Cintailah Anak-anak, Berikan Doa dan Teladan Akhlak kepada Mereka

Hadirin yang dirahmati Allaah Ta’aala.

Sesungguhnya fitrah suci manusia itu bukan hanya berhenti pada sekedar sebuah pernikahan, tetapi juga bagaimana pernikahan mampu melanjutkan nasab kebaikan, mampu memperbarui satu generasi baru, generasi yang penuh dengan kesalehan, yakni mempunyai anak, mempunyai keturunan.

Kisah Nabiyullaah Ibrahim ‘AS dan Nabiyullaah Zakariya ‘AS misalnya, adalah contoh nyata bagaimana beliau berdua tidak pernah putus asa mengharap rahmat Allaah Ta’aala menemani kehidupan Beliau berdua, yakni berputra.

Nabiyullaah Zakariya ‘AS (al-Anbiya [21] 89)

doa nabi zakariya

dan (ingatlah kisah) Zakaria, tatkala ia menyeru Tuhannya: “Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah waris yang paling Baik.

Dijawab doanya oleh Allaah Ta’aala dengan mengaruniakan Nabi Yahya ‘AS, meskipun usia Nabi Zakariya ‘AS sudah sepuh.

Sementara Nabiyullaah Ibrahim ‘AS dengan doanya yang sangat masyhur (ash Shaaffaat [37] 100)

doa nabi ibrahim - ash shaffat

Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang Termasuk orang-orang yang saleh.

Diijabahi oleh Allaah Ta’aala dengan mengaruniakan Ismail dari istrinya Hajar dan Ishaq dari istrinya Sarah. Ismail dan Ishaq menjadikan Nabiyullaah Ibrahim ‘AS sebagai puncak nasab, puncak garis keturunan, Bapak para Nabi dan Rasul. Ishaq akan menjadi Nabi ‘AS dan berputra Nabi Ya`qub ‘AS. Nabi Ya`qub ‘AS akan berputra Nabi Yusuf ‘AS dan akan menjadi leluhur dari para Nabi dan Rasul di tanah Palestina.

Sementara Ismail juga akan menjadi Nabi ‘AS dan dari salah satu keturunan Nabi Ismail ‘AS-lah, Rasuulullaah Sayyidinaa Muhammad SAW akan dilahirkan sebagai penutup nasab, penutup jalan keturunan para Nabi dan Rasuul.

Maka, boleh kita katakan, kisah nasab para Nabi dan Rasuul itulah yang memperkokoh pendapat bahwa berkeluarga dan berketurunan adalah cara yang tepat bagi umat manusia untuk menghasilkan generasi baru yang baik, shaleh, dan beriman kepada Allaah Ta’aala.

Hadirin rahimakumullaah.

Kasih sayang orang tua kepada anaknya jauh lebih besar daripada cinta anak kepada bapak-ibunya. Kisah Nabi Nuh ‘AS di dalam Surah Huud dan kisah Nabi Ya`qub ‘AS dengan putranya Yusuf (yang juga akan menjadi Nabi ‘AS) menjadi bukti besarnya cinta orang tua kepada anaknya.

Al-Qur`an surah Huud [11] ayat 42 dan 43 mengisahkan,

Dan Nuh memanggil anak kandungnya, sedangkan anak itu berada di tempat yang jauh terpencil,

“Hai anakku, naiklah (ke perahu) bersama kami, dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir.”

Anaknya menjawab,

“Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!”

Nuh berkata,

“Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allaah selain Allaah (saja) Yang Maha Penyayang.”

Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.

Bahkan, setelah anaknya yang ngeyel tadi tenggelam, saat air bah sudah surut dan Nabi Nuh ‘AS beserta kaumnya yang beriman selamat kembali ke daratan, cinta Nabi Nuh ‘AS tidak pupus. Al Qur`an memberikan informasi dalam ayat berikutnya, surah Huud ayat 45 dan 46

Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata,

“Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya.”

