Teladan Nabi Ibrahim ‘AS bagi Perdamaian Negeri

Nabi Ibrahim ‘AS merupakan sosok mulia yang dihormati oleh tiga agama besar dunia saat ini, yakni Nasrani (Kristen dan Katolik), Islam, dan Yahudi. Ketiga agama tersebut, menurut data tahun 2015, dipeluk oleh sekitar 4,1 miliar orang atau kurang lebih 55,5% penduduk dunia. Penganut Nasrani dunia saat ini mencapai hampir sepertiga penduduk dunia (31,2%), sedangkan pemeluk Islam jumlahnya hampir seperempat penduduk dunia (24,1%). Ketiga agama tersebut mengakui, menghormati, dan memuliakan sosok Nabi Ibrahim ‘AS.

Al-Qur`an mensifati Nabi Ibrahim ‘AS dengan umat, sebagaimana Allaah SWT firmankan,

Umat yang dimaknai sebagai sekumpulan manusia merupakan isyarat agung bahwa betapa banyaknya sifat terpuji yang berada dalam diri Nabi Ibrahim ‘AS, sehingga hanya dapat diimbangi oleh sifat yang dimiliki oleh banyak orang. Dijelaskan pula dalam QS ash-Shaaffaat ayat 84 dan QS Huud ayat 75 tentang sosok Nabi Ibrahim ‘AS,

Nabi Ibrahim ‘AS diperkirakan lahir pada abad 18 SM (1.800 tahun sebelum masa kelahiran Nabi ‘Isa ‘AS, atau sekitar 3.800-an tahun yang lalu) di daerah bernama Babel atau Ahwaz (sekarang di kawasan negara Irak). Menurut al-Qur`an, Beliau ‘AS telah memiliki  keyakinan kuat tentang Tuhan Yang Maha Tunggal sejak muda dan membenci pemujaan pada patung-patung. Pada usia yang relatif muda tersebut Beliau ‘AS mengambil kapak dan menghancurkan berhala-berhala sesembahan kaumnya, dengan menyisakan satu berhala terbesar serta meletakkan kapak tersebut di dekat berhala besar. Ketika ditanya siapa yang menghancurkan berhala-berhala tersebut, sembari menunjuk kepada satu berhala besar, Beliau ‘AS menjawab, “Bertanyalah kepadanya!”

Hikmah dari kisah ini tidak boleh dimaknai dengan meniru perbuatan beliau untuk merusak sesembahan umat beragama lain, tetapi dengan pemaknaan yang mendalam dan mengena di dalam hati: patung adalah benda mati yang tak bisa menjawab pertanyaan dan tidak pula mampu mendatangkan manfaat atau menolak mudlarat kepada sesama patung, apalagi kepada manusia yang menyembahnya. Selain peristiwa ini, terjadi pula kisah api yang tak mampu membakar Beliau ‘AS dalam upaya melawan kezhaliman penguasa zaman tersebut, yakni Namrudz.

Sesudahnya, Beliau ‘AS kemudian berhijrah ke satu kota di pantai barat sungai Eufrat (masih di kawasan Irak di zaman modern) bernama Ur, yang ketika itu berada di bawah kekuasaan orang-orang Kaldan. Sekian lama di sana; Beliau ‘AS kemudian hijrah ke wilayah kaum Kana’an yang kini bernama Naples; kemudian ke Mesir yang saat itu di bawah penguasa bernama Heksos; kemudian ke Palestina; dan terakhir adalah menuju jazirah Arab, yang sekarang bernama Mekkah.

Allaah SWT mengabadikan peristiwa Nabi Ibrahim ‘AS di Mekkah melalui QS Ibrahim ayat 35 dan 36,

Doa Nabi Ibrahim ‘AS tersebut diucapkan ketika beliau diperintahkan untuk meninggalkan istri dan anaknya, yakni Haajar dan Isma’il, di Mekkah, setelah beberapa lama berada di Mekkah. Doa serupa dengan doa yang disampaikan kepada Allaah SWT oleh Nabi Ibrahim ‘AS, sebagaimana diabadikan dalam QS al-Baqarah (2) ayat 126,

Perbedaannya, doa di QS Ibrahim ayat 35-36 adalah doa saat Nabi Ibrahim ‘AS diperintahkan oleh Allaah SWT untuk meninggalkan istri dan anaknya di Mekkah, sementara doa di QS al-Baqarah adalah doa ketika Nabi Ibrahim ‘AS kembali ke Mekkah beberapa waktu sesudahnya.

Doa yang diabadikan di dalam QS Ibrahim ayat 35-36 merupakan cermin keprihatinan karena menyaksikan berbagai kota yang menyembah berhala di sepanjang perjalanan hijrah beliau: Ur, Naples, Mesir, maupun Palestina. Di Mekkah, beliau menemukan orang-orang yang masih hidup dengan sangat bersahaja dan nomaden (berpindah-pindah, tidak menetap), tempat di mana Beliau ‘AS menempatkan istri dan anaknya. Kisah-kisah selanjutnya, tentu saja sudah sering kita dengarkan, seperti tentang bagaimana Haajar sembari menggendong Ismail kecil berlari-lari mencari air dari bukit Shafa dan Marwah; munculnya sumur zam-zam; menegakkan Ka’bah; hingga perintah penyembelihan Isma’il.

Kisah ketaatan mutlak Nabi Ibrahim ‘AS kepada Allaah SWT merupakan sesuatu yang harus diteladani. Kita tidak boleh memaknainya dengan negatif, yakni bahwa Nabi Ibrahim ‘AS menelantarkan anak dan istri di wilayah yang gersang dan tak berpenduduk, tetapi sebaliknya, memaknainya dengan positif: betapa luar biasanya ketaatan Nabi Ibrahim ‘AS atas perintah Allaah SWT. Belakangan, Mekkah menjadi kota yang makmur meskipun gersang, sementara Beliau ‘AS menjadi penghulu para Nabi: putranya Ismail menjadi Nabi sekaligus leluhur Nabi Muhammad SAW, sementara putranya Ishak juga menjadi Nabi sekaligus leluhur para Nabi di tanah Palestina (Yakub, Daud, Sulaiman, Ilyas, Ilyasa, Musa, Zakariya, Isa, dll).

Selain itu, QS Ibrahim ayat 35 juga mengandung makna tentang perlunya kita berdoa sekaligus berikhtiar untuk meraih keamanan dan keselamatan sebuah wilayah tempat tinggal, agar masyarakatnya hidup dengan limpahan rezeki dari Allaah SWT.

Doa permohonan keamanan wilayah yang diucapkan Nabi Ibrahim ‘AS oleh para ulama tidak dimaknai sebagai permohonan keamanan yang terus menerus tanpa peranan manusia (amn takwiiniy), tetapi sebagai permohonan keamanan yang disebabkan karena adanya hukum keagamaan, sehingga mewajibkan manusia untuk mewujudkan, memelihara, dan menjaga keamanannya (amn tasyrii-‘iy).

Alangkah indahnya, jika masyarakat Islam di berbagai kawasan saat ini juga memaknai ayat ini lebih luas: bahwa mewujudkan keamanan dan perdamaian tempat tinggal adalah kewajiban manusia yang berada di wilayah tersebut, sehingga keamanan bukan hanya disepakati di Mekkah dan Madinah saja, tetapi juga seluruh wilayah dengan mayoritas muslim.

Beberapa data yang sahih menunjukkan bahwa tidak kurang 559 juta muslim (atau setara dengan 30,10% muslim global) berada di 10 negara mayoritas muslim dengan tingkat perdamaian yang sangat rendah, seperti Suriah (peringkat 163 dari 163 negara), Afghanistan (162), Irak (160), Somalia (159), Yaman (158), Libya (157), Sudan (153), Pakistan (151), Turki (149), dan Nigeria (148). Sementara itu 14,10% muslim lainnya (setara dengan sekitar 268 juta jiwa), tinggal di 9 negara mayoritas muslim yang tergolong memiliki tingkat perdamaian rendah, seperti Libanon (147), Mesir (142), Palestina (141), Iran (131), Arab Saudi (129), dan Niger (128).

Terdapat pula 11 negara mayoritas muslim yang termasuk mempunyai tingkat perdamaian medium (264 juta muslim atau 25,70% muslim global), seperti Algeria (109), Uzbekistan (104), Yordania (98), dan Bangladesh (93); serta 13 negara mayoritas muslim dengan tingkat perdamaian tinggi (339 juta muslim atau 18,9 muslim dunia), di mana Maroko (71), Indonesia (55), Senegal (52), dan Malaysia (25) termasuk di dalamnya.

Apakah pantas, jika al-Qur`an mengisyaratkan dorongan bagi muslim untuk mewujudkan perdamaian bagi negeri tempat tinggalnya dengan doa dan ikhtiar, namun 559 juta atau 30 persen muslim saat ini tinggal di kawasan dengan kedamaian sangat rendah, padahal kawasan tersebut adalah sumber kejayaan Islam di masa lalu, seperti Suriah, Irak, dan Turki?

Sementara itu, doa Nabi Ibrahim ‘AS di dalam QS Ibrahim ayat 36 tentang perlindungan bagi Beliau ‘AS beserta keturunannya dari menyembah berhala, bukan dalam arti memaksa mereka mengakui keesaan Allaah SWT, tetapi memohon kiranya fitrah kesucian yang menjadi pendorong munculnya iman pada Allaah SWT Yang Maha Tunggal atau ketauhidan agar senantiasa berada di hati keturunan Beliau ‘AS.

Fitrah ketauhidan di dalam Islam merupakan pondasi utama dalam keimanan. Ketika kita menyaksikan keagungan alam semesta, di mana bumi, bulan, matahari, bintang-gemintang, dan planet-planet terus-menerus berjalan sesuai dengan garis edarnya tanpa terjadi tubrukan satu sama lain; sementara manusia, tumbuhan, dan hewan masing-masing memiliki sistem tubuh yang sangat mendetail dari tingkat sel, jaringan, hingga organ tubuh, yang berfungsi satu sama lain membentuk kehidupan; maka mau tidak mau kita harus meyakini adanya Allaah SWT, Tuhan yang menciptakan dan mengatur seluruh keagungan tersebut.

Kisah Nabi Ibrahim ‘AS tentang penghancuran patung menggambarkan bahwa menyembah ciptaan manusia tak mungkin memenuhi hati dan akal. Sementara memiliki sesembahan lebih dari satu juga tak mampu dicerna akal, karena jika pengatur semesta jumlahnya lebih dari satu, pasti akan terjadi benturan kepentingan antara satu sesembahan dengan sesembahan yang lain. Menyembah kepada Tuhan Yang Maha Tunggal adalah yang paling tepat, meskipun akal belum mampu menjangkau-Nya karena terbatasnya akal kita untuk mencapai keagungan-Nya.

Kemudian, penutup doa Nabi Ibrahim ‘AS di ayat 36 berbunyi, Engkau Maha-pengampun lagi Maha-penyayang, tidak dapat dimaknai bahwa Beliau ‘AS memohon ampun bagi para penyembah berhala, tetapi menyerahkan kepada Allaah SWT putusan akhirnya terhadap perbuatan yang menyalahi fitrah tersebut. Hal ini selaras dengan banyak penjelasan al-Qur`an tentang batasan kita sebagai manusia yang hanya memberikan penjelasan dan teladan, tetapi hadirnya petunjuk adalah mutlak berada di dalam cakupan kuasa Allaah SWT.

