Menjalin Persaudaraan Antar-manusia

Disampaikan dalam Khatbah Idul Fitri 25 Juni 2017 di Dusun Pragak-Bendorejo, Semanu, Gunungkidul. Teks lengkap dalam format pdf (termasuk muqaddimah dan doa penutup beserta maknanya dalam bahasa Indonesia) dapat diunduh di sini.

Jamaah Shalat ‘Idul Fitri yang dimuliakan Allaah SWT, alhamdulillaah, segala puji hanya pantas dimiliki oleh Allaah Ta’aala, yang masih berkenan memberikan kepada kita kenikmatan agung untuk bertemu kembali dengan Ramadlan, menyelesaikan Ramadlan, dan bertemu di Hari Raya Kemenangan yang penuh dengan keberkahan ini. Shalawat serta salam semoga tetap dan terus tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat, serta, pengikut beliau, insya-Allaah termasuk kita semua. Aamiin, allaahumma aamiin.

Hadirin rahimakumullaah.

Nikmat pertemuan dengan Ramadlan harus benar-benar kita syukuri, agar Allaah Ta’aala melipat-gandakan nikmat tersebut, yakni semoga memberikan kesempatan kepada kita untuk bertemu dengan Ramadlan-Ramadlan di tahun berikutnya. Sesuai dengan firman Allaah Ta’aala yang masyhur tentang bersyukur (QS Ibrahim ayat 7),

Sama halnya dengan dua nikmat lain, yang kita kebanyakan lupa dan terlena, karena kehadiran nikmat tersebut yang berlangsung hampir setiap saat. Kanjeng Nabi SAW bersabda (HR at-Thabrani dari Ibnu ‘Abbas),

Dalam berbagai kesempatan, di setiap Ramadlan dan sesudahnya, saya selalu mengingatkan betapa aman dan nyamannya kita beribadah sebagai umat Islam di Indonesia. Kadang nikmat ini, yakni termasuk nikmat keamanan sebagaimana Nabi SAW sampaikan, lupa untuk kita syukuri.

Munculnya peledakan di Kampung Melayu yang diklaim didalangi oleh ISIS sudah sepantasnya meningkatkan kewaspadaan kita terhadap nikmat keamanan, yang jangan-jangan kita lupa mensyukurinya. Mari kita bercermin pula pada munculnya ISIS di Filipina, negara yang sangat dekat dengan Indonesia. Pun dengan berbagai persitiwa yang diklaim didalangi oleh ISIS lainnya di berbagai belahan dunia: peledakan bom di Baghdad (Irak) dan Kabul (Afghanistan), serangan mematikan di London (Inggris).

ISIS adalah ancaman nyata bagi umat Islam, karena pada nyatanya korban terbesar kekejian mereka selama ini adalah umat Islam sendiri. Irak dan Afghanistan adalah negeri kaum muslimin. Sementara di London, serangan yang secara kurang ajar mengatas-namakan Islam tersebut berakibat pada dilecehkannya beberapa saudara kita sesama muslim di sana, yang dianggap sama dengan ISIS.

Ketika mereka terdesak di Timur Tengah, ISIS mencari cara lain untuk menyebarkan ajaran sesatnya: melalui kelompok-kelompok radikal di luar Timur Tengah. Sayangnya, ada sebagian putra bangsa Indonesia yang justru menganggapnya ancaman nyata ini sebagai rekayasa semata.

Hadirin sekalian, yang insya-Allaah penuh dengan curahan rahmat Allaah SWT, pada pagi hari ini kita akan bersama-sama sedikit membahas apa perbedaan Islam yang sesungguhnya dengan ajaran sesat semacam ISIS. Kalau ISIS membunuh setiap yang berbeda dengan mereka, bahkan sesama muslim pun mereka bunuh karena berbeda pandangan, maka Islam yang sesungguhnya tidak demikian. Islam yang sesungguhnya justru mewujudkan persaudaraan antar-sesama manusia, bukan hanya sesama muslim saja.

Salah satu faktor penunjang utama dalam menegakkan persaudaraan di antara umat manusia adalah adanya persamaan. Persamaan rasa dan cita –cita merupakan faktor dominan yang mendahului lahirnya persaudaraan hakiki, dan pada akhirnya menjadikan seseorang merasakan derita saudaranya, mengulurkan tangan sebelum diminta, serta memperlakukan saudaranya bukan atas dasar take and give (memberi dan menerima), bukan atas dasar aku memberi orang lain apa, dapat imbal balik apa, sebagaimana orang berdagang, tetapi justru

Keberadaan manusia sebagai makhluk sosial, perasaan tenang dan nyaman pada saat berada di antara sesamanya, dan dorongan kebutuhan ekonomi merupakan faktor-faktor penunjang yang akan melahirkan rasa persaudaraan.

Hadirin rahimakumullaah.

Untuk memantapkan persaudaraan, Al-Quran menggarisbawahi bahwa perbedaan adalah hukum yang berlaku dalam kehidupan ini. Selain perbedaan tersebut merupakan kehendak Ilahi, juga demi kelestarian hidup, sekaligus demi mencapai tujuan kehidupan makhluk di pentas bumi.

Seandainya Tuhan menghendaki kesatuan pendapat, niscaya diciptakan-Nya manusia tanpa akal budi seperti binatang atau benda-benda tak bernyawa yang tidak memiliki kemampuan memilah dan memilih, karena hanya dengan demikian seluruhnya akan menjadi satu pendapat.

Dari sini, seorang Muslim dapat memahami adanya pandangan atau bahkan pendapat yang berbeda dengan pandangan agamanya, karena semua itu tidak mungkin berada di luar kehendak Ilahi. Allaah berfirman,

Sungguh, tidak pantas bagi kita untuk memaksakan kehendak agar semua manusia mau menjadi orang yang beriman. Karena demikianlah Allaah yang gariskan bagi kita, untuk menjadi pelajaran dan pembeda, mana yang taat dan mana yang tidak taat.