Allaah berfirman,

“Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan). Sesungguhnya (perbuatannya) perbuatan yang tidak baik. Sebab itu, janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakikat)-nya. Sesungguhnya Aku (Allaah) memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan”

Demikian kisah cinta Nabi Nuh ‘AS kepada putranya. Sedangkan kisah cinta Nabi Ya`qub ‘AS kepada putranya Yusuf diabadikan di surah Yusuf [12] ayat 84

“Aduhai duka citaku terhadap Yusuf!” dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan.

Itu adalah ucapan Nabi Ya`qub ‘AS saat mendengar kabar buruk tentang Yusuf muda yang diikuti dengan kebutaan pada mata beliau Nabi Ya`qub ‘AS.

Dan saat Nabi Ya`qub mendapat kabar gembira tentang Yusuf muda, dengan mencium aroma putra kesayangannya melalui baju yang dikirimkan Yusuf kepada Nabi Ya`qub ‘AS, pulihlah penglihatannya.

Al Qur`an menceritakan (Yusuf [12]: 96),

Tatkala telah tiba pembawa kabar gembira itu, maka diletakkannya baju gamis itu ke wajah Ya`qub, lalu kembalilah dia dapat melihat.

Betapa kuatnya cinta ayah kepada anaknya, hingga kepergian sang anak mampu membutakan mata ayahnya, dan karena besarnya cinta itu, hanya aroma sang anak lewat sebuah baju pun mampu mengembalikan penglihatannya.

Hadirin rahimakumullaah.

Fitrah orang tua adalah cinta yang begitu kuat dan besar kepada anak-anaknya, sebagaimana contoh kedua Nabi utusan Allaah tadi. Bahkan ketika seseorang melihat bayi atau anak kecil yang bukan kerabat dekatnya sekalipun, kita akan terjatuh dalam pesona anak kecil.

Hal ini terjadi karena fitrah kita yang dewasa, yakni mencintai anak, bertemu dengan fitrah anak-anak, yakni kepolosan dan kesucian anak-anak, baik kesucian perilaku maupun kesucian hati mereka. Rasuulullaah SAW bersabda tentang kesucian seorang anak

hadits anak fitrah

Semua anak terlahirkan membawa fitrah keagaamaan yang benar. Kedua orang tuanya lah yang menjadikan ia menganut agama Yahudi atau Nasrani atau Majusi.

Anak-anak ibarat kertas putih bersih dan kedua orangtuanya yang akan memulai menulisi kertas tersebut dengan kebaikan atau keburukan.

Hadirin yang dirahmati Allaah Ta’aala.

Seorang anak sedang digendong oleh Rasuulullaah SAW tiba-tiba ngompol. Lalu dengan kasar ibu/pengasuhnya merenggut sang anak, sehingga menangislah anak tersebut. Rasuulullaah SAW menegurnya sembari bersabda,

hadits ramah kpd anak

Perlahan-lahanlah! Sesungguhnya ini (Beliau SAW menunjuk kepada pakaian beliau) dapat dibersihkan oleh air, tetapi apa yang dapat membersihkan kekeruhan hati sang anak?

Ketika suatu saat Rasuulullaah SAW mencium cucunya, Sayyidinaa Hasan bin Ali bin Abi Thalib yang masih kecil, al-Aqra` bun Haabis berkomentar, “Saya memunyai sepuluh orang anak, tidak satu pun di antara mereka yang saya cium”. Rasuulullaah SAW kemudian bersabda,

hadits cium anak 1

Siapa yang tidak memberi rahmat tidak dirahmati.

Bahkan Rasuulullaah SAW berkomentar kepada seseorang yang tidak pernah mencium anaknya,

hadits cium anak 2

Apakah saya dapat melakukan sesuatu untukmu setelah Allaah mencabut kasih sayang dari hatimu?

Hadirin rahimakumullaah.

Demikianlah pentingnya kita mencurahkan kasih sayang kepada anak-anak, lebih-lebih anak kita sendiri atau kerabat dekat kita. Sesuatu yang buruk, meskipun sangat kecil bentuknya akan mempengaruhi jiwa mereka dan boleh jadi akan membekas hingga menjadi luka yang tak tersembuhkan.

