Hikmah dalam Peristiwa Hudaibiyah

Salah satu kejadian penting di masa kehidupan Rasuulullaah Muhammad SAW adalah disepakatinya Perjanjian Hudaibiyah antara kaum muslim dengan kaum musyrik Quraisy di bulan Dzulqa’dah tahun 6 Hijriyah (sekitar 628 Masehi). Betapa penting peristiwa ini dalam sejarah perkembangan Islam, sehingga para ilmuwan pengamat Islam -yang biasnaya kebanyakan dari mereka mengkritik Islam- justru memujinya sebagai langkah diplomasi Nabi SAW yang piawai. Maka hal ini sudah sepantasnya menjadi teladan bagi kita umat Islam dalam melakukan musyawarah dan menyelesaikan masalah. Ingat, Allaah SWT berfirman dalam surat al-Ahzaab ayat 21,

 photo hudaibiyah-1_zpswwnxabqw.png

Hadirin rahimakumullaah, pada awalnya Rasuulullaah SAW berniat melakukan umrah dengan membawa 1.400 / 1.300 / 1.600 orang. Rombongan dari Madinah menampakkan dengan jelas keinginan beribadah dan bukan untuk berperang, dengan deskripsi di antaranya:

  1. tanpa membawa senjata sama sekali atau boleh jadi membawa senjata sebagai bentuk kehati-hatian dalam sebuah perjalanan, tanpa memamerkannya,
  2. membawa 70 ekor unta yang gemuk dan diberi kalung sebagai tanda binatang kurban,
  3. sesudah 10 km dari Madinah, berihram, sebagai isyarat ibadah dengan memakai pakaian tak berjahit, tanpa wewangian, dan
  4. Mengucapkan talbiyah di sepanjang perjalanan.

Ketika rombongan umrah tiba di daerah ‘Asfan, sekitar 80 km dari Mekkah, muncul kabar bahwa kaum musyrik Mekkah telah mengetahui perjalanan Rasuulullaah SAW dan berada di Kura’ al-Ghamim, sekitar 64 km dari Mekkah atau 24 km dari tempat Rasuulullaah SAW mendapat kabar tersebut, untuk menghadang rombongan. Nampaknya, beberapa pertempuran dan peperangan sejak awal hijrahnya Nabi SAW telah mendorong digunakannya jasa mata-mata atau telik sandi untuk mengintai dan memantau pergerakan musuh. Tentu saja tujuannya untuk mencegah pertempuran dan bukan sebaliknya.

Alhasil, rombongan Nabi SAW tetap melanjutkan perjalanan, dengan memilih rute yang berbeda dari biasanya untuk menghindari pertempuran (karena niatnya ibadah umrah): jalannya berliku, sempit, turun-naik, penuh batu-batu keras yang melukai.

Mendekat di daerah Hudaibiyah, unta Nabi SAW berhenti. Para sahabat berkata, al-Qashwaa` telah berhenti untuk meentap di sini. Nabi SAW menjawab perkataan para sahabat dengan bersabda,

 photo hudaibiyah-2_zpsbwgw1gwz.png

Maksud Nabi SAW, yang menghalangi unta beliau melanjutkan perjalanan adalah Allaah, sebagaimana Allaah menghalangi gajah Abrahah menyerang Makkah untuk menghancurkan Ka’bah.

Rasuulullaah SAW dan rombongan kemudian mengambil jalur yang tidak langsung ke Makkah, tetapi menuju ujung Hudaibiyah. Di sana beliau bermarkas, tetapi ternyata airnya sedikit sehingga rombongan kehausan.

Menurut riwayat Imam Bukhari, Rasuulullaah SAW mengambil anak panah dan memerintahkan untuk menusukkannya ke dalam sumur, maka serta merta airnya melimpah. Riwayat lain menyatakan bahwa beliau meminta seteguk air sumur itu, lalu beliau berkumur dengannya, kemudian air yang dikumur itu dimasukkan kembali ke sumur, maka sumur pun melimpahkan air.

Hadirin rahimakumullaah, dari Hudaibiyah inilah Rasuulullaah SAW memulai ikhtiar perdamaian, berusaha meyakinkan tokoh-tokoh Makkah, baik melalui orang-orang netral maupun utusan langsung, bahwa kedatangan rombongan Nabi SAW semata-mata ingin beribadah umrah. Di sisi lain, pihak Makkah pun berusaha meyakinkan sebaliknya, bahwa Rasuulullaah SAW tidak boleh menyentuh Makkah sedikitpun.

Salah satu utusan Rasuulullaah SAW adalah Sayyidinaa ‘Utsman bin ‘Affan RA. Diplomasi yang dilakukan oleh Sayyidinaa ‘Utsman RA ternyata berlangsung cukup lama, sehingga muncul isu bahwa beliau telah dibunuh. Kemudian berlangsunglah Bai’at ar-Ridlwan, sebuah sumpah setia kepada Rasuulullaah SAW, bahwa jika pihak Makkah mengkhianati upaya perdamaian dengan membunuh Sayyidinaa ‘Utsman, maka seluruh rombongan akan setia kepada Nabi SAW untuk menyerang Makkah sampai titik darah penghabisan. Alhamdulillaah, Sayyidinaa ‘Utsman bin Affan kembali ke Hudaibiyah dalam keadaan sehat wal ‘afiyat, sehingga pertumpahan darah dapat dicegah.

Sementara utusan pertama Makkah kepada Nabi SAW adalah Budail bin Warqa` al-Khuza’i. Budail yang melihat langsung keadaan Rasuulullaah SAW dan rombongannya, melaporkan ke Makkah bahwa hanya ibadahlah tujuan Rasuulullaah SAW. Sayangnya Makkah tidak percaya dengan Budail, dengan alasan Budail berasal dari suku Khuza’ah yang selama ini punya hubungan baik dengan keluarga besar Nabi Muhammad SAW.

Utusan kedua pihak Makkah adalah ‘Urwah bin Mas’ud, tokoh dari suku Tsaqif. Terjadi ketegangan dalam berembug namun tak ada kata sepakat. Menariknya, ‘Urwah melaporkan sesuatu yang sangat indah ketika kembali ke Makkah. Diriwayatkan, ‘Urwah berkata

Demi Allaah, aku telah berkunjung ke raja-raja. Aku telah menemui Kaisar (Romawi), Kisra (Persia), Negus (Abbesinia), sungguh aku tidak melihat seorang penguasa yang diagungkan oleh teman-temannya, sebagaimana Muhammad diagungkan.

Utusan dari Makkah berikutnya adalah al-Hullais bin ‘Alqamah. Ketika Nabi SAW melihatnya datang, beliau SAW sampaikan kepada para pendherek beliau,

Orang ini dari kaum yang memiliki rasa keagamaan yang baik. Giringlah unta-unta yang akan dikorbankan agar dia melihatnya.

Sabda Nabi SAW tentang urusan unta ini merupakan salah satu bentuk firasat. Firasat sendiri terdiri dari dua jenis. Jenis pertama, firasat adalah seni memprediksi dengan memanfaatkan pengetahuan: pengumpulan data, pengalaman, dan perkiraan ilmiah lain. Firasat jenis ini di dunia ilmu pengtahuan biasa dinamai dengan istilah seperti perkiraan, proyeksi, prediksi, atau pemodelan. Perkiraan cuaca, misalnya, dilihat dari foto udara dari satelit, suhu, kelembapan udara, arah angin, dan lain sebagainya. Ini adalah jenis firasat yang didapat atas ikhtiar manusia.

Jenis kedua adalah firasat yang langsung berasal dari Allaah SWT, kepada siapapun yang dikehendaki oleh Allaah SWT. Dalam konteks firasat ini, Nabi SAW juga bersabda

 photo hudaibiyah-3_zpsfuk5n7qf.png

Sungguh tepat firasat Nabi SAW tersebut tentang bagaimana menghadapi utusan Makkah, Hullais. Sayangnya, ketika Hullais kembali ke Makkah dan melaporkan ke kaum Quraisy, Hullais justru diejek, diremehkan, dan disepelekan. Bahkan kaum Quraisy yang mengutus Hullais dengan kasar mengatakan, duduk sajalah! Engkau tidak lain kecuali penduduk gunung yang tidak mengerti!

Tokoh-tokoh kaum Quraisy ini meremehkan Hullais, tapi di saat yang sama tidak berani menyerang Nabi SAW secara langsung, karena khawatir dikecam masyarakat luas bahwa mereka menyerang rombongan yang mau beribadah. Masyarakat Makkah penentang Nabi SAW saat itu berada dalam kondisi terjepit.

Utusan dari Makkah berikutnya adalah Mukriz bin Hafsh yang juga gagal dan utusan terakhir adalah Suhail bin ‘Amr.

Tentang Suhail bin ‘Amr tersebut, ada pelajaran penting tentang optimisme dari Nabi SAW. Ketika Nabi SAW melihat Suhail dikirim sebagai utusan, optimisme Nabi SAW meningkat. Kemunculan optimisme baru ini karena nama “Suhail” yang seakar dengan sahl, yang maknanya mudah. Nabi SAW pernah bersabda,

 photo hudaibiyah-4_zps0yldf5fb.png

Nabi Muhammad SAW seringkali menjadikan kalimat yang indah atau nama sesuatu yang baik yang Beliau SAW dengar atau temui sebagai sarana menumbuhkan optimisme. Tetapi tidak dengan sebaliknya, ketika menjumpai nama yang buruk kemudian menjadikannya sebagai sumber pesimisme. Nabi SAW juga bersabda,

 photo hudaibiyah-5_zpsa9xkwbrp.png

Demikianlah, kalimat yang indah, atau nama yang baik, dijadikan Rasuulullaah SAW sebagai penopang optimisme, yang memang sudah seharusnya selalu menghiasi jiwa seseorang, apapun yang terjadi. Perlu diperhatikan bahwa penopang optimisme tersebut diartikan sebagai sebuah peningkatan atas usaha yang sedang berlangsung, serta tidak boleh dimaknai bahwa kalimat tersebut, nama tersebut, atau apapun yang mendatangkan optimisme tersebut, secara mandiri mampu mendatangkan manfaat maupun mudlarat. Sumber segala manfaat adalah dari Allaah SWT, begitupun dengan mudlarat yang hadir atas seizin Allaah sebagai ujian. Manusia sendiri wajib untuk berikhtiar dan kemudian disempurnakan dengan kepasrahan kepada Allaah SWT perihal hasil akhirnya.

Nah, sepanjang 19 atau 20 hari di Hudaibiyah tersebut telah banyak utusan silih berganti hadir kedua belah pihak, namun belum ada titik terang. Begitu Suhail datang, bersabdalah Nabi SAW tentang optimisme tersebut.

Hadirin rahimakumullaah, setelah perundingan yang tak kalah alot dan penuh perdebatan, akhirnya disepakati sebuah perjanjian yang dalam sejarah Islam dikenal sebagai Perjanjian Hudaibiyah. Isi perjanjian tersebut secara ringkas adalah:

  1. Gencatan senjata selama 10 tahun. Tak boleh permusuhan dan tindakan buruk satu sama lain selama periode tersebut.
  2. Siapapun dari kaum musyrik yang datang ke Nabi SAW (menjadi muslim) tanpa izin keluarga, harus dikembalikan ke Makkah. Tetapi jika sebaliknya (dari muslim kembali ke kaum musyrik), maka tidak akan dikembalikan ke Nabi SAW.
  3. Diperkenankan siapa saja dari suku-suku Arab untuk mengikat perjanjian damai dan menggabungkan diri kepada salah satu pihak (Makkah atau Nabi SAW).
  4. Tahun ini belum boleh memasuki Makkah. Tahun depan boleh masuk Mekkah dengan syarat hanya mukim tiga hari dan tanpa senjata kecuali pedang yang disarungkan.
  5. Perjanjian diikat atas dasar ketulusan dan kesediaan penuh untuk melaksanakannya, tanpa penipuan atau penyelewengan.

