Makna Komprehensif Ketakwaan dalam Ibadah Puasa

Puasa merupakan ibadah yang dilakukan oleh berbagai agama dan kepercayaan sepanjang sejarah umat manusia. Dalam konteks umat Islam, puasa “bertujuan untuk memperoleh takwa” (la-‘allakum tattaqun), di mana tujuan tersebut dapat dicapai dengan menghayati arti puasa itu sendiri. Menghayati makna dan arti puasa, membawa kita untuk memahami tentang dua hal pokok menyangkut hakikat penciptaan manusia dan kewajibannya di muka bumi. Apa dua hal pokok tersebut?

Pertama, manusia diciptakan oleh Tuhan dari tanah, kemudian dihembuskan kepadanya Ruh ciptaan-Nya, dan diberikan potensi untuk mengembangkan dirinya hingga mencapai satu tingkat yang menjadikannya wajar untuk menjadi khalifah (pengganti) Tuhan dalam memakmurkan bumi ini (al-Baqarah ayat 30).

 photo takwa komprehensif-1_zpsscmr8rpl.png

Lebih dari itu, pada ayat 31 dijelaskan bahwa Allaah Ta’aala memberikan

 photo takwa komprehensif-2_zpsqabknzoa.png

sebagai bekal untuk memakmurkan bumi. Kalimat wa ‘allama aadamal-asmaa-a kullahaa secara bahasa berarti mengajarkan nama-nama benda seluruhnya atau ditafsirkan sebagai anugerah mengenal teknologi untuk kemaslahatan manusia.

Kedua, dalam perjalanan manusia ke bumi, ia (Nabi Adam ‘AS) melewati (transit) di surga, agar pengalaman yang diperolehnya di surga tersebut dapat menjadi modal dalam menyukseskan tugas pokoknya di muka bumi. Bahasa mudahnya, peristiwa transitnya Nabi Adam ‘AS sebagai leluhur manusia di surga, berfungsi untuk mendorong umat manusia menciptakan bayangan surga di bumi. Begitu pula dengan pengalaman tergoda oleh syaithan, mendorong untuk bersikap hati-hati agar tak lagi terpedaya, sehingga tidak terulang kejadian pahit yang terasa ketika terusir dari surga.

Hadirin rahimakumullaah, berbeda dengan Tuhan, manusia memiliki banyak kebutuhan yang secara garis besar dikelompokkan menjadi lima kebutuhan pokok: (1) kebutuhan fa’ali (makan, minum, dan hubungan suami-istri), (2) kebutuhan ketenteraman dan keamanan, (3) kebutuhan keterikatan pada kelompok, (4) kebutuhan akan rasa penghormatan, dan (5) kebutuhan akan pencapaian cita-cita.

Kebutuhan yang lebih akhir tidak akan mendesak seseorang sebelum kebutuhan pertam terpenuhi. Bahkan seseorang bisa saja mengorbankan kebutuhan berikutnya bila kebutuhan sebelumnya belum terpenuhi. Dan sebaliknya, ketika seseorang mampu mengendalikan dirinya dalam memenuhi kebutuhan pertama, akan dengan mudah mengendalikan kebutuhan-kebutuhan di daftar berikutnya.

Puasa adalah bagian upaya manusia menjadi wakil Allaah di muka bumi (khalifatullaah) melalui meneladani dua sifat Tuhan:

(1) tidak makan-minum (al-An’am ayat 14):

 photo takwa komprehensif-3_zps8uafbpqn.png

(2) tidak berpasangan (al-An’am ayat 101)

 photo takwa komprehensif-4_zpsxobtm6io.png

Meneladani sifat Tuhan ini tentu saja sesuai dengan batasnya sebagai manusia dan tidak hanya terbatas pada kedua hal tersebut, tapi juga sifat Tuhan lainnya.

Sifat Allaah yang Maha-pengampun dan Maha-pemaaf, misalnya, dianjurkan untuk dibaca banyak-banyak sepanjang Ramadlan: allaahumma innaka ‘afuwwun, tuhibbul afwa fa’-fu-‘anni, Wahai Allaah sesungguuhnya Engkau Maha-pemaaf dan menyukai permintaan maaf, maka ampunilah aku. Teladan bagi manusia: sifat Allaah ini berkesan di dalam hati kita yang mengucapkan, sehingga mau memaafkan sesama manusia.