Lebih dari itu, untuk menjamin terciptanya persaudaraan dimaksud, Allah SWT memberikan beberapa petunjuk sesuai dengan jenis persaudaraan yang diperintahkan, baik kaitannya dengan persaudaraan secara umum maupun persaudaraan seagama Islam.

  1. Untuk memantapkan persaudaraan pada arti yang umum, Islam memperkenalkan konsep khalifah. Manusia diangkat oleh Allah sebagai khalifah (wakil Allaah di muka bumi). Kekhalifahan menuntut manusia untuk memelihara, membimbing, dan mengarahkan segala sesuatu agar
    mencapai maksud dan tujuan penciptaannya. Karena itu, Nabi Muhammad SAW melarang memetik buah sebelum siap untuk dimanfaatkan, memetik kembang sebelum mekar, atau menyembelih binatang yang terlalu kecil. Nabi Muhammad SAW Juga mengajarkan agar selalu bersikap bersahabat dengan segala sesuatu sekalipun terhadap benda tak bernyawa.

Kaitannya dengan tugas sebagai wakil Allaah di muka  bumi, Allaah Ta’aala mengajarkan kita nama-nama benda semuanya atau dapat ditafsirkan sebagai penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, Allaah berfirman di dalam surat al-Baqarah ayat 31,

Al-Quran menggunakan istilah pengajaran dari Allaah, dan tidak mengenal istilah “penaklukan alam”, karena secara tegas Al-Quran menyatakan bahwa yang menaklukkan alam untuk manusia adalah Allah (QS 45: 13). Secara tegas pula seorang Muslim diajarkan untuk mengakui bahwa ia tidak mempunyai kekuasaan untuk menundukkan sesuatu kecuali atas penundukan Ilahi. Sehingga, termasuk saat berkendaraan seorang Muslim dianjurkan membaca,
 photo menjalin-7_zps9jsvs4gn.png
Hadirin rahimakumullaah.

  1. Untuk persaudaraan antarpemeluk agama, Islam mengajarkan ajaran,

 photo menjalin-8_zpsucfj2lzr.png
Al-Qur`an juga menganjurkan agar kita mencari titik singgung dan titik temu antar-pemeluk agama, serta apabila tidak ditemukan persamaan hendaknya masing-masing mengakui keberadaan pihak lain, tidak perlu saling menyalahkan.
menjalin-9
Ayat tersebut mendorong adanya titik temu dan titik singgung di antara agama-agama, yakni keimanan kepada Allaah yang murni atau ketauhidan. Ketika ketauhidan tak tercapai menjadi kesepakatan bersama, maka kembali ke ajaran agama masing-masing, dengan tetap saling menghormati satu sama lain.

Selain itu, ada titik temu dan titik singgung lain di antara semua agama dan peradaban, yang sering kita sebut dengan kebaikan universal.

Semua agama menganggap perbuatan mencuri sebagai keburukan, maka bersama-sama antar-pemeluk agama memberantas korupsi adalah bentuk nyata persaudaraan antar-umat beragama.

Semua agama menganggap perbuatan berbagi harta kepada yang orang miskin sebagai kebaikan, maka bersama-sama antar-pemeluk agama, berikhtiar membantu mengentaskan kemiskinan adalah bentuk nyata persaudaraan antar-umat beragama.

Alangkah indahnya, jika persaudaraan antar-manusia, antar-pemeluk beragama mampu mewujudkan kemuliaan tersebut, setidaknya dalam memberantas kejahatan korupsi dan pengentasan kemiskinan di Indonesia kita tercinta.

Hadirin rahimakumullaah.

Persaudaraan antara Muslim dengan non-Muslim sama sekali tidak dilarang oleh Islam, selama pihak lain menghormati hak-hak kaum Muslim. Allaah Ta’aala berfirman di dalam surat al Mumtahanah [60] ayat 8:
menjalin-10
Ayat ini turun berkenaan dengan Asma’ binti Sayyidinaa Abu Bakar RA yang tidak mau menerima hadiah dari ibunya karena saat itu ibunya belum memeluk Islam. Allaah Ta’aala ingatkan perbuatan tersebut dengan ayat ini: kepada yang tidak seagama, tak ada larangan berbuat baik, berbuat adil, termasuk memberikan sebagian harta, selama tidak memusuhi karena agama atau mengusir dari tanah air/kampung halaman.

Begitu pula ketika salah seorang sahabat Nabi SAW yang pada mulanya telah terbiasa memberikan bantuan kepada non-Muslim, bermaksud menghentikan bantuan tersebut. Alasannya, dengan dihentikannya bantuan, dia yang biasa diberi akan membutuhkannya, mencari dirinya, dan kemudian mau memeluk Islam.

Maksud para sahabat ini dengan tegas dilarang, melalui al-Qur`an surat al-Baqarah ayat 272,
menjalin-11
Dengan kata lain, ayat ini adalah tamparan bagi kita semua, karena seolah Allaah mengingatkan kita semua: Janganlah mengaitkan hadiah atau bantuan dengan keimanan dan kekufuran, tetapi pemberian itu semata demi persaudaraan atau kemanusiaan.

Hadirin rahimakumullaah.

  1. Untuk memantapkan persaudaraan antar-sesama Muslim, al-Qur`an pertama kali menggarisbawahi perlunya menghindari segala macam sikap lahir dan batin yang dapat mengeruhkan hubungan di antara sesama muslim.

