Membeberkan Kesalahan tanpa Tujuan yang Dibenarkan

Akhir-akhir ini kondisi Indonesia sungguh sangat menyakitkan. Kata-kata hinaan dan cacian dikeluarkan dengan mudah melalui lisan kita. Pun dengan jari-jari kita melalui tulisan, cuitan, dan komentar di media sosial. Tidak hanya kita, karena bahkan beberapa orang yang dapat dikategorikan sebagai ulama atau sekedar dai juga menggunakan ekspresi lisan yang tak sopan di dalam ceramah-ceramahnya. Yang lebih menyakitkan adalah ketika cacian dan makian ditujukan kepada sesama muslim, di mana cacian terebut muncul hanya karena perbedaan pandangan terhadap sebuah permasalahan. Inikah Islam yang kita banggakan menjadi rahmat bagi semesta alam?

Beberapa hari yang lalu saya tersentak saat membaca penjelasan ulama besar Suriah, Syaikh Prof. Wahabah az-Zuhaili soal cacian: bahkan kepada seorang pendosa sekalipun, mencaci itu dilarang!

Berikut ini saya kutipkan penjelasan beliau di dalam Buku Ensiklopedia Akhlak Muslim – Berakhlak dalam Bermasyarakat terbitan Penerbit Noura Books tahun 2013, yang merupakan terjemahan dari Kitab Akhlaaq al-Muslim: ‘Alaaqatuhuu bi al-Mujtama` (Dar al-Fikr, Damaskus, Suriah, tahun 2002).

Semoga dapat menjadi bahan renungan kita semua, yang merindukan suasana damai dan tenteram di Indonesia tercinta.

Kutipannya sebagai berikut:

Membeberkan Kesalahan tanpa Tujuan yang Dibenarkan

Manusia terkadang melakukan kesalahan, kekhilafan, penyimpangan, dan kelalaian yang tidak disengaja. Oleh sebab itu, orang lain tidak dibenarkan mencela dan membeberkan kesalahan-kesalahan tersebut hingga menjatuhkan martabat yang bersangkutan. Etika yang baik adalah justru menyembunyikannya. Jika seseorang melakukan kesalahan, tidaklah pantas ia membicarakan dan membeberkan kelakuannya di malam hari secara diam-diam. Sebaliknya, ia harus bersyukur kepada Allaah SWT yang menutupi kesalahannya dan tidak diperlihatkan. Di samping itu, seseorang juga tidak boleh mencaci orang yang divonis berbuat salah, atau memberondong dengan segudang cacian, makian, dan umpatan, atau mengucapkan, “Semoga Allaah memusnahkanmu”. Semua kesalahan ini mendatangkan siksa atau hukuman bukan pada tempatnya.

Oleh karena itu, Allaah SWT memperingatkan orang-orang yang suka menebar rumor atau kata-kata kotor terhadap pelaku kesalahan dalam firman-Nya (al-Qur`an Surat an-Nuur (24) ayat 19):

 

 

Sesungguhnya orang-orang yang senang tersebarnya kekejian di (kalangan) orang-orang yang beriman, bagi mereka siksa yang sangat pedih  di dunia dan (azab yang lebih pedih) di akhirat.

Dengan kata lain, orang yang membeberkan perbuatan buruk tanpa keperluan, ia pantas mendapatkan siksaan yang pedih dan menyakitkan di dunia ini dan di akhirat. Larangan membeberkan berita buruk dan propaganda jahat yang tidak ada berguna ini sangat jelas.

Hadits berikut ini menganjurkan kita agr menutupi rahaisa yang tidak boleh dibeberkan, atau mengucapkan hal-hal yang tidak ada manfaatnya. Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah RA dari Nabi Muhammad SAW bersabda,

Dari Abu Hurairah RA, dari Nabi SAW, beliau bersabda: “Tidak ada orang yang menutupi kejelekan orang lain di dunia, kecuali Allaah akan menutupi kejelekannya di Hari Kiamat.”