Lebih dari itu, iman yang mencakup perbuatan hati, lisan, dan aktivitas, sesungguhnya didasari dengan perbuatan hati, suatu hal yang tak mampu kita jangkau oleh panca indera kita. Realitas ini dihadapkan pada kehidupan sehari-hari kita yang hanya mampu menilai dari panca indera saja. Doa Nabi Ibrahim ‘AS tersebut menunjukkan betapa halus budi pekerti beliau dan betapa besar rasa kasihnya terhadap umat manusia: tidak menghakimi perbuatan yang nampak buruk lahiriahnya, namun menyerahkannya kepada penghakiman Allaah SWT dengan menyebut sifat pengampunan-Nya.

Semoga Allaah SWT berkenan terus menerus memberikan petunjuk-Nya kepada hati kita, agar selalu berjalan di dalam jalan yang lurus: iman kepada Allaah SWT Yang Maha Tunggal, sembari bersungguh-sungguh mewujudkan perdamaian dan menebar kasih sayang kepada sesama umat manusia. Aamiin.

Dua Ayat tentang Kemustahilan

Di antara hakikat dari sebuah rasa syukur kepada Allaah SWT adalah meyakini sepenuh jiwa dan raga tentang betapa besarnya nikmat yang Allaah Ta’aala berikan kepada kita semua. Rahmat Allaah SWT tersebut, karena luas jangkauannya, menyeluruh cakupannya, mendetail di rincian-rinciannya, berlangsung sepanjang waktu, dan menyentuh setiap ciptaan-Nya tanpa kecuali, membuat kita tak akan pernah bisa menghitung anugerah tersebut.

Terdapat dua ayat di dalam al-Qur`an yang menegaskan mustahilnya upaya menghitung nikmat Allaah SWT tersebut. Kedua ayat ini memiliki kalimat yang serupa sekaligus berbeda, yakni di QS Ibrahim (14) ayat 34 dan QS an-Nahl (16) ayat 18. Firman Allaah SWT dalam QS Ibrahim (14) ayat 34 berbunyi,

Sedangkan QS an-Nahl (16) ayat 18 berbunyi,

Kesamaan keduanya berada di kalimat tentang mustahilnya menghitung nikmat Allaah SWT, sedangkan perbedaannya berada di bagian penutup, di mana penutup QS Ibrahim (14) ayat 34 mengingatkan tentang potensi manusia yang dapat berbuat zhalim dan kufur (innal-insaana lazhaluumun-kaffaar), sementara penutup QS an-Nahl (16) ayat 18 meneguhkan betapa besarnya rahmat Allaah SWT dalam menghadapi hamba-Nya yang zhalim dan kufur (innallaaha laghafuurur-rahiim). Dan lebih dari itu, penafsiran atas kedua ayat ini mengandung hikmah yang besar bagi kehidupan umat manusia. Mari kita bahas secara berurutan.

QS Ibrahim (14) ayat 34 dibuka dengan kalimat yang meneguhkan anugerah Allaah SWT, wa aataa-kum min kulli maa sa-altumuuhu, yang artinya adalah dan Dia (Allaah) telah menganugerahkan kepada kami dari segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Terdapat dua pemaknaan terhadap kalimat ini.

Pertama, Bahwa segala kebutuhan manusia telah disiapkan oleh Allaah Ta’aala pemenuhannya, walaupun boleh jadi secara individu ada yang tidak dipenuhi permintaanya.

Perlu diingat kembali tentang mengapa tidak terpenuhinya sebuah permintaan, yakni, (1) yang bersangkutan belum siap hatinya untuk menerima anugerah, seperti misalnya terdapat potensi munculnya kesombongan atas ikhtiarnya sehingga lupa bersyukur kepada Allaah SWT; (2) diganti oleh Allaah Ta’aala dengan terhindarnya yang bersangkutan dari bencana; atau (3) ditunda pemenuhannya oleh Allaah SWT menjadi nikmat yang lebih besar di kesempatan lain atau bahkan ditunda hingga menjadi penebus dosa di akhirat kelak.

Ketiga sebab tersebut mengandung keseragaman berupa unsur-unsur keimanan: bersyukur dan berprasangka kepada Allaah SWT serta meyakini hadirnya serangkaian peristiwa Hari Akhir.

Ilustrasi paling mudah bagaimana memahami tidak terpenuhinya sebuah permintaan dapat digambarkan melalui kisah-kisah di seputar tragedi kecelakaan transportasi. Ketika Lion Air JT610 jatuh di Laut Jawa Oktober 2018 yang lalu, muncul cerita tentang seseorang yang terlambat karena kemacetan, sehingga batalmenjadi penumpang Lion Air JT610. Orang tersebut di sepanjang perjalanan menuju bandara pasti berdoa agar tak terlambat, namun Allaah SWT putuskan sebaliknya: terlambat dan justru selamat dari kecelakaan.

Tentu kita sudah sering mendengar kisah serupa yang tidak melulu soal kecelakaan tetapi juga tentang bagaimana berbagai hikmah dapat dipahami jauh setelah peristiwa yang kesan awalnya nampak tidak menyenangkan karena permintaan yang tidak terkabul, namun pada akhirnya berujung pada kebaikan dari Allaah Ta’aala.

Pemaknaan kedua kalimat wa aataa-kum min kulli maa sa-altumuuhu atau dan Dia (Allaah) telah menganugerahkan kepada kami dari segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya, adalah bahwa Allaah SWT telah menyiapkan dan memberikan kepada setiap orang apa yang dimintanya. Kondisi ini terjadi melalui dua mekanisme, yakni yang pertama adalah ikhtiar atau usaha seseorang yang ditakdirkan oleh Allaah SWT berhasil, dan kedua, dari satu manusia ke manusia lain melaluimekanisme ibadah sosial yang Allaah SWT perintahkan kepada umat manusia, baik yang sifatnya wajib (zakat maal dan zakat fitrah) maupun yang sifatnya sunnah (infak, sedekah, hadiah).

Boleh jadi muncul pertanyaan besar, apabila Allaah SWT telah menyiapkan dan memberikan kepada setiap orang apa yang dimintanya, mengapa ketidakadilan, kemiskinan, peperangan, kelaparan, dan kekurangan lain masih berlangsung? Penyebabnya dijawab oleh Allaah SWT dalam ayat yang sama di bagian penutup: innal-insaana lazhaluumun kaffar, potensi kezhaliman dan kekufuran yang dimiliki manusia, sayangnya justru berlangsung dan dikembangkan, secara sadar maupun tidak.

Kata lazhaluumun sendiri artinya sangat berbuat zhalim, yang memiliki beberapa makna buruk, seperti menzalimi dan menghalangi orang lain memperoleh haknya atau mengambil melebihi dari yang seharusnya dia ambil atau bersifat mubazir, yakni menyia-nyiakan sesuatu dan tidak menggunakannya pada tempat yang semestinya.

Kezhaliman yang kadang tidak kita sadari adalah soal sisa makanan. Sebuah riset yang dirilis pada tahun 2017 mengutip dua data yang menyakitkan, cermin kezhaliman kita sebagai umat manusia: ketika sepertiga makanan secara global terbuang menjadi sampah, masih terdapat 805 juta jiwa manusia yang mengalami kelaparan. Angka 805 juta jiwa sendiri setara dengan 11% penduduk dunia atau lebih dari tiga kali penduduk Indonesia.

Sementara itu, kezhaliman yang lebih sistemik, misalnya dapat diamati dari perdagangan senjata internasional. Pada tahun 2017, penjualan  senjata oleh 100 perusahaan terbesar di lebih dari 20 negara (Amerika Serikat, Rusia, Inggris, Perancis, Jerman, India, Israel, Jepang, Korea Selatan, dll) nilainya mencapai USD 412,47 miliar. Nilai ini hampir menyamai Produk Domestik Bruto (nilai seluruh aktivitas perekonomian sebuah negara) Iran (USD 439,51 miliar) atau Thailand (USD 455,22 miliar) dan nyaris setara dengan separuh PDB Belanda (USD 826,20 miliar) atau Turki (USD 851,10 miliar).

Di mana letak kezhalimannya? Jika komunitas global berkomitmen membentuk perdamaian dunia melalui banyak aktivitas bersama di berbagai kerja sama internasional, apakah nilai perlu untuk terus mengembangkan penjualan persenjataan? Bukan berarti harus membunuh inovasi persenjataan sebagai upaya negara membela kedaulatannya atau menutup industri dengan jutaan karyawan, tetapi lebih kepada nilainya yang terlampau besar, sementara kemiskinan, kelaparan, akses energi dan kesehatan, serta kebutuhan air bersih masih belum merata di semua negara. Alangkah indahnya jika perdamaian adalah kesungguhan bagi setiap negara dan masyarakatnya, sehingga investasi dan modal untuk mengembangkan persenjataan dapat dialihkan untuk memenuhi kebutuhan pokok masyarakat global.

Inilah kezhaliman yang dimaksud oleh Allaah SWT, salah satu faktor yang menjadi sebab mengapa rahmat yang telah disiapkan untuk setiap orang belum dapat diberikan kepada setiap orang apa yang memintanya.

Sementara itu, kemustahilan untuk menghitung nikmat Allaah Ta’aala dinyatakan dengan kata laa-tuh-shuuhaa atau tidaklah dapat menghinggakannya. Kata tuh-shuu-haa berasal dari akar kata yang terdiri atas huruf haa’, shaad, dan yaa’, serta mengandung tiga makna asal, yaitu: 1) menghalangi atau melarang; 2) menghitung dengan teliti dan mampu, sehingga lahir makna mengetahui, mencatat, atau memelihara; kemudian makna 3) sesuatu yang merupakan abgian dari tanah, sehingga lahir kata hashaa yang artinya batu.

Pada masa lampau, manusia menggunakan batu untuk menghitung. Atau apabila telah mencapai pada hitungan sepuluh, digunakanlah sebuah batu untuk menandai setiap sepuluh hitungan. Dari sinilah kata tersebut dimaknai sebagai menghitung. Pemilihan kata ini juga menimbulkan kesan, bahwa jumlah nikmat Allaah SWT sangatlah banyak, ibarat sejumlah batu-batu yang merupakan bagian dari tanah. Seseorang baru akan mampu menghitungnya jika ia telah mampu menghitung batu-batu di muka bumi. Tentu saja ini adalah kemustahilan.

Kemustahilan tersebut juga dapat dipahami, sebagaimana telah disampaikan pada bagian awal, bahwa nikmat Allaah SWT yang betapa luas jangkauannya, yang menyeluruh cakupannya, yang mendetail di rincian-rinciannya, yang berlangsung sepanjang waktu, dan yang menyentuh setiap ciptaan-Nya tanpa kecuali, membuat kita tak akan pernah bisa menghitung anugerah tersebut.

Nah, kalimat penutup innal-insaana lazhaluumun kaffar telah dijelaskan sebelumnya, sehingga kali ini akan dijelaskan penutup di QS an-Nahl (16) ayat 18, innallaaha laghafuurur-rahiim.

Kalimat innallaaha laghafuurur-rahiim, merupakan bagian dari tiada terhingganya nikmat Allaah SWT. Maksudnya, sekalipun kita sebagai umat manusia kolektif kadang bahkan sering melakukan kezhaliman dan tidak mensyukuri nikmat (kufur nikmat), Allaah Ta’aala tetap saja membuka pintu ampunan dan tetap pula mencurahkan rahmah-Nya, kasih sayang-Nya. Hal ini muncul pula dalam sebuah hadits dari Sayyidinaa Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim Radliyallaahu’anhum, Nabi Muhammad SAW bersabda, tatkala Allaah menciptakan makhluk-Nya, Dia menulis dalam kitab-Nya, yang kitab itu terletak di sisi-Nya di atas ‘Arsy,

Maghfirah atau ampunan Allaah SWT dalam penutup ayat 18 QS an-Nahl tersebut terbentuk dari kata ghafara yang maknanya menutup. Terdapat pula pendapat bahwa terambil dari kata al-ghafar, yaitu sejenis tumbuhan yang digunakan untuk mengobati luka. Jika makna menutup yang digunakan, maka di antara ampunan Allaah Ta’aala adalah Dia menutup dosa hamba-hamba-Nya sebagai bentuk kemurahan dan anugerah-Nya. Dan apabila makna jenis tumbuhan untuk mengobati luka yang dipakai, maka ampunan Allaah SWT sebenaranya merupakan anugerah kesadaran dan penyesalan atas dosa-dosa, yang berakibat pada kesembuhan, yakni terhapusnya dosa-dosa.