Setelah menyatakan bahwa orang-orang Mukmin bersaudara, dan memerintahkan untuk melakukan ishlah (perbaikan hubungan) jika seandainya terjadi kesalahpahaman di antara dua orang (kelompok) kaum Muslim, Al-Quran memberikan contoh-contoh penyebab keretakan hubungan sekaligus melarang setiap Muslim melakukannya,
menjalin-12
Ayat berikutnya di surat yang sama, al-Hujurat 12, memerintahkan orang Mukmin untuk menghindari prasangka buruk, tidak mencari-cari kesalahan orang lain, serta melarang menggunjing, yang diibaratkan oleh al-Quran bagaikan memakan daging saudaranya sendiri yang telah meninggal dunia. Pada umumnya contoh-contoh tersebut berkaitan dengan sikap kejiwaan, atau tercermin misalnya dalam hadis Nabi SAW yang diriwayatkan oleh keenam ulama hadis, kecuali An-Nasa’i, melalui Abu Hurairah,
menjalin-13
Mengapa Allaah Ta’aala perintahkan sikap-sikap yang berkaitan dengan kondisi kejiwaan? Karena sikap batiniahlah yang melahirkan
sikap lahiriah. Lisan yang suka berkata kotor, muncul karena di dalam hatinya tersimpan kumpulan kekotoran. Tangan, wajah, dan kaki yang diarahkan kepada aktivitas keji dan kejam, sungguh karena di dalam hatinya terkumpul tumpukan kekejian dan kekejaman yang sama. Maka Islam menegaskan: perbaiki sikap kejiwaanmu, maka kesungguhanmu memperbaiki hati, akan tercermin di lisan dan perbuatanmu.

Hadirin rahimakumullaah.

Demikianlah uraian persaudaraan yang dianjurkan dalam Islam menurut al-Qur`an, baik persaudaraan secara umum, persaudaraan kepada non-Muslim, serta persaudaraan dengan sesama Muslim. Sebagai penutup, akan kami sampaikan beberapa hadits Nabi SAW yang mendorong persaudaraan antarmanusia.

Nabi SAW menekankan pentingnya misi kemanusiaan dalam Islam, melalui sabda beliau (HR ath-Thabrani),
menjalin-14
Di sabda Nabi SAW yang lain, terdapat sebuah hadits yang bermakna sama, bahkan ditambah dengan perintah lain yang lebih indah. Beliau SAW bersabda (HR Baihaqi),
menjalin-15
Inilah indahnya Islam yang sesungguhnya, bahwa sesudah iman kepada Allaah, maka wujud nyata keimanan harus ditujukan kepada sesama makhluk, terutama manusia, yang bahkan kepada mereka yang durjana pun, kita diperintahkan untuk berbuat baik.

Hadirin rahimakumullaah.

Mengapa berbuat buruk kepada pendosa dilarang? Mengapa mencaci seseorang yang berbuat dosa dilarang? Sebagaimana dikisahkan sebuah hadis (HR al-Bukhari dari Abu Hurairah RA), bahwa seorang laki-laki yang menenggak minuman keras dihadapkan kepada Nabi Muhammad SAW, Abu Hurairah berkata,
menjalin-16
Menghukum seseorang sesuai dengan norma yang berlaku itu harus. Tetapi mencaci-maki sang pelanggar atau mengutuk hingga melaknatnya, sungguh dilarang oleh Nabi Muhammad SAW. Bahkan oleh Nabi SAW disamakan dengan memberikan pertolongan kepada setan!

Mengapa demikian? Karena tujuan syaithan menggoda manusia adalah untuk menjerumuskan kita kepada neraka; sehingga ketika kita sebagai manusia melakukan laknat kepada sesama manusia, mengutuk sesama manusia agar Allaah membenci, bahkan berharap para pendosa masuk ke neraka, apa bedanya kita dengan syaithan? Inilah maksud Nabi Muhammad SAW dengan memberikan pertolongan kepada syaithan.

Hadirin rahimakumullaah.

Nabi Muhammad SAW bersabda (HR ad-Dailami dari ‘Aisyah),

menjalin-17

Inilah tugas kita dalam ikhtiar bersama menjadi wakil Allaah Tabaraka wa Ta’aala di muka bumi: mengajak manusia ke arah yang lebih baik dengan kata-kata, teladan, dan doa, dengan penuh kelembutan sebagai bentuk implementasi rasa cinta kepada sesama manusia. Bahkan kelembutan pada manusia sama fardlunya dengan kewajiban-kewajiban lain di dalam agama.

Tentu saja, tidak ada paksaan dari kita, apakah yang kita ajak mau ikut atau tidak. Bagaimanapun juga, datangnya hidayah, hadirnya petunjuk ke dalam hati seorang manusia bukan di tangan kita, tapi sepenuhnya merupakan kuasa Allaah SWT. Bahkan Nabi Muhammad SAW-pun tidak berhasil membuat pamannya Abu Thalib mengucapkan dua kalimat persaksian hingga akhir hayatnya.

Dengan demikian, bertemunya rasa cinta kepada sesama manusia dan kelembutan dakwah di dalam Islam, hendaknya akan menghindarkan kita dari siksa Allaah Ta’aala di dunia maupun akhirat, sebagaimana Allaah ingatkan (QS an-Nuur ayat 19),

menjalin-18

Semoga Allaah memberikan kekuatan kepada kita untuk istiqamah berada di jalan cinta dan kelembutan dalam menjalankan Islam, Islam yang rahmatan lil-‘aalamiin, sehingga terwujudlah kondisi sosial masyarakat yang aman, damai, tenteram, dan penuh dengan keberkahan dari Allaah SWT.

Khatbah Kedua

Di khotbah kedua ini, mari kita tutup bersama rangkaian ibadah pada pagi hari ini dengan berdoa kehadirat Allaah Tabaraka wa Ta’aala. Memohon agar Allaah berkenan menerima segenap amal ibadah kita di Ramadlan tahun ini dan mempetemukan kita kembali dengan Ramadlan berikutnya. Memohon agar Allaah memudahkan setiap langkah kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan khususnya dalam mendidik keluarga kita. Memohon agar Allaah selalu meneguhkan hati kita untuk berada di jalan yang lurus.

Dan tidak lupa, semoga Allaah Ta’aala melindungi negeri muslim terbesar di dunia, Indonesia kita tercinta, dari berbagai bencana alam dan konflik sosial, terutama ancaman-ancaman global yang mencoba mengusik kenyamanan bangsa kita sebagai negeri muslim yang penuh kedamaian.

