Islam yang Menjadi Rahmat bagi Semesta Alam

Disampaikan sebagai Khatbah Idul Fitri di Dusun Pragak-Bendorejo, Semanu, Gunungkidul.

* Muqaddimah *

al-Baqarah 185

al Baqarah 185

 

Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangan-(nya) dan hendaklah kamu mengagungkan Allaah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepada kamu, supaya kamu bersyukur.

Rasuulullaah SAW bersabda

sabda Rasul SAW - merahmati yg di bumi

 

Rahmatilah siapa yang hidup di bumi, niscaya yang hidup di langit akan merahmati kamu.

Bapak, Ibu, Saudara-Saudari sekalian, Jamaah Shalat ‘Idul Fitri yang dirahmati Allaah SWT.

Pertama dan paling utama, marilah kita kembali teguhkan rasa syukur kita kehadirat Allaah SWT, dengan rasa syukur yang sesungguh-sungguhnya. Allaah masih berkenan menerangi hati kita dengan cahaya iman dan Islam, sehingga terdoronglah kita untuk hadir di majelis yang penuh keberkahan ini.

Bahkan, Allaah SWT masih pula mencintai negeri kita Indonesia, dengan mengondisikan negeri kita ini, setelah pemilihan umum DPR dan Presiden, alhamdulilllaah, masih dengan Indonesia yang aman dan tenteram, tak ada kerusuhan, tak ada perselisihan, tak ada konflik sosial, apalagi pembunuhan berlatar belakang politik.

Berbeda dengan negeri berpenduduk muslim lainnya di luar Indonesia, yang kalau tidak ada pemilihan saja saling berbunuhan sesama muslim, apalagi jika ada pemilihan, pertumpahan darah sesama muslim selalu saja terjadi. Alhamdulillaah, segala puji hanya pantas disandang oleh Allaah SWT, di Indonesia kita semoga hal tersebut tak pernah terjadi, semoga Allaah SWT berkenan menjaga kondisi negeri kita, Indonesia tercinta, selalu damai, aman, dan tenteram, Aamiin, Allaahumma Aamiin.

Shalawat serta salam dari Allaah SWT beserta dari seluruh makhluk ciptaan Allaah SWT semoga senantiasa tersampaikan kepada junjungan kita, manusia terbaik sepanjang masa, pemimpin umat manusia, sekaligus pemimpin dan penutup nasab para Nabi dan Rasul, seorang yang paling baik budi pekertinya, seorang yang paling bagus kata dan perbuatannya, sebaik-baik contoh dan teladan bagi manusia, beliaulah Rasuulullaah Sayyidinnaa Muhammad SAAW.

Tercurah pula semoga kepada keluarga, sahabat, dan pengikut beliau, insya-Allaah termasuk kita yang hadir dalam majelis penuh kemuliaan ini. Aamiin, ya Rabbal-‘Aalamiin.

Hadirin sekalian yang insya-Allaah penuh dengan curahan rahmat Allaah.

Satu bulan lamanya kita berada di dalam bulan kemuliaan, bulan Ramadlan, alhamdulillaah pagi hari ini kita memasuki bulan baru, bulan Syawwal, dalam sebuah hari raya utama umat Muslim, ‘Idul Fitri, hari di mana kita kembali ke fitrah, kembali kepada kesucian diri.

Kumandang takbir, tahlil dan tahmid itu sesungguhnya adalah wujud kemenangan dan rasa syukur kaum muslimin kepada Allah SWT atas keberhasilannya meraih fitrah (kesucian diri) melalui mujahadah (perjuangan lahir dan batin) dan pelaksanaan amal ibadah selama bulan suci Ramadhan yang baru berlalu. Allah SWT menegaskan di dala al Qur’an surah al Baqarah 185,

Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangan-(nya) dan hendaklah kamu mengagungkan Allaah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepada kamu, supaya kamu bersyukur.

Dalam suasana hari raya ini, marilah kita menghayati kembali makna kefitrahan kita, baik sebagai hamba Allah maupun sebagai khalifatullah fil ardli. Di sinilah sesungguhnya letak keagungan dan kebesaran hari raya Idul fitri, Hari di mana para hamba Allah merayakan keberhasilannya mengembalikan kesucian diri dari segala dosa dan khilaf melalui pelaksanaan amal shaleh dan ibadah puasa Ramadhan, sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW,

hadits puasa

“Siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan atas dasar keimanan dan dilaksanakan dengan benar, maka ia diampuni dosa-dosanya yang telah lewat”. (HR. Imam Muslim).

Jamaah Shalat ‘Idul Fitri yang insya-Allaah dikasihi Allaah SWT.

Ampunan Allaah dan rahmat Allaah yang mengapus dosa masa lalu kita di bulan Syawwal sesungguhnya adalah isyarat penting bagi umat manusia agar meneladani-Nya, meneladani Allaah Ta’aala, yakni memberi maaf, atau mengampuni dosa dan kesalahan orang lain, serta mengasihi segenap makhluk di seluruh muka bumi ini.

Ketika Sayyidatina ‘Aisyah RA ditimpa peristiwa al-Ifik, di mana beliau difitnah telah berselingkuh, turun rangkaian ayat di Surat an-Nuur ayat 10-18, pembelaan dari Allaah Ta’aala kepada Sayyidatina ‘Aisyah RA, menghapus segala tuduhan keji dan palsu kepada beliau RA.

Ketika peristiwa tersebut terjadi, salah seorang yang terlibat dalam menyebar berita palsu tersebut adalah Mistah, seorang yang hidupnya dibiayai oleh Sayyidinaa Abu Bakar RA. Begitu mendengar kabar ini, Sayyidinaa Abu Bakar RA, yang juga ayah dari Sayyidatinaa ‘Aisyah RA, istri Nabi SAW, marah, duka, lajeng ngucap sumpah untuk tidak memaafkan dan tidak akan membantu lagi Mistah. Tapi kemudian turun ayat ke-22 dari surah an-Nuur,

an Nuur 22

Hendaklah mereka memberi maaf dan melapangkan dada. Tidaklah kamu ingin diampuni oleh Allaah?

Dan sebagaimana dalam ayat yang lain, al Baqarah 187, at Taubah 43, asy Syuuraa 40, ‘Ali Imran 152 dan 155, dan juga al Maidah 95 dan 101, yang semuanya berbicara tentang Allaah yang memberi maaf dan tidak ada anjuran sama sekali untuk meminta maaf.

Mengapa Allaah lebih anjurkan untuk memberi maaf daripada meminta maaf? Jelas adanya bahwa Allaah ingin mengisyaratkan bahwa meminta maaf itu mudah, tanpa diisyaratkan pun, manusia akan lebih enteng njaluk ngapura. Tapi menehi apuran, memberi maaf, memaafkan, pasti terasa lebih berat, karena harus merelakan sesuatu yang menyakiti hati. Allaah tekankan anjuran ini, agar kita selalu memperhatikannya, selalu melakukannya.

Maka Allaah isyaratkan, berilah maaf, karena Allaah pun memaafkan sebelum hamba-Nya meminta ampunan. Kemudian lapangkan dadamu, hapuslah semua yang telah berlalu, kosongkan jiwamu dari kesalahan orang lain, dan raihlah ampunan Allaah. Allaah ingin tunjukkan kemuliaan mereka yang mau memaafkan, apalagi memaafkan sebelum datangnya permintaan maaf.

Hadirin yang dicintai Allaah SWT.

Budaya memaafkan ini, sungguh merupakan ajaran yang luar biasa dalam Islam. Karena ketika meminta maaf dan memberi maaf yang dilakukan dengan sepenuh jiwa dan raga akan menumbuhkan kedamaian di muka bumi. Tiada lagi tetangga yang konflik karena masalah sepele, tak ada lagi tali persaudaraan yang putus dan lepas karena masalah-masalah agama yang tidak pokok, bahkan dalam masalah yang sesungguhnya para ulama justru sudah sepakat untuk berbeda.

Allaah Ta’aala berfirman dalam surat al Anbiyaa` ayat 107,

al Anbiya 107

Dan tidaklah Kami mengutusmu (Nabi Muhammad SAAW), melainkan (sebagai) rahmat bagi semesta alam.

Bahkan Nabi Muhammad SAW memperinci dalam sabda beliau,

Rahmatilah siapa yang hidup di bumi, niscaya yang hidup di langit akan merahmati kamu.

Inilah wajah Islam yang sesungguhnya, menjadi rahmat bagi alam semesta. Bukan hanya Nabi Muhammad SAW saja yang seharusnya menjadi pengasih dan penyayang, tapi juga umat beliau, kita semua, sudah seharusnya menjadi manusia penyayang, pemaaf, pengasih kepada siapapun, apapun, di manapun.

Rasuulullah SAW pernah bersabda,

Apabila kalian mengendarai binatang, berikanlah haknya, dan janganlah menjadi setan-setan terhadapnya.

Rasuul SAW juga pernah ngendika,

Seorang wanita dimasukkan Tuhan ke neraka diakarenakan ia mengurung seekor kucing, tidak diberinya makan, tidak pula dilepaskan untuk mencari makan sendiri.

Sewalikipun, kali lain Nabi SAW paring sabda,

Seorang yang bergelimang dosa diampuni Tuhan karena memberi minum seekor anjing yang kehausan.