Pemaknaan Maha-pengampun ini dipaparkan pula oleh Imam Ghazali RA, tulis beliau,

Dia yang menampakkan keindahan dan menutupi keburukan. Dosa-dosa adalah bagian dari sejumlah keburukan dan yang ditutupi-Nya dengan jalan tidak menampakkannya di dunia serta mengesampingkannya di akhirat.

Lebih jauh, Imam Ghazali menjelaskan, sedikitnya ada tiga ketertutupan yang dianugerahkan oleh Allaah SWT kepada manusia. Pertama, yang ditutupi adalah sisi dalam jasmani manusia yang tak sedap dipandang mata. Betapa luar biasanya fungsi organ tubuh kita di balik kulit dan tulang belulang, dari ujung kepala sampai ujung kaki, namun keterbukaannya akan mencengangkan pandangan, bahkan cenderung menjijikkan bagi sebagian besar orang, terkecuali para dokter yang memiliki tugas mulia untuk mengobati manusia. Ketertutupan organ tubuh dengan kulit dan tulang bahkan bukan hanya untuk menutupi keburukan lahiriah, tetapi juga berfungsi untuk melindunginya dari benturan dan infeksi, serta memperindah wajah dan rupa kita sebagai manusia.

Kedua, Allaah SWT menutupi bisikan dan hati serta kehendak manusia. Tak seorang pun mengetahui isi hati dan pikiran orang lain, kecuali dirinya sendiri dan Allaah SWT. Betapa kacaunya kehidupan sosial dan pribadi kita, apabila antara satu manusia dengan manusia lainnya dapat saling melihat isi hati dan pikiran, lebih-lebih jika sebuah keburukan: dengki, iri, marah, prasangka buruk, niat jahat, dan lain sebagainya. Sedangkan yang ketiga, anugerah ketertutupan Allaah SWT adalah kehendak-Nya untuk menutupi dosa dan pelanggaran manusia satu sama lain, sehingga tidak dapat diketahui oleh umum.

Hadirin yang dirahmati Allaah SWT, dua ayat di QS Ibrahim dan QS an-Nahl tersebut mendorong kita untuk terus berusaha mensyukuri nikmat Allaah SWT sekaligus berupaya mengurangi kezhaliman, agar keadilan sosial dapat dicapai. Ada banyak hal yang bisa dilakukan di tingkat individu, yang dalam hal ini, penulis mencontohkan melalui makanan: mengurangi sampah makanan dengan mengambil secukupnya dan menghabiskan makanan yang telah diambil. Inilah sekecil-kecilnya upaya kita untuk mengurangi kezhaliman berupa menyia-nyiakan makanan.

Lebih dari itu, kedua ayat ini, terutama di QS an-Nahl, hendaknya menyadarkan kita tentang luasnya rahmat dan ampunan Allaah SWT. Tentu saja pemahaman atas ayat ini tidak berarti kita kemudian melakukan dosa dengan bebas karena adanya ampunan Allaah SWT, tetapi dengan menghindarkan diri sebaik-baiknya dari perbuatan yang tercela sekecil apapun.

Semoga Allaah SWT berkenan meneguhkan hati kita untuk terus berada di dalam jalan yang lurus dan benar: mensyukuri pemberian-Nya, mengurangi kezhaliman, dan memohon ampunan-Nya. Aamiin.

Mengapa Islam Meneguhkan Kemuliaan Akhlak

Hadirin rahimakumullaah, salah satu ajaran dasar dalam agama Islam adalah mengenai akhlak. Nabi Muhammad SAW misalnya, dipuji oleh Allaah SWT karena kemuliaan akhlaknya. Di dalam surah al-Qalam ayat keempat Allaah SWT berfirman,

Begitu pula dengan penegasan Nabi Muhammad SAW sendiri ketika menjelaskan tugas beliau kepada umat manusia, Beliau SAW bersabda,

Bahkan, akhlak mulia merupakan salah satu modal sosial yang dimiliki Nabi Muhammad SAW. Tugas beliau sebagai utusan Allaah SWT adalah menyampaikan kebenaran kepada manusia dan berinteraksi dengan masyarakat, sehingga, jauh sebelum seorang Muhammad bin Abdullaah menerima mandat menjadi nabi dan rasul, Beliau SAW ditakdirkan sebagai pribadi yang berakhlak sangat mulia.

Imam Bukhari meriwayatkan sebuah hadits yang mengisahkan bagaimana istri Beliau SAW, Sayyidatinaa Khadijah RA, menenangkan Rasuulullaah Muhammad SAW yang ketakutan ketika menerima mandat dari Allaah SWT untuk pertama kalinya.

Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi Muhammad SAW telah disiapkan sejak lama oleh Allaah SWT untuk menjadi pemimpin umat, dengan segala kemuliaan akhlaknya. Menjadi hikmah bagi kita semua yang sehari-hari hidup bermasyarakat atau jika ada di antara kita yang sedang mencoba peruntungan menjadi pemimpin publik: apakah kita sudah memiliki modal sosial berupa akhlak mulia?

Hadirin rahimakumullaah, jika ditinjau dari pengertian bahasa Indonesia, kata akhlak dimaknai sebagai budi pekerti atau kelakuan. Kata akhlak sendiri diserap oleh bahasa Indonesia berasal dari bahasa Arab, yakni kata yang sama, akhlak, (اَخْلَاقْ) alif, kha’, lam, alif, dan qaf. Kata akhlaaq dalam bahasa Arab merupakan bentuk jamak dari kata khuluq (خُلُقْ), kha’, lam, dan qaf, yang pada mulanya bermakna ukuran, latihan, dan kebiasaan. Kata khuluq yang bermakna ukuran, kemudian dapat membentuk kata dalam bahasa Arab, di antaranya makhluq (ciptaan yang mempunyai ukuran) atau khalqaa’ / خَلْقَاءْ (batu yang licin karena berkali-kali disentuh oleh sesuatu, sebagai bagian dari makna latihan dan kebiasaan). Pemaknaan dalam bahasa Arab tersebut membawa pada pengertian akhlaq yang lebih unik, bahwa akhlak sebagai budi pekerti atau sebuah sifat yang mantap atau kondisi kejiwaan di dalam diri seseorang baru dapat dicapai setelah berulang-ulang latihan alias membiasakannya.

Akhlak menjadi penting bagi manusia karena berkaitan dengan keadaan asal manusia sebagai makhluk sosial. Allaah SWT mengisyaratkan sifat sosial manusia dalam al-Qur`an di surat al-‘Alaq ayat ke-2 ketika mengisahkan proses kehidupan manusia:

Kebanyakan terjemah al-Qur`an mengartikan ‘alaq sebagai segumpal darah. Makna segumpal darah ini tidak salah, begitu pula dengan pemaknaan sesuatu yang bergantung di dinding rahim yang tidak keliru. Bahkan inilah isyarat dari Allaah SWT bahwa sejak penciptaannya, seorang manusia pasti membutuhkan orang lain. Manusia tumbuh di rahim seorang Ibu, sebagai hasil perkawinan seorang lelaki dan perempuan, pertumbuhannya di bawah asuhan orang tua, pendidikan dan kedewasaannya harus bersama orang lain, dan hingga kematiannya pun manusia harus dikuburkan oleh orang lain. Inilah isyarat Qur`an sebagai makhluk sosial.

Hadirin rahimakumullaah, jika saja manusia hidup sendirian, maka ia tak memerlukan akhlak, tak memerlukan budi pekerti, tidak pula memerlukan hukum dan peraturan. Seseorang yang hidup sendiri di hutan, misalnya, tidak dituntut untuk berkata benar karena ia tidak menemukan mitra bicara. Tetapi manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup tanpa bantuan orang lain, sehingga harus bekerja sama dan menjalin hubungan harmonis.

Di sisi lain, manusia juga seorang individu yang masing-masing mempunyai ego dan kepentingan yang dapat bertentangan dengan individu lain. Konsekuensinya, setiap individu didesak untuk mengorbankan sedikit atau banyak dari kepentingan egonya agar dapat terjalin hubungan harmonis dan dapat pula terpenuhi kebutuhan-kebutuhannya, sekaligus dapat hidup tenang, damai, dan tenteram dalam sebuah masyarakat.

Pengorbanan tersebut melahirkan moral atau akhlak terpuji, demikian pula kesediaan untuk berkorban, sebuah manifestasi dari akhlak yang luhur. Semakin besar pengorbanan, semakin luhur pula akhlak. Para pahlawan bangsa kita, misalnya, mengorbankan nyawa demi terusirnya penjajah, demi perginya penindasan dari bangsa lain. Inilah puncak akhlak yang tepuji yang berbalas surga, karena kematian akibat membela harta, membela keluarga, atau membela kehidupan, diganjar sebagai kematian yang syahid.

Pengorbanan yang berskala kecil digambarkan dalam hubungan antara pengusaha dan karyawan. Pengusaha membutuhkan karyawan untuk membantu usahanya berjalan, sementara seorang yang sebelumnya menganggur membutuhkan pekerjaan, yakni menjadi karyawan pengusaha tersebut, keduanya saling membutuhkan. Pengorbanan berlangsung ketika pengusaha harus mengurangi keuntungannya untuk upah karyawan, sementara karyawan yang memerlukan uang untuk kehidupannya harus berkorban bahwa tidak semua keinginannya dapat dipenuhi dari upah tersebut. Hubungan keduanya diatur, misalnya dengan ketentuan UMR atau UMP: pengusaha tak boleh terlalu kecil menggaji karyawan, sementara karyawan juga menerima upah sewajarnya sesuai dengan pekerjaannya. Pengorbanan keduanya tersebut memunculkan: perilaku saling menghormati hak dan kewajiban masing-masing.

Pengorbanan juga bukan berarti bahwa setiap kewajiban membutuhkan pengorbanan. Sebelum melangkah berkorban, diperlukan pertimbangan-pertimbangan, apakah langkah pengorbanan harus segera diambil atau ada jalan lain untuk memenuhi yang wajib. Pengorbanan tidak harus dilakukan, misalnya, jika dampak pengorbanan itu justru memunculkan lebih banyak mudlarat daripada menghadirkan manfaat.

Hadirin rahimakumullaah, akhlak diperlukan oleh manusia karena kita memiliki empat potensi dan dua kecenderungan. Empat potensi tersebut adalah ilmu, amarah, syahwat atau keinginan, serta keadilan. Sementara dua kecenderungan adalah ke mana tujuan di mana empat potensi tersebut mengarah: menjadi sesuatu yang baik atau justru menjadi kehinaan.

Pertama adalah potensi ilmu. Potensi ilmu mengantarkan manusia mengetahui perbedaan mana yang benar dan mana yang salah tentang sebuah persoalan atau mana yang indah dan mana yang buruk dalam konteks kelakuan. Puncak potensi keilmuan manusia ketika dibimbing oleh akhlak mulia adalah hikmah. Hikmah seakar dengan kata hakamah dalam bahasa Arab yang artinya kendali, yakni kendali untuk menghalangi hewan atau kendaraan mengarah pada yang tidak diinginkan atau agar tak menjadi liar.

