Buku Konsorsium “KEMALA”: Fikih Energi Terbarukan, Energi Surya untuk Komunitas, dan Sekolah Hijau

“KEMALA” merupakan akronim dari Konsorsium untuk Energi Mandiri dan Lestari. Anggota Konsorsium “KEMALA” terdiri dari

  1. Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia – Pengurus Besar Nahdlatul ‘Ulama (LAKPESDAM-PBNU), sebagai pimpinan Konsorsium,
  2. Pusat Studi Energi Universitas Gadjah Mada (PSE UGM),
  3. Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan Universitas Gadjah Mada (PSEK UGM), dan
  4. Center For Civic Engagement and Studies (CCES).

“KEMALA” mendapatkan hibah berasal dari Millenium Challenge Corporation (MCC) United States of America melalui lembaga trust fund Millenium Challenge Account Indonesia (MCA Indonesia) di bawah koordinasi Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia, dengan nilai hibah Rp 16.756.874.156,00.

Program yang dijalankan oleh “KEMALA” bernama Peningkatan Pendapatan Rumah Tangga Miskin melalui Usaha Hijau yang Didukung oleh Energi Terbarukan, di tiga lokasi:

  • Desa Sungai Rambut, Kecamatan Berbak, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi,
  • Desa Rawasari, Kecamatan Berbak, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi, dan
  • Jorong Tandai Bukik Bulek, Nagari Lubuk Gadang Timur, Kecamatan Sangir, Kabupaten Solok Selatan, Provinsi Sumatera Barat.

Program “KEMALA” yang memanfaatkan pendanaan dari MCA-Indonesia telah berakhir pada 23 Februari 2018, namun “KEMALA” melalui anggota-anggota Konsorsiumnya akan terus berupaya melanjutkan program di tiga lokasi tersebut dengan mencari peluang pendanaan lain di luar MCA-Indonesia.

Sebagai bagian dari keluaran program, “KEMALA” berhasil menerbitkan tiga buku. Sinopsis dan tautan untuk mengunduh versi elektronik buku tersebut adalah sebagai berikut:

Fikih Energi Terbarukan – Pandangan dan Respons Islam atas Pembangkit Listrik Tenaga Surya

Sinopsis

Dewasa ini, energi terbarukan (renewable energy, ath-thaqah almutajaddadah) merupakan kebutuhan yang sangat penting dan tidak bisa ditunda lagi. Kita tidak bisa lagi terus-menerus bergantung pada energi fosil. Ketersediaan sumber energi fosil semakin menipis. Menurut ahli, dengan pola konsumsi seperti sekarang, dalam waktu sekitar puluhan tahun cadangan bahan bakar fosil akan habis. Oleh karena itu, demi keberlangsungan kehidupan dan mengantisipasi kelangkaan energi, ikhtiar ilmiah pengolahan energi terbarukan adalah pilihan terbaik untuk dilakukan.

Buku ini mengkaji energi terbarukan dalam perspektif Islam (fikih). Pandangan ini sangat penting, karena mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam. Hampir setiap masalah selalu dimintakan pandangan keislaman. Meski begitu, buku ini juga memuat pengertian, klasifikasi, urgensi, pengembangan, dan seluk beluk terkait dengan energi terbarukan.

Buku ini sangat penting untuk meyakinkan bahwa inovasi energi terbarukan adalah sangat Islami dan didorong agama demi keterpeliharaan kemaslahatan umat manusia (mashalih al-‘ibad).

Buku Fikih Energi Terbarukan diberi sambutan oleh Ketua Umum PBNU (Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, MA), Ketua LAKPESDAM-PBNU sekaligus Principal Director “KEMALA” (Dr. H. Rumadi Ahmad), dan terdiri dari lima bab dan satu lampiran.

Tautan untuk mengunduh buku elektronik (format pdf): Fikih Energi Terbarukan – Pandangan dan Respons Islam atas PLTS

Energi Surya untuk Komunitas – Meningkatkan Produktivitas Masyarakat Pedesaan melalui Energi Terbarukan

Endorsment

“Buku ini sangat relevan bagi akademisi, pengambil kebijakan dan pelaku usaha. Ia menunjukkan bahwa pemanfaatan energi terbarukan tidaklah serumit yang dibayangkan dan semahal yang diperkirakan. Pilihan teknologi yang tepat dan pendekatan partisipatif menempatkan energi surya sebagai solusi potensial bagi permasalahan energi kita. Diperlukan keberpihakan
para pengambil kebijakan, agar inovasi yang mensejahterakan ini dapat diwujudkan di berbagai penjuru tanah air”.

