Cintailah Anak-anak, Berikan Doa dan Teladan Akhlak kepada Mereka

Hadirin yang dirahmati Allaah Ta’aala.

Sesungguhnya fitrah suci manusia itu bukan hanya berhenti pada sekedar sebuah pernikahan, tetapi juga bagaimana pernikahan mampu melanjutkan nasab kebaikan, mampu memperbarui satu generasi baru, generasi yang penuh dengan kesalehan, yakni mempunyai anak, mempunyai keturunan.

Kisah Nabiyullaah Ibrahim ‘AS dan Nabiyullaah Zakariya ‘AS misalnya, adalah contoh nyata bagaimana beliau berdua tidak pernah putus asa mengharap rahmat Allaah Ta’aala menemani kehidupan Beliau berdua, yakni berputra.

Nabiyullaah Zakariya ‘AS (al-Anbiya [21] 89)

doa nabi zakariya

dan (ingatlah kisah) Zakaria, tatkala ia menyeru Tuhannya: “Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah waris yang paling Baik.

Dijawab doanya oleh Allaah Ta’aala dengan mengaruniakan Nabi Yahya ‘AS, meskipun usia Nabi Zakariya ‘AS sudah sepuh.

Sementara Nabiyullaah Ibrahim ‘AS dengan doanya yang sangat masyhur (ash Shaaffaat [37] 100)

doa nabi ibrahim - ash shaffat

Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang Termasuk orang-orang yang saleh.

Diijabahi oleh Allaah Ta’aala dengan mengaruniakan Ismail dari istrinya Hajar dan Ishaq dari istrinya Sarah. Ismail dan Ishaq menjadikan Nabiyullaah Ibrahim ‘AS sebagai puncak nasab, puncak garis keturunan, Bapak para Nabi dan Rasul. Ishaq akan menjadi Nabi ‘AS dan berputra Nabi Ya`qub ‘AS. Nabi Ya`qub ‘AS akan berputra Nabi Yusuf ‘AS dan akan menjadi leluhur dari para Nabi dan Rasul di tanah Palestina.

Sementara Ismail juga akan menjadi Nabi ‘AS dan dari salah satu keturunan Nabi Ismail ‘AS-lah, Rasuulullaah Sayyidinaa Muhammad SAW akan dilahirkan sebagai penutup nasab, penutup jalan keturunan para Nabi dan Rasuul.

Maka, boleh kita katakan, kisah nasab para Nabi dan Rasuul itulah yang memperkokoh pendapat bahwa berkeluarga dan berketurunan adalah cara yang tepat bagi umat manusia untuk menghasilkan generasi baru yang baik, shaleh, dan beriman kepada Allaah Ta’aala.

Hadirin rahimakumullaah.

Kasih sayang orang tua kepada anaknya jauh lebih besar daripada cinta anak kepada bapak-ibunya. Kisah Nabi Nuh ‘AS di dalam Surah Huud dan kisah Nabi Ya`qub ‘AS dengan putranya Yusuf (yang juga akan menjadi Nabi ‘AS) menjadi bukti besarnya cinta orang tua kepada anaknya.

Al-Qur`an surah Huud [11] ayat 42 dan 43 mengisahkan,

Dan Nuh memanggil anak kandungnya, sedangkan anak itu berada di tempat yang jauh terpencil,

“Hai anakku, naiklah (ke perahu) bersama kami, dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir.”

Anaknya menjawab,

“Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!”

Nuh berkata,

“Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allaah selain Allaah (saja) Yang Maha Penyayang.”

Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.

Bahkan, setelah anaknya yang ngeyel tadi tenggelam, saat air bah sudah surut dan Nabi Nuh ‘AS beserta kaumnya yang beriman selamat kembali ke daratan, cinta Nabi Nuh ‘AS tidak pupus. Al Qur`an memberikan informasi dalam ayat berikutnya, surah Huud ayat 45 dan 46

Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata,

“Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya.”

Allaah berfirman,

“Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan). Sesungguhnya (perbuatannya) perbuatan yang tidak baik. Sebab itu, janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakikat)-nya. Sesungguhnya Aku (Allaah) memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan”

Demikian kisah cinta Nabi Nuh ‘AS kepada putranya. Sedangkan kisah cinta Nabi Ya`qub ‘AS kepada putranya Yusuf diabadikan di surah Yusuf [12] ayat 84

“Aduhai duka citaku terhadap Yusuf!” dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan.

Itu adalah ucapan Nabi Ya`qub ‘AS saat mendengar kabar buruk tentang Yusuf muda yang diikuti dengan kebutaan pada mata beliau Nabi Ya`qub ‘AS.

Dan saat Nabi Ya`qub mendapat kabar gembira tentang Yusuf muda, dengan mencium aroma putra kesayangannya melalui baju yang dikirimkan Yusuf kepada Nabi Ya`qub ‘AS, pulihlah penglihatannya.

Al Qur`an menceritakan (Yusuf [12]: 96),

Tatkala telah tiba pembawa kabar gembira itu, maka diletakkannya baju gamis itu ke wajah Ya`qub, lalu kembalilah dia dapat melihat.

Betapa kuatnya cinta ayah kepada anaknya, hingga kepergian sang anak mampu membutakan mata ayahnya, dan karena besarnya cinta itu, hanya aroma sang anak lewat sebuah baju pun mampu mengembalikan penglihatannya.

Hadirin rahimakumullaah.

Fitrah orang tua adalah cinta yang begitu kuat dan besar kepada anak-anaknya, sebagaimana contoh kedua Nabi utusan Allaah tadi. Bahkan ketika seseorang melihat bayi atau anak kecil yang bukan kerabat dekatnya sekalipun, kita akan terjatuh dalam pesona anak kecil.

Hal ini terjadi karena fitrah kita yang dewasa, yakni mencintai anak, bertemu dengan fitrah anak-anak, yakni kepolosan dan kesucian anak-anak, baik kesucian perilaku maupun kesucian hati mereka. Rasuulullaah SAW bersabda tentang kesucian seorang anak

hadits anak fitrah

Semua anak terlahirkan membawa fitrah keagaamaan yang benar. Kedua orang tuanya lah yang menjadikan ia menganut agama Yahudi atau Nasrani atau Majusi.

Anak-anak ibarat kertas putih bersih dan kedua orangtuanya yang akan memulai menulisi kertas tersebut dengan kebaikan atau keburukan.

Hadirin yang dirahmati Allaah Ta’aala.

Seorang anak sedang digendong oleh Rasuulullaah SAW tiba-tiba ngompol. Lalu dengan kasar ibu/pengasuhnya merenggut sang anak, sehingga menangislah anak tersebut. Rasuulullaah SAW menegurnya sembari bersabda,

hadits ramah kpd anak

Perlahan-lahanlah! Sesungguhnya ini (Beliau SAW menunjuk kepada pakaian beliau) dapat dibersihkan oleh air, tetapi apa yang dapat membersihkan kekeruhan hati sang anak?

Ketika suatu saat Rasuulullaah SAW mencium cucunya, Sayyidinaa Hasan bin Ali bin Abi Thalib yang masih kecil, al-Aqra` bun Haabis berkomentar, “Saya memunyai sepuluh orang anak, tidak satu pun di antara mereka yang saya cium”. Rasuulullaah SAW kemudian bersabda,

hadits cium anak 1

Siapa yang tidak memberi rahmat tidak dirahmati.

Bahkan Rasuulullaah SAW berkomentar kepada seseorang yang tidak pernah mencium anaknya,

hadits cium anak 2

Apakah saya dapat melakukan sesuatu untukmu setelah Allaah mencabut kasih sayang dari hatimu?

Hadirin rahimakumullaah.

Demikianlah pentingnya kita mencurahkan kasih sayang kepada anak-anak, lebih-lebih anak kita sendiri atau kerabat dekat kita. Sesuatu yang buruk, meskipun sangat kecil bentuknya akan mempengaruhi jiwa mereka dan boleh jadi akan membekas hingga menjadi luka yang tak tersembuhkan.

Kasus di sekolah internasional di Jakarta adalah contoh pelecehan yang nyata. Saya menangis membaca beritanya. Sang anak tak mau cerita kepada ibunya, baru setelah ibunya mengibaratkan pamannya sebagai pahlawan yang akan memberantas kejahatan, berceritalah sang anak kepada pamannya, dan terbukalah kasus pelecehan ini.

Kita sangat sedih mendengar ini. Dia bukan siapa-siapa kita. Tetapi dia hanya anak-anak yang sangat polos. Trenyuh membayangkan betapa sang anak sangat terluka, tidak mau bertemu dengan orang lain. Takut dengan pisau. Menangis setiap malam. Dan trauma-trauma lainnya. Bagaimana dengan masa depannya? Bagaimana kehidupannya saat dewasa nanti? Banyak kekhawatiran muncul.

Kasus tersebut hanya satu contoh yang sangat parah. Tetapi juga sangat mungkin hal semacam itu terjadi di sekitar kita, meskipun tidak sampai tingkat separah itu pelecehannya.

Melalui mimbar ini pula, saya mendorong kepada diri saya sendiri utamanya dan secara umum kepada seluruh hadirin rahimakumullaah, mari mulai sekarang kita perbaiki perilaku kita kepada anak-anak, siapapun anak itu, saudara atau bukan, kerabat atau bukan, berperilaku baiklah kepada mereka.

Setiap bertemu dengan anak kecil atau bayi, sedang semarah apapun suasana hati kita, seburuk apapun diri kita yang sesungguhnya berikan senyum kepada mereka. Jangan sekalipun tunjukkan ekspresi buruk atau bahkan perilaku tidak terpuji. Jangan, jauhkan mereka dari seperti itu.

Kalau perlu ucapkan doa Nabi Ibrahim ‘AS kepada mereka, rabbi habli minash-shalihiin. Sentuh mereka, cium mereka, berikan kasih sayang kepada mereka.