Mampu memilih yang terbaik dan paling sesuai adalah perwujudan hikmah, begitu pula dengan memilih yang relatif baik dan sesuai dari dua hal yang buruk. Siapa yang tepat dalam menilainya, pas dalam mengaturnya, dan yakin akan pengetahuannya, ialah penyandang hikmah, yang akan tampil dengan percaya diri, tidak berbicara dengan ragu atau mengira-ngira, dan tidak juga melakukan sesuatu dengan coba-coba. Inilah cerminan hebatnya ilmu jika kita arahkan pada kecenderungan kebaikan.

Kedua, potensi amarah. Amarah harus digunakan dalam batas tuntunan hikmah, sehingga bila potensi ini tersalurkan, terwujudlah keberanian. Kalau kita mengungkap amarah melebihi dari ukuran yang seharusnya, ia akan menjadi kecerobohan alias kenekatan; sementara jika kurang dari yang seharusnya, ia akan timbul sebagai ketakutan. Keberanian adalah kemampuan menghadapi kesulitan saat dibutuhkan, dengan tekad dan kekuatan jiwa. Keberanian bukan berarti tidak takut menghadapi kesulitan, tetapi mengenyahkan rasa takut karena mengetahui takaran kesulitan tersebut: bahwa kesulitan tersebut dalam ukuran yang bisa dihadapi oleh diri kita.

Ketiga, potensi syahwat atau keinginan. Ketika kecenderungan kebaikan memayungi syahwat, lahirlah yang disebut ‘iffah atau kesucian diri. Sementara apabila kecenderungan keburukan yang menyelimuti syahwat kita, muncullah ketidak-mampuan seksual atau sebaliknya, kecanduan pada interaksi seksual. Dalam konteks harta duniawi, syahwat yang dikendalikan oleh hikmah dan keberanian akan menghadirkan kedermawanan. Sedangkan syahwat yang tertutup dari hikmah dan keberanian akan menjadi sikap boros (berlebihan dalam membelanjakan harta) atau kikir (terlalu sayang dalam membelanjakan harta).

Keempat, potensi keadilan. Keadilan diartikan sebagai sama atau seimbang atau menempatkan sesuatu pada tempatnya. Keadilan berbentuk penghormatan atas hak-hak pihak lain serta memberikan hak tersebut dengan sempurna dan secepat mungkin. Keadilan dapat mewujud ketika potensi ilmu, amarah, dan syahwat dapat mencapai puncak kemuliaan sehingga menjadi hikmah, keberanian, dan kesucian diri. Sebaliknya, beberapa hal yang dapat menghalangi keadilan di antaranya adalah kepentingan pribadi, keluarga, atau golongan (karena syahwat yang menjadi ketamakan); rasa takut dari celaan atau hukuman (karena tidak memiliki keberanian dalam menyatakan kebenaran); atau kurangnya pengetahuan.

Hadirin rahimakumullaah, di dalam kitab al-Mustadrak, al-Hakim meriwayatkan sebuah ungkapan yang bersumber dari Nabi Muhammad SAW atau beberapa ulama lain menyatakan berasal dari Sayyidinaa ‘Ali KW,

Keinginan manusia untuk mengumpulkan harta dan pengetahuan adalah sebuah kecenderungan yang netral. Namun ketika usaha untuk memenuhi keduanya tak menggunakan akhlak, maka hancurlah manusia dan masyarakatnya. Korupsi, penyuapan, pemotongan anggaran dan pungutan liar, membenarkan kebohongan, perang dan industri senjata, kerusakan lingkungan, adalah akumulasi dari upaya memenuhi kebutuhan manusia yang memanfaatkan kemajuan ilmu pengetahuan.

Nabi Muhammad SAW dalam haditsnya mengajarkan redaksi doa yang menggambarkan permohonan limpahan ilmu yang bermanfaat atau perlindungan dari ilmu yang tak bermanfaat. Nabi Muhammad SAW dalam haditsnya pula mengkhawatirkan cobaan kekayaan sebagai awal dari sebuah kehancuran masyarakat dan Beliau SAW pula dalam kesehariannya selalu menunjukkan akhlak sebagai seorang yang sederhana tanpa menumpuk kekayaan.

Hadirin rahimakumullaah, tidak dapat disebutkan dalam forum ini, banyaknya hadits, baik yang mengisahkan kemuliaan akhlak Nabi SAW dalam kehidupan sehari-hari beliau, maupun menggambarkan betapa besarnya balasan Allaah SWT terhadap kemuliaan budi pekerti. Bahkan, akhlak mulia bukan hanya menjadi salah satu jaminan hadirnya rahmat Allaah SWT di akhirat, tetapi juga keberkahannya terasa di dunia: memenuhi kebutuhan umat manusia dengan memanfaatkan pengetahuan, yang diterapkan dengan penuh keberanian tanpa ketamakan, demi terwujudnya keadilan bagi seluruh umat manusia.

Peradaban Islam ala Indonesia: Menghimpun Keberagaman

Ketika muncul fatwa rokok sebagai sesuatu yang haram, NU sering diejek. NU dianggap tak berani dalam mengharamkan rokok dikarenakan para ulama NU banyak yang merokok. Ya memang benar adanya sih, bahwa banyak ulama NU yang merokok. Bahkan bagi seorang nahdliyin, kapabilitas untuk merokok adalah bagian dari keabsahan sebagai seorang nahdliyin. Terlepas dia kader maupun bukan.

Namun benarkah pertimbangan hukum NU tentang rokok hanya sebatas karena umat dan ulamanya juga perokok? Mari kita telusuri sejarahnya bersama.

Ketika Risalah Menghampiri

Revolusi peradaban oleh Islam dimulai ketika seorang Quraisy menerima wahyu dari Tuhan. Dialah yang kemudian selalu dipanggil oleh umatnya berurutan sesudah menyebut nama Tuhan setidaknya lima kali dalam sehari. Sayyidinaa Muhammad SAW.

Ketika pertama bertemu dengan Pembawa Pesan Agung, Malaikat Jibril ‘AS, Sayyidinaa Muhammad SAW terpaku. Tak dinyana, risalah pertama dari langit adalah kalimat perintah, Iqra`!, yang bermakna perintah untuk membaca, Bacalah! Sayyidinaa Muhammad SAW pun bertanya balik dengan balasan kalimat tanya, maa aqra`?, yang berarti: Apa yang harus saya baca?

Lantunan kalimat suci pun berlanjut: Iqra` bismirabbikalladzii khalaq, khalaqal insaana min ‘alaq; bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang mencipta, mencipta manusia dengan sesuatu yang bergantung di dinding rahim; dan seterusnya hingga ayat kelima.

Para penafsir menjelaskan kisah ini dengan sangat indah, sebagai cerminan amanah peradaban seorang muslim. Prof. Quraish Shihab, seorang penafsir nusantara menjelaskan bahwa pertanyaan dari Sayyidinaa Muhammad SAW merupakan kewajaran, sebab: (1) perintah membaca dari Malaikat Jibril ‘AS yang tidak lazim menurut tata bahasa Arab karena perintah tanpa objek, dan (2) Sayyidinaa Muhammad SAW yang buta huruf tak bisa membaca dan menulis aksara apapun.

Adanya perintah tanpa objek spesifik justru membawa pesan agung sebagai dasar risalah yang dibawa Islam: bacalah segala sesuatu yang terhampar di hadapanmu, tulisan maupun peristiwa, bacaan suci keagamaan maupun selainnya, selama konteksnya adalah sembari mengingat Tuhan yang menciptamu, bismirabbikalladzi khalaq.

Tafsir ayat berikutnya menjadi semakin indah, ketika Tuhan berfirman, khalaqal insaana min ‘alaq, mencipta manusia dengan sesuatu yang bergantung di dinding rahim, bahwa manusia berasal dari sesuatu yang bergantung pada sesuatu dan ia sampai kapanpun tak dapat berdiri sendiri tanpa manusia lain. Sungguh, mayat tak dapat menguburkan dirinya sendiri! Maka, kebutuhan spiritualitas berketuhanan adalah keniscayaan, namun ketergantungan kepada sesama manusia adalah realitas kehidupan.

Selanjutnya, perintah yang mula-mula turun ini perlu dikaitkan pula dengan menjelaskan sebuah firman Tuhan yang lain tentang awal penciptaan manusia. Malaikat yang bertanya mengapa Tuhan berencana mencipta makhluk yang menumpahkan darah, justru Tuhan menjadi pembela manusia dengan berfirman, wa ‘allama aadamal-asmaa-a kullaha, dan (Dia) mengajarkan kepada Adam nama benda semuanya. Tafsirnya, manusia berpotensi menumpahkan darah, namun manusia pula mampu mengembangkan alam di sekelilingnya untuk memenuhi kebutuhannya.

Maka inilah fitrah bagi seorang muslim yang sesungguhnya: berwawasan luas dan mendalam, baik spiritualitas berketuhanan maupun ilmu pengetahun dan teknologi modern, demi memenuhi kemaslahatan sesama manusia. Bahasa Tuhan menyebut, wa maa arsanalka illaa rahmatan lil-‘aalamin, dan Kami tidak mengutusmu (Sayyidinaa Muhammad SAW) kecuali menjadi rahmat, kasih, dan sayang, bagi semesta alam.

Islam di Negeri Seribu Pulau

Islam terus berkembang hingga kemudian mencapai Indonesia tercinta, yang pada masa lalu dikenal sebagai Nusantara. Peranan Dewan Wali Sembilan tak bisa dipungkiri menjadi faktor penting bagi cepatnya Islam berkembang di Nusantara. Salah satu prinsip yurisprudensi Islam yang digunakan oleh Dewan Wali Sembilan adalah muhafazhatu ‘ala qadiimish-shaalih, wal-akhdzu ‘ala jadiidil-ash-lah; memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik. Tradisi lama sebelum masuknya Islam dimodifikasi, dibersihkan dari hal-hal yang melanggar ketentuan dasar Islam, dikonversi menjadi tradisi baru yang lebih baik sebagai alat memperkenalkan Islam.

Peran Ulama sebagai penerus Dewan Wali Sembilan mulai mengglobal ketika suku-suku di jazirah Arab takluk di bawah penguasa tunggal Dinasti as-Saud dan memegang akses menuju dua kota suci, Makkah al-Mukarramah (Makkah yang Penuh Kemuliaan) dan Madinah al-Munawwarah (Madinah yang Penuh Cahaya), di mana Saudi berencana menyeragamkan praktek ibadah di kedua kota tersebut, terbentuklah Komite Hijaz untuk berunding dengan otoritas Saudi agar urung mewujudkan penyeregaman tersebut. Inilah embrio terbentuknya organisasi Islam terbesar di Indonesia, bahkan di dunia, yakni Nahdlatul-‘Ulama` (NU) atau Kebangkitan Ulama.

Penghargaan NU kepada Dewan Wali Sembilan tercermin dalam lambang NU yang antaranya memiliki sembilan bintang, representasi keberadaan Dewan Wali Sembilan. Lima bintang di atas adalah simbol Sayyidinaa Muhammad SAW dan empat sahabat utama beliau, yakni Sayyidinaa Abu Bakar, Sayyidinaa ‘Umar, Sayyidinaa ‘Utsman, dan Sayyidinaa ‘Ali, sementara empat bintang di bawah adalah gambaran empat ulama besar dalam yurisprudensi Islam, yakni Imam Malik, Imam Hanafi, Imam Syafi’i, dan Imam Hambali.

