Uraian tentang Kebaikan

Di dalam ajaran Islam, dikenal terminologi birr atau kebajikan, sebagaimana kita sering mendengar istilah birrul-walidayn, berbuat baik kepada kedua orang tua atau berbakti kepada kedua orang tua. Kebajikan atau birr pengertiannya mencakup semua kebaikan. Bahkan sesuatu yang sederhana, seperti ucapan baik dan wajah berseri.

Ucapan yang baik akan mengarah pada tindakan yang baik. Sementara menampakkan wajah berseri ketika bertemu teman dan kerabat adalah tanda kebajikan. Sikap yang demikian, yakni mengucapkan tentang kebaikan dengan cara yang baik serta menampakkan wajah yang berseri, akan dapat menarik hati, menanamkan kecintaan dan kasih sayang, dan menumbuhkan ketenangan. Berbeda dengan ucapan kasar dan muka masam, dua hal ini tidak disukai dan dijauhi semua orang. Maka sungguh, bahwa Islam adalah ajaran yang mengajak semua orang menuju pada kebaikan.

Hadirin rahimakumullah. Islam mengajarkan kita berbicara dengan baik dan menampakkan wajah berseri ketika bertemu dengan orang-orang terkasih. Cara ini berguna untuk menebarkan dakwah Islam di kalangan semua orang dan menumbuhkan rasa cinta kepada sesama. Allaah SWT memerintahkan di dalam surah al-Hijr ayat 88,

 photo uraian kebaikan - 1_zpskm3yrsjy.png

Kata janaaha pada mulanya berarti sayap. Penggalan ayat ini mengilustrasikan sikap dan perilaku seseorang seperti halnya seekor burung yang merendahkan sayapnya pada saat ia hendak mendekat kepada pasangannya. Begitu pula saat melindungi anak-anaknya, dengan sayapnya yang dikembangkan dengan merendah dan merangkul, tidak beranjak dari tempatnya berada hingga bahaya yang mengancam anak-anaknya telah berlalu.

Gambaran ini membawa ayat wakhfidl janahaka lil-mu’miniina, rendahkanlah sayapmu kepada orang-orang mukmin, dapat dimaknai agar mewujudkan kerendahan hati, hubungan harmonis, perlindungan, dan ketabahan bersama kaum beriman, khususnya pada kondisi sulit dan krisis.

Sikap baik ini ditekankan pula tentang bagaimana seorang utusan Allaah SWT menjalankan tugas kerasulannya. Allaah SWT berfirman di dalam surah ‘Ali Imron ayat 159,

uraian kebaikan - 2

Selain menggambarkan tentang watak utusan Allaah Ta’aala yang harus penuh kelembutan baik hati maupun perilakunya, ayat ini juga menunjukkan adanya pendidikan langsung dari Allaah Ta’aala kepada Nabi Muhammad SAW. Allaah SWT mendidik langsung dengan menghilangkan faktor-faktor yang memengaruhi terbentuknya kepribadian seorang manusia.

Ayah Nabi Muhammad SAW wafat sebelum Nabi lahir dan dibawa jauh dari ibu beliau sejak kecil untuk disusukan. Nabi Muhammad SAW tidak mampu membaca dan menulis dan hidup di masyarakat yang belum begitu maju jika dibandingkan dengan peradaban di sekitar jazirah arab yang sudah maju pada masa itu, seperti munculnya peradaban dengan pemerintahan kerajaan di Persia dan Romawi.

Maka sesungguhnya, Allaah takdirkan hilangnya empat faktor yang biasanya mendidik manusia dari Nabi Muhammad SAW, yakni ayah, ibu, bacaan, dan lingkungan. Hampir tidak ada yang menyentuh kehidupan Nabi Muhammad SAW dari keempat faktor pendidikan tersebut. Namun, perangai seorang Nabi Muhammad SAW tetap penuh dengan keluhuran, penuh dengan kebajikan, penuh dengan kelembutan, baik di hati maupun di perilaku. Inilah yang dimaksud dalam ayat fabimaa rahmatim-minallaah linta-lahum, maka disebabkan rahmat dari Allaah-lah, engkau berlaku lemah-lembut terhadap mereka.

Kondisi Nabi Muhammad yang dididik langsung dari Allaah juga ditekankan kemudian dalam ayat walaw kunta fazh-zha ghalizhal-qalbi, sekiranya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, di mana Allaah gunakan redaksi berupa pengandaian bersyarat yang tidak mungkin terwujud dengan menggunakan kata law atau diartikan sebagai sekiranya. Artinya, sikap keras dan hati kasar tersebut hanyalah pengandaian yang tak mungkin terwujud dari sosok seorang Nabi Muhammad SAW. Inilah wujud pendidikan dari Allaah SWT.

Kemudian dari ayat ini pula, Allaah Ta’aala mengingatkan umat manusia tentang kesatuan hati dan perbuatan. Bahwa Nabi Muhammad SAW adalah manusia yang penuh kebaikan, luar maupun dalam: yang tampak dari luar, yakni tidak berlaku keras sekaligus, tidak berhati kasar, yaitu sesuatu yang tersembunyi di dalam diri seorang manusia. Sehingga nasihatnya adalah jangan setengah-setengah dalam berbuat baik: bukan menjadi seorang yang berlaku keras walaupun sesungguhnya berhati lembut dan bukan pula menjadi seseorang yang hatinya lembut tetapi tak mengerti sopan santun sehingga keras perbuatan lahirnya. Inilah teladan dari seorang Nabi Muhammad SAW, bersungguh-sungguh dalam mewujudkan kebaikan, di hati maupun di lisan dan perbuatan.

Hadirin rahimakumullaah, demikian pula dengan anjuran dalam banyak hadits Nabi Muhammad SAW yang sejalan dengan perintah berbuat baik dari al-Qur’an. Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, dari ‘Adiy bin Haatim, misalnya, Nabi Muhammad SAW bersabda,

uraian kebaikan - 3

Hadits ini menganjurkan amalan sekalipun hanya bisa sedikit. Allaah Ta’aala memastikan bahwa sebuah kebaikan akan mendapatkan balasan, sekecil apapun kebaikan tersebut,

uraian kebaikan - 3B

Begitu pula dengan berbicara dengan lembut, termasuk sebagai sedekah yang mendatangkan pahala. Sebab, ucapan yang lembut menunjukkan rasa hormat dan menghargai kedudukan orang lain. Kata-kata yang baik dapat menghilangkan dendam dan kebencian dalam jiwa. Nabi Muhammad SAW, diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Abu Hurairah RA, pernah bersabda,

 photo uraian kebaikan - 4_zpsfcphxslo.png

Demikian juga dengan senyuman, keceriaan, ucapan lembut dan baik, semua merupakan sedekah, bagaikan bersedekah harta. Imam Muslim meriwayatkan ucapan Nabi Muhammad SAW yang bersumber dari Abu Dzarr RA,

uraian kebaikan - 5

Kebaikan dalam hadits ini bermakna sesuatu yang dianggap baik menurut ajaran Islam dan didukung akal sehat. Adapun dengan wajah ramah atau wajah berseri-seri adalah menampakkan kegembiraan, penuh toleransi, dan senang bertemu orang lain. Ekspresi seperti ini dapat menanamkan rasa cinta dan kasih sayang dalam hati.

Al-Qur`an membandingkan dampak perkataan baik di tengah masyarakat, sebagaimana Allaah firmankan di dalam surah Ibrahim ayat 24-26,

uraian kebaikan - 6

Para ulama tafsir memaknai kalimat yang baik yang diumpakan pohon tersebut adalah kalimat tauhid, yakni kalimat laa-ilaaha-illa-Llaah, tiada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allaah SWT. Inilah kalimat kesaksian kita kepada Allaah Ta’aala.

Ketika keimanan kepada Allaah Ta’aala mewujud di dalam hati, maka sudah seharusnya rukun iman pun turut mewujud: keimanan akan malaikat-malaikat Allaah, kitab-kitab Allaah, para utusan Allaah, takdir dan ketentuan Allaah, serta Hari Pembalasan. Keimanan yang sempurna adalah iman yang diikuti dengan keislaman.

Tentu saja bukan sekedar dalam batasan Rukun Islam yang lima, yakni dua kalimat kesaksian, salat lima waktu, puasa, zakat, dan haji; tapi juga islam dalam makna kedamaian dan keselamatan: yakni bagaimana diri kita mampu mendatangkan keduanya seiring dengan perjalanan kehidupan kita. Bahwa kehadiran kita adalah kedamaian bagi diri sendiri dan orang lain, bahwa lisan kita adalah keselamatan bagi diri sendiri dan orang lain, bahwa perbuatan kita adalah kelembutan bagi diri sendiri dan orang lain.

Hadirin rahimakumullaah, di surah al-‘Alaq ayat kedua Allaah berfirman, khalaqal insaana min ‘alaq, yang menciptakan manusia dari ‘alaq. ‘Alaq dapat dimaknai sebagai segumpal darah atau dapat pula dimaknai sebagai sesuatu yang bergantung di dinding rahim. Pengertian ini membawa makna akan satu di antara sifat-sifat dasar manusia: bergantung menunjukkan kebutuhan kepada orang lain. Kebutuhan kepada Allaah Ta’aala jelas nyata, tapi kebutuhan kepada sesama manusia juga ada. Allaah sampaikan firman ini setelah memerintahkan kita membaca, iqra` bismirabbikalladzi khalaq, bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang mencipta, kemudian ayat khalaqal insaana min ‘alaq.