Meskipun Perjanjian Hudaibiyah secara sekilas nampak seperti kegagalan umat Islam, bahkan sempat muncul suara ketidak-puasan dari para sahabat, di mana salah satunya adalah dialog antara Rasuulullaah SAW dengan Sayyidinaa ‘Umar bin Khaththab, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari,

Sayyidinaa ‘Umar RA : Bukankah engkau benar-benar Rasuulullaah?

Rasuulullaah SAW      : Benar aku adalah Rasuulullaah SAW.

Sayyidinaa ‘Umar RA : Bukankah kita dalam kebenaran dan musuh kita dalam kebatilan?

Rasuulullaah SAW      : Benar. Kita dalam kebenaran.

Sayyidinaa ‘Umar RA : Kalau demikian, mengapa kita menerima sesuatu yang rendah menyangkut agama kita?

Rasuulullaah SAW      : Aku adalah Rasul Allaah. Aku tidak akan mendurhakai-Nya. Dia adalah Penolong/Pembelaku.

Sayyidinaa ‘Umar RA : Bukankah engkau pernah menyampaikan kepada kami bahwa kita akan melakukan thawaf di Ka’bah?

Rasuulullaah SAW      : Benar! Tapi, apakah aku menyatakan bahwa itu tahun ini?

Sayyidinaa ‘Umar RA : Memang engkau tidak menyatakan bahwa itu tahun ini.

Rasuulullaah SAW      : Sungguh, yakinlah bahwa engkau akan berkunjung dan thawaf di sana.

Dialog ini wajar terjadi karena suasana psikologis 1.400-an orang yang sangat optimis dapat umrah, namun tertunda. Mempertanyakan adalah logis, walaupun akhirnya ketaatan kepada Rasuulullaah SAW adalah pilihan terbaik. Pada akhirnya, demikian pula yang dilaksanakan oleh ribuan umat Islam dalam rombongan yang dipimpin oleh Nabi SAW.

Mengapa para sejarawan internasional justru memandang perjanjian ini sebagai langkah diplomasi Nabi SAW yang piawai? Karena berhasil memaksa orang Quraisy yang selama ini memandang rendah umat Islam untuk duduk setara, sama tinggi dan sejajar, mengadakan sebuah perjanjian.

Hadirin rahimakumullaah, ada beberapa pelajaran penting sepanjang peristiwa Hudaibiyah ini. Di antaranya adalah pentingnya mendahulukan musyawarah, mengutamakan perdamaian, melancarkan berbagai strategi, dalam melawan musuh. Lebih dari itu, jika kepada musuh yang mengancam secara fisik saja musyawarah dan perdamaian mencari solusi didahulukan, maka sudah seharusnya, perbedaan-perbedaan dengan sesama anak bangsa atau sesama umat Islam diselesaikan dengan sebaik-baiknya, tanpa caci maki, fokus pada jalan keluar, tanpa pertentangan dan permusuhan.

Semoga Allaah berkenan meneguhkan hati kita, untuk selalu menjadi umat Islam yang penuh perdamaian dalam upaya-upaya mewujudkan kemashlahatan umat manusia. Aamiin.

Uraian tentang Kebaikan

Di dalam ajaran Islam, dikenal terminologi birr atau kebajikan, sebagaimana kita sering mendengar istilah birrul-walidayn, berbuat baik kepada kedua orang tua atau berbakti kepada kedua orang tua. Kebajikan atau birr pengertiannya mencakup semua kebaikan. Bahkan sesuatu yang sederhana, seperti ucapan baik dan wajah berseri.

Ucapan yang baik akan mengarah pada tindakan yang baik. Sementara menampakkan wajah berseri ketika bertemu teman dan kerabat adalah tanda kebajikan. Sikap yang demikian, yakni mengucapkan tentang kebaikan dengan cara yang baik serta menampakkan wajah yang berseri, akan dapat menarik hati, menanamkan kecintaan dan kasih sayang, dan menumbuhkan ketenangan. Berbeda dengan ucapan kasar dan muka masam, dua hal ini tidak disukai dan dijauhi semua orang. Maka sungguh, bahwa Islam adalah ajaran yang mengajak semua orang menuju pada kebaikan.

Hadirin rahimakumullah. Islam mengajarkan kita berbicara dengan baik dan menampakkan wajah berseri ketika bertemu dengan orang-orang terkasih. Cara ini berguna untuk menebarkan dakwah Islam di kalangan semua orang dan menumbuhkan rasa cinta kepada sesama. Allaah SWT memerintahkan di dalam surah al-Hijr ayat 88,

 photo uraian kebaikan - 1_zpskm3yrsjy.png

Kata janaaha pada mulanya berarti sayap. Penggalan ayat ini mengilustrasikan sikap dan perilaku seseorang seperti halnya seekor burung yang merendahkan sayapnya pada saat ia hendak mendekat kepada pasangannya. Begitu pula saat melindungi anak-anaknya, dengan sayapnya yang dikembangkan dengan merendah dan merangkul, tidak beranjak dari tempatnya berada hingga bahaya yang mengancam anak-anaknya telah berlalu.

Gambaran ini membawa ayat wakhfidl janahaka lil-mu’miniina, rendahkanlah sayapmu kepada orang-orang mukmin, dapat dimaknai agar mewujudkan kerendahan hati, hubungan harmonis, perlindungan, dan ketabahan bersama kaum beriman, khususnya pada kondisi sulit dan krisis.

Sikap baik ini ditekankan pula tentang bagaimana seorang utusan Allaah SWT menjalankan tugas kerasulannya. Allaah SWT berfirman di dalam surah ‘Ali Imron ayat 159,

uraian kebaikan - 2

Selain menggambarkan tentang watak utusan Allaah Ta’aala yang harus penuh kelembutan baik hati maupun perilakunya, ayat ini juga menunjukkan adanya pendidikan langsung dari Allaah Ta’aala kepada Nabi Muhammad SAW. Allaah SWT mendidik langsung dengan menghilangkan faktor-faktor yang memengaruhi terbentuknya kepribadian seorang manusia.

Ayah Nabi Muhammad SAW wafat sebelum Nabi lahir dan dibawa jauh dari ibu beliau sejak kecil untuk disusukan. Nabi Muhammad SAW tidak mampu membaca dan menulis dan hidup di masyarakat yang belum begitu maju jika dibandingkan dengan peradaban di sekitar jazirah arab yang sudah maju pada masa itu, seperti munculnya peradaban dengan pemerintahan kerajaan di Persia dan Romawi.

Maka sesungguhnya, Allaah takdirkan hilangnya empat faktor yang biasanya mendidik manusia dari Nabi Muhammad SAW, yakni ayah, ibu, bacaan, dan lingkungan. Hampir tidak ada yang menyentuh kehidupan Nabi Muhammad SAW dari keempat faktor pendidikan tersebut. Namun, perangai seorang Nabi Muhammad SAW tetap penuh dengan keluhuran, penuh dengan kebajikan, penuh dengan kelembutan, baik di hati maupun di perilaku. Inilah yang dimaksud dalam ayat fabimaa rahmatim-minallaah linta-lahum, maka disebabkan rahmat dari Allaah-lah, engkau berlaku lemah-lembut terhadap mereka.

Kondisi Nabi Muhammad yang dididik langsung dari Allaah juga ditekankan kemudian dalam ayat walaw kunta fazh-zha ghalizhal-qalbi, sekiranya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, di mana Allaah gunakan redaksi berupa pengandaian bersyarat yang tidak mungkin terwujud dengan menggunakan kata law atau diartikan sebagai sekiranya. Artinya, sikap keras dan hati kasar tersebut hanyalah pengandaian yang tak mungkin terwujud dari sosok seorang Nabi Muhammad SAW. Inilah wujud pendidikan dari Allaah SWT.

Kemudian dari ayat ini pula, Allaah Ta’aala mengingatkan umat manusia tentang kesatuan hati dan perbuatan. Bahwa Nabi Muhammad SAW adalah manusia yang penuh kebaikan, luar maupun dalam: yang tampak dari luar, yakni tidak berlaku keras sekaligus, tidak berhati kasar, yaitu sesuatu yang tersembunyi di dalam diri seorang manusia. Sehingga nasihatnya adalah jangan setengah-setengah dalam berbuat baik: bukan menjadi seorang yang berlaku keras walaupun sesungguhnya berhati lembut dan bukan pula menjadi seseorang yang hatinya lembut tetapi tak mengerti sopan santun sehingga keras perbuatan lahirnya. Inilah teladan dari seorang Nabi Muhammad SAW, bersungguh-sungguh dalam mewujudkan kebaikan, di hati maupun di lisan dan perbuatan.

Hadirin rahimakumullaah, demikian pula dengan anjuran dalam banyak hadits Nabi Muhammad SAW yang sejalan dengan perintah berbuat baik dari al-Qur’an. Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, dari ‘Adiy bin Haatim, misalnya, Nabi Muhammad SAW bersabda,

uraian kebaikan - 3

Hadits ini menganjurkan amalan sekalipun hanya bisa sedikit. Allaah Ta’aala memastikan bahwa sebuah kebaikan akan mendapatkan balasan, sekecil apapun kebaikan tersebut,

uraian kebaikan - 3B

Begitu pula dengan berbicara dengan lembut, termasuk sebagai sedekah yang mendatangkan pahala. Sebab, ucapan yang lembut menunjukkan rasa hormat dan menghargai kedudukan orang lain. Kata-kata yang baik dapat menghilangkan dendam dan kebencian dalam jiwa. Nabi Muhammad SAW, diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Abu Hurairah RA, pernah bersabda,

 photo uraian kebaikan - 4_zpsfcphxslo.png

Demikian juga dengan senyuman, keceriaan, ucapan lembut dan baik, semua merupakan sedekah, bagaikan bersedekah harta. Imam Muslim meriwayatkan ucapan Nabi Muhammad SAW yang bersumber dari Abu Dzarr RA,

uraian kebaikan - 5

Kebaikan dalam hadits ini bermakna sesuatu yang dianggap baik menurut ajaran Islam dan didukung akal sehat. Adapun dengan wajah ramah atau wajah berseri-seri adalah menampakkan kegembiraan, penuh toleransi, dan senang bertemu orang lain. Ekspresi seperti ini dapat menanamkan rasa cinta dan kasih sayang dalam hati.

Al-Qur`an membandingkan dampak perkataan baik di tengah masyarakat, sebagaimana Allaah firmankan di dalam surah Ibrahim ayat 24-26,

uraian kebaikan - 6

Para ulama tafsir memaknai kalimat yang baik yang diumpakan pohon tersebut adalah kalimat tauhid, yakni kalimat laa-ilaaha-illa-Llaah, tiada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allaah SWT. Inilah kalimat kesaksian kita kepada Allaah Ta’aala.

Ketika keimanan kepada Allaah Ta’aala mewujud di dalam hati, maka sudah seharusnya rukun iman pun turut mewujud: keimanan akan malaikat-malaikat Allaah, kitab-kitab Allaah, para utusan Allaah, takdir dan ketentuan Allaah, serta Hari Pembalasan. Keimanan yang sempurna adalah iman yang diikuti dengan keislaman.