Inilah akhlak-akhlak kepada hewan yang Beliau SAW ajarkan.

Hadirin yang dirahmati Allaah Ta’aala.

Nabi Muhammad SAW bahkan melarang kita untuk menjual buah yang mentah atau memetik bunga yang belum mekar, beliau SAW bersabda,

Biarkan semua bunga mekar agar mata menikmati keindahannya dan lebah mengisap sarinya.

Inilah akhlak beliau SAW kepada tumbuhan, yang ternyata dibuktikan bahwa perilaku seperti ini mampu mencegah kerusakan pada keseimbangan alam.

Rasuul SAW juga merahmati benda-benda yang tak bernyawa sekalipun, dengan memberinya nama. Perisai Nabi diberi nama Dzat al-Fudlul, pedangnya dinamai Dzulfiqar, pelananya Rasuul SAW bernama al-Daaj, tikar, klasanipun Kanjeng Nabi SAW gadhah asma al-Kuz, gelasipun Nabi SAW kagungan asma ash-Shadir, teken Kanjeng Nabi SAW bernama al-Mamsyuk.

Benda-benda itu tak bernyawa, tapi dinamai dengan nama yang indah penuh makna, seakan-akan mempunyai kepribadian, yang berarti membutuhkan uluran tangan, pemeliharaan, rahmat, dan kasih sayang.

Bahkan, nalika Rasuul SAW merasa mendapat penolakan dakwah di Makkah, Beliau SAW mencoba dakwah ke Tha’if, tapi yang didapat justru lemparan batu hingga wajah Beliau SAW berdarah-darah. Datanglah Malaikat Jibril ‘AS, yang menawarkan bantuan dari malaikat lain yang siap mengangkat dua bukit untuk ditimpakan kepada penduduk yang melempari Beliau SAW.

Apa jawaban Beliau? Beliau katakan, jangan, jangan, bahkan aku berharap kelak ada keturunan mereka yang akan beriman kepada Allaah.

Sayyidinaa Hasan RA, cucu Rasuul SAW pernah meriwayatkan dari pamannya Hind bin Abi Halah,

Sayyidinaa Hasan dr Hind bin Abi Halah

Beliau tiada berlaku kasar dan tidak pernah menghina, Nikmat Allaah SWT dibesarkannya walaupun hanya sedikit.

Sayidatinaa ‘Aisyah RA berkata,

Sayyidatinaa Aisyah - akhlak Rasuul

Rasuulullaah SAW bukanlah orang yang keji, beliau tidak membiarkan kekejian, tiada mengeluarkan suara keras di pasar-pasar dan tidak membalas kejahatan orang lain dengan kejahatan. Beliau suka memaafkan dan berjabatan tangan.

Sayyidinaa Husain RA pernah meriwayatkan dari ayahnya Sayyidinaa ‘Ali bin Abi Thalib,

Sayyidinaa Ali - Wajah Manis Rasul

Rasuulullaah SAW adalah orang yang bermuka manis, lembut budi pekertinya,

Sayyidinaa Ali - Akhlak Rasul

tawadlu’, tidak bengis, tiada kasar, tiada bersuara keras, tiada berlaku dan berkata keji, tidak suka mencela dan tiada kikir.

Inilah akhlak Rasuul SAW, penuh kelembutan dan kasih sayang.

Hadirin rahimakumullaah.

Akhlak Rasuul SAW yang luar biasa itu, sayangnya sedang dilukai oleh orang-orang yang mengaku Islam. Saat ini, di Irak dan Suriah ada yang meneriakkan tegaknya pemerintah Islam, tapi perilakunya tidak mencerminkan umat Islam, tidak menggambarkan akhlak Rasuul SAW yang penuh kelembutan dan kasih sayang.

Mereka tunjukkan di internet, mereka banggakan bom-bom mereka, senjata-senjata mereka, yang mereka katakan, untuk membela Islam, menegakkan agama Allaah. Apakah itu mencerminkan Islam yang membawa makna kedamaian dan keselamatan?

Mereka banggakan peran mereka mengahncurkan makam Nabi Yunus ‘AS, menghancurkan masjid-masjid peninggalan para tabbi’in, meluluh lantakkan makam-makam ulama yang berjasa mengantarkan dan menegakkan agama Islam di tanah mereka. Inikah cerminan Islam, padahal Islam menghargai sejarah dengan memelihara Ka’bah, mensunnahkan shalat di Maqam Ibrahim, tempat batu bekas kaki Nabi Ibrahim ‘AS saat membangun Ka’bah?

Mereka pamerkan video menyembelih sesama manusia, menembak sesama manusia, berbuat keji sesama manusia, sesama warga bangsanya, dan mengatas-namakan perjuangan Islam, sementara Rasuul SAW membenci kekejian dan tak pernah berbuat kasar?

Dan yang lebih mengerikan lagi, masyarakat kita, beberapa minggu yang lalu, berkumpul di sebuah tempat di Jawa Tengah, dan mereka menyatakan bersumpah setia kepada ISIS (Islamic State of Iraq and Syria), sempalan Islam yang mencoreng sifat kasih sayang Islam, mencoreng ajaran mulia Islam, menjadi rahmat bagi semesta alam.

Hadirin rahimakumullaah.

Aliran sempalan ini harus kita waspadai. Mengapa, karena kita Indonesia sudah memiliki Pancasila sebagai hasil ijtihad para ulama pendiri bangsa dan tidak pernah dibantah oleh ulama Indonesia sampai detik ini. Pancasila, sebuah jalan tengah untuk kehidupan berbangsa dan bernegara. Apakah kita ingin seperti mereka, segala sesuatu diselesaikan dengan bom dan tembak-menembak, bunuh-membunuh, walaupun sesama Islam? Tentu tidak. Maka kita harus bertahan.

Kita jaga kampung-kampung kita dengan ajaran Islam yang damai, yang mengajak kepada kebaikan dengan kebaikan, tidak dengan cara yang keras. Kita jaga desa-desa kita, dusun-dusun kita, dengan bertanya kepada mereka yang memiliki ilmu Islam yang baik, yang diajarkan dari kiai-kiai kita, ustadz-ustadz kita, bukan ajaran dari ulama-ulama timur tengah yang selalu dalam kondisi konflik, sehingga keras isi dakwahnya.

Kita tetap mengambil ajaran ulama timur tengah, tetapi harus melalui lisan pengajar kita yang memahami ilmu bahasa arab, ilmu sejarah, ilmu qur`an, ilmu hadits, ilmu fiqh, dan ilmu pendukung lain. Mengapa harus melalui pengajar yang seperti ini? Karena mereka paham dengan kondisi kita, dan bisa memilih dan memilah, mana yang harus diajarkan kepada masyarakat kita, mana yang harus tidak diajarkan karena mengandung unsur politik dan keadaan setempat pada masa ajaran atau kitab tersebut disusun.

Mari kita jaga masyarakat kita dengan ilmu, mari kita jaga bangsa kita dengan ilmu, sehingga nantinya dari tanah air Indonesia kita akan menjadi wakil nyata agama Islam dari perilaku pemeluknya, yakni Islam yang rahmatan lil-‘aalamiin, menjadi rahmat bagi seluruh alam semesta, insya-Allaah, aamiin, Allaahumma aamiin.
اَللّٰهُ أَكْبَرُ، اَللّٰهُ أَكْبَرُ، لَاإِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَ اللّٰهُ أَكْبَرُ، اَللّٰهُ أَكْبَرُ وَ لِلّٰهِ الْحَمْدُ.

Hadirin yang insya-Allaah selalu dalam naungan kasih sayang Allaah.

Kesimpulannya, Idul Fitri adalah hari di mana kita kembali fitrah, kembali suci karena rahmat Allaah, karena ampunan Allaah atas mujahadah, kesungguhan kita dalam berjuang di Ramadlan. Hikmahnya, mari kita meniru Allaah, meneladani Allaah dengan menjadi manusia yang memberi maaf sebelum ada permintaan maaf, sekaligus menjadi pengasih, penyayang, pemurah, kepada alam semesta, lebih-lebih kepada sesama umat manusia, dan kita wujudkan dengan lisan dan perilaku kita, umat muslim Indonesia, bahwa kita, Islam, adalah rahmat bagi keseluruhan alam dan seisinya.

* Khatimah *

* Khatbah Kedua – Doa Penutup *

Download Teks Khatbah A5 (Google Drive)

Cintailah Anak-anak, Berikan Doa dan Teladan Akhlak kepada Mereka

Hadirin yang dirahmati Allaah Ta’aala.

Sesungguhnya fitrah suci manusia itu bukan hanya berhenti pada sekedar sebuah pernikahan, tetapi juga bagaimana pernikahan mampu melanjutkan nasab kebaikan, mampu memperbarui satu generasi baru, generasi yang penuh dengan kesalehan, yakni mempunyai anak, mempunyai keturunan.

Kisah Nabiyullaah Ibrahim ‘AS dan Nabiyullaah Zakariya ‘AS misalnya, adalah contoh nyata bagaimana beliau berdua tidak pernah putus asa mengharap rahmat Allaah Ta’aala menemani kehidupan Beliau berdua, yakni berputra.

