Satu-satunya jalan keluar adalah kebenaran harus merebut haknya, meski dengan kekerasan. Perang. Perang saudara. Pandawa yang lima dan sekutunya harus berbunuhan dengan saudara sepupunya sendiri, Kurawa yang seratus beserta sekutunya.

Semirip itukah kondisi di Indonesia saat ini? Munculnya kebenaran akankah kita biarkan saja, sehingga kejahatan tetap merajalela hingga munculnya perang saudara atas nama menegakkan kebenaran? Apakah pembiaran kita akan menjadi akhir dari masa damai dan awal dari masa perang? Awal Bharatayudha Jayabinangun Abad XXI-kah?

Silakan kita tafsirkan sendiri-sendiri dengan hati dan pikiran yang jernih, sembari terus menerus menempa diri agar kita menjadi seorang yang mampu istiqamah menjaga idealisme kebaikan, lintas ruang dan waktu.

Blunyah Gede, Rabu 16 November 2011, 20:10 WIB,

Ahmad Rahma Wardhana.

Kicau: #rindu

Setelah sekian hari tidak berkicau, saya akan kembali mencurahkan sebagian isi hati lewat hashtag #rindu

Aku akan me-#rindu-kanmu, 스물여섯-062011 dan 열셋-102011. Sangat #rindu.

Berkali kutatap masa depanku yg –tentu saja- mencakup ke-#rindu-anku kepadamu. Oase di tengah harap berjumpa denganmu.

Masa depan tsb adl adanya hari-hari rutin di mana kita mampu berjumpa, melepas #rindu.

Sebuah perjumpaan di mana kisah & cerita terungkap, cita terlisankan. Dan sejak itu doa terucap dr hatiku untukmu, sbg kelanjutan #rindu-ku

Mungkin engkau tahu, tp mungkin pula engkau tak tahu dan tak pernah tahu. Yg pasti, setiap perpisahan kita adl mjd sebuah awal bg #rindu-ku

Doaku –sbg wujud #rindu-ku- insya-Allaah tak akn pernah lupa sepanjang hayatku. Sbgmn hari ini engkau memintanya kpd-ku, ttg sebuah harapan

Harapan utk tidak mjd sesuatu pd sebuah suatu maqam, demikian ucapmu. #rindu

Akan kujawab dg doaku, semoga Allaah memberikan yg terbaik bagimu. #rindu

Tp tahukah engkau? Banggalah aku, jika saja kelak engkau mampu mencapai maqam tsb. #rindu

Meski harapku, sbgmn harapmu, smg engkau tak pernah mencapainya. Krn maqam tsb akan menjauhkanku dg-mu. #rindu-ku semakin sulit dipenuhi!

Sejak engkau mencapai maqam yg skrg kau berada, aku sdh pernah menatap masa depan-mu ttg maqam yg –mungkin- kelak akan kau capai. #rindu

Aku melihat, engkau berada di maqam tsb. Berjaya di antara para pendukungmu, dg aku berada di dekatmu, memimpin pembacaan doa. #rindu

Doaku adl smg yg terbaik untukmu. Itulah obat #rindu-ku kepadamu.

Sebuah ke- #rindu-an, yg sesungguhnya hanya bisa terobati oleh sebuah perjumpaan. 스물여섯-062011 dan 열셋-102011, aku #rindu. #the_end

Ndalem Blunyah, Jumat 14 Oktober 2011,

Ahmad Rahma Wardhana

Doa Hasan al-Bishri dan Sayyidah ‘Aisyah – Pembuka Doa untuk Mencapai Ijabah

Gunakan kalimat-kalimat pujian kepada Allaah Ta’aala di bawah ini sebagai pembuka doa Anda. Perhatikan maknanya, hunjamkan dalam qalbu tepat saat lisan Anda mengucapkannya. Utamanya, pada pujian-pujian kehadirat Allaah Ta’aala yang maknanya sedang berjodoh dengan masalah Anda.

🙂

Raih ijabahnya, insya-Allaah

*berikut ini dikutip dari Bonus Majalah alKisah Edisi 10/2009 – Doa Para Sufi*

Doa Hasan al Bashri

untuk memperoleh keterbukaan dari kesulitan, diriwayatkan oleh ad-Dinawari dalam al-Mujalasah. Gunakan dalam awal dan pembuka rangkaian doa, sebagai bagian dari memuji Allaah SWT.

doa HB-Aisyah 1 doa HB-Aisyah 2 doa HB-Aisyah 3

Doa Sayyidah ‘Aisyah

Untuk melepaskan kesulitan, dari kitab Ruh al-Ma’ani karya al-‘Allamah alAlusi, dari Tarikh Baghdad, disebutkan oleh Ibnu an-Najar yang riwayat sanadnya sampai Anas. Baca dalam awal rangkaian doa, dengan penuh penyerahan diri kehadirat Allaah SWT.

doa HB-Aisyah 4 doa HB-Aisyah 5

Download Teks PDF:

Versi 1

Versi 2

____

Selamat mencapai puncak kenikmatan seorang hamba yang berdoa, yakni doa yang bukan hanya sebatas gerak lidah dan bibir namun juga mampu mencapai dalamnya jiwa serta mampu bertransformasi menjadi optimisme dalam amal perbuatan.

Amin.

Ndalem Blunyah, 12 Oktober 2011, 13:16 WIB,

(Diedit di PSE UGM, 11 Juni 2015, 15:33 WIB)

Ahmad Rahma Wardhana.