Tentu saja bukan sekedar dalam batasan Rukun Islam yang lima, yakni dua kalimat kesaksian, salat lima waktu, puasa, zakat, dan haji; tapi juga islam dalam makna kedamaian dan keselamatan: yakni bagaimana diri kita mampu mendatangkan keduanya seiring dengan perjalanan kehidupan kita. Bahwa kehadiran kita adalah kedamaian bagi diri sendiri dan orang lain, bahwa lisan kita adalah keselamatan bagi diri sendiri dan orang lain, bahwa perbuatan kita adalah kelembutan bagi diri sendiri dan orang lain.

Hadirin rahimakumullaah, di surah al-‘Alaq ayat kedua Allaah berfirman, khalaqal insaana min ‘alaq, yang menciptakan manusia dari ‘alaq. ‘Alaq dapat dimaknai sebagai segumpal darah atau dapat pula dimaknai sebagai sesuatu yang bergantung di dinding rahim. Pengertian ini membawa makna akan satu di antara sifat-sifat dasar manusia: bergantung menunjukkan kebutuhan kepada orang lain. Kebutuhan kepada Allaah Ta’aala jelas nyata, tapi kebutuhan kepada sesama manusia juga ada. Allaah sampaikan firman ini setelah memerintahkan kita membaca, iqra` bismirabbikalladzi khalaq, bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang mencipta, kemudian ayat khalaqal insaana min ‘alaq.

Maknanya: iqra`, bacalah, yakni manfaatkanlah ilmu pengetahuan dan teknologi, tapi ingatlah, bismirabbikalladzi khalaq, dengan menyebut nama Tuhanmu yang mencipta, bahwa semua harus diliputi suasana ingat kepada Tuhan, sehingga kemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut haruslah kembali kepada kemakmuran manusia karena khalaqal insaana min ‘alaq, diciptakan dari sesuatu yang bergantung di dinding rahim, karena sesama manusia saling membutuhkan satu sama lain.

Maka, mari kita tegakkan kalimat tauhid dengan sebenarnya, yakni bukan sekedar mengucapkannya bagi diri sendiri atau bahkan justru beralih untuk menebar teror dan ketakutan bagi orang lain, tapi menyempurnakannya dengan keislaman, yakni menjalani perintah agama dengan sesungguh-sungguhnya, agar terwujud keselamatan, kedamaian, dan kebaikan di muka bumi karena kehadiran kita.

Semoga Allaah Ta’aala memudahkan usaha kita untuk selalu memiliki hati yang lembut dan berniat baik, sekaligus mampu mewujudkannya dalam bentuk kata-kata dan perbuatan baik. Aamiin, ya Rabbal ‘aalamiin.

Menjalin Persaudaraan Antar-manusia

Disampaikan dalam Khatbah Idul Fitri 25 Juni 2017 di Dusun Pragak-Bendorejo, Semanu, Gunungkidul. Teks lengkap dalam format pdf (termasuk muqaddimah dan doa penutup beserta maknanya dalam bahasa Indonesia) dapat diunduh di sini.

Jamaah Shalat ‘Idul Fitri yang dimuliakan Allaah SWT, alhamdulillaah, segala puji hanya pantas dimiliki oleh Allaah Ta’aala, yang masih berkenan memberikan kepada kita kenikmatan agung untuk bertemu kembali dengan Ramadlan, menyelesaikan Ramadlan, dan bertemu di Hari Raya Kemenangan yang penuh dengan keberkahan ini. Shalawat serta salam semoga tetap dan terus tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat, serta, pengikut beliau, insya-Allaah termasuk kita semua. Aamiin, allaahumma aamiin.

Hadirin rahimakumullaah.

Nikmat pertemuan dengan Ramadlan harus benar-benar kita syukuri, agar Allaah Ta’aala melipat-gandakan nikmat tersebut, yakni semoga memberikan kesempatan kepada kita untuk bertemu dengan Ramadlan-Ramadlan di tahun berikutnya. Sesuai dengan firman Allaah Ta’aala yang masyhur tentang bersyukur (QS Ibrahim ayat 7),

Sama halnya dengan dua nikmat lain, yang kita kebanyakan lupa dan terlena, karena kehadiran nikmat tersebut yang berlangsung hampir setiap saat. Kanjeng Nabi SAW bersabda (HR at-Thabrani dari Ibnu ‘Abbas),

Dalam berbagai kesempatan, di setiap Ramadlan dan sesudahnya, saya selalu mengingatkan betapa aman dan nyamannya kita beribadah sebagai umat Islam di Indonesia. Kadang nikmat ini, yakni termasuk nikmat keamanan sebagaimana Nabi SAW sampaikan, lupa untuk kita syukuri.

Munculnya peledakan di Kampung Melayu yang diklaim didalangi oleh ISIS sudah sepantasnya meningkatkan kewaspadaan kita terhadap nikmat keamanan, yang jangan-jangan kita lupa mensyukurinya. Mari kita bercermin pula pada munculnya ISIS di Filipina, negara yang sangat dekat dengan Indonesia. Pun dengan berbagai persitiwa yang diklaim didalangi oleh ISIS lainnya di berbagai belahan dunia: peledakan bom di Baghdad (Irak) dan Kabul (Afghanistan), serangan mematikan di London (Inggris).

ISIS adalah ancaman nyata bagi umat Islam, karena pada nyatanya korban terbesar kekejian mereka selama ini adalah umat Islam sendiri. Irak dan Afghanistan adalah negeri kaum muslimin. Sementara di London, serangan yang secara kurang ajar mengatas-namakan Islam tersebut berakibat pada dilecehkannya beberapa saudara kita sesama muslim di sana, yang dianggap sama dengan ISIS.

Ketika mereka terdesak di Timur Tengah, ISIS mencari cara lain untuk menyebarkan ajaran sesatnya: melalui kelompok-kelompok radikal di luar Timur Tengah. Sayangnya, ada sebagian putra bangsa Indonesia yang justru menganggapnya ancaman nyata ini sebagai rekayasa semata.

Hadirin sekalian, yang insya-Allaah penuh dengan curahan rahmat Allaah SWT, pada pagi hari ini kita akan bersama-sama sedikit membahas apa perbedaan Islam yang sesungguhnya dengan ajaran sesat semacam ISIS. Kalau ISIS membunuh setiap yang berbeda dengan mereka, bahkan sesama muslim pun mereka bunuh karena berbeda pandangan, maka Islam yang sesungguhnya tidak demikian. Islam yang sesungguhnya justru mewujudkan persaudaraan antar-sesama manusia, bukan hanya sesama muslim saja.

Salah satu faktor penunjang utama dalam menegakkan persaudaraan di antara umat manusia adalah adanya persamaan. Persamaan rasa dan cita –cita merupakan faktor dominan yang mendahului lahirnya persaudaraan hakiki, dan pada akhirnya menjadikan seseorang merasakan derita saudaranya, mengulurkan tangan sebelum diminta, serta memperlakukan saudaranya bukan atas dasar take and give (memberi dan menerima), bukan atas dasar aku memberi orang lain apa, dapat imbal balik apa, sebagaimana orang berdagang, tetapi justru

Keberadaan manusia sebagai makhluk sosial, perasaan tenang dan nyaman pada saat berada di antara sesamanya, dan dorongan kebutuhan ekonomi merupakan faktor-faktor penunjang yang akan melahirkan rasa persaudaraan.

Hadirin rahimakumullaah.

Untuk memantapkan persaudaraan, Al-Quran menggarisbawahi bahwa perbedaan adalah hukum yang berlaku dalam kehidupan ini. Selain perbedaan tersebut merupakan kehendak Ilahi, juga demi kelestarian hidup, sekaligus demi mencapai tujuan kehidupan makhluk di pentas bumi.

Seandainya Tuhan menghendaki kesatuan pendapat, niscaya diciptakan-Nya manusia tanpa akal budi seperti binatang atau benda-benda tak bernyawa yang tidak memiliki kemampuan memilah dan memilih, karena hanya dengan demikian seluruhnya akan menjadi satu pendapat.

Dari sini, seorang Muslim dapat memahami adanya pandangan atau bahkan pendapat yang berbeda dengan pandangan agamanya, karena semua itu tidak mungkin berada di luar kehendak Ilahi. Allaah berfirman,

Sungguh, tidak pantas bagi kita untuk memaksakan kehendak agar semua manusia mau menjadi orang yang beriman. Karena demikianlah Allaah yang gariskan bagi kita, untuk menjadi pelajaran dan pembeda, mana yang taat dan mana yang tidak taat.

Lebih dari itu, untuk menjamin terciptanya persaudaraan dimaksud, Allah SWT memberikan beberapa petunjuk sesuai dengan jenis persaudaraan yang diperintahkan, baik kaitannya dengan persaudaraan secara umum maupun persaudaraan seagama Islam.

  1. Untuk memantapkan persaudaraan pada arti yang umum, Islam memperkenalkan konsep khalifah. Manusia diangkat oleh Allah sebagai khalifah (wakil Allaah di muka bumi). Kekhalifahan menuntut manusia untuk memelihara, membimbing, dan mengarahkan segala sesuatu agar
    mencapai maksud dan tujuan penciptaannya. Karena itu, Nabi Muhammad SAW melarang memetik buah sebelum siap untuk dimanfaatkan, memetik kembang sebelum mekar, atau menyembelih binatang yang terlalu kecil. Nabi Muhammad SAW Juga mengajarkan agar selalu bersikap bersahabat dengan segala sesuatu sekalipun terhadap benda tak bernyawa.

Kaitannya dengan tugas sebagai wakil Allaah di muka  bumi, Allaah Ta’aala mengajarkan kita nama-nama benda semuanya atau dapat ditafsirkan sebagai penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, Allaah berfirman di dalam surat al-Baqarah ayat 31,

Al-Quran menggunakan istilah pengajaran dari Allaah, dan tidak mengenal istilah “penaklukan alam”, karena secara tegas Al-Quran menyatakan bahwa yang menaklukkan alam untuk manusia adalah Allah (QS 45: 13). Secara tegas pula seorang Muslim diajarkan untuk mengakui bahwa ia tidak mempunyai kekuasaan untuk menundukkan sesuatu kecuali atas penundukan Ilahi. Sehingga, termasuk saat berkendaraan seorang Muslim dianjurkan membaca,
 photo menjalin-7_zps9jsvs4gn.png
Hadirin rahimakumullaah.

  1. Untuk persaudaraan antarpemeluk agama, Islam mengajarkan ajaran,

 photo menjalin-8_zpsucfj2lzr.png
Al-Qur`an juga menganjurkan agar kita mencari titik singgung dan titik temu antar-pemeluk agama, serta apabila tidak ditemukan persamaan hendaknya masing-masing mengakui keberadaan pihak lain, tidak perlu saling menyalahkan.
menjalin-9
Ayat tersebut mendorong adanya titik temu dan titik singgung di antara agama-agama, yakni keimanan kepada Allaah yang murni atau ketauhidan. Ketika ketauhidan tak tercapai menjadi kesepakatan bersama, maka kembali ke ajaran agama masing-masing, dengan tetap saling menghormati satu sama lain.

Selain itu, ada titik temu dan titik singgung lain di antara semua agama dan peradaban, yang sering kita sebut dengan kebaikan universal.

