Islam Nusantara dalam Konteks Konsensus Kebangsaan

~ Jika pemahaman Islam Nusantara diambil dari perspektif konsensus kebangsaan yang diperkaya dengan sejarah dan hikmah atas keadaan politik Timur Tengah dan bangsa Arab dewasa ini, insya-Allaah mau tak mau kita akan menyetujuinya. ~

Salah satu kekecewaan kepada bangsa Arab dan kawasan Timur Tengah adalah kegagalannya dalam menyelesaikan permasalahan kenegaraan dan kebangsaan di kawasan, padahal karakteristiknya relatif homogen, yakni (1) keragaman etniknya kecil, (2) agama mayoritas Islam, (3) berada di satu wilayah daratan yang luas, (4) berbahasa tunggal (Arab), dan (5) memiliki kekhasan budaya yang sangat mirip satu sama lain.

Di zaman Perang Teluk, ketika Irak menyerang Kuwait yang berbatasan dengan Saudi, ulama dari kedua negara (Irak dan Saudi), yang sama-sama Islam Ahlus-Sunnah berfatwa untuk saling menghalalkan darahnya.

Inikah cerminan Islam Rahmatan lil—’aalamiin?

Di zaman sekarang, Irak masih semrawut. Mayoritas Islam. Ada Syiah, ada Sunni, dan ada pula etnis Kurdi. Etnik Kurdi sendiri, merupakan etniknya Salahuddin al-Ayyubi yang sangat tenar itu, tersebar di mana-mana dan terkesan di anak-tirikan di berbagai negara berpenduduk muslim, seperti Irak, Suriah, dan Turki. Kesemrawutannya bukan main-main: perbedaan kepentingan dalam kekuasaan (politik) disikapi dengan pembunuhan massal lewat bom dan senjata.

Inikah cerminan Islam Rahmatan lil—’aalamiin?

Suriah yang sedang dilanda perang saudara sesama muslim. Banyak faksi politik, punya kepentingan masing-masing, semua ngaku Islam. Dan kepentingan pun ditegakkan dengan bom serta senjata.

Ulama besar Suriah, al-Maghfurlah Syaikh Ramadlan al-Buthi, sebelum konflik membesar dan hanya berupa demonstrasi, terus menerus menyuarakan rekonsiliasi nasional, tapi tak pernah didengar oleh para elit muslim yang punya kepentingan. Sampai detik ini, sekitar 6 juta penduduk terkatung-katung di dalam negeri Suriah dan 5 juta jiwa lainnya tersebar di luar Suriah. Semua yang berkepentingan mengatasnamakan penegakan agama Islam.

Inikah cerminan Islam Rahmatan lil—’aalamiin?

Saudi, Bahrain, Uni Emirat Arab, Senegal, Maroko, dan Sudan sedang berkonflik dengan Yaman sekaligus bersitegang dengan Qathar yang sebelumnya berada di koalisi Saudi namun belakangan pecah kongsi. Yaman sendiri sedang perang saudara. Alasannya perebutan kekuasaan politik. Ada Sunni, ada Syiah, ada pula al-Qaeda. Semua pihak, Saudi, Yaman dengan berbagai faksinya, dan Qathar, mayoritas muslim dan sedang berperang.

Inikah cerminan Islam Rahmatan lil—’aalamiin?

Fakta di atas adalah salah satu penyebab mengapa muncul gagasan Islam Nusantara. Bandingkan dengan kondisi kita sebagai bangsa yang masih utuh dan bersatu, meskipun beberapa spesifikasinya berbeda dg Timur Tengah: mayoritas Islam, terpisah lautan, penduduk besar dan beragam suku, bahasa, hingga budaya.

Maka Islam Nusantara diperkenalkan oleh NU, menurut saya, yang diunggulkan adalah Islam sebagai sebuah solusi kebangsaan, konsesus membentuk negara yang berorientasi kepada umat. Islam yang benar-benar rahmatan lil-‘aalamiin karena memprioritaskan musyawarah dalam menyelesaikan masalah, terutama bagaimana kepentingan politik kekuasaan dikelola oleh Indonesia yg mayoritas muslim.

Itulah kenapa NU mendeklarasikan hubungan Pancasila dengan Islam pada 1983 sebagai pedoman umat dalam berbangsa dan bernegara. PBNU juga mengantarkan 12 ulama Afghanistan ke UGM pada 2013 untuk belajar Pancasila. Kemudian Pekalongan menjadi tuan rumah Konferensi Ulama Thariqah Se-dunia dengan tema Bela Negara pada 2016. Dan pada 2018 ini ada Konferensi Ulama Indonesia, Afghanistan, dan Pakistan di Bogor, serta kehadiran ulama Indonesia ke Irak beberapa minggu yg lalu. NU, Islam Indonesia, Islam Nusantara serius berperan dalam perdamaian kebangsaan.