Kasus di sekolah internasional di Jakarta adalah contoh pelecehan yang nyata. Saya menangis membaca beritanya. Sang anak tak mau cerita kepada ibunya, baru setelah ibunya mengibaratkan pamannya sebagai pahlawan yang akan memberantas kejahatan, berceritalah sang anak kepada pamannya, dan terbukalah kasus pelecehan ini.

Kita sangat sedih mendengar ini. Dia bukan siapa-siapa kita. Tetapi dia hanya anak-anak yang sangat polos. Trenyuh membayangkan betapa sang anak sangat terluka, tidak mau bertemu dengan orang lain. Takut dengan pisau. Menangis setiap malam. Dan trauma-trauma lainnya. Bagaimana dengan masa depannya? Bagaimana kehidupannya saat dewasa nanti? Banyak kekhawatiran muncul.

Kasus tersebut hanya satu contoh yang sangat parah. Tetapi juga sangat mungkin hal semacam itu terjadi di sekitar kita, meskipun tidak sampai tingkat separah itu pelecehannya.

Melalui mimbar ini pula, saya mendorong kepada diri saya sendiri utamanya dan secara umum kepada seluruh hadirin rahimakumullaah, mari mulai sekarang kita perbaiki perilaku kita kepada anak-anak, siapapun anak itu, saudara atau bukan, kerabat atau bukan, berperilaku baiklah kepada mereka.

Setiap bertemu dengan anak kecil atau bayi, sedang semarah apapun suasana hati kita, seburuk apapun diri kita yang sesungguhnya berikan senyum kepada mereka. Jangan sekalipun tunjukkan ekspresi buruk atau bahkan perilaku tidak terpuji. Jangan, jauhkan mereka dari seperti itu.

Kalau perlu ucapkan doa Nabi Ibrahim ‘AS kepada mereka, rabbi habli minash-shalihiin. Sentuh mereka, cium mereka, berikan kasih sayang kepada mereka.

Generasi muda kita sekarang masih ada banyak yang masa lalunya kurang disayangi oleh orang lain. Maka dia tidak pernah menunjukkan kasihnya kepada orang lain. Di Jakarta, seusia SMP dan SMA tawur dengan senjata tajam. Di Jogja pernah terjadi pembunuhan dengan anak panah beracun.

Di Makassar mahasiswa, generasi muda kita, tidak segan membakar kampusnya karena dendam, padahal semuanya muslim. Saat kampanye kemarin, di Jogja, yang kampanye pemuda, tapi arogansinya luar biasa. Orang lain sedang mau menepi, sedang proses menepikan kendaraannya, dihantam begitu saja dianggap terlalu lama.

Di mana rahmat mereka sebagai manusia kepada sesama manusia? Di mana cinta kasih mereka kepada sesama manusia? Jangan-jangan, dulu orang tuanya kurang kuat doanya, kurang istiqamah doanya, kurang perhatian, atau bahkan karena orang tuanya jarang menampakkan rasa cintanya kepada sang anak?

Hadirin yang dirahmati Allaah.

Mari kita sekarang kita berubah, kita perbaiki perilaku kita kepada anak dan bayi. Curahi mereka dengan rasa sayang, curahi mereka dengan doa-doa kita.

Allaah tidak akan menyia-nyiakan sebuah perbuatan baik, sekecil apapun ada balasannya. Jika kelak ada seorang anak, yang dewasa dan menjadi orang shalih karena kita, meskipun sumbangan kita hanya dengan doa atau sebuah perilaku baik, maka ingat, fa man-ya’mal mitsqala dzarratin khayray-yarah, tidak ada perbuatan baik, sekecil apapun perbuatan itu, kecuali berbalas kebaikan dari Allaah.

Dan sebaliknya, jika kelak ada anak yang dewasanya menjadi tidak baik, berakhlak buruk, dan itu karena sumbangan kita, karena kita pernah berperilaku buruk di depannya dengan sengaja, meskipun hanya kecil, meskipun hanya sepele, ingat lahaamaa kasabat wa ‘alayha mak tasabat, perbuatan baik ada balasan rahmatnya, perbuatan buruk ada balasan hukumannya.