NU, Kebangsaan, dan Kenegaraan

Salah satu peran nyata NU bersama umat Islam kepada Indonesia adalah penerimaan Pancasila sebagai Dasar Negara. Ketika perwakilan tokoh dari Indonesia bagian timur menolak tujuh kata dalam Piagam Jakarta, Islam yang salah satunya diwakili oleh NU, kemudian memilih mengalah. Tujuannya adalah demi terbentuknya negara. Imam Ghazali menulis dalam Ihya ‘Ulumiddin (Menghidupkan Keberagamaan):

al-mulku wad-diin taw-amaani, kekuasaan dan agama merupakan dua saudara kembar;

fad-diiny ashluw-was-sulthaanu haarisun, agama sebagai landasan dan kekuasaan sebagai pengawalnya;

wa maa laa ashlalahu famahduumun, sesuatu tanpa landasan pasti tumbang;

wa maa laa haarisalahu fadlaa-i-‘un, sedangkan sesuatu yang tak punya pengawal akan tersia-siakan.

Para tokoh Islam dan NU pada 1945 sadar, bahwa negara dan agama adalah saudara kembar yang saling membutuhkan. Maka pilihan terbaik adalah memenuhi permintaan tokoh Indonesia bagian Timur, demi terbentuknya sebuah negara kebangsaan, Indonesia berdasarkan Pancasila.

Sesudah dinamika yang sangat pelik hubungan NU dengan berbagai kelompok politik pada periode 1945 sampai dengan munculnya Orde Baru, hubungan Pancasila dengan Islam diteguhkan kemudian oleh NU melalui Munas Alim Ulama NU tahun 1983 di Situbondo. Meskipun secara politik didorong oleh pemerintah agar menerima Pancasila sebagai azas tunggal, momen ini menjadi kesempatan bagi NU untuk menguatkan Pancasila sebagai jalan tengah demi bersatunya kebangsaan Indonesia. Keputusan Munas tersebut berbunyi:

  1. Pancasila sebagai dasar dan falsafah Negara Republik Indonesia bukanlah agama, tidak dapat menggantikan agama dan tidak dapat dipergunakan untuk menggantikan kedudukan agama.

  2. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai dasar Negara Republik Indonesia menurut pasal 29 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945, yang menjiwai sila-sila yang lain, mencerminkan tauhid menurut pengertian keimanan dalam Islam.

  3. Bagi Nahdlatul Ulama, Islam adalah aqidah dan syari’ah, meliputi aspek hubungan manusia dengan Allah dan hubungan antar manusia. Penerimaan dan pengamalan Pancasila merupakan perwujudan dari upaya ummat Islam Indonesia untuk menjalankan syari’at agamanya.

  4. Sebagai konsekuensi dari sikap di atas, Nahdlatul Ulama berkewajiban mengamankan pengertian yang benar tentang Pancasila dan pengamalannya yang murni dan konsekuen oleh semua pihak.

Sederhananya, NU menjalankan Islam sebagai ajaran agamanya dalam berbagai lini kehidupan. Khusus untuk lini kehidupan bernegara, berbangsa, dan bermasyarakat, bagi NU, ajaran Islam tercermin dalam Pancasila.

Pada periode 1980-1990 tersebut pula tercetuslah empat prinsip utama bagi warga NU dalam menyikapi berbagai persoalan yang dihadapi: (1) tawasuth atau pertengahan, (2) tawazun atau keseimbangan, (3) tasamuh atau toleransi, dan (4) i’tidal atau keadilan. Empat sikap ini bukan karangan NU, tetapi diambil dari berbagai sumber hukum Islam.

Sikap pertengahan atau tawasuth, misalnya, diambil dari firman Tuhan, wa kadzaalika ja’alnaakum ummataw-wasathaa, dan demikian Kami menjadikan kamu umat pertengahan. Kata wasit dalam bahasa Indonesia, diserap dari kata yang sama, tawasuth. Sebagai ilustrasi tentang makna sikap pertengahan, misalnya: (1) pemberani adalah pertengahan antara penakut dan nekat, (2) dermawan adalah pertengahan antara kikir dan boros.

Menjelaskan Beberapa Sikap NU: Refleksi atas Konsistensi

Beberapa peristiwa mutakhir menunjukkan konsistensi NU sebagai representasi Islam yang fleksibel namun tak meninggalkan nilai dasar spiritualitas keagamaan, di antaranya adalah sebagai berikut:

  1. Hukum Haram Rokok

NU memilih diam terhadap hukum rokok, atau maksimal menghukuminya sebagai makruh (tidak disukai), karena kehati-hatian. Konsekuensi hukum haram adalah serangkaian yang menuju kepadanya dan bersumber darinya juga harus dimaknai haram. Hukum haram rokok bermakna seluruh rantai suplai rokok, sejak dari petani tembakau, karyawan produksi rokok hingga penjualnya, cukai dan pajak rokok, serta semua uang yang berkaitan dengannya berhukum haram. Betapa mengerikannya negeri ini dipenuhi dengan keharaman yang bertubi. Bahkan saat ini, jika rokok dihukumi sebagai haram, maka sebagian pembiayaan jaminan kesehatan nasional dalam waktu dekat akan menjadi haram karena bersumber dari cukai dan pajak rokok.

Maka bagi NU, keharaman rokok belum mutlak, selama belum ditemukan solusi komprehensif dalam mengalihkan industri rokok yang berukuran massif kepada lapangan pekerjaan lain yang sepadan. Inilah sikap tawasuth, (pertengahan yang tidak ekstrim), memperhatikan semua aspek (tawazun atau keseimbangan informasi), dan penuh keadilan bagi semua pihak.

  1. Keterlibatan NU pada Pembelaan terhadap Penghayat Kepercayaan, Keturunan PKI, Ahmadiyah, dan Syiah

Salah satu lembaga di NU, Lembaga Kajian dan Pengembangan SDM NU (LAKPESDAM-PBNU) terlibat aktif di dalam pembelaan hukum maupun rekonsiliasi sosial terhadap masyarakat di berbagai daerah.

Kasus kolom agama bagi penghayat kepercayaan didasari pada hak dasar para penghayat yang dipaksa masuk ke salah satu dari enam agama agar dapat menikah atau lulus ujian sekolah.

Kasus bekas tahanan politik PKI dan keluarganya terjadi di Gunungkidul, ketika mereka termarginalkan secara sosial, tak dianggap sebagai manusia sepadan, sehingga terbelenggu oleh kemiskinan, bahkan oleh aparatur pemerintah setingkat dusun sekalipun, karena tidak mendapatkan jatah beras miskin.

Kasus kekerasan dan pengusiran pemeluk Ahmadiyah dan Syiah jelas menghilangkan hak bertempat tinggal dan hak hidup mereka, padahal di tempat itulah mereka berada sejak lahir dan tumbuh dewasa.

NU bukan hadir untuk membenarkan ajaran penghayat kepercayaan, bukan pula membangkitkan kembali PKI, apalagi menumbuhakn ajaran Ahmadiyah ataupun Syiah. Bagi NU perbedaan keyakinan setiap insan adalah keniscayaan yang dijamin oleh negara dan NU turut memperjuangkan mereka yang termarginalkan untuk memperoleh hak-hak dasarnya sebagai warga negara Indonesia. Inilah prinsip i’tidal atau keadilan untuk semua yang dijunjung oleh NU.

  1. Kasus Penistaan Agama oleh Basuki Tjahaja Purnama

Ketika sidang berlangsung, ada dua tokoh NU yang berseberangan. KH Ma’ruf Amin sebagai saksi ahli yang diajukan oleh jaksa dan Kiai Ahmad Ishomuddin sebagai saksi ahli dari pihak terdakwa. Kedua ulama tersebut mumpuni di bidang yurisprudensi Islam, sama-sama berada di Lembaga Tinggi (Syuriyah) Pengurus Besar NU, hanya berbeda senioritas. Uniknya, keduanya tidak saling mengusir dari PBNU, tidak pula kemudian bermusuhan, meskipun berlawanan pihak di persidangan. Peristiwa ini menggambarkan empat bintang dalam lambang NU yang mewakili empat Imam besar dalam yurisprudensi Islam yang diterima keberagaman pendapatnya dalam NU: beragam pendapat itu biasa dan sangat lazim, namun kerukunan adalah kunci.

 Islam ala Indonesia untuk Dunia

Terdapat kata kunci yang menyelimuti sekelumit sejarah NU sebagai organisasi Islam asli Indonesia: musyawarah dan konsensus. Dua password ini sesungguhnya merupakan sifat universal yang telah dipraktekkan sejak lama di berbagai peradaban, termasuk peradaban Nusantara pra-Islam dan maupun oleh Islam sendiri, walaupun prakteknya di dalam umat Islam masa kini belum ideal sama sekali. Timur Tengah misalnya, meskipun memiliki keragaman yang sangat sedikit dalam hal budaya, suku, bahasa, dan agama, wilayah tersebut tak pernah lepas dari konflik yang menumpahkan darah. Negeri tempat lahir dan tumbuhnya Islam hingga mencapai puncak kejayaannya, masyarakatnya tak pernah mencapai konsensus dan beralih ke senjata sebagai solusi. Sampai detik ini.

Oleh karenanya, sejak 2015 NU mengusung Islam Nusantara sebagai tagline-nya. Bukan mengusung ibadah baru, bukan pula syariat anyar, tapi memperkenalkan praktek Islam yang bermartabat, menjunjung tinggi musyawarah dan konsensus, tanpa meninggalkan pondasi dasar Islam, demi meraih kemaslahatan seluruh manusia, yang selama ini sedang dan terus diperjuangkan di Kepulauan Nusantara, Indonesia kita tercinta. Islam yang mampu menghimpun keberagaman.

Sebuah kaidah yurisprudensi Islam menyatakan, maa laa yudraku kulluhu, laa yutraku kulluhu; sesuatu yang tidak bisa dikerjakan seluruhnya, tidak ditinggalkan seluruhnya. Jika dimaknai dalam konteks salat, kaidah ini mendorong kita untuk tetap salat meskipun dalam keadaan sakit, karena sembari duduk, berbaring, bahkan hanya isyarat pun, salat bisa dikerjakan.

Sebagai generasi milenial yang sedang berproses menerima estafet kepemimpinan bangsa, kaidah tersebut memberikan peluang bagi kita untuk terus berjuang sesuai dengan kemampuan kita. Indonesia sebagai negeri berpenduduk muslim terbesar di dunia memiliki potensi untuk memperkenalkan Islam Nusantara ke penjuru dunia. Negara dan PBNU bertugas menyampaikannya kepada khalayak internasional.

Sementara kita, setiap individu bersama-sama dengan kelompok masyarakat, berperan dalam membumikannya menjadi praktek-praktek di dunia nyata, sesuai dengan jangkauan ruang dan waktu yang kita miliki, sesuai dengan bidang keahlian kita masing-masing. Semoga Tuhan memudahkan ikhtiar kita bersama menuju Indonesia yang bermaslahat. Aamiin.

Islam Nusantara dalam Konteks Konsensus Kebangsaan

~ Jika pemahaman Islam Nusantara diambil dari perspektif konsensus kebangsaan yang diperkaya dengan sejarah dan hikmah atas keadaan politik Timur Tengah dan bangsa Arab dewasa ini, insya-Allaah mau tak mau kita akan menyetujuinya. ~

Salah satu kekecewaan kepada bangsa Arab dan kawasan Timur Tengah adalah kegagalannya dalam menyelesaikan permasalahan kenegaraan dan kebangsaan di kawasan, padahal karakteristiknya relatif homogen, yakni (1) keragaman etniknya kecil, (2) agama mayoritas Islam, (3) berada di satu wilayah daratan yang luas, (4) berbahasa tunggal (Arab), dan (5) memiliki kekhasan budaya yang sangat mirip satu sama lain.

Di zaman Perang Teluk, ketika Irak menyerang Kuwait yang berbatasan dengan Saudi, ulama dari kedua negara (Irak dan Saudi), yang sama-sama Islam Ahlus-Sunnah berfatwa untuk saling menghalalkan darahnya.

