Teladan Nabi Ibrahim ‘AS bagi Perdamaian Negeri

Nabi Ibrahim ‘AS merupakan sosok mulia yang dihormati oleh tiga agama besar dunia saat ini, yakni Nasrani (Kristen dan Katolik), Islam, dan Yahudi. Ketiga agama tersebut, menurut data tahun 2015, dipeluk oleh sekitar 4,1 miliar orang atau kurang lebih 55,5% penduduk dunia. Penganut Nasrani dunia saat ini mencapai hampir sepertiga penduduk dunia (31,2%), sedangkan pemeluk Islam jumlahnya hampir seperempat penduduk dunia (24,1%). Ketiga agama tersebut mengakui, menghormati, dan memuliakan sosok Nabi Ibrahim ‘AS.

Al-Qur`an mensifati Nabi Ibrahim ‘AS dengan umat, sebagaimana Allaah SWT firmankan,

Umat yang dimaknai sebagai sekumpulan manusia merupakan isyarat agung bahwa betapa banyaknya sifat terpuji yang berada dalam diri Nabi Ibrahim ‘AS, sehingga hanya dapat diimbangi oleh sifat yang dimiliki oleh banyak orang. Dijelaskan pula dalam QS ash-Shaaffaat ayat 84 dan QS Huud ayat 75 tentang sosok Nabi Ibrahim ‘AS,

Nabi Ibrahim ‘AS diperkirakan lahir pada abad 18 SM (1.800 tahun sebelum masa kelahiran Nabi ‘Isa ‘AS, atau sekitar 3.800-an tahun yang lalu) di daerah bernama Babel atau Ahwaz (sekarang di kawasan negara Irak). Menurut al-Qur`an, Beliau ‘AS telah memiliki  keyakinan kuat tentang Tuhan Yang Maha Tunggal sejak muda dan membenci pemujaan pada patung-patung. Pada usia yang relatif muda tersebut Beliau ‘AS mengambil kapak dan menghancurkan berhala-berhala sesembahan kaumnya, dengan menyisakan satu berhala terbesar serta meletakkan kapak tersebut di dekat berhala besar. Ketika ditanya siapa yang menghancurkan berhala-berhala tersebut, sembari menunjuk kepada satu berhala besar, Beliau ‘AS menjawab, “Bertanyalah kepadanya!”

Hikmah dari kisah ini tidak boleh dimaknai dengan meniru perbuatan beliau untuk merusak sesembahan umat beragama lain, tetapi dengan pemaknaan yang mendalam dan mengena di dalam hati: patung adalah benda mati yang tak bisa menjawab pertanyaan dan tidak pula mampu mendatangkan manfaat atau menolak mudlarat kepada sesama patung, apalagi kepada manusia yang menyembahnya. Selain peristiwa ini, terjadi pula kisah api yang tak mampu membakar Beliau ‘AS dalam upaya melawan kezhaliman penguasa zaman tersebut, yakni Namrudz.

Sesudahnya, Beliau ‘AS kemudian berhijrah ke satu kota di pantai barat sungai Eufrat (masih di kawasan Irak di zaman modern) bernama Ur, yang ketika itu berada di bawah kekuasaan orang-orang Kaldan. Sekian lama di sana; Beliau ‘AS kemudian hijrah ke wilayah kaum Kana’an yang kini bernama Naples; kemudian ke Mesir yang saat itu di bawah penguasa bernama Heksos; kemudian ke Palestina; dan terakhir adalah menuju jazirah Arab, yang sekarang bernama Mekkah.

Allaah SWT mengabadikan peristiwa Nabi Ibrahim ‘AS di Mekkah melalui QS Ibrahim ayat 35 dan 36,

Doa Nabi Ibrahim ‘AS tersebut diucapkan ketika beliau diperintahkan untuk meninggalkan istri dan anaknya, yakni Haajar dan Isma’il, di Mekkah, setelah beberapa lama berada di Mekkah. Doa serupa dengan doa yang disampaikan kepada Allaah SWT oleh Nabi Ibrahim ‘AS, sebagaimana diabadikan dalam QS al-Baqarah (2) ayat 126,

Perbedaannya, doa di QS Ibrahim ayat 35-36 adalah doa saat Nabi Ibrahim ‘AS diperintahkan oleh Allaah SWT untuk meninggalkan istri dan anaknya di Mekkah, sementara doa di QS al-Baqarah adalah doa ketika Nabi Ibrahim ‘AS kembali ke Mekkah beberapa waktu sesudahnya.

Doa yang diabadikan di dalam QS Ibrahim ayat 35-36 merupakan cermin keprihatinan karena menyaksikan berbagai kota yang menyembah berhala di sepanjang perjalanan hijrah beliau: Ur, Naples, Mesir, maupun Palestina. Di Mekkah, beliau menemukan orang-orang yang masih hidup dengan sangat bersahaja dan nomaden (berpindah-pindah, tidak menetap), tempat di mana Beliau ‘AS menempatkan istri dan anaknya. Kisah-kisah selanjutnya, tentu saja sudah sering kita dengarkan, seperti tentang bagaimana Haajar sembari menggendong Ismail kecil berlari-lari mencari air dari bukit Shafa dan Marwah; munculnya sumur zam-zam; menegakkan Ka’bah; hingga perintah penyembelihan Isma’il.

Kisah ketaatan mutlak Nabi Ibrahim ‘AS kepada Allaah SWT merupakan sesuatu yang harus diteladani. Kita tidak boleh memaknainya dengan negatif, yakni bahwa Nabi Ibrahim ‘AS menelantarkan anak dan istri di wilayah yang gersang dan tak berpenduduk, tetapi sebaliknya, memaknainya dengan positif: betapa luar biasanya ketaatan Nabi Ibrahim ‘AS atas perintah Allaah SWT. Belakangan, Mekkah menjadi kota yang makmur meskipun gersang, sementara Beliau ‘AS menjadi penghulu para Nabi: putranya Ismail menjadi Nabi sekaligus leluhur Nabi Muhammad SAW, sementara putranya Ishak juga menjadi Nabi sekaligus leluhur para Nabi di tanah Palestina (Yakub, Daud, Sulaiman, Ilyas, Ilyasa, Musa, Zakariya, Isa, dll).

Selain itu, QS Ibrahim ayat 35 juga mengandung makna tentang perlunya kita berdoa sekaligus berikhtiar untuk meraih keamanan dan keselamatan sebuah wilayah tempat tinggal, agar masyarakatnya hidup dengan limpahan rezeki dari Allaah SWT.

Doa permohonan keamanan wilayah yang diucapkan Nabi Ibrahim ‘AS oleh para ulama tidak dimaknai sebagai permohonan keamanan yang terus menerus tanpa peranan manusia (amn takwiiniy), tetapi sebagai permohonan keamanan yang disebabkan karena adanya hukum keagamaan, sehingga mewajibkan manusia untuk mewujudkan, memelihara, dan menjaga keamanannya (amn tasyrii-‘iy).

Alangkah indahnya, jika masyarakat Islam di berbagai kawasan saat ini juga memaknai ayat ini lebih luas: bahwa mewujudkan keamanan dan perdamaian tempat tinggal adalah kewajiban manusia yang berada di wilayah tersebut, sehingga keamanan bukan hanya disepakati di Mekkah dan Madinah saja, tetapi juga seluruh wilayah dengan mayoritas muslim.

Beberapa data yang sahih menunjukkan bahwa tidak kurang 559 juta muslim (atau setara dengan 30,10% muslim global) berada di 10 negara mayoritas muslim dengan tingkat perdamaian yang sangat rendah, seperti Suriah (peringkat 163 dari 163 negara), Afghanistan (162), Irak (160), Somalia (159), Yaman (158), Libya (157), Sudan (153), Pakistan (151), Turki (149), dan Nigeria (148). Sementara itu 14,10% muslim lainnya (setara dengan sekitar 268 juta jiwa), tinggal di 9 negara mayoritas muslim yang tergolong memiliki tingkat perdamaian rendah, seperti Libanon (147), Mesir (142), Palestina (141), Iran (131), Arab Saudi (129), dan Niger (128).

Terdapat pula 11 negara mayoritas muslim yang termasuk mempunyai tingkat perdamaian medium (264 juta muslim atau 25,70% muslim global), seperti Algeria (109), Uzbekistan (104), Yordania (98), dan Bangladesh (93); serta 13 negara mayoritas muslim dengan tingkat perdamaian tinggi (339 juta muslim atau 18,9 muslim dunia), di mana Maroko (71), Indonesia (55), Senegal (52), dan Malaysia (25) termasuk di dalamnya.

Apakah pantas, jika al-Qur`an mengisyaratkan dorongan bagi muslim untuk mewujudkan perdamaian bagi negeri tempat tinggalnya dengan doa dan ikhtiar, namun 559 juta atau 30 persen muslim saat ini tinggal di kawasan dengan kedamaian sangat rendah, padahal kawasan tersebut adalah sumber kejayaan Islam di masa lalu, seperti Suriah, Irak, dan Turki?

Sementara itu, doa Nabi Ibrahim ‘AS di dalam QS Ibrahim ayat 36 tentang perlindungan bagi Beliau ‘AS beserta keturunannya dari menyembah berhala, bukan dalam arti memaksa mereka mengakui keesaan Allaah SWT, tetapi memohon kiranya fitrah kesucian yang menjadi pendorong munculnya iman pada Allaah SWT Yang Maha Tunggal atau ketauhidan agar senantiasa berada di hati keturunan Beliau ‘AS.

Fitrah ketauhidan di dalam Islam merupakan pondasi utama dalam keimanan. Ketika kita menyaksikan keagungan alam semesta, di mana bumi, bulan, matahari, bintang-gemintang, dan planet-planet terus-menerus berjalan sesuai dengan garis edarnya tanpa terjadi tubrukan satu sama lain; sementara manusia, tumbuhan, dan hewan masing-masing memiliki sistem tubuh yang sangat mendetail dari tingkat sel, jaringan, hingga organ tubuh, yang berfungsi satu sama lain membentuk kehidupan; maka mau tidak mau kita harus meyakini adanya Allaah SWT, Tuhan yang menciptakan dan mengatur seluruh keagungan tersebut.

Kisah Nabi Ibrahim ‘AS tentang penghancuran patung menggambarkan bahwa menyembah ciptaan manusia tak mungkin memenuhi hati dan akal. Sementara memiliki sesembahan lebih dari satu juga tak mampu dicerna akal, karena jika pengatur semesta jumlahnya lebih dari satu, pasti akan terjadi benturan kepentingan antara satu sesembahan dengan sesembahan yang lain. Menyembah kepada Tuhan Yang Maha Tunggal adalah yang paling tepat, meskipun akal belum mampu menjangkau-Nya karena terbatasnya akal kita untuk mencapai keagungan-Nya.

Kemudian, penutup doa Nabi Ibrahim ‘AS di ayat 36 berbunyi, Engkau Maha-pengampun lagi Maha-penyayang, tidak dapat dimaknai bahwa Beliau ‘AS memohon ampun bagi para penyembah berhala, tetapi menyerahkan kepada Allaah SWT putusan akhirnya terhadap perbuatan yang menyalahi fitrah tersebut. Hal ini selaras dengan banyak penjelasan al-Qur`an tentang batasan kita sebagai manusia yang hanya memberikan penjelasan dan teladan, tetapi hadirnya petunjuk adalah mutlak berada di dalam cakupan kuasa Allaah SWT.

