Makna Komprehensif Ketakwaan dalam Ibadah Puasa

Puasa merupakan ibadah yang dilakukan oleh berbagai agama dan kepercayaan sepanjang sejarah umat manusia. Dalam konteks umat Islam, puasa “bertujuan untuk memperoleh takwa” (la-‘allakum tattaqun), di mana tujuan tersebut dapat dicapai dengan menghayati arti puasa itu sendiri. Menghayati makna dan arti puasa, membawa kita untuk memahami tentang dua hal pokok menyangkut hakikat penciptaan manusia dan kewajibannya di muka bumi. Apa dua hal pokok tersebut?

Pertama, manusia diciptakan oleh Tuhan dari tanah, kemudian dihembuskan kepadanya Ruh ciptaan-Nya, dan diberikan potensi untuk mengembangkan dirinya hingga mencapai satu tingkat yang menjadikannya wajar untuk menjadi khalifah (pengganti) Tuhan dalam memakmurkan bumi ini (al-Baqarah ayat 30).

 photo takwa komprehensif-1_zpsscmr8rpl.png

Lebih dari itu, pada ayat 31 dijelaskan bahwa Allaah Ta’aala memberikan

 photo takwa komprehensif-2_zpsqabknzoa.png

sebagai bekal untuk memakmurkan bumi. Kalimat wa ‘allama aadamal-asmaa-a kullahaa secara bahasa berarti mengajarkan nama-nama benda seluruhnya atau ditafsirkan sebagai anugerah mengenal teknologi untuk kemaslahatan manusia.

Kedua, dalam perjalanan manusia ke bumi, ia (Nabi Adam ‘AS) melewati (transit) di surga, agar pengalaman yang diperolehnya di surga tersebut dapat menjadi modal dalam menyukseskan tugas pokoknya di muka bumi. Bahasa mudahnya, peristiwa transitnya Nabi Adam ‘AS sebagai leluhur manusia di surga, berfungsi untuk mendorong umat manusia menciptakan bayangan surga di bumi. Begitu pula dengan pengalaman tergoda oleh syaithan, mendorong untuk bersikap hati-hati agar tak lagi terpedaya, sehingga tidak terulang kejadian pahit yang terasa ketika terusir dari surga.

Hadirin rahimakumullaah, berbeda dengan Tuhan, manusia memiliki banyak kebutuhan yang secara garis besar dikelompokkan menjadi lima kebutuhan pokok: (1) kebutuhan fa’ali (makan, minum, dan hubungan suami-istri), (2) kebutuhan ketenteraman dan keamanan, (3) kebutuhan keterikatan pada kelompok, (4) kebutuhan akan rasa penghormatan, dan (5) kebutuhan akan pencapaian cita-cita.

Kebutuhan yang lebih akhir tidak akan mendesak seseorang sebelum kebutuhan pertam terpenuhi. Bahkan seseorang bisa saja mengorbankan kebutuhan berikutnya bila kebutuhan sebelumnya belum terpenuhi. Dan sebaliknya, ketika seseorang mampu mengendalikan dirinya dalam memenuhi kebutuhan pertama, akan dengan mudah mengendalikan kebutuhan-kebutuhan di daftar berikutnya.

Puasa adalah bagian upaya manusia menjadi wakil Allaah di muka bumi (khalifatullaah) melalui meneladani dua sifat Tuhan:

(1) tidak makan-minum (al-An’am ayat 14):

 photo takwa komprehensif-3_zps8uafbpqn.png

(2) tidak berpasangan (al-An’am ayat 101)

 photo takwa komprehensif-4_zpsxobtm6io.png

Meneladani sifat Tuhan ini tentu saja sesuai dengan batasnya sebagai manusia dan tidak hanya terbatas pada kedua hal tersebut, tapi juga sifat Tuhan lainnya.

Sifat Allaah yang Maha-pengampun dan Maha-pemaaf, misalnya, dianjurkan untuk dibaca banyak-banyak sepanjang Ramadlan: allaahumma innaka ‘afuwwun, tuhibbul afwa fa’-fu-‘anni, Wahai Allaah sesungguuhnya Engkau Maha-pemaaf dan menyukai permintaan maaf, maka ampunilah aku. Teladan bagi manusia: sifat Allaah ini berkesan di dalam hati kita yang mengucapkan, sehingga mau memaafkan sesama manusia.