Inikah cerminan Islam Rahmatan lil—’aalamiin?

Di zaman sekarang, Irak masih semrawut. Mayoritas Islam. Ada Syiah, ada Sunni, dan ada pula etnis Kurdi. Etnik Kurdi sendiri, merupakan etniknya Salahuddin al-Ayyubi yang sangat tenar itu, tersebar di mana-mana dan terkesan di anak-tirikan di berbagai negara berpenduduk muslim, seperti Irak, Suriah, dan Turki. Kesemrawutannya bukan main-main: perbedaan kepentingan dalam kekuasaan (politik) disikapi dengan pembunuhan massal lewat bom dan senjata.

Inikah cerminan Islam Rahmatan lil—’aalamiin?

Suriah yang sedang dilanda perang saudara sesama muslim. Banyak faksi politik, punya kepentingan masing-masing, semua ngaku Islam. Dan kepentingan pun ditegakkan dengan bom serta senjata.

Ulama besar Suriah, al-Maghfurlah Syaikh Ramadlan al-Buthi, sebelum konflik membesar dan hanya berupa demonstrasi, terus menerus menyuarakan rekonsiliasi nasional, tapi tak pernah didengar oleh para elit muslim yang punya kepentingan. Sampai detik ini, sekitar 6 juta penduduk terkatung-katung di dalam negeri Suriah dan 5 juta jiwa lainnya tersebar di luar Suriah. Semua yang berkepentingan mengatasnamakan penegakan agama Islam.

Inikah cerminan Islam Rahmatan lil—’aalamiin?

Saudi, Bahrain, Uni Emirat Arab, Senegal, Maroko, dan Sudan sedang berkonflik dengan Yaman sekaligus bersitegang dengan Qathar yang sebelumnya berada di koalisi Saudi namun belakangan pecah kongsi. Yaman sendiri sedang perang saudara. Alasannya perebutan kekuasaan politik. Ada Sunni, ada Syiah, ada pula al-Qaeda. Semua pihak, Saudi, Yaman dengan berbagai faksinya, dan Qathar, mayoritas muslim dan sedang berperang.

Inikah cerminan Islam Rahmatan lil—’aalamiin?

Fakta di atas adalah salah satu penyebab mengapa muncul gagasan Islam Nusantara. Bandingkan dengan kondisi kita sebagai bangsa yang masih utuh dan bersatu, meskipun beberapa spesifikasinya berbeda dg Timur Tengah: mayoritas Islam, terpisah lautan, penduduk besar dan beragam suku, bahasa, hingga budaya.

Maka Islam Nusantara diperkenalkan oleh NU, menurut saya, yang diunggulkan adalah Islam sebagai sebuah solusi kebangsaan, konsesus membentuk negara yang berorientasi kepada umat. Islam yang benar-benar rahmatan lil-‘aalamiin karena memprioritaskan musyawarah dalam menyelesaikan masalah, terutama bagaimana kepentingan politik kekuasaan dikelola oleh Indonesia yg mayoritas muslim.

Itulah kenapa NU mendeklarasikan hubungan Pancasila dengan Islam pada 1983 sebagai pedoman umat dalam berbangsa dan bernegara. PBNU juga mengantarkan 12 ulama Afghanistan ke UGM pada 2013 untuk belajar Pancasila. Kemudian Pekalongan menjadi tuan rumah Konferensi Ulama Thariqah Se-dunia dengan tema Bela Negara pada 2016. Dan pada 2018 ini ada Konferensi Ulama Indonesia, Afghanistan, dan Pakistan di Bogor, serta kehadiran ulama Indonesia ke Irak beberapa minggu yg lalu. NU, Islam Indonesia, Islam Nusantara serius berperan dalam perdamaian kebangsaan.

Hanya saja dimensi ini dikaburkan oleh mereka yang benci dengan NU. Mengapa? Karena kalau umat sadar dengan ini, terutama kalangan NU sendiri yang berbasis di pedesaan serta intelektual mudanya di perkotaan, maka habislah kepentingan politik mereka. Ora payu alias tidak laku.

NU yang berpegang pada empat prinsip (tawasuth atau pertengahan, tawazun atau keseimbangan, tasamuh atau tepa selira, dan i’tidal atau keadilan) akan memandang persoalan dengan objektif serta fokus pada fakta dan data. NU mendorong ikhtiar untuk menelaah persoalan dari beragam perspektif, sebelum memutuskan arah politiknya.

Bagaimana agar objektivitas ini kabur dan hilang? Serang dengan subjektivitas: kebencian membabi buta, kebencian pada perbedaan pendapat, kebencian pada tokoh NU, kebencian pada tokoh bangsa. Ketika berbeda, habisi dengan hujatan dan kata-kata kasar, tidak perlu melihat konteksnya atau objektivitasnya.

Agar massif, serang lewat sosial media. Tujuan lain lewat sosial-media  adalah agar masyarakat yang belum lama melek internet, termasuk kalangan NU di pedesaan yg belum kenal hoax dan objektivitas informasi, agar beralih ke subjektivitas dan keluar dari empat prinsip NU. Maka dalam hal ini, pesantren menjadi sebuah jangkar yang sangat penting bagi NU untuk terus memproduksi calon-calon pemimpin umat yang teguh pada nilai Islam dan kebangsaan.

Kalau kita tidak memahami Islam Nusantara dalam konteks konsensus kebangsaan, bahkan mengaburkan maknanya ke arah fitnah keji dan kebencian massif (misal: mengganti syariat, menjunjung tinggi budaya lokal dibandingkan Qur`an dan Sunnah, membenci Arab secara mutlak), maka bukan tidak mungkin krisis Timur Tengah akan berpindah ke Indonesia. Kita memohon perlindungan Allaah dari yang demikian.

Mari kita dinginkan suasana perebutan kepentingan di 2019 nanti dengan menghindari caci maki, mengurangi kebencian, dan diskusi cerdas berdasarkan objektivitas.

Sebagai penutup, Kanjeng Nabi SAW pernah bersabda,

Al-amnu wal-‘aafiyah ni’mataani magh-buunun fii-himaa katsiirun-minan-naas. Keamanan dan kesehatan adalah dua nikmat yg membuat banyak orang terlena.

Semoga Allaah memudahkan niat baik NU untuk terus memperdengarkan Islam Nusantara.

Blunyah Gede,
8 Juli 2018,
Ahmad Rahma Wardhana.

Lampiran Foto: dua buku yang relevan dengan maksud tulisan ini sehingga layak untuk dibaca

IMG20180708135016

IMG20180708151129

IMG20180708151146

Mengurai Hikmah Tragedi Mako Brimob: Islam adalah Kedamaian

Alhamdulillaah, tragedi di Mako Brimob sudah selesai. Ada evaluasi yang harus dilakukan, terutama di manajemen penjara beserta perangkat keamanannya. Pemerintah harus mengakui (serta memperbaikinya, tentu saja) bahwa sebagian pemicunya adalah kedua hal tersebut.

Namun demikian, tidak berarti kita melegalkan kekerasan yang dilakukan oleh para teroris itu. Apalagi membela perilaku keji ini dengan dalih apapun. Bahkan termasuk tuduhan pencitraan kubu politik yang sedang memegang amanah pemerintahan RI. Jika sampai ada yang menyampaikan hal tersebut (tuduhan pencitraan), bagi saya, sungguh telah mati nuraninya. Sementara kepada anggota kepolisian yang gugur dalam tugas, semoga Allaah Ta’aala mengganjar kalian dengan rahmat-Nya yang Maha-agung dan Menyeluruh.

Selain itu, sebagai masyarakat bangsa dan negara, kita juga harus semakin sadar bahwa kejahatan atas nama Islam itu nyata keberadaannya.

Islam tak pernah mengajarkan kekejian, bahkan dalam keadaan perang sekali pun. Namun pembela dan pelaku atas tafsir selain itu benar-benar ada dan hidup berkembang di Indonesia kita tercinta.

Tidak semua yang kritis kepada pemerintah dan/atau bahkan yang anti-negara NKRI berafiliasi dengan para pembajak Islam tersebut, tapi realitasnya, para pembajak Islam alias teroris-teroris itu, memanfaatkan kedua kubu tersebut dengan narasi-narasi cantik nan (seolah-olah) mulia: Islam terzhalimi. Lebih jauh lagi, teroris-teroris tak berperasaan ini dengan percaya diri sering menggunakan isu HAM dengan berlebihan, sedemikian rupa sehingga, pemerintah dan negara yang sedang menegakkan hukum adalah pelanggar HAM terberat di dunia.

Begitu pula dengan isu anti-Amerika Serikat (US). Benar bahwa sejarah terorisme modern berkaitan erat dengan peran US pada masa perang dingin melawan Uni Soviet dengan meradikalkan sebagian kecil umat Islam atas nama perjuangan anti-Soviet. Benar pula, bahwa saat ini pengaruh US kepada semua pemerintah dan negara di seluruh penjuru dunia itu eksis.

Tapi sungguh sebuah kebodohan jika terorisme atas nama Islam di negeri kita digambarkan sebagai sebuah garis lurus perintah/koordinasi antara US, Indonesia, dan terorisme itu sendiri, dengan mengabaikan faktor-faktor lain yang sangat kompleks dan rumit.

Mengapa bodoh? Karena tidak mau berpikir menguraikan persoalan yang sesungguhnya dan memilih sebodoh-bodohnya sikap: memosisikan diri sebagai korban kemudian menunjuk orang lain sebagai pelaku, dengan kata “pokoknya” sebagai penekanan.

Sungguh sikap yang bertentangan dengan ajaran al-Qur’an tentang anjuran untuk berubah dengan ikhtiarnya sendiri.

Maka mari bersama-sama, kita berusaha menjalankan Islam dengan baik dan benar sembari terus memberikan kontribusi terbaik bagi bangsa dan negara melalui kritik konstruktif yang solutif sebagai bentuk nyata ikhtiar untuk meningkatkan kualitas kehidupan umat manusia.

Terakhir, saya ingin mengingatkan pentingnya sebuah institusi negara dlm kehidupan keagamaan dan spritualitas umat, sebagaimana dibahas dalam konferensi internasional ulama thariqah sedunia bertemakan “Bela Negara: Konsep dan Urgensinya menurut Islam”, di Pekalongan 2016 yg lalu.

Hasilnya ada sembilan poin penting, yang empat di antaranya akan saya kutip sebagai penutup tulisan ini:

Pertama, negara adalah tempat tinggal di mana agama diimplementasikan dalam kehidupan.

Kedua, bernegara merupakan kebutuhan primer dan tanpanya kemaslahatan tidak terwujud.

Ketiga, bela negara adalah di mana setiap warga merasa memiliki dan cinta terhadap negara sehingga berusaha untuk mempertahankan dan memajukannya.

Keempat, bela negara merupakan suatu kewajiban seluruh elemen bangsa sebagaimana dijelaskan Al-Quran dan Hadis.

Demikian, semoga bermanfaat.

Blunyah Gede, Yogyakarta, 10 Mei 2018,
Ahmad Rahma Wardhana.

Meneguhkan Pancasila dan Jalan Pertengahan sebagai Solusi Kebangsaan

Disampaikan dalam Ceramah Bakda Tarawih Keluarga Mahasiswa NU UGM di Mushalla Fakultas Filsafat UGM, 1 Juni 2017

Teman-teman yang dirahmati Allaah SWT.