Lebih dari itu, iman yang mencakup perbuatan hati, lisan, dan aktivitas, sesungguhnya didasari dengan perbuatan hati, suatu hal yang tak mampu kita jangkau oleh panca indera kita. Realitas ini dihadapkan pada kehidupan sehari-hari kita yang hanya mampu menilai dari panca indera saja. Doa Nabi Ibrahim ‘AS tersebut menunjukkan betapa halus budi pekerti beliau dan betapa besar rasa kasihnya terhadap umat manusia: tidak menghakimi perbuatan yang nampak buruk lahiriahnya, namun menyerahkannya kepada penghakiman Allaah SWT dengan menyebut sifat pengampunan-Nya.

Semoga Allaah SWT berkenan terus menerus memberikan petunjuk-Nya kepada hati kita, agar selalu berjalan di dalam jalan yang lurus: iman kepada Allaah SWT Yang Maha Tunggal, sembari bersungguh-sungguh mewujudkan perdamaian dan menebar kasih sayang kepada sesama umat manusia. Aamiin.

Dua Ayat tentang Kemustahilan

Di antara hakikat dari sebuah rasa syukur kepada Allaah SWT adalah meyakini sepenuh jiwa dan raga tentang betapa besarnya nikmat yang Allaah Ta’aala berikan kepada kita semua. Rahmat Allaah SWT tersebut, karena luas jangkauannya, menyeluruh cakupannya, mendetail di rincian-rinciannya, berlangsung sepanjang waktu, dan menyentuh setiap ciptaan-Nya tanpa kecuali, membuat kita tak akan pernah bisa menghitung anugerah tersebut.

Terdapat dua ayat di dalam al-Qur`an yang menegaskan mustahilnya upaya menghitung nikmat Allaah SWT tersebut. Kedua ayat ini memiliki kalimat yang serupa sekaligus berbeda, yakni di QS Ibrahim (14) ayat 34 dan QS an-Nahl (16) ayat 18. Firman Allaah SWT dalam QS Ibrahim (14) ayat 34 berbunyi,

Sedangkan QS an-Nahl (16) ayat 18 berbunyi,

Kesamaan keduanya berada di kalimat tentang mustahilnya menghitung nikmat Allaah SWT, sedangkan perbedaannya berada di bagian penutup, di mana penutup QS Ibrahim (14) ayat 34 mengingatkan tentang potensi manusia yang dapat berbuat zhalim dan kufur (innal-insaana lazhaluumun-kaffaar), sementara penutup QS an-Nahl (16) ayat 18 meneguhkan betapa besarnya rahmat Allaah SWT dalam menghadapi hamba-Nya yang zhalim dan kufur (innallaaha laghafuurur-rahiim). Dan lebih dari itu, penafsiran atas kedua ayat ini mengandung hikmah yang besar bagi kehidupan umat manusia. Mari kita bahas secara berurutan.

QS Ibrahim (14) ayat 34 dibuka dengan kalimat yang meneguhkan anugerah Allaah SWT, wa aataa-kum min kulli maa sa-altumuuhu, yang artinya adalah dan Dia (Allaah) telah menganugerahkan kepada kami dari segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Terdapat dua pemaknaan terhadap kalimat ini.

Pertama, Bahwa segala kebutuhan manusia telah disiapkan oleh Allaah Ta’aala pemenuhannya, walaupun boleh jadi secara individu ada yang tidak dipenuhi permintaanya.

Perlu diingat kembali tentang mengapa tidak terpenuhinya sebuah permintaan, yakni, (1) yang bersangkutan belum siap hatinya untuk menerima anugerah, seperti misalnya terdapat potensi munculnya kesombongan atas ikhtiarnya sehingga lupa bersyukur kepada Allaah SWT; (2) diganti oleh Allaah Ta’aala dengan terhindarnya yang bersangkutan dari bencana; atau (3) ditunda pemenuhannya oleh Allaah SWT menjadi nikmat yang lebih besar di kesempatan lain atau bahkan ditunda hingga menjadi penebus dosa di akhirat kelak.

Ketiga sebab tersebut mengandung keseragaman berupa unsur-unsur keimanan: bersyukur dan berprasangka kepada Allaah SWT serta meyakini hadirnya serangkaian peristiwa Hari Akhir.

Ilustrasi paling mudah bagaimana memahami tidak terpenuhinya sebuah permintaan dapat digambarkan melalui kisah-kisah di seputar tragedi kecelakaan transportasi. Ketika Lion Air JT610 jatuh di Laut Jawa Oktober 2018 yang lalu, muncul cerita tentang seseorang yang terlambat karena kemacetan, sehingga batalmenjadi penumpang Lion Air JT610. Orang tersebut di sepanjang perjalanan menuju bandara pasti berdoa agar tak terlambat, namun Allaah SWT putuskan sebaliknya: terlambat dan justru selamat dari kecelakaan.

Tentu kita sudah sering mendengar kisah serupa yang tidak melulu soal kecelakaan tetapi juga tentang bagaimana berbagai hikmah dapat dipahami jauh setelah peristiwa yang kesan awalnya nampak tidak menyenangkan karena permintaan yang tidak terkabul, namun pada akhirnya berujung pada kebaikan dari Allaah Ta’aala.

Pemaknaan kedua kalimat wa aataa-kum min kulli maa sa-altumuuhu atau dan Dia (Allaah) telah menganugerahkan kepada kami dari segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya, adalah bahwa Allaah SWT telah menyiapkan dan memberikan kepada setiap orang apa yang dimintanya. Kondisi ini terjadi melalui dua mekanisme, yakni yang pertama adalah ikhtiar atau usaha seseorang yang ditakdirkan oleh Allaah SWT berhasil, dan kedua, dari satu manusia ke manusia lain melaluimekanisme ibadah sosial yang Allaah SWT perintahkan kepada umat manusia, baik yang sifatnya wajib (zakat maal dan zakat fitrah) maupun yang sifatnya sunnah (infak, sedekah, hadiah).

Boleh jadi muncul pertanyaan besar, apabila Allaah SWT telah menyiapkan dan memberikan kepada setiap orang apa yang dimintanya, mengapa ketidakadilan, kemiskinan, peperangan, kelaparan, dan kekurangan lain masih berlangsung? Penyebabnya dijawab oleh Allaah SWT dalam ayat yang sama di bagian penutup: innal-insaana lazhaluumun kaffar, potensi kezhaliman dan kekufuran yang dimiliki manusia, sayangnya justru berlangsung dan dikembangkan, secara sadar maupun tidak.

Kata lazhaluumun sendiri artinya sangat berbuat zhalim, yang memiliki beberapa makna buruk, seperti menzalimi dan menghalangi orang lain memperoleh haknya atau mengambil melebihi dari yang seharusnya dia ambil atau bersifat mubazir, yakni menyia-nyiakan sesuatu dan tidak menggunakannya pada tempat yang semestinya.

Kezhaliman yang kadang tidak kita sadari adalah soal sisa makanan. Sebuah riset yang dirilis pada tahun 2017 mengutip dua data yang menyakitkan, cermin kezhaliman kita sebagai umat manusia: ketika sepertiga makanan secara global terbuang menjadi sampah, masih terdapat 805 juta jiwa manusia yang mengalami kelaparan. Angka 805 juta jiwa sendiri setara dengan 11% penduduk dunia atau lebih dari tiga kali penduduk Indonesia.

Sementara itu, kezhaliman yang lebih sistemik, misalnya dapat diamati dari perdagangan senjata internasional. Pada tahun 2017, penjualan  senjata oleh 100 perusahaan terbesar di lebih dari 20 negara (Amerika Serikat, Rusia, Inggris, Perancis, Jerman, India, Israel, Jepang, Korea Selatan, dll) nilainya mencapai USD 412,47 miliar. Nilai ini hampir menyamai Produk Domestik Bruto (nilai seluruh aktivitas perekonomian sebuah negara) Iran (USD 439,51 miliar) atau Thailand (USD 455,22 miliar) dan nyaris setara dengan separuh PDB Belanda (USD 826,20 miliar) atau Turki (USD 851,10 miliar).

Di mana letak kezhalimannya? Jika komunitas global berkomitmen membentuk perdamaian dunia melalui banyak aktivitas bersama di berbagai kerja sama internasional, apakah nilai perlu untuk terus mengembangkan penjualan persenjataan? Bukan berarti harus membunuh inovasi persenjataan sebagai upaya negara membela kedaulatannya atau menutup industri dengan jutaan karyawan, tetapi lebih kepada nilainya yang terlampau besar, sementara kemiskinan, kelaparan, akses energi dan kesehatan, serta kebutuhan air bersih masih belum merata di semua negara. Alangkah indahnya jika perdamaian adalah kesungguhan bagi setiap negara dan masyarakatnya, sehingga investasi dan modal untuk mengembangkan persenjataan dapat dialihkan untuk memenuhi kebutuhan pokok masyarakat global.

Inilah kezhaliman yang dimaksud oleh Allaah SWT, salah satu faktor yang menjadi sebab mengapa rahmat yang telah disiapkan untuk setiap orang belum dapat diberikan kepada setiap orang apa yang memintanya.

Sementara itu, kemustahilan untuk menghitung nikmat Allaah Ta’aala dinyatakan dengan kata laa-tuh-shuuhaa atau tidaklah dapat menghinggakannya. Kata tuh-shuu-haa berasal dari akar kata yang terdiri atas huruf haa’, shaad, dan yaa’, serta mengandung tiga makna asal, yaitu: 1) menghalangi atau melarang; 2) menghitung dengan teliti dan mampu, sehingga lahir makna mengetahui, mencatat, atau memelihara; kemudian makna 3) sesuatu yang merupakan abgian dari tanah, sehingga lahir kata hashaa yang artinya batu.

Pada masa lampau, manusia menggunakan batu untuk menghitung. Atau apabila telah mencapai pada hitungan sepuluh, digunakanlah sebuah batu untuk menandai setiap sepuluh hitungan. Dari sinilah kata tersebut dimaknai sebagai menghitung. Pemilihan kata ini juga menimbulkan kesan, bahwa jumlah nikmat Allaah SWT sangatlah banyak, ibarat sejumlah batu-batu yang merupakan bagian dari tanah. Seseorang baru akan mampu menghitungnya jika ia telah mampu menghitung batu-batu di muka bumi. Tentu saja ini adalah kemustahilan.

Kemustahilan tersebut juga dapat dipahami, sebagaimana telah disampaikan pada bagian awal, bahwa nikmat Allaah SWT yang betapa luas jangkauannya, yang menyeluruh cakupannya, yang mendetail di rincian-rinciannya, yang berlangsung sepanjang waktu, dan yang menyentuh setiap ciptaan-Nya tanpa kecuali, membuat kita tak akan pernah bisa menghitung anugerah tersebut.

Nah, kalimat penutup innal-insaana lazhaluumun kaffar telah dijelaskan sebelumnya, sehingga kali ini akan dijelaskan penutup di QS an-Nahl (16) ayat 18, innallaaha laghafuurur-rahiim.