Generasi muda kita sekarang masih ada banyak yang masa lalunya kurang disayangi oleh orang lain. Maka dia tidak pernah menunjukkan kasihnya kepada orang lain. Di Jakarta, seusia SMP dan SMA tawur dengan senjata tajam. Di Jogja pernah terjadi pembunuhan dengan anak panah beracun.

Di Makassar mahasiswa, generasi muda kita, tidak segan membakar kampusnya karena dendam, padahal semuanya muslim. Saat kampanye kemarin, di Jogja, yang kampanye pemuda, tapi arogansinya luar biasa. Orang lain sedang mau menepi, sedang proses menepikan kendaraannya, dihantam begitu saja dianggap terlalu lama.

Di mana rahmat mereka sebagai manusia kepada sesama manusia? Di mana cinta kasih mereka kepada sesama manusia? Jangan-jangan, dulu orang tuanya kurang kuat doanya, kurang istiqamah doanya, kurang perhatian, atau bahkan karena orang tuanya jarang menampakkan rasa cintanya kepada sang anak?

Hadirin yang dirahmati Allaah.

Mari kita sekarang kita berubah, kita perbaiki perilaku kita kepada anak dan bayi. Curahi mereka dengan rasa sayang, curahi mereka dengan doa-doa kita.

Allaah tidak akan menyia-nyiakan sebuah perbuatan baik, sekecil apapun ada balasannya. Jika kelak ada seorang anak, yang dewasa dan menjadi orang shalih karena kita, meskipun sumbangan kita hanya dengan doa atau sebuah perilaku baik, maka ingat, fa man-ya’mal mitsqala dzarratin khayray-yarah, tidak ada perbuatan baik, sekecil apapun perbuatan itu, kecuali berbalas kebaikan dari Allaah.

Dan sebaliknya, jika kelak ada anak yang dewasanya menjadi tidak baik, berakhlak buruk, dan itu karena sumbangan kita, karena kita pernah berperilaku buruk di depannya dengan sengaja, meskipun hanya kecil, meskipun hanya sepele, ingat lahaamaa kasabat wa ‘alayha mak tasabat, perbuatan baik ada balasan rahmatnya, perbuatan buruk ada balasan hukumannya.

Mari bersama-sama kita cegah generasi buruk lahir. Kita semua bisa mencegahnya bersama-sama, dengan perbuatan diri masing-masing. Jangan pernah sepelekan karena kecil, karena Allaah al-Lathiif, Maha-lembut, termasuk betapa rincinya Allaah dalam meneliti perbuatan kita, selembut apapun, sekecil apapun perbuatan baik itu.

Ingat bahwa kita tidak mewarisi alam semesta ini dari leluhur kita, tetapi sekarang kita meminjam bumi ini dari anak-keturunan kita. Kita bersama-sama cegah bangsa ini dari cengkeraman pemimpin zhalim dan tak berakhlak dengan mendidik generasi muda kita lewat doa dan teladan kebaikan.

Allaah Ta’aala berfirman dalam surah at-Tiin ayat keempat,

at tiin 4

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk (fisik dan psikis) yang sebaik-baiknya.

Dalam ayat ini Allaah menggunakan kata “Kami”, bukan “Aku” yang membawa makna ada peran selain Allaah, yakni peran orang tua, peran Bapak dan Ibu. Juga dengan peran orang dan lingkungan seseorang ketika ia beranjak dewasa.

Hadirin rahimakumullaah.

Tidak perlu menunggu Pemilu 5 tahun sekali untuk mengubah negeri kita menjadi lebih baik. Mari kita mulai sekarang dengan berinvestasi doa dan teladan kebaikan kepada setiap anak kecil, utamanya anak kita sendiri dan kerabat kita, maupun anak-anak yang kita temui, demi masa depan mereka dan masa depan bangsa kita.

Kalau Allaah menjamin kita sebagai sebaik-baik ciptaan dan negeri ini diisi, dipimpin oleh sebaik-baik manusia, maka akan terwujud keluarga-keluarga terbaik, kampung-kampung terbaik, dan akhirnya terus meluas menjadi negeri terbaik yang penuh dengan keberkahan Allaah Ta’aala.

Sebagai penutup, Sayyidinaa ‘Ali karamallaahu wajhah, menantu dan khalifah Rasuul SAW keempat berpesan,

sayyidina ali - pendidikan anak

Didiklah anak-anakmu, (dengan pendidikan yang sesuai) karena mereka itu diciptakan untuk masa yang berbeda dengan masamu (Sayyidinaa ‘Ali KW).

Mari, selain memberikan doa dan teladan dalam berperilaku dan berkata-kata, kita fasilitasi anak-anak, generasi muda kita dengan pendidikan yang terbaik, demi masa depan mereka, masa depan bangsa Indonesia, masa depan umat manusia.

Semoga Allaah memudahkan hati dan diri kita untuk terus memperbaiki diri, aamiin Allaahumma aamiin.

***

Disampaikan sebagai khatbah Jumat pada 25 April 2014 di Masjid Sabilul Muttaqin, Jalan Monjali.

 

Membaca Kehidupan untuk Kehidupan yang Lebih Baik

Membaca itu bukan sekedar mengeja huruf kemudian mengucapkannya. Tapi membaca juga bisa dimaknai sebagai mengeja peristiwa di sekitar kita, untuk kemudian mengucapkannya kepada hati di akal untuk ditelusur hikmahnya. Atau dengan bahasa lain, inilah yang disebut dengan proses berpikir, mempelajari kejadian di sekeliling kita, sebagai pelajaran bagi kehidupan.

Sering terjadi di antara kita, bahkan saya sendiri juga, kita menghakimi atau menilai atau menyimpulkan suatu peristiwa atau sifat seseorang hanya dengan pengetahuan yang sedikit tentangnya. Bahasa kerennya, kita mengabaikan nasihat –entah dari siapa- don’t judge a book by its cover.

Perlu menjadi pemahaman kita, bahwa sebuah peristiwa pasti terjadi karena disebabkan oleh tingkah polah manusia. Sementara kita juga tahu bahwa sifat manusia itu bermacam rupa bentuknya, yang sedemikian rupa sehingga tercermin pada tindak-tanduknya.

Di sisi lain, sifat seseorang tidak terbentuk begitu saja. Ada banyak faktor yang membentuknya, seperti orang tua dan pola pendidikan di rumah, pemahaman agamanya, lingkungan tempat tinggalnya, lingkungan sekolahnya, tingkat pendidikannya, kondisi besar negerinya saat ia tumbuh, peristiwa-peristiwa traumatik sepanjang kehidupannya, dan seterusnya, dan sebagainya, dan lain-lain. Banyak, sangat banyak.

Maka, menghakimi / menilai sebuah kejadian atau seseorang karena kita merasa tahu itu tidak tepat sama sekali. Berbeda kasusnya, kalau kita memang memahaminya, mengetahui seluk-beluknya, kita berhak untuk berpendapat mengenainya.

Sebagai ilustrasi, ketika ada seseorang yang galak dalam segala hal, jangan kemudian langsung membenci manusianya, tapi bacalah orang tersebut. Membaca tidak bisa di sama artikan dengan bertanya untuk ngrasani atau menggunjing, karena pembacaan ini bisa dilakukan dengan banyak cara, seperti ngobrol santai dengan orangnya.

Pembacaan pada orang tersebut, semisal, di mana ia dididik, bagaimana orang tuanya, bagaimana masa mudanya dihabiskan –karena biasanya yang galak itu orang yang sudah tua- dan seterusnya, pasti akan ditemukan fakta-fakta menarik. Boleh jadi, dia galak karena terlanjur terbiasa sejak kecil, atau karena guru sekolahnya yang galak, atau karena kehidupan mudanya sangat keras, atau mungkin sebab lainnya.

Ketika kita sudah menyelesaikan puzzle terhadap dia yang galak, kita bisa melihat, betapa beruntungnya kita, tidak mengalami galaknya kehidupan yang telah membentuk seseorang tersebut menjadi galak. Yang muncul kemudian adalah sebuah rasa empati mendalam dan renungan mendalam tentang kehidupan seorang manusia.

Ibarat sebuah amal dalam kehidupan beragama, bahwa amal dihitung atas niatnya. Apa yang tampak terjadi bukanlah kejadian yang sesungguhnya, karena yang sebenarnya terjadi sesungguhnya tersimpan di dalamnya hati. Sungguh adil penghakiman Allaah, bahwa yang dinilai adalah niat dari sebuah perbuatan, bukan apa dan seberapa besar perbuatan itu di mata manusia.

Pun dengan sikap membaca. Membaca peristiwa atau kehidupan seseorang bagaikan mencari bentuk peristiwa atau orang tersebut dalam wujud yang sesungguhnya. Meskipun tujuan awalnya untuk menghakimi, untuk menilai, tapi pada akhirnya yang muncul adalah sebuah pemahaman bagaimana kehidupan kita berjalan.

Boleh jadi, di antara pembaca ada yang tidak setuju dengan uraian di atas yang setidaknya berpijak dengan dua alasan,

kita tidak diperbolehkan untuk mencari aib orang lain sehingga lupa dengan keburukan kita, dan
apa urusannya mengusik kehidupan orang lain, wong hidup diri sendiri saja susah

Saya sampaikan argumen saya, bahwa membaca kehidupan seseorang tidak berarti mencari aib. Karena penjelasan saya di atas –tentang galaknya seseorang- tidak berlanjut dengan mengorek keburukannya, tapi mengorek kehidupan yang membentuknya tanpa menggunjing. Artinya, itu hanya bisa dilakukan dengan orang itu sendiri. Maukah anda bersimpati dengan orang galak kepada anda dengan mendekatinya? Itu pertanyaannya. Cobalah memandang bahwa semua orang itu sama, punya kelebihan, punya kekurangan. Kalau galaknya adalah kekurangannya, pasti ada kelebihannya di sisi lain. Datangi, silaturrahim, temukanlah kehidupan yang sesungguhnya.