Sifat Allaah yang Maha-hidup diteladani dengan bagaimana kita meninggalkan nama baik yang selalu dikenang, sekalipun telah meninggal dunia.

Sifat Allaah ar-Rahmaan, yakni pelimpah kasih bagi seluruh makhluk dalam kehidupan dunia, mendorong manusia yang berpuasa untuk melatih memberi kasih kepada semua makhluk tanpa kecuali. Sementara ar-Rahiim, yakni pelimpah rahmat di Hari Kemudian, memotivasi kita yang berpuasa agar memberi kasih kepada saudara-saudara seiman sambil meyakini bahwa tiada kebahagiaan sejati kecuali rahmat Allaah di Hari Akhir kelak.

Sifat Allaah al-Qudduus, Yang Maha-suci, menyemangati orang yang berpuasa untuk menyucikan diri lahir dan batin, serta mengembangkan diri sehingga selalu berpenampilan indah, baik, dan benar. Sedangkan peneladanan sifat al-Kariim, Yang Maha-pemurah, mengajak manusia agar menjadi seorang dermawan.

Demikian seterusnya dengan sifat-sifat Allaah lainnya, yang harus dihayati esensinya untuk diteladani sesuai dengan kemampuan kita sebagai manusia. Alhasil, fungsi kita sebagai wakil Allaah di muka bumi dengan mencontoh sifat-sifat Allaah akan mampu mewujudkan makmurnya bumi, yakni sumber kemashlahatan manusia dan seluruh makhluk penghuninya, termasuk hewan dan tumbuhan.

Hadirin rahimakumullah.

Ilmu modern saat ini menekankan keseimbangan pada tiga jenis kecerdasan manusia: intelektual, spiritual, dan emosional. Islam memiliki konsep yang sama, sebagaimana disampaikan dalam buku Membumikan al-Qur`an Jilid Kedua.

Kecerdasan spiritual diwakili oleh iman manusia. Iman kepada wujud Tuhan Allaah SWT akan melahirkan makna hidup dan memperhalus budi pekerti bagi manusia. Tak ada lagi kesombongan karena adanya Yang Maha-tinggi dan Maha-agung. Tak akan ada lagi kecintaan pada dunia yang melekat ke dalam hati, tak  akan ada lagi keinginan berkata, berperilaku, dan berprasangka buruk, karena mengimani adanya pengadilan di Hari Akhir kelak. Dan dalam konteks ibadah puasa, iman adalah syarat utama, karena perintah puasa ditujukan kepada mereka yang beriman: yaa ayyuhalladzina aamanu.

Kecerdasan emosional dalam Islam, selain diwakili oleh banyak bagian dalam ajaran Islam, secara khusus juga diwakili oleh ibadah puasa itu sendiri. Hawa nafsu manusia di satu sisi menjadi pendorong bagi banyak aktivitas positif: bekerja mencari penghidupan untuk keluarga, membahagiakan istri, suami, anak, dan orang tua, dan seterusnya.

Sebagaimana Allaah berfirman di al-Qur`an surat Aali ‘Imraan 14:

 photo takwa komprehensif-5_zpsbji3bpiz.png

Tetapi ketika hawa nafsu tidak dikendalikan –di mana salah satu pengendaliannya adalah dilatih dengan ibadah puasa– hawa nafsu akan merusak. Seks, jika diperindah oleh syaithan akan menjadi tujuan, tidak peduli dengan siapa dilakukan. Kecintaan pada anak, jika diperindah syaithan akan muncul subjektivitas berlebihan: atas nama cinta akan membela anak sekalipun salah atau bahkan telah melanggar ketentuan hukum. Dan harta, jika diperindah syaithan, akan memperdaya kita: dengan cara apapun harus didapatkan, terus menumpuk harta hingga melupakan fungsi sosialnya. Na’udzubillaahi min dzalik.

Hadirin rahimakumullaah.

Maka, kecerdasan emosional diwakili oleh ketakwaan kita. Ketakwaan kepada Allaah dapat dimaknai sebagai usaha keras manusia untuk menjalankan setiap perintah Allaah sekaligus secara bersamaan menjauhkan diri semua yang dilarang Allaah Tabaraka wa Ta’aala. Seseorang yang berusaha untuk selalu taat secara demikian, membutuhkan kematangan emosi: kesadaran sepenuhnya akan agama dan ketuhanan.