Mari bersama-sama kita cegah generasi buruk lahir. Kita semua bisa mencegahnya bersama-sama, dengan perbuatan diri masing-masing. Jangan pernah sepelekan karena kecil, karena Allaah al-Lathiif, Maha-lembut, termasuk betapa rincinya Allaah dalam meneliti perbuatan kita, selembut apapun, sekecil apapun perbuatan baik itu.

Ingat bahwa kita tidak mewarisi alam semesta ini dari leluhur kita, tetapi sekarang kita meminjam bumi ini dari anak-keturunan kita. Kita bersama-sama cegah bangsa ini dari cengkeraman pemimpin zhalim dan tak berakhlak dengan mendidik generasi muda kita lewat doa dan teladan kebaikan.

Allaah Ta’aala berfirman dalam surah at-Tiin ayat keempat,

at tiin 4

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk (fisik dan psikis) yang sebaik-baiknya.

Dalam ayat ini Allaah menggunakan kata “Kami”, bukan “Aku” yang membawa makna ada peran selain Allaah, yakni peran orang tua, peran Bapak dan Ibu. Juga dengan peran orang dan lingkungan seseorang ketika ia beranjak dewasa.

Hadirin rahimakumullaah.

Tidak perlu menunggu Pemilu 5 tahun sekali untuk mengubah negeri kita menjadi lebih baik. Mari kita mulai sekarang dengan berinvestasi doa dan teladan kebaikan kepada setiap anak kecil, utamanya anak kita sendiri dan kerabat kita, maupun anak-anak yang kita temui, demi masa depan mereka dan masa depan bangsa kita.

Kalau Allaah menjamin kita sebagai sebaik-baik ciptaan dan negeri ini diisi, dipimpin oleh sebaik-baik manusia, maka akan terwujud keluarga-keluarga terbaik, kampung-kampung terbaik, dan akhirnya terus meluas menjadi negeri terbaik yang penuh dengan keberkahan Allaah Ta’aala.

Sebagai penutup, Sayyidinaa ‘Ali karamallaahu wajhah, menantu dan khalifah Rasuul SAW keempat berpesan,

sayyidina ali - pendidikan anak

Didiklah anak-anakmu, (dengan pendidikan yang sesuai) karena mereka itu diciptakan untuk masa yang berbeda dengan masamu (Sayyidinaa ‘Ali KW).

Mari, selain memberikan doa dan teladan dalam berperilaku dan berkata-kata, kita fasilitasi anak-anak, generasi muda kita dengan pendidikan yang terbaik, demi masa depan mereka, masa depan bangsa Indonesia, masa depan umat manusia.

Semoga Allaah memudahkan hati dan diri kita untuk terus memperbaiki diri, aamiin Allaahumma aamiin.

***

Disampaikan sebagai khatbah Jumat pada 25 April 2014 di Masjid Sabilul Muttaqin, Jalan Monjali.

 

Memelihara Amanah

Disampaikan sebagai khatbah dalam majelis jumat di Masjid Kagungan Dalem al-Falaah Blunyah Gede, 27 Desember 2013

Hadirin yang dirahmati Allaah SWT, pertama dan paling utama, dalam berbagai kesempatan untuk memberikan nasihat di atas mimbar, saya selalu memulainya dengan ungkapan syukur alhamdulillaahirabbil-áalamiin, segala puji hanya disandang oleh Allaah SWT, Sang Pencipta, Pemilik, dan Pengatur Alam Raya Semesta, yang memperkenankan kita untuk hidup menjadi Muslim di negeri bernama Indonesia.

