Shalawat Agung

Setelah beberapa bulan disambi dan dicicil, akhirnya selesai juga penulisan ulang shalawat dari buku “70 Shalawat Pilihan” karya al-Ustadz Mahmud Samiy. Buku tersebut sudah saya punyai sejak 21 Juni 2003 (terbitan Pustaka Hidayah, Cetakan VII/April 2001).

Buku ini merupakan terjemahan dari kitab berbahasa arab dengan judul Mukhatashar fi Ma’ani Asma’ Allaah al-Husna pada bab ash-Shalah ‘ala an-Nabi (tanpa tempat dan tahun penulisan).

Isinya merupakan 70 buah shalawat beserta pelafalan, makna, sumber, dan fadlilah-fadlilahnya (keutamaan). Termasuk di dalam 70 shalawat tersebut adalah shalawat Ibrahimiyah, Nariyah, Munjiyat, Nurul Anwar, dan al-Fatih.

Folder yang saya bagi ini berisi file word dan pdf bacaan 70 shalawat tersebut dalam huruf arab berharakat dengan memakai font jenis Amiri Qur’an dan ukuran kertas A5 (pas untuk smartphone atau tablet).

Sementara keterangan lain dari 70 Shalawat tersebut (makna, keutamaan, dan periwayatan shalawat) belum sempat saya tulis ulang. Semoga Allaah berkenan memberikan waktu serta kesehatan kepada saya sehingga dpt menuliskannya, termasuk menambahkan beberapa shalawat masyhur lain yg belum tertulis dlm buku tersebut (misal: thibbil qulub, haji, atau badawiyyah). Aamiin.

Silakan dimanfaatkan sebagai amalan-amalan rutin. Tidak harus semua, memilih beberapa pun juga baik, yang penting terus menerus meskipun sedikit. Kritik dan saran sangat ditunggu, terutama jika terdapat kekeliruan penulisan.

Tautan menuju folder: Buku Shalawat

Perkawinan Antar Pemeluk Agama yang Berbeda

Dikutip tanpa perubahan dari buku Wawasan al-Quran: Tafsir Tematik atas Pelbagai Persoalan Umat karya M. Quraish Shihab, halaman 259-264 (Penerbit Mizan tahun 1996, Cetakan II – Desember 2007)

Perkawinan Antar Pemeluk Agama yang Berbeda

Al-Quran juga secara tegas melarang perkawinan dengan orang musyrik seperti Firman-Nya dalam surat Al-Baqarah (2): 221,

Larangan serupa juga ditujukan kepada para wali agar tidak menikahkan perempuan-perempuan yang berada dalam perwaliannya kepada laki-laki musyrik.

Menurut sementara ulama walaupun ada ayat yang membolehkan perkawinan pria Muslim dengan wanita Ahl Al-Kitab (penganut agama Yahudi dan Kristen), yakni surat Al-Maidah (5): 5 yang menyatakan,

Tetapi izin tersebut telah digugurkan oleh surat Al-Baqarah ayat 221 di atas. Sahabat Nabi, Abdullah Ibnu Umar, bahkan mengatakan:

Pendapat ini tidak didukung oleh mayoritas sahabat Nabi dan ulama. Mereka tetap berpegang kepada teks ayat yang membolehkan perkawinan semacam itu, dan menyatakan bahwa walaupun aqidah Ketuhanan ajaran Yahudi dan Kristen tidak sepenuhnya sama dengan aqidah Islam, tetapi Al-Quran tidak menamai mereka yang menganut Kristen dan Yahudi sebagai orang-orang musyrik. Firman Allah dalam surat A1-Bayyinah (98): 1 dijadikan salah satu alasannya.

Ayat ini menjadikan orang kafir terbagi dalam dua kelompok berbeda, yaitu Ahl Al-Kitab dan Al-Musyrikin. Perbedaan ini dipahami dari kata “wa” yang diterjemahkan “dan”, yang oleh pakar bahasa dinyatakan sebagai mengandung makna “menghimpun dua hal yang berbeda”.

Larangan mengawinkan perempuan Muslimah dengan pria non-Muslim–termasuk pria Ahl Al-Kitab–diisyaratkan oleh Al-Quran. Isyarat ini dipahami dari redaksi surat Al-Baqarah (2): 221 di atas, yang hanya berbicara tentang bolehnya perkawinan pria Muslim dengan wanita Ahl Al-Kitab, dan sedikit pun tidak menyinggung sebaliknya. Sehingga, seandainya pernikahan semacam itu dibolehkan, maka pasti ayat tersebut akan menegaskannya.

Larangan perkawinan antar pemeluk agama yang berbeda itu agaknya dilatarbelakangi oleh harapan akan lahirnya sakinah (ketenangan – tambahan dari Ahmad R. Wardhana) dalam keluarga. Perkawinan baru akan langgeng dan tenteram jika terdapat kesesuaian pandangan hidup antar suami dan istri, karena jangankan perbedaan agama, perbedaan budaya, atau bahkan perbedaan tingkat pendidikan antara suami dan istri pun tidak jarang mengakibatkan kegagalan perkawinan. Memang ayat itu membolehkan perkawinan antara pria Muslim dan perempuan Utul-Kitab (Ahl Al-Kitab), tetapi kebolehan itu bukan saja sebagai jalan keluar dari kebutuhan mendesak ketika itu, tetapi juga karena seorang Muslim mengakui bahwa Isa a.s. adalah Nabi Allah pembawa ajaran agama. Sehingga, pria yang biasanya lebih kuat dari wanita–jika beragama Islam–dapat mentoleransi dan mempersilakan Ahl Al-Kitab menganut dan melaksanakan syariat agamanya,

Ini berbeda dengan Ahl Al-Kitab yang tidak mengakui Muhammad
Saw. sebagai nabi.

