Bencana Alam Indonesia: Tinjauan Teologis dan Ilmiah

Perspektif teologis dan ilmiah terhadap bencana alam di Indonesia mengerucut pada kesimpulan yang sama: wajar terjadi. Namun banyak di antara kita menyikapinya dengan beberapa kekeliruan, seperti (1) menganggapnya sebagai siksa atau adzab, kemudian menimpakan kesalahan kepada pihak tertentu yang sedang tak sejalan, atau (2) hanya membahas aspek teologis saja sebagai pemakluman dan tindakan pencegahan, yang hampir sama sekali tak membahas aspek ilmiah sebagai bentuk mitigasi.

Mengapa iman berlangsung dengan hati, bukannya akal

Ketika Sayyidinaa Muhammad SAW mengalami peristiwa Isra’ Mi’raj, ada segelintir orang Islam baru yang melepas Islamnya sebagai bentuk reaksi atas kejadian luar biasa tersebut. Dalihnya: apa yang disampaikan Nabi SAW tidak masuk akal.

Sayyidinaa Abu Bakar RA adalah salah satu orang yang dengan tegas membenarkan Isra Mi’raj, sehingga beliau masyhur dengan gelar ash-Shiddiq atau yang membenarkan. Kisah keimanan beliau diabadikan di dalam al-Qur`an surat az-Zumar ayat 33,

وَلَّذِي جَاءَ بِالصِّدْقِ وَصَدَّقَ بِهِۙ أُولٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ

Dan orang yang membawakebenaran dan yang membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa.

Ayat tersebut dimaknai oleh ulama bahwa yang dimaksud bish-shidqi, membawa kebenaran adalah Rasuulullaah Muhammad SAW, sementara shaddaqa bihi, yang membenarkannya, adalah Sayyidinaa Abu Bakar RA. Dan inilah sikap Sayyidinaa Abu Bakar RA yang harus kita teladani sebagai reaksi tentang hadirnya kabar tentang kebenaran iman dan islam, yakni mengukuhkannya di dalam hati, sekalipun belum memuaskan akal.

Sungguh, proses keagamaan seseorang idealnya memang dimulai dengan hati, karena betapa luasnya hati dalam menerima berbagai peristiwa dan kejadian. Perhatikan bagaimana uniknya seseorang yang bisa jatuh cinta atau sebaliknya membenci seseorang. Atau bagaimana masing-masing dari kita memiliki kegemaran yang berbeda satu sama lain, yang terkadang tidak masuk akal dan tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Ada yang hobi memelihara burung untuk dilombakan suaranya hingga tingkat nasional. Ada yang hobi mengoleksi action figure, bentuk kecil tokoh tertentu yang harganya sangat mahal. Ada yang hobi mengoleksi perangko, meskipun surat-suratan sudah tidak zamannya lagi. Dan setiap hobi tersebut terdapat komunitasnya, ada kumpulan orang-orang yang memiliki kegemaran sama. Kesemuanya menghabiskan uang yang tak sedikit dan bagi yang bukan hobinya akan mengatakan: tidak masuk akal!

Tapi itulah keunikan jiwa serta hati manusia, yang terpuaskan oleh hal-hal unik dan menarik melalui berbagai kegemaran. Dan puncak kepuasan dahaga jiwa manusia adalah ketika dia menerima kebenaran spiritualitas ketuhanan, melalui agama, yang dalam konteks kita adalah menerima ajaran iman dan islam.

Mengapa bagi seorang manusia bukan akal yang menjadi ukuran kebenaran iman dan islam? Alasannya adalah karena terbatasnya akal manusia, sehingga ia belum mampu menerima hal-hal yang sangat tinggi keagungan hakikatnya. Kisah tentang penerbangan adalah contohnya.

Terdapat mitologi, kisah-kisah dewa masa lalu dari Yunani tentang seseorang yang bermimpi untuk terbang, bernama Icarus. Dia mencoba mengalahkan keterbatasan dengan mencoba untuk terbang. Dia susun sayap-sayap yang ia tempelkan dengan lilin. Namun begitu dia terbang terlalu tinggi, panas matahari kemudian mengalahkan rekatan lem. Jatuhlah ia dalam kesia-siaan kematian karena mencoba terbang.

Di dunia nyata, seorang ilmuan sekaligus seniman Italia bernama Leonardo Da Vinci, pada tahun 1493 membuat gambar sketsa kendaraan terbang. Gambarnya mirip-mirip dengan helikopter modern sekarang. Tapi baru 410 tahun kemudian, manusia baru benar-benar dapat terbang. Tepatnya pada 1903 Wright bersaudara berhasil menerbangkan pesawat bermesin dengan satu penumpang sekaligus pilot. Itupun hanya setinggi 259 meter selama 59 detik. Setelah 59 detik bersejarah tersebut pesawat jatuh dan hancur lebur. Saat ini tercatat secara global di seluruh dunia, terdapat 36,8 juta penerbangan di sepanjang tahun 2017. Dalam beberapa tahun ke depan beberapa negara maju sudah menargetkan dapat terbang ke luar bumi, untuk mencoba memulai kehidupan baru di Planet Mars.

Kisah penerbangan tersebut menggambarkan betapa lambatnya akal manusia memahami kemampuan terbangnya. Jika teknologi pesawat dikenal ketika Nabi SAW mengalami Isra’ Mi’raj, maka perjalanan semalam dari Makkah ke Palestina pulang pergi adalah sesuatu yang masuk akal. Tetapi karena saat itu akal manusia belum mencapai teknologi penerbangan, maka menerima Isra’ Mi’raj sebagai kebenaran adalah mustahil secara akal. Pilihannya hanyalah dua: percaya dan iman dengan sepenuh hati atau tak percaya sama sekali.

Tetapi jangan diartikan bahwa beragama hanya mengandalkan hati atau jiwa saja kemudian akal diabaikan. Sama sekali tidak! Justru sebaliknya, akal adalah anugerah terindah dari Allaah SWT kepada manusia, sebagai alat bantu meneguhkan keimanan. Percaya dengan hati sepenuhnya adalah 100%, maka dengan dukungan akal keimanan akan menjadi lebih kuat, bisa 110% atau bahkan 1000%. Ketika akal belum mampu memahami hakikat sebuah kejadian dari perspektif iman, maka kembalilah iman pada satu yang sempurna: 100%.