Hanya saja dimensi ini dikaburkan oleh mereka yang benci dengan NU. Mengapa? Karena kalau umat sadar dengan ini, terutama kalangan NU sendiri yang berbasis di pedesaan serta intelektual mudanya di perkotaan, maka habislah kepentingan politik mereka. Ora payu alias tidak laku.

NU yang berpegang pada empat prinsip (tawasuth atau pertengahan, tawazun atau keseimbangan, tasamuh atau tepa selira, dan i’tidal atau keadilan) akan memandang persoalan dengan objektif serta fokus pada fakta dan data. NU mendorong ikhtiar untuk menelaah persoalan dari beragam perspektif, sebelum memutuskan arah politiknya.

Bagaimana agar objektivitas ini kabur dan hilang? Serang dengan subjektivitas: kebencian membabi buta, kebencian pada perbedaan pendapat, kebencian pada tokoh NU, kebencian pada tokoh bangsa. Ketika berbeda, habisi dengan hujatan dan kata-kata kasar, tidak perlu melihat konteksnya atau objektivitasnya.

Agar massif, serang lewat sosial media. Tujuan lain lewat sosial-media  adalah agar masyarakat yang belum lama melek internet, termasuk kalangan NU di pedesaan yg belum kenal hoax dan objektivitas informasi, agar beralih ke subjektivitas dan keluar dari empat prinsip NU. Maka dalam hal ini, pesantren menjadi sebuah jangkar yang sangat penting bagi NU untuk terus memproduksi calon-calon pemimpin umat yang teguh pada nilai Islam dan kebangsaan.

Kalau kita tidak memahami Islam Nusantara dalam konteks konsensus kebangsaan, bahkan mengaburkan maknanya ke arah fitnah keji dan kebencian massif (misal: mengganti syariat, menjunjung tinggi budaya lokal dibandingkan Qur`an dan Sunnah, membenci Arab secara mutlak), maka bukan tidak mungkin krisis Timur Tengah akan berpindah ke Indonesia. Kita memohon perlindungan Allaah dari yang demikian.

Mari kita dinginkan suasana perebutan kepentingan di 2019 nanti dengan menghindari caci maki, mengurangi kebencian, dan diskusi cerdas berdasarkan objektivitas.

Sebagai penutup, Kanjeng Nabi SAW pernah bersabda,

Al-amnu wal-‘aafiyah ni’mataani magh-buunun fii-himaa katsiirun-minan-naas. Keamanan dan kesehatan adalah dua nikmat yg membuat banyak orang terlena.

Semoga Allaah memudahkan niat baik NU untuk terus memperdengarkan Islam Nusantara.

Blunyah Gede,
8 Juli 2018,
Ahmad Rahma Wardhana.

Lampiran Foto: dua buku yang relevan dengan maksud tulisan ini sehingga layak untuk dibaca

IMG20180708135016

IMG20180708151129

IMG20180708151146

Bahkan Museum Adam Malik pun Dijual

Saya kutip tanpa perubahan dari “Majalah Detik” edisi 23-29 Desember 2013.

Saya kutip dan tulis di blog saya, agar menjadi perhatian kita bersama, bahwa urusan nasionalisme dan kebangsaan bukan hanya melulu tentang prestasi dan visi ke depan, tapi juga bagaimana nilai-nilai masa lalu bisa kita pelihara sebagai akar bagi kehidupan masa depan bangsa kita.

Saya sebagai pencinta buku (berbagai jenis genre, keagamaan, novel, ilmiah populer, bahkan komik) sekaligus pencinta sejarah, sangat sedih dan hampir menangis membaca artikel ini. Semoga tidak terulang lagi di negeri kita.

Sahabat saya, alumnus S1 Ilmu Budaya Gadjah Mada berangkat ke Belanda untuk belajar di Leiden selama dua tahun. Saya berpesan kepada dia, agar kelak membawa kembali pusaka Nusantara yang kini tersebar di tanah Belanda. Tapi melihat penghargaan masyarakat kita yang masih kurang tentang peninggalan sejarah, saya jadi ragu dengan pesan saya sendiri tersebut.

Berikut ini adalah kutipannya, dan selamat membaca, semoga mampu menarik hikmahnya.

Kekayaan Adam Malik menguap satu per satu. Keluarga menjual segala koleksi dan kekayaannya. peruntungan mereka dalam bisnis dan politik kurang bagus.