Maknanya: iqra`, bacalah, yakni manfaatkanlah ilmu pengetahuan dan teknologi, tapi ingatlah, bismirabbikalladzi khalaq, dengan menyebut nama Tuhanmu yang mencipta, bahwa semua harus diliputi suasana ingat kepada Tuhan, sehingga kemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut haruslah kembali kepada kemakmuran manusia karena khalaqal insaana min ‘alaq, diciptakan dari sesuatu yang bergantung di dinding rahim, karena sesama manusia saling membutuhkan satu sama lain.

Maka, mari kita tegakkan kalimat tauhid dengan sebenarnya, yakni bukan sekedar mengucapkannya bagi diri sendiri atau bahkan justru beralih untuk menebar teror dan ketakutan bagi orang lain, tapi menyempurnakannya dengan keislaman, yakni menjalani perintah agama dengan sesungguh-sungguhnya, agar terwujud keselamatan, kedamaian, dan kebaikan di muka bumi karena kehadiran kita.

Semoga Allaah Ta’aala memudahkan usaha kita untuk selalu memiliki hati yang lembut dan berniat baik, sekaligus mampu mewujudkannya dalam bentuk kata-kata dan perbuatan baik. Aamiin, ya Rabbal ‘aalamiin.

Implementasi Energi Terbarukan Berbasis Komunitas

Teksnya dapat diunduh pada tautan berikut ini: TEKS

Kerusakan Lingkungan dalam Pandangan Islam

Kondisi perekonomian sebagai cerminan kondisi kesejahteraan fisik umat manusia, dalam dua abad terakhir mengalami peningkatan luar biasa. Namun demikian, kemajuan tersebut harus dibayar sangat mahal. Kualitas lingkungan hidup terdegradasi luar biasa parah. Sekitar separo hutan di muka bumi telah hilang, reduksi keanekaragaman parah terjadi di banyak tempat, air tanah terus terkuras dan terkontaminasi, polusi udara meningkat di sangat banyak tempat dan berbagai bencana serta potensi bencana lanjutan terkait perubahan iklim global terus bermunculan. Sementara itu sekitar seperlima penduduk dunia saat ini masih tetap hidup miskin. Kebutuhan untuk meningkatkan taraf hidup penduduk, termasuk lapisan miskinnya dan sekian banyak penduduk lagi yang akan lahir, menuntut berbagai kemajuan di bidang ekonomi. Jika pola pertumbuhan yang dianut saat ini terus berlanjut, maka tekanan destruktif pada daya dukung lingkungan dan ketersediaan berbagai sumber daya alam akan meningkat. Indonesia juga menghadapi masalah serupa [1].

Kerusakan lingkungan akibat perbuatan manusia, termasuk untuk kegiatan perekonomian, digambarkan dalam al Qur`an sebagai rusaknya keseimbangan. Shihab dalam menafsirkan al Qur`an surat ar-Ruum (30) ayat 41 menyatakan bahwa makna fasaad adalah keluarnya sesuatu dari keseimbangan atau lawan dari ash-shalaah yang berarti manfaat atau berguna. Sehingga ayat tersebut menggambarkan terjadinya kerusakan, ketidakseimbangan, serta kekurangan manfaat di daratan dan di lautan, yang mengarah pada kacaunya keseimbangan lingkungan. Fasaad tersebut dilakukan oleh manusia dan akan mengakibatkan siksaan kepada manusia. Semakin banyak kerusakan yang terjadi pada lingkungan, semakin besar pula dampak buruknya kepada manusia, karena Allaah SWT menciptakan semua makhluk saling kait-berkait. Timbulnya gangguan pada keharmonisan dan keseimbangan alam pasti berdampak pada seluruh bagian alam (termasuk manusia) baik yang merusak maupun yang merestui perusakan itu [2].

Perusakan lingkungan akibat kegiatan perekonomian juga dikecam dan diharamkan oleh Islam menurut penilaian Muktamar Nahdlatul ‘Ulama (NU) ke-29 di Cipasung, Tasikmalaya, pada 4 Desember 1994. Muktamar di antaranya menjawab pertanyaan dengan redaksi

Industrialisasi yang sekarang sedang digalakkan oleh pemerintah, ternyata membawa ekses yang cukup serius dan dampaknya juga merugikan kepentingan rakyat banyak, yakni biasanya hanya mengejar keuntungan sendiri, serta melupakan kewajiban untuk menangani dampak limbah yang ditimbulkan oleh pabrik. (a) Bagaimana hukum mencemarkan lingkungan? (b) Bagaimana konsep Islam dalam menangani ekses pencemaran lingkungan?

Muktamar NU menjawab

(a) Hukum mencemarkan lingkungan, baik udara, air maupun tanah, apabila menimbulkan dharar (kerusakan), maka hukumnya haram dan termasuk perbuatan kriminal (jinayat). (b) Konsepsi Islam dalam menangani ekses pencemaran lingkungan adalah: 1) apabila ada kerusakan, maka wajib diganti oleh pencemar, 2) memberikan hukuman yang menjerakan (terhadap pencemar) yang pelaksanaannya dengan amar ma’ruf nahi munkar sesuai dengan tingkatannya.

Jawaban Muktamar NU tersebut kemudian dilengkapi dengan kutipan rujukan dari 9 kitab yaitu: 1) al-Tafsir al-Kabir/Mafatih al-Ghaib (Muhammad al-Razi), 2) al-Jami’ li Ahkam al-Qur`an (Muhammad bin Abi Bakar al-Qurthubi), 3) al-Mawahib al-Saniyah Syarh al-Fawa’id al-Bahiyah (Abdullah bin Sulaiman), 4) Tabyin al-Haqa’iq Syarh Kanz al-Daqa’iq (Utsman bin Ali al-Zaila’i), 5) al-Kharraj (Abu Yusuf), 6) al-Ahkam al-Sulthaniyah (Abu Ya’la al Farra’), 7) Majma’ al-Dhamanat (Ghanim bin Muhammad al-Baghawi), 8) Mirqah Su’ud al-Tashdiq Syarh Sulam al-Taufiq (Muhammad Nawawi bin Umar al Bantani), (9) Ihya` ‘Ulum al-Diin (Abu Hamid al-Ghazaki), dan dua rujukan lain yang tidak dikutip (Hasyiyah al-Jamal, Juz V, halaman 196 dan Tafsir Ibn Katsir, Juz II, halaman 222) [3].

Tafsir al Qur`an surat ar Ruum (30) ayat 41 dan pembahasan Muktamar NU ke-29 tentang perusakan lingkungan menggambarkan konsistensi pandangan Islam tentang perekonomian, bahwa tujuan perekonomian sebagai hifdzu al-maal (perlindungan harta) demi memenuhi kemashlahatan umat tidak boleh menimbulkan kerusakan lingkungan, karena akan mengancam pada maqashid syariah lain, seperti hifdzu-n-nafs (perlindungan jiwa) dan hifdzu-n-nasli (perlindungan keturunan) [1].

Suplai dan Konsumsi Energi Indonesia: Penggerak Perekonomian

Kebutuhan energi Indonesia akan terus meningkat seiring dengan perkembangan ekonomi dan populasi. Populasi Indonesia meningkat 24,11%, dari sekitar 205 juta jiwa pada tahun 2000 menjadi 255 juta jiwa pada 2015. Peningkatan juga terjadi pada Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia yang merupakan indikator utama perekonomian. PDB Indonesia meningkat 119%, antara tahun 2000 dengan 2015, dari . Gambar 1 dan Gambar 2 menunjukkan grafik pertumbuhan populasi dan PDB Indonesia sejak tahun 2000 hingga 2015 [4].

Pada kurun waktu yang sama, pola energi Indonesia juga memiliki trend yang sama. Suplai energi meningkat 83,33% dari 726.687 SBM (2000) ke 1.332.242 SBM (2015), sedangkan konsumsi energi meningkat 63,18% dari 508.883 SBM (2000) menjadi 830.420 SBM (2015). Gambar 3 merupakan grafik pertumbuhan suplai dan konsumsi energi di Indonesia tahun 2000-2015 [4].

Apa yang Dimaksud dengan Energi Terbarukan?

Energi terbarukan (ET) secara umum didefinisikan sebagai energi yang berasal dari sumber yang terbarukan secara alami dan berkelanjutan, dengan laju yang lebih cepat dibandingkan dengan laju konsumsinya, seperti sinar matahari, angin, hujan, pasang-surut, gelombang, dan panas bumi, di mana memiliki empat fungsi khas yaitu menghasilkan energi untuk listrik, pendingin atau pemanas air dan udara, transportasi, dan jasa energi untuk wilayah terpencil [5, 6, 7, 8]. Lebih spesifik, ET dikelompokkan di antaranya menjadi bioenergi, geotermal atau panas bumi, air, laut (pasang-surut, gelombang, dan panas), matahari, serta angin [8].

ET menjadi solusi tepat untuk mengatasi pola pertumbuhan manusia dan listrik 40 tahun terakhir, di mana manusia bertambah dari 4 milyar menjadi 7 milyar dan listrik tumbuh 250% [9]. ET yang memiliki emisi karbon jauh lebih sedikit dibandingkan energi fosil (Tabel 1) juga sekaligus akan berkontribusi dalam ikhtiar global untuk membatasi peningkatan suhu global di bawah 2 °C. Laporan International Renewable Energy Agency (IRENA) pada 2015 misalnya, menunjukkan bahwa tanpa peran ET, emisi total sektor energi secara global akan 20% lebih tinggi [10].