Kalimat innallaaha laghafuurur-rahiim, merupakan bagian dari tiada terhingganya nikmat Allaah SWT. Maksudnya, sekalipun kita sebagai umat manusia kolektif kadang bahkan sering melakukan kezhaliman dan tidak mensyukuri nikmat (kufur nikmat), Allaah Ta’aala tetap saja membuka pintu ampunan dan tetap pula mencurahkan rahmah-Nya, kasih sayang-Nya. Hal ini muncul pula dalam sebuah hadits dari Sayyidinaa Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim Radliyallaahu’anhum, Nabi Muhammad SAW bersabda, tatkala Allaah menciptakan makhluk-Nya, Dia menulis dalam kitab-Nya, yang kitab itu terletak di sisi-Nya di atas ‘Arsy,

Maghfirah atau ampunan Allaah SWT dalam penutup ayat 18 QS an-Nahl tersebut terbentuk dari kata ghafara yang maknanya menutup. Terdapat pula pendapat bahwa terambil dari kata al-ghafar, yaitu sejenis tumbuhan yang digunakan untuk mengobati luka. Jika makna menutup yang digunakan, maka di antara ampunan Allaah Ta’aala adalah Dia menutup dosa hamba-hamba-Nya sebagai bentuk kemurahan dan anugerah-Nya. Dan apabila makna jenis tumbuhan untuk mengobati luka yang dipakai, maka ampunan Allaah SWT sebenaranya merupakan anugerah kesadaran dan penyesalan atas dosa-dosa, yang berakibat pada kesembuhan, yakni terhapusnya dosa-dosa.

Pemaknaan Maha-pengampun ini dipaparkan pula oleh Imam Ghazali RA, tulis beliau,

Dia yang menampakkan keindahan dan menutupi keburukan. Dosa-dosa adalah bagian dari sejumlah keburukan dan yang ditutupi-Nya dengan jalan tidak menampakkannya di dunia serta mengesampingkannya di akhirat.

Lebih jauh, Imam Ghazali menjelaskan, sedikitnya ada tiga ketertutupan yang dianugerahkan oleh Allaah SWT kepada manusia. Pertama, yang ditutupi adalah sisi dalam jasmani manusia yang tak sedap dipandang mata. Betapa luar biasanya fungsi organ tubuh kita di balik kulit dan tulang belulang, dari ujung kepala sampai ujung kaki, namun keterbukaannya akan mencengangkan pandangan, bahkan cenderung menjijikkan bagi sebagian besar orang, terkecuali para dokter yang memiliki tugas mulia untuk mengobati manusia. Ketertutupan organ tubuh dengan kulit dan tulang bahkan bukan hanya untuk menutupi keburukan lahiriah, tetapi juga berfungsi untuk melindunginya dari benturan dan infeksi, serta memperindah wajah dan rupa kita sebagai manusia.

Kedua, Allaah SWT menutupi bisikan dan hati serta kehendak manusia. Tak seorang pun mengetahui isi hati dan pikiran orang lain, kecuali dirinya sendiri dan Allaah SWT. Betapa kacaunya kehidupan sosial dan pribadi kita, apabila antara satu manusia dengan manusia lainnya dapat saling melihat isi hati dan pikiran, lebih-lebih jika sebuah keburukan: dengki, iri, marah, prasangka buruk, niat jahat, dan lain sebagainya. Sedangkan yang ketiga, anugerah ketertutupan Allaah SWT adalah kehendak-Nya untuk menutupi dosa dan pelanggaran manusia satu sama lain, sehingga tidak dapat diketahui oleh umum.

Hadirin yang dirahmati Allaah SWT, dua ayat di QS Ibrahim dan QS an-Nahl tersebut mendorong kita untuk terus berusaha mensyukuri nikmat Allaah SWT sekaligus berupaya mengurangi kezhaliman, agar keadilan sosial dapat dicapai. Ada banyak hal yang bisa dilakukan di tingkat individu, yang dalam hal ini, penulis mencontohkan melalui makanan: mengurangi sampah makanan dengan mengambil secukupnya dan menghabiskan makanan yang telah diambil. Inilah sekecil-kecilnya upaya kita untuk mengurangi kezhaliman berupa menyia-nyiakan makanan.

Lebih dari itu, kedua ayat ini, terutama di QS an-Nahl, hendaknya menyadarkan kita tentang luasnya rahmat dan ampunan Allaah SWT. Tentu saja pemahaman atas ayat ini tidak berarti kita kemudian melakukan dosa dengan bebas karena adanya ampunan Allaah SWT, tetapi dengan menghindarkan diri sebaik-baiknya dari perbuatan yang tercela sekecil apapun.

Semoga Allaah SWT berkenan meneguhkan hati kita untuk terus berada di dalam jalan yang lurus dan benar: mensyukuri pemberian-Nya, mengurangi kezhaliman, dan memohon ampunan-Nya. Aamiin.

Mengapa Islam Meneguhkan Kemuliaan Akhlak

Hadirin rahimakumullaah, salah satu ajaran dasar dalam agama Islam adalah mengenai akhlak. Nabi Muhammad SAW misalnya, dipuji oleh Allaah SWT karena kemuliaan akhlaknya. Di dalam surah al-Qalam ayat keempat Allaah SWT berfirman,

Begitu pula dengan penegasan Nabi Muhammad SAW sendiri ketika menjelaskan tugas beliau kepada umat manusia, Beliau SAW bersabda,

Bahkan, akhlak mulia merupakan salah satu modal sosial yang dimiliki Nabi Muhammad SAW. Tugas beliau sebagai utusan Allaah SWT adalah menyampaikan kebenaran kepada manusia dan berinteraksi dengan masyarakat, sehingga, jauh sebelum seorang Muhammad bin Abdullaah menerima mandat menjadi nabi dan rasul, Beliau SAW ditakdirkan sebagai pribadi yang berakhlak sangat mulia.

Imam Bukhari meriwayatkan sebuah hadits yang mengisahkan bagaimana istri Beliau SAW, Sayyidatinaa Khadijah RA, menenangkan Rasuulullaah Muhammad SAW yang ketakutan ketika menerima mandat dari Allaah SWT untuk pertama kalinya.

Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi Muhammad SAW telah disiapkan sejak lama oleh Allaah SWT untuk menjadi pemimpin umat, dengan segala kemuliaan akhlaknya. Menjadi hikmah bagi kita semua yang sehari-hari hidup bermasyarakat atau jika ada di antara kita yang sedang mencoba peruntungan menjadi pemimpin publik: apakah kita sudah memiliki modal sosial berupa akhlak mulia?

Hadirin rahimakumullaah, jika ditinjau dari pengertian bahasa Indonesia, kata akhlak dimaknai sebagai budi pekerti atau kelakuan. Kata akhlak sendiri diserap oleh bahasa Indonesia berasal dari bahasa Arab, yakni kata yang sama, akhlak, (اَخْلَاقْ) alif, kha’, lam, alif, dan qaf. Kata akhlaaq dalam bahasa Arab merupakan bentuk jamak dari kata khuluq (خُلُقْ), kha’, lam, dan qaf, yang pada mulanya bermakna ukuran, latihan, dan kebiasaan. Kata khuluq yang bermakna ukuran, kemudian dapat membentuk kata dalam bahasa Arab, di antaranya makhluq (ciptaan yang mempunyai ukuran) atau khalqaa’ / خَلْقَاءْ (batu yang licin karena berkali-kali disentuh oleh sesuatu, sebagai bagian dari makna latihan dan kebiasaan). Pemaknaan dalam bahasa Arab tersebut membawa pada pengertian akhlaq yang lebih unik, bahwa akhlak sebagai budi pekerti atau sebuah sifat yang mantap atau kondisi kejiwaan di dalam diri seseorang baru dapat dicapai setelah berulang-ulang latihan alias membiasakannya.

Akhlak menjadi penting bagi manusia karena berkaitan dengan keadaan asal manusia sebagai makhluk sosial. Allaah SWT mengisyaratkan sifat sosial manusia dalam al-Qur`an di surat al-‘Alaq ayat ke-2 ketika mengisahkan proses kehidupan manusia:

Kebanyakan terjemah al-Qur`an mengartikan ‘alaq sebagai segumpal darah. Makna segumpal darah ini tidak salah, begitu pula dengan pemaknaan sesuatu yang bergantung di dinding rahim yang tidak keliru. Bahkan inilah isyarat dari Allaah SWT bahwa sejak penciptaannya, seorang manusia pasti membutuhkan orang lain. Manusia tumbuh di rahim seorang Ibu, sebagai hasil perkawinan seorang lelaki dan perempuan, pertumbuhannya di bawah asuhan orang tua, pendidikan dan kedewasaannya harus bersama orang lain, dan hingga kematiannya pun manusia harus dikuburkan oleh orang lain. Inilah isyarat Qur`an sebagai makhluk sosial.

Hadirin rahimakumullaah, jika saja manusia hidup sendirian, maka ia tak memerlukan akhlak, tak memerlukan budi pekerti, tidak pula memerlukan hukum dan peraturan. Seseorang yang hidup sendiri di hutan, misalnya, tidak dituntut untuk berkata benar karena ia tidak menemukan mitra bicara. Tetapi manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup tanpa bantuan orang lain, sehingga harus bekerja sama dan menjalin hubungan harmonis.

Di sisi lain, manusia juga seorang individu yang masing-masing mempunyai ego dan kepentingan yang dapat bertentangan dengan individu lain. Konsekuensinya, setiap individu didesak untuk mengorbankan sedikit atau banyak dari kepentingan egonya agar dapat terjalin hubungan harmonis dan dapat pula terpenuhi kebutuhan-kebutuhannya, sekaligus dapat hidup tenang, damai, dan tenteram dalam sebuah masyarakat.

Pengorbanan tersebut melahirkan moral atau akhlak terpuji, demikian pula kesediaan untuk berkorban, sebuah manifestasi dari akhlak yang luhur. Semakin besar pengorbanan, semakin luhur pula akhlak. Para pahlawan bangsa kita, misalnya, mengorbankan nyawa demi terusirnya penjajah, demi perginya penindasan dari bangsa lain. Inilah puncak akhlak yang tepuji yang berbalas surga, karena kematian akibat membela harta, membela keluarga, atau membela kehidupan, diganjar sebagai kematian yang syahid.

Pengorbanan yang berskala kecil digambarkan dalam hubungan antara pengusaha dan karyawan. Pengusaha membutuhkan karyawan untuk membantu usahanya berjalan, sementara seorang yang sebelumnya menganggur membutuhkan pekerjaan, yakni menjadi karyawan pengusaha tersebut, keduanya saling membutuhkan. Pengorbanan berlangsung ketika pengusaha harus mengurangi keuntungannya untuk upah karyawan, sementara karyawan yang memerlukan uang untuk kehidupannya harus berkorban bahwa tidak semua keinginannya dapat dipenuhi dari upah tersebut. Hubungan keduanya diatur, misalnya dengan ketentuan UMR atau UMP: pengusaha tak boleh terlalu kecil menggaji karyawan, sementara karyawan juga menerima upah sewajarnya sesuai dengan pekerjaannya. Pengorbanan keduanya tersebut memunculkan: perilaku saling menghormati hak dan kewajiban masing-masing.

Pengorbanan juga bukan berarti bahwa setiap kewajiban membutuhkan pengorbanan. Sebelum melangkah berkorban, diperlukan pertimbangan-pertimbangan, apakah langkah pengorbanan harus segera diambil atau ada jalan lain untuk memenuhi yang wajib. Pengorbanan tidak harus dilakukan, misalnya, jika dampak pengorbanan itu justru memunculkan lebih banyak mudlarat daripada menghadirkan manfaat.