Sifat Allaah yang Maha-hidup diteladani dengan bagaimana kita meninggalkan nama baik yang selalu dikenang, sekalipun telah meninggal dunia.

Sifat Allaah ar-Rahmaan, yakni pelimpah kasih bagi seluruh makhluk dalam kehidupan dunia, mendorong manusia yang berpuasa untuk melatih memberi kasih kepada semua makhluk tanpa kecuali. Sementara ar-Rahiim, yakni pelimpah rahmat di Hari Kemudian, memotivasi kita yang berpuasa agar memberi kasih kepada saudara-saudara seiman sambil meyakini bahwa tiada kebahagiaan sejati kecuali rahmat Allaah di Hari Akhir kelak.

Sifat Allaah al-Qudduus, Yang Maha-suci, menyemangati orang yang berpuasa untuk menyucikan diri lahir dan batin, serta mengembangkan diri sehingga selalu berpenampilan indah, baik, dan benar. Sedangkan peneladanan sifat al-Kariim, Yang Maha-pemurah, mengajak manusia agar menjadi seorang dermawan.

Demikian seterusnya dengan sifat-sifat Allaah lainnya, yang harus dihayati esensinya untuk diteladani sesuai dengan kemampuan kita sebagai manusia. Alhasil, fungsi kita sebagai wakil Allaah di muka bumi dengan mencontoh sifat-sifat Allaah akan mampu mewujudkan makmurnya bumi, yakni sumber kemashlahatan manusia dan seluruh makhluk penghuninya, termasuk hewan dan tumbuhan.

Hadirin rahimakumullah.

Ilmu modern saat ini menekankan keseimbangan pada tiga jenis kecerdasan manusia: intelektual, spiritual, dan emosional. Islam memiliki konsep yang sama, sebagaimana disampaikan dalam buku Membumikan al-Qur`an Jilid Kedua.

Kecerdasan spiritual diwakili oleh iman manusia. Iman kepada wujud Tuhan Allaah SWT akan melahirkan makna hidup dan memperhalus budi pekerti bagi manusia. Tak ada lagi kesombongan karena adanya Yang Maha-tinggi dan Maha-agung. Tak akan ada lagi kecintaan pada dunia yang melekat ke dalam hati, tak  akan ada lagi keinginan berkata, berperilaku, dan berprasangka buruk, karena mengimani adanya pengadilan di Hari Akhir kelak. Dan dalam konteks ibadah puasa, iman adalah syarat utama, karena perintah puasa ditujukan kepada mereka yang beriman: yaa ayyuhalladzina aamanu.

Kecerdasan emosional dalam Islam, selain diwakili oleh banyak bagian dalam ajaran Islam, secara khusus juga diwakili oleh ibadah puasa itu sendiri. Hawa nafsu manusia di satu sisi menjadi pendorong bagi banyak aktivitas positif: bekerja mencari penghidupan untuk keluarga, membahagiakan istri, suami, anak, dan orang tua, dan seterusnya.

Sebagaimana Allaah berfirman di al-Qur`an surat Aali ‘Imraan 14:

 photo takwa komprehensif-5_zpsbji3bpiz.png

Tetapi ketika hawa nafsu tidak dikendalikan –di mana salah satu pengendaliannya adalah dilatih dengan ibadah puasa– hawa nafsu akan merusak. Seks, jika diperindah oleh syaithan akan menjadi tujuan, tidak peduli dengan siapa dilakukan. Kecintaan pada anak, jika diperindah syaithan akan muncul subjektivitas berlebihan: atas nama cinta akan membela anak sekalipun salah atau bahkan telah melanggar ketentuan hukum. Dan harta, jika diperindah syaithan, akan memperdaya kita: dengan cara apapun harus didapatkan, terus menumpuk harta hingga melupakan fungsi sosialnya. Na’udzubillaahi min dzalik.

Hadirin rahimakumullaah.

