Lumrahing Manungsa

Benar, bahwa salah satu tersangka yang viral itu pernah satu SD dengan adik kandung saya. Beberapa puluh menit yang lalu Ibu saya masih brambangi, berkaca-kaca, mengingat kepolosan yang bersangkutan dan kebaikan ibundanya, pada masa itu.

Saat adik saya bedrest 2 minggu karena DBD, dia adalah teman SD yang menjenguk untuk pertama kalinya, bersama sang ibunda. Baru beberapa hari berikutnya, teman lainnya menyusul membesuk.

Bencana pertama hadir ketika dia dibully teman sekelasnya. Dimintai uang, diadu dengan teman lain untuk berkelahi, dan pastinya kata-kata dan pisuhan khas jawa. Sekolah tahu. Orang tua dan wali murid tahu. Tapi entah kenapa, ketegasan keputusan terlalu lama. Pada akhirnya, orang tua korban berinisiatif memindah sekolah anaknya.

Sekilas ingatan saya muncul, 4 atau 5 tahun yang lalu (2013-2014, adik saya sedang duduk di kelas 4, 5, atau 6 SD) yang lalu dalam diskusi tentang peristiwa tersebut dengan adik saya, saya memprotes lambatnya respon sekolah. Dan tahukah anda bahwa sekolah tersebut adalah bekas sekolah saya juga? 4-5 tahun yang lalu saya sudah dewasa, tapi masih berlindung di balik tameng orang tua, karena protes tersebut hanya saya sampaikan dalam diskusi di rumah.

Di tingkat SMP, yang bersangkutan masih diuji lagi: satu sekolah dengan seseorang yang membully-nya ketika SD. Entah sempat dibully atau tidak, yang pasti dia kemudian pindah sekolah. Dan nampaknya dia mendapat anugerah yang tak terduga. Persahabatan yang menghilangkan nurani. Persahabatan adalah anugerah. Namun menghilangkan nurani, ini yang di luar dugaan.

Adik saya baru saja menerima nilai UANBK tingkat SMP sederajat. Nampaknya, begitu pula dengan dia yang sekarang tersangka. Usianya masih sangat muda: 16 tahun. Menyebabkan seseorang tewas. Mahasiswa UGM, universitas kebanggaan tiyang Ngayogya, kebanggaan pula bagi alumninya di penjuru nusantara dan dunia.

Saya speechless ketika salah satu guru saya di UGM ngendika:

“Ning nèk cah cilik matèni wong tanpa alasan ki ora lumrah menungsa”.

Inikah Yogyakarta kita? Inikah Indonesia kita? Inikah kehidupan sehari-hari yang kita harapkan?

Kehilangan seorang anak sungguh sakitnya tak terbayangkan. Seorang ayah dan ibu yang usianya lebih tua pasti memproyeksikan masa depan yang terang benderang bagi sang anak. Berharap pada saat keduanya tiada, anak-anaknya berada di sisinya, telah menggapai asa dan cita, penuh kebahagiaan dan berterima kasih pada ayah dan ibunya. Mimpi ini hancur dalam sekejap, ketika sang anak menghadap kehadirat-Nya, sebelum masa depan itu hadir.

Wahai sang mahasiswa, semoga Allaah melimpahkan nikmat kubur dan kelak anugerah surga. Wahai ayah dan bunda sang mahasiswa, semoga Allaah menguatkan kalian.

Sementara dia yang menjadi tersangka wajib dihukum berat sebagai ikhtiar membuatnya jera, sehingga tak lagi terulang oleh dirinya dan oleh orang lain. Perlu ketegasan luar biasa dari Kepolisian, Kejaksaan, dan Pengadilan.

Tapi perlu kita ingat, akar masalahnya, yakni perilaku bullying di sekolah, wajib diberantas. Pendampingan konseling sekolah dasar dan menengah tidak selalu menjadi solusi terbaik. Persahabatan dan solidaritas yang justru menghapus nurani ada dan masih berlangsung. Fenomena ini, terbunuhnya mahasiswa oleh seorang siswa, tewasnya seorang kakak di tangan adiknya, membuktikannya.

Belum lagi, kalau-kalau ada tambahan pengaruh alkohol dan narkoba. Sungguh, perlu ketegasan luar biasa dari Kepolisian, Kejaksaan, dan Pengadilan. Begitu pula dengan peran serius para keluarga, komunitas agama, dan masyarakat. Bersama-sama.

Pembaca yang budiman, peristiwa ini mengungkapkan pula bahwa ada banyak hal yang harus kita evaluasi dalam sistem pendidikan kita. Butuh banyak uluran tangan untuk memperbaikinya. Masing-masing dari kita, sesuai dengan jangkauan ruang dan waktu kita, mari bergerak. Semoga limpahan petunjuk dari Allaah selalu membersamai langkah kita bersama. Aamiin.

Blunyah Gede, 10 Juni 2018 (02:16 WIB),
Ahmad Rahma Wardhana.

Sejarah Terorisme atas Nama Islam

Aksi terorisme, sebuah aksi menggunakan kekerasan yang mengatas-namakan Islam, yang terjadi di Surabaya, sebenarnya merupakan bentuk ekstrimisme dalam beragama. Sikap ekstrim atau berlebihan dalam memahami dan menjalani ajaran agama sesungguhnya bukan konsep yang dianjurkan oleh Islam maupun agama manapun.

Menurut Islam, anjuran bersikap moderat atau wasathiyah alias pertengahan, disampaikan oleh Allaah SWT di dalam al-Qur`an surat al-Baqarah ayat 143,

 photo sejarah teror-1_zpszhywk5c4.png

Allaah SWT dalam ayat ini menggunakan kata Kami menjadikan, yang bermakna adanya peran selain Allaah dalam mewujudkan ummatan wasath. Peran selain Allaah bukan berarti sekutu Allaah, karena Allaah tak membutuhkan sekutu. Peran selain Allaah yang dimaksud dalam ayat ini adalah dibutuhkannya ikhtiar untuk menjadikan umat yang wasath.

Sikap wasathiyah adalah jalan tengah atau keseimbangan antara dua hal yang berbeda atau bertentangan. Dalam prakteknya, jalan tengah di antara dua hal yang berbeda, antara A dan B misalnya, mengandung dua pengertian, yaitu:

  1. pengertian bukan A dan bukan B, sebagaimana sifat dermawan merupakan sikap pertengahan, bukan boros (menghamburkan harta di luar kebutuhan) dan bukan pula kikir (terlalu hemat dalam mengeluarkan harta atau bahkan tidak mau menggunakan harta sama sekali meskipun untuk hal-hal penting). Atau sifat pemberani yang merupakan sikap pertengahan, bukan penakut dan bukan pula sembrono atau
  2. pengertian A sekaligus B, sebagaimana Islam yang memperhatikan urusan dunia sekaligus akhirat atau jasmani sekaligus rohani.

Prinsip-prinsip pertengahan tersebut menjadi ruh utama dalam Islam, sejak awal kelahiran Islam hingga kelak datangnya hari kiamat, termasuk dalam memperjuangkan agama Islam. Perjuangan menegakkan agama Islam harus didasari pada kasih sayang, karena kemunculan agama dan ketaatan kepada Allaah, pada akhirnya bertujuan pada kemashlahatan para pemeluknya.

Terorisme dan kekerasan atas nama perjuangan Islam tidak dimulai baru-baru ini saja. Dalam sejarah, ada beberapa peristiwa penting yang menjadi penanda kehadiran kelompok sempalan dalam Islam. Sesuatu yang sempal, tentu merupakan pecahan yang tidak berguna dan bukan bagian utama dari sebuah komponen besar, yang dalam hal ini adalah Islam.

Hadirin rahimakumullaah, kemunculan Islam sempalan ini dimulai sejak zaman Sayyidinaa ‘Ali KW. Ketika Sayyidinaa ‘Ali KW dan Sayyidinaa Muawiyah RA berbeda pandangan dalam urusan kemasyarakatan Islam saat itu hingga terjadi peperangan sesama muslim. Ketika perdamaian diinisiasi, ada kelompok yang tidak suka dengan hadirnya perdamaian. Belakangan kelompok ini menuduh semua yang berseberangan dengannya adalah kafir yang berhak dibunuh. Alasannya, menurut mereka, perdamaian itu upaya manusia, bukan berdasarkan Kitabullaah. Bagi mereka, jika berdasarkan Kitabullaah adalah mereka harus menang, bukan damai, bukan kalah.

Salah satu pentholan kelompok ini bernama Abdurrahman bin Muljam, seorang penghafal Qur`an, ahli qiyamul-lail, hobi berpuasa. Abdurrahman bin Muljam pula, pernah dikirim oleh Sayyidinaa ‘Umar bin Khaththab RA untuk ke Mesir, menjadi pengajar al-Qur`an. Namun Abdurrahman bin Muljam pula yang kemudian membunuh Sayyidinaa ‘Ali bin Abi Thalib RA. Kelompok ini, kemudian dikenal dengan nama Khawarij, semakna dengan khuruj, yang artinya keluar. Kelompok yang keluar dari kelaziman Islam.

Hadirin rahimakumullaah, kelompok ini terus ada dan berkembang di dalam kepala segelintir kaum muslimin, namun sepanjang periode kerajaan Umayyah, Abbasiyah, maupun Utsmani, tidak begitu populer karena kalah dengan kelompok-kelompok lain dalam Islam.

Hingga pada tahun 1979, kelompok ini muncul kembali dengan baju baru. Berkembang dari kelompok-kelompok masyarakat yang awalnya dimanfaatkan kekejamannya dalam mendirikan Kerajaan Saudi dengan mempersatukan suku-suku di jazirah Arab, belakangan kelompok ini melihat Kerajaan Saudi tidak konsisten dalam menjalankan ajaran Islam. Radio dan televisi bagi Khawarij modern ini adalah kesesatan yang nyata.

