Bencana Alam Indonesia: Tinjauan Teologis dan Ilmiah

Perspektif teologis dan ilmiah terhadap bencana alam di Indonesia mengerucut pada kesimpulan yang sama: wajar terjadi. Namun banyak di antara kita menyikapinya dengan beberapa kekeliruan, seperti (1) menganggapnya sebagai siksa atau adzab, kemudian menimpakan kesalahan kepada pihak tertentu yang sedang tak sejalan, atau (2) hanya membahas aspek teologis saja sebagai pemakluman dan tindakan pencegahan, yang hampir sama sekali tak membahas aspek ilmiah sebagai bentuk mitigasi.

Mengapa iman berlangsung dengan hati, bukannya akal

Ketika Sayyidinaa Muhammad SAW mengalami peristiwa Isra’ Mi’raj, ada segelintir orang Islam baru yang melepas Islamnya sebagai bentuk reaksi atas kejadian luar biasa tersebut. Dalihnya: apa yang disampaikan Nabi SAW tidak masuk akal.

Sayyidinaa Abu Bakar RA adalah salah satu orang yang dengan tegas membenarkan Isra Mi’raj, sehingga beliau masyhur dengan gelar ash-Shiddiq atau yang membenarkan. Kisah keimanan beliau diabadikan di dalam al-Qur`an surat az-Zumar ayat 33,

وَلَّذِي جَاءَ بِالصِّدْقِ وَصَدَّقَ بِهِۙ أُولٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ

Dan orang yang membawakebenaran dan yang membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa.

Ayat tersebut dimaknai oleh ulama bahwa yang dimaksud bish-shidqi, membawa kebenaran adalah Rasuulullaah Muhammad SAW, sementara shaddaqa bihi, yang membenarkannya, adalah Sayyidinaa Abu Bakar RA. Dan inilah sikap Sayyidinaa Abu Bakar RA yang harus kita teladani sebagai reaksi tentang hadirnya kabar tentang kebenaran iman dan islam, yakni mengukuhkannya di dalam hati, sekalipun belum memuaskan akal.

Sungguh, proses keagamaan seseorang idealnya memang dimulai dengan hati, karena betapa luasnya hati dalam menerima berbagai peristiwa dan kejadian. Perhatikan bagaimana uniknya seseorang yang bisa jatuh cinta atau sebaliknya membenci seseorang. Atau bagaimana masing-masing dari kita memiliki kegemaran yang berbeda satu sama lain, yang terkadang tidak masuk akal dan tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Ada yang hobi memelihara burung untuk dilombakan suaranya hingga tingkat nasional. Ada yang hobi mengoleksi action figure, bentuk kecil tokoh tertentu yang harganya sangat mahal. Ada yang hobi mengoleksi perangko, meskipun surat-suratan sudah tidak zamannya lagi. Dan setiap hobi tersebut terdapat komunitasnya, ada kumpulan orang-orang yang memiliki kegemaran sama. Kesemuanya menghabiskan uang yang tak sedikit dan bagi yang bukan hobinya akan mengatakan: tidak masuk akal!

Tapi itulah keunikan jiwa serta hati manusia, yang terpuaskan oleh hal-hal unik dan menarik melalui berbagai kegemaran. Dan puncak kepuasan dahaga jiwa manusia adalah ketika dia menerima kebenaran spiritualitas ketuhanan, melalui agama, yang dalam konteks kita adalah menerima ajaran iman dan islam.

Mengapa bagi seorang manusia bukan akal yang menjadi ukuran kebenaran iman dan islam? Alasannya adalah karena terbatasnya akal manusia, sehingga ia belum mampu menerima hal-hal yang sangat tinggi keagungan hakikatnya. Kisah tentang penerbangan adalah contohnya.

Terdapat mitologi, kisah-kisah dewa masa lalu dari Yunani tentang seseorang yang bermimpi untuk terbang, bernama Icarus. Dia mencoba mengalahkan keterbatasan dengan mencoba untuk terbang. Dia susun sayap-sayap yang ia tempelkan dengan lilin. Namun begitu dia terbang terlalu tinggi, panas matahari kemudian mengalahkan rekatan lem. Jatuhlah ia dalam kesia-siaan kematian karena mencoba terbang.