Sementara bantahan poin kedua cukup saya balik dengan mengatakan, itulah kenapa kehidupanmu terasa susah, karena tidak mau bersimpati, tidak mau belajar dari kehidupan orang lain. Dan sikap membaca ini tidak mengusik, karena berintikan silaturrahim.

Patut menjadi syarat dan ketentuan khusus tentang sikap membaca seseorang ini bahwa semua harus dilakukan pada orang atau peristiwa yang tidak membawa bahaya bagi kita. Ilustrasinya, kalau kita tidak punya iman dan amal yang kuat, ya jangan coba-coba membaca para kriminal yang mungkin berada di sekitar kita. Karena boleh jadi justru kita yang terbawa karena kurangnya iman dan amal kita.

Tips saya untuk membaca ini paling pas dipraktekkan sebagai sebuah defense weapon alias senjata pasif, ketika kita kebetulan terganggu dengan sifat tertentu seseorang, dalam kehidupan bermasyarakat kita. Selebihnya, cukup kita gunakan untuk membaca peristiwa umum yang terjadi dalam kehidupan kita, sebagai pelajaran dan memori di masa yang akan datang.

Sikap untuk membaca segala hal akan membuat kita menjadi dewasa karena sedikit mendapat pencerahan tentang makna hidup: bahwa syukur dan bahagia itu bisa diraih dengan empati, bahwa segala sesuatu tak ada yang sempurna, bahwa setiap orang itu sama, ada kelebihan, ada pula kekurangan.

Apakah kita Termasuk Tetangga yang Keterlaluan?

Kalau ada orang yang sedang mencuri tertangkap basah, apakah sang pelaku harus langsung dijuluki sebagai “pencuri” sepanjang sisa hidupnya?

Pertanyaan semacam ini sering muncul dalam benak saya, setiap muncul publisitas tentang kasus pencurian (termasuk korupsi, tentu saja).

Julukan pencuri, atau maling, atau koruptor, menurut saya hanya pantas untuk menjuluki mereka yang menjadi pejabat publik atau siapapun dia yang menciderai amanah yang diembannya. Artinya, ada peluang untuk menolak, tetapi tak mau mengambil peluang tersebut.

Alasan dlarurat pun menurut saya tidak berlaku bagi mereka. Lha wong mereka mendapat amanah itu karena kapabilitasnya, pendidikan, atau kemampuan bahkan jaringannya kok alasannya darurat. Artinya, dia bisa menolak dan menghindar, toh jika dia diancam sedemikian rupa (jika tidak mau korupsi misalnya), dia masih punya kepandaian, pengalaman, pendidikan, dan thethek bengek lainnya untuk digunakan menangkal ancaman tersebut. Intinya, dia punya peluang, dia ada pilihan, tapi tak mau mengambilnya.

Maka, julukan koruptor atau maling pun menurut saya lebih pas ditujukan pada mereka. Hukuman psikologis berupa merk diharap lebih besar efek jeranya. Pemiskinan? Bisa sih, tapi bagaimanapun mereka punya ilmu, ada pengalaman, serta banyak jaringan yang bisa dia gunakan untuk mencari nafkah. (satu hal, jangan gunakan untuk menjuluki nasab atau keluarganya, tapi gunakan hanya untuk dirinya sendiri!)

***

Berbeda dengan kasus di kalangan masyarakat bawah. Berkali muncul di pemberitaan tentang persidangan pencurian semangka, kayu bakar, piring, dan lain-lain. Yang terbaru, siang tadi di SCTV saya menyaksikan berita miris: di Bone, ada seorang ibu (wanita) tertangkap basah sedang mencuri, dihajar massa, digunduli, diikat di tiang dan jadi bulan-bulanan masyarakat yang marah.

Saya tidak mau menyalahkan sistem hukum yang mengadili para pelaku pencurian. Kita sudah terlanjur terlalu lama dididik untuk tidak percaya dengan sistem hukum kita sendiri dikarenakan aparatnya yang korup. Sudah saatnya kita lebih sadar hukum. Berani memperjuangkan hak kita di mata hukum. Apalagi dengan dukungan sosial media yang sudah sangat terbuka. Tak ada alasan untuk takut.

Tetapi saya juga tidak mau membela para pelaku pencurian itu dengan membenarkan perbuatannya. Mereka salah, mencuri, yakni mengambil apa yang bukan haknya itu salah. Tak ada peradaban yang membenarkan perbuatan mencuri. Hanya saja, yang perlu ditelusuri adalah akar masalahnya: mengapa ia mencuri?

***

Saya masih ingat ketika menjalani Kuliah Kerja Nyata di Panggang, Gunungkidul, Yogyakarta. Sebagian besar penduduknya adalah petani. Ketika ada survey tentang penghasilan, tak ada yang bisa menyebut angka pasti pendapat bulanan. Tapi mereka tak ada yang mengeluh karenanya. Menurut saya, mereka adalah orang yang qana’ah, nrima ing pandum sesudah melakukan ikhtiar dan tawakal. Alam sudah mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari.

Menariknya adalah, di tengah suasana jalan yang gelap dan masih banyak kebun-tegalan yang gelap setiap malam, tak pernah ada kasus pencurian serius di sana. Bahkan pintu utama rumah tak pernah dikunci meski malam telah tiba.

Kasus pencurian yang dilakukan oleh masyarakat miskin –sebagaimana sering kita dengar- biasanya berlatar belakang suasana dlarurat, emergency. Mari kita telusuri lebih lanjut. Bagaimana bisa muncul kondisi darurat? Apakah sedemikian miskinnya, sebegitu parahnya ketidak-mampuannya, sehingga muncul dorongan untuk mencuri demi memenuhi kebutuhan dasarnya?

Di sisi yang lain, sebagaimana pernah saya bahas dalam tulisan tentang akhlak, al-Qur`an memberikan isyarat bahwa perbuatan baik itu perbuatan mudah, sedang perbuatan buruk (dalam konteks ini, mencuri) adalah perbuatan sulit. Artinya, dibutuhkan satu dorongan yang sangat kuat dan sangat memaksa, sehingga seseorang harus melakukannya.

Menurut saya, kesalahan tidak bisa ditimpakan begitu saja hanya kepada dia yang melakukan pencurian, tetapi perlu juga dikaji bahwa pencurian muncul adalah juga karena kesalahan para tetangga pelaku pencurian!

Kalau memang pelaku pencurian tersebut adalah mencuri karena desakan ekonomi (yang sangat kuat, dan memaksa sehingga harus dipenuhi saat itu juga), maka tetangganya bisa kita golongkan sebagai tetangga yang keterlaluan. Seberapa besarkah jiwa individualismenya sehingga tidak mampu mendeteksi ke-dlarurat-an yang dialami tetangganya?

Alasan pribadi yang tertutup untuk menolak tesis saya ini dalam pandangan saya tidak mampu diterima. Masih segar di ingatan saya bagaimana penjelasan kawan saya yang menekuni bidang psikologi bahwa fitrah manusia timur yang terbuka dalam kemasyarakatan sehingga profesi psikiater arang payu di bumi Indonesia.

Kasus di tempat KKN saya misalnya, menunjukkan bahwa ke-tidak-mampu-an tidak serta merta menimbulkan ke-dlarurat-an yang mendorong ke perbuatan buruk. Sistem kendali kemasyarakatan yang baikkah? Wallaahu a’lam.

***

Saya pernah mendengar nasihat bahwa jika kita memasak sesuatu dan baunya hingga mencapai ke rumah tetangga maka kewajiban moral kita adalah memberikan sebagian masakan kepada tetangga tersebut.

Lebih jauh, sistem sosial masyarakat muslim, dengan adanya fidyah, infaq, shadaqah, dan –tentu saja- zakat, memberikan peluang bagi kita semua untuk menjadi tetangga yang baik, menjadi masyarakat yang baik, bertanggungjawab terhadap orang-orang terdekatnya.

Dan melihat mayoritasnya muslim sebagai penghuni bangsa ini ditambah dengan fitrah sebagai masyarakatyang terbuka, melalui tulisan ini saya berharap, besok pagi dan selamanya di masa yang akan datang tak akan pernah muncul lagi berita pencurian karena keterpaksaan kondisi ekonomi. Semoga.

Karangjati, Ahad, 8 Juli 2012,

Ahmad Rahma Wardhana

bin Suwarno

Kelengahan

Ditulis untuk memenuhi amanah menjadi khatib Jumat dan narasumber majelis ta’lim.

Dialah Allaah Ta’aala yang menganugerahi manusia kehidupan yang sempurna, kehidupan zhahir dan kehidupan bathin. Kehidupan zhahir, yaitu bagaimana mata mampu memandang, telinga mampu mendengar, bibir mampu berucap, tangan mampu menengadah, kaki mampu melangkah, serta seluruh bagian dari tubuh kita yang mampu beraktivitas, itulah kehidupan zhahir dari Allaah Ta’aala.

Dialah Allaah Ta’aala yang berkenan pula menganugerahi kehidupan bathin kepada kita semua. Kehidupan bathin, yaitu bagaimana muncul dalam jiwa kata rasa sabar atau tergesa, rasa marah atau ridla, rasa syukur dan gembira, tawa atau tangis, rasa bahagia atau rasa sedih, serta semua kondisi yang mencakup suasana hati kita, itulah kehidupan bathin. Kesemuanya, baik kehidupan zhahir atau bathin, semoga terus menerus dikukuhkan agar berada di dalam diri kita, yang insya-Allaah semoga mampu menjadi sebab bagi kita dalam upaya meningkatkan iman dan takwa kita kepada Allaah Ta’aala.