Implementasi ET juga menimbulkan dampak positif pada pertumbuhan ekonomi karena munculnya lapangan kerja, baik langsung (direct, seperti perancangan, manufaktur, pengiriman, instalasi/konstruksi beserta manajemen dan administrasinya, serta operasional dan pemeliharaan), tidak langsung (indirect, seperti manufaktur alat dan komponen pendukung sistem ET sepanjang rantai pasoknya), maupun terikut (induced, seperti tumbuhnya aktivitas perekonomian karena adanya instalasi atau proses pengajaran teknologi ET) [12]. Memungkinkan pula bagi ET yang mampu melistriki daerah terpencil untuk meningkatkan pendapatan masyarakat setempat karena meningkatnya kemampuan mengolah sumber daya alam lokal berbasis ET atau munculnya lapangan pekerjaan baru akibat adanya akses listrik.

Secara global, lapangan kerja langsung di sektor ET menyerap 6,5 juta pekerja pada 2013; 7,7 juta pekerja pada 2014; dan 8,1 juta pekerja pada 2015 [13, 14, 15]. Jumlah ini akan terus meningkat karena nilai investasi terhadap ET diproyeksi harus meningkat hingga USD 550 Milyar per tahun untuk mencegah bencana global akibat perubahan iklim. Peningkatan investasi ini akan didukung di antaranya oleh: 1) menurunnya harga komponen ET, 2) teknologi ET yang terus berkembang efisiensinya, 3) meningkatnya pengalaman pengembang dan lembaga keuangan dalam menghitung resiko, dan 4) manfaat ET yang makin terasa secara simultan di sektor ekonomi, sosial, dan lingkungan [16].

Energi Terbarukan Indonesia: Pembangkit Listrik

Indonesia yang terletak di wilayah ekuator bumi sesungguhnya memiliki beberapa faktor pendukung pengembangan ET, di antaranya: 1) matahari bersinar sepanjang tahun, 2) tanpa musim dingin, sehingga tidak ada permintaan energi yang besar dalam bentuk panas pada musim dingin, 3) wilayah laut yang luas sebagai sumber pengembangan energi kelautan (pasang-surut atau gelombang), 4) gunung berapi dan hutan, potensi energi biomassa tumbuhan, 5) banyaknya wilayah kepulauan, potensi kemandirian energi dengan sumber daya energi lokal, dan 6) wilayah perkotaan yang padat, potensi energi sampah perkotaan.

Porsi energi nasional yang digunakan sebagai pembangkit listrik pada tahun 2015 mencapai 16,5%. Porsi ini mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan tahun 2000 yang hanya pada angka 9,8%. Gambar 4 menunjukkan persentase porsi energi nasional yang berfungsi untuk pembangkitan listrik tahun 2000-2015 [17].

Seberapa besar peran energi terbarukan dalam pasokan listrik nasional? Data terbaru yang dirilis Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM RI menunjukkan kapasitas terpasang pembangkit listrik dari energi terbarukan non-bio hanya 12,4% (6.706,25 MW). Selebihnya, 44,61% (24.770,50 MW) dari batubara; 27,51% (15.275,35 MW) berbahan bakar gas; 15,65% (8.689,79 MW) merupakan pembangkit listrik dari berbagai jenis produk turunan minyak bumi; dan sisanya adalah pembangkit listrik biomassa (0,09% – 50,23 MW) dan sampah (0,06% – 36 MW). Gambar 5 menunjukkan kapasitas pembangkit listrik terpasang di Indonesia berdasarkan jenisnya [17].

Masih bersumber dari data yang sama, pada tahun 2015, energi terbarukan non-bio yang terpasang di Indonesia di dominasi oleh pembangkit listrik tenaga air dan geotermal, sisanya merupakan pembangkit minihidro, mikrohidro, tenaga surya (PLTS), dan tenaga angin (PLT-Bayu). Kapasitas pembangkit listrik tenaga air mencapai 5.079,06 MW (75,74%) dan panas bumi berada pada angka 1.435,40 MW (21,40%). Sedangkan kapasitas terpasang minihidro, mikrohidro, PLTS, dan PLT-Bayu berturut-turut adalah 151,18 MW (2,25%); 30,46 MW (0,45%); 9,02 MW (0,13%); dan 1,13 MW (0,02%). Persentase kapasitas pembangkit energi terbarukan non-bio ditampilkan secara grafis pada Gambar 6 [17].

Perlu menjadi catatan penting, bahwa kapasitas terpasang atau daya terpasang dalam bahasa awam dapat disebut sebagai potensi energi, bersatuan Watt. Sebuah pembangkit mampu memproduksi energi jika ia menyala dalam kurun waktu tertentu, satuannya dinyatakan dalam Watt jam atau dikenal Watt hour. Listrik PLN misalnya, tarifnya dibayar per kWh, per kilo-Watt hour, per kilo-Watt jam, atau setiap listrik senilai 1.000 Watt jam. Sebuah televisi dengan daya 150 Watt, misalnya, jika dinyalakan satu jam bermakna akan menghabiskan listrik sejumlah 150 Watt jam, dan seterusnya.

Artinya, kapasitas terpasang pembangkit listrik tidak menjamin tersedianya listrik, kecuali pasokan bahan bakarnya berlangsung secara kontinyu. Rantai pasok batubara dan berbagai produk turunan minyak bumi memiliki peran penting, terutama bagi pembangkit listrik di wilayah terpencil. Beberapa pengelola pembangkit memiliki SOP yang jelas untuk mencegah terhentinya pasokan bahan bakar akibat kendala transportasi, meskipun menimbun bahan bakar juga berkonsekuensi pada biaya pergudangan dan lingkungan yang tak sedikit.

Sementara pembangkit energi terbarukan bertenaga air memiliki masalah tentang kurangnya debit air, baik akibat sedimentasi pada bendungan (untuk PLTA), maupun kurangnya pasokan air di musim kemarau (untuk minihidro dan mikrohidro). Kendala pada PLTS dan PLT-Bayu, masing-masing terletak pada pasokan sinar matahari yang kurang karena mendung serta hembusan angin yang tak berlangsung sepanjang 24 jam.

Kapasitas energi terbarukan di Indonesia akan terus ditingkatkan oleh para pemangku kepentingan nasional, mengingat Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2014 tentang Kebijakan Energi Nasional mengamanatkan suplai energi terbarukan harus mencapai persentase 23% pada 2025 dan 31% pada 2050.

Rasio Elektrifikasi

Akses listrik masyarakat dinyatakan dalam sebuah rasio elektrifikasi, yakni perbandingan antara rumah tangga yang telah memiliki akses listrik dengan rumah tangga secara keseluruhan. Hingga akhir tahun 2015, rasio elektrifikasi Indonesia mencapai angka 88,30%, dengan rincian 56,6 juta pelanggan PLN dan 1,37 juta berlistrik non-PLN, dari total 65,67 juta rumah tangga di seluruh Indonesia. Rasio elektrifikasi pada akhir 2015 tersebut juga berarti masih ada sekitar 7,6 juta kepala keluarga yang belum menikmati listrik sama sekali. Lebih dari itu, jika ditinjau dari rasio elektrifikasi di setiap provinsi, terdapat variasi nilai sebagai berikut: 1) 90-an persen, 9 provinsi, 2) 80-an persen, 15 provinsi, 3) 70-an persen, 6 provinsi, 4) 60-an persen, 2 provinsi, 5) 50-an persen, satu provinsi, dan 6) 40-an persen satu provinsi [17].

Pemerintah optimis tahun 2016 rasio elektrifikasi nasional dapat mencapai angka 90-91 persen, karena harus mengejar target rasio elektrifikasi minimal 99,5% pada 2019. Optimisme ini muncul, merujuk pada kinerja 2014 dan 2015 yang mampu melampaui target. Pemerintah pada 2014 menargetkan 84,3% yang ternyata terwujud hingga 87,5%, dan pada 2015, dari target 87,5% dapat terealiasasi hingga 88,3% [18].

Energi Terbarukan untuk Kemandirian Desa: KEMALA

Pada tanggal 24 Juni 2016, Konsorsium untuk Energi Mandiri dan Lestari (KEMALA), menandatangani perjanjian hibah PSDABM (Pengelolaan Sumber Daya Alam Berbasis Masyarakat) dengan Millenium Challenge Account Indonesia (MCAI). KEMALA merupakan konsorsium yang dipimpin oleh Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Masyarakat Nahdlatul ‘Ulama (Lakpesdam-PBNU) yang beranggotakan Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM (PUSTEK UGM), Pusat Studi Energi UGM (PSE UGM), dan Center For Civic Engagement and Studies (CCES atau Pusat Kajian dan Penguatan Kewargaan).

Hibah PSDABM yang diterima Konsorsium Kemala bertajuk Peningkatan Pendapatan Rumah Tangga Miskin melalui Usaha Hijau yang Didukung oleh Energi Terbarukan yang berlokasi di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi (dua desa) dan Kabupaten Solok Selatan, Provinsi Sumatera Barat (satu jorong).

Hibah ini merupakan ikhtiar nyata NU dan UGM untuk memadukan kemampuan kedua lembaga besar ini: NU dan CCES dengan basis pengelolaan komunitas yang partisipatif dan advokasinya, serta UGM dengan kemampuan pengelolaan teknologi energi terbarukan dan pengembangan perekonomian kerakyatannya.

Energi terbarukan dalam hibah ini merupakan pembangkit listrik tenaga surya yang akan digunakan sebagai pemicu peningkatan kualitas hidup masyarakat setempat dengan akses energi rendah emisi karbon, di antaranya melalui, 1) penerangan pada malam hari, 2) energi untuk mengelola komoditas perekonomian lokal (peningkatan nilai tambah komoditas kopi, jagung, pisang, dan ikan), serta 3) energi untuk penyediaan air bersih melalui pompa air bertenaga surya.