Ir. Wijayanto Samirin, MPP,
(Staf Khusus Wakil Presiden Bidang Ekonomi dan Keuangan)

“Sejak kelahirannya, UGM memiliki mandat untuk mengabdi pada ilmu pengetahuan, kesejahteraan masyarakat, dan kemanusiaan. Buku ini merupakan akumulasi pengetahuan dan pengalaman tentang karya UGM untuk mengabdikan pengetahuan tentang energi terbarukan kepada masyarakat. Proses “scaling up” dan “scaling down” diorkestrasi melalui kemitraan. Karya yang menjadi rujukan tertulis  yang menginspirasi”.

drg. Ika Dewi Ana, M.Kes., Ph.D.,
(Wakil Rektor Bidang Penelitian dan Pengabdian

kepada Masyarakat Universitas Gadjah Mada)

“Energi dan pangan adalah dua aspek yg sangat krusial bagi kehidupan. Salah satu tantangan besar bangsa ini adalah peningkatan layanan energi guna peningkatan kesejahteraan masyarakat di pedesaan, termasuk di antaranya di berbagai daerah terluar dan tertinggal. Tugas tersebut menuntut kemampuan dalam mengintegrasikan teknologi energi ke dalam sistem sosial – budaya – ekonomi setempat yang khas untuk tiap daerah. Buku ini sangat menarik disimak karena memberi tambahan wawasan dan opsi praktis.”

Anwar Sanusi, MA, Ph.D.,
(Sekretaris Jenderal Kementerian Desa dan Pembangunan

Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT))

“Sebelumnya Konsorsium Kemala menerbitkan buku “Fikih Energi Terbarukan – Pandangan & Respons Islam atas PLTS”, melanjutkan seri tersebut maka tersusun buku perspektif PLTS tentang teknis instalasi, dinamika sosial dan lingkungan, untuk memastikan keberlanjutan pasca instalasi. Rujukan yang rajih (kuat, terpercaya) dan pengalaman nyata di lapangan, buku-buku Konsorsium Kemala diharapkan menjadi  penyemangat bagi pegiat energi terbarukan”.

Dr. H. Rumadi Ahmad,
(Principal Director Konsorsium KEMALA

dan Ketua Lakpesdam-PBNU)

Buku ini dibuka dengan sambutan penuh optimisme kepada energi terbarukan dari Rektor Universitas Gadjah Mada (Prof. Ir. Panut Mulyono, M. Eng., D. Eng.) serta disusun dalam enam bab termasuk kesimpulan dan penutup.

Tautan untuk mengunduh buku elektronik (format pdf): Energi Surya untuk Komunitas

Sekolah Hijau – Sebuah Alternatif Model Pemberdayaan Masyarakat Pedesaan

Buku ini merupakan cerita pemberdayaan masyarakat dalam program “KEMALA” dengan menggunakan “Sekolah Hijau” sebagai brand-nya. Buku yang terbagi atas tiga bagian, 12 bab, dan sebuah epilogi ini mencakup pembahasan teori pemberdayaan yang diterapkan, profil lokasi program, dan bagaimana teori tersebut dipraktekkan di lapangan. Sambutan dalam buku ini ditulis oleh Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian UGM sekaligus Wakil Ketua UMUM Pengurus Besar NU yang juga menjadi Ketua Steering Commitee “KEMALA”.

Tautan untuk mengunduh buku elektronik (format pdf): Sekolah Hijau

Mari Berbuat, Mari Bermanfaat!

Ada kalanya kita merasa rendah diri saat melihat bobroknya negeri ini di depan mata. apa yang bisa kita lakukan? bisa apa kita? memang kita siapa?

padahal ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuk menjadi “bermanfaat” bagi negeri kita.

memperbaiki diri, menguatkan iman dan takwa misalnya. meskipun terkesan “biasa”, justru ini sangat signifikan: mencegah munculnya 1 jiwa brengsek bagi negeri ini. jadi apapun kita besok (pejabat tinggi, sekedar RT, atau malah seorang kepala keluarga dengan pekerjaan biasa), ketika kita selalu memperbaiki diri dengan menguatkan iman dan takwa, kita telah bermanfaat dalam dua hal, (1) mencegah 1 generasi busuk lahir dan (2) berpotensi melipatgandakan generasi terbaik bangsa lewat keluarga dan nasab kita.

hal lain yang terkesan sepele adalah dzikir, wirid, dan berdoa bagi orang-orang yang dekat dengan kita maupun bagi bangsa kita. jangan pernah menyepelekan ini. doa dan wirid itu bentuk nyata kerendahan diri yang positif: mengakui keagungan Tuhan yang mutlak dan segala-galanya. Bahkan Allaah Ta’aala menganggap orang-orang yang tak mau berdoa kepada-Nya adalah orang sombong terhadap-Nya. Na’uzubillaah.

Allaah menjamin bahwa tak ada sesuatu kebaikan pun yang sia-sia, kecuali mendapat balasan dari Allaah, sebagaimana ada di akhir surat al Baqarah (lahaa maa kasabat, wa ‘alayhaa mak tasabat) dan akhir surat al Zalzalah (famay-ya’mal mitsqaala dzarratin khayray-yarah, wa may-ya’mal mitsqaala dzarratin-syaray-yarah). Kebaikan dapat balasan, keburukan dapat hukuman. Itu sunatullaah, ketentuan Allaah Ta’aala bagi kita semua. Inilah Allaah al-Lathiif, Maha-lembut, kelembutan-Nya yakni ketelitian-Nya yang mencakup segala-galanya, sesedikit, selembut apapun bentuknya.

