Bahkan Museum Adam Malik pun Dijual

Saya kutip tanpa perubahan dari “Majalah Detik” edisi 23-29 Desember 2013.

Saya kutip dan tulis di blog saya, agar menjadi perhatian kita bersama, bahwa urusan nasionalisme dan kebangsaan bukan hanya melulu tentang prestasi dan visi ke depan, tapi juga bagaimana nilai-nilai masa lalu bisa kita pelihara sebagai akar bagi kehidupan masa depan bangsa kita.

Saya sebagai pencinta buku (berbagai jenis genre, keagamaan, novel, ilmiah populer, bahkan komik) sekaligus pencinta sejarah, sangat sedih dan hampir menangis membaca artikel ini. Semoga tidak terulang lagi di negeri kita.

Sahabat saya, alumnus S1 Ilmu Budaya Gadjah Mada berangkat ke Belanda untuk belajar di Leiden selama dua tahun. Saya berpesan kepada dia, agar kelak membawa kembali pusaka Nusantara yang kini tersebar di tanah Belanda. Tapi melihat penghargaan masyarakat kita yang masih kurang tentang peninggalan sejarah, saya jadi ragu dengan pesan saya sendiri tersebut.

Berikut ini adalah kutipannya, dan selamat membaca, semoga mampu menarik hikmahnya.

Kekayaan Adam Malik menguap satu per satu. Keluarga menjual segala koleksi dan kekayaannya. peruntungan mereka dalam bisnis dan politik kurang bagus.

Ribuan buku menumpuk di  teras sebuah rumah di Jalan Masjid Al Barkah Barat Nomor 135, Cireundeu, Jakarta Selatan. Rumah itu adalah rumah Gunajaya Malik. Gunajaya adalah cucu mantan wakil presiden Adam Malik dari anak ketiga, Budisita Malik.

Buku yang menumpuk itu merupakan koleksi Adam Malik. Pada tahun 2002, keluarga menjual koleksi buku tersebut, yang diborong oleh Ependi Simanjutak.

“Kudapat itu dari sopir keluarga Adam Malik, ke perantara. Namanya Boyong. Sopirnya saya enggak kenal,” ujar pedagang buku bekas yang biasa disapa Ucok itu.

Ucok, yang kini memiliki toko buku bekas bernama Guru Bangsa di Lebak Bulus, Jakarta Selatan, membeli buku tersebut secara kiloan. Per kilogram buku, Ucok membayar Rp 3.000. Bobot seluruh buku itu mencapai 25 ton, sehingga total harga buku sekitar Rp 75 juta.

Saking banyaknya buku, sampai-sampai Ucok perlu berhari-hari untuk memboyong semua buku sedikit demi sedikit. “Sudah kayak benteng mau perang. Saya kerahkan 10 orang. Saya angkutin1 ton tiap hari,” ujarnya.

Ucok merasa beruntung karena buku-buku Adam Malik merupakan buku yang bermutu. Sebagai diplomat, Adam Malik—menjadi Duta Besar Uni Soviet dan Polandia pada pemerintahan Sukarno, dan kemudian menjadi Menteri Luar Negeri sampai wakil presiden pada pemerintahan Soeharto—memiliki pergaulan yang sangat luas. Para kolega, yang terdiri atas tokoh penting di banyak negara, tidak jarang menghadiahinya buku dan barang antik.

Misalnya, di antara buku-buku Adam Malik yang dijual Ucok kepada kolektor buku terdapat surat yang menjelaskan buku tersebut merupakan hadiah ulang tahun Adam Malik dari seorang pejabat di Moskow. Pejabat Rusia itu memberikan hadiah kepada pria yang lahir pada 22 Juli 1917 itu satu set buku seni yang langka berisi 13 buku.

“Please accept a modest birth  day present from Moscow,”tulis pejabat itu dalam suratnya kepada Adam Malik tertanggal 22 Juli 1973. “The edition was very limited,” tambah sang pengirim soal buku terbitan 1972 itu.

Buku-buku koleksi Adam Malik itu baru habis dijual Ucok setelah 5 tahun. “Itu buku dari Museum Adam Malik, itu jatuhnya semuanya sama aku. Aku juga dapat catatan harian dia, tapi sudah kukasih ke teman,” ujarnya.

Koleksi buku memang merupakan bagian dari Museum Adam Malik di Jalan Diponegoro Nomor 29, Menteng, Jakarta Pusat. Koleksi buku Adam Malik sangat berharga. Beberapa buku sudah berusia tua, bahkan ada yang berasal dari abad ke-17. Beberapa buku juga merupakan pemberian langsung tokoh-tokoh dunia, seperti Mahatma Gandhi, Benigno Aquino, dan Benazir Bhutto.

Museum Adam Malik berdiri pada 5 September 1985, genap satu tahun setelah Adam Malik meninggal. Museum ini menampung benda seni dan bersejarah serta buku-buku koleksi Adam Malik. Barang-barang yang dikumpulkan saat Adam Malik menjabat tersebut bisa di akses oleh masyarakat umum.

Sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Asvi Warman Adam, menuturkan Adam Malik memiliki selera seni tinggi. Posisi Menteri Luar Negeri membuatnya leluasa mendapatkan barang-barang seni dari dalam dan luar negeri. “Memang koleksinya tidak sehebat Bung Karno, tapi dia punya koleksi lumayan karena seleranya tadi,” jelasnya.