Implementasi energi terbarukan ditargetkan akan menumbuhkan lapangan pekerjaan (green jobs), peningkatan pengetahuan administrasi dan keuangan, peningkatan waktu belajar di malam hari, dan peningkatan kualitas kesehatan akibat ketersediaan air bersih. Beberapa green jobs yang ditargetkan muncul di antaranya adalah 1) pekerjaan lokal untuk mendukung pelaksanaan hibah, 2) lembaga pengelola administrasi dan keuangan sistem energi, 3) personel operasional dan pemeliharaan, dan 4) pengelolaan komoditas lokal beserta rantai produksi, distribusi, dan pemasarannya.

Sementara sebagai salah satu strategi peningkatan kapasitas, KEMALA akan membentuk Sekolah Hijau yang terdiri dari tiga tahapan pembelajaran yaitu, pendidikan dasar (peningkatan wawasan dan karakter individu), pendidikan menengah (keterampilan dan penguatan kelembagaan), serta pendidikan lanjut (penguatan jaringan dan pemasaran). Peserta Sekolah Hijau nantinya adalah masyarakat desa berbagai lapisan dan profesi dengan afirmasi peserta dari penduduk miskin dan kelompok perempuan.

Membangun Kesadaran akan Kemandirian

Kendala elektrifikasi yang paling nyata dihadapi adalah masalah akses menuju konsumen listrik, sehingga meningkatkan biaya konstruksi infrastruktur distribusi listrik. Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang belum memiliki listrik mayoritas terletak di sekitar kawasan pantai Gunungkidul atau pegunungan di Kulon Progo. Kondisi topografi dan jauhnya dari pemukiman lain, menjadikan PLN harus merogoh koceknya cukup dalam jika ingin melistriki wilayah tersebut.

Sama halnya dengan lokasi di program KEMALA. Satu lokasi di Sumatera Barat harus ditempuh selama dua jam dari ibukota Solok Selatan, meskipun jarak horizontalnya hanya 25 km. Sementara dua desa lokasi program di Jambi, hanya bisa ditempuh dengan menggunakan kapal motor kecil. Keterbatasan akses tersebut berkonsekuensi pada banyak hal, seperti akses pendidikan yang terbatas, ketergantungan pada pasokan minyak diesel atau bahkan memilih untuk tidak memiliki listrik sama sekali, serta munculnya tambahan waktu dan biaya untuk setiap kebutuhan yang dibeli dari luar desa/jorong. Khusus dua desa di Jambi yang berada di tepi sungai Batanghari, lokasi ini memiliki masalah tahunan berupa banjir sekaligus masalah harian berupa air bersih MCK yang diambil dari sungai dan air minum kemasan galon yang dibeli dari luar desa. Kesimpulannya, masalah utama masyarakat di lokasi program adalah kemiskinan.

Pada awal November 2016, sebagai bagian dari kegiatan hibah, KEMALA mendatangkan 12 orang  dari lokasi program ke Yogyakarta selama lima hari dalam kegiatan bertajuk Green Visioning atau pembangunan visi hijau masyarakat, sebagai awal pembentukan Komunitas Belajar Sekolah Hijau. Kegiatan ini di antaranya adalah kunjungan ke Desa Nglanggeran di Gunungkidul yang sukses dengan kemandirian desanya di bidang wisata, pertanian, perkebunan, dan peternakannya, secara integral, serta Dusun Banyumeneng di Panggang, Gunungkidul yang berhasil dalam membangun komunitas pengelolaan air bersih berbasis PLTS-nya. Selain itu, 12 orang inilah yang akan menjadi Kader Hijau di tingkat desa/jorong, sebagai penggerak dan motivator bagi masyarakat desa/jorong untuk mencapai kemandirian desa/jorong secara bersama-sama. Tujuan besar yang sesungguhnya adalah membangun visi masyarakat, melalui masyarakat, yang nantinya manfaatnya juga langsung akan dirasakan oleh masyarakat sendiri.

Salah satu kesan yang ditangkap oleh KEMALA setelah kegiatan Green Visioning adalah adanya semangat yang luar biasa dari Kader      Hijau untuk belajar dan menambah wawasan serta melakukan kontekstualisasi pada daerahnya masing-masing. Hanya saja, selama ini kurangnya wawasan, pengetahuan, teknologi, dan pendampingannya telah meredupkan semangat bagi masyarakat untuk berbenah ke arah yang lebih baik. Lebih dari itu, Sekolah Hijau juga ditargetkan untuk mampu berkontribusi dalam meningkatkan kapasitas masyarakat, menggugah kesadaran tentang adanya potensi sumber daya lokal, dan mengelolanya untuk meningkatkan pendapatan masyarakat.

Dalam mengembangkan kemandiriannya, desa atau komunitas lokal di tingkat masyarakat tidak bisa dimaknai berdiri sendiri di dalam siklus tertutup di tingkat lokal. Justru desa harus bekerjasama secara sinergis dan integral dengan desa-desa lain untuk saling memenuhi kebutuhan, saling memanfaatkan dalam arti yang positif. Begitu pula dengan pemerintah desa yang memiliki wewenang pemanfaatan anggaran dana desa (dari APBN dan APBD), sangat berpeluang mengalokasikan dana pemberdayaan masyarakat untuk mengelola komoditas lokal. Sementara pemerintah kabupaten dan provinsi melalui SKPD harus turut mendorong kemandirian desa lewat alokasi dana di APBD: bukan memberi ikan, tetapi justru memberi pancing dan mengajarkan cara memancingnya. Konsekuensi logisnya juga sangat positif, yakni adanya keterlibatan langsung masyarakat dalam menyusun program pembangunan desa sekaligus pelaksanaan dan pengawasan penggunaan anggarannya.

Pembangunan dari desa merupakan solusi riil kemandirian Indonesia, sebagai perwujudan cita-cita para pendiri bangsa saat mendeklarasikan NKRI: memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Semoga Allaah SWT memudahkan ikhtiar kita.

 

REFERENSI

  1. Budiarto, R.; Wardhana, A. R.; Prastowo, A. R. (2016). Implementation of Islamic Economics in Indonesia by Developing Green Economics Through Renewable Energy Technologies, 1st Gadjah Mada International Conference on Islamic Economic and Development, Yogyakarta
  2. Shihab, Q. (2003). Tafsir Al-Mishbah – Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur`an Volume 11, Lentera Hati, Jakarta
  3. Tim Lajnah Ta’lif wan Nasyr (LTN) PBNU (2011). Ahkamul Fuqaha – Solusi Problematika Aktual Hukum Islam – Keputusan Muktamar, Munas, dan Konbes Nahdlatul Ulama (1926 – 2010 M), Khalista, Surabaya
  4. Kementerian ESDM RI (2016). Handbook of Energy & Economic Statistics of Indonesia 2016, Jakarta
  5. Omar Ellabban, Haitham Abu-Rub, Frede Blaabjerg (2014). Renewable energy resources: Current status, future prospects and their enabling technology. Renewable and Sustainable Energy Reviews 39, 748–764, 749, doi:10.1016/j.rser.2014.07.113
  6. REN21 (2010). Renewables 2010 Global Status Report, hlm. 15
  7. http://www.iea.org/topics/renewables/, diakses pada 1 Juni 2016
  8. IRENA (2009). Statute of The International Renewable Energy Agency (IRENA), hlm. 4-5.
  9. IRENA (2014). REthinking Energy 2014, hlm. 12.
  10. IRENA (2015). REthinking Energy 2015, hlm. 11.
  11. Lenzen, M. (2009). Current state of development of electricity-generating technologies, The University of Sydney
  12. Wei, M, Patadia, S., and Kammen, D.M. (2010). Putting renewables and energy efficiency to work: How many jobs can the clean energy industry generate in the US?, of Energy Policy, Vol. 38, hlm. 919 – 931
  13. IRENA (2014). Renewable Energy and Jobs – Annual Review 2014
  14. IRENA (2015). Renewable Energy and Jobs – Annual Review 2015
  15. IRENA (2016). Renewable Energy and Jobs – Annual Review 2016
  16. IRENA (2014). REthinking Energy 2014, hlm. 12-17
  17. Kementerian ESDM RI, Dirjen Ketenagalistrikan (2016). Statistik Ketenagalistrikan 2015 – Edisi No. 29 Tahun Anggaran 2016, Jakarta
  18. http://m.liputan6.com/bisnis/read/2497279/esdm-optimistis-rasio-elektrifikasi-2016-lampaui-target, diakses pada 30 November 2016
  19. Lenzen, M. (2009).Current state of development of electricity-generating technologies, The Universityof Sydney

Kelengahan

Ditulis untuk memenuhi amanah menjadi khatib Jumat dan narasumber majelis ta’lim.

Dialah Allaah Ta’aala yang menganugerahi manusia kehidupan yang sempurna, kehidupan zhahir dan kehidupan bathin. Kehidupan zhahir, yaitu bagaimana mata mampu memandang, telinga mampu mendengar, bibir mampu berucap, tangan mampu menengadah, kaki mampu melangkah, serta seluruh bagian dari tubuh kita yang mampu beraktivitas, itulah kehidupan zhahir dari Allaah Ta’aala.

Dialah Allaah Ta’aala yang berkenan pula menganugerahi kehidupan bathin kepada kita semua. Kehidupan bathin, yaitu bagaimana muncul dalam jiwa kata rasa sabar atau tergesa, rasa marah atau ridla, rasa syukur dan gembira, tawa atau tangis, rasa bahagia atau rasa sedih, serta semua kondisi yang mencakup suasana hati kita, itulah kehidupan bathin. Kesemuanya, baik kehidupan zhahir atau bathin, semoga terus menerus dikukuhkan agar berada di dalam diri kita, yang insya-Allaah semoga mampu menjadi sebab bagi kita dalam upaya meningkatkan iman dan takwa kita kepada Allaah Ta’aala.