Maka, kecerdasan emosional diwakili oleh ketakwaan kita. Ketakwaan kepada Allaah dapat dimaknai sebagai usaha keras manusia untuk menjalankan setiap perintah Allaah sekaligus secara bersamaan menjauhkan diri semua yang dilarang Allaah Tabaraka wa Ta’aala. Seseorang yang berusaha untuk selalu taat secara demikian, membutuhkan kematangan emosi: kesadaran sepenuhnya akan agama dan ketuhanan.

Seorang anak dilatih berpuasa untuk tidak makan karena ia diperintah dan diberi contoh dari orang tuanya. Seiring berjalannya waktu, ketika iman telah melingkupi hati sang anak, bukan sekedar karena perintah orang tua, ia akan menyadari itu merupakan perintah Allaah melalui tuntunan agama Islam. Inilah kematangan emosi, buah dari keimanan, kecerdasan spiritual.

Ketakwaan bukan hanya meningkat dengan pelatihan-pelatihan rutin yang diwajibkan Allaah melalui puasa Ramadlan, tetapi juga dapat meningkat seiring dengan peningkatan kecerdasan intelektual seorang manusia, karena kecerdasan intelektual di antaranya adalah mengandung hikmah.

Hikmah diartikan sebagai sesuatu yang bila digunakan/ diperhatikan akan mendatangkan kemanfaatan dan kemudahan yang besar atau lebih besar, serta menghalangi terjadinya kerusakan atau kesulitan besar atau yang lebih besar. Makna ini ditarik dari kata hakamah, yang berarti kendali, karena kendali menghalangi hewan/kendaraan mengarah ke arah yang tidak diinginkan atau menjadi liar. Memilih perbuatan yang terbaik dan sesuai, atau bahkan memilihnya (terbaik dan sesuai) di antara dua hal yang buruk pun dinamai hikmah, dan pelakunya disebut hakiim (bijaksana).

Hikmah juga dimaknai sebagai (1) himpunan segala ucapan atau pengetahuan yang mengarah pada perbaikan keadaan dan kepercayaan manusia secara bersinambung, dan (2) sesuatu yang mengena kebenaran berdasar ilmu dan akal, yakni kebenaran yang tidak mengandung kelemahan dan tidak pula kekaburan.

Pengetahuan, termasuk hikmah, adalah cahaya yang Allaah limpahkan kepada siapapun yang mempersiapkan diri untuk meraihnya. Ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai bentuk penerapannya mampu mengalami kemajuan ketika adanya kondisi yang mendorongnya untuk dikembangkan. Dalam hal ini, sesungguhnya al-Qur`an memberikan peluang bagi ilmu pengetahuan dan teknologi agar dikuasai oleh umat Islam. Sebagaimana firman pertama dari Allaah Tabaraka wa Ta’aala kepada Nabi Muhammad SAW yang turun di bulan Ramadlan: iqra bismirabbika-lladzi khalaq, bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang Mencipta, yang perintah membaca ini tidak terbatas pada bacaan keagamaan saja, tetapi kepada semua hal yang dapat dibaca, selama dalam koridor menyebut nama Tuhan Sang Pencipta, yakni menjaga kesinambungan makhluk hidup, atau dengan kata lain bermashlahat untuk manusia dan makhluk hidup lainnya.

Hadirin rahimakumllaah.

Pengetahuan dan hikmah akan mengungkap banyak hal yang tercakup akal di dalam perintah-perintah yang Allaah berikan, sehingga akan memantabkan perjalanan takwa kita. Tanpa cakupan akal, cukuplah spiritualitas dan keimanan yang mendorong kita untuk menjalankan perintah Allaah dan menjauhi larangan Allaah, sebagaimana imannya Sayyidinaa Abu Bakar RA terhadap peristiwa Isra’ Mi’raj. Namun Allaah pun memberikan peluang kepada kita untuk mengembangkan pengetahuan dan hikmah, untuk memperkuat iman dan takwa kita.

Demikianlah makna dari puasa di bulan Ramadlan yang mencakup pelatihan terhadap tiga kecerdasan manusia secara simultan, untuk meraih derajat tertinggi di sisi Allaah, yakni ketakwaan (inna akramakum ‘indallaahi atqakum). Dan ketakwaan yang merupakan bentuk pengabdian kepada Allaah Tabaraka wa Ta’aala akan menjadi semakin sempurna ketika difungsikan sebagai bekal kita dalam menjalani peran sebagai khalifatullaah fil ardl, wakil Allaah untuk mewujudkan kemashlahatan umat manusia dan seluruh makhluk ciptaan Allaah di muka bumi.