Semua agama menganggap perbuatan mencuri sebagai keburukan, maka bersama-sama antar-pemeluk agama memberantas korupsi adalah bentuk nyata persaudaraan antar-umat beragama.

Semua agama menganggap perbuatan berbagi harta kepada yang orang miskin sebagai kebaikan, maka bersama-sama antar-pemeluk agama, berikhtiar membantu mengentaskan kemiskinan adalah bentuk nyata persaudaraan antar-umat beragama.

Alangkah indahnya, jika persaudaraan antar-manusia, antar-pemeluk beragama mampu mewujudkan kemuliaan tersebut, setidaknya dalam memberantas kejahatan korupsi dan pengentasan kemiskinan di Indonesia kita tercinta.

Hadirin rahimakumullaah.

Persaudaraan antara Muslim dengan non-Muslim sama sekali tidak dilarang oleh Islam, selama pihak lain menghormati hak-hak kaum Muslim. Allaah Ta’aala berfirman di dalam surat al Mumtahanah [60] ayat 8:
menjalin-10
Ayat ini turun berkenaan dengan Asma’ binti Sayyidinaa Abu Bakar RA yang tidak mau menerima hadiah dari ibunya karena saat itu ibunya belum memeluk Islam. Allaah Ta’aala ingatkan perbuatan tersebut dengan ayat ini: kepada yang tidak seagama, tak ada larangan berbuat baik, berbuat adil, termasuk memberikan sebagian harta, selama tidak memusuhi karena agama atau mengusir dari tanah air/kampung halaman.

Begitu pula ketika salah seorang sahabat Nabi SAW yang pada mulanya telah terbiasa memberikan bantuan kepada non-Muslim, bermaksud menghentikan bantuan tersebut. Alasannya, dengan dihentikannya bantuan, dia yang biasa diberi akan membutuhkannya, mencari dirinya, dan kemudian mau memeluk Islam.

Maksud para sahabat ini dengan tegas dilarang, melalui al-Qur`an surat al-Baqarah ayat 272,
menjalin-11
Dengan kata lain, ayat ini adalah tamparan bagi kita semua, karena seolah Allaah mengingatkan kita semua: Janganlah mengaitkan hadiah atau bantuan dengan keimanan dan kekufuran, tetapi pemberian itu semata demi persaudaraan atau kemanusiaan.

Hadirin rahimakumullaah.

  1. Untuk memantapkan persaudaraan antar-sesama Muslim, al-Qur`an pertama kali menggarisbawahi perlunya menghindari segala macam sikap lahir dan batin yang dapat mengeruhkan hubungan di antara sesama muslim.

Setelah menyatakan bahwa orang-orang Mukmin bersaudara, dan memerintahkan untuk melakukan ishlah (perbaikan hubungan) jika seandainya terjadi kesalahpahaman di antara dua orang (kelompok) kaum Muslim, Al-Quran memberikan contoh-contoh penyebab keretakan hubungan sekaligus melarang setiap Muslim melakukannya,
menjalin-12
Ayat berikutnya di surat yang sama, al-Hujurat 12, memerintahkan orang Mukmin untuk menghindari prasangka buruk, tidak mencari-cari kesalahan orang lain, serta melarang menggunjing, yang diibaratkan oleh al-Quran bagaikan memakan daging saudaranya sendiri yang telah meninggal dunia. Pada umumnya contoh-contoh tersebut berkaitan dengan sikap kejiwaan, atau tercermin misalnya dalam hadis Nabi SAW yang diriwayatkan oleh keenam ulama hadis, kecuali An-Nasa’i, melalui Abu Hurairah,
menjalin-13
Mengapa Allaah Ta’aala perintahkan sikap-sikap yang berkaitan dengan kondisi kejiwaan? Karena sikap batiniahlah yang melahirkan
sikap lahiriah. Lisan yang suka berkata kotor, muncul karena di dalam hatinya tersimpan kumpulan kekotoran. Tangan, wajah, dan kaki yang diarahkan kepada aktivitas keji dan kejam, sungguh karena di dalam hatinya terkumpul tumpukan kekejian dan kekejaman yang sama. Maka Islam menegaskan: perbaiki sikap kejiwaanmu, maka kesungguhanmu memperbaiki hati, akan tercermin di lisan dan perbuatanmu.

Hadirin rahimakumullaah.

Demikianlah uraian persaudaraan yang dianjurkan dalam Islam menurut al-Qur`an, baik persaudaraan secara umum, persaudaraan kepada non-Muslim, serta persaudaraan dengan sesama Muslim. Sebagai penutup, akan kami sampaikan beberapa hadits Nabi SAW yang mendorong persaudaraan antarmanusia.

Nabi SAW menekankan pentingnya misi kemanusiaan dalam Islam, melalui sabda beliau (HR ath-Thabrani),
menjalin-14
Di sabda Nabi SAW yang lain, terdapat sebuah hadits yang bermakna sama, bahkan ditambah dengan perintah lain yang lebih indah. Beliau SAW bersabda (HR Baihaqi),
menjalin-15
Inilah indahnya Islam yang sesungguhnya, bahwa sesudah iman kepada Allaah, maka wujud nyata keimanan harus ditujukan kepada sesama makhluk, terutama manusia, yang bahkan kepada mereka yang durjana pun, kita diperintahkan untuk berbuat baik.

Hadirin rahimakumullaah.

Mengapa berbuat buruk kepada pendosa dilarang? Mengapa mencaci seseorang yang berbuat dosa dilarang? Sebagaimana dikisahkan sebuah hadis (HR al-Bukhari dari Abu Hurairah RA), bahwa seorang laki-laki yang menenggak minuman keras dihadapkan kepada Nabi Muhammad SAW, Abu Hurairah berkata,
menjalin-16
Menghukum seseorang sesuai dengan norma yang berlaku itu harus. Tetapi mencaci-maki sang pelanggar atau mengutuk hingga melaknatnya, sungguh dilarang oleh Nabi Muhammad SAW. Bahkan oleh Nabi SAW disamakan dengan memberikan pertolongan kepada setan!

Mengapa demikian? Karena tujuan syaithan menggoda manusia adalah untuk menjerumuskan kita kepada neraka; sehingga ketika kita sebagai manusia melakukan laknat kepada sesama manusia, mengutuk sesama manusia agar Allaah membenci, bahkan berharap para pendosa masuk ke neraka, apa bedanya kita dengan syaithan? Inilah maksud Nabi Muhammad SAW dengan memberikan pertolongan kepada syaithan.

Hadirin rahimakumullaah.

Nabi Muhammad SAW bersabda (HR ad-Dailami dari ‘Aisyah),

menjalin-17

Inilah tugas kita dalam ikhtiar bersama menjadi wakil Allaah Tabaraka wa Ta’aala di muka bumi: mengajak manusia ke arah yang lebih baik dengan kata-kata, teladan, dan doa, dengan penuh kelembutan sebagai bentuk implementasi rasa cinta kepada sesama manusia. Bahkan kelembutan pada manusia sama fardlunya dengan kewajiban-kewajiban lain di dalam agama.

Tentu saja, tidak ada paksaan dari kita, apakah yang kita ajak mau ikut atau tidak. Bagaimanapun juga, datangnya hidayah, hadirnya petunjuk ke dalam hati seorang manusia bukan di tangan kita, tapi sepenuhnya merupakan kuasa Allaah SWT. Bahkan Nabi Muhammad SAW-pun tidak berhasil membuat pamannya Abu Thalib mengucapkan dua kalimat persaksian hingga akhir hayatnya.

Dengan demikian, bertemunya rasa cinta kepada sesama manusia dan kelembutan dakwah di dalam Islam, hendaknya akan menghindarkan kita dari siksa Allaah Ta’aala di dunia maupun akhirat, sebagaimana Allaah ingatkan (QS an-Nuur ayat 19),

menjalin-18

Semoga Allaah memberikan kekuatan kepada kita untuk istiqamah berada di jalan cinta dan kelembutan dalam menjalankan Islam, Islam yang rahmatan lil-‘aalamiin, sehingga terwujudlah kondisi sosial masyarakat yang aman, damai, tenteram, dan penuh dengan keberkahan dari Allaah SWT.

Khatbah Kedua

Di khotbah kedua ini, mari kita tutup bersama rangkaian ibadah pada pagi hari ini dengan berdoa kehadirat Allaah Tabaraka wa Ta’aala. Memohon agar Allaah berkenan menerima segenap amal ibadah kita di Ramadlan tahun ini dan mempetemukan kita kembali dengan Ramadlan berikutnya. Memohon agar Allaah memudahkan setiap langkah kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan khususnya dalam mendidik keluarga kita. Memohon agar Allaah selalu meneguhkan hati kita untuk berada di jalan yang lurus.

Dan tidak lupa, semoga Allaah Ta’aala melindungi negeri muslim terbesar di dunia, Indonesia kita tercinta, dari berbagai bencana alam dan konflik sosial, terutama ancaman-ancaman global yang mencoba mengusik kenyamanan bangsa kita sebagai negeri muslim yang penuh kedamaian.

Menteri Pertahanan RI menyatakan ada 29 kelompok di Indonesia yang merupakan bagian dari ISIS. Sementara Panglima TNI menyatakan, sel-sel ISIS berada di 16 lokasi di Indonesia. Kelompok-kelompok ini, sekarang belum bisa ditindak, karena belum melakukan kejahatan nyata, karena memang tidak memiliki sumber daya yang cukup untuk melakukannya. Tetapi mereka selalu standby, selalu siaga, jika ada perintah untuk bertindak.

Ikhtiar kita adalah menolak ajaran mereka, yakni senantiasa menggalang persaudaraan, menjauhi prasangka dan melakukan tabayyun terhadap berbagai informasi yang berseliweran, serta waspada apabila ada ajaran atas nama Islam yang menggunakan ekspresi kebencian dan kekejian dalam menyikapi perbedaan. Selebihnya, pada saat ini, mari kita berdoa, mohon perlindungan dari Allaah SWT.

DOA PENUTUP

Rektor UGM: Ketakwaan dan Pendidikan untuk Kesejahteraan NKRI

“Korea yang kemerdekaannya hanya selisih beberapa hari dengan Indonesia, yang kemiskinannya saat itu hampir sama dengan Indonesia, yang kekayaan alamnya lebih sedikit dari Indonesia, saat ini lebih maju daripada Indonesia. Begitu pula dengan Singapura atau Finlandia atau Jepang. Mengapa demikian? Karena Korea, selain memiliki semangat luar biasa, juga mempunyai sistem pendidikan yang bagus dan etos kerja yang tinggi.”

Demikian sambutan Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Ir. Panut Mulyono, M. Eng., D. Eng. dalam acara Buka Bersama Forum Komunikasi Dosen dan Mahasiswa Nahdlatul Ulama (NU) UGM yang diselenggarakan hari ini, 26 Mei 2018, di Masjid al-Ihsan Fakultas Kehutanan UGM.

IMG_9346

IMG20180526165612

Acara ini dihadiri pula oleh Wakil Ketua Umum Pengurus Besar NU yang juga Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Prof. Dr. Ir. Mochammad Maksum Machfoedz, M. Sc., dosen, dan mahasiswa UGM, termasuk dari organisasi mahasiswa NU UGM tingkat D3 dan S1 (Keluarga Mahasiswa NU UGM atau KMNU UGM) serta tingkat S2 dan S3 (Forum Silaturahmi Mahasiswa Pasca NU UGM).

