Uraian tentang Kebaikan

Di dalam ajaran Islam, dikenal terminologi birr atau kebajikan, sebagaimana kita sering mendengar istilah birrul-walidayn, berbuat baik kepada kedua orang tua atau berbakti kepada kedua orang tua. Kebajikan atau birr pengertiannya mencakup semua kebaikan. Bahkan sesuatu yang sederhana, seperti ucapan baik dan wajah berseri.

Ucapan yang baik akan mengarah pada tindakan yang baik. Sementara menampakkan wajah berseri ketika bertemu teman dan kerabat adalah tanda kebajikan. Sikap yang demikian, yakni mengucapkan tentang kebaikan dengan cara yang baik serta menampakkan wajah yang berseri, akan dapat menarik hati, menanamkan kecintaan dan kasih sayang, dan menumbuhkan ketenangan. Berbeda dengan ucapan kasar dan muka masam, dua hal ini tidak disukai dan dijauhi semua orang. Maka sungguh, bahwa Islam adalah ajaran yang mengajak semua orang menuju pada kebaikan.

Hadirin rahimakumullah. Islam mengajarkan kita berbicara dengan baik dan menampakkan wajah berseri ketika bertemu dengan orang-orang terkasih. Cara ini berguna untuk menebarkan dakwah Islam di kalangan semua orang dan menumbuhkan rasa cinta kepada sesama. Allaah SWT memerintahkan di dalam surah al-Hijr ayat 88,

 photo uraian kebaikan - 1_zpskm3yrsjy.png

Kata janaaha pada mulanya berarti sayap. Penggalan ayat ini mengilustrasikan sikap dan perilaku seseorang seperti halnya seekor burung yang merendahkan sayapnya pada saat ia hendak mendekat kepada pasangannya. Begitu pula saat melindungi anak-anaknya, dengan sayapnya yang dikembangkan dengan merendah dan merangkul, tidak beranjak dari tempatnya berada hingga bahaya yang mengancam anak-anaknya telah berlalu.

Gambaran ini membawa ayat wakhfidl janahaka lil-mu’miniina, rendahkanlah sayapmu kepada orang-orang mukmin, dapat dimaknai agar mewujudkan kerendahan hati, hubungan harmonis, perlindungan, dan ketabahan bersama kaum beriman, khususnya pada kondisi sulit dan krisis.

Sikap baik ini ditekankan pula tentang bagaimana seorang utusan Allaah SWT menjalankan tugas kerasulannya. Allaah SWT berfirman di dalam surah ‘Ali Imron ayat 159,

uraian kebaikan - 2

Selain menggambarkan tentang watak utusan Allaah Ta’aala yang harus penuh kelembutan baik hati maupun perilakunya, ayat ini juga menunjukkan adanya pendidikan langsung dari Allaah Ta’aala kepada Nabi Muhammad SAW. Allaah SWT mendidik langsung dengan menghilangkan faktor-faktor yang memengaruhi terbentuknya kepribadian seorang manusia.

Ayah Nabi Muhammad SAW wafat sebelum Nabi lahir dan dibawa jauh dari ibu beliau sejak kecil untuk disusukan. Nabi Muhammad SAW tidak mampu membaca dan menulis dan hidup di masyarakat yang belum begitu maju jika dibandingkan dengan peradaban di sekitar jazirah arab yang sudah maju pada masa itu, seperti munculnya peradaban dengan pemerintahan kerajaan di Persia dan Romawi.

Maka sesungguhnya, Allaah takdirkan hilangnya empat faktor yang biasanya mendidik manusia dari Nabi Muhammad SAW, yakni ayah, ibu, bacaan, dan lingkungan. Hampir tidak ada yang menyentuh kehidupan Nabi Muhammad SAW dari keempat faktor pendidikan tersebut. Namun, perangai seorang Nabi Muhammad SAW tetap penuh dengan keluhuran, penuh dengan kebajikan, penuh dengan kelembutan, baik di hati maupun di perilaku. Inilah yang dimaksud dalam ayat fabimaa rahmatim-minallaah linta-lahum, maka disebabkan rahmat dari Allaah-lah, engkau berlaku lemah-lembut terhadap mereka.