Seorang anak dilatih berpuasa untuk tidak makan karena ia diperintah dan diberi contoh dari orang tuanya. Seiring berjalannya waktu, ketika iman telah melingkupi hati sang anak, bukan sekedar karena perintah orang tua, ia akan menyadari itu merupakan perintah Allaah melalui tuntunan agama Islam. Inilah kematangan emosi, buah dari keimanan, kecerdasan spiritual.

Ketakwaan bukan hanya meningkat dengan pelatihan-pelatihan rutin yang diwajibkan Allaah melalui puasa Ramadlan, tetapi juga dapat meningkat seiring dengan peningkatan kecerdasan intelektual seorang manusia, karena kecerdasan intelektual di antaranya adalah mengandung hikmah.

Hikmah diartikan sebagai sesuatu yang bila digunakan/ diperhatikan akan mendatangkan kemanfaatan dan kemudahan yang besar atau lebih besar, serta menghalangi terjadinya kerusakan atau kesulitan besar atau yang lebih besar. Makna ini ditarik dari kata hakamah, yang berarti kendali, karena kendali menghalangi hewan/kendaraan mengarah ke arah yang tidak diinginkan atau menjadi liar. Memilih perbuatan yang terbaik dan sesuai, atau bahkan memilihnya (terbaik dan sesuai) di antara dua hal yang buruk pun dinamai hikmah, dan pelakunya disebut hakiim (bijaksana).

Hikmah juga dimaknai sebagai (1) himpunan segala ucapan atau pengetahuan yang mengarah pada perbaikan keadaan dan kepercayaan manusia secara bersinambung, dan (2) sesuatu yang mengena kebenaran berdasar ilmu dan akal, yakni kebenaran yang tidak mengandung kelemahan dan tidak pula kekaburan.

Pengetahuan, termasuk hikmah, adalah cahaya yang Allaah limpahkan kepada siapapun yang mempersiapkan diri untuk meraihnya. Ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai bentuk penerapannya mampu mengalami kemajuan ketika adanya kondisi yang mendorongnya untuk dikembangkan. Dalam hal ini, sesungguhnya al-Qur`an memberikan peluang bagi ilmu pengetahuan dan teknologi agar dikuasai oleh umat Islam. Sebagaimana firman pertama dari Allaah Tabaraka wa Ta’aala kepada Nabi Muhammad SAW yang turun di bulan Ramadlan: iqra bismirabbika-lladzi khalaq, bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang Mencipta, yang perintah membaca ini tidak terbatas pada bacaan keagamaan saja, tetapi kepada semua hal yang dapat dibaca, selama dalam koridor menyebut nama Tuhan Sang Pencipta, yakni menjaga kesinambungan makhluk hidup, atau dengan kata lain bermashlahat untuk manusia dan makhluk hidup lainnya.

Hadirin rahimakumllaah.

Pengetahuan dan hikmah akan mengungkap banyak hal yang tercakup akal di dalam perintah-perintah yang Allaah berikan, sehingga akan memantabkan perjalanan takwa kita. Tanpa cakupan akal, cukuplah spiritualitas dan keimanan yang mendorong kita untuk menjalankan perintah Allaah dan menjauhi larangan Allaah, sebagaimana imannya Sayyidinaa Abu Bakar RA terhadap peristiwa Isra’ Mi’raj. Namun Allaah pun memberikan peluang kepada kita untuk mengembangkan pengetahuan dan hikmah, untuk memperkuat iman dan takwa kita.

Demikianlah makna dari puasa di bulan Ramadlan yang mencakup pelatihan terhadap tiga kecerdasan manusia secara simultan, untuk meraih derajat tertinggi di sisi Allaah, yakni ketakwaan (inna akramakum ‘indallaahi atqakum). Dan ketakwaan yang merupakan bentuk pengabdian kepada Allaah Tabaraka wa Ta’aala akan menjadi semakin sempurna ketika difungsikan sebagai bekal kita dalam menjalani peran sebagai khalifatullaah fil ardl, wakil Allaah untuk mewujudkan kemashlahatan umat manusia dan seluruh makhluk ciptaan Allaah di muka bumi.