Menteri Pertahanan RI menyatakan ada 29 kelompok di Indonesia yang merupakan bagian dari ISIS. Sementara Panglima TNI menyatakan, sel-sel ISIS berada di 16 lokasi di Indonesia. Kelompok-kelompok ini, sekarang belum bisa ditindak, karena belum melakukan kejahatan nyata, karena memang tidak memiliki sumber daya yang cukup untuk melakukannya. Tetapi mereka selalu standby, selalu siaga, jika ada perintah untuk bertindak.

Ikhtiar kita adalah menolak ajaran mereka, yakni senantiasa menggalang persaudaraan, menjauhi prasangka dan melakukan tabayyun terhadap berbagai informasi yang berseliweran, serta waspada apabila ada ajaran atas nama Islam yang menggunakan ekspresi kebencian dan kekejian dalam menyikapi perbedaan. Selebihnya, pada saat ini, mari kita berdoa, mohon perlindungan dari Allaah SWT.

DOA PENUTUP

Khatbah Kedua: Berkah di Puncak Spiritualitas Hari Jumat

Bismillaah ar-Rahmaan ar-Rahiim,

Allaahumma shalli wa sallim ‘alaa Sayyidinaa Muhammad Shalla-Lllaahu ‘alayhi wa aalihi wa sallam.

Jumu’ah yang Ijabah

Menurut berbagai riwayat, hari Jumat adalah hari yang istimewa, bahkan sebuah hari raya bagi umat muslim. Hari Jumat juga salah satu waktu yang ijabah untuk berdoa.

Khusus tentang hal ini (waktu ijabah) para ulama bermacam-macam pendapatnya. Ada yang mengatakan saat masuk hari Jumat (Kamis pas maghrib), ada yang mengatakan jelang berakhirnya Jumat (Jumat pas ashar), ada pula yang berpendapat saat di antara dua khatbah.

Maka, mari berprasangka baik kepada Allaah Ta’aala, bahwa saat ijabah tersebut sengaja dirahasiakan, agar sepanjang hari Jumat (sejak Kamis maghrib hingga Jumat jelang maghrib) kita tanpa henti-hentinya berusaha meraih keijabahan tersebut: banyak istighfar, shalawat, dzikir, dan berdoa sepanjang hari Jumat.

Selain itu, di hari raya Jumat juga ada ibadah khusus bagi lelaki, yakni Shalat Jumat. Dalam ibadah Shalat Jumat, terdapat dua khatbah (dengan jeda sejenak di antara keduanya) kemudian ditutup dengan shalat dua rakaat.

Masing-masing Khatbah Jumat diawali dengan pujian kepada Allaah Ta’aala, kemudian dua kalimat persaksian (dua kalimat syahadat), shalawat kepada Rasuul SAW, dan wasiat ketakwaan. Ayat Qur`an juga harus dibacakan pada salah satu khatbah dan pada akhir khatbah kedua.

Khatbah yang Menarik

Aturannya, jamaah itu harus mendengarkan khatbah, bukan untuk ngobrol dengan jamaah lain (berkata satu kata saja ibadah Jumatnya batal!), apalagi tidur. Yah walaupun kalau ketiduran (tidak sengaja tidur) insya-Allaah masih bisa dimaklumi.

Maka sesungguhnya, penting bagi seorang khatib untuk memilih kata yang bagus atau tema yang menarik atau cara menyampaikan yang berbeda dalam khatbahnya, agar jamaah menyimak (bukan malah menjadi terkantuk-kantuk), agar nasihat-nasihat yang disampaikan bisa masuk ke dalam qalbu.

Sebagai contoh, sebisa mungkin khatib tidak melulu menduduk ke arah teks khatbahnya, tetapi lakukan kontak dengan jamaah. Sapulah pandangan ke seluruh jamaah (di arah 10 cm di atas kepala jamaah) agar terkesan ada kontak. Karena kalau langsung memandang ke mata jamaah dan terjadi kontak, bukan tidak mungkin muncul sekilas rasa grogi.

Contoh lain, adalah ada intonasi dalam berkhatbah. Guru public speaking saya pernah mengajarkan, seorang dai yang baik adalah al-Maghfurlah KH Zainuddin MZ. Intonasi beliau bisa lembut, bisa keras, bisa tegas, bisa dalam suaranya, dan seterusnya, bergantung konteks kalimat. Kalau sedang mengisahkan cerita (yang kemudian dibahas hikmahnya), misalnya, cobalah seperti para pendongeng: ada perbedaan suara ketika terjadi dialog.

Bisa pula dengan memilih kata-kata pembuka yang berbeda dari kelaziman: kalimat pujian kepada Allaah, kalimat shalawat, dan wasiat taqwa yang puitis, sehingga sejak awal khatbah jamaah akan menaruh perhatian. Misalnya, gunakan cara repetitif (berulang) tapi dengan kata yang berbeda meski masih bersinonim. Konsekuensi cara ini adalah khatib harus melanjutkannya penjelasannya dengan tema yang menarik, sehingga jamaah tidak bosan dan malah jatuh dalam jebakan kengantukan.

Khatbah Jumat itu komunikasi satu arah, maka kualitasnya ya bergantung pada sang Khatib. Kesempatan diberikan oleh agama, yakni diamnya jamaah, maka khatib harus bisa memanfaatkannya dengan baik dan seoptimal mungkin untuk memotivasi umat agar meneguhkan diri untuk selalu berusaha menjadi pribadi yang terbaik, begitu ibadah Jumat selesai.

Khatbah Kedua: Berdoa

Jika saya berkesempatan khatbah, biasanya uraian khatbah saya sampaikan seluruhnya di khatbah pertama. Mulai dari penjelasan hingga kesimpulan. Kemudian saya gunakan khatbah kedua total untuk berdoa.

Begitu membaca rangkaian hamdalah, syahadah, shalawat, wasiyat, dan ayat qur`an (biasanya ayat Shalawat, al-Ahzab 56) dimulailah rangkaian doa saya bacakan.

Bagi saya, khatbah pertama adalah ikhtiar bagi khatib dan jamaah untuk memperbaiki diri: mendengar teorinya kemudian meneguhkan jiwa untuk melaksanakannya. Sementara khatbah kedua adalah tawakkal, yakni ikhtiar bathin dalam memperbaiki diri dan masyarakat, dengan berdoa.