Kondisi Nabi Muhammad yang dididik langsung dari Allaah juga ditekankan kemudian dalam ayat walaw kunta fazh-zha ghalizhal-qalbi, sekiranya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, di mana Allaah gunakan redaksi berupa pengandaian bersyarat yang tidak mungkin terwujud dengan menggunakan kata law atau diartikan sebagai sekiranya. Artinya, sikap keras dan hati kasar tersebut hanyalah pengandaian yang tak mungkin terwujud dari sosok seorang Nabi Muhammad SAW. Inilah wujud pendidikan dari Allaah SWT.

Kemudian dari ayat ini pula, Allaah Ta’aala mengingatkan umat manusia tentang kesatuan hati dan perbuatan. Bahwa Nabi Muhammad SAW adalah manusia yang penuh kebaikan, luar maupun dalam: yang tampak dari luar, yakni tidak berlaku keras sekaligus, tidak berhati kasar, yaitu sesuatu yang tersembunyi di dalam diri seorang manusia. Sehingga nasihatnya adalah jangan setengah-setengah dalam berbuat baik: bukan menjadi seorang yang berlaku keras walaupun sesungguhnya berhati lembut dan bukan pula menjadi seseorang yang hatinya lembut tetapi tak mengerti sopan santun sehingga keras perbuatan lahirnya. Inilah teladan dari seorang Nabi Muhammad SAW, bersungguh-sungguh dalam mewujudkan kebaikan, di hati maupun di lisan dan perbuatan.

Hadirin rahimakumullaah, demikian pula dengan anjuran dalam banyak hadits Nabi Muhammad SAW yang sejalan dengan perintah berbuat baik dari al-Qur’an. Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, dari ‘Adiy bin Haatim, misalnya, Nabi Muhammad SAW bersabda,

uraian kebaikan - 3

Hadits ini menganjurkan amalan sekalipun hanya bisa sedikit. Allaah Ta’aala memastikan bahwa sebuah kebaikan akan mendapatkan balasan, sekecil apapun kebaikan tersebut,

uraian kebaikan - 3B

Begitu pula dengan berbicara dengan lembut, termasuk sebagai sedekah yang mendatangkan pahala. Sebab, ucapan yang lembut menunjukkan rasa hormat dan menghargai kedudukan orang lain. Kata-kata yang baik dapat menghilangkan dendam dan kebencian dalam jiwa. Nabi Muhammad SAW, diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Abu Hurairah RA, pernah bersabda,

 photo uraian kebaikan - 4_zpsfcphxslo.png

Demikian juga dengan senyuman, keceriaan, ucapan lembut dan baik, semua merupakan sedekah, bagaikan bersedekah harta. Imam Muslim meriwayatkan ucapan Nabi Muhammad SAW yang bersumber dari Abu Dzarr RA,

uraian kebaikan - 5

Kebaikan dalam hadits ini bermakna sesuatu yang dianggap baik menurut ajaran Islam dan didukung akal sehat. Adapun dengan wajah ramah atau wajah berseri-seri adalah menampakkan kegembiraan, penuh toleransi, dan senang bertemu orang lain. Ekspresi seperti ini dapat menanamkan rasa cinta dan kasih sayang dalam hati.

Al-Qur`an membandingkan dampak perkataan baik di tengah masyarakat, sebagaimana Allaah firmankan di dalam surah Ibrahim ayat 24-26,

uraian kebaikan - 6

Para ulama tafsir memaknai kalimat yang baik yang diumpakan pohon tersebut adalah kalimat tauhid, yakni kalimat laa-ilaaha-illa-Llaah, tiada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allaah SWT. Inilah kalimat kesaksian kita kepada Allaah Ta’aala.

Ketika keimanan kepada Allaah Ta’aala mewujud di dalam hati, maka sudah seharusnya rukun iman pun turut mewujud: keimanan akan malaikat-malaikat Allaah, kitab-kitab Allaah, para utusan Allaah, takdir dan ketentuan Allaah, serta Hari Pembalasan. Keimanan yang sempurna adalah iman yang diikuti dengan keislaman.