Nabiyullaah Zakariya ‘AS (al-Anbiya [21] 89)

doa nabi zakariya

dan (ingatlah kisah) Zakaria, tatkala ia menyeru Tuhannya: “Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah waris yang paling Baik.

Dijawab doanya oleh Allaah Ta’aala dengan mengaruniakan Nabi Yahya ‘AS, meskipun usia Nabi Zakariya ‘AS sudah sepuh.

Sementara Nabiyullaah Ibrahim ‘AS dengan doanya yang sangat masyhur (ash Shaaffaat [37] 100)

doa nabi ibrahim - ash shaffat

Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang Termasuk orang-orang yang saleh.

Diijabahi oleh Allaah Ta’aala dengan mengaruniakan Ismail dari istrinya Hajar dan Ishaq dari istrinya Sarah. Ismail dan Ishaq menjadikan Nabiyullaah Ibrahim ‘AS sebagai puncak nasab, puncak garis keturunan, Bapak para Nabi dan Rasul. Ishaq akan menjadi Nabi ‘AS dan berputra Nabi Ya`qub ‘AS. Nabi Ya`qub ‘AS akan berputra Nabi Yusuf ‘AS dan akan menjadi leluhur dari para Nabi dan Rasul di tanah Palestina.

Sementara Ismail juga akan menjadi Nabi ‘AS dan dari salah satu keturunan Nabi Ismail ‘AS-lah, Rasuulullaah Sayyidinaa Muhammad SAW akan dilahirkan sebagai penutup nasab, penutup jalan keturunan para Nabi dan Rasuul.

Maka, boleh kita katakan, kisah nasab para Nabi dan Rasuul itulah yang memperkokoh pendapat bahwa berkeluarga dan berketurunan adalah cara yang tepat bagi umat manusia untuk menghasilkan generasi baru yang baik, shaleh, dan beriman kepada Allaah Ta’aala.

Hadirin rahimakumullaah.

Kasih sayang orang tua kepada anaknya jauh lebih besar daripada cinta anak kepada bapak-ibunya. Kisah Nabi Nuh ‘AS di dalam Surah Huud dan kisah Nabi Ya`qub ‘AS dengan putranya Yusuf (yang juga akan menjadi Nabi ‘AS) menjadi bukti besarnya cinta orang tua kepada anaknya.

Al-Qur`an surah Huud [11] ayat 42 dan 43 mengisahkan,

Dan Nuh memanggil anak kandungnya, sedangkan anak itu berada di tempat yang jauh terpencil,

“Hai anakku, naiklah (ke perahu) bersama kami, dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir.”

Anaknya menjawab,

“Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!”

Nuh berkata,

“Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allaah selain Allaah (saja) Yang Maha Penyayang.”

Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.

Bahkan, setelah anaknya yang ngeyel tadi tenggelam, saat air bah sudah surut dan Nabi Nuh ‘AS beserta kaumnya yang beriman selamat kembali ke daratan, cinta Nabi Nuh ‘AS tidak pupus. Al Qur`an memberikan informasi dalam ayat berikutnya, surah Huud ayat 45 dan 46

Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata,

“Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya.”

Allaah berfirman,

“Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan). Sesungguhnya (perbuatannya) perbuatan yang tidak baik. Sebab itu, janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakikat)-nya. Sesungguhnya Aku (Allaah) memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan”

Demikian kisah cinta Nabi Nuh ‘AS kepada putranya. Sedangkan kisah cinta Nabi Ya`qub ‘AS kepada putranya Yusuf diabadikan di surah Yusuf [12] ayat 84

“Aduhai duka citaku terhadap Yusuf!” dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan.

Itu adalah ucapan Nabi Ya`qub ‘AS saat mendengar kabar buruk tentang Yusuf muda yang diikuti dengan kebutaan pada mata beliau Nabi Ya`qub ‘AS.

Dan saat Nabi Ya`qub mendapat kabar gembira tentang Yusuf muda, dengan mencium aroma putra kesayangannya melalui baju yang dikirimkan Yusuf kepada Nabi Ya`qub ‘AS, pulihlah penglihatannya.

Al Qur`an menceritakan (Yusuf [12]: 96),

Tatkala telah tiba pembawa kabar gembira itu, maka diletakkannya baju gamis itu ke wajah Ya`qub, lalu kembalilah dia dapat melihat.

Betapa kuatnya cinta ayah kepada anaknya, hingga kepergian sang anak mampu membutakan mata ayahnya, dan karena besarnya cinta itu, hanya aroma sang anak lewat sebuah baju pun mampu mengembalikan penglihatannya.

Hadirin rahimakumullaah.

Fitrah orang tua adalah cinta yang begitu kuat dan besar kepada anak-anaknya, sebagaimana contoh kedua Nabi utusan Allaah tadi. Bahkan ketika seseorang melihat bayi atau anak kecil yang bukan kerabat dekatnya sekalipun, kita akan terjatuh dalam pesona anak kecil.

Hal ini terjadi karena fitrah kita yang dewasa, yakni mencintai anak, bertemu dengan fitrah anak-anak, yakni kepolosan dan kesucian anak-anak, baik kesucian perilaku maupun kesucian hati mereka. Rasuulullaah SAW bersabda tentang kesucian seorang anak

hadits anak fitrah

Semua anak terlahirkan membawa fitrah keagaamaan yang benar. Kedua orang tuanya lah yang menjadikan ia menganut agama Yahudi atau Nasrani atau Majusi.

Anak-anak ibarat kertas putih bersih dan kedua orangtuanya yang akan memulai menulisi kertas tersebut dengan kebaikan atau keburukan.

Hadirin yang dirahmati Allaah Ta’aala.

Seorang anak sedang digendong oleh Rasuulullaah SAW tiba-tiba ngompol. Lalu dengan kasar ibu/pengasuhnya merenggut sang anak, sehingga menangislah anak tersebut. Rasuulullaah SAW menegurnya sembari bersabda,

hadits ramah kpd anak

Perlahan-lahanlah! Sesungguhnya ini (Beliau SAW menunjuk kepada pakaian beliau) dapat dibersihkan oleh air, tetapi apa yang dapat membersihkan kekeruhan hati sang anak?

Ketika suatu saat Rasuulullaah SAW mencium cucunya, Sayyidinaa Hasan bin Ali bin Abi Thalib yang masih kecil, al-Aqra` bun Haabis berkomentar, “Saya memunyai sepuluh orang anak, tidak satu pun di antara mereka yang saya cium”. Rasuulullaah SAW kemudian bersabda,

hadits cium anak 1

Siapa yang tidak memberi rahmat tidak dirahmati.

Bahkan Rasuulullaah SAW berkomentar kepada seseorang yang tidak pernah mencium anaknya,

hadits cium anak 2

Apakah saya dapat melakukan sesuatu untukmu setelah Allaah mencabut kasih sayang dari hatimu?

Hadirin rahimakumullaah.

Demikianlah pentingnya kita mencurahkan kasih sayang kepada anak-anak, lebih-lebih anak kita sendiri atau kerabat dekat kita. Sesuatu yang buruk, meskipun sangat kecil bentuknya akan mempengaruhi jiwa mereka dan boleh jadi akan membekas hingga menjadi luka yang tak tersembuhkan.

Kasus di sekolah internasional di Jakarta adalah contoh pelecehan yang nyata. Saya menangis membaca beritanya. Sang anak tak mau cerita kepada ibunya, baru setelah ibunya mengibaratkan pamannya sebagai pahlawan yang akan memberantas kejahatan, berceritalah sang anak kepada pamannya, dan terbukalah kasus pelecehan ini.

Kita sangat sedih mendengar ini. Dia bukan siapa-siapa kita. Tetapi dia hanya anak-anak yang sangat polos. Trenyuh membayangkan betapa sang anak sangat terluka, tidak mau bertemu dengan orang lain. Takut dengan pisau. Menangis setiap malam. Dan trauma-trauma lainnya. Bagaimana dengan masa depannya? Bagaimana kehidupannya saat dewasa nanti? Banyak kekhawatiran muncul.

Kasus tersebut hanya satu contoh yang sangat parah. Tetapi juga sangat mungkin hal semacam itu terjadi di sekitar kita, meskipun tidak sampai tingkat separah itu pelecehannya.

Melalui mimbar ini pula, saya mendorong kepada diri saya sendiri utamanya dan secara umum kepada seluruh hadirin rahimakumullaah, mari mulai sekarang kita perbaiki perilaku kita kepada anak-anak, siapapun anak itu, saudara atau bukan, kerabat atau bukan, berperilaku baiklah kepada mereka.

Setiap bertemu dengan anak kecil atau bayi, sedang semarah apapun suasana hati kita, seburuk apapun diri kita yang sesungguhnya berikan senyum kepada mereka. Jangan sekalipun tunjukkan ekspresi buruk atau bahkan perilaku tidak terpuji. Jangan, jauhkan mereka dari seperti itu.

Kalau perlu ucapkan doa Nabi Ibrahim ‘AS kepada mereka, rabbi habli minash-shalihiin. Sentuh mereka, cium mereka, berikan kasih sayang kepada mereka.

Generasi muda kita sekarang masih ada banyak yang masa lalunya kurang disayangi oleh orang lain. Maka dia tidak pernah menunjukkan kasihnya kepada orang lain. Di Jakarta, seusia SMP dan SMA tawur dengan senjata tajam. Di Jogja pernah terjadi pembunuhan dengan anak panah beracun.