Bagaimanapun, dalam pandangan Islam, doa itu sama pentingnya dengan ikhtiar dan usaha. Di saat jamaah sedang dalam kondisi terbaik iman-taqwanya sejak masuk masjid, kemudian diteguhkan oleh karena uraian khatib di khatbah pertama, plus ijabahnya waktu di sepanjang Jumat untuk berdoa, maka saya berprasangka baik kepada Allaah Ta’aala, bahwa khatbah kedua itu merupakan puncak spiritual hari Jumat: sangat ijabah untuk berdoa!

Berikut ini adalah contoh kalimat yang biasa saya ucapkan sebelum memulai membaca doa:

Hadirin rahimakumullaah.

Di khatbah yg kedua ini, mari kita manfaatkan bertumpuk-tumpuknya keberkahan ini dg memohon dan megucap doa kpd Allaah Ta’aala.

Hari ini adl Hari Jumat, Hari Raya, Hari yang Mulia kata Kanjeng Nabi SAW. Maka ada keberkahan di sepanjang harinya.

Saat ini kita berada dalam majelis jum’at, sebuah majelis ilmu karena di dalamnya disampaikan nasihat keagamaaan dan juga merupakan majelis dzikir karena di dalamnya kita diingatkan utk mengingat Allaah Ta’aala dan Rasuulullaah SAW.

Maka kata Kanjeng Nabi SAW, ada keberkahan di majelis ilmu dan majelis dzikir.

Saat ini pula kita berada di dalam masjid, tempat untuk bersujud, rumah Allaah yang suci, maka ada keberkahan di dalamnya.

Saat ini pula kondisi jiwa dan qalbu kita adalah kondisi yg terdekat dg Allaah. Kita bersama-sama di dalam masjid krn keikhlasan, berniat menghadap Allaah, berniat ibadah, melupakan sejenak urusan keduniaan kita. Maka kondisi hati yg seperti ini adl yg terdekat dan terbaik, penuh keberkahan di dalam sikap semacam ini.

Maka hadirin rahimakumullaah, keberkahan yg bertumpuk-tumpuk ini, keberkahan waktu, keberkahan tempat, dan keberkahan kondisi ini mari kita gunakan utk memohon kehadirat Allaah SWT.

Semoga Allaah memudahkan urusan dunia kita, yakni urusan dunia yg mampu menjadi bekal bg kehidupan kita di akhirat kelak.

Memohon, semoga Allaah memudahkan kita dalam membiasakan diri dan mendidik anak-anak kita utk menjadi yang lebih baik, lebih beriman dan bertakwa.

Memohon kepada Allaah, semoga Allaah melindungi kita dan orang yg kita cintai, terutama negeri kita Indonesia beserta seluruh negeri muslim lainnya, dari segala bencana dan bala, dari segala konflik dan peperangan, dari segala pertumpahan darah maupun bencana alam. Aamiin, Allaahumma Aamiin…

*kemudian baca doa, khatbah selesai*

Setelah ini, akan saya bahas doa yang biasa saya bacakan dan uraian penjelasannya mengapa doa itu yang saya pilih. Teks doa arab dan maknanya, insya-Allaah akan saya lampirkan di akhir tulisan ini (siapa tahu ada yang mau memakainya).

1. shalawat ke Rasuul SAW

Begitu ayat Shalawat dibaca, doa di khatbah dibuka dengan bacaan Shalawat ke atas Rasuul SAW. Bacaan shalawat beribu macamnya, ada yang panjang ada yang pendek. Dalam khatbah, yang biasa saya baca yang lafadznya:

Ya Allaah, limpahkanlah shalawat atas Sayyidinaa Muhammad, hamba-Mu, Nabi-Mu, dan Rasul-Mu, Nabi yang ummiy.

2. kemudian diteruskan dengan doa untuk kaum muslim dan mukmin, sebagaimana sangat lazim kita dengar

Ya Allaah, ampunilah (dosa) kaum muslim laki-laki dan kaum muslim perempuan, kaum mukmin laki-laki dan kaum mukmin perempuan, (baik) yang masih hidup (maupun) yang telah wafat, sesungguhnya Engkau Maha-mendengar, Maha-dekat, lagi Maha-mengabulkan permintaan, Wahai Yang Mencukupi Kebutuhan.

3. doa qur`ani tentang keluarga

Jamaah Jumat itu semuanya laki-laki, para kepala keluarga (dan calon kepala keluarga). Maka penting bagi khatib untuk membaca doa ini, yakni dari surat al-Furqaan (25) ayat 74. Berdoa bagi seluruh jamaah agar mampu menciptakan keluarga yang baik.

Ya Allaah, Tuhan Pemelihara kami, anugerahkanlah untuk kami, dari pasangan-pasangan kami serta keturunan kami, penyejuk-penyejuk mata (kami) dan jadikanlah kami teladan-teladan bagi orang-orang bertakwa. [al-Furqaan (025): 74]

4. doa qur`ani tentang keteguhan petunjuk

Ibadah Jumat memberikan banyak nasihat dan petunjuk kepada jamaah, maka agar teguh dan tak bengkok hatinya selepas Jumat hingga bertemu dengan Jumat lagi, doa yang bersumber dari surat Aali ‘Imraan (003) ayat 8 ini juga penting untuk dibaca

Ya Allaah, Tuhan Pemelihara kami, janganlah Engkau jadikan hati kami berpaling, sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan anugerahkanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi (anugerah). [Aali ‘Imraan (003): 8]

5. doa qur`ani untuk kemudahan dalam urusan

selepas Jumat, berlanjutlah aktivitas umat. maka perlu dibaca doa ini, sebagai bekal spiritual bagi jamaah. doa ini bersumber dari surat al-Kahfi (018) ayat 10

Ya Allaah, Tuhan Pemelihara kami, anugerahilah kami rahmat dari sisi-Mu; dan siapkanlah bagi kami petunjuk untuk urusan kami. [al-Kahfi (018): 10]

6. doa umat Sayyidinaa Muhammad

setelah berdoa dengan lingkup lokal, puncak spiritual Jumat tersebut perlu pula kita manfaatkan untuk doa yang lebih global, doa keummatan. Doa ini saya kutip dari buku Nashaihul ‘Ibad nya Imam Nawawi al-Bantani.