Hadirin rahimakumullaah, semoga shalawat serta salam dari Dzat Allaah dan seluruh makhluk ciptaan Allaah, tetap dan terus tercurahkan kepada junjungan kita bersama, pemimpin umat manusia sekaligus penutup dan pemimpin para Nabi dan Rasul, seseorang yang paling pantas menjadi teladan dalam kehidupan, seseorang yang menjadi sebab bagi tercurahkannya keberkahan Allaah, baik bagi yang mencintainya maupun bagi seorang yang membencinya, beliaulah Rasuulullaah Muhammad SAW.

Tersampaikan pula semoga, kepada keluarga beliau SAW, sahabat beliau SAW, serta umat beliau SAW, hingga datangnya akhir zaman kelak. Amiin, ya Rabbal ‘alaamiin. Hadirin rahimakumullaah, selanjutnya saya kembali mengingatkan, khusus dan utamanya kepada diri saya sendiri serta kepada seluruh hadirin rahimakumullaah pada umumnya, bahwa di hari raya Jumat yang penuh kemuliaan ini, marilah kita jadikan momentum untuk kembali memperbarui sekaligus meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allaah Ta’aala, dengan sebenar-benarnya iman dan takwa.

Ketakwaan yang sesungguhnya, yaitu bagaimana kita mampu untuk selalu mengarahkan hati, lisan, dan perbuatan dalam usaha menjalankan setiap hal yang diperintahkan oleh Allaah Ta’aala sekaligus bersamaan dengan usaha untuk menjauhkan diri dari semua hal yang terlarang dari sisi Allaah Ta’aala. Karena bagi Allaah Ta’aala, semulia-mulia kedudukan manusia bukanlah terukur dari harta atau jabatan, bukanlah terukur dari kekayaan dan kedudukan, namun terukur dari ketakwaannya kepada Allaah Ta’aala.

Sebagaimana termaktub dalam ayat ke-13 surat al-Hujuraat, Allaah Ta’aala berfirman

Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allaah ialah yang paling bertakwa di antara kamu.

Hadirin rahimakumullaah, saat ini negeri kita, Indonesia tercinta sedang terjerat oleh ketidakpastian di bidang penegakan hukum. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang dipimpin oleh tokoh asli Yogyakarta, tokoh Muhammadiyah, dosen UII yang berintegritas tinggi, sedang dirundung perkara korup suap sebagaimana dikabarkan oleh mantan Bendahara Umum sebuah partai politik. Mahkamah Konstitusi yang dipimpin oleh seorang guru besar bidang Hukum UII, seorang yang berintegritas tinggi dan tinggal lama di Yogyakarta, sedang diserang masalah pemalsuan surat. Sementara Mahkamah Agung yang menjadi rumah bersama bagi pengadilan di seluruh negeri sedang diuji oleh munculnya temuan rekayasa dalam kasus yang melibatkan mantan Ketua KPK.

Dan beberapa bulan yang lalu, kita masih mendengar berita tentang penangkapan jaksa dan hakim yang terlibat penyuapan. Yang lebih menyakitkan bagi kita adalah ketika lembaga-lembaga hukum tersebut diserang oleh temuan-temuan dan tuduhan-tuduhan, sehingga semua lapisan masyarakat, kita semua, mampu menyatukan opini dan simpati untuk mendukung usaha pemberantasan korupsi, justru ada oknum di sebuah kementerian yang tertangkap tangan, diduga menerima uang suap!

Sangatlah menyakitkan, para penegak hukum sedang dibakar semangatnya oleh masyarakat, semua orang fokus pada pemberitaan pemberantasan korupsi, eh, masih ada saja yang berani melanggar. Dan pelanggaran tersebut menyangkut anggaran negara tahun 2011, tahun ini, dan tertangkap di bulan Ramadlan!

Hadirin rahimakumullaah, sering terdengar para imam membaca surat at-Takaatsuur dalam shalat-shalat rawatib lima waktu. Apabila kita membaca makna surat tersebut, maka bisa kita simpulkan bahwa sumber dari munculnya sikap suap dan korup adalah belum adanya keimanan terhadap kehidupan akhirat.

Apa yang didapat dari korupsi dan mark-up anggaran? Tentu saja uang. Tercatat, tetapi tidak dibelanjakan.

Apa yang didapat dari penyuapan pada sebuah proyek? Tentu saja agar diri sang penyuap menjadi pemenang tender. Ujungnya juga uang dan kekayaan.

Sedangkan at-Takaatsuur mengingatkan kepada kita:

Saling memperbanyak (kenikmatan duniawi dan berbangga-bangga menyangkut anak dan harta) telah melengahkan kamu [1], sampai kamu telah menziarahi (masuk) dalam kubur-kubur (kematian) [2].

Berhati-hatilah, (jangan melakukan persaingan semacam itu)! Kelak kamu akan mengetahui (akibatnya) [3]. (Sekali lagi) berhati-hatilah, kelak kamu akan mengetahui [4].

Berhati-hatilah, (jangan berbuat begitu, sungguh) jika seandainya kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, (niscaya kamu tidak akan pernah melakukan hal itu) [5]

Sungguh, pasti kamu akan melihat (neraka) Jahim [6], kemudian, sungguh pasti kamu akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin (yakni keyakinan yang tak sedikit pun disentuh keraguan, yaitu sebagaimana keyakinan karena melihat dengan mata) [7],

kemudian sungguh kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang an-Na’iim (yakni tentang aneka kenikmatan duniawi yang kamu raih atau kenikmatan akhirat yang kamu abaikan [8].

Sungguh jelas peringatan Allaah Ta’aala kepada kita tentang meruginya mereka, kita semua, jika terjerumus ke dalam usaha pengejaran kenikmatan duniawi, berlomba dalam membangga-banggakannya, sehingga lupa dengan kenikmatan akhirat hingga datangnya kematian.

Dalam tafsirnya tentang surat at-Takaatsur, Prof. Quraish Shihab menutup penjelasannya dengan menulis

Seseorang yang menyadari bahwa ada kenikmatan yang melebihi kenikmatan duniawi tentu tidak akan mengarahkan seluruh pandangan dan usahanya semata-mata hanya kepada kenikmatan duniawi yang sementara itu, bahkan seseorang yang menyadari betapa besar kenikmatan ukhrawi itu akan bersedia mengorbankan kenikmata duniawi yang dimiliki dan dirasakannya demi memperoleh kenikmatan ukhrawi itu.

Apa yang bisa kita lakukan sebagai bagian dari bangsa ini namun tak memiliki wewenang terhadap sistem hukum di negeri ini?

Hadirin rahimakumullaah, kita punya wewenang pada diri kita sendiri untuk berusaha keras menghindarkan diri dari korup dan suap. Kita juga memiliki wewenang pada orang-orang terdekat kita, orang-orang pada lingkaran terkecil kehidupan kita, keluarga.

Mari kita hindarkan diri dan keluarga kita dari perilaku dan kebiasaan korup serta suap. Utamanya, kita prioritaskan pada putra dan kerabat kita yang masih belum menyentuh dunia nyata bisnis dan organisasi, mereka para pelajar dan anak-anak. Kita biasakan sejak dini, kita biasakan dari hal-hal kecil, kita biasakan pada diri dan orang-orang terdekat kita.

Allaah Ta’aala berfirman dalam surat ar-Ra’du ayat 11

Sesungguhnya Allaah tidak mengubah suatu kaum sehingga mereka mengubah apa (sikap mental dan pikiran) yang ada pada diri mereka.

Kalau kaum itu adalah negara bangsa bernama Indonesia, maka yang harus berubah adalah diri dan keluarga kita masing-masing. Seorang ulama mengatakan, keluarga adalah jiwa masyarakat dan tulang punggungnya. Kesejahteraan lahir dan batin yang dinikmati oleh suatu bangsa, atau sebaliknya, kebodohan dan keterbelakangannya, adalah cerminan dari keadaan keluarga yang hidup pada masyarakat bangsa tersebut.

Hadirin rahimakumullaah, selain melakukan ikhtiar zhahir, yakni usaha nyata berupa pendidikan dan teladan pada diri sendiri, keluarga, dan masyarakat, sungguh indah jika masyarakat bangsa Indonesia, kita semua, ikut pula melakukan ikhtiar bathin, yaitu turut mendoakan bangsa Indonesia di antara lantunan dzikir dan munajat kita kepada Allaah Ta’aala.

Ada sebuah doa di dalam al-Qur`an, yang dalam pandangan saya pribadi makna doa tersebut sangat cocok dengan kondisi penegakan hukum negeri kita Indonesia tercinta.

Doa tersebut terangkai dalam kisah Nabi Syu’aib ‘AS yang umat beliau dihancurkan dengan gempa oleh Allaah Ta’aala karena kedurhakaannya. Doa tersebut termaktub dalam penutup ayat 89 surat ketujuh al-A’raaf:

Tuhan Pemelihara kami, hakimilah (putuskanlah) antara kami dan antara kaum kami dengan haq (kebenaran dan keadilan), dan Engkaulah sebaik-baiknya Hakim, Sang Pemberi Keputusan.

Mari bersama-sama kita masukkan doa tersebut dalam daftar doa harian kita, sebagai pengiring ikhtiar zhahir kita membangun diri pribadi yang terbaik, demi keluarga, masyarakat dan bangsa yang lebih baik, masyarakat dan bangsa yang semoga dinaungi oleh rahmat Allaah, dicurahi kasih Allaah , dan senantiasa dalam perlindungan Allaah Ta’aala. Amiin, ya Rabbal ‘alamiin.