Puncaknya terjadi pada tanggal 20 November 1979, tepat pagi hari bakda subuh, 1 Muharram 1400 H. Sekelompok bersenjata yang dipimpin oleh Juhaiman al-Uthaibi, merebut mikrofon imam Masjidil Haram, kemudian mengabarkan kehadiran Imam Mahdi. Puluhan ribu jamaah, termasuk di antaranya dari Indonesia, yang belum semua pulang dari masa ibadah haji, berhamburan, berusaha keluar dari Masjidil Haram. Ketika polisi Kerajaan Saudi berusaha merebut kembali Masjidil Haram, dari menara-menara masjid mereka ditembaki dengan senapan serbu. Darah tertumpah di Masjidil Haram, tak ada salat berjamaah dan tawaf selama beberapa hari, siaran harian ibadah Masjidil Haram televisi untuk sementara dialihkan ke Masjid Nabawi di Madinah.

Sementara karena keterbatasan tersebarnya informasi pada masa itu, berita-berita berkembang liar di luar Kerajaan Saudi dan karena baru saja terjadi Revolusi Iran di awal 1979, masyarakat Islam internasional saat itu melihat bahwa pengepungan Masjidil Haram adalah rekayasa Amerika Serikat dan Israel. Kedutaan Besar Amerika Serikat di beberapa negara didemo bahkan sampai jatuh korban nyawa.

Pengepungan Masjidil Haram berakhir pada 4 Desember 1979 dengan korban tewas sekitar 127 orang, setelah Kerajaan Saudi meminta asistensi secara rahasia saat itu, kepada beberapa personel pasukan khusus Prancis. Perlu dicatat, bahwa ulama Saudi membutuhkan 3 hari dalam mengeluarkan fatwa bolehnya pasukan Saudi memasuki Masjidil Haram dengan membawa senjata dan menembak musuh.

Beberapa hari kemudian setelah peristiwa Pengepungan Mekkah, dimulailah perang Soviet melawan Afghanistan. Perang yang berlangsung selama 9 tahun tersebut dimulai pada 24 Desember 1979 dan berakhir pada 15 Februari 1989 serta meninggalkan bekas yang sangat berpengaruh pada keadaan Islam saat ini.

Perang Soviet vs Afghanistan merupakan bagian dari perang dingin antara Amerika Serikat melawan Uni Soviet, antara dua aliran besar politik saat itu, demokrasi melawan komunisme. Amerika Serikat yang enggan mengirim pasukan langsung, namun memilih membiayai kelompok-kelompok mujahidin dari Pakistan dan Kerajaan Saudi untuk membantu Afghanistan melawan Soviet. Ya senjata, ya pelatihan militer. Uniknya, termasuk dalam kelompok pendukung Afghanistan adalah mujahidin Syiah dari Iran dan mujahidin yang didukung oleh Tiongkok, berhalauan Maoisme.

Pada akhirnya Soviet kalah, Afghanistan menang, namun sayangnya Afghanistan tak pernah damai karena kelompok-kelompok mujahidin saling bersitegang berebut pengaruh satu sama lain hingga saat ini. Salah satu mujahidin alumni perang Afghanistan adalah yang kita kenal dengan nama Usamah bin Ladin.

Hadirin rahimakumullaah, seusai perang Afghanistan melawan Soviet, pada 1990 terjadi peristiwa lain yang berkaitan dengan sejarah terorisme atas nama Islam, yakni Invasi Irak ke Kuwait. Arab Saudi yang berbatasan dengan Kuwait sekaligus Irak turut khawatir invasi itu akan menguasai wilayah Kerajaan Saudi. Pada masa itu, ulama Irak mengeluarkan fatwa halal membunuh pasukan Saudi dan hal yang sama dilakukan oleh ulama Saudi, mengeluarkan fatwa halal membunuh pasukan Irak, selama dalam konteks peperangan dan mempertahankan diri.

Usamah bin Ladin yang berkebangsaan Saudi berinisiatif mengumpulkan mujahidin alumni Afghanistan dalam berbagai penjuru, hingga mendapatkan sekitar 4.000 relawan. Pasukan tak berbayar ini Usamah tawarkan kepada pemerintah Saudi untuk menangkal serangan Irak. Sayangnya, Saudi lebih percaya dengan Amerika Serikat dan Inggris, tentu saja, menolak tawaran gratis dari Usamah bin Ladin. Lebih dari itu, pada perang teluk ini, Amerika Serikat mendirikan pangkalan militer di Arab Saudi.

Sejak saat itu, Usamah bin Ladin memusuhi pemerintah Saudi, Amerika Serikat, dan sekutu-sekutunya, serta menyerang aset-aset Pemerintah Amerika Serikat, mendirikan al-Qaeda, hingga puncaknya, serangan ke World Trade Center, 11 September 2001.

Sebagai balasan atas serangan 11 September, Amerika Serikat menyerang Afghanistan. Mengapa? Karena rezim Taliban, penguasa Afghanistan pada tahun tersebut merupakan pelindung Usamah bin Ladin, sahabat yang terikat karena Perang Afghanistan melawan Soviet pada 1979-1989.

Hadirin rahimakumullaah, kelompok sempalan Islam, dengan berbagai variasi bentuk dan alasannya, namun konsisten pada halalnya kekerasan dan kekejian terus berlanjut hingga pada pendirian ISIS, Negara Islam di Irak dan Suriah. Irak belum stabil sejak menjadi sasaran serangan Amerika Serikat pada 2003 dan ketidak-puasan oposisi pada pemerintahan Suriah, menjadi medan tempur bagi ISIS. Saya tidak perlu menceritakan ruwetnya ISIS yang melawan pemerintahan Irak maupun Suriah sekaligus melawan kelompok mujahidin yang berbeda pandangan politik sembari melawan kelompok etnik Kurdi sambil melawan pasukan atau peralatan perang dari berbagai negara seperti Turki, Amerika Serikat, Prancis, dan Rusia. Keruwetan ini berkaitan dengan kekuasaan politik (kenegaraan) namun tidak berdasar pada kebangsaan (karena mayoritas berbangsa Arab). Kurang ajarnya, masing-masing kelompok mengatasnamakan Islam, mengatasnamakan sebuah agama yang secara bahasa bermakna perdamaian atau keselamatan. Benarkah Islam mengajarkan yang demikian?

Pelajaran penting bagi kita sebagai umat Islam yang berada di Indonesia di antaranya adalah:

  1. Pentingnya rasa kebangsaan dan kenegaraan.

Pelaksanaan ajaran agama membutuhkan keamanan dan stabilitas sebuah negara. Kita wajib bersyukur dengan negara bangsa Indonesia, di mana dasar negara, pondasi bangsa telah diletakkan sejak 1945. Saat ini kewajiban kita untuk menjaganya serta membangun sebuah rumah bersama bernama Indonesia. Ibadah-ibadah utama kita kepada Allaah (rukun Islam) telah dilindungi oleh negara-bangsa, tinggal bagaimana mengembangkannya kepada ibadah muamalah kepada sesama manusia, mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran.

  1. Umat Islam tidak bisa menghindar dari tanggung jawab pemberantasan terorisme.

Terorisme, kekejian, dan kekerasan, adalah bukan dari ajaran Islam yang sesungguhnya. Tetapi sejarah menunjukkan bahwa kelompok yang menafsirkan sebaliknya adalah nyata adanya, hidup dan berkembang, bahkan di Indonesia!

Tanggung jawab kita adalah mengkampanyekan Islam yang lemah lembut tapi tetap tegas ketika dibutuhkan, baik melalui ceramah, diskusi, tulisan, buku, video, konten media sosial lain, dan yang paling utama adalah perilaku kita sehari-hari. Termasuk memastikan kehidupan masyarakat kita di kampung-kampung masih berjalan sebagaimana mestinya, penuh dengan ketenteraman, tepa selira, peduli satu sama lain, tanpa memandang agama, suku, bahasa, maupun faktor perbedaan lain. Cukuplah alasan sebagai sesama menungsa sebagai pendorong kita untuk berbuat baik di manapun dan kapanpun.

Benar bahwa ada faktor luar yang turut menumbuh-kembangkan kelompok sempalan ini, terutama kepentingan-kepentingan berkaitan dengan urusan duniawi seperti persenjataan, minyak bumi, maupun duit, namun sungguh, sebaik-baik koreksi dan perubahan adalah ketika dimulai dari diri sendiri, umat Islam sendiri.

Kita sebagai umat Islam wajib menjaga diri sendiri, lingkungan, dan masyarakat terdekat, dari ajaran sesat ekstrim dalam beragama. Ukurannya sederhana, jika ada orang atau kelompok mengaku Islam, tetapi ajakannya untuk membenci kelompok lain, sesama Islam maupun kelompok lain di luar Islam dengan membabi buta, bahkan hingga menghalalkan darahnya, maka kelompok semacam ini wajib kita lawan, baik dengan melaporkannya kepada yang berwajib, atau jika mampu, mengajak mereka kembali ke jalan yang benar, berpindah dari tepi (ekstrim) ke tengah (moderat).

Kita tidak boleh menghakimi seseorang atau kelompok orang hanya berdasarkan cara berpakaian atau penampilan luar. Kita tidak bisa dan tidak boleh menarik kesimpulan bahwa setiap yang bercadar, berjenggot lebat, atau bercelana di atas mata kaki, selalu berkaitan dengan ekstrimisme Islam, apalagi menuduh sebagai bagian dari terorisme. Sungguh, terorisme atas nama Islam merupakan cobaan terberat dari saudara-saudara kita yang memilih demikian (celana di atas mata kaki, berjenggot lebat, dan bercadar), karena sebuah kenyataan bahwa kelompok ekstrim ini memilih cara yang sama dengan mereka dalam berpakaian dan penampilan. Hanya cara berpakaian dan penampilan luarnya saja.

Hadirin rahimakumullaah, sebagai sebuah negara bangsa yang berdaulat dan stabilitas keamanan, kita bukan hanya mampu menghidupkan ajaran agama, tapi juga mengupayakan perdamaian kepada sesama negara muslim, seperti di Tanah Suci Yerussalem atau Afghanistan.

Indonesia kita adalah negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, namun kekuatan ekonomi, pertahanan, dan keamanannya belum bisa mengimbangi kekuatan negara besar lain, meskipun kita sudah masuk pula dalam Kelompok G-20 (20 negara terbesar dalam anggaran pemerintahannya). Faktor-faktor tersebut membuat suara negara kita memang diperhatikan, tetapi belum cukup berpengaruh. Menariknya, realitas ini tidak membuat negara kita kemudian minder. Kaidah fikih mengatakan

 photo sejarah teror-2_zpsclaobstc.png

Ketika pengaruh Indonesia yang belum sebesar negara maju, Indonesia sangat serius berikhtiar untuk mewujudkan perdamaian di mana Indonesia memiliki pengaruh lebih kuat, seperti perdamaian Rohingnya atau Afghanistan.