Keluarga Adam Malik sendiri sepakat mengelola museum secara pribadi. Adam Malik menikah dengan Nelly pada 1942 dan memiliki lima anak. Mereka adalah Otto Adam Malik, Imron Malik, Ilham Malik, Antarini Malik, dan Budisita Malik. Kini anak Adam Malik yang masih hidup adalah Otto dan Antarini.

Museum Adam Malik menampung 13 jenis koleksi, yaitu lukisan non-Cina, lukisan Cina, ikon Rusia, keramik, buku, senjata tradisional, patung batu dan logam, ukiran kayu, batu permata, emas, tekstil, kristal, serta fotografi.

Bukan hanya koleksi buku yang habis. Koleksi Adam Malik satu per satu menghilang dari museum. Keturunan Adam Malik sendirilah yang justru menjual koleksi museum. Alasannya, untuk biaya operasional museum.

Ilham Malik (almarhum), anak keempat Adam Malik, konon menjual koleksi museum berupa lukisan Penari-Penarikarya Trubus dan ikon seni pahat khas gereja ortodoks Eropa Timur. Penjualan koleksi itu dilakukan untuk membiayai perawatan Museum Adam Malik.

Gunajaya mengaku keluarganya kerepotan memelihara museum itu. Biayanya mencapai Rp 16-20 juta per bulan. Sedangkan pajak bangunan Rp 80 juta setahun. Apalagi usia Nelly Adam Malik semakin uzur.

“Museum ditutup karena waktu itu biaya pemeliharaannya tinggi. Itu kan seharusnya fasilitas dibayar negara, tapi kami minta ke PLN tidak diberi subsidi semuanya,” jelas Guna.

Namun penjualan koleksi ini tak dapat menyelamatkan Museum Adam Malik. Puncaknya, museum itu bangkrut pada 2005-2006. Otto Malik, anak pertama, menjual gedung bekas tempat tinggal bapaknya itu kepada Hary Tanoesoedibjo. Kini museum tersebut menjadi kantor  sekretariat Persatuan Indonesia (Perindo), organisasi kemasyarakatan bentukan Hary.

Penjualan gedung ini membuat seluruh koleksi berharga museum tercerai-berai. Ahli waris Adam Malik menjual koleksi sekenanya saja. Pusat Arkeologi Nasional menemukan prasasti Shankara dari zaman Kerajaan Mataram kuno (abad ke-8 Masehi) koleksi Museum Adam Malik di tukang loak pada September 2012.

Bukan hanya itu, dari data internet juga bisa diketahui jual-beli koleksi Museum Adam Malik di laman archive situs www.kaskus.co.id tertanggal 29 Januari 2010. Akun bernama Rudy Maulana menjual lukisan keramik karya pelukis Belanda, J. Van Dijk, tahun 1941 seharga Rp 2,5 juta. Rudy menyebutkan lukisan itu sebelumnya merupakan koleksi nomor 10 Museum Adam Malik. Koleksi tersebut terjual kepada seorang kolektor bernama Hermawan Lukman dari Bandung.

Gunajaya membantah jika keluarganya dikatakan menghabiskan seluruh koleksi Museum Adam Malik. Ia mengaku masih menyimpan beberapa koleksi buku Adam Malik. Sedangkan koleksi keramik masih disimpan oleh keluarga Ilham dan Antarini. “Jadi saya tidak pernah terlibat dalam pengelolaan barang-barang eks museum. Tetapi sebagian buku ada di saya, buku-buku tua,” akunya.

Asvi menyebutkan pengelolaan museum secara pribadi oleh ahli waris membawa dampak buruk. Keluarga Adam Malik memiliki catatan kurang bagus dalam berbisnis maupun berpolitik. Usaha mereka mengembangkan bisnis melalui yayasan justru berbuah masalah hukum.

Nelly Adam Malik berusaha mendirikan Rumah Sakit Emergency melalui Yayasan Mekarsari. Permohonan pendirian ini diajukan pada tahun 1980 di daerah Pulomas, Jakarta Timur. Namun usaha ini urung dilakukan karena tidak ada modal.

Pada tahun 1985, mereka mengubah nama  yayasan menjadi Yayasan Adam Malik. Yayasan ini kembali mengajukan kembali izin pendirian rumah sakit  hewan di tempat yang sama pada tahun 1989. Namun izin ini ditolak oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dengan alasan pemanfaatan tanah untuk pembangunan danau buatan.

Dua kali tidak berhasil membangun rumah sakit, keluarga Adam Malik membuka usaha besi tua. Mereka membina pemulung di Pulomas. Kini mereka bersengketa dengan Pemprov DKI Jakarta mengenai status lahan di kawasan Waduk Ria Rio, Jakarta Timur, itu.

Otto Malik juga terlilit masalah hukum setelah terlibat dalam sengketa pengelolaan Yayasan Harapan Ibu Pondok Pinang. Ia harus menghadap ke meja hijau pada 11 September 2013 karena terlibat pemukulan dan pemaksaan masuk pekarangan orang lain.

Nasib anak-anak Adam Malik pun tidak secemerlang bapaknya di dunia politik. Satu-satunya anak yang berkecimpung di dunia politik adalah Antarini Malik. Ia berhasil duduk sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat periode 2004-2009 mewakili daerah pemilihan Sumatera Utara I dari Fraksi Partai Golkar.

Namun, pada periode 2009-2014, ia gagal masuk DPR dari daerah pemilihan yang sama. Kini ia kembali maju sebagai calon legislator Partai Golkar mewakili daerah pemilihan Banten I.