Memahami Cara Allaah Mengijabahi Doa (al-Baqarah 186)

Materi ini telah disampaikan sebagai kultum Tarawih di empat tempat, yakni Masjid al-Falaah Blunyah Gede, Masjid al-Amin Popongan Baru, Mushalla al-Mu’minun Blunyah Gede, dan Mushalla al-Ikhlas Mesan.

Salam. Muqaddimah.

Allaah Ta’aala berfirman dalam al-Qur`an surat al-Baqarah ayat 186

وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌ قلى اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَادَعَانِلافَلْيَسْتَجِيْبُوْالِيْ وَلْيُؤْمِنُوْابِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُ وْنَ.

Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Nabi Muhammad saw.) tentang Aku, maka (jawablah), sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, supaya mereka selalu berada dalam kebenaran.

Jama’ah rahimakumullaah.

Ayat ini berada di antara rincian ibadah puasa wajib, di mana muncul kesan ayat ini tidak padu dengan ayat sebelumnya dan sesudahnya. Ayat 185 merinci keringanan dalam berpuasa, sementara ayat 187 mengesahkan hubungan suami istri di malam hari pada bulan Ramadlan. Sedangkan ayat 186 membahas tentang jaminan kedekatan Allaah pada hamba Allaah sekaligus janji pengijabahan dalam setiap permohonan yang ditujukan kepada Allaah.

Kesan tidak padu bukan berarti tidak berkaitan sama sekali. Sebagaimana penjelasan Prof. Quraish Shihab, ayat ini memang diletakkan di antara penjelasan puasa wajib Ramadlan sebagai sebuah isyarat. Isyarat agar umat manusia yang beriman memperbanyak doa kepada Allaah, mempersering mengucapkan permohonan kepada Allaah, mendekatkan diri kepada Allaah Ta’aala, ketika memasuki bulan Ramadlan, sebagai pengiring ibadah puasa kita.

Melalui ayat tersebut, Allaah menjelaskan betapa dekatnya Dzat Allaah kepada umat manusia, kita semua. Pun dengan jaminan Allaah tentang ijabahnya doa kita yang dipintakan kehadirat Allaah Ta’aala, Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, tetapi dengan syarat maka hendaklah mereka memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, supaya mereka selalu berada dalam kebenaran. Syarat ini mutlak, yang dalam bahasa lain bisa kita sebut dengan syarat iman yaitu mempercayai dan takwa yakni menjalankan perintah Allaah sekaligus menjauh dari apa yang dilarang Allaah.

Hadirin rahimakumullaah.

Yang sering terjadi pada diri kita adalah tidak sempurna memahami keseluruhan ayat ini. Bahwa terijabahinya doa kita mencakup tiga syarat, terucapnya doa serta keimanan dan ketakwaan. Terucapnya doa, sebagaimana tercantum dalam ayat tersebut  “اِذَادَعَانِ”, apabila ia memohon kepada-Ku, merupakan bentuk penghambaan kita kepada Sang Pencipta, pengakuan akan kelemahan kita sebagai makhluk sekaligus pengakuan akan betapa mutlaknya kuasa Allaah pada kita.

Dalam proses mengusahakan sesuatu, sering pula muncul sikap sombong kita kepada Allaah. Merasa sudah banyak berkorban, merasa sudah keras bekerja, merasa sudah sering memohon, merasa sudah banyak berdoa, tetapi kenapa tak kunjung terijabah? Perasaan ini harus kita jawab dengan nurani kita masing-masing: sudahkah diri kita merasa cukup beriman dan cukup bertakwa?

Selain itu, kita juga harus tahu persis bagaimana cara Allaah Ta’aala mengijabahi doa kita. Ketika doa tak kunjung terkabul, maka ada tiga pilihan kemungkinan yang digariskan Allaah kepada kita:

  1. ditunda pengijabahannya untuk waktu yang akan datang, karena ketika doa tersebut serta-merta dikabulkan oleh Allaah, bisa jadi kita lupa bersyukur kepada Allaah disebabkan oleh rasa bahagia yang begitu besar; atau
  2. diganti dengan perlindungan Allaah kepada kita dari bala` atau bencana-bencana kecil yang kadang tidak kita sadari; atau
  3. ditunda pengijabahannya karena kelak akan menjadi nikmat tersendiri bagi diri kita di kehidupan yang sesungguhnya, kehidupan akhirat.

Ketiga kemungkinan tersebut sangat membutuhkan keimanan yang teguh di dalam nurani kita masing-masing.

Hadirin rahimakumullaah.

Ada sebuah kisah tentang bagaimana cara Allaah bekerja dalam memenuhi permohonan manusia.

Terkisahlah sebuah kapal penumpang yang karam. Satu orang berhasil menyelamatkan diri, bertahan hidup di sebuah pulau kosong, beberapa ratus meter dari lokasi tenggelamnya kapal.

Orang tersebut membangun semacam tenda dari pelepah dan daun kelapa, serta segala sesuatu yang ada di sekitarnya, untuk bertahan hidup, menanti datangnya bantuan. Tak lupa ia memanjatkan doanya kepada Tuhan, setiap hari, pagi maupun petang.

Suatu pagi, saat dia sedang mencari air tawar ke dalam pulau, agaknya ia lupa memadamkan api unggun. Sebuah bara diterbangkan angin, menyentuh tenda yang ia bangun. Terbakar.

Sekembalinya ke tepi pantai ia sangat terpukul. Melihat tendanya, rumahnya tempat bertahan hidup beberapa hari terakhir habis terbakar, menyisakan asap hitam pekat dan abu. Ia kemudian marah. Marah kepada Tuhan, merasa sudah berusaha bertahan hidup, merasa sudah berdoa, tetapi satu-satunya tempat yang ia punyai ditakdirkan hancur.

Satu jam sesudahnya ia semakin terkejut, karena tiba-tiba ada kapal kecil mendekat ke pulau untuk menyelematkannya.

Ketika ia bertanya bagaimana kapal tersebut bisa menemukannya, sang kapten kapal menjawab, “Saya melihat asap pekat membumbung dari pulau kosong. Pasti itu adalah Anda yang sedang bertahan hidup, yang kami cari selama beberapa hari terakhir ini!”

Hadirin rahimakumullaah.

Kadang, kita merasa banyak berusaha dan banyak berdoa, namun masih saja tidak mampu memahami cara kerja Allaah dalam mengabulkan cita dan asa kita. Sakit dan jatuh pada awal atau di tengah proses sebuah pencapaian adalah hal yang biasa, namun keimanan mengajarkan kepada kita bahwa itulah garis keputusan Allaah, Allaah tahu apa yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya. Ada hikmah di balik bencana, kata pepatah.

Perlu juga kita pahami, bahwa ada perbedaan signifikan antara apa itu kebutuhan dan apa itu keinginan. Sulit bagi kita membedakannya, terutama dalam mengucapkannya kepada Allaah di doa-doa kita. Allaah Ta’aala pastilah akan memenuhi kebutuhan kita, ketika adalah orang-orang yang beriman kepada Allaah. Tetapi belum tentu Allaah akan mengijabahi setiap keinginan kita.

Kebutuhan membawa makna segala sesuatu yang dibutuhkan oleh diri kita. Namanya saja butuh, kalau tidak dipenuhi ya bisa menjadi bencana pada diri kita. Maka, kebutuhan-lah yang akan selalu menjadi prioritas kita dalam hidup, pun dengan prioritas Allaah dalam mengabulkannya kepada kita.

Berbeda dengan keinginan. Manusia mempunyai imajinasi yang tak bertepi tentang apa-apa yang diinginkannya. Sabda Kanjeng Nabi saw., manusia itu kalau ditawari satu gunung emas, maka ia akan menanyakan gunung emas lainnya. Maka, keinginan sudah semestinya tidak menjadi prioritas, karena bisa jadi banyak di antara keinginan tersebut bukanlah apa yang kita butuhkan tetapi justru menjadi sebab bagi terjerumusnya diri kita pada jurang dosa. Allaah tahu persis tentang ini. Mana kebutuhan, mana keinginan.

Hadirin rahimakumullaah.

Seorang nenek pernah bertanya kepada cucunya,

“Nak, maukah kamu memakan telur ini?” tanya sang Nenek sembari mengacungkan sebutir telur.

“Nggak mau Nek, masak makan telur mentah?” jawab sang Cucu.

“Kalau di antara ini, adakah di antaranya yang kamu mau memakannya?” tanya sang Nenek kembali, sambil menyodorkan beberapa bahan pembuat kue seperti tepung terigu, baking soda, vanili, mentega, dan lain-lain.

Sang Cucu menjawab dengan wajah bertanya-tanya,”Ah, Nenek tu aneh-aneh aja, masak makan kayak gitu Nek? Jelas nggak ada yang mau, nggak ada yang enak dimakan!”

Sang Nenek kemudian menutup dialog itu dengan berkata, “Sekarang Cucu tidak mau memakannya. Tetapi nanti, saat kesemuanya berpadu menjadi kue, pasti tak akan kau tolak!”

Inilah cermin kehidupan umat manusia. Ada titik-titik kehidupan di mana kita jatuh, terpukul, dan tersakiti. Pada titik-titik kehidupan itu, ketika kita memandang dengan cara pandang sempit, maka yang muncul adalah pembenaran terhadap rasa sakit tersebut. Ya, saya jatuh. Ya, saya terpukul. Ya, saya tersakiti.

Tetapi, kalau kita melihatnya dari sudut pandang yang lebih luas, bahwa semua adalah proses panjang dalam menjalani kehidupan, bahwa masing-masing rasa sakit dan terpukul itu kemudian kita ramu, kita masak dengan resep keimanan dan ketakwaan, maka yang reaksi yang muncul atas titik-titik kejatuhan kita adalah rasa syukur dan berterima kasih kepada Allaah.