Sedikitnya ada dua tujuan mengapa akal dikaruniakan kepada manusia, yakni pertama memahami lingkungan sekitarnya untuk memenuhi kebutuhannya dan kedua, menangkap tanda-tanda kebesaran Allaah SWT yang terwujud di alam raya ini, yang tergambar di dalam berbagai makhluk ciptaan Allaah SWT.

Allaah berfirman di dalam surat al-Baqarah ayat 31,

وَعَلَّمَآدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا

Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya.

Ayat ini berkaitan dengan penjelasan Allaah SWT tentang penciptaan manusia sebagai wakil Allaah SWT di muka bumi, di mana kita semua diberi kemampuan akal untuk mengelola lingkungan sekitar: makan, minum, membuat pakaian, membangun rumah, bertani, berkebun, menambang minyak dan gas, mengambil dan mengolah berbagai bahan dari dalam bumi sehingga menjadi berbagai alat elektronik modern seperti saat ini. Manusia pula mampu menyesuaikan diri membentuk komunitas, kumpulan manusia, hingga bersepakat untuk bernegara. Inilah anugerah akal kepada manusia.

Sementara akal juga menguatkan iman dengan memahami fenomena alam: Siapa yang menciptakan bumi, bulan, dan matahari? Bagaimana benda langit yang sangat bisa saling memutar satu sama lain tanpa bertubrukan? Bagaimana laut yang begitu luas, gunung yang begitu tinggi, angin yang berhembus, dan hukum-hukum alam lain dapat berlangsung dengan keteraturan? Benar ada hukum yang menjadi sebab bagi terjadinya semua fenomena tersebut, tapi siapa yang menghendaki hukum-hukum tersebut ada dan terus berjalan selama berabad-abad? Tentu ada yang Maha-segalanya, Pencipta dan Pengatur Segenap Alam Raya dan seisinya, Dialah Allaah SWT.

Bencana Alam di Indonesia: Tinjauan Dua Perspektif

Begitu pula dengan sikap kita terhadap bencana gempa bumi, gunung berapi, maupun tsunami yang sangat berpotensi terjadi di Indonesia. Kita harus memahaminya dari dua sudut pandang, yakni agama dan akal, agar menjadi berimbang pemahaman kita.

Ditinjau dari segi agama, bencana alam adalah sebuah keniscayaan, sesuatu yang wajar terjadi, karena setiap detail kejadian di muka bumi ini di-kersakke, di bawah kendali, ditakdirkan, dan diizinkan oleh Allaah SWT untuk berlangsung.

…اَلْحَيُّ الْقيُّمُ…وَسِعَ كُرْسِيُهُ السَّمٰوَاتِ وَالْاَرْضْ…

… Maha-hidup dengan kehidupan yang kekal, terus menerus mengurusciptaan-Nya … Kursi (kuasa)-Nya mencakup langit dan bumi …

Lebih dari itu, setiap kejadian, lebih-lebih bencana alam, merupakan peringatan bagi setiap manusia, yang beriman maupun yang sedang durhaka kepada Allaah SWT. Bagi yang beriman, hikmah bencana alam adalah untuk lebih dekat lagi kepada Allaah SWT. Bagi yang durhaka, bencana alam adalah peringatan agar meninggalkan kedurhakaannya dan segera berubah menjadi manusia yang lebih taat.  Bahkan kejadian yang menyenangkan pun kita bisa menarik banyak hikmah, apalagi bencana alam yang lazimnya menimbulkan korban nyawa dan harta benda yang tak sedikit.

Namun demikian, sayangnya, setelah bencana di Lombok dan Palu kemarin, ada beberapa orang yang distempel ulama, justru menarik kesimpulan aneh ketika mengurai hikmah bencana alam. Bagi mereka, bencana alam di Indonesia adalah adzab atau siksa atas perilaku pemerintah yang mereka anggap zhalim kepada beberapa tokoh yang dianggap ulama versi mereka.

Kalau hadirnya bencana alam di Indonesia adalah karena kriminalisasi ulama, apakah berarti Jepang yang setiap hari mengalami gempa dan kadang pula tsunami, juga disebakan karena melakukan hal yang sama? Padahal yang dianggap ulama belum tentu ulama, tetapi hanya dai, orang yang menyampaikan ajaran agama, yang ditangkap karena diduga terlibat dalam masalah hukum.

Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, Nabi SAW bersabda tentang ayat ke-33 Surat al-Anfal. Nabi SAW ngendika,

أَنْزَلَ اللّٰهُ علَيَّ أَمَانَيْنِ لِأُمَّتِي، وَمَا كَانَ اللّٰهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيْهِمْ، وَمَا كَانَ اللّٰهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُوْنَ، فَإِذَا مَضَيْتُ تَرَكْتُ فِيْهِمْ الْاِسْتِغْفَارَ إِلَ يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

Allaah menurunkan untukku dua rasa aman bagi umatku, Dan Allaah sekali-kali tidak akan menyiksa mereka, sedang engkau (wahai Muhammad) berada di antara mereka. Dan tidak pula Allaah akan menyiksa mereka, sedang mereka memohon ampun, kalau aku telah pergi (wafat) aku meninggalkan buat mereka istigfar, hingga Hari Kiamat.

Kalimat wa anta fiihim, engkau (wahai Muhammad) berada di antara mereka, ditafsirkan bukan berarti selama Nabi Muhammad SAW hidup secara lahiriah, namun juga sepanjang masih ada orang yang bershalawat kepada Nabi SAW dan masih ada orang-orang yang menjalani ajaran Nabi SAW.

Dengan kata lain, bencana alam yang hadir di sebuah tempat bukanlah adzab dan bukan pula siksa dari Allaah SWT, selama masih ada penduduk muslim yang beristighfar. Sungguh keji mereka yang mengatakan kalau bencana Lombok dan Palu adalah adzab, karena artinya mereka menganggap tak ada lagi Islam dan istighfar di bumi Palu dan Lombok. Padahal Palu adalah bumi muslim, begitu pula dengan Lombok yang mendapat julukan Negeri Seribu Masjid. Bandara di Palu bernama Mutiara SIS al-Jufri, di mana SIS al-Jufri adalah nama ulama besar, habaib pendakwah di Palu, SIS yakni al-Maghfurlah Sayyid Idrus bin Salim al-Jufri. Sementara di Lombok terdapat ulama besar, al-Maghfurlah Tuan Guru Zainuddin Abdul Madjid, pendiri Nahdlatul Wathan, organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Nusa Tenggara Barat.