Di sisi lain harus pula dicatat bahwa para ulama yang membolehkan perkawinan pria Muslim dengan Ahl Al-Kitab, juga berbeda pendapat tentang makna Ahl Al-Kitab dalam ayat ini, serta keberlakuan hukum tersebut hingga kini. Walaupun penulis cenderung berpendapat bahwa ayat tersebut tetap berlaku hingga kini terhadap semua penganut ajaran Yahudi dan Kristen, namun yang perlu diingat bahwa Ahl Al-Kitab yang boleh dikawini itu, adalah yang diungkapkan dalam redaksi ayat tersebut sebagai “wal muhshanat minal ladzina utul kitab”. Kata al-muhshnnat di sini berarti wanita-wanita terhormat yang selalu menjaga kesuciannya, dan yang sangat menghormati dan mengagungkan Kitab Suci. Makna terakhir ini dipahami dari penggunaan kata utuw yang selalu digunakan Al-Quran untuk menjelaskan pemberian yang agung lagi terhormat.[1] Itu sebabnya ayat tersebut tidak menggunakan istilah Ahl Al-Kitab, sebagaimana dalam ayat-ayat lain, ketika berbicara tentang penganut ajaran Yahudi dan Kristen.

Pada akhirnya betapapun berbeda pendapat ulama tentang boleh tidaknya perkawinan Muslim dengan wanita-wanita Ahl Al-Kitab, namun seperti tulis Mahmud Syaltut dalam kumpulan fatwanya.[2]

Pendapat para ulama yang membolehkan itu berdasarkan kaidah syar’iyah yang normal, yaitu bahwa suami memiliki tanggung jawab kepemimpinan terhadap istri, serta memiliki wewenang dan fungsi pengarahan terhadap keluarga dan anak-anak. Adalah kewajiban seorang suami Muslim berdasarkan hak kepemimpinan yang disandangnya untuk mendidik anak-anak dan keluarganya dengan akhlak Islam. Laki-laki diperbolehkan mengawini non-Muslimah yang Ahl Al-Kitab, agar perkawinan itu membawa misi kasih sayang dan harmonisme, sehingga terkikis dari hati istrinya rasa tidak senangnya terhadap Islam. Dan dengan perlakuan suaminya yang baik yang berbeda agama dengannya itu, sang istri dapat lebih mengenal keindahan dan keutamaan agama Islam secara amaliah praktis, sehingga ia mendapatkan dari dampak perlakuan baik itu ketenangan, kebebasan beragama, serta hak-haknya yang sempurna, lagi tidak kurang sebaik istri.

Selanjutnya Mahmud Syaltut menegaskan bahwa kalau apa yang
dilukiskan di atas tidak terpenuhi –sebagaimana sering terjadi pada masa kini– maka ulama sepakat untuk tidak membenarkan perkawinan itu, termasuk oleh mereka yang tadinya membolehkan.

Kalau seorang wanita Muslim dilarang kawin dengan non-Muslim karena kekhawatiran akan terpengaruh atau berada di bawah kekuasaan yang berlainan agama dengannya, maka demikian pula sebaliknya. Perkawinan seorang pria Muslim, dengan wanita Ahl Al-Kitab harus pula tidak dibenarkan jika dikhawatirkan ia atau anak-anaknya akan terpengaruh oleh nilai-nilai yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam.

[1] Kata utuw, dalam berbagai bentuknya terulang di dalam al-Quran sebanyak 32 kali. Al-Quran menggunakannya untuk anugerah yang agung berupa ilmu atau Kitab Suci.

[2] Mahmud Syaltut 1959: 253

Membeberkan Kesalahan tanpa Tujuan yang Dibenarkan

Akhir-akhir ini kondisi Indonesia sungguh sangat menyakitkan. Kata-kata hinaan dan cacian dikeluarkan dengan mudah melalui lisan kita. Pun dengan jari-jari kita melalui tulisan, cuitan, dan komentar di media sosial. Tidak hanya kita, karena bahkan beberapa orang yang dapat dikategorikan sebagai ulama atau sekedar dai juga menggunakan ekspresi lisan yang tak sopan di dalam ceramah-ceramahnya. Yang lebih menyakitkan adalah ketika cacian dan makian ditujukan kepada sesama muslim, di mana cacian terebut muncul hanya karena perbedaan pandangan terhadap sebuah permasalahan. Inikah Islam yang kita banggakan menjadi rahmat bagi semesta alam?

Beberapa hari yang lalu saya tersentak saat membaca penjelasan ulama besar Suriah, Syaikh Prof. Wahabah az-Zuhaili soal cacian: bahkan kepada seorang pendosa sekalipun, mencaci itu dilarang!

Berikut ini saya kutipkan penjelasan beliau di dalam Buku Ensiklopedia Akhlak Muslim – Berakhlak dalam Bermasyarakat terbitan Penerbit Noura Books tahun 2013, yang merupakan terjemahan dari Kitab Akhlaaq al-Muslim: ‘Alaaqatuhuu bi al-Mujtama` (Dar al-Fikr, Damaskus, Suriah, tahun 2002).

Semoga dapat menjadi bahan renungan kita semua, yang merindukan suasana damai dan tenteram di Indonesia tercinta.

Kutipannya sebagai berikut:

Membeberkan Kesalahan tanpa Tujuan yang Dibenarkan

Manusia terkadang melakukan kesalahan, kekhilafan, penyimpangan, dan kelalaian yang tidak disengaja. Oleh sebab itu, orang lain tidak dibenarkan mencela dan membeberkan kesalahan-kesalahan tersebut hingga menjatuhkan martabat yang bersangkutan. Etika yang baik adalah justru menyembunyikannya. Jika seseorang melakukan kesalahan, tidaklah pantas ia membicarakan dan membeberkan kelakuannya di malam hari secara diam-diam. Sebaliknya, ia harus bersyukur kepada Allaah SWT yang menutupi kesalahannya dan tidak diperlihatkan. Di samping itu, seseorang juga tidak boleh mencaci orang yang divonis berbuat salah, atau memberondong dengan segudang cacian, makian, dan umpatan, atau mengucapkan, “Semoga Allaah memusnahkanmu”. Semua kesalahan ini mendatangkan siksa atau hukuman bukan pada tempatnya.