Hadirin rahimakumullaah, semoga shalawat serta salam dari Dzat Allaah dan seluruh makhluk ciptaan Allaah, tetap dan terus tercurahkan kepada junjungan kita bersama, pemimpin umat manusia sekaligus penutup dan pemimpin para Nabi dan Rasul, seseorang yang paling pantas menjadi teladan dalam kehidupan, seseorang yang menjadi sebab bagi tercurahkannya keberkahan Allaah, baik bagi yang mencintainya maupun bagi seorang yang membencinya, beliaulah Rasuulullaah Muhammad SAW.

Tersampaikan pula semoga, kepada keluarga beliau SAW, sahabat beliau SAW, serta umat beliau SAW, hingga datangnya akhir zaman kelak. Amiin, ya Rabbal ‘alaamiin. Hadirin rahimakumullaah, selanjutnya saya kembali mengingatkan, khusus dan utamanya kepada diri saya sendiri serta kepada seluruh hadirin rahimakumullaah pada umumnya, bahwa di hari raya Jumat yang penuh kemuliaan ini, marilah kita jadikan momentum untuk kembali memperbarui sekaligus meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allaah Ta’aala, dengan sebenar-benarnya iman dan takwa.

Ketakwaan yang sesungguhnya, yaitu bagaimana kita mampu untuk selalu mengarahkan hati, lisan, dan perbuatan dalam usaha menjalankan setiap hal yang diperintahkan oleh Allaah Ta’aala sekaligus bersamaan dengan usaha untuk menjauhkan diri dari semua hal yang terlarang dari sisi Allaah Ta’aala. Karena bagi Allaah Ta’aala, semulia-mulia kedudukan manusia bukanlah terukur dari harta atau jabatan, bukanlah terukur dari kekayaan dan kedudukan, namun terukur dari ketakwaannya kepada Allaah Ta’aala.

Sebagaimana termaktub dalam ayat ke-13 surat al-Hujuraat, Allaah Ta’aala berfirman

Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allaah ialah yang paling bertakwa di antara kamu.

Hadirin rahimakumullaah, saat ini negeri kita, Indonesia tercinta sedang terjerat oleh ketidakpastian di bidang penegakan hukum. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang dipimpin oleh tokoh asli Yogyakarta, tokoh Muhammadiyah, dosen UII yang berintegritas tinggi, sedang dirundung perkara korup suap sebagaimana dikabarkan oleh mantan Bendahara Umum sebuah partai politik. Mahkamah Konstitusi yang dipimpin oleh seorang guru besar bidang Hukum UII, seorang yang berintegritas tinggi dan tinggal lama di Yogyakarta, sedang diserang masalah pemalsuan surat. Sementara Mahkamah Agung yang menjadi rumah bersama bagi pengadilan di seluruh negeri sedang diuji oleh munculnya temuan rekayasa dalam kasus yang melibatkan mantan Ketua KPK.

Dan beberapa bulan yang lalu, kita masih mendengar berita tentang penangkapan jaksa dan hakim yang terlibat penyuapan. Yang lebih menyakitkan bagi kita adalah ketika lembaga-lembaga hukum tersebut diserang oleh temuan-temuan dan tuduhan-tuduhan, sehingga semua lapisan masyarakat, kita semua, mampu menyatukan opini dan simpati untuk mendukung usaha pemberantasan korupsi, justru ada oknum di sebuah kementerian yang tertangkap tangan, diduga menerima uang suap!

Sangatlah menyakitkan, para penegak hukum sedang dibakar semangatnya oleh masyarakat, semua orang fokus pada pemberitaan pemberantasan korupsi, eh, masih ada saja yang berani melanggar. Dan pelanggaran tersebut menyangkut anggaran negara tahun 2011, tahun ini, dan tertangkap di bulan Ramadlan!

Hadirin rahimakumullaah, sering terdengar para imam membaca surat at-Takaatsuur dalam shalat-shalat rawatib lima waktu. Apabila kita membaca makna surat tersebut, maka bisa kita simpulkan bahwa sumber dari munculnya sikap suap dan korup adalah belum adanya keimanan terhadap kehidupan akhirat.

Apa yang didapat dari korupsi dan mark-up anggaran? Tentu saja uang. Tercatat, tetapi tidak dibelanjakan.

Apa yang didapat dari penyuapan pada sebuah proyek? Tentu saja agar diri sang penyuap menjadi pemenang tender. Ujungnya juga uang dan kekayaan.

Sedangkan at-Takaatsuur mengingatkan kepada kita:

Saling memperbanyak (kenikmatan duniawi dan berbangga-bangga menyangkut anak dan harta) telah melengahkan kamu [1], sampai kamu telah menziarahi (masuk) dalam kubur-kubur (kematian) [2].

Berhati-hatilah, (jangan melakukan persaingan semacam itu)! Kelak kamu akan mengetahui (akibatnya) [3]. (Sekali lagi) berhati-hatilah, kelak kamu akan mengetahui [4].

Berhati-hatilah, (jangan berbuat begitu, sungguh) jika seandainya kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, (niscaya kamu tidak akan pernah melakukan hal itu) [5]

Sungguh, pasti kamu akan melihat (neraka) Jahim [6], kemudian, sungguh pasti kamu akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin (yakni keyakinan yang tak sedikit pun disentuh keraguan, yaitu sebagaimana keyakinan karena melihat dengan mata) [7],

kemudian sungguh kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang an-Na’iim (yakni tentang aneka kenikmatan duniawi yang kamu raih atau kenikmatan akhirat yang kamu abaikan [8].

Sungguh jelas peringatan Allaah Ta’aala kepada kita tentang meruginya mereka, kita semua, jika terjerumus ke dalam usaha pengejaran kenikmatan duniawi, berlomba dalam membangga-banggakannya, sehingga lupa dengan kenikmatan akhirat hingga datangnya kematian.

Dalam tafsirnya tentang surat at-Takaatsur, Prof. Quraish Shihab menutup penjelasannya dengan menulis

Seseorang yang menyadari bahwa ada kenikmatan yang melebihi kenikmatan duniawi tentu tidak akan mengarahkan seluruh pandangan dan usahanya semata-mata hanya kepada kenikmatan duniawi yang sementara itu, bahkan seseorang yang menyadari betapa besar kenikmatan ukhrawi itu akan bersedia mengorbankan kenikmata duniawi yang dimiliki dan dirasakannya demi memperoleh kenikmatan ukhrawi itu.

Apa yang bisa kita lakukan sebagai bagian dari bangsa ini namun tak memiliki wewenang terhadap sistem hukum di negeri ini?

Hadirin rahimakumullaah, kita punya wewenang pada diri kita sendiri untuk berusaha keras menghindarkan diri dari korup dan suap. Kita juga memiliki wewenang pada orang-orang terdekat kita, orang-orang pada lingkaran terkecil kehidupan kita, keluarga.

Mari kita hindarkan diri dan keluarga kita dari perilaku dan kebiasaan korup serta suap. Utamanya, kita prioritaskan pada putra dan kerabat kita yang masih belum menyentuh dunia nyata bisnis dan organisasi, mereka para pelajar dan anak-anak. Kita biasakan sejak dini, kita biasakan dari hal-hal kecil, kita biasakan pada diri dan orang-orang terdekat kita.

Allaah Ta’aala berfirman dalam surat ar-Ra’du ayat 11

Sesungguhnya Allaah tidak mengubah suatu kaum sehingga mereka mengubah apa (sikap mental dan pikiran) yang ada pada diri mereka.

Kalau kaum itu adalah negara bangsa bernama Indonesia, maka yang harus berubah adalah diri dan keluarga kita masing-masing. Seorang ulama mengatakan, keluarga adalah jiwa masyarakat dan tulang punggungnya. Kesejahteraan lahir dan batin yang dinikmati oleh suatu bangsa, atau sebaliknya, kebodohan dan keterbelakangannya, adalah cerminan dari keadaan keluarga yang hidup pada masyarakat bangsa tersebut.

Hadirin rahimakumullaah, selain melakukan ikhtiar zhahir, yakni usaha nyata berupa pendidikan dan teladan pada diri sendiri, keluarga, dan masyarakat, sungguh indah jika masyarakat bangsa Indonesia, kita semua, ikut pula melakukan ikhtiar bathin, yaitu turut mendoakan bangsa Indonesia di antara lantunan dzikir dan munajat kita kepada Allaah Ta’aala.

Ada sebuah doa di dalam al-Qur`an, yang dalam pandangan saya pribadi makna doa tersebut sangat cocok dengan kondisi penegakan hukum negeri kita Indonesia tercinta.

Doa tersebut terangkai dalam kisah Nabi Syu’aib ‘AS yang umat beliau dihancurkan dengan gempa oleh Allaah Ta’aala karena kedurhakaannya. Doa tersebut termaktub dalam penutup ayat 89 surat ketujuh al-A’raaf:

Tuhan Pemelihara kami, hakimilah (putuskanlah) antara kami dan antara kaum kami dengan haq (kebenaran dan keadilan), dan Engkaulah sebaik-baiknya Hakim, Sang Pemberi Keputusan.

Mari bersama-sama kita masukkan doa tersebut dalam daftar doa harian kita, sebagai pengiring ikhtiar zhahir kita membangun diri pribadi yang terbaik, demi keluarga, masyarakat dan bangsa yang lebih baik, masyarakat dan bangsa yang semoga dinaungi oleh rahmat Allaah, dicurahi kasih Allaah , dan senantiasa dalam perlindungan Allaah Ta’aala. Amiin, ya Rabbal ‘alamiin.

Bahagia dengan Berimajinasi*

Menurut saya, berimajinasi itu boleh-boleh saja. Tentu saja kebolehan ini menuntut adanya syarat dan ketentuan. Yah, mirip-mirip iklan yang isinya wah lah, pasti ada tanda bintang kecil: “syarat dan ketentuan berlaku”.