Ya Allaah ampunilah umat Sayyidinaa Muhammad,

Ya Allaah rahmatilah umat Sayyidinaa Muhammad,

Ya Allaah tutupilah (kekurangan) umat Sayyidinaa Muhammad,

Ya Allaah (berilah) kecukupan (untuk) umat Sayyidinaa Muhammad,

Ya Allaah perbaikilah (urusan) umat Sayyidinaa Muhammad,

Ya Allaah (berilah) kesehatan (untuk) umat Sayyidinaa Muhammad,

Ya Allaah lindungilah umat Sayyidinaa Muhammad SAW

dan

Ya Allaah rahmatilah umat Sayyidinaa Muhammad dengan rahmat yang menyeluruh, wahai Tuhan Pemelihara Seluruh Alam.

Ya Allaah ampunilah umat Sayyidinaa Muhammad dengan ampunan yang menyeluruh, wahai Tuhan Pemelihara Seluruh Alam.

Ya Allaah lapangkanlah umat Sayyidinaa Muhammad dengan kelapangan yang datang dengan segera, wahai Tuhan Pemelihara Seluruh Alam.

7. doa keselamatan ummat
Bahasa lain dari doa ini adalah doa tolak bala’, doa yang berisi permohonan perlindungan kepada Allaah Ta’aala untuk kaum muslimin di seluruh negeri-negeri Islam. doanya cukup eksplisit karena bisa ditambah dengan menyebut nama tempat (dalam hal ini, saya tambahkan Indonesia), sebagaimana nanti nampak dalam teks doa.

Ya Allaah hindarkanlah kami dari bencana, bala`, malapetaka, kekejian, kemungkaran, silang sengketa, serta kekejaman dan peperangan, (baik) yang tampak (maupun) yang tersembunyi, di negeri kami Indonesia khususnya dan negeri-negeri kaum muslimin pada umumnya. Sesungguhnya Engkau Maha-kuasa atas segala sesuatu.

8. doa qur`ani penutup
setelahnya, ditutup dengan dua doa qur`ani, yang memang sudah sering dan lazim dibaca dalam berbagai bentuk rangkaian doa: doa sapu jagad (al-Baqarah (002): 201) dan doa ibrahim (al-Baqarah (002): 127-128), karena cakupannya yang menyeluruh

Ya Allaah, Tuhan Pemelihara kami, anugerahilah kami hasanah (segala yang baik) di dunia dan hasanah di akhirat dan peliharalah kami dari azab neraka. [al-Baqarah (002): 201]

dan

Ya Allaah, Tuhan Pemelihara kami, terimalah dari kami (amal kami) sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha-mendengar lagi Maha-mengetahui, dan terimalah taubat kami, Wahai Penolong kami, sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha-penerima taubat lagi Maha-pengasih. [al-Baqarah (002): 127-128]

9. kalimat-kalimat penutup
doa pun ditutup dengan pengharapan surga sebagai bentuk iman dengan akhirat, shalawat, dan pujian kepada Allaah Ta’aala

Dan masukkanlah kami ke dalam surga bersama orang-orang yang berbuat baik, wahai Yang Maha-perkasa lagi Maha-pengampun, (wahai) Tuhan Pemelihara Seluruh Alam.

kemudian

Dan shalawat Allaah (terlimpahkan) ke atas Sayyidinaa Muhammad serta ke atas keluarga dan sahabat beliau, (serta) berkatilah dan sejahterakanlah.

serta

Maha-suci Tuhan Pemeliharamu, Tuhan Pemelihara Yang Maha-mulia dari apa yang mereka sifatkan, dan (terlimpahlah) kesejahteraan ke atas rasul. Segala puji bagi Allaah, Tuhan Pemelihara Seluruh Alam.

Demikianlah rangkaian doa yang lazim untuk saya baca.

Semoga mampu menjadi masukan bagi para khatib, demi mengantar para umat pada puncak spiritualitas hari Jumat: berdoa pada Khatbah Kedua.

Wallaahu a’lam.

File 1, rangkaian doa dalam ukuran kertas A5, format pdf, arab saja: doa jumat arab A5

File 2, rangkaian doa dalam ukuran kertas A5, format pdf, arab dan makna: doa jumat arab A5 – makna

NB: bagi para pembaca yang menemukan kekeliruan redaksional dalam arab dan maknanya, mohon koreksi

Doa Hasan al-Bishri dan Sayyidah ‘Aisyah – Pembuka Doa untuk Mencapai Ijabah

Gunakan kalimat-kalimat pujian kepada Allaah Ta’aala di bawah ini sebagai pembuka doa Anda. Perhatikan maknanya, hunjamkan dalam qalbu tepat saat lisan Anda mengucapkannya. Utamanya, pada pujian-pujian kehadirat Allaah Ta’aala yang maknanya sedang berjodoh dengan masalah Anda.

🙂

Raih ijabahnya, insya-Allaah

*berikut ini dikutip dari Bonus Majalah alKisah Edisi 10/2009 – Doa Para Sufi*

Doa Hasan al Bashri

untuk memperoleh keterbukaan dari kesulitan, diriwayatkan oleh ad-Dinawari dalam al-Mujalasah. Gunakan dalam awal dan pembuka rangkaian doa, sebagai bagian dari memuji Allaah SWT.

doa HB-Aisyah 1 doa HB-Aisyah 2 doa HB-Aisyah 3

Doa Sayyidah ‘Aisyah

Untuk melepaskan kesulitan, dari kitab Ruh al-Ma’ani karya al-‘Allamah alAlusi, dari Tarikh Baghdad, disebutkan oleh Ibnu an-Najar yang riwayat sanadnya sampai Anas. Baca dalam awal rangkaian doa, dengan penuh penyerahan diri kehadirat Allaah SWT.

doa HB-Aisyah 4 doa HB-Aisyah 5

Download Teks PDF:

Versi 1

Versi 2

____

Selamat mencapai puncak kenikmatan seorang hamba yang berdoa, yakni doa yang bukan hanya sebatas gerak lidah dan bibir namun juga mampu mencapai dalamnya jiwa serta mampu bertransformasi menjadi optimisme dalam amal perbuatan.