Tentu saja bukan sekedar dalam batasan Rukun Islam yang lima, yakni dua kalimat kesaksian, salat lima waktu, puasa, zakat, dan haji; tapi juga islam dalam makna kedamaian dan keselamatan: yakni bagaimana diri kita mampu mendatangkan keduanya seiring dengan perjalanan kehidupan kita. Bahwa kehadiran kita adalah kedamaian bagi diri sendiri dan orang lain, bahwa lisan kita adalah keselamatan bagi diri sendiri dan orang lain, bahwa perbuatan kita adalah kelembutan bagi diri sendiri dan orang lain.

Hadirin rahimakumullaah, di surah al-‘Alaq ayat kedua Allaah berfirman, khalaqal insaana min ‘alaq, yang menciptakan manusia dari ‘alaq. ‘Alaq dapat dimaknai sebagai segumpal darah atau dapat pula dimaknai sebagai sesuatu yang bergantung di dinding rahim. Pengertian ini membawa makna akan satu di antara sifat-sifat dasar manusia: bergantung menunjukkan kebutuhan kepada orang lain. Kebutuhan kepada Allaah Ta’aala jelas nyata, tapi kebutuhan kepada sesama manusia juga ada. Allaah sampaikan firman ini setelah memerintahkan kita membaca, iqra` bismirabbikalladzi khalaq, bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang mencipta, kemudian ayat khalaqal insaana min ‘alaq.

Maknanya: iqra`, bacalah, yakni manfaatkanlah ilmu pengetahuan dan teknologi, tapi ingatlah, bismirabbikalladzi khalaq, dengan menyebut nama Tuhanmu yang mencipta, bahwa semua harus diliputi suasana ingat kepada Tuhan, sehingga kemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut haruslah kembali kepada kemakmuran manusia karena khalaqal insaana min ‘alaq, diciptakan dari sesuatu yang bergantung di dinding rahim, karena sesama manusia saling membutuhkan satu sama lain.

Maka, mari kita tegakkan kalimat tauhid dengan sebenarnya, yakni bukan sekedar mengucapkannya bagi diri sendiri atau bahkan justru beralih untuk menebar teror dan ketakutan bagi orang lain, tapi menyempurnakannya dengan keislaman, yakni menjalani perintah agama dengan sesungguh-sungguhnya, agar terwujud keselamatan, kedamaian, dan kebaikan di muka bumi karena kehadiran kita.

Semoga Allaah Ta’aala memudahkan usaha kita untuk selalu memiliki hati yang lembut dan berniat baik, sekaligus mampu mewujudkannya dalam bentuk kata-kata dan perbuatan baik. Aamiin, ya Rabbal ‘aalamiin.

Cinta kepada Sesama Manusia: Pokok Ajaran Islam

Tautan versi PDF, silakan untuk digunakan sebagai bahan ceramah: LINK.

Alhamdulillaah, segala puji hanya pantas disandang oleh Allaah Tabaraka wa Ta’aala yang masih berkenan memberikan kepada kita kenikmatan agung untuk bertemu kembali dengan Ramadlan. Shalawat serta salam semoga tetap dan terus tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat, serta, pengikut beliau.

Hadirin rahimakumullaah.

Nikmat pertemuan dengan Ramadlan harus benar kita syukuri, agar Allaah Ta’aala melipat-gandakan nikmat tersebut, yakni semoga memberikan kesempatan kepada kita untuk bertemu dengan Ramadlan-Ramadlan di tahun berikutnya. Sesuai dengan firman Allaah Ta’aala yang masyhur tentang bersyukur (QS Ibrahim ayat 7),

Sama halnya dengan dua nikmat lain, yang kita kebanyakan lupa dan terlena, karena kehadiran nikmat tersebut yang berlangsung hampir setiap saat. Kanjeng Nabi SAW bersabda (HR at-Thabrani dari Ibnu ‘Abbas),

Dalam berbagai kesempatan, di setiap Ramadlan, saya selalu mengingatkan betapa aman dan nyamannya kita beribadah sebagai umat Islam di Indonesia. Kadang nikmat ini, yakni termasuk nikmat keamanan sebagaimana Nabi SAW sampaikan, lupa untuk kita syukuri.

Munculnya peledakan di Kampung Melayu yang diklaim oleh ISIS sebagai dalangnya, sudah sepantasnya meningkatkan kewaspadaan kita terhadap nikmat keamanan, yang jangan-jangan kita lupa mensyukurinya. Mari kita bercermin pula pada munculnya ISIS di Filipina, negara yang sangat dekat dengan Indonesia. Pun dengan peledakan dua bom di Baghdad, negeri berpenduduk mayoritas Islam, dalam sehari terakhir.