Pada tahun 2013 yang lalu, ada sekitar 12 ulama dari 12 suku terbesar di Afghanistan yang datang ke Yogyakarta, belajar Pancasila di UGM. Inisiasi ini terus menerus dilanjutkan dan dikembangkan hingga pada awal tahun 2018 ini Presiden Indonesia mengunjungi Afghanistan. Walaupun dua hari sebelum kehadiran Presiden terjadi pemboman di ibukota Kabul yang menewaskan 103 orang, Presiden tetap bersikeras hadir sebagai bentuk komitmen kenegaraan dengan Afghanistan sekaligus sebagai isyarat tak gentar dengan terorisme. Alhamdulillaah Presiden selamat dalam kunjungan 6 jam tersebut, sehingga beberapa pejabat pengiring Presiden bersujud syukur ketika kembali ke pesawat.

Upaya perdamaian di Afghanistan tersebut ditindaklanjuti dengan mengadakan Konferensi Ulama Tiga Negara di Bogor, 11 Mei 2018. Hadir dalam konferensi sehari ini 19 ulama dari Afghanistan, 17 ulama dari Pakistan, dan 17 ulama dari Indonesia, untuk menyusun langkah awal perdamaian di Afghanistan. Ini merupakan tahapan permulaan yang harus dipupuk dan ditumbuh-kembangkan menjadi agenda ulama di Afghanistan dan Pakistan: mengurangi kekerasan dan menegakkan musyawarah sebagai ikhtiar mencari jalan keluar.

Sekitar 10 hari sebelumnya, pada tanggal 1-3 Mei 2018, Indonesia juga menyelenggarakan Konferensi Tingkat Tinggi Islam Washatiyah, atau Islam Pertengahan, di Bogor. Konferensi ini menghadirkan seratusan ulama dari berbagai negara berpenduduk muslim, untuk membahas pentingnya sikap pertengahan sebagai upaya melawan penyelewengan Islam oleh kelompok sempalan yang menghalalkan kekerasan dan kekejian.

Hadirin rahimakumullaah, demikianlah seharusnya yang kita lakukan, kembali kepada ulama, dimulai dari ulama, para pemegang otoritas keagamaan Islam, agar bersama-sama terus menyuarakan Islam Pertengahan, Islam Washatiyah, Islam Moderat, sekaligus sebuah bentuk tanggung jawab kita sebagai umat Islam kebanyakan yang lurus dan tidak menghendaki caci maki, kekerasan, kekejian, baik dalam kata-kata maupun perbuatan.

Di Indonesia, Muhammadiyah menggunakan slogan Islam Berkemajuan, Islam yang mampu beradaptasi dengan kemajuan zaman. Sementara Nahdlatul ‘Ulama memakai semboyan Islam Nusantara, Islam yang mampu beradaptasi dengan budaya masyarakat setempat, selama tak menyimpang dari nilai ketauhidan. Keduanya, di bawah naungan negara bangsa bernama Indonesia, bersama-sama dengan umat Islam lain dan komponen bangsa lain, berhasil membentuk kesejahteraan dan kemakmuran Indonesia, meskipun belum sepenuhnya berhasil dan masih terus diperjuangkan. Namun keindahan hubungan negara, bangsa, dan agama untuk berikhtiar bersama mencapai kemashlahatan umat, patut didengungkan ke negara berpenduduk muslim lain, terutama yang masih mengalami konflik sosial-politik.

Demikianlah uraian tentang sejarah terorisme yang mengatasnamakan Islam dan bagaimana kita sebagai negara bangsa turut berupaya untuk melawannya, dengan cara yang lebih baik. Perlu menjadi catatan penting, bahwa kekerasan atas nama Islam menjadi sorotan saat ini, karena Islam adalah agama yang berkembang paling cepat sekaligus ajarannya yang meyakini sebagai penutup kenabian, memperbaiki agama-agama besar sebelumnya, terutama Yahudi dan Nasrani. Tetapi sejarah kekerasan bukanlah milik Islam sendiri. Seorang pengamat dari Kanada dalam bukunya A World Without Islam atau dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi Apa Jadinya Dunia Tanpa Islam menyatakan dalam kesimpulan di antaranya bahwa aksi bom bunuh diri akan tetap terjadi karena bukan Islam yang pertama kali melakukannya.

Semoga Allaah memudahkan kita dalam ikhtiar bersama menebarkan Islam yang ramah, penuh kasih, dan menjadi rahmat bagi semesta alam. Aamiin.

Cintailah Anak-anak, Berikan Doa dan Teladan Akhlak kepada Mereka

Hadirin yang dirahmati Allaah Ta’aala.

Sesungguhnya fitrah suci manusia itu bukan hanya berhenti pada sekedar sebuah pernikahan, tetapi juga bagaimana pernikahan mampu melanjutkan nasab kebaikan, mampu memperbarui satu generasi baru, generasi yang penuh dengan kesalehan, yakni mempunyai anak, mempunyai keturunan.

Kisah Nabiyullaah Ibrahim ‘AS dan Nabiyullaah Zakariya ‘AS misalnya, adalah contoh nyata bagaimana beliau berdua tidak pernah putus asa mengharap rahmat Allaah Ta’aala menemani kehidupan Beliau berdua, yakni berputra.

Nabiyullaah Zakariya ‘AS (al-Anbiya [21] 89)

doa nabi zakariya

dan (ingatlah kisah) Zakaria, tatkala ia menyeru Tuhannya: “Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah waris yang paling Baik.

Dijawab doanya oleh Allaah Ta’aala dengan mengaruniakan Nabi Yahya ‘AS, meskipun usia Nabi Zakariya ‘AS sudah sepuh.

Sementara Nabiyullaah Ibrahim ‘AS dengan doanya yang sangat masyhur (ash Shaaffaat [37] 100)

doa nabi ibrahim - ash shaffat

Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang Termasuk orang-orang yang saleh.

Diijabahi oleh Allaah Ta’aala dengan mengaruniakan Ismail dari istrinya Hajar dan Ishaq dari istrinya Sarah. Ismail dan Ishaq menjadikan Nabiyullaah Ibrahim ‘AS sebagai puncak nasab, puncak garis keturunan, Bapak para Nabi dan Rasul. Ishaq akan menjadi Nabi ‘AS dan berputra Nabi Ya`qub ‘AS. Nabi Ya`qub ‘AS akan berputra Nabi Yusuf ‘AS dan akan menjadi leluhur dari para Nabi dan Rasul di tanah Palestina.

Sementara Ismail juga akan menjadi Nabi ‘AS dan dari salah satu keturunan Nabi Ismail ‘AS-lah, Rasuulullaah Sayyidinaa Muhammad SAW akan dilahirkan sebagai penutup nasab, penutup jalan keturunan para Nabi dan Rasuul.

Maka, boleh kita katakan, kisah nasab para Nabi dan Rasuul itulah yang memperkokoh pendapat bahwa berkeluarga dan berketurunan adalah cara yang tepat bagi umat manusia untuk menghasilkan generasi baru yang baik, shaleh, dan beriman kepada Allaah Ta’aala.

Hadirin rahimakumullaah.

Kasih sayang orang tua kepada anaknya jauh lebih besar daripada cinta anak kepada bapak-ibunya. Kisah Nabi Nuh ‘AS di dalam Surah Huud dan kisah Nabi Ya`qub ‘AS dengan putranya Yusuf (yang juga akan menjadi Nabi ‘AS) menjadi bukti besarnya cinta orang tua kepada anaknya.

Al-Qur`an surah Huud [11] ayat 42 dan 43 mengisahkan,

Dan Nuh memanggil anak kandungnya, sedangkan anak itu berada di tempat yang jauh terpencil,

“Hai anakku, naiklah (ke perahu) bersama kami, dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir.”

Anaknya menjawab,

“Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!”

Nuh berkata,

“Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allaah selain Allaah (saja) Yang Maha Penyayang.”

Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.

Bahkan, setelah anaknya yang ngeyel tadi tenggelam, saat air bah sudah surut dan Nabi Nuh ‘AS beserta kaumnya yang beriman selamat kembali ke daratan, cinta Nabi Nuh ‘AS tidak pupus. Al Qur`an memberikan informasi dalam ayat berikutnya, surah Huud ayat 45 dan 46

Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata,

“Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya.”

Allaah berfirman,

“Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan). Sesungguhnya (perbuatannya) perbuatan yang tidak baik. Sebab itu, janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakikat)-nya. Sesungguhnya Aku (Allaah) memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan”

Demikian kisah cinta Nabi Nuh ‘AS kepada putranya. Sedangkan kisah cinta Nabi Ya`qub ‘AS kepada putranya Yusuf diabadikan di surah Yusuf [12] ayat 84

“Aduhai duka citaku terhadap Yusuf!” dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan.

Itu adalah ucapan Nabi Ya`qub ‘AS saat mendengar kabar buruk tentang Yusuf muda yang diikuti dengan kebutaan pada mata beliau Nabi Ya`qub ‘AS.

Dan saat Nabi Ya`qub mendapat kabar gembira tentang Yusuf muda, dengan mencium aroma putra kesayangannya melalui baju yang dikirimkan Yusuf kepada Nabi Ya`qub ‘AS, pulihlah penglihatannya.

Al Qur`an menceritakan (Yusuf [12]: 96),

Tatkala telah tiba pembawa kabar gembira itu, maka diletakkannya baju gamis itu ke wajah Ya`qub, lalu kembalilah dia dapat melihat.

Betapa kuatnya cinta ayah kepada anaknya, hingga kepergian sang anak mampu membutakan mata ayahnya, dan karena besarnya cinta itu, hanya aroma sang anak lewat sebuah baju pun mampu mengembalikan penglihatannya.

Hadirin rahimakumullaah.

Fitrah orang tua adalah cinta yang begitu kuat dan besar kepada anak-anaknya, sebagaimana contoh kedua Nabi utusan Allaah tadi. Bahkan ketika seseorang melihat bayi atau anak kecil yang bukan kerabat dekatnya sekalipun, kita akan terjatuh dalam pesona anak kecil.