Selanjutnya Prof. Panut juga mengajak agar mahasiswa NU UGM terus menempuh pendidikan setinggi-tingginya sesuai dengan kemampuan masing-masing sekaligus memiliki determinasi, seperti konsep “PBNU” (Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD 1945). “PBNU” sendiri, menurut Prof. Panut, merupakan modal terbesar bagi bangsa Indonesia, sehingga masyarakat dan warga negara tinggal menjalankannya.

“Kekayaan alam bukan segalanya, tetapi pendidikanlah yang memajukan sebuah bangsa. Pendidikan sungguh bisa mengubah dunia. Ajak adik, saudara, dan teman dari pesantren untuk mendaftar ke UGM. Kita sepakat bahwa “PBNU” sudah final, walaupun masih belum sempurna pelaksanaannya. Maka menjadi tugas kalian semua di masa mendatang untuk menjalankan negara Indonesia dengan benar, agar lebih maju dan sejahtera”, kata Prof. Panut.

IMG_0020

IMG_0002

Sementara berkaitan dengan hikmah puasa, Rektor UGM mengingatkan kembali bahwa ketakwaan yang dituju dapat menyempurnakan ilmu dan pendidikan, karena ketakwaan dapat mencegah dari berbagai perbuatan tidak baik.

“Sayangnya, kita semua, kadang menilai takwa hanya sekedar dengan timbangan. Merasa berbuat baik cukup banyak, kemudian berani berbuat kurang baik dengan alasan masih berat perbuatan baiknya. Ini evaluasi kita bersama tentang kualitas ketakwaan kita.”

Sebagai penutup sambutannya, Rektor UGM yang merupakan Guru Besar Fakultas Teknik UGM juga menekankan optimismenya terhadap masa depan Indonesia.

Prof. Panut berpesan, “Saya yakin seyakin-yakinnya, masa depan Indonesia itu sangat cerah. Saya menyaksikan kebaikan, cita-cita, dan rasa persatuan yang tinggi di mata para mahasiswa. Tinggal bagaimana sikap ini menjadi dominan”.

Acara kemudian ditutup dengan doa bersama, buka puasa, dan salat Maghrib berjamaah.

IMG20180526180759

IMG_9426

Menggapai Bahagia Akhirat dengan Rahmat Allaah

(Disampaikan dalam beberapa majelis tarawih, subuh, buka bersama, khatbah jumat, dan syawalan di tahun 2017)

Allaah Tabaraka wa Ta’aala berfirman di dalam QS al-Bayyinah ayat 7,

Sesungguhnya orang-orang yang beriman (secara benar) dan (membuktikan kebenaran iman mereka) dengan mengerjakan amal-amal shaleh, mereka itulah sebaik-baik makhluk.

Allaah Tabaraka wa Ta’aala dengan kemurahannya, memberikan kesempatan kepada kita untuk berbuat kebaikan, sebagai bekal di akhirat. Sesudah menjelaskan keutamaan orang beriman yang membuktikan keimanannya dengan beramal salih, beramal kebajikan, sebagai khoyrul bariyyah, sebaik-baik makhluk, di dalam al-Bayyinah ayat 7, Allaah berjanji akan mengganjarnya, membalasnya dengan surga pada ayat 8,

Balasan mereka di sisi Tuhan Pemelihara mereka ialah surga-surga ‘Adn yang di bawahnya mengalir sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allaah ridla kepada mereka dan mereka pun ridla kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (ganjaran) bagi orang yang takut kepada Tuhan Pemeliharanya.

Frase ridla Allaah kepada mereka (radliyallaahu ‘anhum) tercermin dalam keberadaan hamba itu di tempat dan situasi yang dikehendaki Allaah, yakni di surga. Sedangkan mereka pun ridla kepada-Nya (wa radlu-‘anhu) bermakna bahwa hati mereka, hamba Allaah, yang tidak merasa keruh atau tidak enak menerima ketetapan Allaah, apapun bentuknya.

Ada beberapa hal kunci di dalam kedua ayat tersebut, kaitannya dengan kehidupan akhirat, yakni iman, amal shaleh, ridla Tuhan, dan rasa takut kepada Tuhan. Kita akan membahas sedikit saja tentang amal shaleh, ridla Tuhan, dan rasa takut kepada Tuhan.

Hadirin rahimakumullaah.

Kanjeng Nabi Muhammad SAW menyampaikan firman Allaah dalam sebuah Hadits Qudsi. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, dengan perbedaan dalam beberapa redaksi atau pilihan kata. Menurut riwayat Imam Bukhari, hadits tersebut berbunyi,

Dari Ibnu ‘Abbas RA, dari Nabi SAW, yang meriwayatkan dari Tuhannya ‘Azza wa Jalla, beliau SAW bersabda, Sesungguhnya Allaah SWT telah menetapkan semua kebaikan dan keburukan,

Kemudian menjelaskannya sebagai berikut, barangsiapa ingin berbuat (merencanakan) kebaikan tetapi tidak jadi (dapat) melakukannya, Allaah akan mencatat (menetapkan pahala) untuknya satu kebaikan yang sempurna; apabila seseorang ingin berbuat kebaikan lalu dapat melaksanakannya, Allaah mencatat (membalas) kebaikan tersebut dengan sepuluh kebaikan di sisi-Nya, (dan melipatkannya) sampai 700 kali lipat hingga kelipatan yang sangat banyak,

Dan barangsiapa yang ingin berbuat keburukan (dosa), tetapi tidak jadi melakukannya, Allaah akan mencatat baginya satu kebaikan yang sempurna di sisi-Nya; apabila seseorang ingin berbuat keburukan (dosa) lalu benar-benar melakukannya, Allaah akan mencatatnya sebagai satu keburukan untuknya.

Di dalam hadits tersebut, perbuatan yang akan dilakukan oleh seorang manusia dibahasakan dengan menggunakan hamma, yang artinya kurang lebih adalah ingin berbuat atau berhasrat. Di dalam hadits yang bersumber dari Abu Hurairah RA, digunakan kata araada, yang maknanya kehendak. Keduanya, hamma maupun araada, merupakan tahap yang sama sebelum terwujudnya suatu perbuatan. Para ulama seperti Imam Ahmad, Imam Nawawi, dan al-Qaadlii ‘Iyaadl, menyatakan tentang al-hamm atau hasrat yang tidak dinilai dosa adalah lintasan pikiran yang belum menetap di dalam jiwa, serta belum disertai ikatan, niat, dan ‘azam atau tekad.

Dari hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas dan Abu Hurairah di atas, disimpulkan ada lima hukum yang muncul,

  1. Orang yang berkeinginan / berkehendak berbuat baik, tetapi urung melakukannya,
  2. Orang yang berkeinginan / berkehendak berbuat baik, lalu melakukannya,
  3. Orang yang berkeinginan / berkehendak berbuat buruk (dosa), tetapi urung melakukannya karena takut kepada Allaah SWT,
  4. Orang yang berkeinginan / berkehendak berbuat buruk (dosa) tetapi urung melakukannya karena tidak memiliki potensi untuk mewujudkannya,
  5. Orang yang berkeinginan / berkehendak berbuat buruk (dosa), lalu melakukannya.

Hadirin rahimakumullah.

Bagi sebuah niat yang teriring dengannya tekad dalam sebuah perbuatan baik, tetapi urung karena satu dan lain hal, Allaah Ta’aala dengan kemurahan dan rahmat-Nya, menghitungnya sebagai sebuah perbuatan baik yang terjadi dengan sempurna (hasanatan-kaamilah).

Kemudian, apabila niat baik tersebut dibarengi dengan tekad dan ikhtiar nyata sehingga terwujud, Allaah lipat-gandakan kebaikan tersebut. Bisa 10 kali lipat (‘asyra hasanat), bisa 700 kali lipat (sab’i mi-ati dli’-fin), hingga tak terbatas (adl-‘aafin katsiirah). Berkaitan dengan hadits lain yang serupa, yakni tentang pelipat-gandaan pahala, Al-Hafizh Ibnu Hajar di dalam Fathul-Baari menyampaikan bahwa,

Hal ini mengisyaratkan bahwa kelipatan pahala amal baik itu sampai sepuluh. Inilah yang menjadi patokan. Adapun kelipatan melebihi sepuluh dimungkinkan sesuai dengan kualitas keikhlasan, kebenaran niat, penghayatan dalam hati, dan terwujudnya manfaat, seperti sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, keteladanan yang baik, kemuliaan amal kebajikan, dan lain sebagainya.

Itulah kemurahan Allaah Ta’aala bagi kita yang mau membiasakan diri untuk berniat baik sekaligus berikhtiar terus menerus untuk mewujudkannya. Bagaimana dengan niat untuk berbuat buruk?

Urung melakukan perbuatan buruk yang sempat terbersit di dalam benak boleh jadi disebabkan karena dua hal, (1) emosi sesaat tapi kemudian ingat dan takut kepada Allaah, atau (2) sudah menjadi tekad yang bulat, namun tidak ada potensi di sekelilingnya yang mendukung perbuatan buruk tersebut.

Jika perbuatan buruk urung terwujud karena ingat dan takut kepada Allaah Ta’aala, boleh jadi akan terhitung sebagai sedekah. Hal ini sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Abu Musa al-Asy’ari,

Nabi SAW bersabda, “Setiap Muslim wajib bersedekah”.

Para sahabat bertanya, “Bagaimana menurut Baginda, apabila dia tidak memiliki sesuatu (untuk disedekahkan)?

Nabi SAW menjawab, “Hendaknya dia menahan diri dari perbuatan buruk, hal itu dicatat sebagai sedekah untuknya”.

Bagaimana tentang perbuatan buruk yang urung terjadi selain karena takut kepada Allaah? Ulama hadits Syaikh Muhammad ‘Awwamah menjelaskan,

Bagi orang yang mengurungkan keinginan jahatnya karena faktor selain takut kepada Allaah, pahalanya lebih sedikit dibandingkan oleh perasaan takut kepada Allaah. Sebab, dalil yang sahih menunjukkan keutamaan bagi hamba yang memiliki rasa takut kepada Allaah ketika mengurungkan niat jahatnya.

Namun demikian perlu pula diingat ulasan al-Qaadlii ‘Iyaadl dan Imam Nawawi tentang perbuatan buruk yang urung dilakukan, bahwa,

Orang yang ingin berbuat maksiat dan bertekad mewujudkannya dapat dikenai dosa dalam keyakinan dan tekadnya; ia mendapatkan satu keburukan, tetapi keburukannya tidak sebesar orang lain yang telah melakukan dan mewujudkannya.

Hal yang mirip disampaikan Imam Nawawi ketika membahas hadits dari Imam Muslim yang berbunyi,

Apabila dua orang Islam bertengkar dengan pedangnya, maka orang yang membunuh dan terbunuh sama-sama berada di dalam neraka.

Saya bertanya (Abu Bakrah Nufa’i periwayat hadits), “Wahai Rasulullaah, sudah wajar yang membunuh masuk neraka. Lantas bagaimana gerangan yang terbunuh?”

Beliau menjawab, “Karena ia juga sangat berambisi untuk membunuh sahabatnya”.

Tentang hadits ini, Imam Nawawi mengatakan,

Seseorang yang bertekad bulat untuk melakukan maksiat serta terus-menerus merencanakannya, ia dinilai telah berdosa, meskipun belum sempat melakukannya atau mengucapkannya.