Sungguh, firman Allaah SWT tersebut merupakan penghormatan yang tinggi dari Allaah SWT kepada Nabi Muhammad SAW sekaligus pembuktian firman Allaah SWT bahwa diutusnya seorang Rasuulullaah SAW bermakna sebuah rahmat, kasih sayang yang besar bagi semesta alam dan seisinya tanpa kecuali.

Kemudian, jika ditinjau dari sudut pandang akal, maka bencana gempa bumi, gunung api, dan tsunami juga merupakan kewajaran yang alami. Indonesia kita mendapat julukan Negeri Cincin Api, The Ring of Fire, karena penampakan alamnya yang dikelilingi pegunungan-pegunungan aktif sekaligus titik-titik pertemuan permukaan bumi.

Indonesia adalah negara dengan gunung berapi terbanyak ketiga di dunia dengan 139 gunung api aktif, yang tersebar di Sumatera, Jawa, Sulawesi, hingga Maluku. Permukaan bumi terbagi dalam kulit-kulit bumi yang sangat besar dan Indonesia merupakan titik temu antara kulit bumi Pasifik dan Eurasian. Indonesia berada di posisi ketiga dalam jumlah kematian terbesar akibat gempa bumi (1900-2016) setelah Tiongkok (876 ribu jiwa), Haiti (222 ribu jiwa), Indonesia (198 ribu), baru disusul Jepang (194 ribu jiwa).

Hikmah dari memahami bencana gempa dari sudut pandang akal adalah bagaimana kita meminimalisir dampak gempa bumi. Bahasa yang sering digunakan adalah mitigasi bencana. Kenapa bukan mencegah bencana? Karena hadirnya gempa bumi adalah sebuah kepastian, baik dari sisi agama maupun akal.

Di Indonesia, proses mitigasi ini belum berjalan dengan  baik. Adanya tsunami atau tidak, dapat diputuskan lima menit sesudah kejadian gempa. Sebenarnya kita pernah memiliki alat deteksi yang diapungkan di tengah laut, sehingga cukup dua menit sesudah gempa, efek tsunami dapat diprediksi. Hanya saja alat ini hilang entah dicuri siapa.

Begitu pula mitigasi dengan menggunakan desain bangunan yang tahan gempa. Jepang telah mengembangkannya. Begitu pula Indonesia, melalui rumah berbahan kayu atau bambu. Namun kadang masyarakat kita belum memiliki pengetahuan yang baik tentang gempa, sehingga desain rumah tahan gempa ini diabaikan.

Pemerintah Daerah sebagai pemilik wewenang di tingkat lokal sebenarnya juga dapat memitigasi bencana dengan menetapkan daerah yang rawan bencana agar tidak menjadi hunian manusia, sehingga ketika bencana muncul, korban dapat diminimalisir. Kasus di Palu menjadi menakutkan karena daerah yang terkena likuifikasi –fenomena tanah yang secara tiba-tiba menjadi lumpur cair– telah meluluhlantakan pemukiman di atasnya. Padahal, potensi kejadian likufikasi tersebut telah diteliti sejak lama. Artinya, mengapa muncul pemukiman di atasnya, sementara sudah jelas adanya potensi bencana di lokasi tersebut. Di mana peran Pemerintah Daerah yang berwenang menerbitkan atau menolak izin pembangunan? Hal ini menjadi satu PR besar bukan hanya bagi Pemda Sulawesi Tengah (Provinsi, Kabupaten, Kota) tetapi juga bagi seluruh daerah yang memiliki potensi terjadinya bencana.

Demikianlah uraian tentang bencana bukan sebagai adzab atau siksa, tetapi sebagai peringatan bagi semua orang, lebih-lebih untuk mendekatkan diri kepada Allaah untuk memohon perlindungan melalui ketaatan pada ajaran agama dan bacaan istighfar serta shalawat, sekaligus menggerakkan akal secara maksimal untuk memitigasi bencana yang mungkin terjadi di seluruh wilayah Indonesia.

Peradaban Islam ala Indonesia: Menghimpun Keberagaman

Ketika muncul fatwa rokok sebagai sesuatu yang haram, NU sering diejek. NU dianggap tak berani dalam mengharamkan rokok dikarenakan para ulama NU banyak yang merokok. Ya memang benar adanya sih, bahwa banyak ulama NU yang merokok. Bahkan bagi seorang nahdliyin, kapabilitas untuk merokok adalah bagian dari keabsahan sebagai seorang nahdliyin. Terlepas dia kader maupun bukan.

Namun benarkah pertimbangan hukum NU tentang rokok hanya sebatas karena umat dan ulamanya juga perokok? Mari kita telusuri sejarahnya bersama.

Ketika Risalah Menghampiri

Revolusi peradaban oleh Islam dimulai ketika seorang Quraisy menerima wahyu dari Tuhan. Dialah yang kemudian selalu dipanggil oleh umatnya berurutan sesudah menyebut nama Tuhan setidaknya lima kali dalam sehari. Sayyidinaa Muhammad SAW.

Ketika pertama bertemu dengan Pembawa Pesan Agung, Malaikat Jibril ‘AS, Sayyidinaa Muhammad SAW terpaku. Tak dinyana, risalah pertama dari langit adalah kalimat perintah, Iqra`!, yang bermakna perintah untuk membaca, Bacalah! Sayyidinaa Muhammad SAW pun bertanya balik dengan balasan kalimat tanya, maa aqra`?, yang berarti: Apa yang harus saya baca?

Lantunan kalimat suci pun berlanjut: Iqra` bismirabbikalladzii khalaq, khalaqal insaana min ‘alaq; bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang mencipta, mencipta manusia dengan sesuatu yang bergantung di dinding rahim; dan seterusnya hingga ayat kelima.

Para penafsir menjelaskan kisah ini dengan sangat indah, sebagai cerminan amanah peradaban seorang muslim. Prof. Quraish Shihab, seorang penafsir nusantara menjelaskan bahwa pertanyaan dari Sayyidinaa Muhammad SAW merupakan kewajaran, sebab: (1) perintah membaca dari Malaikat Jibril ‘AS yang tidak lazim menurut tata bahasa Arab karena perintah tanpa objek, dan (2) Sayyidinaa Muhammad SAW yang buta huruf tak bisa membaca dan menulis aksara apapun.

Adanya perintah tanpa objek spesifik justru membawa pesan agung sebagai dasar risalah yang dibawa Islam: bacalah segala sesuatu yang terhampar di hadapanmu, tulisan maupun peristiwa, bacaan suci keagamaan maupun selainnya, selama konteksnya adalah sembari mengingat Tuhan yang menciptamu, bismirabbikalladzi khalaq.