Di dunia nyata, seorang ilmuan sekaligus seniman Italia bernama Leonardo Da Vinci, pada tahun 1493 membuat gambar sketsa kendaraan terbang. Gambarnya mirip-mirip dengan helikopter modern sekarang. Tapi baru 410 tahun kemudian, manusia baru benar-benar dapat terbang. Tepatnya pada 1903 Wright bersaudara berhasil menerbangkan pesawat bermesin dengan satu penumpang sekaligus pilot. Itupun hanya setinggi 259 meter selama 59 detik. Setelah 59 detik bersejarah tersebut pesawat jatuh dan hancur lebur. Saat ini tercatat secara global di seluruh dunia, terdapat 36,8 juta penerbangan di sepanjang tahun 2017. Dalam beberapa tahun ke depan beberapa negara maju sudah menargetkan dapat terbang ke luar bumi, untuk mencoba memulai kehidupan baru di Planet Mars.

Kisah penerbangan tersebut menggambarkan betapa lambatnya akal manusia memahami kemampuan terbangnya. Jika teknologi pesawat dikenal ketika Nabi SAW mengalami Isra’ Mi’raj, maka perjalanan semalam dari Makkah ke Palestina pulang pergi adalah sesuatu yang masuk akal. Tetapi karena saat itu akal manusia belum mencapai teknologi penerbangan, maka menerima Isra’ Mi’raj sebagai kebenaran adalah mustahil secara akal. Pilihannya hanyalah dua: percaya dan iman dengan sepenuh hati atau tak percaya sama sekali.

Tetapi jangan diartikan bahwa beragama hanya mengandalkan hati atau jiwa saja kemudian akal diabaikan. Sama sekali tidak! Justru sebaliknya, akal adalah anugerah terindah dari Allaah SWT kepada manusia, sebagai alat bantu meneguhkan keimanan. Percaya dengan hati sepenuhnya adalah 100%, maka dengan dukungan akal keimanan akan menjadi lebih kuat, bisa 110% atau bahkan 1000%. Ketika akal belum mampu memahami hakikat sebuah kejadian dari perspektif iman, maka kembalilah iman pada satu yang sempurna: 100%.

Sedikitnya ada dua tujuan mengapa akal dikaruniakan kepada manusia, yakni pertama memahami lingkungan sekitarnya untuk memenuhi kebutuhannya dan kedua, menangkap tanda-tanda kebesaran Allaah SWT yang terwujud di alam raya ini, yang tergambar di dalam berbagai makhluk ciptaan Allaah SWT.

Allaah berfirman di dalam surat al-Baqarah ayat 31,

وَعَلَّمَآدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا

Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya.

Ayat ini berkaitan dengan penjelasan Allaah SWT tentang penciptaan manusia sebagai wakil Allaah SWT di muka bumi, di mana kita semua diberi kemampuan akal untuk mengelola lingkungan sekitar: makan, minum, membuat pakaian, membangun rumah, bertani, berkebun, menambang minyak dan gas, mengambil dan mengolah berbagai bahan dari dalam bumi sehingga menjadi berbagai alat elektronik modern seperti saat ini. Manusia pula mampu menyesuaikan diri membentuk komunitas, kumpulan manusia, hingga bersepakat untuk bernegara. Inilah anugerah akal kepada manusia.

Sementara akal juga menguatkan iman dengan memahami fenomena alam: Siapa yang menciptakan bumi, bulan, dan matahari? Bagaimana benda langit yang sangat bisa saling memutar satu sama lain tanpa bertubrukan? Bagaimana laut yang begitu luas, gunung yang begitu tinggi, angin yang berhembus, dan hukum-hukum alam lain dapat berlangsung dengan keteraturan? Benar ada hukum yang menjadi sebab bagi terjadinya semua fenomena tersebut, tapi siapa yang menghendaki hukum-hukum tersebut ada dan terus berjalan selama berabad-abad? Tentu ada yang Maha-segalanya, Pencipta dan Pengatur Segenap Alam Raya dan seisinya, Dialah Allaah SWT.

Bencana Alam di Indonesia: Tinjauan Dua Perspektif

Begitu pula dengan sikap kita terhadap bencana gempa bumi, gunung berapi, maupun tsunami yang sangat berpotensi terjadi di Indonesia. Kita harus memahaminya dari dua sudut pandang, yakni agama dan akal, agar menjadi berimbang pemahaman kita.