Itulah pembahasan tentang amal-amal kebaikan yang harus terus menerus kita biasakan memunculkannya di benak sekaligus kemudian berikhtiar mewujudkannya. Dan tak kalah pentingnya, bagaimana kita juga mampu membendung terbersitnya niat untuk berbuat dosa. Kalaupun dalam kondisi emosional dan terlanjur timbul di benak kita, segera saja kita ingat kepada Allaah agar niat tersebut tidak menguat menjadi tekad dan kesungguhan.

Hadirin rahimakumullaah.

Namun demikian, berkaitan dengan amal-amal kebaikan kita yang akan menjadi bekal di akhirat, sebagai pembuktian iman kita, perlu kita kembali ke al-Bayyinah ayat 8, ketika Allaah menyampaikan balasan atas amal shaleh kita, bahwa balasan surga mengandung deskripsi, radliyallaahu ‘anhum, Allaah ridla kepada mereka.

Perlu kita semua ingat, bahwa amal-amal shalih kita sama sekali tidak mampu mendatangkan apapun, kecuali atas amal-amal kebaikan tersebut kita mintakan ridla Allaah SWT. Terkadang kita menyangka, bahwa segenap amal shalih kita akan cukup untuk menyelamatkan kita dari neraka atau cukup untuk memasukkan kita ke dalam surga.

Atau yang lebih buruk, jika ada sebagian dari kita dengan santai berbuat buruk, dengan harapan, setelahnya cukup menggantinya dengan amal baik untuk menutupi dosanya. Semoga kita terhindar dari perbuatan yang demikian.

Kanjeng Nabi Muhammad SAW bersabda diriwayatkan oleh Imam Muslim, Imam Bukhari, dan an-Nasaa-i,

Berlaku luruslah kalian, dekatkanlah diri kalian (yakni kepada Allaah), dan bergembiralah kalian (yakni dengan pahala dan ganjaran dari Allaah), dan ketahuilah oleh kalian bahwa amal perbuatan salah seorang dari kalian tidak akan bisa memasukkannya ke surga.

(Mereka para sahabat Nabi SAW) bertanya, Juga termasuk engkau sendiri, ya Rasuulullaah?

(Nabi SAW) menjawab, (Ya,) termasuk aku sendiri, kecuali bila Allaah melimpahkan ampunan dan rahmat-Nya kepadaku. Dan sungguh, amal perbuatan yang dicintai oleh Allaah adalah yang dilakukan terus menerus, sekalipun sedikit.

Hadirin rahimakumullah.

Demikianlah peringatan Rasuulullaah SAW agar kita tidak mengandalkan amal kebaikan kita, kecuali amal tersebut harus kita konversi untuk memohon rahmat Allaah SWT. Bahkan seorang Nabi SAW pun menyatakan, bukan amal perbuatan baik Beliau SAW yang menjadikan beliau ke surga, tapi rahmat Allaah Ta’aala. Benar Beliau SAW adalah Nabi dan Rasul yang maksum, terjaga dari dosa, namun kemaksuman beliau pun berkat rahmat dari Allaah SWT.

Ada banyak sekali hadits berkualitas shahih yang menceritakan bagaimana rahmat Allaah tidak selalu sama dengan amal baik yang banyak. Misal, seorang pembunuh 100 orang yang bertaubat dan mendapatkan rahmat Allaah, diampuni dosanya; atau sebuah hadits tentang perempuan pendosa dan hadits lain tentang seorang lelaki yang mendapatkan ampunan karena memberi minum anjing kehausan; dan kisah-kisah pertaubatan lain yang menghadirkan rahmat Allaah SWT di masa akhir kehidupan.

Jangan sampai kita salah konsep salah pemahaman, bahwa amal kebaikan adalah segala-galanya, dan melupakan rahmat Allaah, sehingga muncul anggapan di dalam benak kita, seolah hanya amal baik saja yang mendatangkan manfaat.

Amal kebaikan adalah sarana kita meraih ridla Allaah, wasilah kita mendapatkan rahmat Allaah Tabaraka wa Ta’aala. Sungguh bahwa perbuatan baik membuat kita menjadi semakin dekat kepada Allaah Tabaraka wa Ta’aala dan kedekatan dengan Allaah-lah yang menghadirkan rahmat-Nya, bukan semata-mata hanya karena amal tersebut.

Bagaimana agar amalan baik kita mendatangkan rahmat Allaah? Sebelumnya telah kita bahas: Adapun kelipatan (balasan kebaikan) melebihi sepuluh dimungkinkan sesuai dengan kualitas keikhlasan, kebenaran niat, penghayatan dalam hati, dan terwujudnya manfaat, seperti sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, keteladanan yang baik, kemuliaan amal kebajikan, dan lain sebagainya. Dan balasan kebaikan tertinggi adalah jika kelipatannya tak terhingga, yakni ridla dan rahmat Allaah SWT.

Demikianlah penyampaian dari saya, semoga mampu menguatkan kita semua, terutama diri saya sendiri, agar bukan sekedar berusaha untuk berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya, tapi juga berusaha untuk memperbaiki kualitas hati kita dalam segenap perbuatan baik kita tersebut, agar berbalas rahmat Allaah SWT. Serta agar kita tidak lagi menggantungkan diri pada amal kebaikan, tanpa melibatkan permintaan ridla Allaah dan rahmat Allah.

Mengurai Hikmah Tragedi Mako Brimob: Islam adalah Kedamaian

Alhamdulillaah, tragedi di Mako Brimob sudah selesai. Ada evaluasi yang harus dilakukan, terutama di manajemen penjara beserta perangkat keamanannya. Pemerintah harus mengakui (serta memperbaikinya, tentu saja) bahwa sebagian pemicunya adalah kedua hal tersebut.

Namun demikian, tidak berarti kita melegalkan kekerasan yang dilakukan oleh para teroris itu. Apalagi membela perilaku keji ini dengan dalih apapun. Bahkan termasuk tuduhan pencitraan kubu politik yang sedang memegang amanah pemerintahan RI. Jika sampai ada yang menyampaikan hal tersebut (tuduhan pencitraan), bagi saya, sungguh telah mati nuraninya. Sementara kepada anggota kepolisian yang gugur dalam tugas, semoga Allaah Ta’aala mengganjar kalian dengan rahmat-Nya yang Maha-agung dan Menyeluruh.

Selain itu, sebagai masyarakat bangsa dan negara, kita juga harus semakin sadar bahwa kejahatan atas nama Islam itu nyata keberadaannya.

Islam tak pernah mengajarkan kekejian, bahkan dalam keadaan perang sekali pun. Namun pembela dan pelaku atas tafsir selain itu benar-benar ada dan hidup berkembang di Indonesia kita tercinta.

Tidak semua yang kritis kepada pemerintah dan/atau bahkan yang anti-negara NKRI berafiliasi dengan para pembajak Islam tersebut, tapi realitasnya, para pembajak Islam alias teroris-teroris itu, memanfaatkan kedua kubu tersebut dengan narasi-narasi cantik nan (seolah-olah) mulia: Islam terzhalimi. Lebih jauh lagi, teroris-teroris tak berperasaan ini dengan percaya diri sering menggunakan isu HAM dengan berlebihan, sedemikian rupa sehingga, pemerintah dan negara yang sedang menegakkan hukum adalah pelanggar HAM terberat di dunia.

Begitu pula dengan isu anti-Amerika Serikat (US). Benar bahwa sejarah terorisme modern berkaitan erat dengan peran US pada masa perang dingin melawan Uni Soviet dengan meradikalkan sebagian kecil umat Islam atas nama perjuangan anti-Soviet. Benar pula, bahwa saat ini pengaruh US kepada semua pemerintah dan negara di seluruh penjuru dunia itu eksis.

Tapi sungguh sebuah kebodohan jika terorisme atas nama Islam di negeri kita digambarkan sebagai sebuah garis lurus perintah/koordinasi antara US, Indonesia, dan terorisme itu sendiri, dengan mengabaikan faktor-faktor lain yang sangat kompleks dan rumit.

Mengapa bodoh? Karena tidak mau berpikir menguraikan persoalan yang sesungguhnya dan memilih sebodoh-bodohnya sikap: memosisikan diri sebagai korban kemudian menunjuk orang lain sebagai pelaku, dengan kata “pokoknya” sebagai penekanan.

Sungguh sikap yang bertentangan dengan ajaran al-Qur’an tentang anjuran untuk berubah dengan ikhtiarnya sendiri.

Maka mari bersama-sama, kita berusaha menjalankan Islam dengan baik dan benar sembari terus memberikan kontribusi terbaik bagi bangsa dan negara melalui kritik konstruktif yang solutif sebagai bentuk nyata ikhtiar untuk meningkatkan kualitas kehidupan umat manusia.

Terakhir, saya ingin mengingatkan pentingnya sebuah institusi negara dlm kehidupan keagamaan dan spritualitas umat, sebagaimana dibahas dalam konferensi internasional ulama thariqah sedunia bertemakan “Bela Negara: Konsep dan Urgensinya menurut Islam”, di Pekalongan 2016 yg lalu.

Hasilnya ada sembilan poin penting, yang empat di antaranya akan saya kutip sebagai penutup tulisan ini:

Pertama, negara adalah tempat tinggal di mana agama diimplementasikan dalam kehidupan.

Kedua, bernegara merupakan kebutuhan primer dan tanpanya kemaslahatan tidak terwujud.

Ketiga, bela negara adalah di mana setiap warga merasa memiliki dan cinta terhadap negara sehingga berusaha untuk mempertahankan dan memajukannya.

Keempat, bela negara merupakan suatu kewajiban seluruh elemen bangsa sebagaimana dijelaskan Al-Quran dan Hadis.

Demikian, semoga bermanfaat.

Blunyah Gede, Yogyakarta, 10 Mei 2018,
Ahmad Rahma Wardhana.

Shalawat Agung

Setelah beberapa bulan disambi dan dicicil, akhirnya selesai juga penulisan ulang shalawat dari buku “70 Shalawat Pilihan” karya al-Ustadz Mahmud Samiy. Buku tersebut sudah saya punyai sejak 21 Juni 2003 (terbitan Pustaka Hidayah, Cetakan VII/April 2001).

Buku ini merupakan terjemahan dari kitab berbahasa arab dengan judul Mukhatashar fi Ma’ani Asma’ Allaah al-Husna pada bab ash-Shalah ‘ala an-Nabi (tanpa tempat dan tahun penulisan).

Isinya merupakan 70 buah shalawat beserta pelafalan, makna, sumber, dan fadlilah-fadlilahnya (keutamaan). Termasuk di dalam 70 shalawat tersebut adalah shalawat Ibrahimiyah, Nariyah, Munjiyat, Nurul Anwar, dan al-Fatih.

Folder yang saya bagi ini berisi file word dan pdf bacaan 70 shalawat tersebut dalam huruf arab berharakat dengan memakai font jenis Amiri Qur’an dan ukuran kertas A5 (pas untuk smartphone atau tablet).

Sementara keterangan lain dari 70 Shalawat tersebut (makna, keutamaan, dan periwayatan shalawat) belum sempat saya tulis ulang. Semoga Allaah berkenan memberikan waktu serta kesehatan kepada saya sehingga dpt menuliskannya, termasuk menambahkan beberapa shalawat masyhur lain yg belum tertulis dlm buku tersebut (misal: thibbil qulub, haji, atau badawiyyah). Aamiin.

Silakan dimanfaatkan sebagai amalan-amalan rutin. Tidak harus semua, memilih beberapa pun juga baik, yang penting terus menerus meskipun sedikit. Kritik dan saran sangat ditunggu, terutama jika terdapat kekeliruan penulisan.