ISIS adalah ancaman nyata bagi umat Islam, karena pada nyatanya korban terbesar kekejian mereka selama ini adalah umat Islam sendiri. Ketika mereka terdesak di Timur Tengah, ISIS mencari cara lain untuk menyebarkan ajaran sesatnya: melalui kelompok-kelompok radikal di luar Timur Tengah. Sayangnya, ada sebagian putra bangsa Indonesia yang justru menganggapnya ancaman nyata ini sebagai rekayasa semata.

Hadirin rahimakumullaah.

Boleh jadi ada di antara kita ada yang bertanya-tanya, di mana letak kesalahan ajaran ISIS? Bukankah ISIS membawa bendera bertuliskan kalimat tauhid (laa-ilaaha-illaa-Llaah)? Jelas nyata, salah satu kesalahan yang paling nampak adalah kekejian ISIS kepada sesama manusia. Padahal Nabi SAW bersabda (HR Bukhari),

Jika Nabi SAW memerintahkan demikian, apakah mungkin muncul kekejian kepada sesama manusia? Tentu tidak.

Inilah kepedulian yang seharusnya muncul dari pemeluk Islam. Cinta, yang tidak hanya kepada sesama muslim atau sesama mukmin, tapi kepada sesama manusia. Atau dapat pula dikatakan, cinta kepada sesama manusia saja diperintahkan oleh Nabi SAW, apalagi kepada sesama muslim atau mukmin.

Dalam sabdanya yang lain Nabi SAW bersabda (HR ath-Thabrani dari Abu Umamah),

Sabda Nabi SAW menggambarkan bahwa ibadah vertikal dan personal kita kepada Allaah Tabaraka wa Ta’aala harus membekas di dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Bukankah memalukan jika shalat kita khusyu’ dan rajin namun tak tercermin di dalam cara kita berkomunikasi dengan tetangga atau orang lain siapapun itu? Bukankah seharusnya diri kita sendirilah yang mewujudkan firman Allaah (QS al-‘Ankabut ayat 45),

Ini karena kita bukan sekedar makhluk individu, tetapi juga makhluk sosial. Karena Allaah gambarkan pula penciptaan kita melalui makna surat al-‘Alaq, sesuatu yang menggantung di dinding rahim yang dimaknai kebutuhan manusia terhadap manusia lainnya. Wajarlah kemudian Islam juga mengajarkan fungsi sosial harta, melalui zakat, shadaqah, hibah, wakaf, hadiah, dan bahkan melarang beredarnya harta di antara sedikit orang, sebagaimana Allaah Ta’aala sampaikan dalam firman-Nya (QS al-Hasyr ayat 7),

Lebih dari itu, Nabi SAW menekankan pentingnya misi kemanusiaan dalam Islam, melalui sabda beliau (HR ath-Thabrani),

Sesudah iman kepada Allaah, maka wujud nyata keimanan harus ditujukan kepada sesama makhluk, terutama manusia. Dorongan ini selaras dengan fungsi kita sebagai khalifatullaah fil-ardl, wakilnya Gusti Allaah SWT di muka bumi, untuk memakmurkan bumi dan seisinya, menciptakan bayang surga di muka bumi.

Di sabda Nabi SAW yang lain, yang mirip maknanya dengan amalan utama sesudah iman agar mencintai sesama manusia, bahkan ditambah dengan perintah lain yang lebih indah. Beliau SAW bersabda (HR Baihaqi),

Inilah indahnya Islam yang sesungguhnya. Bahkan kepada mereka yang durjana pun, kita diperintahkan untuk berbuat baik. Membenci dan memberikan hukuman atas perbuatan seseorang yang melanggar dengan hukum positif itu harus, tapi tidak boleh kemudian memperburuk keadaan dengan berbuat buruk kepadanya. Justru sebaliknya: berbuat baiklah, sekalipun kepada seorang yang durjana!

Hadirin rahimakumullaah.