Umat Islam adalah umat pertengahan, sebagaimana firman Allaah dalam al-Baqarah 143,

Kata wasath pada mulanya berarti segala yang baik sesuai objeknya, sebagaimana ungkapan arab,

Maka, yang terbaik adalah di pertengahan, yakni berada di antara dua posisi ekstrem. Bahwa berani adalah pertengahan antara nekat dan takut. Sementara dermawan adalah pertengahan antara boros dan kikir.

Lebih jauh, jika ada dua pihak yang berseteru, maka akan ada penengah yang harus adil, yakni disebut wasit.

Sementara, kata syahiid dan syuhadaa` berasal dari kata yang sama yang membawa makna luas, yakni yang disaksikan atau yang menyaksikan. Maksudnya, umat Islam adalah umat pertengahan yang disaksikan oleh semua umat manusia, sementara umat Islam menyaksikan Rasuul SAW sebagai sumber sifat-sifat pertengahannya. Umat Islam adalah syuhadaa`, yakni yang disaksikan (oleh manusia), sekaligus yang menyaksikan Rasuul SAW, sang syahiid, yang disaksikan, sebagai sumber wasathiyah, sumber pertengahan.

Pengertian pertengahan ini luas, yang setidaknya mencakup beberapa hal berikut,

  1. Umat Islam menganut ajaran Islam, yakni ajaran yang tidak ekstrem mengandalkan akal/logika saja, tetapi tidak pula terjatuh dalam spiritualitas absolut. Tidak pula terlalu materialistis (kebendaan, jasmaniah ekstrem), tetapi tidak pula spiritualistis murni (ruhaniah ekstrem). Islam tidak pula mengingkari wujud Tuhan, tetapi juga tidak kemudian terjebak dalam politeisme (banyak sesembahan), karena bagi Islam sesembahan adalah satu, Tuhan Allaah SWT. Mustahil Penguasa Alam ini lebih dari satu, karena pasti satu dengan lainnya memeiliki kehendak yang berbeda.

Islam tidak pula mengekang kebutuhan fisik seseorang (makan, minum, seksual), tetapi juga tidak membebaskannya secara ekstrim dalam memuaskannya. Islam menghendaki pemenuhan kebutuhan fisik tersebut dikendalikan dan dibingkai secara spiritual. Jasmani dan ruhani, seimbang. Di Ramadlan, siangnya kita wajib berpuasa bagi yang mampu, yakni menunda makan, minum, seksual, dan hal lain yang membatalkannya. Di Ramadlan pula, malamnya, kita diperbolehkan makan, minum, dan bahkan berhubungan seksual. Hanya saja, yang hubungan seksual itu hanya boleh yang sah dalam ikatan pernikahan.

Islam tidak melarang kepemilikan dan keinginan duniawiyah, tapi tidak pula memusatkan tujuan kehidupan hanya pada kehidupan sesudah kematian. Dunia adalah bekal bagi kehidupan akhirat. Berusahalah mencapai kondisi baik pada urusan duniamu sekaligus akhiratmu. Seimbang.

  1. Posisi pertengahan, ummatan wasathan membawa makna bahwa seorang muslim berada di posisi tengah, posisi pusat, dan menjadi perhatian dari berbagai penjuru. Maka, seorang muslim harus menjadi teladan sekaligus harus mampu memahami peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekelilingnya. Memahami dalam arti mampu menarik hikmah dari segala hal yang terjadi dalam pandangannya.
  2. Tengah, wasathan, juga membawa makna menegakkan keadilan kapan pun, di mana pun. Allaah Ta’aala berfirman di surat an-Maa`idah ayat 8,

Hadirin rahimakumullaah.

Sikap pertengahan-lah yang menjadi salah satu sebab dipilihnya Pancasila sebagai dasar negara Republik Indonesia. Di tengah situasi genting pada tahun 1945, para tokoh bangsa berhasil mencari jalan tengah di antara ide-ide tentang bentuk negara Indonesia saat itu. Pancasila merupakan dasar negara yang unik, karena para pendiri bangsa berhasil bersikap di tengah-tengah, di antara bentuk negara agama atau sekuler (meninggalkan agama dalam kehidupan bernegara).

Indonesia kita dengan Pancasilanya, bukanlah negara berdasarkan satu agama tertentu dan bukan pula negara sekuler yang meninggalkan agama sama sekali. Indonesia menjadikan agama sebagai menjadi spirit di kepala masing-masing warga dan penduduknya. Agama menjadi tuntunan moral utama bagi seluruh bangsa untuk menggerakkan negeri ke arah yang lebih baik, mencapai kesejahteraan dan kemakmuran bangsa, karena seluruh agama memiliki tujuan serta kebenaran universal tentang moral, kemanusiaan, kebaikan, dan keadilan.

Agama adalah kebutuhan mendasar setiap orang, karena manusia difitrahkan untuk mencari panduan hidup. Dan semua agama, dengan bentuknya masing-masing, memiliki satu bahasan yang sama di antara satu dengan yang lainnya, yaitu konsep KETUHANAN, betapapun berbedanya antara satu agama dengan agama lainnya.

Maka, yang dipilih Indonesia bukanlah agama apa yang akan menjadi dasar negara, dan lebih lagi, demi menghargai kemajemukan, Islam yang mayoritas melalui tokoh-tokoh kebangsaan di era kemerdekaan pun berkenan menerima konsensus agung: Ketuhanan sebagai Dasar Negara. Konsep Ketuhanan tepat dipilih, karena ia jauh lebih tinggi daripada agama manapun, dan sesungguhnya, merupakan tujuan dari masing-masing ajaran agama, yakni meraih ridla dari Tuhan.

Sayangnya, karena kondisi politik dan keamanan pada masa sesudah Gerakan 30 September, Pancasila ini dimanfaatkan menjadi jargon politik belaka. Pancasila didetailkan menjadi butir-butir pengamalan yang dipaksakan menjadi teori-teori di kelas, tanpa pelaksanaan yang terukur. Apalagi di tingkat kebijakan umum nasional, Pancasila belum di-breakdown dengan baik terutama untuk bidang ekonomi dan bidang lainnya. Bahasa mudahnya: konsep baik, tapi implementasi masih kurang.

Hadirin rahimakumullaah.

Hubungan Pancasila dengan Islam diteguhkan kemudian oleh NU melalui Munas Alim Ulama NU tahun 1983 di Situbondo. Meskipun pada awalnya hanya karena didorong oleh pemerintah agar menerima Pancasila sebagai azas tunggal untuk semua organisasi, momen ini menjadi kesempatan bagi NU untuk menguatkan penjelasan Pancasila sebagai jalan tengah umat Islam demi bersatunya kebangsaan Indonesia. Keputusan Munas tersebut berbunyi,

MEMUTUSKAN

Menetapkan

DEKLARASI TENTANG HUBUNGAN PANCASILA DENGAN ISLAM

Bismillahirramanirrahim

  1. Pancasila sebagai dasar dan falsafah Negara Republik Indonesia bukanlah agama, tidak dapat rnenggantikan agama dan tidak dapat dipergunakan untuk menggantikan kedudukan agama.

  2. Sila Kehutanan Yang Maha Esa sebagai dasar Negara Republik Indonesia menurut pasal 29 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945, yang menjiwai sila-sila yang lain, mencerminkan tauhid menurut pengertian keimanan dalam Islam.

  3. Bagi Nahdlatul Ulama, Islam adalah aqidah dan syari’ah, meliputi aspek hubungan manusia dengan Allah dan hubungan antar manusia. Penerimaan dan pengamalan Pancasila merupakan perwujudan dari upaya ummat Islam Indonesia untuk menjalankan syari’at agamanya.

  4. Sebagai konsekwensi dari sikap di atas, Nahdlatul Ulama berkewajiban mengamankan pengertian yang benar tentang Pancasila dan pengamalannya yang murni dan konsekwen oleh semua fihak.

Seiring dengan berjalannya sejarah bangsa Indonesia sejak merdeka hingga saat ini, kita dengan Pancasilanya, berhasil menunjukkan performa yang sangat indah, terlepas dari berbagai kekurangan yang masih ada.

Secara geografis, kita memiliki bentuk negeri berupa kepulauan, terhubung dengan lautan, membentang panjang, dengan berbagai bentuk perbedaannya, baik suku, bahasa, agama, budaya, dan adat kebiasaan lain. Lebih dari itu, jarak geografis yang berjauhan dan kekeliruan model pembangunan, membuat pemerataan kesejahteraan belum berlangsung dengan baik.

Namun, deskripsi tersebut tadi, tidak pernah memecah belah bangsa Indonesia. Benar muncul gerakan separatis di beberapa tempat, namun mayoritas masyarakat masih mencintai Merah-Putih, mencintai Indonesia sebagai negara dan kebangsaannya. Tanyalah pada teman-teman kita yang KKN hingga ke ujung-ujung Nusantara, bagaimana mereka dan masyarakat yang tak pernah kedatangan pejabat, tetap bersemangat dalam setiap perayaan kemerdekaan 17 Agustus.

Fenomena inilah yang mendorong kekuatan luar Indonesia untuk konsisten memecah belah bangsa. Bagaimana mungkin, negeri yang lebih rumit daripada Amerika Serikat kemajemukannya, bisa tetap bersatu dan bertahan, bahkan dengan ketidak-adilan ekonomi yang masih terus diperjuangkan?

Fenomena ini pula, yang ditambah dengan fenomena agama Islam sebagai mayoritas, membuat banyak orang bertanya-tanya, kenapa bisa tetap bersatu tanpa menjadi negara Islam? Kenapa bisa tidak terpecah-belah seperti halnya negara-negara berpenduduk Islam lainnya? Kenapa radikalisme tidak muncul dengan massif, padahal mayoritas muslim?

Inilah berkah Pancasila, yakni berkah atas konsistensi kita untuk berada di jalan tengah.

Hadirin rahimakumullaah.

Di tengah pergolakan keterbukaan politik di negeri-negeri berpenduduk Muslim di Timur Tengah dan Afrika, pada 2016 kemarin diadakan di Pekalongan sebuah Konferensi Internasional Ulama Thariqah yang menghadirkan ulama kunci dan berpengaruh dari 40 negara. Uniknya, konferensi mengambil judul Bela Negara: Konsep dan Urgensinya Menurut Islam. Dan beberapa tahun sebelumnya, ulama-ulama kunci dari Afghanistan rawuh ke UGM untuk belajar Pancasila.

Anda bayangkan, di saat beberapa golongan tertentu memaksakan formalisasi Islam sebagai Dasar Negara, kita justru didatangi oleh ulama dari 40 negara lebih, karena melihat berhasilnya konsep kenegaraan Indonesia yang kita bangun, melalui Pancasila, melalui konsep pertengahan.

Apa hasil dari Konferensi Ulama Thariqah? Ada sembilan poin, yakni

Pertama, negara adalah tempat tinggal di mana agama diimplementasikan dalam kehidupan.

Kedua, bernegara merupakan kebutuhan primer dan tanpanya kemaslahatan tidak terwujud.

Ketiga, bela negara adalah di mana setiap warga merasa memiliki dan cinta terhadap negara sehingga berusaha untuk  mempertahankan dan memajukanya.

Keempat, bela negara merupakan suatu kewajiban seluruh elemen bangsa sebagaimana dijelaskan Al-Quran dan Hadis.

Kelima, bela negara dimulai dari membentuk kesadaran diri yang bersifat ruhani dengam bimbingan para ulama.

Keenam, bela negara tidak terbatas melindungi negara dari musuh atau sekedar tugas kemiliteran, melainkan usaha ketahanan dan kemajuan dalam semua aspek kehidupan seperti ekonomi, pendidikan, politik, pertanian, sosial budaya dan teknologi informasi.

Ketujuh, bela negara menolak adanya terorisme, radikalisme dan ekstremisme yang mengataasnamakan agama.