Hal ini terjadi karena fitrah kita yang dewasa, yakni mencintai anak, bertemu dengan fitrah anak-anak, yakni kepolosan dan kesucian anak-anak, baik kesucian perilaku maupun kesucian hati mereka. Rasuulullaah SAW bersabda tentang kesucian seorang anak

hadits anak fitrah

Semua anak terlahirkan membawa fitrah keagaamaan yang benar. Kedua orang tuanya lah yang menjadikan ia menganut agama Yahudi atau Nasrani atau Majusi.

Anak-anak ibarat kertas putih bersih dan kedua orangtuanya yang akan memulai menulisi kertas tersebut dengan kebaikan atau keburukan.

Hadirin yang dirahmati Allaah Ta’aala.

Seorang anak sedang digendong oleh Rasuulullaah SAW tiba-tiba ngompol. Lalu dengan kasar ibu/pengasuhnya merenggut sang anak, sehingga menangislah anak tersebut. Rasuulullaah SAW menegurnya sembari bersabda,

hadits ramah kpd anak

Perlahan-lahanlah! Sesungguhnya ini (Beliau SAW menunjuk kepada pakaian beliau) dapat dibersihkan oleh air, tetapi apa yang dapat membersihkan kekeruhan hati sang anak?

Ketika suatu saat Rasuulullaah SAW mencium cucunya, Sayyidinaa Hasan bin Ali bin Abi Thalib yang masih kecil, al-Aqra` bun Haabis berkomentar, “Saya memunyai sepuluh orang anak, tidak satu pun di antara mereka yang saya cium”. Rasuulullaah SAW kemudian bersabda,

hadits cium anak 1

Siapa yang tidak memberi rahmat tidak dirahmati.

Bahkan Rasuulullaah SAW berkomentar kepada seseorang yang tidak pernah mencium anaknya,

hadits cium anak 2

Apakah saya dapat melakukan sesuatu untukmu setelah Allaah mencabut kasih sayang dari hatimu?

Hadirin rahimakumullaah.

Demikianlah pentingnya kita mencurahkan kasih sayang kepada anak-anak, lebih-lebih anak kita sendiri atau kerabat dekat kita. Sesuatu yang buruk, meskipun sangat kecil bentuknya akan mempengaruhi jiwa mereka dan boleh jadi akan membekas hingga menjadi luka yang tak tersembuhkan.

Kasus di sekolah internasional di Jakarta adalah contoh pelecehan yang nyata. Saya menangis membaca beritanya. Sang anak tak mau cerita kepada ibunya, baru setelah ibunya mengibaratkan pamannya sebagai pahlawan yang akan memberantas kejahatan, berceritalah sang anak kepada pamannya, dan terbukalah kasus pelecehan ini.

Kita sangat sedih mendengar ini. Dia bukan siapa-siapa kita. Tetapi dia hanya anak-anak yang sangat polos. Trenyuh membayangkan betapa sang anak sangat terluka, tidak mau bertemu dengan orang lain. Takut dengan pisau. Menangis setiap malam. Dan trauma-trauma lainnya. Bagaimana dengan masa depannya? Bagaimana kehidupannya saat dewasa nanti? Banyak kekhawatiran muncul.

Kasus tersebut hanya satu contoh yang sangat parah. Tetapi juga sangat mungkin hal semacam itu terjadi di sekitar kita, meskipun tidak sampai tingkat separah itu pelecehannya.

Melalui mimbar ini pula, saya mendorong kepada diri saya sendiri utamanya dan secara umum kepada seluruh hadirin rahimakumullaah, mari mulai sekarang kita perbaiki perilaku kita kepada anak-anak, siapapun anak itu, saudara atau bukan, kerabat atau bukan, berperilaku baiklah kepada mereka.

Setiap bertemu dengan anak kecil atau bayi, sedang semarah apapun suasana hati kita, seburuk apapun diri kita yang sesungguhnya berikan senyum kepada mereka. Jangan sekalipun tunjukkan ekspresi buruk atau bahkan perilaku tidak terpuji. Jangan, jauhkan mereka dari seperti itu.

Kalau perlu ucapkan doa Nabi Ibrahim ‘AS kepada mereka, rabbi habli minash-shalihiin. Sentuh mereka, cium mereka, berikan kasih sayang kepada mereka.

Generasi muda kita sekarang masih ada banyak yang masa lalunya kurang disayangi oleh orang lain. Maka dia tidak pernah menunjukkan kasihnya kepada orang lain. Di Jakarta, seusia SMP dan SMA tawur dengan senjata tajam. Di Jogja pernah terjadi pembunuhan dengan anak panah beracun.

Di Makassar mahasiswa, generasi muda kita, tidak segan membakar kampusnya karena dendam, padahal semuanya muslim. Saat kampanye kemarin, di Jogja, yang kampanye pemuda, tapi arogansinya luar biasa. Orang lain sedang mau menepi, sedang proses menepikan kendaraannya, dihantam begitu saja dianggap terlalu lama.

Di mana rahmat mereka sebagai manusia kepada sesama manusia? Di mana cinta kasih mereka kepada sesama manusia? Jangan-jangan, dulu orang tuanya kurang kuat doanya, kurang istiqamah doanya, kurang perhatian, atau bahkan karena orang tuanya jarang menampakkan rasa cintanya kepada sang anak?

Hadirin yang dirahmati Allaah.

Mari kita sekarang kita berubah, kita perbaiki perilaku kita kepada anak dan bayi. Curahi mereka dengan rasa sayang, curahi mereka dengan doa-doa kita.

Allaah tidak akan menyia-nyiakan sebuah perbuatan baik, sekecil apapun ada balasannya. Jika kelak ada seorang anak, yang dewasa dan menjadi orang shalih karena kita, meskipun sumbangan kita hanya dengan doa atau sebuah perilaku baik, maka ingat, fa man-ya’mal mitsqala dzarratin khayray-yarah, tidak ada perbuatan baik, sekecil apapun perbuatan itu, kecuali berbalas kebaikan dari Allaah.

Dan sebaliknya, jika kelak ada anak yang dewasanya menjadi tidak baik, berakhlak buruk, dan itu karena sumbangan kita, karena kita pernah berperilaku buruk di depannya dengan sengaja, meskipun hanya kecil, meskipun hanya sepele, ingat lahaamaa kasabat wa ‘alayha mak tasabat, perbuatan baik ada balasan rahmatnya, perbuatan buruk ada balasan hukumannya.

Mari bersama-sama kita cegah generasi buruk lahir. Kita semua bisa mencegahnya bersama-sama, dengan perbuatan diri masing-masing. Jangan pernah sepelekan karena kecil, karena Allaah al-Lathiif, Maha-lembut, termasuk betapa rincinya Allaah dalam meneliti perbuatan kita, selembut apapun, sekecil apapun perbuatan baik itu.

Ingat bahwa kita tidak mewarisi alam semesta ini dari leluhur kita, tetapi sekarang kita meminjam bumi ini dari anak-keturunan kita. Kita bersama-sama cegah bangsa ini dari cengkeraman pemimpin zhalim dan tak berakhlak dengan mendidik generasi muda kita lewat doa dan teladan kebaikan.

Allaah Ta’aala berfirman dalam surah at-Tiin ayat keempat,

at tiin 4

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk (fisik dan psikis) yang sebaik-baiknya.

Dalam ayat ini Allaah menggunakan kata “Kami”, bukan “Aku” yang membawa makna ada peran selain Allaah, yakni peran orang tua, peran Bapak dan Ibu. Juga dengan peran orang dan lingkungan seseorang ketika ia beranjak dewasa.

Hadirin rahimakumullaah.

Tidak perlu menunggu Pemilu 5 tahun sekali untuk mengubah negeri kita menjadi lebih baik. Mari kita mulai sekarang dengan berinvestasi doa dan teladan kebaikan kepada setiap anak kecil, utamanya anak kita sendiri dan kerabat kita, maupun anak-anak yang kita temui, demi masa depan mereka dan masa depan bangsa kita.

Kalau Allaah menjamin kita sebagai sebaik-baik ciptaan dan negeri ini diisi, dipimpin oleh sebaik-baik manusia, maka akan terwujud keluarga-keluarga terbaik, kampung-kampung terbaik, dan akhirnya terus meluas menjadi negeri terbaik yang penuh dengan keberkahan Allaah Ta’aala.

Sebagai penutup, Sayyidinaa ‘Ali karamallaahu wajhah, menantu dan khalifah Rasuul SAW keempat berpesan,

sayyidina ali - pendidikan anak

Didiklah anak-anakmu, (dengan pendidikan yang sesuai) karena mereka itu diciptakan untuk masa yang berbeda dengan masamu (Sayyidinaa ‘Ali KW).

Mari, selain memberikan doa dan teladan dalam berperilaku dan berkata-kata, kita fasilitasi anak-anak, generasi muda kita dengan pendidikan yang terbaik, demi masa depan mereka, masa depan bangsa Indonesia, masa depan umat manusia.

Semoga Allaah memudahkan hati dan diri kita untuk terus memperbaiki diri, aamiin Allaahumma aamiin.

***

Disampaikan sebagai khatbah Jumat pada 25 April 2014 di Masjid Sabilul Muttaqin, Jalan Monjali.

 

Membaca Kehidupan untuk Kehidupan yang Lebih Baik

Membaca itu bukan sekedar mengeja huruf kemudian mengucapkannya. Tapi membaca juga bisa dimaknai sebagai mengeja peristiwa di sekitar kita, untuk kemudian mengucapkannya kepada hati di akal untuk ditelusur hikmahnya. Atau dengan bahasa lain, inilah yang disebut dengan proses berpikir, mempelajari kejadian di sekeliling kita, sebagai pelajaran bagi kehidupan.

Sering terjadi di antara kita, bahkan saya sendiri juga, kita menghakimi atau menilai atau menyimpulkan suatu peristiwa atau sifat seseorang hanya dengan pengetahuan yang sedikit tentangnya. Bahasa kerennya, kita mengabaikan nasihat –entah dari siapa- don’t judge a book by its cover.

Perlu menjadi pemahaman kita, bahwa sebuah peristiwa pasti terjadi karena disebabkan oleh tingkah polah manusia. Sementara kita juga tahu bahwa sifat manusia itu bermacam rupa bentuknya, yang sedemikian rupa sehingga tercermin pada tindak-tanduknya.