Hadirin rahimakumullaah, akhlak diperlukan oleh manusia karena kita memiliki empat potensi dan dua kecenderungan. Empat potensi tersebut adalah ilmu, amarah, syahwat atau keinginan, serta keadilan. Sementara dua kecenderungan adalah ke mana tujuan di mana empat potensi tersebut mengarah: menjadi sesuatu yang baik atau justru menjadi kehinaan.

Pertama adalah potensi ilmu. Potensi ilmu mengantarkan manusia mengetahui perbedaan mana yang benar dan mana yang salah tentang sebuah persoalan atau mana yang indah dan mana yang buruk dalam konteks kelakuan. Puncak potensi keilmuan manusia ketika dibimbing oleh akhlak mulia adalah hikmah. Hikmah seakar dengan kata hakamah dalam bahasa Arab yang artinya kendali, yakni kendali untuk menghalangi hewan atau kendaraan mengarah pada yang tidak diinginkan atau agar tak menjadi liar.

Mampu memilih yang terbaik dan paling sesuai adalah perwujudan hikmah, begitu pula dengan memilih yang relatif baik dan sesuai dari dua hal yang buruk. Siapa yang tepat dalam menilainya, pas dalam mengaturnya, dan yakin akan pengetahuannya, ialah penyandang hikmah, yang akan tampil dengan percaya diri, tidak berbicara dengan ragu atau mengira-ngira, dan tidak juga melakukan sesuatu dengan coba-coba. Inilah cerminan hebatnya ilmu jika kita arahkan pada kecenderungan kebaikan.

Kedua, potensi amarah. Amarah harus digunakan dalam batas tuntunan hikmah, sehingga bila potensi ini tersalurkan, terwujudlah keberanian. Kalau kita mengungkap amarah melebihi dari ukuran yang seharusnya, ia akan menjadi kecerobohan alias kenekatan; sementara jika kurang dari yang seharusnya, ia akan timbul sebagai ketakutan. Keberanian adalah kemampuan menghadapi kesulitan saat dibutuhkan, dengan tekad dan kekuatan jiwa. Keberanian bukan berarti tidak takut menghadapi kesulitan, tetapi mengenyahkan rasa takut karena mengetahui takaran kesulitan tersebut: bahwa kesulitan tersebut dalam ukuran yang bisa dihadapi oleh diri kita.

Ketiga, potensi syahwat atau keinginan. Ketika kecenderungan kebaikan memayungi syahwat, lahirlah yang disebut ‘iffah atau kesucian diri. Sementara apabila kecenderungan keburukan yang menyelimuti syahwat kita, muncullah ketidak-mampuan seksual atau sebaliknya, kecanduan pada interaksi seksual. Dalam konteks harta duniawi, syahwat yang dikendalikan oleh hikmah dan keberanian akan menghadirkan kedermawanan. Sedangkan syahwat yang tertutup dari hikmah dan keberanian akan menjadi sikap boros (berlebihan dalam membelanjakan harta) atau kikir (terlalu sayang dalam membelanjakan harta).

Keempat, potensi keadilan. Keadilan diartikan sebagai sama atau seimbang atau menempatkan sesuatu pada tempatnya. Keadilan berbentuk penghormatan atas hak-hak pihak lain serta memberikan hak tersebut dengan sempurna dan secepat mungkin. Keadilan dapat mewujud ketika potensi ilmu, amarah, dan syahwat dapat mencapai puncak kemuliaan sehingga menjadi hikmah, keberanian, dan kesucian diri. Sebaliknya, beberapa hal yang dapat menghalangi keadilan di antaranya adalah kepentingan pribadi, keluarga, atau golongan (karena syahwat yang menjadi ketamakan); rasa takut dari celaan atau hukuman (karena tidak memiliki keberanian dalam menyatakan kebenaran); atau kurangnya pengetahuan.

Hadirin rahimakumullaah, di dalam kitab al-Mustadrak, al-Hakim meriwayatkan sebuah ungkapan yang bersumber dari Nabi Muhammad SAW atau beberapa ulama lain menyatakan berasal dari Sayyidinaa ‘Ali KW,

Keinginan manusia untuk mengumpulkan harta dan pengetahuan adalah sebuah kecenderungan yang netral. Namun ketika usaha untuk memenuhi keduanya tak menggunakan akhlak, maka hancurlah manusia dan masyarakatnya. Korupsi, penyuapan, pemotongan anggaran dan pungutan liar, membenarkan kebohongan, perang dan industri senjata, kerusakan lingkungan, adalah akumulasi dari upaya memenuhi kebutuhan manusia yang memanfaatkan kemajuan ilmu pengetahuan.

Nabi Muhammad SAW dalam haditsnya mengajarkan redaksi doa yang menggambarkan permohonan limpahan ilmu yang bermanfaat atau perlindungan dari ilmu yang tak bermanfaat. Nabi Muhammad SAW dalam haditsnya pula mengkhawatirkan cobaan kekayaan sebagai awal dari sebuah kehancuran masyarakat dan Beliau SAW pula dalam kesehariannya selalu menunjukkan akhlak sebagai seorang yang sederhana tanpa menumpuk kekayaan.

Hadirin rahimakumullaah, tidak dapat disebutkan dalam forum ini, banyaknya hadits, baik yang mengisahkan kemuliaan akhlak Nabi SAW dalam kehidupan sehari-hari beliau, maupun menggambarkan betapa besarnya balasan Allaah SWT terhadap kemuliaan budi pekerti. Bahkan, akhlak mulia bukan hanya menjadi salah satu jaminan hadirnya rahmat Allaah SWT di akhirat, tetapi juga keberkahannya terasa di dunia: memenuhi kebutuhan umat manusia dengan memanfaatkan pengetahuan, yang diterapkan dengan penuh keberanian tanpa ketamakan, demi terwujudnya keadilan bagi seluruh umat manusia.

Bencana Alam Indonesia: Tinjauan Teologis dan Ilmiah

Perspektif teologis dan ilmiah terhadap bencana alam di Indonesia mengerucut pada kesimpulan yang sama: wajar terjadi. Namun banyak di antara kita menyikapinya dengan beberapa kekeliruan, seperti (1) menganggapnya sebagai siksa atau adzab, kemudian menimpakan kesalahan kepada pihak tertentu yang sedang tak sejalan, atau (2) hanya membahas aspek teologis saja sebagai pemakluman dan tindakan pencegahan, yang hampir sama sekali tak membahas aspek ilmiah sebagai bentuk mitigasi.

Mengapa iman berlangsung dengan hati, bukannya akal

Ketika Sayyidinaa Muhammad SAW mengalami peristiwa Isra’ Mi’raj, ada segelintir orang Islam baru yang melepas Islamnya sebagai bentuk reaksi atas kejadian luar biasa tersebut. Dalihnya: apa yang disampaikan Nabi SAW tidak masuk akal.

Sayyidinaa Abu Bakar RA adalah salah satu orang yang dengan tegas membenarkan Isra Mi’raj, sehingga beliau masyhur dengan gelar ash-Shiddiq atau yang membenarkan. Kisah keimanan beliau diabadikan di dalam al-Qur`an surat az-Zumar ayat 33,

وَلَّذِي جَاءَ بِالصِّدْقِ وَصَدَّقَ بِهِۙ أُولٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ

Dan orang yang membawakebenaran dan yang membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa.

Ayat tersebut dimaknai oleh ulama bahwa yang dimaksud bish-shidqi, membawa kebenaran adalah Rasuulullaah Muhammad SAW, sementara shaddaqa bihi, yang membenarkannya, adalah Sayyidinaa Abu Bakar RA. Dan inilah sikap Sayyidinaa Abu Bakar RA yang harus kita teladani sebagai reaksi tentang hadirnya kabar tentang kebenaran iman dan islam, yakni mengukuhkannya di dalam hati, sekalipun belum memuaskan akal.

Sungguh, proses keagamaan seseorang idealnya memang dimulai dengan hati, karena betapa luasnya hati dalam menerima berbagai peristiwa dan kejadian. Perhatikan bagaimana uniknya seseorang yang bisa jatuh cinta atau sebaliknya membenci seseorang. Atau bagaimana masing-masing dari kita memiliki kegemaran yang berbeda satu sama lain, yang terkadang tidak masuk akal dan tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Ada yang hobi memelihara burung untuk dilombakan suaranya hingga tingkat nasional. Ada yang hobi mengoleksi action figure, bentuk kecil tokoh tertentu yang harganya sangat mahal. Ada yang hobi mengoleksi perangko, meskipun surat-suratan sudah tidak zamannya lagi. Dan setiap hobi tersebut terdapat komunitasnya, ada kumpulan orang-orang yang memiliki kegemaran sama. Kesemuanya menghabiskan uang yang tak sedikit dan bagi yang bukan hobinya akan mengatakan: tidak masuk akal!

Tapi itulah keunikan jiwa serta hati manusia, yang terpuaskan oleh hal-hal unik dan menarik melalui berbagai kegemaran. Dan puncak kepuasan dahaga jiwa manusia adalah ketika dia menerima kebenaran spiritualitas ketuhanan, melalui agama, yang dalam konteks kita adalah menerima ajaran iman dan islam.

Mengapa bagi seorang manusia bukan akal yang menjadi ukuran kebenaran iman dan islam? Alasannya adalah karena terbatasnya akal manusia, sehingga ia belum mampu menerima hal-hal yang sangat tinggi keagungan hakikatnya. Kisah tentang penerbangan adalah contohnya.

Terdapat mitologi, kisah-kisah dewa masa lalu dari Yunani tentang seseorang yang bermimpi untuk terbang, bernama Icarus. Dia mencoba mengalahkan keterbatasan dengan mencoba untuk terbang. Dia susun sayap-sayap yang ia tempelkan dengan lilin. Namun begitu dia terbang terlalu tinggi, panas matahari kemudian mengalahkan rekatan lem. Jatuhlah ia dalam kesia-siaan kematian karena mencoba terbang.

Di dunia nyata, seorang ilmuan sekaligus seniman Italia bernama Leonardo Da Vinci, pada tahun 1493 membuat gambar sketsa kendaraan terbang. Gambarnya mirip-mirip dengan helikopter modern sekarang. Tapi baru 410 tahun kemudian, manusia baru benar-benar dapat terbang. Tepatnya pada 1903 Wright bersaudara berhasil menerbangkan pesawat bermesin dengan satu penumpang sekaligus pilot. Itupun hanya setinggi 259 meter selama 59 detik. Setelah 59 detik bersejarah tersebut pesawat jatuh dan hancur lebur. Saat ini tercatat secara global di seluruh dunia, terdapat 36,8 juta penerbangan di sepanjang tahun 2017. Dalam beberapa tahun ke depan beberapa negara maju sudah menargetkan dapat terbang ke luar bumi, untuk mencoba memulai kehidupan baru di Planet Mars.

Kisah penerbangan tersebut menggambarkan betapa lambatnya akal manusia memahami kemampuan terbangnya. Jika teknologi pesawat dikenal ketika Nabi SAW mengalami Isra’ Mi’raj, maka perjalanan semalam dari Makkah ke Palestina pulang pergi adalah sesuatu yang masuk akal. Tetapi karena saat itu akal manusia belum mencapai teknologi penerbangan, maka menerima Isra’ Mi’raj sebagai kebenaran adalah mustahil secara akal. Pilihannya hanyalah dua: percaya dan iman dengan sepenuh hati atau tak percaya sama sekali.