Bahkan, dengan mendoakan orang lain, ada kebaikan di dalamnya. Maka kebaikan ini sewaktu-waktu bisa menjadi senjata kita dalam memohon kepada-Nya, yakni berwasilah dengan amal shalih. Meluangkan waktu dan helaan nafas untuk menyebut nama orang lain dalam rangkaian doa kita berarti sebuah pengorbanan, sebuah kebajikan, sebuah amal shalih.

Selain itu, “manfaat” lain yang bisa kita lakukan pada negeri kita berikutnya adalah berbuatlah kebajikan sesuai dengan skill yang kuasai. Kalau yang membutuhkan kita ada di dekat kita, maka luangkan waktu dan skill kita untuk mereka. Manfaatkan pula jaringan yang kita punyai untuk meluaskan fungsi skill kita agar bisa berguna pada jangkauan yang luas.

Maka, tidak ada alasan untuk tidak bisa berbuat baik bagi negeri kita. Tidak ada larangan untuk mengeluhkan kondisi buruk bangsa kita, tapi hendaknya keluhan itu tidak menenggelamkan kita sehingga tidak bisa berbuat apa-apa kecuali mengeluh.

Mari menyumbang secercah cahaya di antara spot-spot gelap di Indonesia tercinta. Kata orang bijak, jangan hanya mengutuk kegelapan, tapi nyalakan lilin!

Sugeng Tindak Gusti Joyo – Selamat Jalan Gusti Joyo

Gusti Joyo, demikian masyarakat akrab memanggil beliau. Saya belum pernah ngobrol dengan beliau, tapi salaman setidaknya dua kali saya pernah.

Pertama saat masjid dekat rumah -yang masih termasuk masjid milik Kasultanan Ngayogyakarta- menjadi tuan rumah untuk Majelis Bukhoren Kasultanan Ngayogyakarta.

Majelis Bukhoren adalah majelis di mana kyai se-DIY (biasanya offical dari PCNU) datang ke masjid yang telah ditunjuk, kemudian ratusan ulama ini tadarus Shahih Imam Bukhari (Shahih Bukharinya sudah dibagi-bagi menjadi beberapa kitab-kitab tersendiri). Sesudah selesai kemudian dibukalah dialog antar-kyai dengan membahas bagian yang tadi sempat terbaca untuk didiskusikan.

Baru kemudian sambutan dari Gusti Joyo selaku penyelenggara yang isinya menjelaskan budaya, simbol, dan tradisi yang Islami yang ada dan selama ini dijalankan oleh Kasultanan Ngayogyakarta.

Majelis Bukhoren kemudian ditutup dengan 5 kali doa, yang dibaca oleh wakil kiai dari 4 kabupaten dan 1 kota (5 daerah setingkat kabupaten di DIY). Uniknya, kiai dari masing-masing daerah ini mempunyai perbendaharaan doa yang berbeda.

Kesempatan kedua (dan mungkin ketiga dan keempat) saya bersalaman dengan Gusti Joyo adalah di Majelis Ahad Pon (kalau saya tidak salah ingat) di Masjid Panepen Kasultanan Ngayogyakarta.

Majelis ini merupakan majelis para takmir Masjid Kagungan Dalem di seluruh wilayah DIY. Acaranya sederhana, doa penutup khataman (semalam sebelumnya di Masjid Panepen ada yang memulai khataman), shalat zhuhur berjamaah, kemudian makan siang disambi mendengarkan sambutan dari Gusti Joyo dan taushiah dari ulama yang ditunjuk.

Uniknya adalah saat shalat zhuhur berjamaah. Mbah Kyai Aly As’ad mendorong Gusti Joyo agar ngimami (sebagai shahibul bayt), tapi sambil tersenyum Gusti Joyo gantian mendorong Mbah Aly As’ad untuk maju mengimami. Agaknya Gusti Joyo merasa bahwa urusan agama ya tetep kyai yang harus di depan.

Gusti Joyo telah tiada, tapi semangat beliau seorang pendakwah, cinta majelis ta’lim dan dzikir, serta dekat dengan kiai dan pesantren harus kita tiru. Apalagi, dakwah dan kedekatan Gusti Joyo tersebut -saya berprasangka baik- sangat ikhlas, karen dijalani justru setelah beliau berhenti dari politik.

Sugeng tindak Gusti Joyo! Semoga rahmat Allaah Ta’aala selalu bersama panjenengan dan peran panjenengan dalam dakwah Islamiyah di Kasultanan dan wilayah DIY insya-Allaah akan menjadi wasilah bg jalan terang panjenengan di akhirat. Aamiin, Allaahumma aamiin.

Khushushan ilaa ruuhi Gusti Bendoro Pangeran Haryo Haji Joyokusumo bin Sri Sultan Hamengkubuwono IX, al-Faatihaah…

CAM00003

CAM00002

 

*keterangan foto: undangan majelis bukhoren untuk takmir masjid deket rumah, Masjid Kagungan Dalem Blunyah Gede