Ditinjau dari segi agama, bencana alam adalah sebuah keniscayaan, sesuatu yang wajar terjadi, karena setiap detail kejadian di muka bumi ini di-kersakke, di bawah kendali, ditakdirkan, dan diizinkan oleh Allaah SWT untuk berlangsung.

…اَلْحَيُّ الْقيُّمُ…وَسِعَ كُرْسِيُهُ السَّمٰوَاتِ وَالْاَرْضْ…

… Maha-hidup dengan kehidupan yang kekal, terus menerus mengurusciptaan-Nya … Kursi (kuasa)-Nya mencakup langit dan bumi …

Lebih dari itu, setiap kejadian, lebih-lebih bencana alam, merupakan peringatan bagi setiap manusia, yang beriman maupun yang sedang durhaka kepada Allaah SWT. Bagi yang beriman, hikmah bencana alam adalah untuk lebih dekat lagi kepada Allaah SWT. Bagi yang durhaka, bencana alam adalah peringatan agar meninggalkan kedurhakaannya dan segera berubah menjadi manusia yang lebih taat.  Bahkan kejadian yang menyenangkan pun kita bisa menarik banyak hikmah, apalagi bencana alam yang lazimnya menimbulkan korban nyawa dan harta benda yang tak sedikit.

Namun demikian, sayangnya, setelah bencana di Lombok dan Palu kemarin, ada beberapa orang yang distempel ulama, justru menarik kesimpulan aneh ketika mengurai hikmah bencana alam. Bagi mereka, bencana alam di Indonesia adalah adzab atau siksa atas perilaku pemerintah yang mereka anggap zhalim kepada beberapa tokoh yang dianggap ulama versi mereka.

Kalau hadirnya bencana alam di Indonesia adalah karena kriminalisasi ulama, apakah berarti Jepang yang setiap hari mengalami gempa dan kadang pula tsunami, juga disebakan karena melakukan hal yang sama? Padahal yang dianggap ulama belum tentu ulama, tetapi hanya dai, orang yang menyampaikan ajaran agama, yang ditangkap karena diduga terlibat dalam masalah hukum.

Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, Nabi SAW bersabda tentang ayat ke-33 Surat al-Anfal. Nabi SAW ngendika,

أَنْزَلَ اللّٰهُ علَيَّ أَمَانَيْنِ لِأُمَّتِي، وَمَا كَانَ اللّٰهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيْهِمْ، وَمَا كَانَ اللّٰهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُوْنَ، فَإِذَا مَضَيْتُ تَرَكْتُ فِيْهِمْ الْاِسْتِغْفَارَ إِلَ يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

Allaah menurunkan untukku dua rasa aman bagi umatku, Dan Allaah sekali-kali tidak akan menyiksa mereka, sedang engkau (wahai Muhammad) berada di antara mereka. Dan tidak pula Allaah akan menyiksa mereka, sedang mereka memohon ampun, kalau aku telah pergi (wafat) aku meninggalkan buat mereka istigfar, hingga Hari Kiamat.

Kalimat wa anta fiihim, engkau (wahai Muhammad) berada di antara mereka, ditafsirkan bukan berarti selama Nabi Muhammad SAW hidup secara lahiriah, namun juga sepanjang masih ada orang yang bershalawat kepada Nabi SAW dan masih ada orang-orang yang menjalani ajaran Nabi SAW.

Dengan kata lain, bencana alam yang hadir di sebuah tempat bukanlah adzab dan bukan pula siksa dari Allaah SWT, selama masih ada penduduk muslim yang beristighfar. Sungguh keji mereka yang mengatakan kalau bencana Lombok dan Palu adalah adzab, karena artinya mereka menganggap tak ada lagi Islam dan istighfar di bumi Palu dan Lombok. Padahal Palu adalah bumi muslim, begitu pula dengan Lombok yang mendapat julukan Negeri Seribu Masjid. Bandara di Palu bernama Mutiara SIS al-Jufri, di mana SIS al-Jufri adalah nama ulama besar, habaib pendakwah di Palu, SIS yakni al-Maghfurlah Sayyid Idrus bin Salim al-Jufri. Sementara di Lombok terdapat ulama besar, al-Maghfurlah Tuan Guru Zainuddin Abdul Madjid, pendiri Nahdlatul Wathan, organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Nusa Tenggara Barat.