Mengapa berbuat buruk kepada pendosa dilarang? Mengapa mencaci seseorang yang berbuat dosa dilarang? Sebagaimana dikisahkan sebuah hadis (HR al-Bukhari dari Abu Hurairah RA), bahwa seorang laki-laki yang menenggak minuman keras dihadapkan kepada Nabi Muhammad SAW, Abu Hurairah berkata,

Menghukum seseorang sesuai dengan norma yang berlaku itu harus. Tetapi mencaci-maki sang pelanggar atau mengutuk hingga melaknatnya, sungguh dilarang oleh Nabi Muhammad SAW. Bahkan oleh Nabi SAW disamakan dengan memberikan pertolongan kepada setan!

Mengapa demikian? Karena tujuan syaithan menggoda manusia adalah untuk menjerumuskan kita kepada neraka, sehingga ketika kita sebagai manusia melakukan laknat kepada sesama manusia, mengutuk sesama manusia agar Allaah membenci, bahkan berharap para pendosa masuk ke neraka, apa bedanya kita dengan syaithan? Inilah maksud Nabi Muhammad SAW dengan memberikan pertolongan kepada syaithan.

Hadirin rahimakumullaah.

Saya berada di atas mimbar ini utamanya adalah untuk mengingatkan diri saya sendiri, baru kemudian mengajak bersama-sama kepada seluruh hadirin, untuk mengubah cara kita memandang kepada saudara-saudara kita yang masih bergelimang dosa. Tidak lagi dengan jijik dan kutukan, tapi dengan rasa kasihan dan dakwah serta doa.

Melihat para pemuda yang terjerumus ke premanisme dan bertindak kekerasan, tidak lagi dengan laknat tapi dengan rasa kasihan, kemudian memberikan nasihat jika kenal serta mendoakan semampunya. Melihat seorang yang sudah berusia dewasa namun masih menenggak minuman keras tidak lagi dengan sekedar kutukan dan doa keburukan, tapi dengan rasa kasih tentang kesehatan organ dalamnya, seraya memberikan nasihat dan mendoakan semampunya.

Secara praktek, ini sangat sulit. Bahkan saya sendiri pun belum tentu bisa melakukannya. Berdoa untuk yang kita kenal saja kadang kita lupa, bagaimana mungkin mendoakan orang yang buruk perangainya agar bisa berubah ke arah yang lebih baik? Maukah kita menyempatkan diri untuk memberi rasa kasih kepada saudara-saudara kita yang demikian, melalui dakwah, kata-kata, kelembutan, teladan, dan doa, agar kembali ke jalan yang benar?

Hadirin rahimakumullaah.

Nabi Muhammad SAW bersabda (HR ad-Dailami dari ‘Aisyah),

Inilah tugas kita dalam ikhtiar bersama menjadi wakil Allaah Tabaraka wa Ta’aala di muka bumi: mengajak manusia ke arah yang lebih baik dengan kata-kata, teladan, dan doa, dengan penuh kelembutan sebagai bentuk implementasi rasa cinta kepada sesama manusia. Bahkan kelembutan pada manusia sama fardlunya dengan kewajiban-kewajiban lain di dalam agama.

Tentu saja, tidak ada paksaan dari kita, apakah yang kita ajak mau ikut atau tidak. Bagaimanapun juga, datangnya hidayah, hadirnya petunjuk ke dalam hati seorang manusia bukan di tangan kita, tapi sepenuhnya merupakan kuasa Allaah SWT. Bahkan Nabi Muhammad SAW-pun tidak berhasil membuat pamannya Abu Thalib mengucapkan dua kalimat persaksian hingga akhir hayatnya.

Dengan demikian, bertemunya rasa cinta kepada sesama manusia dan kelembutan dakwah di dalam Islam, hendaknya akan menghindarkan kita dari siksa Allaah Ta’aala di dunia maupun akhirat, sebagaimana Allaah ingatkan (QS an-Nuur ayat 19),

Dan tentu saja, rasa cinta pada sesama manusia dan kelembutan dakwah, juga akan mencegah dari munculnya kerugian dan kekecewaan kita sebagai hamba Allaah, sebagaimana Nabi SAW sabdakan (HR Abu Nu’a-im al-Ashbahani),

Demikianlah penyampaian dari saya. Jika ada lebihnya itu hadir karena rahmat Allaah SWT, jika banyak kekurangan, sungguh semata-mata karena masih lemahnya ilmu yang saya miliki. Semoga Allaah memberikan kekuatan kepada kita untuk istiqamah berada di jalan cinta dan kelembutan dalam menjalankan Islam, Islam yang rahmatan lil-‘aalamiin. Aamiin.