Tetapi jangan diartikan bahwa beragama hanya mengandalkan hati atau jiwa saja kemudian akal diabaikan. Sama sekali tidak! Justru sebaliknya, akal adalah anugerah terindah dari Allaah SWT kepada manusia, sebagai alat bantu meneguhkan keimanan. Percaya dengan hati sepenuhnya adalah 100%, maka dengan dukungan akal keimanan akan menjadi lebih kuat, bisa 110% atau bahkan 1000%. Ketika akal belum mampu memahami hakikat sebuah kejadian dari perspektif iman, maka kembalilah iman pada satu yang sempurna: 100%.

Sedikitnya ada dua tujuan mengapa akal dikaruniakan kepada manusia, yakni pertama memahami lingkungan sekitarnya untuk memenuhi kebutuhannya dan kedua, menangkap tanda-tanda kebesaran Allaah SWT yang terwujud di alam raya ini, yang tergambar di dalam berbagai makhluk ciptaan Allaah SWT.

Allaah berfirman di dalam surat al-Baqarah ayat 31,

وَعَلَّمَآدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا

Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya.

Ayat ini berkaitan dengan penjelasan Allaah SWT tentang penciptaan manusia sebagai wakil Allaah SWT di muka bumi, di mana kita semua diberi kemampuan akal untuk mengelola lingkungan sekitar: makan, minum, membuat pakaian, membangun rumah, bertani, berkebun, menambang minyak dan gas, mengambil dan mengolah berbagai bahan dari dalam bumi sehingga menjadi berbagai alat elektronik modern seperti saat ini. Manusia pula mampu menyesuaikan diri membentuk komunitas, kumpulan manusia, hingga bersepakat untuk bernegara. Inilah anugerah akal kepada manusia.

Sementara akal juga menguatkan iman dengan memahami fenomena alam: Siapa yang menciptakan bumi, bulan, dan matahari? Bagaimana benda langit yang sangat bisa saling memutar satu sama lain tanpa bertubrukan? Bagaimana laut yang begitu luas, gunung yang begitu tinggi, angin yang berhembus, dan hukum-hukum alam lain dapat berlangsung dengan keteraturan? Benar ada hukum yang menjadi sebab bagi terjadinya semua fenomena tersebut, tapi siapa yang menghendaki hukum-hukum tersebut ada dan terus berjalan selama berabad-abad? Tentu ada yang Maha-segalanya, Pencipta dan Pengatur Segenap Alam Raya dan seisinya, Dialah Allaah SWT.

Bencana Alam di Indonesia: Tinjauan Dua Perspektif

Begitu pula dengan sikap kita terhadap bencana gempa bumi, gunung berapi, maupun tsunami yang sangat berpotensi terjadi di Indonesia. Kita harus memahaminya dari dua sudut pandang, yakni agama dan akal, agar menjadi berimbang pemahaman kita.

Ditinjau dari segi agama, bencana alam adalah sebuah keniscayaan, sesuatu yang wajar terjadi, karena setiap detail kejadian di muka bumi ini di-kersakke, di bawah kendali, ditakdirkan, dan diizinkan oleh Allaah SWT untuk berlangsung.

…اَلْحَيُّ الْقيُّمُ…وَسِعَ كُرْسِيُهُ السَّمٰوَاتِ وَالْاَرْضْ…

… Maha-hidup dengan kehidupan yang kekal, terus menerus mengurusciptaan-Nya … Kursi (kuasa)-Nya mencakup langit dan bumi …

Lebih dari itu, setiap kejadian, lebih-lebih bencana alam, merupakan peringatan bagi setiap manusia, yang beriman maupun yang sedang durhaka kepada Allaah SWT. Bagi yang beriman, hikmah bencana alam adalah untuk lebih dekat lagi kepada Allaah SWT. Bagi yang durhaka, bencana alam adalah peringatan agar meninggalkan kedurhakaannya dan segera berubah menjadi manusia yang lebih taat.  Bahkan kejadian yang menyenangkan pun kita bisa menarik banyak hikmah, apalagi bencana alam yang lazimnya menimbulkan korban nyawa dan harta benda yang tak sedikit.

Namun demikian, sayangnya, setelah bencana di Lombok dan Palu kemarin, ada beberapa orang yang distempel ulama, justru menarik kesimpulan aneh ketika mengurai hikmah bencana alam. Bagi mereka, bencana alam di Indonesia adalah adzab atau siksa atas perilaku pemerintah yang mereka anggap zhalim kepada beberapa tokoh yang dianggap ulama versi mereka.

Kalau hadirnya bencana alam di Indonesia adalah karena kriminalisasi ulama, apakah berarti Jepang yang setiap hari mengalami gempa dan kadang pula tsunami, juga disebakan karena melakukan hal yang sama? Padahal yang dianggap ulama belum tentu ulama, tetapi hanya dai, orang yang menyampaikan ajaran agama, yang ditangkap karena diduga terlibat dalam masalah hukum.

Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, Nabi SAW bersabda tentang ayat ke-33 Surat al-Anfal. Nabi SAW ngendika,

أَنْزَلَ اللّٰهُ علَيَّ أَمَانَيْنِ لِأُمَّتِي، وَمَا كَانَ اللّٰهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيْهِمْ، وَمَا كَانَ اللّٰهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُوْنَ، فَإِذَا مَضَيْتُ تَرَكْتُ فِيْهِمْ الْاِسْتِغْفَارَ إِلَ يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

Allaah menurunkan untukku dua rasa aman bagi umatku, Dan Allaah sekali-kali tidak akan menyiksa mereka, sedang engkau (wahai Muhammad) berada di antara mereka. Dan tidak pula Allaah akan menyiksa mereka, sedang mereka memohon ampun, kalau aku telah pergi (wafat) aku meninggalkan buat mereka istigfar, hingga Hari Kiamat.

Kalimat wa anta fiihim, engkau (wahai Muhammad) berada di antara mereka, ditafsirkan bukan berarti selama Nabi Muhammad SAW hidup secara lahiriah, namun juga sepanjang masih ada orang yang bershalawat kepada Nabi SAW dan masih ada orang-orang yang menjalani ajaran Nabi SAW.

Dengan kata lain, bencana alam yang hadir di sebuah tempat bukanlah adzab dan bukan pula siksa dari Allaah SWT, selama masih ada penduduk muslim yang beristighfar. Sungguh keji mereka yang mengatakan kalau bencana Lombok dan Palu adalah adzab, karena artinya mereka menganggap tak ada lagi Islam dan istighfar di bumi Palu dan Lombok. Padahal Palu adalah bumi muslim, begitu pula dengan Lombok yang mendapat julukan Negeri Seribu Masjid. Bandara di Palu bernama Mutiara SIS al-Jufri, di mana SIS al-Jufri adalah nama ulama besar, habaib pendakwah di Palu, SIS yakni al-Maghfurlah Sayyid Idrus bin Salim al-Jufri. Sementara di Lombok terdapat ulama besar, al-Maghfurlah Tuan Guru Zainuddin Abdul Madjid, pendiri Nahdlatul Wathan, organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Nusa Tenggara Barat.

Sungguh, firman Allaah SWT tersebut merupakan penghormatan yang tinggi dari Allaah SWT kepada Nabi Muhammad SAW sekaligus pembuktian firman Allaah SWT bahwa diutusnya seorang Rasuulullaah SAW bermakna sebuah rahmat, kasih sayang yang besar bagi semesta alam dan seisinya tanpa kecuali.

Kemudian, jika ditinjau dari sudut pandang akal, maka bencana gempa bumi, gunung api, dan tsunami juga merupakan kewajaran yang alami. Indonesia kita mendapat julukan Negeri Cincin Api, The Ring of Fire, karena penampakan alamnya yang dikelilingi pegunungan-pegunungan aktif sekaligus titik-titik pertemuan permukaan bumi.

Indonesia adalah negara dengan gunung berapi terbanyak ketiga di dunia dengan 139 gunung api aktif, yang tersebar di Sumatera, Jawa, Sulawesi, hingga Maluku. Permukaan bumi terbagi dalam kulit-kulit bumi yang sangat besar dan Indonesia merupakan titik temu antara kulit bumi Pasifik dan Eurasian. Indonesia berada di posisi ketiga dalam jumlah kematian terbesar akibat gempa bumi (1900-2016) setelah Tiongkok (876 ribu jiwa), Haiti (222 ribu jiwa), Indonesia (198 ribu), baru disusul Jepang (194 ribu jiwa).

Hikmah dari memahami bencana gempa dari sudut pandang akal adalah bagaimana kita meminimalisir dampak gempa bumi. Bahasa yang sering digunakan adalah mitigasi bencana. Kenapa bukan mencegah bencana? Karena hadirnya gempa bumi adalah sebuah kepastian, baik dari sisi agama maupun akal.

Di Indonesia, proses mitigasi ini belum berjalan dengan  baik. Adanya tsunami atau tidak, dapat diputuskan lima menit sesudah kejadian gempa. Sebenarnya kita pernah memiliki alat deteksi yang diapungkan di tengah laut, sehingga cukup dua menit sesudah gempa, efek tsunami dapat diprediksi. Hanya saja alat ini hilang entah dicuri siapa.

Begitu pula mitigasi dengan menggunakan desain bangunan yang tahan gempa. Jepang telah mengembangkannya. Begitu pula Indonesia, melalui rumah berbahan kayu atau bambu. Namun kadang masyarakat kita belum memiliki pengetahuan yang baik tentang gempa, sehingga desain rumah tahan gempa ini diabaikan.

Pemerintah Daerah sebagai pemilik wewenang di tingkat lokal sebenarnya juga dapat memitigasi bencana dengan menetapkan daerah yang rawan bencana agar tidak menjadi hunian manusia, sehingga ketika bencana muncul, korban dapat diminimalisir. Kasus di Palu menjadi menakutkan karena daerah yang terkena likuifikasi –fenomena tanah yang secara tiba-tiba menjadi lumpur cair– telah meluluhlantakan pemukiman di atasnya. Padahal, potensi kejadian likufikasi tersebut telah diteliti sejak lama. Artinya, mengapa muncul pemukiman di atasnya, sementara sudah jelas adanya potensi bencana di lokasi tersebut. Di mana peran Pemerintah Daerah yang berwenang menerbitkan atau menolak izin pembangunan? Hal ini menjadi satu PR besar bukan hanya bagi Pemda Sulawesi Tengah (Provinsi, Kabupaten, Kota) tetapi juga bagi seluruh daerah yang memiliki potensi terjadinya bencana.

Demikianlah uraian tentang bencana bukan sebagai adzab atau siksa, tetapi sebagai peringatan bagi semua orang, lebih-lebih untuk mendekatkan diri kepada Allaah untuk memohon perlindungan melalui ketaatan pada ajaran agama dan bacaan istighfar serta shalawat, sekaligus menggerakkan akal secara maksimal untuk memitigasi bencana yang mungkin terjadi di seluruh wilayah Indonesia.

Peradaban Islam ala Indonesia: Menghimpun Keberagaman

Ketika muncul fatwa rokok sebagai sesuatu yang haram, NU sering diejek. NU dianggap tak berani dalam mengharamkan rokok dikarenakan para ulama NU banyak yang merokok. Ya memang benar adanya sih, bahwa banyak ulama NU yang merokok. Bahkan bagi seorang nahdliyin, kapabilitas untuk merokok adalah bagian dari keabsahan sebagai seorang nahdliyin. Terlepas dia kader maupun bukan.

