Peradaban Islam ala Indonesia: Menghimpun Keberagaman

Ketika muncul fatwa rokok sebagai sesuatu yang haram, NU sering diejek. NU dianggap tak berani dalam mengharamkan rokok dikarenakan para ulama NU banyak yang merokok. Ya memang benar adanya sih, bahwa banyak ulama NU yang merokok. Bahkan bagi seorang nahdliyin, kapabilitas untuk merokok adalah bagian dari keabsahan sebagai seorang nahdliyin. Terlepas dia kader maupun bukan.

Namun benarkah pertimbangan hukum NU tentang rokok hanya sebatas karena umat dan ulamanya juga perokok? Mari kita telusuri sejarahnya bersama.

Ketika Risalah Menghampiri

Revolusi peradaban oleh Islam dimulai ketika seorang Quraisy menerima wahyu dari Tuhan. Dialah yang kemudian selalu dipanggil oleh umatnya berurutan sesudah menyebut nama Tuhan setidaknya lima kali dalam sehari. Sayyidinaa Muhammad SAW.

Ketika pertama bertemu dengan Pembawa Pesan Agung, Malaikat Jibril ‘AS, Sayyidinaa Muhammad SAW terpaku. Tak dinyana, risalah pertama dari langit adalah kalimat perintah, Iqra`!, yang bermakna perintah untuk membaca, Bacalah! Sayyidinaa Muhammad SAW pun bertanya balik dengan balasan kalimat tanya, maa aqra`?, yang berarti: Apa yang harus saya baca?

Lantunan kalimat suci pun berlanjut: Iqra` bismirabbikalladzii khalaq, khalaqal insaana min ‘alaq; bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang mencipta, mencipta manusia dengan sesuatu yang bergantung di dinding rahim; dan seterusnya hingga ayat kelima.

Para penafsir menjelaskan kisah ini dengan sangat indah, sebagai cerminan amanah peradaban seorang muslim. Prof. Quraish Shihab, seorang penafsir nusantara menjelaskan bahwa pertanyaan dari Sayyidinaa Muhammad SAW merupakan kewajaran, sebab: (1) perintah membaca dari Malaikat Jibril ‘AS yang tidak lazim menurut tata bahasa Arab karena perintah tanpa objek, dan (2) Sayyidinaa Muhammad SAW yang buta huruf tak bisa membaca dan menulis aksara apapun.

Adanya perintah tanpa objek spesifik justru membawa pesan agung sebagai dasar risalah yang dibawa Islam: bacalah segala sesuatu yang terhampar di hadapanmu, tulisan maupun peristiwa, bacaan suci keagamaan maupun selainnya, selama konteksnya adalah sembari mengingat Tuhan yang menciptamu, bismirabbikalladzi khalaq.

Tafsir ayat berikutnya menjadi semakin indah, ketika Tuhan berfirman, khalaqal insaana min ‘alaq, mencipta manusia dengan sesuatu yang bergantung di dinding rahim, bahwa manusia berasal dari sesuatu yang bergantung pada sesuatu dan ia sampai kapanpun tak dapat berdiri sendiri tanpa manusia lain. Sungguh, mayat tak dapat menguburkan dirinya sendiri! Maka, kebutuhan spiritualitas berketuhanan adalah keniscayaan, namun ketergantungan kepada sesama manusia adalah realitas kehidupan.

Selanjutnya, perintah yang mula-mula turun ini perlu dikaitkan pula dengan menjelaskan sebuah firman Tuhan yang lain tentang awal penciptaan manusia. Malaikat yang bertanya mengapa Tuhan berencana mencipta makhluk yang menumpahkan darah, justru Tuhan menjadi pembela manusia dengan berfirman, wa ‘allama aadamal-asmaa-a kullaha, dan (Dia) mengajarkan kepada Adam nama benda semuanya. Tafsirnya, manusia berpotensi menumpahkan darah, namun manusia pula mampu mengembangkan alam di sekelilingnya untuk memenuhi kebutuhannya.

Maka inilah fitrah bagi seorang muslim yang sesungguhnya: berwawasan luas dan mendalam, baik spiritualitas berketuhanan maupun ilmu pengetahun dan teknologi modern, demi memenuhi kemaslahatan sesama manusia. Bahasa Tuhan menyebut, wa maa arsanalka illaa rahmatan lil-‘aalamin, dan Kami tidak mengutusmu (Sayyidinaa Muhammad SAW) kecuali menjadi rahmat, kasih, dan sayang, bagi semesta alam.