Sebagaimana diibaratkan kisah tadi, bahan-bahan roti ketika ia dirasakan bagian per bagian hambarlah rasanya. Namun saat bahan roti tersebut diramu dengan resep yang tepat dan dipanggang dengan suhu dan waktu yang pas, lezatlah rasanya.

Pun dengan kehidupan. Rasa sakit dan terpukul dalam bagian hidup kita akan menjadi sebuah kelezatan, hanya jika kita mampu meramunya dengan resep keimanan dan ketakwaan. Sungguh indah, ketika hidup ini penuh rasa syukur kepada Allaah. Ketenangan dan kedamaian akan selalu menyertai kehidupan kita, sebuah kelezatan dalam menikmati keimanan dan ketakwaan kepada Allaah Ta’aala.

Hadirin rahimakumullaah.

Pada Ramadlan tahun ini, sebagaimana hikmah ayat 186 surat al-Baqarah, mari kita mendekatkan diri kepada Allaah sembari berdoa kepada Allaah terhadap cita-cita dan asa kita dalam kedhidupan. Pada Ramadlan ini pula, bentuk pendekatan diri kepada Allaah adalah juga bagaimana kita memperbarui dan menguatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allaah, sehingga mampu menjadi bekal terbaik untuk menjalani kehidupan, sebagai resep manjur, mencapai lezatnya hidangan iman dan takwa.

Demikian penyampaian dari saya, kurang dan lebihnya mohon maaf.

Salam.

Seputar Ayat an-Nuur dan al-Ahzaab – Tentang Pakaian pada Wanita

Mencoba menjawab request seorang sahabat tentang jilbab dan kerudung. Bukan kualifikasi saya untuk menjawabnya dengan dalil dan argumen, maka saya kutipkan dari sumber yang terpercaya 🙂

_________________________________________________________________________

Dikutip tanpa perubahan dari Buku berjudul “Wawasan Al-Quran: Tafsir Tematik Atas Pelbagai Persoalan Umat” karya “M. Quraish Shihab”, Cetakan II (Desember 2007), diterbitkan oleh “Penerbit Mizan”, halaman 227-238

Wanita-wanita  Muslim,  pada  awal  Islam  di Madinah, memakai pakaian  yang  sama  dalam  garis   besar   bentuknya   dengan pakaian-pakaian  yang dipakai oleh wanita-wanita pada umumnya. Ini termasuk wanita-wanita  tuna  susila  atau  hamba  sahaya. Mereka  secara  umum  memakai  baju dan kerudung bahkan jilbab tetapi leher dan dada  mereka  mudah  terlihat.  Tidak  jarang mereka   memakai   kerudung  tetapi  ujungnya  dikebelakangkan sehingga telinga, leher  dan  sebagian  dada  mereka  terbuka.

Keadaan  semacam  itu digunakan oleh orang-orang munafik untuk menggoda  dan   mengganggu   wanita-wanita   termasuk   wanita Mukminah.  Dan  ketika  mereka  ditegur menyangkut gangguannya terhadap Mukminah, mereka berkata:  “Kami  kira  mereka  hamba sahaya.”  Ini  tentu  disebabkan  karena  ketika itu identitas mereka sebagai wanita Muslimah tidak  terlihat  dengan  jelas. Nah,  dalam  situasi  yang  demikian  turunlah  petunjuk Allah kepada Nabi yang menyatakan:

Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuan dan istri-istri orang Mukmin agar mengulurkan atas diri mereka jilbab-jilbab mereka. Yang demikian itu menjadikan mereka. Lebih mudah untuk dikenal (sebagai wanita Muslimah/wanita merdeka/orang baik-baik) sehingga mereka tidak diganggu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS A1-Ahzab [33]: 59).

Jilbab adalah  baju  kurung  yang  longgar  dilengkapi  dengan kerudung penutup kepala.

Ayat  ini  secara  jelas  menuntun/menuntut kaum Muslimah agar memakai pakaian  yang  membedakan  mereka  dengan  yang  bukan Muslimah  yang memakai pakaian tidak terhormat lagi mengundang gangguan tangan atau lidah yang usil. Ayat  ini  memerintahkan agar  jilbab  yang  mereka  pakai hendaknya diulurkan ke badan mereka.

Seperti tergambar di atas, wanita-wanita Muslimah sejak semula telah   memakai   jilbab,   tetapi   cara  pemakaiannya  belum menghalangi  gangguan  serta   belum   menampakkan   identitas Muslimah.

Nah, di sinilah Al-Quran memberi tuntunan itu.

Penjelasan  serupa tentang pakaian ditemukan pada surat Al-Nur (24): 31,

Katakanlah, kepada wanita yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang tampak darinya. Hendaklah mereka  mengulurkan/menutupkan kain kudung kedadanya dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau mertua mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara lelaki mereka, atau putra-putra saudara lelaki mereka, atau putra-putra saudara perempuan  mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan lelaki yang tidak mempunyai keinginan terhadap wanita, atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang yang beriman, supaya kamu beruntung.

Surat Al-Nur (24): 31 di atas, kalimat-kalimatnya cukup jelas. Tetapi  yang  paling  banyak  menyita  perhatian  ulama tafsir adalah larangan menampakkan zinah (hiasan)  yang  dikecualikan oleh  ayat  di atas dengan menggunakan redaksi illa ma zhahara minha [kecuali (tetapi) apa yang tampak darinya].

Mereka sepakat menyatakan bahwa zinah  berarti  hiasan  (bukan zina  yang  artinya  hubungan  seks yang tidak sah); sedangkan hiasan adalah segala sesuatu yang digunakan untuk  memperelok, baik   pakaian  penutup  badan,  emas  dan  semacamnya  maupun bahan-bahan make up.

Tetapi apa yang dimaksud dengan pengecualian itu? Inilah  yang mereka  bahas  secara  panjang lebar sekaligus merupakan salah satu kunci pemahaman ayat tersebut.

Ada yang berpendapat bahwa kata illa adalah istisna’ muttashil (satu  istilah  —  dalam  ilmu bahasa Arab yang berarti “yang dikecualikan merupakan  bagian/jenis  dari  apa  yang  disebut sebelumnya”),  dan  dalam penggalan ayat ini adalah zinah atau hiasan.

Ini  berarti  ayat  tersebut  berpesan:  “Hendaknya  janganlah wanita-wanita   menampakkan   hiasan  (anggota  tubuh)  mereka kecuali apa yang tampak.”

Redaksi ini, jelas tidak lurus, karena apa yang  tampak  tentu sudah  kelihatan.  Jadi, apalagi gunanya dilarang? Karena itu, lahir paling tidak tiga pendapat lain guna lurusnya  pemahaman redaksi tersebut.

Pertama,  memahami  illa  dalam arti tetapi atau dalam istilah ilmu  bahasa  Arab  istisna’   munqathi’   dalam   arti   yang dikecualikan  bukan  bagian/jenis yang disebut sebelumnya. Ini bermakna: “Janganlah mereka  menampakkan  hiasan  mereka  sama sekali;  tetapi apa yang tampak (secara terpaksa/bukan sengaja seperti ditiup angin dan lain-lain), maka itu dapat dimaafkan.

Kedua, menyisipkan kalimat dalam penggalan ayat  itu.  Kalimat dimaksud  menjadikan penggalan ayat itu mengandung pesan lebih kurang: “Janganlah mereka (wanita-wanita)  menampakkan  hiasan (badan  mereka).  Mereka  berdosa  jika  demikian. Tetapi jika tampak tanpa disengaja, maka mereka tidak berdosa.”

Penggalan ayat –jika dipahami dengan kedua pendapat di atas– tidak  menentukan  batas  bagi  hiasan yang boleh ditampakkan, sehingga berarti seluruh  anggota  badan  tidak  boleh  tampak kecuali dalam keadaan terpaksa.

Tentu  saja  pemahaman  ini, mereka kuatkan pula dengan sekian banyak hadis, seperti sabda  Nabi  Saw.  kepada  Ali  bin  Abi Thalib yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan At-Tirmidzi melalui Buraidah:

Wahai Ali, jangan ikutkan pandangan pertama  dengan  pandangan kedua.  Yang  pertama  Anda  ditolerir,  dan  yang  kedua anda berdosa.

Riwayat berikut juga dijadikan alasan,

Pemuda, Al-Fadhl bin Abbas, ketika haji Wada’ menunggang unta bersama Nabi Saw., dan ketika itu ada seorang wanita cantik, yang ditatap terus-menerus oleh Al-Fadhl. Maka Nabi Saw. memegang dagu Al-Fadhl dan mengalihkan wajahnya agar ia tidak melihat wanita tersebut secara terus-menerus.

Demikian  diriwayatkan  oleh  Bukhari  dari  saudara  Al-Fadhl sendiri, yaitu Ibnu Abbas.

Bahkan penganut pendapat ini merujuk kepada ayat A1-Quran,

Dan apabila kamu meminta sesuatu dan mereka, maka mintalah dari belakang tabir (QS Al-Ahzab 133]: 53).

Ayat  ini  walaupun  berkaitan  dengan permintaan sesuatu dari istri Nabi, namun dijadikan oleh ulama penganut kedua pendapat di atas, sebagai dalil pendapat mereka.