Oleh karena itu, Allaah SWT memperingatkan orang-orang yang suka menebar rumor atau kata-kata kotor terhadap pelaku kesalahan dalam firman-Nya (al-Qur`an Surat an-Nuur (24) ayat 19):

 

 

Sesungguhnya orang-orang yang senang tersebarnya kekejian di (kalangan) orang-orang yang beriman, bagi mereka siksa yang sangat pedih  di dunia dan (azab yang lebih pedih) di akhirat.

Dengan kata lain, orang yang membeberkan perbuatan buruk tanpa keperluan, ia pantas mendapatkan siksaan yang pedih dan menyakitkan di dunia ini dan di akhirat. Larangan membeberkan berita buruk dan propaganda jahat yang tidak ada berguna ini sangat jelas.

Hadits berikut ini menganjurkan kita agr menutupi rahaisa yang tidak boleh dibeberkan, atau mengucapkan hal-hal yang tidak ada manfaatnya. Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah RA dari Nabi Muhammad SAW bersabda,

Dari Abu Hurairah RA, dari Nabi SAW, beliau bersabda: “Tidak ada orang yang menutupi kejelekan orang lain di dunia, kecuali Allaah akan menutupi kejelekannya di Hari Kiamat.”

Maksudnya, balasan menutupi kesalahan seseorang yang tidak disengaja, yaitu dengan tidak membeberkannya, kelak Allaah SWT akan menutupi kesalahan orang tersebut. Artinya, bisa jadi Allaah SWT menghapus dosanya. Bisa jadi pula Allaah SWT menutupi hingga tak seorang pun mengetahuinya.

Sebuah hadis muttafaq ‘alaih  dari Abu Hurairah RA mengatakan bahwa aku pernah mendengar Nabi Muhammad SAW bersabda,

Umatku akan mendapat ampunan, kecuali orang-orang yang terang-terangan berbuat dosa. Di antara dari mereka adalah orang yang berbuat dosa di malam hari dan pada pagi harinya ia menceritakannya, padahal Allaah telah menutupinya. Ia berkata, ‘Hai Fulan, aku tadi malam berbuat begini dan begini’. Sesungguhnya malam itu Allaah telah menutupi perbuatannya, namun pagi harinya ia malah membuka sendiri perbuatannya yang telah Allaah tutup.”

Hadis ini menjelaskan betapa besar dosa orang yang membeberkan kesalahan yang diperbuat. Tindakan seperti itu mengundang murka Allaah SWT. Orang seperti ini berarti tidak mengindahkan perasaan orang lain, merusak kesucian yang berlaku di masyarakat, serta melecehkan agama.

Hal ini ditegaskan lagi oleh hadis lain tentang larangan omong kosong atau bicara berlebihan.

Dalam hadis shahih dari Abu Hurairah RA dari Nabi Muhammad SAW bersabda,

Jikalau seorang hamba sahaya wanita nyata-nyata berzina maka cambuklah ia sesuai dengan had yang ditentukan dan jangan mengolok-oloknya. Kemudian jika ia berzina lagi maka cambuklah ia sebagai had-nya dan jangan mengolok-oloknya. Selanjutnya, jika ia masih berzina untuk ketiga-kalinya maka hendaklah ia dijual saja, sekalipun seharga seutas rambut.

Dengan kata lain, hukuman bagi pelaku zina bertujuan mendidik dan mengajaknya kembali ke jalan yang benar. Jika pemilik ingin menjualnya maka ia harus menjelaskan kekurangannya kepada si pembeli. Sebab, menjelaskan kekurangan hukumnya wajib, tentu saja jangan sampai berlebihan.

Demikian pula dengan orang merdeka, sebagaimana disitir hadis riwayat Imam al-Bukhari dari Abu Hurairah RA bahwa seorang laki-laki yang menenggak minuman keras dihadapkan kepada Nabi Muhammad SAW, Abu Hurairah berkata,

Di antara kami ada yang memukul orang itu dengan tangannya, ada yang memukul dengan sandalnya,  bahkan ada yang memukul dengan pakaiannya. Setelah orang itu pergi, sebagian orang berkata, Semoga engkau dihinakan Allaah. Beliau bersabda, Jangan berkata begitu. Janganlah kalian memberikan pertolongan kepada setan untuk menggodanya lagi.

Maksudnya, penenggak minuman keras boleh dijatuhi hukuman cambuk dengan tangan, pakaian, sandal, dan pelepah kurma. Akan tetapi, jangan mengutuknya, karena dengan begitu ia membantu setan. Doakan ia agar mendapat hidayah, kebenaran, dan selamat dari kehinaan. Ungkapan-ungkapan yang tidak disertai umpatan atau cacian tersebut dapat memacu pelaku maksiat untuk meninggalkan perbuatan dosa.

Begitulah arahan dan pendidikan Nabi Muhammad SAW, yaitu fokus pada menjatuhkan hukuman dengan tidak menggembar-gemborkan, mencaci, atau mengumpat pelakunya. Begitulah Islam dalam bermuamalah dan menjatuhkan sanksi hukum; serta menyesuaikan dan menerapkan keadilan antara tindakan dan hukuman. Sudah selayaknya kita menghiasi diri dengan akhlak luhur seperti ini, yang sangat kontras dengan yang terjadi di zaman sekarang, di mana pelaku kesalahan dihujani berbagai cacian, makian, dan kutukan.