Kemajuan informasi dan teknologi misalnya. Ia tak pernah lepas dari imajinasi. Sejak Icarus dari mitologi Yunani, kemudian Leonardo da Vinci dari zaman Renaissance, orang sudah berimajinasi untuk bisa mengarungi angkasa. Belum ada yang berhasil, hingga akhirnya Wright bersaudara membuka jalan terang bagi umat manusia untuk berjalan di udara. Pun dengan teknologi-teknologi lain yang sudah mapan sekarang, semua berawal dari imajinasi.

Sering saya berimajinasi, membayangkan sesuatu yang positif dan indah sedang terjadi pada diri saya atau sedang terjadi pada orang-orang yang saya sayangi. Beberapa imajinasi tersebut terjadi kemudian. Beberapa mirip, beberapa yang lain nyrempet-nyrempet, sedang beberapa yang lain tidak terjadi, atau mungkin lebih tepatnya adalah, belum terjadi.

Prof. Yohanes Surya dengan mestakung­-nya dan Rhonda Byrne dengan the secret-nya, saya kira ada benarnya juga. Secara umum, mestakung-nya Prof. Yohanes Surya adalah sistem semesta mendukung, yakni bahwa kesungguhan kita terhadap sesuatu pastilah akan didukung oleh semesta raya. Sementara Rhonda Byrne berteori bahwa ada hukum tarik menarik antara alam pikiran kita dengan semesta raya. Kedua teori ini sejalan dengan tentang imajinasi yang saya punyai.

***

Masih segar dalam ingatan saya, bagaimana bapak-ibu guru bimbingan konseling SMA dulu sering menyarankan agar kata-kata motivasi semacam lulus, masuk Jurusan xxx Universitas xxx, sukses, dan lain sebagainya, agar ditulis kemudian ditempel di berbagai tempat di sekitar kita, yang sering kita lihat, sehingga akan sering pula kita membaca kata-kata tersebut.

Seorang guru SMA saya yang lain, memberikan analogi dengan dirinya sendiri. Beliau pernah menginginkan sepeda motor, tetapi karena uang belum mencukupi maka beliau gunting gambar motor tersebut, kemudian diletakkan di dalam dompet, agar selalu nampak setiap beliau bertransaksi dengan uang.

Kedua contoh di atas adalah bentuk membangun imajinasi dalam meraih sebuah cita. Yah, konsepnya mirip mempengaruhi alam bawah sadar dengan memberikan asupan berupa memori yang sama dan terus menerus. Tentang alam bawah sadar ini teman-teman yang belajar psikologi bisa menjelaskan dengan lebih ilmiah.

Cara kerja imajinasi ini sebenarnya logis dan mudah dipahami. Sebagai ilustrasi, misalnya kita sedang ingin lulus SMA. Kita tulis kata lulus di lemari pakaian, di dekat cermin, di atas meja belajar, desktop PC dan laptop, wallpaper dan screensaver hp, serta tempat lainnya. Maka secara tidak sadar, dzikir kita adalah segala sesuatu tentang lulus, karena kata itulah yang paling sering kita lihat. Alhasil, aktivitas apapun yang sedang kita lakukan, pasti akan bisa kita kaitkan dengan ikhtiar menuju cita-cita lulus. Lebih jauh, ketika terminologi lulus ini sudah benar-benar menguasai diri kita, muncullah kreativitas untuk menarik benang merah antara yang sedang terjadi dengan diri kita sekarang dengan titik tujuan lulus. Terciptalah jalur-jalur menuju akhir perjalanan: lulus.

Peristiwa inilah yang dimaksud oleh Prof. Yohanes Surya sebagai semesta mendukung. Bahwa karena kesungguhan diri kita terhadap sebuah tujuanlah yang menghidupkan sel-sel kelabu kita (kata Hercule Poirot) untuk meretas jalan menuju akhir tujuan.

Dan peristiwa ini pula yang dimaksud oleh Rhonda Byrne sebagai hukum tarik menarik antara alam pikiran dengan semesta. Bahwa keseriusan kita dalam ikhtiar mencapai sebuah asa mampu bertransformasi menjadi medan magnet untuk menarik segala sesuatu di sekeliling kehidupan kita untuk menjadi sumber energi dalam safar kepada cita-cita.

Konsep imajinasi semacam ini yang sering disebut dengan optimisme dan kesungguhan. Berimajinasi, yakni membayangkan masa depan berupa keberhasilan cita-cita adalah mendesain masa depan, merencanakan jalannya kehidupan di masa yang akan datang, memandang positif kehendak Tuhan pada diri kita.

Dan imajinasi yang terus menerus tersebut mengantar kita pada fase berikutnya: kesungguhan. Kesungguhan akan mengundang kreativitas, bahwa sekalipun yang sedang kita alami adalah kesulitan, justru kita mampu memanfaatkannya sebagai anak tangga menuju tingginya cita.

***

Maka mari kita desain masa depan kita dengan mengimajinasikannya. Ada baiknya, jika kita bukan tipe orang yang berimajinasi dengan kontinyu (sebagai dzikir bagi alam bawah sadar), maka tulis atau gambarkan imajinasi tersebut, kemudian taruh di tempat-tempat yang sering terlihat oleh kedua mata kita. Imajinasi yang kuat akan menjadi pendamping kita menjalani kehidupan: hidup yang optimis, hidup yang penuh kesungguhan.

Tak ada yang tak mungkin bagi makhluk tersempurna seperti kita, selama kita menggantungkan imajinasi tersebut kepada Sang Maha-sempurna: Tuhan.

Kampus JTF UGM, 25 Juni 2012, 15:00,

Ahmad Rahma Wardhana bin Suwarno

Sumber gambar

http://chimanx.files.wordpress.com/2011/04/spongebob__imagination_by_kssael.png

http://2.bp.blogspot.com/-5xW_0lT_2OA/Twv3GvYlttI/AAAAAAAAAhQ/0N5APOo4mVc/s1600/Da-Vinci-Airplane.jpg

http://www.ipmsstockholm.org/magazine/2003/12/images/photo_wright_2.jpg

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/thumb/0/02/TheSecretLogo.jpg/200px-TheSecretLogo.jpg

Kicau: #kebaikan

dua hari terakhir, hati saya terganggu oleh sebuah pertanyaan aneh tentang #kebaikan.

seseorang bertanya kepada saya tentang #kebaikan yang menrutnya tak pernah ia lakukan kepada saya. benarkah itu?

Benarkah “ia” tidak melakukan #kebaikan kepada saya? Atau memang saya harus menuliskannnya (kembali) satu persatu?

#kebaikanmu adalah mau mendengarku pada awal perjumpaan kita

#kebaikanmu adalah engkau memenuhi harapku untuk duduk pada di sebuah posisi. Terlepas dari motif apapun yang menjadi pijakanmu, engkau telah memenuhinya!

#kebaikanmu adalah (pernah) setia di ujung telepon mendengar ocehanku, meski pada akhirnya aku tahu sesungguhnya engkau tak mau mendengarnya

#kebaikanmu adalah mau bekerja bersama aku yang sedikit pengalaman ini, dalam sebuah perhelatan agung.

#kebaikanmu adalah mau menegurku dengan baik, demi kebaikan banyak orang, demi suksesnya perhelatan agung tersebut.

#kebaikanmu adalah menyadarkanku terhadap kesalahanku hingga pecah tangisku, demi suksesnya perhelatan agung tersebut.

#kebaikanmu adalah perkenananmu menerima kehadiranku di antara waktumu yang begitu sempit, meski hanya beberapa detik

#kebaikanmu adalah menerima apa yang kuberikan kepadamu dengan penuh ridla. (ingat, ada tipe org yang menerima tetapi tidak dengan ridla).

#kebaikanmu adalah mempercayaiku untuk menjadi pendengar kisah-kisahmu. ini adalah salah satu #kebaikanmu terbesarmu!

dan #kebaikan terbesarmu adalah mempercayaiku sebagai pembantu dalam memohonkan doa-doamu kehadirat-Nya.

demikian, sedikit di antara #kebaikanmu kepada diriku. masihkah kau menyangkal dengan redaksi “tak pernah berbuat baik”?

aku bersyukur masih dikaruniai ingatan untuk mengingat #kebaikan orang lain, utamanya #kebaikan darimu. jgn menyangkal. please!

demikian curahan hati saya yang terpendam beberapa hari terakhir. tentang #kebaikan seseorang kepada diriku. #the_end

Kresna Duta dan Indonesia, Awal Bharatayudha Jayabinangun Abad XXI-kah?

Wayang dan Kehidupan

Sering sekali muncul kemiripan antara kehidupan nyata dengan kisah-kisah di dunia pewayangan. Selain kisah wayang merupakan kesenian-kebudayaan yang sengaja dibuat sebagai pelajaran kehidupan, ada teori bahwa kisah pewayangan asli versi India adalah fakta-fakta sejarah yang pernah terjadi.

Ki Anom Sucondro, seorang dalang muda dari Kulonprogo pernah dalam pentasnya pernah mengatakan bahwa budaya yang populer saat ini adalah budaya instan yang tidak mendidik. Artinya, budaya tersebut tidak membawa penikmatnya untuk berpikir dan merenung. Berbeda dengan wayang yang penuh dengan simbol-simbol, perlambangan, serta nilai dan filosofi kehidupan, kesemuanya menuntut penikmatnya agar menggalih tontonan wayang, sedemikian rupa sehingga mampu bertransformasi menjadi tuntunan, pedoman hidup.