Sungguh, firman Allaah SWT tersebut merupakan penghormatan yang tinggi dari Allaah SWT kepada Nabi Muhammad SAW sekaligus pembuktian firman Allaah SWT bahwa diutusnya seorang Rasuulullaah SAW bermakna sebuah rahmat, kasih sayang yang besar bagi semesta alam dan seisinya tanpa kecuali.

Kemudian, jika ditinjau dari sudut pandang akal, maka bencana gempa bumi, gunung api, dan tsunami juga merupakan kewajaran yang alami. Indonesia kita mendapat julukan Negeri Cincin Api, The Ring of Fire, karena penampakan alamnya yang dikelilingi pegunungan-pegunungan aktif sekaligus titik-titik pertemuan permukaan bumi.

Indonesia adalah negara dengan gunung berapi terbanyak ketiga di dunia dengan 139 gunung api aktif, yang tersebar di Sumatera, Jawa, Sulawesi, hingga Maluku. Permukaan bumi terbagi dalam kulit-kulit bumi yang sangat besar dan Indonesia merupakan titik temu antara kulit bumi Pasifik dan Eurasian. Indonesia berada di posisi ketiga dalam jumlah kematian terbesar akibat gempa bumi (1900-2016) setelah Tiongkok (876 ribu jiwa), Haiti (222 ribu jiwa), Indonesia (198 ribu), baru disusul Jepang (194 ribu jiwa).

Hikmah dari memahami bencana gempa dari sudut pandang akal adalah bagaimana kita meminimalisir dampak gempa bumi. Bahasa yang sering digunakan adalah mitigasi bencana. Kenapa bukan mencegah bencana? Karena hadirnya gempa bumi adalah sebuah kepastian, baik dari sisi agama maupun akal.

Di Indonesia, proses mitigasi ini belum berjalan dengan  baik. Adanya tsunami atau tidak, dapat diputuskan lima menit sesudah kejadian gempa. Sebenarnya kita pernah memiliki alat deteksi yang diapungkan di tengah laut, sehingga cukup dua menit sesudah gempa, efek tsunami dapat diprediksi. Hanya saja alat ini hilang entah dicuri siapa.

Begitu pula mitigasi dengan menggunakan desain bangunan yang tahan gempa. Jepang telah mengembangkannya. Begitu pula Indonesia, melalui rumah berbahan kayu atau bambu. Namun kadang masyarakat kita belum memiliki pengetahuan yang baik tentang gempa, sehingga desain rumah tahan gempa ini diabaikan.

Pemerintah Daerah sebagai pemilik wewenang di tingkat lokal sebenarnya juga dapat memitigasi bencana dengan menetapkan daerah yang rawan bencana agar tidak menjadi hunian manusia, sehingga ketika bencana muncul, korban dapat diminimalisir. Kasus di Palu menjadi menakutkan karena daerah yang terkena likuifikasi –fenomena tanah yang secara tiba-tiba menjadi lumpur cair– telah meluluhlantakan pemukiman di atasnya. Padahal, potensi kejadian likufikasi tersebut telah diteliti sejak lama. Artinya, mengapa muncul pemukiman di atasnya, sementara sudah jelas adanya potensi bencana di lokasi tersebut. Di mana peran Pemerintah Daerah yang berwenang menerbitkan atau menolak izin pembangunan? Hal ini menjadi satu PR besar bukan hanya bagi Pemda Sulawesi Tengah (Provinsi, Kabupaten, Kota) tetapi juga bagi seluruh daerah yang memiliki potensi terjadinya bencana.

Demikianlah uraian tentang bencana bukan sebagai adzab atau siksa, tetapi sebagai peringatan bagi semua orang, lebih-lebih untuk mendekatkan diri kepada Allaah untuk memohon perlindungan melalui ketaatan pada ajaran agama dan bacaan istighfar serta shalawat, sekaligus menggerakkan akal secara maksimal untuk memitigasi bencana yang mungkin terjadi di seluruh wilayah Indonesia.