 

Bahkan Museum Adam Malik pun Dijual

Saya kutip tanpa perubahan dari “Majalah Detik” edisi 23-29 Desember 2013.

Saya kutip dan tulis di blog saya, agar menjadi perhatian kita bersama, bahwa urusan nasionalisme dan kebangsaan bukan hanya melulu tentang prestasi dan visi ke depan, tapi juga bagaimana nilai-nilai masa lalu bisa kita pelihara sebagai akar bagi kehidupan masa depan bangsa kita.

Saya sebagai pencinta buku (berbagai jenis genre, keagamaan, novel, ilmiah populer, bahkan komik) sekaligus pencinta sejarah, sangat sedih dan hampir menangis membaca artikel ini. Semoga tidak terulang lagi di negeri kita.

Sahabat saya, alumnus S1 Ilmu Budaya Gadjah Mada berangkat ke Belanda untuk belajar di Leiden selama dua tahun. Saya berpesan kepada dia, agar kelak membawa kembali pusaka Nusantara yang kini tersebar di tanah Belanda. Tapi melihat penghargaan masyarakat kita yang masih kurang tentang peninggalan sejarah, saya jadi ragu dengan pesan saya sendiri tersebut.

Berikut ini adalah kutipannya, dan selamat membaca, semoga mampu menarik hikmahnya.

Kekayaan Adam Malik menguap satu per satu. Keluarga menjual segala koleksi dan kekayaannya. peruntungan mereka dalam bisnis dan politik kurang bagus.

Ribuan buku menumpuk di  teras sebuah rumah di Jalan Masjid Al Barkah Barat Nomor 135, Cireundeu, Jakarta Selatan. Rumah itu adalah rumah Gunajaya Malik. Gunajaya adalah cucu mantan wakil presiden Adam Malik dari anak ketiga, Budisita Malik.

Buku yang menumpuk itu merupakan koleksi Adam Malik. Pada tahun 2002, keluarga menjual koleksi buku tersebut, yang diborong oleh Ependi Simanjutak.

“Kudapat itu dari sopir keluarga Adam Malik, ke perantara. Namanya Boyong. Sopirnya saya enggak kenal,” ujar pedagang buku bekas yang biasa disapa Ucok itu.

Ucok, yang kini memiliki toko buku bekas bernama Guru Bangsa di Lebak Bulus, Jakarta Selatan, membeli buku tersebut secara kiloan. Per kilogram buku, Ucok membayar Rp 3.000. Bobot seluruh buku itu mencapai 25 ton, sehingga total harga buku sekitar Rp 75 juta.

Saking banyaknya buku, sampai-sampai Ucok perlu berhari-hari untuk memboyong semua buku sedikit demi sedikit. “Sudah kayak benteng mau perang. Saya kerahkan 10 orang. Saya angkutin1 ton tiap hari,” ujarnya.

Ucok merasa beruntung karena buku-buku Adam Malik merupakan buku yang bermutu. Sebagai diplomat, Adam Malik—menjadi Duta Besar Uni Soviet dan Polandia pada pemerintahan Sukarno, dan kemudian menjadi Menteri Luar Negeri sampai wakil presiden pada pemerintahan Soeharto—memiliki pergaulan yang sangat luas. Para kolega, yang terdiri atas tokoh penting di banyak negara, tidak jarang menghadiahinya buku dan barang antik.

Misalnya, di antara buku-buku Adam Malik yang dijual Ucok kepada kolektor buku terdapat surat yang menjelaskan buku tersebut merupakan hadiah ulang tahun Adam Malik dari seorang pejabat di Moskow. Pejabat Rusia itu memberikan hadiah kepada pria yang lahir pada 22 Juli 1917 itu satu set buku seni yang langka berisi 13 buku.

“Please accept a modest birth  day present from Moscow,”tulis pejabat itu dalam suratnya kepada Adam Malik tertanggal 22 Juli 1973. “The edition was very limited,” tambah sang pengirim soal buku terbitan 1972 itu.

Buku-buku koleksi Adam Malik itu baru habis dijual Ucok setelah 5 tahun. “Itu buku dari Museum Adam Malik, itu jatuhnya semuanya sama aku. Aku juga dapat catatan harian dia, tapi sudah kukasih ke teman,” ujarnya.

Koleksi buku memang merupakan bagian dari Museum Adam Malik di Jalan Diponegoro Nomor 29, Menteng, Jakarta Pusat. Koleksi buku Adam Malik sangat berharga. Beberapa buku sudah berusia tua, bahkan ada yang berasal dari abad ke-17. Beberapa buku juga merupakan pemberian langsung tokoh-tokoh dunia, seperti Mahatma Gandhi, Benigno Aquino, dan Benazir Bhutto.

Museum Adam Malik berdiri pada 5 September 1985, genap satu tahun setelah Adam Malik meninggal. Museum ini menampung benda seni dan bersejarah serta buku-buku koleksi Adam Malik. Barang-barang yang dikumpulkan saat Adam Malik menjabat tersebut bisa di akses oleh masyarakat umum.

Sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Asvi Warman Adam, menuturkan Adam Malik memiliki selera seni tinggi. Posisi Menteri Luar Negeri membuatnya leluasa mendapatkan barang-barang seni dari dalam dan luar negeri. “Memang koleksinya tidak sehebat Bung Karno, tapi dia punya koleksi lumayan karena seleranya tadi,” jelasnya.

Keluarga Adam Malik sendiri sepakat mengelola museum secara pribadi. Adam Malik menikah dengan Nelly pada 1942 dan memiliki lima anak. Mereka adalah Otto Adam Malik, Imron Malik, Ilham Malik, Antarini Malik, dan Budisita Malik. Kini anak Adam Malik yang masih hidup adalah Otto dan Antarini.