Di Makassar mahasiswa, generasi muda kita, tidak segan membakar kampusnya karena dendam, padahal semuanya muslim. Saat kampanye kemarin, di Jogja, yang kampanye pemuda, tapi arogansinya luar biasa. Orang lain sedang mau menepi, sedang proses menepikan kendaraannya, dihantam begitu saja dianggap terlalu lama.

Di mana rahmat mereka sebagai manusia kepada sesama manusia? Di mana cinta kasih mereka kepada sesama manusia? Jangan-jangan, dulu orang tuanya kurang kuat doanya, kurang istiqamah doanya, kurang perhatian, atau bahkan karena orang tuanya jarang menampakkan rasa cintanya kepada sang anak?

Hadirin yang dirahmati Allaah.

Mari kita sekarang kita berubah, kita perbaiki perilaku kita kepada anak dan bayi. Curahi mereka dengan rasa sayang, curahi mereka dengan doa-doa kita.

Allaah tidak akan menyia-nyiakan sebuah perbuatan baik, sekecil apapun ada balasannya. Jika kelak ada seorang anak, yang dewasa dan menjadi orang shalih karena kita, meskipun sumbangan kita hanya dengan doa atau sebuah perilaku baik, maka ingat, fa man-ya’mal mitsqala dzarratin khayray-yarah, tidak ada perbuatan baik, sekecil apapun perbuatan itu, kecuali berbalas kebaikan dari Allaah.

Dan sebaliknya, jika kelak ada anak yang dewasanya menjadi tidak baik, berakhlak buruk, dan itu karena sumbangan kita, karena kita pernah berperilaku buruk di depannya dengan sengaja, meskipun hanya kecil, meskipun hanya sepele, ingat lahaamaa kasabat wa ‘alayha mak tasabat, perbuatan baik ada balasan rahmatnya, perbuatan buruk ada balasan hukumannya.

Mari bersama-sama kita cegah generasi buruk lahir. Kita semua bisa mencegahnya bersama-sama, dengan perbuatan diri masing-masing. Jangan pernah sepelekan karena kecil, karena Allaah al-Lathiif, Maha-lembut, termasuk betapa rincinya Allaah dalam meneliti perbuatan kita, selembut apapun, sekecil apapun perbuatan baik itu.

Ingat bahwa kita tidak mewarisi alam semesta ini dari leluhur kita, tetapi sekarang kita meminjam bumi ini dari anak-keturunan kita. Kita bersama-sama cegah bangsa ini dari cengkeraman pemimpin zhalim dan tak berakhlak dengan mendidik generasi muda kita lewat doa dan teladan kebaikan.

Allaah Ta’aala berfirman dalam surah at-Tiin ayat keempat,

at tiin 4

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk (fisik dan psikis) yang sebaik-baiknya.

Dalam ayat ini Allaah menggunakan kata “Kami”, bukan “Aku” yang membawa makna ada peran selain Allaah, yakni peran orang tua, peran Bapak dan Ibu. Juga dengan peran orang dan lingkungan seseorang ketika ia beranjak dewasa.

Hadirin rahimakumullaah.

Tidak perlu menunggu Pemilu 5 tahun sekali untuk mengubah negeri kita menjadi lebih baik. Mari kita mulai sekarang dengan berinvestasi doa dan teladan kebaikan kepada setiap anak kecil, utamanya anak kita sendiri dan kerabat kita, maupun anak-anak yang kita temui, demi masa depan mereka dan masa depan bangsa kita.

Kalau Allaah menjamin kita sebagai sebaik-baik ciptaan dan negeri ini diisi, dipimpin oleh sebaik-baik manusia, maka akan terwujud keluarga-keluarga terbaik, kampung-kampung terbaik, dan akhirnya terus meluas menjadi negeri terbaik yang penuh dengan keberkahan Allaah Ta’aala.

Sebagai penutup, Sayyidinaa ‘Ali karamallaahu wajhah, menantu dan khalifah Rasuul SAW keempat berpesan,

sayyidina ali - pendidikan anak

Didiklah anak-anakmu, (dengan pendidikan yang sesuai) karena mereka itu diciptakan untuk masa yang berbeda dengan masamu (Sayyidinaa ‘Ali KW).

Mari, selain memberikan doa dan teladan dalam berperilaku dan berkata-kata, kita fasilitasi anak-anak, generasi muda kita dengan pendidikan yang terbaik, demi masa depan mereka, masa depan bangsa Indonesia, masa depan umat manusia.

Semoga Allaah memudahkan hati dan diri kita untuk terus memperbaiki diri, aamiin Allaahumma aamiin.

***

Disampaikan sebagai khatbah Jumat pada 25 April 2014 di Masjid Sabilul Muttaqin, Jalan Monjali.

 

Memelihara Amanah

Disampaikan sebagai khatbah dalam majelis jumat di Masjid Kagungan Dalem al-Falaah Blunyah Gede, 27 Desember 2013

Hadirin yang dirahmati Allaah SWT, pertama dan paling utama, dalam berbagai kesempatan untuk memberikan nasihat di atas mimbar, saya selalu memulainya dengan ungkapan syukur alhamdulillaahirabbil-áalamiin, segala puji hanya disandang oleh Allaah SWT, Sang Pencipta, Pemilik, dan Pengatur Alam Raya Semesta, yang memperkenankan kita untuk hidup menjadi Muslim di negeri bernama Indonesia.

Indonesia, negara dengan penduduk Muslim sebagai mayoritasnya, alhamdulillaah tidak mengalami perpecahan sebagaimana terjadi di negeri Muslim lain seperti Afganistan, Irak, Suriah, Yaman, Libanon, Mesir, dan Turki, serta negara-negara Muslim di benua Afrika. Di negara-negara tersebut tadi, sungguh sangat memprihatinkan, Muslim sebagai penduduk terbesar, tapi justru sesama Muslim pula tidak segan, tidak malu, tidak ragu untuk saling membunuh, demi meraih kekuasaan dalam mengurusi suatu wilayah. Berebut wilayah, berebut kedudukan, dan kekuasaan dengan saling membunuh sesama Muslim. Naúdzubillaah, tsumma naúdzubillaah. Semoga Allaah Ta’aala menghindarkan Indonesia dari bentuk perpecahan seperti itu, Aamiin, Allaahumma Aamiin.

Hadirin rahimakumullaah. Dalam Shahih Bukhari dikisahkan bahwa satu tahun sesudah kematian Abu Lahab, paman Rasuul SAW yang saking jahatnya kepada Rasuul SAW hingga kejahatannya diabadikan menjadi salah satu surah dalam al-Qur`an, Paman Rasuul SAW yang lain, al-‘Abbas bertemu dengan Abu Lahab di dalam mimpi. Abu Lahab dalam pertemuan tersebut memakai pakaian putih dan saat ditanya keadaannya, Abu Lahab menjawab bahwa ia berada di neraka, tetapi mendapat keringanan siksa pada setiap malam Senin.

Bagaimana seorang Abu Lahab bisa mendapat keringanan siksa? Ternyata keringanan siksa Abu Lahab didapat dari kegembiraannya saat mendengar berita kelahiran Sayyidinaa Muhammad SAW. Saat Nabi SAW lahir, budak Abu Lahab yang bernama Tsuwaibah memberitakan kelahiran Muhammad kecil kepadanya dan betapa bergembiranya Abu Lahab mengetahui keponakannya lahir, Abu Lahab memerdekakan Tsuwaibah yang telah mengabarinya.

Hadirin rahimakumullaah, demikian ganjaran yang diterima Abu Lahab, meski begitu besar dosanya kepada Rasuulullaah SAW, maka kita semua yang tidak hanya sekedar bergembira, tapi bahkan senang bershalawat kepada Rasuul SAW dan menjalankan ajaran beliau, insya-Allaah mendapatkan syafa’at dari beliau SAW di hari akhir nanti, Aamiin, Allaahumma Aamiin.

Selanjutnya, di hari Jumat yang mulia ini, di Majelis yang penuh keberkahan ini, saya kembali mengingatkan, khusus dan utamanya kepada diri saya sendiri, dan umumnya kepada seluruh hadirin rahimakumuullaah, marilah kita kembali memperbarui sekaligus meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allaah SWT, dengan sebenar-benarnya iman dan takwa.

Mari selalu kita tanamkan di dalam benak kita, bahwa ukuran derajat manusia di hadapan Allaah Ta’aala tidaklah dari harta-benda atau kekayaan, tapi dari ketakwaannya.

Pada ayat ke-13 dalam surah ke-49, surah al-Hujuraat, setelah menerangkan betapa beragamnya umat manusia, Allaah Ta’aala berfirman

Image

yang bermakna

Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu

Hadirin yang semoga dirahmati Allaah SWT, di dalam sebuah Hadits Qudsi yang diriwayatkan oleh Abu Syaikh yang bersumber dari Ibnu Abbas RA, Allaah SWT berfirman

يَا اٰدَمُ اِنّٖى عَرَضْتُ الْاَمَانَةَ عَلَى السَّمٰوٰاتِ وَ الْأَرْضِ، فَلَمْ تُطِقْهَا. فَهَلْ اَنْتَ حَامِلُهَا بِمَا فِيْهَا؟

Wahai Adam! Sesungguhnya Aku (Allaah) telah menawarkan amanah kepada langit dan bumi, namun mereka tidak mampu. Apakah engkau sanggup memikul dengan segala akibatnya?

