Kesungguhan Niat dan Keberkahannya

Sering sekali kita mendengar istilah niat kaitannya dengan ibadah. Apa sebenarnya makna niat?

Secara kebahasaan niat adalah: maksud atau tujuan perbuatan. Secara praktis, wujud niat itu menyengaja, yakni ada kesengajaan mengerjakan sesuatu, dan tujuan bersengaja tersebut adalah karena Allaah. Nabi Muhammad SAW bersabda,

Sesungguhnya niat letaknya di hati, atau dalam bahasa Jawa, krenteging ati untuk melakukan sesuatu dengan tujuan tertentu. Banyak bentuknya. Ada yang cukup dari hati. Ada yang dengan ucapan. Para ulama menyusun bacaan niat adalah sebagai penuntun agar hati kita niatnya jelas, tujuannya lurus. Maka muncul bacaan niat shalat, niat puasa, niat wudlu, dan lain sebagainya.

Ada yang dibaca bersama, seperti niat puasa, adalah sebagai pendidikan untuk semua umat, ayo bareng-bareng digenahke niate. Saat shalat pun bermacam-macam. Ketika kita berangkat ke Masjid untuk shalat, maka sesungguhnya niat tersebut sudah mewujud. Insya-Allaah cukup mencakup hadits Rasuulullaah SAW tentang niat tadi.

Tetapi agar mantap, disempurnakan juga tidak masalah. Maka muncul sebagian ulama dan umat, membaca niat khusus sesaat sebelum shalat. Kenapa perlu diucapkan? Ya untuk ngencengke tekad tadi. Ushalli fardlal subhi, rak-‘atayni, mustaqbilal qiblati, makmuuman, lillaahi ta’aala. Layaknya iman yang mencakup di dalam hati, lisan, dan perbuatan, begitu pula dengan niat, wujudnya juga akan lebih baik, jika mencakup ketiganya.

Hadirin rahimakumullaah.

Sudah sering kita dengar bagaimana fungsi niat dan pahala yang diperoleh, bahwa apa yang diniatkan, itulah yang kita peroleh. Dalam konteks masa hijrah Nabi Muhammad SAW, ada yang hijrah karena perempuan dan harta, maka harta dan perempuan tersebutlah batas perolehannya, tidak sampai kepada Allaah.

Atau ketika pasukan Abrahah mencoba menyerang Ka’bah, pasukan dihabiskan oleh Allaah dari depan sampai belakang, sehingga Sayyidatina ‘Aisyah bertanya kepada Rasuulullaah SAW, bagaimana status mereka yang berniat berdagang, bukan menyerang Ka’bah atau bukan termasuk golongan mereka (Abrahah)? Rasuulullaah SAW menjawab,

Atau bagaimana niat shadaqah yang lebih karena ingin dilihat orang lain, bukan karena ingin membantu? Maka yang didapat ya hanya pujian orang lain, tanpa pahala di sisi Allaah.

Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, menggambarkan bagaimana niat sebuah perbuatan mampu membawa keberkahan yang lebih daripada seharusnya.

Hadirin rahimakumullaah.

Hadits ini menunjukkan bahwa orang bersedekah mendapatkan pahala kebaikan sesuai dengan niatnya, walaupun sedekah ternyata diberikan kepada yang tidak berhak, yaitu orang kaya. Syaratnya, ia tidak tahu bahwa ia salah sasaran (tidak sengaja salah sasaran). Maksudnya baik, niatnya baik, pahala sedekah pun ia peroleh.

Hadits ini juga memberi pelajaran kepada kita bahwa niat baik tidak boleh berhenti sekalipun dikomentari orang lain. Bahkan, niat baik dan lurus, yang dikerjakan penuh kesungguhan, hanya karena Allaah, akan mendatangkan keberkahan berlipat dalam konteks hadits tersebut: mencegah orang mencuri, mencegah orang menjual diri, mendorong orang kaya melakukan sedekah.

Pun dengan i’tikaf kita. Niatkan karena Allaah, yakni mendekatkan diri kepada Allaah. Bukan karena status atau ingin dilihat orang lain. Sehingga ibadah i’tikaf akan membekas, di mana nama-nama Allaah yang baik, asmaul husna, Dzat yang sedang kita dekati, juga muncul dalam keseharian dan kehidupan sosial kita.

Sebagai penutup, akan saya berikan kisah masyhur yang konon terjadi pada diri Abu Nawas, kaitannya dengan keteguhan niat.

Suatu hari Abu Nawas bersama anaknya hendak menjual keledai ke pasar hewan. Keduanya berjalan kaki tanpa menunggangi keledainya.