Meraih Berkah Kelembutan dalam Dakwah

Menyampaikan dakwah harus dengan metode yang tepat dan penuh kelembutan dan kesabaran. Allaah Ta’aala berfirman di dalam surah an-Nahl 125,

Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik dan bantahlah dengan cara yang terbaik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yanh mendapat petunjuk.

Ayat ini merupakan bentuk tiga macam dakwah, yakni (1) dengan hikmah, (2) dengan maw-‘izhah hasanah, (3) berdebat dengan cara terbaik.

Hikmah ditujukan kepada mereka yang berpengetahuan tinggi, yakni berdialog dengan kata-kata bijak sesuai dengan tingkat kepandaian mereka. Maw-‘izhah hasanah ditujukan kepada kaum awam, yakni dengan  memberikan nasihat dan perumpamaan yang menyentuh jiwa sesuai dengan taraf pengetahuan mereka yang sederhana. Sedangkan kepada Ahl-al-Kitaab dan penganut agama lain, digunakanlah jidal atau perdebatan dengan cara terbaik, yakni logika (masuk akal) dan retorika (kata-kata yang mampu mengajak), tanpa kekerasan dan umpatan.

Ketiga metode ini, tidak terpaku pada tiga golongan tadi, tetapi dapat saling mengisi. Hikmah memang untuk cendekiawan, tetapi hikmah pun dapat digunakan untuk kaum awam maupun penganut agama lain. Begitu pula dengan metode lain, saling mengisi sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapi dalam dakwah.

Hikmah juga diartikan sebagai sesuatu yang bila digunakan/ diperhatikan akan mendatangkan kemanfaatan dan kemudahan yang besar atau lebih besar, serta menghalangi terjadinya kerusakan atau kesulitan besar atau yang lebih besar. Makna ini ditarik dari kata hakamah, yang berarti kendali, karena kendali menghalangi hewan/kendaraan mengarah ke arah yang tidak diinginkan atau menjadi liar. Memilih perbuatan yang terbaik dan sesuai, atau bahkan memilihnya (terbaik dan sesuai) di antara dua hal yang buruk pun dinamai hikmah, dan pelakunya disebut hakiim (bijaksana).

Hikmah juga dimaknai sebagai (1) himpunan segala ucapan atau pengetahuan yang mengarah pada perbaikan keadaan dan kepercayaan manusia secara bersinambung, dan (2) sesuatu yang mengena kebenaran berdasar ilmu dan akal, yakni kebenaran yang tidak mengandung kelemahan dan tidak pula kekaburan.

Maw-‘izhah bermakna uraian yang menyentuh hati yang mengantar pada kebaikan, sedangkan jidaal, asal kata jaadilhum, bermakna diskusi atau bukti-bukti yang mematahkan alasan atau dalih mitra diskusi dan menjadikannya tidak dapat bertahan, baik yang dipaparkan itu diterima oleh semua orang maupun hanya oleh mitra diskusi.

Yang menarik, maw-‘izhah disifati dengan hasanah (baik) sedangkan jidaal disifati dengan ahsan (terbaik). Hal ini membawa makna bahwa metode maw-‘izhah ada yang baik dan ada pula yang buruk. Sementara berdebat atau jidaal mempunyai tiga jenis, buruk, baik, dan terbaik.

Maw-‘izhah yang baik berarti uraian harus disertai pengamalan dan teladan oleh yang menyampaikan agar sampai di hati sasaran dakwah. Dan dalam debat atau jidaal, yang buruk adalah debat yang mengundang kemarahan lawan dan argumen atau pendapat yang tidak benar; yang baik adalah dengan sopan dan pendapat yang walaupun hanya diakui oleh lawan saja; dan yang terbaik adalah dengan sopan, dengan pendapat yang benar, dan dapat membungkam lawan.