Meraih Berkah Kelembutan dalam Dakwah

Menyampaikan dakwah harus dengan metode yang tepat dan penuh kelembutan dan kesabaran. Allaah Ta’aala berfirman di dalam surah an-Nahl 125,

Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik dan bantahlah dengan cara yang terbaik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yanh mendapat petunjuk.

Ayat ini merupakan bentuk tiga macam dakwah, yakni (1) dengan hikmah, (2) dengan maw-‘izhah hasanah, (3) berdebat dengan cara terbaik.

Hikmah ditujukan kepada mereka yang berpengetahuan tinggi, yakni berdialog dengan kata-kata bijak sesuai dengan tingkat kepandaian mereka. Maw-‘izhah hasanah ditujukan kepada kaum awam, yakni dengan  memberikan nasihat dan perumpamaan yang menyentuh jiwa sesuai dengan taraf pengetahuan mereka yang sederhana. Sedangkan kepada Ahl-al-Kitaab dan penganut agama lain, digunakanlah jidal atau perdebatan dengan cara terbaik, yakni logika (masuk akal) dan retorika (kata-kata yang mampu mengajak), tanpa kekerasan dan umpatan.

Ketiga metode ini, tidak terpaku pada tiga golongan tadi, tetapi dapat saling mengisi. Hikmah memang untuk cendekiawan, tetapi hikmah pun dapat digunakan untuk kaum awam maupun penganut agama lain. Begitu pula dengan metode lain, saling mengisi sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapi dalam dakwah.

Hikmah juga diartikan sebagai sesuatu yang bila digunakan/ diperhatikan akan mendatangkan kemanfaatan dan kemudahan yang besar atau lebih besar, serta menghalangi terjadinya kerusakan atau kesulitan besar atau yang lebih besar. Makna ini ditarik dari kata hakamah, yang berarti kendali, karena kendali menghalangi hewan/kendaraan mengarah ke arah yang tidak diinginkan atau menjadi liar. Memilih perbuatan yang terbaik dan sesuai, atau bahkan memilihnya (terbaik dan sesuai) di antara dua hal yang buruk pun dinamai hikmah, dan pelakunya disebut hakiim (bijaksana).

Hikmah juga dimaknai sebagai (1) himpunan segala ucapan atau pengetahuan yang mengarah pada perbaikan keadaan dan kepercayaan manusia secara bersinambung, dan (2) sesuatu yang mengena kebenaran berdasar ilmu dan akal, yakni kebenaran yang tidak mengandung kelemahan dan tidak pula kekaburan.

Maw-‘izhah bermakna uraian yang menyentuh hati yang mengantar pada kebaikan, sedangkan jidaal, asal kata jaadilhum, bermakna diskusi atau bukti-bukti yang mematahkan alasan atau dalih mitra diskusi dan menjadikannya tidak dapat bertahan, baik yang dipaparkan itu diterima oleh semua orang maupun hanya oleh mitra diskusi.

Yang menarik, maw-‘izhah disifati dengan hasanah (baik) sedangkan jidaal disifati dengan ahsan (terbaik). Hal ini membawa makna bahwa metode maw-‘izhah ada yang baik dan ada pula yang buruk. Sementara berdebat atau jidaal mempunyai tiga jenis, buruk, baik, dan terbaik.

Maw-‘izhah yang baik berarti uraian harus disertai pengamalan dan teladan oleh yang menyampaikan agar sampai di hati sasaran dakwah. Dan dalam debat atau jidaal, yang buruk adalah debat yang mengundang kemarahan lawan dan argumen atau pendapat yang tidak benar; yang baik adalah dengan sopan dan pendapat yang walaupun hanya diakui oleh lawan saja; dan yang terbaik adalah dengan sopan, dengan pendapat yang benar, dan dapat membungkam lawan.

Kemudian, pada ayat 126, masih di surah an Nahl Allaah Ta’aala berfirman,

Dan apabila kamu membalas, maka balaslah persis sama dengan siksa yang ditimpakan kepada kamu. Akan tetapi jika kamu bersabar sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi para penyabar.