Tafsir ayat berikutnya menjadi semakin indah, ketika Tuhan berfirman, khalaqal insaana min ‘alaq, mencipta manusia dengan sesuatu yang bergantung di dinding rahim, bahwa manusia berasal dari sesuatu yang bergantung pada sesuatu dan ia sampai kapanpun tak dapat berdiri sendiri tanpa manusia lain. Sungguh, mayat tak dapat menguburkan dirinya sendiri! Maka, kebutuhan spiritualitas berketuhanan adalah keniscayaan, namun ketergantungan kepada sesama manusia adalah realitas kehidupan.

Selanjutnya, perintah yang mula-mula turun ini perlu dikaitkan pula dengan menjelaskan sebuah firman Tuhan yang lain tentang awal penciptaan manusia. Malaikat yang bertanya mengapa Tuhan berencana mencipta makhluk yang menumpahkan darah, justru Tuhan menjadi pembela manusia dengan berfirman, wa ‘allama aadamal-asmaa-a kullaha, dan (Dia) mengajarkan kepada Adam nama benda semuanya. Tafsirnya, manusia berpotensi menumpahkan darah, namun manusia pula mampu mengembangkan alam di sekelilingnya untuk memenuhi kebutuhannya.

Maka inilah fitrah bagi seorang muslim yang sesungguhnya: berwawasan luas dan mendalam, baik spiritualitas berketuhanan maupun ilmu pengetahun dan teknologi modern, demi memenuhi kemaslahatan sesama manusia. Bahasa Tuhan menyebut, wa maa arsanalka illaa rahmatan lil-‘aalamin, dan Kami tidak mengutusmu (Sayyidinaa Muhammad SAW) kecuali menjadi rahmat, kasih, dan sayang, bagi semesta alam.

Islam di Negeri Seribu Pulau

Islam terus berkembang hingga kemudian mencapai Indonesia tercinta, yang pada masa lalu dikenal sebagai Nusantara. Peranan Dewan Wali Sembilan tak bisa dipungkiri menjadi faktor penting bagi cepatnya Islam berkembang di Nusantara. Salah satu prinsip yurisprudensi Islam yang digunakan oleh Dewan Wali Sembilan adalah muhafazhatu ‘ala qadiimish-shaalih, wal-akhdzu ‘ala jadiidil-ash-lah; memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik. Tradisi lama sebelum masuknya Islam dimodifikasi, dibersihkan dari hal-hal yang melanggar ketentuan dasar Islam, dikonversi menjadi tradisi baru yang lebih baik sebagai alat memperkenalkan Islam.

Peran Ulama sebagai penerus Dewan Wali Sembilan mulai mengglobal ketika suku-suku di jazirah Arab takluk di bawah penguasa tunggal Dinasti as-Saud dan memegang akses menuju dua kota suci, Makkah al-Mukarramah (Makkah yang Penuh Kemuliaan) dan Madinah al-Munawwarah (Madinah yang Penuh Cahaya), di mana Saudi berencana menyeragamkan praktek ibadah di kedua kota tersebut, terbentuklah Komite Hijaz untuk berunding dengan otoritas Saudi agar urung mewujudkan penyeregaman tersebut. Inilah embrio terbentuknya organisasi Islam terbesar di Indonesia, bahkan di dunia, yakni Nahdlatul-‘Ulama` (NU) atau Kebangkitan Ulama.

Penghargaan NU kepada Dewan Wali Sembilan tercermin dalam lambang NU yang antaranya memiliki sembilan bintang, representasi keberadaan Dewan Wali Sembilan. Lima bintang di atas adalah simbol Sayyidinaa Muhammad SAW dan empat sahabat utama beliau, yakni Sayyidinaa Abu Bakar, Sayyidinaa ‘Umar, Sayyidinaa ‘Utsman, dan Sayyidinaa ‘Ali, sementara empat bintang di bawah adalah gambaran empat ulama besar dalam yurisprudensi Islam, yakni Imam Malik, Imam Hanafi, Imam Syafi’i, dan Imam Hambali.

NU, Kebangsaan, dan Kenegaraan

Salah satu peran nyata NU bersama umat Islam kepada Indonesia adalah penerimaan Pancasila sebagai Dasar Negara. Ketika perwakilan tokoh dari Indonesia bagian timur menolak tujuh kata dalam Piagam Jakarta, Islam yang salah satunya diwakili oleh NU, kemudian memilih mengalah. Tujuannya adalah demi terbentuknya negara. Imam Ghazali menulis dalam Ihya ‘Ulumiddin (Menghidupkan Keberagamaan):

al-mulku wad-diin taw-amaani, kekuasaan dan agama merupakan dua saudara kembar;

fad-diiny ashluw-was-sulthaanu haarisun, agama sebagai landasan dan kekuasaan sebagai pengawalnya;

wa maa laa ashlalahu famahduumun, sesuatu tanpa landasan pasti tumbang;

wa maa laa haarisalahu fadlaa-i-‘un, sedangkan sesuatu yang tak punya pengawal akan tersia-siakan.

Para tokoh Islam dan NU pada 1945 sadar, bahwa negara dan agama adalah saudara kembar yang saling membutuhkan. Maka pilihan terbaik adalah memenuhi permintaan tokoh Indonesia bagian Timur, demi terbentuknya sebuah negara kebangsaan, Indonesia berdasarkan Pancasila.

Sesudah dinamika yang sangat pelik hubungan NU dengan berbagai kelompok politik pada periode 1945 sampai dengan munculnya Orde Baru, hubungan Pancasila dengan Islam diteguhkan kemudian oleh NU melalui Munas Alim Ulama NU tahun 1983 di Situbondo. Meskipun secara politik didorong oleh pemerintah agar menerima Pancasila sebagai azas tunggal, momen ini menjadi kesempatan bagi NU untuk menguatkan Pancasila sebagai jalan tengah demi bersatunya kebangsaan Indonesia. Keputusan Munas tersebut berbunyi:

  1. Pancasila sebagai dasar dan falsafah Negara Republik Indonesia bukanlah agama, tidak dapat menggantikan agama dan tidak dapat dipergunakan untuk menggantikan kedudukan agama.

  2. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai dasar Negara Republik Indonesia menurut pasal 29 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945, yang menjiwai sila-sila yang lain, mencerminkan tauhid menurut pengertian keimanan dalam Islam.