قَالَ، وَمَا لٖى فِيْهَا؟

Adam berkata, “Apa yang saya dapat daripadanya?”

قَالَ، اِنْ حَمَلْتَهَا اُجِرْتَ، وَ اِنْ ضَيَّعْتَهَا عُذِّبْتَ.

Allaah menerangkan, “Jika engkau sanggup memikulnya, engkau akan diberi pahala, tetapi jika engkau menyia-nyiakannya, engkau akan disiksa.”

فَقَالَ، قَدْ حَمَلْتُهَا بِمَا فٖيهَا.

Adam berkata, “Baiklah saya pasti dapat memikul dengan segala akibatnya.”

فَلَمْ يَلْبَثْ فِي الْجَنَّةِ اِلَّا مَا بَيْنَ صَلٰاةِ الْاُولٰى وَ الْعَصْرِ حَتّٰى اَخْرَجَهُ الشَّيْطَانُ مِنْهَا.

Tidak berapa lama kemudian, sekedar selama waktu antara shalat shubuh  dan shalat ashar Adam berada di surga, terjadilah peristiwa dengan syaithan sehingga ia dikeluarkan dari surga.

Hadits Qudsi tadi, sejalan dengan apa yang tercantum di dalam al Qur`an surah ke-33, surah al-Ahzab ayat 72, Allaah SWT berfirman

beratnya amanah

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu Amat zalim dan Amat bodoh.

Hadirin yang dirahmati Allaah SWT, inilah gambaran beratnya amanah yang dipikul oleh seorang manusia, apapun bentuknya. Tahun depan, 2014 adalah tahun amanah bagi negeri kita Indonesia. Sepanjang 5 tahun yang lalu kita telah menyaksikan, betapa tidak sedikit para pemegang amanah di 2009 ternyata bergelimang khianat seiring dengan berjalannya waktu.

Korupsi dan suap terkuak, kebohongan dan pengkhianatan dinampakkan, kejahatan dan buruknya akhlak terlihat di sana-sini, dilakukan oleh mereka yang pernah berjanji dan bersumpah atas nama Allaah Ta’aala untuk memegang amanah. Memang harus diakui bahwa tidak semua pemegang amanah menyia-nyiakan amanahnya, tapi harus pula diakui bahwa banyak sekali yang ketahuan belangnya, bagaimana mereka menciderai kepercayaan masyarakat.

Pelajaran bagi kita, adalah bahwa amanah itu tidak mudah dalam memikulnya. Amanah bukan sekedar jabatan bagi mereka yang berwenang, tapi fisik kita adalah amanah, ilmu kita adalah amanah, keluarga, anak-istri kita adalah amanah, harta dan kekayaan kita adalah amanah. Sudahkah amanah-amanah yang melekat tersebut kita jaga dengan baik, kita pelihara dengan baik, sebagai bentuk nyata iman kita kepada Allaah SWT?

Ingatlah bahwa Allaah SWT berfirman di dalam surah al Mu’minuun ayat ke-8, tentang ciri-ciri orang beriman, yakni

memelihara amanah

dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya

Mereka yang khianat terhadap amanahnya, lebih-lebih amanah sebagai pejabat yang berwenang terhadap masyarakat, perlu ditanyakan keimanannya. Mana cermin sumpah mereka atas nama Allaah pada awal jabatannya? Mana gambaran mereka percaya dengan Hari Akhir dan Hari Pembalasan, bukankah khianat kepada amanah akan diganjar dengan siksaan Allaah? Di mana iman mereka?

Maka, hadirin rahimakumullaah, hikmah bagi kita, mari kita pertebal terus iman dan takwa kita kepada Allaah Ta’aala. Bukan dengan sekedar iman di lisan dan takwa di bibir, tapi iman dan takwa dalam hati dan perbuatan. Sangat mungkin, mereka yang berkhianat pada awalnya adalah orang yang kuat pula iman dan takwanya, namun karena belum mampu istiqamah, belum mampu konsisten dalam membawa iman-takwanya, menjadi lupalah dia, terbawa oleh suasana sistem yang terlanjur memudahkan terjadinya korupsi.

Beratnya amanah bukan berarti kita kemudian menghindar dari amanah yang mungkin dibebankan kepada kita karena memang kita mampu. Bukan berarti pula menolak amanah yang memang kita berpotensi untuk memikulnya, Rasuulullaah SAW bersabda sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari

إِذَا أَسْنِدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ.

Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancurannya.

Artinya, jika kita mempunyai keahlian di bidang tertentu, maka keahlian tersebut adalah amanah keilmuan dari Allaah SWT kepada kita. Bagaimana memelihara amanah keilmuan? Yakni dengan mengamalkannya, dengan mengurusi sesuai dengan keahlian kita, jika mendapatkan kesempatan tersebut. Maka, ilmu dan keahlian adalah amanah sedangkan mendapatkan amanah di bidang tersebut juga bagian dari memelihara amanah. Bukan justru menghindarinya.

Sesungguhnya pula, kehancuran negeri kita di berbagai bidang kehidupan juga tidak lepas dari kesalahan penempatan bagi mereka yang berwenang. Urusan diserahkan kepada mereka yang tidak memahami bidangnya atau sekedar memahami bidang tersebut karena terlanjur terbiasa, tetapi tidak mampu mengembangkannya menjadi lebih modern, menjadi lebih luas manfaatnya bagi orang banyak, karena tidak mempunyai dasar yang kuat di bidang tersebut.

Maka, hadirin rahimakumullaah, mari kita dorong diri kita untuk lebih kuat mengimani Allaah Ta’aala dan Hari Pembalasan, dengan tidak lupa pula tetap terus belajar dan menjadi ahli di bidang kita masing-masing, demi memenuhi amanah akal dan hati kita yang diberikan oleh Allaah SWT.

Kita dorong pula orang-orang di sekeliling kita, anak-anak kita, keponakan-keponakan kita, saudara dan kerabat dekat kita yang masih sekolah dan menempuh pendidikan untuk terus berusaha mencapai yang terbaik di bidangnya, sekaligus tetap memberikan nasihat keimanan kepada mereka, mengingatkan mereka dan diri kita bahwa ada amanah menanti kita dan mereka, maka kuatkan jiwa kita dan mereka, agar Allaah meridlai kita dan mereka dalam menjalankan amanah.

Untuk 2014 kelak, mari kita pilih dengan jiwa bersih dan niat baik, mana yang benar-benar sesuai dengan diri kita. Satu suara mungkin memang tidak berarti banyak, tetapi dengan memberikan suara, kita telah menghindarkan dari mubadzirnya surat suara, dicetak tapi tidak digunakan. Pemilu sudah menjadi kesepakatan bersama negeri kita untuk menjadi jalan bagi bergantinya kepemimpinan, maka mari kita berpartisipasi di dalamnya.

Yang terpenting, jangan sampai kita terpecah belah karena berbeda partai, berbeda pilihan caleg, atau berbeda calon presiden. Kita umat Islam sudah terlalu banyak menghabiskan waktu untuk membahas hal-hal agama yang sebenarnya para ulama sudah bersepakat untuk berbeda. Sementara di tempat lain, waktu yang bagi kita terbuang sia-sia, bagi sebagian yang lain digunakan untuk mendebatkan bagaimana cabang-cabang ilmu pengetahuan mampu membawa manfaat bagi umat manusia.

Mari hindarkan perpecahan, mari bersatu dalam perbedaan, untuk menjadi pribadi beriman sempurna, untuk kemudian mengembangkan ilmu pengetahuan dan keahlian masing-masing, demi bangsa dan negara yang lebih baik. Benar bahwa Pemilu 2014 adalah pergantian kepemimpinan bangsa, tetapi bagi kita semua, perubahan yang sesungguhnya adalah di lingkaran-lingkaran yang kecil, di sekitar masyarakat kita.

Mari, perbarui niat kita untuk memperkuat iman dan takwa setiap saat, yang dibarengi dengan ikhtiar pula untuk memperkokoh keilmuan kita di berbagai bidang, demi mencapai derajat sebaik-baik manusia: bermanfaat bagi orang lain, menjadi rahmat bagi semesta alam.

Semoga Allaah Ta’aala menolong kita, meridlai kita dalam usaha-usaha tersebut, Aamiin, Allaahumma Aamiin.

Khatbah Kedua: Berkah di Puncak Spiritualitas Hari Jumat

Bismillaah ar-Rahmaan ar-Rahiim,

Allaahumma shalli wa sallim ‘alaa Sayyidinaa Muhammad Shalla-Lllaahu ‘alayhi wa aalihi wa sallam.

Jumu’ah yang Ijabah

Menurut berbagai riwayat, hari Jumat adalah hari yang istimewa, bahkan sebuah hari raya bagi umat muslim. Hari Jumat juga salah satu waktu yang ijabah untuk berdoa.

Khusus tentang hal ini (waktu ijabah) para ulama bermacam-macam pendapatnya. Ada yang mengatakan saat masuk hari Jumat (Kamis pas maghrib), ada yang mengatakan jelang berakhirnya Jumat (Jumat pas ashar), ada pula yang berpendapat saat di antara dua khatbah.