Amin.

Ndalem Blunyah, 12 Oktober 2011, 13:16 WIB,

(Diedit di PSE UGM, 11 Juni 2015, 15:33 WIB)

Ahmad Rahma Wardhana.

Memahami Cara Allaah Mengijabahi Doa (al-Baqarah 186)

Materi ini telah disampaikan sebagai kultum Tarawih di empat tempat, yakni Masjid al-Falaah Blunyah Gede, Masjid al-Amin Popongan Baru, Mushalla al-Mu’minun Blunyah Gede, dan Mushalla al-Ikhlas Mesan.

Salam. Muqaddimah.

Allaah Ta’aala berfirman dalam al-Qur`an surat al-Baqarah ayat 186

وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌ قلى اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَادَعَانِلافَلْيَسْتَجِيْبُوْالِيْ وَلْيُؤْمِنُوْابِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُ وْنَ.

Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Nabi Muhammad saw.) tentang Aku, maka (jawablah), sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, supaya mereka selalu berada dalam kebenaran.

Jama’ah rahimakumullaah.

Ayat ini berada di antara rincian ibadah puasa wajib, di mana muncul kesan ayat ini tidak padu dengan ayat sebelumnya dan sesudahnya. Ayat 185 merinci keringanan dalam berpuasa, sementara ayat 187 mengesahkan hubungan suami istri di malam hari pada bulan Ramadlan. Sedangkan ayat 186 membahas tentang jaminan kedekatan Allaah pada hamba Allaah sekaligus janji pengijabahan dalam setiap permohonan yang ditujukan kepada Allaah.

Kesan tidak padu bukan berarti tidak berkaitan sama sekali. Sebagaimana penjelasan Prof. Quraish Shihab, ayat ini memang diletakkan di antara penjelasan puasa wajib Ramadlan sebagai sebuah isyarat. Isyarat agar umat manusia yang beriman memperbanyak doa kepada Allaah, mempersering mengucapkan permohonan kepada Allaah, mendekatkan diri kepada Allaah Ta’aala, ketika memasuki bulan Ramadlan, sebagai pengiring ibadah puasa kita.

Melalui ayat tersebut, Allaah menjelaskan betapa dekatnya Dzat Allaah kepada umat manusia, kita semua. Pun dengan jaminan Allaah tentang ijabahnya doa kita yang dipintakan kehadirat Allaah Ta’aala, Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, tetapi dengan syarat maka hendaklah mereka memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, supaya mereka selalu berada dalam kebenaran. Syarat ini mutlak, yang dalam bahasa lain bisa kita sebut dengan syarat iman yaitu mempercayai dan takwa yakni menjalankan perintah Allaah sekaligus menjauh dari apa yang dilarang Allaah.

Hadirin rahimakumullaah.

Yang sering terjadi pada diri kita adalah tidak sempurna memahami keseluruhan ayat ini. Bahwa terijabahinya doa kita mencakup tiga syarat, terucapnya doa serta keimanan dan ketakwaan. Terucapnya doa, sebagaimana tercantum dalam ayat tersebut  “اِذَادَعَانِ”, apabila ia memohon kepada-Ku, merupakan bentuk penghambaan kita kepada Sang Pencipta, pengakuan akan kelemahan kita sebagai makhluk sekaligus pengakuan akan betapa mutlaknya kuasa Allaah pada kita.

Dalam proses mengusahakan sesuatu, sering pula muncul sikap sombong kita kepada Allaah. Merasa sudah banyak berkorban, merasa sudah keras bekerja, merasa sudah sering memohon, merasa sudah banyak berdoa, tetapi kenapa tak kunjung terijabah? Perasaan ini harus kita jawab dengan nurani kita masing-masing: sudahkah diri kita merasa cukup beriman dan cukup bertakwa?

Selain itu, kita juga harus tahu persis bagaimana cara Allaah Ta’aala mengijabahi doa kita. Ketika doa tak kunjung terkabul, maka ada tiga pilihan kemungkinan yang digariskan Allaah kepada kita:

  1. ditunda pengijabahannya untuk waktu yang akan datang, karena ketika doa tersebut serta-merta dikabulkan oleh Allaah, bisa jadi kita lupa bersyukur kepada Allaah disebabkan oleh rasa bahagia yang begitu besar; atau
  2. diganti dengan perlindungan Allaah kepada kita dari bala` atau bencana-bencana kecil yang kadang tidak kita sadari; atau
  3. ditunda pengijabahannya karena kelak akan menjadi nikmat tersendiri bagi diri kita di kehidupan yang sesungguhnya, kehidupan akhirat.

Ketiga kemungkinan tersebut sangat membutuhkan keimanan yang teguh di dalam nurani kita masing-masing.

Hadirin rahimakumullaah.

Ada sebuah kisah tentang bagaimana cara Allaah bekerja dalam memenuhi permohonan manusia.

Terkisahlah sebuah kapal penumpang yang karam. Satu orang berhasil menyelamatkan diri, bertahan hidup di sebuah pulau kosong, beberapa ratus meter dari lokasi tenggelamnya kapal.

Orang tersebut membangun semacam tenda dari pelepah dan daun kelapa, serta segala sesuatu yang ada di sekitarnya, untuk bertahan hidup, menanti datangnya bantuan. Tak lupa ia memanjatkan doanya kepada Tuhan, setiap hari, pagi maupun petang.

Suatu pagi, saat dia sedang mencari air tawar ke dalam pulau, agaknya ia lupa memadamkan api unggun. Sebuah bara diterbangkan angin, menyentuh tenda yang ia bangun. Terbakar.

