Kicau: #kebaikan

dua hari terakhir, hati saya terganggu oleh sebuah pertanyaan aneh tentang #kebaikan.

seseorang bertanya kepada saya tentang #kebaikan yang menrutnya tak pernah ia lakukan kepada saya. benarkah itu?

Benarkah “ia” tidak melakukan #kebaikan kepada saya? Atau memang saya harus menuliskannnya (kembali) satu persatu?

#kebaikanmu adalah mau mendengarku pada awal perjumpaan kita

#kebaikanmu adalah engkau memenuhi harapku untuk duduk pada di sebuah posisi. Terlepas dari motif apapun yang menjadi pijakanmu, engkau telah memenuhinya!

#kebaikanmu adalah (pernah) setia di ujung telepon mendengar ocehanku, meski pada akhirnya aku tahu sesungguhnya engkau tak mau mendengarnya

#kebaikanmu adalah mau bekerja bersama aku yang sedikit pengalaman ini, dalam sebuah perhelatan agung.

#kebaikanmu adalah mau menegurku dengan baik, demi kebaikan banyak orang, demi suksesnya perhelatan agung tersebut.

#kebaikanmu adalah menyadarkanku terhadap kesalahanku hingga pecah tangisku, demi suksesnya perhelatan agung tersebut.

#kebaikanmu adalah perkenananmu menerima kehadiranku di antara waktumu yang begitu sempit, meski hanya beberapa detik

#kebaikanmu adalah menerima apa yang kuberikan kepadamu dengan penuh ridla. (ingat, ada tipe org yang menerima tetapi tidak dengan ridla).

#kebaikanmu adalah mempercayaiku untuk menjadi pendengar kisah-kisahmu. ini adalah salah satu #kebaikanmu terbesarmu!

dan #kebaikan terbesarmu adalah mempercayaiku sebagai pembantu dalam memohonkan doa-doamu kehadirat-Nya.

demikian, sedikit di antara #kebaikanmu kepada diriku. masihkah kau menyangkal dengan redaksi “tak pernah berbuat baik”?

aku bersyukur masih dikaruniai ingatan untuk mengingat #kebaikan orang lain, utamanya #kebaikan darimu. jgn menyangkal. please!

demikian curahan hati saya yang terpendam beberapa hari terakhir. tentang #kebaikan seseorang kepada diriku. #the_end

Kicau: #rindu

Setelah sekian hari tidak berkicau, saya akan kembali mencurahkan sebagian isi hati lewat hashtag #rindu

Aku akan me-#rindu-kanmu, 스물여섯-062011 dan 열셋-102011. Sangat #rindu.

Berkali kutatap masa depanku yg –tentu saja- mencakup ke-#rindu-anku kepadamu. Oase di tengah harap berjumpa denganmu.

Masa depan tsb adl adanya hari-hari rutin di mana kita mampu berjumpa, melepas #rindu.

Sebuah perjumpaan di mana kisah & cerita terungkap, cita terlisankan. Dan sejak itu doa terucap dr hatiku untukmu, sbg kelanjutan #rindu-ku

Mungkin engkau tahu, tp mungkin pula engkau tak tahu dan tak pernah tahu. Yg pasti, setiap perpisahan kita adl mjd sebuah awal bg #rindu-ku

Doaku –sbg wujud #rindu-ku- insya-Allaah tak akn pernah lupa sepanjang hayatku. Sbgmn hari ini engkau memintanya kpd-ku, ttg sebuah harapan

Harapan utk tidak mjd sesuatu pd sebuah suatu maqam, demikian ucapmu. #rindu

Akan kujawab dg doaku, semoga Allaah memberikan yg terbaik bagimu. #rindu

Tp tahukah engkau? Banggalah aku, jika saja kelak engkau mampu mencapai maqam tsb. #rindu

Meski harapku, sbgmn harapmu, smg engkau tak pernah mencapainya. Krn maqam tsb akan menjauhkanku dg-mu. #rindu-ku semakin sulit dipenuhi!

Sejak engkau mencapai maqam yg skrg kau berada, aku sdh pernah menatap masa depan-mu ttg maqam yg –mungkin- kelak akan kau capai. #rindu

Aku melihat, engkau berada di maqam tsb. Berjaya di antara para pendukungmu, dg aku berada di dekatmu, memimpin pembacaan doa. #rindu

Doaku adl smg yg terbaik untukmu. Itulah obat #rindu-ku kepadamu.

Sebuah ke- #rindu-an, yg sesungguhnya hanya bisa terobati oleh sebuah perjumpaan. 스물여섯-062011 dan 열셋-102011, aku #rindu. #the_end

Ndalem Blunyah, Jumat 14 Oktober 2011,

Ahmad Rahma Wardhana