  3. Bagi Nahdlatul Ulama, Islam adalah aqidah dan syari’ah, meliputi aspek hubungan manusia dengan Allah dan hubungan antar manusia. Penerimaan dan pengamalan Pancasila merupakan perwujudan dari upaya ummat Islam Indonesia untuk menjalankan syari’at agamanya.

  4. Sebagai konsekuensi dari sikap di atas, Nahdlatul Ulama berkewajiban mengamankan pengertian yang benar tentang Pancasila dan pengamalannya yang murni dan konsekuen oleh semua pihak.

Sederhananya, NU menjalankan Islam sebagai ajaran agamanya dalam berbagai lini kehidupan. Khusus untuk lini kehidupan bernegara, berbangsa, dan bermasyarakat, bagi NU, ajaran Islam tercermin dalam Pancasila.

Pada periode 1980-1990 tersebut pula tercetuslah empat prinsip utama bagi warga NU dalam menyikapi berbagai persoalan yang dihadapi: (1) tawasuth atau pertengahan, (2) tawazun atau keseimbangan, (3) tasamuh atau toleransi, dan (4) i’tidal atau keadilan. Empat sikap ini bukan karangan NU, tetapi diambil dari berbagai sumber hukum Islam.

Sikap pertengahan atau tawasuth, misalnya, diambil dari firman Tuhan, wa kadzaalika ja’alnaakum ummataw-wasathaa, dan demikian Kami menjadikan kamu umat pertengahan. Kata wasit dalam bahasa Indonesia, diserap dari kata yang sama, tawasuth. Sebagai ilustrasi tentang makna sikap pertengahan, misalnya: (1) pemberani adalah pertengahan antara penakut dan nekat, (2) dermawan adalah pertengahan antara kikir dan boros.

Menjelaskan Beberapa Sikap NU: Refleksi atas Konsistensi

Beberapa peristiwa mutakhir menunjukkan konsistensi NU sebagai representasi Islam yang fleksibel namun tak meninggalkan nilai dasar spiritualitas keagamaan, di antaranya adalah sebagai berikut:

  1. Hukum Haram Rokok

NU memilih diam terhadap hukum rokok, atau maksimal menghukuminya sebagai makruh (tidak disukai), karena kehati-hatian. Konsekuensi hukum haram adalah serangkaian yang menuju kepadanya dan bersumber darinya juga harus dimaknai haram. Hukum haram rokok bermakna seluruh rantai suplai rokok, sejak dari petani tembakau, karyawan produksi rokok hingga penjualnya, cukai dan pajak rokok, serta semua uang yang berkaitan dengannya berhukum haram. Betapa mengerikannya negeri ini dipenuhi dengan keharaman yang bertubi. Bahkan saat ini, jika rokok dihukumi sebagai haram, maka sebagian pembiayaan jaminan kesehatan nasional dalam waktu dekat akan menjadi haram karena bersumber dari cukai dan pajak rokok.

Maka bagi NU, keharaman rokok belum mutlak, selama belum ditemukan solusi komprehensif dalam mengalihkan industri rokok yang berukuran massif kepada lapangan pekerjaan lain yang sepadan. Inilah sikap tawasuth, (pertengahan yang tidak ekstrim), memperhatikan semua aspek (tawazun atau keseimbangan informasi), dan penuh keadilan bagi semua pihak.

  1. Keterlibatan NU pada Pembelaan terhadap Penghayat Kepercayaan, Keturunan PKI, Ahmadiyah, dan Syiah

Salah satu lembaga di NU, Lembaga Kajian dan Pengembangan SDM NU (LAKPESDAM-PBNU) terlibat aktif di dalam pembelaan hukum maupun rekonsiliasi sosial terhadap masyarakat di berbagai daerah.

Kasus kolom agama bagi penghayat kepercayaan didasari pada hak dasar para penghayat yang dipaksa masuk ke salah satu dari enam agama agar dapat menikah atau lulus ujian sekolah.

Kasus bekas tahanan politik PKI dan keluarganya terjadi di Gunungkidul, ketika mereka termarginalkan secara sosial, tak dianggap sebagai manusia sepadan, sehingga terbelenggu oleh kemiskinan, bahkan oleh aparatur pemerintah setingkat dusun sekalipun, karena tidak mendapatkan jatah beras miskin.

Kasus kekerasan dan pengusiran pemeluk Ahmadiyah dan Syiah jelas menghilangkan hak bertempat tinggal dan hak hidup mereka, padahal di tempat itulah mereka berada sejak lahir dan tumbuh dewasa.

NU bukan hadir untuk membenarkan ajaran penghayat kepercayaan, bukan pula membangkitkan kembali PKI, apalagi menumbuhakn ajaran Ahmadiyah ataupun Syiah. Bagi NU perbedaan keyakinan setiap insan adalah keniscayaan yang dijamin oleh negara dan NU turut memperjuangkan mereka yang termarginalkan untuk memperoleh hak-hak dasarnya sebagai warga negara Indonesia. Inilah prinsip i’tidal atau keadilan untuk semua yang dijunjung oleh NU.

  1. Kasus Penistaan Agama oleh Basuki Tjahaja Purnama

Ketika sidang berlangsung, ada dua tokoh NU yang berseberangan. KH Ma’ruf Amin sebagai saksi ahli yang diajukan oleh jaksa dan Kiai Ahmad Ishomuddin sebagai saksi ahli dari pihak terdakwa. Kedua ulama tersebut mumpuni di bidang yurisprudensi Islam, sama-sama berada di Lembaga Tinggi (Syuriyah) Pengurus Besar NU, hanya berbeda senioritas. Uniknya, keduanya tidak saling mengusir dari PBNU, tidak pula kemudian bermusuhan, meskipun berlawanan pihak di persidangan. Peristiwa ini menggambarkan empat bintang dalam lambang NU yang mewakili empat Imam besar dalam yurisprudensi Islam yang diterima keberagaman pendapatnya dalam NU: beragam pendapat itu biasa dan sangat lazim, namun kerukunan adalah kunci.

 Islam ala Indonesia untuk Dunia

Terdapat kata kunci yang menyelimuti sekelumit sejarah NU sebagai organisasi Islam asli Indonesia: musyawarah dan konsensus. Dua password ini sesungguhnya merupakan sifat universal yang telah dipraktekkan sejak lama di berbagai peradaban, termasuk peradaban Nusantara pra-Islam dan maupun oleh Islam sendiri, walaupun prakteknya di dalam umat Islam masa kini belum ideal sama sekali. Timur Tengah misalnya, meskipun memiliki keragaman yang sangat sedikit dalam hal budaya, suku, bahasa, dan agama, wilayah tersebut tak pernah lepas dari konflik yang menumpahkan darah. Negeri tempat lahir dan tumbuhnya Islam hingga mencapai puncak kejayaannya, masyarakatnya tak pernah mencapai konsensus dan beralih ke senjata sebagai solusi. Sampai detik ini.