Maka, mari berprasangka baik kepada Allaah Ta’aala, bahwa saat ijabah tersebut sengaja dirahasiakan, agar sepanjang hari Jumat (sejak Kamis maghrib hingga Jumat jelang maghrib) kita tanpa henti-hentinya berusaha meraih keijabahan tersebut: banyak istighfar, shalawat, dzikir, dan berdoa sepanjang hari Jumat.

Selain itu, di hari raya Jumat juga ada ibadah khusus bagi lelaki, yakni Shalat Jumat. Dalam ibadah Shalat Jumat, terdapat dua khatbah (dengan jeda sejenak di antara keduanya) kemudian ditutup dengan shalat dua rakaat.

Masing-masing Khatbah Jumat diawali dengan pujian kepada Allaah Ta’aala, kemudian dua kalimat persaksian (dua kalimat syahadat), shalawat kepada Rasuul SAW, dan wasiat ketakwaan. Ayat Qur`an juga harus dibacakan pada salah satu khatbah dan pada akhir khatbah kedua.

Khatbah yang Menarik

Aturannya, jamaah itu harus mendengarkan khatbah, bukan untuk ngobrol dengan jamaah lain (berkata satu kata saja ibadah Jumatnya batal!), apalagi tidur. Yah walaupun kalau ketiduran (tidak sengaja tidur) insya-Allaah masih bisa dimaklumi.

Maka sesungguhnya, penting bagi seorang khatib untuk memilih kata yang bagus atau tema yang menarik atau cara menyampaikan yang berbeda dalam khatbahnya, agar jamaah menyimak (bukan malah menjadi terkantuk-kantuk), agar nasihat-nasihat yang disampaikan bisa masuk ke dalam qalbu.

Sebagai contoh, sebisa mungkin khatib tidak melulu menduduk ke arah teks khatbahnya, tetapi lakukan kontak dengan jamaah. Sapulah pandangan ke seluruh jamaah (di arah 10 cm di atas kepala jamaah) agar terkesan ada kontak. Karena kalau langsung memandang ke mata jamaah dan terjadi kontak, bukan tidak mungkin muncul sekilas rasa grogi.

Contoh lain, adalah ada intonasi dalam berkhatbah. Guru public speaking saya pernah mengajarkan, seorang dai yang baik adalah al-Maghfurlah KH Zainuddin MZ. Intonasi beliau bisa lembut, bisa keras, bisa tegas, bisa dalam suaranya, dan seterusnya, bergantung konteks kalimat. Kalau sedang mengisahkan cerita (yang kemudian dibahas hikmahnya), misalnya, cobalah seperti para pendongeng: ada perbedaan suara ketika terjadi dialog.

Bisa pula dengan memilih kata-kata pembuka yang berbeda dari kelaziman: kalimat pujian kepada Allaah, kalimat shalawat, dan wasiat taqwa yang puitis, sehingga sejak awal khatbah jamaah akan menaruh perhatian. Misalnya, gunakan cara repetitif (berulang) tapi dengan kata yang berbeda meski masih bersinonim. Konsekuensi cara ini adalah khatib harus melanjutkannya penjelasannya dengan tema yang menarik, sehingga jamaah tidak bosan dan malah jatuh dalam jebakan kengantukan.

Khatbah Jumat itu komunikasi satu arah, maka kualitasnya ya bergantung pada sang Khatib. Kesempatan diberikan oleh agama, yakni diamnya jamaah, maka khatib harus bisa memanfaatkannya dengan baik dan seoptimal mungkin untuk memotivasi umat agar meneguhkan diri untuk selalu berusaha menjadi pribadi yang terbaik, begitu ibadah Jumat selesai.

Khatbah Kedua: Berdoa

Jika saya berkesempatan khatbah, biasanya uraian khatbah saya sampaikan seluruhnya di khatbah pertama. Mulai dari penjelasan hingga kesimpulan. Kemudian saya gunakan khatbah kedua total untuk berdoa.

Begitu membaca rangkaian hamdalah, syahadah, shalawat, wasiyat, dan ayat qur`an (biasanya ayat Shalawat, al-Ahzab 56) dimulailah rangkaian doa saya bacakan.

Bagi saya, khatbah pertama adalah ikhtiar bagi khatib dan jamaah untuk memperbaiki diri: mendengar teorinya kemudian meneguhkan jiwa untuk melaksanakannya. Sementara khatbah kedua adalah tawakkal, yakni ikhtiar bathin dalam memperbaiki diri dan masyarakat, dengan berdoa.

Bagaimanapun, dalam pandangan Islam, doa itu sama pentingnya dengan ikhtiar dan usaha. Di saat jamaah sedang dalam kondisi terbaik iman-taqwanya sejak masuk masjid, kemudian diteguhkan oleh karena uraian khatib di khatbah pertama, plus ijabahnya waktu di sepanjang Jumat untuk berdoa, maka saya berprasangka baik kepada Allaah Ta’aala, bahwa khatbah kedua itu merupakan puncak spiritual hari Jumat: sangat ijabah untuk berdoa!

Berikut ini adalah contoh kalimat yang biasa saya ucapkan sebelum memulai membaca doa:

Hadirin rahimakumullaah.

Di khatbah yg kedua ini, mari kita manfaatkan bertumpuk-tumpuknya keberkahan ini dg memohon dan megucap doa kpd Allaah Ta’aala.

Hari ini adl Hari Jumat, Hari Raya, Hari yang Mulia kata Kanjeng Nabi SAW. Maka ada keberkahan di sepanjang harinya.

Saat ini kita berada dalam majelis jum’at, sebuah majelis ilmu karena di dalamnya disampaikan nasihat keagamaaan dan juga merupakan majelis dzikir karena di dalamnya kita diingatkan utk mengingat Allaah Ta’aala dan Rasuulullaah SAW.

Maka kata Kanjeng Nabi SAW, ada keberkahan di majelis ilmu dan majelis dzikir.

Saat ini pula kita berada di dalam masjid, tempat untuk bersujud, rumah Allaah yang suci, maka ada keberkahan di dalamnya.

Saat ini pula kondisi jiwa dan qalbu kita adalah kondisi yg terdekat dg Allaah. Kita bersama-sama di dalam masjid krn keikhlasan, berniat menghadap Allaah, berniat ibadah, melupakan sejenak urusan keduniaan kita. Maka kondisi hati yg seperti ini adl yg terdekat dan terbaik, penuh keberkahan di dalam sikap semacam ini.

Maka hadirin rahimakumullaah, keberkahan yg bertumpuk-tumpuk ini, keberkahan waktu, keberkahan tempat, dan keberkahan kondisi ini mari kita gunakan utk memohon kehadirat Allaah SWT.

Semoga Allaah memudahkan urusan dunia kita, yakni urusan dunia yg mampu menjadi bekal bg kehidupan kita di akhirat kelak.

Memohon, semoga Allaah memudahkan kita dalam membiasakan diri dan mendidik anak-anak kita utk menjadi yang lebih baik, lebih beriman dan bertakwa.

Memohon kepada Allaah, semoga Allaah melindungi kita dan orang yg kita cintai, terutama negeri kita Indonesia beserta seluruh negeri muslim lainnya, dari segala bencana dan bala, dari segala konflik dan peperangan, dari segala pertumpahan darah maupun bencana alam. Aamiin, Allaahumma Aamiin…

*kemudian baca doa, khatbah selesai*

Setelah ini, akan saya bahas doa yang biasa saya bacakan dan uraian penjelasannya mengapa doa itu yang saya pilih. Teks doa arab dan maknanya, insya-Allaah akan saya lampirkan di akhir tulisan ini (siapa tahu ada yang mau memakainya).

1. shalawat ke Rasuul SAW

Begitu ayat Shalawat dibaca, doa di khatbah dibuka dengan bacaan Shalawat ke atas Rasuul SAW. Bacaan shalawat beribu macamnya, ada yang panjang ada yang pendek. Dalam khatbah, yang biasa saya baca yang lafadznya:

Ya Allaah, limpahkanlah shalawat atas Sayyidinaa Muhammad, hamba-Mu, Nabi-Mu, dan Rasul-Mu, Nabi yang ummiy.

2. kemudian diteruskan dengan doa untuk kaum muslim dan mukmin, sebagaimana sangat lazim kita dengar

Ya Allaah, ampunilah (dosa) kaum muslim laki-laki dan kaum muslim perempuan, kaum mukmin laki-laki dan kaum mukmin perempuan, (baik) yang masih hidup (maupun) yang telah wafat, sesungguhnya Engkau Maha-mendengar, Maha-dekat, lagi Maha-mengabulkan permintaan, Wahai Yang Mencukupi Kebutuhan.

3. doa qur`ani tentang keluarga

Jamaah Jumat itu semuanya laki-laki, para kepala keluarga (dan calon kepala keluarga). Maka penting bagi khatib untuk membaca doa ini, yakni dari surat al-Furqaan (25) ayat 74. Berdoa bagi seluruh jamaah agar mampu menciptakan keluarga yang baik.