Indonesia, negara dengan penduduk Muslim sebagai mayoritasnya, alhamdulillaah tidak mengalami perpecahan sebagaimana terjadi di negeri Muslim lain seperti Afganistan, Irak, Suriah, Yaman, Libanon, Mesir, dan Turki, serta negara-negara Muslim di benua Afrika. Di negara-negara tersebut tadi, sungguh sangat memprihatinkan, Muslim sebagai penduduk terbesar, tapi justru sesama Muslim pula tidak segan, tidak malu, tidak ragu untuk saling membunuh, demi meraih kekuasaan dalam mengurusi suatu wilayah. Berebut wilayah, berebut kedudukan, dan kekuasaan dengan saling membunuh sesama Muslim. Naúdzubillaah, tsumma naúdzubillaah. Semoga Allaah Ta’aala menghindarkan Indonesia dari bentuk perpecahan seperti itu, Aamiin, Allaahumma Aamiin.

Hadirin rahimakumullaah. Dalam Shahih Bukhari dikisahkan bahwa satu tahun sesudah kematian Abu Lahab, paman Rasuul SAW yang saking jahatnya kepada Rasuul SAW hingga kejahatannya diabadikan menjadi salah satu surah dalam al-Qur`an, Paman Rasuul SAW yang lain, al-‘Abbas bertemu dengan Abu Lahab di dalam mimpi. Abu Lahab dalam pertemuan tersebut memakai pakaian putih dan saat ditanya keadaannya, Abu Lahab menjawab bahwa ia berada di neraka, tetapi mendapat keringanan siksa pada setiap malam Senin.

Bagaimana seorang Abu Lahab bisa mendapat keringanan siksa? Ternyata keringanan siksa Abu Lahab didapat dari kegembiraannya saat mendengar berita kelahiran Sayyidinaa Muhammad SAW. Saat Nabi SAW lahir, budak Abu Lahab yang bernama Tsuwaibah memberitakan kelahiran Muhammad kecil kepadanya dan betapa bergembiranya Abu Lahab mengetahui keponakannya lahir, Abu Lahab memerdekakan Tsuwaibah yang telah mengabarinya.

Hadirin rahimakumullaah, demikian ganjaran yang diterima Abu Lahab, meski begitu besar dosanya kepada Rasuulullaah SAW, maka kita semua yang tidak hanya sekedar bergembira, tapi bahkan senang bershalawat kepada Rasuul SAW dan menjalankan ajaran beliau, insya-Allaah mendapatkan syafa’at dari beliau SAW di hari akhir nanti, Aamiin, Allaahumma Aamiin.

Selanjutnya, di hari Jumat yang mulia ini, di Majelis yang penuh keberkahan ini, saya kembali mengingatkan, khusus dan utamanya kepada diri saya sendiri, dan umumnya kepada seluruh hadirin rahimakumuullaah, marilah kita kembali memperbarui sekaligus meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allaah SWT, dengan sebenar-benarnya iman dan takwa.

Mari selalu kita tanamkan di dalam benak kita, bahwa ukuran derajat manusia di hadapan Allaah Ta’aala tidaklah dari harta-benda atau kekayaan, tapi dari ketakwaannya.

Pada ayat ke-13 dalam surah ke-49, surah al-Hujuraat, setelah menerangkan betapa beragamnya umat manusia, Allaah Ta’aala berfirman

Image

yang bermakna

Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu

Hadirin yang semoga dirahmati Allaah SWT, di dalam sebuah Hadits Qudsi yang diriwayatkan oleh Abu Syaikh yang bersumber dari Ibnu Abbas RA, Allaah SWT berfirman

يَا اٰدَمُ اِنّٖى عَرَضْتُ الْاَمَانَةَ عَلَى السَّمٰوٰاتِ وَ الْأَرْضِ، فَلَمْ تُطِقْهَا. فَهَلْ اَنْتَ حَامِلُهَا بِمَا فِيْهَا؟

Wahai Adam! Sesungguhnya Aku (Allaah) telah menawarkan amanah kepada langit dan bumi, namun mereka tidak mampu. Apakah engkau sanggup memikul dengan segala akibatnya?

قَالَ، وَمَا لٖى فِيْهَا؟

Adam berkata, “Apa yang saya dapat daripadanya?”

قَالَ، اِنْ حَمَلْتَهَا اُجِرْتَ، وَ اِنْ ضَيَّعْتَهَا عُذِّبْتَ.