Islam di Negeri Seribu Pulau

Islam terus berkembang hingga kemudian mencapai Indonesia tercinta, yang pada masa lalu dikenal sebagai Nusantara. Peranan Dewan Wali Sembilan tak bisa dipungkiri menjadi faktor penting bagi cepatnya Islam berkembang di Nusantara. Salah satu prinsip yurisprudensi Islam yang digunakan oleh Dewan Wali Sembilan adalah muhafazhatu ‘ala qadiimish-shaalih, wal-akhdzu ‘ala jadiidil-ash-lah; memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik. Tradisi lama sebelum masuknya Islam dimodifikasi, dibersihkan dari hal-hal yang melanggar ketentuan dasar Islam, dikonversi menjadi tradisi baru yang lebih baik sebagai alat memperkenalkan Islam.

Peran Ulama sebagai penerus Dewan Wali Sembilan mulai mengglobal ketika suku-suku di jazirah Arab takluk di bawah penguasa tunggal Dinasti as-Saud dan memegang akses menuju dua kota suci, Makkah al-Mukarramah (Makkah yang Penuh Kemuliaan) dan Madinah al-Munawwarah (Madinah yang Penuh Cahaya), di mana Saudi berencana menyeragamkan praktek ibadah di kedua kota tersebut, terbentuklah Komite Hijaz untuk berunding dengan otoritas Saudi agar urung mewujudkan penyeregaman tersebut. Inilah embrio terbentuknya organisasi Islam terbesar di Indonesia, bahkan di dunia, yakni Nahdlatul-‘Ulama` (NU) atau Kebangkitan Ulama.

Penghargaan NU kepada Dewan Wali Sembilan tercermin dalam lambang NU yang antaranya memiliki sembilan bintang, representasi keberadaan Dewan Wali Sembilan. Lima bintang di atas adalah simbol Sayyidinaa Muhammad SAW dan empat sahabat utama beliau, yakni Sayyidinaa Abu Bakar, Sayyidinaa ‘Umar, Sayyidinaa ‘Utsman, dan Sayyidinaa ‘Ali, sementara empat bintang di bawah adalah gambaran empat ulama besar dalam yurisprudensi Islam, yakni Imam Malik, Imam Hanafi, Imam Syafi’i, dan Imam Hambali.

NU, Kebangsaan, dan Kenegaraan

Salah satu peran nyata NU bersama umat Islam kepada Indonesia adalah penerimaan Pancasila sebagai Dasar Negara. Ketika perwakilan tokoh dari Indonesia bagian timur menolak tujuh kata dalam Piagam Jakarta, Islam yang salah satunya diwakili oleh NU, kemudian memilih mengalah. Tujuannya adalah demi terbentuknya negara. Imam Ghazali menulis dalam Ihya ‘Ulumiddin (Menghidupkan Keberagamaan):

al-mulku wad-diin taw-amaani, kekuasaan dan agama merupakan dua saudara kembar;

fad-diiny ashluw-was-sulthaanu haarisun, agama sebagai landasan dan kekuasaan sebagai pengawalnya;

wa maa laa ashlalahu famahduumun, sesuatu tanpa landasan pasti tumbang;

wa maa laa haarisalahu fadlaa-i-‘un, sedangkan sesuatu yang tak punya pengawal akan tersia-siakan.

Para tokoh Islam dan NU pada 1945 sadar, bahwa negara dan agama adalah saudara kembar yang saling membutuhkan. Maka pilihan terbaik adalah memenuhi permintaan tokoh Indonesia bagian Timur, demi terbentuknya sebuah negara kebangsaan, Indonesia berdasarkan Pancasila.

Sesudah dinamika yang sangat pelik hubungan NU dengan berbagai kelompok politik pada periode 1945 sampai dengan munculnya Orde Baru, hubungan Pancasila dengan Islam diteguhkan kemudian oleh NU melalui Munas Alim Ulama NU tahun 1983 di Situbondo. Meskipun secara politik didorong oleh pemerintah agar menerima Pancasila sebagai azas tunggal, momen ini menjadi kesempatan bagi NU untuk menguatkan Pancasila sebagai jalan tengah demi bersatunya kebangsaan Indonesia. Keputusan Munas tersebut berbunyi:

  1. Pancasila sebagai dasar dan falsafah Negara Republik Indonesia bukanlah agama, tidak dapat menggantikan agama dan tidak dapat dipergunakan untuk menggantikan kedudukan agama.