Museum Adam Malik menampung 13 jenis koleksi, yaitu lukisan non-Cina, lukisan Cina, ikon Rusia, keramik, buku, senjata tradisional, patung batu dan logam, ukiran kayu, batu permata, emas, tekstil, kristal, serta fotografi.

Bukan hanya koleksi buku yang habis. Koleksi Adam Malik satu per satu menghilang dari museum. Keturunan Adam Malik sendirilah yang justru menjual koleksi museum. Alasannya, untuk biaya operasional museum.

Ilham Malik (almarhum), anak keempat Adam Malik, konon menjual koleksi museum berupa lukisan Penari-Penarikarya Trubus dan ikon seni pahat khas gereja ortodoks Eropa Timur. Penjualan koleksi itu dilakukan untuk membiayai perawatan Museum Adam Malik.

Gunajaya mengaku keluarganya kerepotan memelihara museum itu. Biayanya mencapai Rp 16-20 juta per bulan. Sedangkan pajak bangunan Rp 80 juta setahun. Apalagi usia Nelly Adam Malik semakin uzur.

“Museum ditutup karena waktu itu biaya pemeliharaannya tinggi. Itu kan seharusnya fasilitas dibayar negara, tapi kami minta ke PLN tidak diberi subsidi semuanya,” jelas Guna.

Namun penjualan koleksi ini tak dapat menyelamatkan Museum Adam Malik. Puncaknya, museum itu bangkrut pada 2005-2006. Otto Malik, anak pertama, menjual gedung bekas tempat tinggal bapaknya itu kepada Hary Tanoesoedibjo. Kini museum tersebut menjadi kantor  sekretariat Persatuan Indonesia (Perindo), organisasi kemasyarakatan bentukan Hary.

Penjualan gedung ini membuat seluruh koleksi berharga museum tercerai-berai. Ahli waris Adam Malik menjual koleksi sekenanya saja. Pusat Arkeologi Nasional menemukan prasasti Shankara dari zaman Kerajaan Mataram kuno (abad ke-8 Masehi) koleksi Museum Adam Malik di tukang loak pada September 2012.

Bukan hanya itu, dari data internet juga bisa diketahui jual-beli koleksi Museum Adam Malik di laman archive situs www.kaskus.co.id tertanggal 29 Januari 2010. Akun bernama Rudy Maulana menjual lukisan keramik karya pelukis Belanda, J. Van Dijk, tahun 1941 seharga Rp 2,5 juta. Rudy menyebutkan lukisan itu sebelumnya merupakan koleksi nomor 10 Museum Adam Malik. Koleksi tersebut terjual kepada seorang kolektor bernama Hermawan Lukman dari Bandung.

Gunajaya membantah jika keluarganya dikatakan menghabiskan seluruh koleksi Museum Adam Malik. Ia mengaku masih menyimpan beberapa koleksi buku Adam Malik. Sedangkan koleksi keramik masih disimpan oleh keluarga Ilham dan Antarini. “Jadi saya tidak pernah terlibat dalam pengelolaan barang-barang eks museum. Tetapi sebagian buku ada di saya, buku-buku tua,” akunya.

Asvi menyebutkan pengelolaan museum secara pribadi oleh ahli waris membawa dampak buruk. Keluarga Adam Malik memiliki catatan kurang bagus dalam berbisnis maupun berpolitik. Usaha mereka mengembangkan bisnis melalui yayasan justru berbuah masalah hukum.

Nelly Adam Malik berusaha mendirikan Rumah Sakit Emergency melalui Yayasan Mekarsari. Permohonan pendirian ini diajukan pada tahun 1980 di daerah Pulomas, Jakarta Timur. Namun usaha ini urung dilakukan karena tidak ada modal.

Pada tahun 1985, mereka mengubah nama  yayasan menjadi Yayasan Adam Malik. Yayasan ini kembali mengajukan kembali izin pendirian rumah sakit  hewan di tempat yang sama pada tahun 1989. Namun izin ini ditolak oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dengan alasan pemanfaatan tanah untuk pembangunan danau buatan.

Dua kali tidak berhasil membangun rumah sakit, keluarga Adam Malik membuka usaha besi tua. Mereka membina pemulung di Pulomas. Kini mereka bersengketa dengan Pemprov DKI Jakarta mengenai status lahan di kawasan Waduk Ria Rio, Jakarta Timur, itu.

Otto Malik juga terlilit masalah hukum setelah terlibat dalam sengketa pengelolaan Yayasan Harapan Ibu Pondok Pinang. Ia harus menghadap ke meja hijau pada 11 September 2013 karena terlibat pemukulan dan pemaksaan masuk pekarangan orang lain.

Nasib anak-anak Adam Malik pun tidak secemerlang bapaknya di dunia politik. Satu-satunya anak yang berkecimpung di dunia politik adalah Antarini Malik. Ia berhasil duduk sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat periode 2004-2009 mewakili daerah pemilihan Sumatera Utara I dari Fraksi Partai Golkar.

Namun, pada periode 2009-2014, ia gagal masuk DPR dari daerah pemilihan yang sama. Kini ia kembali maju sebagai calon legislator Partai Golkar mewakili daerah pemilihan Banten I.