Kemudian, pada ayat 126, masih di surah an Nahl Allaah Ta’aala berfirman,

Dan apabila kamu membalas, maka balaslah persis sama dengan siksa yang ditimpakan kepada kamu. Akan tetapi jika kamu bersabar sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi para penyabar.

Ayat ini sebagai lanjutan dari ayat tentang metode dakwah, bahwa ketika mereka yang kita dakwahi melakukan pembangkangan atau  bahkan menggunakan kejahatan dan kekejian sebagai reaksi terhadap dakwah kita, maka Allaah anjurkan untuk tidak membalas. Kenapa demikian?

Allaah sampaikan dengan kata wa in ‘aaqabtum (dan apabila kamu membalas), di mana, kata in atau yang biasa diterjemahkan sebagai apabila, tidak digunakan dalam bahasa Arab kecuali terhadap sesuatu yang jarang atau diragukan terjadi. Berbeda dengan kata idzaa yang mengandung isyarat adanya kepastian akan terjadinya apa yang dibicarakan. Dan Allaah lanjutkan, akan tetapi jika kamu bersabar sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi para penyabar, kemudian di ayat 127 ditekankan kembali agar muncul kebulatan tekad untuk bersabar itu dengan kata pembuka washbir, bersabarlah, wa maa shabruka illa bi-Llaah, dan seterusnya.

Dengan demikian, penggunaan kata wa in, dan apabila dalam ayat ini menjelaskan bahwa pembalasan kejahatan itu boleh dan harus setimpal, meskipun dianjurkan untuk bersabar sebagai pilihan yang terbaik. Pembalasan terhadap kejahatan diperbolehkan, harus setimpal, tetapi digunakan kata wa in, dan apabila, yang membawa isyarat: jarang terjadi, atau diragukan terjadi.

Ayat ini ternyata berhubungan erat dengan ayat lain, di surat Fushilat ayat 34-35, Allaah Ta’aala befirman,

(34) Dan tidaklah sama kebaikan dan tidak (pula) kejahatan. Tolaklah dengan yang terbaik, maka tiba-tiba orang yang di antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah dia teman yang setia. (35) Tidaklah dipertemukan hal itu melainkan kepada orang-orang yang telah sabar dan tidaklah ia dianugerahkan melainkan pemilik keberuntungan yang besar

Ayat 34 menunjukkan perbedaan yang tegas antara kebaikan dan kejahatan, bahwa sebagai kelanjutan penjelasan ayat pembalasan di surah an Nahl 126, Anda boleh membalas meskipun direkomendasikan bersabar, tapi ya itu, apa yang membedakan Anda dengan mereka, kalau sama-sama dengan kekerasan?

Maka kemudian Allaah sampaikan, tolaklah dengan yang terbaik, maknanya, balaslah keburukan dengan cara yang terbaik, yaitu tumindak ala ojo dibales dengan tumindak ala, tapi kedah ngangge tumindak sae, maka tiba-tiba (fa-idzaa), yang sebelumnya bermusuhan akan berubah menjadi bagaikan teman yang setia.

Kok bisa, dari perangai buruk menjadi baik, dari musuh menjadi teman? Tafsir al Mishbah menjelaskan sebagai berikut,

Jiwa manusia sangat ajaib. Tidak jarang menyangkut satu objek pun hatinya bersikap kontradiktif, sampai-sampai, menurut Prof. Haamid Thaaha al Khasysyaab dari Universitas al-Azhar Mesir mengatakan, “Setiap perasaan betapa pun agung dan luhurnya, tetap mengandung perasaan yang bertolak belakang dengannya. Perasaan mempunyai logika yang berbeda dengan logika akal, karena akal tidak dapat menggabung dua hal yang bertolak belakang. Karena itu tidak ada cinta tanpa benci, tidak ada juga rahmat tanpa kekejaman.

Poinnya ada cinta, pasti ada juga sedikit kebencian. Begitu pula sebaliknya. Jika seseorang memusuhi orang lain dan memperlakukannya secara tidak wajar, yakni dengan kekerasan atau kekejian, maka pada saat yang sama, disadari atau tidak, ada benih simpati, empati, dan kebaikan di dalam diri yang memusuhi, namun benih perasaan ini ditekan dan dipendam, karena baginya ia berhadapan dengan musuh. Nah, ketika permusuhan dan kekejian tadi dihadapi dengan kelemah-lembutan, dengan kebaikan, itu akan mengundang kembali benih-benih kebaikan yang tadi berusaha dipendam. Sehingga fa-idzaa, dengan tiba-tiba, dari permusuhan menjadi bagaikan teman yang sangat setia.