Ribuan buku menumpuk di  teras sebuah rumah di Jalan Masjid Al Barkah Barat Nomor 135, Cireundeu, Jakarta Selatan. Rumah itu adalah rumah Gunajaya Malik. Gunajaya adalah cucu mantan wakil presiden Adam Malik dari anak ketiga, Budisita Malik.

Buku yang menumpuk itu merupakan koleksi Adam Malik. Pada tahun 2002, keluarga menjual koleksi buku tersebut, yang diborong oleh Ependi Simanjutak.

“Kudapat itu dari sopir keluarga Adam Malik, ke perantara. Namanya Boyong. Sopirnya saya enggak kenal,” ujar pedagang buku bekas yang biasa disapa Ucok itu.

Ucok, yang kini memiliki toko buku bekas bernama Guru Bangsa di Lebak Bulus, Jakarta Selatan, membeli buku tersebut secara kiloan. Per kilogram buku, Ucok membayar Rp 3.000. Bobot seluruh buku itu mencapai 25 ton, sehingga total harga buku sekitar Rp 75 juta.

Saking banyaknya buku, sampai-sampai Ucok perlu berhari-hari untuk memboyong semua buku sedikit demi sedikit. “Sudah kayak benteng mau perang. Saya kerahkan 10 orang. Saya angkutin1 ton tiap hari,” ujarnya.

Ucok merasa beruntung karena buku-buku Adam Malik merupakan buku yang bermutu. Sebagai diplomat, Adam Malik—menjadi Duta Besar Uni Soviet dan Polandia pada pemerintahan Sukarno, dan kemudian menjadi Menteri Luar Negeri sampai wakil presiden pada pemerintahan Soeharto—memiliki pergaulan yang sangat luas. Para kolega, yang terdiri atas tokoh penting di banyak negara, tidak jarang menghadiahinya buku dan barang antik.

Misalnya, di antara buku-buku Adam Malik yang dijual Ucok kepada kolektor buku terdapat surat yang menjelaskan buku tersebut merupakan hadiah ulang tahun Adam Malik dari seorang pejabat di Moskow. Pejabat Rusia itu memberikan hadiah kepada pria yang lahir pada 22 Juli 1917 itu satu set buku seni yang langka berisi 13 buku.

“Please accept a modest birth  day present from Moscow,”tulis pejabat itu dalam suratnya kepada Adam Malik tertanggal 22 Juli 1973. “The edition was very limited,” tambah sang pengirim soal buku terbitan 1972 itu.

Buku-buku koleksi Adam Malik itu baru habis dijual Ucok setelah 5 tahun. “Itu buku dari Museum Adam Malik, itu jatuhnya semuanya sama aku. Aku juga dapat catatan harian dia, tapi sudah kukasih ke teman,” ujarnya.

Koleksi buku memang merupakan bagian dari Museum Adam Malik di Jalan Diponegoro Nomor 29, Menteng, Jakarta Pusat. Koleksi buku Adam Malik sangat berharga. Beberapa buku sudah berusia tua, bahkan ada yang berasal dari abad ke-17. Beberapa buku juga merupakan pemberian langsung tokoh-tokoh dunia, seperti Mahatma Gandhi, Benigno Aquino, dan Benazir Bhutto.

Museum Adam Malik berdiri pada 5 September 1985, genap satu tahun setelah Adam Malik meninggal. Museum ini menampung benda seni dan bersejarah serta buku-buku koleksi Adam Malik. Barang-barang yang dikumpulkan saat Adam Malik menjabat tersebut bisa di akses oleh masyarakat umum.

Sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Asvi Warman Adam, menuturkan Adam Malik memiliki selera seni tinggi. Posisi Menteri Luar Negeri membuatnya leluasa mendapatkan barang-barang seni dari dalam dan luar negeri. “Memang koleksinya tidak sehebat Bung Karno, tapi dia punya koleksi lumayan karena seleranya tadi,” jelasnya.

Keluarga Adam Malik sendiri sepakat mengelola museum secara pribadi. Adam Malik menikah dengan Nelly pada 1942 dan memiliki lima anak. Mereka adalah Otto Adam Malik, Imron Malik, Ilham Malik, Antarini Malik, dan Budisita Malik. Kini anak Adam Malik yang masih hidup adalah Otto dan Antarini.

Museum Adam Malik menampung 13 jenis koleksi, yaitu lukisan non-Cina, lukisan Cina, ikon Rusia, keramik, buku, senjata tradisional, patung batu dan logam, ukiran kayu, batu permata, emas, tekstil, kristal, serta fotografi.

Bukan hanya koleksi buku yang habis. Koleksi Adam Malik satu per satu menghilang dari museum. Keturunan Adam Malik sendirilah yang justru menjual koleksi museum. Alasannya, untuk biaya operasional museum.