Seputar Ayat an-Nuur dan al-Ahzaab – Tentang Pakaian pada Wanita

Mencoba menjawab request seorang sahabat tentang jilbab dan kerudung. Bukan kualifikasi saya untuk menjawabnya dengan dalil dan argumen, maka saya kutipkan dari sumber yang terpercaya 🙂

_________________________________________________________________________

Dikutip tanpa perubahan dari Buku berjudul “Wawasan Al-Quran: Tafsir Tematik Atas Pelbagai Persoalan Umat” karya “M. Quraish Shihab”, Cetakan II (Desember 2007), diterbitkan oleh “Penerbit Mizan”, halaman 227-238

Wanita-wanita  Muslim,  pada  awal  Islam  di Madinah, memakai pakaian  yang  sama  dalam  garis   besar   bentuknya   dengan pakaian-pakaian  yang dipakai oleh wanita-wanita pada umumnya. Ini termasuk wanita-wanita  tuna  susila  atau  hamba  sahaya. Mereka  secara  umum  memakai  baju dan kerudung bahkan jilbab tetapi leher dan dada  mereka  mudah  terlihat.  Tidak  jarang mereka   memakai   kerudung  tetapi  ujungnya  dikebelakangkan sehingga telinga, leher  dan  sebagian  dada  mereka  terbuka.

Keadaan  semacam  itu digunakan oleh orang-orang munafik untuk menggoda  dan   mengganggu   wanita-wanita   termasuk   wanita Mukminah.  Dan  ketika  mereka  ditegur menyangkut gangguannya terhadap Mukminah, mereka berkata:  “Kami  kira  mereka  hamba sahaya.”  Ini  tentu  disebabkan  karena  ketika itu identitas mereka sebagai wanita Muslimah tidak  terlihat  dengan  jelas. Nah,  dalam  situasi  yang  demikian  turunlah  petunjuk Allah kepada Nabi yang menyatakan:

Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuan dan istri-istri orang Mukmin agar mengulurkan atas diri mereka jilbab-jilbab mereka. Yang demikian itu menjadikan mereka. Lebih mudah untuk dikenal (sebagai wanita Muslimah/wanita merdeka/orang baik-baik) sehingga mereka tidak diganggu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS A1-Ahzab [33]: 59).

Jilbab adalah  baju  kurung  yang  longgar  dilengkapi  dengan kerudung penutup kepala.

Ayat  ini  secara  jelas  menuntun/menuntut kaum Muslimah agar memakai pakaian  yang  membedakan  mereka  dengan  yang  bukan Muslimah  yang memakai pakaian tidak terhormat lagi mengundang gangguan tangan atau lidah yang usil. Ayat  ini  memerintahkan agar  jilbab  yang  mereka  pakai hendaknya diulurkan ke badan mereka.

Seperti tergambar di atas, wanita-wanita Muslimah sejak semula telah   memakai   jilbab,   tetapi   cara  pemakaiannya  belum menghalangi  gangguan  serta   belum   menampakkan   identitas Muslimah.

Nah, di sinilah Al-Quran memberi tuntunan itu.

Penjelasan  serupa tentang pakaian ditemukan pada surat Al-Nur (24): 31,

Katakanlah, kepada wanita yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang tampak darinya. Hendaklah mereka  mengulurkan/menutupkan kain kudung kedadanya dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau mertua mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara lelaki mereka, atau putra-putra saudara lelaki mereka, atau putra-putra saudara perempuan  mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan lelaki yang tidak mempunyai keinginan terhadap wanita, atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang yang beriman, supaya kamu beruntung.

Surat Al-Nur (24): 31 di atas, kalimat-kalimatnya cukup jelas. Tetapi  yang  paling  banyak  menyita  perhatian  ulama tafsir adalah larangan menampakkan zinah (hiasan)  yang  dikecualikan oleh  ayat  di atas dengan menggunakan redaksi illa ma zhahara minha [kecuali (tetapi) apa yang tampak darinya].

Mereka sepakat menyatakan bahwa zinah  berarti  hiasan  (bukan zina  yang  artinya  hubungan  seks yang tidak sah); sedangkan hiasan adalah segala sesuatu yang digunakan untuk  memperelok, baik   pakaian  penutup  badan,  emas  dan  semacamnya  maupun bahan-bahan make up.

Tetapi apa yang dimaksud dengan pengecualian itu? Inilah  yang mereka  bahas  secara  panjang lebar sekaligus merupakan salah satu kunci pemahaman ayat tersebut.

Ada yang berpendapat bahwa kata illa adalah istisna’ muttashil (satu  istilah  —  dalam  ilmu bahasa Arab yang berarti “yang dikecualikan merupakan  bagian/jenis  dari  apa  yang  disebut sebelumnya”),  dan  dalam penggalan ayat ini adalah zinah atau hiasan.

Ini  berarti  ayat  tersebut  berpesan:  “Hendaknya  janganlah wanita-wanita   menampakkan   hiasan  (anggota  tubuh)  mereka kecuali apa yang tampak.”

Redaksi ini, jelas tidak lurus, karena apa yang  tampak  tentu sudah  kelihatan.  Jadi, apalagi gunanya dilarang? Karena itu, lahir paling tidak tiga pendapat lain guna lurusnya  pemahaman redaksi tersebut.

Pertama,  memahami  illa  dalam arti tetapi atau dalam istilah ilmu  bahasa  Arab  istisna’   munqathi’   dalam   arti   yang dikecualikan  bukan  bagian/jenis yang disebut sebelumnya. Ini bermakna: “Janganlah mereka  menampakkan  hiasan  mereka  sama sekali;  tetapi apa yang tampak (secara terpaksa/bukan sengaja seperti ditiup angin dan lain-lain), maka itu dapat dimaafkan.

Kedua, menyisipkan kalimat dalam penggalan ayat  itu.  Kalimat dimaksud  menjadikan penggalan ayat itu mengandung pesan lebih kurang: “Janganlah mereka (wanita-wanita)  menampakkan  hiasan (badan  mereka).  Mereka  berdosa  jika  demikian. Tetapi jika tampak tanpa disengaja, maka mereka tidak berdosa.”

Penggalan ayat –jika dipahami dengan kedua pendapat di atas– tidak  menentukan  batas  bagi  hiasan yang boleh ditampakkan, sehingga berarti seluruh  anggota  badan  tidak  boleh  tampak kecuali dalam keadaan terpaksa.