Ada sebuah lakon pewayangan masyhur yang menurut saya adalah gambaran tentang peristiwa yang saat ini sedang tercermin dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Dalam pemikiran saya, boleh jadi jalannya kehidupan Indonesia akan sama persis dengan lakon wayang tersebut, jika sikap kita sama persis dengan kisah di dalamnya. Padahal, ending dalam lakon itu adalah awal dari kisah pilu umat manusia: perang saudara.

Sekelumit Jalannya Cerita Kresna Duta

Kresna Duta, secara harfiah bermakna seorang bernama Kresna yang ditugaskan menjadi utusan. Yakni utusan alias duta bagi Pandawa untuk menghadap Kurawa. Adalah Pandawa (5 bersaudara) dan Kurawa (100 bersaudara), saudara sepupuan, ayah keduanya kakak-beradik. Pandawa dikenal sebagai pribadi yang baik, sedangkan Kurawa terkenal karena perangai buruknya.

Saat generasi Pandawa dan Kurawa digariskan memimpin sebuah negara, muncullah berbagai konflik. Dalam konflik ini Pandawa-lah yang selalu mengalah. Mengalah bukan karena kalah, tapi kebaikan hati dan prasangka baik Pandawalah yang bertindak saat menghadapi konflik-konflik itu. Pandawa ingin mendidik Kurawa bahwa keburukan pada akhirnya akan tunduk pada kebaikan.

Hingga pada suatu saat, telah selesai kewajiban yang harus dijalani Pandawa dalam kekalahannya melawan Kurawa. Dan mengutuslah Pandawa seorang raja besar bernama Kresna agar menemui Kurawa menyampaikan habisnya masa kewajiban tersebut, sekaligus agar Kresna meminta pengembalian hak-hak Pandawa yang dirampas oleh Kurawa selama Pandawa menjalani kewajiban –karena kekalahan.

Begitu Kresna tiba di depan Kurawa dan menyampaikan tujuan kedatangannya, di luar dugaan, Duryudana (Kurawa yang paling tua) berkenan memenuhi permintaan Pandawa –melalui utusan seorang Kresna– dan berjanji untuk mengembalikan semua hak Pandawa. Hal ini disampaikan Duryudana di depan para pembesar negerinya, para dewa, dan ayah-ibunya yang menjadi saksi petemuan tersebut.

Sesudah sabda Duryudana untuk memberikan kembali hak Pandawa terdengar, pergilah para dewa sekaligus ayah-ibunya. Pergi dengan kelegaan karena damainya Pandawa dengan Kurawa. Namun, sesaat seusai para dewa serta ayah-ibunya meninggalkan majelis itu, tiba-tiba Duryudana menarik kembali semua ucapannya. Bahkan ia sampai bersumpah tidak akan memberikan apapun yang sudah di tangannya, meskipun sebenarnya bukan haknya, serta mempertahankannya sampai titik darah penghabisan.

Mendengar hal itu Kresna kemudian marah. Kemarahannya, sebagaimana biasanya, mengubah wujud Kresna menjadi raksasa yang siap menghancurkan apapun yang ingin ia hancurkan. Beruntung ada seorang dewa yang kembali ke bumi dan menenangkannya. Kembalilah Kresna ke wujud manusianya dan langsung meninggalkan Kurawa.

Brahala – Triwikrama

Akhir kisah Kresna Duta adalah genderang perang Bharatayudha. Kurawa yang dengan damai tidak berkenan mengembalikan hak Pandawa, maka jalan terakhir adalah Pandawa harus merebutnya dengan kekerasan, sebuah perang. Perang yang tentu saja selalu mengorbankan mereka yang lemah dan tak bersalah. Menewaskan mereka yang tak tahu menahu sebab musababnya. Mengadu persaudaraan menjadi permusuhan.

Bharatayudha Jayabinangun Abad XXI?

Melihat apa yang sering terjadi saat ini di Indonesia, kok menurut saya mirip dengan lakon Kresna Duta ya? Kejahatan dan perilaku bobrok sebagian pembesar negeri sudah ditampakkan oleh sebagian pembesar yang lain. Korupsi dibongkar, kelakuan tidak pantas dibeberkan, pejabat terbukti bersalah di pengadilan, rekayasa-rekayasa terungkap, dan seterusnya, dan sebagainya, dan lain-lain. Akan tetapi sungguh menakjubkan, bahwa perilaku semacam itu kenapa masih terus terjadi? Apakah pengungkapan-pengungkapan yang terus menerus terjadi tidak menyadarkan mereka (yang bobrok dan jahat)?

Bahasa wayangnya, Kresna sudah meminta kembali hak Pandawa. Kresna menampakkan kebenaran, menunjukkan mana yang benar mana yang salah. Tetapi ditolak mentah-mentah oleh Kurawa. Kejahatan tetap jalan, perampasan jalan terus, teriakan kebenaran tak dipedulikan. Satu-satunya jalan keluar adalah kebenaran harus merebut haknya, meski dengan kekerasan. Perang. Perang saudara. Pandawa yang lima dan sekutunya harus berbunuhan dengan saudara sepupunya sendiri, Kurawa yang seratus beserta sekutunya.

Semirip itukah kondisi di Indonesia saat ini? Munculnya kebenaran akankah kita biarkan saja, sehingga kejahatan tetap merajalela hingga munculnya perang saudara atas nama menegakkan kebenaran? Apakah pembiaran kita akan menjadi akhir dari masa damai dan awal dari masa perang? Awal Bharatayudha Jayabinangun Abad XXI-kah?

Silakan kita tafsirkan sendiri-sendiri dengan hati dan pikiran yang jernih, sembari terus menerus menempa diri agar kita menjadi seorang yang mampu istiqamah menjaga idealisme kebaikan, lintas ruang dan waktu.

Blunyah Gede, Rabu 16 November 2011, 20:10 WIB,

Ahmad Rahma Wardhana.

Kicau: #rindu

Setelah sekian hari tidak berkicau, saya akan kembali mencurahkan sebagian isi hati lewat hashtag #rindu

Aku akan me-#rindu-kanmu, 스물여섯-062011 dan 열셋-102011. Sangat #rindu.

Berkali kutatap masa depanku yg –tentu saja- mencakup ke-#rindu-anku kepadamu. Oase di tengah harap berjumpa denganmu.

Masa depan tsb adl adanya hari-hari rutin di mana kita mampu berjumpa, melepas #rindu.

Sebuah perjumpaan di mana kisah & cerita terungkap, cita terlisankan. Dan sejak itu doa terucap dr hatiku untukmu, sbg kelanjutan #rindu-ku

Mungkin engkau tahu, tp mungkin pula engkau tak tahu dan tak pernah tahu. Yg pasti, setiap perpisahan kita adl mjd sebuah awal bg #rindu-ku

Doaku –sbg wujud #rindu-ku- insya-Allaah tak akn pernah lupa sepanjang hayatku. Sbgmn hari ini engkau memintanya kpd-ku, ttg sebuah harapan

Harapan utk tidak mjd sesuatu pd sebuah suatu maqam, demikian ucapmu. #rindu

Akan kujawab dg doaku, semoga Allaah memberikan yg terbaik bagimu. #rindu

Tp tahukah engkau? Banggalah aku, jika saja kelak engkau mampu mencapai maqam tsb. #rindu

Meski harapku, sbgmn harapmu, smg engkau tak pernah mencapainya. Krn maqam tsb akan menjauhkanku dg-mu. #rindu-ku semakin sulit dipenuhi!

Sejak engkau mencapai maqam yg skrg kau berada, aku sdh pernah menatap masa depan-mu ttg maqam yg –mungkin- kelak akan kau capai. #rindu

Aku melihat, engkau berada di maqam tsb. Berjaya di antara para pendukungmu, dg aku berada di dekatmu, memimpin pembacaan doa. #rindu

Doaku adl smg yg terbaik untukmu. Itulah obat #rindu-ku kepadamu.

Sebuah ke- #rindu-an, yg sesungguhnya hanya bisa terobati oleh sebuah perjumpaan. 스물여섯-062011 dan 열셋-102011, aku #rindu. #the_end

Ndalem Blunyah, Jumat 14 Oktober 2011,

Ahmad Rahma Wardhana

Memahami Cara Allaah Mengijabahi Doa (al-Baqarah 186)

Materi ini telah disampaikan sebagai kultum Tarawih di empat tempat, yakni Masjid al-Falaah Blunyah Gede, Masjid al-Amin Popongan Baru, Mushalla al-Mu’minun Blunyah Gede, dan Mushalla al-Ikhlas Mesan.

Salam. Muqaddimah.

Allaah Ta’aala berfirman dalam al-Qur`an surat al-Baqarah ayat 186

وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌ قلى اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَادَعَانِلافَلْيَسْتَجِيْبُوْالِيْ وَلْيُؤْمِنُوْابِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُ وْنَ.

Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Nabi Muhammad saw.) tentang Aku, maka (jawablah), sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, supaya mereka selalu berada dalam kebenaran.

Jama’ah rahimakumullaah.

Ayat ini berada di antara rincian ibadah puasa wajib, di mana muncul kesan ayat ini tidak padu dengan ayat sebelumnya dan sesudahnya. Ayat 185 merinci keringanan dalam berpuasa, sementara ayat 187 mengesahkan hubungan suami istri di malam hari pada bulan Ramadlan. Sedangkan ayat 186 membahas tentang jaminan kedekatan Allaah pada hamba Allaah sekaligus janji pengijabahan dalam setiap permohonan yang ditujukan kepada Allaah.

Kesan tidak padu bukan berarti tidak berkaitan sama sekali. Sebagaimana penjelasan Prof. Quraish Shihab, ayat ini memang diletakkan di antara penjelasan puasa wajib Ramadlan sebagai sebuah isyarat. Isyarat agar umat manusia yang beriman memperbanyak doa kepada Allaah, mempersering mengucapkan permohonan kepada Allaah, mendekatkan diri kepada Allaah Ta’aala, ketika memasuki bulan Ramadlan, sebagai pengiring ibadah puasa kita.