Sikap membalas keburukan dengan kebaikan memang membutuhkan kesabaran yang ekstra, di mana ayat 35 secara makna membawa isyarat bahwa perilaku membalas dengan kebaikan hanya bisa dilakukan oleh mereka yang telah bersabar, atau bahasa lainnya, membutuhkan pembiasaan kesabaran. Artinya ada proses sabar yang tumbuh, dari sabar dari hal-hal kecil, terus menerus dibiasakan, hingga akhirnya mampu mencapai puncak kesabaran, yakni membalas kejahatan dengan kebaikan. Anugerahnya, Allaah sampaikan, dzuu-hazh-zhiin ‘azhiim, keberuntungan yang besar.

Keberuntungan apa dari sikap bersabar yang mewujud dalam pembalasan berupa kebaikan ketika dihadapkan pada provokasi kejahatan yang menimpa?

Kanjeng Nabi Muhammad SAW bersabda sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim,

Dari Sayyidatina ‘Aisyah RA beliau berkata, “Rasuulullaah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya Allaah Maha-lembut dan menyukai kelemah-lembutan dalam segala hal.’”

Sementara di dalam riwayat Imam Muslim, dengan redaksi yang hampir sama, Kanjeng Nabi Muhammad SAW bersabda,

Dari Sayyidatina ‘Aisyah RA, Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya Allaah Maha-lembut dan menyukai kelemah-lembutan. Allaah memberi sesuatu karena kelembutan, yang tidak Dia berikan karena kekerasan, dan yang tidak diberikan-Nya karena yang lain.” (Riwayat Muslim)

Dalam mengomentari hadits ini, Imam an-Nawawi menyatakan, Allaah memberikan pahala berbeda dari pahala sifat-sifat lainnya kepada pemilik kelembutan. Sementara ulama lain al-Qadli ‘Iyadl menyatakan maksudnya, orang yang bersikap lemah lembut akan mudah dikabulkan keinginan, sementara orang yang tidak bersikap lembut tidak mudah dikabulkan. Prof. Wahbah Zuhaili, ulama besar Suriah kemudian menyatakan yang dimaksud kelembutan di sini adalah tutur kata dan tindakan yang lembut dan memudahkan.

Ketika Rasuulullah Muhammad SAW berdakwah di Tha’if, beliau dilempari dengan batu oleh penduduk Tha’if hingga terluka-luka. Hadirlah Malaikat Jibril dengan diiringi malaikat penjaga dua bukit di Tha’if dan menawarkan perintah Allaah, bahwa jika Rasuulullaah Muhammad SAW kersa, maka kedua bukit akan dihimpitkan kepada penduduk yang telah melempari Rasuulullaah SAW.

Apa jawaban Rasuulullaah SAW? Rasul SAW melarang! Bahkan Rasuul SAW kemudian mendoakan ampunan bagi kaumnya karena belum mengetahui kebenaran Islam dan kemudian berharap bahwa meskipun saat ini belum ada yang memeluk Islam, kelak akan lahir keturunan dari penduduk Tha’if yang menyembah Allaah Yang Maha-Esa. Inilah akhlak Rasuul SAW dalam berdakwah! Kekerasan dibalas dengan kesabaran dan kelembutan hati beliau.

Hadirin rahimakumullaah.

Maka dalam dakwah, kelembutan akan melengkapi ikhtiar. Dakwah yang sukses adalah dakwah yang berasal dari hati sang pendakwah dan menghunjam ke kalbu mereka yang didakwahi. Cara yang lembut akan memudahkan masuknya nilai dakwah ke dalam hati dan keberkahan doa para pendakwah yang menggunakan kelembutan, tentu mudah dikabulkan oleh Allaah. Inilah keberkahan dakwah dengan hati dan kelembutan.

Semoga Allaah menjaga hati kita untuk selalu bersabar dan berpegang teguh pada nilai kelembutan, agar tercapai kebahagiaan dunia sekaligus akhirat, aamiin, Allaahumma aamiin.