Tentu  saja  pemahaman  ini, mereka kuatkan pula dengan sekian banyak hadis, seperti sabda  Nabi  Saw.  kepada  Ali  bin  Abi Thalib yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan At-Tirmidzi melalui Buraidah:

Wahai Ali, jangan ikutkan pandangan pertama  dengan  pandangan kedua.  Yang  pertama  Anda  ditolerir,  dan  yang  kedua anda berdosa.

Riwayat berikut juga dijadikan alasan,

Pemuda, Al-Fadhl bin Abbas, ketika haji Wada’ menunggang unta bersama Nabi Saw., dan ketika itu ada seorang wanita cantik, yang ditatap terus-menerus oleh Al-Fadhl. Maka Nabi Saw. memegang dagu Al-Fadhl dan mengalihkan wajahnya agar ia tidak melihat wanita tersebut secara terus-menerus.

Demikian  diriwayatkan  oleh  Bukhari  dari  saudara  Al-Fadhl sendiri, yaitu Ibnu Abbas.

Bahkan penganut pendapat ini merujuk kepada ayat A1-Quran,

Dan apabila kamu meminta sesuatu dan mereka, maka mintalah dari belakang tabir (QS Al-Ahzab 133]: 53).

Ayat  ini  walaupun  berkaitan  dengan permintaan sesuatu dari istri Nabi, namun dijadikan oleh ulama penganut kedua pendapat di atas, sebagai dalil pendapat mereka.

Ketiga,  memahami  “kecuali  apa  yang tampak” dalam arti yang yang biasa dan atau dibutuhkan keterbukaannya  sehingga  harus tampak.”  Kebutuhan  disini  dalam  arti menimbulkan kesulitan bila bagian badan tersebut ditutup. Mayoritas  ulama  memahami penggalan  ayat  tersebut  dalam arti ketiga ini. Cukup banyak hadis yang mendukung pendapat ini. Misalnya:

Tidak dibenarkan bagi seorang wanita yang percaya kepada Allah dan hari kemudian untuk menampakkan kedua tangannya, kecuali sampai di sini (Nabi kemudran memegang setengah tangan belõau) (HR Ath-Thabari).

Apabila wanita telah haid, tidak wajar terlihat darinya kecuali wajah dan tangannya sampai ke pergelangan (HR Abu Daud).

Pakar tafsir Al-Qurthubi, dalam tafsirnya  mengemukakan  bahwa ulama  besar  Said  bin Jubair, Atha dan Al-Auzaiy berpendapat bahwa yang boleh dilihat hanya  wajah  wanita,  kedua  telapak tangan  dan  busana  yang dipakainya. Sedang sahabat Nabi Ibnu Abbas, Qatadah, dan Miswar bin  Makhzamah,  berpendapat  bahwa yang  boleh  termasuk  juga  celak mata, gelang, setengah dari tangan  yang  dalam  kebiasaan  wanita  Arab  dihiasi/diwarnai dengan  pacar  (yaitu  semacam zat klorofil yang terdapat pada tumbuhan  yang  hijau),  anting,   cincin,   dan   semacamnya. Al-Qurthubi juga mengemukakan hadis yang menguraikan kewajiban menutup setengah tangan.

Syaikh Muhammad Ali As-Sais, Guru Besar  Universitas  Al-Azhar Mesir,  mengemukakan  dalam  tafsirnya-yang menjadi buku wajib pada Fakultas Syariah Al-Azhar bahwa Abu  Hanifah  berpendapat kedua  kaki,  juga  bukan aurat. Abu Hanifah mengajukan alasan bahwa ini lebih menyulitkan dibanding dengan tangan, khususnya bagi  wanita-wanita  miskin  di  pedesaan  yang  (ketika  itu) seringkali berjalan (tanpa alas kaki) untuk memenuhi kebutuhan mereka.  Pakar  hukum Abu Yusuf bahkan berpendapat bahwa kedua tangan wanita bukan aurat, karena dia menilai bahwa mewajibkan untuk menutupnya menyulitkan wanita.

Dalam  ajaran  Al-Quran memang kesulitan merupakan faktor yang menghasilkan kemudahan. Secara tegas Al-Quran menyatakan bahwa Allah tidak berkehendak menjadikan bagi kamu sedikit kesulitan pun (QS Al-Ma-idah [5]: 6) dan bahwa  Allah  menghendaki  buat kamu kemudahan bukan kesulitan (QS Al-Baqarah [2): 185).

Pakar tafsir Ibnu Athiyah sebagaimana dikutip oleh Al-Qurthubi berpendapat:

Menurut hemat saya, berdasarkan redaksi ayat, wanita diperintahkan untuk tidak menampakkan dan berusaha menutup segala sesuatu yang berupa hiasan. Pengecualian, menurut hemat saya, berdasarkan keharusan gerak menyangkut (hal-hal) yang mesti, atau untuk perbaikan sesuatu dan semacamnya.

Kalau  rumusan  Ibnu  Athiyah  diterima,  maka  tentunya  yang dikecualikan  itu  dapat  berkembang  sesuai  dengan kebutuhan mendesak yang dialami seseorang.

Al-Qurthubi berkomentar:

Pendapat (Ibnu Athiyah) ini baik. Hanya saja karena wajah dan kedua telapak tangan seringkali (biasa) tampak –baik sehari-hari maupun dalam ibadah seperti ketika shalat dan haji– maka sebaiknya redaksi pengecualian “kecuali yang tampak darinya” dipahami sebagai kecuali wajah dan kedua telapak tangan yang biasa tampak itu.

Demikian terlihat pakar hukum ini  mengembalikan  pengecualian tersebut  kepada  kebiasaan  yang  berlaku.  Dari  sini, dalam Al-Quran  dari  Terjemah-nya  susunan  Tim  Departemen  Agama, pengecualian  itu  diterjemahkan  sebagai kecuali yang (biasa) tampak darinya.