Melalui ayat tersebut, Allaah menjelaskan betapa dekatnya Dzat Allaah kepada umat manusia, kita semua. Pun dengan jaminan Allaah tentang ijabahnya doa kita yang dipintakan kehadirat Allaah Ta’aala, Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, tetapi dengan syarat maka hendaklah mereka memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, supaya mereka selalu berada dalam kebenaran. Syarat ini mutlak, yang dalam bahasa lain bisa kita sebut dengan syarat iman yaitu mempercayai dan takwa yakni menjalankan perintah Allaah sekaligus menjauh dari apa yang dilarang Allaah.

Hadirin rahimakumullaah.

Yang sering terjadi pada diri kita adalah tidak sempurna memahami keseluruhan ayat ini. Bahwa terijabahinya doa kita mencakup tiga syarat, terucapnya doa serta keimanan dan ketakwaan. Terucapnya doa, sebagaimana tercantum dalam ayat tersebut  “اِذَادَعَانِ”, apabila ia memohon kepada-Ku, merupakan bentuk penghambaan kita kepada Sang Pencipta, pengakuan akan kelemahan kita sebagai makhluk sekaligus pengakuan akan betapa mutlaknya kuasa Allaah pada kita.

Dalam proses mengusahakan sesuatu, sering pula muncul sikap sombong kita kepada Allaah. Merasa sudah banyak berkorban, merasa sudah keras bekerja, merasa sudah sering memohon, merasa sudah banyak berdoa, tetapi kenapa tak kunjung terijabah? Perasaan ini harus kita jawab dengan nurani kita masing-masing: sudahkah diri kita merasa cukup beriman dan cukup bertakwa?

Selain itu, kita juga harus tahu persis bagaimana cara Allaah Ta’aala mengijabahi doa kita. Ketika doa tak kunjung terkabul, maka ada tiga pilihan kemungkinan yang digariskan Allaah kepada kita:

  1. ditunda pengijabahannya untuk waktu yang akan datang, karena ketika doa tersebut serta-merta dikabulkan oleh Allaah, bisa jadi kita lupa bersyukur kepada Allaah disebabkan oleh rasa bahagia yang begitu besar; atau
  2. diganti dengan perlindungan Allaah kepada kita dari bala` atau bencana-bencana kecil yang kadang tidak kita sadari; atau
  3. ditunda pengijabahannya karena kelak akan menjadi nikmat tersendiri bagi diri kita di kehidupan yang sesungguhnya, kehidupan akhirat.

Ketiga kemungkinan tersebut sangat membutuhkan keimanan yang teguh di dalam nurani kita masing-masing.

Hadirin rahimakumullaah.

Ada sebuah kisah tentang bagaimana cara Allaah bekerja dalam memenuhi permohonan manusia.

Terkisahlah sebuah kapal penumpang yang karam. Satu orang berhasil menyelamatkan diri, bertahan hidup di sebuah pulau kosong, beberapa ratus meter dari lokasi tenggelamnya kapal.

Orang tersebut membangun semacam tenda dari pelepah dan daun kelapa, serta segala sesuatu yang ada di sekitarnya, untuk bertahan hidup, menanti datangnya bantuan. Tak lupa ia memanjatkan doanya kepada Tuhan, setiap hari, pagi maupun petang.

Suatu pagi, saat dia sedang mencari air tawar ke dalam pulau, agaknya ia lupa memadamkan api unggun. Sebuah bara diterbangkan angin, menyentuh tenda yang ia bangun. Terbakar.

Sekembalinya ke tepi pantai ia sangat terpukul. Melihat tendanya, rumahnya tempat bertahan hidup beberapa hari terakhir habis terbakar, menyisakan asap hitam pekat dan abu. Ia kemudian marah. Marah kepada Tuhan, merasa sudah berusaha bertahan hidup, merasa sudah berdoa, tetapi satu-satunya tempat yang ia punyai ditakdirkan hancur.

Satu jam sesudahnya ia semakin terkejut, karena tiba-tiba ada kapal kecil mendekat ke pulau untuk menyelematkannya.

Ketika ia bertanya bagaimana kapal tersebut bisa menemukannya, sang kapten kapal menjawab, “Saya melihat asap pekat membumbung dari pulau kosong. Pasti itu adalah Anda yang sedang bertahan hidup, yang kami cari selama beberapa hari terakhir ini!”

Hadirin rahimakumullaah.

Kadang, kita merasa banyak berusaha dan banyak berdoa, namun masih saja tidak mampu memahami cara kerja Allaah dalam mengabulkan cita dan asa kita. Sakit dan jatuh pada awal atau di tengah proses sebuah pencapaian adalah hal yang biasa, namun keimanan mengajarkan kepada kita bahwa itulah garis keputusan Allaah, Allaah tahu apa yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya. Ada hikmah di balik bencana, kata pepatah.

Perlu juga kita pahami, bahwa ada perbedaan signifikan antara apa itu kebutuhan dan apa itu keinginan. Sulit bagi kita membedakannya, terutama dalam mengucapkannya kepada Allaah di doa-doa kita. Allaah Ta’aala pastilah akan memenuhi kebutuhan kita, ketika adalah orang-orang yang beriman kepada Allaah. Tetapi belum tentu Allaah akan mengijabahi setiap keinginan kita.

Kebutuhan membawa makna segala sesuatu yang dibutuhkan oleh diri kita. Namanya saja butuh, kalau tidak dipenuhi ya bisa menjadi bencana pada diri kita. Maka, kebutuhan-lah yang akan selalu menjadi prioritas kita dalam hidup, pun dengan prioritas Allaah dalam mengabulkannya kepada kita.

Berbeda dengan keinginan. Manusia mempunyai imajinasi yang tak bertepi tentang apa-apa yang diinginkannya. Sabda Kanjeng Nabi saw., manusia itu kalau ditawari satu gunung emas, maka ia akan menanyakan gunung emas lainnya. Maka, keinginan sudah semestinya tidak menjadi prioritas, karena bisa jadi banyak di antara keinginan tersebut bukanlah apa yang kita butuhkan tetapi justru menjadi sebab bagi terjerumusnya diri kita pada jurang dosa. Allaah tahu persis tentang ini. Mana kebutuhan, mana keinginan.

Hadirin rahimakumullaah.

Seorang nenek pernah bertanya kepada cucunya,

“Nak, maukah kamu memakan telur ini?” tanya sang Nenek sembari mengacungkan sebutir telur.

“Nggak mau Nek, masak makan telur mentah?” jawab sang Cucu.

“Kalau di antara ini, adakah di antaranya yang kamu mau memakannya?” tanya sang Nenek kembali, sambil menyodorkan beberapa bahan pembuat kue seperti tepung terigu, baking soda, vanili, mentega, dan lain-lain.

Sang Cucu menjawab dengan wajah bertanya-tanya,”Ah, Nenek tu aneh-aneh aja, masak makan kayak gitu Nek? Jelas nggak ada yang mau, nggak ada yang enak dimakan!”

Sang Nenek kemudian menutup dialog itu dengan berkata, “Sekarang Cucu tidak mau memakannya. Tetapi nanti, saat kesemuanya berpadu menjadi kue, pasti tak akan kau tolak!”

Inilah cermin kehidupan umat manusia. Ada titik-titik kehidupan di mana kita jatuh, terpukul, dan tersakiti. Pada titik-titik kehidupan itu, ketika kita memandang dengan cara pandang sempit, maka yang muncul adalah pembenaran terhadap rasa sakit tersebut. Ya, saya jatuh. Ya, saya terpukul. Ya, saya tersakiti.

Tetapi, kalau kita melihatnya dari sudut pandang yang lebih luas, bahwa semua adalah proses panjang dalam menjalani kehidupan, bahwa masing-masing rasa sakit dan terpukul itu kemudian kita ramu, kita masak dengan resep keimanan dan ketakwaan, maka yang reaksi yang muncul atas titik-titik kejatuhan kita adalah rasa syukur dan berterima kasih kepada Allaah.

Sebagaimana diibaratkan kisah tadi, bahan-bahan roti ketika ia dirasakan bagian per bagian hambarlah rasanya. Namun saat bahan roti tersebut diramu dengan resep yang tepat dan dipanggang dengan suhu dan waktu yang pas, lezatlah rasanya.

Pun dengan kehidupan. Rasa sakit dan terpukul dalam bagian hidup kita akan menjadi sebuah kelezatan, hanya jika kita mampu meramunya dengan resep keimanan dan ketakwaan. Sungguh indah, ketika hidup ini penuh rasa syukur kepada Allaah. Ketenangan dan kedamaian akan selalu menyertai kehidupan kita, sebuah kelezatan dalam menikmati keimanan dan ketakwaan kepada Allaah Ta’aala.

Hadirin rahimakumullaah.

Pada Ramadlan tahun ini, sebagaimana hikmah ayat 186 surat al-Baqarah, mari kita mendekatkan diri kepada Allaah sembari berdoa kepada Allaah terhadap cita-cita dan asa kita dalam kedhidupan. Pada Ramadlan ini pula, bentuk pendekatan diri kepada Allaah adalah juga bagaimana kita memperbarui dan menguatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allaah, sehingga mampu menjadi bekal terbaik untuk menjalani kehidupan, sebagai resep manjur, mencapai lezatnya hidangan iman dan takwa.

Demikian penyampaian dari saya, kurang dan lebihnya mohon maaf.

Salam.

MTQ UGM 2010, Sebuah Anak Tangga yang Tak Terlupakan

Bagian I: Jalannya Perlombaan – Optimisme versus Pesimisme

Lewat kicauan di twitter, kemarin sudah saya singkat-kisahkan keterlibatan diri saya dalam Tim MTQ UGM dalam ajang MTQ Mahasiswa Nasional 2011 di Makassar. Insya-Allaah tulisan ini akan mengungkap lebih detail kisah tersebut.