  2. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai dasar Negara Republik Indonesia menurut pasal 29 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945, yang menjiwai sila-sila yang lain, mencerminkan tauhid menurut pengertian keimanan dalam Islam.

  3. Bagi Nahdlatul Ulama, Islam adalah aqidah dan syari’ah, meliputi aspek hubungan manusia dengan Allah dan hubungan antar manusia. Penerimaan dan pengamalan Pancasila merupakan perwujudan dari upaya ummat Islam Indonesia untuk menjalankan syari’at agamanya.

  4. Sebagai konsekuensi dari sikap di atas, Nahdlatul Ulama berkewajiban mengamankan pengertian yang benar tentang Pancasila dan pengamalannya yang murni dan konsekuen oleh semua pihak.

Sederhananya, NU menjalankan Islam sebagai ajaran agamanya dalam berbagai lini kehidupan. Khusus untuk lini kehidupan bernegara, berbangsa, dan bermasyarakat, bagi NU, ajaran Islam tercermin dalam Pancasila.

Pada periode 1980-1990 tersebut pula tercetuslah empat prinsip utama bagi warga NU dalam menyikapi berbagai persoalan yang dihadapi: (1) tawasuth atau pertengahan, (2) tawazun atau keseimbangan, (3) tasamuh atau toleransi, dan (4) i’tidal atau keadilan. Empat sikap ini bukan karangan NU, tetapi diambil dari berbagai sumber hukum Islam.

Sikap pertengahan atau tawasuth, misalnya, diambil dari firman Tuhan, wa kadzaalika ja’alnaakum ummataw-wasathaa, dan demikian Kami menjadikan kamu umat pertengahan. Kata wasit dalam bahasa Indonesia, diserap dari kata yang sama, tawasuth. Sebagai ilustrasi tentang makna sikap pertengahan, misalnya: (1) pemberani adalah pertengahan antara penakut dan nekat, (2) dermawan adalah pertengahan antara kikir dan boros.

Menjelaskan Beberapa Sikap NU: Refleksi atas Konsistensi

Beberapa peristiwa mutakhir menunjukkan konsistensi NU sebagai representasi Islam yang fleksibel namun tak meninggalkan nilai dasar spiritualitas keagamaan, di antaranya adalah sebagai berikut:

  1. Hukum Haram Rokok

NU memilih diam terhadap hukum rokok, atau maksimal menghukuminya sebagai makruh (tidak disukai), karena kehati-hatian. Konsekuensi hukum haram adalah serangkaian yang menuju kepadanya dan bersumber darinya juga harus dimaknai haram. Hukum haram rokok bermakna seluruh rantai suplai rokok, sejak dari petani tembakau, karyawan produksi rokok hingga penjualnya, cukai dan pajak rokok, serta semua uang yang berkaitan dengannya berhukum haram. Betapa mengerikannya negeri ini dipenuhi dengan keharaman yang bertubi. Bahkan saat ini, jika rokok dihukumi sebagai haram, maka sebagian pembiayaan jaminan kesehatan nasional dalam waktu dekat akan menjadi haram karena bersumber dari cukai dan pajak rokok.

Maka bagi NU, keharaman rokok belum mutlak, selama belum ditemukan solusi komprehensif dalam mengalihkan industri rokok yang berukuran massif kepada lapangan pekerjaan lain yang sepadan. Inilah sikap tawasuth, (pertengahan yang tidak ekstrim), memperhatikan semua aspek (tawazun atau keseimbangan informasi), dan penuh keadilan bagi semua pihak.

  1. Keterlibatan NU pada Pembelaan terhadap Penghayat Kepercayaan, Keturunan PKI, Ahmadiyah, dan Syiah

Salah satu lembaga di NU, Lembaga Kajian dan Pengembangan SDM NU (LAKPESDAM-PBNU) terlibat aktif di dalam pembelaan hukum maupun rekonsiliasi sosial terhadap masyarakat di berbagai daerah.

Kasus kolom agama bagi penghayat kepercayaan didasari pada hak dasar para penghayat yang dipaksa masuk ke salah satu dari enam agama agar dapat menikah atau lulus ujian sekolah.

Kasus bekas tahanan politik PKI dan keluarganya terjadi di Gunungkidul, ketika mereka termarginalkan secara sosial, tak dianggap sebagai manusia sepadan, sehingga terbelenggu oleh kemiskinan, bahkan oleh aparatur pemerintah setingkat dusun sekalipun, karena tidak mendapatkan jatah beras miskin.