Namun benarkah pertimbangan hukum NU tentang rokok hanya sebatas karena umat dan ulamanya juga perokok? Mari kita telusuri sejarahnya bersama.

Ketika Risalah Menghampiri

Revolusi peradaban oleh Islam dimulai ketika seorang Quraisy menerima wahyu dari Tuhan. Dialah yang kemudian selalu dipanggil oleh umatnya berurutan sesudah menyebut nama Tuhan setidaknya lima kali dalam sehari. Sayyidinaa Muhammad SAW.

Ketika pertama bertemu dengan Pembawa Pesan Agung, Malaikat Jibril ‘AS, Sayyidinaa Muhammad SAW terpaku. Tak dinyana, risalah pertama dari langit adalah kalimat perintah, Iqra`!, yang bermakna perintah untuk membaca, Bacalah! Sayyidinaa Muhammad SAW pun bertanya balik dengan balasan kalimat tanya, maa aqra`?, yang berarti: Apa yang harus saya baca?

Lantunan kalimat suci pun berlanjut: Iqra` bismirabbikalladzii khalaq, khalaqal insaana min ‘alaq; bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang mencipta, mencipta manusia dengan sesuatu yang bergantung di dinding rahim; dan seterusnya hingga ayat kelima.

Para penafsir menjelaskan kisah ini dengan sangat indah, sebagai cerminan amanah peradaban seorang muslim. Prof. Quraish Shihab, seorang penafsir nusantara menjelaskan bahwa pertanyaan dari Sayyidinaa Muhammad SAW merupakan kewajaran, sebab: (1) perintah membaca dari Malaikat Jibril ‘AS yang tidak lazim menurut tata bahasa Arab karena perintah tanpa objek, dan (2) Sayyidinaa Muhammad SAW yang buta huruf tak bisa membaca dan menulis aksara apapun.

Adanya perintah tanpa objek spesifik justru membawa pesan agung sebagai dasar risalah yang dibawa Islam: bacalah segala sesuatu yang terhampar di hadapanmu, tulisan maupun peristiwa, bacaan suci keagamaan maupun selainnya, selama konteksnya adalah sembari mengingat Tuhan yang menciptamu, bismirabbikalladzi khalaq.

Tafsir ayat berikutnya menjadi semakin indah, ketika Tuhan berfirman, khalaqal insaana min ‘alaq, mencipta manusia dengan sesuatu yang bergantung di dinding rahim, bahwa manusia berasal dari sesuatu yang bergantung pada sesuatu dan ia sampai kapanpun tak dapat berdiri sendiri tanpa manusia lain. Sungguh, mayat tak dapat menguburkan dirinya sendiri! Maka, kebutuhan spiritualitas berketuhanan adalah keniscayaan, namun ketergantungan kepada sesama manusia adalah realitas kehidupan.

Selanjutnya, perintah yang mula-mula turun ini perlu dikaitkan pula dengan menjelaskan sebuah firman Tuhan yang lain tentang awal penciptaan manusia. Malaikat yang bertanya mengapa Tuhan berencana mencipta makhluk yang menumpahkan darah, justru Tuhan menjadi pembela manusia dengan berfirman, wa ‘allama aadamal-asmaa-a kullaha, dan (Dia) mengajarkan kepada Adam nama benda semuanya. Tafsirnya, manusia berpotensi menumpahkan darah, namun manusia pula mampu mengembangkan alam di sekelilingnya untuk memenuhi kebutuhannya.

Maka inilah fitrah bagi seorang muslim yang sesungguhnya: berwawasan luas dan mendalam, baik spiritualitas berketuhanan maupun ilmu pengetahun dan teknologi modern, demi memenuhi kemaslahatan sesama manusia. Bahasa Tuhan menyebut, wa maa arsanalka illaa rahmatan lil-‘aalamin, dan Kami tidak mengutusmu (Sayyidinaa Muhammad SAW) kecuali menjadi rahmat, kasih, dan sayang, bagi semesta alam.

Islam di Negeri Seribu Pulau

Islam terus berkembang hingga kemudian mencapai Indonesia tercinta, yang pada masa lalu dikenal sebagai Nusantara. Peranan Dewan Wali Sembilan tak bisa dipungkiri menjadi faktor penting bagi cepatnya Islam berkembang di Nusantara. Salah satu prinsip yurisprudensi Islam yang digunakan oleh Dewan Wali Sembilan adalah muhafazhatu ‘ala qadiimish-shaalih, wal-akhdzu ‘ala jadiidil-ash-lah; memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik. Tradisi lama sebelum masuknya Islam dimodifikasi, dibersihkan dari hal-hal yang melanggar ketentuan dasar Islam, dikonversi menjadi tradisi baru yang lebih baik sebagai alat memperkenalkan Islam.

Peran Ulama sebagai penerus Dewan Wali Sembilan mulai mengglobal ketika suku-suku di jazirah Arab takluk di bawah penguasa tunggal Dinasti as-Saud dan memegang akses menuju dua kota suci, Makkah al-Mukarramah (Makkah yang Penuh Kemuliaan) dan Madinah al-Munawwarah (Madinah yang Penuh Cahaya), di mana Saudi berencana menyeragamkan praktek ibadah di kedua kota tersebut, terbentuklah Komite Hijaz untuk berunding dengan otoritas Saudi agar urung mewujudkan penyeregaman tersebut. Inilah embrio terbentuknya organisasi Islam terbesar di Indonesia, bahkan di dunia, yakni Nahdlatul-‘Ulama` (NU) atau Kebangkitan Ulama.

Penghargaan NU kepada Dewan Wali Sembilan tercermin dalam lambang NU yang antaranya memiliki sembilan bintang, representasi keberadaan Dewan Wali Sembilan. Lima bintang di atas adalah simbol Sayyidinaa Muhammad SAW dan empat sahabat utama beliau, yakni Sayyidinaa Abu Bakar, Sayyidinaa ‘Umar, Sayyidinaa ‘Utsman, dan Sayyidinaa ‘Ali, sementara empat bintang di bawah adalah gambaran empat ulama besar dalam yurisprudensi Islam, yakni Imam Malik, Imam Hanafi, Imam Syafi’i, dan Imam Hambali.

NU, Kebangsaan, dan Kenegaraan

Salah satu peran nyata NU bersama umat Islam kepada Indonesia adalah penerimaan Pancasila sebagai Dasar Negara. Ketika perwakilan tokoh dari Indonesia bagian timur menolak tujuh kata dalam Piagam Jakarta, Islam yang salah satunya diwakili oleh NU, kemudian memilih mengalah. Tujuannya adalah demi terbentuknya negara. Imam Ghazali menulis dalam Ihya ‘Ulumiddin (Menghidupkan Keberagamaan):

al-mulku wad-diin taw-amaani, kekuasaan dan agama merupakan dua saudara kembar;

fad-diiny ashluw-was-sulthaanu haarisun, agama sebagai landasan dan kekuasaan sebagai pengawalnya;

wa maa laa ashlalahu famahduumun, sesuatu tanpa landasan pasti tumbang;

wa maa laa haarisalahu fadlaa-i-‘un, sedangkan sesuatu yang tak punya pengawal akan tersia-siakan.

Para tokoh Islam dan NU pada 1945 sadar, bahwa negara dan agama adalah saudara kembar yang saling membutuhkan. Maka pilihan terbaik adalah memenuhi permintaan tokoh Indonesia bagian Timur, demi terbentuknya sebuah negara kebangsaan, Indonesia berdasarkan Pancasila.

Sesudah dinamika yang sangat pelik hubungan NU dengan berbagai kelompok politik pada periode 1945 sampai dengan munculnya Orde Baru, hubungan Pancasila dengan Islam diteguhkan kemudian oleh NU melalui Munas Alim Ulama NU tahun 1983 di Situbondo. Meskipun secara politik didorong oleh pemerintah agar menerima Pancasila sebagai azas tunggal, momen ini menjadi kesempatan bagi NU untuk menguatkan Pancasila sebagai jalan tengah demi bersatunya kebangsaan Indonesia. Keputusan Munas tersebut berbunyi:

  1. Pancasila sebagai dasar dan falsafah Negara Republik Indonesia bukanlah agama, tidak dapat menggantikan agama dan tidak dapat dipergunakan untuk menggantikan kedudukan agama.

  2. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai dasar Negara Republik Indonesia menurut pasal 29 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945, yang menjiwai sila-sila yang lain, mencerminkan tauhid menurut pengertian keimanan dalam Islam.

  3. Bagi Nahdlatul Ulama, Islam adalah aqidah dan syari’ah, meliputi aspek hubungan manusia dengan Allah dan hubungan antar manusia. Penerimaan dan pengamalan Pancasila merupakan perwujudan dari upaya ummat Islam Indonesia untuk menjalankan syari’at agamanya.

  4. Sebagai konsekuensi dari sikap di atas, Nahdlatul Ulama berkewajiban mengamankan pengertian yang benar tentang Pancasila dan pengamalannya yang murni dan konsekuen oleh semua pihak.

Sederhananya, NU menjalankan Islam sebagai ajaran agamanya dalam berbagai lini kehidupan. Khusus untuk lini kehidupan bernegara, berbangsa, dan bermasyarakat, bagi NU, ajaran Islam tercermin dalam Pancasila.

Pada periode 1980-1990 tersebut pula tercetuslah empat prinsip utama bagi warga NU dalam menyikapi berbagai persoalan yang dihadapi: (1) tawasuth atau pertengahan, (2) tawazun atau keseimbangan, (3) tasamuh atau toleransi, dan (4) i’tidal atau keadilan. Empat sikap ini bukan karangan NU, tetapi diambil dari berbagai sumber hukum Islam.

Sikap pertengahan atau tawasuth, misalnya, diambil dari firman Tuhan, wa kadzaalika ja’alnaakum ummataw-wasathaa, dan demikian Kami menjadikan kamu umat pertengahan. Kata wasit dalam bahasa Indonesia, diserap dari kata yang sama, tawasuth. Sebagai ilustrasi tentang makna sikap pertengahan, misalnya: (1) pemberani adalah pertengahan antara penakut dan nekat, (2) dermawan adalah pertengahan antara kikir dan boros.

Menjelaskan Beberapa Sikap NU: Refleksi atas Konsistensi

Beberapa peristiwa mutakhir menunjukkan konsistensi NU sebagai representasi Islam yang fleksibel namun tak meninggalkan nilai dasar spiritualitas keagamaan, di antaranya adalah sebagai berikut:

  1. Hukum Haram Rokok

NU memilih diam terhadap hukum rokok, atau maksimal menghukuminya sebagai makruh (tidak disukai), karena kehati-hatian. Konsekuensi hukum haram adalah serangkaian yang menuju kepadanya dan bersumber darinya juga harus dimaknai haram. Hukum haram rokok bermakna seluruh rantai suplai rokok, sejak dari petani tembakau, karyawan produksi rokok hingga penjualnya, cukai dan pajak rokok, serta semua uang yang berkaitan dengannya berhukum haram. Betapa mengerikannya negeri ini dipenuhi dengan keharaman yang bertubi. Bahkan saat ini, jika rokok dihukumi sebagai haram, maka sebagian pembiayaan jaminan kesehatan nasional dalam waktu dekat akan menjadi haram karena bersumber dari cukai dan pajak rokok.