Di sisi lain, sifat seseorang tidak terbentuk begitu saja. Ada banyak faktor yang membentuknya, seperti orang tua dan pola pendidikan di rumah, pemahaman agamanya, lingkungan tempat tinggalnya, lingkungan sekolahnya, tingkat pendidikannya, kondisi besar negerinya saat ia tumbuh, peristiwa-peristiwa traumatik sepanjang kehidupannya, dan seterusnya, dan sebagainya, dan lain-lain. Banyak, sangat banyak.

Maka, menghakimi / menilai sebuah kejadian atau seseorang karena kita merasa tahu itu tidak tepat sama sekali. Berbeda kasusnya, kalau kita memang memahaminya, mengetahui seluk-beluknya, kita berhak untuk berpendapat mengenainya.

Sebagai ilustrasi, ketika ada seseorang yang galak dalam segala hal, jangan kemudian langsung membenci manusianya, tapi bacalah orang tersebut. Membaca tidak bisa di sama artikan dengan bertanya untuk ngrasani atau menggunjing, karena pembacaan ini bisa dilakukan dengan banyak cara, seperti ngobrol santai dengan orangnya.

Pembacaan pada orang tersebut, semisal, di mana ia dididik, bagaimana orang tuanya, bagaimana masa mudanya dihabiskan –karena biasanya yang galak itu orang yang sudah tua- dan seterusnya, pasti akan ditemukan fakta-fakta menarik. Boleh jadi, dia galak karena terlanjur terbiasa sejak kecil, atau karena guru sekolahnya yang galak, atau karena kehidupan mudanya sangat keras, atau mungkin sebab lainnya.

Ketika kita sudah menyelesaikan puzzle terhadap dia yang galak, kita bisa melihat, betapa beruntungnya kita, tidak mengalami galaknya kehidupan yang telah membentuk seseorang tersebut menjadi galak. Yang muncul kemudian adalah sebuah rasa empati mendalam dan renungan mendalam tentang kehidupan seorang manusia.

Ibarat sebuah amal dalam kehidupan beragama, bahwa amal dihitung atas niatnya. Apa yang tampak terjadi bukanlah kejadian yang sesungguhnya, karena yang sebenarnya terjadi sesungguhnya tersimpan di dalamnya hati. Sungguh adil penghakiman Allaah, bahwa yang dinilai adalah niat dari sebuah perbuatan, bukan apa dan seberapa besar perbuatan itu di mata manusia.

Pun dengan sikap membaca. Membaca peristiwa atau kehidupan seseorang bagaikan mencari bentuk peristiwa atau orang tersebut dalam wujud yang sesungguhnya. Meskipun tujuan awalnya untuk menghakimi, untuk menilai, tapi pada akhirnya yang muncul adalah sebuah pemahaman bagaimana kehidupan kita berjalan.

Boleh jadi, di antara pembaca ada yang tidak setuju dengan uraian di atas yang setidaknya berpijak dengan dua alasan,

kita tidak diperbolehkan untuk mencari aib orang lain sehingga lupa dengan keburukan kita, dan
apa urusannya mengusik kehidupan orang lain, wong hidup diri sendiri saja susah

Saya sampaikan argumen saya, bahwa membaca kehidupan seseorang tidak berarti mencari aib. Karena penjelasan saya di atas –tentang galaknya seseorang- tidak berlanjut dengan mengorek keburukannya, tapi mengorek kehidupan yang membentuknya tanpa menggunjing. Artinya, itu hanya bisa dilakukan dengan orang itu sendiri. Maukah anda bersimpati dengan orang galak kepada anda dengan mendekatinya? Itu pertanyaannya. Cobalah memandang bahwa semua orang itu sama, punya kelebihan, punya kekurangan. Kalau galaknya adalah kekurangannya, pasti ada kelebihannya di sisi lain. Datangi, silaturrahim, temukanlah kehidupan yang sesungguhnya.

Sementara bantahan poin kedua cukup saya balik dengan mengatakan, itulah kenapa kehidupanmu terasa susah, karena tidak mau bersimpati, tidak mau belajar dari kehidupan orang lain. Dan sikap membaca ini tidak mengusik, karena berintikan silaturrahim.

Patut menjadi syarat dan ketentuan khusus tentang sikap membaca seseorang ini bahwa semua harus dilakukan pada orang atau peristiwa yang tidak membawa bahaya bagi kita. Ilustrasinya, kalau kita tidak punya iman dan amal yang kuat, ya jangan coba-coba membaca para kriminal yang mungkin berada di sekitar kita. Karena boleh jadi justru kita yang terbawa karena kurangnya iman dan amal kita.

Tips saya untuk membaca ini paling pas dipraktekkan sebagai sebuah defense weapon alias senjata pasif, ketika kita kebetulan terganggu dengan sifat tertentu seseorang, dalam kehidupan bermasyarakat kita. Selebihnya, cukup kita gunakan untuk membaca peristiwa umum yang terjadi dalam kehidupan kita, sebagai pelajaran dan memori di masa yang akan datang.

Sikap untuk membaca segala hal akan membuat kita menjadi dewasa karena sedikit mendapat pencerahan tentang makna hidup: bahwa syukur dan bahagia itu bisa diraih dengan empati, bahwa segala sesuatu tak ada yang sempurna, bahwa setiap orang itu sama, ada kelebihan, ada pula kekurangan.

Apakah kita Termasuk Tetangga yang Keterlaluan?

Kalau ada orang yang sedang mencuri tertangkap basah, apakah sang pelaku harus langsung dijuluki sebagai “pencuri” sepanjang sisa hidupnya?

Pertanyaan semacam ini sering muncul dalam benak saya, setiap muncul publisitas tentang kasus pencurian (termasuk korupsi, tentu saja).

Julukan pencuri, atau maling, atau koruptor, menurut saya hanya pantas untuk menjuluki mereka yang menjadi pejabat publik atau siapapun dia yang menciderai amanah yang diembannya. Artinya, ada peluang untuk menolak, tetapi tak mau mengambil peluang tersebut.

Alasan dlarurat pun menurut saya tidak berlaku bagi mereka. Lha wong mereka mendapat amanah itu karena kapabilitasnya, pendidikan, atau kemampuan bahkan jaringannya kok alasannya darurat. Artinya, dia bisa menolak dan menghindar, toh jika dia diancam sedemikian rupa (jika tidak mau korupsi misalnya), dia masih punya kepandaian, pengalaman, pendidikan, dan thethek bengek lainnya untuk digunakan menangkal ancaman tersebut. Intinya, dia punya peluang, dia ada pilihan, tapi tak mau mengambilnya.

Maka, julukan koruptor atau maling pun menurut saya lebih pas ditujukan pada mereka. Hukuman psikologis berupa merk diharap lebih besar efek jeranya. Pemiskinan? Bisa sih, tapi bagaimanapun mereka punya ilmu, ada pengalaman, serta banyak jaringan yang bisa dia gunakan untuk mencari nafkah. (satu hal, jangan gunakan untuk menjuluki nasab atau keluarganya, tapi gunakan hanya untuk dirinya sendiri!)

***

Berbeda dengan kasus di kalangan masyarakat bawah. Berkali muncul di pemberitaan tentang persidangan pencurian semangka, kayu bakar, piring, dan lain-lain. Yang terbaru, siang tadi di SCTV saya menyaksikan berita miris: di Bone, ada seorang ibu (wanita) tertangkap basah sedang mencuri, dihajar massa, digunduli, diikat di tiang dan jadi bulan-bulanan masyarakat yang marah.

Saya tidak mau menyalahkan sistem hukum yang mengadili para pelaku pencurian. Kita sudah terlanjur terlalu lama dididik untuk tidak percaya dengan sistem hukum kita sendiri dikarenakan aparatnya yang korup. Sudah saatnya kita lebih sadar hukum. Berani memperjuangkan hak kita di mata hukum. Apalagi dengan dukungan sosial media yang sudah sangat terbuka. Tak ada alasan untuk takut.

Tetapi saya juga tidak mau membela para pelaku pencurian itu dengan membenarkan perbuatannya. Mereka salah, mencuri, yakni mengambil apa yang bukan haknya itu salah. Tak ada peradaban yang membenarkan perbuatan mencuri. Hanya saja, yang perlu ditelusuri adalah akar masalahnya: mengapa ia mencuri?

***

Saya masih ingat ketika menjalani Kuliah Kerja Nyata di Panggang, Gunungkidul, Yogyakarta. Sebagian besar penduduknya adalah petani. Ketika ada survey tentang penghasilan, tak ada yang bisa menyebut angka pasti pendapat bulanan. Tapi mereka tak ada yang mengeluh karenanya. Menurut saya, mereka adalah orang yang qana’ah, nrima ing pandum sesudah melakukan ikhtiar dan tawakal. Alam sudah mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari.

Menariknya adalah, di tengah suasana jalan yang gelap dan masih banyak kebun-tegalan yang gelap setiap malam, tak pernah ada kasus pencurian serius di sana. Bahkan pintu utama rumah tak pernah dikunci meski malam telah tiba.

Kasus pencurian yang dilakukan oleh masyarakat miskin –sebagaimana sering kita dengar- biasanya berlatar belakang suasana dlarurat, emergency. Mari kita telusuri lebih lanjut. Bagaimana bisa muncul kondisi darurat? Apakah sedemikian miskinnya, sebegitu parahnya ketidak-mampuannya, sehingga muncul dorongan untuk mencuri demi memenuhi kebutuhan dasarnya?

Di sisi yang lain, sebagaimana pernah saya bahas dalam tulisan tentang akhlak, al-Qur`an memberikan isyarat bahwa perbuatan baik itu perbuatan mudah, sedang perbuatan buruk (dalam konteks ini, mencuri) adalah perbuatan sulit. Artinya, dibutuhkan satu dorongan yang sangat kuat dan sangat memaksa, sehingga seseorang harus melakukannya.

Menurut saya, kesalahan tidak bisa ditimpakan begitu saja hanya kepada dia yang melakukan pencurian, tetapi perlu juga dikaji bahwa pencurian muncul adalah juga karena kesalahan para tetangga pelaku pencurian!