Maksudnya, balasan menutupi kesalahan seseorang yang tidak disengaja, yaitu dengan tidak membeberkannya, kelak Allaah SWT akan menutupi kesalahan orang tersebut. Artinya, bisa jadi Allaah SWT menghapus dosanya. Bisa jadi pula Allaah SWT menutupi hingga tak seorang pun mengetahuinya.

Sebuah hadis muttafaq ‘alaih  dari Abu Hurairah RA mengatakan bahwa aku pernah mendengar Nabi Muhammad SAW bersabda,

Umatku akan mendapat ampunan, kecuali orang-orang yang terang-terangan berbuat dosa. Di antara dari mereka adalah orang yang berbuat dosa di malam hari dan pada pagi harinya ia menceritakannya, padahal Allaah telah menutupinya. Ia berkata, ‘Hai Fulan, aku tadi malam berbuat begini dan begini’. Sesungguhnya malam itu Allaah telah menutupi perbuatannya, namun pagi harinya ia malah membuka sendiri perbuatannya yang telah Allaah tutup.”

Hadis ini menjelaskan betapa besar dosa orang yang membeberkan kesalahan yang diperbuat. Tindakan seperti itu mengundang murka Allaah SWT. Orang seperti ini berarti tidak mengindahkan perasaan orang lain, merusak kesucian yang berlaku di masyarakat, serta melecehkan agama.

Hal ini ditegaskan lagi oleh hadis lain tentang larangan omong kosong atau bicara berlebihan.

Dalam hadis shahih dari Abu Hurairah RA dari Nabi Muhammad SAW bersabda,

Jikalau seorang hamba sahaya wanita nyata-nyata berzina maka cambuklah ia sesuai dengan had yang ditentukan dan jangan mengolok-oloknya. Kemudian jika ia berzina lagi maka cambuklah ia sebagai had-nya dan jangan mengolok-oloknya. Selanjutnya, jika ia masih berzina untuk ketiga-kalinya maka hendaklah ia dijual saja, sekalipun seharga seutas rambut.

Dengan kata lain, hukuman bagi pelaku zina bertujuan mendidik dan mengajaknya kembali ke jalan yang benar. Jika pemilik ingin menjualnya maka ia harus menjelaskan kekurangannya kepada si pembeli. Sebab, menjelaskan kekurangan hukumnya wajib, tentu saja jangan sampai berlebihan.

Demikian pula dengan orang merdeka, sebagaimana disitir hadis riwayat Imam al-Bukhari dari Abu Hurairah RA bahwa seorang laki-laki yang menenggak minuman keras dihadapkan kepada Nabi Muhammad SAW, Abu Hurairah berkata,

Di antara kami ada yang memukul orang itu dengan tangannya, ada yang memukul dengan sandalnya,  bahkan ada yang memukul dengan pakaiannya. Setelah orang itu pergi, sebagian orang berkata, Semoga engkau dihinakan Allaah. Beliau bersabda, Jangan berkata begitu. Janganlah kalian memberikan pertolongan kepada setan untuk menggodanya lagi.

Maksudnya, penenggak minuman keras boleh dijatuhi hukuman cambuk dengan tangan, pakaian, sandal, dan pelepah kurma. Akan tetapi, jangan mengutuknya, karena dengan begitu ia membantu setan. Doakan ia agar mendapat hidayah, kebenaran, dan selamat dari kehinaan. Ungkapan-ungkapan yang tidak disertai umpatan atau cacian tersebut dapat memacu pelaku maksiat untuk meninggalkan perbuatan dosa.

Begitulah arahan dan pendidikan Nabi Muhammad SAW, yaitu fokus pada menjatuhkan hukuman dengan tidak menggembar-gemborkan, mencaci, atau mengumpat pelakunya. Begitulah Islam dalam bermuamalah dan menjatuhkan sanksi hukum; serta menyesuaikan dan menerapkan keadilan antara tindakan dan hukuman. Sudah selayaknya kita menghiasi diri dengan akhlak luhur seperti ini, yang sangat kontras dengan yang terjadi di zaman sekarang, di mana pelaku kesalahan dihujani berbagai cacian, makian, dan kutukan.