Kasus kekerasan dan pengusiran pemeluk Ahmadiyah dan Syiah jelas menghilangkan hak bertempat tinggal dan hak hidup mereka, padahal di tempat itulah mereka berada sejak lahir dan tumbuh dewasa.

NU bukan hadir untuk membenarkan ajaran penghayat kepercayaan, bukan pula membangkitkan kembali PKI, apalagi menumbuhakn ajaran Ahmadiyah ataupun Syiah. Bagi NU perbedaan keyakinan setiap insan adalah keniscayaan yang dijamin oleh negara dan NU turut memperjuangkan mereka yang termarginalkan untuk memperoleh hak-hak dasarnya sebagai warga negara Indonesia. Inilah prinsip i’tidal atau keadilan untuk semua yang dijunjung oleh NU.

  1. Kasus Penistaan Agama oleh Basuki Tjahaja Purnama

Ketika sidang berlangsung, ada dua tokoh NU yang berseberangan. KH Ma’ruf Amin sebagai saksi ahli yang diajukan oleh jaksa dan Kiai Ahmad Ishomuddin sebagai saksi ahli dari pihak terdakwa. Kedua ulama tersebut mumpuni di bidang yurisprudensi Islam, sama-sama berada di Lembaga Tinggi (Syuriyah) Pengurus Besar NU, hanya berbeda senioritas. Uniknya, keduanya tidak saling mengusir dari PBNU, tidak pula kemudian bermusuhan, meskipun berlawanan pihak di persidangan. Peristiwa ini menggambarkan empat bintang dalam lambang NU yang mewakili empat Imam besar dalam yurisprudensi Islam yang diterima keberagaman pendapatnya dalam NU: beragam pendapat itu biasa dan sangat lazim, namun kerukunan adalah kunci.

 Islam ala Indonesia untuk Dunia

Terdapat kata kunci yang menyelimuti sekelumit sejarah NU sebagai organisasi Islam asli Indonesia: musyawarah dan konsensus. Dua password ini sesungguhnya merupakan sifat universal yang telah dipraktekkan sejak lama di berbagai peradaban, termasuk peradaban Nusantara pra-Islam dan maupun oleh Islam sendiri, walaupun prakteknya di dalam umat Islam masa kini belum ideal sama sekali. Timur Tengah misalnya, meskipun memiliki keragaman yang sangat sedikit dalam hal budaya, suku, bahasa, dan agama, wilayah tersebut tak pernah lepas dari konflik yang menumpahkan darah. Negeri tempat lahir dan tumbuhnya Islam hingga mencapai puncak kejayaannya, masyarakatnya tak pernah mencapai konsensus dan beralih ke senjata sebagai solusi. Sampai detik ini.

Oleh karenanya, sejak 2015 NU mengusung Islam Nusantara sebagai tagline-nya. Bukan mengusung ibadah baru, bukan pula syariat anyar, tapi memperkenalkan praktek Islam yang bermartabat, menjunjung tinggi musyawarah dan konsensus, tanpa meninggalkan pondasi dasar Islam, demi meraih kemaslahatan seluruh manusia, yang selama ini sedang dan terus diperjuangkan di Kepulauan Nusantara, Indonesia kita tercinta. Islam yang mampu menghimpun keberagaman.

Sebuah kaidah yurisprudensi Islam menyatakan, maa laa yudraku kulluhu, laa yutraku kulluhu; sesuatu yang tidak bisa dikerjakan seluruhnya, tidak ditinggalkan seluruhnya. Jika dimaknai dalam konteks salat, kaidah ini mendorong kita untuk tetap salat meskipun dalam keadaan sakit, karena sembari duduk, berbaring, bahkan hanya isyarat pun, salat bisa dikerjakan.

Sebagai generasi milenial yang sedang berproses menerima estafet kepemimpinan bangsa, kaidah tersebut memberikan peluang bagi kita untuk terus berjuang sesuai dengan kemampuan kita. Indonesia sebagai negeri berpenduduk muslim terbesar di dunia memiliki potensi untuk memperkenalkan Islam Nusantara ke penjuru dunia. Negara dan PBNU bertugas menyampaikannya kepada khalayak internasional.

Sementara kita, setiap individu bersama-sama dengan kelompok masyarakat, berperan dalam membumikannya menjadi praktek-praktek di dunia nyata, sesuai dengan jangkauan ruang dan waktu yang kita miliki, sesuai dengan bidang keahlian kita masing-masing. Semoga Tuhan memudahkan ikhtiar kita bersama menuju Indonesia yang bermaslahat. Aamiin.