Kedelapan, untuk mewujudkan bela negara dibutuhkan empat pilar, yaitu ilmuwan, pemerintahan yang kuat, ekonomi dan media.

Kesembilan, menjadikan Indonesia sebagai inisiator bela negara yang merupakan perwujudan dari Islam rahmatan lil alamin.

Hadirin rahimakumullaah.

Sekali lagi, inilah penegasan bersama, pentingnya Pancasila dan jalan tengah, kemoderatan umat Islam dalam kehidupan berbangsa. Saat ini, bukan Pancasilanya yang dihapus, tetapi kita perbaiki implementasinya dalam kebijakan-kebijakan strategis pemerintahan.

Mari kita bersama-sama, berperan dalam pembangunan bangsa, sesuai dengan jangkauan ruang dan waktu yang kita miliki, sesuai dengan bidang yang kita kuasai masing-masing. Dengan tetap konsisten berjalan di ajaran Islam yang moderat, insya-Allaah, menjadi siapapun kita, ahli di bidang apapun kita, konsep tawasuth, konsep pertengahan adalah yang terbaik untuk menyelesaikan berbagai urusan, termasuk kemajuan bangsa Indonesia.

Tetaplah setia kepada Indonesia dan Pancasilanya, terus mengabdi melalui ajaran agama Islam ala ahl as-Sunnah wal-Jamaah ah-Nahdliyah, demi meraih ridla Allaah SWT.

Cinta kepada Sesama Manusia: Pokok Ajaran Islam

Tautan versi PDF, silakan untuk digunakan sebagai bahan ceramah: LINK.

Alhamdulillaah, segala puji hanya pantas disandang oleh Allaah Tabaraka wa Ta’aala yang masih berkenan memberikan kepada kita kenikmatan agung untuk bertemu kembali dengan Ramadlan. Shalawat serta salam semoga tetap dan terus tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat, serta, pengikut beliau.

Hadirin rahimakumullaah.

Nikmat pertemuan dengan Ramadlan harus benar kita syukuri, agar Allaah Ta’aala melipat-gandakan nikmat tersebut, yakni semoga memberikan kesempatan kepada kita untuk bertemu dengan Ramadlan-Ramadlan di tahun berikutnya. Sesuai dengan firman Allaah Ta’aala yang masyhur tentang bersyukur (QS Ibrahim ayat 7),

Sama halnya dengan dua nikmat lain, yang kita kebanyakan lupa dan terlena, karena kehadiran nikmat tersebut yang berlangsung hampir setiap saat. Kanjeng Nabi SAW bersabda (HR at-Thabrani dari Ibnu ‘Abbas),

Dalam berbagai kesempatan, di setiap Ramadlan, saya selalu mengingatkan betapa aman dan nyamannya kita beribadah sebagai umat Islam di Indonesia. Kadang nikmat ini, yakni termasuk nikmat keamanan sebagaimana Nabi SAW sampaikan, lupa untuk kita syukuri.

Munculnya peledakan di Kampung Melayu yang diklaim oleh ISIS sebagai dalangnya, sudah sepantasnya meningkatkan kewaspadaan kita terhadap nikmat keamanan, yang jangan-jangan kita lupa mensyukurinya. Mari kita bercermin pula pada munculnya ISIS di Filipina, negara yang sangat dekat dengan Indonesia. Pun dengan peledakan dua bom di Baghdad, negeri berpenduduk mayoritas Islam, dalam sehari terakhir.

ISIS adalah ancaman nyata bagi umat Islam, karena pada nyatanya korban terbesar kekejian mereka selama ini adalah umat Islam sendiri. Ketika mereka terdesak di Timur Tengah, ISIS mencari cara lain untuk menyebarkan ajaran sesatnya: melalui kelompok-kelompok radikal di luar Timur Tengah. Sayangnya, ada sebagian putra bangsa Indonesia yang justru menganggapnya ancaman nyata ini sebagai rekayasa semata.

Hadirin rahimakumullaah.

Boleh jadi ada di antara kita ada yang bertanya-tanya, di mana letak kesalahan ajaran ISIS? Bukankah ISIS membawa bendera bertuliskan kalimat tauhid (laa-ilaaha-illaa-Llaah)? Jelas nyata, salah satu kesalahan yang paling nampak adalah kekejian ISIS kepada sesama manusia. Padahal Nabi SAW bersabda (HR Bukhari),

Jika Nabi SAW memerintahkan demikian, apakah mungkin muncul kekejian kepada sesama manusia? Tentu tidak.

Inilah kepedulian yang seharusnya muncul dari pemeluk Islam. Cinta, yang tidak hanya kepada sesama muslim atau sesama mukmin, tapi kepada sesama manusia. Atau dapat pula dikatakan, cinta kepada sesama manusia saja diperintahkan oleh Nabi SAW, apalagi kepada sesama muslim atau mukmin.

Dalam sabdanya yang lain Nabi SAW bersabda (HR ath-Thabrani dari Abu Umamah),

Sabda Nabi SAW menggambarkan bahwa ibadah vertikal dan personal kita kepada Allaah Tabaraka wa Ta’aala harus membekas di dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Bukankah memalukan jika shalat kita khusyu’ dan rajin namun tak tercermin di dalam cara kita berkomunikasi dengan tetangga atau orang lain siapapun itu? Bukankah seharusnya diri kita sendirilah yang mewujudkan firman Allaah (QS al-‘Ankabut ayat 45),

Ini karena kita bukan sekedar makhluk individu, tetapi juga makhluk sosial. Karena Allaah gambarkan pula penciptaan kita melalui makna surat al-‘Alaq, sesuatu yang menggantung di dinding rahim yang dimaknai kebutuhan manusia terhadap manusia lainnya. Wajarlah kemudian Islam juga mengajarkan fungsi sosial harta, melalui zakat, shadaqah, hibah, wakaf, hadiah, dan bahkan melarang beredarnya harta di antara sedikit orang, sebagaimana Allaah Ta’aala sampaikan dalam firman-Nya (QS al-Hasyr ayat 7),

Lebih dari itu, Nabi SAW menekankan pentingnya misi kemanusiaan dalam Islam, melalui sabda beliau (HR ath-Thabrani),

Sesudah iman kepada Allaah, maka wujud nyata keimanan harus ditujukan kepada sesama makhluk, terutama manusia. Dorongan ini selaras dengan fungsi kita sebagai khalifatullaah fil-ardl, wakilnya Gusti Allaah SWT di muka bumi, untuk memakmurkan bumi dan seisinya, menciptakan bayang surga di muka bumi.

Di sabda Nabi SAW yang lain, yang mirip maknanya dengan amalan utama sesudah iman agar mencintai sesama manusia, bahkan ditambah dengan perintah lain yang lebih indah. Beliau SAW bersabda (HR Baihaqi),

Inilah indahnya Islam yang sesungguhnya. Bahkan kepada mereka yang durjana pun, kita diperintahkan untuk berbuat baik. Membenci dan memberikan hukuman atas perbuatan seseorang yang melanggar dengan hukum positif itu harus, tapi tidak boleh kemudian memperburuk keadaan dengan berbuat buruk kepadanya. Justru sebaliknya: berbuat baiklah, sekalipun kepada seorang yang durjana!

Hadirin rahimakumullaah.

Mengapa berbuat buruk kepada pendosa dilarang? Mengapa mencaci seseorang yang berbuat dosa dilarang? Sebagaimana dikisahkan sebuah hadis (HR al-Bukhari dari Abu Hurairah RA), bahwa seorang laki-laki yang menenggak minuman keras dihadapkan kepada Nabi Muhammad SAW, Abu Hurairah berkata,

Menghukum seseorang sesuai dengan norma yang berlaku itu harus. Tetapi mencaci-maki sang pelanggar atau mengutuk hingga melaknatnya, sungguh dilarang oleh Nabi Muhammad SAW. Bahkan oleh Nabi SAW disamakan dengan memberikan pertolongan kepada setan!

Mengapa demikian? Karena tujuan syaithan menggoda manusia adalah untuk menjerumuskan kita kepada neraka, sehingga ketika kita sebagai manusia melakukan laknat kepada sesama manusia, mengutuk sesama manusia agar Allaah membenci, bahkan berharap para pendosa masuk ke neraka, apa bedanya kita dengan syaithan? Inilah maksud Nabi Muhammad SAW dengan memberikan pertolongan kepada syaithan.

Hadirin rahimakumullaah.

Saya berada di atas mimbar ini utamanya adalah untuk mengingatkan diri saya sendiri, baru kemudian mengajak bersama-sama kepada seluruh hadirin, untuk mengubah cara kita memandang kepada saudara-saudara kita yang masih bergelimang dosa. Tidak lagi dengan jijik dan kutukan, tapi dengan rasa kasihan dan dakwah serta doa.

Melihat para pemuda yang terjerumus ke premanisme dan bertindak kekerasan, tidak lagi dengan laknat tapi dengan rasa kasihan, kemudian memberikan nasihat jika kenal serta mendoakan semampunya. Melihat seorang yang sudah berusia dewasa namun masih menenggak minuman keras tidak lagi dengan sekedar kutukan dan doa keburukan, tapi dengan rasa kasih tentang kesehatan organ dalamnya, seraya memberikan nasihat dan mendoakan semampunya.

Secara praktek, ini sangat sulit. Bahkan saya sendiri pun belum tentu bisa melakukannya. Berdoa untuk yang kita kenal saja kadang kita lupa, bagaimana mungkin mendoakan orang yang buruk perangainya agar bisa berubah ke arah yang lebih baik? Maukah kita menyempatkan diri untuk memberi rasa kasih kepada saudara-saudara kita yang demikian, melalui dakwah, kata-kata, kelembutan, teladan, dan doa, agar kembali ke jalan yang benar?

Hadirin rahimakumullaah.

Nabi Muhammad SAW bersabda (HR ad-Dailami dari ‘Aisyah),

Inilah tugas kita dalam ikhtiar bersama menjadi wakil Allaah Tabaraka wa Ta’aala di muka bumi: mengajak manusia ke arah yang lebih baik dengan kata-kata, teladan, dan doa, dengan penuh kelembutan sebagai bentuk implementasi rasa cinta kepada sesama manusia. Bahkan kelembutan pada manusia sama fardlunya dengan kewajiban-kewajiban lain di dalam agama.

Tentu saja, tidak ada paksaan dari kita, apakah yang kita ajak mau ikut atau tidak. Bagaimanapun juga, datangnya hidayah, hadirnya petunjuk ke dalam hati seorang manusia bukan di tangan kita, tapi sepenuhnya merupakan kuasa Allaah SWT. Bahkan Nabi Muhammad SAW-pun tidak berhasil membuat pamannya Abu Thalib mengucapkan dua kalimat persaksian hingga akhir hayatnya.

Dengan demikian, bertemunya rasa cinta kepada sesama manusia dan kelembutan dakwah di dalam Islam, hendaknya akan menghindarkan kita dari siksa Allaah Ta’aala di dunia maupun akhirat, sebagaimana Allaah ingatkan (QS an-Nuur ayat 19),

Dan tentu saja, rasa cinta pada sesama manusia dan kelembutan dakwah, juga akan mencegah dari munculnya kerugian dan kekecewaan kita sebagai hamba Allaah, sebagaimana Nabi SAW sabdakan (HR Abu Nu’a-im al-Ashbahani),

Demikianlah penyampaian dari saya. Jika ada lebihnya itu hadir karena rahmat Allaah SWT, jika banyak kekurangan, sungguh semata-mata karena masih lemahnya ilmu yang saya miliki. Semoga Allaah memberikan kekuatan kepada kita untuk istiqamah berada di jalan cinta dan kelembutan dalam menjalankan Islam, Islam yang rahmatan lil-‘aalamiin. Aamiin.