Ketiga,  memahami  “kecuali  apa  yang tampak” dalam arti yang yang biasa dan atau dibutuhkan keterbukaannya  sehingga  harus tampak.”  Kebutuhan  disini  dalam  arti menimbulkan kesulitan bila bagian badan tersebut ditutup. Mayoritas  ulama  memahami penggalan  ayat  tersebut  dalam arti ketiga ini. Cukup banyak hadis yang mendukung pendapat ini. Misalnya:

Tidak dibenarkan bagi seorang wanita yang percaya kepada Allah dan hari kemudian untuk menampakkan kedua tangannya, kecuali sampai di sini (Nabi kemudran memegang setengah tangan belõau) (HR Ath-Thabari).

Apabila wanita telah haid, tidak wajar terlihat darinya kecuali wajah dan tangannya sampai ke pergelangan (HR Abu Daud).

Pakar tafsir Al-Qurthubi, dalam tafsirnya  mengemukakan  bahwa ulama  besar  Said  bin Jubair, Atha dan Al-Auzaiy berpendapat bahwa yang boleh dilihat hanya  wajah  wanita,  kedua  telapak tangan  dan  busana  yang dipakainya. Sedang sahabat Nabi Ibnu Abbas, Qatadah, dan Miswar bin  Makhzamah,  berpendapat  bahwa yang  boleh  termasuk  juga  celak mata, gelang, setengah dari tangan  yang  dalam  kebiasaan  wanita  Arab  dihiasi/diwarnai dengan  pacar  (yaitu  semacam zat klorofil yang terdapat pada tumbuhan  yang  hijau),  anting,   cincin,   dan   semacamnya. Al-Qurthubi juga mengemukakan hadis yang menguraikan kewajiban menutup setengah tangan.

Syaikh Muhammad Ali As-Sais, Guru Besar  Universitas  Al-Azhar Mesir,  mengemukakan  dalam  tafsirnya-yang menjadi buku wajib pada Fakultas Syariah Al-Azhar bahwa Abu  Hanifah  berpendapat kedua  kaki,  juga  bukan aurat. Abu Hanifah mengajukan alasan bahwa ini lebih menyulitkan dibanding dengan tangan, khususnya bagi  wanita-wanita  miskin  di  pedesaan  yang  (ketika  itu) seringkali berjalan (tanpa alas kaki) untuk memenuhi kebutuhan mereka.  Pakar  hukum Abu Yusuf bahkan berpendapat bahwa kedua tangan wanita bukan aurat, karena dia menilai bahwa mewajibkan untuk menutupnya menyulitkan wanita.

Dalam  ajaran  Al-Quran memang kesulitan merupakan faktor yang menghasilkan kemudahan. Secara tegas Al-Quran menyatakan bahwa Allah tidak berkehendak menjadikan bagi kamu sedikit kesulitan pun (QS Al-Ma-idah [5]: 6) dan bahwa  Allah  menghendaki  buat kamu kemudahan bukan kesulitan (QS Al-Baqarah [2): 185).

Pakar tafsir Ibnu Athiyah sebagaimana dikutip oleh Al-Qurthubi berpendapat:

Menurut hemat saya, berdasarkan redaksi ayat, wanita diperintahkan untuk tidak menampakkan dan berusaha menutup segala sesuatu yang berupa hiasan. Pengecualian, menurut hemat saya, berdasarkan keharusan gerak menyangkut (hal-hal) yang mesti, atau untuk perbaikan sesuatu dan semacamnya.

Kalau  rumusan  Ibnu  Athiyah  diterima,  maka  tentunya  yang dikecualikan  itu  dapat  berkembang  sesuai  dengan kebutuhan mendesak yang dialami seseorang.

Al-Qurthubi berkomentar:

Pendapat (Ibnu Athiyah) ini baik. Hanya saja karena wajah dan kedua telapak tangan seringkali (biasa) tampak –baik sehari-hari maupun dalam ibadah seperti ketika shalat dan haji– maka sebaiknya redaksi pengecualian “kecuali yang tampak darinya” dipahami sebagai kecuali wajah dan kedua telapak tangan yang biasa tampak itu.

Demikian terlihat pakar hukum ini  mengembalikan  pengecualian tersebut  kepada  kebiasaan  yang  berlaku.  Dari  sini, dalam Al-Quran  dari  Terjemah-nya  susunan  Tim  Departemen  Agama, pengecualian  itu  diterjemahkan  sebagai kecuali yang (biasa) tampak darinya.

Nah, Anda boleh bertanya,  apakah  “kebiasaan”  yang  dimaksud berkaitan dengan kebiasaan wanita pada masa turunnya ayat ini, atau kebiasaan wanita di setiap masyarakat Muslim  dalam  masa yang  berbeda-beda?  Ulama  tafsir memahami kebiasaan dimaksud adalah kebiasaan pada masa  turunnya  Al-Quran,  seperti  yang dikemukakan Al-Qurthubi di atas.

Sebelum  menengok  kepada pendapat beberapa ulama kontemporer, ada baiknya kita melanjutkan sedikit lagi uraian ayat di atas, menyangkut kerudung.

Hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke atas juyubi-hinna (dada mereka).

Juyub  adalah  jamak jaib yaitu lubang yang terletak di bagian atas pakaian yang biasanya menampakkan (sebagian) dada.

Kandungan ayat ini berpesan agar dada ditutup dengan  kerudung (penutup  kepala).  Apakah  ini  berarti bahwa kepala (rambut) juga harus ditutup? Jawabannya, “ya”. Demikian  pendapat  yang logis,    apalagi   jika   disadari   bahwa   “rambut   adalah hiasan/mahkota wanita”. bahwa ayat ini tidak  menyebut  secara

tegas  perlunya  rambut  ditutup,  hal ini agaknya tidak perlu disebut. Bukankah mereka telah memakai kudung  yang  tujuannya adalah menutup rambut?

PENDAPAT BEBERAPA ULAMA KONTEMPORER TENTANG JILBAB

Di  atas  –semoga  telah  tergambar–  tafsir serta pandangan ulama-ulama mutaqaddimin (terdahulu) tentang persoalan  jilbab dan  batas  aurat wanita. Tidak dapat disangkal bahwa pendapat tersebut didukung oleh banyak ulama kontemporer. Namun  amanah ilmiah  mengundang  penulis  untuk  mengemukakan pendapat yang berbeda  –dan  yang  boleh   jadi   dapat   dijadikan   bahan pertimbangan  dalam menghadapi kenyataan yang ditampilkan oleh mayoritas wanita Muslim dewasa ini.

Muhammad Thahir bin Asyur seorang ulama besar dari Tunis, yang diakui juga otoritasnya dalam bidang ilmu agama, menulis dalam Maqashid Al-Syari’ah sebagal berikut:

Kami percaya bahwa adat kebiasaan satu kaum tidak boleh –dalam kedudukannya sebagai adat– untuk dipaksakan terhadap kaum lain atas nama agama, bahkan tidak dapat dipaksakan pula terhadap kaum itu.

Bin Asyur kemudian memberikan beberapa  contoh  dari  Al-Quran dan  Sunnah Nabi. Contoh yang diangkatnya dari Al-Quran adalah surat Al-Ahzab (33): 59, yang memerintahkan kaum Mukminah agar mengulurkan jilbabnya. Tulisnya:

Di dalam Al-Quran dinyatakan, Wahai Nabi, katakan kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan wanita-wanita Mukmin; hendak1ah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka, yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal sehingga tidak diganggu. Ini adalah ajaran yang mempertimbangkan adat orang-orang Arab, sehingga bangsa-bangsa lain yang tidak menggunakan jilbab, tidak memperoleh bagian (tidak berlaku bagi mereka) ketentuan ini.

Dalam kitab tafsirnya ia menulis bahwa:

Cara memakai jilbab berbeda-beda sesuai dengan perbedaan keadaan wanita dan adat mereka. Tetapi tujuan perintah ini adalah seperti bunyi ayat itu yakni “agar mereka dapat dikenal (sebagai wanita Muslim yang baik) sehingga tidak digangu” (Tafsir At-Tahrir, jilid XXII, hlm. 10).

Tetapi   bagaimana  dengan  ayat-ayat  ini,  yang  menggunakan redaksi perintah?

Jawabannya –yang sering  terdengar  dalam  diskusi–  adalah: Bukankah  tidak  semua  perintah yang tercantum dalam Al-Quran merupakan  perintah  wajib?  Pernyataan  itu,  memang   benar. Perintah  menulis  hutang-piutang  (QS  Al-Baqarah  [2]:  282) adalah salah satu contohnya.

Tetapi bagaimana  dengan  hadis-hadis  yang  demikian  banyak? Jawabannya  pun  sama.  Bukankah seperti yang dikemukakan oleh Bin Asyur di atas bahwa ada hadis-hadis  Nabi  yang  merupakan perintah,   tetapi   perintah  dalam  arti  “sebaiknya”  bukan seharusnya. (Lihat  kembali  uraian  tentang  memakai  pakaian sutera, cincin, emas pada buku ini).

Memang, kita boleh berkata bahwa yang menutup seluruh badannya kecuali wajah dan (telapak) tangannya, menjalankan bunyi  teks ayat  itu, bahkan mungkin berlebih. Namun dalam saat yang sama kita tidak wajar menyatakan terhadap mereka yang tidak memakai kerudung,   atau  yang  menampakkan  tangannya,  bahwa  mereka “secara  pasti  telah  melanggar  petunjuk  agama”.   Bukankah Al-Quran  tidak  menyebut  batas  aurat? Para ulama pun ketika membahasnya berbeda pendapat.

Namun demikian, kehati-hatian amat dibutuhkan, karena  pakaian lahir  dapat  menyiksa  pemakainya  sendiri  apabila  ia tidak sesuai dengan bentuk badan si pemakai.  Demikian  pun  pakaian batin.  Apabila tidak sesuai dengan jati diri manusia, sebagai hamba Allah, yang paling mengetahui ukuran dan patron  terbaik buat manusia.

***