Islam yang Menjadi Rahmat bagi Semesta Alam

Disampaikan sebagai Khatbah Idul Fitri di Dusun Pragak-Bendorejo, Semanu, Gunungkidul.

* Muqaddimah *

al-Baqarah 185

al Baqarah 185

 

Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangan-(nya) dan hendaklah kamu mengagungkan Allaah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepada kamu, supaya kamu bersyukur.

Rasuulullaah SAW bersabda

sabda Rasul SAW - merahmati yg di bumi

 

Rahmatilah siapa yang hidup di bumi, niscaya yang hidup di langit akan merahmati kamu.

Bapak, Ibu, Saudara-Saudari sekalian, Jamaah Shalat ‘Idul Fitri yang dirahmati Allaah SWT.

Pertama dan paling utama, marilah kita kembali teguhkan rasa syukur kita kehadirat Allaah SWT, dengan rasa syukur yang sesungguh-sungguhnya. Allaah masih berkenan menerangi hati kita dengan cahaya iman dan Islam, sehingga terdoronglah kita untuk hadir di majelis yang penuh keberkahan ini.

Bahkan, Allaah SWT masih pula mencintai negeri kita Indonesia, dengan mengondisikan negeri kita ini, setelah pemilihan umum DPR dan Presiden, alhamdulilllaah, masih dengan Indonesia yang aman dan tenteram, tak ada kerusuhan, tak ada perselisihan, tak ada konflik sosial, apalagi pembunuhan berlatar belakang politik.

Berbeda dengan negeri berpenduduk muslim lainnya di luar Indonesia, yang kalau tidak ada pemilihan saja saling berbunuhan sesama muslim, apalagi jika ada pemilihan, pertumpahan darah sesama muslim selalu saja terjadi. Alhamdulillaah, segala puji hanya pantas disandang oleh Allaah SWT, di Indonesia kita semoga hal tersebut tak pernah terjadi, semoga Allaah SWT berkenan menjaga kondisi negeri kita, Indonesia tercinta, selalu damai, aman, dan tenteram, Aamiin, Allaahumma Aamiin.

Shalawat serta salam dari Allaah SWT beserta dari seluruh makhluk ciptaan Allaah SWT semoga senantiasa tersampaikan kepada junjungan kita, manusia terbaik sepanjang masa, pemimpin umat manusia, sekaligus pemimpin dan penutup nasab para Nabi dan Rasul, seorang yang paling baik budi pekertinya, seorang yang paling bagus kata dan perbuatannya, sebaik-baik contoh dan teladan bagi manusia, beliaulah Rasuulullaah Sayyidinnaa Muhammad SAAW.

Tercurah pula semoga kepada keluarga, sahabat, dan pengikut beliau, insya-Allaah termasuk kita yang hadir dalam majelis penuh kemuliaan ini. Aamiin, ya Rabbal-‘Aalamiin.

Hadirin sekalian yang insya-Allaah penuh dengan curahan rahmat Allaah.

Satu bulan lamanya kita berada di dalam bulan kemuliaan, bulan Ramadlan, alhamdulillaah pagi hari ini kita memasuki bulan baru, bulan Syawwal, dalam sebuah hari raya utama umat Muslim, ‘Idul Fitri, hari di mana kita kembali ke fitrah, kembali kepada kesucian diri.

Kumandang takbir, tahlil dan tahmid itu sesungguhnya adalah wujud kemenangan dan rasa syukur kaum muslimin kepada Allah SWT atas keberhasilannya meraih fitrah (kesucian diri) melalui mujahadah (perjuangan lahir dan batin) dan pelaksanaan amal ibadah selama bulan suci Ramadhan yang baru berlalu. Allah SWT menegaskan di dala al Qur’an surah al Baqarah 185,

Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangan-(nya) dan hendaklah kamu mengagungkan Allaah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepada kamu, supaya kamu bersyukur.

Dalam suasana hari raya ini, marilah kita menghayati kembali makna kefitrahan kita, baik sebagai hamba Allah maupun sebagai khalifatullah fil ardli. Di sinilah sesungguhnya letak keagungan dan kebesaran hari raya Idul fitri, Hari di mana para hamba Allah merayakan keberhasilannya mengembalikan kesucian diri dari segala dosa dan khilaf melalui pelaksanaan amal shaleh dan ibadah puasa Ramadhan, sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW,

hadits puasa

“Siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan atas dasar keimanan dan dilaksanakan dengan benar, maka ia diampuni dosa-dosanya yang telah lewat”. (HR. Imam Muslim).