Bertemulah ketiganya (dua manusia dan satu keledai) dengan seseorang dari arah berlawanan, di mana orang tersebut (yang tidak kenal dengan Abu Nawas, anaknya, maupun keledainya), berucap kepada rombongan Abu Nawas, “Ada keledai kok tidak dikendarai”,

Abu Nawas bereaksi, kemudian mengendarai keledainya.

Beberapa saat kemudian, rombongan Abu Nawas bertemu lagi dengan orang lain, sama tidak kenalnya, yang melontarkan komentar, “Orang tua kok tidak sayang anaknya. Anaknya jalan, ayahnya naik keledai”.

Abu Nawas bereaksi lagi, turun dari keledai dan menyuruh anaknya gantian mengendarai keledai.

Belum lama anak Abu Nawas berkendara, bertemulah mereka dengan seorang lagi yang tak mereka kenal, namun berkomentar, “Dasar anak durhaka. Ayahnya jalan kaki, yang muda naik kendaraan!”

Abu Nawas mendengarnya dan kemudian berboncengan bersama anaknya mengendarai sang keledai.

Lha kok belum berjalan lama, ketemu lagi dengan orang lain yang berkomentar, “Dasar manusia tak menghargai sesama makhluk ciptaan Allaah! Tahu keledai gak besar, masih juga dikendarai dua orang!”

Sambil menahan amarah, Abu Nawas berkata kepada anaknya, “sekarang kita turun dari keledai ini dan kita gendong keledai ini hingga tiba di pasar hewan! Tidak perlu dengarkan orang lain!”

Hadirin yang dirahmati Allaah SWT, demikianlah sikap yang benar dalam menghadapi suara orang lain. Ada dua jenis suara orang lain kepada kita, (1) suara dari orang yang tidak kenal dengan kita, hanya melihat sepintas pada diri kita, kemudian bersuara, ini disebut sebagai komentar; dan (2) suara dari orang yang kenal baik dengan kita, tahu persis siapa diri kita, sehingga menyuarakan pendapatnya, ini disebut sebagai nasihat.

Aktivitas kita sehari-hari, hingga langkah-langkah serius dan beresiko yang kita lakukan untuk mencapai cita-cita, kadang berhenti atau menjadi lambat, hanya karena mendengar komentar orang lain. Padahal, komentar harus selalu kita abaikan. Yang harus didengar adalah nasihat, bukan komentar.

Kalau sudah niat melakukan kebaikan karena Allaah, madhep manteb hanya mengharap ridla Allaah, kenapa harus repot mendengarkan komentar dan suara dari orang yang tidak kenal dengan kita? Cukup tolak dengan akhlak baik, seperti kita katakan, matur nuwun atas nasihatnya, ya, akan coba saya perhatikan. Tapi abaikan jika menghambat! Karena sesungguhnya itu hanya komentar saja.

Dengarkan nasihat dari mereka yang mengenal kita dengan baik, dari mereka yang sungguh-sungguh mengharap kebaikan kepada diri kita. Ingat selalu kisah Abu Nawas tadi sebagai ukuran untuk membedakan antara mana yang komentar, mana yang nasihat, agar semakin mudah bagi kita menjalani hidup dan ibadah.

Bahagia dengan Berimajinasi*

Menurut saya, berimajinasi itu boleh-boleh saja. Tentu saja kebolehan ini menuntut adanya syarat dan ketentuan. Yah, mirip-mirip iklan yang isinya wah lah, pasti ada tanda bintang kecil: “syarat dan ketentuan berlaku”.

Kemajuan informasi dan teknologi misalnya. Ia tak pernah lepas dari imajinasi. Sejak Icarus dari mitologi Yunani, kemudian Leonardo da Vinci dari zaman Renaissance, orang sudah berimajinasi untuk bisa mengarungi angkasa. Belum ada yang berhasil, hingga akhirnya Wright bersaudara membuka jalan terang bagi umat manusia untuk berjalan di udara. Pun dengan teknologi-teknologi lain yang sudah mapan sekarang, semua berawal dari imajinasi.

Sering saya berimajinasi, membayangkan sesuatu yang positif dan indah sedang terjadi pada diri saya atau sedang terjadi pada orang-orang yang saya sayangi. Beberapa imajinasi tersebut terjadi kemudian. Beberapa mirip, beberapa yang lain nyrempet-nyrempet, sedang beberapa yang lain tidak terjadi, atau mungkin lebih tepatnya adalah, belum terjadi.

Prof. Yohanes Surya dengan mestakung­-nya dan Rhonda Byrne dengan the secret-nya, saya kira ada benarnya juga. Secara umum, mestakung-nya Prof. Yohanes Surya adalah sistem semesta mendukung, yakni bahwa kesungguhan kita terhadap sesuatu pastilah akan didukung oleh semesta raya. Sementara Rhonda Byrne berteori bahwa ada hukum tarik menarik antara alam pikiran kita dengan semesta raya. Kedua teori ini sejalan dengan tentang imajinasi yang saya punyai.