Ayat ini sebagai lanjutan dari ayat tentang metode dakwah, bahwa ketika mereka yang kita dakwahi melakukan pembangkangan atau  bahkan menggunakan kejahatan dan kekejian sebagai reaksi terhadap dakwah kita, maka Allaah anjurkan untuk tidak membalas. Kenapa demikian?

Allaah sampaikan dengan kata wa in ‘aaqabtum (dan apabila kamu membalas), di mana, kata in atau yang biasa diterjemahkan sebagai apabila, tidak digunakan dalam bahasa Arab kecuali terhadap sesuatu yang jarang atau diragukan terjadi. Berbeda dengan kata idzaa yang mengandung isyarat adanya kepastian akan terjadinya apa yang dibicarakan. Dan Allaah lanjutkan, akan tetapi jika kamu bersabar sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi para penyabar, kemudian di ayat 127 ditekankan kembali agar muncul kebulatan tekad untuk bersabar itu dengan kata pembuka washbir, bersabarlah, wa maa shabruka illa bi-Llaah, dan seterusnya.

Dengan demikian, penggunaan kata wa in, dan apabila dalam ayat ini menjelaskan bahwa pembalasan kejahatan itu boleh dan harus setimpal, meskipun dianjurkan untuk bersabar sebagai pilihan yang terbaik. Pembalasan terhadap kejahatan diperbolehkan, harus setimpal, tetapi digunakan kata wa in, dan apabila, yang membawa isyarat: jarang terjadi, atau diragukan terjadi.

Ayat ini ternyata berhubungan erat dengan ayat lain, di surat Fushilat ayat 34-35, Allaah Ta’aala befirman,

(34) Dan tidaklah sama kebaikan dan tidak (pula) kejahatan. Tolaklah dengan yang terbaik, maka tiba-tiba orang yang di antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah dia teman yang setia. (35) Tidaklah dipertemukan hal itu melainkan kepada orang-orang yang telah sabar dan tidaklah ia dianugerahkan melainkan pemilik keberuntungan yang besar

Ayat 34 menunjukkan perbedaan yang tegas antara kebaikan dan kejahatan, bahwa sebagai kelanjutan penjelasan ayat pembalasan di surah an Nahl 126, Anda boleh membalas meskipun direkomendasikan bersabar, tapi ya itu, apa yang membedakan Anda dengan mereka, kalau sama-sama dengan kekerasan?

Maka kemudian Allaah sampaikan, tolaklah dengan yang terbaik, maknanya, balaslah keburukan dengan cara yang terbaik, yaitu tumindak ala ojo dibales dengan tumindak ala, tapi kedah ngangge tumindak sae, maka tiba-tiba (fa-idzaa), yang sebelumnya bermusuhan akan berubah menjadi bagaikan teman yang setia.

Kok bisa, dari perangai buruk menjadi baik, dari musuh menjadi teman? Tafsir al Mishbah menjelaskan sebagai berikut,

Jiwa manusia sangat ajaib. Tidak jarang menyangkut satu objek pun hatinya bersikap kontradiktif, sampai-sampai, menurut Prof. Haamid Thaaha al Khasysyaab dari Universitas al-Azhar Mesir mengatakan, “Setiap perasaan betapa pun agung dan luhurnya, tetap mengandung perasaan yang bertolak belakang dengannya. Perasaan mempunyai logika yang berbeda dengan logika akal, karena akal tidak dapat menggabung dua hal yang bertolak belakang. Karena itu tidak ada cinta tanpa benci, tidak ada juga rahmat tanpa kekejaman.

Poinnya ada cinta, pasti ada juga sedikit kebencian. Begitu pula sebaliknya. Jika seseorang memusuhi orang lain dan memperlakukannya secara tidak wajar, yakni dengan kekerasan atau kekejian, maka pada saat yang sama, disadari atau tidak, ada benih simpati, empati, dan kebaikan di dalam diri yang memusuhi, namun benih perasaan ini ditekan dan dipendam, karena baginya ia berhadapan dengan musuh. Nah, ketika permusuhan dan kekejian tadi dihadapi dengan kelemah-lembutan, dengan kebaikan, itu akan mengundang kembali benih-benih kebaikan yang tadi berusaha dipendam. Sehingga fa-idzaa, dengan tiba-tiba, dari permusuhan menjadi bagaikan teman yang sangat setia.