Jamaah Shalat ‘Idul Fitri yang insya-Allaah dikasihi Allaah SWT.

Ampunan Allaah dan rahmat Allaah yang mengapus dosa masa lalu kita di bulan Syawwal sesungguhnya adalah isyarat penting bagi umat manusia agar meneladani-Nya, meneladani Allaah Ta’aala, yakni memberi maaf, atau mengampuni dosa dan kesalahan orang lain, serta mengasihi segenap makhluk di seluruh muka bumi ini.

Ketika Sayyidatina ‘Aisyah RA ditimpa peristiwa al-Ifik, di mana beliau difitnah telah berselingkuh, turun rangkaian ayat di Surat an-Nuur ayat 10-18, pembelaan dari Allaah Ta’aala kepada Sayyidatina ‘Aisyah RA, menghapus segala tuduhan keji dan palsu kepada beliau RA.

Ketika peristiwa tersebut terjadi, salah seorang yang terlibat dalam menyebar berita palsu tersebut adalah Mistah, seorang yang hidupnya dibiayai oleh Sayyidinaa Abu Bakar RA. Begitu mendengar kabar ini, Sayyidinaa Abu Bakar RA, yang juga ayah dari Sayyidatinaa ‘Aisyah RA, istri Nabi SAW, marah, duka, lajeng ngucap sumpah untuk tidak memaafkan dan tidak akan membantu lagi Mistah. Tapi kemudian turun ayat ke-22 dari surah an-Nuur,

an Nuur 22

Hendaklah mereka memberi maaf dan melapangkan dada. Tidaklah kamu ingin diampuni oleh Allaah?

Dan sebagaimana dalam ayat yang lain, al Baqarah 187, at Taubah 43, asy Syuuraa 40, ‘Ali Imran 152 dan 155, dan juga al Maidah 95 dan 101, yang semuanya berbicara tentang Allaah yang memberi maaf dan tidak ada anjuran sama sekali untuk meminta maaf.

Mengapa Allaah lebih anjurkan untuk memberi maaf daripada meminta maaf? Jelas adanya bahwa Allaah ingin mengisyaratkan bahwa meminta maaf itu mudah, tanpa diisyaratkan pun, manusia akan lebih enteng njaluk ngapura. Tapi menehi apuran, memberi maaf, memaafkan, pasti terasa lebih berat, karena harus merelakan sesuatu yang menyakiti hati. Allaah tekankan anjuran ini, agar kita selalu memperhatikannya, selalu melakukannya.

Maka Allaah isyaratkan, berilah maaf, karena Allaah pun memaafkan sebelum hamba-Nya meminta ampunan. Kemudian lapangkan dadamu, hapuslah semua yang telah berlalu, kosongkan jiwamu dari kesalahan orang lain, dan raihlah ampunan Allaah. Allaah ingin tunjukkan kemuliaan mereka yang mau memaafkan, apalagi memaafkan sebelum datangnya permintaan maaf.

Hadirin yang dicintai Allaah SWT.

Budaya memaafkan ini, sungguh merupakan ajaran yang luar biasa dalam Islam. Karena ketika meminta maaf dan memberi maaf yang dilakukan dengan sepenuh jiwa dan raga akan menumbuhkan kedamaian di muka bumi. Tiada lagi tetangga yang konflik karena masalah sepele, tak ada lagi tali persaudaraan yang putus dan lepas karena masalah-masalah agama yang tidak pokok, bahkan dalam masalah yang sesungguhnya para ulama justru sudah sepakat untuk berbeda.

Allaah Ta’aala berfirman dalam surat al Anbiyaa` ayat 107,

al Anbiya 107

Dan tidaklah Kami mengutusmu (Nabi Muhammad SAAW), melainkan (sebagai) rahmat bagi semesta alam.

Bahkan Nabi Muhammad SAW memperinci dalam sabda beliau,

Rahmatilah siapa yang hidup di bumi, niscaya yang hidup di langit akan merahmati kamu.

Inilah wajah Islam yang sesungguhnya, menjadi rahmat bagi alam semesta. Bukan hanya Nabi Muhammad SAW saja yang seharusnya menjadi pengasih dan penyayang, tapi juga umat beliau, kita semua, sudah seharusnya menjadi manusia penyayang, pemaaf, pengasih kepada siapapun, apapun, di manapun.

Rasuulullah SAW pernah bersabda,

Apabila kalian mengendarai binatang, berikanlah haknya, dan janganlah menjadi setan-setan terhadapnya.