Nah, Anda boleh bertanya,  apakah  “kebiasaan”  yang  dimaksud berkaitan dengan kebiasaan wanita pada masa turunnya ayat ini, atau kebiasaan wanita di setiap masyarakat Muslim  dalam  masa yang  berbeda-beda?  Ulama  tafsir memahami kebiasaan dimaksud adalah kebiasaan pada masa  turunnya  Al-Quran,  seperti  yang dikemukakan Al-Qurthubi di atas.

Sebelum  menengok  kepada pendapat beberapa ulama kontemporer, ada baiknya kita melanjutkan sedikit lagi uraian ayat di atas, menyangkut kerudung.

Hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke atas juyubi-hinna (dada mereka).

Juyub  adalah  jamak jaib yaitu lubang yang terletak di bagian atas pakaian yang biasanya menampakkan (sebagian) dada.

Kandungan ayat ini berpesan agar dada ditutup dengan  kerudung (penutup  kepala).  Apakah  ini  berarti bahwa kepala (rambut) juga harus ditutup? Jawabannya, “ya”. Demikian  pendapat  yang logis,    apalagi   jika   disadari   bahwa   “rambut   adalah hiasan/mahkota wanita”. bahwa ayat ini tidak  menyebut  secara

tegas  perlunya  rambut  ditutup,  hal ini agaknya tidak perlu disebut. Bukankah mereka telah memakai kudung  yang  tujuannya adalah menutup rambut?

PENDAPAT BEBERAPA ULAMA KONTEMPORER TENTANG JILBAB

Di  atas  –semoga  telah  tergambar–  tafsir serta pandangan ulama-ulama mutaqaddimin (terdahulu) tentang persoalan  jilbab dan  batas  aurat wanita. Tidak dapat disangkal bahwa pendapat tersebut didukung oleh banyak ulama kontemporer. Namun  amanah ilmiah  mengundang  penulis  untuk  mengemukakan pendapat yang berbeda  –dan  yang  boleh   jadi   dapat   dijadikan   bahan pertimbangan  dalam menghadapi kenyataan yang ditampilkan oleh mayoritas wanita Muslim dewasa ini.

Muhammad Thahir bin Asyur seorang ulama besar dari Tunis, yang diakui juga otoritasnya dalam bidang ilmu agama, menulis dalam Maqashid Al-Syari’ah sebagal berikut:

Kami percaya bahwa adat kebiasaan satu kaum tidak boleh –dalam kedudukannya sebagai adat– untuk dipaksakan terhadap kaum lain atas nama agama, bahkan tidak dapat dipaksakan pula terhadap kaum itu.

Bin Asyur kemudian memberikan beberapa  contoh  dari  Al-Quran dan  Sunnah Nabi. Contoh yang diangkatnya dari Al-Quran adalah surat Al-Ahzab (33): 59, yang memerintahkan kaum Mukminah agar mengulurkan jilbabnya. Tulisnya:

Di dalam Al-Quran dinyatakan, Wahai Nabi, katakan kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan wanita-wanita Mukmin; hendak1ah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka, yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal sehingga tidak diganggu. Ini adalah ajaran yang mempertimbangkan adat orang-orang Arab, sehingga bangsa-bangsa lain yang tidak menggunakan jilbab, tidak memperoleh bagian (tidak berlaku bagi mereka) ketentuan ini.

Dalam kitab tafsirnya ia menulis bahwa:

Cara memakai jilbab berbeda-beda sesuai dengan perbedaan keadaan wanita dan adat mereka. Tetapi tujuan perintah ini adalah seperti bunyi ayat itu yakni “agar mereka dapat dikenal (sebagai wanita Muslim yang baik) sehingga tidak digangu” (Tafsir At-Tahrir, jilid XXII, hlm. 10).

Tetapi   bagaimana  dengan  ayat-ayat  ini,  yang  menggunakan redaksi perintah?

Jawabannya –yang sering  terdengar  dalam  diskusi–  adalah: Bukankah  tidak  semua  perintah yang tercantum dalam Al-Quran merupakan  perintah  wajib?  Pernyataan  itu,  memang   benar. Perintah  menulis  hutang-piutang  (QS  Al-Baqarah  [2]:  282) adalah salah satu contohnya.

Tetapi bagaimana  dengan  hadis-hadis  yang  demikian  banyak? Jawabannya  pun  sama.  Bukankah seperti yang dikemukakan oleh Bin Asyur di atas bahwa ada hadis-hadis  Nabi  yang  merupakan perintah,   tetapi   perintah  dalam  arti  “sebaiknya”  bukan seharusnya. (Lihat  kembali  uraian  tentang  memakai  pakaian sutera, cincin, emas pada buku ini).

Memang, kita boleh berkata bahwa yang menutup seluruh badannya kecuali wajah dan (telapak) tangannya, menjalankan bunyi  teks ayat  itu, bahkan mungkin berlebih. Namun dalam saat yang sama kita tidak wajar menyatakan terhadap mereka yang tidak memakai kerudung,   atau  yang  menampakkan  tangannya,  bahwa  mereka “secara  pasti  telah  melanggar  petunjuk  agama”.   Bukankah Al-Quran  tidak  menyebut  batas  aurat? Para ulama pun ketika membahasnya berbeda pendapat.

Namun demikian, kehati-hatian amat dibutuhkan, karena  pakaian lahir  dapat  menyiksa  pemakainya  sendiri  apabila  ia tidak sesuai dengan bentuk badan si pemakai.  Demikian  pun  pakaian batin.  Apabila tidak sesuai dengan jati diri manusia, sebagai hamba Allah, yang paling mengetahui ukuran dan patron  terbaik buat manusia.

***