Sikap membalas keburukan dengan kebaikan memang membutuhkan kesabaran yang ekstra, di mana ayat 35 secara makna membawa isyarat bahwa perilaku membalas dengan kebaikan hanya bisa dilakukan oleh mereka yang telah bersabar, atau bahasa lainnya, membutuhkan pembiasaan kesabaran. Artinya ada proses sabar yang tumbuh, dari sabar dari hal-hal kecil, terus menerus dibiasakan, hingga akhirnya mampu mencapai puncak kesabaran, yakni membalas kejahatan dengan kebaikan. Anugerahnya, Allaah sampaikan, dzuu-hazh-zhiin ‘azhiim, keberuntungan yang besar.

Keberuntungan apa dari sikap bersabar yang mewujud dalam pembalasan berupa kebaikan ketika dihadapkan pada provokasi kejahatan yang menimpa?

Kanjeng Nabi Muhammad SAW bersabda sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim,

Dari Sayyidatina ‘Aisyah RA beliau berkata, “Rasuulullaah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya Allaah Maha-lembut dan menyukai kelemah-lembutan dalam segala hal.’”

Sementara di dalam riwayat Imam Muslim, dengan redaksi yang hampir sama, Kanjeng Nabi Muhammad SAW bersabda,

Dari Sayyidatina ‘Aisyah RA, Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya Allaah Maha-lembut dan menyukai kelemah-lembutan. Allaah memberi sesuatu karena kelembutan, yang tidak Dia berikan karena kekerasan, dan yang tidak diberikan-Nya karena yang lain.” (Riwayat Muslim)

Dalam mengomentari hadits ini, Imam an-Nawawi menyatakan, Allaah memberikan pahala berbeda dari pahala sifat-sifat lainnya kepada pemilik kelembutan. Sementara ulama lain al-Qadli ‘Iyadl menyatakan maksudnya, orang yang bersikap lemah lembut akan mudah dikabulkan keinginan, sementara orang yang tidak bersikap lembut tidak mudah dikabulkan. Prof. Wahbah Zuhaili, ulama besar Suriah kemudian menyatakan yang dimaksud kelembutan di sini adalah tutur kata dan tindakan yang lembut dan memudahkan.

Ketika Rasuulullah Muhammad SAW berdakwah di Tha’if, beliau dilempari dengan batu oleh penduduk Tha’if hingga terluka-luka. Hadirlah Malaikat Jibril dengan diiringi malaikat penjaga dua bukit di Tha’if dan menawarkan perintah Allaah, bahwa jika Rasuulullaah Muhammad SAW kersa, maka kedua bukit akan dihimpitkan kepada penduduk yang telah melempari Rasuulullaah SAW.

Apa jawaban Rasuulullaah SAW? Rasul SAW melarang! Bahkan Rasuul SAW kemudian mendoakan ampunan bagi kaumnya karena belum mengetahui kebenaran Islam dan kemudian berharap bahwa meskipun saat ini belum ada yang memeluk Islam, kelak akan lahir keturunan dari penduduk Tha’if yang menyembah Allaah Yang Maha-Esa. Inilah akhlak Rasuul SAW dalam berdakwah! Kekerasan dibalas dengan kesabaran dan kelembutan hati beliau.

Hadirin rahimakumullaah.

Maka dalam dakwah, kelembutan akan melengkapi ikhtiar. Dakwah yang sukses adalah dakwah yang berasal dari hati sang pendakwah dan menghunjam ke kalbu mereka yang didakwahi. Cara yang lembut akan memudahkan masuknya nilai dakwah ke dalam hati dan keberkahan doa para pendakwah yang menggunakan kelembutan, tentu mudah dikabulkan oleh Allaah. Inilah keberkahan dakwah dengan hati dan kelembutan.

Semoga Allaah menjaga hati kita untuk selalu bersabar dan berpegang teguh pada nilai kelembutan, agar tercapai kebahagiaan dunia sekaligus akhirat, aamiin, Allaahumma aamiin.