***

Masih segar dalam ingatan saya, bagaimana bapak-ibu guru bimbingan konseling SMA dulu sering menyarankan agar kata-kata motivasi semacam lulus, masuk Jurusan xxx Universitas xxx, sukses, dan lain sebagainya, agar ditulis kemudian ditempel di berbagai tempat di sekitar kita, yang sering kita lihat, sehingga akan sering pula kita membaca kata-kata tersebut.

Seorang guru SMA saya yang lain, memberikan analogi dengan dirinya sendiri. Beliau pernah menginginkan sepeda motor, tetapi karena uang belum mencukupi maka beliau gunting gambar motor tersebut, kemudian diletakkan di dalam dompet, agar selalu nampak setiap beliau bertransaksi dengan uang.

Kedua contoh di atas adalah bentuk membangun imajinasi dalam meraih sebuah cita. Yah, konsepnya mirip mempengaruhi alam bawah sadar dengan memberikan asupan berupa memori yang sama dan terus menerus. Tentang alam bawah sadar ini teman-teman yang belajar psikologi bisa menjelaskan dengan lebih ilmiah.

Cara kerja imajinasi ini sebenarnya logis dan mudah dipahami. Sebagai ilustrasi, misalnya kita sedang ingin lulus SMA. Kita tulis kata lulus di lemari pakaian, di dekat cermin, di atas meja belajar, desktop PC dan laptop, wallpaper dan screensaver hp, serta tempat lainnya. Maka secara tidak sadar, dzikir kita adalah segala sesuatu tentang lulus, karena kata itulah yang paling sering kita lihat. Alhasil, aktivitas apapun yang sedang kita lakukan, pasti akan bisa kita kaitkan dengan ikhtiar menuju cita-cita lulus. Lebih jauh, ketika terminologi lulus ini sudah benar-benar menguasai diri kita, muncullah kreativitas untuk menarik benang merah antara yang sedang terjadi dengan diri kita sekarang dengan titik tujuan lulus. Terciptalah jalur-jalur menuju akhir perjalanan: lulus.

Peristiwa inilah yang dimaksud oleh Prof. Yohanes Surya sebagai semesta mendukung. Bahwa karena kesungguhan diri kita terhadap sebuah tujuanlah yang menghidupkan sel-sel kelabu kita (kata Hercule Poirot) untuk meretas jalan menuju akhir tujuan.

Dan peristiwa ini pula yang dimaksud oleh Rhonda Byrne sebagai hukum tarik menarik antara alam pikiran dengan semesta. Bahwa keseriusan kita dalam ikhtiar mencapai sebuah asa mampu bertransformasi menjadi medan magnet untuk menarik segala sesuatu di sekeliling kehidupan kita untuk menjadi sumber energi dalam safar kepada cita-cita.

Konsep imajinasi semacam ini yang sering disebut dengan optimisme dan kesungguhan. Berimajinasi, yakni membayangkan masa depan berupa keberhasilan cita-cita adalah mendesain masa depan, merencanakan jalannya kehidupan di masa yang akan datang, memandang positif kehendak Tuhan pada diri kita.

Dan imajinasi yang terus menerus tersebut mengantar kita pada fase berikutnya: kesungguhan. Kesungguhan akan mengundang kreativitas, bahwa sekalipun yang sedang kita alami adalah kesulitan, justru kita mampu memanfaatkannya sebagai anak tangga menuju tingginya cita.

***

Maka mari kita desain masa depan kita dengan mengimajinasikannya. Ada baiknya, jika kita bukan tipe orang yang berimajinasi dengan kontinyu (sebagai dzikir bagi alam bawah sadar), maka tulis atau gambarkan imajinasi tersebut, kemudian taruh di tempat-tempat yang sering terlihat oleh kedua mata kita. Imajinasi yang kuat akan menjadi pendamping kita menjalani kehidupan: hidup yang optimis, hidup yang penuh kesungguhan.

Tak ada yang tak mungkin bagi makhluk tersempurna seperti kita, selama kita menggantungkan imajinasi tersebut kepada Sang Maha-sempurna: Tuhan.

Kampus JTF UGM, 25 Juni 2012, 15:00,

Ahmad Rahma Wardhana bin Suwarno

Sumber gambar

http://chimanx.files.wordpress.com/2011/04/spongebob__imagination_by_kssael.png

http://2.bp.blogspot.com/-5xW_0lT_2OA/Twv3GvYlttI/AAAAAAAAAhQ/0N5APOo4mVc/s1600/Da-Vinci-Airplane.jpg

http://www.ipmsstockholm.org/magazine/2003/12/images/photo_wright_2.jpg

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/thumb/0/02/TheSecretLogo.jpg/200px-TheSecretLogo.jpg