Kalau memang pelaku pencurian tersebut adalah mencuri karena desakan ekonomi (yang sangat kuat, dan memaksa sehingga harus dipenuhi saat itu juga), maka tetangganya bisa kita golongkan sebagai tetangga yang keterlaluan. Seberapa besarkah jiwa individualismenya sehingga tidak mampu mendeteksi ke-dlarurat-an yang dialami tetangganya?

Alasan pribadi yang tertutup untuk menolak tesis saya ini dalam pandangan saya tidak mampu diterima. Masih segar di ingatan saya bagaimana penjelasan kawan saya yang menekuni bidang psikologi bahwa fitrah manusia timur yang terbuka dalam kemasyarakatan sehingga profesi psikiater arang payu di bumi Indonesia.

Kasus di tempat KKN saya misalnya, menunjukkan bahwa ke-tidak-mampu-an tidak serta merta menimbulkan ke-dlarurat-an yang mendorong ke perbuatan buruk. Sistem kendali kemasyarakatan yang baikkah? Wallaahu a’lam.

***

Saya pernah mendengar nasihat bahwa jika kita memasak sesuatu dan baunya hingga mencapai ke rumah tetangga maka kewajiban moral kita adalah memberikan sebagian masakan kepada tetangga tersebut.

Lebih jauh, sistem sosial masyarakat muslim, dengan adanya fidyah, infaq, shadaqah, dan –tentu saja- zakat, memberikan peluang bagi kita semua untuk menjadi tetangga yang baik, menjadi masyarakat yang baik, bertanggungjawab terhadap orang-orang terdekatnya.

Dan melihat mayoritasnya muslim sebagai penghuni bangsa ini ditambah dengan fitrah sebagai masyarakatyang terbuka, melalui tulisan ini saya berharap, besok pagi dan selamanya di masa yang akan datang tak akan pernah muncul lagi berita pencurian karena keterpaksaan kondisi ekonomi. Semoga.

Karangjati, Ahad, 8 Juli 2012,

Ahmad Rahma Wardhana

bin Suwarno

Kelengahan

Ditulis untuk memenuhi amanah menjadi khatib Jumat dan narasumber majelis ta’lim.

Dialah Allaah Ta’aala yang menganugerahi manusia kehidupan yang sempurna, kehidupan zhahir dan kehidupan bathin. Kehidupan zhahir, yaitu bagaimana mata mampu memandang, telinga mampu mendengar, bibir mampu berucap, tangan mampu menengadah, kaki mampu melangkah, serta seluruh bagian dari tubuh kita yang mampu beraktivitas, itulah kehidupan zhahir dari Allaah Ta’aala.

Dialah Allaah Ta’aala yang berkenan pula menganugerahi kehidupan bathin kepada kita semua. Kehidupan bathin, yaitu bagaimana muncul dalam jiwa kata rasa sabar atau tergesa, rasa marah atau ridla, rasa syukur dan gembira, tawa atau tangis, rasa bahagia atau rasa sedih, serta semua kondisi yang mencakup suasana hati kita, itulah kehidupan bathin. Kesemuanya, baik kehidupan zhahir atau bathin, semoga terus menerus dikukuhkan agar berada di dalam diri kita, yang insya-Allaah semoga mampu menjadi sebab bagi kita dalam upaya meningkatkan iman dan takwa kita kepada Allaah Ta’aala.

Hadirin rahimakumullaah, semoga shalawat serta salam dari Dzat Allaah dan seluruh makhluk ciptaan Allaah, tetap dan terus tercurahkan kepada junjungan kita bersama, pemimpin umat manusia sekaligus penutup dan pemimpin para Nabi dan Rasul, seseorang yang paling pantas menjadi teladan dalam kehidupan, seseorang yang menjadi sebab bagi tercurahkannya keberkahan Allaah, baik bagi yang mencintainya maupun bagi seorang yang membencinya, beliaulah Rasuulullaah Muhammad SAW.

Tersampaikan pula semoga, kepada keluarga beliau SAW, sahabat beliau SAW, serta umat beliau SAW, hingga datangnya akhir zaman kelak. Amiin, ya Rabbal ‘alaamiin. Hadirin rahimakumullaah, selanjutnya saya kembali mengingatkan, khusus dan utamanya kepada diri saya sendiri serta kepada seluruh hadirin rahimakumullaah pada umumnya, bahwa di hari raya Jumat yang penuh kemuliaan ini, marilah kita jadikan momentum untuk kembali memperbarui sekaligus meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allaah Ta’aala, dengan sebenar-benarnya iman dan takwa.

Ketakwaan yang sesungguhnya, yaitu bagaimana kita mampu untuk selalu mengarahkan hati, lisan, dan perbuatan dalam usaha menjalankan setiap hal yang diperintahkan oleh Allaah Ta’aala sekaligus bersamaan dengan usaha untuk menjauhkan diri dari semua hal yang terlarang dari sisi Allaah Ta’aala. Karena bagi Allaah Ta’aala, semulia-mulia kedudukan manusia bukanlah terukur dari harta atau jabatan, bukanlah terukur dari kekayaan dan kedudukan, namun terukur dari ketakwaannya kepada Allaah Ta’aala.

Sebagaimana termaktub dalam ayat ke-13 surat al-Hujuraat, Allaah Ta’aala berfirman

Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allaah ialah yang paling bertakwa di antara kamu.

Hadirin rahimakumullaah, saat ini negeri kita, Indonesia tercinta sedang terjerat oleh ketidakpastian di bidang penegakan hukum. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang dipimpin oleh tokoh asli Yogyakarta, tokoh Muhammadiyah, dosen UII yang berintegritas tinggi, sedang dirundung perkara korup suap sebagaimana dikabarkan oleh mantan Bendahara Umum sebuah partai politik. Mahkamah Konstitusi yang dipimpin oleh seorang guru besar bidang Hukum UII, seorang yang berintegritas tinggi dan tinggal lama di Yogyakarta, sedang diserang masalah pemalsuan surat. Sementara Mahkamah Agung yang menjadi rumah bersama bagi pengadilan di seluruh negeri sedang diuji oleh munculnya temuan rekayasa dalam kasus yang melibatkan mantan Ketua KPK.

Dan beberapa bulan yang lalu, kita masih mendengar berita tentang penangkapan jaksa dan hakim yang terlibat penyuapan. Yang lebih menyakitkan bagi kita adalah ketika lembaga-lembaga hukum tersebut diserang oleh temuan-temuan dan tuduhan-tuduhan, sehingga semua lapisan masyarakat, kita semua, mampu menyatukan opini dan simpati untuk mendukung usaha pemberantasan korupsi, justru ada oknum di sebuah kementerian yang tertangkap tangan, diduga menerima uang suap!

Sangatlah menyakitkan, para penegak hukum sedang dibakar semangatnya oleh masyarakat, semua orang fokus pada pemberitaan pemberantasan korupsi, eh, masih ada saja yang berani melanggar. Dan pelanggaran tersebut menyangkut anggaran negara tahun 2011, tahun ini, dan tertangkap di bulan Ramadlan!

Hadirin rahimakumullaah, sering terdengar para imam membaca surat at-Takaatsuur dalam shalat-shalat rawatib lima waktu. Apabila kita membaca makna surat tersebut, maka bisa kita simpulkan bahwa sumber dari munculnya sikap suap dan korup adalah belum adanya keimanan terhadap kehidupan akhirat.

Apa yang didapat dari korupsi dan mark-up anggaran? Tentu saja uang. Tercatat, tetapi tidak dibelanjakan.

Apa yang didapat dari penyuapan pada sebuah proyek? Tentu saja agar diri sang penyuap menjadi pemenang tender. Ujungnya juga uang dan kekayaan.

Sedangkan at-Takaatsuur mengingatkan kepada kita:

Saling memperbanyak (kenikmatan duniawi dan berbangga-bangga menyangkut anak dan harta) telah melengahkan kamu [1], sampai kamu telah menziarahi (masuk) dalam kubur-kubur (kematian) [2].

Berhati-hatilah, (jangan melakukan persaingan semacam itu)! Kelak kamu akan mengetahui (akibatnya) [3]. (Sekali lagi) berhati-hatilah, kelak kamu akan mengetahui [4].

Berhati-hatilah, (jangan berbuat begitu, sungguh) jika seandainya kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, (niscaya kamu tidak akan pernah melakukan hal itu) [5]

Sungguh, pasti kamu akan melihat (neraka) Jahim [6], kemudian, sungguh pasti kamu akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin (yakni keyakinan yang tak sedikit pun disentuh keraguan, yaitu sebagaimana keyakinan karena melihat dengan mata) [7],

kemudian sungguh kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang an-Na’iim (yakni tentang aneka kenikmatan duniawi yang kamu raih atau kenikmatan akhirat yang kamu abaikan [8].

Sungguh jelas peringatan Allaah Ta’aala kepada kita tentang meruginya mereka, kita semua, jika terjerumus ke dalam usaha pengejaran kenikmatan duniawi, berlomba dalam membangga-banggakannya, sehingga lupa dengan kenikmatan akhirat hingga datangnya kematian.

Dalam tafsirnya tentang surat at-Takaatsur, Prof. Quraish Shihab menutup penjelasannya dengan menulis

Seseorang yang menyadari bahwa ada kenikmatan yang melebihi kenikmatan duniawi tentu tidak akan mengarahkan seluruh pandangan dan usahanya semata-mata hanya kepada kenikmatan duniawi yang sementara itu, bahkan seseorang yang menyadari betapa besar kenikmatan ukhrawi itu akan bersedia mengorbankan kenikmata duniawi yang dimiliki dan dirasakannya demi memperoleh kenikmatan ukhrawi itu.

Apa yang bisa kita lakukan sebagai bagian dari bangsa ini namun tak memiliki wewenang terhadap sistem hukum di negeri ini?

Hadirin rahimakumullaah, kita punya wewenang pada diri kita sendiri untuk berusaha keras menghindarkan diri dari korup dan suap. Kita juga memiliki wewenang pada orang-orang terdekat kita, orang-orang pada lingkaran terkecil kehidupan kita, keluarga.