Oleh karenanya, sejak 2015 NU mengusung Islam Nusantara sebagai tagline-nya. Bukan mengusung ibadah baru, bukan pula syariat anyar, tapi memperkenalkan praktek Islam yang bermartabat, menjunjung tinggi musyawarah dan konsensus, tanpa meninggalkan pondasi dasar Islam, demi meraih kemaslahatan seluruh manusia, yang selama ini sedang dan terus diperjuangkan di Kepulauan Nusantara, Indonesia kita tercinta. Islam yang mampu menghimpun keberagaman.

Sebuah kaidah yurisprudensi Islam menyatakan, maa laa yudraku kulluhu, laa yutraku kulluhu; sesuatu yang tidak bisa dikerjakan seluruhnya, tidak ditinggalkan seluruhnya. Jika dimaknai dalam konteks salat, kaidah ini mendorong kita untuk tetap salat meskipun dalam keadaan sakit, karena sembari duduk, berbaring, bahkan hanya isyarat pun, salat bisa dikerjakan.

Sebagai generasi milenial yang sedang berproses menerima estafet kepemimpinan bangsa, kaidah tersebut memberikan peluang bagi kita untuk terus berjuang sesuai dengan kemampuan kita. Indonesia sebagai negeri berpenduduk muslim terbesar di dunia memiliki potensi untuk memperkenalkan Islam Nusantara ke penjuru dunia. Negara dan PBNU bertugas menyampaikannya kepada khalayak internasional.

Sementara kita, setiap individu bersama-sama dengan kelompok masyarakat, berperan dalam membumikannya menjadi praktek-praktek di dunia nyata, sesuai dengan jangkauan ruang dan waktu yang kita miliki, sesuai dengan bidang keahlian kita masing-masing. Semoga Tuhan memudahkan ikhtiar kita bersama menuju Indonesia yang bermaslahat. Aamiin.

Makna Komprehensif Ketakwaan dalam Ibadah Puasa

Puasa merupakan ibadah yang dilakukan oleh berbagai agama dan kepercayaan sepanjang sejarah umat manusia. Dalam konteks umat Islam, puasa “bertujuan untuk memperoleh takwa” (la-‘allakum tattaqun), di mana tujuan tersebut dapat dicapai dengan menghayati arti puasa itu sendiri. Menghayati makna dan arti puasa, membawa kita untuk memahami tentang dua hal pokok menyangkut hakikat penciptaan manusia dan kewajibannya di muka bumi. Apa dua hal pokok tersebut?

Pertama, manusia diciptakan oleh Tuhan dari tanah, kemudian dihembuskan kepadanya Ruh ciptaan-Nya, dan diberikan potensi untuk mengembangkan dirinya hingga mencapai satu tingkat yang menjadikannya wajar untuk menjadi khalifah (pengganti) Tuhan dalam memakmurkan bumi ini (al-Baqarah ayat 30).

 photo takwa komprehensif-1_zpsscmr8rpl.png

Lebih dari itu, pada ayat 31 dijelaskan bahwa Allaah Ta’aala memberikan

 photo takwa komprehensif-2_zpsqabknzoa.png

sebagai bekal untuk memakmurkan bumi. Kalimat wa ‘allama aadamal-asmaa-a kullahaa secara bahasa berarti mengajarkan nama-nama benda seluruhnya atau ditafsirkan sebagai anugerah mengenal teknologi untuk kemaslahatan manusia.

Kedua, dalam perjalanan manusia ke bumi, ia (Nabi Adam ‘AS) melewati (transit) di surga, agar pengalaman yang diperolehnya di surga tersebut dapat menjadi modal dalam menyukseskan tugas pokoknya di muka bumi. Bahasa mudahnya, peristiwa transitnya Nabi Adam ‘AS sebagai leluhur manusia di surga, berfungsi untuk mendorong umat manusia menciptakan bayangan surga di bumi. Begitu pula dengan pengalaman tergoda oleh syaithan, mendorong untuk bersikap hati-hati agar tak lagi terpedaya, sehingga tidak terulang kejadian pahit yang terasa ketika terusir dari surga.

Hadirin rahimakumullaah, berbeda dengan Tuhan, manusia memiliki banyak kebutuhan yang secara garis besar dikelompokkan menjadi lima kebutuhan pokok: (1) kebutuhan fa’ali (makan, minum, dan hubungan suami-istri), (2) kebutuhan ketenteraman dan keamanan, (3) kebutuhan keterikatan pada kelompok, (4) kebutuhan akan rasa penghormatan, dan (5) kebutuhan akan pencapaian cita-cita.

Kebutuhan yang lebih akhir tidak akan mendesak seseorang sebelum kebutuhan pertam terpenuhi. Bahkan seseorang bisa saja mengorbankan kebutuhan berikutnya bila kebutuhan sebelumnya belum terpenuhi. Dan sebaliknya, ketika seseorang mampu mengendalikan dirinya dalam memenuhi kebutuhan pertama, akan dengan mudah mengendalikan kebutuhan-kebutuhan di daftar berikutnya.

Puasa adalah bagian upaya manusia menjadi wakil Allaah di muka bumi (khalifatullaah) melalui meneladani dua sifat Tuhan:

(1) tidak makan-minum (al-An’am ayat 14):

 photo takwa komprehensif-3_zps8uafbpqn.png

(2) tidak berpasangan (al-An’am ayat 101)

 photo takwa komprehensif-4_zpsxobtm6io.png

Meneladani sifat Tuhan ini tentu saja sesuai dengan batasnya sebagai manusia dan tidak hanya terbatas pada kedua hal tersebut, tapi juga sifat Tuhan lainnya.

Sifat Allaah yang Maha-pengampun dan Maha-pemaaf, misalnya, dianjurkan untuk dibaca banyak-banyak sepanjang Ramadlan: allaahumma innaka ‘afuwwun, tuhibbul afwa fa’-fu-‘anni, Wahai Allaah sesungguuhnya Engkau Maha-pemaaf dan menyukai permintaan maaf, maka ampunilah aku. Teladan bagi manusia: sifat Allaah ini berkesan di dalam hati kita yang mengucapkan, sehingga mau memaafkan sesama manusia.