Ya Allaah, Tuhan Pemelihara kami, anugerahkanlah untuk kami, dari pasangan-pasangan kami serta keturunan kami, penyejuk-penyejuk mata (kami) dan jadikanlah kami teladan-teladan bagi orang-orang bertakwa. [al-Furqaan (025): 74]

4. doa qur`ani tentang keteguhan petunjuk

Ibadah Jumat memberikan banyak nasihat dan petunjuk kepada jamaah, maka agar teguh dan tak bengkok hatinya selepas Jumat hingga bertemu dengan Jumat lagi, doa yang bersumber dari surat Aali ‘Imraan (003) ayat 8 ini juga penting untuk dibaca

Ya Allaah, Tuhan Pemelihara kami, janganlah Engkau jadikan hati kami berpaling, sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan anugerahkanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi (anugerah). [Aali ‘Imraan (003): 8]

5. doa qur`ani untuk kemudahan dalam urusan

selepas Jumat, berlanjutlah aktivitas umat. maka perlu dibaca doa ini, sebagai bekal spiritual bagi jamaah. doa ini bersumber dari surat al-Kahfi (018) ayat 10

Ya Allaah, Tuhan Pemelihara kami, anugerahilah kami rahmat dari sisi-Mu; dan siapkanlah bagi kami petunjuk untuk urusan kami. [al-Kahfi (018): 10]

6. doa umat Sayyidinaa Muhammad

setelah berdoa dengan lingkup lokal, puncak spiritual Jumat tersebut perlu pula kita manfaatkan untuk doa yang lebih global, doa keummatan. Doa ini saya kutip dari buku Nashaihul ‘Ibad nya Imam Nawawi al-Bantani.

Ya Allaah ampunilah umat Sayyidinaa Muhammad,

Ya Allaah rahmatilah umat Sayyidinaa Muhammad,

Ya Allaah tutupilah (kekurangan) umat Sayyidinaa Muhammad,

Ya Allaah (berilah) kecukupan (untuk) umat Sayyidinaa Muhammad,

Ya Allaah perbaikilah (urusan) umat Sayyidinaa Muhammad,

Ya Allaah (berilah) kesehatan (untuk) umat Sayyidinaa Muhammad,

Ya Allaah lindungilah umat Sayyidinaa Muhammad SAW

dan

Ya Allaah rahmatilah umat Sayyidinaa Muhammad dengan rahmat yang menyeluruh, wahai Tuhan Pemelihara Seluruh Alam.

Ya Allaah ampunilah umat Sayyidinaa Muhammad dengan ampunan yang menyeluruh, wahai Tuhan Pemelihara Seluruh Alam.

Ya Allaah lapangkanlah umat Sayyidinaa Muhammad dengan kelapangan yang datang dengan segera, wahai Tuhan Pemelihara Seluruh Alam.

7. doa keselamatan ummat
Bahasa lain dari doa ini adalah doa tolak bala’, doa yang berisi permohonan perlindungan kepada Allaah Ta’aala untuk kaum muslimin di seluruh negeri-negeri Islam. doanya cukup eksplisit karena bisa ditambah dengan menyebut nama tempat (dalam hal ini, saya tambahkan Indonesia), sebagaimana nanti nampak dalam teks doa.

Ya Allaah hindarkanlah kami dari bencana, bala`, malapetaka, kekejian, kemungkaran, silang sengketa, serta kekejaman dan peperangan, (baik) yang tampak (maupun) yang tersembunyi, di negeri kami Indonesia khususnya dan negeri-negeri kaum muslimin pada umumnya. Sesungguhnya Engkau Maha-kuasa atas segala sesuatu.

8. doa qur`ani penutup
setelahnya, ditutup dengan dua doa qur`ani, yang memang sudah sering dan lazim dibaca dalam berbagai bentuk rangkaian doa: doa sapu jagad (al-Baqarah (002): 201) dan doa ibrahim (al-Baqarah (002): 127-128), karena cakupannya yang menyeluruh

Ya Allaah, Tuhan Pemelihara kami, anugerahilah kami hasanah (segala yang baik) di dunia dan hasanah di akhirat dan peliharalah kami dari azab neraka. [al-Baqarah (002): 201]

dan

Ya Allaah, Tuhan Pemelihara kami, terimalah dari kami (amal kami) sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha-mendengar lagi Maha-mengetahui, dan terimalah taubat kami, Wahai Penolong kami, sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha-penerima taubat lagi Maha-pengasih. [al-Baqarah (002): 127-128]

9. kalimat-kalimat penutup
doa pun ditutup dengan pengharapan surga sebagai bentuk iman dengan akhirat, shalawat, dan pujian kepada Allaah Ta’aala

Dan masukkanlah kami ke dalam surga bersama orang-orang yang berbuat baik, wahai Yang Maha-perkasa lagi Maha-pengampun, (wahai) Tuhan Pemelihara Seluruh Alam.

kemudian

Dan shalawat Allaah (terlimpahkan) ke atas Sayyidinaa Muhammad serta ke atas keluarga dan sahabat beliau, (serta) berkatilah dan sejahterakanlah.

serta

Maha-suci Tuhan Pemeliharamu, Tuhan Pemelihara Yang Maha-mulia dari apa yang mereka sifatkan, dan (terlimpahlah) kesejahteraan ke atas rasul. Segala puji bagi Allaah, Tuhan Pemelihara Seluruh Alam.

Demikianlah rangkaian doa yang lazim untuk saya baca.

Semoga mampu menjadi masukan bagi para khatib, demi mengantar para umat pada puncak spiritualitas hari Jumat: berdoa pada Khatbah Kedua.

Wallaahu a’lam.

File 1, rangkaian doa dalam ukuran kertas A5, format pdf, arab saja: doa jumat arab A5

File 2, rangkaian doa dalam ukuran kertas A5, format pdf, arab dan makna: doa jumat arab A5 – makna

NB: bagi para pembaca yang menemukan kekeliruan redaksional dalam arab dan maknanya, mohon koreksi

Mensyukuri Nikmat Tenteram di Indonesia

Disampaikan sebagai khatbah Jumat di Masjid Kagungan Dalem al-Falaah Blunyah Gede, Yogyakarta pada 18 Januari 2013.

___

Hadirin rahimakumullaah, alhamdulillaah, perlu kita syukuri bersama bahwa Allaah Ta’aala berkenan menggariskan bagi kita bisa lahir dan besar di negeri bernama Indonesia dalam keadaan mengenal indahnya iman dan islam. Sesungguhnya, nikmat terbesar adalah terikatnya jiwa kita kepada iman dan islam, namun nikmat berada di negeri bernama Indonesia pun merupakan nikmat yang tak kalah besarnya.

Kalau kita sejenak menengok ke belahan dunia lain dan merangkainya dengan berbagai peristiwa yang akhir-akhir ini terjadi, kita akan melihat betapa nikmatnya berada di Indonesia. Sebut saja negara selain Indonesia, niscaya tak akan kita temukan tempat senyaman negeri kita ini, Indonesia.

Arab Saudi misalnya, akan kita temui betapa kerasnya pembatasan kepada kaum wanita dan betapa kakunya kehidupan keberaganaan di sana. Pakistan, Irak, dan Afghanistan misalnya, di negara tersebut akan kita temui betapa mengerikannya proses jegal-menjegal dalam rangka memperebutkan kursi-kursi kekuasaan. Hampir setiap hari di Pakistan akan kita temui berita mengenai bom mobil atau penembakan-penembakan yang menewaskan orang tak bersalah.

Mesir, Libya, dan Tunisia kondisinya setelah reformasi justru kacau balau. Saat ini, ketiga negara dengan penduduk muslim yang mayoritas ini sedang mengalami masa seperti di Indonesia pada tahun 1945: rembugan tentang dasar negara. Patut kita syukuri bersama bahwa kita dikaruniai para negarawan dengan jiwa yang besar, sehingga mampu merumuskan Pancasila sebagai jalan tengah bagi majemuknya bangsa Indonesia. Di ketiga negara tersebut, saat ini sedang dihadang ancaman perpecahan karena masing-masing kubu, ada yang ingin jadi negara demokrasi, ada yang ingin jadi negara Islam, ada yang ingin jadi negara demokrasi dengan jiwa Islami, semuanya bersikeras dengan pandangannya masing-masing bahkan tak segan untuk mengangkat senjata.

Begitu juga dengan negara tetangga kita Malaysia. Harus diakui, bahwa Malaysia saat ini memang lebih maju daripada kita. Tetapi sesungguhnya, kehidupan sosial di Malaysia masih sama dengan kondisi Indonesia pada tahun 1990-an, di mana pemerintah mengontrol semua media komunikasi, radio, televisi, dan koran. Segala kritikan pada pemerintah pasti tidak akan pernah menjadi berita untuk dikonsumsi masyarakatnya. Yang terparah adalah, sesungguhnya Malaysia berada dalam ancaman konflik rasial, konflik karena perbedaan warna kulit. Partai politik terbesar di Malaysia ada tiga, satu untuk yang bangsa Melayu, satu untuk keturunan bangsa Cina, dan yang satu untuk keturunan bangsa India. Terpecah belah atas suku dan warna kulit, berbeda dengan kita bangsa Indonesia yang sudah dewasa, tak lagi memperasalahkan perbedaan suku bangsa untuk urusan politik dan kekuasaan.