Sekembalinya ke tepi pantai ia sangat terpukul. Melihat tendanya, rumahnya tempat bertahan hidup beberapa hari terakhir habis terbakar, menyisakan asap hitam pekat dan abu. Ia kemudian marah. Marah kepada Tuhan, merasa sudah berusaha bertahan hidup, merasa sudah berdoa, tetapi satu-satunya tempat yang ia punyai ditakdirkan hancur.

Satu jam sesudahnya ia semakin terkejut, karena tiba-tiba ada kapal kecil mendekat ke pulau untuk menyelematkannya.

Ketika ia bertanya bagaimana kapal tersebut bisa menemukannya, sang kapten kapal menjawab, “Saya melihat asap pekat membumbung dari pulau kosong. Pasti itu adalah Anda yang sedang bertahan hidup, yang kami cari selama beberapa hari terakhir ini!”

Hadirin rahimakumullaah.

Kadang, kita merasa banyak berusaha dan banyak berdoa, namun masih saja tidak mampu memahami cara kerja Allaah dalam mengabulkan cita dan asa kita. Sakit dan jatuh pada awal atau di tengah proses sebuah pencapaian adalah hal yang biasa, namun keimanan mengajarkan kepada kita bahwa itulah garis keputusan Allaah, Allaah tahu apa yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya. Ada hikmah di balik bencana, kata pepatah.

Perlu juga kita pahami, bahwa ada perbedaan signifikan antara apa itu kebutuhan dan apa itu keinginan. Sulit bagi kita membedakannya, terutama dalam mengucapkannya kepada Allaah di doa-doa kita. Allaah Ta’aala pastilah akan memenuhi kebutuhan kita, ketika adalah orang-orang yang beriman kepada Allaah. Tetapi belum tentu Allaah akan mengijabahi setiap keinginan kita.

Kebutuhan membawa makna segala sesuatu yang dibutuhkan oleh diri kita. Namanya saja butuh, kalau tidak dipenuhi ya bisa menjadi bencana pada diri kita. Maka, kebutuhan-lah yang akan selalu menjadi prioritas kita dalam hidup, pun dengan prioritas Allaah dalam mengabulkannya kepada kita.

Berbeda dengan keinginan. Manusia mempunyai imajinasi yang tak bertepi tentang apa-apa yang diinginkannya. Sabda Kanjeng Nabi saw., manusia itu kalau ditawari satu gunung emas, maka ia akan menanyakan gunung emas lainnya. Maka, keinginan sudah semestinya tidak menjadi prioritas, karena bisa jadi banyak di antara keinginan tersebut bukanlah apa yang kita butuhkan tetapi justru menjadi sebab bagi terjerumusnya diri kita pada jurang dosa. Allaah tahu persis tentang ini. Mana kebutuhan, mana keinginan.

Hadirin rahimakumullaah.

Seorang nenek pernah bertanya kepada cucunya,

“Nak, maukah kamu memakan telur ini?” tanya sang Nenek sembari mengacungkan sebutir telur.

“Nggak mau Nek, masak makan telur mentah?” jawab sang Cucu.

“Kalau di antara ini, adakah di antaranya yang kamu mau memakannya?” tanya sang Nenek kembali, sambil menyodorkan beberapa bahan pembuat kue seperti tepung terigu, baking soda, vanili, mentega, dan lain-lain.

Sang Cucu menjawab dengan wajah bertanya-tanya,”Ah, Nenek tu aneh-aneh aja, masak makan kayak gitu Nek? Jelas nggak ada yang mau, nggak ada yang enak dimakan!”

Sang Nenek kemudian menutup dialog itu dengan berkata, “Sekarang Cucu tidak mau memakannya. Tetapi nanti, saat kesemuanya berpadu menjadi kue, pasti tak akan kau tolak!”

Inilah cermin kehidupan umat manusia. Ada titik-titik kehidupan di mana kita jatuh, terpukul, dan tersakiti. Pada titik-titik kehidupan itu, ketika kita memandang dengan cara pandang sempit, maka yang muncul adalah pembenaran terhadap rasa sakit tersebut. Ya, saya jatuh. Ya, saya terpukul. Ya, saya tersakiti.

Tetapi, kalau kita melihatnya dari sudut pandang yang lebih luas, bahwa semua adalah proses panjang dalam menjalani kehidupan, bahwa masing-masing rasa sakit dan terpukul itu kemudian kita ramu, kita masak dengan resep keimanan dan ketakwaan, maka yang reaksi yang muncul atas titik-titik kejatuhan kita adalah rasa syukur dan berterima kasih kepada Allaah.

Sebagaimana diibaratkan kisah tadi, bahan-bahan roti ketika ia dirasakan bagian per bagian hambarlah rasanya. Namun saat bahan roti tersebut diramu dengan resep yang tepat dan dipanggang dengan suhu dan waktu yang pas, lezatlah rasanya.

Pun dengan kehidupan. Rasa sakit dan terpukul dalam bagian hidup kita akan menjadi sebuah kelezatan, hanya jika kita mampu meramunya dengan resep keimanan dan ketakwaan. Sungguh indah, ketika hidup ini penuh rasa syukur kepada Allaah. Ketenangan dan kedamaian akan selalu menyertai kehidupan kita, sebuah kelezatan dalam menikmati keimanan dan ketakwaan kepada Allaah Ta’aala.

Hadirin rahimakumullaah.

Pada Ramadlan tahun ini, sebagaimana hikmah ayat 186 surat al-Baqarah, mari kita mendekatkan diri kepada Allaah sembari berdoa kepada Allaah terhadap cita-cita dan asa kita dalam kedhidupan. Pada Ramadlan ini pula, bentuk pendekatan diri kepada Allaah adalah juga bagaimana kita memperbarui dan menguatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allaah, sehingga mampu menjadi bekal terbaik untuk menjalani kehidupan, sebagai resep manjur, mencapai lezatnya hidangan iman dan takwa.

Demikian penyampaian dari saya, kurang dan lebihnya mohon maaf.

Salam.