Rasuul SAW juga pernah ngendika,

Seorang wanita dimasukkan Tuhan ke neraka diakarenakan ia mengurung seekor kucing, tidak diberinya makan, tidak pula dilepaskan untuk mencari makan sendiri.

Sewalikipun, kali lain Nabi SAW paring sabda,

Seorang yang bergelimang dosa diampuni Tuhan karena memberi minum seekor anjing yang kehausan.

Inilah akhlak-akhlak kepada hewan yang Beliau SAW ajarkan.

Hadirin yang dirahmati Allaah Ta’aala.

Nabi Muhammad SAW bahkan melarang kita untuk menjual buah yang mentah atau memetik bunga yang belum mekar, beliau SAW bersabda,

Biarkan semua bunga mekar agar mata menikmati keindahannya dan lebah mengisap sarinya.

Inilah akhlak beliau SAW kepada tumbuhan, yang ternyata dibuktikan bahwa perilaku seperti ini mampu mencegah kerusakan pada keseimbangan alam.

Rasuul SAW juga merahmati benda-benda yang tak bernyawa sekalipun, dengan memberinya nama. Perisai Nabi diberi nama Dzat al-Fudlul, pedangnya dinamai Dzulfiqar, pelananya Rasuul SAW bernama al-Daaj, tikar, klasanipun Kanjeng Nabi SAW gadhah asma al-Kuz, gelasipun Nabi SAW kagungan asma ash-Shadir, teken Kanjeng Nabi SAW bernama al-Mamsyuk.

Benda-benda itu tak bernyawa, tapi dinamai dengan nama yang indah penuh makna, seakan-akan mempunyai kepribadian, yang berarti membutuhkan uluran tangan, pemeliharaan, rahmat, dan kasih sayang.

Bahkan, nalika Rasuul SAW merasa mendapat penolakan dakwah di Makkah, Beliau SAW mencoba dakwah ke Tha’if, tapi yang didapat justru lemparan batu hingga wajah Beliau SAW berdarah-darah. Datanglah Malaikat Jibril ‘AS, yang menawarkan bantuan dari malaikat lain yang siap mengangkat dua bukit untuk ditimpakan kepada penduduk yang melempari Beliau SAW.

Apa jawaban Beliau? Beliau katakan, jangan, jangan, bahkan aku berharap kelak ada keturunan mereka yang akan beriman kepada Allaah.

Sayyidinaa Hasan RA, cucu Rasuul SAW pernah meriwayatkan dari pamannya Hind bin Abi Halah,

Sayyidinaa Hasan dr Hind bin Abi Halah

Beliau tiada berlaku kasar dan tidak pernah menghina, Nikmat Allaah SWT dibesarkannya walaupun hanya sedikit.

Sayidatinaa ‘Aisyah RA berkata,

Sayyidatinaa Aisyah - akhlak Rasuul

Rasuulullaah SAW bukanlah orang yang keji, beliau tidak membiarkan kekejian, tiada mengeluarkan suara keras di pasar-pasar dan tidak membalas kejahatan orang lain dengan kejahatan. Beliau suka memaafkan dan berjabatan tangan.

Sayyidinaa Husain RA pernah meriwayatkan dari ayahnya Sayyidinaa ‘Ali bin Abi Thalib,

Sayyidinaa Ali - Wajah Manis Rasul

Rasuulullaah SAW adalah orang yang bermuka manis, lembut budi pekertinya,

Sayyidinaa Ali - Akhlak Rasul

tawadlu’, tidak bengis, tiada kasar, tiada bersuara keras, tiada berlaku dan berkata keji, tidak suka mencela dan tiada kikir.

Inilah akhlak Rasuul SAW, penuh kelembutan dan kasih sayang.

Hadirin rahimakumullaah.

Akhlak Rasuul SAW yang luar biasa itu, sayangnya sedang dilukai oleh orang-orang yang mengaku Islam. Saat ini, di Irak dan Suriah ada yang meneriakkan tegaknya pemerintah Islam, tapi perilakunya tidak mencerminkan umat Islam, tidak menggambarkan akhlak Rasuul SAW yang penuh kelembutan dan kasih sayang.

Mereka tunjukkan di internet, mereka banggakan bom-bom mereka, senjata-senjata mereka, yang mereka katakan, untuk membela Islam, menegakkan agama Allaah. Apakah itu mencerminkan Islam yang membawa makna kedamaian dan keselamatan?