Hadirin rahimakumullaah. Allaah Ta’aala berfirman dalam az-Zukhruf (43): 32

zukhruf 32

Apakah mereka (orang-orang musyrik itu) yang (kuasa) membagi-bagi rahmat Tuhan Pemelihara kamu? (Tidak!); Kami telah membagi di antara mereka (berdasar kebijaksanaan Kami) penghidupan mereka di kehidupan dunia, dan Kami meninggikan sebagian mereka di atas sebagian yang lain (beberapa derajat), supaya sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian (yang lain, yakni tolong menolong). Dan rahmat Tuhan Pemelihara kamu lebih baik (bagimu) dari apa yang mereka kumpulkan (berupa kekayaan dan kekuasaan duniawi).

Ayat ini mengandung makna bahwa di dalam sebuah masyarakat, di dalam sebuah bangsa pasti akan terdiri atas berbagai macam manusia, berbagai macam kondisi ekonomi, berbagai macam keahlian dan profesi. Mengapa Allaah menggariskan seperti itu? Jelas alasannya, agar kita semua saling mengambil manfaat antara satu dengan lainnya. Orang kaya adalah harapan bagi orang miskin untuk menyambung khidupannya, sementara orang miskin adalah pemuas jiwa bagi orang kaya, yakni sebagai tempat bershadaqah dan berbagi kebahagiaan. Sudah menjadi kesimpulan semua ajaran agama dan kebudayaan semua bangsa, bahwa sekedar kaya tanpa berbagi akan menjadi kekosongan bagi jiwa.

Yang lebih pandai akan menjadi perencana, sementara yang yang tidak begitu pandai akan menjadi pelaksana. Seorang sarjana teknik yang merancang rumah akan dibayar jauh lebih tinggi daripada tukang batu yang membangun, karena pekerjaan sang sarjana membawa tanggung jawab besar, yakni memastikan kuat tidaknya bangunan tersebut untuk ditinggali selama puluhan bahkan ratusan tahun, sementara tukang batu bayarannya lebih kecil, karena ia hanya bertanggung jawab selama proses pembangunan berlangsung. Ibaratnya, sarjana bertanggung jawab selamanya, tukang batu bertanggung jawab hanya selama proses membangunnya. Masing-masing golongan masyarakat memiliki tanggung jawab sendiri-sendiri dan masing-masing pula dapat mengambil manfaatnya bagi diri sendiri tanpa merugikan orang lain. Kesemuanya telah digariskan oleh Allaah Ta’aala.

Allaah Ta’aala juga berfirman dalam surat al-Hujuraat (49): 13

hujurat 13

Wahai manusia! Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan serta menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allaah ialah yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allaah Maha Mengetahui, lagi Maha Mengenal.

Selain Allaah ciptakan manusia dalam golongan-golongan keahlian dan kemampuan, Allaah gariskan pula manusia dalam kelompok-kelompok besar, yakni suku dan bangsa, agar saling mengenal satu dengan lainnya. Apa maksud dan tujuan perkenalan tersebut? Jelas adanya, bahwa terwujudnya sebuah kerjasama yang saling membawa manfaat dimulai dengan mengenali mitra kerjasama tersebut. Apa yang kita punya, apa yang kita bisa, apa yang mereka punya, apa yang mereka bisa, di mana pengenalan tersebut akan berujung pada satu pemahaman bersama yakni karena saling membutuhkan, maka mari saling memberi manfaat, bukan sekedar mencari keuntungan semata yang berakhir pada penindasan dan penguasaan yang kuat kepada yang lemah.

Inilah takdir manusia sejak dalam awal penciptaannya, “khalaqal-insaana min ‘alaq” yang artinya “dan diciptakanlah menusia dari sesuatu yang bergantung pada dinding rahim”, bahwa manusia tak akan pernah bisa mampu berdiri sendiri, tanpa berinteraksi dengan masyarakat.

Hadirin rahikumullaah. Mari kita isi rasa syukur kita, yakni rasa syukur kita tentang kondisi bangsa yang relatif tenteram dalam sehari-harinya dengan kegiatan positif dalam rangkaian ikhtiar dan tawakkal kita untuk menjadi pribadi yang terbaik bagi orang lain, yang terbaik bagi masyarakat, yang terbaik bagi bangsa dan negara.

Memang benar ada sebagian siswa dan mahasiswa yang menkhianati kewajibannya dengan tawuran. Memang ada segolongan masyarakat yang saling menumpahkan darah hanya karena masalah sepele tanpa dipahami terlebih dahulu permasalahannya. Memang ada menteri, hakim, anggota dewan, bupati, walikota, atau pejabat publik lain yang menzhalimi dirinya dan masyarakat dengan perilaku curang dan korup.

Semua perilaku tidak Islami tersebut memang ada, sering terjadi, dan bahkan mungkin saat ini pun masih terus.berlangsung. Tetapi cukuplah hal-hal buruk tersebut menjadi catatan dan pengingat bagi kita dalam menjalani kehidupan ke depan.

Karena sikap kita yang laling tepat adalah bagaimana kita menemukan berkas-berkas cahaya di antara kegelapan pekat tersebut. Bahwa masih banyak siswa dan pelajar yang tidak tawuran dan masih fokus belajar. Bahwa masih banyak masyarakat yang sudah dewasa dalam menghadapi konflik, tidak grusa-grusu menyelesaikan masalah dengan dendam dan menumpahkan darah. Bahwa masih banyak menteri, anggota dewan, hakim, bupati, walikota, gubernur, dan pejabat publik yang jujur dan setia dengan nilai kebenaran.

Hal-hal positif inilah yang sudah seharusnya menjadi baterai bagi kita dalam berkarya dan bertindak. Mari kita motivasi anak-anak kita, saudara-saudara kita, orang-orang terdekat dalam kehidupan kita dengan kisah-kisah yang bercahaya ini, bahwa masih ada harapan bagi negeri kita untuk bangkit dari keterpurukan akhlak.

Kita dorong mereka agar terus melanjutkan sekolah dan pendidikan, sedangkan bagi yang sudah bekerja mari kita semangati mereka untuk berani bertindak jujur dan benar. Katakan pada mereka, bahwa kita tidak pernah sendiri dalam berbuat baik.

Hadirin rahimakumullaah. Momentum tahun baru dan hadirnya bulan Rabbi’ul ‘Awwal adalah waktu yang sangat bagi kita untuk memperbarui semangat juang kita untuk menjadi pribadi yang baik, pribadi shalih dalam iman dan taqwa kepada Allaah yang mampu mendatangkan manfaat bagi orang lain di sekitar kita. Kita cari informasi-informasi masyhur bagaimana Rasuulullaah SAW mampu menjadi motor perubahan ke arah positif, dengan akhlak dan perilaku beliau yang sangat terpuji.

Allaah Ta’aala berfirman dalam Ar-Ra’d (13): 11

ra'd 13

Sesungguhnya Allaah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah apa (sikap mental dan pikiran) yang ada pada diri mereka.

Prof. Quraish Shihab menjelaskan dalam bukunya Wawasan al-Qur’an bahwa Ayat ini berbicara tentang dua macam perubahan dengan dua pelaku. Pertama, perubahan masyarakat yang pelakunya adalah Allah, dan kedua perubahan keadaan diri manusia (sikap mental) yang pelakunya adalah manusia. Perubahan yang dilakukan Tuhan terjadi secara pasti melalui hukum-hukum masyarakat yang ditetapkan-Nya. Hukum-hukum tersebut tidak memilih kasih atau membedakan antara satu masyarakat/kelompok dengan masyarakat/kelompok lain.

“Ma bi anfusihim” yang diterjemahkan dengan “apa yang terdapat dalam diri mereka”, terdiri dari dua unsur pokok, yaitu nilai-nilai yang dihayati dan iradah (kehendak) manusia. Perpaduan keduanya menciptakan kekuatan pendorong guna melakukan sesuatu.

Ayat di atas berbicara tentang manusia dalam keutuhannya, dan dalam kedudukannya sebagai kelompok, bukan sebagai wujud individual. Dipahami demikian, karena pengganti nama pada kata anfusihim (diri-diri mereka) tertuju kepada qawm (kelompok/masyarakat). Ini berarti bahwa seseorang, betapapun hebatnya, tidak dapat melakukan perubahan, kecuali setelah ia mampu mengalirkan arus perubahan kepada sekian banyak orang, yang pada gilirannya menghasilkan gelombang, atau paling sedikit riak-riak perubahan dalam masyarakat.

Hadirin rahimakumullaah, tak perlu menunggu pemilu atau pemilihan kepala daerah, mari menggulirkan perubahan ke arah yang lebih baik Indonesia sebagai bentuk syukur kita atas ketenteraman ini. Mari kita mulai dari diri sendiri, dari orang-orang terdekat dalam kehidupan kita, yang nantinya akan merembes ke perubahan di masyarakat, bangsa, dan negara, insya-Allaah. Semoga Allaah Ta’aala meridlai ikhtiar zhahir dan bathin kita untuk mencapai sebaik-baik manusia, yakni insan yang mampu memberi manfaat kepada lainnya. Amiin, allaahumma amin.

_____

Semoga bermanfaat dan membawa secercah cahaya bagi hati para pembaca!

Kampus JTF UGM, 18 Januari 2013, 16:20 [UTC+7],

Ahmad Rahma Wardhana,

stempel