Mari kita hindarkan diri dan keluarga kita dari perilaku dan kebiasaan korup serta suap. Utamanya, kita prioritaskan pada putra dan kerabat kita yang masih belum menyentuh dunia nyata bisnis dan organisasi, mereka para pelajar dan anak-anak. Kita biasakan sejak dini, kita biasakan dari hal-hal kecil, kita biasakan pada diri dan orang-orang terdekat kita.

Allaah Ta’aala berfirman dalam surat ar-Ra’du ayat 11

Sesungguhnya Allaah tidak mengubah suatu kaum sehingga mereka mengubah apa (sikap mental dan pikiran) yang ada pada diri mereka.

Kalau kaum itu adalah negara bangsa bernama Indonesia, maka yang harus berubah adalah diri dan keluarga kita masing-masing. Seorang ulama mengatakan, keluarga adalah jiwa masyarakat dan tulang punggungnya. Kesejahteraan lahir dan batin yang dinikmati oleh suatu bangsa, atau sebaliknya, kebodohan dan keterbelakangannya, adalah cerminan dari keadaan keluarga yang hidup pada masyarakat bangsa tersebut.

Hadirin rahimakumullaah, selain melakukan ikhtiar zhahir, yakni usaha nyata berupa pendidikan dan teladan pada diri sendiri, keluarga, dan masyarakat, sungguh indah jika masyarakat bangsa Indonesia, kita semua, ikut pula melakukan ikhtiar bathin, yaitu turut mendoakan bangsa Indonesia di antara lantunan dzikir dan munajat kita kepada Allaah Ta’aala.

Ada sebuah doa di dalam al-Qur`an, yang dalam pandangan saya pribadi makna doa tersebut sangat cocok dengan kondisi penegakan hukum negeri kita Indonesia tercinta.

Doa tersebut terangkai dalam kisah Nabi Syu’aib ‘AS yang umat beliau dihancurkan dengan gempa oleh Allaah Ta’aala karena kedurhakaannya. Doa tersebut termaktub dalam penutup ayat 89 surat ketujuh al-A’raaf:

Tuhan Pemelihara kami, hakimilah (putuskanlah) antara kami dan antara kaum kami dengan haq (kebenaran dan keadilan), dan Engkaulah sebaik-baiknya Hakim, Sang Pemberi Keputusan.

Mari bersama-sama kita masukkan doa tersebut dalam daftar doa harian kita, sebagai pengiring ikhtiar zhahir kita membangun diri pribadi yang terbaik, demi keluarga, masyarakat dan bangsa yang lebih baik, masyarakat dan bangsa yang semoga dinaungi oleh rahmat Allaah, dicurahi kasih Allaah , dan senantiasa dalam perlindungan Allaah Ta’aala. Amiin, ya Rabbal ‘alamiin.

Bahagia dengan Berimajinasi*

Menurut saya, berimajinasi itu boleh-boleh saja. Tentu saja kebolehan ini menuntut adanya syarat dan ketentuan. Yah, mirip-mirip iklan yang isinya wah lah, pasti ada tanda bintang kecil: “syarat dan ketentuan berlaku”.

Kemajuan informasi dan teknologi misalnya. Ia tak pernah lepas dari imajinasi. Sejak Icarus dari mitologi Yunani, kemudian Leonardo da Vinci dari zaman Renaissance, orang sudah berimajinasi untuk bisa mengarungi angkasa. Belum ada yang berhasil, hingga akhirnya Wright bersaudara membuka jalan terang bagi umat manusia untuk berjalan di udara. Pun dengan teknologi-teknologi lain yang sudah mapan sekarang, semua berawal dari imajinasi.

Sering saya berimajinasi, membayangkan sesuatu yang positif dan indah sedang terjadi pada diri saya atau sedang terjadi pada orang-orang yang saya sayangi. Beberapa imajinasi tersebut terjadi kemudian. Beberapa mirip, beberapa yang lain nyrempet-nyrempet, sedang beberapa yang lain tidak terjadi, atau mungkin lebih tepatnya adalah, belum terjadi.

Prof. Yohanes Surya dengan mestakung­-nya dan Rhonda Byrne dengan the secret-nya, saya kira ada benarnya juga. Secara umum, mestakung-nya Prof. Yohanes Surya adalah sistem semesta mendukung, yakni bahwa kesungguhan kita terhadap sesuatu pastilah akan didukung oleh semesta raya. Sementara Rhonda Byrne berteori bahwa ada hukum tarik menarik antara alam pikiran kita dengan semesta raya. Kedua teori ini sejalan dengan tentang imajinasi yang saya punyai.

***

Masih segar dalam ingatan saya, bagaimana bapak-ibu guru bimbingan konseling SMA dulu sering menyarankan agar kata-kata motivasi semacam lulus, masuk Jurusan xxx Universitas xxx, sukses, dan lain sebagainya, agar ditulis kemudian ditempel di berbagai tempat di sekitar kita, yang sering kita lihat, sehingga akan sering pula kita membaca kata-kata tersebut.

Seorang guru SMA saya yang lain, memberikan analogi dengan dirinya sendiri. Beliau pernah menginginkan sepeda motor, tetapi karena uang belum mencukupi maka beliau gunting gambar motor tersebut, kemudian diletakkan di dalam dompet, agar selalu nampak setiap beliau bertransaksi dengan uang.

Kedua contoh di atas adalah bentuk membangun imajinasi dalam meraih sebuah cita. Yah, konsepnya mirip mempengaruhi alam bawah sadar dengan memberikan asupan berupa memori yang sama dan terus menerus. Tentang alam bawah sadar ini teman-teman yang belajar psikologi bisa menjelaskan dengan lebih ilmiah.

Cara kerja imajinasi ini sebenarnya logis dan mudah dipahami. Sebagai ilustrasi, misalnya kita sedang ingin lulus SMA. Kita tulis kata lulus di lemari pakaian, di dekat cermin, di atas meja belajar, desktop PC dan laptop, wallpaper dan screensaver hp, serta tempat lainnya. Maka secara tidak sadar, dzikir kita adalah segala sesuatu tentang lulus, karena kata itulah yang paling sering kita lihat. Alhasil, aktivitas apapun yang sedang kita lakukan, pasti akan bisa kita kaitkan dengan ikhtiar menuju cita-cita lulus. Lebih jauh, ketika terminologi lulus ini sudah benar-benar menguasai diri kita, muncullah kreativitas untuk menarik benang merah antara yang sedang terjadi dengan diri kita sekarang dengan titik tujuan lulus. Terciptalah jalur-jalur menuju akhir perjalanan: lulus.

Peristiwa inilah yang dimaksud oleh Prof. Yohanes Surya sebagai semesta mendukung. Bahwa karena kesungguhan diri kita terhadap sebuah tujuanlah yang menghidupkan sel-sel kelabu kita (kata Hercule Poirot) untuk meretas jalan menuju akhir tujuan.

Dan peristiwa ini pula yang dimaksud oleh Rhonda Byrne sebagai hukum tarik menarik antara alam pikiran dengan semesta. Bahwa keseriusan kita dalam ikhtiar mencapai sebuah asa mampu bertransformasi menjadi medan magnet untuk menarik segala sesuatu di sekeliling kehidupan kita untuk menjadi sumber energi dalam safar kepada cita-cita.

Konsep imajinasi semacam ini yang sering disebut dengan optimisme dan kesungguhan. Berimajinasi, yakni membayangkan masa depan berupa keberhasilan cita-cita adalah mendesain masa depan, merencanakan jalannya kehidupan di masa yang akan datang, memandang positif kehendak Tuhan pada diri kita.

Dan imajinasi yang terus menerus tersebut mengantar kita pada fase berikutnya: kesungguhan. Kesungguhan akan mengundang kreativitas, bahwa sekalipun yang sedang kita alami adalah kesulitan, justru kita mampu memanfaatkannya sebagai anak tangga menuju tingginya cita.

***

Maka mari kita desain masa depan kita dengan mengimajinasikannya. Ada baiknya, jika kita bukan tipe orang yang berimajinasi dengan kontinyu (sebagai dzikir bagi alam bawah sadar), maka tulis atau gambarkan imajinasi tersebut, kemudian taruh di tempat-tempat yang sering terlihat oleh kedua mata kita. Imajinasi yang kuat akan menjadi pendamping kita menjalani kehidupan: hidup yang optimis, hidup yang penuh kesungguhan.

Tak ada yang tak mungkin bagi makhluk tersempurna seperti kita, selama kita menggantungkan imajinasi tersebut kepada Sang Maha-sempurna: Tuhan.

Kampus JTF UGM, 25 Juni 2012, 15:00,

Ahmad Rahma Wardhana bin Suwarno

Sumber gambar

http://chimanx.files.wordpress.com/2011/04/spongebob__imagination_by_kssael.png

http://2.bp.blogspot.com/-5xW_0lT_2OA/Twv3GvYlttI/AAAAAAAAAhQ/0N5APOo4mVc/s1600/Da-Vinci-Airplane.jpg

http://www.ipmsstockholm.org/magazine/2003/12/images/photo_wright_2.jpg

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/thumb/0/02/TheSecretLogo.jpg/200px-TheSecretLogo.jpg

Kicau: #kebaikan

dua hari terakhir, hati saya terganggu oleh sebuah pertanyaan aneh tentang #kebaikan.

seseorang bertanya kepada saya tentang #kebaikan yang menrutnya tak pernah ia lakukan kepada saya. benarkah itu?

Benarkah “ia” tidak melakukan #kebaikan kepada saya? Atau memang saya harus menuliskannnya (kembali) satu persatu?

#kebaikanmu adalah mau mendengarku pada awal perjumpaan kita

#kebaikanmu adalah engkau memenuhi harapku untuk duduk pada di sebuah posisi. Terlepas dari motif apapun yang menjadi pijakanmu, engkau telah memenuhinya!

#kebaikanmu adalah (pernah) setia di ujung telepon mendengar ocehanku, meski pada akhirnya aku tahu sesungguhnya engkau tak mau mendengarnya

#kebaikanmu adalah mau bekerja bersama aku yang sedikit pengalaman ini, dalam sebuah perhelatan agung.

#kebaikanmu adalah mau menegurku dengan baik, demi kebaikan banyak orang, demi suksesnya perhelatan agung tersebut.

#kebaikanmu adalah menyadarkanku terhadap kesalahanku hingga pecah tangisku, demi suksesnya perhelatan agung tersebut.