Mereka banggakan peran mereka mengahncurkan makam Nabi Yunus ‘AS, menghancurkan masjid-masjid peninggalan para tabbi’in, meluluh lantakkan makam-makam ulama yang berjasa mengantarkan dan menegakkan agama Islam di tanah mereka. Inikah cerminan Islam, padahal Islam menghargai sejarah dengan memelihara Ka’bah, mensunnahkan shalat di Maqam Ibrahim, tempat batu bekas kaki Nabi Ibrahim ‘AS saat membangun Ka’bah?

Mereka pamerkan video menyembelih sesama manusia, menembak sesama manusia, berbuat keji sesama manusia, sesama warga bangsanya, dan mengatas-namakan perjuangan Islam, sementara Rasuul SAW membenci kekejian dan tak pernah berbuat kasar?

Dan yang lebih mengerikan lagi, masyarakat kita, beberapa minggu yang lalu, berkumpul di sebuah tempat di Jawa Tengah, dan mereka menyatakan bersumpah setia kepada ISIS (Islamic State of Iraq and Syria), sempalan Islam yang mencoreng sifat kasih sayang Islam, mencoreng ajaran mulia Islam, menjadi rahmat bagi semesta alam.

Hadirin rahimakumullaah.

Aliran sempalan ini harus kita waspadai. Mengapa, karena kita Indonesia sudah memiliki Pancasila sebagai hasil ijtihad para ulama pendiri bangsa dan tidak pernah dibantah oleh ulama Indonesia sampai detik ini. Pancasila, sebuah jalan tengah untuk kehidupan berbangsa dan bernegara. Apakah kita ingin seperti mereka, segala sesuatu diselesaikan dengan bom dan tembak-menembak, bunuh-membunuh, walaupun sesama Islam? Tentu tidak. Maka kita harus bertahan.

Kita jaga kampung-kampung kita dengan ajaran Islam yang damai, yang mengajak kepada kebaikan dengan kebaikan, tidak dengan cara yang keras. Kita jaga desa-desa kita, dusun-dusun kita, dengan bertanya kepada mereka yang memiliki ilmu Islam yang baik, yang diajarkan dari kiai-kiai kita, ustadz-ustadz kita, bukan ajaran dari ulama-ulama timur tengah yang selalu dalam kondisi konflik, sehingga keras isi dakwahnya.

Kita tetap mengambil ajaran ulama timur tengah, tetapi harus melalui lisan pengajar kita yang memahami ilmu bahasa arab, ilmu sejarah, ilmu qur`an, ilmu hadits, ilmu fiqh, dan ilmu pendukung lain. Mengapa harus melalui pengajar yang seperti ini? Karena mereka paham dengan kondisi kita, dan bisa memilih dan memilah, mana yang harus diajarkan kepada masyarakat kita, mana yang harus tidak diajarkan karena mengandung unsur politik dan keadaan setempat pada masa ajaran atau kitab tersebut disusun.

Mari kita jaga masyarakat kita dengan ilmu, mari kita jaga bangsa kita dengan ilmu, sehingga nantinya dari tanah air Indonesia kita akan menjadi wakil nyata agama Islam dari perilaku pemeluknya, yakni Islam yang rahmatan lil-‘aalamiin, menjadi rahmat bagi seluruh alam semesta, insya-Allaah, aamiin, Allaahumma aamiin.
اَللّٰهُ أَكْبَرُ، اَللّٰهُ أَكْبَرُ، لَاإِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَ اللّٰهُ أَكْبَرُ، اَللّٰهُ أَكْبَرُ وَ لِلّٰهِ الْحَمْدُ.

Hadirin yang insya-Allaah selalu dalam naungan kasih sayang Allaah.

Kesimpulannya, Idul Fitri adalah hari di mana kita kembali fitrah, kembali suci karena rahmat Allaah, karena ampunan Allaah atas mujahadah, kesungguhan kita dalam berjuang di Ramadlan. Hikmahnya, mari kita meniru Allaah, meneladani Allaah dengan menjadi manusia yang memberi maaf sebelum ada permintaan maaf, sekaligus menjadi pengasih, penyayang, pemurah, kepada alam semesta, lebih-lebih kepada sesama umat manusia, dan kita wujudkan dengan lisan dan perilaku kita, umat muslim Indonesia, bahwa kita, Islam, adalah rahmat bagi keseluruhan alam dan seisinya.

* Khatimah *

* Khatbah Kedua – Doa Penutup *

Download Teks Khatbah A5 (Google Drive)