Maka bagi NU, keharaman rokok belum mutlak, selama belum ditemukan solusi komprehensif dalam mengalihkan industri rokok yang berukuran massif kepada lapangan pekerjaan lain yang sepadan. Inilah sikap tawasuth, (pertengahan yang tidak ekstrim), memperhatikan semua aspek (tawazun atau keseimbangan informasi), dan penuh keadilan bagi semua pihak.

  1. Keterlibatan NU pada Pembelaan terhadap Penghayat Kepercayaan, Keturunan PKI, Ahmadiyah, dan Syiah

Salah satu lembaga di NU, Lembaga Kajian dan Pengembangan SDM NU (LAKPESDAM-PBNU) terlibat aktif di dalam pembelaan hukum maupun rekonsiliasi sosial terhadap masyarakat di berbagai daerah.

Kasus kolom agama bagi penghayat kepercayaan didasari pada hak dasar para penghayat yang dipaksa masuk ke salah satu dari enam agama agar dapat menikah atau lulus ujian sekolah.

Kasus bekas tahanan politik PKI dan keluarganya terjadi di Gunungkidul, ketika mereka termarginalkan secara sosial, tak dianggap sebagai manusia sepadan, sehingga terbelenggu oleh kemiskinan, bahkan oleh aparatur pemerintah setingkat dusun sekalipun, karena tidak mendapatkan jatah beras miskin.

Kasus kekerasan dan pengusiran pemeluk Ahmadiyah dan Syiah jelas menghilangkan hak bertempat tinggal dan hak hidup mereka, padahal di tempat itulah mereka berada sejak lahir dan tumbuh dewasa.

NU bukan hadir untuk membenarkan ajaran penghayat kepercayaan, bukan pula membangkitkan kembali PKI, apalagi menumbuhakn ajaran Ahmadiyah ataupun Syiah. Bagi NU perbedaan keyakinan setiap insan adalah keniscayaan yang dijamin oleh negara dan NU turut memperjuangkan mereka yang termarginalkan untuk memperoleh hak-hak dasarnya sebagai warga negara Indonesia. Inilah prinsip i’tidal atau keadilan untuk semua yang dijunjung oleh NU.

  1. Kasus Penistaan Agama oleh Basuki Tjahaja Purnama

Ketika sidang berlangsung, ada dua tokoh NU yang berseberangan. KH Ma’ruf Amin sebagai saksi ahli yang diajukan oleh jaksa dan Kiai Ahmad Ishomuddin sebagai saksi ahli dari pihak terdakwa. Kedua ulama tersebut mumpuni di bidang yurisprudensi Islam, sama-sama berada di Lembaga Tinggi (Syuriyah) Pengurus Besar NU, hanya berbeda senioritas. Uniknya, keduanya tidak saling mengusir dari PBNU, tidak pula kemudian bermusuhan, meskipun berlawanan pihak di persidangan. Peristiwa ini menggambarkan empat bintang dalam lambang NU yang mewakili empat Imam besar dalam yurisprudensi Islam yang diterima keberagaman pendapatnya dalam NU: beragam pendapat itu biasa dan sangat lazim, namun kerukunan adalah kunci.

 Islam ala Indonesia untuk Dunia

Terdapat kata kunci yang menyelimuti sekelumit sejarah NU sebagai organisasi Islam asli Indonesia: musyawarah dan konsensus. Dua password ini sesungguhnya merupakan sifat universal yang telah dipraktekkan sejak lama di berbagai peradaban, termasuk peradaban Nusantara pra-Islam dan maupun oleh Islam sendiri, walaupun prakteknya di dalam umat Islam masa kini belum ideal sama sekali. Timur Tengah misalnya, meskipun memiliki keragaman yang sangat sedikit dalam hal budaya, suku, bahasa, dan agama, wilayah tersebut tak pernah lepas dari konflik yang menumpahkan darah. Negeri tempat lahir dan tumbuhnya Islam hingga mencapai puncak kejayaannya, masyarakatnya tak pernah mencapai konsensus dan beralih ke senjata sebagai solusi. Sampai detik ini.

Oleh karenanya, sejak 2015 NU mengusung Islam Nusantara sebagai tagline-nya. Bukan mengusung ibadah baru, bukan pula syariat anyar, tapi memperkenalkan praktek Islam yang bermartabat, menjunjung tinggi musyawarah dan konsensus, tanpa meninggalkan pondasi dasar Islam, demi meraih kemaslahatan seluruh manusia, yang selama ini sedang dan terus diperjuangkan di Kepulauan Nusantara, Indonesia kita tercinta. Islam yang mampu menghimpun keberagaman.

Sebuah kaidah yurisprudensi Islam menyatakan, maa laa yudraku kulluhu, laa yutraku kulluhu; sesuatu yang tidak bisa dikerjakan seluruhnya, tidak ditinggalkan seluruhnya. Jika dimaknai dalam konteks salat, kaidah ini mendorong kita untuk tetap salat meskipun dalam keadaan sakit, karena sembari duduk, berbaring, bahkan hanya isyarat pun, salat bisa dikerjakan.

Sebagai generasi milenial yang sedang berproses menerima estafet kepemimpinan bangsa, kaidah tersebut memberikan peluang bagi kita untuk terus berjuang sesuai dengan kemampuan kita. Indonesia sebagai negeri berpenduduk muslim terbesar di dunia memiliki potensi untuk memperkenalkan Islam Nusantara ke penjuru dunia. Negara dan PBNU bertugas menyampaikannya kepada khalayak internasional.

Sementara kita, setiap individu bersama-sama dengan kelompok masyarakat, berperan dalam membumikannya menjadi praktek-praktek di dunia nyata, sesuai dengan jangkauan ruang dan waktu yang kita miliki, sesuai dengan bidang keahlian kita masing-masing. Semoga Tuhan memudahkan ikhtiar kita bersama menuju Indonesia yang bermaslahat. Aamiin.

Makna Komprehensif Ketakwaan dalam Ibadah Puasa

Puasa merupakan ibadah yang dilakukan oleh berbagai agama dan kepercayaan sepanjang sejarah umat manusia. Dalam konteks umat Islam, puasa “bertujuan untuk memperoleh takwa” (la-‘allakum tattaqun), di mana tujuan tersebut dapat dicapai dengan menghayati arti puasa itu sendiri. Menghayati makna dan arti puasa, membawa kita untuk memahami tentang dua hal pokok menyangkut hakikat penciptaan manusia dan kewajibannya di muka bumi. Apa dua hal pokok tersebut?

Pertama, manusia diciptakan oleh Tuhan dari tanah, kemudian dihembuskan kepadanya Ruh ciptaan-Nya, dan diberikan potensi untuk mengembangkan dirinya hingga mencapai satu tingkat yang menjadikannya wajar untuk menjadi khalifah (pengganti) Tuhan dalam memakmurkan bumi ini (al-Baqarah ayat 30).

 photo takwa komprehensif-1_zpsscmr8rpl.png

Lebih dari itu, pada ayat 31 dijelaskan bahwa Allaah Ta’aala memberikan

 photo takwa komprehensif-2_zpsqabknzoa.png

sebagai bekal untuk memakmurkan bumi. Kalimat wa ‘allama aadamal-asmaa-a kullahaa secara bahasa berarti mengajarkan nama-nama benda seluruhnya atau ditafsirkan sebagai anugerah mengenal teknologi untuk kemaslahatan manusia.

Kedua, dalam perjalanan manusia ke bumi, ia (Nabi Adam ‘AS) melewati (transit) di surga, agar pengalaman yang diperolehnya di surga tersebut dapat menjadi modal dalam menyukseskan tugas pokoknya di muka bumi. Bahasa mudahnya, peristiwa transitnya Nabi Adam ‘AS sebagai leluhur manusia di surga, berfungsi untuk mendorong umat manusia menciptakan bayangan surga di bumi. Begitu pula dengan pengalaman tergoda oleh syaithan, mendorong untuk bersikap hati-hati agar tak lagi terpedaya, sehingga tidak terulang kejadian pahit yang terasa ketika terusir dari surga.

Hadirin rahimakumullaah, berbeda dengan Tuhan, manusia memiliki banyak kebutuhan yang secara garis besar dikelompokkan menjadi lima kebutuhan pokok: (1) kebutuhan fa’ali (makan, minum, dan hubungan suami-istri), (2) kebutuhan ketenteraman dan keamanan, (3) kebutuhan keterikatan pada kelompok, (4) kebutuhan akan rasa penghormatan, dan (5) kebutuhan akan pencapaian cita-cita.

Kebutuhan yang lebih akhir tidak akan mendesak seseorang sebelum kebutuhan pertam terpenuhi. Bahkan seseorang bisa saja mengorbankan kebutuhan berikutnya bila kebutuhan sebelumnya belum terpenuhi. Dan sebaliknya, ketika seseorang mampu mengendalikan dirinya dalam memenuhi kebutuhan pertama, akan dengan mudah mengendalikan kebutuhan-kebutuhan di daftar berikutnya.

Puasa adalah bagian upaya manusia menjadi wakil Allaah di muka bumi (khalifatullaah) melalui meneladani dua sifat Tuhan:

(1) tidak makan-minum (al-An’am ayat 14):

 photo takwa komprehensif-3_zps8uafbpqn.png

(2) tidak berpasangan (al-An’am ayat 101)

 photo takwa komprehensif-4_zpsxobtm6io.png

Meneladani sifat Tuhan ini tentu saja sesuai dengan batasnya sebagai manusia dan tidak hanya terbatas pada kedua hal tersebut, tapi juga sifat Tuhan lainnya.

Sifat Allaah yang Maha-pengampun dan Maha-pemaaf, misalnya, dianjurkan untuk dibaca banyak-banyak sepanjang Ramadlan: allaahumma innaka ‘afuwwun, tuhibbul afwa fa’-fu-‘anni, Wahai Allaah sesungguuhnya Engkau Maha-pemaaf dan menyukai permintaan maaf, maka ampunilah aku. Teladan bagi manusia: sifat Allaah ini berkesan di dalam hati kita yang mengucapkan, sehingga mau memaafkan sesama manusia.

Sifat Allaah yang Maha-hidup diteladani dengan bagaimana kita meninggalkan nama baik yang selalu dikenang, sekalipun telah meninggal dunia.

Sifat Allaah ar-Rahmaan, yakni pelimpah kasih bagi seluruh makhluk dalam kehidupan dunia, mendorong manusia yang berpuasa untuk melatih memberi kasih kepada semua makhluk tanpa kecuali. Sementara ar-Rahiim, yakni pelimpah rahmat di Hari Kemudian, memotivasi kita yang berpuasa agar memberi kasih kepada saudara-saudara seiman sambil meyakini bahwa tiada kebahagiaan sejati kecuali rahmat Allaah di Hari Akhir kelak.

Sifat Allaah al-Qudduus, Yang Maha-suci, menyemangati orang yang berpuasa untuk menyucikan diri lahir dan batin, serta mengembangkan diri sehingga selalu berpenampilan indah, baik, dan benar. Sedangkan peneladanan sifat al-Kariim, Yang Maha-pemurah, mengajak manusia agar menjadi seorang dermawan.

Demikian seterusnya dengan sifat-sifat Allaah lainnya, yang harus dihayati esensinya untuk diteladani sesuai dengan kemampuan kita sebagai manusia. Alhasil, fungsi kita sebagai wakil Allaah di muka bumi dengan mencontoh sifat-sifat Allaah akan mampu mewujudkan makmurnya bumi, yakni sumber kemashlahatan manusia dan seluruh makhluk penghuninya, termasuk hewan dan tumbuhan.