Ilham Malik (almarhum), anak keempat Adam Malik, konon menjual koleksi museum berupa lukisan Penari-Penarikarya Trubus dan ikon seni pahat khas gereja ortodoks Eropa Timur. Penjualan koleksi itu dilakukan untuk membiayai perawatan Museum Adam Malik.

Gunajaya mengaku keluarganya kerepotan memelihara museum itu. Biayanya mencapai Rp 16-20 juta per bulan. Sedangkan pajak bangunan Rp 80 juta setahun. Apalagi usia Nelly Adam Malik semakin uzur.

“Museum ditutup karena waktu itu biaya pemeliharaannya tinggi. Itu kan seharusnya fasilitas dibayar negara, tapi kami minta ke PLN tidak diberi subsidi semuanya,” jelas Guna.

Namun penjualan koleksi ini tak dapat menyelamatkan Museum Adam Malik. Puncaknya, museum itu bangkrut pada 2005-2006. Otto Malik, anak pertama, menjual gedung bekas tempat tinggal bapaknya itu kepada Hary Tanoesoedibjo. Kini museum tersebut menjadi kantor  sekretariat Persatuan Indonesia (Perindo), organisasi kemasyarakatan bentukan Hary.

Penjualan gedung ini membuat seluruh koleksi berharga museum tercerai-berai. Ahli waris Adam Malik menjual koleksi sekenanya saja. Pusat Arkeologi Nasional menemukan prasasti Shankara dari zaman Kerajaan Mataram kuno (abad ke-8 Masehi) koleksi Museum Adam Malik di tukang loak pada September 2012.

Bukan hanya itu, dari data internet juga bisa diketahui jual-beli koleksi Museum Adam Malik di laman archive situs www.kaskus.co.id tertanggal 29 Januari 2010. Akun bernama Rudy Maulana menjual lukisan keramik karya pelukis Belanda, J. Van Dijk, tahun 1941 seharga Rp 2,5 juta. Rudy menyebutkan lukisan itu sebelumnya merupakan koleksi nomor 10 Museum Adam Malik. Koleksi tersebut terjual kepada seorang kolektor bernama Hermawan Lukman dari Bandung.

Gunajaya membantah jika keluarganya dikatakan menghabiskan seluruh koleksi Museum Adam Malik. Ia mengaku masih menyimpan beberapa koleksi buku Adam Malik. Sedangkan koleksi keramik masih disimpan oleh keluarga Ilham dan Antarini. “Jadi saya tidak pernah terlibat dalam pengelolaan barang-barang eks museum. Tetapi sebagian buku ada di saya, buku-buku tua,” akunya.

Asvi menyebutkan pengelolaan museum secara pribadi oleh ahli waris membawa dampak buruk. Keluarga Adam Malik memiliki catatan kurang bagus dalam berbisnis maupun berpolitik. Usaha mereka mengembangkan bisnis melalui yayasan justru berbuah masalah hukum.

Nelly Adam Malik berusaha mendirikan Rumah Sakit Emergency melalui Yayasan Mekarsari. Permohonan pendirian ini diajukan pada tahun 1980 di daerah Pulomas, Jakarta Timur. Namun usaha ini urung dilakukan karena tidak ada modal.

Pada tahun 1985, mereka mengubah nama  yayasan menjadi Yayasan Adam Malik. Yayasan ini kembali mengajukan kembali izin pendirian rumah sakit  hewan di tempat yang sama pada tahun 1989. Namun izin ini ditolak oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dengan alasan pemanfaatan tanah untuk pembangunan danau buatan.

Dua kali tidak berhasil membangun rumah sakit, keluarga Adam Malik membuka usaha besi tua. Mereka membina pemulung di Pulomas. Kini mereka bersengketa dengan Pemprov DKI Jakarta mengenai status lahan di kawasan Waduk Ria Rio, Jakarta Timur, itu.

Otto Malik juga terlilit masalah hukum setelah terlibat dalam sengketa pengelolaan Yayasan Harapan Ibu Pondok Pinang. Ia harus menghadap ke meja hijau pada 11 September 2013 karena terlibat pemukulan dan pemaksaan masuk pekarangan orang lain.

Nasib anak-anak Adam Malik pun tidak secemerlang bapaknya di dunia politik. Satu-satunya anak yang berkecimpung di dunia politik adalah Antarini Malik. Ia berhasil duduk sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat periode 2004-2009 mewakili daerah pemilihan Sumatera Utara I dari Fraksi Partai Golkar.

Namun, pada periode 2009-2014, ia gagal masuk DPR dari daerah pemilihan yang sama. Kini ia kembali maju sebagai calon legislator Partai Golkar mewakili daerah pemilihan Banten I.