Tautan menuju folder: Buku Shalawat

Buku Konsorsium “KEMALA”: Fikih Energi Terbarukan, Energi Surya untuk Komunitas, dan Sekolah Hijau

“KEMALA” merupakan akronim dari Konsorsium untuk Energi Mandiri dan Lestari. Anggota Konsorsium “KEMALA” terdiri dari

  1. Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia – Pengurus Besar Nahdlatul ‘Ulama (LAKPESDAM-PBNU), sebagai pimpinan Konsorsium,
  2. Pusat Studi Energi Universitas Gadjah Mada (PSE UGM),
  3. Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan Universitas Gadjah Mada (PSEK UGM), dan
  4. Center For Civic Engagement and Studies (CCES).

“KEMALA” mendapatkan hibah berasal dari Millenium Challenge Corporation (MCC) United States of America melalui lembaga trust fund Millenium Challenge Account Indonesia (MCA Indonesia) di bawah koordinasi Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia, dengan nilai hibah Rp 16.756.874.156,00.

Program yang dijalankan oleh “KEMALA” bernama Peningkatan Pendapatan Rumah Tangga Miskin melalui Usaha Hijau yang Didukung oleh Energi Terbarukan, di tiga lokasi:

  • Desa Sungai Rambut, Kecamatan Berbak, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi,
  • Desa Rawasari, Kecamatan Berbak, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi, dan
  • Jorong Tandai Bukik Bulek, Nagari Lubuk Gadang Timur, Kecamatan Sangir, Kabupaten Solok Selatan, Provinsi Sumatera Barat.

Program “KEMALA” yang memanfaatkan pendanaan dari MCA-Indonesia telah berakhir pada 23 Februari 2018, namun “KEMALA” melalui anggota-anggota Konsorsiumnya akan terus berupaya melanjutkan program di tiga lokasi tersebut dengan mencari peluang pendanaan lain di luar MCA-Indonesia.

Sebagai bagian dari keluaran program, “KEMALA” berhasil menerbitkan tiga buku. Sinopsis dan tautan untuk mengunduh versi elektronik buku tersebut adalah sebagai berikut:

Fikih Energi Terbarukan – Pandangan dan Respons Islam atas Pembangkit Listrik Tenaga Surya

Sinopsis

Dewasa ini, energi terbarukan (renewable energy, ath-thaqah almutajaddadah) merupakan kebutuhan yang sangat penting dan tidak bisa ditunda lagi. Kita tidak bisa lagi terus-menerus bergantung pada energi fosil. Ketersediaan sumber energi fosil semakin menipis. Menurut ahli, dengan pola konsumsi seperti sekarang, dalam waktu sekitar puluhan tahun cadangan bahan bakar fosil akan habis. Oleh karena itu, demi keberlangsungan kehidupan dan mengantisipasi kelangkaan energi, ikhtiar ilmiah pengolahan energi terbarukan adalah pilihan terbaik untuk dilakukan.

Buku ini mengkaji energi terbarukan dalam perspektif Islam (fikih). Pandangan ini sangat penting, karena mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam. Hampir setiap masalah selalu dimintakan pandangan keislaman. Meski begitu, buku ini juga memuat pengertian, klasifikasi, urgensi, pengembangan, dan seluk beluk terkait dengan energi terbarukan.

Buku ini sangat penting untuk meyakinkan bahwa inovasi energi terbarukan adalah sangat Islami dan didorong agama demi keterpeliharaan kemaslahatan umat manusia (mashalih al-‘ibad).

Buku Fikih Energi Terbarukan diberi sambutan oleh Ketua Umum PBNU (Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, MA), Ketua LAKPESDAM-PBNU sekaligus Principal Director “KEMALA” (Dr. H. Rumadi Ahmad), dan terdiri dari lima bab dan satu lampiran.

Tautan untuk mengunduh buku elektronik (format pdf): Fikih Energi Terbarukan – Pandangan dan Respons Islam atas PLTS

Energi Surya untuk Komunitas – Meningkatkan Produktivitas Masyarakat Pedesaan melalui Energi Terbarukan

Endorsment

“Buku ini sangat relevan bagi akademisi, pengambil kebijakan dan pelaku usaha. Ia menunjukkan bahwa pemanfaatan energi terbarukan tidaklah serumit yang dibayangkan dan semahal yang diperkirakan. Pilihan teknologi yang tepat dan pendekatan partisipatif menempatkan energi surya sebagai solusi potensial bagi permasalahan energi kita. Diperlukan keberpihakan
para pengambil kebijakan, agar inovasi yang mensejahterakan ini dapat diwujudkan di berbagai penjuru tanah air”.

Ir. Wijayanto Samirin, MPP,
(Staf Khusus Wakil Presiden Bidang Ekonomi dan Keuangan)

“Sejak kelahirannya, UGM memiliki mandat untuk mengabdi pada ilmu pengetahuan, kesejahteraan masyarakat, dan kemanusiaan. Buku ini merupakan akumulasi pengetahuan dan pengalaman tentang karya UGM untuk mengabdikan pengetahuan tentang energi terbarukan kepada masyarakat. Proses “scaling up” dan “scaling down” diorkestrasi melalui kemitraan. Karya yang menjadi rujukan tertulis  yang menginspirasi”.

drg. Ika Dewi Ana, M.Kes., Ph.D.,
(Wakil Rektor Bidang Penelitian dan Pengabdian

kepada Masyarakat Universitas Gadjah Mada)

“Energi dan pangan adalah dua aspek yg sangat krusial bagi kehidupan. Salah satu tantangan besar bangsa ini adalah peningkatan layanan energi guna peningkatan kesejahteraan masyarakat di pedesaan, termasuk di antaranya di berbagai daerah terluar dan tertinggal. Tugas tersebut menuntut kemampuan dalam mengintegrasikan teknologi energi ke dalam sistem sosial – budaya – ekonomi setempat yang khas untuk tiap daerah. Buku ini sangat menarik disimak karena memberi tambahan wawasan dan opsi praktis.”

Anwar Sanusi, MA, Ph.D.,
(Sekretaris Jenderal Kementerian Desa dan Pembangunan

Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT))

“Sebelumnya Konsorsium Kemala menerbitkan buku “Fikih Energi Terbarukan – Pandangan & Respons Islam atas PLTS”, melanjutkan seri tersebut maka tersusun buku perspektif PLTS tentang teknis instalasi, dinamika sosial dan lingkungan, untuk memastikan keberlanjutan pasca instalasi. Rujukan yang rajih (kuat, terpercaya) dan pengalaman nyata di lapangan, buku-buku Konsorsium Kemala diharapkan menjadi  penyemangat bagi pegiat energi terbarukan”.

Dr. H. Rumadi Ahmad,
(Principal Director Konsorsium KEMALA

dan Ketua Lakpesdam-PBNU)

Buku ini dibuka dengan sambutan penuh optimisme kepada energi terbarukan dari Rektor Universitas Gadjah Mada (Prof. Ir. Panut Mulyono, M. Eng., D. Eng.) serta disusun dalam enam bab termasuk kesimpulan dan penutup.

Tautan untuk mengunduh buku elektronik (format pdf): Energi Surya untuk Komunitas

Sekolah Hijau – Sebuah Alternatif Model Pemberdayaan Masyarakat Pedesaan

Buku ini merupakan cerita pemberdayaan masyarakat dalam program “KEMALA” dengan menggunakan “Sekolah Hijau” sebagai brand-nya. Buku yang terbagi atas tiga bagian, 12 bab, dan sebuah epilogi ini mencakup pembahasan teori pemberdayaan yang diterapkan, profil lokasi program, dan bagaimana teori tersebut dipraktekkan di lapangan. Sambutan dalam buku ini ditulis oleh Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian UGM sekaligus Wakil Ketua UMUM Pengurus Besar NU yang juga menjadi Ketua Steering Commitee “KEMALA”.

Tautan untuk mengunduh buku elektronik (format pdf): Sekolah Hijau

Perkawinan Antar Pemeluk Agama yang Berbeda

Dikutip tanpa perubahan dari buku Wawasan al-Quran: Tafsir Tematik atas Pelbagai Persoalan Umat karya M. Quraish Shihab, halaman 259-264 (Penerbit Mizan tahun 1996, Cetakan II – Desember 2007)

Perkawinan Antar Pemeluk Agama yang Berbeda

Al-Quran juga secara tegas melarang perkawinan dengan orang musyrik seperti Firman-Nya dalam surat Al-Baqarah (2): 221,

Larangan serupa juga ditujukan kepada para wali agar tidak menikahkan perempuan-perempuan yang berada dalam perwaliannya kepada laki-laki musyrik.

Menurut sementara ulama walaupun ada ayat yang membolehkan perkawinan pria Muslim dengan wanita Ahl Al-Kitab (penganut agama Yahudi dan Kristen), yakni surat Al-Maidah (5): 5 yang menyatakan,

Tetapi izin tersebut telah digugurkan oleh surat Al-Baqarah ayat 221 di atas. Sahabat Nabi, Abdullah Ibnu Umar, bahkan mengatakan:

Pendapat ini tidak didukung oleh mayoritas sahabat Nabi dan ulama. Mereka tetap berpegang kepada teks ayat yang membolehkan perkawinan semacam itu, dan menyatakan bahwa walaupun aqidah Ketuhanan ajaran Yahudi dan Kristen tidak sepenuhnya sama dengan aqidah Islam, tetapi Al-Quran tidak menamai mereka yang menganut Kristen dan Yahudi sebagai orang-orang musyrik. Firman Allah dalam surat A1-Bayyinah (98): 1 dijadikan salah satu alasannya.

Ayat ini menjadikan orang kafir terbagi dalam dua kelompok berbeda, yaitu Ahl Al-Kitab dan Al-Musyrikin. Perbedaan ini dipahami dari kata “wa” yang diterjemahkan “dan”, yang oleh pakar bahasa dinyatakan sebagai mengandung makna “menghimpun dua hal yang berbeda”.

Larangan mengawinkan perempuan Muslimah dengan pria non-Muslim–termasuk pria Ahl Al-Kitab–diisyaratkan oleh Al-Quran. Isyarat ini dipahami dari redaksi surat Al-Baqarah (2): 221 di atas, yang hanya berbicara tentang bolehnya perkawinan pria Muslim dengan wanita Ahl Al-Kitab, dan sedikit pun tidak menyinggung sebaliknya. Sehingga, seandainya pernikahan semacam itu dibolehkan, maka pasti ayat tersebut akan menegaskannya.

Larangan perkawinan antar pemeluk agama yang berbeda itu agaknya dilatarbelakangi oleh harapan akan lahirnya sakinah (ketenangan – tambahan dari Ahmad R. Wardhana) dalam keluarga. Perkawinan baru akan langgeng dan tenteram jika terdapat kesesuaian pandangan hidup antar suami dan istri, karena jangankan perbedaan agama, perbedaan budaya, atau bahkan perbedaan tingkat pendidikan antara suami dan istri pun tidak jarang mengakibatkan kegagalan perkawinan. Memang ayat itu membolehkan perkawinan antara pria Muslim dan perempuan Utul-Kitab (Ahl Al-Kitab), tetapi kebolehan itu bukan saja sebagai jalan keluar dari kebutuhan mendesak ketika itu, tetapi juga karena seorang Muslim mengakui bahwa Isa a.s. adalah Nabi Allah pembawa ajaran agama. Sehingga, pria yang biasanya lebih kuat dari wanita–jika beragama Islam–dapat mentoleransi dan mempersilakan Ahl Al-Kitab menganut dan melaksanakan syariat agamanya,

Ini berbeda dengan Ahl Al-Kitab yang tidak mengakui Muhammad
Saw. sebagai nabi.