Sifat Allaah yang Maha-hidup diteladani dengan bagaimana kita meninggalkan nama baik yang selalu dikenang, sekalipun telah meninggal dunia.

Sifat Allaah ar-Rahmaan, yakni pelimpah kasih bagi seluruh makhluk dalam kehidupan dunia, mendorong manusia yang berpuasa untuk melatih memberi kasih kepada semua makhluk tanpa kecuali. Sementara ar-Rahiim, yakni pelimpah rahmat di Hari Kemudian, memotivasi kita yang berpuasa agar memberi kasih kepada saudara-saudara seiman sambil meyakini bahwa tiada kebahagiaan sejati kecuali rahmat Allaah di Hari Akhir kelak.

Sifat Allaah al-Qudduus, Yang Maha-suci, menyemangati orang yang berpuasa untuk menyucikan diri lahir dan batin, serta mengembangkan diri sehingga selalu berpenampilan indah, baik, dan benar. Sedangkan peneladanan sifat al-Kariim, Yang Maha-pemurah, mengajak manusia agar menjadi seorang dermawan.

Demikian seterusnya dengan sifat-sifat Allaah lainnya, yang harus dihayati esensinya untuk diteladani sesuai dengan kemampuan kita sebagai manusia. Alhasil, fungsi kita sebagai wakil Allaah di muka bumi dengan mencontoh sifat-sifat Allaah akan mampu mewujudkan makmurnya bumi, yakni sumber kemashlahatan manusia dan seluruh makhluk penghuninya, termasuk hewan dan tumbuhan.

Hadirin rahimakumullah.

Ilmu modern saat ini menekankan keseimbangan pada tiga jenis kecerdasan manusia: intelektual, spiritual, dan emosional. Islam memiliki konsep yang sama, sebagaimana disampaikan dalam buku Membumikan al-Qur`an Jilid Kedua.

Kecerdasan spiritual diwakili oleh iman manusia. Iman kepada wujud Tuhan Allaah SWT akan melahirkan makna hidup dan memperhalus budi pekerti bagi manusia. Tak ada lagi kesombongan karena adanya Yang Maha-tinggi dan Maha-agung. Tak akan ada lagi kecintaan pada dunia yang melekat ke dalam hati, tak  akan ada lagi keinginan berkata, berperilaku, dan berprasangka buruk, karena mengimani adanya pengadilan di Hari Akhir kelak. Dan dalam konteks ibadah puasa, iman adalah syarat utama, karena perintah puasa ditujukan kepada mereka yang beriman: yaa ayyuhalladzina aamanu.

Kecerdasan emosional dalam Islam, selain diwakili oleh banyak bagian dalam ajaran Islam, secara khusus juga diwakili oleh ibadah puasa itu sendiri. Hawa nafsu manusia di satu sisi menjadi pendorong bagi banyak aktivitas positif: bekerja mencari penghidupan untuk keluarga, membahagiakan istri, suami, anak, dan orang tua, dan seterusnya.

Sebagaimana Allaah berfirman di al-Qur`an surat Aali ‘Imraan 14:

 photo takwa komprehensif-5_zpsbji3bpiz.png

Tetapi ketika hawa nafsu tidak dikendalikan –di mana salah satu pengendaliannya adalah dilatih dengan ibadah puasa– hawa nafsu akan merusak. Seks, jika diperindah oleh syaithan akan menjadi tujuan, tidak peduli dengan siapa dilakukan. Kecintaan pada anak, jika diperindah syaithan akan muncul subjektivitas berlebihan: atas nama cinta akan membela anak sekalipun salah atau bahkan telah melanggar ketentuan hukum. Dan harta, jika diperindah syaithan, akan memperdaya kita: dengan cara apapun harus didapatkan, terus menumpuk harta hingga melupakan fungsi sosialnya. Na’udzubillaahi min dzalik.

Hadirin rahimakumullaah.

Maka, kecerdasan emosional diwakili oleh ketakwaan kita. Ketakwaan kepada Allaah dapat dimaknai sebagai usaha keras manusia untuk menjalankan setiap perintah Allaah sekaligus secara bersamaan menjauhkan diri semua yang dilarang Allaah Tabaraka wa Ta’aala. Seseorang yang berusaha untuk selalu taat secara demikian, membutuhkan kematangan emosi: kesadaran sepenuhnya akan agama dan ketuhanan.

Seorang anak dilatih berpuasa untuk tidak makan karena ia diperintah dan diberi contoh dari orang tuanya. Seiring berjalannya waktu, ketika iman telah melingkupi hati sang anak, bukan sekedar karena perintah orang tua, ia akan menyadari itu merupakan perintah Allaah melalui tuntunan agama Islam. Inilah kematangan emosi, buah dari keimanan, kecerdasan spiritual.

Ketakwaan bukan hanya meningkat dengan pelatihan-pelatihan rutin yang diwajibkan Allaah melalui puasa Ramadlan, tetapi juga dapat meningkat seiring dengan peningkatan kecerdasan intelektual seorang manusia, karena kecerdasan intelektual di antaranya adalah mengandung hikmah.

Hikmah diartikan sebagai sesuatu yang bila digunakan/ diperhatikan akan mendatangkan kemanfaatan dan kemudahan yang besar atau lebih besar, serta menghalangi terjadinya kerusakan atau kesulitan besar atau yang lebih besar. Makna ini ditarik dari kata hakamah, yang berarti kendali, karena kendali menghalangi hewan/kendaraan mengarah ke arah yang tidak diinginkan atau menjadi liar. Memilih perbuatan yang terbaik dan sesuai, atau bahkan memilihnya (terbaik dan sesuai) di antara dua hal yang buruk pun dinamai hikmah, dan pelakunya disebut hakiim (bijaksana).

Hikmah juga dimaknai sebagai (1) himpunan segala ucapan atau pengetahuan yang mengarah pada perbaikan keadaan dan kepercayaan manusia secara bersinambung, dan (2) sesuatu yang mengena kebenaran berdasar ilmu dan akal, yakni kebenaran yang tidak mengandung kelemahan dan tidak pula kekaburan.