Hadirin rahimakumullah.

Ilmu modern saat ini menekankan keseimbangan pada tiga jenis kecerdasan manusia: intelektual, spiritual, dan emosional. Islam memiliki konsep yang sama, sebagaimana disampaikan dalam buku Membumikan al-Qur`an Jilid Kedua.

Kecerdasan spiritual diwakili oleh iman manusia. Iman kepada wujud Tuhan Allaah SWT akan melahirkan makna hidup dan memperhalus budi pekerti bagi manusia. Tak ada lagi kesombongan karena adanya Yang Maha-tinggi dan Maha-agung. Tak akan ada lagi kecintaan pada dunia yang melekat ke dalam hati, tak  akan ada lagi keinginan berkata, berperilaku, dan berprasangka buruk, karena mengimani adanya pengadilan di Hari Akhir kelak. Dan dalam konteks ibadah puasa, iman adalah syarat utama, karena perintah puasa ditujukan kepada mereka yang beriman: yaa ayyuhalladzina aamanu.

Kecerdasan emosional dalam Islam, selain diwakili oleh banyak bagian dalam ajaran Islam, secara khusus juga diwakili oleh ibadah puasa itu sendiri. Hawa nafsu manusia di satu sisi menjadi pendorong bagi banyak aktivitas positif: bekerja mencari penghidupan untuk keluarga, membahagiakan istri, suami, anak, dan orang tua, dan seterusnya.

Sebagaimana Allaah berfirman di al-Qur`an surat Aali ‘Imraan 14:

 photo takwa komprehensif-5_zpsbji3bpiz.png

Tetapi ketika hawa nafsu tidak dikendalikan –di mana salah satu pengendaliannya adalah dilatih dengan ibadah puasa– hawa nafsu akan merusak. Seks, jika diperindah oleh syaithan akan menjadi tujuan, tidak peduli dengan siapa dilakukan. Kecintaan pada anak, jika diperindah syaithan akan muncul subjektivitas berlebihan: atas nama cinta akan membela anak sekalipun salah atau bahkan telah melanggar ketentuan hukum. Dan harta, jika diperindah syaithan, akan memperdaya kita: dengan cara apapun harus didapatkan, terus menumpuk harta hingga melupakan fungsi sosialnya. Na’udzubillaahi min dzalik.

Hadirin rahimakumullaah.

Maka, kecerdasan emosional diwakili oleh ketakwaan kita. Ketakwaan kepada Allaah dapat dimaknai sebagai usaha keras manusia untuk menjalankan setiap perintah Allaah sekaligus secara bersamaan menjauhkan diri semua yang dilarang Allaah Tabaraka wa Ta’aala. Seseorang yang berusaha untuk selalu taat secara demikian, membutuhkan kematangan emosi: kesadaran sepenuhnya akan agama dan ketuhanan.

Seorang anak dilatih berpuasa untuk tidak makan karena ia diperintah dan diberi contoh dari orang tuanya. Seiring berjalannya waktu, ketika iman telah melingkupi hati sang anak, bukan sekedar karena perintah orang tua, ia akan menyadari itu merupakan perintah Allaah melalui tuntunan agama Islam. Inilah kematangan emosi, buah dari keimanan, kecerdasan spiritual.

Ketakwaan bukan hanya meningkat dengan pelatihan-pelatihan rutin yang diwajibkan Allaah melalui puasa Ramadlan, tetapi juga dapat meningkat seiring dengan peningkatan kecerdasan intelektual seorang manusia, karena kecerdasan intelektual di antaranya adalah mengandung hikmah.

Hikmah diartikan sebagai sesuatu yang bila digunakan/ diperhatikan akan mendatangkan kemanfaatan dan kemudahan yang besar atau lebih besar, serta menghalangi terjadinya kerusakan atau kesulitan besar atau yang lebih besar. Makna ini ditarik dari kata hakamah, yang berarti kendali, karena kendali menghalangi hewan/kendaraan mengarah ke arah yang tidak diinginkan atau menjadi liar. Memilih perbuatan yang terbaik dan sesuai, atau bahkan memilihnya (terbaik dan sesuai) di antara dua hal yang buruk pun dinamai hikmah, dan pelakunya disebut hakiim (bijaksana).

Hikmah juga dimaknai sebagai (1) himpunan segala ucapan atau pengetahuan yang mengarah pada perbaikan keadaan dan kepercayaan manusia secara bersinambung, dan (2) sesuatu yang mengena kebenaran berdasar ilmu dan akal, yakni kebenaran yang tidak mengandung kelemahan dan tidak pula kekaburan.

Pengetahuan, termasuk hikmah, adalah cahaya yang Allaah limpahkan kepada siapapun yang mempersiapkan diri untuk meraihnya. Ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai bentuk penerapannya mampu mengalami kemajuan ketika adanya kondisi yang mendorongnya untuk dikembangkan. Dalam hal ini, sesungguhnya al-Qur`an memberikan peluang bagi ilmu pengetahuan dan teknologi agar dikuasai oleh umat Islam. Sebagaimana firman pertama dari Allaah Tabaraka wa Ta’aala kepada Nabi Muhammad SAW yang turun di bulan Ramadlan: iqra bismirabbika-lladzi khalaq, bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang Mencipta, yang perintah membaca ini tidak terbatas pada bacaan keagamaan saja, tetapi kepada semua hal yang dapat dibaca, selama dalam koridor menyebut nama Tuhan Sang Pencipta, yakni menjaga kesinambungan makhluk hidup, atau dengan kata lain bermashlahat untuk manusia dan makhluk hidup lainnya.

Hadirin rahimakumllaah.

Pengetahuan dan hikmah akan mengungkap banyak hal yang tercakup akal di dalam perintah-perintah yang Allaah berikan, sehingga akan memantabkan perjalanan takwa kita. Tanpa cakupan akal, cukuplah spiritualitas dan keimanan yang mendorong kita untuk menjalankan perintah Allaah dan menjauhi larangan Allaah, sebagaimana imannya Sayyidinaa Abu Bakar RA terhadap peristiwa Isra’ Mi’raj. Namun Allaah pun memberikan peluang kepada kita untuk mengembangkan pengetahuan dan hikmah, untuk memperkuat iman dan takwa kita.

Demikianlah makna dari puasa di bulan Ramadlan yang mencakup pelatihan terhadap tiga kecerdasan manusia secara simultan, untuk meraih derajat tertinggi di sisi Allaah, yakni ketakwaan (inna akramakum ‘indallaahi atqakum). Dan ketakwaan yang merupakan bentuk pengabdian kepada Allaah Tabaraka wa Ta’aala akan menjadi semakin sempurna ketika difungsikan sebagai bekal kita dalam menjalani peran sebagai khalifatullaah fil ardl, wakil Allaah untuk mewujudkan kemashlahatan umat manusia dan seluruh makhluk ciptaan Allaah di muka bumi.

Mengurai Hikmah Tragedi Mako Brimob: Islam adalah Kedamaian

Alhamdulillaah, tragedi di Mako Brimob sudah selesai. Ada evaluasi yang harus dilakukan, terutama di manajemen penjara beserta perangkat keamanannya. Pemerintah harus mengakui (serta memperbaikinya, tentu saja) bahwa sebagian pemicunya adalah kedua hal tersebut.

Namun demikian, tidak berarti kita melegalkan kekerasan yang dilakukan oleh para teroris itu. Apalagi membela perilaku keji ini dengan dalih apapun. Bahkan termasuk tuduhan pencitraan kubu politik yang sedang memegang amanah pemerintahan RI. Jika sampai ada yang menyampaikan hal tersebut (tuduhan pencitraan), bagi saya, sungguh telah mati nuraninya. Sementara kepada anggota kepolisian yang gugur dalam tugas, semoga Allaah Ta’aala mengganjar kalian dengan rahmat-Nya yang Maha-agung dan Menyeluruh.

Selain itu, sebagai masyarakat bangsa dan negara, kita juga harus semakin sadar bahwa kejahatan atas nama Islam itu nyata keberadaannya.

Islam tak pernah mengajarkan kekejian, bahkan dalam keadaan perang sekali pun. Namun pembela dan pelaku atas tafsir selain itu benar-benar ada dan hidup berkembang di Indonesia kita tercinta.

Tidak semua yang kritis kepada pemerintah dan/atau bahkan yang anti-negara NKRI berafiliasi dengan para pembajak Islam tersebut, tapi realitasnya, para pembajak Islam alias teroris-teroris itu, memanfaatkan kedua kubu tersebut dengan narasi-narasi cantik nan (seolah-olah) mulia: Islam terzhalimi. Lebih jauh lagi, teroris-teroris tak berperasaan ini dengan percaya diri sering menggunakan isu HAM dengan berlebihan, sedemikian rupa sehingga, pemerintah dan negara yang sedang menegakkan hukum adalah pelanggar HAM terberat di dunia.

Begitu pula dengan isu anti-Amerika Serikat (US). Benar bahwa sejarah terorisme modern berkaitan erat dengan peran US pada masa perang dingin melawan Uni Soviet dengan meradikalkan sebagian kecil umat Islam atas nama perjuangan anti-Soviet. Benar pula, bahwa saat ini pengaruh US kepada semua pemerintah dan negara di seluruh penjuru dunia itu eksis.

Tapi sungguh sebuah kebodohan jika terorisme atas nama Islam di negeri kita digambarkan sebagai sebuah garis lurus perintah/koordinasi antara US, Indonesia, dan terorisme itu sendiri, dengan mengabaikan faktor-faktor lain yang sangat kompleks dan rumit.

Mengapa bodoh? Karena tidak mau berpikir menguraikan persoalan yang sesungguhnya dan memilih sebodoh-bodohnya sikap: memosisikan diri sebagai korban kemudian menunjuk orang lain sebagai pelaku, dengan kata “pokoknya” sebagai penekanan.

Sungguh sikap yang bertentangan dengan ajaran al-Qur’an tentang anjuran untuk berubah dengan ikhtiarnya sendiri.

Maka mari bersama-sama, kita berusaha menjalankan Islam dengan baik dan benar sembari terus memberikan kontribusi terbaik bagi bangsa dan negara melalui kritik konstruktif yang solutif sebagai bentuk nyata ikhtiar untuk meningkatkan kualitas kehidupan umat manusia.

Terakhir, saya ingin mengingatkan pentingnya sebuah institusi negara dlm kehidupan keagamaan dan spritualitas umat, sebagaimana dibahas dalam konferensi internasional ulama thariqah sedunia bertemakan “Bela Negara: Konsep dan Urgensinya menurut Islam”, di Pekalongan 2016 yg lalu.

Hasilnya ada sembilan poin penting, yang empat di antaranya akan saya kutip sebagai penutup tulisan ini:

Pertama, negara adalah tempat tinggal di mana agama diimplementasikan dalam kehidupan.

Kedua, bernegara merupakan kebutuhan primer dan tanpanya kemaslahatan tidak terwujud.

Ketiga, bela negara adalah di mana setiap warga merasa memiliki dan cinta terhadap negara sehingga berusaha untuk mempertahankan dan memajukannya.

Keempat, bela negara merupakan suatu kewajiban seluruh elemen bangsa sebagaimana dijelaskan Al-Quran dan Hadis.

Demikian, semoga bermanfaat.

Blunyah Gede, Yogyakarta, 10 Mei 2018,
Ahmad Rahma Wardhana.