Catatan            : sudah sejak lama ingin mengisahkan ini, namun saya menunggu momen yang tepat, yakni selesainya proses dan hasil MTQ Mahasiswa Nasional.

***

Mendaftar Perlombaan – Sejarah yang Menjadi Penyemangat

Bulan Oktober 2010, saya dikejutkan dengan sebuah poster yang beredar di seantero kampus UGM, yaitu poster dari Direktorat Kemahasiswaan (Dirmawa) UGM tentang diadakannya Musabaqah Tilawatil Qur`an (MTQ) alias Lomba-lomba tentang al-Qur`an di tingkat UGM. MTQ tingkat UGM ini diselenggarakan sebagai persiapan dalam menghadapi MTQ Mahasiswa Nasional pada Juli 2011 di Makassar.

Pengumuman tersebut membuka kembali memori indah di akhir tahun 2006. Saat itu saya mengikuti MTQ tingkat Sekolah Umum se-Kota Yogyakarta dan berhasil meraih Juara II dalam cabang Musabaqah Syarhil Qur`an (MSQ) sebagai wakil dari almamater tercinta, SMA Negeri 4 Yogyakarta.

Alhasil, saya kemudian bersegera menuju ke kantor Dirmawa UGM untuk mendaftarkan diri. Tentu saja saya mendaftar ke cabang lomba yang diri saya mampu mengembannya. Perlu diketahui, saya bersyukur punya kehendak untuk mengukur kemampuan diri sendiri. Sehingga, dengan penuh kesadaran, saya yang

  1. dikaruniai suara biasa,
  2. sedikit hafalan ayat Qur`an-nya,
  3. rasa-rasanya tidak mempunyai bakat kaligrafer, serta
  4. belum pula diberkahi dengan pemahaman mendalam tentang ilmu-ilmu seputar Qur`an,

tentu saja tidak mungkin mendaftar untuk cabang Tartil atau Qira`ah (membaca indah), Hifdzil (hafalan), Khat (kaligrafi), maupun Fahmil (pemahaman Qur`an).

Saya mendaftar di cabang Pidato Kandungan al-Qur`an, yang mana cabang tersebut merupakan pecahan dari cabang MSQ. MSQ sendiri merupakan cabang yang paling seru dalam sebuah hajat besar MTQ. MSQ terdiri dari tiga orang peserta. Satu orang membaca ayat Qur`an dengan tartil, satu orang membaca puitisasi terjemahan ayat Qur`an, dan satu orang terakhir memberikan syarah, yakni ulasan dan penjelasan tentang ayat yang dibahas.

Di MTQ UGM, MSQ dipecah menjadi dua macam cabang yang berbeda, Pidato Kandungan al-Qur`an dan Puitisasi Kandungan al-Qur`an. Dan mendaftarlah saya di cabang Pidato, sembari berharap bahwa bakat omong saya bisa menjadi keberkahan tersendiri dengan menyalurkannya di bidang dakwah. ^_^

Jalannya Perlombaan – Menampakkan Kepolosan Diri

MTQ UGM diadakan di Masjid Kampus UGM pada hari Ahad, 27 Oktober 2010. Rival saya di cabang Pidato ternyata cukup banyak, sekitar 20 orang yang berasal dari berbagai Fakultas dan Jurusan. Saya yang kebetulan  mendapat nomor urut agak akhir sempat jatuh-bangun optimismenya, karena menyaksikan puluhan peserta lain yang apik, indah, dan piawai dalam menghabiskan waktu tujuh menit untuk berpidato.

Ada misalnya beberapa peserta perempuan dengan gaya orator keagamaan. Suaranya keras dan jelas, intonasinya kuat, pembacaan ayatnya juga fasih (belakangan saya ketahui bahwa salah satu dari mereka ternyata pernah maju MSQ di tingkat nasional).

Ada juga peserta yang berpidato dengan gaya Bung Karno yang berapi-api atau style Aa’ Gym yang bersahabat. Bahkan ada yang gayanya sangat memikat dan halus sehingga saya berkesimpulan dialah pemenangnya (kepolosan saya nampak di sini karena saya baru tahu belakangan bahwa ternyata dia yang memakai gaya ini adalah Ketua BEM Teknik!).

Yang semakin memperburuk suasana optimisme saya adalah adanya peserta yang berhasil berpidato/berceramah dengan gaya yang menarik karena sukses membuat peserta lain (dan penonton) tertawa! Intinya, mendapat urutan hampir akhir benar-benar mengaduk perasaan saya, dari optimis menjadi pesimis.

Tibalah giliran saya maju. Sejak awal saya beranggapan bahwa dalam konteks perlombaan menjadi berbeda adalah sebuah kekuatan. Maka, ketika peserta lain memakai celana panjang, peci putih bulat atau kotak, berbaju koko atau mengenakan jaket-semi-jas; saya benar-benar ekstrim dalam berpakaian:

  • sarung hijau,
  • batik lengan panjang dengan pin garuda pancasila di dada kiri,
  • sorban hijau di pundak kanan, serta
  • sorban putih terlilit di kepala.

Pesannya jelas, tarik perhatian pemirsa!

Setelah membaca muqaddimah, saya buka ceramah saya dengan berdialog,

“Ingat nggak dengan iklan pasta gigi yang mempertarungkan dua anak kecil? Ilmiah! Alami! Ilmiah! Alami! Tahukah Anda bahwa bencana yang sedang menimpa umat manusia juga bermacam-macam sumbernya? Ya, ada bencana alamiah dan ada pula bencana ilmiah.

##[prolog dalam ceramah ini sengaja saya buat aneh, yakni dengan membawa penonton ke arah yang tidak disangka sama sekali, agar menjadi menarik]##

Kemudian saya jelaskan bahwa bencana alamiah adalah dalam pengertian bencana dari Allaah sebagai ujian bagi umat manusia (misal: al Baqarah 155-157 atau al-‘Ankabut 2-3) sedangkan bencana ilmiah adalah bencana karena ulah manusia sendiri yang berlebihan dalam menggunakan ilmu dan teknologi (tafsir atas al Baqarah 33 tentang potensi manusia). Lebih jauh, saya uraikan dengan bahasa awam tentang global warming dan climate change yang berdampak langsung pada ekstrimnya cuaca di Indonesia.

##[ini yang disebut dengan isi ceramah, inti pembahasan berdasar atas ayat Qur`an. Menjadi lebih menggugah ketika yang dibahas adalah persoalan modern nan ilmiah, namun bahasanya serta penyampainnya manusiawi a. k.a. awam.

Satu hal menjadi catatan penting adalah penggunaan kata populer akan membawa penonton tergelak dan tertawa, di mana dalam bagian ini saya sempat menggunakan redaksi lebay untuk menggambarkan betapa berlebihannya ulah manusia.]##

Dan sebagai penutup ceramah, saya memberikan imbauan,

“Maka dalam kesempatan kali ini saya mendorong, utamanya pada diri saya sendiri dan seluruh hadirin, agar memulai penghematan penggunaan energi fosil sebagai upaya riil mengurani global warming. Sederhana saja, misalnya dengan mengurangi penggunaan kendaraan bermotor atau mencabut alat-alat elektronik yang tak terpakai…”

##[termasuk dalam bagian penutup ini adalah saya menekankan pentingnya gerakan sekecil apapun, demi memulai perubahan besar dan signifikan.}##

Sayang sekali, tujuh menit saya habiskan dengan tidak sempurna, karena sempat terbata-bata (bahkan kemudian dibenarkan dan dituntun oleh juri!!!) saat melafadzkan ayat Qur`an yang menjadi landasan pembahasan.

Pasca-perlombaan – Evaluasi dari Sang Juri

Setelah selesai perlombaan saya merasa jatuh. Selain karena peserta lain yang dalam pandangan saya perfect, kesalahan saya dalam melafadzkan ayat telah saya simpulkan akan menjadi batu sandungan yang mematikan. Maka saya mencoba cara yang sebenarnya tidak memberkahi.

Saya mengajak berdiskusi salah seorang juri, di mana tema diskusi itu saya arahkan sedemikian rupa sehingga saya menjadi sempat untuk mengatakan bahwa saya pernah ikut MSQ di tingkat Kota Yogyakarta dan Juara Kedua. Namun juri tersebut memang sudah expert, karena scene saat saya menceritakan prestasi tersebut nampaknya tidak berkesan di dalam benak beliau.

Yang menarik adalah justru evaluasi dari beliau tentang saya. Beliau Sang Juri mengatakan kurang lebih,

“Mas, gaya Anda sudah bagus, seperti kyai-kyai di kampung, yang menjelaskan dengan cara seperti itu. Hanya satu kekurangannya, tidak ada sisi ketegasan, dalam penyampaian Anda. Tegas seperti gaya Bung Karno itu lho. Dan satu contoh da’i yang bagus adalah Zainuddin MZ, ada yang halus, tapi ada juga orasi dan ketegasannya.”

Kegalauan yang Bertransformasi menjadi Doa

Setelah mengucapkan terima kasih atas evaluasi tersebut, saya kemudian pulang ke rumah. Kesimpulan saya saat itu, saya kalah. Argumennya jelas: peserta lain yang penyampainnya lebih keren, kesalahan saya saat melafadzkan ayat Qur`an, dan gaya penyampaian saya yang tidak sempurna. Dan hari-hari menuju pengumuman pun berisikan kegalauan yang perlahan bertransformasi menjadi doa

##[dari 20-an peserta diambil tiga peserta untuk seleksi cabang Pidato tahap berikutnya.]##

***

Bersambung ke “Bagian II: Kejutan dan Tangisan yang Berpadu Menjadi Kisah Indah”