Allaah menerangkan, “Jika engkau sanggup memikulnya, engkau akan diberi pahala, tetapi jika engkau menyia-nyiakannya, engkau akan disiksa.”

فَقَالَ، قَدْ حَمَلْتُهَا بِمَا فٖيهَا.

Adam berkata, “Baiklah saya pasti dapat memikul dengan segala akibatnya.”

فَلَمْ يَلْبَثْ فِي الْجَنَّةِ اِلَّا مَا بَيْنَ صَلٰاةِ الْاُولٰى وَ الْعَصْرِ حَتّٰى اَخْرَجَهُ الشَّيْطَانُ مِنْهَا.

Tidak berapa lama kemudian, sekedar selama waktu antara shalat shubuh  dan shalat ashar Adam berada di surga, terjadilah peristiwa dengan syaithan sehingga ia dikeluarkan dari surga.

Hadits Qudsi tadi, sejalan dengan apa yang tercantum di dalam al Qur`an surah ke-33, surah al-Ahzab ayat 72, Allaah SWT berfirman

beratnya amanah

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu Amat zalim dan Amat bodoh.

Hadirin yang dirahmati Allaah SWT, inilah gambaran beratnya amanah yang dipikul oleh seorang manusia, apapun bentuknya. Tahun depan, 2014 adalah tahun amanah bagi negeri kita Indonesia. Sepanjang 5 tahun yang lalu kita telah menyaksikan, betapa tidak sedikit para pemegang amanah di 2009 ternyata bergelimang khianat seiring dengan berjalannya waktu.

Korupsi dan suap terkuak, kebohongan dan pengkhianatan dinampakkan, kejahatan dan buruknya akhlak terlihat di sana-sini, dilakukan oleh mereka yang pernah berjanji dan bersumpah atas nama Allaah Ta’aala untuk memegang amanah. Memang harus diakui bahwa tidak semua pemegang amanah menyia-nyiakan amanahnya, tapi harus pula diakui bahwa banyak sekali yang ketahuan belangnya, bagaimana mereka menciderai kepercayaan masyarakat.

Pelajaran bagi kita, adalah bahwa amanah itu tidak mudah dalam memikulnya. Amanah bukan sekedar jabatan bagi mereka yang berwenang, tapi fisik kita adalah amanah, ilmu kita adalah amanah, keluarga, anak-istri kita adalah amanah, harta dan kekayaan kita adalah amanah. Sudahkah amanah-amanah yang melekat tersebut kita jaga dengan baik, kita pelihara dengan baik, sebagai bentuk nyata iman kita kepada Allaah SWT?

Ingatlah bahwa Allaah SWT berfirman di dalam surah al Mu’minuun ayat ke-8, tentang ciri-ciri orang beriman, yakni

memelihara amanah

dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya

Mereka yang khianat terhadap amanahnya, lebih-lebih amanah sebagai pejabat yang berwenang terhadap masyarakat, perlu ditanyakan keimanannya. Mana cermin sumpah mereka atas nama Allaah pada awal jabatannya? Mana gambaran mereka percaya dengan Hari Akhir dan Hari Pembalasan, bukankah khianat kepada amanah akan diganjar dengan siksaan Allaah? Di mana iman mereka?

Maka, hadirin rahimakumullaah, hikmah bagi kita, mari kita pertebal terus iman dan takwa kita kepada Allaah Ta’aala. Bukan dengan sekedar iman di lisan dan takwa di bibir, tapi iman dan takwa dalam hati dan perbuatan. Sangat mungkin, mereka yang berkhianat pada awalnya adalah orang yang kuat pula iman dan takwanya, namun karena belum mampu istiqamah, belum mampu konsisten dalam membawa iman-takwanya, menjadi lupalah dia, terbawa oleh suasana sistem yang terlanjur memudahkan terjadinya korupsi.

Beratnya amanah bukan berarti kita kemudian menghindar dari amanah yang mungkin dibebankan kepada kita karena memang kita mampu. Bukan berarti pula menolak amanah yang memang kita berpotensi untuk memikulnya, Rasuulullaah SAW bersabda sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari

إِذَا أَسْنِدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ.

Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancurannya.

Artinya, jika kita mempunyai keahlian di bidang tertentu, maka keahlian tersebut adalah amanah keilmuan dari Allaah SWT kepada kita. Bagaimana memelihara amanah keilmuan? Yakni dengan mengamalkannya, dengan mengurusi sesuai dengan keahlian kita, jika mendapatkan kesempatan tersebut. Maka, ilmu dan keahlian adalah amanah sedangkan mendapatkan amanah di bidang tersebut juga bagian dari memelihara amanah. Bukan justru menghindarinya.

Sesungguhnya pula, kehancuran negeri kita di berbagai bidang kehidupan juga tidak lepas dari kesalahan penempatan bagi mereka yang berwenang. Urusan diserahkan kepada mereka yang tidak memahami bidangnya atau sekedar memahami bidang tersebut karena terlanjur terbiasa, tetapi tidak mampu mengembangkannya menjadi lebih modern, menjadi lebih luas manfaatnya bagi orang banyak, karena tidak mempunyai dasar yang kuat di bidang tersebut.

Maka, hadirin rahimakumullaah, mari kita dorong diri kita untuk lebih kuat mengimani Allaah Ta’aala dan Hari Pembalasan, dengan tidak lupa pula tetap terus belajar dan menjadi ahli di bidang kita masing-masing, demi memenuhi amanah akal dan hati kita yang diberikan oleh Allaah SWT.

Kita dorong pula orang-orang di sekeliling kita, anak-anak kita, keponakan-keponakan kita, saudara dan kerabat dekat kita yang masih sekolah dan menempuh pendidikan untuk terus berusaha mencapai yang terbaik di bidangnya, sekaligus tetap memberikan nasihat keimanan kepada mereka, mengingatkan mereka dan diri kita bahwa ada amanah menanti kita dan mereka, maka kuatkan jiwa kita dan mereka, agar Allaah meridlai kita dan mereka dalam menjalankan amanah.

Untuk 2014 kelak, mari kita pilih dengan jiwa bersih dan niat baik, mana yang benar-benar sesuai dengan diri kita. Satu suara mungkin memang tidak berarti banyak, tetapi dengan memberikan suara, kita telah menghindarkan dari mubadzirnya surat suara, dicetak tapi tidak digunakan. Pemilu sudah menjadi kesepakatan bersama negeri kita untuk menjadi jalan bagi bergantinya kepemimpinan, maka mari kita berpartisipasi di dalamnya.

Yang terpenting, jangan sampai kita terpecah belah karena berbeda partai, berbeda pilihan caleg, atau berbeda calon presiden. Kita umat Islam sudah terlalu banyak menghabiskan waktu untuk membahas hal-hal agama yang sebenarnya para ulama sudah bersepakat untuk berbeda. Sementara di tempat lain, waktu yang bagi kita terbuang sia-sia, bagi sebagian yang lain digunakan untuk mendebatkan bagaimana cabang-cabang ilmu pengetahuan mampu membawa manfaat bagi umat manusia.

Mari hindarkan perpecahan, mari bersatu dalam perbedaan, untuk menjadi pribadi beriman sempurna, untuk kemudian mengembangkan ilmu pengetahuan dan keahlian masing-masing, demi bangsa dan negara yang lebih baik. Benar bahwa Pemilu 2014 adalah pergantian kepemimpinan bangsa, tetapi bagi kita semua, perubahan yang sesungguhnya adalah di lingkaran-lingkaran yang kecil, di sekitar masyarakat kita.

Mari, perbarui niat kita untuk memperkuat iman dan takwa setiap saat, yang dibarengi dengan ikhtiar pula untuk memperkokoh keilmuan kita di berbagai bidang, demi mencapai derajat sebaik-baik manusia: bermanfaat bagi orang lain, menjadi rahmat bagi semesta alam.

Semoga Allaah Ta’aala menolong kita, meridlai kita dalam usaha-usaha tersebut, Aamiin, Allaahumma Aamiin.