#kebaikanmu adalah perkenananmu menerima kehadiranku di antara waktumu yang begitu sempit, meski hanya beberapa detik

#kebaikanmu adalah menerima apa yang kuberikan kepadamu dengan penuh ridla. (ingat, ada tipe org yang menerima tetapi tidak dengan ridla).

#kebaikanmu adalah mempercayaiku untuk menjadi pendengar kisah-kisahmu. ini adalah salah satu #kebaikanmu terbesarmu!

dan #kebaikan terbesarmu adalah mempercayaiku sebagai pembantu dalam memohonkan doa-doamu kehadirat-Nya.

demikian, sedikit di antara #kebaikanmu kepada diriku. masihkah kau menyangkal dengan redaksi “tak pernah berbuat baik”?

aku bersyukur masih dikaruniai ingatan untuk mengingat #kebaikan orang lain, utamanya #kebaikan darimu. jgn menyangkal. please!

demikian curahan hati saya yang terpendam beberapa hari terakhir. tentang #kebaikan seseorang kepada diriku. #the_end

Kresna Duta dan Indonesia, Awal Bharatayudha Jayabinangun Abad XXI-kah?

Wayang dan Kehidupan

Sering sekali muncul kemiripan antara kehidupan nyata dengan kisah-kisah di dunia pewayangan. Selain kisah wayang merupakan kesenian-kebudayaan yang sengaja dibuat sebagai pelajaran kehidupan, ada teori bahwa kisah pewayangan asli versi India adalah fakta-fakta sejarah yang pernah terjadi.

Ki Anom Sucondro, seorang dalang muda dari Kulonprogo pernah dalam pentasnya pernah mengatakan bahwa budaya yang populer saat ini adalah budaya instan yang tidak mendidik. Artinya, budaya tersebut tidak membawa penikmatnya untuk berpikir dan merenung. Berbeda dengan wayang yang penuh dengan simbol-simbol, perlambangan, serta nilai dan filosofi kehidupan, kesemuanya menuntut penikmatnya agar menggalih tontonan wayang, sedemikian rupa sehingga mampu bertransformasi menjadi tuntunan, pedoman hidup.

Ada sebuah lakon pewayangan masyhur yang menurut saya adalah gambaran tentang peristiwa yang saat ini sedang tercermin dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Dalam pemikiran saya, boleh jadi jalannya kehidupan Indonesia akan sama persis dengan lakon wayang tersebut, jika sikap kita sama persis dengan kisah di dalamnya. Padahal, ending dalam lakon itu adalah awal dari kisah pilu umat manusia: perang saudara.

Sekelumit Jalannya Cerita Kresna Duta

Kresna Duta, secara harfiah bermakna seorang bernama Kresna yang ditugaskan menjadi utusan. Yakni utusan alias duta bagi Pandawa untuk menghadap Kurawa. Adalah Pandawa (5 bersaudara) dan Kurawa (100 bersaudara), saudara sepupuan, ayah keduanya kakak-beradik. Pandawa dikenal sebagai pribadi yang baik, sedangkan Kurawa terkenal karena perangai buruknya.

Saat generasi Pandawa dan Kurawa digariskan memimpin sebuah negara, muncullah berbagai konflik. Dalam konflik ini Pandawa-lah yang selalu mengalah. Mengalah bukan karena kalah, tapi kebaikan hati dan prasangka baik Pandawalah yang bertindak saat menghadapi konflik-konflik itu. Pandawa ingin mendidik Kurawa bahwa keburukan pada akhirnya akan tunduk pada kebaikan.

Hingga pada suatu saat, telah selesai kewajiban yang harus dijalani Pandawa dalam kekalahannya melawan Kurawa. Dan mengutuslah Pandawa seorang raja besar bernama Kresna agar menemui Kurawa menyampaikan habisnya masa kewajiban tersebut, sekaligus agar Kresna meminta pengembalian hak-hak Pandawa yang dirampas oleh Kurawa selama Pandawa menjalani kewajiban –karena kekalahan.

Begitu Kresna tiba di depan Kurawa dan menyampaikan tujuan kedatangannya, di luar dugaan, Duryudana (Kurawa yang paling tua) berkenan memenuhi permintaan Pandawa –melalui utusan seorang Kresna– dan berjanji untuk mengembalikan semua hak Pandawa. Hal ini disampaikan Duryudana di depan para pembesar negerinya, para dewa, dan ayah-ibunya yang menjadi saksi petemuan tersebut.

Sesudah sabda Duryudana untuk memberikan kembali hak Pandawa terdengar, pergilah para dewa sekaligus ayah-ibunya. Pergi dengan kelegaan karena damainya Pandawa dengan Kurawa. Namun, sesaat seusai para dewa serta ayah-ibunya meninggalkan majelis itu, tiba-tiba Duryudana menarik kembali semua ucapannya. Bahkan ia sampai bersumpah tidak akan memberikan apapun yang sudah di tangannya, meskipun sebenarnya bukan haknya, serta mempertahankannya sampai titik darah penghabisan.

Mendengar hal itu Kresna kemudian marah. Kemarahannya, sebagaimana biasanya, mengubah wujud Kresna menjadi raksasa yang siap menghancurkan apapun yang ingin ia hancurkan. Beruntung ada seorang dewa yang kembali ke bumi dan menenangkannya. Kembalilah Kresna ke wujud manusianya dan langsung meninggalkan Kurawa.

Brahala – Triwikrama

Akhir kisah Kresna Duta adalah genderang perang Bharatayudha. Kurawa yang dengan damai tidak berkenan mengembalikan hak Pandawa, maka jalan terakhir adalah Pandawa harus merebutnya dengan kekerasan, sebuah perang. Perang yang tentu saja selalu mengorbankan mereka yang lemah dan tak bersalah. Menewaskan mereka yang tak tahu menahu sebab musababnya. Mengadu persaudaraan menjadi permusuhan.

Bharatayudha Jayabinangun Abad XXI?

Melihat apa yang sering terjadi saat ini di Indonesia, kok menurut saya mirip dengan lakon Kresna Duta ya? Kejahatan dan perilaku bobrok sebagian pembesar negeri sudah ditampakkan oleh sebagian pembesar yang lain. Korupsi dibongkar, kelakuan tidak pantas dibeberkan, pejabat terbukti bersalah di pengadilan, rekayasa-rekayasa terungkap, dan seterusnya, dan sebagainya, dan lain-lain. Akan tetapi sungguh menakjubkan, bahwa perilaku semacam itu kenapa masih terus terjadi? Apakah pengungkapan-pengungkapan yang terus menerus terjadi tidak menyadarkan mereka (yang bobrok dan jahat)?

Bahasa wayangnya, Kresna sudah meminta kembali hak Pandawa. Kresna menampakkan kebenaran, menunjukkan mana yang benar mana yang salah. Tetapi ditolak mentah-mentah oleh Kurawa. Kejahatan tetap jalan, perampasan jalan terus, teriakan kebenaran tak dipedulikan. Satu-satunya jalan keluar adalah kebenaran harus merebut haknya, meski dengan kekerasan. Perang. Perang saudara. Pandawa yang lima dan sekutunya harus berbunuhan dengan saudara sepupunya sendiri, Kurawa yang seratus beserta sekutunya.

Semirip itukah kondisi di Indonesia saat ini? Munculnya kebenaran akankah kita biarkan saja, sehingga kejahatan tetap merajalela hingga munculnya perang saudara atas nama menegakkan kebenaran? Apakah pembiaran kita akan menjadi akhir dari masa damai dan awal dari masa perang? Awal Bharatayudha Jayabinangun Abad XXI-kah?

Silakan kita tafsirkan sendiri-sendiri dengan hati dan pikiran yang jernih, sembari terus menerus menempa diri agar kita menjadi seorang yang mampu istiqamah menjaga idealisme kebaikan, lintas ruang dan waktu.

Blunyah Gede, Rabu 16 November 2011, 20:10 WIB,

Ahmad Rahma Wardhana.

Kicau: #rindu

Setelah sekian hari tidak berkicau, saya akan kembali mencurahkan sebagian isi hati lewat hashtag #rindu

Aku akan me-#rindu-kanmu, 스물여섯-062011 dan 열셋-102011. Sangat #rindu.

Berkali kutatap masa depanku yg –tentu saja- mencakup ke-#rindu-anku kepadamu. Oase di tengah harap berjumpa denganmu.

Masa depan tsb adl adanya hari-hari rutin di mana kita mampu berjumpa, melepas #rindu.

Sebuah perjumpaan di mana kisah & cerita terungkap, cita terlisankan. Dan sejak itu doa terucap dr hatiku untukmu, sbg kelanjutan #rindu-ku

Mungkin engkau tahu, tp mungkin pula engkau tak tahu dan tak pernah tahu. Yg pasti, setiap perpisahan kita adl mjd sebuah awal bg #rindu-ku

Doaku –sbg wujud #rindu-ku- insya-Allaah tak akn pernah lupa sepanjang hayatku. Sbgmn hari ini engkau memintanya kpd-ku, ttg sebuah harapan

Harapan utk tidak mjd sesuatu pd sebuah suatu maqam, demikian ucapmu. #rindu

Akan kujawab dg doaku, semoga Allaah memberikan yg terbaik bagimu. #rindu

Tp tahukah engkau? Banggalah aku, jika saja kelak engkau mampu mencapai maqam tsb. #rindu

Meski harapku, sbgmn harapmu, smg engkau tak pernah mencapainya. Krn maqam tsb akan menjauhkanku dg-mu. #rindu-ku semakin sulit dipenuhi!

Sejak engkau mencapai maqam yg skrg kau berada, aku sdh pernah menatap masa depan-mu ttg maqam yg –mungkin- kelak akan kau capai. #rindu

Aku melihat, engkau berada di maqam tsb. Berjaya di antara para pendukungmu, dg aku berada di dekatmu, memimpin pembacaan doa. #rindu

Doaku adl smg yg terbaik untukmu. Itulah obat #rindu-ku kepadamu.

Sebuah ke- #rindu-an, yg sesungguhnya hanya bisa terobati oleh sebuah perjumpaan. 스물여섯-062011 dan 열셋-102011, aku #rindu. #the_end

Ndalem Blunyah, Jumat 14 Oktober 2011,

Ahmad Rahma Wardhana