Di sisi lain harus pula dicatat bahwa para ulama yang membolehkan perkawinan pria Muslim dengan Ahl Al-Kitab, juga berbeda pendapat tentang makna Ahl Al-Kitab dalam ayat ini, serta keberlakuan hukum tersebut hingga kini. Walaupun penulis cenderung berpendapat bahwa ayat tersebut tetap berlaku hingga kini terhadap semua penganut ajaran Yahudi dan Kristen, namun yang perlu diingat bahwa Ahl Al-Kitab yang boleh dikawini itu, adalah yang diungkapkan dalam redaksi ayat tersebut sebagai “wal muhshanat minal ladzina utul kitab”. Kata al-muhshnnat di sini berarti wanita-wanita terhormat yang selalu menjaga kesuciannya, dan yang sangat menghormati dan mengagungkan Kitab Suci. Makna terakhir ini dipahami dari penggunaan kata utuw yang selalu digunakan Al-Quran untuk menjelaskan pemberian yang agung lagi terhormat.[1] Itu sebabnya ayat tersebut tidak menggunakan istilah Ahl Al-Kitab, sebagaimana dalam ayat-ayat lain, ketika berbicara tentang penganut ajaran Yahudi dan Kristen.

Pada akhirnya betapapun berbeda pendapat ulama tentang boleh tidaknya perkawinan Muslim dengan wanita-wanita Ahl Al-Kitab, namun seperti tulis Mahmud Syaltut dalam kumpulan fatwanya.[2]

Pendapat para ulama yang membolehkan itu berdasarkan kaidah syar’iyah yang normal, yaitu bahwa suami memiliki tanggung jawab kepemimpinan terhadap istri, serta memiliki wewenang dan fungsi pengarahan terhadap keluarga dan anak-anak. Adalah kewajiban seorang suami Muslim berdasarkan hak kepemimpinan yang disandangnya untuk mendidik anak-anak dan keluarganya dengan akhlak Islam. Laki-laki diperbolehkan mengawini non-Muslimah yang Ahl Al-Kitab, agar perkawinan itu membawa misi kasih sayang dan harmonisme, sehingga terkikis dari hati istrinya rasa tidak senangnya terhadap Islam. Dan dengan perlakuan suaminya yang baik yang berbeda agama dengannya itu, sang istri dapat lebih mengenal keindahan dan keutamaan agama Islam secara amaliah praktis, sehingga ia mendapatkan dari dampak perlakuan baik itu ketenangan, kebebasan beragama, serta hak-haknya yang sempurna, lagi tidak kurang sebaik istri.

Selanjutnya Mahmud Syaltut menegaskan bahwa kalau apa yang
dilukiskan di atas tidak terpenuhi –sebagaimana sering terjadi pada masa kini– maka ulama sepakat untuk tidak membenarkan perkawinan itu, termasuk oleh mereka yang tadinya membolehkan.

Kalau seorang wanita Muslim dilarang kawin dengan non-Muslim karena kekhawatiran akan terpengaruh atau berada di bawah kekuasaan yang berlainan agama dengannya, maka demikian pula sebaliknya. Perkawinan seorang pria Muslim, dengan wanita Ahl Al-Kitab harus pula tidak dibenarkan jika dikhawatirkan ia atau anak-anaknya akan terpengaruh oleh nilai-nilai yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam.

[1] Kata utuw, dalam berbagai bentuknya terulang di dalam al-Quran sebanyak 32 kali. Al-Quran menggunakannya untuk anugerah yang agung berupa ilmu atau Kitab Suci.

[2] Mahmud Syaltut 1959: 253

Kesungguhan Niat dan Keberkahannya

Sering sekali kita mendengar istilah niat kaitannya dengan ibadah. Apa sebenarnya makna niat?

Secara kebahasaan niat adalah: maksud atau tujuan perbuatan. Secara praktis, wujud niat itu menyengaja, yakni ada kesengajaan mengerjakan sesuatu, dan tujuan bersengaja tersebut adalah karena Allaah. Nabi Muhammad SAW bersabda,

Sesungguhnya niat letaknya di hati, atau dalam bahasa Jawa, krenteging ati untuk melakukan sesuatu dengan tujuan tertentu. Banyak bentuknya. Ada yang cukup dari hati. Ada yang dengan ucapan. Para ulama menyusun bacaan niat adalah sebagai penuntun agar hati kita niatnya jelas, tujuannya lurus. Maka muncul bacaan niat shalat, niat puasa, niat wudlu, dan lain sebagainya.

Ada yang dibaca bersama, seperti niat puasa, adalah sebagai pendidikan untuk semua umat, ayo bareng-bareng digenahke niate. Saat shalat pun bermacam-macam. Ketika kita berangkat ke Masjid untuk shalat, maka sesungguhnya niat tersebut sudah mewujud. Insya-Allaah cukup mencakup hadits Rasuulullaah SAW tentang niat tadi.

Tetapi agar mantap, disempurnakan juga tidak masalah. Maka muncul sebagian ulama dan umat, membaca niat khusus sesaat sebelum shalat. Kenapa perlu diucapkan? Ya untuk ngencengke tekad tadi. Ushalli fardlal subhi, rak-‘atayni, mustaqbilal qiblati, makmuuman, lillaahi ta’aala. Layaknya iman yang mencakup di dalam hati, lisan, dan perbuatan, begitu pula dengan niat, wujudnya juga akan lebih baik, jika mencakup ketiganya.

Hadirin rahimakumullaah.

Sudah sering kita dengar bagaimana fungsi niat dan pahala yang diperoleh, bahwa apa yang diniatkan, itulah yang kita peroleh. Dalam konteks masa hijrah Nabi Muhammad SAW, ada yang hijrah karena perempuan dan harta, maka harta dan perempuan tersebutlah batas perolehannya, tidak sampai kepada Allaah.

Atau ketika pasukan Abrahah mencoba menyerang Ka’bah, pasukan dihabiskan oleh Allaah dari depan sampai belakang, sehingga Sayyidatina ‘Aisyah bertanya kepada Rasuulullaah SAW, bagaimana status mereka yang berniat berdagang, bukan menyerang Ka’bah atau bukan termasuk golongan mereka (Abrahah)? Rasuulullaah SAW menjawab,

Atau bagaimana niat shadaqah yang lebih karena ingin dilihat orang lain, bukan karena ingin membantu? Maka yang didapat ya hanya pujian orang lain, tanpa pahala di sisi Allaah.

Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, menggambarkan bagaimana niat sebuah perbuatan mampu membawa keberkahan yang lebih daripada seharusnya.

Hadirin rahimakumullaah.

Hadits ini menunjukkan bahwa orang bersedekah mendapatkan pahala kebaikan sesuai dengan niatnya, walaupun sedekah ternyata diberikan kepada yang tidak berhak, yaitu orang kaya. Syaratnya, ia tidak tahu bahwa ia salah sasaran (tidak sengaja salah sasaran). Maksudnya baik, niatnya baik, pahala sedekah pun ia peroleh.

Hadits ini juga memberi pelajaran kepada kita bahwa niat baik tidak boleh berhenti sekalipun dikomentari orang lain. Bahkan, niat baik dan lurus, yang dikerjakan penuh kesungguhan, hanya karena Allaah, akan mendatangkan keberkahan berlipat dalam konteks hadits tersebut: mencegah orang mencuri, mencegah orang menjual diri, mendorong orang kaya melakukan sedekah.

Pun dengan i’tikaf kita. Niatkan karena Allaah, yakni mendekatkan diri kepada Allaah. Bukan karena status atau ingin dilihat orang lain. Sehingga ibadah i’tikaf akan membekas, di mana nama-nama Allaah yang baik, asmaul husna, Dzat yang sedang kita dekati, juga muncul dalam keseharian dan kehidupan sosial kita.

Sebagai penutup, akan saya berikan kisah masyhur yang konon terjadi pada diri Abu Nawas, kaitannya dengan keteguhan niat.

Suatu hari Abu Nawas bersama anaknya hendak menjual keledai ke pasar hewan. Keduanya berjalan kaki tanpa menunggangi keledainya.

Bertemulah ketiganya (dua manusia dan satu keledai) dengan seseorang dari arah berlawanan, di mana orang tersebut (yang tidak kenal dengan Abu Nawas, anaknya, maupun keledainya), berucap kepada rombongan Abu Nawas, “Ada keledai kok tidak dikendarai”,

Abu Nawas bereaksi, kemudian mengendarai keledainya.

Beberapa saat kemudian, rombongan Abu Nawas bertemu lagi dengan orang lain, sama tidak kenalnya, yang melontarkan komentar, “Orang tua kok tidak sayang anaknya. Anaknya jalan, ayahnya naik keledai”.

Abu Nawas bereaksi lagi, turun dari keledai dan menyuruh anaknya gantian mengendarai keledai.

Belum lama anak Abu Nawas berkendara, bertemulah mereka dengan seorang lagi yang tak mereka kenal, namun berkomentar, “Dasar anak durhaka. Ayahnya jalan kaki, yang muda naik kendaraan!”

Abu Nawas mendengarnya dan kemudian berboncengan bersama anaknya mengendarai sang keledai.

Lha kok belum berjalan lama, ketemu lagi dengan orang lain yang berkomentar, “Dasar manusia tak menghargai sesama makhluk ciptaan Allaah! Tahu keledai gak besar, masih juga dikendarai dua orang!”

Sambil menahan amarah, Abu Nawas berkata kepada anaknya, “sekarang kita turun dari keledai ini dan kita gendong keledai ini hingga tiba di pasar hewan! Tidak perlu dengarkan orang lain!”

Hadirin yang dirahmati Allaah SWT, demikianlah sikap yang benar dalam menghadapi suara orang lain. Ada dua jenis suara orang lain kepada kita, (1) suara dari orang yang tidak kenal dengan kita, hanya melihat sepintas pada diri kita, kemudian bersuara, ini disebut sebagai komentar; dan (2) suara dari orang yang kenal baik dengan kita, tahu persis siapa diri kita, sehingga menyuarakan pendapatnya, ini disebut sebagai nasihat.

Aktivitas kita sehari-hari, hingga langkah-langkah serius dan beresiko yang kita lakukan untuk mencapai cita-cita, kadang berhenti atau menjadi lambat, hanya karena mendengar komentar orang lain. Padahal, komentar harus selalu kita abaikan. Yang harus didengar adalah nasihat, bukan komentar.

Kalau sudah niat melakukan kebaikan karena Allaah, madhep manteb hanya mengharap ridla Allaah, kenapa harus repot mendengarkan komentar dan suara dari orang yang tidak kenal dengan kita? Cukup tolak dengan akhlak baik, seperti kita katakan, matur nuwun atas nasihatnya, ya, akan coba saya perhatikan. Tapi abaikan jika menghambat! Karena sesungguhnya itu hanya komentar saja.

Dengarkan nasihat dari mereka yang mengenal kita dengan baik, dari mereka yang sungguh-sungguh mengharap kebaikan kepada diri kita. Ingat selalu kisah Abu Nawas tadi sebagai ukuran untuk membedakan antara mana yang komentar, mana yang nasihat, agar semakin mudah bagi kita menjalani hidup dan ibadah.