Pengetahuan, termasuk hikmah, adalah cahaya yang Allaah limpahkan kepada siapapun yang mempersiapkan diri untuk meraihnya. Ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai bentuk penerapannya mampu mengalami kemajuan ketika adanya kondisi yang mendorongnya untuk dikembangkan. Dalam hal ini, sesungguhnya al-Qur`an memberikan peluang bagi ilmu pengetahuan dan teknologi agar dikuasai oleh umat Islam. Sebagaimana firman pertama dari Allaah Tabaraka wa Ta’aala kepada Nabi Muhammad SAW yang turun di bulan Ramadlan: iqra bismirabbika-lladzi khalaq, bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang Mencipta, yang perintah membaca ini tidak terbatas pada bacaan keagamaan saja, tetapi kepada semua hal yang dapat dibaca, selama dalam koridor menyebut nama Tuhan Sang Pencipta, yakni menjaga kesinambungan makhluk hidup, atau dengan kata lain bermashlahat untuk manusia dan makhluk hidup lainnya.

Hadirin rahimakumllaah.

Pengetahuan dan hikmah akan mengungkap banyak hal yang tercakup akal di dalam perintah-perintah yang Allaah berikan, sehingga akan memantabkan perjalanan takwa kita. Tanpa cakupan akal, cukuplah spiritualitas dan keimanan yang mendorong kita untuk menjalankan perintah Allaah dan menjauhi larangan Allaah, sebagaimana imannya Sayyidinaa Abu Bakar RA terhadap peristiwa Isra’ Mi’raj. Namun Allaah pun memberikan peluang kepada kita untuk mengembangkan pengetahuan dan hikmah, untuk memperkuat iman dan takwa kita.

Demikianlah makna dari puasa di bulan Ramadlan yang mencakup pelatihan terhadap tiga kecerdasan manusia secara simultan, untuk meraih derajat tertinggi di sisi Allaah, yakni ketakwaan (inna akramakum ‘indallaahi atqakum). Dan ketakwaan yang merupakan bentuk pengabdian kepada Allaah Tabaraka wa Ta’aala akan menjadi semakin sempurna ketika difungsikan sebagai bekal kita dalam menjalani peran sebagai khalifatullaah fil ardl, wakil Allaah untuk mewujudkan kemashlahatan umat manusia dan seluruh makhluk ciptaan Allaah di muka bumi.

Mengurai Hikmah Tragedi Mako Brimob: Islam adalah Kedamaian

Alhamdulillaah, tragedi di Mako Brimob sudah selesai. Ada evaluasi yang harus dilakukan, terutama di manajemen penjara beserta perangkat keamanannya. Pemerintah harus mengakui (serta memperbaikinya, tentu saja) bahwa sebagian pemicunya adalah kedua hal tersebut.

Namun demikian, tidak berarti kita melegalkan kekerasan yang dilakukan oleh para teroris itu. Apalagi membela perilaku keji ini dengan dalih apapun. Bahkan termasuk tuduhan pencitraan kubu politik yang sedang memegang amanah pemerintahan RI. Jika sampai ada yang menyampaikan hal tersebut (tuduhan pencitraan), bagi saya, sungguh telah mati nuraninya. Sementara kepada anggota kepolisian yang gugur dalam tugas, semoga Allaah Ta’aala mengganjar kalian dengan rahmat-Nya yang Maha-agung dan Menyeluruh.

Selain itu, sebagai masyarakat bangsa dan negara, kita juga harus semakin sadar bahwa kejahatan atas nama Islam itu nyata keberadaannya.

Islam tak pernah mengajarkan kekejian, bahkan dalam keadaan perang sekali pun. Namun pembela dan pelaku atas tafsir selain itu benar-benar ada dan hidup berkembang di Indonesia kita tercinta.

Tidak semua yang kritis kepada pemerintah dan/atau bahkan yang anti-negara NKRI berafiliasi dengan para pembajak Islam tersebut, tapi realitasnya, para pembajak Islam alias teroris-teroris itu, memanfaatkan kedua kubu tersebut dengan narasi-narasi cantik nan (seolah-olah) mulia: Islam terzhalimi. Lebih jauh lagi, teroris-teroris tak berperasaan ini dengan percaya diri sering menggunakan isu HAM dengan berlebihan, sedemikian rupa sehingga, pemerintah dan negara yang sedang menegakkan hukum adalah pelanggar HAM terberat di dunia.

Begitu pula dengan isu anti-Amerika Serikat (US). Benar bahwa sejarah terorisme modern berkaitan erat dengan peran US pada masa perang dingin melawan Uni Soviet dengan meradikalkan sebagian kecil umat Islam atas nama perjuangan anti-Soviet. Benar pula, bahwa saat ini pengaruh US kepada semua pemerintah dan negara di seluruh penjuru dunia itu eksis.

Tapi sungguh sebuah kebodohan jika terorisme atas nama Islam di negeri kita digambarkan sebagai sebuah garis lurus perintah/koordinasi antara US, Indonesia, dan terorisme itu sendiri, dengan mengabaikan faktor-faktor lain yang sangat kompleks dan rumit.

Mengapa bodoh? Karena tidak mau berpikir menguraikan persoalan yang sesungguhnya dan memilih sebodoh-bodohnya sikap: memosisikan diri sebagai korban kemudian menunjuk orang lain sebagai pelaku, dengan kata “pokoknya” sebagai penekanan.

Sungguh sikap yang bertentangan dengan ajaran al-Qur’an tentang anjuran untuk berubah dengan ikhtiarnya sendiri.

Maka mari bersama-sama, kita berusaha menjalankan Islam dengan baik dan benar sembari terus memberikan kontribusi terbaik bagi bangsa dan negara melalui kritik konstruktif yang solutif sebagai bentuk nyata ikhtiar untuk meningkatkan kualitas kehidupan umat manusia.

Terakhir, saya ingin mengingatkan pentingnya sebuah institusi negara dlm kehidupan keagamaan dan spritualitas umat, sebagaimana dibahas dalam konferensi internasional ulama thariqah sedunia bertemakan “Bela Negara: Konsep dan Urgensinya menurut Islam”, di Pekalongan 2016 yg lalu.

Hasilnya ada sembilan poin penting, yang empat di antaranya akan saya kutip sebagai penutup tulisan ini:

Pertama, negara adalah tempat tinggal di mana agama diimplementasikan dalam kehidupan.

Kedua, bernegara merupakan kebutuhan primer dan tanpanya kemaslahatan tidak terwujud.

Ketiga, bela negara adalah di mana setiap warga merasa memiliki dan cinta terhadap negara sehingga berusaha untuk mempertahankan dan memajukannya.

Keempat, bela negara merupakan suatu kewajiban seluruh elemen bangsa sebagaimana dijelaskan Al-Quran dan Hadis.

Demikian, semoga bermanfaat.

Blunyah Gede, Yogyakarta, 10 Mei 2018,
Ahmad Rahma Wardhana.